Siap Berubah .. Terpaksa atau Tidak

Dalam catur ada istilah “inisiatif” yaitu kondisi sebelum sampai ke tahap menyerang. Kondisi ini mirip dengan keseharian kita dimana inisiatif cenderung bermakna aktif dan dinamis. Selain itu ada keinginan untuk berubah dari kondisi saat ini ke kondisi yang lebih baik. Prof. Max Ewe, mantan juara dunia catur dari Belanda, mengatakan untuk menjadi inisiatif harus mampu membaca “ciri” yang ada dalam suatu bangunan. Mengetahui ciri tersebut membutuhkan kemampuan membaca, bukan hanya membaca tulisan tetapi membaca lewat media lainnya seperti melihat, mengamati, menganalisa dan sejenisnya.

Prof. Edi, rektor UDINUS Semarang, dalam rakornas APTIKOM 2017 di Papua berbagi pengalamannya. Salah satunya adalah bagaimana proses terbentuknya televisi kampus. Waktu itu ada dosen baru lulusan luar negeri jurusan telkom tetapi ditunjuk menjadi dekan sastra. Mirip yang terjadi di kampus saya (hanya bukan luar negeri). Unik juga mengapa dia tidak ditempatkan di jurusan yang sesuai: yaitu karena tidak ingin menyingkirkan yang lama. Tapi ternyata dosen baru itu bisa berkreasi sesuai dengan pengamatan dia ketika kuliah di luar negeri. Mengapa alumni luar negeri memiliki ke-khas-an tersebut? Mungkin analisa Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya, disruption, bisa menjelaskan.

Kontras & Konfrontasi

Untuk berubah diperlukan kontras dan konfrontasi. Kontras maksudnya adalah perbedaan antara kondisi existing dengan kondisi lain yang lebih baik. Tentu saja tidak bisa dengan hanya menjelaskan, perlu diajak melihat langsung kondisi lain. Video saja tidak cukup. Mengapa piknik/traveling tetap laris walaupun video di youtube sudah banyak yang merekam obyek-obyek wisata. Terkadang kenyamanan yang ada membuat kita merasa nyaman dan tidak ingin berubah karena merasa kita adalah yang terbaik. Hingga tersadar ternyata daerah lain sudah memakai baju dan celana, sementara kita masih menggunakan kolor akibat terisolir.

Terkadang hanya beberapa orang yang memahami perlunya perubahan. Oleh karena itu diperlukan kontras agar orang lain bisa melihat perbedaan yang ada. Jika orang tidak melihat adanya manfaat atau keuntungan dari perubahan, maka tidak akan terjadi perubahan yang diinginkan. Selain itu, kontras belum tentu bermanfaat jika hanya dilihat sekilas saja. Konfrontasi diperlukan untuk memperbanyak frekuensi dari kontras. Orang butuh berkali-kali melihat kontras sebelum mau berubah. Prinsip-nya mirip iklan di televisi/radio. Di kampus yang dosennya enggan studi lanjut, ketika ada seorang dosen mudah yang berangkat kuliah, mungkin menciptakan kontras. Tetapi jika hanya seorang saja yang berangkat, konfrontasi tidak terjadi, mungkin saja mereka menganggap hanya anomali saja. Tetapi jika banyak yang berangkat, maka kontras akan menjadi bermakna sehingga kesadaran untuk “upgrade” terjadi dengan dilanjutkan dengan “bergerak”. Perubahan memerlukan tahapan: kesadaran, bergerak, dan finish. Tanpa ketiganya, masih dikatakan belum berubah.

Apa yg dilakukan dan Bagaimana melakukannya

Satu lagi konsep yang diperlukan dalam membuat perubahan adalah apakah sudah tepat “apa yg dilakukan” dan “bagaimana melakukannya”. Hanya fokus ke salah satunya saja tidak akan membuat kemajuan yang berarti. Kabarnya banyak perusahaan yang excelent dalam “bagaimana melakukannya” tetapi tidak memperhatikan “apa yg seharunya dilakukan” saat ini hancur. Mungkin tidak ada yang salah dalam “bagaimana melakukannya” pada taksi konvensional, tetapi karena tidak bisa mengantisipasi “apa yang harus dilakukan” berakibat fatal juga ternyata, diserang taksi online. Sebaliknya, telkom bagus baik dalam “bagaimana melakukan” maupun dalam “apa yg harus dilakukan” sehingga mampu mengantisipasi trend perkembangan komunikasi yang tanpa kabel dengan fasilitas digitalnya. Mungkin kita sudah baik dalam mengelola suatu institusi, misalnya kampus, tetapi belum tentu baik dalam mengerjakan “apa yang seharusnya”. Dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi saat ini, dibutuhkan pula orang-orang bertipe “driver”, agen perubahan (bukan hanya penumpang, apalagi penumpang gelap). Terkadang perlu “piknik” keluar, baik studi banding, atau mengundang pihak luar datang, untuk menggali “kontras”. Sehingga tidak terjebak dalam rutinitas “business as usual” yang kata orang jawa “ngono-ngono tok” (itu-itu aja) serta terbuai dengan kenyamanan yang ada. Kata para profesor lho …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s