Membaca Cepat .. dan Rampung

Entah mengapa akhir-akhir ini di Facebook bermunculan iklan-iklan seminar membaca cepat. Dulu sempat mengulas masalah membaca cepat ini, bahkan membaca satu buku yang dipinjam di perpustakaan untuk belajar dan menguji kecepatan membaca. Tetapi terlepas dari cepat atau lambatnya membaca tentu saja jangan lupa tujuan membaca yaitu menyerap ilmu dan yang pasti harus selesai.

Sedikit berbagi pengalaman, buku di atas adalah buku wajib mata kuliah Information System Development and Management (ISDM). Waktu itu sebelum perkuliahan dimulai (beberapa minggu), saya membacanya sampai habis. Terus terang jarang saya membaca buku sampai habis, bahkan sampai soal-soalnya. Waktu itu berlalu dan saya anggap biasa saja. Tetapi belakangaan baru sadar mengapa waktu itu bisa membaca dengan cepat buku tersebut sementara belakangan tidak pernah selesai satu buku seperti waktu itu. Postingan ini bermaksud mereviewnya.

Pemenggalan Kalimat

Membaca cepat tentu saja mata tidak melihat kata perkata (apalagi sambal komat-kamit). Mengapa buku tersebut bisa dibaca cepat? Ternyata format tulisannya dua kolom dan ukuran huruf mudah dilihat. Karena dari ujung kiri kalimat ke kanan masih dalam jangkauan mata maka mata saya hampir tidak bergerak dari kiri ke kanan menyusuri kalimat, melainkan hanya naik turun ganti baris. Sepertinya jika ingin diterapkan ke buku dengan single column mau tidak mau harus memenggal kalimat menjadi beberapa “rombongan” kata. Kuat dugaan saya waktu itu cepat selesai membacanya karena secara tidak sengaja memenggal kalimat dengan bantuan dua kolom buku tersebut.

Rileks

Waktu libur, tidak ada tugas atau tuntutan tertentu membuat ketika membaca menjadi rileks. Dengan rileks ternyata bisa cepat memahami, bukan sekedar cepat membaca. Percuma mata cepat mengikuti tulisan tetapi karena gugup, tidak ada yang masuk ke otak, seperti angin lalu saja. Jadi rilekslah ketika membaca dan tentu saja tidak belajar kebut semalam ketika mau ujian saja. Membaca bisa di mana saja, tidak harus di atas meja belajar, bisa diiringi musik dengan secangkir kopi.

Menggambarkan (Picturing)

Selain dua hal di atas, ketika membaca buku tersebut saya berimajinasi terhadap kata-kata kunci suatu kalimat. Kalimat sebelum ini jika dengan menggambarkan saya akan menggambarkan “membaca buku” dalam artian seperti melihat orang membaca buku di depan mata (bukan sekedar dua kata membaca dan buku). Ketika membaca judul buku “Modern System Analysis and Design” pun sudah ada di kepala bayangan analisa dan disain modern dengan teknik-tekniknya pada buku itu. Cepatkah? Ternyata jika terbiasa, bisa juga menggambarkan dengan cepat, apalagi jika bahasa Indonesia. Tetapi untuk bahasa Inggris cukup membantu juga karena ketika menguji membaca cepat dari buku tips-trik karangan asing dengan contoh tulisan asing juga terkadang mata cepat bergerak tetapi lupa memaknai beberapa kata penting, akibatnya cepat tapi ketika diuji (biasanya min skor 80) gagal, jadi terlalu cepat tapi kurang memahami.

Alhasil nilai A mata kuliah tersebut di tangan, nilai yang penting karena syarat GPA 3.5 untuk kandidasi doktoral tercapai apalagi jika ada nilai B mata kuliah lain. Ditambah lagi rekan kuliah mengupdate status facebook di grup yg jika diterjemahkan: dapat “A” .. yes yes yes, dapat “B+” .. cukuplah, dapat “B” .. sialan, dapat “C” .. bye bye PhD. Status yang bikin stress mahasiswa doctoral lainnya yang dapat nilai di bawah B+. Semoga menghibur.

Demonstrasi vs Ketetapan Tuhan

Beberapa hari yang lalu ada demonstrasi yang ditujukan kepada kementerian keuangan dan RISTEK-DIKTI. Isinya tentang beasiswa bagi mahasiswa yang sedang dan akan studi lanjut, khususnya para dosen di perguruan tinggi. Interpretasi mengenai tindakan mereka terserah Anda, postingan ini hanya mencoba berbagi pengalaman saja.

Ada satu ketentuan yang tidak dapat disangkal, yaitu ketetapan Allah. Kita boleh berencana, mengeksekusinya, tetapi ketetapan tuhanlah yang berlaku. Tidak ada orang yang ingin sakit, bencana, dan kesusahan-kesusahan lainnya, tetapi jika Allah berkehendak, siapa pula yang bisa membatalkannya. Bahkan yang sudah pastipun, misalnya mati, tidak ada orang yang menginginkannya. Apalagi hal-hal lain yang tidak ganas-ganas banget, misalnya studi lanjut.

Sebenarnya beasiswa sendiri itu bagian dari studi lanjut. Masalah beasiswa ya berarti masalah studi lanjut. Karena dalam menyelesaikan kuliah S3, sepertinya hanya 20% fokus yang diberikan untuk murni perkuliahan, dan sisanya yang 80% untuk hal-hal lain yang salah satunya adalah beasiswa. Kenapa harus 80% dan 20%? Tidak ada hitungannya sih, hanya angka statistik dari Pareto saja. Jadi jika calon mahasiswa melihat bahwa studi lanjut itu fokus hanya ke 20% saja, alias 100% murni untuk kuliah, sudah dipastikan jika ada masalah-masalah non teknis maka mereka menganggap itulah penyebab dari lama atau bahkan tidak lulus-nya perkuliahan. Padahal itu sejatinya bagian dari proses penyelesaian studinya yang bahkan besarnya jauh melebihi proporsi kuliah.

Apakah kita bisa membantu para karyasiswa (sebutan untuk mahasiswa yang menerima beasiswa)? Tentu saja bisa, khususnya pemerintah yang untuk dosen dipegang oleh kementerian RISTEK-DIKTI dan departemen agama serta untuk non dosen oleh kementerian keuangan dan lain-lain (di tempat saya ada dari departemen pertanian). Mungkin di sini hanya pendapat saya mengenai bagaimana melancarkan proses studi lanjut:

Pantauan Perkuliahan oleh Institusi Asal

Tentu saja para karyasiswa harus melaporkan kemajuan studinya baik ke pemberi beasiswa (misalnya RISTEK-DIKTI) maupun institusi asal (misalnya departemen atau kampus). Namun selama ini kebanyakan institusi asal tidak ambil pusing, mungkin karena tidak tahu menahu apa yang terjadi terhadap karyasiswanya, atau menyerahkan semua kepada pemberi beasiswa. Jika beasiswa mengalir lancar, pasti kemajuannya oke, alias baik-baik saja. Padahal yang terjadi tidak demikian, karena banyaknya penerima beasiswa maka pemberi beasiswa pun tidak cukup mampu mengawasi, padahal laporan-laporan kemajuan belum tentu akurat, bahkan kebanyakan sedikit ada manipulasi. Bahkan untuk laporan kemajuan yang dibuat oleh supervisor pun bisa saja dibuat sebisa mungkin baik, karena supervisor agak meringankan beban si mahasiswa itu agar beasiswa cair.

Hubungan dengan supervisor terkadang sangat menentukan si mahasiswa cepat atau lambat lulusnya. Teringat rekan saya yang walaupun sudah beres semua syarat-syarat tetapi diperlambat dalam proses pengecekan naskah oleh dosen kampus lain (external review). Tapi ternyata masalah beres. Bagaimana caranya? Ternyata sederhana, pimpinan di kampusnya (dekan) beserta rombongan datang main ke universitas tempat siswa tersebut kuliah, bincang-bincang sebentar tentang apa kendala yang membuat mahasiswa tersebut tidak lulus-lulus. Setelah rombongan dekannya pulang, tidak lama kemudian lulus. Itulah salah satu bantuan terhadap aspek 80% terhadap si mahasiswa itu. Tentu saja hanya itu yang bisa dibantu, masalah aspek teknis yg 20% tentu saja karyasiswa harus mikir sendiri mengingat biasanya research question untuk level S3 jarang yang sudah ada jawabannya. Contoh lainnya adalah salah satu kampus IT terkenal di Jakarta, ketua jurusannya selalu berkomunikasi dengan tempat kuliah dosennya di kampus negeri di Jakarta juga. Bahkan di Facebook sering terlihat dia mengikuti sidang-sidang si mahasiswa tersebut (sidang proposal, sidang terbuka, dan acara-acara lainnya). Mungkin cara tersebut, dengan menjaga komunikasi ke dosen pembimbing (atau ke departemen) rekannya yang sedang kuliah, bisa di terapkan untuk dosen yang kuliah di kampus dalam negeri. Mengingat tingkat kegagalannya (lama lulusnya bahkan drop out) yang mengambil S3 di dalam negeri cukup tinggi. Tentu saja untuk yang luar negeri agak sulit karena jarak dan biaya. Untuk yang di dalam negeri toh tidak ada salahnya dicoba.

Support dan Penghargaan

Tidak ada salahnya karyasiswa diberi penghargaan walau belum selesai. Banyak caranya, misalnya tetap memberikan gaji ke dosen tersebut, bisa tetap menerima tunjangan serdos (khusus yang biaya sendiri), atau sekedar menjadi pembicara di institusinya. Ini mirip dengan cara sebelumnya, jika yang sebelumnya melibatkan aspek fisik, support dan penghargaan melibatkan aspek mental dan spritual. Si mahasiswa merasa diperhatikan sehingga berusaha sekuat tenaga menjawab tantangan-tantangannya.

Support dan penghargaan pun saya terima, misalnya ketika acara wisuda di luar dugaan ternyata dubes dan atase kebudayaan ikut hadir. Suatu hal sederhana tetapi merupakan wujud penghargaan yang tak bisa dihargai dengan apapun. Pantas saja ada seseorang yang memperhatikan saya yang duduk di depan (wisudawan doktoral selalu di depan), ternyata dia p dubes yang baru (sampai tidak kenal karena lamanya waktu kuliah hingga dubes dan bahkan raja pun sudah ganti yang baru).

Ketika pertemuan asosiasi APTIKOM, seorang rektor dari kampus besar di semarang mengatakan bahwa jika ada dosennya yang lulus doktor dalam negeri, maka akan diberikan umroh gratis. Jika dari luar negeri akan diberi satu unit kendaraan (xenia/avanza). Di kampus saya lebih keren lagi, ketika lulus kuliah (luar atau dalam) ternyata diberi uang tunai yang besarnya bisa melebihi xenia/avanza … (pesangon). Sekian semoga bermanfaat, atau minimal bisa menghibur di waktu libur.

Ternyata mereka datang ..

Prinsip Pareto 80/20

Ada satu hukum alam yang dicetuskan oleh seorang peneliti Italia bernama Vilvredo Pareto (1848-1923) yakni sejatinya di alam berlaku hukum ketidakseimbangan (imbalance). Hukum ini mengatakan bahwa suatu output tertentu dihasilkan oleh peran sebagian kecil pihak. Atau dengan statistik lebih detil disebutkan bahwa 80% hasil output merupakan sumbangsih dari 20% pihak tertentu bukan fivety-fivety/setara/balance. Uniknya di jaman Pareto hidup, teorinya kurang diminati. Mungkin waktu itu jaman tertutup dimana proteksi merajalela dan juga karena era perang. Ditambah lagi mafia-mafia yang menghalangi kealamian proses bisnis.

Analisa 80/20

Ada dua metode terkenal yang bisa diterapkan untuk menerapkan prinsip ini yaitu Analisa dan Cara berfikir 80/20. Analisa bermaksud merinci aspek-aspek tertentu dari prinsip 80/20. Dibutuhkan data-data yang bersifat kuantitatif untuk memastikan khususnya aspek 20% yang menentukan. Terkadang bisa di bawah nilai tersebut, 15%, 10% atau bahkan 1%. Hitunglah omset yang didapat dan selidiki data-data yang menjadi penyebab terbesar (sekitar 80%) dari omset. Maka akan diperoleh data-data rinci yang perlu diperhatikan, diperbaiki, atau ditingkatkan kinerjanya.

Berfikir 80/20

Jika analisa membutuhkan data-data secara kuantitatif maka cara berfikir hanya melihat gejala-gejala bahkan bersifat fuzzy. Ada hal-hal tertentu yang perlu diperhatikan dalam menerapkan cara berfikir 80/20 agar tidak keliru menerapkannya. Selain meyakini bahwa tidak ada keseimbangan dalam alam (misal ada perusahaan/produk tertentu yang mendominasi) juga harus diingat bahwa di alam tidak mungkin berlaku prinsip yang linear. Hal ini terjadi karena suatu output/outcome tidak dihasilkan hanya dari beberapa parameter yang fix saja. Ada faktor-faktor tertentu terkadang muncul jika dilakukan terhadap suatu aspek. Misalnya di toko buku diketahui buku-buku tertentu yang laris dan menyumbang 80% dari keuntungan toko buku tersebut dan si manajer agar lebih untung memperbanyak buku-buku laris tersebut dan mengurangi buku-buku yang kurang laris secara dramatis, maka berhati-hatilah. Karena output merupakan akumulasi faktor-faktor tertentu yang beragam dan terkadang luput dari pantauan. Suatu faktor terkadang mempengaruhi output secara tiba-tiba jika faktor-faktor lain berinteraksi.

Penggunaan Praktis Sehari-hari

Namun untuk kasus-kasus yang kurang beresiko, sepertinya prinsip 80/20 bisa langsung diterapkan. Misalnya jika suatu omset dari sebuah mall 80% berasal dari 20% produk-produk wanita maka secara gampang kita fokus saja meningkatkan performa 20% produk-produk wanita tertentu misalnya dengan menjaga keterikatan konsumen, memperbaiki servis, dan lain-lain. Bagaimana jika fokus meningkatkan agar para pria tertarik seperti wanita dalam berbelanja khusus produk-produk pria? Tentu bisa saja, tetapi dengan membuka segmen baru membutuhkan effort yang lebih besar dibanding hanya berfokus ke 20% produk-produk wanitanya.

Misalnya produk kita menghasilkan output 80% berasal dari 20% pelanggan tertentu, maka secara praktis fokus saja menjaga pelanggan-pelanggan 20% tersebut dengan memperhatikan aspek-aspek tertentu yang menjaga dia tidak kabur. Sebab jika kabur atau beralih, maka dipastikan output 80% akan goyah. Oiya, menurup prinsip ini, 80% produk tertentu yang beredar di pasaran berasal dari 20% produsen tertentu. Apa sebabnya, ada hal-hal tertentu yang membuat produk itu disukai, silahkan baca kembali buku-buku khusus tentang pemasaran. Misalnya ternyata produk yang disukai oleh konsumen adalah yang memberikan nilai tambah, berharga kompetitif, dan sejenisnya.

Untuk Pelajar

Bagaimana dengan para pelajar dan mahasiswa? Silahkan gunakan prinsip ini. Saya pernah menerapkan prinsip ini karena kepepet sekali, yaitu materi yang banyak tetapi waktu yang dibutuhkan sedikit dan nilai harus A atau setidaknya B+. Jika menggunakan prinsip ini, 80% nilai akhir dihasilkan dari ujian tengah, ujian akhir dan tugas proyek yang semuanya sekitar 20%. Diturunkan lagi, jika ada buku teks wajib maka secara pareto, 80% nilai ujian dihasilkan dari 20% bab-bab tertentu. Jadi ketika membaca jangan menggunakan prinsip seimbang (alias dibaca kayak novel dari a- z) melainkan cari bab-bab penting yang berbasiskan soal ujian. Lebih baik lagi jika soal-soal tahun-tahun sebelumnya kita miliki beserta jawaban dan caranya. Untuk pencari beasiswa atau yg sedang studi lanjut, ada baiknya gunakan prinsip ini, dijamin beres, baik dan cepat, mengingat di institusi saya tingkat kelulusan S3 sementara tidak jauh dari angka 50%. Sekian semoga bermanfaat.

Rahmadhood .. hehe

 

Menghitung Nilai Diri

Tiap orang kebanyakan menilai lebih diri sendiri. Aksi demonstrasi buruh yang meminta kenaikan gaji merupakan salah satu menilai diri melebihi upah yang diberikan. Wajar tapi ada baiknya melihat pendapat-pendapat dari tokoh ternama ataupun riset-riset tentang manajemen sumber daya manusia.

Jack Ma mengatakan dalam bekerja ada baiknya bukan mengejar uang, tapi uang yang mengejar kita. Dalam artian, uang yang dibayarkan berdasarkan nilai (value) dari diri kita. Intinya adalah dari pada fokus mencari uang ada baiknya kita meningkatkan nilai diri baik dari pengalaman, pelatihan, studi lanjut, setifikasi, dan lain-lainnya. Dengan demikian kualitas yang ada dalam diri akan mempengaruhi kinerja di tempat kerja kita. Kualitas bisa berupa keterampilan atau pengalaman lain yang tentu saja harus dibuktikan dengan sertifikat dan sejenisnya. Kualitas ini juga mengikuti ketersediaannya di sekitar tempat kerja, jika keterampilan tertentu langka maka bayarannya pun berbeda dengan keterampilan yang banyak orang menguasainya. Prinsip “yang pertama” juga ada baiknya diperhatikan. Jack Ma juga mengatakan jika tidak bisa/sulit jadi yang terbaik, cobalah menjadi yang pertama. Tentu saja yang pertama dalam hal-hal unik yang baik.

Pareto dan Prinsip 80/20

Selain dari pengalaman pakar seperti Jack Ma di atas, ada juga dari hasil riset yang dilakukan oleh Pareto dengan prinsip 80/20-nya. Prinsip ini mengatakan 20% mempengaruhi 80% dari hasil. Angka tersebut bisa saja 10/90 atau bahkan 1/99. Namun prinsipnya adalah ketidakseimbangan (unballance). Lihat saja sekitar kita, terkadang 20% orang-orang menguasai 80% dari kekayaan daerah tersebut.

Prinsip berbasis statistik tersebut ada baiknya diterapkan dalam organisasi kita. Fokuslah memperhatikan 20% dari karyawan yang menghasilkan 80% penghasilan organisasi/perusahaan. Mencari 20% karyawan tersebut adalah tugas berat dari divisi SDM yang terkadang kebanyakan organisasi di daerah kita hanya sekedar bertugas menerima/memecat karyawan saja. Ditambah lagi budaya KKN yang melanda kebanyakan organisasi. Silahkan abaikan 20% karyawan top tersebut jika ingin perusahaan tersebut terpuruk karena mereka kecewa dan kabur meninggalkan perusahaan tersebut.

Yuk, evaluasi diri apakah kita termasuk 20% yang menghasilkan 80% output organisasi atau sebaliknya 80% dari yang kurang menghasilkan apa-apa plus datang dan pergi sesuka hati. Khusus para mahasiswa coba terus mengasah skill dan meningkatkan nilai diri di era yang serba cepat dalam medan pertarungan inovasi dan kreativitas, yang bukan sekedar rutinitas belaka, dan jangan lupa nikmati kehidupan yang singkat ini dengan kegiatan-kegiatan sesuai dengan minat dan pasion.

Tugas Kelompok itu Menyenangkan .. Lho

Setiap orang yang pernah kuliah pasti pernah merasakan yang namanya tugas kelompok. Tugas yang sangat tidak obyektif. Bagaimana tidak, usaha kerja keras yang dilakukan terkadang tidak berbanding lurus dengan hasil, alias “usaha dibohongi hasil” .. hehe. Salah satu sebab utamanya adalah tidak akur dengan rekan satu tim, apalagi banyak yang nebeng nama dan tidak ikut kerja. Bahkan tiap akhir semester ketika ada dosen yang meminta umpan balik, banyak yang menginginkan tidak ada tugas kelompok dan lebih baik tugas proyek perorangan saja.

My Team

Seperti kata spongebob, “tidak semua makhluk dikaruniai perilaku normal”, begitu juga rekan tim ketika saya kuliah dulu. Waktu itu tugas proyek big data sangat sulit dan tidak mungkin dikerjakan seorang diri tanpa bantuan teman kelompok. Ketika pemilihan anggota kelompok, saya tertarik dan memilih rekan dari pecahan Rusia (Uzbekistan), namanya Saba Bakiev. Tertarik karena dia mengulang mata kuliah tersebut, alias dulu tidak lulus. Manfaatnya adalah saya bisa mengetahui peta pertarungan.

“Jangan pakai software yang diusulkan dosen”, katanya. “Tahun lalu, dari empat tim, hanya satu yang bisa jalan”. Waduh, untung dikasih tahu. Akhirnya kami mencari software lain yang kami kuasai, jatuhlah pada C# dan Matlab. Alhasil, nilai A di tangan. Entah, tak tahu si rekan Rusia itu lulus atau tidak, yang jelas waktu ujian dia hanya mengerjakan beberapa menit lalu keluar duluan. Ternyata ketika saya pulang ujian, dia terlihat tanding sepakbola di lapangan kampus … pantas saja dia keluar duluan.

Tentu saja banyak biang kerok-biang kerok lain yang menjengkelkan. Tetapi jika kita bisa memahami rekan tim, banyak manfaat yang diperoleh. Di kelompok mata kuliah lainnya saya pernah menjadi jembatan penghubung antara rekan saya dari Nepal dan Pakistan, repot sekali.  Nyaris gagal proyeknya karena bagian coding SQL ngambek akibat ribut dengan seorang rekan di bagian perancangan sistem (yang katanya sombong kayak bos).

Itulah manfaat S3 dengan format perkuliahan di awal (tidak langsung riset), jadi ada cerita. Beberapa semester setelah wajib kuliah selesai (diakhiri proses kandidasi), dan masuk fase riset, saya jarang bertemu lagi dengan teman-teman karena asyik sendiri dengan tugas risetnya. Bertemu pun hanya ketika jadwal sidang kemajuan yang biasanya akhir-akhir semester (dengan berwajah kusut, atau sengaja dikusut-kusutin biar dosen kasihan).

Jaadi untuk yang sedang mendapat tugas kelompok, nikmati saja karena banyak kenangan indah yang didapat.

Munafik yang Baik

Judul yang aneh, mungkin pembaca tidak setuju. Mana ada munafik yang baik. Terlepas dari istilah munafik yang artinya “bermuka dua”, mungkin di sini istilah yang tepat adalah menutup bagian yang memang tidak seharusnya diumbar untuk dilihat, seperti layaknya pakaian yang kita kenakan.

Goal Oriented

Ketika saya bekerja di bank, di satu cabang ada dua divisi yaitu operasional dan marketing. Jika operasional cenderung ketat absen masuknya, alias pagi pulang sore, bagian marketing cenderung santai. Hal ini karena divisi tersebut memang berorientasi pada target, berbeda dengan divisi operasional yang memang melayani transaksi. Tidak ada konflik di antara mereka.

Bagaimana dengan dosen? Tentu saja salah satu bagiannya adalah operasional juga, khususnya pada sisi pengajaran. Harus tepat waktu, karena akan ditiru oleh mahasiswa jika kita malas. Tetapi bagaimana jika memang tidak ada jam mengajarnya? Sementara ada beban meneliti dan mengabdi yang memang berorientasi tujuan (goal oriented). Jadi jika tidak ada mengajar, tidak perlu datang kah?

Tidak Ada Salahnya Menghargai

Tadinya saya memiliki prinsip goal oriented, mungkin terbawa pekerjaan saya di IT waktu di bank dulu yang terkadang kerjanya tidak mengikuti aturan jam masuk-pulang. Bahkan sempat menginap di salah satu cabang di kranji ketika instalasi sever baru. Tapi ketika saya studi lanjut di Thailand, saya melihat dosen pembimbing saya yang memiliki karakter yang menarik untuk dipraktekan, yaitu menghargai.

Dosen pembimbing saya merupakan dosen super sibuk. Tetapi uniknya dia tidak pernah menunjukan sibuknya di hadapan siapapun. Ini mungkin sifat menutup-nutupi darinya yang saya lihat pertama. Walau sulit dihubungi untuk konsultasi, tetapi ketika konsultasi dia akan fokus berhadapan dengan kita, mematikan semua alat komunikasi/koneksi dengan pihak lain. Padahal feeling saya banyak di fikirannya yang harus dikerjakan. Tetapi sikapnya yang berpura-pura hanya fokus ke saya memang dapat diacungi jempol. Di sini dia menghargai mahasiswa.

Lain lagi cerita masalah administrasi. Ketika saya mengirim email perihal prosedur, maka dia akan menjawab 100% prosedural. Mungkin karena via email yang memang bisa dijadikan bukti. Tetapi ketika berbicara via lisan/ketemu, dia bisa fleksibel banget. Kali ini dia menghargai sistem yang ada, dalam artian institusi akan melihat jika dia sangat menghargai aturan di kampus. Walau perkiraan saya dia tidak setuju, tetapi karena menghargai akhirnya dia ikuti.

Memang saya setuju dengan dosen yang fokus ke tujuan (goal oriented), tetapi dengan hanya fokus ke hal tersebut jika datang dan pergi semaunya sepertinya terlihat tidak menghargai bagian operasional (TU, SDM, dll). Apa salahnya mengenakan “baju” terlihat datang rajin ke kampus, intinya sebenarnya adalah menghormati dan menghargai orang lain, lembaga, dan pemilik/yayasan. Bahkan untuk hal tertentu, seperti menggunakan fasilitas kantor, sebaiknya ijin terlebih dahulu ke divisi yang memiliki fasilitas itu, walaupun milik kampus, toh sekali lagi tidak ada salahnya menghargai orang … malah harus lah.

Berfikir Secara Komputasi (Computational Thinking)

Istilah berfikir secara komputasi (Computational Thinking) muncul sejak tahun 80-an, diperkenalkan oleh Saymor Papert, namun saat ini menjadi tren dengan pesatnya perkembangan IT. Singkat kata di sini cara berfikir fokus ke algoritma pemrograman. Tidak fokus khusus ke bahasa tertentu tetapi prinsip dasar pemrograman. Ketika berbagai negara di belahan dunia mulai memasukan kurikulum tentang Computational Thinking (CT), negara kita belum berani memasukan ke sekolah level dasar. Padahal misalnya di Singapura bahkan sudah mengklaim bahwa CT merupakan “national capability” alias kemampuan utama negara tersebut.

TIga-A dan Empat-C

Untuk menyelesaikan problem dengan CT diperlukan kemampuan dalam tiga hal yaitu Abstraction, Otomation, dan Analysis. Abstraksi adalah mengkonversi kondisi problem real menjadi bentuk padanannya secara sains. Otomatisasi berfokus ke penyelesaiannya sementara analisa gabungan dari eksekusi dan evaluasi. Sementara itu Empat C (four Cs) adalah hubungan Tiga-A itu dengan proses pembelajaran dengan empat komponen utama communication, critical thinking, collaboration, dan creativity. Google menawarkan konsep pendidikan dengan Exploring Computational Thinking (ECT) yang merupakan konsep penyelesaikan masalah secara kreatif dengan langkah-langkah yang teratur (dengan konsep algoritma) serta dengan melakukan breakdown
terhadap masalah yang kompleks. Biasanya problemnya melibatkan multi-disiplin dengan open-ended problem.

Kritik

Para ahli di bidang ilmu komputer sendiri masih ragu dengan gaya berfikir yang menurut mereka sempit. Dikhawatirkan melupakan aspek-aspek lainnya seperti sosial, etika, lingkungan dan dampak negatif dari teknologi yang dikembangkannya. Namun di era revolusi industri 4.0 ini cara berfikir ini bisa menjadi pelengkap cara berfikir yang dibutuhkan pada era ini (tahun 2020-an) antara lain:

  • Complex Problem Solving
  • Critical Thinking
  • Creativity
  • People Management
  • Coordinating with Others
  • Emotional Intelligent
  • Judgment and Decision Making
  • Service Orientation
  • Negotiation
  • Cognitive Fleksibility

Sebagai perbandingan dengan tahun 2015 adalah dapat dilihat pada link berikut.

Postingan ini sebenarnya persiapan menghadiri acara BBS (brown-beg session) yang rutin dilaksanakan di Universitas Indonesia (lab distance learning), jika dapat seat, yang temanya seperti judul di atas.

Peer-to-Peer System vs Mediator

Generasi seusia saya pasti pernah mengalami dengar musik lewat kaset, CD, hingga DVD. Namun masih kah dengan cara yang sama saat ini? Masih, mungkin hanya hadiah album dari KFC atau siswa yang mengumpulkan laporan skripsi ke kampus. Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya adalah ditemukannya konsep Peer-to-Peer di tahun 90-an.

Nasib Para Mediator

Mediator di sini adalah penghubung antara satu pihak dengan pihak lainnya, produsen dengan konsumen, penjual dengan pembeli, baik barang maupun jasa. Seperti contoh di atas, mediatornya adalah produsen musik waktu itu. Penyanyi kontrak dengan produser, kaset/CD dijual dan hasil dibagi antara produsen dengan penyanyi. Ketika era digital melanda, seorang pemilik bisa membagi file dengan orang lain dan ini dengan mudah dilakukan di era 2000-an ketika network kian murah dan kian cepat. Bahkan seorang penyanyi bisa langsung mengirimkan hasil karyanya ke pendengar langsung, tentu bukan dengan mediator produser melainkan sebuah teknologi peer-to-peer, sebagai contoh adalah NAPSTAR. Mungkin di musik agak kurang “smooth” karena ada unsur pembajakannya, walaupun sekedar berbagi pakai. Contoh lain adalah konsumen, misalnya ingin membeli komponen kendaraan, maka dengan mudah dapat dilakukan tanpa ke bengkel/toko sparepart melainkan langsung ke pabriknya dengan mediator yang baru yaitu sistem online.

Peer-to-Peer System

Sistem ini merupakan sistem terdistribusi dengan tiap node bisa berupa PC, laptop, HP dan lain-lain yang terhubung ke jaringan dengan menerima aturan-aturan yang ditetapkan bersama. Prinsip ini bisa menghubungkan produsen dengan konsumen langsung. Jadi banyak mediator yang tadinya sebagai penghubung mereka tidak digunakan lagi (bidang transportasi, keuangan, dan lain-lain). Juga dengan lembaga pendidikan?

Ketika putri saya kelas 6, saya memasukan ke bimbingan belajar ternama di Indonesia. Entah kenapa sebagian rekannya keluar karena orang tuanya tidak melihat adanya kemajuan. Anak teman saya juga ketika dikursuskan di bimbingan belajar yang lainnya malah keluar dengan sendirinya dan minta daftar ke situs yang menyediakan bimbingan belajar online, dan hasilnya pun oke. Jika tujuannya pemahaman atau transfer pengetahuan, hubungan langsung peserta didik dengan tutor bisa dilaksanakan tanpa mediator fisik (bimbingan belajar) yang terbatas ruang dan waktu.

Break sebentar nulisnya … abang driver online sudah tiba membawa jus pesanan. Lagi-lagi contoh aplikasi online yang menghubungkan produsen jus dengan konsumen.

Seberapa Mediator kah Anda?

Karena pertanyaan aneh, jadinya sulit dijawab. Ambil saja contoh toko-toko komputer di kawasan glodok yang menjadi perantara produsen laptop/hp sudah merasakannya (termasuk juga department store kabarnya). Beberapa bisa bertahan karena level mediatornya rendah, alias menyediakan juga servis, tukar tambah, dan lain-lain yang memang tidak terlalu melibatkan pihak produsen. Di sini toko itu sendiri yang menjadi produsen yang berjenis jasa (perbaikan). Bagaimana dengan kampus/sekolah dan Dosen/guru? Silahkan jawab sendiri dengan cara analisa seperti contoh di atas. Mahasiswa sudah jelas jadi konsumen (semoga industri jadi konsumen juga), siapakah produsennya, kampus/sekolah atau dosen/guru? Ataukah keduanya mediator dengan pihak lain (unknown) sebagai produsen? Wah. Ada baiknya lihat video Youtube siswa 12 tahun sebagai app developer tentang guru-guru di sekolahnya. (https://www.youtube.com/watch?v=Fkd9TWUtFm0). Sekian semoga menginspirasi.

Mengejar Impian

Tiap orang memiliki impian sejak kecil. Impian di sini maksudnya sesuatu yang diinginkan, bukan mimpi ketika tidur, walaupun kadang keinginan itu dibawa mimpi juga sih. Berbeda dengan anak-anak yang ketika bermimpi tidak memperhitungkan mungkin atau tidaknya, orang dewasa terkadang membatasi diri dengan faktor-faktor luar yang membuat mimpi tersebut tidak mungkin tercapai.

Mimpi yang Sempurna

Jika dalam syair lagu “mimpi yang sempurna” Ariel bertanya kepada bintang-bintang tentang mempinya yang sempurna, ada baiknya mengikuti pendapat Arnold Schwarzenegger ketika dia bermimpi menjadi bintang Hollywood. Orang lain mengatakan tidak mungkin mengingat aspek-aspek di dirinya yang tidak cocok seperti logat khas Jerman yang pasti akan membuat produser tertawa-tawa. Justru ternyata logat tersebut menjadi kalimat sederhana yang terkenal: “I’ll be back” dalam film terminator dalam logat Jerman yang kental, mirip mesin. Vision atau dalam bahasa Indonesia Visi, harus dimiliki oleh siapapun karena akan mengarahkan ke tujuan. Tentu saja visi yang baik dan jelas.

Mimpi berbeda dengan keinginan, seperti ingin rujak yang tidak lama kemudian terkabul. Ada proses panjang untuk mengarah ke impian. Terkadang memang seharusnya kita yang mengikuti impian, bukan sebaliknya impian yang fleksibel mengikuti keadaan.

No Pain No Gain

Terkadang memang banyak penderitaan yang menyertai perjalanan menggapai impian. Selama ada hasrat dan keinginan tentu saja penderitaan sebesar apapun tidak berarti. Banyak rekan-rekan saya yang sakit, masalah rumah tangga bahkan meninggal dunia dalam menggapai jenjang pendidikan tertentu. Di tempat saya bekerja pun hanya separuh yang menyelesaikan studi doktoralnya, tapi tetap saja tidak dianggap penderitaan karena memang itu harus dijalani. Kemarin ada rekan yang sedang berusaha memperoleh beasiswa menceritakan perjalanannya yang berliku. Ketika memperoleh beasiswa ternyata lokasi kampusnya di Jogja bukan yang diinginkan (Jakarta). Padahal perjalanan mencapainya cukup panjang, pemberkasan, wawancara di daereah Jawa Timur, ketika sudah beres ternyata hamil dan nunggu melahirkan. Namun toh tetap saja dia mencoba lagi.

Santai dan Tetap Pertahankan Minat

Seperti biasa ketika ada rekan yang berhasil mendapatkan beasiswa dan mulai studi lanjut atau ada rekan yang telah menyelesaikan kuliahnya banyak yang bersemangat untuk mengikuti jejaknya. Tapi yah … seperti itu, semangat di awal dan kemudian redup lagi dan kemudian muncul lagi ketika ada yang lolos atau lulus dan begitu berulang kali. Makanya doctoral bootcamp yang diadakan Kemenristek DIKTI kurang begitu berhasil.

Impian itu mirip dengan lari jarak jauh atau lari marathon, bukan sprint 100 meter. Ketika berlari, memperoleh momentum dan energi baru. Kalau impian cepat sekali memperolehnya, jangan-jangan itu bukan impiannya, tapi “ada kesempatan dalam kesempitan”. Ada konsep dalam traditisi Tibet yaitu keinginan merupakan “loba” alias keserakahan, kesedihan/menderita adalah “dosa”, dan ketidaktahuan adalah “moha”, kalau dalam Islam diistilahkan nafsu. Jika impian kita jalankan seperti itu, sudah dipastikan akan sulit mencapainya. Anggap saja impian misalnya doktor, guru besar, atau apapun itu sekadar objek yang dituju tanpa ada keinginan ataupun nafsu yang mengebu-gebu, seperti dalam konsep meditasi yaitu santai dan tetap pertahankan minat. Dalam Islam diistilahkan nafsu mutma’inah. Mungkin film yang dibintangi Will Smith di bawah bisa menginspirasi. Yuk, tetap melangkah tanpa gejolak di hati.

Menguasai Keterampilan dengan Cepat

Untuk mengetahui informasi dengan cepat dapat dilakukan dengan mencoba melatih membaca cepat. Makin banyak yang dibaca makin banyak pula informasi yang diperoleh, sehingga dengan waktu yang sama jika membaca dengan cepat akan diperoleh informasi/pengetahuan yang lebih banyak. Untuk informasi memang hanya bisa dilakukan dengan membaca, tapi bagaimana dengan keterampilan? Apakah bisa dengan membaca? Tentu saja tidak. Video di youtube ini cukup baik bagaimana meningkatkan keterampilan (bahkan menguasai keterampilan baru) hanya dalam waktu 20 jam, yang jika dirinci per hari berlatih selama 40 menit maka hanya dibutuhkan waktu 30 hari saja.

Ada lima langkah untuk menguasai dalam waktu 20 jam atau 40 menit sehari.

Beberapa ahli mengatakan istilah 10 ribu jam berlatih agar menjadi ahli dalam satu keterampilan, tetapi postingan ini sedikit memberi kabar baik bahwa tidak harus selama itu. Namun dibutuhkan hal-hal berikut ini jika ingin menerapkan prinsip 20 jam ini, antara lain:

1. Menentukan apa yang diinginkan terhadap keterampilan tersebut

Ini sangat penting karena tidak ada gunanya menguasai keterampilan tetapi tidak mengerti manfaatnya, minimal untuk dirinya sendiri. Dengan mengerti dan sadar manfaat yang diperoleh, tekad untuk menguasainya jadi lebih besar. Misalnya menguasai bahasa Inggris. Dengan menyadari keterampilan ini bermanfaat bagi karirnya sebagai seorang dosen (studi lanjut atau publikasi jurnal internasional) maka usaha untuk menguasainya lebih intens dibanding sekedar iseng.

2. Mencari keterampilan utama yang dibutuhkan hasil dari break down

Tiap keterampilan terdiri dari sekumpulan keterampilan-keterampilan kecil yang terhubung satu sama lain menghasilkan keterampilan tertentu. Seorang pemain bole selain harus memiliki kemampuan dribbling juga memiliki keterampilan-keterampilan kecil dari stamina berlari, passing, hingga sekedar menahan emosi ketika tanding. Jadi harus mampu memecah keterampilan utama menjadi beberapa keterampilan bagian (sub-skill) agar lebih mudah dilatih. Biasanya pelatih memiliki program yang membagi keterampilan menjadi beberapa keterampilan kecil. Mirip perkuliahan yang membagi menjadi beberapa sistem kredit semester (SKS).

3. Riset terhadap kemampuan diri (evaluasi diri) yang perlu dilatih sehubungan dengan sasaran skill

Tiap orang memiliki bakat tertentu yang membuat mudah dalam menguasai keterampilan tertentu. Tapi pasti ada kelemahan-kelemahan tertentu juga. Agar proses latihan lebih efektif adakalanya kita harus memahami apa keterampilan bagian tertentu yang menjadi titik lemah kita dan diperkirakan membutuhkan waktu lama dalam menguasainya. Jika lemah di babak akhir dalam permainan catur, perlu melatih lebih banyak dalam menerapkan teori-teori babak akhir. Jujur terhadap diri sendiri sangat diperlukan dalam tahap ini.

4. Menghilangkan hambatan-hambatan ketika berlatih

Karena per hari hanya dibutuhkan waktu 40 menit saja, maka perlu menjaga dari gangguan-gangguan yang mungkin terjadi ketika proses pelatihan. Televisi, radio, ponsel, dan sejenisnya perlu disingkirkan terlebih dahulu. Sedapat mungkin dalam melakukan latihan tidak perlu persiapan yang njlimet sehingga membuat kita malas sendiri untuk memulai latihan. Misalnya ketika berlatih gitar, maka sedapat mungkin gitar tersebut diletakan di kamar, dan ketika mulai latihan langsung di tempat itu juga, tidak perlu pergi ke studia, ke kebun .. apalagi sampai mandi kembang dulu, hehe.

5. Menguatkan tekad di awal proses latihan

Ini ibarat kunci starter kendaraan, apakah kita putar on atau tidak, tergantung tekad kita sudah bulat atau masih angin-anginan. Jika masih tidak jelas, sudah tentu tidak efektif untuk dieksekusi. Akan membuang waktu 20 jam yang percuma karena tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan pastinya walaupun mengerti manfaat, mampu memecah menjadi sub-skill, mampu mengevaluasi diri dan menghilangkan gangguan-gangguan. Yuk dicoba.

 

Mencari Pertanyaan itu Sulit Juga

Saat ini era milenial sudah masuk ke segala bidang kehidupan mengikuti bertambahnya usia generasi Y yang lahir antara tahun 1981 hingga 1995. Generasi yang muncul akibat derasnya arus informasi menuntut generasi-generasi sebelumnya ikut gaya mereka yang mencintai segala informasi. Entah ada hubungannya atau tidak, saat generasi ini mulai beranjak dewasa istilah “KEPO” muncul, yang artinya sifat ingin tahu yang tinggi (KEPO=knowing Every Particular Object). Sifat yang membuat para guru kewalahan ini ada baiknya dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Minimal keingintahuannya diakomodir dengan alat-alat bantu pembelajaran.

Untuk bisa klop dengan generasi ini tidak ada cara lain mengikuti gayanya yang kepo itu. Tidak ada yang salah dari sifat keingintahuan yang tinggi. Hanya saja tinggal diarahkan ke hal-hal yang bermanfaat/berguna. Kemampuan mencari pertanyaan di genenerasi ini ada baiknya ditiru oleh generasi-generasi sebelumnya yang telah lama diajarkan sesuatu yang setelah tahu, digunakan seterusnya. Padahal saat ini sesuatu yang diketahui saat ini, tidak lama kemudian akan digantikan oleh sesuatu yang baru lagi dan harus diketahui agar tidak tertinggal.

Pentingnya Bertanya

Saya sempat beberapa menit menyusun sebuah komposisi pertanyaan ketika tiba di negeri orang. Maklum banyak masalah ketika terpaksa studi lanjut di luar negeri, padahal komunikas satu-satunya hanya bahasa Inggris. Aneh juga, selama ini saya belajar bahasa Inggris menjawab pertanyaan-pertanyaan. Hampir tidak pernah diajarkan membuat pertanyaan, padahal di lapangan sering sekali pertanyaan harus dibuat. Einstein dikabarkan oleh ibunya ketika pulang sekolah selalu ditanya apa yang dia tanyakan ke gurunya ketika sekolah, bukan nilai atau materi pelajaran. Jika Anda telah mampu membuat pertanyaan yang tidak ada seorangpun yang menjawab, level Anda sudah masuk kategori calon doktor. Biasanya ujian kandidasi adalah mempresentasikan sebuah pertanyaan yang merupakan gap antara temuan terkini dengan yang saat ini dibutuhkan (teknik, metode, dan lain-lain).

Arah Pemikiran

Untuk menyelesaikan pekerjaan mental berupa penyelesaian masalah, diperlukan kombinasi kemampuan berfikir runtun dan acak. Namun tetap saja harus ada arahnya, dalam hal ini pertanyaan yang tepat. Semakin detil pertanyaan, semakin baik arah pemikiran seseorang. Hal ini yang perlu dibentuk ke generasi-generasi milenial yang jika tidak diarahkan hanya akan memiliki pemikiran yang banyak tetapi dangkal. Kita membutuhkan anak-anak muda yang memiliki pemikiran yang mendalam, bukan hanya luarnya saja. Memang lebih mudah mencari informasi dangkal karena tersedia secara instan di internet. Untuk hal-hal yang mendalam, kemungkinan perlu digali dari sumber-sumber lain yang baik dari sisi variasi, juga akurasinya (misalnya jurnal).

Pasangan Setia: Tanya dan Jawab

Sebagai contoh mudah adalah permainan catur. Pertama kali saya bingung, apa yang dilakukan orang bermain catur. Ternyata sederhana, menemukan pertanyaan kemudian merespon dalam bentuk jawaban. Yang repot adalah posisi yang sepertinya tidak ada solusi yang harus dijawab. Prof. Max Euwe, mantan juara dunia catur dari Belanda memberikan arahan yaitu memunculkan pertanyaan awal berupa apa saja “Ciri” bangunan saat ini, dilanjutkan dengan pertanyaan apakah bisa ber-“inisiatif”. Jadi dari awal hingga akhir isinya hanya pertanyaan dan menjawabnya, hingga ditemukan siapa yang paling mampu menjawab pertanyaan yang di level master (bukan catur jalanan) biasanya pertanyaannya sama. Sebagai ilustrasi, perhatikan partai di bawah ini, antara Grandmaster Milenial dengan Gen X yang seru. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Bumi Dipijak Langit Dijunjung

Pepatah yang mengatakan “dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung” mengandung arti agar mengikuti adat istiadat dimana kita berada. Tapi pada postingan ini pepatah itu dapat diterapkan dalam keadaan apapun terlepas dari sebuah lokasi geografis.

Bumi Dipijak

Sadar posisi saat ini merupakan syarat utama mengorganisasi sebuah institusi. Sadar akan posisi yang mirip dengan perumpamaan “bumi dipijak”, membuat kita memahami diri (evaluasi diri) untuk kemudian merancang visi dan misi ke depan. Beberapa tahun riset data spasial yang melibatkan posisi geografi membuat saya paham betul prinsip utama geografi “banyak faktor yang berpengaruh, tetapi faktor geografilah yang utama”. Walau yang mengatakan memang orang geografi, tapi rasanya benar juga (dulu saya dengar lebih parah “semua yang ada dimuka bumi itu, adalah geografi” .. waduh). Ketika mengetik tulisan ini saya berada di dalam rumah di kawasan Bekasi, beda kan jika posisi di Palu saat gempa atau di dalam pesawat JT610 .. (semoga Allah memberikan tempat yang layak kepada korban-korban).

Bumi Dipijak – Alhamdulillah

Di awal semester kuliah doktoral, saya mengalami hal yang rumit dan berat. Diawali keberangkatan yang tidak di-ridhoi beberapa senior hingga kewajiban mengikuti pembekalan DIKTI yang membuat saya telat dua bulan mengikuti kuliah. Padahal kuliah tetap berjalan dan wajib ambil 12 sks dengan IPK min 3,5. Beberapa rekan dari kampus teknik terbaik di Surabaya pun mengalami nasib yang sama. Kesulitan mendapat IPK yang baik. Di situlah prinsip “bumi dipijak” bekerja. Evaluasi diri adalah teknik yang logis. Tapi sebelumnya dalam kondisi yang kalut, kata Alhamdulillah merupakan kata mujarab di segala kondisi. Ketika merasa di titik terendah, dengan kata yang wajib di baca ketika shalat itu, selalu teringat pemberian-pemberian Allah yang kita terima, dari istri, anak yang sehat, pekerjaan yang masih ada, dan lain-lain. Padahal yang tidak ada itu hanyalah secuil, walaupun “drop out” di mata. Dengan prinsip Alhamdulillah ditambah menyadari “bumi dipijak”, langkah tepat saya ambil, berganti jurusan ke information management. Yup, langkah yang tepat, karena saya lulusan pertama Computer Science & Information Management (CSIM) walaupun semester pertama (sebagai mahasiswa Computer Science) tidak dihitung yang logikanya saya harusnya lulus belakangan. Arti kata Alhamdulillah adalah segala puji bagi Allah, berarti berfungsi juga sebagai benteng kokoh dari sikap ingin dipuji. Cari muka, show up, dan hal-hal lain yang ingin agar kita dianggap orang hebat tidak akan dilakukan oleh orang yang memahami makna Alhamdulillah. Cuma kadang suka lupa juga sih ..

Langit Dijunjung

Kita bukanlah kerbau yang main seruduk ketika merasa prinsip kita benar. Memperhatikan orang lain saat ini sangat penting. Banyak organisasi yang berguguran karena kurang memperhatikan orang lain, yang dalam teori IT Strategic disebut “key performance indicator”. Ketika perusahaan taksi tidak bisa memahami kesulitan-kesulitan dan kedongkolan-kedongkolan yang dialami oleh konsumen, hadirnya aplikasi online menghantam organisasi itu. Contoh lain, saat ini institusi kampus sedang “kebingungan” dengan kondisi saat ini, merger di mana-mana, bahkan di tempat saya sesaat lagi beralih ke pemilik lain. Membuat konsumen dan pihak-pihak terkait puas akan pelayanan dan servis yang diberikan sepertinya wajib diketahui bukan hanya oleh bagian pemasaran, melainkan seluruh karyawan. Yang utama tentu saja pemilik/yayasan harus menyadari hal itu. Jika di perusahaan Gojek ada istilah “North Star” yaitu visi utama yang harus dipahami oleh seluruh pegawai (jika ada satu saja cancel – seluruh analis segera mengolah big data apa sebab-sebabnya), di kampus pun harus ada juga, katanya. Jika hanya mahasiswa yang dimanja, tetapi nasib dosen tetap merana, ya udah kabur saja. Sekian, semoga bisa menghibur.

Instant Quiz dengan KAHOOT – Part 1

Ketika presentasi Revolusi Industri 4.0 di Munas APTIKOM 2018 Palembang, Prof. Eko Indrajit meluncurkan quiz dengan menggunakan aplikasi Kahoot. Dengan memasukan Game PIN seperti gambar di bawah maka akan ditampilkan empat pilihan jawaban, masing-masing dengan warna atau bentuk. Soal ditayangkan di layar LCD, biasanya di kelas. Siswa ketika menjawab tinggal menakan jawaban di handphone masing-masing setelah memasuki quiz via PIN tersebut. Bagaimana cara membuatnya? Postingan ini sekadar berbagi bagaimana membuat kuis instan ini.

Mendaftar/Signup Kahoot

Klik di sini untuk daftar (di bagian bawah kahoot). Untuk gratis, tekan saja Sign up for Free.

Ada empat pilihan, untuk guru, siswa, sosialita atau pekerjaan. Di sini saya ambil contoh sebagai teacher sesuai dengan profesi saya, dosen.

Berikutnya diminta cara sign up (ada tiga pilihan). Gunakan saja login with Google agar lebih cepat. Pilihan lainnya adalah Sign up with Microsoft, jika ingin.

Hanya butuh tiga isian dan satu checklist konfirmasi sebelum lanjut (joint Kahoot). Checklist terakhir ditekan jika ingin menerima informasi baru dari Kahoot.

Setelah itu schroll hingga ke bawah, pilih saja Basic Version for Teachers.

Selesai sudah daftar Kahoot. Pilih saja Personalize dengan beberapa isian baru agar sesuai dengan tema quiz. Atau jika tidak ingin, bisa pilih No Thanks.

Lanjut: Membuat Quiz

Tak Selamanya Efektif dengan Online

Saat ini sedang digalakan dilaksanakannya Massive Open Online Course (MOOCs) khususnya dari universitas-universitas favorit di tanah air seperti ITB, UGM, UI dan kawan-kawan. Sasaran utamanya adalah ilmu yang tersebar secara merata, gratis, dapat diakses siapapun dan kapanpun. Istilahnya sekali merengkuh dayung, satu dua pulau terlampaui.

Dari sisi skalabilitas, MOOCs unggul dalam menyebarkan IPTEKS. Terutama bidang-bidang yang memang cocok untuk dilaksanakan dalam format MOOCs, didukung dengan teknologi e-learning yang saat ini kian fleksibel dan user friendly. Bagaimana dengan kualitas? Nah masalah ini agak sulit untuk mengetahui/mengujinya. Diperlukan riset khusus agar mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat menyerupai bahkan melebihi kualitas dari perkuliahan offline alias tatap muka.

Sosialisasi

Sebenarnya baik itu pendidikan, kursus, dan hal-hal lain di luar pendidikan bisa juga menggunakan online. Misalnya seminar/pertemuan ilmiah yang semula pertemuan tatap muka, saat ini bisa juga dilaksanakan dalam bentuk webinar, alias seminar via web. Yah, walaupun sempat tertidur karena tidak ada cofee break.

Di situlah letak perbedaannya, sosialisasi. Memang kita mengenal “medsos: media sosial” tetapi, tentu saja tidak sama dengan sosialisasi. Medsos hanya merupakan jembatan informasi untuk sosialisasi, mirip dengan percakapan via chat, email, dan komunikasi elektronik lainnya. Di sinilah mengapa piknik, tur wisata, dan hal-hal lain masih laku dan tidak tergantikan dengan online, walaupun saat ini virtual reality (VR) kian canggih yang memberi sensasi semirip mungkin dengan yang real.

Saat ikut klinik kurikulum di munas APTIKOM, tutor memberi gambaran mengapa walaupun disiarkan online, tetap saja mahasiswa yang hadir di kuliah online di negara maju membludak. Ketika ditanya ke mahasiswa mengapa hadir padahal bisa saja mengikuti videonya di rumah. Mereka menjawab sederhana: “sosialisasi”, maksudnya bisa mengukur dengan rekan-rekannya. Jika rekan-rekannya dengan santai dan terlihat tanpa usaha ketika mengikuti kuliah sementara kita masih “mangap” (maksudnya berfikir keras memahami maksud si pembicara), berarti harus ekstra keras lagi belajarnya .. hehe, mirip yang pernah saya alami.

The Secret

Banyak hal-hal lain yang tidak bisa dituangkan dalam bentuk online. Khususnya hal-hal rahasia yang memang bersifat pribadi, atau tidak sesuai dengan alur/prosedur baku. Saya pernah ketika di Indonesia menanyakan via email apakah bisa regitrasi KRS semester pendek (tempat kuliah di LN) tetapi kuliah dari Indonesia karena SKS yang diambil hanya riset. Jawabannya tidak, tetapi ketika kongkow di warung kopi kampus bersama rekan yang sama pembimbingnya mengatakan jangan lewat email. Dan memang ketika meminta langsung/bicara dia setuju di semester pendek tahun berikutnya tanpa datang ke kampus. Email dan bentuk lain online bisa jadi barang bukti, terkadang beberapa advisor berhati-hati dalam menjawab via email, chat, dll. Memang seharusnya mahasiswa yang mengambil semester pendek berada di kampus. Lagi-lagi kongkow/nongkrong di warung kopi dan ngobrol langsung bisa lebih berkualitas dibanding chatting.

Satu hal yang sulit dilakukan online adalah bimbingan. Ketika revisi atau mendiskusikan suatu hal, sangat sulit dilakukan secara online. Bisa saja dilaksanakan via Skype, tetapi ketika ada hal-hal yang harus ditunjukkan, berkas-berkas, hitungan-hitungan dan sejenisnya sangat sulit. Beda dengan ketemu langsung, tinggal buka berkas, tunjukkan. Terkadang dicoret-coret sambil dibahas bersama di berkas tersebut. Itulah mengapa revisi jurnal oleh review bisa beronde-ronde, karena jawaban yang kita berikan dalam bentuk tulisan. Mungkin jika reviewer ketemu langsung bisa beres cepat, tapi tentu saja karena blind review tidak bisa dilakukan langsung.

Mungkin banyak contoh-contoh lain yang menggambarkan pentingnya ketemu langsung. Juga hal-hal lain terkait privasi yang memang tidak membolehkan adanya catatan dalam suatu pertemuan. Bayangkan pertemuan rahasia yang tidak dilakukan secara langsung (via online), sifatnya jadi tidak rahasia lagi karena online, walaupun ada jaminan keamanan dari sistem network, perlu ada jaminan tidak terekam.

Dosen saya yang terbuka dan apapun diberi jika diminta, ketika seorang mahasiswa kedapatan merekam perkuliahannya beliau marah (baru kali itu melihat dia marah). Ternyata marah karena rekannya yang di USA memberitahu kalau kuliahnya ada di Youtube. Ya, aspek kecepatan, variasi, dan jumlah memang ditawarkan oleh sistem online, tetapi jika ada hal-hal yang tidak butuh cepat, tidak butuh jumlah, dan tidak butuh variasi tetapi memerlukan hal-hal lain seperti negosiasi, motivasi, dan sejenisnya, tentu saja efektivitasnya harus disertai dengan offline, yang saat ini dikenal dengan istilah blendded learning, atau turunannya Flipped Learning. Selamat ber-kopi darat.

Sumber Inspirasimu Ada di Sekitar

Teman/Guru

Pergaulan kita memang sangat mempengaruhi perkembangan jiwa kita. Apa corak yang mewarnai diri kita sangat ditentukan oleh teman. Bahkan di Islam dikatakan bahwa “seseorang mengikuti agama temannya ..”. Jadi peran teman, apalagi sahabat sangat menentukan bentuk pribadi kita. Mungkin agama lain memiliki prinsip yang sama. Postingan ringan ini sedikit berbagi pengalaman hal-hal yang mempengaruhi atau menginspirasi hidup saya yang mungkin ada kemiripan dengan pembaca sekalian.

Banyak teman yang menginspirasi saya. Dampaknya sangat luar biasa, mengalahkan sumber-sumber inspirasi lain karena sifatnya yang “live”, berbeda dengan sumber-sumber lain yang sedikit ada campuran rekayasa. Setidaknya kita kurang percaya. Bandingkan Anda melihat maling secara langsung dengan lewat berita di koran, di radio, di televisi atau internet. Atau melihat hantu .. upss.

Banyak guru atau dosen yang menginspirasi. Entah karena kepintaran, skill, atau sekedar sifat baiknya, tutur kata, dan hal-hal menarik lainnya. Bagaimana yang sudah selesai sekolah? Silahkan cari sumber-sumber lain, entah di asosiasi, pertemuan-pertemuan ilmiah dan sejenisnya. Pasti ada satu, dua yang bisa memacu kita untuk maju.

Film

Ya, yang satu ini mau tidak mau pasti dialami oleh sebagian besar anak kecil, terutama seumuran saya, maksimal. Maksudnya maksimal adalah saya sudah mengalami nonton film walaupun di TVRI waktu itu. Generasi seusia orang tua saya tentu saja belum ada, entah mungkin tontongan wayang kulit/golek atau ketoprak bisa saja mirip pengaruhnya. Waktu kecil ketika teman sebaya saya mengagumi sebuah tokoh jagoan, saya malah tertarik dengan orang tua berkacamata tebal, dan biasanya berjenggot lebat. Siapakah dia? Dia lah yang saya kagumi, seorang profesor. Seseorang yang mensuport si jagoan, bahkan mampu menciptakan robot yang bisa berubah-ubah. Generasi milenial tentu saja sulit dibayangkan dampaknya mengingat informasi sudah berkembang dengan cepat dan murah. Lewat youtube, seorang anak bisa menikmati beragam tontonan yang diinginkan tanpa menunggu jadwal dan duduk manis menikmati acara.

Bacaan

Bacaan paling berkesan bagi seorang anak adalah bacaan ketika kecil. Generasi 80-an pasti mengenal “ini ibu budi”. Untuk masalah keagamaan pasti mengenal juga “juz ama” yang sulit dipelajari waktu itu ketika teknik iqra belum ada. Sayangnya bacaan pelajaran di sekolah jarang yang menginspirasi. Untungnya beberapa guru bisa menginspirasi, tentu saja yang ringan tangan. Maksudnya gemar membantu dan membimbing, bukan meng … silahkan isi sendiri.

Untuk yang terakhir ini, agak unik. Dibilang sangat berpengaruh juga tidak, karena kalah dengan sumber yang lain. Tetapi dibilang tidak berpengaruh juga tidak. Lihat saja berita hoax yang saat ini marak kebanyakan dari tulisan yang dibaca. Mungkin karena kurangnya orang kita membaca lebih lanjut jadi mencari bacaan yang instan yang biasanya diperoleh di medsos. Bacaan juga memiliki keunggulan dibanding sumber yang dibahas di awal, yaitu jumlah informasi yang didapat tiap waktu lebih banyak. Teman mungkin bercengkerama beberapa jam, film juga, tetapi buku bisa berjam-jam dan tidak perlu urut/serial seperti film. Makanya, malaikat Jibril kabarnya gemas ketika menyuruh nabi membaca dan ternyata memang waktu itu nabi tidak bisa membaca. Kita yang bisa membaca karena memang disekolahkan sejak kecil tetapi malas membaca sepertinya Jibril a.s lebih gemas lagi, apalagi sampai percaya berita hoax.