Respek

Beberapa waktu yang lalu di grup WA santai tempat saya bekerja, saya merespon postingan rekan saya tentang video ulah penjahat-penjahat dalam aksinya yang terekam cctv. Isi respon saya sederhana, hanya mengatakan bahwa setelah melihat postingan tersebut saya merasa seluruh teman-teman saya baik semua. Alhasil, respon pun bermunculan, mulai dari yang tersenyum, hingga yang mengkritik kalau saya salah menggunakan standar. Coba saja teknik itu Anda terapkan, gosip teman kerja, protes keras, dijelek-jelekan, dikomplain, dll, tidak ada artinya dibanding ulah penjahat-penjahat itu kan .. he he.

Viveka

Yah, begitulah kadang kita memerlukan teknik tertentu untuk menjaga kondisi hati tetap damai (istilah dalam bhs sansekertanya teknik tersebut adalah viveka). Buku karya Daniel Golemen berjudul emotional intelligence mencontohkan satu teknik meredam emosi ketika ada kasus tertentu yang membuat kita kecewa, misal di angkutan umum kita kesenggol cukup keras dengan penumpang lain. Namun ketika kita tahu ternyata yang bersangkutan ada masalah berat, misal angota keluarganya sakit keras sehingga tergesa-gesa dan menyenggol Anda, maka emosi yang memuncak akan tiba-tiba hilang. Jadi, orang yang tidak mengenal ambulans (tentu saja tidak mungkin ada kecuali si supir tuli dan rabun) pasti akan marah-marah atas sikap ugal-ugalan mobil tersebut ketika lewat membawa pasien gawat darurat.

Kisar 7 Samurai (Seven Samurai)

Tidak ada orang yang menyukai pribadi yang tidak respek terhadap orang lain. Nah, repotnya terkadang virus tersebut menyusup secara perlahan ke hati kita. Maka perlu menjaga sikap respek tersebut, kepada siapapun. Film 7 samurai menceritakan kampung petani yang akan dijarah oleh perompak ketika saat panen tiba, yang diketahui oleh petani yang tidak sengaja menguping pembicaraan dua perampok yg bertugas mencari sasaran. Berkelanalah utusan petani tersebut mencari samurai baik hati yang siap membantu. Mereka berhasil mengumpulkan 7 samurai dari beragam latar belakang yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Ketujuh samurai tersebut sadar bahwa petani-petani tersebut tidak sanggup membayar mahal, tetapi satu orang samurai senior mengambil nasi dan lauk pauk yang disediakan petani, dia menyetujui permintaan petani tersebut sambil menyuap makanan dengan sumpitnya. Pertanda bahwa samurai-samurai itu menyadari jasa-jasa petani yang dengan kerja kerasnya menyediakan makanan untuk kelangsungan hidup manusia. Dengan kata lain, samurai-samurai itu respek terhadap petani-petani miskin tersebut. Di akhir cerita, sang pimpinan perampok heran dan bertanya mengapa samurai-samurai tangguh itu rela membantu petani. Pimpinan 7 samurai jagoan di film itu tidak menjawab, hanya memberi respek kepada si perampok itu sebelum wafat.

Respek Kepada Siapapun

Zaman sekarang ditandai dengan beragam hal-hal spesifik yang membutuhkan spesialis-spesialis di segala bidang. Tidak mungkin lagi kita mencukupi kebutuhan hidup 100% mandiri. Kerjasama dan kebutuhan akan bantuan orang lain mutlak diperlukan. Apapun profesi kita, bantuan dari orang lain mutlak diperlukan. Saking banyak yang dibutuhkan terkadang kita tidak tahu dengan siapa kita membutuhkan bantuan. Jadi, cara termudahnya sederhana, anggap saja Anda membutuhkan bantuan kepada setiap orang. Tidak mungkin kita tidak respek terhadap orang yang kita butuhkan. Ketika Anda naik ojek, Anda akan respek terhadap tukang ojek tersebut karena Anda butuh diantar, sama respeknya dengan pilot pesawat. Terhadap mahasiswa pun, dosen pasti akan respek jika merasa membutuhkan mahasiswa, terlepas apakah kampus negeri, apalagi kampus swasta. Siapa yang diajar jika tidak ada mahasiswa? Jika menjadi youtuber pun, membutuhkan subscribe dari viewer-nya kan, yang tetap saja kebanyakan mahasiswa. So, tetap menghargai orang lain, sekian dan semoga menginspirasi, “I respect to all of you”.

Raja Thai dan Biksu

Membuat Grafik dengan Excel

Excel yang merupakan spreadsheet selain memiliki kemampuan mengelola data juga mampu membuat grafik yang cukup baik, terutama untuk versi terkini. Banyak pilihan grafik yang disediakan, mulai dari line, bar, hingga pie. Grafik tersedia di menu Insert pada Excel.

Sebagai contoh kita akan membuat grafik berjenis “bar” untuk nilai akhir (NA) tabel di atas. Masuk ke menu Insert dan pilih simbol “bar” chart.

Berikutnya akan muncul bidang kerja grafik yang harus diisi data nilai akhir serta mahasiswa yang bersangkutan. Pilih Select Data untuk memasukan data yang akan ditampilkan pada grafik. Jika tidak ada klik ganda bidang kerja grafik untuk memunculkannya.

Tekan Chart data range di bagian panah untuk memilih data yang akan ditampilkan pada grafik (1). Data ini diistilahkan dengan Series yang akan muncul di kotak kiri gambar di atas. Series ini bisa lebih dari satu (dalam contoh ini bisa saja kehadiran, UTS, UAS, tidak hanya NA). Berikutnya untuk Axis tekan bagian Edit pada kotak kanan lalu sorot seluruh nama mahasiswa (2) karena jika tidak hanya berisi angka urut saja.

Perhatikan di sini akan ditampilkan UTS, UAS, dan NA. Tadinya UTS, UAS, dan NA berturut-turut bernama Series2, Series3, dan Series5. Cara menggantinya adalah tekan Edit di bagian atas kotak Legend Entries dan ketik nama yang diinginkan. Lihat, Series yang tidak digunakan bisa diunchek atau remove. Jika sudah tekan OK untuk memperlihatkan grafik.

Edit bagian judul grafik dan jika ingin menambahkan elemen lain, misalnya legenda, masuk ke menu Add Chart ElementLegend Right. Pastikan di bagian kanan akan muncul penjelasan nilai yang ada pada grafik. Silahkan modifikasi sesuai dengan keinginan, misalnya mengganti design agar memunculkan score di bagian atas bar. Untuk jelasnya lihat video tutorial berikut ini.

Inverted Index dengan Google Colab – Python

Beberapa buku teks memiliki index yang diletakan di akhir buku. Isi index adalah kata-kata penting beserta halaman dimana kata tersebut berada. Biasanya kata-kata tersebut disebutkan lebih dari satu halaman.

Sementara itu ketika seseorang mengetikan kata di mesin Google, misalnya “American Revolution”, maka Google akan mencari di mana saja kata tersebut berada, misalnya pada Index di gambar di atas di halaman 84,98, dan 166. Karena diletakan di muka yang mirip daftar isi, maka di situlah kata “inverted” bermula, yang seharusnya di belakang tapi di muka sebagai alat pencari. Sebagai contoh, puisi “Aku” karya Chairil Anwar berikut. Anggap saja satu line/baris merupakan satu berkas dokumen, atau kalau dalam satu buku adalah halaman.

  • Doc 1.Kalau sampai waktuku
  • Doc 2.’Ku mau tak seorang ‘kan merayu
  • Doc 3.Tidak juga kau
  • Doc 4.Tak perlu sedu sedan itu
  • Doc 5.Aku ini binatang jalang
  • Doc 6.Dari kumpulannya terbuang
  • Doc 7.Biar peluru menembus kulitku
  • Doc 8.Aku tetap meradang menerjang
  • Doc 9.Luka dan bisa kubawa berlari .. Berlari
  • Doc 10.Hingga hilang pedih peri
  • Doc 11.Dan aku akan lebih tidak peduli
  • Doc 12.Aku mau hidup seribu tahun lagi!

Aslinya sih satu dokumen itu satu berkas berupa buku pdf, postingan internet, jurnal, dll, tapi di sini dianggap satu baris/line saja. Atau bisa juga sih, satu berkas tersebut dijadikan satu baris dengan doc-id sebagai penunjuk line/baris berkas itu. Kalau forward index membuat index dari konten, inverted index memetakan kata/istilah ke konten. Kita memanfaatkan inverted index Google yang setiap hari membuat index (forward index) dari data yang di crawler di seluruh dunia. Berikutnya, untuk praktik siapkan sebuah file txt yang berisi puisi di atas, atau contoh sembarang. Buka Google Colab dan upload file tersebut.

Silahkan lihat kode di referensi di akhir postingan ini. Jika dijalankan, dihasilkan inverted index seperti di bawah ini. Cek apakah benar beberapa kata tepat berada di dokumen/line pada file “Aku.txt” di atas.

Di sini kita tinggal memasukan frekuensi, misalnya ‘berlari’ itu ada dua kali. Untuk jelasnya silahkan lihat video tutorial saya berikut ini.

Ref:

Link: geeksforgeeks.org/create-inverted-index-for-file-using-python/

Mengawali Tahun Baru 2021 di Masa Pandemi

Jika tahun lalu tahun baru diwarnai dengan banjir, kali ini diawali dengan pandemi COVID-19 yang sedang tinggi-tingginya angka kasus harian di Indonesia. Dampaknya sungguh luar biasa, terutama yang bekerja di sektor bisnis, maupun karyawan harian yang perusahaannya terdampak pandemik. Selain itu, bidang lain seperti pendidikan pun ikut terdampak. Terjadi penurunan mahasiswa yang masuk maupun yang registrasi ulang.

Di sisi lain, komunitas dijital sangat ramai, baik dalam bentuk meeting online, transaksi online, dan sejenisnya. Apalagi media sosial yang dibanjiri oleh sharing informasi-informasi yang up-to-date. Banyak informasi tersebut yang baik, namun banyak pula yang menurut saya kurang baik, atau setidaknya bisa mempengaruhi kita secara negatif. Postingan ini sedikit berbagi bagaimana menyikapi informasi-informasi tersebut.

Syukuri Yang Ada

Ada yang mengatakan bahwa jika Anda hari ini masih punya pekerjaan, punya uang, bisa makan dan diberi kesehatan berarti Anda termasuk orang yang beruntung. Begitulah, banyak orang yang baru merasakan nikmat pekerjaan ketika di phk, nikmatnya makan ketika kesulitan makan (baik karena sakit atau ga punya duit), atau terpaksa hutang ke sana-sini.

Memang normal, kita cenderung merasa kurang ketika membandingkan dengan orang yang lebih dari kita. Banyak informasi di grup (facebook, whatsapp, dll) yang jika tidak kita saring akan ‘mengganggu’ kinerja kita di tahun ini. Dari provokasi untuk demo (bagi buruh), maupun sekedar minta diperhatikan (bagi guru, dosen, dan pengajar lainnya). Terkadang kita perlu menjadi orang lain agar bisa merasakan bagaimana kesulitan mereka, tidak hanya menjadi diri kita saja dengan tuntutan-tuntutannya. Memang, ada hak-hak yang harus diperjuangkan, tetapi kondisi seperti ini ada baiknya kita sedikit “mengerem”. Bahkan sampai-sampai di grup alumni kampus besar dibahas gaji dosen swasta yang menurut mereka “miris” karena tidak sebanding dengan biaya kuliah yang rata-rata dosen lewat biaya mandiri. Dalam kondisi normal sih boleh-boleh saja, tetapi di kondisi saat ini, kampus swasta mengalami kondisi sulit, baik dalam pendanaan, infrastruktur, dan lain-lain akibat kondisi yang dipaksa online. Menghadapi tuntutan mahasiswa yang keras saja sudah sulit, apalagi jika pengajarnya pun ikut keras menuntut.

Sabar dan Tawakal

Info bahwa antivirus COVID-19 sudah tiba di tanah air cukup membantu meningkatkan asa kita dalam menghadapi musibah pandemik. Seharusnya tidak ada alasan lagi untuk memacu kinerja di tahun yang oleh orang Tionghoa dinamakan kerbau logam ini. Memang banyak problem yang harus diselesaikan, namun ada baiknya fokus ke yang urgen, penting, dan harus segera diselesaikan. Jika fokus ke problem-problem remeh, kita bakal kewalahan. Apalagi jika termasuk kategori pseudo-problem, alias bukan urusan kita, jika ikut difikirkan bisa sakit pusing dan emosi (oiya, kabarnya dua hal tersebut masuk gejala COVID-19).

Beberapa tradisi, seperti India, mengatakan beberapa tahun ke depan masuk kategori tahun Syiwa yang bercirikan penuh godaan untuk berbuat jahat. Balasan untuk kejahatan pun disebutkan berlipat-lipat dari tahun biasa. Entah tahun apapun jenisnya, ya jangan sampai berbuat jahat. Ada baiknya mengikuti nasehat Ranggawarsita untuk jangan ikutan edan. Sebenarnya logis, ucapan sederhana yang menyinggung saat ini, dalam kondisi semua orang sedang susah, rasa yang diterima oleh orang yang tersinggung terasa beberapa kali lipat lebih menyakitkan dari kondisi normal. Nah, kabar baiknya, jika kita berbuat kebaikan walau sedikit, bagi orang yang menerima sangat terasa dampaknya. Terkadang hal-hal sederhana, seperti menjawab pertanyaan dari siswa lewat WA atau email, terasa sangat berarti bagi mereka yang kebingungan dibanding dalam kondisi normal. Terkadang ada pula komplain pedas oleh mahasiswa, BAHKAN DENGAN TULISAN HURUF BESAR SEMUA SEPERTI INI, sikapi saja dengan sabar, dan minta maaf saja jika ada salah, selesai sudah. Terkadang jika saya bayangkan di posisi mereka, di kondisi online seperti ini memang ilmu yang diberikan kurang optimal, khususnya materi-materi praktik.

Mungkin itu saja pandangan pribadi saya, mungkin pembaca ada lainnya. Dua hal yang dibahas di atas, Sabar dan Syukur, merupakan dua hal yang menurut Imam Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumiddin” seperti dua sisi mata uang. Sekian, semoga bisa menjadi inspirasi.

Belajar Pengolahan Citra dari Sumber-Sumber di Internet

Mempelajari hal-hal baru, tidak hanya pengolahan citra, dapat dilakukan dengan memanfaatkan internet. Terlebih ketika kondisi pandemik seperti saat ini dimana perkuliahan dilaksanakan secara daring. Praktikum yang biasanya dilaksanakan secara offline di laboratorium, terpaksa memanfaatkan fasilitas pribadi milik mahasiswa, yakni laptop yang dilaksanakan secara online. Untungnya, salah satu bahasa pemrograman, yakni Python, diadposi oleh Google dengan meluncurkan aplikasi onlinenya untuk pemrograman, yakni Google Colab (silahkan lihat infonya di sini).

Semenjak kemunculannya, banyak peneliti, kampus, dan pemerhati artificial intelligent membagi kodingannya via Google Colab. Dengan menggunakan kata kunci: “Google Colab” <topik>, kita dapat menemukan sumber informasi yang diinginkan. Kalau pun tidak berupa link Google Colab, biasanya dalam situsnya disertakan juga link Google Colabnya. Nah, di situlah kita bisa belajar hal-hal yang terkait dengan teknologi yang kita inginkan.

Ada juga kontroversi terkait dengan belajar instan lewat internet, salah satunya adalah masalah ilmu dasar yang kurang diperhatikan mengingat biasanya hanya untuk aplikasi-aplikasi siap pakai saja. Menurut saya wajar, karena memang kaum milenial memiliki karakter “instant” yang harus dipenuhi oleh pengajar. Sebenarnya cukup membalik dari teori dan aplikasi menjadi aplikasi dan teori sudah mampu menarik minat mereka. Kalaupun ingin menerapkan teori dulu baru aplikasi, sebaiknya jangan terlalu panjang jedanya, syukur-syukur di pertemuan yang sama.

Beberapa dosen tidak menganjurkan menggunakan bahasa pemrograman dalam bentuk paket atau library-library seperti misalnya OpenCV untuk pengolahan citra. Alasannya tidak mendidik mahasiswa memahami dasar-dasar ilmu pengolahan citra. Mereka cenderung menggunakan Bahasa C++ dalam perkuliahan. Menurut saya baik, tetapi untuk mengejar ketertinggalan teknologi dengan negara-negara lain ada baiknya mengikuti trend teknologi terkini, apalagi jika mahasiswa ingin bekerja pada vendor/perusahaan yang memang cenderung menerapkan teknologi terkini baik dari bahasa, library, dan tools lainnya. Pembuat library pun menyediakan dasar-dasar ilmunya yang dapat diakses di situs resminya, misalnya OpenCV di link https://opencv.org/ atau pada dokumentasinya di sini, seperti contoh filter 2d dibahas pula dasar-dasar teorinya.

Tentu saja kita harus membaca buku teks standar pengolahan citra atau dasar-dasar matematika seperti kernel, matriks, dan lain-lain. Jika di era 90-an kita belajar ilmu dasar tanpa melihat langsung penerapannya, saat ini siswa lebih mudah melihat langsung penerapan ilmu dasar yang diajarkannya. Silahkan lihat video berikut untuk mengakses topik tertentu di Google Colab.

Mengunduh Citra Satelit Resolusi Tinggi Google

Salah satu riset terkini adalah klasifikasi penggunaan lahan (land use) dengan Deep Learning. Data yang digunakan adalah citra satelit. Banyak penyedia data, misalnya USGS. Hanya saja data yang diunduh per Tile (istilah satu segmen potret satelit) kurang tajam (resulusi 30 m). Bandingkan dengan resolusi google earth yang bahkan di wilayah tertentu dalam skala sentimeter. Nah, untuk klasifikasi menggunakan pola gambar (bukan warna), perlu resolusi tinggi (kurang dari 1 m), salah satunya lewat Google Earth. Postingan ini membahas teknik pengunduhan citra satelit dari Google Earth.

Google Map Customizer

Salah satu situs penyedia pengunduhan adalah Google Map Customizer yang dapat diakses di link berikut ini. Fasilitas ini memanfaatkan citra Google Earth. Isian yang diperlukan adalah ukuran dari layar yang akan ditangkap. Arahkan saja ke resolusi yang sesuai, dilanjutkan dengan mengisi ukuran lebar dan tinggi (width dan high).

Perhatikan di sini saya menempatkan pojok kiri di daerah Aceh dengan resoulis wilayah Indonesia, berukuran 9000 baik untuk lebar dan tinggi. Ukuran sebesar ini, sebagai informasi, menghasilkan ukuran citra *.png 200 mb. Lanjutkan dengan menekan “Set Dimension”. Tunggu beberapa saat tergantung ukuran peta (makin besar makin lama pengunduhannya).

Save Screenshoot

Untuk lebih jelasnya Anda dapat mengklik “How to Use” di bagian bawah Google Map Customizer. Di situ disebutkan tentang alat bantu untuk screenshoot satu berkas panjang lewat addins Save Screenshot yang tersedia untuk Mozilla dan Google Chrome.

Tekan “Save as Image” untuk mengunduh citra. Anda bisa juga memilih PDF. Tunggu beberapa saat hingga proses pengunduhan selesai. Perhatikan, di sini citra yang dihasilkan cukup detil. Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Agar Scanner UMAX 5600 Bisa Jalan di Windows 10

Setelah beberapa tahun tidak berhasil menjalankan UMAX 5600 di Windows 10 akhirnya bisa dijalankan juga. Sebelumnya memang scanner ini bisa digunakan dengan Windows XP yang lalu, setelah migrasi entah mengapa baik di forum Microsoft maupun di Googling tidak berhasil ditemukan. Selama ini digunakan dengan menggunakan VMWare yang berisi XP di dalamnya, tapi tentu saja jadi berat karena harus menyediakan satu mesin virtual XP di Windows 10.

Namun beberapa referensi di Youtube banyak yang menyarankan menggunakan aplikasi-aplikasi tertentu dengan Tips dan Trik-nya. Nah, repotnya beberapa saya jalankan, dan berhasil. Sayangnya ada sedikit kombinasi antara satu Tip n Trik dengan lainnya.

1. Gunakan Driver yang Lama dengan Kompatibilitas set ke Windows Xp sp 2

Teknik ini dianjurkan karena driver sejatinya sudah ada. Namun masalahnya adalah tidak berhasil menginstal “Hot-Key”. Tetapi ketika gagal menginstal Hot key, tetap saja beberapa file terpasang di Windows 10. Sepertinya file-file tersebut bermanfaat.

2. Menggunakan Driver Bawaan Microsoft

Metode ini dapat dilihat di link youtube ini. Ketika terpasang tetap saja “Paint” tidak mendeteksi adanya Scanner. Saya lebih suka menggunakan Paint dibanding aplikasi bawaan UMAX yang butuh waktu lama ketika membuka. Di link tersebut disarankan menggunakan “PaperScan” yang bisa diunduh di link ini. Namun ketika dijalankan Hardware Scanner tidak terdeteksi.

Untuk mengatasi hal tersebut, setelah dijalankan langakah 1 dan 2 ternyata muncul pilihan UMAX 5600 di PaperScan yang muncul kemungkinan besar karena langkah 1. Hampir saja saya “uninstall” PaperScan. Masalahnya sekarang adalah mencari software free selain PaperScan yang gratis karena masih “Trial”. Sekian, semoga ada yang bisa memberi masukan.

Koneksi Google Drive dengan Google Colab

Google colab menyediakan fasilitas penyimpanan sementara dengan cara menekan tombol folder di bagian kiri atas. Namun cara ini memiliki kelemahan yakni ketika tidak digunakan maka data yang diupload akan hilang lagi dan kita harus mengunggah ulang. Agar tidak perlu mengunggah ulang Google Colab menyediakan fasilitas menghubungkan Google Drive dengan Google Colab. Data yang diperlukan diunggah ke Google Drive dan Google Colab tinggal mengambil data dari drive saja ketika akan digunakan.

Impor Library

Library yang diperlukan adalah Drive.

Perhatikan di bagian Files, ketika simbol Google Drive ditekan maka ada instruksi untuk me-run sel yang mengaktifkan Drive. Jalankan saja.

Mengisi Authorization Code

Karena terhubung dengan drive maka perlu password Google Drive. Klik URL untuk memasukan authorization code.

Berikutnya tinggal mengkopi saja authorization code dan paste ke isian Google Colab. Pastikan Google Drive sudah aktif.

Menggunakan Drive

Perhatikan munculnya folder Drive di bagian File Google Colab. Selamat mencoba.

Silahkan lihat video tutorialnya berikut,  salah satu materi kuliah pengolahan citra.

Menentukan Kompenen RGB Citra dengan OpenCV

Citra berwarna dapat diketahui komponen Red-Green-Blue penyusunnya. Dalam OpenCV sedikit berbeda, yaitu Blue-Green-Red (BGR). Sistem yang menentukan kematangan buah misalnya, membutuhkan nilai RGB suatu buah yang matang atau belum. Nah, di sini kita coba menggunakan OpenCV yang berjalan di Google Colab untuk menentukan kadar RGB-nya yang kemudian dihitung rata-rata untuk menentukan warna dominan-nya. Dalam prakteknya tidak hanya menggunakan rata-rata melainkan dengan sistem berbasis Jaringan Syaraf Tiruan atau Deep Learning.

Mengimpor Library

Beberapa Library diperlukan antara lain CV2, NumPy, dan Google Colab File (untuk input output interface). Gunakan kode berikut di awal untuk sel baru.

  • import cv2
  • import numpy as np
  • import pandas as pd
  • from google.colab.patches import cv2_imshow
  • from google.colab import files
  • import io

Jalankan sel tersebut pastikan tidak ada kesalahan karena akan menentukan instruksi berikutnya.

Mengambil File Citra

Berikutnya adalah mengupload citra. Sebenarnya upload bisa lewat mekanisme upload di Google Colab. Tapi bisa juga dengan memanfaatkan I/O Google Colab, kita tinggal memilih file citra yang akan diuplad.

  • upload_files=files.upload()
  • for filename in upload_files.keys():
  • upload_files.keys
  • print(‘nama file: ‘,filename)
  • citra=cv2.imread(filename)

Di sini variabel upload_files berisi filename yang akan digunakan untuk imread pada OpenCV untuk mengambil matriks RGB citra tersebut. Gunakan citra RGB untuk latihan ini.

Mengolah Matriks Citra

Citra berwarna memiliki tiga komponen matriks yaitu biru, hijau, dan merah yang masing-masing berturut-turut diberi indeks 0, 1, dan 2.

  • blue=citra[:,:,0]
  • green=citra[:,:,1]
  • red=citra[:,:,2]
  • b=np.average(blue)
  • g=np.average(green)
  • r=np.average(red)
  • print(b)
  • print(g)
  • print(r)

Variabel b, g, dan r berturut-turut rata-rata dari total matriks blue, green, dan red. Fungsi print hanya digunakan untuk mengetahui skor rata-rata untuk mengecek akurasi if-else tahap berikutnya.

Deteksi Warna Dominan

Langkah terakhir adalah instruksi if-else untuk mendeteksi mana nilai yang terbesar apakah blue, green, ataukah red.

  • if b>g:
  • if b>=r:
  • result=print(‘warna dominan: blue’)
  • print(b)
  • else:
  • if g>=r:
  • result=print(‘warna dominan: green’)
  • print(g)
  • else:
  • result=print(‘warna dominan: red’)
  • print(r)

Jalankan dan pastikan warna dominan sesuai dengan kenyataannya.

Mengetahui Kekuatan Kita

Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sangat sulit karena menyangkut sesuatu yang sulit diukur. Namun demikian tetap harus diketahui karena terkait dengan tujuan jangka panjang. Bagi peneliti adalah roadmap penelitian, atau bagi mahasiswa berupa proposal penelitian yang akan disusun. Postingan kali ini sedikit berbagi apa saja yang harus diperhatikan dalam memahami kekuatan kita.

Meningkatkan Kekuatan vs Mengurangi Kelemahan

Namanya manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan. Untuk pelajar yang masih fresh, baik meningkatkan kekuatan dan mengurangi kelemahan dua-duanya penting dan menjadi fokus utama, walau ketika beranjak dewasa terkadang di negara maju sudah mulai fokus meningkatkan bakat yang ada, apakah sepak bola, tenis, peneliti atau penyanyi, pelukis dan spesialis-spesialis lainnya. Nah, untuk dosen-dosen seusia saya jika fokus mengurangi kelemahan, dikhawatirkan tidak ada waktu tersisa untuk meningkatkan kekuatan yang dimiliki.

Dalam suatu organisasi, misalnya kampus terkadang pimpinan tidak mampu mengumpulkan pundi-pundi kekuatan dari SDM yang ada. Bahkan dalam perputaran organisasi, para staf cenderung melihat kelemahan yang memang mudah dilihat, sementara kelebihan-kelebihan kurang di-ekspos. Saling menjatuhkan, intrik-intrik politik dalam satu organisasi terkadang lupa bahwa seharusnyalah bersaing dengan organisasi lain yang terus berbenah, apalagi di era disrupsi dan pandemi COVID-19. Hal ini terkadang lumrah dijumpai, kita cenderung kurang menghargai prestasi bangsa sendiri, terlepas dari sukses atau gagal. Di Jepang, pesumo walaupun kalah tetap dihormati dan mendapat bayaran yang tinggi. Untuk yang dekat dengan Indonesia, misalnya Thailand dan Malaysia, mereka sangat menghormati atlit-atlit yang membela bangsanya. Tampak yel-yel “don’t be sad, its ok” bergemuruh dari suporternya ketika Malaysia kalah di final memanah dengan Indonesia. Atlit-atlit Thailand, misalnya, disambut di bandara oleh para penggemarnya menang atau kalah. Untungnya saat ini negara kita mulai menghargai atlit-atlitnya yang berprestasi.

Jebakan “Iklan”

Iklan di sini maksudnya hal-hal yang menarik perhatian saat ini. Misalnya, ketika tren “machine learning”, semua pada fokus ke machine learning, tidak perduli cocok atau tidak, perlu atau tidak. Bahkan ada anekdot yang ditujukan orang yang baru belajar machine learning yang nyinyir dengan rekannya yang belajar statistik atau matematika.

Saya teringat rekan saya yang jago di satu bidang, tetapi karena godaan bidang lain akhirnya meninggalkan bidang yang dikuasainya dan beralih ke bidang baru yang lebih diminati walau dari nol lagi. Hal ini terkadang wajar, dan mirip “jebakan batman”. Ibarat anak yang sudah jago satu hal, terkadang jika tidak ada lawan sebanding akan bosan juga. Merasa keahliannya yang sebenarnya sudah tinggi, dianggap olehnya biasa-biasa saja, sehingga bosan dan berusaha mencari bidang lain yang menurutnya lebih menarik. Bayangkan, misalnya Anda menguasai Java, jika orang lain sanggup menyelesaikan satu problem dalam satu minggu, Anda sanggup mengerjakannya beberapa jam saja, maka itulah kekuatan Anda yang sebenarnya. Tapi karena bosan Anda beralih misalnya ke Python, dan Anda mengerjakan satu problem selama satu minggu, padahal orang-orang bisa dalam beberapa jam saja. Anda tidak akan dilirik orang.

Terlalu Asyik Mengerjakan Rutinitas

Beberapa rekan saya, karena asyik menjalankan rutinitas jadi kurang meningkatkan kekuatannya. Dalam satu seminar internasional, saya kebetulan satu meja makan dengan mereka. Kebetulan mereka ibu-ibu yang saya faham banyak kegiatan rumah tangga yang menyita. Saya dengan jujur berkata bahwa kalian sadar atau tidak kalau kualitas di atas rekan-rekan lain yang baru. Mereka malah tersenyum, dan mengatakan kalau saya hanya memuji. Saya malah balas berkata bahwa apa untungnya bagi saya mengatakan demikian. Eh, tidak lama kemudian mereka terkejut ketika namanya disebutkan di forum sebagai salah satu “best paper”.

Nah, bagaimana dengan kelemahan? Tentu saja harus diatasi dan dikurangi, terutama yang mengganggu jalannya kinerja. Namun jika susah, ya fokus saja ke kelebihan/kekuatan. Tidak mungkin memaksa menjadi penulis buku jika lambat mengetik, atau menjadi motivator tetapi sulit pidato. Mungkin cocok di laboratorium, atau selalu menang hibah. Kolaborasi saat ini menjadi satu keharusan. Satu kelemahan bisa diisi oleh kelebihan rekan kita. Dalam pembukaan rakornas asosiasi perguruan tinggi infokom (APTIKOM), ketua aptikom menganjurkan kita fokus ke kekuatan yang ada di kita sekarang daripada menunggu yang tidak/belum ada. Yuk, kita mulai fokus ke kekuatan kita dan berkolaborasi.

Mengetik dengan Suara lewat Google Docs

Pertemuan yang lalu kita telah berlatih mengetik. Tidak perlu berkecil hati untuk rekan-rekan yang kecepatannya mengetiknya lambat karena saat ini Google Docs (http://docs.google.com) menyediakan fasilitas mengetik dengan suara. Alat yang dibutuhkan hanya microphone dan internet karena Google Docs bekerja lewat cloud (internet).

Akun Gmail

Syarat terpenting memanfaatkan fasilitas Google Docs (juga fasilitas lainnya) adalah akun Gmail. Sepertinya saat ini hampir semua orang memiliki akun Gmail. Ketika login Gmail, di bagian kanan atas kita bisa beralih ke Google Docs dengan menekan simbol documen. Lanjutkan dengan membuat dokumen baru.

Memulai Mengetik via Suara

Untuk memulai mengetik, masuk ke menu Tools (atau alat jika sudah dalam bahasa Indonesia) lalu pilih Voice Typing (atau Dikte). Pastikan simbol microfon muncul di sebelah kiri google docs.

Set Bahasa

Jika kita ingin mengetik dalam bahasa Indonesia, maka terlebih dahulu kita harus mengeset bahasa Indonesia agar suara dapat dengan baik dikonversi ke tulisan oleh Google. Caranya adalah dengan menekan tombol segitiga di atas simbol microfon. Pilih bahasa yang Anda inginkan, misalnya Bahasa Indonesia.

Memulai Mengetik dengan Suara

Berikutnya kita tinggal berbicara saja lewat mikrofon. Usahakan perlahan dengan pengucapan yang jelas. Tangan kita tinggal menekan titik dan koma saja. Atau tanda petik jika ingin mengetik cerita/novel. Untuk menyimpan ke laptop, tinggal masuk ke menu File Download dan pilih format yang kita inginkan, misalnya docx. Sekian selamat mencoba.

Lebih jelasnya lihat tutorial video di bawah ini.

Konversi MS Word ke PDF Mengikuti Format IEEE dengan PDF Express

Institute of Electrical and Electronic Engineering (IEEE) memiliki format/style tersendiri. Format ini sudah ada dalam aplikasi sitasi, misalnya Mendeley. IEEE juga menyediakan fasilitas konversi dari MS Word ke PDF standar IEEE lewat situs https://www.pdf-express.org/.

Login

Untuk mendaftar, klik “New Users – Click Here”. Jika sudah punya akun silahkan login ke converter pdf resmi IEEE tersebut.

Unggah Berkas

Masukan Conference ID, Email Address, dan Password yang sudah Anda daftarkan. Silahkan tekan Forgot your password? Ketika Anda lupa. Karena dipakai ketika seminar IEEE saja, biasanya pengguna lupa dengan passwordnya. Selanjutnya tekan Create New Title untuk memulai konversi naskah paper IEEE. Masukan Judul paper sebelum proses unggah berkas MS Word-nya.

Setelah muncul informasi file yang diupload lanjutkan dengan menekan Continue untuk melanjutkan proses konversi. Ada tiga status yang mungkin terjadi: 1) Manual Conversion, 2) Error, dan 3) Upload Incomplete.

 

Perbaiki jika ada Error dan tunggu beberapa saat sampai Anda menerima email hasil dari konversi. Biasanya error jika di dalam naskah ada format Font yang berbeda dengan format standar IEEE.

Menerima Hasil

PDF bekerja lewat mekanisme email. Jadi hasil konversi akan dikirim lewat email.

Selamat, Anda sudah berhasil mengkonversi MS Word ke PDF yang sesuai dengan format IEEE. Naskah tinggal diunduh. Sekian, semoga bermanfaat.

 

Self-Supervised Learning di AIS 2020

Hari ini ada acara spesial yakni Artificial Intelligence Summit (AIS) 2020. Beberapa keynote akan dilaksanakan. Salah satunya nanti Yann LeCun, penemu self-supervised learning. Hari ini pengenalan Self-Supervised Learning (SSL) diberikan oleh Prof Bambang dari ITB. Ide menarik dari metode ini adalah bahwa manusia belajar ketika anak-anak sebagian besar tanpa “supervised”/panduan. Mereka menggunakan self-supervised yang dalam SSL dikenal dengan kombinasi pretext dan downstream task.

Jenis pretext task ada banyak antara lain: rotation, colorization, in-painting, jigsaw, placing image patches, dan lain-lain. Presentasi disertai dengan demo program menggunakan Google Colab, lihat di sini programnya. Disertakan pula link Github sumbernya. Silahkan lihat record-nya di Youtube, atau video di bawah ini.

Menghitung Jumlah Kata dengan Python

Menghitung jumlah kata merupakan tugas wajib yang harus bisa diselesaikan oleh mesin pengelola teks. Teknik telah digunakan oleh word processing misalnya MS Word. Ketika kita mengetik, di bagian bawah langsung tercetak jumlah kata yang telah diketik. Nah, di sini kita coba teknik yang digunakan dalam bahasa pemrograman Python.

Library yang digunakan untuk menghitung kata adalah collections yang memiliki satu fungsi bernama Counter. Gunakan instruksi Open untuk mengambil file txt yang akan dikelola.

  • f2 =  open(‘Praktek.txt’‘r’)
  • content = f2.read()
  • print(content)

Variabel content ketika di-print akan menampilkan isi dari file “Praktek.txt” seperti praktek sebelumnya (lihat pos yang lalu). Tetapi kali ini kita menggunakan fungsi split untuk memisahkan kata dari file tersebut.

  • words = open(‘Praktek.txt’).read().split()
  • words

Terakhir kita menggunakan fungsi Counter baik untuk menampilkan jumlah per kata maupun jumlah total kata (dengan fungsi len).

Untuk jelasnya lihat video tutorial ini.

Mengelola Environment Anaconda

Anaconda merupakan pakat Integrated Development Environment (IDE) berbasis Python (https://www.anaconda.com/). Paket lengkap ini sangat membantu siswa yang baru pertama kali belajar bahasa pemrograman Python. Sebelumnya pengguna Python menggunakan konsol untuk memrogram, termasuk mengelola environment-nya (lihat post yang lalu). Namun, Anaconda memperkenalkan teknik yang lebih sederhana dan mudah dicerna lewat Anaconda Navigator.

Mengunduh Anaconda

Untuk menginstal Anaconda, silahkan unduh di sini. Sesuaikan dengan sistem operasi yang kita gunakan, dan pilih versi yang terkini. Jika sudah, jalankan hingga muncul tampilan sebagai berikut:

Mengatur Environment

Pada Anaconda Navigator terdapat menu Environments untuk mengelola environment yang ada. Environment merupakan folder kerja yang berisi fasilitas-fasilitas tertentu, misalnya untuk deep learning, machine learning, dan lain-lain. Maksudnya adalah agar satu aplikasi tidak bercampur dengan aplikasi lainnya sehingga lebih rapi dan terstruktur.

Secara default, environment yang ada adalah base (root), yang di dalamnya sudah terdapat beberapa fasilitas dasar, salah satunya Jupyter Notebook. Untuk membuat satu environment baru, gunakan tombol +Create di bagian bawah. Untuk beralih ke environment lainnya tinggal menekan nama environment tersebut. Tuggu sesaat hingga library yang ada muncul di sebelah kanan. Untuk membuka terminal ataupun Jupyter Notebook, silahkan tekan simbol segitiga di sebelah kanan environment yang dipilih.

Ada baiknya kita menggunakan Open Terminal untuk membuka Jupyter Notebook agar folder sesuai dengan yang kita inginkan.

Perhatikan saya menggunakan environment “Nusaputra” dengan folder kerja di d:\pengajaran\Pengolahan Citra. Instruksi jupyter notebook bermaksud membuka jupyter notebook di browser kita.

Mencoba Jupyter Notebook

Berbeda dengan Google Colab yang selalu terpasang Library, pada Jupyter Notebook library tertentu, misal OpenCV, harus dipasang terlebih dahulu. Gunakan PIP atau dengan Anaconda Navigator, lihat caranya di materi kuliah saya berikut ini. Perhatikan bagaimana mengelola sel, tracing error, dan lain-lain.