Mencoba OpenCV di Google Colab

Python memiliki beragam library. Salah satu library terkenal untuk pengolahan citra (image processing) adalah OpenCV (https://opencv.org/). Untuk mencoba library ini silahkan buka Google Colab (http://colab.research.google.com) di browser kita.

Instalasi OpenCV

Untuk menginstal OpenCV, gunakan PIP dengan disertai simbol “!” di depan cell Google Colab sebagai berikut. Setelah itu tekan simbol run di sebelah kiri sel tersebut.

! pip install opencv-python

Tunggu beberapa saat menunggu Google Colab selesai menginstall OpenCV.

Import Library OpenCV

Tidak serta merta ketika diinstal OpenCV dapat langsung digunakan. Import terlebih dahulu. Gunakan satu sel baru agar lebih mudah men-debug nya.

  • import os
  • import numpy as np
  • import matplotlib.pyplot as plt
  • import cv2

Tekan run dan pastikan tidak ada kesalahan. Di sini numpy dan matplotlib merupakan library untuk pengolahan matriks dan plotting. Nah, cv2 di sini merupakan OpenCV.

Membaca, Menampilkan, dan Konversi Citra

Berikutnya kita berlatih menggunakan fungsi OpenCV antara lain, membaca, menampilkan, dan mengkonversi ke hitam putih sebuah citra. Pada google colab upload image sembarang (berformat jpg/png). Tekan terlebih dulu simbol folder di sebelah kiri Google Colab kita.

  • from google.colab.patches import cv2_imshow  
  • img = cv2.imread(‘Rahmadya.jpg’, cv2.IMREAD_UNCHANGED)
  • cv2_imshow(img)
  • grayImg = cv2.cvtColor(np.array(img),cv2.COLOR_BGR2GRAY);
  • cv2_imshow(grayImg)

Kode di baris atas menambahkan satu patches karena cv.imshow tidak berjalan di Google Colab maupun Jupyter Notebook. Variabel img merupakan citra asli, sementara grayImg yang sudah dikonversi ke hitam putih (gray). Perhatikan di OpenCV formatnya Blue-Green-Red (BGR), bukan RGB.

Plotting

Selain dengan OpenCV, ada baiknya kita belajar menampilkan dalam bentuk Plot karena lebih rapih. Gunakan kode berikut di sel yang baru.

  • plt.subplot(121), plt.imshow(img), plt.title(“Original”)
  • plt.xticks([]), plt.yticks([])
  • plt.subplot(122), plt.imshow(grayImg), plt.title(“Edited”)
  • plt.xticks([]), plt.yticks([])
  • plt.show()

Pastikan program berjalan dengan baik.

Silahkan kunjungi video tutorial ini untuk lebih jelasnya.

Instal Mendeley Desktop di Mac

Mendeley merupakan citation tool yang paling diminati oleh peneliti. Selain gratis, aplikasi ini mudah dan praktis digunakan. Kombinasi antara mendeley online (www.mendeley.com) dan desktop menyebabkan fleksibel digunakan, bahkan ketika menggunakan lebih dari satu device. Karena postingan yang lalu sudah dibahas instal Mendeley di Windows, kali ini akan dibahas bagaimana instal Mendeley di Mac.

Registrasi Mendeley

Mendeley mengharuskan pengguna memiliki akun. Siapkan akun email untuk login ke Mendeley. Tidak harus email resmi, email gratisan pun bisa digunakan. Lewati langkah ini jika Anda sudah punya akun Mendeley. Untuk registrasi, tekan saja menu “Create Account” di pojok kanan atas. Isi email disertai dengan nama dan password Mendeley.

Setelah itu buka email dan tekan Confirm yang terdapat pada isi email yang dikirim Mendeley. Tidak sampai satu menit Anda berhasil registrasi Mendeley.

Mengunduh Mendeley

Mendeley akan otomatis memberikan tombol unduh mengikuti sistem operasi Anda. Jika Anda pengguna Mac dengan IoS-nya, maka situs download Mendeley akan memberikan kode sumber berbasis Mac.

Tekan bar berwarna merah untuk mengunduhnya. Tunggu beberapa saat hingga proses pengunduhan selesai. Tekan Open di file yang sudah diunduh untuk melakukan proses instalasi.

Instal Mendeley

Drag simbol Mendeley ke arah Applications untuk mempersiapkan Mendeley. Selesai sudah proses instalasi, Anda tinggal menjalankan Mendeley yang baru saja diinstal.

Masukan akun yang baru saja Anda buat (register).

Login dan Instal Plug-In untuk MS Word

Jangan lupa untuk menginstal Plug-in Mendeley agar bisa terkoneksi dengan Microsoft Word.

Jika sudah, Anda bisa menggunakan Mendeley untuk mengorganisir sitasi di naskah Artikel Anda. Untuk memastikan Plugin berjalan dengan baik, buka MS Word dan pastikan di menu Reference ada fasilitas lengkap Mendeley. Selamat Mencoba.

Membuat Resume/CV dengan Microsoft Word

Resume atau Curriculum Vitae (CV) merupakan sarana penting untuk memperkenalkan kita kepada pihak-pihak yang membutuhkan kemampuan kerja kita. Resume yang baik selain dapat memberikan gambaran yang tepat juga harus memiliki aspek estetika. Postingan ini membahas proses pembuatan CV baik dari bawaan Microsoft Word maupun template-template yang tersedia di internet.

1. Template dari Microsoft Word

Microsoft Word menyediakan template standar yang dapat dibuka ketika kita membuat naskah baru selain beberapa template lain seperti brosur, undangan, dan lain-lain.

Misalnya kita memilih “Blue Spheres Resume” untuk kita jadikan template. Ketika ditekan maka sebuah template siap dibuat.

Education bisa Anda ganti dengan “Pendidikan” dan copas saja menjadi beberapa bagian menyesuaikan tingkat pendidikan yang telah kita lalui. Foto dapat Anda ganti dengan mengklik kanan, pilih Fill lalu cari foto Anda.

2. Template Dari Internet

Silahkan searching “Free Resume Template Microsoft Word” di Google, maka Anda akan menjumpai beragam situs, misalnya: https://www.freesumes.com/modern-resume-templates/. Pilih saja satu resume yang menurut Anda menarik, unduh dan edit seperti langkah pada template bawaan Microsoft Word.

Beberapa software dapat juga digunakan misalnya Photoshop dengan kualitas yang tidak kalah baik. Namun karena Word paling banyak digunakan saat ini, ada baiknya kita dapat membuat resume dengan Microsoft Word. Selamat mencoba.

Mengimpor Teks di Google Colab

Google colab merupakan fasilitas pemrograman Python yang disediakan secara online oleh Google. Untuk mengaksesnya silahkan kunjungi: https://colab.research.google.com/. Sebagai bahan praktek, siapkan sebuah file teks, misalnya Praktek.txt yang dapat Anda buat secara kilat dengan text editor, misalnya notepad.

Buat notebook baru dengan file – New Notebook di Google Colab. Jika Anda lihat gambar di atas ada fasilitas Files yang harus Anda buka dulu dengan menekan simbol “File” di kiri bawah gambar di atas. Setelah fasilitas file muncul, tekan simbol “Upload” berupa gambar panah ke atas untuk mengupload sembarang file txt.

Perhatikan di jendela Code Anda bisa menyisipkan kode. Salah satu keunggulan notebook adalah bisa memisahkan kode menjadi beberapa sel terpisah yang bisa dirun sendiri-sendiri. Kata kunci “open” dan “read” di atas muncul ketika satu huruf ditekan. Sangat membantu bagi yang kurang hafal instruksi-instruksi Python.

Silahkan lihat video berikut untuk lebih jelasnya. Salam.

 

Paket Lengkap Praktikum: Google Colab, Gmail, Classroom

Mahasiswa angkatan saya ketika praktikum, rutinitasnya adalah bawa buku catatan, menuju ruang lab, mendengarkan arahan asisten dosen, mempraktekan materi yang diajarkan lalu kalau ada tugas dikumpulkan dan pulang. Kalau tidak bisa terkadang nanya teman-teman sebelum ke instruktur. Kampus menyediakan sarana prasarana berupa komputer, LCD proyektor, whiteboard, dan ruang ber AC.

Waktu terus berjalan hingga perkembangan teknologi yang cepat membuat beberapa kampus hanya menyediakan ruangan saja karena mahasiswa sudah memiliki laptop. Tentu saja perlu instalasi program yang akan dilatih. Untuk praktik pemrograman, yang sering diinstal adalah netbeans untuk java, php-mysql untuk web, dan android studio untuk mobile. Nah, untuk machine learning dan kawan-kawan, Python masih menjadi bahasa utama.

Google

Salah satu website no.1 di dunia adalah Google. Situs ini selain berfungsi sebagai mesin pencari ternyata memiliki fasilitas-fasilitas penting lainnya seperti email, penyimpanan, pengetikan, e-learning, pemrograman, online meeting, dan lain-lain. Jadi seluruh paket yang ada bisa dimanfaatkan baik yang berbayar maupun yang gratis.

Google Classroom

Ini merupakan senjata ampuh dosen yang di kampusnya tidak memiliki fasilitas e-learning. Tinggal login dengan Gmail, langsung bisa membuka kelas baru (untuk dosen) atau mengikuti kelas (untuk mahasiswa).

Google Colab

Ini merupakan fasilitas baru yang disediakan oleh Google untuk pemrograman secara interaktif. Bahasa yang dipilih adalah Python dengan versi Jupyter Notebook-nya. Selain menyediakan software, Google Colab juga menyediakan fasilitas GPU-nya yang powerful, cocok untuk rekan-rekan yang meramu Deep Learning.

Integrasi E-Learning dan Praktik

Untuk memberikan nilai, ternyata e-learning pada Google Classroom sudah menyediakan fasilitas-fasilitas seperti link Youtube, blog, dan yang terpenting untuk praktikum adalah link Google Colab untuk mengecek code yang dibuat mahasiswa. Bukan hanya berupa “capture-an” yang bisa diedit, di sini bisa dijalankan langsung oleh dosen penguji apakah programnya berjalan dengan baik atau masih ada error di sana sini. Sekian, siapa tahu bisa ikut mempraktekan.

Penjadwalan Online Meeting dengan Zoom : User tidak perlu Sign-up Zoom

Instruksi pemerintah yang mengharuskan kampus melaksanakan perkuliahan daring memaksa kampus membuat strategi agar perkuliahan memiliki kualitas yang mendekati perkuliahan tatap muka. Hasil evaluasi semester yang lalu yang dilakukan terpaksa secara daring menimbulkan umpan balik berupa ketidakpuasan mahasiswa. Beberapa demonstrasi dilakukan agar biaya kuliah online dibedakan dengan tatap muka. Tentu saja tuntutan tersebut sulit diakomodir.

Blended learning yang sejatinya gabungan dari tatap muka dengan e-learning banyak diadopsi oleh beberapa kampus dengan modifikasi dimana tatap muka diwakilkan dengan online meeting. Akibatnya aplikasi-aplikasi pendukung online meeting banyak dicarai, antara lain: zoom, google meet, team link, dan sebagainya.

Contoh Penjadwalan

Meeting dengan zoom dapat dilakukan secara langsung dengan menekan tombol New Meeting bisa juga dengan penjadwalan. Untuk perkuliahan resmi atau webinar-webinar lainnya ada baiknya langsung dijadwalkan dengan menekan tombol Schedule.

Banyak isian yang harus dimasukan di form ketika Schedule ditekan. Tanggal dan jam acara beserta durasi merupakan komponen penting. Misalnya kita akan membuat online meeting dengan spesifikasi sebagai berikut:

  • User bisa langsung online dengan video dan suara.
  • User tidak perlu memasukan kode meeting.
  • User tidak perlu “sign in” di aplikasi zoom.

Langkah-Langkah Penjadwalan

Langkah yang dilakukan adalah menekan tombol Schedule dilanjutkan dengan mengisi sesuai dengan spesifikasi. Tekan tombol Advanced Option karena ada fasilitas tertentu yang diperlukan, yakni user tidak perlu “sign in” di aplikasi.

Kalender bisa digunakan untuk pengingat, biasanya dengan Google Calender. Beberapa konfirmasi perlu dilakukan karena zoom akan berinteraksi dengan Google. Bagian Advanced Option perlu diisi seperti gambar berikut.

Contoh pilihan di atas berarti kita menyediakan satu virtual waiting room sebelum host meng-admit (membolehkan masuk room). Enable join before host berarti user bisa masuk walau meeting room belum men-start meeting, tetapi tetap saja host perlu meng-admit. Mute participants upon entry memaksa user yang baru masuk tidak aktif microphone nya. Only authenticated users can join: Sign in to Zoom perlu di -unchek karena kita ingin user tidak perlu sign in di Zoom. Biasanya orang-orang tua di kampung tidak bisa atau sulit sign up/register di sebuah aplikasi, bahkan email pun tidak punya. Terakhir Automatically record meeting bermanfaat untuk merekam meeting, baik di komputer kita maupun di cloud.

Manajemen Meeting

Terkadang pemilik akun tidak ditugasi menjadi host. Maka perlu ada transfer host dari pembuat jadwal meeting dengan host baru yang harus standby menjaga meeting dengan baik. Kalau di tatap muka dianalogikan dengan pembawa acara/panitia.

Cara transfer host mudah saja yaitu dengan menekan tombol Participants dilanjutkan dengan menekan peserta yang sudah masuk room untuk dijadikan host. Tekan tombol More lalu pilih Make a Host. Mudah saja ternyata, tapi hati-hati jangan sampai salah memilih akun. Sebaiknya transfer saja ketika baru sedikit yang masuk atau kalau perlu ketika baru berdua saja setelah sedikit pembicaraan agar dia siap menjadi host dengan tugas meng-admit peserta lain yang nantinya akan hadir. Demikian, semoga bisa membantu, selamat ber-online meeting.

Memantau Kinerja Dosen Lewat Asesor Serdos

Tak terasa sudah lebih dari setahun menjadi asesor sertifikasi dosen sejak pertama kali diajukan oleh universitas (lihat syarat-syarat menjadi asesor pada postingan yang lalu). Banyaknya asesor yang pensiun menuntut penambahan jumlah asesor serdos. Asesor serdos sangat diperlukan guna mengontrol validitas aliran tunjangan serdos. Praktiknya, antara satu LLDIKTI dengan LLDIKTI wilayah lainnya berbeda. Misalnya, LLDIKTI 4 sudah menggunakan konsep online, yang ternyata sangat cocok untuk kondisi pandemi seperti saat ini. LLDIKTI 3 baru memulai online, namun seperti halnya LLDIKTI 4 dahulu ketika memulai online, pasti banyak kendala-kendala yang dihadapi.

BKD Online LLDIKTI 4

LLDIKTI 4 sangat baik dalam menerapkan BKD dan LKD online (https://bkd.lldikti4.or.id/). Sangat baik di sini mampu menjabarkan alur sistem informasinya yang terdiri dari:

  • Dosen mengajukan kontrak BKD, validasi oleh kepala departemen
  • Dosen membuat laporan BKD, validasi oleh dua asesor serdos

Di sini terlibat tiga akun, yaitu akun dosen yang sudah serdos, akun asesor, dan akun kepala depertemen (ketua jurusan atau dekan). Selain itu kontrak BKD untuk semester yang akan dijalani, ketika semester berakhir secara otomatis menjadi laporan BKD dengan sedikit editing ketika ada perbedaan antara rencana (kontrak) dengan implementasinya.

BKD online tidak memerlukan tanda-tangan langsung oleh baik asesor maupun kepala departemen. Persetujuan tinggal meng-klik “approve” saja. Dan yang menurut saya cukup membantu adalah, asesor dapat melihat bukti kinerja yang diunggah oleh dosen yang mengajukan. Sangat efisien dan tidak terkendala dengan jarak dan waktu. Hanya saja di sini, LLDIKTI 4 menyarankan untuk asesor mengenal langsung dosen yang diasesori, dan menggunakan aplikasi tersebut untuk mempermudah saja.

BKD Online LLDIKTI 3

Karena berdekatan dengan LLDIKTI 3 maka beberapa dosen dari LLDIKTI 3 menunjuk asesor dari LLDIKTI 4. Nah, di sini ada sedikit perbedaan yang mencolok, terutama mengenai proses persetujuan. Di LLDIKTI 3 yang selama ini menggunakan aplikasi berbasis MS Access, kini diganti dengan online (https://bkd-lldikti3.kemdikbud.go.id/).

Beberapa kendala masih ada, seperti data yang diinput tidak tercetak. Mungkin di versi berikutnya akan diperbaiki seperti yang terjadi pada LLDIKTI 4 yang terus memperbaiki. LLDIKTI 3 prosesnya lebih sederhana:

  • Dosen mengisi laporan BKD dan memilih asesor yang ada di daftar
  • Dosen mencetak laporan BKD dan meminta tanda-tangan asesor yang dipilih
  • Dosen mengupload scan laporan BKD yang sudah dibubuhi tanda tangan

Seperti biasa, sebuah materai 6000 diperlukan pada kolom tanda tangan dosen yang mengajukan laporan BKD, berbeda dengan LLDIKTI 4 yang tidak memerlukan materai. Proses persetujuan tampak masih manual, dengan tanda tangan, sebelum diunggah. Namun ada satu keunggulan dibanding menggunakan MS Access yaitu karakteristiknya yang terintegrasi. Ketika ada asesor baru, bagian BKD online tinggal menambahkan asesor tersebut dalam list dan tidak perlu men-share MS Access yang berakibat ada kemungkinan ketidakseragaman karena dosen masih menggunakan versi yang lama.

Melihat Kinerja Dosen via BKD Online

Menjadi asesor mau tidak mau membaca berkas laporan kinerja. Dari situ bisa menilai kinerja-kinerja dosen yang ada, apakah serius atau hanya sekedar menjalankan kewajiban agar tunjangan serdos cair. Terkadang saya kagum dengan dosen yang dalam diam dan santainya ternyata memiliki output dan outcome yang di atas rata-rata. Nah, untuk dosen yang pasif ada baiknya kepala departemen mengecek kontrak BKD dosen di bawah departemennya apakah sudah baik atau sekedar “gugur tugas” saja. Terkadang kagum juga dengan mereka yang bisa mempublikasikan ke jurnal-jurnal yang berkualitas, terlihat dari laporan kinerja (LKD). Bahkan tidak jarang saya ikut membaca karena dapat dilihat dari berkas-berkas yang diunggah.

Kita dan Dagangan Kita

Beberapa hari yang lalu ada pelantikan dekan di kampus tempat istri bekerja. Seperti biasa, umumnya pengangkatan penjabat diwarnai dengan suka, tidak suka, setuju, tidak setuju dan lain-lain, terutama dari kubu-kubu yang calonnya gagal. Mirip dengan drama pilpres di tanah air. Namun terlepas dari itu semua, sebaiknya tidak mempengaruhi kinerja personil dalam institusi tersebut. Kata dagangan di sini hanya kiasan saja, tidak berarti merendahkan apapun profesi kita.

Organisasi pasti ada yang memiliki, entah perorangan ataupun organisasi. Pemilik ini tentu saja ingin organisasi yang dimilikinya maju, berkembang, diakui di masyarakat, dan menghasilkan keuntungan yang tidak hanya sesaat tetapi bisa terus menerus (sustainable) sesuai dengan visi dan misinya. Pegawai yang bekerja di sisi lain berperan menjalankan fungsinya sesuai dengan standar operasional yang sudah didefinisikan dalam peraturan internal kepegawaian.

Entah apapun jenis organisasi, baik yang real maupun jasa, karyawan yang bekerja di perusahaan itu sebenarnya menawarkan jasanya kepada perusahaan. Seorang staf tata usaha menawarkan kemampuannya mengelola administrasi, seorang dosen yang menawarkan keahliannya mengajar dan mengelola kelas, jabatan tertentu seperti ketua program studi, dekan, hingga rektor pun tidak jauh berbeda. Tinggal bagaimana caranya seorang pegawai meningkatkan skill dan keahliannya sesuai dengan bidang spesialisasinya.

Ketika bekerja, dicatat atau tidak sebenarnya ada rekaman terhadap kinerja kita. Mirip rapor tidak tertulis. Terkadang pengalaman pekerjaan sebelumnya menjadi bahan penilaian untuk pekerjaan di perusahaan yang baru, atau untuk naik ke level jabatan di atasnya. Jadi apapun posisi kita dan tugas kita saat ini sebenarnya hasilnya tidak hanya dihargai dengan gaji tapi rekaman yang akan dilihat oleh pihak yang memperkerjakan kita nanti.

Bagaimana jika kita sudah bekerja setengah mati tetapi tidak berhasil juga diangkat? Mengajar bertahun-tahun tapi tidak pernah diminta menjadi pejabat, seperti kepala lab, sekretaris jurusan, atau ketua jurusan. Sederhana saja, sesuai judul saya di atas, sesunggunya kita memiliki satu dagangan yang kita tawarkan oleh orang yang mempeperjakan kita. Ketika proses seleksi untuk promosi, secara sederhana kita sesungguhnya hanya menawarkan barang dagangan kita yang berupa beberapa keahlian tertentu. Tidak perlu berkecil hati jika tidak dipilih, ibarat menawarkan barang, konsumen tentu saja bebas memilih barang yang diinginkan. Terkadang konsumen memilih hal-hal tertentu yang diinginkan, misalnya untuk pimpinan di kampus yaitu kemampuan mengelola departemen, memiliki kemampuan riset yang tinggi dan sebagainya. Atau tidak dipilih mungkin karena justru calon tersebut memiliki kemampuan di atas level yang ditawarkan. Jika kita sadar hal ini, tidak akan ada yang sakit hati, konspirasi untuk menjatuhkan, dan hal-hal negatif lainnya yang mengganggu roda organisasi yang seharusnya bertarung dengan organisasi pesaing tetapi malah ribut sendiri di dalam.

Jika pemimpin menyadari hal ini maka disadari atau tidak, akan mengumpulkan pundi-pundi kekuatan tim-nya agar berdaya saing tinggi, bukannya fokus ke kelemahan dan kejelekannya. Siapa yang tidak mengenal kualitas Lionel Messi di Barcelona. Dagangan yang ditawarkannya sangat menggiurkan klub-klub eropa lainnya ketika dia sudah merasa dagangannya tidak dihargai dan menawarkan ke klub-klub lain. Sekian, semoga bisa menghibur.

Jadi Pembicara Sekaligus Reuni

Beberapa minggu yang lalu, kampus tempat saya mengambil pascasarjana mengundang saya menjadi pembicara mengenai tips untuk studi lanjut agar lancar dan hari ini jam 09.00 – 12.00 WIB acara berlangsung. Acara tersebut cukup bermanfaat terutama bagi rekan-rekan yang sedang studi lanjut, khususnya pascasarjana. Hadir pula tamu khusus bapak Dr. Sunu Wibirama, M.Eng yang memang sering membahas bagaimana melakukan riset dan menulis jurnal yang baik. Satu lagi yang hadir adalah rekan kuliah saya yang dulu, Taqwa Hariguna, PhD yang membicarakan aspek non-kognitif yang dapat membantu kelancaran studi lanjut. Berikut ini kira-kira ringkasan yang dibahas oleh para narasumber.

Mas Sunu

Satu hal penting yang dibahas oleh mas Sunu adalah apa saja tips yang harus dilaksanakan agar studi lanjut berjalan dengan baik, dari penjadwalan hingga bagaimana mengatur ponsel kita agar tidak mengganggu aktivitas riset/penelitian. Sebelumnya dibahas pula tipe-tipe fokus pada riset dari improvement metode, penerapan untuk memecahkan masalah, dan aspek-aspek lainnya. Yang penting adalah ada hal-hal baru yang berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

Rahmadya

Saya membahas aspek-aspek non-teknis, terutama bagaimana tetap fokus dan termotivasi selama kuliah, dari evaluasi diri dalam menentukan konsentrasi, menemukan sosok figur lewat asistensi, proyek, seminar, dan aktivitas keilmuan lain, juga dibahas apa saja yang dipersiapkan jika ingin lanjut ke studi doktoral.

Pa Taqwa

Rekan seangkatan saya di S2 ini banyak membahas bagaimana agar lolos ketika apply studi lanjut, termasuk memperoleh beasiswa yang tidak hanya uang kuliah dan uang hidup, yaitu bantuan disertasi dari LPDP. Dijelaskan juga bagaimana caranya agar lulus cepat (kurang dari 3 tahun).

Sesi tanya jawab tak kalah menarik, terutama pertanyaan-pertanyaan mengenai multi disiplin dan mahasiswa yang berasal dari non-komputer dalam risetnya. Link youtube berikut ini mungkin bisa dilihat jika ada waktu luang. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Mengunduh Gratis Shapefile Wilayah Indonesia

Mencari peta dijital wilayah Indonesia banyak caranya. Jika dahulu hanya mengandalkan Bakosurtanal (sekarang BIG) dan Google Map, saat ini pemerintah menyediakan peta bersama. Di peta ini bukan hanya garis dan poligon wilayah Indonesia, tetapi juga peta tematik lainnya seperti jalan, sungai, pusat niaga, hingga makam tersedia di seluruh wilayah Indonesia. Level-nya pun hingga kelurahan/desa.

Peta bersama tersebut dapat diakses melalui link website resmi: https://tanahair.indonesia.go.id/portal-web dengan terlebih dahulu mendaftar (lihat tata-caranya pada postingan yang lalu). Peta bersama itu dikenal dengan kebijakan satu peta yang mulai dilaksanakan proyeknya di era presiden Jokowi.

File yang diunduh berukuran beberapa megabyte untuk satu kelurahan dalam bentuk RAR. Jika diekstrak ada beragam shapefile (berekstensi *.shp) yang bisa dibuka lewat GIS tools yang tersedia di pasaran, salah satunya ArcGis. Oiya, shapefile saat ini mulai “digoyang” karena banyaknya kelemahan, misalnya satu peta memerlukan beberapa file (selain *.shp) sehingga dirasa kurang efektif. Silahkan lihat video berikut untuk melihat bagaimana cara mengunduhnya. Sekian, semoga bisa membantu rekan-rekan yang baru belajar geospasial, bidang yang saat ini menjadi perhatian bidang-bidang lain.

Instal Plug-in TwitterStreamImporter di Gephi Untuk Scrap Twitter Langsung

Twitter dapat dimanfaatkan untuk mencari tahu akun mana yang aktif membicarakan topik tertentu. Salah satu aplikasi tak berbayar yang mampu men-scrap (istilah mengambil data) Twitter adalah Gephi. Biasanya scrap menggunakan bahasa pemrograman tertentu, tetapi perlu usaha untuk membuat networknya. Nah, Gephi memiliki kemampuan selain men-scrap juga membuat networknya.

Menambahkan Plug-In

Buka Gephi dan masuk ke menu Tools – Plug-In. Banyak fasilitas yang tersedia, salah satunya yang akan digunakan kali ini adalah TwitterStreamImporter.

Cari di tabel Plug-In dan ceklis ketika plugin tersebut ditemukan. Tekan Install untuk melakukan proses instalasi plugin TwitterStreamImporter. Tunggu beberapa saat hingga proses pengunduhan dan instalasi selesai.

Agar memiliki efek ada baiknya memilih Restart Now ketika muncul pilihan pada jendela “Plugin Installer”. Gephi akan shutdown dan muncul kembali dengan fasilitas tambahan yaitu “plugin” yang baru saja kita install.

Ciri-ciri Plugin telah terinstal adalah di bagian kiri bawah muncul tab “Twitter Streaming Importer”. Nah selanjutnya kita tinggal melakukan langkah: 1) Set Credentials, 2) Define the Query.

Silahkan lihat postingan yang lalu untuk mendaftarkan Credential twitter. Postingan berikutnya akan berlanjut menscrap data dengan plugin tersebut sekaligus analisanya dengan Gephi. Sekian, semoga bermanfaat.

Menyelesaikan Masalah ala Orang IT

Penelitian dalam bahasa Inggris adalah research yang berasal dari kata search yang artinya mencari. Kata “re” di depannya berarti mengulang kembali. Sehingga dapat diartikan mencari kembali. Jadi memang pada prinsipnya tidak ada yang diciptakan oleh manusia melainkan hanya menemukan sesuatu yang memang dari dahulu kala sudah ada di alam. Yang kita ciptakan hanya memanfaatkan fenomena-fenomena yang disediakan alam.

Sebagian Besar Sudah Ada Jawaban

Pertanyaan-pertanyaan yang kita jumpai merupakan bahan bakar utama dari penelitian yang tujuannya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebagian besar pertanyaan sudah ada jawabannya baik dari buku, jurnal, dan lain-lain yang tersedia di internet. Nah, untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya hingga saat ini maka pertanyaan tersebut bisa dikatakan pertanyaan penelitian asal jawabannya nanti berkontribusi terhadap suatu cabang ilmu, baik ilmu murni maupun terapan.

Internet dan Forum Diskusi

Kita sering mendengar slogan “tanya saja mbah Google”. Hal ini terjadi karena kemampuan Google menemukan jawaban dari kata kunci yang kita berikan di situs no. 1 paling banyak dilihat tersebut. Ada bagusnya, walau terkadang membuat kita malas mengingat-ingat sesuatu. Misal kita ingin mengetahui bagaimana me-remove kata-kata yang ada dari hasil scrapping Twitter.

“[‘Yesterday I had the honour of speaking about the #Free struggle at the #BlackLivesMatter rally in… https://t.co/DLKQInfsCT’]”,

Tampak ada simbol-simbol seperti URL, kurung kotak dan sejenisnya yang mengganggu proses Text Mining. Bagaimana cara memperoleh informasi tips dan trik membersihkan hasil scrapping tersebut? Mudah saja, ketikan saja kata kunci yang menggambarkan keinginan kita, sebaiknya gunakan bahasa Inggris agar banyak yang diperoleh.

Saya menggunakan kata kunci “erase tags python” dan muncul beberapa hasil. Yang teratas untuk coding biasanya situs “stackoverflow.com” yang memang berisi diskusi-diskusi tentang pengkodean untuk berbagai bahasa pemrograman.

Pertanyaan-pertanyaan Lain Muncul Kemudian

Banyak jawaban-jawaban yang diberikan belum sesuai dengan keinginan. Terkadang perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya. Misalnya ketika dicoba saran dari situs diskusi tersebut tidak cocok dengan kasus kita.

Ternyata dengan mengetik TypeError di atas di mesin Google, banyak sekali jawaban-jawaban yang muncul. Tapi sebenarnya kode di atas jalan asal variable “text” berformat string, ketika berasal dari file CSV oleh Python dianggap object. Jadi sebagian menyarankan mengkonversi variabel “text” menjadi string terlebih dahulu. Barulah setelah itu, kode di atas dapat berjalan normal. Perhatikan hasil uji tipe data yang tadinya ‘numpy.ndarray’ menjadi ‘str’ yang berarti string.

Saling Berbagi

Tentu ketika kita memiliki pertanyaan pasti mengharapkan adanya jawaban. Nah, orang yang punya hati pasti tidak merasa pelit untuk berbagi karena kesuksesan tidak lepas dari kontribusi pihak-pihak yang membantu menjawabnya. Oleh karena itu luangkan sedikit waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang yang membutuhkan jawaban. Saya teringat pernah bertemu dengan pemilik salah satu penerbit buku, dia meminta saya naskah buku yang ingin dia cetak. Kata-katanya sederhana, “untuk bantu anak-anak kita Pa”. Walau terlihat sederhana, ada muatan nasionalisme di sana, dibanding hanya mengagung-agungkan buku luar negeri yang “wah”, tapi banyak buku-buku saya yang dibutuhkan di belahan timur sana agar cepat mengejar ketertinggalannya dari wilayah barat. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Virtual Environment Python di Windows

Ada cara mudah instal environment yaitu dengan menginstall paket lengkap Anaconda. Namun salah satu kendala yang mengganggu dengan Anaconda adalah berat ketika dibuka. Berbeda jika kita membuka environment lewat konsol. Postingan kali ini kita coba menggunakan metode konsol untuk mengeset environment.

PIP Install Virtualenv

Pertama-tama kita install terlebih dahulu paket virtualenv yang tugasnya mengelola virtual environment. Sebenarnya kita bisa saja mengelola project python hanya satu environment. Namun terkadang karena banyaknya environment terkadang kita perlu memisahkan environment satu dengan lainnya. Tujuannya adalah menghemat resource karena satu project dengan lainnya berbeda kebutuhan library-nya. Misalnya, untuk server Flask, tentu berbeda dengan pengelolaan text mining. Sayang kan jika reseource banyak library terpasang tapi hanya sedikit yang digunakan. Langsung saja masuk konsol dan ketik:

pip install virtualenv

Tunggu beberapa saat hingga virtualenv terpasang. Oiya, jika PIP kita belum update, ada baiknya update terlebih dahulu dengan mengetik: python –m pip install –upgrade pip pada konsol.

Buat Folder Kerja

Terkadang kita mengerjakan project python pada variabel tertentu. Ok, kita arahkan saja project yang berlokasi di laptop kerja kita. Ketik:

virtualenv env

Sebelumnya arahkan ke folder kerja kita, misalnya e:\twitter\. Nantinya virtual environment akan dipasang di folder tersebut.

Tampak folder virtual environment berada di e:\twitter\env. Selanjutnya adalah mengaktifkan folder tersebut dengan mengetikan kode berikut:

e:\twitter\venv\scrpits\activate.bat

Atau cara paling gampang, arahkan saja konsol ke folder tersebut (e:\twitter\env\scripts\). Lalu ketik activate.bat sehingga kita masuk ke virtual environment yang kita tuju. Oiya, e:\twitter merupakan folder kerja saya yang mungkin berbeda dengan Anda, termasuk juga ‘env’ yang merupakan nama virtual environment. Silahkan gunakan nama lainnya.

Virtual environment yang kita gunakan muncul berupa tanda kurung di kiri nama folder. Jika ingin melihat PIP apa saja yang sudah terpasang, gunakan perintah:

pip list

Python akan menunjukan PIP apa saja yang sudah terpasang. Jika ingin memasang yang baru, misalnya library “tweepy”, ketik saja:

pip install tweepy

Oiya, di sini saya menggunakan python 2 yang sebentar lagi harus pindah, migrasi ke python 3. Silahkan mengeksplore fasilitas lain Python yang canggih dari text mining, data science, hingga deep learning. Oiya untuk keluar dari virtual environment, ketik saja kode berikut ini. Pastikan simbol nama environment di dalam kurung (env) di samping folder menghilang. Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Deactivate.bat

Systematic Literature Review (SLR) Pada SCOPUS dengan Advanced Search

SCOPUS saat ini menjadi patokan utama kualitas publikasi baik di dunia maupun di Indonesia. Sinta menggunakan bobot yang besar untuk SCOPUS seperti terlihat pada bagia FAQ perhitungan skor-nya, misalnya untuk Sinta saya di link berikut ini. Tampak bobot Q1 di scopus adalah 40 mengalahkan lokal yang misalnya S1 yaitu 25. Oleh karena itu ada baiknya kita merujuk paper-paper dari Scopus.

Login Scopus

Salah satu kelemahan SCOPUS (bagi peneliti-peneliti kita di Indonesia) adalah berbayar, kecuali jika ingin melihat kinerja kita saja (author preview). Tapi biasanya kampus-kampus memiliki SCOPUS walau terkadang harus datang ke kampus dan login WIFI di sana. Silahkan daftar gratisan dengan akses terbatas, caranya lihat pos saya yang terdahulu (Lihat di bagian “signup”).

Serching Naskah

Beberapa hari yang lalu ada hasil peer review yang harus diperbaiki berkaitan dengan studi literatur dimana reviewer meminta menambahkan riset-riset terkait.

Kita coba mencari dokumen 5 tahun terakhir dengan kata kunci “student attendance system”, “biometeric” mengikuti saran dari reviewer 4. Langsung buka bagian “search document”. Langsung saja kita masuk ke “Advanced Search”.

Tekan “Search” dan tunggu beberapa saat. SCOPUS tampak berhasil menemukan sekitar 105 dokumen seperti tampak pada gambar berikut ini. Maksud dari query di atas adalah cari seluruh naskah yang ada kata “student attendance system” dan “biometric” dan setelah tahun 2015 (hingga 2020, terkadang tahun 2021 pun ada juga yang sudah ready).

Tugas berikut Anda dalam sistematic literature review (SLR) adalah mensortir menjadi puluhan dengan cara membaca judul. Selanjutnya Abstrak dan terakhir sekitar belasan harus Anda baca full naskahnya. Silahkan lihat pos saya terdahulu mengenai SLR. Sekian saja info singkat hari ini, semoga bermanfaat.

 

Ketua Program Studi

Perguruan tinggi swasta, apalagi swasta yang tidak berasal dari organisasi besar, memiliki masalah yang berbeda dengan perguruan tinggi negeri/swasta besar dimana sudah mapan ditambah lagi dukungan finansial baik dari pemerintah maupun lembaga lainnya. Mungkin banyak yang belum tahu kondisi prodi di kampus swasta yang merupakan mayoritas di Indonesia namun kebanyakan “terasa tapi tak terdengar”. Poin-poin dalam postingan ini siapa tahu bermanfaat dan menjadi gambaran kerjaan ketua prodi di luar SOP resminya.

Umpan Balik

Sebagai seseorang yang sempat mengalami ditolak bekerja di mana-mana, saya tentu saja senang ketika ditunjuk atau disuruh mengerjakan sesuatu. Salah satunya memimpin sebuah program studi. Mungkin seperti mayoritas prodi-prodi di kampus swasta, terkadang kerjaannya mirip musisi “organ tunggal”, alias apa saja dilakoni, dari drum keyboard, bas, gitar, bahkan terpaksa sambil nyanyi. Umpan balik merupakan satu-satunya andalan karena dapat menjadi alat agar melangkah sesuai dengan visi-misi, walau terkadang jalannya agak sempoyongan (apalagi saat COVID-19 saat tulisan ini dibuat).

Umpan balik terkadang menyakitkan, minimal bikin “gerah”. Ketika kelas 5 SD saya ditunjuk ikut lomba lari tapi disuruh juga oleh guru lain lomba keagamaan. Setelah saya pertimbangkan, saya pilih yang kedua. Keesokannya ketika bertemu teman, dia mengatakan bahwa guru olah raga agak kecewa dengan saya yg tidak bersedia ikut lomba lari, di depan kelas (saya tidak ada di kelas krn ikut lomba) katanya saya terlalu “letoy”. Walau tensi naik, tetapi itu tetaplah informasi berharga bagi saya, sebagai umpan balik utk memutuskan beralih ke bidang yang sesuai dengan bakat saya.

Saking pentingnya umpan balik, saat ini akreditasi kampus tidak perlu dijalankan tiap kurun waktu tertentu kecuali atas permintaan kampus itu sendiri dan jika ada laporan dari masyarakat agar kampus tersebut di audit lewat mekanisma akreditasi dari pemerintah/asosiasi. Laporan di sini tentu saja dapat dikatakan umpan balik.

Mengenal Stakeholder

Terkadang sebal juga dengan statement mahasiswa yang memandang rendah dosen dengan alasan dia yang membayar gaji mereka lewat SPP. Pendidikan disamakan dengan “jual-beli”. Tetapi secara bisnis tidak dapat dipungkiri karena tanpa mahasiswa tidak ada uang untuk menghidupi pegawainya, pemerintah pun memberi tunjangan dengan syarat adanya “pengajaran” yang membutuhkan mahasiswa. Kecuali mungkin untuk kampus negeri dan dosennya berstatus PNS atau DPK PNS yang berada di kampus swasta.

Berbeda dengan dosen biasa yang sekedar mengajar dan membimbing mahasiswa, ketua program studi paling banyak berhubungan dengan stakeholder, salah satunya adalah orang-orang tua yang menitipkan anak-anaknya untuk kuliah. Ketika pertemuan dengan orang tua mahasiswa baru, ketua program studi-lah yang ditugasi. Melihat wajah-wajah yang penuh harap, tidak mungkin ketua program studi tidak memiliki ikatan batin dengan mereka. Tiap ada kasus, ketua prodi pasti menjadi tameng. Pasti ada beban di hati ketika orang tua siswa, apalagi keduanya (bapak dan ibu) menghadap dan menanyakan mengapa prestasi si anak “ancur-ancuran”. Banyak ucapan-ucapannya yang membuat hati saya ikut “ancur”, misalnya: ” si X kuliah di sini karena engkongnya memaksa kami agar X kuliah di sini”. Ada lagi anaknya yang hampir 8 tahun tidak lulus-lulus dan ketika saya tawarkan pindah orang tuanya yang datang menghadap mengatakan, “bukan masalah lulus saja, saya ingin anak saya lulus di sini seperti saya” (ternyata bapaknya alumni).

Visi Misi, Tujuan dan Sasaran

Visi misi dan sejenisnya biasanya dibuat ketika evaluasi diri. Harapannya agar proses (dari mahasiswa masuk hingga lulus) sesuai dengan tujuan pendidikan. Paling gampang penerapannya mengikut bentuk “north-star” metrik ala gojek. Misalnya ketika problem di prodi hasil akreditasi adalah masa studi yang lama (kebanyakan pada telat lulus) maka ketika ada “sesuatu” yang menghambat siswa cepat lulus, maka bagaimana caranya di “kepala” seluruh pihak yang terlibat di prodi mengeluarkan “sinyal warning”. Uniknya kebanyakan “sinyal warning” bukan dari pihak luar, melainkan internal kampus sendiri. Misalnya ketika proses pembelajaran sudah ok dan beberapa mahasiswa mulai menunjukan progres “lulus tepat waktu” tiba-tiba aturan dari atas membuat mereka “ngerem”.

Terkadang para kaprodi harus siap dituduh menyerang pihak rektorat, dianggap provokator ketika tidak sangup meredam aksi demo mereka, atau turun derajatnya karena menjadi master/doktor yang ribut dengan tata usaha ketika menghadapi birokrasi yang kurang sinkron dengan visi misi prodi (terkadang hal ini menjadi pertimbangan utk mencari “rumah baru”).

Keluarga Kedua

Ada yang mengatakan banyak pemimpin baik ditemui, tetapi pemimpin besar selalu loyal. Ini juga dapat menjadi sedikit bocoran untuk pemilik (owner) kampus dalam menentukan pemimpin kampusnya. Ciri khas mereka adalah menjadikan divisinya sebagai keluarga kedua. Kemana-mana selalu memakai bendera lembaga yang dipimpinnya. Seperti biasa, ributnya keluarga tidak seperti ribut antar suporter bola. Tidak sampai 3 hari (batas ribut dalam Islam), mereka akur lagi. Apalagi kalau selalu ada acara makan-makan/jalan-jalan. Sekian tulisan iseng ini, siapa tahu ada yang berminat jadi ketua program studi, dan semoga bermanfaat.