Tetap Menulis

Saat ini jaman sudah berubah, semua serba online. Tidak terkecuali buku yang saat ini sudah nyaris tergantikan dengan alat-alat digital berupa ebook. Sudah jarang mahasiswa yang membawa buku-buku tebal dan berat seperti jaman saya kuliah dulu. Tinggal membuka tablet, bacaan apapun tersedia. Kapasitasnya pun bisa menyamai jumlah tulisan di perpustakaan konvensional seperti di tempat saya bekerja. Apakah peran buku sudah terdisrupsi oleh media-media lain yang lebih canggih?

Orang-orang Besar Tetap Membaca Buku

Tidak hanya Bill Gates yang selalu melahap buku teks (bukan online) dalam setahun, mantan presiden Amerika Serikat, Obama, pun tetap membaca buku teks. Alasannya sederhana, ketika sumber informasi datang seperti tsunami, membaca buku dapat berfungsi sebagai “benteng” untuk berhenti sejenak menerima gempuran informasi dari luar (yang kebanyakan hoax atau cenderung menggugah emosi). Obama sendiri mengatakan membaca berfungsi melihat sudut pandang orang (si penulis) dalam melihat dunia, ibarat “mencoba memakai sepatu orang lain”.

Saat ini Buku Yang Mencari Orang

Dahulu mungkin buku dianggap sebagai masterpiece, seperti lukisan yang dicari-cari oleh para kolektor. Namun saat ini keberadaannya berbeda, buku harus berevolusi seperti sarana-sarana lainnya yang mau tidak mau mensuplai dan menservis kebutuhan konsumen. Ketika tadi malam saya bersama anak ke toko buku ternama, yang dia tuju adalah novel-novel yang saat ini laris di kalangan remaja. Saya sendiri tidak mengenalnya. Tapi entah bagaimana si penulis mengapa bisa memahami keinginan dan apa yang diminati oleh generasi remaja saat ini. Di situlah saya baru sadar, peran buku saat ini agak mirip dengan obat, yakni menyesuaikan dengan orang yang memerlukannya.

Tentu saja penulis-penulis ternama banyak yang menantikan karya-karyanya. Tapi itu untuk topik-topik populer, sementara jarang saya melihat buku-buku ilmiah yang digandrungi banyak orang seperti buku Harry potter. Malah kebanyakan para mahasiswa “memfoto kopi” buku untuk keperluan kuliah, sebaliknya membeli buku asli untuk novel atau bacaan non-pendidikan. Tidak ada cara lain bagi penulis buku-buku ilmiah untuk menerapkan teknik buku-buku non-ilmiah, yaitu meneliti keinginan para penggunanya/konsumen.

Penerbit Tetap Eksis

Satu hal yang membuat saya bingung adalah ternyata penerbit masih tetap eksis. Buku-buku tetap terbit dan perusahaannya masih meneguk keuntungan. Padahal saat ini pembajakan sudah biasa dan minat pembaca buku, khususnya buku ilmiah sepertinya rendah di Indonesia. Namun perlu diingat seberapa kecil pun prosentasi pembaca di tanah air, tetap saja jauh lebih besar dibanding negara-negara tetangga, karena memang jumlah penduduk Indonesia yang dua ratusan juta jiwa.

Pernah saya membantu menulis buku yang di awal judulnya “Analisa dan Disain Sistem Berorientasi Objek dengan UML”. Setelah sampai di tangan penerbit, mereka menyarankan mengganti judulnya menjadi “menggunakan uml”. Unik juga, penerbit ternyata memiliki naluri dan insting tentang apapun yang membuat buku “eye catching“. Jika saya perhatikan ternyata judul saran penerbit sangat disukai pasar dan “to the point“, tidak terasa berat dan bikin jidat berkenyit karena pusing dan bikin muntah, hehe.

Sesama Penulis Saling Menghargai

Satu hal yang sangat mendukung dunia per-bukuan adalah saling mendukung sesame penulis. Cara gampangnya adalah bedakan antara media sosial dengan penulisan. Jika di media sosial memerlukan “pertengkaran” untuk bisa eksis (walaupun efek sialnya bisa masuk penjara), dalam perbukuan hampir tidak dijumpai hal itu. Jika ada yang menghina, sudah dipastikan dia belum pernah membuat buku. Bahkan ada pakar IT yang menghina tulisan-tulisan buku dari bangsanya sendiri yang mengatakan “buku instan”, “tidak berguna”, dan membandingkan buku-buku fenomenal karya bangsa lain. Mungkin pendapatnya benar, tetapi toh tak ada gunanya jika dia sendiri tidak menciptakan karya fenomenal seperti karya bangsa lain. Kita sadar minat baca bangsa kita tidak sehebat bangsa lain (semoga sekarang tidak), para penulis telah bersusah payah bagaimana menyetarakan tingkat daya tangkap pelajar-pelajar kita dengan sulitnya materi, dan ketika sudah cocok, masih dikritik pedas pula. Tapi prinsip saat ini sangat berbeda dengan jaman dulu, siapa yang bisa memberikan layanan yang lebih baik akan dipakai dan secanggih apapun jika tidak ada yang menggunakan, pasti akan bangkrut dan hancur, seperti Blackberry, Nokia, dkk. Buktinya sudah banyak, semoga Anda sendiri tidak berminat menjadi bukti baru.

Daftar Hak Atas Kekayaan Intelektual (HKI) yuk … Untuk SIMLITABMAS

HKI merupakan kependekan dari Hak Atas Kekayaan Intelektual. Di antara kekayaan intelektual (KI), yang paling mudah adalah pencatatan kekayaan yang merupakan hak cipta. Dua yang lainya seperti paten sederhana dan karya industri agak sulit karena butuh waktu dalam pemrosesannya. Tapi dengan hak cipta sudah cukup untuk membuat “eligible” skema-skema di SIMLITABMAS (http://simlitabmas.ristekdikti.go.id/).

Mendaftarkan Akun

Untuk mendaftarkan ciptaan perlu membuat akun terlebih dahulu. Butuh beberapa syarat seperti email dan nomor KTP. Proses pendaftaran memerlukan aktivasi dengan cara mengklik link aktivasi yang dikirim oleh sistem ke email yang kita daftarkan ke e-hakcipta (https://e-hakcipta.dgip.go.id/index.php/login). Ada baiknya daftar di hari kerja karena sepertinya verifikasi (setelah aktivasi dari email) membutuhkan proses manual oleh staf direktorat jenderal kekayaan intelektual (DJKI). Misal daftar di hari sabtu, maka kemungkinan senin atau selasa baru “dikerjain”.

Mendaftarkan Ciptaan

Jika sudah punya akun, maka siapkan berkas-berkas untuk mendaftar ciptaan, antara lain:

  • Ciptaan, seperti tulisan, cover buku, manual program, dll
  • Scan KTP
  • Scan NPWP
  • Materai Rp 6000

Lalu masuk ke menu Hak Cipta dan pilih Permohonan Baru. Maka Anda akan masuk ke isian untuk mendaftarkan hak cipta.

Silahkan isi Jenis Permohonan yang menyatakan UMKM atau non UMKM. Di sini ada potongan harga untuk yang UMKM. Jenis Ciptaan perlu diisi, misalnya karya tulis. Oiya, untuk program komputer harganya lebih mahal (Rp. 600rb) dibanding tulisan (Rp.400rb), entah mengapa.

Data Pencipta dan Pemegang Hak Cipta

Isikan data-data pencipta dan pemegang hak cipta. Data yang perlu disiapkan yang biasanya agak merepotkan adalah kode pos, nomor telepon, dan email. Isikan pencipta dan pemegang hak cipta. Biasanya diisi sama, kecuali jika ciptaan itu sudah dibeli/diambil alih oleh pemegang, misalnya penerbit, produser, dll.

Lampiran

Ada enam file yang harus diupload. Jika pribadi hanya ada empat yang wajjib yaitu: NPWP, contoh ciptaan, KTP, dan Surat pernyataan. Perhatikan yang bertanda (*) yang berarti wajib diupload. Upload hasil scan satu persatu. Untuk surat pernyataan, silahkan klik link yang ada disampingnya (word) lalu isi dan jangan lupa sertakan materai rp. 6000 sebelum ditandatangan.Tekan Submit jika lampiran sudah diupload semua.

Anda akan diminta menekan persetujuan sebelum lanjut ke proses berikutnya.

Membayar Biaya Pendaftaran Ciptaan

Jika submit dan konfirmasi sudah, maka silahkan membayar dengan Billing Code yang terlampir di lembar Permohonan. Pembayaran dilakukan bisa lewat ATM atau e-banking seharga sesuai dengan biaya yang tertera.

Menunggu Approval

Setelah membayar, biasanya tidak lama sertifikat HKI sudah tersedia. Lihat terus Status Penerimaan apakah sudah diterima atau tidak. Akhirnya, masukan sertifikan HKI ke Profil simlitabmas Anda, dijamin beberapa skema yang mewajibkan HKI langsung Eligible. Selamat mencoba.

Wah .. BKD Online di Kopertis 4

LLDIKTI wilayah 4, sebelumnya bernama Kopertis 4, merupakan satu-satunya LLDIKTI yang menjalankan pelaporan Beban Kerja Dosen (BKD) secara online. Sebelumnya BKD dilakukan secara offline lewat program singkat via Microsoft Access. Postingan ini sedikit menginfo-kan kepada rekan-rekan dari LLDIKTI wilayah lainnya mengenai apa itu BKD Online.

Situs Resmi

Situs resmi BKD online dengan mudah diakses di link berikut ini. Tampilannya sangat sederhana, mirip mbah Google yang tanpa embel-embel iklan, pengumuman-pengumuman, dan sejenisnya. Setelah Login dengan menggunakan ID NIDN dosen, maka laporan BKD maupun Kontrak BKD siap dijalankan.

Kira-kira tampilannya seperti itu. Bagian kanan sebelumnya tidak ada. Supaya ada tinggal mengklik tombo Tambah dilanjutkan dengan mengisi informasi dari semester dan tahun akademik hingga asesor 1 dan asesor 2.

Approve Oleh Asesor dan Pimpinan

Mirip dengan BKD yang lalu, laporan harus disetujui oleh dua orang asesor dan kontrak ditandatangani oleh ketua program studi atau dekan. Bedanya di sini asesor tidak perlu menandatangani melainkan hanya mengklik persetujuannya, begitu juga dengan persetujuan oleh pimpinan. Di situlah letak perbedaannya. Jika dulu kita harus mencari asesor dan minta tanda tangan, sekarang hanya meminta persetujuan lewat aplikasi. Jika asesor ada di tempat lain, asalkan ada internet, bisa menyetujuinya.

Perhatikan, jika sudah disetujui maka tulisan Approved muncul di login asesor, sementara yang belum masih berwarna merah. Nah, di sinilah masalah muncul, karena jumlah dosen yang diasesori terlihat dengan gamblang, sepuluh, duapuluh, dan sebagainya. Rencananya nanti akan dibatasi hingga 10 saja. Repot juga jika yang “tidak kebagian gerbong”. Waktu jaman offline, walau bisa diketahui jumlah yang diasesori tetapi akan ribet dan repot menghitungnya.

Pemberkasan

Salah satu kelebihan dari online adalah berkas dengan mudah dibaca oleh asesor karena dalam bentuk file scan. Dengan menekan tombol Download Bukti Dokumen maka asesor langsung bisa melihat keabsahan kinerja dosen yang diasesori. Selain itu, jika dicetak pun, hasilnya mirip dengan format yang dicetak lewat aplikasi MS Access sebelumnya.

Integrasi dengan SISTER

Sister (Sumber Informas Sumber Daya Terintegrasi) merupakan sistem terintegrasi informasi seorang dosen (tridarma, kinerja, kepangkatan, biodata, dll). Aplikasi ini sebentar lagi akan diterapkan yang dampaknya sangat luar biasa. Tidak ada lagi dosen-dosenan karena akan ketahuan jika suatu universitas memiliki dosen yang hanya nama saja. Yah, tapi namanya manusia kan kalau kepepet muncul kreativitasnya untuk mengakali. Tetapi Ristekdikti sepertinya terus berusaha memaksa kampus mengikuti “jalan lurus” institusi pendidikan. Sayangnya, aplikasi buatan LLDIKTI wilayah 4 ini akan segera digantikan oleh SISTER kabarnya, tapi tidak apa, toh para dosen di wilayahnya sudah terlatih dengan BKD online. Sekian, semoga nasib dosen yang serius melaksanakan tri-darma lebih dihargai lagi, dan selamat ber-serdos ria.

SIMLITABMAS Sudah Full Online

Tiap dosen wajib meneliti selain mengajar dan mengabdi. Karena meneliti butuh dana maka SIMLITABMAS (www. http://simlitabmas.ristekdikti.go.id/) jadi andalan para dosen di Indonesia. Ketika di tahun 2012 dan 2013 pengajuan proposal dipaksa online, banyak kemudahan-kemudahan yang didapat, salah satunya adalah banyaknya dosen-dosen yang berminat.

Di awal sistem online, waktu itu ristek masih terpisah dengan dikti, proposal masih dibuat dalam bentuk semi online. Pengesahan dilaksanakan lewat mekanisma cap dan tanda tangan LPPM dan Dekan. Bagi peneliti, tidak ada bedanya dengan jaman dulu yang ofline, karena toh harus mengumpulkan hardcopy yang dirasa membutuhkan modal.

SIMLITABMAS terkini

Saat ini dengan diterapkannya sistem full online, tampilan situs ini agak lumayan OK. Yang menjadi keunggulan dari sistem ini adalah terintegrasi dengan SINTA (lihat cara daftarnya) yang bisa mengetahui kinerja peneliti yang mengajukan proposal, selain terintegrasi juga dengan FORLAP
untuk mengetahui kepangkatan, pendidikan, dan info lain seorang peneliti. Jadi apakah seorang peneliti sudah eligible atau tidak dapat dengan mudah diketahui. Sayangnya, beberapa data tidak bisa tertarik secara sempurna dari SINTA, seperti jurnal internasional (termasuk author/correspondence), dan HKI.

Seharusnya uji stress test perlu dilakukan agar terhindar dari error ketika deadline penerimaan proposal. Maklum ribuan orang login dan upload di saat yang bersamaan.

Mekanisme

Mirip seperti serdos online, peneliti yang mengajukan proposal setelah eligible mengisi data proposal secara online dalam beberapa tahap. Lebih mudah jika kita sudah mengetik terlebih dahulu via MS Word ringkasan yang berisi tujuan, latar belakang, tinjauan pustaka dan metode dalam file yang terpisah agar langsung terhitung jumlah kata-nya mengingat simlitabmas online membatasi panjang maksimal kata dalam proposal.

Jika rekan yang biasa nulis langsung di wordpress.com dengan mudah menginsert gambar di antara tulisan. Untungnya (atau sialnya) gambar tidak dihitung dalam panjang kata/tulisan yang disaratkan. Mekanisme penambahan anggota peneliti juga canggih seperti yang lalu, ketika diklik menambah, orang yang dituju akan ada pesan diterima atau ditolak permintaan jadi anggotanya.

Oiya, isian anggaran agak ribet juga jika diinput langsung. Ada baiknya menggunakan MS Excel terlebih dahulu. Sistem akan menolak jika anggaran di luar rentang batas kelayakan (terlalu besar atau terlalu kecil).

Validasi/Confirm

Oiya, bagi rekan yang selesai mengisi informasi proposal dari ringkasan hingga berkas penunjang (kerjasama dengan mitra), maka tahap terakhir adalah confirm. Di sini ada pilihan lain jika belum siap (masih perlu diedit-edit), yaitu simpan dalam bentuk draft. Jadi jangan langsung confirm karena setelah di-confirm maka berkas proposal tidak bisa diedit lagi. Dan bukan hanya itu, status kita di simlitabmas penelitian langsu “merah” semua alias tidak boleh mengajukan usulan baru lainnya, kecuali yang h-index lebih dari satu.

Yuk, mumpung diperpanjang, buat proposal lagi. Siapa tahu beruntung.

Menambahkan Tulisan terindeks Scopus ke Orcid

Dulu pernah menarik data dari Scopus ke Orcid. Ternyata ketika ada tambahan di Scopus ternyata Orcid tidak otomatis menarik data yang baru tersebut. Terpaksa harus masuk ke Scopus dan kirim data ke Orcid. Fasilitas tersebut disediakan di Scopus. Buka Sopus dan tekan “+Add to ORCID”.

Berikutnya diminta untuk otorisasi apakah Orcid yang akan diekspor memang benar-benar milik kita. Tekan saja tombol Authorize untuk masuk ke Orcid.

Berikutnya balik lagi ke Scopus yang sudah terkoneksi dengan Orcid. Ada sekitar enam langkah yang harus diikuti dimulai dari Select Profiles sampai Send Publications.

Tekan tombol Start dan ikuti seluruh tahapannya hingga selesai. Ok, langsung saja ke langkah 3 karena langkah 2 hanya memilih nama kita (yang memang cuma satu jika tidak ada masalah).

Pastikan seluruh paper milik kita. Jika sudah yakin tekan Next untuk lanjut. Langkah 4 bisa langsung next jika tidak ada kesalahan dalam publikasi yg akan dikirim ke Orcid. Isi email institusi beserta Confirm E-mail nya.

Setelah itu langkah terakhir tinggal menekan send publications list. Jika berhasil, Scopus akan menampilkan notifikasi di bawah ini. Sekian semoga bermanfaat.

Memasukan Berkas HKI ke SIMLITABMAS Ristek-Dikti

Untuk bisa mengajukan proposal hibah penelitian Ristek-Dikti, seorang peneliti harus elibigle. Terkadang ada syarat-syarat eligible yang mengharuskan peneliti memiliki Hak Atas Kekayaan Intelektual (HKI). Postingan berikut ini bermaksud membantu rekan-rekan yang ingin memasukan HKI ke situs SIMLITABMAS.

Login terlebih dahulu ke SIMLITABMAS. Oiya, pilih login yang kiri, karena login yang kanan hanya untuk laporan pelaksanaan penelitian tahun 2018. Setelah itu, masuk ke menu profile dengan menekan nama kita di pojok kanan atas dan pilih Profile. Cari isian HKI, jika sudah ditemukan tekan tambah untuk menambah HKI yang baru tercatat.

Judul HKI sesuaikan dengan judul pada sertifikat. URL adalah link dimana lokasi resmi HKI. Sebenarnya ada QR code di sertifikat HKI yang berisi alamat URL HKI kita. Untuk membacanya silahkan foto dengan aplikasi pembaca QR, atau masuk ke website pembaca www.webqr.com.

Dengan memasukan gambar QR code dari sertifikat (dengan cara copas di-crop) maka di bagian bawah akan muncul alamat URL.

Perhatikan URL di bawah jika ditekan akan mengarah ke link HKI kita sesuai sertifikatnya. Link ini bebas diakses oleh siapapun (tidak perlu login ke DGIP).

Selesaikan isian dari pengisian nomor pendaftaran, status (isi dengan granted), hingga upload pdf sertifikat HKI. Setelah itu tombol Simpan di kiri bawah ditekan. Perhatikan, nanti akan muncul daftar HKI kita di profil SIMLITABMAS. Sekian semoga bermanfaat.

 

Metode Delphi dalam Penelitian Kuantitatif

Ketika riset tentang optimasi penempatan lahan, salah satu sumber referensi menggunakan satu metode untuk mengetahui kompatibilitas dan ketergantungan antara satu lahan dengan lahan lainnya. Metode tersebut dikenal dengan istilah Delphi. Entah mengapa diberi nama Delphi, yang saya tahu Delphi adalah nama bahasa pemrograman (dulu dikenal dengan istilah Pascal).

Prinsip Kerja

Metode Delphi sebenarnya mirip riset biasa yang menggunakan kuesioner dalam mengumpulkan data. Dengan skala Likert, responden diminta mengisi pertanyaan-pertanyaan. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang umum ditanyakan dan sudah ada yang meriset sebelumnya, metode biasa berhasil digunakan. Tetapi untuk kasus-kasus yang unik, belum ada sebelumnya, melibatkan pakar-pakar, dan hal-hal lain yang bersifat sangat subyektif, di sinilah peran metode Delphi.

Ciri khas metode Delphi adalah memiliki iterasi dalam setiap tahapannya. Iterasi tersebut dikenal dengan istilah ronde. Mendengar istilah “ronde” jadi teringat saat tulisan syarat lulus (di jurnal internasional) direview hingga tiga ronde, sampai babak belur, hehe. Bagan di bawah diambil dari riset (Skulmoski & Hartman 2007).

Ronde pertama responden diminta mengisi kuesioner berdasarkan pemahaman dan kepakarannya. Biasanya dihasilkan jawaban-jawaban yang sangat beragam karena memang kasusnya unik, jarang ada, dan subyektif. Dimungkinkan juga responden sulit memahami istilah-istilah yang bisa saja karena bidang yang berbeda karena memang kasusnya multidisiplin.

Setelah dirangkum, hasil survey diberitahukan ke seluruh responden. Dengan demikian mereka dapat melihat apakah jawabannya sama dengan rata-rata jawaban orang lain. Diskusi diadakan baik wawancara langsung ke responden yang memiliki jawaban “aneh”, atau bisa dalam bentuk panel (pertemuan untuk diskusi). Setelah itu ronde kedua dijalankan, yaitu mengirim kuesioner yang sama untuk responden yang sama juga. Biasanya ronde kedua dihasilkan jawaban-jawaban yang tidak terlalu kontradiktif. Ronde berikutnya bisa dilaksanakan untuk kasus-kasus yang sulit menemukan konsensus antar respondennya.

Jumlah Responden

Responden untuk metode Delphi tidak sebanyak responden untuk riset biasa. Di sini diperlukan pakar yang memahami di bidangnya, dan juga berpengalaman langsung. Puluhan responden biasa digunakan dengan maksimal sekitar seratus orang. Jumlah responden sangat menentukan ronde dari metode Delphi, karena akan makin sulit menemukan konsensus dari jawaban-jawaban survey.

Silahkan baca riset-riset ini yang banyak tersebar di internet (Su & Canavari 2018; Rosowsky et al. 2018; Li et al. 2019).

Referensi

  • Li, Y. et al., 2019. Establishment of Indexes System for Bookcases Ergonomic Evaluation Based on Delphi Method. In F. Rebelo & M. M. Soares, eds. Advances in Ergonomics in Design. Cham: Springer International Publishing, pp. 303–311.
  • Rosowsky, E. et al., 2018. A cross-validation Delphi method approach to the diagnosis and treatment of personality disorders in older adults. Aging & Mental Health, 22(3), pp.371–378. Available at: https://doi.org/10.1080/13607863.2016.1261796.
  • Skulmoski, G.J. & Hartman, F.T., 2007. The Delphi Method for Graduate Research. Journal of Information Technology Education, 6.
  • Su, J.Y. & Canavari, M., 2018. Delphi study on country-of-origin labelling for processed foods. Agricultural and Food Economics, 6(1).

     

Benarkah “IT doesn’t Matter?”

Salah satu mata kuliah pasca yang rumit adalah mata kuliah “IT Strategic” karena melibatkan faktor-faktor sosial yang memang sulit diukur. Dalam salah satu buku wajibnya adalah buku yang berjudul “Corporate IT Strategic” karya Lynda M. Applegate. Dalam kolom khususnya, disinggung suatu tulisan yang cukup heboh seperti judul di atas, “IT Doesn’t Matter”. Singkatnya tulisan tersebut membahas IT yang saat ini tidak menjadi faktor penentu keberhasilan suatu organisasi. Beberapa survey dilakukan ke perusahaan-perusahaan dan hasilnya ternyata IT di organisasinya tidak memiliki dampak signifikan dibanding biaya yang dikeluarkannya. Sebabnya karena IT sudah menjadi barang umum yang hampir semua organisasi memiliki atau memanfaatkannya. Seandainya suatu perusahaan menerapkan IT sebagai strategi bisnis, toh perusahaan lain dengan mudahnya ikut menerapkan lewat membeli dari vendor-vendor IT yang banyak bermunculan.

Tulisan yang dipublikasi di majalah Harvard Business Review (HBR) oleh Carr edisi Mei 2003 tersebut membuat heboh bidang sistem/teknologi informasi. Maklum majalah terkenal itu merupakan bacaan wajib para pemerhati bisnis. Protes pun bermunculan.

Surat dari Petinggi Xerox

Terus terang buku itu tebal dan berat sekali bagi yang baru belajar membaca teks bahasa Inggris, termasuk saya waktu kuliah pasca dulu. Tapi sebenarnya sangat berbobot dan memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan bisnis saat ini. Beragam surat balasan bermunculan, salah satunya dari Brown, seorang petinggi dari Xerox.

Brown menyindir Carr yang dalam menganalogikan IT dengan mesin, listrik, dan komponen-komponen industri lainnya. Sebaliknya IT sesungguhnya memiliki dampak yang tidak langsung dalam memberi keuntungan suatu perusahaan. Strategi yang dimunculkan oleh suatu perusahaan yang menerapkan IT dalam proses bisnisnya terletak pada inovasi-inovasi yang bermunculan dengan adanya perkembangan teknologi IT seperti internet yang kian cepat dan terjangkau, aplikasi-aplikasi yang kian mudah dibuat, dan sebagainya.

Disrupsi

Memang buku karya Applegate muncul sebelum era disrupsi yang mengahantam perusahaan-perusahaan besar hingga runtuh. Tetapi ternyata tidak membutuhkan waktu lama ketika era disrupsi yang dimotori oleh startup-startup seperti grab, gojek, fintech, airbnb, dan kawan-kawan menghancurkan perusahaan-perusahaan yang lalai bahwa perkembangan IT memungkinkan inovasi-inovasi bisnis yang bahkan muncul bukan dari pesaing tetapi dari pendatang baru yang tidak pernah dideteksi sebelumnya lewat metode konvensional, seperti Strengths, Weaknesses, Opportunity, and Threats (SWOT).

Bagaimana respon dari petinggi-petinggi organisasi lainnya selain dari Xerox, silahkan baca rujukan aslinya yang sangat seru (termasuk co-author buku tersebut, McFarlan), mirip baca novel-novel, tapi seputar dunia bisnis, dan sistem/teknologi informasi.

Referensi

Lynda M. Applegate, R.D. Austin, and F. W. McFarlan. “Corporate Information Strategy and Management – 7th Ed, Text and Cases”. New york, McGraw-Hill.

Mereview Paper

Sejak sekolah dasar kita sudah diajari membaca dan menulis. Ya, belajar membaca dulu baru menulis karena tanpa bisa membaca tidak mungkin bisa menulis, kecuali Cak Lontong dalam lawakannya mengatakan bahwa dia akan berencana menulis satu buku. Ketika diingatkan oleh rekannya bahwa dia sejak dahulu tidak bisa membaca, dengan santainya dia bilang “aku yang menulis, kan orang lain yang membaca”.

Membaca, Menulis dan Mereview

Me-review itu sendiri adalah proses membaca. Bedanya di sini kita harus bisa menemukan “sesuatu” dalam tulisan yang kita baca. “Sesuatu” di sini bukan sekedar informasi yang terkandung dalam suatu tulisan melainkan hal-hal lain yang luput dari sekedar membaca, antara lain: keunikan, orisinalitas, kekuatan dan kelemahan, temuan, dan hal-hal lain yang biasanya diminta ketika kita mereview suatu tulisan, khususnya artikel ilmiah. Biasanya yang perlu diperhatikan adalah novelty, metode, bahasa, research question, dan yang tak kalah penting adalah apakah artikel tersebut layak diterima pada jurnal/prosiding.

Suasana ketika mereview (sumber Fb Prof Teddy – Sampoerna Univ.)

Sebaiknya seorang reviewer paper adalah seorang yang sudah banyak menulis paper. Jika pernah menulis maka akan memahami kesullitan-kesulitan apa saja yang dihadapi ketika menulis. Hasil review nya pun akan sangat membantu si penulis tersebut, walaupun menyakitkan karena ditolak. Berbeda ketika yang mereview kurang banyak menulis atau bahkan tidak memiliki tulisan. Reviewer ini sulit menghargai sebuah tulisan yang memang dibuat terkadang sampai “berkeringat darah”.

Membaca Cepat

Membaca cepat bukan suatu keharusan, melainkan suatu kebutuhan. Bayangkan dalam setengah hari, terkadang dibutuhkan review sebanyak hampir 30 judul artikel, terutama jika ditunjuk menjadi Technical Program Committee (TPC) yang bertugas memutuskan suatu artikel secara keilmuwan layak publish atau tidak. Tentu saja cepat di sini bukan asal cepat secepat-cepatnya, melainkan bijaksana. Ketika membaca hal-hal yang kurang penting mungkin sekelebat, tetapi ketika melihat hipotesa, metode, dan hasil mungkin perlu di-rem sedikit.

Tahan Membaca

Ini tidak kalah penting. Percuma membaca cepat sekali tetapi baru setengah jam sudah KO, gagal fokus, dan menguap terus. Salah seorang pengacara kondang (sayangnya sekarang mendekam di penjara) memiliki kemampuan membaca berkas perkara setebal kitab suci hanya dalam waktu 30 menit. Saya yakin kemampuan itu karena seringnya dia membaca, dan yang pasti senang dengan apa yang dia baca. Naskah doctoral tesis saya dibaca oleh external examiner dari Jepang hanya dalam waktu beberapa hari. Atau mungkin dalam beberapa jam pelaksanaannya. Bukan Cuma skimming atau sekilas, tetapi serius dibaca kata perkata. Memang diakui, negara lain memiliki kemampuan membaca di atas kemampuan membaca negara kita.

Mungkin itu saja sharing informasi ketika sibuk mereview naskah untuk konferensi, siapa tahu bermanfaat. Perlu diketahui, dengan membaca naskah-naskah jurnal, banyak ide-ide yang dapat kita ambil sebagai pelajaran, walau sekecil apapun. Jangan lupa membaca. Jika Anda sampai membaca kalimat terakhir ini, maka berarti sudah dianggap gemar membaca, he he, dibanding kawan-kawan kita yang jadi korban hoax karena hanya baca judul-nya saja dari berita yang dishare lewat medsos.

Mengenal Istilah-Istilah dalam Audit Sistem Informasi

Audit SI merupakan subyek sistem informasi yang kian penting bahkan untuk bidang lainnya seperti accounting. Hal ini terjadi karena peran IT pada suatu organisasi yang kian penting dan melekat dengan sistem yang ada. Untuk bisa mengikuti perkembangan audit SI ada baiknya mengenal terlebih dahulu istilah-istilah yang kerap digunakan dalam literatur Audit SI.

  • GEIT: Governance of Enterprise IT. Atau sering diistilahkan dengan IT governance.
  • COBIT: Control Objective for Information and Related Technology. Saat tulisan ini dibuat masuk COBIT versi 5.
  • ITIL: Information Technology Infrastructure Library.
  • TOGAF: The Open Group Architecture Framework.
  • ISO: International Organization for Standardization. Untuk audit: ISO27001 dan ISO/IEC 38500:2008.
  • ISACA: Information Systems Audit & Control Association. Merupakan badan pencetus COBIT.
  • GRC: Governance, Risk, and Compliance
  • ISCA: Information Systems Control and Audit. Istilah lain dari Audit SI yang sering digunakan di kampus lain di luar negeri.
  • CEO: Chief Executive Officers, CFO: Chief Financial Officer, dan CIO: Chief Information Officers. Merupakan jabatan-jabatan level atas dalam manajemen.
  • ERM: Enterprise Risk Management
  • FAS: Financial Accounting Standards
  • IAS: International Accounting Standards

Mungkin istilah-istilah di atas merupakan istilah yang sering dijumpai berualang kali di buku Audit SI. Ada baiknya selalu diingat agar membacanya jadi lancar. Juga istilah-istilah asing seperti compliance, conformance, governance, dan lain-lain ketika membaca rujukan asing. Berikutnya istilah-istilah dalam proses audit, antra lain:

  • Exposure. Yaitu seberapa besar kehilangan yang diakibatkan dari resiko yang terjadi.
  • Threat. Suatu entitas, lingkungan, kejadian, atau hal-hal lain yang berpotensi membahayakan sistem perangkat lunak atau komponen-komponennya lewat akses yang tidak diperbolehkan/diijinkan, perusakan, modifikasi ilegal, denial of service, dan sejenisnya.
  • Likelihood. Seberapa besar kemungkinan threat menyerang sistem yang ada. Oleh karena pengamanan harus diberikan menyesuaikan likelihood suatu threat yang dianalisa.
  • Attack. Merupakan aksi nyata dari threat yang mengakses sistem secara ilegal. Biasanya attack ini berasal dari luar yang mengeksploitasi ketersediaan sistem yang ada agar berhenti/tidak bekerja.
  • CIA: Confidentiality, Integrity or Availability. Tiga komponen kemananan yang menjaga sistem yang ada dan selalu dijadikan target sasaran attack.
  • Risk. Potensi yang mungkin terjadi ketika ada eksploitasi dari attack yang merusak availability/ketersediaan, sehingga merusak aset yang ada. Risk analysis diperlukan untuk menganalisa seberapa besar potensi suatu resiko berpengaruh terhadap organisasi.

Mungkin istilah-istilah di atas dapat membantu untuk membaca literatur tentang Audit Sistem Informasi. Mudah-mudahan bermanfaat, salah satunya bagi saya yang sering lupa, selamat belajar Audit SI.

Fokus Mengasah Kuku dan Taring, Bukan Hanya Mengisi Perut

Tidak dapat dipungkiri, pekerjaan mengajar di Indonesia masih berfokus pada jumlah jam mengajar. Teringat ketika di awal-awal saya menjadi tenaga pengajar honorer. Prinsipnya adalah mengajar sebanyak-banyaknya. Alhasil, berangkat pagi pulang malam hari. Rekan saya berkelakar, “dari terbit fajar hingga terbenam mata satpam”.

Namun di sela-sela melakukan aktivitas “kejar paket SKS” itu saya melihat beberapa rekan pergi ke luar kampus. “Ke mana mas?”, tanya saya dengan dugaan dia menjawab mengajar di kampus lain. Ternyata tidak, “kuliah”, jawabnya. Ternyata mengambil magister. Saya tertegun dan mulai berfikir ulang mengenai konsep mengajar sebanyak mungkin.

Ternyata benar, tidak beberapa lama kemudian aturan baru muncul, dosen harus S2. Ibarat macan, para dosen yang S1 seperti kurang tajam kuku dan taringnya, bahkan dipaksa S2. Sementara perut yang sudah kebanyakan diisi perlu beradaptasi untuk mengasah kuku dan taring di perkuliahan pascasarjana.

Bagaimana dengan bidang lain selain dosen? Ada sedikit pengalaman dari rekan saya yang suaminya bekerja di Industri, bagian SDM. Waktu itu saya lihat rumahnya masih sederhana dengan kendaraan mobil tua yang murah dan boros BBM. Istrinya bercerita suaminya sangat gemar “mengumpulkan” sertifikat-sertifikat keahlian. Selang beberapa tahun (tidak lebih dari 4 tahun), suaminya selalu pindah kerja ke kantor lain dengan salary yang lebih besar. Namun tetap dia masih gemar “mengumpulkan” sertifikat-sertifikat. Tentu saja mengumpulkan di sini artinya mengikuti ujian-ujian dan kursus-kursus keahlian, sesuai bidangnya yaitu SDM. Kini kehidupannya sangat baik dibandingkan dahulu.

Keahlian beragam, tidak harus sertifikat ataupun gelar/ijasah. Saya teringat ketika bekerja di bank. Saya sering memperhatikan para manajer-manajer dengan grade/level tinggi, karena memang kerjaan saya waktu itu memastikan infrastruktur IT divisi-nya berjalan normal. Kebanyakan mereka memiliki keahlian khusus yang tidak didapat dari perkuliahan, melainkan dari pengalaman dan pelatihan-pelatihan yang diikuti. Misalnya di bagian, kolektor, entah teknik apa yang digunakan, ketika dia memasuki bagian tersebut, kinerja penagihan berjalan dengan baik dibanding sebelumnya.

Ibarat sang macan. Memang mengisi perut itu penting, tetapi dengan cakar dan taring yang kuat dan tajam, dengan mudah makanan diperoleh. Kecuali memang ingin bekerja rutin tanpa tantangan dengan gaji yang mengalir rutin seadanya, pensiun dan menerima tunjangan yang cukup, itu pilihan. Tapi kalau dilihat dari sisi bangsa dan negara, tentu saja khawatirnya akan jadi mangsa macan-macan dari negara-negara lain. Macan-macan bertaring yang dulu gagah pun, satu persatu rontok seperti blackberry, nokia, fuji film, dan lain-lain. Apalagi munculnya fenomena disrupsi, bukan tidak mungkin fenomena ini merambah ke bidang-bidang nyaman lainnya seperti sekolah, kampus, dan sejenisnya. Sudah kan Anda mengasah kuku dan taring Anda hari ini?

Mengenal Istilah “SOLID” dalam Disain Berbasis Objek

Selain Unified Modeling Language (UML) dikenal istilah lain yang agak baru lagi, yaitu SOLID (dalam disain berbasis objek). Istilah ini muncul dari saran Uncle Bob (Robert C. Martin), yang berisi empat prinsip dalam disain berbasis objek. Lima prinsip tersebut antara lain:

1. S – Single-responsibility principle

Prinsip ini mewajibkan suatu kelas (class) sebaiknya hanya memiliki satu tugas. Jangan sampai satu kelas memiliki lebih dari satu tugas. Sebagai contoh suatu program bermaksud menghitung luas seluruh bentuk, misal lingkaran, bujur sangkar, dan lain-lain. Suatu kelas yang berisi perhitungan total area beserta outputnya sebaiknya dihindari. Sesuai prinsip “single-responsibility principle (SRP)” sebaiknya kelas totalArea(shape) dipisahkan dengan outputArea(area). Jadi kelas totalArea hanya berisi perhitungan area sementara outputArea memiliki tugas menampilkan keluaran apakah JASON, HTML, atau format lainnya.

2. O – Open-closed principle

Terbuka di sini menyatakan suatu kelas bisa di extend tetapi “closed” dalam artian tidak perlu memodifikasi kelas sebelumnya. Misal kasus sebelumnya, menghitung total luas area beberapa bangun. Dengan memisahkan kelas totalArea dan outputArea, SRP terpenuhi. Tetapi jika ingin menambah satu bentuk baru, misalnya segitiga maka kelas totalArea terkadang harus di-modif, terutama di loopingnya. Hal ini melanggar prinsip “tak memodif”. Untuk mengatasi hal tersebut, tiap kelas bentuk/bangun, Shape, menyertakan suatu interface berupa implement, yaitu metode/fungsi berisi penentuak jari2/sisi/parameter lain disertai luasnya, misalnya diberi nama shapeInterface. Kemudian kelas totalArea memiliki fungsi sum yang memanggil interface dengan for each terhadap seluruh bangun/bentuk. Jika ada satu bentuk/bangun baru, maka asalkan disertai interface dengan nama shapeInterface maka akan otomatis ikut terhitung. Dan karena tidak ada modif di kelas totalArea, maka prinsip “open-closed” terpenuhi.

3. L – Liskov substitution principle

Jika tipe S adalah sub-tipe dari tipe T, maka fungsi q(x) yang bisa menjalankan objek x dari tipe T bisa juga menjalankan q(y) dimana y adalah objek S.

“Let q(x) be a property provable about objects of x of type T. Then q(y) should be provable for objects y of type S where S is a subtype of T.”

Contoh sederhananya kembali ke kelas perhitungan luas. Karena volume adalah sub-tipe dari luas, maka perhitungan volume bisa mengambil fungsi dari perhitungan area/luas. Misal persegi panjang, maka volume balok bisa mengambil luas persegi panjang dikalikan tinggi, dengan memanfaatkan extend.

4. I – Interface segregation principle

Prinsip ini menganjurkan agar tidak memaksa pemesan/client mempunyai metode (method) yang tidak mereka butuhkan. Misalnya kita diminta menghitung bentuk 3D seperti kotak, bola, dll maka pada metode shapeInterface akan diisi luas dan volume yang harus dimiliki oleh kelas-kelas lain yang tidak memiliki volume (lingkaran, bujur sangkar, dll). Oleh karena itu agar tidak melanggar prinsip “interface segregation” yang memaksa perhitungan volume, maka perlu membedakan kelas solid dengan yang tidak memiliki volmue. Dengan kata lain perlu interface solidShapeInterface dengan fungsi perhitungan volume.

5. D – Dependency Inversion Principle

Prinsip ini mengharuskan tiap entitas tergantung dari hasil abstraksi (pemodelan fungsi dari kondisi real). Suatu kelas pengingat pasword, passwordReminder tidak boleh tergantung dari koneksi ke MySQL atau Oracle atau database lain. Jika ada pergantian jenis database, misal dari MySQL ke SQL Server, maka tidak melanggar juga prinsip ini “Open-closed principle” yang tidak boleh lagi memodifikasi fungsi sebelumnya (koneksi ke MySQL). Solusinya adalah menambah interface koneksi database, misal DBConnectionInterface. Jika sebelumnya class MySQLConnection implements DBConnectionInterface, jika diganti SQLSERVER maka tinggal menggati dengan SQLSERVERConnection implemetns DBConnectionInterface.

Prinsip SOLID ini sangat penting, itulah mengapa dalam videonya di youtube bu Inge menyinggung masalah SOLID ini. Bahkan merupakan hal yang wajib diketahui oleh para developer.

Referensi

https://scotch.io/bar-talk/s-o-l-i-d-the-first-five-principles-of-object-oriented-design

Merubah Warna Latar Pas Foto dengan MS Word

Beberapa hari yang lalu anak saya diminta menyerahkan pas foto 3×4 dengan latar belakang warna merah untuk daftar ekstra kurikuler PMR. Padahal dua bulan yang lalu saat pendaftaran diminta pas foto dengan latar belakang biru. Memang beberapa institusi memiliki aturan tertentu tentang latar belakang foto ini, misalnya untuk perpanjangan visa ketika saya di Thailand mengharuskan warna latar putih. Nah, postingan singkat ini bisa dijadikan rujukan cepat bagi yang ingin mencetak foto sendiri dengan warna latar sesuai permintaan. Cara paling mudah adalah dengan Microsoft Word karena aplikasi ini paling banyak digunakan.

Langkah-langkah Pembuatan

Setelah MS Word dan gambar foto siap, buka file baru di MS Word. Langkah-langkah yang diperlukan untuk merubah background singkatnya adalah:

  • Import gambar ke MS Word
  • Hapus background dengan klik ganda pada gambar lalu pilih remove background
  • Tambahkan background baru

Sederhana ternyata proses perubahan warna latar karena MS Word menyediakan fasilitas menghapus background. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah saat me-remove background hati-hati karena terkadang pakaian bagian bawah ikut terhapus juga.

Untuk menambahkan background baru bisa dengan dua cara. Cara pertama adalah menyisipkan kotak baru dengan warna sesuai keinginan. Cara ini lebih fleksibel karena bisa menambah gambar-gambar latar sekehandak hati. Tapi jangan lupa setting background di belakang gambar foto.

Cara Kedua adalah dengan mengisi (fill) kotak gambar dengan mengklik kanan dilanjutkan dengan mengisi/fill dengan warna sesuai keinginan. Perhatikan langkah untuk cara kedua berikut ini. Klik kanan pilih format picture dan pilih simbol cat dituang.

Walaupun terlihat sederhana, butuh juga latihan dalam menghapus background. Sebelum dilanjutkan dengan mengganti background yang baru, pastikan tidak ada komponen gambar yang ikut terhapus (baju, lengan, dan lain-lain). Selamat mencoba, semoga informasi sederhana ini bermanfaat.

Matrix Confusion pada Matlab

Matriks Confusion digunakan untuk mengukur akurasi dan memvalidasi model yang dibuat. Untuk menghitungnya dapat dilihat pada rumus yang disertakan pada pos terdahulu. Untuk mempermudah perhitungan, Matlab menyediakan fasilitas untuk menghitung matriks confusion ini.

Data Aktual Versus Data Prediksi

Untuk membuat matriks confusion diperlukan dua data yaitu data real/aktual dan data prediksi yang dihitung dari model. Berikut ini contoh data yang akan dibuat matriks confusion-nya. Buka command window dan masukan kode berikut (

  • yaktual=transpose([0 1 1 0 1 1 1 0]);
  • yprediksi=transpose([1 1 1 0 1 0 1 0]);

Untuk membuat matriks confusion, dibutuhkan fungsi confusionmat yang memerlukan dua data masukan tersebut di atas. Jalankan kode berikut:

  • [matriks,label]=confusionmat(yaktual,yprediksi)
  • matriks =
  • 2 1
  • 1 4
  • label =
  • 0
  • 1

Perhatikan matriks berwarna merah di atas, tampak matriks confusion sebagai berikut:

Jadi dapat diketahui a, b, c, dan d berturut-turut 2, 1, 1, dan 4. Jadi dapat dihitung recall, precision, false positive, false negative.

Recall atau dengan nama lain True Positif:

TP=4/(1+4)=4/5=0.8. Nilai lain dengan mudah dapat dihitung.

Kasus Lebih dari Dua Label

Matriks Confusion bisa juga untuk kasus lebih dari dua label. Misal ada dua data dengan tiga label, matriks confusion-nya adalah:

  • yaktual=transpose([0 1 1 2 1 2 1 0]);
  • yprediksi=transpose([0 1 2 2 1 2 1 0]);
  • [matriks,label]=confusionmat(yaktual,yprediksi)
  • matriks =
  • 2 0 0
  • 0 3 1
  • 0 0 2
  • label =
  • 0
  • 1
  • 2

Tampak pada matriks confusion label 2 ada satu error. Precision-nya = 2/(1+2) = 2/3 (lihat rumus di pos yang lalu). Semoga bermanfaat.

Mengukur Akurasi – Confusion Matrix

Untuk proyeksi yang prediksinya berupa data kontinyu, kebanyakan menggunakan Mean Absolute Percent Error (MAPE). Untuk mengukur hasil uji yang berisi True dan False Positive atau Negative diperlukan matriks Receiver Operating Characteristic (ROC). Tetapi jika datanya diskrit atau berupa kelas, misalnya baik, cukup, kurang, maka biasanya peneliti menggunakan matriks confusion.

Dasar-Dasar Matriks Confusion

Paling mudah adalah dengan menggunakan data dua kategori: Positif dan Negatif. Seperti tampak pada gambar di bawah ini, Lihat rujukannya.

Secara logika, akurat bila aktualnya a dan diprediksi a atau aktualnya d dan diprediksi tepat d. Namun sebelumnya perlu mengetahui istilah recall dan precision.

Recall. Dikenal dengan istilah true positive rate (TP) proporsi kasus positif (d) yang secara akutal teridentifikasi (c dan d). Jadi rumusnya:

Precision. Adalah proporsi prediksi positif yang tepat dengan seluruh prediksi positif (b dan d). Rumusnya:

False Positif (FP). Istilah ini banyak digunakan untuk pengecekan biometriks, seperti sidik jari. Nilai ini besar jika banyak sidik jari yang harusnya dimiliki orang lain tetepi diakui oleh yang diuji. Rumusnya adalah perbandingan atas kesalahan yang harusnya negatif (milik orang lain) tetapi diaku miliknya (b):

False Negatif (FN). Adalah kebalikan dari false positif.

True Negatif (TN). Mirip recall tetapi yang dibandingkan adalah negatifnya.

Sekian postingan tentang matiks confusion, mudah-mudahan bisa menjadi sitasi cepat jika lupa istilah-istilah di atas. Postingan berikutnya akan dibahas penggunaannya dalam Matlab.