Sustainable Urban Form

Riset tata kota fokus ke bentuk urban yang mendukung pembangunan berkelanjutan, pembangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan generasi sekarang, melainkan juga generasi yang akan datang (Steiner, 2008). Banyak sekali perdebatan mengenai bentuk urban yang cocok dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Di sini saya ingin memperkenalkan bentuk-bentuk sustainable urban yang diusulkan oleh peneliti.

Penelitian oleh (Jabareen, 2006) menjelaskan beragam bentuk urban yang sustainable. Berikut contoh-contohnya.

1. Neotraditional Development

Jika kita perhatikan kota Jakarta, terjadi perubahan dari urbanisasi menjadi kebalikannya, dikenal dengan istilah “post-suburbanization” (Firman, 2004; Firman & Fahmi, 2017). Maka para pakar urban berusaha mengurangi dampaknya dengan konsep tersebut, yaitu bagaimana menjaga penurunan penduduk “inner city” dan membangun juga kota-kota penyangga.

2. Urban Containment

Munculnya daerah-daerah “Sprawl” baru (saat ini Meikarta contohnya) membuat khawatir pemerhati tata kota akan dampaknya. Di Amerika konsep urban containment dimaksudkan untuk menghindari proses “sprawl” yang tidak baik. Walaupun ada juga sprawl yang baik, misalnya daerah industri khusus yang jauh dari pemukiman.

3. Compact City

Kota kompak (compact city) disukai oleh penata kota dari Eropa dan Amerika karena dapat mengurangi dampak negatif dari transportasi. Kota yang kompak membuat jarak tempuh menjadi rendah dan penggunaan kendaraan berpolusi menjadi berkurang. Bahkan orang cenderung berjalan kaki karena jarak antara satu tempat dengan tempat penting lainya dekat.

Kota kompak mengharuskan diversifikasi, artinya harus ada variasi dalam satu lokasi. Misalnya harus ada sekolah, pasar, tempat ibadah, dll. Jadi orang cukup berjalan kaki sudah bisa sampai ke lokasi tujuan. Bentuk-bentuk segregasi, misalnya kompleks khusus agama tentu, dll sebaiknya dihindari.

4. Eco City

Bentuk kota ini berpatokan dengan konservasi alam, ekologi, dan juga aspek sosial. Biasanya diterapkan di negara maju yang kesadaran warga dan keseriusan pemerintahnya tinggi akan faktor lingkungan. Walaupun demikian sebaiknya negara-negara yang kurang maju, atau ga maju-maju (berkembang terus), tetap mencontoh jenis kota ini mengingat makin puaanas aja tempat tinggal kita, contohnya saya yang di Bekasi. Semoga bermanfaat.

Referensi

Firman, T. (2004). New town development in Jakarta Metropolitan Region : a perspective of spatial segregation, 28, 349–368. http://doi.org/10.1016/S0197-3975(03)00037-7

Firman, T., & Fahmi, F. Z. (2017). The Privatization of Metropolitan Jakarta’s (Jabodetabek) Urban Fringes: The Early Stages of “Post-Suburbanization” in Indonesia. Journal of the American Planning Association, 83(1), 68–79. http://doi.org/10.1080/01944363.2016.1249010

Jabareen, Y. R. (2006). Sustainable Urban Forms: Their Typologies, Models, and Concepts. Journal of Planning Education and Research, 26(1), 38–52. http://doi.org/10.1177/0739456X05285119

Steiner, F. (2008). The living landscape – An Ecological Approach to Landscape Planning – Second Edition. Washington DC: ISLAND PRESS.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s