Penerapan Spatial Metrics

Spatial metrics (lihat post yang lalu) merupakan alat bantu analisa lansekap (landscape) lewat bantuan statistik khusus data spasial. Penggunaannya untuk analisa kondisi suatu wilayah tentang sebaran Patch. Patch adalah homogenous region dari suatu lansekap tertentu seperti taman, perumahan, wilayah urban dan lain-lain. Misalnya dari citra satelit kita bisa melihat dengan mata kepala, ternyata patch-nya ga beraturan, jarang-jarang, terisolir dan sudutnya (edge) runcing, bergerombol dan sebagainya. Berikut contoh tulisan sederhana saya bagaimana menganalisa spatial metrics dengan software free FRAGSTATS.

Spatial metrics ada banyak, terkadang ada yang mirip satu sama lain. Jadi ketika menggunakan harus memperhatikan aspek redundansi, dan juga berakibat lamanya perhitungan metric pada FRAGSTATS. Berikut ini penjelasan satu persatu spatial metrics yang digunakan.

1. Patch Density (PD)

Sesuai dengan namanya, adalah kepadatan patch, misalnya patch di sini daerah urban. Satuannya adalah jumlah patch per 100 hektar.

Makin homogen nilai PD makin besar. Ketika suatu wilayah urban terpisah-pisah dan heterogen, nilai PD atau kerapatan patch nya rendah.

2. Landscape Shape Index (LSI)

LSI mengukur tingkat ireguleritas suatu lansekap. Rumusnya adalah sebagai berikut:

Makin tidak beraturan nilai LSI makin kecil. Maka ketika suatu wilayah urban berkembang dan mekin teratur, nilai LSI membesar. Variabel min e adalah panjang (keliling) terkecil, yang dari sisi geometri adalah lingkaran, yaitu bentuk yang reguler dan kompak.

3. Euclidean Nearest-Neighbor Distance (ENN)

Metric ini mengukur panjang antara satu patch dengan patch lainnya. Ketika antara satu patch dengan lainnya berjauhan maka nilai ENN akan besar, dan mengecil ketika di sela-selanya muncul patch baru.

4. Percentage of Like-Adjacency (PLADJ)

Metric ini sangat terkenal karena kemudahannya. Prinsipnya adalah ketika satu patch dikelilingi oleh patch lain yang berbeda, maka nilainya berkurang.

Seandainya suatu wilayah urban tidak memiliki bangunan (urban area), maka PLADJ maksimum karena pembilang dan penyebut sama. Ketika jumlah gik (like adjacency) yang berbeda jenis patch maka pembilang membesar maka PLADJ turun terus hingga jumlah patch I dan k sama, jika hanya ada dua patch. Jadi biasanya urban area bertambah, PLADJ turun, hingga jumlah urban dan non urban kira-kira sama. Selanjutnya PLADJ naik ketika wilayah non urban berubah jadi wilayah urban.

Kebanyakan riset tentang urban growth mengenal proses pertumbuhan urban dari didominasi oleh tipe outlying (terisolasi), kemudian bergeser ke edge expansion (bertambah di ujung patch) dan infilling (mengisi ruang kosong antara patach). Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s