Dosen Itu Peneliti

Salah satu aspek yang membedakan seorang dosen dengan guru atau tutor adalah keharusan seorang dosen untuk melakukan penelitian. Jika tidak maka tunjangan serdos tidak turun karena tidak mungkin mempublikasikan artikel ilmiah tanpa melakukan penelitian lebih dahulu. Lho, bukannya bisa saja menulis artikel ilmiah tanpa melakukan riset? Postingan ini bermaksud menjawabnya, disertai sedikit membahas penggalan hidup peneliti di Indonesia, maaf, maksudnya di Bekasi.

Jenis Artikel Ilmiah

Untuk menjawab pertanyaan di atas ada baiknya membedakan jenis-jenis artikel ilmiah. Walaupun sulit mengklasifikasikan jenis artikel, tetapi saat ini hanya ada dua jenis artikel ilmiah yaitu yang berasal dari riset (research article) dan yang berasal dari review artikel-artikel dengan topik tertentu (review article). Lihat pembahansannya di pos yang terdahulu. Review artikel biasanya dilakukan oleh expert atau minimal reviewer. Tidak mungkin melakukan review suatu topik tetapi belum pernah melakukan riset dengan topik tersebut.

Saya sempat diminta rekan dosen untuk mempublikasikan artikelnya tetapi isinya materi kuliah. Tentu saja bukan itu yang dimaksud dengan artikel ilmiah. Mungkin itu yang membedakan seorang pengajar dengan peneliti. Artikel ilmiah di jurnal seharusnya memang hasil penelitian yang merupakan sebuah pengembangan perbaikan atau temuan yang memperbaiki suatu sistem yang ada dan diterapkan saat ini. Mungkin agak sulit untuk mahasiswa S1 jika skripsi-nya akan dimasukan dalam suatu jurnal karena kebanyakan merupakan terapan suatu teknik/metode. Beberapa mahasiswa menambahkan aspek lain seperti penelitian tambahan yang menguji tingkat penerimaan sistem yang dibuat terhadap lokasi penelitian atau membandingkan dengan metode-metode lainnya, agar bisa dipublikasikan sebagai artikel ilmiah.

Transisi Pengajar ke Dosen

Dalam perkuliahan, dosen memang mengajarkan metode-metode yang saat ini telah digunakan (untuk materi terapan) dan ilmu-ilmu dasar pendukung metode (untuk materi dasar umum). Selama proses pengajaran terkadang dosen pengampu melakukan modifikasi-modifikasi untuk meningkatkan kinerja suatu metode. Terkadang modifikasi-modifikasi tersebut tidak diajarkan dalam silabus karena memang belum teruji dan khawatir jika langsung diajarkan ke mahasiswa akan berbahaya. Mungkin setelah dipublikasikan dalam suatu jurnal dan telah menempuh proses review dan kritik dalam bentuk sitasi oleh artikel lain dan masuk ke lecture note barulah bisa diajarkan dan sudah masuk dalam buku teks/ajar.

Sedikit sharing informasi, dosen S2 saya dulu programmer Java di perusahaan (saat ini seprtinya serius mengajar). Ada kebingungan darinya mengenai tema S3 yang akan ditempuh, khususnya programmer. Waktu itu saya sendiri bingung. Memang kebanyakan tema riset banyak mengandalkan alat statistik seperti AMOS, SPSS, Lisrel, dan lain-lain. Membuat alat atau menerapkan metode yang ada (bahkan sekedar membandingkan) sulit tembus ke jurnal internasional. Waktu berjalan dan ketika kuliah lanjut, banyak informasi beberapa programmer yang S3 membuat bahasa pemrograman sendiri (misalnya ruby) atau jenis no-SQL seperti MonggoDB yang diutak-atik dari MySQL. Saat ini saya mengajar teknik kompilasi, dengan membuat parser sendiri sepertinya layak dipertimbangkan membuat interpreter sendiri agar meningkatkan performa bahasa yang ada (PHP dkk), atau bahkan mengganti dengan bahasa sendiri.

Sinta

Kalau diikuti terus perkembangannya, Sinta cukup berkembang pesat dibanding ketika pertama kali dibuat. Namun kritik pedas pun sering bermunculan baik di grup-grup WA atau di situs internat, bahkan dari luar negeri (walau penulisnya orang Indonesia). Termasuk salah satu kritikannya adalah terhadap komunitas KO2PI dengan artikelnya yang disitasi 42 kali walau beberapa tidak ada kaitannya, kata si penulis. Tiap kritikan terhadap indeks buatannya, pemerintah malah memakai SINTA sebagai penentu penerimaan proposal hibah yang merupakan sumber tenaga dosen dalam melakukan darma penelitian. Tanpa ada ID Sinta maka seorang dosen tidak bisa mengajukan proposal di link SIMLITABMAS. Kabar terakhir dari penelitian, pencairan luaran tambahan jurnal nasional terakreditasi cukup melampirkan link hasil publikasi di jurnal-jurnal yang terindeks Sinta. Jadi, makin didemo, makin Sinta digunakan sebagai penentu yang mengeliminir dosen-dosen tidak ber-Sinta (jangan-jangan yang Demo anti Sinta & Scopus memiliki indeks Sinta bahkan Scopus yang baik .. wah, mengurangi saingan). Ada baiknya Sinta juga mengakomodir saran-saran dari peneliti sehingga tercipata alat indeks yang demokratis.

Esensi Riset

DIKTI mengharuskan dosen penerima hibah penelitian untuk mempublikasikan hasil penelitiannya ke jurnal, baik lokal, nasional, mapun internasional. Jadi, penelitian harus dipublikasikan? Tentu saja tidak dipaksa (kecuali ada kontrak-nya), apalagi memang yang mendanai pihak tertentu yang hasilnya dirahasiakan. Tetapi jika dananya dari rakyat, sudah tentu harus dipublikasikan agar manfaatnya terasa oleh rakyat. Repotnya, publikasi yang open access berbayar, sementara yang gratis tidak bisa dibaca oleh orang yang tidak berlangganan jurnal tempat penelitian itu dipublikasikan. Di sinilah polemiknya, ada yg bilang jurnal sebaiknya tidak bayar (tetapi yang membaca harus bayar atau membajak) atau bisa diakses orang banyak tetapi berbayar karena publisher butuh biaya untuk mempublishnya.

Riset seyogyanya merupakan perbaikan sistem/metode yang ada saat ini. Biasanya karena ada akibat/dampak negatif dari sistem/metode tersebut. Sebagai contoh menarik adalah riset tentang e-commerce yang saat ini menjamur. Ada jeda waktu antara metode/produk yang saat ini eksis, misalnya GRAB, GOJEK, UBER dan sejenisnya, dengan riset ke depan, misalnya metode yang ramah lingkungan (sustainable) karena meningkatnya e-commerce meningkatkan pula penjualan yang pada akhirnya membutuhkan transportasi yang lebih banyak dari sebelumnya. Jika dengan bahan bakar fosil, maka akan mempengaruhi polusi udara. Selain itu sampah kemasan, misalnya plastik, tentu akan lebih banyak karena jumlah pemesanan yang meningkat (silahkan buka paket online, pasti sulit karena dibalut plastik yang banyak). Ke depan, sepertinya ada teknik-teknik untuk mengurangi polusi (dengan kendaraan listrik atau kemasan yang bio-degradable). Mengajar mungkin bisa digantikan dengan aplikasi e-learning, youtube, dan learning management system (LMS) lainnya, sementara riset hanya manusia yang bisa melakukan. Sekian, semoga bisa menjadi bahan diskusi bersama.

Iklan

Instal Python di Windows

Saya mengenal nama bahasa pemrograman Python pertama kali pada tahun 2003. Rekan saya selain mengajar ternyata bekerja di perusahaan pengembang perangkat lunak. Bahasa yang digunakan di perusahaannya adalah Python. Dengan gayanya yang unik ciri khas programmer dia mengatakan bahwa bahasa pemrograman tersebut sangat “powerful”. Terus terang saya tidak terlalu tertarik karena waktu itu Visual Basic, PHP, dan Delphi merupakan pilihan utama bahasa pemrograman para mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Ternyata bagi para data scientist Python merupakan pilihan utama (selain bahasa R). Matlab sendiri tidak direkomendasikan karena berbayar.

Untuk optimalnya, Python diinstal di Linux karena full gratis. Jika diinstal di Windows tentu saja membutuhkan lisensi Windows. Tetapi bagi pengguna yang masih belum familiar dengan Linux (misalnya Ubuntu), dengan menginstal di Windows maka Python bisa langsung dipelajari. Situs untuk mengunduh software Python sudah tersedia (www.python.org). Saat tulisan ini dibuat tersedia versi 3.7.2. Pilih sesuai Platform OS Windows, misalnya 64 bit.

Saya lebih suka web-based installer karena tidak memenuhi ruang harddisk untuk master softwarenya. Jika ingin diinstal juga di komputer lain, pilih saja yang executable installer karena tidak perlu mengunduh dua kali.

Seperti biasa Windows butuh kepastian mengenai aplikasi yang akan diinstal. Ketik saja Run untuk memulai proses mengunduh sekalian menginstal. Saya lebih memilih menambahkan PATH Python agar bisa dijalankan di semua folder kerja dengan cara memberi checklist di pilihan tersebut.

Kita tinggal menunggu Setup Progres hingga selesai. Sebagai informasi, Python diciptakan oleh orang Belanda Guido Von Rossum yang sempat bekerja di Google. Maka tidak heran jika bahasa ini diterapkan di Google, Youtube, Yahoo, dan NASA.

Jangan khawatir, Python memiliki alat bantu yang bernama The IDLE Python Development Environment yang sering kita kenal pada bahasa pemrograman lainnya yaitu IDE.

Ada baiknya men-disable panjang path agar Python tidak bermasalah nantinya jika Path-nya di atas 260 karakter. Jalankan Python yang baru saja diinstal.

Seperti biasa tes program dengan “hello word” untuk memastikan bahasa pemrograman tersebut berjalan dengan normal.

Ternyata mirip dengan Shell pada Matlab dan sepertinya mudah juga, dan yang penting tidak berbayar. Silahkan mencoba.

 

 

Pengurangan Jumlah SKS

Kabar gembira untuk mahasiswa yang tidak suka ber banyak-banyak SKS. Oiya, di sini SKS maksudnya Satuan Kredit Semester bukan “Sistem Kebut Semalam”. Info-nya (semoga bukan hoax) total SKS S1 dan D3 akan dikurangi. Silahkan penjelasannya baca di situs republika. Seperti biasa, setiap kebijakan ada pro dan kontranya. Rektor IPB misalnya setuju dengan kebijakan menteri dalam memangkas SKS dengan harapan mahasiswa bisa mengembangkan hal-hal lain di luar perkuliahan. Tetapi rektor ITS tidak setuju jika kebutuhan lulusan belum sesuai dengan industri dan malah seharusnya ditambah jumlah SKS-nya.

SKS di Indonesia

Sebagai dosen biasa yang mengelola jurusan, itu pun D3, saya tentu sudah seharusnya mengikuti aturan pemerintah. Ada sedikit pengalaman yang bisa dishare. SKS di negara kita sedikit berbeda dengan di luar negeri yang hanya berfokus ke kompetensi lulusan. Tidak ada mata kuliah yang tidak berhubungan langsung dengan kompetensi, seperti agama, kewarganegaraan, dan sejenisnya di tingkat universitas. Mungkin di level SMA ke bawah ada. Dan anehnya ketika saya mengambil mata kuliah 12 SKS (empat mata kuliah) entah mengapa saya kewalahan kalau tidak dibilang babak belur. Dan ketika semester berikutnya ambil 9 SKS (tiga mata kuliah) ternyata tidak ada masalah. Jika dilihat aturan main yang diberikan pemerintah tentang SKS (teori dan praktek) di luar negeri sama dengan kita, bedanya pada pelaksanaannya di luar negeri memang benar-benar dilaksanakan jumlah jam-nya. Misal 3 SKS dengan 2 teori dan 1 praktek, jumlah jam praktek-nya cukup menguras waktu. Silahkan baca perbandingan dengan Thailand, Jepang dan Eropa di slide ke-7 link ini. Oiya, di Indonesia 1 SKS berarti per minggu 50 menit tatap muka, 50 menit kegiatan terstruktur dan 60 menit kegiatan mandiri, jika dihitung-hitung normalnya minimal seorang mahasiswa ambil 16 SKS, maksimal 20 SKS yang berbeda dengan negara-negara lain tentunya.

SKS di Mata Dosen

Salah satu maksud menristek-dikti mengurangi SKS adalah agar dosen bisa lebih fokus ke aspek lain dari tri-darma selain dari pengajaran, yaitu penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Terus terang saya dan banyak rekan saya dulu merupakan dosen yang di awal berstatus dosen honorer (bahkan tanpa homebase). Beberapa saat ini sudah mulai melakukan tri-darma, terutama yang kerja utamanya mengajar, bukan praktisi. Namun masih banyak yang hanya mengandalkan mengajar sebagai aktivitas utama. Alasannya banyak dari yang memang kesulitan dalam melaksanakan riset (butuh kompetensi dan dana), atau alasan lainnya misal tidak ingin menelantarkan para mahasiswa karena dosennya sibuk riset … cieee. Ya, silahkan jalankan yang menurut kita benar. Jadilah dosen ideal yang murni dan tulus mengajar misalnya. Namun kondisi di era disrupsi cukup cepat berubah. Dosen butuh kepastian penghasilan, bahkan guru honorer pun saat ini mulai resah, untungnya ada tunjangan sertifikasi dosen. Dengan jumlah SKS yang kian menipis, sementara status yang walaupun ber-homebase tapi mengandalkan gaji dari jam mengajar. Tentu saja penghasilan akan berkurang signifikan karena para dosen lain yang berstatus tetap (bukan sekedar homebase) membutuhkan sekali jam mengajar karena tuntutan serdos.

SKS di Mata Institusi Pendidikan

Jangan lupa, era disrupsi yang telah banyak meminta korban saat ini mulai bergerak secara perlahan tapi pasti ke dunia pendidikan. Mahasiswa dapat mengakses media pembelajaran dari bermacam media, tidak harus dari dosen, walaupun untuk keterampilan tertentu tidak bisa hanya lewat aplikasi/media pembelajaran. Walau beberapa perusahaan raksasa dunia merekrut karyawan tidak lagi dengan kualifikasi akademik, melainkan skill, toh standar tetap diperlukan, alias institusi pendidikan tetap dibutuhkan. Bayangkan mengobati orang sakit, membangun gedung, jembatan, mengemudikan pesawat, dan keterampilan penting lainnya tidak ada standarisasi, tentu akan banyak mudharatnya. Untungnya selain pembelajaran, dua aspek lain tri-darma (penelitian dan pengabdian) sepertinya sulit ter-disrupsi. Tanpa ada penelitian, materi pembalajaran tidak akan berubah sejak jaman kuda gigit besi sampai sekarang, dan karena aktor yang meneliti hanyalah manusia maka tidak akan tergantikan dengan mesin artificial intelligent, bahkan mesin tersebut akan mensuport dan mempermudah peneliti baik dari sisi komputasi maupun pertukaran informasi (sepertinya untuk pengabdian juga). Belum lagi adanya Massive Open Online Course (MOOC) serta blended learning dan flipped learning yang maju mundur dan masih malu-malu, namun siap bergerak cepat ketika infrastruktur siap. Untungnya kunci menghadapi era disrupsi dan industri 4.0 sudah diketahui yaitu ada pada otomatisasi, efisiensi, dan pelayanan yang baik terhadap konsumen dengan literasi digital dan data (Big Data). Jadi nggak perlu khawatir … walau deg-degan juga sih.

Menjalankan MS Word di Ubuntu

Ada dua aplikasi terkenal yang mirip MS Word di Linux yaitu LibreOffice Writer dan satu lagi yang terkenal buatan Apache yaitu Open Office. Aplikasi yang digunakan untuk menjalankan MS Word di linux adalah PlayOnLinux. Aplikasi ini berupa mesin virtualisasi yang berupa wadah untuk proses instalasi MS Office di dalamnya. Silahkan lihat tatacara instalasinya di situs resmi ubuntu.

Tekan tombol Install pada PlayOnLinux dan pilih aplikasi yang berbasis Windows yang tersedia. Tentu saja siapkan juga software installernya. Sempat install MS Office 64 bit tetapi ternyata PlayOnLinux diperuntukan aplikasi berplatform 32bit. Akhirnya coba install Office 2010 32bit. Fasilitas-fasilitas unggul MS Word seperti Automatic Table of Contents, review, dan lain-lain dapat dijalankan di linux, sehingga mempermudah user yang sudah terbiasa dengan MS Word. Sayangnya ketika mencoba share to blog tidak berhasil teregister akun wordpressnya, entah mengapa. Ada baiknya menggunakan bawaan Linux seperti LibreOffice dan OpenOffice karena tentu saja lebih cepat, terutama jika sekedar mengetik. Selamat mencoba, siapa tahu berminat.