Membaca dengan Sudut Pandang Penulis

Membaca merupakan problem utama di tanah air saat ini. Jangankan pelajar dan mahasiswa, guru dan dosen pun banyak yang mengeluh menganai masalah membaca ini. Ada yang baru sebentar sudah ngantuk, ada yang mentok dengan istilah tertentu yang tidak dimengerti misalnya untuk teks asing serta problem-problem lainnya yang berkaitan dengan masalah non teknis, kurang waktu, dan lain-lain.

Uniknya pengguna medsos di tanah air sangat banyak, yang tentu saja perlu membaca. Namun ternyata membaca teks di facebook, twitter, dan sejenisnya yang singkat, kurang mendalam, dan tak perlu berfikir keras berbeda dengan membaca buku pelajaran, panduan, dan sejenisnya. Jangan khawatir, saya pun mengalami hal yang sama. Repotnya, ketika studi lanjut, tidak ada cara lain selain dipaksa membaca. Terutama jika yang dibaca sulit dimengerti.

Lebih rumit lagi ketika diminta menulis. Pernah saya membaca satu artikel dengan mudah karena dibuat oleh penulis yang mampu secara efektif mengutarakan idenya. Kalimatnya runtun, sistematis, dan seolah-olah mengantarkan pembaca ke topik yang ingin dia sampaikan. Terbesit dalam hati bahwa saya pun bisa menulis seperti itu. Ternyata, ketika ingin menulis, satu paragraph pun tak kunjung jadi. Berbeda dengan membaca satu paragraph dari penulis yang saya rujuk, cukup beberapa detik saja membacanya.

Sudah lama saya menulis di blog tentang materi-materi kuliah yang sebenarnya dimaksudkan agar ketika butuh tinggal membaca kembali lewat HP atau laptop yang terkoneksi jaringan. Anggap saja sebagai buku catatan yang mobile. Ketika membacanya tentu saja secepat kilat karena walau sudah lupa tetapi karena saya sendiri yang menulis jadi mudah. Itu mungkin karena tulisan di blog jauh lebih sedikit dari jurnal atau buku. Namun ketika saya membuat buku, dan ketika butuh materi terentu dari buku itu, dengan cepat saya membaca. Akhirnya ketika dicoba membaca sebuah buku dan membayangkan saya penulisnya, atau setidaknya dari sudut pandang penulis, kecepatan dan kemampupahaman (reading skill) melonjak. Selain mendapat informasi dari tulisannya, saya pun memahami bagaimana penulis beragumen, menunjukan bukti-bukti, hingga sekedar menarik minat pembaca untuk menyelesaikan membaca hingga selesai.

Minimal ketika kita membaca dari sudut pandang penulis, kita merasakan bagaimana sulitnya si penulis menjelaskan sesuatu yang rumit, dan membuat kita ikut bersabar menuntaskan bacaan. Bill gates menganjurkan untuk menuntaskan satu buku yang kita baca. Banyaknya sumber-sumber bacaan ebook yang dapat dengan mudah dari internet terkadang membuat kita tidak sempat membacanya akibat “godaan” bacaan yang lain. Coba beli buku teks di toko buku, kalau perlu yang mahal, dijamin Anda akan menuntaskan bacaan tersebut bagaimanapun caranya.

Teknik tersebut akhirnya kerap saya terapkan ketika mereview artikel ilmiah. Dengan sekelebat dari abstrak, pendahuluan, hingga hasil dan kesimpulan dapat diketahui hal-hal apa saja yang harus diperbaiki oleh penulis dari tulisannya. Selamat, Anda berhasil menuntaskan suatu bacaan walau pendek.

2 respons untuk ‘Membaca dengan Sudut Pandang Penulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.