Merekap Nilai di Google Classroom

Menginput nilai terkadang menjadi hal yang menjemukan karena cukup menyita waktu. Google classroom (GCR) merupakan salah satu tool elearning gratis yang disediakan oleh Google. Untuk kampus yang belum memiliki fasilitas elearning, GCR merupakan andalan, bahkan terkadang lebih baik dari pada tool elearning buatan sendiri. Postingan kali ini bermaksud sharing bagaimana menghitung nilai harian siswa secara otomatis.

Membuka Rekap Nilai

Setelah selesai perkuliahan, nilai seluruh mahasiswa di suatu kelas dapat diakses dengan masuk ke Grade di home.

Secara default nilai total (overall grade) tidak muncul di sheet di bawah ini. Namun jangan kecewa, karena kita bisa meminta GCR untuk menampilkan nilai akhirnya.

Menambahkan Overall Grade

Untuk menampilkan overall grade, masuk ke Setting dan cari pilihan Total Points di bagian Grading.

Setelah Total Points di pilih, pastikan di sheet muncul overall grade
yang merupakan rata-rata nilai siswa dari assignment yang diberikan. Lanjutkan dengan menekan Save di kanan atas.

Memindahkan ke Excel

Untuk memindahkan ke Excel Anda tinggal memblok seluruh isian yang akan dipindah dan tinggal di copy dan paste di Excel. Sayangnya, cara ini hasilnya agak kurang bagus karena muncul teks tambahan HTML. Oleh karena itu kita ikuti saja cara yang disediakan oleh GCR berikut ini.

Masuk ke Classwork mana saja (bukan pertemuan/kuliah), misalnya Ujian Akhir Semester. Di bagian kanan atas tekan simbol Settings yang akan meminta Anda memilih mengkopi ke Google Sheets (Excel online buatan Google) atau mengunduh dalam bentuk Comma Separate Value (CSV) yang bisa dibuka dengan Excel. Di sini kita pilih Download all grades as CSV jika ingin mengunduh seluruh nilai. Sementara Download these grades as CSV dipilih jika hanya nilai yang sedang dibuka saja.

Selamat, Anda berhasil merekap nilai tanpa susah payah. Tentu saja nilai tiap tugas tetap harus diperiksa tiap minggunya jika ada. Berhubung overall grade tidak ada, silahkan gunakan fungsi average di Excel untuk merekap nilai totalnya.

Silahkan lihat video Youtube berikut untuk lebih jelasnya. Semoga bermanfaat.

Jurnal

Beberapa hari yang lalu pemerintah mengumumkan hasil akreditasi jurnal ilmiah Indonesia. Beberapa jurnal nampaknya sudah mengalami kemajuan baik dari sisi manajemen maupun substansi/isi. Sayangnya beberapa jurnal yang re-akreditasi (mengajukan diri untuk direview ulang) tidak dilayani karena kurangnya tim review, sementara jurnal yang harus dicek ribuan.

Masalah jurnal sepertinya sejak lama memancing kontroversi, apalagi terkait dengan Scopus yang berbayar. Banyak juga yang mempertanyakan manfaat jurnal ilmiah, mengingat dampaknya tidak terasa bagi masyarakat. Bandingkan saja dengan temuan GeNose, misalnya. Masalah ini tidak dapat dijawab hanya dengan satu sudut pandang saja, perlu memperhatikan aspek-aspek lainnya. Jurnal saja tentu saja belum cukup jika tanpa didukung oleh semangat meneliti oleh seluruh dosen dan peneliti di Indonesia. Bagaimana jika tanpa artikel ilmiah/jurnal? Sebagai ilustrasi, Scimago mendata artikel-artikel/dokumen yang ada di dunia, misalnya gambar di bawah ini (jumlah artikel Q1 tiap negara).

Lima besar jumlah dokumen didominasi oleh negara-negara maju. Bagaimana dengan Indonesia, silahkan searching saja, posisinya ada di urutan 47, dibawah Thailand, Singapura, dan Malaysia. Pihak yang menganggap enteng artikel ilmiah sepertinya perlu meneliti lebih lanjut dan tidak berfikir instan. Proses menghasilkan produk tidak secepat membuat kue atau lagu misalnya. Dibutuhkan usaha tekun, kerja sama, dan berlangsung terus-menerus. GeNose ciptaan Prof. Kuwat pun tidak serta merta mendadak dibuat. Sang penemu memang sejak lama berkonsentrasi pada penelitian tentang e-nose, yaitu teknik mengenali bau lewat instrumen, yang ternyata dapat digunakan untuk mengendus COVID-19 yang jauh lebih tajam dibanding seekor anjing dalam mengklasifikasi bau/aroma. Hal ini karena menggunakan machine learning dengan Big Data.

Kita tidak membutuhkan segelintir orang besar, melainkan bagaimana penemu dan peneliti-peneliti baru terus tumbuh dengan cara meningkatkan iklim riset yang kondusif. Prof. BJ Habibie memang sangat membantu Indonesia dengan menjadikan dirinya sumber inspirasi, tetapi kita tetap membutuhkan bibit-bibit seperti Pa Habibie, untuk melanjutkan riset-risetnya. Jangan sampai iklim yang sudah agak kondusif dilemahkan dengan jargon-jargon kapitalis, antek asing, dan sejenisnya. Memang, menghancurkan lebih mudah dari pada membangun. Sebaiknya kita menggunakan prinsip, yang baik dipertahankan dan dikembangkan, yang kurang diperbaiki. Jangan sampai untuk memperbaiki kekurangan kita melepas dan mengabaikan yang sudah baik.

Belajar Membuat Game dengan Python

Ternyata Python tidak hanya digunakan untuk Machine Learning, melainkan juga untuk membuat game. Banyak sumber-sumber belajar di internet, baik di Github maupun penjelasannya di Youtube. Nah, bagi Anda yang pemula ada baiknya membaca postingan ini bagaimana menggunakan dua metode dalam menjalankan Python yaitu konsol dan Jupyter Notebook.

Konsol

Di sini kita ambil contoh dua game terkenal yang dibuat dengan Python yaitu Flappy Bird dan Space Invaders. Install Python di laptop Anda terlebih dahulu, disarankan menggunakan cara yang paling gampang walau agak berat, yaitu paket Anaconda.

Menggunakan konsol sangat dianjurkan bagi Anda yang mahir dan cepat dalam mengetik. Di sini harus dipahami terlebih dahulu cara menangani virtual environment
di Python. Selain itu library-library pendukung harus diinstall juga, terutama pygame karena di sini kita coba menggunakan library tersebut.

Untuk mengedit bisa menggunakan IDLE, Sublime Text, Notepad, atau text editor lainnya. Langkah pertama dalam belajar adalah mencoba menjalankan (running) program tersebut, dilanjutkan dengan mengedit fungsi-fungsi tertentu, misal mengganti gambar/image tokoh, background, atau memindah fungsi tombol naik/turun/kiri/kanan dengan tombol baru.

Jupyter Notebook

Jika Anda pengguna Google Colab, ada baiknya menggunakan Jupyter Notebook karena memang IDE-nya yang tidak jauh berbeda. Ekstensi filenya pun sama (*.ipynb) yang berbeda dengan Python konsol (*.py). SIlahkan membuka Jupyter Notebook lewat Anaconda atau konsol. Untuk lebih cepat sepertinya konsol lebih cepat dan ringan. Arahkan folder kerja ke lokasi game dan ketik “jupyter notebook”. Pastikan fasilitas jupyter notebook tersedia di environment kita (di sini contohnya ‘base’) yang jika belum ada gunakan > pip install jupyter.

Mengingat jenis filenya yang berbeda maka terlebih dahulu kita membuat new file dilanjutkan dengan mengkopi isi file *.py ke dalam file Jupyter Notebook yang baru tersebut. Jalankan file sample, pastikan game berjalan dengan baik.

Coba mengganti beberapa fungsi game tersebut, misalnya tombol bergeraknya pesawat, atau mengganti background dan bentuk pesawatnya. Berikut video penjelasannya, semoga bermanfaat.

 

 

Metakognisi

Banyak sumber-sumber yang menginformasikan bahwa cara cepat untuk belajar adalah dengan mengajar. Cara ini cukup ampuh dan menjadi andalan saya dan rekan-rekan dosen lainnya dalam mempelajari suatu hal dengan cepat. Entah mengapa cara ini bisa berjalan dengan baik sampai saya memperoleh informasi dari rekan saya yang mengambil doktor informatika yang berkecimpung dalam e-learning bahwa ada istilah metakognisi/metacognition. Istilah ini merupakan istilah dalam bidang pendidikan yang merujuk taksonomi Bloom yang diusulkan oleh Benjamin Bloom. Taksonomi ini membagi aspek kognisi menjadi enam, antara lain: mengingat, memahami, menerapkan, menganalis mensintesis, dan mengevaluasi. David Krathwohl mengusulkan taksonomi yang terakhir mengganti mengevaluasi menjadi mencipta.

Mengingat

Ini merupakan skill belajar yang pertama kali dikuasai oleh manusia, sejak jaman nabi Adam. Kemampuan mengingat konon kabarnya dikagumi oleh malaikat dan makhluk-makhluk lainnya. Di Tiongkok, ‘mengingat’ menjadi skill andalan oleh pelajar-pelajar sastra jaman kerajaan dulu. Dalam agama Islam, beberapa tempat pendidikan menjadikan menghafal merupakan skill dasar yang wajib, terutama ketika menghafal Al-Quran dalam rangka menciptakan hafidz/penghafal Alquran.

Di era industri 4.0 dimana bigdata dan informasi banyak berseliweran, diperlukan bukan hanya kemampuan menghafal melainkan juga cara berfikir logis, kritis, dan aspek-aspek metode ilmiah lainnya. Negara-negara maju kebanyakan mengasah skill lainnya, walaupun tentu saja ‘mengingat’ tetap aspek penting yang memang dibutuhkan oleh semua bidang.

Memahami

Bayangkan sebuah rumus, misalnya E=MC^2. Untuk mengingatnya sangat mudah, namun untuk memahaminya perlu usaha ekstra, baik lewat membaca literatur pendukung, video di Youtube, atau minta teman yang memahami untuk menjelaskannya. Skill memahami sangat penting sebagai dasar untuk skill lainnya. Tentu saja kita bisa menghafal sesuatu tanpa perlu memahami maksud apa yang dihafal, mirip burung beo atau kakak tua.

Untuk memahami tidak serta merta dan otomatis muncul, apalagi bagi pelajar atau anak-anak. Seseorang yang tidak tertarik sudah dipastikan tidak akan muncul keinginan memahaminya. Jika mahasiswa mengikuti perkuliahan karena terpaksa, mereka tidak memiliki keinginan untuk memahami materi yang diajarkan. Mirip kasus webinar saat ini yang banyak beredar. Memang diawal-awal orang-orang antusias mengikuti webinar, tetapi lama kelamaan orang akan jenuh dan hanya mengikuti webinar yang mereka butuhkan saja (kecuali kalo memang ingin memperoleh e-sertifikat saja).

Bagi dosen, beruntunglah karena ada tuntutan mengajar, mau tidak mau harus memahami suatu topik. Di sinilah mengapa belajar yang efisien adalah dengan mengajar, maksudnya karena harus mengajar maka dituntut harus memehama yang kita pelajari, buku yang kita baca, dan lain-lain.

Menerapkan

Bisa memahami ternyata belum lengkap jika kurang mampu menerapkan. Hal ini mengingat dunia industri membutuhkan skill terapan dalam mendukung aspek bisnisnya. Di sinilah pentingnya praktek bagi mahasiswa terhadap hal-hal yang dipahaminya. Skill memahami memang sudah bisa untuk mengajar, bahkan dalam Islam diminta menyampaikan walau satu ayat. Namun jika hanya bisa memahami saja dikhawatirkan disebut hanya omong doang saja.

Nadiem, menteri pendidikan dan kebudayaan, memahami hal tersebut maka dimunculkanlah program merdeka belajar yang mengintegrasikan pendidikan di kampus dengan praktek kerja di industri. Harapannya siswa memiliki keterampilan kerja, dengan kata lain mampu menerapkan teori yang dipahaminya.

Menganalisis

Sampai dengan skill menerapkan mungkin bisa dikuasai oleh seseorang yang kurang kritis. Jangan heran banyak praktisi-praktisi terampil bisa juga tersandung hoaks karena kurangnya sikap kritis. Lihat saja korban-korbannya, kebanyakan para praktisi akibat tersandung UU ITE.

Skill menganalisis booming di jaman renaisance di Eropa dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan tangguh seperti Isaac Newton, Descrates, Galileo, dan kawan-kawan. Menganalisis perlu usaha ekstra, tidak hanya memahami satu hal saja. Terkadang membutuhkan bidang-bidang lain, seperti statistik dan matematika sebagai “pisau bedah” terhadap topik yang akan dianalisa.

Mensitensis

Analisis dan Sintesis biasanya jalan beriringan mengingat ada tuntutan novelty terhadap satu topik tertentu. Novelti, atau kebaruan merupakan sintesa dari hasil analisa topik-topik beragam yang biasanya bermanfaat menyelesaikan problem tertentu. Kemampuan ini mutlak diperlukan oleh mahasiswa-mahasiswa doktoral dalam menyusun disertasi dan mempublikasikan artikelnya di jurnal internasional.

Baik analisis dan sintesis tidak hanya untuk dosen dan peneliti saja. Dalam dunia industri atau pekerjaan di manapun skill ini sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan daya saing industri tersebut. Era disrupsi memaksa industri harus mampu berfikir cepat, efisien, dan fokus ke pelayanan. Pelayanan yang baik mutlak memerlukan analisa baik lewat survey maupun menerapkan metode-metode terkini untuk menggantikan metode lama yang usang dan kurang efisien.

Mengevaluasi/Mencipta

Skill ini merupakan skill yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Inovator-inovator banyak bermunculan di negara-negara maju karena dengan temuannya mampu meningkatkan daya saing dengan negara lain yang hanya bisa menggunakan hasil temuannya. Singapura yang memiliki kemampuan dagang dan bisnis yang mumpuni pun tetap berusaha fokus ke penelitian dengan meningkatnya kualitas kampus-kampusnya.

Untuk menciptakan hal-hal besar selevel penghargaan nobel memang sulit. Namun bisa saja kita menciptakan hal-hal kecil yang bermanfaat. Di Indonesia misalnya ketika kondisi COVID-19 ITB menciptakan alat ventilator sendiri dengan kualitas yang baik dan siap diproduksi, sementara itu UGM menciptakan alat tes COVID-19 bernama Ge-Nose yang murah, mudah, dan akurat. Yuk, tingkatkan metakognisi kita.

Update Publon dan Garuda di Sinta

Selama ini Sinta mengandalkan Scopus dan Google Scholar untuk perhitungan kinerja dosen dan kampus. Pro kontra bermunculan karena kekhawatiran akan ketergantungan kepada Scopus, pengindeks terkenal yang memang berbiaya mahal untuk berlangganannya. Sementara itu, Google Scholar yang gratis masih menuai kritik akan verifikasinya yang hanya berbasis pemakai. Jadi bisa saja kinerja Google Scholar dimanipulasi oleh pengguna.

Nah, kini Sinta terus berbenah dan mulai memasukan Publon yang merupakan situs pengindek pesaing Scopus, yaitu Web of Science (WoS). Di sini WoS mulai menggratiskan pengguna khusus untuk pendaftaran dan manajemen akun saja. Publon juga mengindeks bukan hanya yang terindeks di WoS yang memang sulit tembusnya, namun juga bisa mengimpor publikasi kita yang ada di Scopus.

Walau terimpor ke publons, paper-paper yang terindeks Scopus tetap dibedakan oleh publons. Jadi di paper tersebut ada informasi apakah terindeks WoS atau Scopus saja. Biasanya yang terindeks WoS terindeks pula di Scopus (1), namun sebaliknya beberapa paper saya di Scopus tidak terindeks WoS (2). Oke, berikut langkah-langkah update Publon di Sinta.

Pertama Anda harus login terlebih dahulu ke Sinta dan masuk ke Update Profile. Silahkan baca post ini jika Anda belum terdaftar di Sinta.

Tampak Publon ID masih kosong, sementara Garuda ID sudah terisi (silahkan isi jika masih kosong dengan masuk ke situs garuda: http://garuda.ristekbrin.go.id/). Nah di sinilah Anda harus meletakan ID Publon Anda. Silahkan baca https://rahmadya.com/2019/06/02/indeks-web-of-science/ jika ingin lebih jauh mengetahui tentang Publons yang dahulu namanya ResearcherID. Secara langsung Publon tidak menginformasikan ID di situsnya karena memang ID mengambil dari Researcher ID, namun di alamat link dapat dilihat.

Copy dan Paste saja di kolom Publon ID Sinta Anda, cukup mudah. Langkah terakhir dan terpenting adalah sinkronisasi dengan publons agar data yang terindeks mereka (WoS) dapat terambil ke Sinta. Tekan WoS Document di bagian atas (1) lalu tekan Request Sync WoS untuk sinkronisasi. Jika sudah, tampak tulisan “WOS Syncronization in Queue” yang artinya sedang dalam proses (tidak langsung tersinkronisasi).

Proses Sinkronisasi tidak lama, kasus saya hanya sehari (atau mungkin lebih cepat lagi, karena saya mengeceknya sehari kemudian). Jika sudah tersinkronisasi maka muncul artikel-artikel kita yang terindeks Web of Science.

Demikian juga silahkan lakukan hal yang sama untuk Garuda Document yang jika disinkronisasi biasanya banyak artikel kita yang sudah terpublish di jurnal-jurnal nasional baik terakreditasi atau tidak, asalkan memiliki OJS. Untuk lebih jelasnya lihat video singkat berikut ini.

Respek

Beberapa waktu yang lalu di grup WA santai tempat saya bekerja, saya merespon postingan rekan saya tentang video ulah penjahat-penjahat dalam aksinya yang terekam cctv. Isi respon saya sederhana, hanya mengatakan bahwa setelah melihat postingan tersebut saya merasa seluruh teman-teman saya baik semua. Alhasil, respon pun bermunculan, mulai dari yang tersenyum, hingga yang mengkritik kalau saya salah menggunakan standar. Coba saja teknik itu Anda terapkan, gosip teman kerja, protes keras, dijelek-jelekan, dikomplain, dll, tidak ada artinya dibanding ulah penjahat-penjahat itu kan .. he he.

Viveka

Yah, begitulah kadang kita memerlukan teknik tertentu untuk menjaga kondisi hati tetap damai (istilah dalam bhs sansekertanya teknik tersebut adalah viveka). Buku karya Daniel Golemen berjudul emotional intelligence mencontohkan satu teknik meredam emosi ketika ada kasus tertentu yang membuat kita kecewa, misal di angkutan umum kita kesenggol cukup keras dengan penumpang lain. Namun ketika kita tahu ternyata yang bersangkutan ada masalah berat, misal angota keluarganya sakit keras sehingga tergesa-gesa dan menyenggol Anda, maka emosi yang memuncak akan tiba-tiba hilang. Jadi, orang yang tidak mengenal ambulans (tentu saja tidak mungkin ada kecuali si supir tuli dan rabun) pasti akan marah-marah atas sikap ugal-ugalan mobil tersebut ketika lewat membawa pasien gawat darurat.

Kisar 7 Samurai (Seven Samurai)

Tidak ada orang yang menyukai pribadi yang tidak respek terhadap orang lain. Nah, repotnya terkadang virus tersebut menyusup secara perlahan ke hati kita. Maka perlu menjaga sikap respek tersebut, kepada siapapun. Film 7 samurai menceritakan kampung petani yang akan dijarah oleh perompak ketika saat panen tiba, yang diketahui oleh petani yang tidak sengaja menguping pembicaraan dua perampok yg bertugas mencari sasaran. Berkelanalah utusan petani tersebut mencari samurai baik hati yang siap membantu. Mereka berhasil mengumpulkan 7 samurai dari beragam latar belakang yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Ketujuh samurai tersebut sadar bahwa petani-petani tersebut tidak sanggup membayar mahal, tetapi satu orang samurai senior mengambil nasi dan lauk pauk yang disediakan petani, dia menyetujui permintaan petani tersebut sambil menyuap makanan dengan sumpitnya. Pertanda bahwa samurai-samurai itu menyadari jasa-jasa petani yang dengan kerja kerasnya menyediakan makanan untuk kelangsungan hidup manusia. Dengan kata lain, samurai-samurai itu respek terhadap petani-petani miskin tersebut. Di akhir cerita, sang pimpinan perampok heran dan bertanya mengapa samurai-samurai tangguh itu rela membantu petani. Pimpinan 7 samurai jagoan di film itu tidak menjawab, hanya memberi respek kepada si perampok itu sebelum wafat.

Respek Kepada Siapapun

Zaman sekarang ditandai dengan beragam hal-hal spesifik yang membutuhkan spesialis-spesialis di segala bidang. Tidak mungkin lagi kita mencukupi kebutuhan hidup 100% mandiri. Kerjasama dan kebutuhan akan bantuan orang lain mutlak diperlukan. Apapun profesi kita, bantuan dari orang lain mutlak diperlukan. Saking banyak yang dibutuhkan terkadang kita tidak tahu dengan siapa kita membutuhkan bantuan. Jadi, cara termudahnya sederhana, anggap saja Anda membutuhkan bantuan kepada setiap orang. Tidak mungkin kita tidak respek terhadap orang yang kita butuhkan. Ketika Anda naik ojek, Anda akan respek terhadap tukang ojek tersebut karena Anda butuh diantar, sama respeknya dengan pilot pesawat. Terhadap mahasiswa pun, dosen pasti akan respek jika merasa membutuhkan mahasiswa, terlepas apakah kampus negeri, apalagi kampus swasta. Siapa yang diajar jika tidak ada mahasiswa? Jika menjadi youtuber pun, membutuhkan subscribe dari viewer-nya kan, yang tetap saja kebanyakan mahasiswa. So, tetap menghargai orang lain, sekian dan semoga menginspirasi, “I respect to all of you”.

Raja Thai dan Biksu

Membuat Grafik dengan Excel

Excel yang merupakan spreadsheet selain memiliki kemampuan mengelola data juga mampu membuat grafik yang cukup baik, terutama untuk versi terkini. Banyak pilihan grafik yang disediakan, mulai dari line, bar, hingga pie. Grafik tersedia di menu Insert pada Excel.

Sebagai contoh kita akan membuat grafik berjenis “bar” untuk nilai akhir (NA) tabel di atas. Masuk ke menu Insert dan pilih simbol “bar” chart.

Berikutnya akan muncul bidang kerja grafik yang harus diisi data nilai akhir serta mahasiswa yang bersangkutan. Pilih Select Data untuk memasukan data yang akan ditampilkan pada grafik. Jika tidak ada klik ganda bidang kerja grafik untuk memunculkannya.

Tekan Chart data range di bagian panah untuk memilih data yang akan ditampilkan pada grafik (1). Data ini diistilahkan dengan Series yang akan muncul di kotak kiri gambar di atas. Series ini bisa lebih dari satu (dalam contoh ini bisa saja kehadiran, UTS, UAS, tidak hanya NA). Berikutnya untuk Axis tekan bagian Edit pada kotak kanan lalu sorot seluruh nama mahasiswa (2) karena jika tidak hanya berisi angka urut saja.

Perhatikan di sini akan ditampilkan UTS, UAS, dan NA. Tadinya UTS, UAS, dan NA berturut-turut bernama Series2, Series3, dan Series5. Cara menggantinya adalah tekan Edit di bagian atas kotak Legend Entries dan ketik nama yang diinginkan. Lihat, Series yang tidak digunakan bisa diunchek atau remove. Jika sudah tekan OK untuk memperlihatkan grafik.

Edit bagian judul grafik dan jika ingin menambahkan elemen lain, misalnya legenda, masuk ke menu Add Chart ElementLegend Right. Pastikan di bagian kanan akan muncul penjelasan nilai yang ada pada grafik. Silahkan modifikasi sesuai dengan keinginan, misalnya mengganti design agar memunculkan score di bagian atas bar. Untuk jelasnya lihat video tutorial berikut ini.

Inverted Index dengan Google Colab – Python

Beberapa buku teks memiliki index yang diletakan di akhir buku. Isi index adalah kata-kata penting beserta halaman dimana kata tersebut berada. Biasanya kata-kata tersebut disebutkan lebih dari satu halaman.

Sementara itu ketika seseorang mengetikan kata di mesin Google, misalnya “American Revolution”, maka Google akan mencari di mana saja kata tersebut berada, misalnya pada Index di gambar di atas di halaman 84,98, dan 166. Karena diletakan di muka yang mirip daftar isi, maka di situlah kata “inverted” bermula, yang seharusnya di belakang tapi di muka sebagai alat pencari. Sebagai contoh, puisi “Aku” karya Chairil Anwar berikut. Anggap saja satu line/baris merupakan satu berkas dokumen, atau kalau dalam satu buku adalah halaman.

  • Doc 1.Kalau sampai waktuku
  • Doc 2.’Ku mau tak seorang ‘kan merayu
  • Doc 3.Tidak juga kau
  • Doc 4.Tak perlu sedu sedan itu
  • Doc 5.Aku ini binatang jalang
  • Doc 6.Dari kumpulannya terbuang
  • Doc 7.Biar peluru menembus kulitku
  • Doc 8.Aku tetap meradang menerjang
  • Doc 9.Luka dan bisa kubawa berlari .. Berlari
  • Doc 10.Hingga hilang pedih peri
  • Doc 11.Dan aku akan lebih tidak peduli
  • Doc 12.Aku mau hidup seribu tahun lagi!

Aslinya sih satu dokumen itu satu berkas berupa buku pdf, postingan internet, jurnal, dll, tapi di sini dianggap satu baris/line saja. Atau bisa juga sih, satu berkas tersebut dijadikan satu baris dengan doc-id sebagai penunjuk line/baris berkas itu. Kalau forward index membuat index dari konten, inverted index memetakan kata/istilah ke konten. Kita memanfaatkan inverted index Google yang setiap hari membuat index (forward index) dari data yang di crawler di seluruh dunia. Berikutnya, untuk praktik siapkan sebuah file txt yang berisi puisi di atas, atau contoh sembarang. Buka Google Colab dan upload file tersebut.

Silahkan lihat kode di referensi di akhir postingan ini. Jika dijalankan, dihasilkan inverted index seperti di bawah ini. Cek apakah benar beberapa kata tepat berada di dokumen/line pada file “Aku.txt” di atas.

Di sini kita tinggal memasukan frekuensi, misalnya ‘berlari’ itu ada dua kali. Untuk jelasnya silahkan lihat video tutorial saya berikut ini.

Ref:

Link: geeksforgeeks.org/create-inverted-index-for-file-using-python/

Mengawali Tahun Baru 2021 di Masa Pandemi

Jika tahun lalu tahun baru diwarnai dengan banjir, kali ini diawali dengan pandemi COVID-19 yang sedang tinggi-tingginya angka kasus harian di Indonesia. Dampaknya sungguh luar biasa, terutama yang bekerja di sektor bisnis, maupun karyawan harian yang perusahaannya terdampak pandemik. Selain itu, bidang lain seperti pendidikan pun ikut terdampak. Terjadi penurunan mahasiswa yang masuk maupun yang registrasi ulang.

Di sisi lain, komunitas dijital sangat ramai, baik dalam bentuk meeting online, transaksi online, dan sejenisnya. Apalagi media sosial yang dibanjiri oleh sharing informasi-informasi yang up-to-date. Banyak informasi tersebut yang baik, namun banyak pula yang menurut saya kurang baik, atau setidaknya bisa mempengaruhi kita secara negatif. Postingan ini sedikit berbagi bagaimana menyikapi informasi-informasi tersebut.

Syukuri Yang Ada

Ada yang mengatakan bahwa jika Anda hari ini masih punya pekerjaan, punya uang, bisa makan dan diberi kesehatan berarti Anda termasuk orang yang beruntung. Begitulah, banyak orang yang baru merasakan nikmat pekerjaan ketika di phk, nikmatnya makan ketika kesulitan makan (baik karena sakit atau ga punya duit), atau terpaksa hutang ke sana-sini.

Memang normal, kita cenderung merasa kurang ketika membandingkan dengan orang yang lebih dari kita. Banyak informasi di grup (facebook, whatsapp, dll) yang jika tidak kita saring akan ‘mengganggu’ kinerja kita di tahun ini. Dari provokasi untuk demo (bagi buruh), maupun sekedar minta diperhatikan (bagi guru, dosen, dan pengajar lainnya). Terkadang kita perlu menjadi orang lain agar bisa merasakan bagaimana kesulitan mereka, tidak hanya menjadi diri kita saja dengan tuntutan-tuntutannya. Memang, ada hak-hak yang harus diperjuangkan, tetapi kondisi seperti ini ada baiknya kita sedikit “mengerem”. Bahkan sampai-sampai di grup alumni kampus besar dibahas gaji dosen swasta yang menurut mereka “miris” karena tidak sebanding dengan biaya kuliah yang rata-rata dosen lewat biaya mandiri. Dalam kondisi normal sih boleh-boleh saja, tetapi di kondisi saat ini, kampus swasta mengalami kondisi sulit, baik dalam pendanaan, infrastruktur, dan lain-lain akibat kondisi yang dipaksa online. Menghadapi tuntutan mahasiswa yang keras saja sudah sulit, apalagi jika pengajarnya pun ikut keras menuntut.

Sabar dan Tawakal

Info bahwa antivirus COVID-19 sudah tiba di tanah air cukup membantu meningkatkan asa kita dalam menghadapi musibah pandemik. Seharusnya tidak ada alasan lagi untuk memacu kinerja di tahun yang oleh orang Tionghoa dinamakan kerbau logam ini. Memang banyak problem yang harus diselesaikan, namun ada baiknya fokus ke yang urgen, penting, dan harus segera diselesaikan. Jika fokus ke problem-problem remeh, kita bakal kewalahan. Apalagi jika termasuk kategori pseudo-problem, alias bukan urusan kita, jika ikut difikirkan bisa sakit pusing dan emosi (oiya, kabarnya dua hal tersebut masuk gejala COVID-19).

Beberapa tradisi, seperti India, mengatakan beberapa tahun ke depan masuk kategori tahun Syiwa yang bercirikan penuh godaan untuk berbuat jahat. Balasan untuk kejahatan pun disebutkan berlipat-lipat dari tahun biasa. Entah tahun apapun jenisnya, ya jangan sampai berbuat jahat. Ada baiknya mengikuti nasehat Ranggawarsita untuk jangan ikutan edan. Sebenarnya logis, ucapan sederhana yang menyinggung saat ini, dalam kondisi semua orang sedang susah, rasa yang diterima oleh orang yang tersinggung terasa beberapa kali lipat lebih menyakitkan dari kondisi normal. Nah, kabar baiknya, jika kita berbuat kebaikan walau sedikit, bagi orang yang menerima sangat terasa dampaknya. Terkadang hal-hal sederhana, seperti menjawab pertanyaan dari siswa lewat WA atau email, terasa sangat berarti bagi mereka yang kebingungan dibanding dalam kondisi normal. Terkadang ada pula komplain pedas oleh mahasiswa, BAHKAN DENGAN TULISAN HURUF BESAR SEMUA SEPERTI INI, sikapi saja dengan sabar, dan minta maaf saja jika ada salah, selesai sudah. Terkadang jika saya bayangkan di posisi mereka, di kondisi online seperti ini memang ilmu yang diberikan kurang optimal, khususnya materi-materi praktik.

Mungkin itu saja pandangan pribadi saya, mungkin pembaca ada lainnya. Dua hal yang dibahas di atas, Sabar dan Syukur, merupakan dua hal yang menurut Imam Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumiddin” seperti dua sisi mata uang. Sekian, semoga bisa menjadi inspirasi.