Klasifikasi, Pengklusteran dan Optimasi

Bahasa merupakan pelajaran pertama tiap manusia. Untuk mempelajari komputasi pun pertama-tama membutuhkan bahasa. Sebagai contoh adalah judul di atas yang terdiri dari tiga kata: klasifikasi (classification), pengklusteran (clustering) dan optimasi (optimization). Postingan ringan ini membahas secara gampang tiga kata di atas.

Klasifikasi

Sesuai dengan arti katanya, klasifikasi berarti memilah obyek tertentu ke dalam kelas-kelas yang sesuai. Komponen utama dari klasifikasi adalah classifier yang artinya pengklasifikasi. Jika tertarik dengan bidang ini maka akan bermain pada bagian pengklasifikasi ini. Jika menggunakan jaringan syaraf tiruan (JST) maka akan meramu bobot, bias, dan layer pada JST agar mampu mengklasifikasi suatu obyek. Jika menggunakan Support Vector Machine (SVM) meramu persamaan pemisah antara dua kelas atau banyak kelas (multi-class).
Sepertinya tidak ada masalah untuk konsep ini. Masalah muncul ketika ada konsep baru, misalnya pengklusteran.

Pengklusteran

Manusia itu makin belajar makin bertambah merasa bodoh, karena makin banyak pertanyaan yang muncul. Ketika klasifikasi tidak ada masalah dalam memahami maksudnya, munculnya konsep pengklusteran membuat pertanyaan baru di kepala, apa itu? Paling gampang memahami arti dari kluster, yaitu satu kelompok dalam area tertutup, zona, atau istilah lain yang menggambarkan kelompok yang biasanya memiliki kesamaan. Pengklusteran berarti mengelompokan beberapa obyek berdasarkan kesamaannya. Jadi harus ada obyeknya dulu, karena kalau tidak ada apa yang mau dikelompokan?

Lalu bedanya dengan klasifikasi? Penjelasan gampangnya adalah klasifikasi memisahkan berdasarkan kelas-kelas yang sudah didefinisikan dengan jelas sementara pengklusteran kelompok yang akan dipisahkan tidak didefinisikan lebih dahulu. Bisa juga dengan melatih berdasarkan data yang sudah ada kelasnya (target/label nya). Misal untuk kasus penjurusan, kita bisa saja mengklasifikasikan siswa masuk IPA jika nilai IPA nya lebih baik dari IPS dan sebaliknya untuk jurusan IPS. Sementara pengklusteran kita biarkan sistem memisahkan sekelompok siswa menjadi dua kelompok yaitu kelompok IPA dan IPS. Masalah muncul ketika mengklasifikasikan berdasarkan nilai IPA dan IPS-nya, jika guru IPAnya “Killer” sementara yg guru IPS “baik hati”, maka dengan classifier itu tidak akan ada yang masuk jurusan IPA. Sementara pengklusteran akan memisahkan siswa-siswa itu menjadi dua kelompok. Bisa saja yang nilai IPA nya misalnya 6 masuk ke kelas IPA karena nilai 6 itu udah top di sekolah itu.

Optimasi

Nah, apalagi ini? Kembali lagi sesuai dengan arti katanya optimasi berarti mencari nilai optimal. Optimal tentu saja tidak harus maksimal/minimal, apalagi ketika faktor-faktor yang ingin dicari nilai optimalnya banyak, atau dikenal dengan istilah multiobjective. Apakah bisa untuk klasifikasi? Ya paling hanya mengklasifikasikan optimal dan tidak optimal saja. Biasanya optimasi digunakan untuk mengoptimalkan classifier dalam mengklasifikasi, misal untuk JST adalah komposisi neuron, layer, dan paramter-parameter lainnya. Atau gampangnya, kalau klasifikasi mengklasifikasikan siswa-siswi ganteng dan cantik, optimasi mencari yang ter-ganteng dan ter-cantik. Sederhana bukan? Ternyata tidak juga. Banyak orang baik di negara kita, tetapi mencari beberapa yang terbaik saja ternyata malah “hang” sistemnya.

Linearitas vs Multi/Inter-disiplin Ilmu

Ketika mengajukan beasiswa S3 ke kopertis IV, bagian staf penerimaan beasiswa langsung menanyakan ijasah S2, jika tidak serumpun maka tidak akan diproses pengajuannya. Kebetulan waktu itu sama-sama ilmu komputer (computer science), jadi lolos. Namun ketika pelaksanaan kuliah, ternyata konsep kampus-kampus saat ini (biasanya luar negeri) kebanyakan multidisiplin/interdisiplin ilmu. Maksudnya adalah suatu riset yang melibatkan beberapa cabang ilmu yang berbeda. Misalnya ilmu komputer, penginderaan jarak jauh (PJJ) dan sistem informasi geografis (SIG) dan ilmu lingkungan untuk optimisasi penggunaan lahan suatu wilayah.

Beberapa pemerhati masalah pendidikan tidak setuju dengan konsep kaku linearitas karena fenomena disrupsi yang terjadi saat ini. Suatu institusi yang tidak menggabungkan berbagai bidang ilmu dalam inovasinya akan hancur dan dikalahkan oleh institusi yang melibatkan bermacam cabang ilmu. Silahkan dapatkan informasinya dari link ini. Oiya, sepertinya buku itu memiliki hak cipta (bukan open access). Tetapi untuk baca-baca sepertinya ada manfaatnya.

Transdisiplin Ilmu

Ternyata ada konsep lain yaitu transdisiplin yang melibatkan bukan hanya berbagai macam bidang ilmu tetapi melibatkan praktisi-praktisi yang berkontribusi terhadap penerapan suatu inovasi. Ada aspek kewirausahaan dalam penelitian yang bertipe trandisiplin ilmu. Dalam referensi pada link tersebut disebutkan bahwa terciptanya facebook, instagram, dan aplikasi-aplikasi startup lainnya melibatkan trandisiplin ilmu, misalnya bukan hanya IT tetapi juga aspek psikologi. Pencetus facebook sendiri dulunya mengambil S1 bidang psikologi.

Nasib Monodisiplin Ilmu

Tentu saja monodisiplin masih dibutuhkan untuk tetap memperkuat dasar keilmuannya. Jujur saja untuk S3 yang monodisiplin sangat sulit mengingat metode-metode saat ini yang sudah “established”. Hanya tambahan-tambahan kecil dalam bentuk parameter-parameter atau penggabungan-penggabungan yang mungkin ditemukan dalam suatu penelitian. Tentu saja untuk jenjang S1 dan S2 sepertinya masih diperlukan.

Ketika saya mengikuti seminar tentang standar kompetensi, waktu itu geomatika, saya sempat bertanya kepada pengelola sertifikasi tersebut yang mengharuskan sertifikat untuk yang mengambil sertifikat geomatika harus jurusan S2 dan S3 yang sama (PJJ dan SIG) untuk level Madya ke atas. Saya mengatakan bahwa rekan-rekan kuliah S3 saya yang bukan PJJ dan SIG banyak yang penelitiannya tentang geomatika dan mereka sangat mahir melakukan manipulasi-manipulasi dasar dan lanjut bidang PJJ dan SIG. Misalnya bidang Agriculture, Water Management, dan IT yang ber-interdisiplin dengan PJJ dan SIG. Pengelola sertifikasi itu menerima masukan dan akan mengkaji lagi syarat harus mengambil kuliah jurusan tersebut untuk sertifikasi keahlian geomatika. Terus terang sangat jarang mahasiswa SIG sendiri yang murni meneliti tentang SIG (proyeksi, web-gis, satellite, dll) tanpa adanya interaksi jurusan lain.

Referensi:

Update: 7 Jan 2018

Ternyata sejak 2014 Dikti sudah menganut konsep linearitas yang interdisiplin, yaitu mengajar di kampus yg sebidang ilmunya, tidak harus si pengajar s1 linear dengan S2 atau S3:

Tip n Trik Publikasi Jurnal

Tip n Trik bisa berarti taktik dan strategi. Mirip dengan permainan catur. Jika strategi adalah rencana garis besar, taktik adalah rencana yang detil. Biasanya strategi dijalankan ketika lawan yang sedang “jalan”, sementara taktik ketika kita yang sedang “jalan” dan harus melangkah. Di saat liburan ini dapat diibaratkan kita tidak dipaksa melangkah, jadi sebaiknya berfikir strategi. Ketika piknik, jalan-jalan, tidak ada salahnya membiarkan fikiran bebas mengatur strategi. Begitu juga tugas-tugas penelitian dan publikasinya, baik yang didanai (hibah) maupun yang mandiri.

Strategi

Terkadang strategi yang tepat hasilnya optimal. Pemilihan jurnal tujuan, penggunaan alat-alat bantu penulisan artikel (mendeley, grammarly, google, dan lain-lain). Tidak jarang tulisan yang baik tidak lulus tetapi tulisan yang biasa-biasa saja diterima (accepted) karena memilih jurnal sasaran yang tepat. Tulisan mungkin sudah berbobot, tetapi jurnal sasaran permintaannya lebih berbobot lagi, alhasil tidak/belum diterima. Mengevaluasi bobot tulisan terkadang penting juga, dan di sini pengalaman dalam publikasi menentukan kemampuan tersebut.

Taktik

Taktik di sini berupa langkah-langkah detil, prosedural dan biasanya linear. Pemahaman terhadap proses publikasi (submit, editorial, review process, dan decision) sangat perlu. Terutama proses berapa lama antara submit dengan publish karena ada jurnal yang sampai 2 tahun (bahkan ada yang 9 tahun) proses hingga publish. Di sini letak proses pembuatan manuskrip artikel yang akan dikirim. Ada baiknya artikel ditulis bersamaan dengan proses penelitian, jangan ditunda sampai penelitian selesai.

Research Camp

Terkadang ikut grup Whatsapp bermanfaat juga. Banyak ilmu yang dishare di sana, walaupun terkadang ada juga hal-hal yang tidak penting, bahkan cenderung memprovokasi tema-tema tertentu yang berkaitan dengan politik. Tetapi asal kita ambil yang baiknya saja, sepertinya tidak masalah dan bermanfaat. Salah satunya adalah research camp tentang publikasi ilmiah. Berikut ini adalah tip n trik yang dishare. Sayang tidak ada nama pembuatnya, semoga yang bersangkutan mendapat pahala karena pengalaman yang diberikan lewat slide ini:

Khusus mengenai SCIHUB, yang menyediakan jurnal-jurnal gratis, sepertinya agak ilegal. Banyak cara lain, yaitu dengan meminta share dengan pengarang aslinya lewat “researchgate”, atau memesan ke teman yang studi lanjut, yang biasanya kampusnya berlangganan. Sekian semoga berfaedah.

Tak Ada Lagi Ilmuwan “Superman”

Ketika kecil dulu saya sering membaca buku biografi ilmuwan-ilmuwan ternama seperti Isaac Newton, Einstein, dan kawan-kawan. Temuannya sangat fenomenal karena menginspirasi temuan-temuan lainnya. Dilanjutkan era Lutfi Zadeh dengan fuzzy-nya, atau Barners Lee dengan temuan teknologi untuk website, dan lain-lain. Di negara kita ada Prof. habibie, mantan menristek dan juga presiden ketiga kita. Setelah era Habibie, sepertinya negara kita rindu dengan sosok seperti dia ditandai beberapa informasi hoax tentang ilmuwan fenomenal yang sangat direspon baik oleh rakyat, walau akhirnya kecewa.

Superman – Superman Kecil

Untuk menghasilkan temuan-temuan baru saat ini sudah sangat sulit karena ilmu yang sudah “established”. Hanya beberapa parameter-parameter kecil suatu metode tertentu (dalam fuzzy, algoritma genetika, PSO, dan lainnya) dan terkadang untuk kebutuhan khusus tertentu. Dosen saya pun pernah mengatakan bahwa dulu, suatu disertasi seorang mahasiswa doktoral menciptakan satu jenis bahasa pemrograman, berbeda dengan saat ini yang baginya “biasa-biasa saja”.

Saat ini era interdisiplin dimana satu bidang ilmu bertemu dengan bidang lainnya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Tidak perlu ilmuwan-ilmuwan seperti penemu-penemu hebat seperti zaman dulu melainkan cukup pakar dengan keahlian khusus yang sanggup bekerja sama secara tim dengan pakar lainnya. Dengan demikian “superman-superman” kecil dibutuhkan, bukan hanya seorang “superman” yang super segalanya (walaupun patut disyukuri jika memang ada).

Aplikasi-aplikasi sederhana seperti Youtube, facebook, google dan aplikasi bisnis online lainnya, serta alat-alat komunikasi yang banyak beredar yang membantu kehidupan orang banyak, adalah hasil karya superman-superman kecil itu yang bekerja sama dalam satu timnya Zukenberg, Steve Job, Bill Gates, dan di Indonesia misalnya anak-anak muda seperti Nadiem Makarim dan lainnya.

Sharing

Saat ini adalah era-nya sharing, misalnya penggunaan kendaraan pribadi yang “nganggur” sebagai alat transportasi publik (gojek, grab, uber, dan lain-lain), rumah pribadi menjadi hotel (AirBnB), dan lein-lain. Suatu saat dalam dunia pendidikan dan penelitian pun demikian. Publikasi ilmiah, misalnya, merupakan salah satu sharing ilmu pengetahuan yang efektif. Selain itu aktivitas bersama oleh beberapa peneliti otomatis sudah menciptakan iklim berbagi. Pertemuan ilmiah merupakan ajang pertemuan para peneliti dalam mendiskusikan beberapa masalah yang diangkat. Syukurlah, aturan Ristek-Dikti yang menyamakan bobot penilaian seminar internasional dengan jurnal internasional, asalkan terindeks di pengindeks ternama (Scopus dan ISI Thomson).

Vitamin itu Bernama Hibah Penelitian

Industri dan bisnis membutuhkan peneliti-peneliti untuk meningkatkan profit mereka. Banyak permasalahan muncul dalam kolaborasi antara peneliti dengan industri/bisnis. Buku yang berjudul “university.inc” mengkritik kebijakan tertutup yang tidak mempublikasikan peneliti-peneliti yang berkolaborasi dengan dunia industri, terutama yang berkaitan dengan kemaslahatan bersama (pengobatan, kesehatan, dan sejenisnya). Walaupun dari sisi finansial si peneliti cukup untuk memperbaiki taraf hidupnya.

Untungnya Ristek-Dikti masih memberikan suntikan dana untuk hibah penelitian, dengan salah satu luaran (hasil) wajib adalah publikasi ilmiah (nasional terakreditasi atau internasional). Pemerintah pun bisa memilih dari sekian banyak proposal yang diajukan yang sekiranya bermanfaat untuk rakyat banyak, walaupun dalam prakteknya perlu dilakukan evaluasi terkait aturan yang memberatkan peneliti. Sebagai contoh, komputer yang kita gunakan saat ini menggunakan turing machine hasil riset yang didanai pemerintah Inggris untuk menghadapi kode-kode rahasia Jerman, yang hampir saja tidak jadi ketika dana yang dikeluarkan tak kunjung memberikan hasil. Setelah mengucurkan dana lagi akhirnya proyek itu berhasil dan sandi-sandi rahasia Jerman berhasil di-decode yang mengakhiri perang dunia kedua. Memang masalah pendanaan dalam suatu riset sangat sulit diprediksi besarnya, terkadang kurang terkadang lebih. Demikian kurang lebihnya postingan singkat ini. Yuk, jadi “superman” kecil.

Beda Generasi Beda Zaman

Beberapa waktu yang lalu sempat membaca pesan berantai mengenai bagaimana membentuk mental anak yang “kuat”. Salah satunya adalah dengan tidak memanjakannya dan tidak menggunakan prinsip “karena saya dulu menderita, anak saya kasihan kalau menderita”. Sepertinya masuk akal, karena anak dilatih untuk bertarung dengan kehidupan dan tidak menjadi anak yang manja. Masalahnya, apakah dengan mengkondisikan si anak dengan kondisi “penderitaan” kita yang dulu bisa membuat anak kuat, tabah dan tegar?

Generasi Millennial

Untuk menjawab masalah di atas, mungkin tugasnya orang psikologi meneliti masalah itu. Yang kita tahu, tiap generasi memiliki karakternya sendiri. Generasi saat ini dikenal dengan generasi millennial atau kadang dikenal dengan generasi Y. Generasi ini sejak kanak-kanak dan remaja sudah mengenal dunia online/maya yang bercirikan akses yang cepat dalam informasi.

Apakah perlu anak merasakan menderita? Untuk menjawabnya pertama-tama harus disadari bahwa negara kita tertinggal, bahkan jauh tertinggal dengan negara lain. Jika mereka berjalan, untuk mengejar ketertinggalan kita harus berlari. Silahkan mengajari anak menderita, tetapi menderita ketika berlari. Bukannya tidak memberikan sepatu karena bapak dulu sekolah tidak pakai sepatu, misalnya. Prof. Rhenald Kasali, terhadap mahasiswanya bahkan mewajibkan mengunjungi negara lain, sehingga anak2 terbiasa mengurus ini itu sendiri, seperti passport, mencari tempat tinggal di luar dan lain-lain, sehingga kesulitan yang dihadapi adalah kesulitan “berlari” bukan kesulitan jaman primitif (berenang, panjat tebing, dll ketika sekolah).

Kita sepakat, mereka lah yang menghadapi masa depan. Orang tua punya pengalaman/data masa yang lalu, tetapi ketika merencanakan masa depan yang saat ini tidak pasti, tidak bisa menggunakan data yang usang. Kemampuan memprediksi kebutuhan masa depan sangat mutlak. Sebenarnya anak-anak saat ini gerakannya lincah dan cepat, terutama akses terhadap informasi, yang merupakan salah satu aspek penting dalam learning.

Memberi Peran ke Generasi Muda

Efek krisis moneter 1998 ternyata berdampak terhadap kesenjangan antara yang tua dan yang muda. Putusnya kesempatan kerja dari tahun 1998 hingga 2006 (info dari buku “disruption”) mengakibatkan antara top manager dengan manajer tengah bisa 10 atau bahkan 20 tahun usianya. Jika tidak segera diantisipasi regenerasinya bisa berbahaya. Generasi muda yang butuh pengalaman segera dalam menghadapi masa depan bisa tersumbat oleh generasi tua yang mengandalkan pengalaman masa lalu, cenderung sebagai “incumbent”, nyaman di kondisi saat ini. Terkejut saya membaca berita di link ini dimana seorang anak India yang masih sekolah, berusia 18 tahun, dipercaya merancang satelit yang diluncurkan NASA.

Di Indonesia sepertinya masalah ini sangat pelik. Kampus negeri yang cenderung menerima dosen dari alumninya, merupakan ciri-ciri nasionalisme sempit. Ditambah lagi karakter paternalistic, dimana junior terpaksa nurut senior masih sering terjadi. Padahal di luar negeri, misalnya Thailand dan Malaysia, banyak sekali mengambil dosen-dosen dari luar negeri yang bisa diambil ilmu dan pengalamannya. Beda dengan tugas belajar ke luar negeri yang hanya beberapa tahun, mengambil dosen luar bekerja di dalam negeri lebih besar dampaknya karena bisa melihat kesehariannya, terutama dalam transfer skill dan pengalaman.

Interdisiplin Ilmu

Saat ini antar ilmu saling terkait dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Jujur saja anak-anak saat ini lebih cerdik dalam melakukan proses interdisiplin. Mereka lebih pandai berhitung ketika main game dibanding dikhususkan hanya berhitung dalam suatu pelajaran. Terkadang mereka semangat ketika mempelajari sesuatu yang dibutuhkannya. Beberapa pemerhati pendidikan memperhatikan fenomena ini. Mungkin suatu saat pendidikan seperti berobat, ketika meracik obat diperlukan bahan-bahan tertentu yang dibutuhkan si pasien, bukan mengikuti aturan tertentu, yang dalam kasus pendidikan kurikulum pemerintah yang terkadang lambat berubah dalam mengantisipasi kebutuhan rakyat. Mungkin video ini bisa disimak, semoga bermanfaat.

Pemrosesan Citra Digital – Kabar baik dan buruknya untuk orang IT

Ketika semester dua kuliah, saya melihat daftar mata kuliah yang ditawarkan. Selain materi wajib untuk jurusan ilmu komputer dan sistem informasi, ditawarkan pula materi pilihan. Belum selesai terkejut karena Artificial Intelligent (AI) and Neuro-Fuzzy yang diampu oleh jurusan Mekatronika, ternyata Digital Image Processing (DIP) diampu oleh jurusan Remote Sensing & Geographic Information System (RS-GIS).

Sebagai orang IT (walau dulunya bukan), tentu sedikit tersinggung, mengapa bukan jurusan informatika yang mengajarkannya. Kebetulan riset saya mengenai data spasial, jadi agak berbenturan dengan beberapa mata kuliah mereka, salah satunya subyek DIP. Ternyata memang mereka yang serius meneliti masalah itu.

Kabar Buruk

Sebenarnya bukan kabar buruk, tetapi sedikit kejenuhan. Di awal-awal memang orang informatika yang tekun meneliti DIP, dari suatu citra bisa diolah sesuai kebutuhan: pencocokan dan identifikasi pola, klasifikasi pola, penentuan kematangan buah, dan terapan-terapan lainnya. Namun ada batas berkaitan dengan sensor yang digunakan, yang kebanyakan dengan frekuensi nyata. Untuk meneruskan riset agar diperoleh akurasi yang lebih baik diperlukan ilmu-ilmu lainnya, salah satunya adalah sensor. Sensor di sini dikembangkan oleh peneliti masalah satelit, misalnya Landsat yang telah menggunakan lebih dari 7 band ketika pemotretan muka bumi.

Sepertinya orang IT membutuhkan alat-alat yang dibuat oleh telkom dan RS-GIS. Rekan saya yang riset di bidang RS sempat membeli kamera yang mampu memotret beberapa band untuk mendeteksi suatu wilayah. Biasanya yang dibutuhkan adalah infra-red, agar mampu mendeteksi tanaman tertentu yang memang chlorophyl menyerap warna merah (sehingga tanaman tampak berwarna hijau). Rekan saya dikampus yang mendeteksi kematangan buah memiliki problem akurasi, walaupun model jaringan syaraf tiruannya (JST) diutak-atik berkali-kali. Tentu saja foto yang diambil dengan kamera biasa kurang mampu membedakan sinyal pantulan dari selisih warna tertentu, belum masalah pencahayaan. Harga kamera untuk infra-red cukup mahal, rekan saya dapat murah karena beli online di pasar gelap. Bahaya juga sih, terutama yg frekuensi tertentu yang bisa menembus pakaian orang .. waw.

Kabar Baik

Seperti biasa, orang IT datang ketika dibutuhkan. Sifatnya yang seperti “server” alias “melayani” merupakan ciri khas. Kita tunggu saja telkom dan RSGIS menemukan piranti-pirantinya, toh beberapa komputasi membutuhkan orang-orang ilmu komputer. Bahkan, GIS pun saat ini sudah membutuhkan “interdisiplin” ketika riset, dan jurnal internasional cenderung menolak riset-riset yang kata orang jawa “ngono-ngono thok”, alias tidak ada kebaruan.

Bahkan permintaan terhadap riset computer vision cukup besar, apalagi entertainment yang banyak diminati (3D). Bukan hanya deteksi warna, dan pola, dituntut pula karakteristik dinamis suatu citra (gerakan) yang realtime. Software yang diprogram pada drone mampu mendeteksi object. Bahkan ke depan, virtual reality, terutama yang mendeteksi gerakan mata sangat diperlukan agar sistem tampak lebih real. Tentu saja riset AI jangan sampai ke hal-hal yang berbahaya seperti video ini:

Kian Maraknya Publikasi Ilmiah

Gembira juga baca grup WA kampus yang bersi kegiatan rekan-rekan yang presentasi paper di seminar internasional. Syukurlah minat untuk publikasi sudah kian tinggi. Rekan-rekan lainnya yang agak “nyantai” sepertinya terprovokasi.

Publikasi Adalah Buah

Buah di sini adalah sesuatu yang dihasilkan. Kalau dalam istilah DIKTI, disebut “luaran”. Entah dari mana asalnya, sampai keluar-keluar begitu. Ibarat sesuatu yang dihasilkan tentu saja perlu proses dan bahan baku untuk menghasilkan buah tersebut. Bahan bakunya tidak lain dan tidak bukan adalah RISET. Makanya dua departement, yaitu kementerian riset dan teknologi dan dirjen pendidikan tinggi, digabung menjadi satu, yaitu kementerian riset, teknologi, dan pendidikan tinggi (Kemenristek-Dikti). Menurut saya cukup tepat.

Untuk menghasilkan buah berupa publikasi tentu saja perlu riset karena tulisan ilmiah bukanlah mengarang bebas seperti menulis novel atau buku harian atau update status (yang bukan share). Makin bagus riset seharusnya makin bagus publikasi yang dihasilkan, asalkan ditulis dengan baik dan pesan dari hasil penelitian tersampaikan dengan jelas. Jadi jangan gede kemauan tapi ga ada tenaga, alias jika ingin ikut seminar atau publikasi ke jurnal, ya mau tidak mau harus perbanyak risetnya. Jangan sampai terjadi “self plagiarism” akibat minim riset dan banyak mempublikasikan tulisan hasil riset yang sama di berbagai tempat.

Bukan Hanya Publish tetapi juga Disitasi

Saat ini kita memang sedang mengejar ketertinggalan jumlah publikasi dengan negara tetangga ASEAN kita (Malaysia, Singapura, dan Thailand). Tetapi jangan lupa, esensi publikasi adalah banyaknya yang membaca karya kita, ditunjukan dalam jumlah sitasinya. Jangan sampai yang membaca tuisan kita hanya, reviewer, editor dan kita sendiri. Gampang saja, jika ingin banyak disitasi, publikasikan ke jurnal yang berimpak faktor tinggi. Tentu saja sulit bagi pemula, tetapi ada baiknya mencoba. Minimal dengan impak faktor di sekitar satu.

Bagi pemula seperti saya, tentu saja fokus ke publikasi terlebih dahulu. Jangan lupa pantau situs PAK Ristek-Dikti untuk mengetahui jurnal-jurnal dan seminar-seminar terlarang. Sepertinya DIKTI kian ketat dan standarnya makin tinggi. Selain publikasi, jangan lupa plagiarisme harus dicek juga. Terkadang kita tidak sengaja melakukan plagiasi terhadap tulisan orang. Lihat post terdahulu tentang tools untuk pengecekan plagirarisme (gratis maupun berbayar).

Didanai atau Tidak, Riset Jalan Terus

Riset kadang butuh dana yang tidak bisa diprediksi. Terkadang kurang terkadang juga lebih, maklum beda dengan proyek, misalnya bikin jembatan, buat software, dan lain-lain. Terkadang ribet juga kalau diminta laporan keuangan. Bayangkan Einstein yang menemukan rumus E=m.c^2 dan diminta struk dana hibah. Paling isi laporan keuangannya buat beli pulpen, kertas, sama obat encok, hehe.

Saat ini persyaratan riset dinaikan dan tidak ada harapan bagi para dosen kecuali yang sudah doktor atau lektor kepala. Yang bisa hanya hibah-hibah pengabdian dan penelitian dosen pemula (untuk dosen muda atau dosen tua yang jadi muda lagi). Sekian, semoga menginspirasi.

Hati-hati dengan Hati – Yang tak Berlogika

Kita mengenal logika yang berisi postulat-postulat tentang penarikan kesimpulan, seperti jika x maka y, dan sejenisnya. Bagaimana dengan hati manusia? Apakah ada logikanya, seperti kecintaan seseorang terhadap orang lain, atau sebaliknya kebencian? Mungkin cerita di bawah ini bisa menginspirasi.

Luka Hati yang Sulit Terobati

Di sini ceritanya dalam dunia akademis, cerita dari teman sekelas saya di information management. Seorang profesor yang terkenal ramah dan baik terhadap para mahasiswanya bercerita bahwa dia dulu tidak seperti yang tampak seperti saat ini. Sebagai seorang “super cerdas” banyak makan korban, baik dalam nilai maupun sidang skripsi. Suatu ketika dia menyidang seorang mahasiswi. Logikanya yang canggih membuat si mahasiswi mati kutu, namun ada satu statemen-nya yang “mengena” ke diri mahasiswi tersebut. Sidang berjalan lancar dan si mahasiswi dinyatakan lulus.

Beberapa waktu kemudian ada kabar bahwa si mahasiswi tersebut tidak mendaftar wisuda. Dan lebih mengejutkannya lagi, ijazah tidak diambilnya. Berita tersebut sampai ke profesor itu, dan meminta pihak kampus menyerahkan langsung ijazah. Namun, bahkan si profesornya sendiri yang memberikan, si mahasiswi tersebut tidak mau menerimanya. Aneh bukan? Di satu sisi banyak yang “beli ijazah” tapi di sini ketika hati yang terluka, tidak ada harganya sama sekali suatu ijazah sarjana. Sejak saat itu dia tidak akan lagi melukai hati mahasiswanya.

Yang Sulit Dimengerti

Saya menerima warisan buku “gratis” dari senior yang menghilang dari kampus. Buku yang sangat bermanfaat tentang sistem informasi geografis yang membantu saya menyelesaikan naskah disertasi. Kabarnya pihak kampus tidak bisa menghubungi lagi karena memang mahasiswi, yang lagi-lagi wanita itu tidak ingin lanjut. Padahal tinggal sedikit lagi menyelesaikan tesis yang sudah dibantu oleh pembimbingnya, cerita dari teman dekatnya, dan segera memperoleh master (M.Sc). Namun logika tidak sanggup menjawabnya.

Yang lebih mengejutkan adalah kabar meninggalnya senior saya, seorang mahasiswi doktoral, yang tinggal sedikit lagi menyelesaikan kuliahnya karena tugas terberatnya, publikasi di jurnal internasional, sudah selesai. Waktu berganti, bahkan saya sendiri yang sudah 4.5 tahun tidak mengenal langsung wajahnya karena dia tidak ada kabar semenjak saya datang. Biasanya, jika syarat publikasi terpenuhi, disertasi dapat diselesaikan paling lama setahun, atau bahkan ada yang sudah disertasinya dan tinggal nunggu publikasi. Rekan-rekan saya tidak ada yang sanggup memahaminya, yang melepas begitu saja gelar doktoral (Ph.D) bahkan hingga akhir hidupnya. Saya dan mungkin pembaca pernah ada luka di hati ketika kuliah/belajar, misalnya ketika sidang master dulu saya sempat “terluka” dengan kata-kata hinaan dosen penguji, yang padahal tadinya tokoh panutan saya.

Ada beberapa kejadian baru-baru ini yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang tokoh, terutama terhadap seorang wanita. Memang saat ini tidak ada lagi masalah gender yang berarti, tapi tetap saja seorang wanita memiliki hati yang berbeda, yang sebaiknya tidak sampai terluka, apalagi hinaan yang mengarah ke fisik dan kecantikannya, seperti kata-kata pesek, jelek, dan sejenisnya.

Problematika Keabsahan Jurnal Internasional

Baik di WA maupun Facebook, belakangan beredar berita berantai mengenai di-blacklist-nya jurnal Inderscience oleh tim Penilaian Angka Kredit (PAK) dosen (lihat link berikut) yang diupload tanggal 23 November 2017. Kehebohan ditambah dengan waktunya yang bertepatan batas akhir penilaian kinerja lektor kepala dan profesor, yaitu tanggal 27 November tahun ini (2017). Jika sampai tanggal tersebut belum sampai ke tim PAK, tunjangan terancam tidak tersalurkan (lihat info dari kopertis 8 berikut ini). Trus bagaimana, waktu 4 hari tersisa? Jangan khawatir, berdasarkan surat edaran di bawah ini, untuk saat ini tidak ada hubungannya dengan tunjangan dulu, hanya pemetaan saja (paragraph pertama). Syukurlah, tidak seperti bos saya waktu kerja jadi IT suatu bank, kalau ada divisi lain yang ingin minta keringanan dan hal yang aneh-aneh, jawab saja “Itu urusan loe sama keluarga loe “, hehe.

Beberapa aktivis pemerhati riset, mulai mempertanyakan dasar-dasar opini tim PAK dalam melarang dan tidak mengakui suatu jurnal internasional, seperti link facebook Dr. Sunu ini. Ada yang mempermasalahkan ada yang biasa-biasa saja. Hal ini karena ada beberapa motif orang mempublikasikan karya ilmiahnya dalam suatu jurnal.

Ingin Berbagi Ilmu

Ketika mempublikasikan suatu temuan, peneliti pasti sadar bahwa ilmunya dapat dipergunakan oleh siapapun. Salah satu etika yang wajib adalah ketika mensitasi harus menyebutkan sumber referensinya. Biasanya penulis yang ingin berbagi ilmu tulisannya banyak disitasi oleh peneliti lain. Temuannya dijadikan rujukan peneliti-peneliti lainnya. Hal inilah yang menyebabkan ilmu terus berkembang. Bayangkan jika tiap peneliti merahasiakan temuannya, maka ilmu akan sulit berkembang. Tentu saja, terindeks di pengindeks internasional menjadi syarat wajib jika tulisannya ingin dibaca dan disitasi oleh sebanyak mungkin peneliti lain di dunia. Istilah “not only published, but also get cited” menjadi moto dari peneliti yang bermotif ingin membagikan ilmu ke seluruh dunia. Entah itu diakui PAK Dikti atau tidak, tidak masalah.

Untuk Kenaikan Pangkat

Motif ini paling banyak dijumpai di tanah air. Percuma mempublikasikan tulisan dan disitasi oleh banyak orang tetapi tidak diakui oleh tim PAK dosen Dikti, atau diakui tetapi bobotnya kecil. Untuk itu perlu memantau terus jurnal-jurnal atau seminar internasional yang diakui Dikti di situs resminya. Tidak ada masalah sih dengan motif ini, tapi sebaiknya tidak 100% hanya fokus ke tujuan kenaikan pangkat.

Untuk Luaran Penelitian

Beberapa hibah penelitian mengharuskan publikasi di jurnal internasional, atau setidaknya seminar internasional. Karena waktu yang mepet, biasanya peneliti memilih jurnal internasional yang secepat mungkin proses publikasinya. Atau dengan international conference yang memang waktunya sudah fixed. Tetapi tidak ada salahnya dosen yang memperoleh hibah, untuk memenuhi luaran memperhatikan juga jurnal-jurnal yang diakui tim PAK Dikti.

Untuk Lulus Studi Doktoral

Beberapa kampus mengharuskan mahasiswa doktoralnya untuk mempublikasikan tulisan di jurnal internasional yang diakui oleh kampus tersebut. Tiap kampus berbeda-beda dalam menentukan jurnal mana yang diakui atau tidak (dilarang). Tentu saja mahasiswa yang seorang Dosen tugas belajar, tetap memperhatikan jurnal targetnya diakui atau tidak di PAK Dikti. Mungkin langkah-langkah yang diambil kampus dalam menentukan jurnal yang diperbolehkan maupun yang dilarang bisa ditiru, yakni:

  • Kampus menerbitkan daftar jurnal-jurnal yang dilarang (discourage) untuk syarat publikasi selama periode tertentu misalnya dua atau tiga tahun.
  • Jika jurnal yang jadi target publikasi tidak ada dalam list, tersedia FORM untuk dirapatkan di level senat akademik yang berisi profesor-profesor pilihan (sebulan sekali). Jika disetujui, barulah si mahasiswa boleh mengirimkan berkas ke jurnal tersebut.

Mungkin teknik tersebut dapat diadopsi oleh tim PAK Dikti. Bisa saja assessment sendiri, tapi sebaiknya dilakukan tapi tiap periode tertentu dengan mengeluarkan daftar blacklist yang harus dipatuhi oleh dosen-dosen yang ingin mempublikasikan penelitiannya. Jika ada dosen yang ingin mempublikasi ke jurnal yang tidak ada di daftar, bisa minta dicek bagian PAK boleh atau tidak dengan borang tertentu yang resmi. Jadi ketika tulisan dosen tersebut diterima dan dipublikasi, sudah memiliki kekuatan hukum bahwa tulisannya diakui tim PAK Dikti. Jadi, tidak hanya dengan melihat jurnal apa yang dipublikasikan oleh seorang dosen ketika proses kenaikan pangkat dan setelah dicek baru ditentukan jurnalnya diterima atau tidak (ibarat masuk ke meja hakim dan harus menunggu keputusan). Hmm .. sekian, semoga bisa jadi inspirasi.

Update: 27 November 2017

Di grup WA kian ramai saja. Beberapa pemerhati dan pengelola jurnal ikut nimbrung dan memberi saran, seperti tulisan dari Dr. Tole ini:

Update: 28 November 2017

Tim PAK mulai merespon dengan menjawab di situs resminya (lihat link berikut). Cara mendeteksi dengan melihat proses dari submit hingga accepted dan published, terutama korespondensi dengan reviewer sepertinya cukup baik. Semoga pihak yg berkepentingan dengan kasus ini membaca info tersebut, terutama di bagian ini:

“mengirimkan bukti termasuk surat keberatan atas informasi tentang inderscience yang dipublish sejak tanggal 23 November 2017 yang ditujukan kepada Dirjen SDID dengan alamat email:admin.pja@ristekdikti.go.id

Diterima paling lambat hari rabu  tanggal  29 November 2017 pukul 18.00 WIB”

Mencari Inspirasi

Untuk maju terkadang dibutuhkan suatu “role model“, yaitu obyek yang akan kita tiru. Meniru itu mudah, bahkan ketika kita masih kanak-kanak, cara belajar yang cocok adalah meniru. Namun ketika kita beranjak dewasa, banyak faktor-faktor yang membuat keterampilan meniru ini hilang, atau setidaknya jarang digunakan.

Menghargai Prestasi Orang Lain

Menginjak dewasa, banyak ilmu yang diterima, tetapi banyak juga “kondisi” yang masuk ke dalam otak seorang anak. Seorang ekonom yang juga motivator, Rhenald Kasali, menganjurkan juga mencari role model untuk kemajuan kita. Tidak perlu orang-orang hebat dan orang besar, siapa pun bisa kita jadikan role model. Lihat sekeliling kita, rekan kita, atau siapapun itu, lihat apa prestasi yang diperoleh dan jadikan pelajaran. Repotnya terkadang kita bukannya mengikuti langkah-langkah mereka yang berhasil tetapi malah sibuk mengkritisi, mencari kesalahan-kesalahan, dan kejelekannya.

Kesuksesan atau keberhasilan yang terlihat, besar atau kecil, ada proses di dalamnya yang tidak tampak dari luar. Ibarat puncak gunung es yang tampak kecil di permukaan, tetapi besar di bawah. Dekati dan buat dia mau menge-share tips dan trik yang bisa kita jadikan pelajaran. Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan jika memang diawal sudah anti pati terhadapnya, gengsi karena merasa lebih senior, dan sebagainya.

fenomena-gunung-es

Siapa pun Bisa Dijadikan Inspirasi

Lupakan sejenak kejadian-kejadian di negara, terutama masalah politik praktis yang jika tidak hati-hati akan mengganggu kemajuan kita. Mungkin saja guru, teman, dan sumber-sumber lain memiliki pandangan yang berbeda dalam hal tertentu. Jangan sampai sumber-sumber itu lepas akibat ulah kita sendiri, terutama saat ini adalah lewat media sosial. Kita semua terhubung, siswa dengan dosen, staf, pemerintah dan lain-lain. Jaga terus hubungan itu.

Tiap orang itu “Custom”, tidak ada yang sama/seragam. Jadi jika kita mengkotak-kotakan mereka, yang rugi adalah kita sendiri. Logika “karena kita benci A dan orang yang suka A harus kita benci juga” harus segera dihapus. Waktu kita SMP pun diajarkan diagram Venn, dimana satu himpunan bisa saja beririsan dengan himpunan lainnya.

Banyak Bertanya

Mengapa bertanya harus banyak? Karena memang masalah kita biasanya banyak. Selain itu tidak semua bisa menjawab masalah kita. Seperti sudah dibahas sebelumnya, masalah custom. Beberapa hari yang lalu rekan mahasiswa doktoral baru bertanya masalah studinya. Saran saya adalah bertanya sebanyak-banyaknya dengan senior yang lain, karena tidak ada satu mahasiswa pun yang sama persis kasusnya. Ada yang kasus nilai yang kurang, proposal yang belum juga disetujui, jurnal yang lama tidak ada kabar, dan lain-lain. Bahkan dua orang siswa dengan dosen pembimbing yang sama pun memiliki nasib dan perlakuan yang berbeda.

Selain bertanya mencari sumber-sumber inspirasi dari internet juga bagus. Tetapi jangan hanya dari orang-orang yang “super” saja. Saya banyak membaca blog-blog dari yang memang “wah” prestasinya hingga dari mahasiswa/I alay yang sedang studi lanjut. Banyak hal-hal yang di luar fikiran kita ada di tulisannya, dan bisa bermanfaat. Di samping itu, jaman cepat sekali berubah, mungkin sumber dari orang yang “wah” cocok hanya untuk saat dia menggapainya, tetapi tidak cocok lagi dengan kondisi saat ini.

Learning by Teaching

Metode ini saat ini sedang diteliti dalam riset mengenai e-learning. Lihat potongan webinar (seminar online) tentang learning by teacing (LbT).

Memang ilmu itu beda dengan benda fisik. Jika kita mengajarkan, kita tidak kehilangan malah bertambah. Selain ilmu yang bertambah, pengalaman juga bertambah akibat seluruh fungsi otak yang ikut bekerja, kiri kanan atas bawah, limbik, dan istilah-istilah lain yang tidak saya mengerti, katanya. Sekian, semoga tulisan menjelang mudik ke tanah air bisa bermanfaat.

Seminar Wireless 5G di Kampus

Sambil mengurus berkas-berkas sebelum pulang menunggu proses external disertasi, iseng-iseng ikut seminar di jurusan ICT (telkom) jurusan sebelah. Pengisinya adalah dosen dari Jepang (Masayuki Ariyosi) tentang penerapan wireless 5G di kedokteran dan disaster management. Sering juga mendengar bahwa teknologi 4G sebentar lagi akan digantikan oleh 5G. Teknologi terbaru itu kini sedang dikembangkan, banyak masalah-masalah yang dijumpai. Tetapi untuk yang machine to machine communication sepertinya sudah established.

LCX Multi Input Multi Output

Terus terang saya mendengarkan sambil pusing memikirkan maksud dari pembicara yang kental logat Jepangnya. Tetapi lama kelamaan “ngeh” juga ketika dia membahas mengenai LCX. LCX itu adalah metode baru pengganti access point (terminal WIFI) yang memiliki kelemahan karena terdistribusi hanya dalam satu titik sementara LCX kontinyu dan panjang.

Silahkan searching LCX yang berisi kabel coaxial dengan tambahan lilitan (horizontal atau vertical) yang berfungsi sebagai antena. Jadi prinsip kerjanya adalah LCX ini seperti access point yang kontinyu sehingga pengguna yang tersebar memeliki quality of service yang seragam, berbeda dengan access point dimana pengguna yang jauh dari access point akan lambat alias “lemot”.

LCX terus berkembang dari yang tadinya tipe 2×2 berlanjut ke 4×4 MIMO dimana dua kabel LCX digabung menjadi satu. Saya juga masih berfikir apakah tidak saling mengganggu mengingat masalah yang 2×2 saja harus diatur peletakannya agar satu sama lain tidak saling mengganggu.

Riset di Wireless

Sepertinya profesor pembicara itu membutuhkan tim untuk riset dan menawarkan untuk membimbing mahasiswa di kampus saya untuk lanjut ke Jepang atau sekedar kuliah tambahan. Sepertinya banyak rekan saya di Indonesia yang spesialis dalam jaringan piconet ini. Seperti dalam supply dan demand, terkadang perlu dihubungkan antara pensuplai (supervisor) dan yang membutuhkan (mahasiswa bimbingan).

Masalah utama calon-calon mahasiswa doktoral di tanah air adalah kendala bahasa. Pemberi beasiswa dan kampus tujuan biasanya mematok skor IELTS dan TOEFL yang tinggi, sementara jika mengandalkan kampus dalam negeri tentu ada batasnya (anggaran dan kuota dosen pembimbing/supervisor). Sekian semoga bermanfaat bagi rekan yang serius di telkom.

Life-long Education

Istilah ini sering muncul dan dikontraskan dengan “long life education”. Jika “life long education” berarti belajar sepanjang hidup, “long life education” berarti hidup hanya untuk belajar. Jadi yang benar adalah belajar untuk hidup. Banyak referensi-referensi mengenai hal yang masuk dalam bidang ilmu pendidikan ini, misalnya di paper seminar ini, yang membahas seluk beluk “life long education” yang sedikit membedakan dengan “life long learning” (lihat link ini). Jika learning hanya berfokus kepada belajar, “education” lebih luas dari pada “learning”.

Empat Pilar Pendidikan

Dibahas empat pilar dalam pendidikan, antara lain: “learning to know”, “learning to do”, “learning to live together and work with others”, dan “learning to be”. Pilar itu sudah sesuai dengan urutannya, yang diutarakan pertama kali oleh Delors (1996) dan ditujukan untuk pendidikan di masa depan. Dimulai dari sekedar tahu (know), dilanjutkan dengan bisa mengerjakan (do) dan bekerja sama (live together) dan diakhiri dengan perannya di masyarakat (to be). Jika seluruh rakyat Indonesia sampai tahap “to be”, pasti sejuk dah. Jika “learning to do” tetapi tidak “live together”, biasanya bentrok dan persaingan muncul di sana-sini. Jadi ingat, baru saja sore tadi timnas U23 kita dikalahkan 2-3 oleh timnas Syria. Bayangkan, kita dikalahkan oleh negara yang porak-poranda karena perang sodara. Semoga kita tidak seperti mereka yang kurang skill dalam “live together”-nya. Kalau “learning to do” sepertinya kita sudah banyak yang “ok”, buktinya kita masih bisa bekerja dengan baik, bahkan keahlian mengelas kita mengungguli negara lain. Tetapi kalau kebanyakan baru sampai “learning to know” sepertinya hanya ramai debat saja tanpa aksi, alias wacana thok. Repotnya, apabila keempat pilar tidak ada yang jalan, maka pasti kerjaannya ribut saja di media sosial, gampang kemakan hoax dan gemar cari lawan.

Kwadran Pendidikan

Negara dengan mayoritas muslim sebaiknya mendengar hadits nabinya yang mengatakan agar belajar dimulai dari buaian (bayi) hingga liang kubur (meninggal), alias “life-long education”. Dalam kondisi seperti saat ini dimana perkembangan IPTEK sangat cepat, tidak ada cara lain untuk “sustainable”/bertahan selain belajar terus. Di Swedia, life-long education dikombinasikan dengan “life-wide learning”. Jadi kalau digambarkan, “life-long” itu berdasarkan usia, sementara “life-wide” itu dibedakan menjadi formal dan non-formal, sehingga terbentuk 4 kwadran.

Idealnya negara memfasilitasi secara merata keempat kuadran tersebut. Misalnya untuk generasi muda, selain formal (sekolah), perlu juga memperhatikan pendidikan non-formal (di masyarakat). Selain distribusi yang merata, integrasi juga harus ada. Selama ini pendidikan non formal dan formal sepertinya jalan masing-masing di beberapa negara, padahal sebaiknya antara formal dan non-formal saling terkait. Selain horizaontal (formal dan non-formal), integrasi juga vertikal (tua atau muda).

Tujuan Utama “Life-long Education”

Dari empat pilar pendidikan, “learning to be” merupakan tujuan akhir dari pendidikan. Istilah lain dari “learning to be” adalah “learning society”, yaitu rakyat yang produktif, mampu bertidak dan merespon dengan baik dalam bermasyarakat serta memiliki kesadaran dalam bertindak. Aspek spiritual tidak boleh dilupakan (tidak materialistis). Akan tetapi butuh persyaratan-persyaratan tertentu untuk sampai ke arah sana.

Persyaratan Awal

Dari dulu ada dua syarat untuk menerima pendidikan: kesempatan dan kemauan. Tanpa keduanya, pendidikan tidak berjalan. Untuk memberikan kesempatan belajar, peran pemerintah sangat penting. Jangan sampai pendidikan hanya untuk orang yang mampu (the have). Masalah kesempatan merupakan masalah yang sering dijumpai di negara berkembang seperti di Indonesia dibanding di negara maju. Selain itu pihak yang mampu jangan mengabaikan yang tidak mampu, sehingga tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam hal pemberian kesempatan belajar ke rakyat yang tidak mampu. Sementara itu kemauan perlu dipupuk sejak kanak-kanak dan peran orang tua juga menentukan. Terakhir adalah “educability”, alias bisa dididik. Sepertinya tidak masalah di negara kita, karena tiap orang bisa dididik, kecuali kalua kena narkoba atau dicuci otaknya oleh paham radikal (teroris).

Demikian sedikit gambaran masalah pendidikan yang saya sendiri kurang begitu mendalami. Mungkin rekan-rekan yang mengajar di kampus jurusan pendidikan bisa lebih memberikan penjelasan yang lengkap dan “jujur”. Semoga bermanfaat.

Referensi

Silahkan lihat link di paragraf awal

Perkembangan e-Learning Saat Ini

Ketika mendaftar beasiswa DIKTI, calon karya siswa (mahasiswa yang memperoleh beasiswa) diwajibkan untuk melampirkan proposal disertasi. Waktu itu saya mengusulkan penerapan soft computing dalam sebuah e-learning. Soft computing yang diterapkan pun beragam dari yang biometrik hingga plagiarism check. Setelah wawancara dan dinyatakan lulus, mulailah satu persatu jurnal e-learning saya baca. Ternyata rumit juga .. he he. Alhasil saya beralih dari e-learning ke data spasial, kebetulan dapat hibah bersaing DIKTI tentang optimasi data spasial, jadi sekalian kerja serempak. Ditambah lagi, kampus tempat saya kuliah tidak menawarkan course e-learning.

Kualitas e-learning Terkini

Jujur saja saya tidak begitu mendalami masalah teknis aplikasi e-learning, yang dimotori oleh Moodle. Hanya sedikit berbagi pengalaman saja sebagai pengguna (siswa dan juga pengajar). Ketika kuliah remote sensing & GIS, dosen saya menyediakan e-learning (disebutnya virtual class). Tetapi jarang saya buka, karena hanya sekedar share file-file dan tugas kuliah saja. Waktu itu bentuknya pun tidak jauh berbeda dengan Moodle yang pernah saya coba install dengan php-mysql di laptop. Sekarang ada sedikit perbedaan, seperti tampak dalam gambar di bawah ini.

Sebagai mahasiswa sepertinya sangat pasif dan hampir tidak ada fasilitas untuk onlinenya. Mungkin karena tidak optimal digunakan. Malah lebih suka mengunakan Facebook untuk media komunikasinya. Sementara itu, di bawah ini salah satu situs e-learning dari universitas terbuka.

Tugas-tugas yang diberikan tiap minggu dapat dengan mudah diperiksa dalam sebuah forum diskusi dan juga tugas-tugas. Untuk membuat e-learning yang mirip sekali dengan perkuliahan tatap muka sepertinya agak sulit. Untuk sekedar diskusi saja tingkat keikutsertaan siswa masih rendah. Sepertinya mobile-learning dengan smartphone perlu diusahakan agar memudahkan pengguna. Mirip aplikasi Grab/gojek/atau lainnya yang mudah dan user friendly.

E-learning SEAMEO SEAMOLEC

Salah satu faktor utama suatu aplikasi adalah tingkat penggunaannya. Percuma aplikasi yang baik dan canggih tetapi orang malas menggunakannya. Oleh karena itu sebaiknya riset melibatkan pengguna. Salah satu lembaga level Asia Tenggara (+ Australia dan Timur Leste) adalah Seameo Seamolec (lihat link resminya). Gambar berikut menampilkan seminar internasionalnya (saat tulisan ini dibuat, acara masih berlangsung) via online yang membahas perkembangan terkini online learning.

Software yang digunakan adalah plugin dari Cisco (Webex). Saya kagum juga dengan Cisco dalam menyediakan fasilitas video conference. Pernah ada uji coba dari univ di jogja yang mengadakan diskusi online lewat aplikasi Cisco yang akan dibeli kampus itu (saya lupa nama produknya). Hasilnya cukup OK walaupun saya menggunakan ponsel HP (GSM) sinyalnya, tapi tidak putus-putus.

Salut juga untuk tim (Binus dkk) yang menyelenggarakan seminar ini. Semoga e-learning terus berkembang sehingga bisa menjangkau wilayah Indonesia yang luas dalam mencerdaskan bangsa.

Berikut ini contoh tampilan konferensi online ini (2nd Indopec International seminar). Semoga info ini berguna.

Menghormati Orang Lain .. Wajib di Era Informasi

Saat munculnya media sosial, dimulai oleh milis dan obrolan macam-macam sejenis kaskus hingga facebook, twitter, dan instagram, dimulailah era informasi. Istilah nitizen terbentuk, gabungan dari kata internet dan citizen, yang artinya warga yang berinteraksi lewat media online (internet). Terakhir dengan bantuan “internet of things”, aplikasi-aplikasi online ditawarkan dan membentuk “pasar baru” yang dikhawatirkan pelaku bisnis existing yang masih menerapkan proses bisnis konvensional.

Pengakuan Terhadap Aplikasi Online

Pertama kali logo grab saya lihat menempel di taksi konvensional yang ada di Thailand, tempat saya studi lanjut, kira-kira tiga/empat tahun lalu. Saya hanya berfikir itu sekedar aplikasi bantuan untuk memesan taksi. Kemudian ketika beberapa kali “mudik” ketika libur kuliah, banyak ojek-ojek berwarna hijau dan orange berseliweran. Barulah saya berfikir ini merupakan proses bisnis baru, karena ada aplikasi dan seragam. Akhirnya muncul bentrokan-bentrokan akibat ojek pangkalan yang merasa diambil rejekinya. Terbesar adalah ketika perusahaan taksi ternama demo besar-besaran dengan aksi pengrusakan terhadap mobil-mobil yang diduga beroperasi sebagai taksi online. Walaupun ada aturan-aturan dari pemerintah, seperti kendaraan roda dua yang tidak boleh jadi angkutan, dan aturan-aturan lain yang bermaksud membatasi ojek dan taksi online, tetap saja, konsumen adalah raja.

Ketika dua bulan yang lalu tiba di bandara, kaget juga plang iklan “grab” tampil mendominasi. Sempat heran juga, padahal masih ingat berita viral di internet ketika aksi sweeping taksi online terjadi di bandara. Sampai ada yang pura-pura memesan taksi online sebagai perangkap. Saya sempat “kecele” juga ketika memesan grab di terminal DAMRI dengan berjalan keluar beberapa puluh meter. Ternyata taksi online itu menunggu persis di pinggir jalan terminalnya. Si supir mengatakan bahwa saat ini sudah tidak ada masalah menerima penumpang di terminal. Padahal dulu istri dan adik ipar ketika memesan taksi online di terminal sempat dimaki-maki supirnya oleh taksi pangkalan terminal itu. Sekali lagi .. konsumen adalah raja.

Perilaku Driver Ojek/Taksi Online

Di awal-awal memang banyak pengemudi yang kurang baik. Walaupun tetap saya beri bintang yang baik, mungkin karena tidak semua orang punya rasa kasihan seperti saya, sepertinya supir-supir selebor mulai tersisih. Bahkan makin lama, driver sopan dan ramah banyak dijumpai, juga tentu saja sabar dan taat dalam berlalu lintas.

Akhirnya saya sempat juga merasakan naik ojek online ke terminal DAMRI karena bawaan sedikit (biasanya taksi online). Sialnya ketika itu ada acara sepakbola di stadion patriot Bekasi, dan yang tanding tim “orange”, macet dah. Ketika ojek ingin memutar balik, repot juga ternyata. Baru saja moncong motor mau berbelok ke kanan, mobil-mobil yang keren-keren tidak memberi jalan, bahkan merapatkan dengan mobil di depannya. Salut juga saya dengan skill “pelit-nya”, dengan level akurasi yang beberapa senti saja dengan mobil di depannya. Sebaliknya saya salut dengan kesabaran driver ojek yang menanti beberapa saat lamanya hingga ada supir mobil yang mempersilahkan kami melintasi untuk memutar balik, padahal waktu itu lalu-lintas padat merayap dan melata.

Di era online, memang kita tidak tahu pasti dengan siapa kita berpartner dan berbisnis. Apakah itu dengan orang yang beraliran politik sama dengan kita atau tidak, seagama dengan kita atau tidak, pribumi atau non-pribumi (kalau memang ada), dan perbedaan-perbedaan lainnya. Si driver ojek online tidak marah denga si pengendara mobil yang “pelit”, bahkan dibalas dengan senyuman. Karena bukan tidak mustahil, si supir mobil itu jadi pelanggannya. Siapa tahu karena macet dia pesan gojek, grab, atau uber. Bahkan si mobil yang baik hati memberi jalan, bisa saja baik karena sering memakai jasa ojek online.

Perilaku dalam Ber-Online

Melihat perilaku pelaku bisnis online yang mulai respek terhadap orang lain, sebenarnya dapat kita contoh. Apa yang telah kita ekspresikan baik lewat video, tulisan, dan lain-lain lewat online tidak dapat kita tarik kembali. Istilah “viral” akan meminimalisir perilaku selebor yang ada di lapangan oleh rakyat, apalagi pejabat publik. Sangat mudah dan praktis, jika tidak suka dengan obrolan atau status rekan kita, tinggal unfollow saja .. bahkan bila perlu “unfriend”. Tidak ada dendam dan sakit hati lagi. Bahkan kabarnya ada perusahaan di negara tetangga kita yang menyeleksi calon karyawan dengan membaca statusnya di media sosial. Jadi berhati-hatilah, bisa saja yang tersinggung calon nasabah/rekan/partner bisnis kita. Rugi kan kalau lepas.

Beberapa waktu yang lalu saya kecewa dengan situs layanan “cloud” gratis yang karena tidak aktif, akun saya diblok. Tidak masalah sih sebenarnya. Saya cuma iseng, mengirim email keberatan, dan walau tidak ada keinginan untuk minta dibuka, terus saja saya diemail untuk dibujuk aktif lagi. Tapi ya begitulah, sekali konsumen kecewa, ya beralih, era online banyak memberikan tawaran dan pilihan. Yang membuat cepat, transparan, banyak pilihan, praktis .. akan dipilih konsumen. Saya jadi ingat, warung masakan padang ternyata sejak dulu menerapkan prinsip online, “kalau tidak puas katakan ke kami, tapi kalau puas bilang ke orang lain” .. alias “viral-kan” yang baik-baik saja.

Sharing

Diawali dari sharing informasi, saat ini sharing economy mulai merebak. AirBnB, Gojek, Grab, dan aplikasi-aplikasi online menerapkan “mahdzab” sharing. Motor, mobil, rumah, kamar, bor, sapu, dan benda-benda lain bisa dimanfaatkan (sharing) oleh orang lain dan sama-sama untung, ketimbang mubazir tidak dipakai. Google, Facebook, Youtube, dan lain-lain yang terkesan menggratiskan ternyata malah kian maju. Oleh karena itu silahkan sharing sebisanya, jangan sharing yang negatif atau menyinggung orang lain, karena kita tidak tahu dengan siapa nanti berbisnis, berpartner, bekerja, dan bersosialisasi. Untuk rekan dosen dan pengajar, juga para lulusan baru .. yuk sharing ilmu.

Siap Berubah .. Terpaksa atau Tidak

Dalam catur ada istilah “inisiatif” yaitu kondisi sebelum sampai ke tahap menyerang. Kondisi ini mirip dengan keseharian kita dimana inisiatif cenderung bermakna aktif dan dinamis. Selain itu ada keinginan untuk berubah dari kondisi saat ini ke kondisi yang lebih baik. Prof. Max Ewe, mantan juara dunia catur dari Belanda, mengatakan untuk menjadi inisiatif harus mampu membaca “ciri” yang ada dalam suatu bangunan. Mengetahui ciri tersebut membutuhkan kemampuan membaca, bukan hanya membaca tulisan tetapi membaca lewat media lainnya seperti melihat, mengamati, menganalisa dan sejenisnya.

Prof. Edi, rektor UDINUS Semarang, dalam rakornas APTIKOM 2017 di Papua berbagi pengalamannya. Salah satunya adalah bagaimana proses terbentuknya televisi kampus. Waktu itu ada dosen baru lulusan luar negeri jurusan telkom tetapi ditunjuk menjadi dekan sastra. Mirip yang terjadi di kampus saya (hanya bukan luar negeri). Unik juga mengapa dia tidak ditempatkan di jurusan yang sesuai: yaitu karena tidak ingin menyingkirkan yang lama. Tapi ternyata dosen baru itu bisa berkreasi sesuai dengan pengamatan dia ketika kuliah di luar negeri. Mengapa alumni luar negeri memiliki ke-khas-an tersebut? Mungkin analisa Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya, disruption, bisa menjelaskan.

Kontras & Konfrontasi

Untuk berubah diperlukan kontras dan konfrontasi. Kontras maksudnya adalah perbedaan antara kondisi existing dengan kondisi lain yang lebih baik. Tentu saja tidak bisa dengan hanya menjelaskan, perlu diajak melihat langsung kondisi lain. Video saja tidak cukup. Mengapa piknik/traveling tetap laris walaupun video di youtube sudah banyak yang merekam obyek-obyek wisata. Terkadang kenyamanan yang ada membuat kita merasa nyaman dan tidak ingin berubah karena merasa kita adalah yang terbaik. Hingga tersadar ternyata daerah lain sudah memakai baju dan celana, sementara kita masih menggunakan kolor akibat terisolir.

Terkadang hanya beberapa orang yang memahami perlunya perubahan. Oleh karena itu diperlukan kontras agar orang lain bisa melihat perbedaan yang ada. Jika orang tidak melihat adanya manfaat atau keuntungan dari perubahan, maka tidak akan terjadi perubahan yang diinginkan. Selain itu, kontras belum tentu bermanfaat jika hanya dilihat sekilas saja. Konfrontasi diperlukan untuk memperbanyak frekuensi dari kontras. Orang butuh berkali-kali melihat kontras sebelum mau berubah. Prinsip-nya mirip iklan di televisi/radio. Di kampus yang dosennya enggan studi lanjut, ketika ada seorang dosen mudah yang berangkat kuliah, mungkin menciptakan kontras. Tetapi jika hanya seorang saja yang berangkat, konfrontasi tidak terjadi, mungkin saja mereka menganggap hanya anomali saja. Tetapi jika banyak yang berangkat, maka kontras akan menjadi bermakna sehingga kesadaran untuk “upgrade” terjadi dengan dilanjutkan dengan “bergerak”. Perubahan memerlukan tahapan: kesadaran, bergerak, dan finish. Tanpa ketiganya, masih dikatakan belum berubah.

Apa yg dilakukan dan Bagaimana melakukannya

Satu lagi konsep yang diperlukan dalam membuat perubahan adalah apakah sudah tepat “apa yg dilakukan” dan “bagaimana melakukannya”. Hanya fokus ke salah satunya saja tidak akan membuat kemajuan yang berarti. Kabarnya banyak perusahaan yang excelent dalam “bagaimana melakukannya” tetapi tidak memperhatikan “apa yg seharunya dilakukan” saat ini hancur. Mungkin tidak ada yang salah dalam “bagaimana melakukannya” pada taksi konvensional, tetapi karena tidak bisa mengantisipasi “apa yang harus dilakukan” berakibat fatal juga ternyata, diserang taksi online. Sebaliknya, telkom bagus baik dalam “bagaimana melakukan” maupun dalam “apa yg harus dilakukan” sehingga mampu mengantisipasi trend perkembangan komunikasi yang tanpa kabel dengan fasilitas digitalnya. Mungkin kita sudah baik dalam mengelola suatu institusi, misalnya kampus, tetapi belum tentu baik dalam mengerjakan “apa yang seharusnya”. Dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi saat ini, dibutuhkan pula orang-orang bertipe “driver”, agen perubahan (bukan hanya penumpang, apalagi penumpang gelap). Terkadang perlu “piknik” keluar, baik studi banding, atau mengundang pihak luar datang, untuk menggali “kontras”. Sehingga tidak terjebak dalam rutinitas “business as usual” yang kata orang jawa “ngono-ngono tok” (itu-itu aja) serta terbuai dengan kenyamanan yang ada. Kata para profesor lho …