Kuliah Lagi ..

Ketika SMA saya merupakan siswa yang lumayan, maksudnya lumayan bagus nilai mata pelajarannya. Bukan karena cerdas, tetapi karena serius dan belajar dengan tekun. Beda dengan teman-teman saya yang lain yang memang cerdas bawaan lahir, dengan belajar sedikit, langsung memahami. Sementara saya harus begadang semalaman untuk memahami suatu materi, apa boleh buat. Tidak apa, toh itu membuahkan hasil, hingga saya lulus UMPTN dan masuk di jurusan Teknik Mesin, jurusan yang sulit menurut saya. Buktinya saya butuh waktu enam tahun untuk memperoleh gelar sarjana teknik.

(Tak disangka yang saya salami itu, alumni AIT juga)

Ternyata wisuda merupakan kebahagiaan sesaat karena hampir setahun saya menganggur, ditolak ketika melamar di sana sini, maklum tidak jauh tahunnya dari krisis moneter waktu itu. Akhirnya karena kepepet, saya ditawari mengajar oleh sepupu saya di salah satu kampus di Jakarta. Jurusan yang saya ajar pun jauh dari jurusan saya ketika kuliah, yaitu jurusan Teknik Komputer. Terus terang, saya di sana bukan ngajar, tapi belajar, apa boleh buat. Dengan berbekal dengkul, saya bekerja dengan menaiki beberapa angkutan umum.

Karena tuntutan profesi, saya mencoba untuk kuliah S2 di UI, mengambil jurusan Teknik Mesin, seperti jurusan S1 saya, dan Alhamdulillah diterima. Tetapi ketika melihat uang kuliah sebesar 11 juta rupiah di awal, saya langsung berfikir, keluarga yang baru saja saya jalani, mau tidak mau harus berfikir ulang untuk mengeluarkan uang sebesar itu. Akhirnya saya lepas kuliah di UI dan uang tersebut kami gunakan untuk mengkredit rumah BTN. Sedih juga, tapi apa boleh buat, hidup itu pilihan.

Tetapi di saat bersamaan, di tempat saya mengajar dibuka kelas S2, dan saya walaupun tidak gratis mendapat potongan yang lumayan besar jika kuliah di sana. Akhirnya saya ambil kuliah tersebut dengan jurusan ilmu komputer (M.Kom). Dengan mudah saya jalani kuliah tersebut dan lulus tepat waktu (1,5 tahun). Ternyata dari studi tersebut saya memperoleh banyak manfaat, mulai dari banyaknya jam mengajar hingga saya memperolah sertifikasi dosen, dimana mensyaratkan strata 2 jika ingin mendapatinya. Dan satu hal yang terpenting adalah dengan gelar S2 itu saya diterima di kampus Asian Institute of Technology (AIT) thailand (www.ait.ac.th) pada jurusan Computer Science program Ph.D, tentu dengan beasiswa (BPPLN Dikti), karena tidak mungkin saya dan kampus saya membiayai uang kuliah yang hinggu lulus sekitar setengah milyar. Ternyata AIT merupakan kampus andalah beasiswa sejak lama, walaupun sempat terkena banjir, tetapi perlahan-lahan mulai bangkit dan peminatnya mulai bertambah.

Kampus tersebut dari sisi ranking memang tidak begitu menonjol, tetapi alumninya banyak tersebar di seluruh dunia, karena kampus itu masuk kategori kampus internasional, hampir semua mahasiswanya adalah penerima beasiswa (maklum uang kuliahnya hampir dua kali kampus terkenal seperti Mahidol dan lain-lain). Salah satu alumni dari Indonesia yaitu Prof. Joko Santoso, yang pernah menjadi rektor ITB dan UI, dan saat tulisan ini dibuat merupakan dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI). Dan beliau menjadi alumni kehormatan AIT, beserta putri raja Thailand dan beberapa alumni dari berbagai negara yang lain.

(Prof. Joko Santoso. Sumber: Wikipedia)

Selain itu, yang mengejutkan saya, mantan rektor UGM, yaitu Prof. Sudjarwadi, yang ketika saya wisuda bersalaman dengannya juga S2 di tempat saya saat ini mengambil S3.  Begitu pula, salah satu rekan kerja saya yang sekarang sudah dipanggil Allah sebulan yang lalu, Bpk Soedarmin, ternyata sempat beberapa bulan kursus di sana, dan banyak menceritakan kehidupan di sana. Sayang ketika beliau dipanggil saya tidak sempat ke rumahnya karena sudah berangkat ke Thailand, semoga damai di alam sana.

(Bersama Alm Soedarmin, ketika mengecek alat uji tekan beton di lab Sipil)

Sungguh hidup itu berputar-putar saja, tidak jauh dari yang pernah menghampiri kita walau sesaat. Tinggalah saya, alumni mesin yang sedang mengemban tugas berat menaklukan degree tertinggi Computer Science, semoga berhasil. Amiin.

Screen Record Free dengan Microsoft Expression 4

Sehubungan dengan presentasi penelitian yang harus dilaksanakan, mau tidak mau harus merekam running programnya dengan bentuk video layaknya youtube. Namun saya tidak memiliki software untuk merekam, kalaupun ada itu bajakan. Namun untungnya windows menggratiskan salah satu software untuk merekam aktivitas kita di sistem operasinya yaitu Microsoft Expression 4. Untuk mendownloadnya dapat Anda buka situs resminya: http://www.microsoft.com/expression/eng/

Tentu saja ketika download, windows Anda sebaiknya bukan windows bajakan, karena sama saja dengan lapor diri. Jika sudah selesai mendownload, Anda tinggal mengklik ganda file sumber, tinggal ikuti perintahnya. Oiya, ketika ditanyakan serial number, lewati saja, karena tidak apa-apa tanpa mengisi kode sumber. Karena free kita hanya diperbolehkan merekam selama 10 menit, tetapi tidak apa-apa, karena 10 menit lumayan lama menurut saya.

Selain merekam gambar, dengan menekan icon mic, kita dapat merekam suara juga, tentu saja harus tersedia mic (biasanya tiap laptop ada). Ketika tombol merah (record) ditekan, Anda diminta membuat range yang akan direkam pada layar monitor Anda. Setelah itu dengan sekali tekan tombol record lagi Anda siap merekam apapun yang terjadi di layar. Berikut ini contoh hasil rekam saya yang saya upload di Youtub. http://www.youtube.com/watch?v=XFTOnXSR3eg

Lika-liku Mencari Beasiswa

Tidak dapat dipungkiri, biaya pendidikan saat ini tidak bisa dibilang murah lagi. Ketika tahun 1995 dulu saya kuliah di UGM, SPP bersih masih Rp. 250 ribu saja, tak perduli fakultas teknik atau kedokteran. Tetapi saat ini dengan adanya jalur mandiri, biaya masuk untuk fakultas kedokteran gigi saja sudah hampir mencapai 200-an juta rupiah, sungguh biaya yang fantastis. Bagaimana dengan sekolah menengah? Ternyata tidak jauh berbeda. Masuk sekolah negeri malah lebih mahal dari pada sekolah swasta, tentu saja negeri yang memiliki standar internasional yang sering dikenal dengan istilah RSBI. Untung saja pengadaan program tersebut dianggap salah oleh Mahkamah konstitusi sehingga harus dihapus. Bagaimana dengan calon siswa atau mahasiswa yang pintar tetapi kurang mampu? Tentu saja salah satu andalannya adalah beasiswa. Bagaimana dengan kampus negeri yang tidak melewati jalur khusus dan ikut saringan masuk seperti sipenmaru, UMPTN, SNMPTN, atau apalah namanya yang berubah terus itu? Ternyata informasi yang saya baca dari surat kabar, ada keluhan dari beberapa calon mahasiswa yang tidak sanggup membayar uang masuk yang standar tetapi sebesar 5 jutaan. Akhirnya calon mahasiswa tersebut mengundurkan diri. Sungguh sangat disayangkan.

Sebenarnya pemerintah menyediakan beasiswa kepada para mahasiswa yang disalurkan melalui kampus masing-masing. Misalnya kampus tempat saya mengajar menyediakan beasiswa yang membebaskan biaya SPP selama setahun kepada mahasiswa yang layak menerima beasiswa. Ada dua jenis biasanya yaitu bagi yang tidak mampu dan bagi yang memiliki keunggulan dari sisi akademis. Bagaimana dengan mahasiswa yang tidak sanggup dari awal? Jangan khawatir, ada jenis beasiswa lain yaitu beasiswa Fullbright yang akan membebaskan mahasiswa dari membayar kuliah sejak awal. Beasiswa jenis ini ditujukan kepada lulusan SMA yang diundang oleh kampus kami untuk diwawancara. Untuk jurusan komputer sangat disayangkan dua calon penerima beasiswa fullbright mengundurkan diri karena diterima di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan memilih untuk masuk UNJ walaupun tidak beasiswa.

Bagaimana dengan dosen dan karyawan? Jangan khawatir, ada jenis beasiswa lainnya yang siap menanti. Untuk karyawan ada beasiswa sebagai tenaga kependidikan. Sayang, beasiswa jenis ini ditujukan untuk karyawan di kampus negeri. Terpaksa beberapa karyawan di kampus kami (non dosen) kuliah dengan biaya mandiri. Dan bagi dosen, tentu saja harapan satu-satunya adalah beasiswa mengingat saat ini mengambil S2 dan S3 tidak murah lagi. Jangankan uang pribadi, kampus saja sangat keberatan untuk membiayai dosennya kuliah lagi. Apalagi saat ini tuntutan studi lanjut tidak dapat dihindarai, yakni dosen harus S2 dan jika ingin naik pangkat menjadi lektor kepala harus memiliki jenjang pendidikan S3.

Beasiswa Program Pascasarjana Dalam Negeri

Beasiswa ini adalah beasiswa andalan para dosen karena kampus yang dituju adalah kampus dalam negeri sehingga tidak mengganggu aktivitas mengarjar (asal kampus tujuan tidak terlalu jauh) dan keluarga. Beasiswa ini mudah didapat asalkan kita diterima di kampus tujuan dan syarat-syarat administrasi lain memenuhi, dengan syarat utama adalah Nomor Induk Dosen (NIDN).

Karena banyak yang menginginkan beasiswa dalam negeri maka kapasitasnya menjadi sangat terbatas. Apalagi ketika syarat S2 dan S3 terhadap dosen diterapkan oleh DIKTI. Untuk S2 sedikit lebih mudah karena memang kapasitasnya bisa ditingkatkan di kampus tujuan beasiswa. Tetapi untuk program S3 sangat sulit mengingat keterbatasan profesor pembimbing. Untuk ilmu komputer UI saja, antrian sudah panjang dimana tiap profesor sudah membawa calon kandidat doktor masing-masing. Jangan harap calon mahasiswa yang datang tiba-tiba bisa diterima menjadi calon mahasiswa S3. Dan salah satu yang terberat adalah ketika wawancara terkadang kita diminta menunjukan publikasi karya ilmiah kita di jurnal internasional.

Beasiswa Program Pascasarjana Luar Negeri

Untuk yang malas menembus kampus dalam negeri yang persaingannya ketat, ada baiknya mencoba mendaftar di luar negeri. Biasanya jika mendengar luar negeri para dosen langsung lemas mengingat syarat yang ketat, terutama kemampuan bahasa. Belum lagi masalah lainnya yaitu harus meninggalkan keluarga bagi yang sudah memiliki anak dan istri.

Untuk dosen sebenarnya dari ketika sebelum menjadi dosen harus sudah mempersiapkan sendiri kemampuan berbahasanya, terutama bahasa Inggris. Banyak kursus-kursus yang bertebaran yang membantu kita dari speaking, listening, reading, hingga writing. Sebaiknya memang kampus memberikan bantuan kursus, pelatihan, dan sejenisnya kepada dosennya agar siap untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Oiya, selama tulisan ini dibuat, syarat Toefl yang berlaku adalah minimal 500 dan toefl ITP, bukan prediksi (yang harganya sekitar 200/300 ribu rupiah). Untuk kampus negeri sepertinya studi lanjut ke luar negeri menjadi satu keharusan, karena kualitas kampus di luar negeri berbeda dengan kampus dalam negeri terutama dari sisi publikasi karya ilmiah. Walaupun UI, UGM, ITB, dan kampus lapis atas memiliki rangking di atas beberapa kampus luar negeri. Tetapi tentu saja agak janggal jika dosen UI kuliah di UGM atau ITB. Berbeda jika dosen UI studi lanjut di MIT misalnya.

Bagaimana jika kemampuan berbahasa sudah terpenuhi? Langkah selanjutnya adalah mendaftar ke kampus luar negeri. Di sinilah seninya, karena tiap kampus berbeda baik dari sisi waktu pendaftaran maupun sistemnya. Tetapi kebanyakan kampus luar negeri, khususnya yang studi S3, harus mencari profesor yang siap menjadi supervisor / advisor kita. Terkadang mereka memberikan suatu tugas/pertanyaan yang harus kita jawab dan terkadang walaupun supervisor sudah ok, kita diharuskan berangkat ke sana untuk tes masuk. Untungnya beberapa kampus tidak mengharuskan kita ikut test ke kampus tujuan (ke luar negeri), tetapi hanya menyerahkan sertifikan GMAT/GRE yang mirip dengan Test Potensi Akademik (TPA). Bahkan beberapa kampus membebaskan test masuk jika memang kita sudah memiliki banyak tulisan di jurnal-jurnal bertaraf internasional, syukur-syukur terindeks di scopus, ieee, thomson, dan index internasional lainnya.

Jika kita sudah diterima dan dibuktikan dengan surat tanda terima (letter of acceptance) yang tanpa syarat, maka kita siap mendaftar beasiswa baik ke DIKTI maupun beasiswa lainnya, misalnya LPDP dari kementrian keuangan. LOA yang tanpa syarat, sering diistilahkan dengan, LOA unconditional, menjadi syarat mutlak, karena pemerintah akan memberikan bantuan beasiswa ke calon mahasiswa yang sudah pasti akan berangkat jika didanai. Jika masih ada satu syarat tertentu (di luar syarat keuangan) maka dikhawatirkan ketika pemerintah menyetujui pencairan beasiswa, calon mahasiswa itu ditolak kampus tujuan karena tidak memenuhi kondisi yang diminta oleh pemberi LOA. Mengapa demikian? Karena saya sendiri mengalami hal seperti ini, yaitu harus meminta lagi kampus tujuan LOA yang tanpa syarat. Biasanya akan diberikan ketika kita memunuhi syarat yang diminta.

Untuk beasiswa DIKTI, syarat terberat sebenarnya adalah wawancara. Karena ini merupakan penentu apakah kita disetujui atau tidak untuk diberi beasiswa. Karen sifatnya wawancara, maka aspek subjektif menjadi sangat menentukan. Saya termasuk korbannya. Sebagai dosen fakultas teknik, saya termasuk tipe yang sulit dalam berbicara. Dalam bahasa Indonesia saja masih sulit, apalagi bahasa Inggris. Walaupun IELTS saya 6.0 tetapi pada wawancara pertama, bahasa Inggris saya dianggap kurang. Akhirnya saya ikut wawancara ulang. Dan anehnya, ketika diwawancara oleh pewawancara yang lain, saya dinyatakan tidak ada masalah dengan bahasa Inggris saya. So, berdoalah semoga mendapat pewawancara yang baik. Dari sekitar 6 pewawancara ada beberapa yang kerap tidak meluluskan calaon penerima beasiswa. Saya masih ingat wajah-wajahnya, terkadang geram juga sih. Tetapi mereka sebenarnya menerima beban yang cukup berat dari negara. Untuk yang dosen swasta, bersiap-siaplah Anda bertarung dengan dosen-dosen negeri yang merupakan dosen pilihan. Tentu saja tidak perlu rendah diri bagi dosen-dosen swasta, santai saja.

Wawancara

Beberapa pertanyaan yang muncul dalam sesi wawancara kebanyakan tidak jauh berbeda antara satu calon dengan calon lainnya. Apalagi untuk pewawancara yang sama. Tetapi jika pewawancara yang berbeda tentu saja beda pertanyaannya. Ciri khas ketika wawancara adalah, ketika dua orang pewawancara mewawancarai kita, salah satunya adalah yang aktif dan seperinya penentu kelulusan. Tentu saja tidak bisa saya sebutkan di sini. Ada cerita lucu juga ketika calon dari makasar mendapat giliran dan ketika tahu bahwa sekarang giliran dia, dia enggan masuk (karena tahu yg mewawancara “killer”), sampai petugas administrasi memaksa dia masuk. Jika dia menolak berbahaya juga, karena saya berikutnya. Akhirnya saya dipanggil untuk wawancara di meja sebelahnya yang lebih lunak dan kabarnya banyak meluluskan. Ciri khas pewawancara yg masuk kategori “baik” adalah ketika menolak, walaupun tidak diumumkan saat itu, dia memberikan alasan yang kuat atas penolakannya. Alasannya pun logis dan kebanyakan diterima oleh calon yang diwawancarai, dimana setelah wawancara si calon akan berusaha memenuhi persyaratan yang kurang tersebut.

Berikut ini tips yang mungkin bisa jadi pegangan.

Pewawancara adalah manusia biasa, jadi jangan buat dia kesal, sebal, dan terlalu banyak mencari alasan. Ketika datang hormatilah dia sebagai orang yang diberi tanggung jawab oleh negara memilih calon penerima beasiswa yang jika ditotal untuk S3 berkisar antara setengah hingga dua millyar hingga lulus. Oiya, wawancara dengan bahasa Inggris, lebih sulit dari test Speaking IELTS karena di sini selain bahasa Inggris yang baik, harus juga sesuai dengan isinya. Sementara IELTS walaupun kita menjawab dengan bohong/ngarang, jika tata bahasa benar, tetap dianggap benar (hanya menguji bahasa bukan konten).

Khusus yang akan ambil S3, pasti akan ditanyakan tema/judul proposal disertasi dengan bukti email antara kita dengan supervisor. Bukan hanya sekedar supervisor kita setuju untuk membimbing kita melainkan juga komunikasi mengenai judul tersebut. Saya diserang di wilayah ini karena ketika calon supervisor setuju menurut saya sudah beres, tetapi ternyata harus berlanjut komunikasi tersebut mengenai tema proposal kita.

Untuk yang memiliki LOA masih condisional, saran saya adalah berdoa. Karena kalau kita lihat pengumuman hasil wawancara kebanyakan gagal yaitu LOA yang masih kondisional. Seharusnya kita memenuhi kondisi pada LOA, minimal tinggal masalah keuangan, karena DIKTI melihat jika syarat LOA masalah keuangan, DIKTI menganggap semua yg melamar beasiswa pasti minta ditanggung biaya kuliahnya (ditambah biaya hidup pula).

 Mungkin segini saja bagi-bagi ceritanya, jika masih belum jelas bisa email ke saya atau tulis komentar di bawah. Oiya, andalan beasiswa dikti saat ini yang saya tahu adalah DIKTI (untuk yg belum punya NIDN mendaftar di beasiswa unggulan, sedang yang sudah ada NIDN masuk ke BPPLN). Sementara LPDP (saya lupa situsnya, searching aja di GOOGLE) memiliki syarat usia yg ketat, yaitu 35 tahun, beda dengan BPPLN Dikti yang 45 tahun. Selamat mencoba, tidak ada salahnya, tidak ada suap menyuap untuk pendaftaran beasiswa.

Windows Surface RT

Beberapa bulan yang lalu kampus tempat saya belajar menawarkan sebuah tablet berbasis windows 8 dengan nama Windows Surface RT dengan discount hingga 50%. Tadinya berharga 12 ribu Baht menjadi 6000 baht saja. Dengan kurs 1 baht kira-kira Rp 370 rupiah, berarti harga satu buah tablet tersebut sekitar 2 jutaan dari yang seharusnya 4 jutaan. Selain itu ada tawaran keyboard portabel dan touch pad portable. Saya memilih keyboard karena lebih nyaman untuk mengetik karena fungsinya sama dengan laptop. Sementara touch pad agak sulit untuk mengetik walaupun lebih nyaman dibanding mengetik langsung di tablet dengan keyboard virtual. Harga satu keyboard untuk windows rt dibandrol dengan harga 3000-an baht, atau sekitar satu jutaan rupiah, lumayan mahal, apalagi keyboard tidak ikut diskon.

Setelah mengantri beberapa saat akhirnya berhasil juga transaksi pembayaran dengan kartu kredit, maklum kiriman DIKTI belum jelas. Setelah barang diterima saya langsung ke bagian pengecekan untuk dilakukan setting windows 8 pertama kali, pengisian nama tablet, pemasangan screen protector yang dihargai sekitar 250 baht (70-an ribu rupiah). Sampai di dorm, saya utak-atik, ternyata praktis juga. Saya salut juga ketika menjalankan aplikasi-aplikasi yang ada, mirip dengan laptop istri saya yang berbasis windows 8.

Satu hal yang membedakan dengan tablet yang saya beli sebelumnya adalah dalam hal asesoris tambahan. Ketika harddisk eksternal saya tancapkan di tablet, seluruh data saya langsung terbaca, berbeda dengan samsung sgt 10 saya yang lama, ada pesan error bahwa yang saya tancapkan adalah high power usb. Tentu saja samsung yang lama harus membeli konektor usb tambaha yang harga originalnya ratusan ribu rupiah. Ternyata usb bisa saya tancapkan mouse serta ketika saya tancapkan ke blackberry saya, langsung bisa terhubung dan memindahkan data dengan mudah, berbeda dengan samsung yang harus lewat mekanisme bluetooth.

Ketika mengetik tulisan ini, saya menggunakan tablet windows rt saya, ternyata mirip dengan mengetik lewat keyboard. Keyboardnya lumayan enteng di tekan. Ukurannya yang besar huruf-hurufnya menghindari saya dari salah tekan. Selain itu ketika selesai mengetik dapat saya langsung upload ke blog saya.

Lapor diri di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok

Setelah tertunda hampir beberapa minggu akhirnya saya berangkat juga ke KBRI untuk melakukan proses lapor diri. Lapor diri bermaksud memberitahukan ke perwakilan RI di luar negeri bahwa saya akan tinggal untuk jangka waktu tertentu di negara tersebut. Sangat bermanfaat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti di mesir dan syiria misalnya, kita dapat perlindungan dari KBRI. Untuk Thailand misalnya seperti banjir besar yang terjadi dua tahun yang lalu. Sebagian besar siswa Indonesia menumpang di KBRI Bangkok. Selain itu, lapor diri juga merupakan salah satu syarat untuk perpanjangan visa pelajar dari 90 hari menjadi satu tahun.

Kami berangkat bersama dengan rekan saya ditambah penunjuk jalan (mahasiswa senior) dengan MRT. Setelah memarkir sepeda di pintu keluar Asian Institute of Technology (AIT) kami langsung menstop van yang mengantarkan kami ke statiun Mon Chit. Biayanya cukup murah, 30 Baht. Anehnya lagi, tidak ada kondektur yang menagih, melainkan hanya berupa nampar yang diedarkan secara estafet dari kursi depan dan mengisi nampan itu dengan sejumlah uang. Jika hal itu diterapkan di Indonesia, bisa jadi di tengah jalan uang itu hilang, tapi di sini kejujuran warga Thailand patut diacungi jempol. Tidak begitu lama tibalah di MRT yang dijadikan studi banding oleh Gubernur Jokowi untuk diterapkan di Jakarta.

Tujuan pertama adalah Ratchadewi, yang terletak di Bangkok. Sedikit ada kebingungan mengenai prosedur pembelian tiket MRT karena swalayan dengan memasukan sejumlah coin. Untungnya ada loket yang menukarkan coin. Dua rekan saya sempat kebingungan karena dikira loket itu membeli tiket MRT langsung, padahal hanya menukarkan uang, walaupun terkadang ada yang diberikan tiket juga. Mungkin tergantung kondisi stok yang ada di loket itu. Biaya ke Bangkok adalah 37 Baht. Setelah naik, saya melihat suasana dalam MRT yang cukup bersih rapi, dan yang utama, sejuk. Tidak diperkenankan penumpang makan, apalagi merokok. Sepanjang perjalanan saya bisa melihat keindahan kota Bangkok dari atas MRT, dari bangunannya yang khas, hingga Victory Monumen di bundaran yang terletak di tengah Bangkok. Tidak lama kemudian, kami tiba di Stasiun Rathcadewi.

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya tiba juga di KBRI. Lumayan jauh letaknya dari stasiun Ratchadewi. Apalagi hari itu matahari terik. Sepanjang perjalanan banyak pedagang menjajakan perhiasan, dan buah-buahan. KBRI cukup luas, dibandingkan dengan kedutaan Thailand yang hanya diberikan sedikit oleh Indonesia. Kami langsung menuju loket lapor diri yang letaknya sama dengan pengurusan VISA dan konsulat. Setelah menelepon bagian penerimaan lapor diri, saya segera menghadap petugas tersebut dan menyerahkan pasport setelah mengisi biodata. Si petugas memberitahukan bahwa proses ini akan selesai jam dua siang, jadi kami diharap menunggu.

Sambil menunggu selesai diproses, kami sarapan di kantin KBRI yang letaknya berdekatan dengan sekolah TK, SD, SMP, dan SMA khusus warga negara Indonesia. Kantin letaknya di bagian belakang KBRI dan masuknya harus melalui pintu yang lain. Sedikit sulit masuk ke sana karena petugas yang berjaga adalah berkewarganegaraan Thailand yg tidak jelas berbicara Inggris. Untungnya ada petugas yang bisa berbahasa Indonesia yang meminta saya untuk menunggu penandatanganan SPPD hingga jam 12 siang. Kami tiba di kantin, dan langsung melihat orang-orang Indonesia di sana. Makanan khas Indonesia sepert nasi goreng, aneka sayur tersaji sudah. Sayangnya, harganya cukup mahal, lebih mahal dibanding makan di Cafetaria AIT. Setelah foto sebentar di depan KBRI kami keluar jalan-jalan sambil menunggu jam 2 siang.

Bangkok termasuk daerah yang padat dan jalanan dapat dikatakan macet di siang hari. Tapi berbeda dengan di Indonesia, di sana walaupun macet, tidak terdengar klakson yang memekakkan telinga. Mereka dengan sabar menikmati kemacetan itu. Walaupun penduduknya penganut budha yang taat, tetapi rekan senior saya menasehati tetap waspada terhadap kejahatan. Terkadang patung untuk sembahyang tersedia, dengan dupa, sesajen dan sejenisnya. Beberapa orang terlihat sembahyang sambil membaca doa yang bisa dibaca langsung di batu yang terletak di depan patung.

Kami mampir di beberapa Mall setelah menukar uang di penukaran uang dengan harga bersaing di penukaran uang bernama “Super Rich”. Super Rich merupakan andalah mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Thailand untuk menukar uang. Dibanding dengan bank SCB di AIT, di sini ketika saya menukar 200 dollar, saya bisa untung 60 baht dibanding di kampus saya. Akan tetapi, untuk menukar uang, kita diharuskan menunjukkan passport, padahal passport sedang diproses di kedutaan. Untungnya kami boleh menggunakan fotokopi passport.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 ketika tiba di satu Mall yang berdekatan dengan KBRI. Setelah membeli kalkulator sebagai perlengkapan ujian MID Term, kami bergegas ke KBRI. Alhamdulillah SPPD saya sudah ditandangani. SPPD ini harus dikirim ke DIKTI sebagai bukti bahwa saya telah menggunakan tiket pesawat yang dibelikan Dikti. Kami makan siang dengan masakan khas Indonesia, sayur lodeh, dan tempe. Tampak juga anak-anak Indonesia yang sekolah di sana dari TK – SMA makan juga di kantin itu.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya proses lapor diri selesai. Saya lihat di bagian endorsment Passport, sudah di cap oleh petugas KBRI. Akhirnya beres sudah tugas hari ini.

Kami pulang dengan membawa oleh-oleh Durian Montong yang ternyata tidak boleh dibawa ke dalam MRT. Setelah berfikir panjang, akhirnya bagian sekuriti membolehkan kami membawa durian montong itu asalkan dimasukan ke dalam tas. Karena tas saya terbesar, akhirnya masuk juga itu durian ke tas saya. Dan benar, walaupun tertutup rapat, aromanya tersebar ke mana-mana. Hmmmm .. inilah durian terenak yang pernah saya makan. Menurut teman saya, rasanya sama dengan durian asal Medan.

Kuliah Web Application

Untuk jurusan Computer Science (Ilmu Komputer), tiap mahasiswa diwajibkan mengambil mata kuliah web application yang diasuh oleh Dr. Matthew M. Dailey. Doktor asal Amerika Serikat ini ahli di bidang pengembangan web.

Sempat ikut kuliah perdana, saya terpaksa harus kembali ke Indonesia karena tiap penerima beasiswa diwajibkan mengikuti serangkaian acara hingga penandatanganan kontrak dengan DIKTI. Dimulai dengan pengurusan Visa di kedutaan Thailand, dilanjutkan dengan Lokakarya pra keberangkatan yang dihadiri oleh hampir seratus orang. Setelah hampir 3 minggu menunggu SP Setneg, akhirnya dokumen selesai, ditandai dengan penandatangan kontrak di DIKTI, gedung D lt 4.

Setelah kembali ke AIT, saya dihadapkan dengan beberapa kesulitan akibat absen perkuliahan selama hampir sebulan. Beberapa dosen memberi keringanan, dari komposisi yang Mid : Final = 40 : 60 menjadi 20 : 80 hingga adanya kelas tambahan.

Berbekal tanya sana sini, akhirnya sedikit demi sedikit saya mampu mengikuti alur kuliah Web yang sangat ditakuti oleh sebagian besar mahasiswa CS di AIT. Terpaksa saya harus ikuti handout lab hingga yang saat ini dipelajari (Ajax). Cukup sulit, terutama karena laptop saya yang harus VMWare karena kapasitas C yang minim, sementara Laptop dari AIT belum tiba.

Diawali dengan install ubuntu 13, saya mulai mengeksplore bahasa yang baru saya kenal yaitu “Ruby on Rails (RoR)”. Bahasa ini lumayan ampuh dari security, terbukti telah digunakan di Yellow Page dan Twitter, dibanding PHP yang diterapkan di Facebook dan banyak di hack orang.

Masih ada waktu dua minggu untuk persiapan Mid Term. Semoga bisa mengikuti dan menjawab soal-soal yang diujikan, Amiiin.

Perkenalan dengan Para Senior Mahasiswa Indonesia di AIT

Mahasiswa Indonesia di AIT cukup banyak sekitar empat puluhan. Kebanyakan mengambil pascasarjana master, dan hanya beberapa yang doktoral, termasuk salah satunya saya. Banyaknya mahasiswa Indonesia di AIT salah satunya adalah adanya kerjasama dual degree antara Institute Tekhnologi Sepuluh november (ITS) dengan kampus ini. Tiap tahun ITS mengirim lebih dari 10 orang mahasiswanya yang melanjutkan sisa kuliah S2-nya di AIT.

Sore itu tiba-tiba rekan samping kamar saya yang juga mahasiswa Indonesia, memberitahukan bahwa ada pertemuan mahasiswa baru Indonesia dengan salah satu pengurus PERMITHA (Persatuan mahasiswa Indonesia di Thailand). Tadinya saya tidak ingin datang karena baru saja selesai kuliah Prof Guha yang bablas hingga jam 7 malam. Tetapi karena ajakan dua rekan saya yang baru masuk juga, akhirnya saya ikut juga pertemuan yang diadakan di gedung School of Engineering and Resources Departement.

Agenda pada malam itu adalah selain perkenalan dengan tiga belas mahasiswa baru juga membahas acara “welcome show”. Selain itu, para senior juga bersedia memperkenalkan diri. Untuk acara welcome show, sepertinya Indonesia kekurangan wakilnya, ditambah lagi tidak ada acara tari tradisional, yang ada hanya tari kontemporer.

Semoga ke depan ajang silaturahmi antar mahasiswa Indonesia di AIT berjalan dengan baik.

Akreditasi Jurusan Mesin dan Elektro S1

Hari ini berlangsung visitasi oleh asesor dalam rangka melengkapi proses akreditasi jurusan teknik mesin dan elektro. Para asesor berasal dari seorang profesor dari UGM dan profesor dan doktor dari Universitas Gunadarma (UG). Salah seorang asesor mesin, Prof. Ir. Jamasri, PhD, merupakan dosen saya ketika mengambil S1 Mesin di UGM dahulu. Baik jurusan mesin maupun elektro, baru pertama kali melaksanakan akreditasi, selain itu baru meluluskan beberapa mahasiswa saja. Pelaksanaan secara serentak baru pertama kali terjadi.

Ibu rektor UNISMA, Dra. Hj. Siti Nuraeni, M.Si, membuka acara visitasi dilanjutkan dengan langsung membahas borang 3B yang merupakan isian dari fakultas. Karena merupakan isian fakultas, maka antara Mesin dan Elektro digabung jadi satu. Salah satu kritik yang diberikan oleh asesor kepada fakultas adalah lemahnya SDM, terutama dosen yang belum bergelar doktor. Padahal saat ini mencari beasiswa lebih mudah di banding era 90-an ketika si asesor sedang mencari beasiswa. Selain itu, banyaknya SDM di jurusan mesin sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk studi lanjut beberapa dosennya tanpa mengganggu efektivitas perkuliahan. Mengenai masalah Sistem Informasi Manajemen (SIM), sepertinya tidak ada masalah karena web sudah berfungsi dengan baik.

Masuk ke borang 3A, pertanyaan-pertanyaan asesor sudah menjurus ke substansi dan lebih detil. Hal-hal yang menyangkut kemahasiswaan menjadi sorotan. Masih seperti dahulu ketika saya menjadi murid Prof Jamasri, pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya detil bertubi-tubi diberikan ke kajur mesin, Bp Ahsan. Jumlah mahasiswa, kuesioner, waktu tunggu mahasiswa, dan sejenisnya banyak yang harus direvisi.Acara ditunda karena bertepatan dengan pelaksanaan shalat Jumat di masjid Al-Fatah UNISMA.

Setelah shalat Jumat, acara dilanjutkan dengan mengunjungi peralatan pendukung akademik seperti workshop mesin, ruang dosen, ruang perkuliahan, dan lain-lain. Salah satu saran Mr Jam (panggilan Prof Jamasri ketika saya menjadi siswanya dulu) adalah bahwa dosen seharusnya memiliki ruang di laboratorium, tidak disatukan seperti ruang Sekolah Dasar (SD). Mengenai fasilitas praktikum dan ruang kelas, sepertinya tidak ada masalah dan dianggap sudah memenuhi syarat.

Problem keyboard pada Samsung Galaxy tab 10.1

Pada postingan yang lalu saya menyebutkan masalah yang ada pada keyboard Samsung Galaxy Tab (SGT) saya yaitu kerap ketika menekan tombol tertentu (biasanya huruf a) hasilnya tertekan terus seperti ini aaaaaaaaa. Beberapa trik sudah saya lakukan tetapi hasilnya tidak memuaskan. Dari mendownload bentuk tampilan keyboard baru di luar keyboard bawaan SGT, hingga mereset ulang perangkat ketika menancapkan keyboard doc, menginstall office android yang baru, tidak juga berhasil.

Beberapa waktu yang lalu karena sering meninggalkan SGT di rumah, dan dipakai oleh anak saya yang berumur 2 tahun, ketika pulang kerja saya dapati SGT saya “hang”. Sebelum hang saya perhatikan banyak musik keluar dari SGT. Kuat dugaan saya, seluruh aplikasi game, lagu, player, dijalankan dan tablet kehabisan memori. Terpaksa OS diinstal ulang, dan data-data yang belum sempat dibackup hilang semua. Saran saya, sebaiknya backup data Anda karena data terkadang lebih berharga dari tabletnya. Sempat saya menanyakan ke servis tablet apakah bisa diinstall OS terbaru (waktu itu Jelly bean) ke tablet saya, mereka menjawab tidak bisa. Akhirnya terpaksa diinstall OS bawaan SGT saya yaitu honeycomb.

Ketika selesai, ternyata rekan saya banyak yang OS-nya berubah dari honeycomb menjadi ice cream sandwich. Karena versi tabletnya sama (SGT 10.1) maka saya memberanikan diri untuk mengupgrade-nya. Caranya antara lain:
1. Masuk ke menu setting
2. Tekan about
3. Tekan update
Maka secara otomatis tablet akan mengupdate. Pertama-tama anda harus login/registrasi dulu tablet anda ke samsung (biasanya akan muncul otomatis, anda tinggal mengisi alamat email saja). Tahap pertama yang di donlot adalah perangkat keras / chipset sebelum mengupgrade OS. Beberapa kali restart terjadi, jangan lupa untuk tidak mematikan power, karena jika saat proses berlangsung tablet anda mati, jangan kecewa kalau OS anda rusak dan harus install ulang. Agar amannya, pastikan baterai terisi penuh, atau colok saja kabel daya ke tablet anda.

Tahap kedua adalah menginstall OS. Kalau mau nyaman sebaiknya gunakan Wifi karena untuk install OS, Anda perlu mendownload sebesar 200-an Mb dari situs Samsung. Kecuali Anda punya kapasitas pulsa yang besar (saya menggunakan tri, telkomsel, dan xl paket begadang). Jika sudah selesai mendownload, tekan tombol install ketika tablet menanyakan apakah upgrade diinstall sekarang. Tablet akan langsung menginstall OS, dan ternyata benar, OS saya langsung ke versi 4 yaitu Ice cream sandwich (ICS). ICS menurut saya lebih stabil dengan grafis yang jauh lebih baik.

Lama sudah keyboard doc tidak saya pakai (padahal harganya hampir 500 ribu), dan iseng-iseng karena banyak tugas yang membutuhkan mengetik biasa (tanpa rumus-rumus), saya coba pergunakan keybord itu. Saya coba OfficeSuite pro 7 saya (download dari apkmania), dan ternyata saya terkejut karena masalah yang dulu tidak terjadi lagi. Hmm .. ternyata masalah terselesaikan dengan sendirinya. Tadinya saya pikir karena software yang buruk, ternyata ketika saya pergunakan lagi software yang dulu (polaris office), hasilnya pun ok, tidak ada masalah. Semoga pengalaman ini bermanfaat.

Problematika Tri Darma Perguruan Tinggi

Beberapa hari yang lalu ada sosialisasi tentang jenjang kepangkatan dosen di lantai 3 rektorat. Satu hal yang menentukan kenaikan jabatan fungsional ternyata adalah aspek penelitian. Hal ini menjadi kendala bagi para dosen yang memang kebanyakan lebih suka mengajar dibanding meneliti. Peraturan tentang Tri Darma yang menambah aspek pengabdian dan penelitian selain pengajaran sebenarnya cukup baik dan inilah yang membedakan antara dosen dengan guru.

Beberapa kasus plagiarisme mengharuskan DIKTI melakukan syarat ketat mengenai penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal. Selain masalah akreditasi jurnal yang menerbitkan tulisan, juga sekarang beberapa penerbit jurnal mengejar agar jurnalnya terindeks di indeks terkenal di dunia antara lain SCOPUS dan Thomson.

Selain penelitian, hal penting lainnya adalah tingkap pendidikan yang harus menempuh S3 karena jika S2 kepangkatan akan terhenti di Lektor. Tentu saja syarat S2 harus terpenuhi. Dengan adanya aturan PERMENPAN tersebut dosen-dosen sekarang bergerak untuk mencari beasiswa agar bisa lanjut ke jenjang S3.

Begitulan jalan seorang Dosen, jalan yang harus ditempuh oleh seseorang yang ingin total berkarir sebagai dosen di suatu institusi pendidikan. Tidak ada jalan lain selain terus belajar. Semoga Allah ridha.

Masa SMA

Entah kenapa tiba-tiba Blackberry Messanger (BBM) saya berbunyi. Ternyata ada group baru yang mengajak saya untuk masuk ke group tersebut. Begitu bergabung, ternyata sudah puluhan anggota alumni SMA saya waktu di Yogyakarta dulu, dengan nama group-nya yang terkenal, “Delayota 95”. Artinya adalah, alumni SMA 8 Yogyakarta dengan tahun lulus 95.

Pikiran saya langsung menerawang ke masa lalu malam itu. Entah mengapa kelas satu dan kelas dua SMA adalah masa yang paling berkesan, dilihat dari sisi non akademik. Karena memang masa itu adalah masa yang dipenuhi oleh main-main dan becanda. Berbeda dengan kelas III yang harus memikirkan mau lanjut ke mana selepas SMA nanti.

Kelas II, Masa Paling Heboh

Berbeda dengan kelas satu, kelas dua terjadi percampuran antar kelas, sehingga banyak wajah-wajah baru bermunculan. Persaingan pun kian sulit karena jagoan-jagoan sudah mulai kelihatan. Ada yang kelihatan jago, tentu saja ada jagoan-jagoan yang sembunyi, baik karena merahasiakan, maupun karena nakal. Maklum kelas 2, penjurusan sudah tidak lagi, EBTANAS setahun lagi, jadilah si penggoda guru-guru. Apalagi guru-guru magang dari IKIP yang sedang belajar ngajar, habissss digodain.

Menggoda Guru-guru IKIP yang Sedang Magang

Berbeda dengan guru, calon guru terlihat masih kaku, dan masih ada dua sisi, yaitu dia sendiri masih belajar, sisi yang lain harus bisa mengajar. Sikap wibawa yang dibuat-buat, “jaim”, dan sejenisnya, tidak dapat menipu kami siswa-siswa kelas II yang memang lagi nakal-nakalnya. Teringat ketika salah seorang calon ibu guru, menjelaskan proses terbentuknya Delta sungai, Kesalahan fatalnya adalah gambar sungainya di papan tulis yang menyerupai buah dada. Teman saya yang memang berwatak mesum, nama aslinya saya lupa, panggilannya Balok (mungkin krn bentuk wajahnya kotak), langsung mengeluarkan siulan-siulan menggoda. Si calon guru, tentu saja merengut, dan sayangnya malah marah. “Fikiran kalian ternyata pada kotor ya”, katanya. Mungkin banyak teman-teman lain yang dalam hati menyalahkan si Balok itu, suasana kelas jadi tegang dan tidak nyaman. Pelajaran pun berlanjut, si calon guru kemudian menjelaskan terbentuknya delta itu dengan menghapus garis yang artinya terputusnya aliran sungai dan terbentuklah delta. Tapi apa yang terjadi berikutnya, dengan celetukan sederhana, “lhooo… Coplok (artinya: copot/lepas)”, seisi kelas jadi geger dengan tawa, termasuk rekan si calon guru yang duduk di belakang. Dan yang bikin kami tertawa adalah sikap reflek si calon guru yang berjilbab itu ketika mendengarkan celetukan si Balok, langsung menghapus apa yang baru saja dia gambar di papan tulis dengan tangannya. Bahkan ketika mengetik tulisan ini pun saya menahan tawa sendiri.


Hari berikutnya, calon guru yang berbeda, kali ini lumayan cantik, hanya saja kelihatannya judes, karena merasa diabaikan, sempat teriak, ” yang tidak suka, silakan keluar!!”, sambi menunjuk ke arah luar. Suasana hening mencekam. Tapi itu tidak berlangsung lama, rekan saya yang paling tinggi dan berbadan besar, panggilannya mas Kus, yang waktu itu ada angin apa kok duduk di kursi depan, dan ditengah pula, padahal biasanya di pojok belakang, mengacungkan jari secara perlahan sambil menunduk. Semua orang melihat dia, termasuk guru itu, tentu saja masih tanda tanya. “Saya suka kok bu. ….”, katanya sambil menunduk. Udah. .. Ga usah diceritakan suasanya hebohnya kayak apa. Bahkan sampai jam istirahat pun temen-teman saya banyak yang menyindir-nyindir si mas Kus tentang hal itu.

Kingsoft Office

Ini adalah salah satu aplikasi office untuk gadget android. Biasanya saya menggunakan polaris office untuk mengetik di android. Saya sering kali kecewa dengan kinerja polaris office yang kerap tiba-tiba hang dan kehilangan ketika yang telah saya ketik jika belum disimpan. Karena itu maka saya berusaha mencari aplikasi lainnya yang gratis di android market (sekarang bernama playstore). Baru saja saya searching, langsung muncul nama kingsoft office dengan bintang hampir lima, pertanda rating yang bagus untuk aplikasi ini. Setelah saya coba mengetik tulisan sepanjang enam halaman, tidak dijumpai hang seperti pada polaris office. Sehingga saya dengan nyaman mengetik tanpa dihantui oleh hang yang akibatnya kehilangan tulisan yang belum sempat saya simpan.
Kendala yang mengganggu pada kingsoft office adalah lambatnya tulisan ketika mengetik dan proses saving yang menurut saya terlalu lama. Sepertinya vendor harus memperhatikan hal ini. Walaupun tidak dijumpai hang seperti polaris office lamanya proses simpan ini tentu saja mengganggu pengguna. Sempat saya berfikir jangan-jangan hang juga, ketika di angka 90% proses saving seolah terhenti.

Kampus

Kehidupan kampus merupakan kehidupan yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Tidak ada jurang pemisah antara satu ideologi dengan ideologi lainnya, antara satu ras dengan ras yang lain, antara agama dengan agama yang lain, antara tua dan muda, dan tidak ada perbedaan gender. Siapa pun yang ingin memajukan ilmu pengetahuan bisa datang ke kampus untuk belajar baik berpartisipasi menjadi mahasiswa, menjadi pengajar, menjadi rekanan dalam hal riset, menyelesaikan masalah bersama-sama yang ada di dalam masyarakat, atau kerja sama yang lain asalkan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Kampus, yang saat ini bisa berupa universitas, sekolah tinggi, institut, akademi, dan sejenisnya bertebaran di muka bumi dan hampir ada di tiap negara. Era globalisasi, dengan perkembangan pesat dari internet, menyebabkan hubungan antara satu universitas dengan universitas yang lain menjadi sangat erat. Riset yang dilakukan oleh satu ilmuwan di suatu kampus langsung tersebar dan dapat diakses oleh seluruh ilmuwan di dunia. Selain lewat dunia maya, pertemuan-pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar, simposium, dan lain-lain, turut membantu menyebarkan hasil temuannya.

(Sumber: http://www.ugm.ac.id/en/?q=content/university-archive)

Sebagai pusat transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, etika, sopan santun, maupun aturan tidak tertulis yang mencirikan kita sebagai makhluk beradab tetap perlu dijaga. Salah satu syarat mutlak belajar adalah menghormati guru. Tidak mungkin kita belajar tanpa ada penghormatan terhadap guru. Hubungan murid dan guru tidaklah hubungan jual beli, si pembeli membayar dan si penjual memberi barang yang dibeli. Ketika saya kuliah di Universitas Gadjah Mada, saya mendapati lingkungan akademik yang memberikan kesempatan saya untuk menyerap ilmu apa saja yang tersedia. Sejak taman kanak-kanak kita sebenarnya sudah diajarkan untuk menghormati guru.

(Sumber: TKK Penabur)

Di luar negeri penghormatan terhadap dunia kampus sudah berlangsung lama. Di Eropa, keberhasilan revolusi industri diyakini akibat penghormatan berbagai pihak terhadap institusi pendidikan. Lulusan yang dikeluarkan oleh kampus tertentu sangat dihormati oleh masyarakat.

(Sumber: University of Cambridge Graduatiion)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini sudah bergeser dari kemahiran seseorang terhadap suatu ilmu menuju kolaborasi antara satu ilmuwan dengan ilmuwan lainnya. Tidak ada lagi manusia seperti Sir Isac Newton, Einstein, dan lainnya, yang mampu menemukan suatu ilmu dasar, atau memiliki kemampuan dalam segala hal. Kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama antara sesama perisat harus diasah semenjak di bangku kuliah. Salah satu syarat ilmiah seperti kejujuran, harus terus dijaga, dan perlu tindakan tegas terhadap segala jenis plagiasi atau aksi menyontek di kalangan mahasiswa.

Mahasiswa, dengan statusnya yang berbeda dengan siswa karena tambahan ‘maha’ di depannya sebaiknya sadar, dan jangan malah merasa ‘Super’, selalu benar. Justru mahasiswa harus menunjukkan kelebihannya yang positif dibanding siswa. Tunjukkan kepada masyarakat bahwa mahasiswa adalah agen perubahan di masyarakat dan bangsa Indonesia yang kita cintai.

Problem Keyboard Doc Samsung Galaxy – Final

Selamat hari raya idul fitri 1433 H bagi yang merayakannya, untuk masyarakat Bali, selamat merayakan Galungan dan kuningan. Lama juga saya meningalkan dunia blog, karena banyaknya aktivitas riset yang saya harus jalani (hibah bersaing dan dua jurnal internasional yang akan saya jalani di Bandung dan Jakarta). Seperti pada tulisan yang terdahulu mengenai masalah pada keyboard doc di SGT 10.1 yakni kerap tertekan terus saat menekan tombol akhirnya terbongkar sudah.

image

Karena sibuk mengurusi kebutuhan rumah tangga ketika si pembantu pulang mudik mau tidak mau saya harus bekerja on-off. Maksudnya ngetik sambil mencuri-curi waktu. Maklum anak saya yang berumur hampir dua tahun november nanti suka mengganggu ketika saya mengetik di laptop. Salah satu keunggulan dari tablet adalah kapan pun dapat mengetik seperti handphone, tinggal pencet langsung on tanpa perlu booting terlebih dahulu. Ternyata jawaban masalah itu adalah

BOOT TABLET SAMBIL KEYBOARD DOC MENANCAP

Sederhana jawabannya. Mungkin pembaca banyak yang heran apa bagusnya sih tablet, kalo mau ngetik kenapa ga di laptop saja? Jawabannya sederhana, saya gemar membaca. Lebih nyaman membaca di tablet dibanding di laptop. Terus terang, bacaan saya saat ini kebanyakan kalo nggak ebook ya internet. Dengan berat kurang dari satu kg, tangan tidak pegal ketika baca sambil tiduran. Selain itu saya bisa baca kapanpun mengingat tidak perlu booting dan shutdown baik saat mulai dan selesai membaca.

Salah satu keunggulan yang lain adalah sistem operasi android yang gratis. Terus terang harga lisensi windows cukup mahal, dan kalo menggunakan yang bajakan sepertinya kurang berkah. Dari buku yang saya buat setelah saya ingat-ingat ternyata waktu mengetik menggunakan sistem yang berlisensi. Dan ketika menggunakan sistem bajakan, entah mengapa otak saya buntu ketika nulis. Tetapi ketika menggunakan sistem operasi android yang free anehnya saya lancar menulis (boleh percaya boleh tidak). Ingat, hukum karna berlaku juga di dunia IT lho. …

Cao. ..

Lanjutkan membaca “Problem Keyboard Doc Samsung Galaxy – Final”

Agar Scanner UMAX astro 5600 bisa Jalan di Windows 7

Kira-kira tujuh tahun yang lalu saya menukar monitor philips 14″ saya dengan scanner UMAX astro 5600 milik kakak saya. Waktu itu memang pengguna scanner hanya orang yang bisnis setting/percetakan dan sempat pertukaran itu ditentang oleh istri saya. Tetapi karena niatnya untuk membantu kakak saya yang waktu itu berhenti bisnis setting dan percetakannya untuk melengkapi perangkat desktop yang tidak ada monitornya akhirnya terjadilah pertukaran itu.

Seiring dengan berjalannya waktu ternyata scanner kian lama kian dibutuhkan. Institusi yang terlibat dengan kerja saya dan istri (sebagai dosen) sudah beralih ke bentuk digital. Terakhir, saat pengajuan perubahan jabatan fungsional dan sertifikasi dosen, banyak file-file hasil scan yang harus diupload. Dan ternyata scanner yang dulu jarang dipakai sekarang jadi banyak dipergunakan.

Masalah muncul ketika laptop berganti dari celeron ke i3 yang wajib menggunakan sistem operasi windows7. Disebut wajib karena saya sempat menginstall xp di i3 saya dan terkejut ketika melihat kinerja laptop yang turun drastis, jauh di bawah windows7. Setelah windows7 diinstall saya terkejut ketika scanner UMAX saya tidak bisa diinstall. Saat saya searching di internet hingga tulisan ini dibuat, belum menemukan juga drivernya. Banyak komentar-komenter di milis yang menanyakan dimana bisa mendownload driver scanner “aneh” itu, bahkan saya bersedia beli jika memang ada (maklum, pecinta kabel = kagak beli, J). Dan yang paling mengejutkan adalah jawaban dari situs resmi UMAX yang tidak menyediakan driver untuk UMAX seri 5600 untuk windows 7.

Untungnya saya sempat membaca saran dari milis untuk menggunakan vmware. Kebetulan saya juga pengguna vmware (untuk dipakai LINUX dan software-software jadul). Saya install di pc virtual vmware dengan windows xp dan driver UMAX. Ketika akan menscan, saya gunakan pc virtual itu, beres sudah J.