Menghormati Orang Lain .. Wajib di Era Informasi

Saat munculnya media sosial, dimulai oleh milis dan obrolan macam-macam sejenis kaskus hingga facebook, twitter, dan instagram, dimulailah era informasi. Istilah nitizen terbentuk, gabungan dari kata internet dan citizen, yang artinya warga yang berinteraksi lewat media online (internet). Terakhir dengan bantuan “internet of things”, aplikasi-aplikasi online ditawarkan dan membentuk “pasar baru” yang dikhawatirkan pelaku bisnis existing yang masih menerapkan proses bisnis konvensional.

Pengakuan Terhadap Aplikasi Online

Pertama kali logo grab saya lihat menempel di taksi konvensional yang ada di Thailand, tempat saya studi lanjut, kira-kira tiga/empat tahun lalu. Saya hanya berfikir itu sekedar aplikasi bantuan untuk memesan taksi. Kemudian ketika beberapa kali “mudik” ketika libur kuliah, banyak ojek-ojek berwarna hijau dan orange berseliweran. Barulah saya berfikir ini merupakan proses bisnis baru, karena ada aplikasi dan seragam. Akhirnya muncul bentrokan-bentrokan akibat ojek pangkalan yang merasa diambil rejekinya. Terbesar adalah ketika perusahaan taksi ternama demo besar-besaran dengan aksi pengrusakan terhadap mobil-mobil yang diduga beroperasi sebagai taksi online. Walaupun ada aturan-aturan dari pemerintah, seperti kendaraan roda dua yang tidak boleh jadi angkutan, dan aturan-aturan lain yang bermaksud membatasi ojek dan taksi online, tetap saja, konsumen adalah raja.

Ketika dua bulan yang lalu tiba di bandara, kaget juga plang iklan “grab” tampil mendominasi. Sempat heran juga, padahal masih ingat berita viral di internet ketika aksi sweeping taksi online terjadi di bandara. Sampai ada yang pura-pura memesan taksi online sebagai perangkap. Saya sempat “kecele” juga ketika memesan grab di terminal DAMRI dengan berjalan keluar beberapa puluh meter. Ternyata taksi online itu menunggu persis di pinggir jalan terminalnya. Si supir mengatakan bahwa saat ini sudah tidak ada masalah menerima penumpang di terminal. Padahal dulu istri dan adik ipar ketika memesan taksi online di terminal sempat dimaki-maki supirnya oleh taksi pangkalan terminal itu. Sekali lagi .. konsumen adalah raja.

Perilaku Driver Ojek/Taksi Online

Di awal-awal memang banyak pengemudi yang kurang baik. Walaupun tetap saya beri bintang yang baik, mungkin karena tidak semua orang punya rasa kasihan seperti saya, sepertinya supir-supir selebor mulai tersisih. Bahkan makin lama, driver sopan dan ramah banyak dijumpai, juga tentu saja sabar dan taat dalam berlalu lintas.

Akhirnya saya sempat juga merasakan naik ojek online ke terminal DAMRI karena bawaan sedikit (biasanya taksi online). Sialnya ketika itu ada acara sepakbola di stadion patriot Bekasi, dan yang tanding tim “orange”, macet dah. Ketika ojek ingin memutar balik, repot juga ternyata. Baru saja moncong motor mau berbelok ke kanan, mobil-mobil yang keren-keren tidak memberi jalan, bahkan merapatkan dengan mobil di depannya. Salut juga saya dengan skill “pelit-nya”, dengan level akurasi yang beberapa senti saja dengan mobil di depannya. Sebaliknya saya salut dengan kesabaran driver ojek yang menanti beberapa saat lamanya hingga ada supir mobil yang mempersilahkan kami melintasi untuk memutar balik, padahal waktu itu lalu-lintas padat merayap dan melata.

Di era online, memang kita tidak tahu pasti dengan siapa kita berpartner dan berbisnis. Apakah itu dengan orang yang beraliran politik sama dengan kita atau tidak, seagama dengan kita atau tidak, pribumi atau non-pribumi (kalau memang ada), dan perbedaan-perbedaan lainnya. Si driver ojek online tidak marah denga si pengendara mobil yang “pelit”, bahkan dibalas dengan senyuman. Karena bukan tidak mustahil, si supir mobil itu jadi pelanggannya. Siapa tahu karena macet dia pesan gojek, grab, atau uber. Bahkan si mobil yang baik hati memberi jalan, bisa saja baik karena sering memakai jasa ojek online.

Perilaku dalam Ber-Online

Melihat perilaku pelaku bisnis online yang mulai respek terhadap orang lain, sebenarnya dapat kita contoh. Apa yang telah kita ekspresikan baik lewat video, tulisan, dan lain-lain lewat online tidak dapat kita tarik kembali. Istilah “viral” akan meminimalisir perilaku selebor yang ada di lapangan oleh rakyat, apalagi pejabat publik. Sangat mudah dan praktis, jika tidak suka dengan obrolan atau status rekan kita, tinggal unfollow saja .. bahkan bila perlu “unfriend”. Tidak ada dendam dan sakit hati lagi. Bahkan kabarnya ada perusahaan di negara tetangga kita yang menyeleksi calon karyawan dengan membaca statusnya di media sosial. Jadi berhati-hatilah, bisa saja yang tersinggung calon nasabah/rekan/partner bisnis kita. Rugi kan kalau lepas.

Beberapa waktu yang lalu saya kecewa dengan situs layanan “cloud” gratis yang karena tidak aktif, akun saya diblok. Tidak masalah sih sebenarnya. Saya cuma iseng, mengirim email keberatan, dan walau tidak ada keinginan untuk minta dibuka, terus saja saya diemail untuk dibujuk aktif lagi. Tapi ya begitulah, sekali konsumen kecewa, ya beralih, era online banyak memberikan tawaran dan pilihan. Yang membuat cepat, transparan, banyak pilihan, praktis .. akan dipilih konsumen. Saya jadi ingat, warung masakan padang ternyata sejak dulu menerapkan prinsip online, “kalau tidak puas katakan ke kami, tapi kalau puas bilang ke orang lain” .. alias “viral-kan” yang baik-baik saja.

Sharing

Diawali dari sharing informasi, saat ini sharing economy mulai merebak. AirBnB, Gojek, Grab, dan aplikasi-aplikasi online menerapkan “mahdzab” sharing. Motor, mobil, rumah, kamar, bor, sapu, dan benda-benda lain bisa dimanfaatkan (sharing) oleh orang lain dan sama-sama untung, ketimbang mubazir tidak dipakai. Google, Facebook, Youtube, dan lain-lain yang terkesan menggratiskan ternyata malah kian maju. Oleh karena itu silahkan sharing sebisanya, jangan sharing yang negatif atau menyinggung orang lain, karena kita tidak tahu dengan siapa nanti berbisnis, berpartner, bekerja, dan bersosialisasi. Untuk rekan dosen dan pengajar, juga para lulusan baru .. yuk sharing ilmu.

Siap Berubah .. Terpaksa atau Tidak

Dalam catur ada istilah “inisiatif” yaitu kondisi sebelum sampai ke tahap menyerang. Kondisi ini mirip dengan keseharian kita dimana inisiatif cenderung bermakna aktif dan dinamis. Selain itu ada keinginan untuk berubah dari kondisi saat ini ke kondisi yang lebih baik. Prof. Max Ewe, mantan juara dunia catur dari Belanda, mengatakan untuk menjadi inisiatif harus mampu membaca “ciri” yang ada dalam suatu bangunan. Mengetahui ciri tersebut membutuhkan kemampuan membaca, bukan hanya membaca tulisan tetapi membaca lewat media lainnya seperti melihat, mengamati, menganalisa dan sejenisnya.

Prof. Edi, rektor UDINUS Semarang, dalam rakornas APTIKOM 2017 di Papua berbagi pengalamannya. Salah satunya adalah bagaimana proses terbentuknya televisi kampus. Waktu itu ada dosen baru lulusan luar negeri jurusan telkom tetapi ditunjuk menjadi dekan sastra. Mirip yang terjadi di kampus saya (hanya bukan luar negeri). Unik juga mengapa dia tidak ditempatkan di jurusan yang sesuai: yaitu karena tidak ingin menyingkirkan yang lama. Tapi ternyata dosen baru itu bisa berkreasi sesuai dengan pengamatan dia ketika kuliah di luar negeri. Mengapa alumni luar negeri memiliki ke-khas-an tersebut? Mungkin analisa Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya, disruption, bisa menjelaskan.

Kontras & Konfrontasi

Untuk berubah diperlukan kontras dan konfrontasi. Kontras maksudnya adalah perbedaan antara kondisi existing dengan kondisi lain yang lebih baik. Tentu saja tidak bisa dengan hanya menjelaskan, perlu diajak melihat langsung kondisi lain. Video saja tidak cukup. Mengapa piknik/traveling tetap laris walaupun video di youtube sudah banyak yang merekam obyek-obyek wisata. Terkadang kenyamanan yang ada membuat kita merasa nyaman dan tidak ingin berubah karena merasa kita adalah yang terbaik. Hingga tersadar ternyata daerah lain sudah memakai baju dan celana, sementara kita masih menggunakan kolor akibat terisolir.

Terkadang hanya beberapa orang yang memahami perlunya perubahan. Oleh karena itu diperlukan kontras agar orang lain bisa melihat perbedaan yang ada. Jika orang tidak melihat adanya manfaat atau keuntungan dari perubahan, maka tidak akan terjadi perubahan yang diinginkan. Selain itu, kontras belum tentu bermanfaat jika hanya dilihat sekilas saja. Konfrontasi diperlukan untuk memperbanyak frekuensi dari kontras. Orang butuh berkali-kali melihat kontras sebelum mau berubah. Prinsip-nya mirip iklan di televisi/radio. Di kampus yang dosennya enggan studi lanjut, ketika ada seorang dosen mudah yang berangkat kuliah, mungkin menciptakan kontras. Tetapi jika hanya seorang saja yang berangkat, konfrontasi tidak terjadi, mungkin saja mereka menganggap hanya anomali saja. Tetapi jika banyak yang berangkat, maka kontras akan menjadi bermakna sehingga kesadaran untuk “upgrade” terjadi dengan dilanjutkan dengan “bergerak”. Perubahan memerlukan tahapan: kesadaran, bergerak, dan finish. Tanpa ketiganya, masih dikatakan belum berubah.

Apa yg dilakukan dan Bagaimana melakukannya

Satu lagi konsep yang diperlukan dalam membuat perubahan adalah apakah sudah tepat “apa yg dilakukan” dan “bagaimana melakukannya”. Hanya fokus ke salah satunya saja tidak akan membuat kemajuan yang berarti. Kabarnya banyak perusahaan yang excelent dalam “bagaimana melakukannya” tetapi tidak memperhatikan “apa yg seharunya dilakukan” saat ini hancur. Mungkin tidak ada yang salah dalam “bagaimana melakukannya” pada taksi konvensional, tetapi karena tidak bisa mengantisipasi “apa yang harus dilakukan” berakibat fatal juga ternyata, diserang taksi online. Sebaliknya, telkom bagus baik dalam “bagaimana melakukan” maupun dalam “apa yg harus dilakukan” sehingga mampu mengantisipasi trend perkembangan komunikasi yang tanpa kabel dengan fasilitas digitalnya. Mungkin kita sudah baik dalam mengelola suatu institusi, misalnya kampus, tetapi belum tentu baik dalam mengerjakan “apa yang seharusnya”. Dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi saat ini, dibutuhkan pula orang-orang bertipe “driver”, agen perubahan (bukan hanya penumpang, apalagi penumpang gelap). Terkadang perlu “piknik” keluar, baik studi banding, atau mengundang pihak luar datang, untuk menggali “kontras”. Sehingga tidak terjebak dalam rutinitas “business as usual” yang kata orang jawa “ngono-ngono tok” (itu-itu aja) serta terbuai dengan kenyamanan yang ada. Kata para profesor lho …

Waterfall, Iteration, atau Metode Extreem/Agile dalam Menulis dan Revisi

Bagi rekan-rekan yang berkecimpung dalam dunia IT pasti mengenal metode waterfall, iteration atau Extreem/Agile. Metode-metode tersebut diterapkan dalam perancangan perangkat lunak dan analisa & disain. Namun demikian, saya kerap menerapkannya dalam menulis, baik buku, paper imiah, maupun sekedar postingan di blog. Di antara metode-metode tersebut, manakah yang cocok dengan Anda? Mungkin postingan ini bisa sedikit membantu.

Waterfall

Waterfall artinya air terjun. Jadi metode ini menggunakan prinsip air terjun yang jatuh dari atas ke bawah. Menulis dengan metode waterfall berarti menulis secara cepat, tanpa memperhatikan tata bahasa, mengikuti ide yang ada di kepala. Ketika selesai 100% barulah proses editing dimulai. Kesalahan-kesalahan kecil, salah ketik (typo), maupun salah komposisi (letak kalimat dan paragraf) diperbaiki setelah semua ide dituangkan dalam tulisan. Banyak tips dan trik menulis yang saya terima menganjurkan metode ini, sangat cocok sebagai pemula yang terkadang “bengong” ketika di depan laptop. Fokus menuangkan ide menjadi dasar utama, apalagi bagi pemula yang jarang menulis. Re-writing menjadi wajib bagi yang menerapkan metode ini.

Kelebihan waterfall yang mengalirkan tulisan dengan lincah terkadang menyulitkan penulis buku yang tebal. Tidak mungkin lagi mengecek tulisan dari awal. Bayangkan saja berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengecek lagi. Skimming mungkin bisa, tetapi jika mengecek dengan teliti hingga di level tata bahasa, sangat memberatkan, kecuali memang ada bagian yang mengoreksinya. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pun dalam kata pengantar buku “di bawah bendera revolusi” disebutkan bahwa ketika beliau menulis buku tersebut (kumpulan tulisan) mengatakan tidak sempat lagi membaca ulang kembali apa yang ditulisnya. Kemungkinan besar beliau menggunakan metode iterasi, yang merupakan perbaikan dari metode waterfall dalam perancangan sistem.

Iteration

Metode iterasi menerapkan perulangan (iterasi) dalam proses pembuatannya. Ide-nya adalah merubah sesuatu ketika masih sederhana lebih mudah dibanding jika sudah kompleks. Termasuk juga mengoreksinya dan mengujinya. Tentu saja mengecek perbab lebih enak dibanding per-buku. Ketika menulis disertasi, yang paling melelahkan adalah ketika mengoreksi seluruh isi disertasi. Metode iterasi ini digunakan dengan cara ketika selesai satu bab, langsung koreksi bab yang baru saja ditulis. Terkadang bukan hanya satu bab, satu paragraf pun langsung dikoreksi ketika selesai dibuat. Terkadang kesalahan logika bisa ditemukan sebelum terlanjur, misalnya ternyata paragraf yang baru ditulis salah tempat atau kurang cocok di bab/sub-bab yang sedang digarap.

Jika seluruh tulisan selesai dibuat, mengoreksi tulisan yang dibuat dengan metode iterasi ini lebih cepat dan mudah dibanding mengoreksi tulisan yang dibuat dengan waterfall yang masih banyak salah di sana sini. Bahkan bisa hanya dengan “skimming”. Tentu saja konsep re-writing tetap diterapkan walau menulis menggunakan metode iterasi.

Extreem/Agile

Pernah dalam satu semester saya mengikuti kuliah web development dengan ruby and rails. Metode yang digunakan adalah dengan extreem/agile. Metode ini berfokus menghasilkan satu aplikasi dengan cepat. Berbeda dengan iterasi yang hanya perulangan beberapa milestoon/tahap dalam waterfall, extreem/agile menggabungkan beberapa tahap dalam proses pengembangannya. Ketika proses pembuatan proyek, ada fasilitas bantu yang berupa testing. Jadi testing dapat dilakukan sebelum software selesai dibuat. Metode ini bisa cepat karena dibuat “keroyokan” dengan alat bantu versioning. Rollback ketika new version gagal dengan mudah dan aman dilakukan.

Dalam hal menulis, banyak alat bantu yang bisa digunakan. Misalnya spelling and grammar check yang tersedia di wordprocessing yang digunakan. Aplikasi seperti grammarly terkadang bisa mendeteksi bukan hanya salah ketik, melainkan juga tata bahasa (singular, plural, atau completion). Satu tool yang saat ini mutlak diperlukan dalam publikasi ilmiah adalah cek plagiarisme. Beberapa software bisa digunakan untuk itu, seperti turnitin, plagscan, smallseotools, dll (lihat post sebelumnya). Untuk menulis “keroyokan”, penerapan cloud seperti google drive/one drive bisa juga diterapkan, termasuk menu review di mirosoft word.

Mungkin ide dalam postingan ini aneh bagi Anda, tetapi di jaman “disruption” yang melibatkan multi/interdisiplin dalam berbagai bidang, penerapan satu metode di luar domain ilmu sudah biasa dilakukan. Yang background-nya IT, tidak ada salahnya menerapkan metode-metode orang IT untuk hal-hal tertentu. Siapa yang “rigid”/kaku/radikal siap-siap akan ditinggalkan.

Sampai Jumpa SAPTO, Selamat Datang SALAM Infokom

Ada tiga klinik di acara rakornas APTIKOM tanggal 2-4 November yang lalu: Akreditasi, SKKNI, dan Tips n Trik Publikasi Ilmiah. Klinik di sini maksudnya adalah seperti workshop, penjelasan dan praktek (kalau ada). Di antara ketiga-nya saya memilih akreditasi karena ini merupakan yang tidak saya mengerti. Pembicaranya ada dua orang: Prof. Sri Hartati dari ILKOM UGM dan Dr. Prihandoko dari Gunadarma.

Akreditasi yang saat ini dilakukan oleh badan akreditasi nasional (BAN) perguruan tinggi (PT), atau disingkat BAN-PT bermaksud mengecek apakah suatu PT dan prodi-nya mengikuti standar yang ada. Pemerintah bermaksud memberi rasa aman dan nyaman) kepada masyarakat. Selain status antara terakreditas atau tidak terakreditasi, status terakreditasi terbagi lagi menjadi A, B, dan C yang nanti akan diubah menjadi Unggul, Baik sekali, dan Baik. Hanya penamaan saja agar terlihat sopan dan tidak terkesan memberi nilai. Jadi ingat ketika akreditasi di tempat saya bekerja yang asesornya dulu dosen saya ketika S1 di UGM. Selalu saja saya mendapat nilai C dari nya, dan ketika akreditasi pun dapat C .. alamak. Dengan kriteria yang baru sepertinya lebih manusiawi dan tidak merendahkan. Oiya, kabarnya prodi yang dapat B dan C masih dominan (sekitar 80%).

Pentingnya Akreditasi

Akreditasi merupakan aspek penting dalam penyelenggaraan perkuliahan di PT. Penting karena menurut UU No. 12/2012 terutama pasal 28 ayat 1, perguruan tinggi yang tidak terakreditasi tidak boleh meluluskan mahasiswanya. Maksudnya, ketika meluluskan mahasiswa, SK akreditasi harus masih berlaku. Oleh karena itu diharapkan enam bulan (untuk amannya satu tahun) sebelum habisnya SK, kampus segera melakukan re-akreditasi. Tantangan yang dihadapi BAN-PT dalam akreditasi adalah jumlah PT dan prodi yang banyak dan secara geografis tersebar luas.

SAPTO

Untuk menghadapi tantangan jumlah prodi dan PT yang banyak, Ristek-Dikti mengajukan sistem akreditasi PT online atau yang dikenal dengan nama SAPTO. Sistem ini untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam sistem manual. Salah satu masalah yang diatasi dengan SAPTO adalah integritas data. Tidak ada entry data ulang dalam SAPTO sehingga terhindar dari human error. Bahkan sistem akan memberitahu jika ada inputan data yang kurang (dari file excel yang disubmit). Selain itu SAPTO terintegrasi dengan pangkalan data DIKTI (informasi tentang dosen dan mahasiswa). Hanya saja SAPTO membatasi ukuran file maksimal 25 Mb. Oleh karena itu sebaiknya jangan terlalu banyak gambar (yang penting-penting saja). Silahkan yang ingin latihan, SAPTO menyediakan latihan onlinenya: https://sapto-dev.banpt.or.id/sapto/public/.

SAPTO akan dijalankan Januari 2018, namun masih diberi toleransi 6 bulan hingga Juni 2018. Selain sistem yang online, SAPTO berbeda dengan sistem akreditasi sebelumnya. Jika paradigma akreditasi sebelumnya berdasarkan input, proses, dan output, SAPTO menerapkan prinsip proses, output, dan outcome. Tidak lagi dituntut berapa jumlah buku di perpustakaan, ruangan dosen, dan sejenisnya, melainkan berapa jumlah buku yang dipublikasikan oleh dosen, dan kinerja (output) lainnya. Outcome berbeda dengan output. Analoginya adalah, jika makan outputnya kenyang, maka outcome-nya adalah sehat.

SALAM Infokom

Sepertinya sistem akreditasi BAN-PT terus berbenah. Selain berbenah, ternyata Ristek-Dikti menawarkan untuk akreditasi lewat jalur mandiri yang dikenal dengan istilah lembaga akreditasi mandiri (LAM). Yang saat ini sudah berjalan adalah LAM PTKes untuk kampus-kampus bidang kesehatan. Walaupun ada keluhan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk akreditasi cukup besar (sekitar 80 juta-an), tetapi bidang-bidang lainnya seperti teknik, dan informatika & komputer (infokom) siap diluncurkan. Salah satunya adalah LAM Infokom untuk bidang infokom, yang kabarnya akan diberi nama SALAM Infokom. Selain terpisah dengan BAN PT, SALAM Infokom juga memiliki sistem informasi tersendiri. Sistem yang dirancang akan obyektif, bahkan antara PT yang diakreditasi dengan asesor tidak bisa dijadwalkan karena sistem yang akan menentukan (asesor maupun anchor asesor-nya). Harapannya dapat subsidi dari pemerintah sehingga biaya akreditasi (ditanggung kampus yang akan diakreditasi) bisa ditekan atau bahkan gratis.

Peran APTIKOM

Saat ini LAM Infokom masih digodok, kabarnya sudah 95% selesai. Kata pembicara, diibaratkan wanita yang hamil tua. Yang merumuskan adalah dosen-dosen yang tergabung dalam asosiasi PT infokom (APTIKOM). Karena APTIKOM terlibat dalam LAM sebaiknya PT yang memiliki bidang infokom di dalamnya aktif dan menjadi anggota APTIKOM. Berbeda dengan akreditasi yang hanya menilai, LAM berfungsi juga sebagai pendamping dan pembimbing. Pendampingan berada di posisi ketika PT mensubmit data-data akreditasi secara online, jika ada yang kurang akan “dipaksa” melengkapi agar tidak gagal nantinya. Jika berkas yang disubmit OK, maka ada proses pembimbingan setelah asesmen lapangan (AL)/visitasi. Misal jika ada nilai lemah di bidang tertentu seperti kurikulum, performa publikasi, dan lain-lain, maka ada proses pembimbingan dari LAM. Jadi jangan main-main sama APTIKOM (yang baru saja melaksanakan rakornas di Papua).

Komponen Penilaian

Komponen penilaian yang berisi butir-butir beserta bobotnya masih terus disempurnakan. Sebagai bocoran, ada sekitar 9 kriteria umum beserta bobotnya. Selain itu ada satu kriteria berisi evaluasi diri, sehingga total ada 10 kriteria. Masing-masing kriteria diberi nilai dari A, B, C, hingga D. Peringkat atau hasil evaluasi ada tiga: unggul, baik sekali, dan baik. Mirip dengan terakreditasi A, B, dan C yang dikenal selama ini.

Peringkat “unggul” dicapai ketika jumlah nilai A (tidak ada D), nA = 8. Untuk peringkat “baik sekali” dicapai jika nilai A dan B (nA+nB) tidak kurang dari 6, sementara jika kurang dari 6 peringkatnya menjadi “baik”. Mungkin sampai sini dulu, karena SALAM Infokom masih dalam proses penggodokan. Semoga bermanfaat.

RAKORNAS APTIKOM 2017

Baru kali ini saya mengikuti acara rapat kerja nasional (rakornas) asosiasi perguruan tinggi informatika dan komputer (APTIKOM) tahun 2017. Keikutsertaan saya karena mewakili pejabat (ketua jurusan) teknik komputer di kampus saya yang tidak bisa hadir dan juga karena saya sekalian presentasi seminar internasional ICIC 2017 yang menyertai acara tahunan itu. Alhamdulillah, paper yang saya buat diajukan untuk dipublish di jurnal internasional terindeks scopus. Postingan ini tidak bercerita hal-hal teknis dan akademis melainkan suasana di rapat kerja tahunan asosiasi tersebut.

Seminar ICIC 2017

Judulnya sih biasa-biasa saja, tetapi di lapangan sungguh luar biasa. Bayangkan, peserta yang hadir banyak yang doktor dan profesor, sementara saya masih menanti disertasi yang rencananya dikoreksi profesor dari nagoya univ. Berikut yang terasa dari acara yang baru pertama kali saya ikut.

Antara “pe-de” dan minder

Jangan terlalu percaya diri dan jangan pula terlalu minder, biasa saja. Itulah nasihat yang bisa dicoba saat ini. Mengapa? Untuk menjawabnya bisa mundur jauh beberapa tahun ke belakang. Di era 90-an dan awal 2000-an pakar-pakar IT masih sedikit dan cenderung didominasi oleh pakar tertentu dan kampus tertentu saja. Saat ini ketika perkembangan IT yang merambah ke mana-mana dan membuat heboh dan tumbangnya raksasa-raksasa bisnis, tidak ada satu pakar pun yang menguasai seluruh ilmu informatika dan komputer (infokom). Tiap orang yang menggeluti IT memiliki kelebihan khusus yang tidak dimiliki oleh orang IT yang lain. Bukan maksudnya menghibur diri, tetapi memang demikian.

Minder karena masih master atau bahkan sarjana? Sepertinya tidak. Jika memiliki kualifikasi keahlian level 9, seorang Susi Pudjiastuti yang hanya tamatan SMP setara dengan gelar doktor. Sarjana dan master “jaman now” sebaiknya memperhatikan hal itu, kecuali tentu saja yang memang berniat kuliah lagi ke jenjang doktoral.

Semoga bisa ketularan

Minder karena homebase di kampus-kampus level bawah? He he .. nyindir diri sendiri. Tetapi saat ini orang melihat kepakarannya bukan homebase-nya. Kalo tidak percaya searching saja di “forlap” Dikti homebase pakar2 IT, pasti banyak yang dari kampus biasa saja. Tapi kebanyakan sih dari kampus ternama, tapi setidaknya orang melihat kepakarannya bukan kampus tempat dia bekerja, apalagi status kepegawaiannya.

Terlalu percaya diri karena jago bahasa pemrograman tertentu atau bidang tertentu? Nanti dulu. IT itu bidang yang dinamis dan cepat sekali usang. Tadinya cloud computing, ternyata saat ini diambil alih oleh internet of things. Banyak anak-anak ABG yang bergelar doktor baru dan memiliki keahlian-keahlian tertentu yang bikin mulut saya mangap, he he.

Antara temuan dan terapan

Seperti disebutkan dalam buku disrupsi karangan Rhenald Kasali, bahwa perkembangan IT ada dua jenis yaitu dari nol ke satu dan dari satu ke-n. Beberapa ahli IT bermain di nol ke satu, dalam artian menemukan hal-hal baru. Bukan hanya ahli dalam artian individual, bisa juga korporasi seperti facebook, google, amazon, dan raksasa-raksasa IT menemukan “mainan” baru (nol ke satu). Beberapa orang IT bermain di sisi satu ke-n, dalam hal ini menyebarkan temuan-temuan dari orang yang bermain nol ke satu. Grab, gojek, bukalapak, dan sejenisnya memainkan perang dari satu ke-n. Termasuk yang mengembangkan ilmu-ilmu non infokom dengan bantuan infokom, seperti e-learning, sistem informasi geografis, kedokteran, dan lain-lain. Riset terkini bermain antara temuan dan terapan. Oiya, tidak ada pertanyaan “bodoh” dalam bidang terapan. Justru para peneliti menggandeng pertanyaan-pertanyaan yang bisa dikategorikan “Aset” itu. Aset karena bisa dijadikan sumber inspirasi yang terkadang tidak mungkin menjadi mungkin. Facebook, twitter, instagram, hingga grab dan gojek, mungkin berasal dari pertanyaan2 aneh pengguna.

Dengan Prof Tedi Mantoro, masih jago bahasa Thai-nya

Menurunnya persaingan antar lembaga

Berbeda di era 90-an dimana antar kampus saling bersaing, dan terkadang sikut-sikutan, saat ini sepertinya mereka berangkulan. Perpindahan dosen dari satu kampus ke kampus lainnya pun biasa terjadi dan tidak ada benci dan dendam, biasa saja. Mungkin kesadaran akan ketertinggalan dalam hal riset dengan negara tetangga merupakan satu pemicu. Memang sudah jadi tuntutan antara peneliti dari Indonesia saling dukung mendukung (riset lanjutan), ditandai dengan saling sitasi antara sesama peneliti tanah air. Dulu mungkin gengsi atau menganggap saingan/kompetitor jika mensitasi rekan sendiri, saat ini tidak lagi, karena negara lain sudah tidak menganggap rekan sesama peneliti sebagai saingan. Heran juga saya melihat h-index jurnal di kampus yang masih nol dan bahkan tanpa ada yang mensitasi, padahal ketika saya lihat isinya ga jauh berbeda satu sama lain. Harusnya riset terdahulu terus dikembangkan, apalagi jurnal-jurnal lokal yang berisi hasil penelitian mahasiswa dimana junior cenderung melihat hasil seniornya.

Lembaga akreditasi mandiri

Selama ini kampus diakreditasi oleh badan akreditasi nasional (BAN) PT. Satu bidang, misalnya kampus kesehatan, sudah tidak diakreditasi lagi oleh BAN PT, melainkan oleh lembaga akreditasi mandiri (LAM) Kesehatan. Dan untuk bidang infokom, sudah 95% LAM infokom siap dijalankan yang artinya siap mengucapkan selamat tinggal ke BAN PT dengan aplikasi online-nya (SAPTO).

Jadi ketika yang mengakreditasi berasal dari asosiasinya sendiri, sepertinya akan mengakomodir kebutuhan bidangnya masing-masing. Tidak ada gunanya sikut-sikutan, rugi sendiri seperti kejadian beberapa tahun lalu ketika dinilai jelek akan membalas memberi nilai jelek, akibatnya jadi tidak obyektif. Sepertinya jika sistemnya rapi, jelas, dan lengkap, hasilnya akan obyektif dan borang tidak lagi “bohong dan ngarang”.

Mungkin itu sedikit gambaran yang ada di rakornas, selain seremonial dan laporan dari aptikom tiap wilayah serta seminar (internasional dan nasional). APTIKOM bisa dijadikan alat mediasi dengan pemerintah, apalagi kepala BAN PT saat ini adalah orang APTIKOM juga (Prof Chan). Masalah aturan-aturan pemerintah (Ristek-Dikti) yang terkesan memberatkan, ada baiknya mengikuti saran Prof R. Eko Indrajit, anggap saja seperti “game” yang versi berikutnya lebih menantang dari sebelumnya dan membuat game lebih menarik, bukannya memberatkan. Terhadap asosiasi-asosiasi, misalnya dalam hal okupasi dan profesi, pemerintah mulai mendengarkan, dan tidak ada lagi kejadia seperti lirik lagu yang saat ini sering saya dengar “.. sayang, apa kowe krungu, jerit e atiku ..”. Sekian laporan pandangan mata rakornas kali ini, semoga bisa ikut lagi di Palembang tahun depan.

Lha .. pulangnya bareng personel srimulat yang tersisa (Tesi, Nurbuat, Polo)

Curve Fitting dengan Matlab

Curve fitting artinya membuat sebuah kurva dari rentetan titik. Kurva yang dihasilkan berupa persamaan linear ataupun non linear (matlab menyediakan quadratic hingga polinomial pangkat sembilan). Silahkan lihat post sebelumnya untuk membedakannya dengan interpolasi. Biasanya dijumpai ketika praktikum yang menguji satu variabel dengan perbedaan perlakuan tertentu. Saya sendiri menjumpai pertama kali kasus ini ketika praktikum fisika dasar di tingkat pertama kuliah. Hasilnya pun hanya dengan menarik garik lurus (linear) terhadap serangkaian titik hasil uji coba tersebut.

Matlab menyediakan toolbox dengan nama “cftool” yang dapat diakses dengan mengetik fungsi tersebut di command window. Misalnya kita memiliki serangkaian data sebagai berikut:

  • data =
  • 19.8960
  • 16.9290
  • 15.6660
  • 19.8870
  • 17.9100
  • 18.4260
  • 18.9570
  • 18.7710
  • 15.4860
  • 17.1510
  • 15.3210
  • 18.2580
  • 17.8860
  • 13.7100
  • 17.6040
  • 16.7610
  • 15.8880
  • 16.6200

Langkah pertama adalah memasukan data tersebut ke dalam cftool. Tekan tombol “data” untuk memunculkan jendela data.

 

Karena data hanya satu seri, isi dengan data x atau data y. Saya coba keduanya ternyata hasilnya sama karena memang datanya hanya satu seri. Setelah menekan “create data set” maka toolbox akan terisi data tersebut. Kembali ke jendela “cftool” tekan “Fitting” untuk memulai proses curve fitting. Muncul jendala baru untuk mengisi parameter-parameter yang sesuai (linear / non linear).

Setelah memasukan jenis polinomialnya, lanjutkan dengan menekan “Apply“. Hasil polinomialnya tampak dalam kolom “Result” dan grafiknya dapat dilihat di jendela “Cftool“.

 

Hasil di kolom result dapat dilihat. Parameter yang dihasilkan adalah konstanta persamaan linear beserta parameter-parameter lainnya seperti Goodness of fit, SSE, R-square, dan lain-lain yang dapat dilihat dari pelajaran statistik. Silahkan coba untuk korelasi dua variabel.

  • Linear model Poly1:
  • f(x) = p1*x + p2
  • Coefficients (with 95% confidence bounds):
  • p1 = -0.1403 (-0.2877, 0.007083)
  • p2 = 18.62 (17.02, 20.21)
  • Goodness of fit:
  • SSE: 37.47
  • R-square: 0.2029
  • Adjusted R-square: 0.1531
  • RMSE: 1.53

Surat Ijin Kampus yang Tercabut

Unik juga, berita pencabutan ijin kampus tidak seheboh berita pencabutan ijin ormas tertentu di grup WA. Sepertinya rekan-rekan sesama pengajar lebih tertarik (terkadang merasa ahli) dengan perpolitikan dibanding pendidikan. Info dari link ini menyebutkan bahwa pencabutan ijin khusus perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan Permenristekdikti 100/2016: yakni untuk satu universitas minimal memiliki 10 prodi (6 eksakta dan 4 sosial). Untungnya ada opsi untuk merger agar tetap beroperasi. Apakah penutupan beberapa kampus nanti merupakan efek dari disruption? Judul dari buku yang saat ini sedang saya nikmati.

Jika pengelola taksi mengalami penurunan dan terancam bangkrut karena taksi online, sepertinya tidak untuk kampus. Kampus online pun belum bisa menyaingi, mungkin online-online lainnya yang mempengaruhi penurunan suatu kampus. Misalnya kemudahan seorang calon siswa mengakses kinerja suatu kampus lewat internet (akreditasi, dosen-dosen, alumni, dan sejenisnya). Tidak serta merta dengan plang yang indah, gedung yang mentereng, akan diminati oleh calon siswa jika akreditasi yang rendah, info tentang kasus tertentu dan kinerja buruk lainnya dapat dengan mudah dilihat secara online.

Sharing

Sharing ini sebenarnya inti dari bisnis-bisnis online yang banyak beredar. Sharing di sini bukan menggratiskan sesuatu, tetapi menggunakan suatu sumber daya dari orang lain sesuai kebutuhan dari pada tidak terpakai/menganggur. Misal konsumen butuh transport ke lokasi tertentu, seseorang memiliki kendaraan yang tidak selalu terpakai, dan aplikasi online menghubungkan keduanya (Grab/Uber/Gojek). Kasus lain, seorang ingin berwisata dan memerlukan tempat penginapan, orang lain memiliki kamar kosong di suatu lokasi pariwisata, dan aplikasi online menghubungkannya (AirBnB).

Kampus yang kritis karena kekurangan siswa dan akan dipaksa ditutup pada januari tahun depan memiliki beberapa aset yaitu gedung, dan sumber daya manusia (dosen, laboran, dan staf tata usaha). Sepertinya Ristek-dikti melihat “nganggur”-nya aset-aset tersebut. Kampus yang berlebihan siswa, butuh dosen, sementara ada kampus lain yang kelebihan pengajar dan gedung karena sepi mahasiswa. Di sini Ristek-dikti menerapkan prinsip ini (hanya dugaan sih) yakni mengakomodir dengan mengajurkan merger kedua institusi tersebut. Selain indeks publikasi penelitian negara kita yang terus naik (kini mengalahkan Thailand), sepertinya Ristek-dikti mengejar indeks kinerja kampus karena dua kampus yang merger diharapkan meningkatkan rangking gabungan kampus-kampus tersebut. Bandingkan negara kita (atau Jakarta saja) dengan Singapura yang hanya memiliki dua kampus negeri tetapi ranking dunianya tinggi (NUS dan Nanyang).

Kampus: Even Organizer Pendidikan

Ada calon siswa butuh pendidikan, ada pengajar yang bisa membagi ilmunya, lalu ada kampus yang mempertemukannya. Prof Rhenald Kasali membandingkan alur proses itu dengan even organizer. Even organizer yang baik bisa mempertemukan misalnya, seorang artis dengan penonton setianya. Ristek-dikti sepertinya menerapkan ini (hanya dugaan lagi sih) dengan rencana mengimpor profesor world class ke Indonesia. Perlu diketahui, beberapa negara maju saat ini kelebihan profesor sementara kebutuhan siswa malah terbanyak dari negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memang karena memiliki pertumbuhan penduduk yang tinggi. Bahkan kabarnya di Taiwan, jumlah siswa yang lanjut kuliah terus menurun dan butuh siswa dari negara lain, kata pemateri ketika saya ikut pelatihan bahasa sebelum berangkat studi.

Bagaimana dengan tri-darma lainnya: penelitian dan pengabdian masyarakat? Ristek-dikti di sini lagi-lagi melihat aspek online dari penelitian: Open Journal System (OJS). Bahkan OJS ini wajib dimiliki oleh kampus dengan E-ISSN nya. OJS menghubungkan peneliti dengan pembaca jurnal yang dapat diakses online. Mungkin suatu saat OJS bukan hanya hasil penelitian, melainkan juga penghubung peneliti dengan yang membutuhkan penelitian. Sementara itu, untuk pengabdian sudah mulai digagas informasi yang menghubungkan UMKM-UMKM di tanah air dengan para dosen yang siap membantu memberikan training tertentu.

Kalau kita amati sepertinya perkuliahan cukup melibatkan tata usaha, dosen dan siswa. Ketua jurusan, kaprodi, dan dekan hanya berfungsi sebagai legalitas saja (tanda tangan, wisuda, dan sejenisnya). Mirip dengan kampus-kampus di luar negeri. Hanya saja di sini aspek non-teknis sangat berperan (like or dislike), terutama saat penjadwalan. Kalau kita lihat aplikasi online yang mempertemukan driver dengan konsumen akan melihat jarak terdekat di antara mereka. Jika penentuan dosen berdasarkan like/dislike akan mengganggu perkualiahan seperti beban dosen yg berat, dan terkadang hingga sebulan siswa belum memiliki dosen, padahal dosen tertentu “nganggur” akibat tidak disukai si penentu dosen. Kalau di aplikasi online, siswa bakal memberi bintang tiga ke kampus itu. Atau jangan-jangan tata usaha dan para pejabat penentu dosen akan ter-disrupsi?

Terdisrupsi-kah Dosen?

Pertanyaan yang mengerikan. Untungnya yang terdisrupsi adalah penghubung konvensional antara konsumen dengan barang dan jasa. Pengelola taksi yang kalah dalam menghubungkan konsumen dengan driver, pengelola mall yang kalah dalam menghubungkan barang dengan pembeli dan sejenisnya oleh aplikasi online. Terkadang seolah-olah daya beli konsumen menurun padahal hanya berpaling dari konvensional ke online. Bahkan kebutuhan barang dan jasa transportasi meningkat ketika adanya aplikasi online. Sepertinya begitu pula dengan kebutuhan dosen yang terus meningkat. Sampai-sampai univ kependidikan terkenal oleh kepala evaluasi kinerja akademik (EKA) diduga ‘beternak doktor’.

Jika konsumen butuh barang, tentu saja yang terdisrupsi bukan barangnya melainkan institusi jadul yang menghubungkan barang ke konsumen. Jika siswa butuh dosen, tentu saja yang terdisrupsi institusi yang menghubungkannya, jika jadul dan tidak baik mengelolanya. Hanya saja jika sudah transparan dan online, siswa bukan hanya butuh dosen saja, melainkan dosen yang sesuai dengan “menu”-nya. Menu di sini adalah kepakaran, yang biasanya doktor atau memiliki lisensi-lisensi tertentu. Repotnya, pengelola kampus yang seperti pengelola bisnis lainnya memiliki kekhawatiran yang sama terhadap penurunan penghasilan apalagi sampai bangkrut sehingga membuat aturan-aturan mengikat terhadap para dosen supaya tidak kabur-kaburan (tapi malah kabur beneran).

Pertanyaan yang harus dijawab: bagaimana jika peran dosen digantikan dengan modul online atau self learning lainnya, e.g. computer based training (CBT), video tutorial, dll? Sepertinya sebagian, sementara mentoring masih perlu (praktek bedah, pilot, riset, dan sejenisnya).

Perhatikan SIM: Surat Ijin Mengemudi Mengajar

Teringat waktu krisis moneter akhir 90-an, sulit sekali mencari kerja. Terpaksa memanfaatkan ilmu yang ada dengan mengajar, ya hanya mengajar, selain itu, “there is nothing I can do”. Ketika selesai menguji tugas akhir siswa, rekan dosen berkata ke saya untuk mengambil secarik kertas surat tugas ngajar dan menguji. Bingung juga, untuk apa kertas itu? Dia menjelaskan untuk mengajukan kepangkatan, yang dia istilahkan dengan SIM tapi “M”-nya: mengajar. Akhirnya saya ikutin nasihat teman saya itu (tidak perlu disebutkan soalnya kalau dia baca bakalan Ge Er, hehe) untuk memperoleh pangkat pertama saya.

Ternyata kepusingan itu berlanjut, yaitu harus master untuk tetap jadi dosen. Doktor untuk lektor kepala (walaupun diturunkan syaratnya cukup jurnal internasional) dan guru besar. Dan yang heboh publikasi internasional untuk lektor kepala dan guru besar per tiga tahun. Ya, begitulah. Sebenarnya pentingkah itu semua? Bukannya siswa hanya butuh ilmunya? Ojek online aja butuh SIM C dan SIM A (untuk taksi online). Ibarat aplikasi online, semoga bisa menjadi dosen dan kampus bintang lima, bukan bintang tiga ke bawah yang terancam suspen.

Epoch, Iteration, dan Stop Condition

Perkembangan Soft-computing menciptakan istilah-istilah baru yang sebelumnya belum pernah ada. Hal ini terjadi karena soft computing mengadopsi istilah-istilah lain. Sebagai contoh dalam algoritma genetika, istilah-istilah mutasi, kromosom, dan istilah-istilah yang berasal dari teori genetik dan evolusi menjadi istilah dalam ilmu komputer. Bahkan algoritma yang sudah sejak lama digunakan sudah bergeser ke arah metode. Metode lebih general dibanding algoritma yang lebih spesifik dan penerapan khusus. Jika Anda perhatikan algoritma genetika, beberapa tulisan menulisnya dalam bahasa Inggris dengan Genetic Algorithms dengan tambahan “s” di belakang algoritma. Hal ini karena algoritma genetika melibatkan beberapa algoritma seperti roulette wheel, encoding ke bits string dan sebaliknya (decoding), dan lain-lain. Namun beberapa buku tidak menambahkan “s” di belakang algoritma (Genetic Algorithm) dengan anggapan bahwa algoritma genetika adalah satu metode.

Beberapa rekan menanyakan istilah terkenal dalam machine learning yaitu “Epoch”. Banyak yang mengartikannya dengan iterasi. Tetapi mengapa tidak mengambil istilah iterasi saja? Jawabannya berasal dari training artificial neural network. Salah satu metode training, yaitu propagasi balik (backpropagation), menggunakan istilah epoch karena ketika melakukan satu kali iterasi dilakukan dengan rambatan balik. Untuk gampangnya, misalnya satu iterasi melibatkan proses a-b-c-d, maka epoch dalam satu “iterasi”-nya (dengan istilah satu kali epoch) melibatkan a-b-c-d-c-b-a. Dua iterasi: a-b-c-d-a-b-c-d, sementara dua epoch: a-b-c-d-c-b-a-b-c-d-c-b-a. Atau gampangnya iterasi itu epoch tanpa rambatan balik (hanya maju saja).

Beberapa rekan juga menanyakan metode yang cocok untuk stop condition. Untuk iterasi, sejak dulu kita sudah mengenal dengan error atau delta error. Jika error antara satu iterasi dengan iterasi berikutnya cukup kecil maka proses perhitungan berhenti. Error yang saat ini sering digunakan adalah Mean Square Error. Silahkan gunakan metode lain, misalnya Gradient Descent dengan prinsip kemiringan. Kemiringan diambil dari posisi saat ini dibanding epoch maupun iterasi sebelumnya. Jika masih besar selisihnya berarti masih miring. Ibaratnya kendaraan beroda jika masih miring masih bergerak turun, sementara jika sudah tidak begitu miring jalanan-nya, kendaraan itu bergerak perlahan, dan walaupun belum berhenti, dalam komputasi sudah dihentikan demi efisiensi. Untuk prakteknya perhatikan grafik hasil pelatihan jaringan syaraf tiruan di akhir prosesnya. Teringat saya ketika presentasi hasil penelitian di kampus. Karena reviewer adalah doktor dari FAI mempertanyakan mengapa perlu “pelatihan” karena buang-buang waktu dan biaya (dikiranya pelatihan JST itu: pelatihan/kursus/workshop).

Menjadi Master ber-“Sumbu Pendek”

Setiap permulaan itu susah. Entah ada persiapan atau tidak, kesulitan tetap muncul. Begitu pula dalam belajar. Sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, pasti mengalami kesulitan-kesulitan. Bagaimana dengan pendidikan doktor, level terakhir suatu disiplin lilmu, sulitkah? Unik juga, walaupun sudah puluhan tahun kita belajar, tetap saja ketika menempuh pendidikan doktoral tak luput juga mengalami kesulitan-kesulitan, terutama di awal-awal dan bahkan berlanjut hingga akhir perkuliahan. Acara doctoral bootcamp yang diadakan baik dari pemerintah maupun inisiatif rekan-rekan dosen sepertinya bisa membantu, tetapi jangan hanya mengandalkan sarana tersebut karena memang acara itu untuk persiapan singkat saja. Padahal pendidikan doktor harus ditempuh selama tiga tahun hingga perpanjangan waktu yang tak pasti.

Silahkan bertanya dengan rekan-rekan yang sudah atau sedang kuliah doktoral. Banyak pengalaman-pengalaman yang bisa disharing. Tetapi jangan jadi patokan, karena kasus dia mungkin berbeda jauh dengan yang akan kita alami nanti. Misal saya bertanya dengan Prof. Habibie, dan jadi patokan saya, tentu saya akan stress duluan. Dua atau tiga orang Anda tanya, belum tentu juga bisa jadi patokan. Jangankan di kampus tempat kuliah yang berbeda, kampus yang sama pun pasti memiliki pengalaman yang berbeda.

Ketika pusing dan menjumpai jalan buntu, biasanya saya nongkrong dengan teman-teman se-negara, saling berbagi kesuksesan dan kesialan masing-masing. Bagi rekan kita mungkin sulit, tapi terkadang mudah bagi rekan yang lainnya. Ada yang bertahun-tahun tak kunjung terbit syarat jurnal internasionalnya, tetapi ada yang jurnal internasionalnya sudah diterima beberapa tahun yang lalu tetapi disertasi tak kunjung selesai. Ada yang tiap dua minggu harus presentasi kemajuan disertasi, ada yang dalam satu semester hanya sekali atau dua kali ketemu pembimbing, dan riset harus dijalankan seorang diri. Ada juga yang terkendala dengan syarat IPK lebih dari 3.5 dan harus mengulang atau mengambil course tambahan sebelum diperbolehkan riset. Dengan kata lain “ada-ada saja masalah yang muncul”. Satu rekan saya memilih pulang saja dan tidak lanjut, dan satu orang rekan meninggal di kampus, sudah cukup memperkaya batin dan selalu bersyukur dengan yang telah dicapai sejauh ini, sekecil apapun.

Photo by: Mbak Iwul

Beberapa tahun menjalani perkuliahan doktoral biasanya tumbuh kesadaran bahwa kita manusia biasa, ada kelemahan dan ada kelebihan. Waktu melihat rekan-rekan yang masih master, terlihat energi mereka yang besar, meluap-luap, saya sampai harus mengalah. Tepat sekali dengan istilah master yang artinya “jago banget”. Sayang juga sih ketika melihat master yang sudah berkiprah bertahun-tahun tetapi tidak melanjutkan ke jenjang yang tinggal selangkah lagi. Beberapa memang trauma dengan pusingnya mengambil S2 dulu. Tetapi kabar baiknya adalah baik pusing ketika S2 maupun tidak, untuk doktoral tidak ada bedanya. Kabar buruknya: tetap saja pusing. Untuk itulah doctoral bootcamp terkadang penting sebagai pemicu. Jika ada seorang master bertipe “sumbu pendek”, dengan dipicu sedikit, langsung semangatnya meledak dan lanjut doktoral. Tetapi kebanyakan sumbu panjang, menyala terus tetapi tidak meledak-ledak, bahkan ada yang mati dan butuh dibakar lagi.

Seorang master yang bersumbu pendek, terkadang tidak perlu doctoral bootcamp. Melihat temannya yang masih unyu-unyu berangkat S3 saja sudah bikin meledak. Tetapi untuk meledak diperlukan syarat-syarat penting: bahasa Inggris (atau yang sesuai dengan negara tujuan), kemampuan membaca (tulisan ilmiah disertai dengan keingintahuan yang tinggi), mengasah lagi ke-master-annya dengan menulis artikel, seminar internasional, dan lain-lain sehingga siapa tahu diminati oleh calon supervisor. Untuk bahasa Inggris, yang utama adalah writing; untuk listening dan speaking yang penting nyambung saja (kecuali memang doktoralnya bidang sastra Inggris). Reading tentu saja harus bisa, hampir 50-an jurnal dibaca untuk proposal disertasi. Terkadang puluhan lainnya dibuang karena tidak relevan dengan judul yang diajukan.

Untukmu Yang Saat ini Sedang Menderita

“Ku mau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu “. Penggalan puisi Chairil Anwar ini sejalan dengan ungkapan Frederich Nietzsche: Penderitaan membuat kita kuat. Tapi lebih simpel lagi mbah Marijan, cukup dua kata: “roso .. roso” hehe. Yuk, para dosen dan pengajar, tetap semangat, tetap kuat, hadapi saja.

Belakangan ini banyak sekali keluhan-keluhan dalam dunia pendidikan. Mahasiswa yang mengeluh terhadap dosennya, terhadap institusinya, bahkan ada yang ingin meminta laporan keuangan kampus segala. Dosen yang mengeluh karena beratnya syarat-syarat naik pangkat, menerima tunjangan (lektor kepala dan guru besar), mengeluh karena Scopus, Sinta dan juga untuk memperoleh beasiswa (masalah kuota). Kampus yang mengeluh karena syarat Dikti berat, bahkan akreditasi C siswanya tambah dipersulit mencari pekerjaan. Pemerintah sendiri, dalam hal ini Ristek-Dikti mengeluh karena kinerja dosen yang lemah dalam hal riset, tingkat pendidikan yang stagnan di master/magister, dan kasus-kasus yang menimpa kampus (bukan hanya swasta, melainkan juga kampus negeri). Salahkah keluhan tersebut? Tentu saja tidak, lalu bagaimana penyelesaiannya?

Posisi Negara kita Dalam Hal Pendidikan Tinggi

Sempat terbaca dalam share WA di handphone puisi dari seorang dosen yang merasa tidak nyaman dengan paksaan Ristek-Dikti terhadap Scopus yang dianggap kapitalisme dalam dunia pendidikan. Karena fokus ke riset, menurutnya, pengajaran ke mahasiswa jadi terbengkalai. Walau sepertinya agak cenderung ke “keguruan”, mungkin ada baiknya didengarkan. Keluhan-keluhan atau protes yang mempertanyakan sesuatu biasanya menggunakan logika yang masuk akal. Tetapi di dunia yang “fuzzy” ini, kata Zadeh: tidaklah ada sesuatu yang mutlak 100% tepat atau 100% tidak tepat. Bagi yang memprotes mungkin saja benar, tetapi tetap saja tidak 100% benar, kalaupun benar 100%, itu untuk variabel tertentu. Tidak tepat juga kita menurunkan level seseorang yang menginginkan sesuatu yang ideal. Misal pendapat: “seorang dosen harus memetenkan karya ilmiahnya”. Tentu saja kita tidak serta merta membantahnya, karena memang idealnya begitu, terutama dari jurusan teknik/rekayasa.

Akhirnya, sambil menunggu kabar siapa profesor external untuk menguji disertasi saya (biasanya dari Jepang), akhirnya saya menemukan beberapa buku di perpustakaan kampus. Salah satunya adalah “Revitalizing Higher Education” karangan Salmi. Buku ini cocok untuk kondisi negara berkembang seperti Indonesia.

Memang benar, karakteristik perguruan tinggi di negara berkembang harus dilihat dari sejarah dan kondisi perekonomian, juga politik. Ringkasnya, disimpulkan bahwa level perguruan tinggi di negara berkembang sebaiknya mengarah ke perekonomian dan industri untuk mengejar ketertinggalan dengan negara maju (dari sisi perekonomian utamanya). Fokus PT masih di level menciptakan tenaga-tenaga ahli untuk memenuhi kebutuhan bursa kerja. Agak berat juga jika dipaksa menciptakan paten-paten, walaupun banyak juga yang tercipta saat ini, misalnya telur bebas kolesterol dan produk-produk pangan dan obat lainnya. PT hanya bisa mengajarkan kewirausahaan tetapi tentu saja jiwa kewirausahaan tidak bisa dipaksakan. Yang jelas, bonus demografi di tahun 2020-an dimana angkatan kerja kita sangat tinggi harus diantisipasi. Tidak bisa hanya menganjurkan mereka berwirausaha, harus dipersiapkan skill khusus agar bisa bersaing (butuh sertifikasi internasional seperti perawat, las, CCNA, dan sejenisnya, bukan hanya skill berkendara utk jadi driver ojek online). Bahkan ahli-ahli las di dunia banyak dari negara kita (silahkan yang berminat, terutama las dalam laut). Jangan lupa ajarkan “Wisdom”, “Creativity”, dan lain-lain yang tidak bisa dikerjakan oleh mesin/Artificial Intelligent ke anak-anak kita. Orang bijaksana dan kreatif biasanya ada saja cara untuk survive. Siapkan saja bekal, dan seperti kata Jack Ma: “jangan terlalu khawatir, tuhan pasti memberi karunia generasi masa depan potensi untuk bisa mengatasi problem-problem mereka di masa depan”. Sepertinya ada benarnya juga, percuma memaksakan suatu “jurus”, lingkungan mereka nanti berbeda dengan kita saat ini.

Posisi Pendidikan Tinggi di Negara Maju

Banyak yang protes bahwa publikasi di jurnal-jurnal internasional (atau juga seminar) cenderung mendukung sisi kapitalis mengingat pengelola jurnal atau pengindeks internasional menarik untung dari pihak-pihak yang ingin membaca atau mempublikasi artikel ilmiah. Ketemu juga buku yang membahas khusus masalah yang terkait hal tersebut yaitu “University Inc – Corporate corruption of Higher Education” karangan Washburn.

Buku ini membahas universitas-universitas terkemuka terutama di Amerika Serikat (big 5 atau bahkan big 10 ranking kampus dunia ada di sana). Amerika memang negara liberal dan kapitalis. PT di sana sudah maju dan jadi andalan perusahaan-perusahaan dalam hal riset. Ternyata, walaupun sudah maju, konflik muncul di sana. Beberapa perusahaan mengadakan kontrak dengan profesor (juga dengan bimbingannya yang biasanya mahasiswa doktoral) untuk riset perusahaannya. Kontraknya adalah untuk merahasiakan temuannya. Di situlah masalah muncul yakni peran PT yang tidak lagi independen (di negara kita lebih parah lagi, masih ada pengaruh politik, agama, dan lain-lainnya seperti almamater tertentu).

Sebenarnya peneliti yang mempublikasikan karyanya dia sedang mendermakan ilmunya untuk dipergunakan orang lain. Dan harus ada lembaga yang diakui untuk mempublikasikan karya ilmiah, yaitu pengelola jurnal. Jadi pengelola jurnal harus membayar ke penulis? Kalau dijawab “ya”, artinya ideal, seperti saya sebutkan di awal, seseorang yang memegang standar tinggi jangan kita paksa turunkan, biar saja karena itu bagus. Kenapa tidak kampus terkenal di dunia membuat jurnal dan membabaskan orang mengunduh dan mempublish karyanya? Mengapa harus perusahaan swasta? Baru baca beberapa halaman sudah tampak.

Beberapa universitas-universitas level atas bukan hanya profesor yang kerjasama dengan perusahaan, bahkan kampusnya pun bekerja sama, dengan kontrak-kontrak tertentu masalah kerahasiaan mengingat perusahaan itu sudah menggelontorkan “fulus” yang besar dan jangan sampai kompetitor ikut menikmatinya. Dan repotnya universitas-universitas itu kebanyakan disubsidi oleh pemerintah yang uangnya dari pembayar pajak. Repotnya di AS pembayar pajak memiliki kekuatan di dewan karena mereka perlu tahu uang itu lari ke arah yang sesuai, misal dalam hal pendidikan yaitu ke arah kemaslahatan bersama bukan menguntungkan perusahaan tertentu.

Ada suatu jawaban “trivial” masalah publikasi jurnal, silahkan pilih: (1) peneliti di PT boleh tidak mempublikasikan temuan dan memberikan hak pengelolaan ke perusahaan/merek dagang tertentu sehingga rakyat terpaksa membeli produk dan menguntungkan perusahaan dan peneliti tersebut atau (2) peneliti mempublikasikan temuannya yang bebas dimanfaatkan orang lain (atau perusahaan manapun) dan menguntungkan rakyat banyak, tetapi efeknya menguntungkan pula pengelola jurnal (misal grup Scopus). Kasus pertama yang heboh adalah penemuan vaksin polio oleh ilmuwan yang nekat mempublikasikan temuannya, walaupun tidak menguntungkannya, dari pada dimonopoli oleh perusahaan tertentu (akibatnya rakyat/negara banyak harus mengeluarkan dana ke perusahaan tersebut). Pasti ada yang menjawab dengan pilihan (3) peneliti bebas mempublikasikan temuannya tanpa kena biaya dan jurnal yang mempublikasikan membebaskan orang membaca tanpa harus membeli tulisannya. Kembali lagi, artinya ideal, seperti saya sebutkan di awal, seseorang yang memegang standar tinggi jangan kita paksa turunkan, biar saja karena itu bagus. Silahkan pilih pilihan (3) tapi jangan berharap banyak, apalagi memaksa.

Membuat Indeks Publikasi Ilmiah Sendiri

Mungkin level PT kita belum menyamai the big 10 universitas-universitas di Amerika Serikat, atau bahkan di Asia, atau bahkan lagi di Asia Tenggara. Evaluasi diri penting juga sih. Saat ini Ristek-Dikti mulai membangun Sinta, indek kinerja penelitian (dosen, dan jurnal Indonesia). Semoga tidak ada yang tidak setuju untuk kemandirian ini. Bolehlah tidak setuju Scopus dimasukan dalam variabelnya (karena katanya kapitalis). Boleh juga tidak setuju dengan Google Scholar dimasukan dalam variabelnya karena dikatakan abal-abal. Unik juga, yang ketat dan akuntabel tapi seperti Scopus ditolak karena kapitalis (profit oriented), yang tanpa biaya ditolak karena abal-abal. Balik lagi ujung-ujungnya ingin yang ideal. Seperti disebutkan di awal boleh jadi pendapatnya 100% tepat, tetapi tepat terhadap variabel tertentu saja. Untuk yang ideal dan memegang standar tinggi, jangan dipaksa menurunkan standarnya, biar saja kan bagus. Walau kalau tidak nurut ya repot sendiri juga.

Presiden kampus saya sempat mengeshare email dari presiden Harvard university akan keberatan biaya yang mahal untuk langganan jurnal (bisa dibayangkan sekelas Harvard saja mengeluh). Pertanyannya mengapa sekelas Harvard (atau gabung dengan top university lainnya) tidak bisa mengelola jurnal yang tanpa bayar? Atau satu negara, misal Amerika Serikat, Jepang, atau China, mengapa tidak bisa menciptakan indexer sekelas Scopus yang rapih dan akuntabel? Jujur saja saya dan mungkin pembaca juga sulit menjawabnya. Indonesia harus bisa dong .. Ya, saya setuju saja sih (kembali lagi ke idealis). Tetapi, sebagai gambaran, lihat gambar berikut ini yang diambil dari link jepang.

Bandingkan dengan negara kita dkk (gambar bagian bawah), tertinggal 8 kali dan 10 kali dengan AS dan China. Mungkin bisa untuk evaluasi diri (sialnya kok kalahnya dengan Malaysia). Mungkin kita tidak setuju Kapitalis, tetapi tidak mau menjadi Sosialis apalagi Komunis. Ya sudah, buktikan saja dengan mengalahkan China dan Amerika Serikat (grafik di bawah). Semoga tidak mengeluh lagi, tetap nekat berjuang seperti kata Chairil Anwar: “Ku mau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu”.

Mudah untuk Copy-Paste, Mudah Pula Mengeceknya (Plagiarism atau tidak)

Menjadi pengajar/tutor e-learning memerlukan aspek-aspek khusus, salah satunya adalah otentifikasi tugas ataupun jawaban yang diberikan oleh peserta kuliah online. Walaupun aspek-aspek lain masih harus diverifikasi seperti apakah benar murni dari tulisan sendiri ataukah orang lain yang menulis. Otentifikasi biometrik sepertinya diperlukan. Setidaknya minimal tulisan yang dikirim terhindar dari plagiarisme yang merupakan salah satu aspek penting dalam dunia akademik.

Untuk mahasiswa yang malas, cara copy-paste terkadang menjadi jalan pintas yang murah. Sumber-sumber informasi bertebaran di internet. Dengan sekali googling, jawaban langsung ditemukan, bahkan kalau keywords yang diketik tepat hasilnya muncul di list teratas google. Namun ternyata mudah men-copas mudah pula mengeceknya. Apalagi saat ini bertebaran fasilitas-fasilitas gratis untuk cek plagiasi (lihat postingan tentang software plagiasi sebelumnya). Berikut contoh cek plagiasi terhadap tugas mahasiswa dengan smallseotools.

Lebih enak jika tugas dalam bentuk soft copy karena tinggal copas ke plagiarism checker dibanding jika mengumpulkannya dalam bentuk tulisan tangan. Tekan tombol “Check Plagiarsm” di bagian bawah dan tunggu beberapa saat.

Hasilnya sungguh mengesankan, 84% mirip dengan tulisan orang lain yang jika saya tekan salah satu tulisan berwarna merah tersebut, mengarahkan ke source aslinya (kebanyakan mahasiswa copas dari tulisan blog orang yg berbahasa Indonesia).

Tiap-tiap institusi berbeda-beda syarat maksimal persentasi similaritinya. Misal untuk serdos dipatok 50%, jurnal berstandard IEEE sebanyak 20%. Kampus saya kuliah 15%, dan lain-lain. Bagaimana jika dia mencontek jawaban temannya yang tidak dipublish di internet melainkan hanya dikumpulkan ke dosen. Salah satu software yang tepat sepertinya Plagscan. Software ini setelah login kita bisa memasukan naskah jawaban siswa dan jika ada naskah baru, dan discan similaritinya, plagscan juga mensearch dari naskah jawaban yang kita masukan walaupun belum dipublish. Jadi, untuk para mahasiswa, berfikir dua kali lah jika ingin menjiplak tulisan orang. Copas itu mudah, tetapi mudah pula mendeteksi kecurangannya. Selamat menjiplak .. ups, mencoba software cek plagiasi maksudnya.

Sains Harus Belajar dari Marketing

Sepintas sungguh aneh, bahkan bagi orang murni sains marketing dianggap bukanlah ilmu, setidaknya disebut “an oxymoron” alias retorika yang ambigu yang sering dipakai politisi kita (pro maupun kontra). Benarkah marketing itu bukan ilmu? Postingan kali ini terinspirasi dari buku web mining (lihat post yang lalu) yang akan segera saya kembalikan ke perpustakaan. Di buku tersebut di bab “Using Marketing Tests to Understand Customers” disinggung masalah ilmu unik marketing.

Power of Marketing

Sebelum lanjut, sepertinya kita sadari terlebih dulu kondisi aneh perusahaan-perusahaan saat ini dalam kaitannya dengan masalah disruption. Banyak perusahaan yang terkenal mapan langsung terpuruk karena fenomena tersebut. Salah satunya adalah ditinggalkan oleh konsumennya yang memilih produk lain yang dianggap memenuhi harapannya. Salah satu aspek terpenting suatu perusahaan adalah marketing karena merupakan sarana untuk menarik konsumen yang kemudian berdampak terhadap keuntungan. Tanpa keuntungan tentu saja tidak dapat membiayai ongkos-ongkos suatu perusahaan. Bolehlah teknik, riset, dan sejenisnya terhadap suatu produk atau manufaktur, tetapi tanpa melakukan riset dalam marketing, siap-siap mengambil resiko besar terhadap kerugian. Ipad waktu itu siap dipasarkan apple, tetapi bagian riset marketing ternyata melihat animo masyarakat terhadap Iphone lebih tinggi, padahal Iphone waktu itu belum siap publish. Dan benar, dengan menahan Ipad dan melapas Iphone terlebih dahulu, apple mendulang untung besar. Para pekerja aktif seperti perawat, dokter, dan sejenisnya lebih membutuhkan piranti cerdas mungil dibanding yang lebih besar.

Marketing & Sains

Apa itu sains? Sains intinya melakukan riset runtun yang berdasarkan tahapan-tahapan yang disebut metode ilmiah: hipotesa, disain eksperimen, eksperimen, analisa hasil, dan merevisi hipotesa. Tahapan-tahapan itu haris bisa ditiru oleh periset lain sehingga terbukti keandalan dan akurasi temuannya (confidence). Bagaimana dengan marketing? Tunggu dulu, dengan data yang ada sebelumnya ternyata hasil hipotesa tidak berlaku dengan kondisi yang ada sekarang. Jangankan data beberapa tahun yang lalu, data beberapa bulan yang lalu saja belum tentu akurat untuk diterapkan saat ini. Lalu bagaimana ini?

Buku rujukan web mining menjelaskan bahwa titik penting bagian riset di marketing adalah hipotesa. Hipotesa yang tidak tepat tentu saja tidak bermanfaat walaupun benar. Walaupun mengikuti metode ilmiah tetapi jika tidak menjawab persoalan utama, tentu saja tidak bermanfaat. Untuk itu saintis harus belajar bagaimana marketing menentukan hipotesa risetnya yang terkadang bagi ilmuwan kurang greget, kurang wah, kurang berbobot, tapi ternyata dampaknya besar. Berikut hal-hal yang bisa dipelajari dari marketing dalam penentuan hipotesa:

  • Kreativitas: dibutuhkan untuk menemukan hipotesa yang menarik
  • Skeptisme/keraguan: bukan hanya solve problem, ternyata meyakinkan suatu itu penting, terutama dengan pencarian dan perbandingan alternatif-alternatif.
  • Kepercayaan diri untuk maju berdasarkan hasil riset. Terkadang di kampus kita selalu menekankan hasil riset harus OK, model harus fit, dan sejenisnya. Parahnya siswa suka mengutak-atik data agar “cakep”. Ternyata bagi orang marketing, sejelek apapun data maupun hasil riset, bisa digunakan untuk move on (termasuk diterapkan bagi yg calonnya kalah pemilu).

Marketing untuk Dana Penelitian

Sering sekali teknik marketing saya gunakan untuk memperoleh hibah penelitian. Sebagian hibah penelitian sebenarnya berdasarkan proses marketing kita, baik ketika membuat proposal maupun saat presentasi. Tidak semua judul yang lolos di jurnal lolos pula di hibah (sepertinya sebaliknya juga berlaku). Kreativitas, keraguan, dan kepercayaan untuk maju yang telah dibahas di atas, sangat diperlukan. Keahlian dalam mengemas sesuatu yang biasa-biasa saja jadi berharga dan sesuatu yang sudah berharga dikemas agar terlihat bermanfaat sangat diperlukan untuk mendapatkan dana hibah. Ketika mengajukan proposal hibah terkadang saya sengaja membuat bimbang reviewer. Bolehlah dia marah-marah ketika presentasi, setidaknya saya telah membuat mereka bimbang untuk menolaknya disaat memutuskan lolos atau tidak. Sepertinya perlu postingan tersendiri untuk masalah hibah. Sekian semoga bermanfaat.

Reference

Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America: Wiley.

Bertanya atau Mempertanyakan?

Membaca judul postingan ini semoga pembaca bertanya apa maksud judulnya, bukan mempertanyakannya. Bahasa Indonesia memang unik, jika bertanya berarti ingin mengetahui sesuatu yang kurang jelas atau belum diketahui, mempertanyakan terkadang ada unsur protes di dalamnya. “Mengapa saya dapat C?”, “mengapa saya tidak lulus?”, dll memang bentuk pertanyaan yang biasanya diutarakan oleh siswa. Silahkan jawab, jika sampai berkali-kali tanya jawab dan disertai argumentasi, berarti bukan bertanya, melainkan mempertanyakan. Jadi ingat rekan saya yang menjawab siswa yang bertanya mengapa dapat C: “harusnya kamu itu D, saya bantu saja jadi C”.

Maraknya media sosial membuat siapa saja boleh mempertanyakan. Surat terbuka, surat dukung-mendukung di change.org misalnya bisa dibuat oleh siapa saja. Ketika p Gufron, pejabat ristek-dikti bagian SDM datang ke kampus UNISMA Bekasi, seorang rekan saya yang sudah senior bertanya mengapa aturan beasiswa dikti 50 tahun? Kenapa tidak dilebihkan saja padahal usia pensiun dosen, apalagi profesor, kabarnya diperpanjang (bahkan di range WHO saya masuk kategori usia setengah baya katanya .. he he). Logis juga menurut saya dan karena ditanyakan langsung ke yang bersangkutan, menurut saya ini masuk kategori bertanya. Walaupun jawabannya formal, yaitu UU dari menpan, sepertinya ada alasan lain yang tidak dibahas.

Dua pertanyaan yang muncul belakangan ini terkait dunia pendidikan adalah kuota beasiswa dan indeks Sinta. Untuk beasiswa, khususnya dalam negeri yang kuota-nya sepertinya berkurang belum ada tanggapan, walaupun surat terbukanya (kalau tidak salah dari kopertis 12) sampai ditujukan ke panglima tinggi, alias presiden. Sebenarnya kuota luar negeri masih kurang, tetapi khusus dosen senior sepertinya agak sulit untuk kuliah ke luar negeri, apalagi yang usianya antara 45 sampai 50, yang mau tidak mau hanya mengandalkan beasiswa dalam negeri. Permintaannya yang menginginkan semua pelamar diterima agak sulit, mengingat kasus satu kampus negeri di Jakarta mencuat gara-gara ada beberapa dosen yang membimbing dan meluluskan mahasiswa S3 hingga ratusan dalam setahun. Dengan kata lain, profesor pun memiliki kuota kewajaran. Menambah jumlah profesor sepertinya satu-satunya langkah yang masuk akal (impor world class profesor), juga pembimbing misalnya tidak harus dari kampus tempat mahasiswa S3 itu kuliah (sepertinya tidak boleh ya?). Untuk world class profesor lagi-lagi disialkan kasus seorang asisten profesor muda dari kampus ternama Belanda yang ternyata ketahuan masih berstatus mahasiswa seperti saya. Saya yakin ristek-dikti memiliki pengalaman-pengalaman pahit yang kadang mempengaruhi kebijakan-kebijakannya. Terkadang kenakalan-kenakalan segelintir orang mempengaruhi orang bener yang lain, seperti kasus pencairan beasiswa di awal-awal saya kuliah. Ok, kita tunggu apa respon pemerintah.

Mempertanyakan berikutnya adalah masalah Sinta yang berawal dari penentuan index Google scholar yang dibilang ironi dalam komentar tentang ranking sinta itu (oiya, yg belum daftar jangan lupa daftar dulu). Tetapi sebelum bertanya atau mempertanyakan terlebih dahulu baca penjelasannya dari LPPM univ sultan agung ini atau bahkan dari menteri-nya langsung di sini. Menurut saya sih Scopus yang jadi andalan, tetapi mengingat index ini berbasis jurnal/buku/seminar internasional yang berbahasa Inggris, sulit sekali ditembus oleh dosen-dosen kita yang berbasis bahasa lokal, bisa ga ada score-nya nanti sebagian besar dosen, padahal target akhir Sinta di versi 6 adalah digunakan untuk kepangkatan. Bisa pada ga naik pangkat nanti. Bagaimana dengan yang lain misalnya portal garuda yang berupa jurnal-jurnal nasional. Repotnya banyak juga jurnal yang tidak terdata di portal garuda akibat pengelola jurnal tidak mengirimkan sample jurnalnya ke LIPI. Nah satu-satunya yang lebih aman adalah Google scholar, bisa meng-cover dosen yang menulis di jurnal lokal dan bahkan yang jurnalnya tidak ada di portal garuda asal terdeteksi di Scholar. Toh, bobot Google scholar jauh di bawah Scopus untuk perhitungan rangking Sinta (saya lupa Google scholar 1/6 atau 1/12- scopus). Serba salah juga sih, Scopus beberapa waktu yang lalu diprotes katanya Kapitalis, sementara pakai Google yang free dianggap abal-abal. Kalau saya sih tetap mendukung Sinta yang memang prosesnya sedang “on going”, kalau tidak suka silahkan pakai yang lain, hanuman, rahwana, atau apalah. Semoga tulisan iseng di hari libur ini menghibur.

Unified Process (UP) dan Unified Modeling Language (UML)

Untuk UML kita sering mendengarnya, terutama bagi mahasiswa jurusan ilmu komputer, teknik informatika, ataupun sistem informasi. Sementara UP, sepertinya jarang terdengar, terkadang kurikulum pun tidak memasukannya. Biasanya UP dipisahkan dengan UML karena UP merupakan bagian dari proses perancangan perangkat lunak. Terkadang juga masuk dalam materi analisa dan disain sistem informasi.

Untuk informasi mengenai apa itu UP bisa dilihat di internet, misalnya wikipedia yang sepertinya akurat, sesuai dengan teori yang ada. Untuk yang ingin detilnya bisa lihat rujukan buku milik Jim Arlow (Arlow & Neustadt, 2005) atau karangan Craig Larman (Larman, 2005).

Lalu hubungannya apa UP dengan UML? Sebelumnya ada istilah Rational Unified Process (RUP) yang merupakan benchmark IBM untuk menggambarkan proses perancangan perangkat lunak. Untuk menghindari penamaan pabrikan/vendor, tri-amigos: Ivar Jacobson, James Rumbaugh dan Grady Booch menerbitkan buku khusus UP. Mereka merupakan para pencetus UML, tool untuk penggambaran dan pemodelan sistem berbasis obyek. Jadi UP itu pemodelan dan framework proses sementara UML hasil dari prosesnya (masih dalam bentuk blue-print).

UP bersifat iteratif yang tiap iterasi terdiri dari tahapan-tahapan sebagai berikut, untuk menghafalnya disingkat IEKT:

  • Incepsi: penentuan tujuan-tujuan (life cycle objectives)
  • Elaborasi: pembuatan arsitektur sistem
  • Konstruksi: kapasitas dan kemampuan sistem dibentuk
  • Transisi: produk siap uji

Buku Arlow membahas keempat tahapan UP tersebut yang dikombinasikan dengan waterfall (requirements, analisis, disain, implementasi dan testing, disingkat RADIT). Bentuknya di tiap-tiap RADIT ada IEKT dari UP. Namun ada juga yang sebaliknya, di tiap IEKT-nya UP ada RADIT. Namun yang dibahas di buku adalah yang bentuk pertama. Sementara itu ketika melihat buku Larman yang cukup tebal, ternyata UP hanya sampai Elaborasi. Tidak ada konstruksi dan transisi. Belum sempat saya baca sampai sana, hanya saja ada elaborasi-1, elaborasi-2. Bukunya cukup tebal dengan bahasa Java sebagai ilustrasinya.

Sempat saya baca juga dalam satu kolom khusus dalam buku Larman, bahwa tidak ada peluru perak (istilahnya senjata pamungkas pembunuh vampir) dalam bentuk tools atau teknik perancangan perangkat lunak, dikatakan oleh Dr. Frederick Brookes (lihat buku Mythical Man-month). Jadi kalau ada yang bilang suatu teknik itu ampuh untuk segala bentuk sistem, dipastikan tidak mungkin alias gombal, baik yg mengatakan itu dosen ataupun sales CASE (alat bantu pembuatan software). Tetap saja jika pengguna tidak memahami konsep Object Oriented akan kesulitan menggunakan CASE jenis apapun (dibahas di buku: “Death by UML Fever” karangan Booch). Seperti biasa, tiap buku berbeda-beda pahamnya, seperti post yang lalu bahwa beberapa buku analisa disain/rekayasa perangkat lunak (Pressman, 2001; Sommerville, 2007) masih mentolerir menggunakan non-object programming dengan UML. Tidak ada salahnya juga menggunakan model lain yg bukan standar UML untuk penggambaran sistem berbasis objek asal bermaksud memperjelas pembacaan model (Fowler, 2004). Tetapi alangkah idealnya jika sistem yg dirancang dengan UML berbasis object. Selamat ber-UML.

Reference

Arlow, J., & Neustadt, I. (2005). UML 2 and the Unified Process (Second). United States: Pearson Education Limited.

Fowler, M. (2004). UML Distilled (3rd ed.). United States: Pearson.

Larman, C. (2005). Applying UML and Patterns (3rd ed.). United States: Pearson.

Pressman, R. S. (2001). Software Engineering – A Practitioner’s Approach (Fifth Edit). New York: McGraw Hill.

Sommerville, I. (2007). Software Engineering – Eighth Edition. London: Pearson Education Limited.

 

Kepemimpinan dalam Pendidikan/Pengajaran

Gara-gara tulisan yang lalu menyebutkan bahwa mahasiswa PhD harus belajar juga kepemimpin terpaksa cari-cari buku tentang hal itu di perpustakaan kampus. Baru naik tangga sudah menemukan buku yang judulnya “The Art of Leadership” karya Manning dan Curtis dari universitas Kentacky.

Lumayan banyak isinya, dan saya langsung ke bagian-bagian akhir yang bercerita tentang kependidikan, yang cocok dengan background saya. Di paragraf awal bab itu diilustrasikan suasana kelas sekolah dasar yang menggambarkan seorang anak yang bingung dan serba salah. Repotnya lagi bukan teman sebangkunya saja yang menyalahkan, guru-nya pun bukan seorang pemimpin yang baik karena selalu menyalahkan. “Bukan disuruh menulis itu!”, “Tulis dengan pensil (karena anak itu menggunakan crayon)!”, “jangan berisik (karena ketika menulis sambil bersuara)!”, dan seterusnya. Di akhir cerita anak itu tidak mau masuk kelas lagi. Padahal anak tersebut hanya bingung, kenapa salah terus, dan sama sekali tidak ada tindakannya yang benar. Intinya adalah seorang pemimpin harus menghormati (respect) orang lain. Pasti ada sesuatu yang benar, tidak mungkin salah semua, seperti kisah berikut.

Bankir dan Pengemis

Seorang bankir ternama melewati seorang pengemis yang sedang duduk di pinggir jalan dekat bank. Pengemis itu duduk sambil iseng merakit pensil. Sambil memberi uang receh, bankir itu berkata ke pengemis itu bahwa uang itu untuk membeli pensil yang baru saja dibuatnya. Pengemis itu pun terlihat gembira dan memberikan pensil rakitannya. Tidak lama kemudian bankir itu tidak pernah menjumpai pengemis itu hingga suatu saat dia sedang membeli alat tulis dan berjumpa dengan pemilik toko alat tulis itu yang ternyata adalah pengemis yang di beri uang untuk jasa pensil-nya. Pengemis yang kini adalah pemilik toko itu menyampaikan bahwa ketika ia membeli pensil itu, sikap penghargaan atas jerih payah dan keahlianyalah yang memantik semangat di dadanya untuk tidak mengemis dan berdagang pensil. Bankir tersebut tidak menyalahkan pekerjaan mengemis, tetapi menghargai kreativitas membuat pensilnya. Selain menghargai, sifat pemimpin yang lain (hubungannya dengan pendidikan) adalah ikut berusaha meningkatkan kualitas orang lain seperti kisah pemain basket ini.

Michael Jordan dan Sang Pelatih

Kita mengenal Jordan adalah seorang pebasket ternama dari AS. Dengan keahliannya dalam mencuri bola dan memasukan ke keranjang, dia sejak awal disebut pemain berbakat. Seperti biasa, anak muda terkesan ingin dilihat dan menjadi pusat perhatian. Tetapi sang pelatih mengajarkan untuk ikut melatih rekan-rekannya dalam hal teknik bermain basket. Sepertinya Jordan sadar dan mengikuti arahan sang pelatih. Tidak lama kemudian hampir semua rekan-rekannya mengalami kemajuan dalam skill bermain basket. Tidak hanya Jordan yang kian terkenal, klubnya pun (Bulls) menjadi klub teratas yg pernah menjuarai NBA. Selain mengajarkan orang lain, belajar langsung dari master merupakan hal yang sering dijumpai, misalnya the Beatles yang belajar dari Chuck Berry, dan bintang-bintang lain yang tumbuh karena bimbingan bintang sebelumnya. Jadi terbayang bintang sepakbola Lionel Messi, yang timnya, Argentina, saat tulisan ini dibuat jangankan lolos, zona playoff pun tergusur oleh Peru (semoga tim favoritku ini lolos). Selain mengajari, seorang pemimpin pun harus terus belajar.

Thomas Watson dan IBM

Watson yang merupakan putra dari pendiri industri komputer IBM jadi serba salah dan merasa dibayang-bayangi oleh kehebatan, kecerdasan, dan kepemimpinan ayahnya. Ketika frustrasi meniru ayahnya, dia sadar bahwa tiap orang unik dan berbeda. Kemudian dia mulai menilai dirinya, dan sadar bahwa dia memiliki kecintaan dan keahlian dalah hal kedirgantaraan. Akhirnya dia menekuni hal itu, hingga menjadi pejabat di kantor pertahanan udara AS ketika perang dunia kedua. Setelah masa damai, dia menggantikan ayahnya memimpin IBM, dengan prinsip seperti dirinya bebas untuk terus belajar, terbukti perusahaan yang dipimpinnya bisa mengalahkan pesaing-pesaingnya di era itu dan tercatat dalam sejarah sebagai perusahaan yang paling banyak memberi keuntungan kepada pemegang sahamnya waktu itu.

Terus apalagi ya, maaf soalnya buku rujukannya sudah saya kembalikan. Mungkin itu saja yang berkaitan dengan pendidikan/pengajaran, yang lainnya berhubungan dengan permasalahan-permasalahan bisnis dan teknis seperti problem upah yang tidak seimbang dengan kinerja (kelebihan/kekurangan), juga apa pelatihan yang perlu dibuat untuk mencapai target tertentu …. ups itu pendidikan juga ya, tapi lupa-lupa ingat saya. Misalnya untuk meningkatkan penjualan (marketing), meningkatkan hasil (teknis), meningkatkan SDM (manajer SDM), dll, apa bentuk pelatihan yang tepat. Mungkin dilanjutkan di kesempatan lain. Semoga bermanfaat.

Update: 12 Okt 2017

Syukurlah kemarin ada kabar, Argentina lolos berkat hatrick messi ke gawang ekuador.