Keyboard USB untuk Microsoft Surface

Seharian saya dan teman-teman keliling pusat elektronik dekat kampus, Zeer, tetapi tidak berhasil menemukan penjual keyboard tablet microsoft surface atau yang dikenal dengan nama type cover. Seandainya ada pun itu untuk surface versi baru yang ukurannya tidak pas (kegedean) ditambah lagi harganya yang sama dengan handphone korea. Karena seringnya dipergunakan dengan cara memutar type cover 360 derajat akhirnya lembaran konektor antara keyboard dengan tablet terputus, hasilnya saya mencoba mengetik di surface dengan keyboard virtual dengan problematika yang ada.

Karena sudah terbiasa dengan mengetik buta yang mengandalkan rabaan di rumah jari maka teknik ini tidak mungkin bisa diterapkan pada keyboard virtual yang mengandalkan visual. Untuk darurat sih oke juga tetapi untuk menulis skripsi atau tesis tentu saja ribet karena lambat.

Sebenarnya ketika di dormitory (kos-kosan) saya lebih suka mengetik dengan laptop, tetapi ketika menulis di Indonesia dengan rutinitas keseharian yang padat, sepertinya tidak sempat mengetik dengan laptop yang harus menyiapkan meja, kabel, dan sejenisnya. Berbeda dengan tablet yang dengan cepat membuka aplikasi layaknya handphone. Mau beli online ragu, ditambah lagi tablet surface saya yang sudah berusia tiga tahun (mending beli baru sekalian). Tapi saya takjub dengan daya tahan baterai surface yang bisa dua hari untuk pemakaian normal, padahal sudah tiga tahun.

 

Akhirnya saya pakai jalan pintas, membeli keyboad berukuran kecil tapi bisa mengetik cepat di toko samping kampus (book store). Lumayan bisa mengetik cepat di kasur atau dipermukaan yang tidak rata, termasuk di pangkuan kita. Tapi ya begitulah, banyak aksara Thailand yang membuat keyboard jadi “ramai”. Memang agak ribet karena terpisah, tetapi kalau untuk mobile ya pakai keyboard virtual saja, toh paling mengetik singkat saja (keyboard ditinggal di rumah).

Perencanaan Wilayah Kota Bekasi 2010-2030

Setelah mengutak-atik optimasi dengan dasar sustainable development, tugas penelitian saya berikutnya adalah penerapan algoritma tersebut terhadap kebijakan wilayah kota Bekasi yang telah disetujui baik oleh walikota (waktu itu bapak Mochtar Muhammad) dan DPRD Kota Bekasi. Perencanaannya adalah pembuatan zona-zona wilayah: Komersil, Industri, Jasa, Tambang, Pemerintahan, Pemukiman Padat, Pemukiman Sedang, Pemukiman Rendah, dan ruang terbuka hijau (RTH). Rancangannya kira-kira sebagai berikut, diambil dari rencana tata kota Bekasi halaman 10.

Warna kuning muda, kuning, dan merah bata berturut-turut adalah perumahan kepadatan rendah, sedang, dan tinggi. Perumahan kepadatan tinggi memang dirancang untuk jenis perumahan vertikal. Sementara itu yang berwarna abu-abu adalah untuk industri, disusul berikutnya warna pink dan ungu yaitu untuk komersial dan jasa. Ada warna coklat di selatan kiri yaitu untuk tambang (berbentuk dua lingkaran), entah tambang apa, saya sepertinya harus mencari tahu.

Yang saya sedikit bingung adalah wilayah ruang terbuka hijau yang ditandai dengan warna hijau tua dan hijau muda, mengapa hanya sebesar itu? Memang di penjelasannya ruang terbuka ketika rancangan itu dibuat sebesar lebih dari 30%, tetapi luas sebesar itu diperbolehkan untuk dibangun menjadi rumah tinggal yang ujung-ujungnya akan mengurangi prosentasi tersebut. Memang sulit juga melarang penduduk untuk membuat rumah tinggal mengingat tanah itu memang tanah pribadi. Sebenarnya jika ingin OK, dapat meniru Singapura yang memaksa ruang terbuka 30% lebih dan penduduknya tinggal dalam rumah susun, seperti dapat kita lihat di situs street directory.

Lihat wilayah berwana hijau tua yang menandakan ruang terbuka hijau. Tapi memang sih, Singapura terpaksa membuat itu karena sekelilingnya negara lain, sementara Bekasi mengandalkan Bekasi kabupaten di sekelilingnya untuk ruang terbuka hijau, tetapi jika sekelilingnya tidak memperhatikan RTH, dan membangun seluruh lahan menjadi rumah (ekspansi orang kota Bekasi ke kabupaten), jadi sumpek juga dan suhu bisa tinggi seperti yang disindir oleh meme-meme bahwa Kota Bekas deket dengan matahari.

Sampailah saya tugas berikutnya, digitalisasi peta manual rencana tata ruang menjadi peta digital di atas agar bisa masuk ke algoritma yang sudah dirancang sebelumnya untuk optimalisasi. Gambar di atas adalah lokasi industri dan komersial. Untuk yang pengen tahu cara digitalisasi bisa lihat postingan saya sebelumnya.

Membuat Fungsi Alih Motor Listrik

Perkenalan saya dengan Matlab pertama kali adalah lewat bidang sistem kontrol/kendali. Waktu itu saya diminta dosen pembimbing untuk mensimulasikan sistem suspensi ketika ada beberapa respon masukan (impulse, step, dan sinusoidal) mengenainya. Kembali saya membuka buku catatan mata kuliah getaran dan teknik pengaturan. Untuk mensimulasikan sesuatu kita harus mampu membuat model matematis dari sistem yang akan kita simulasikan. Model matematis itu kemudian disimulasikan di Matlab untuk melihat respon dan kinerja dari model tersebut. Asalkan sudah dalam bentuk model matematis, Matlab mampu mensimulasikan tanpa memandang domain ilmu dari model tersebut, apakah kimia, elektro, ekonomi, biologi, dan lain-lain. Misalnya kasus motor listrik (atau bisa juga generator).

Gambar di atas adalah motor DC yang saya ambil dari situs kampus UPI ini semoga masih ada. Fungsi alih sendiri (dalam istilah Inggris transfer function) dari arti katanya fungsi yang mengalihkan dari satu masukan ke keluaran tertentu. Jika masukannya tegangan dan keluarannya tegangan yang lebih besar, bisasanya disebut penguat, tetapi ada juga masukannya putaran, misal potensiometer, keluarannya arus/tegangan dan sering diistilahkan dengan transducer. Ada juga istilah lainnya yakni sensor, yang merubah masukan tertentu seperti suhu, level ketinggian air, dan lain-lain menjadi tegangan atau arus yang masuk ke dalam perangkat elektronika.

Untuk kasus motor DC di atas jika dilihat, masukannya adalah tegangan dari baterai arus searah dan keluaranya adalah puntiran di motor em. Variabel s adalah variabel Laplace. Apa itu? Yah .. mau nggak mau belajar dulu dasar-dasar sistem kontrol. Karena nanti setelah ada variabel laplace ada lagi variabel z kalau sudah masuk ke sistem digital yang melibatkan metode cuplik/sampling. Untuk orang elektro tidak ada masalah dengan besaran-besaran di atas beserta satuannya yang pasti. Situs dari malang ini lebih lengkap dengan besaran dan satuan juga teknik simulasinya.

Jika J= 10, D=5, km=2, dan Rα=0.5 maka diperoleh fungsi alih sebesar, pembilang=2/(0.5*5)=0.8 dan penyebut=s(s*(10/5)+1)=s(2s+1). Buka Matlab dan masuk ke command window. Masukan instruksi ini:

Lalu muncul plot setelah instruksi masukan impulse diterima fungsi alih, demikian pula setelah masukan tangga (step) diberikan.

Ntah bener atau salah, mohon koreksinya. Tapi setahu saya, motor DC itu harus diberi beban karena tanpa beban dia akan bertambah kencang bahkan bisa merusak motor itu sendiri.

Submit Paper Lagi

Paper atau yang juga dikenal dengan nama artikel jurnal merupakan idaman bagi mahasiswa doktoral, terutama artikel jurnal internasional. Saking berharganya, pemerintah bahkan menurunkan syarat untuk naik dari lektor ke lektor kepala (associate professor) yang tadinya harus bergelar doktor menjadi boleh dengan gelar magister/master asalkan sudah mempublikasikan tulisan di jurnal internasional. Memang mempublikasikan tulisan di jurnal internasional saat ini berat karena harus memiliki kontribusi terhadap ilmu pengetahuan di bidang tertentu.

Saya sendiri jika disuruh memilih tentu saja memilih jurnal internasional yang paling gampang atau dengan kata lain syarat minimal saja yang terpenuhi. Tapi tetap saja sulit ditembus karena persaingan yang ketat dimana kita harus bisa meyakinkan reviewer bahwa sesuatu yang kita sampaikan di artikel kita memiliki nilai kebaruan (state-of-the-art). Berbeda dengan dosen biasa yang tidak sedang tugas belajar dimana jika naskah tidak diterima tidak begitu berpengaruh terhadap kesehariannya, dosen yang sedang tugas belajar sangat kurang nyaman karena statusnya sebagai pelajar dikejar-kejar oleh waktu. Apalagi yang kuliah di luar negeri dan tidak membawa serta keluarga. Dijamin halal .. eh galau.

Bersyukurlah rekan-rekan yang sudah publish jurnal, atau setidaknya naskahnya sudah diterima (accepted), artinya gelar doktor sudah di depan mata, tinggal menjaga hubungan baik saja dengan supervisor/advisor. Mujur saya menganut paham disertasi dengan beberapa objektif yang tiap objektif dapat dijadikan satu paper, jadi ketika sedang meneliti, satu persatu paper dapat dicoba untuk dipublikasikan. Sial memang jika kasus yang kita buat tidak bisa dijadikan jurnal kecuali 100% penelitian kita selesai, padahal ketika men-submit, butuh waktu berbulan-bulan. Jadi mahasiswa doktoral yang lewat dari rentang waktu normal, sepertinya sudah biasa.

So, untuk para calon mahasiswa doktoral yang sedang mencari kampus untuk studi lanjut, perhatikan aturan yang ada di kampus yang dituju tersebut. Perhatikan jenisnya: langsung riset, kuliah sambil riset, atau kuliah dulu baru riset. Jika Anda diterima di kampus yang langsung riset, maka berbahagialah, karena biasanya lulus lebih cepat dibanding jenis yang lain, apalagi yang terakhir seperti di kampus saya, kuliah dulu hingga IPK (g.p.a) di atas 3.50 baru siap-siap ujian kandidasi (kelayakan menjadi kandidat doktor) disertai dengan proposal penelitian. Proposal sangat menentukan, apakah Anda bisa segera menyicil publikasi jurnal atau menunggu restu dari pembimbing setelah riset selesai. Lihat tulisan sebelumnya. Jika membuat artikel yang dipublikasikan menunggu riset selesai (biasanya tiga tahun), wallahualam .. biasanya lulus lewat dari 3 tahun .. setidaknya 4 tahun alias four years .. (bukan for years lho).

Konversi Endnote (*.ens) ke Mendeley (*.csl)

Bagi yang masih berkutat dengan perkuliahan, berkecimpung di dunia perjurnalan, atau berprofesi sebagai peneliti dan dosen, sering kali mengalami kesusahan ketika dihadapkan dengan masalah sitasi (citation) dalam suatu makalah/paper. Jika kita mensubmit ke suatu jurnal, kita diharuskan mengikuti aturan sitasi dari jurnal yang akan kita submit kalau ingin jurnal kita diterima di penerbit tersebut. Repotnya antara satu jurnal dengan jurnal lainnya memiliki tata cara yang berbeda yang bisa memberikan ekstra bonus “pusing” di luar konten tulisan kita. Untungnya saat ini teknologi sistem informasi sudah berkembang dengan pesat dimana otomatisasi sudah biasa dijumpai. Kita tidak ingin diribetkan dengan prosedur-prosedur administrasi yang sebenarnya bisa digantikan oleh mesin.

Salah satu jurnal yang akan saya submit menggunakan format sendiri di luar format yang sudah ada. Jadi ketika saya buka microsoft word, saya tidak menjumpai style yang cocok dengan jurnal tersebut. Jika harus mengedit manual, rasanya menyita waktu.

Endnote

Software buatan thomson reuter yang membantu penulis untuk mendokumentasikan referensi ini sangat terkenal. Sayangnya aplikasi ini berbayar sehingga memberatkan para peneliti khususnya yang berdomisili di Bekasi, eh Indonesia. Sayangnya kebanyakan jurnal memberikan format style dalam bentuk endnote dengan extention *.ens.

Mendeley

Kabar baik muncul ketika pengembang opensource membuatkan software mirip endnote yang gratis. Software ini dapat diunduh di https://www.mendeley.com/ dengan terlebih dahulu sign up dengan user id email. Manfaat dari sign up adalah aplikasi yang kita install dapat disinkronkan dengan yang ada di web sehingga data pustaka kita dapat diakses dari mana saja.

Ketika file hasil download style akan digunakan di Mendeley, kesulitan muncul karena mendeley hanya mau menerima file berekstensi *.csl. Seharian searching di internet saya tidak bisa menemukan jawaban, bahkan di forum para pengguna mendeley sedikit memaksa dan momohon agar Mendeley membuatkan konversinya. Ternyata sudah ada agreement antara Mendeley dengan Endnote agar tidak saling kompatible sehingga pengguna Endnote tetap terjaga. Agak pelit juga sih.

Zotero

Muncullah pemain baru, dengan nama zotero. Sepertinya antara Mendeley dengan Zotero masih kerabat karena ketika saya klik about Mendeley, ada unsur zoteronya (koreksi kalau saya keliru). Aplikasi ini dapat diunduh gratis di situs resminya: https://www.zotero.org/download/

Ternyata ada keributan antara Zotero dengan Endnote karena Endnote menuduh Zotero melanggar kesepakatan untuk tidak kompatibel. Zotero memberikan sebagian besar format/Style dari jurnal-jurnal ternama di dunia dengan memasukan nama publisher di kolom pencarian.

Tinggal klik kanan dan unduh style-nya dalam format *.csl yang dikenal oleh Mendeley dan Zotero. Sungguh praktis, saya tidak perlu membuat citation secara manual lagi. Berikutnya tinggal mengimport dari Mendeley yang kita install. Jadi untuk mengkonversi dari Endnote ke Mendeley, kita perlu memiliki Zotero. Mengapa tidak menggunakan Zotero langsung? Alasannya karena Mendeley lebih lengkap fasilitasnya, menurut saya sih. Juga Mendeley bisa menempel di Word walaupun zotero juga bisa (tetapi saya gagal di office 2010).

Mengimpor Style Baru

Berikutnya adalah cara mengimpor style baru dari Zotero ke Mendeley. Buka Mendeley Desktop yang telah kita install masuk ke view – Citation Style – More Style.

Anda tinggal mengklik “get more style”. Arahkan download ke link download yang dari Zotero hingga style yang diinginkan muncul di list Mendeley. Selamat mencoba.

Basis Data di Matlab

Tahun 2000 merupakan tahun perkenalan saya dengan Matlab. Dosen pengajar pengenalan pengaturan (dulu namanya mekanisme servo dan kontrol) rencananya akan memberikan seminar khusus di kampus. Sayangnya ternyata acara itu karena satu lain hal di-cancel. Rencananya saya akan menggunakan software itu untuk tugas akhir saya dalam mensimulasikan sistem suspensi. Apa boleh buat, terpaksa belajar sendiri.

Setelah membuka-buka Matlab ternyata banyak fasilitas-fasilitas menarik yang bisa diexplore, apalagi waktu itu Matlab 6 sudah muncul. Versi ini jauh lebih menarik dibanding Matlab 5, versi sebelumnya. Dari kedokteran, sains, bahkan ekonomi pun bisa memanfaatkan Matlab, walaupun orang informatika waktu itu kurang menyukai karena “terlalu mudah” atau “hanya mengandalkan toolbox” dibanding dengan bahasa c++, visual basic, pascal (sekarang Delphi) yang lebih laris dipasaran dan banyak dipakai pengembang. Efeknya, buku-buku terbitan Matlab waktu itu masih amat langka, ditambah lagi waktu itu internet masih barang mahal dibanding sekarang. Tapi bagi pengembang metode (bukan terapan) Matlab sangat menarik karena dengan cepat bisa mengeksekusi metode-metode rumit buatannya, karena kelamaan jika terlalu berfokus ke coding. Salah satu kelemahan Matlab sehingga dijauhi pengembang waktu itu adalah sulit diterapkan ke sistem basis data (DBMS). Sempat membuka sampel penggunaan basis data ternyata basis data yang digunakan tersimpan dalam format “mat” khusus Matlab, tidak dengan Access, MySql, dan sejenisnya. Untuk menghubungkannya harus mengkonversi dari DBMS tersebut ke Excel atau “dat” file agar bisa dimanipulasi Matlab.

Dengan Matlab saya banyak menerima dana hibah penelitian dari DIKTI untuk mengutak-atik Soft Computing dengan metode-metode terbarunya baik penerapan atau memodifikasi metode tersebut. Dari Jaringan Syaraf Tiruan hingga Algoritma genetika sudah saya gunakan, hingga akhirnya saya dipaksa melibatkan DBMS karena data yang besar (big data) dengan ukuran dua giga byte ke atas. Apalagi jika data yang akan dimanipulasi real time yang harus berubah-ubah terus. Untungnya Matlab 7 sudah memberikan fasilitas menghubungkan Matlab dengan basis data, waktu itu saya menggunakan ruby on rail sebagai interface yang menampilkan hasil manipulasi genetic algorithms ke web lewat PostgreSQL

Karena banyak yang menanyakan cara menghubungkan Matlab dengan DBMS, plus pemrograman visualnya (GUI) akhirnya saya tulis ke dalam buku yang baru terbit Februari 2016 kemarin.

Entah sudah tersedia di toko-toko buku terdekat atau belum saat ini. Kebanyakan pembeli menggunakan situs online dari penerbit informatika, link-nya berikut ini. Ada beberapa contoh kasus seperti enkripsi sederhana terhadap database, pengolahan citra digital (digital image processing) dan clustering dengan Fuzzy C-Mean. Kali ini saya menambahkan dengan CD. DBMS yang saya gunakan adalah Microsoft Access sebagai perwakilan aplikasi desktop dan MySQL sebagai perwakilan aplikasi berbasis Web dengan ODBC sebagai jembatan penghubung dari Matlab ke DBMS lewat windows.

Untuk membuat buku yang sempurna mungkin membutuhkan waktu yang cukup panjang, sementara para mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir/skripsi/tesis dikejar waktu, ada baiknya buku yang ringkas dan sesuai kebutuhan tersedia di pasaran. Semoga bermanfaat, Amiin.