Sampai Jumpa SAPTO, Selamat Datang SALAM Infokom

Ada tiga klinik di acara rakornas APTIKOM tanggal 2-4 November yang lalu: Akreditasi, SKKNI, dan Tips n Trik Publikasi Ilmiah. Klinik di sini maksudnya adalah seperti workshop, penjelasan dan praktek (kalau ada). Di antara ketiga-nya saya memilih akreditasi karena ini merupakan yang tidak saya mengerti. Pembicaranya ada dua orang: Prof. Sri Hartati dari ILKOM UGM dan Dr. Prihandoko dari Gunadarma.

Akreditasi yang saat ini dilakukan oleh badan akreditasi nasional (BAN) perguruan tinggi (PT), atau disingkat BAN-PT bermaksud mengecek apakah suatu PT dan prodi-nya mengikuti standar yang ada. Pemerintah bermaksud memberi rasa aman dan nyaman) kepada masyarakat. Selain status antara terakreditas atau tidak terakreditasi, status terakreditasi terbagi lagi menjadi A, B, dan C yang nanti akan diubah menjadi Unggul, Baik sekali, dan Baik. Hanya penamaan saja agar terlihat sopan dan tidak terkesan memberi nilai. Jadi ingat ketika akreditasi di tempat saya bekerja yang asesornya dulu dosen saya ketika S1 di UGM. Selalu saja saya mendapat nilai C dari nya, dan ketika akreditasi pun dapat C .. alamak. Dengan kriteria yang baru sepertinya lebih manusiawi dan tidak merendahkan. Oiya, kabarnya prodi yang dapat B dan C masih dominan (sekitar 80%).

Pentingnya Akreditasi

Akreditasi merupakan aspek penting dalam penyelenggaraan perkuliahan di PT. Penting karena menurut UU No. 12/2012 terutama pasal 28 ayat 1, perguruan tinggi yang tidak terakreditasi tidak boleh meluluskan mahasiswanya. Maksudnya, ketika meluluskan mahasiswa, SK akreditasi harus masih berlaku. Oleh karena itu diharapkan enam bulan (untuk amannya satu tahun) sebelum habisnya SK, kampus segera melakukan re-akreditasi. Tantangan yang dihadapi BAN-PT dalam akreditasi adalah jumlah PT dan prodi yang banyak dan secara geografis tersebar luas.

SAPTO

Untuk menghadapi tantangan jumlah prodi dan PT yang banyak, Ristek-Dikti mengajukan sistem akreditasi PT online atau yang dikenal dengan nama SAPTO. Sistem ini untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam sistem manual. Salah satu masalah yang diatasi dengan SAPTO adalah integritas data. Tidak ada entry data ulang dalam SAPTO sehingga terhindar dari human error. Bahkan sistem akan memberitahu jika ada inputan data yang kurang (dari file excel yang disubmit). Selain itu SAPTO terintegrasi dengan pangkalan data DIKTI (informasi tentang dosen dan mahasiswa). Hanya saja SAPTO membatasi ukuran file maksimal 25 Mb. Oleh karena itu sebaiknya jangan terlalu banyak gambar (yang penting-penting saja). Silahkan yang ingin latihan, SAPTO menyediakan latihan onlinenya: https://sapto-dev.banpt.or.id/sapto/public/.

SAPTO akan dijalankan Januari 2018, namun masih diberi toleransi 6 bulan hingga Juni 2018. Selain sistem yang online, SAPTO berbeda dengan sistem akreditasi sebelumnya. Jika paradigma akreditasi sebelumnya berdasarkan input, proses, dan output, SAPTO menerapkan prinsip proses, output, dan outcome. Tidak lagi dituntut berapa jumlah buku di perpustakaan, ruangan dosen, dan sejenisnya, melainkan berapa jumlah buku yang dipublikasikan oleh dosen, dan kinerja (output) lainnya. Outcome berbeda dengan output. Analoginya adalah, jika makan outputnya kenyang, maka outcome-nya adalah sehat.

SALAM Infokom

Sepertinya sistem akreditasi BAN-PT terus berbenah. Selain berbenah, ternyata Ristek-Dikti menawarkan untuk akreditasi lewat jalur mandiri yang dikenal dengan istilah lembaga akreditasi mandiri (LAM). Yang saat ini sudah berjalan adalah LAM PTKes untuk kampus-kampus bidang kesehatan. Walaupun ada keluhan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk akreditasi cukup besar (sekitar 80 juta-an), tetapi bidang-bidang lainnya seperti teknik, dan informatika & komputer (infokom) siap diluncurkan. Salah satunya adalah LAM Infokom untuk bidang infokom, yang kabarnya akan diberi nama SALAM Infokom. Selain terpisah dengan BAN PT, SALAM Infokom juga memiliki sistem informasi tersendiri. Sistem yang dirancang akan obyektif, bahkan antara PT yang diakreditasi dengan asesor tidak bisa dijadwalkan karena sistem yang akan menentukan (asesor maupun anchor asesor-nya). Harapannya dapat subsidi dari pemerintah sehingga biaya akreditasi (ditanggung kampus yang akan diakreditasi) bisa ditekan atau bahkan gratis.

Peran APTIKOM

Saat ini LAM Infokom masih digodok, kabarnya sudah 95% selesai. Kata pembicara, diibaratkan wanita yang hamil tua. Yang merumuskan adalah dosen-dosen yang tergabung dalam asosiasi PT infokom (APTIKOM). Karena APTIKOM terlibat dalam LAM sebaiknya PT yang memiliki bidang infokom di dalamnya aktif dan menjadi anggota APTIKOM. Berbeda dengan akreditasi yang hanya menilai, LAM berfungsi juga sebagai pendamping dan pembimbing. Pendampingan berada di posisi ketika PT mensubmit data-data akreditasi secara online, jika ada yang kurang akan “dipaksa” melengkapi agar tidak gagal nantinya. Jika berkas yang disubmit OK, maka ada proses pembimbingan setelah asesmen lapangan (AL)/visitasi. Misal jika ada nilai lemah di bidang tertentu seperti kurikulum, performa publikasi, dan lain-lain, maka ada proses pembimbingan dari LAM. Jadi jangan main-main sama APTIKOM (yang baru saja melaksanakan rakornas di Papua).

Komponen Penilaian

Komponen penilaian yang berisi butir-butir beserta bobotnya masih terus disempurnakan. Sebagai bocoran, ada sekitar 9 kriteria umum beserta bobotnya. Selain itu ada satu kriteria berisi evaluasi diri, sehingga total ada 10 kriteria. Masing-masing kriteria diberi nilai dari A, B, C, hingga D. Peringkat atau hasil evaluasi ada tiga: unggul, baik sekali, dan baik. Mirip dengan terakreditasi A, B, dan C yang dikenal selama ini.

Peringkat “unggul” dicapai ketika jumlah nilai A (tidak ada D), nA = 8. Untuk peringkat “baik sekali” dicapai jika nilai A dan B (nA+nB) tidak kurang dari 6, sementara jika kurang dari 6 peringkatnya menjadi “baik”. Mungkin sampai sini dulu, karena SALAM Infokom masih dalam proses penggodokan. Semoga bermanfaat.

Iklan