Perkembangan e-Learning Saat Ini

Ketika mendaftar beasiswa DIKTI, calon karya siswa (mahasiswa yang memperoleh beasiswa) diwajibkan untuk melampirkan proposal disertasi. Waktu itu saya mengusulkan penerapan soft computing dalam sebuah e-learning. Soft computing yang diterapkan pun beragam dari yang biometrik hingga plagiarism check. Setelah wawancara dan dinyatakan lulus, mulailah satu persatu jurnal e-learning saya baca. Ternyata rumit juga .. he he. Alhasil saya beralih dari e-learning ke data spasial, kebetulan dapat hibah bersaing DIKTI tentang optimasi data spasial, jadi sekalian kerja serempak. Ditambah lagi, kampus tempat saya kuliah tidak menawarkan course e-learning.

Kualitas e-learning Terkini

Jujur saja saya tidak begitu mendalami masalah teknis aplikasi e-learning, yang dimotori oleh Moodle. Hanya sedikit berbagi pengalaman saja sebagai pengguna (siswa dan juga pengajar). Ketika kuliah remote sensing & GIS, dosen saya menyediakan e-learning (disebutnya virtual class). Tetapi jarang saya buka, karena hanya sekedar share file-file dan tugas kuliah saja. Waktu itu bentuknya pun tidak jauh berbeda dengan Moodle yang pernah saya coba install dengan php-mysql di laptop. Sekarang ada sedikit perbedaan, seperti tampak dalam gambar di bawah ini.

Sebagai mahasiswa sepertinya sangat pasif dan hampir tidak ada fasilitas untuk onlinenya. Mungkin karena tidak optimal digunakan. Malah lebih suka mengunakan Facebook untuk media komunikasinya. Sementara itu, di bawah ini salah satu situs e-learning dari universitas terbuka.

Tugas-tugas yang diberikan tiap minggu dapat dengan mudah diperiksa dalam sebuah forum diskusi dan juga tugas-tugas. Untuk membuat e-learning yang mirip sekali dengan perkuliahan tatap muka sepertinya agak sulit. Untuk sekedar diskusi saja tingkat keikutsertaan siswa masih rendah. Sepertinya mobile-learning dengan smartphone perlu diusahakan agar memudahkan pengguna. Mirip aplikasi Grab/gojek/atau lainnya yang mudah dan user friendly.

E-learning SEAMEO SEAMOLEC

Salah satu faktor utama suatu aplikasi adalah tingkat penggunaannya. Percuma aplikasi yang baik dan canggih tetapi orang malas menggunakannya. Oleh karena itu sebaiknya riset melibatkan pengguna. Salah satu lembaga level Asia Tenggara (+ Australia dan Timur Leste) adalah Seameo Seamolec (lihat link resminya). Gambar berikut menampilkan seminar internasionalnya (saat tulisan ini dibuat, acara masih berlangsung) via online yang membahas perkembangan terkini online learning.

Software yang digunakan adalah plugin dari Cisco (Webex). Saya kagum juga dengan Cisco dalam menyediakan fasilitas video conference. Pernah ada uji coba dari univ di jogja yang mengadakan diskusi online lewat aplikasi Cisco yang akan dibeli kampus itu (saya lupa nama produknya). Hasilnya cukup OK walaupun saya menggunakan ponsel HP (GSM) sinyalnya, tapi tidak putus-putus.

Salut juga untuk tim (Binus dkk) yang menyelenggarakan seminar ini. Semoga e-learning terus berkembang sehingga bisa menjangkau wilayah Indonesia yang luas dalam mencerdaskan bangsa.

Berikut ini contoh tampilan konferensi online ini (2nd Indopec International seminar). Semoga info ini berguna.

Iklan

Menghormati Orang Lain .. Wajib di Era Informasi

Saat munculnya media sosial, dimulai oleh milis dan obrolan macam-macam sejenis kaskus hingga facebook, twitter, dan instagram, dimulailah era informasi. Istilah nitizen terbentuk, gabungan dari kata internet dan citizen, yang artinya warga yang berinteraksi lewat media online (internet). Terakhir dengan bantuan “internet of things”, aplikasi-aplikasi online ditawarkan dan membentuk “pasar baru” yang dikhawatirkan pelaku bisnis existing yang masih menerapkan proses bisnis konvensional.

Pengakuan Terhadap Aplikasi Online

Pertama kali logo grab saya lihat menempel di taksi konvensional yang ada di Thailand, tempat saya studi lanjut, kira-kira tiga/empat tahun lalu. Saya hanya berfikir itu sekedar aplikasi bantuan untuk memesan taksi. Kemudian ketika beberapa kali “mudik” ketika libur kuliah, banyak ojek-ojek berwarna hijau dan orange berseliweran. Barulah saya berfikir ini merupakan proses bisnis baru, karena ada aplikasi dan seragam. Akhirnya muncul bentrokan-bentrokan akibat ojek pangkalan yang merasa diambil rejekinya. Terbesar adalah ketika perusahaan taksi ternama demo besar-besaran dengan aksi pengrusakan terhadap mobil-mobil yang diduga beroperasi sebagai taksi online. Walaupun ada aturan-aturan dari pemerintah, seperti kendaraan roda dua yang tidak boleh jadi angkutan, dan aturan-aturan lain yang bermaksud membatasi ojek dan taksi online, tetap saja, konsumen adalah raja.

Ketika dua bulan yang lalu tiba di bandara, kaget juga plang iklan “grab” tampil mendominasi. Sempat heran juga, padahal masih ingat berita viral di internet ketika aksi sweeping taksi online terjadi di bandara. Sampai ada yang pura-pura memesan taksi online sebagai perangkap. Saya sempat “kecele” juga ketika memesan grab di terminal DAMRI dengan berjalan keluar beberapa puluh meter. Ternyata taksi online itu menunggu persis di pinggir jalan terminalnya. Si supir mengatakan bahwa saat ini sudah tidak ada masalah menerima penumpang di terminal. Padahal dulu istri dan adik ipar ketika memesan taksi online di terminal sempat dimaki-maki supirnya oleh taksi pangkalan terminal itu. Sekali lagi .. konsumen adalah raja.

Perilaku Driver Ojek/Taksi Online

Di awal-awal memang banyak pengemudi yang kurang baik. Walaupun tetap saya beri bintang yang baik, mungkin karena tidak semua orang punya rasa kasihan seperti saya, sepertinya supir-supir selebor mulai tersisih. Bahkan makin lama, driver sopan dan ramah banyak dijumpai, juga tentu saja sabar dan taat dalam berlalu lintas.

Akhirnya saya sempat juga merasakan naik ojek online ke terminal DAMRI karena bawaan sedikit (biasanya taksi online). Sialnya ketika itu ada acara sepakbola di stadion patriot Bekasi, dan yang tanding tim “orange”, macet dah. Ketika ojek ingin memutar balik, repot juga ternyata. Baru saja moncong motor mau berbelok ke kanan, mobil-mobil yang keren-keren tidak memberi jalan, bahkan merapatkan dengan mobil di depannya. Salut juga saya dengan skill “pelit-nya”, dengan level akurasi yang beberapa senti saja dengan mobil di depannya. Sebaliknya saya salut dengan kesabaran driver ojek yang menanti beberapa saat lamanya hingga ada supir mobil yang mempersilahkan kami melintasi untuk memutar balik, padahal waktu itu lalu-lintas padat merayap dan melata.

Di era online, memang kita tidak tahu pasti dengan siapa kita berpartner dan berbisnis. Apakah itu dengan orang yang beraliran politik sama dengan kita atau tidak, seagama dengan kita atau tidak, pribumi atau non-pribumi (kalau memang ada), dan perbedaan-perbedaan lainnya. Si driver ojek online tidak marah denga si pengendara mobil yang “pelit”, bahkan dibalas dengan senyuman. Karena bukan tidak mustahil, si supir mobil itu jadi pelanggannya. Siapa tahu karena macet dia pesan gojek, grab, atau uber. Bahkan si mobil yang baik hati memberi jalan, bisa saja baik karena sering memakai jasa ojek online.

Perilaku dalam Ber-Online

Melihat perilaku pelaku bisnis online yang mulai respek terhadap orang lain, sebenarnya dapat kita contoh. Apa yang telah kita ekspresikan baik lewat video, tulisan, dan lain-lain lewat online tidak dapat kita tarik kembali. Istilah “viral” akan meminimalisir perilaku selebor yang ada di lapangan oleh rakyat, apalagi pejabat publik. Sangat mudah dan praktis, jika tidak suka dengan obrolan atau status rekan kita, tinggal unfollow saja .. bahkan bila perlu “unfriend”. Tidak ada dendam dan sakit hati lagi. Bahkan kabarnya ada perusahaan di negara tetangga kita yang menyeleksi calon karyawan dengan membaca statusnya di media sosial. Jadi berhati-hatilah, bisa saja yang tersinggung calon nasabah/rekan/partner bisnis kita. Rugi kan kalau lepas.

Beberapa waktu yang lalu saya kecewa dengan situs layanan “cloud” gratis yang karena tidak aktif, akun saya diblok. Tidak masalah sih sebenarnya. Saya cuma iseng, mengirim email keberatan, dan walau tidak ada keinginan untuk minta dibuka, terus saja saya diemail untuk dibujuk aktif lagi. Tapi ya begitulah, sekali konsumen kecewa, ya beralih, era online banyak memberikan tawaran dan pilihan. Yang membuat cepat, transparan, banyak pilihan, praktis .. akan dipilih konsumen. Saya jadi ingat, warung masakan padang ternyata sejak dulu menerapkan prinsip online, “kalau tidak puas katakan ke kami, tapi kalau puas bilang ke orang lain” .. alias “viral-kan” yang baik-baik saja.

Sharing

Diawali dari sharing informasi, saat ini sharing economy mulai merebak. AirBnB, Gojek, Grab, dan aplikasi-aplikasi online menerapkan “mahdzab” sharing. Motor, mobil, rumah, kamar, bor, sapu, dan benda-benda lain bisa dimanfaatkan (sharing) oleh orang lain dan sama-sama untung, ketimbang mubazir tidak dipakai. Google, Facebook, Youtube, dan lain-lain yang terkesan menggratiskan ternyata malah kian maju. Oleh karena itu silahkan sharing sebisanya, jangan sharing yang negatif atau menyinggung orang lain, karena kita tidak tahu dengan siapa nanti berbisnis, berpartner, bekerja, dan bersosialisasi. Untuk rekan dosen dan pengajar, juga para lulusan baru .. yuk sharing ilmu.