Peer-to-Peer System vs Mediator

Generasi seusia saya pasti pernah mengalami dengar musik lewat kaset, CD, hingga DVD. Namun masih kah dengan cara yang sama saat ini? Masih, mungkin hanya hadiah album dari KFC atau siswa yang mengumpulkan laporan skripsi ke kampus. Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya adalah ditemukannya konsep Peer-to-Peer di tahun 90-an.

Nasib Para Mediator

Mediator di sini adalah penghubung antara satu pihak dengan pihak lainnya, produsen dengan konsumen, penjual dengan pembeli, baik barang maupun jasa. Seperti contoh di atas, mediatornya adalah produsen musik waktu itu. Penyanyi kontrak dengan produser, kaset/CD dijual dan hasil dibagi antara produsen dengan penyanyi. Ketika era digital melanda, seorang pemilik bisa membagi file dengan orang lain dan ini dengan mudah dilakukan di era 2000-an ketika network kian murah dan kian cepat. Bahkan seorang penyanyi bisa langsung mengirimkan hasil karyanya ke pendengar langsung, tentu bukan dengan mediator produser melainkan sebuah teknologi peer-to-peer, sebagai contoh adalah NAPSTAR. Mungkin di musik agak kurang “smooth” karena ada unsur pembajakannya, walaupun sekedar berbagi pakai. Contoh lain adalah konsumen, misalnya ingin membeli komponen kendaraan, maka dengan mudah dapat dilakukan tanpa ke bengkel/toko sparepart melainkan langsung ke pabriknya dengan mediator yang baru yaitu sistem online.

Peer-to-Peer System

Sistem ini merupakan sistem terdistribusi dengan tiap node bisa berupa PC, laptop, HP dan lain-lain yang terhubung ke jaringan dengan menerima aturan-aturan yang ditetapkan bersama. Prinsip ini bisa menghubungkan produsen dengan konsumen langsung. Jadi banyak mediator yang tadinya sebagai penghubung mereka tidak digunakan lagi (bidang transportasi, keuangan, dan lain-lain). Juga dengan lembaga pendidikan?

Ketika putri saya kelas 6, saya memasukan ke bimbingan belajar ternama di Indonesia. Entah kenapa sebagian rekannya keluar karena orang tuanya tidak melihat adanya kemajuan. Anak teman saya juga ketika dikursuskan di bimbingan belajar yang lainnya malah keluar dengan sendirinya dan minta daftar ke situs yang menyediakan bimbingan belajar online, dan hasilnya pun oke. Jika tujuannya pemahaman atau transfer pengetahuan, hubungan langsung peserta didik dengan tutor bisa dilaksanakan tanpa mediator fisik (bimbingan belajar) yang terbatas ruang dan waktu.

Break sebentar nulisnya … abang driver online sudah tiba membawa jus pesanan. Lagi-lagi contoh aplikasi online yang menghubungkan produsen jus dengan konsumen.

Seberapa Mediator kah Anda?

Karena pertanyaan aneh, jadinya sulit dijawab. Ambil saja contoh toko-toko komputer di kawasan glodok yang menjadi perantara produsen laptop/hp sudah merasakannya (termasuk juga department store kabarnya). Beberapa bisa bertahan karena level mediatornya rendah, alias menyediakan juga servis, tukar tambah, dan lain-lain yang memang tidak terlalu melibatkan pihak produsen. Di sini toko itu sendiri yang menjadi produsen yang berjenis jasa (perbaikan). Bagaimana dengan kampus/sekolah dan Dosen/guru? Silahkan jawab sendiri dengan cara analisa seperti contoh di atas. Mahasiswa sudah jelas jadi konsumen (semoga industri jadi konsumen juga), siapakah produsennya, kampus/sekolah atau dosen/guru? Ataukah keduanya mediator dengan pihak lain (unknown) sebagai produsen? Wah. Ada baiknya lihat video Youtube siswa 12 tahun sebagai app developer tentang guru-guru di sekolahnya. (https://www.youtube.com/watch?v=Fkd9TWUtFm0). Sekian semoga menginspirasi.

Mengejar Impian

Tiap orang memiliki impian sejak kecil. Impian di sini maksudnya sesuatu yang diinginkan, bukan mimpi ketika tidur, walaupun kadang keinginan itu dibawa mimpi juga sih. Berbeda dengan anak-anak yang ketika bermimpi tidak memperhitungkan mungkin atau tidaknya, orang dewasa terkadang membatasi diri dengan faktor-faktor luar yang membuat mimpi tersebut tidak mungkin tercapai.

Mimpi yang Sempurna

Jika dalam syair lagu “mimpi yang sempurna” Ariel bertanya kepada bintang-bintang tentang mempinya yang sempurna, ada baiknya mengikuti pendapat Arnold Schwarzenegger ketika dia bermimpi menjadi bintang Hollywood. Orang lain mengatakan tidak mungkin mengingat aspek-aspek di dirinya yang tidak cocok seperti logat khas Jerman yang pasti akan membuat produser tertawa-tawa. Justru ternyata logat tersebut menjadi kalimat sederhana yang terkenal: “I’ll be back” dalam film terminator dalam logat Jerman yang kental, mirip mesin. Vision atau dalam bahasa Indonesia Visi, harus dimiliki oleh siapapun karena akan mengarahkan ke tujuan. Tentu saja visi yang baik dan jelas.

Mimpi berbeda dengan keinginan, seperti ingin rujak yang tidak lama kemudian terkabul. Ada proses panjang untuk mengarah ke impian. Terkadang memang seharusnya kita yang mengikuti impian, bukan sebaliknya impian yang fleksibel mengikuti keadaan.

No Pain No Gain

Terkadang memang banyak penderitaan yang menyertai perjalanan menggapai impian. Selama ada hasrat dan keinginan tentu saja penderitaan sebesar apapun tidak berarti. Banyak rekan-rekan saya yang sakit, masalah rumah tangga bahkan meninggal dunia dalam menggapai jenjang pendidikan tertentu. Di tempat saya bekerja pun hanya separuh yang menyelesaikan studi doktoralnya, tapi tetap saja tidak dianggap penderitaan karena memang itu harus dijalani. Kemarin ada rekan yang sedang berusaha memperoleh beasiswa menceritakan perjalanannya yang berliku. Ketika memperoleh beasiswa ternyata lokasi kampusnya di Jogja bukan yang diinginkan (Jakarta). Padahal perjalanan mencapainya cukup panjang, pemberkasan, wawancara di daereah Jawa Timur, ketika sudah beres ternyata hamil dan nunggu melahirkan. Namun toh tetap saja dia mencoba lagi.

Santai dan Tetap Pertahankan Minat

Seperti biasa ketika ada rekan yang berhasil mendapatkan beasiswa dan mulai studi lanjut atau ada rekan yang telah menyelesaikan kuliahnya banyak yang bersemangat untuk mengikuti jejaknya. Tapi yah … seperti itu, semangat di awal dan kemudian redup lagi dan kemudian muncul lagi ketika ada yang lolos atau lulus dan begitu berulang kali. Makanya doctoral bootcamp yang diadakan Kemenristek DIKTI kurang begitu berhasil.

Impian itu mirip dengan lari jarak jauh atau lari marathon, bukan sprint 100 meter. Ketika berlari, memperoleh momentum dan energi baru. Kalau impian cepat sekali memperolehnya, jangan-jangan itu bukan impiannya, tapi “ada kesempatan dalam kesempitan”. Ada konsep dalam traditisi Tibet yaitu keinginan merupakan “loba” alias keserakahan, kesedihan/menderita adalah “dosa”, dan ketidaktahuan adalah “moha”, kalau dalam Islam diistilahkan nafsu. Jika impian kita jalankan seperti itu, sudah dipastikan akan sulit mencapainya. Anggap saja impian misalnya doktor, guru besar, atau apapun itu sekadar objek yang dituju tanpa ada keinginan ataupun nafsu yang mengebu-gebu, seperti dalam konsep meditasi yaitu santai dan tetap pertahankan minat. Dalam Islam diistilahkan nafsu mutma’inah. Mungkin film yang dibintangi Will Smith di bawah bisa menginspirasi. Yuk, tetap melangkah tanpa gejolak di hati.

Menguasai Keterampilan dengan Cepat

Untuk mengetahui informasi dengan cepat dapat dilakukan dengan mencoba melatih membaca cepat. Makin banyak yang dibaca makin banyak pula informasi yang diperoleh, sehingga dengan waktu yang sama jika membaca dengan cepat akan diperoleh informasi/pengetahuan yang lebih banyak. Untuk informasi memang hanya bisa dilakukan dengan membaca, tapi bagaimana dengan keterampilan? Apakah bisa dengan membaca? Tentu saja tidak. Video di youtube ini cukup baik bagaimana meningkatkan keterampilan (bahkan menguasai keterampilan baru) hanya dalam waktu 20 jam, yang jika dirinci per hari berlatih selama 40 menit maka hanya dibutuhkan waktu 30 hari saja.

Ada lima langkah untuk menguasai dalam waktu 20 jam atau 40 menit sehari.

Beberapa ahli mengatakan istilah 10 ribu jam berlatih agar menjadi ahli dalam satu keterampilan, tetapi postingan ini sedikit memberi kabar baik bahwa tidak harus selama itu. Namun dibutuhkan hal-hal berikut ini jika ingin menerapkan prinsip 20 jam ini, antara lain:

1. Menentukan apa yang diinginkan terhadap keterampilan tersebut

Ini sangat penting karena tidak ada gunanya menguasai keterampilan tetapi tidak mengerti manfaatnya, minimal untuk dirinya sendiri. Dengan mengerti dan sadar manfaat yang diperoleh, tekad untuk menguasainya jadi lebih besar. Misalnya menguasai bahasa Inggris. Dengan menyadari keterampilan ini bermanfaat bagi karirnya sebagai seorang dosen (studi lanjut atau publikasi jurnal internasional) maka usaha untuk menguasainya lebih intens dibanding sekedar iseng.

2. Mencari keterampilan utama yang dibutuhkan hasil dari break down

Tiap keterampilan terdiri dari sekumpulan keterampilan-keterampilan kecil yang terhubung satu sama lain menghasilkan keterampilan tertentu. Seorang pemain bole selain harus memiliki kemampuan dribbling juga memiliki keterampilan-keterampilan kecil dari stamina berlari, passing, hingga sekedar menahan emosi ketika tanding. Jadi harus mampu memecah keterampilan utama menjadi beberapa keterampilan bagian (sub-skill) agar lebih mudah dilatih. Biasanya pelatih memiliki program yang membagi keterampilan menjadi beberapa keterampilan kecil. Mirip perkuliahan yang membagi menjadi beberapa sistem kredit semester (SKS).

3. Riset terhadap kemampuan diri (evaluasi diri) yang perlu dilatih sehubungan dengan sasaran skill

Tiap orang memiliki bakat tertentu yang membuat mudah dalam menguasai keterampilan tertentu. Tapi pasti ada kelemahan-kelemahan tertentu juga. Agar proses latihan lebih efektif adakalanya kita harus memahami apa keterampilan bagian tertentu yang menjadi titik lemah kita dan diperkirakan membutuhkan waktu lama dalam menguasainya. Jika lemah di babak akhir dalam permainan catur, perlu melatih lebih banyak dalam menerapkan teori-teori babak akhir. Jujur terhadap diri sendiri sangat diperlukan dalam tahap ini.

4. Menghilangkan hambatan-hambatan ketika berlatih

Karena per hari hanya dibutuhkan waktu 40 menit saja, maka perlu menjaga dari gangguan-gangguan yang mungkin terjadi ketika proses pelatihan. Televisi, radio, ponsel, dan sejenisnya perlu disingkirkan terlebih dahulu. Sedapat mungkin dalam melakukan latihan tidak perlu persiapan yang njlimet sehingga membuat kita malas sendiri untuk memulai latihan. Misalnya ketika berlatih gitar, maka sedapat mungkin gitar tersebut diletakan di kamar, dan ketika mulai latihan langsung di tempat itu juga, tidak perlu pergi ke studia, ke kebun .. apalagi sampai mandi kembang dulu, hehe.

5. Menguatkan tekad di awal proses latihan

Ini ibarat kunci starter kendaraan, apakah kita putar on atau tidak, tergantung tekad kita sudah bulat atau masih angin-anginan. Jika masih tidak jelas, sudah tentu tidak efektif untuk dieksekusi. Akan membuang waktu 20 jam yang percuma karena tidak sesuai dengan hasil yang diinginkan pastinya walaupun mengerti manfaat, mampu memecah menjadi sub-skill, mampu mengevaluasi diri dan menghilangkan gangguan-gangguan. Yuk dicoba.

 

Mencari Pertanyaan itu Sulit Juga

Saat ini era milenial sudah masuk ke segala bidang kehidupan mengikuti bertambahnya usia generasi Y yang lahir antara tahun 1981 hingga 1995. Generasi yang muncul akibat derasnya arus informasi menuntut generasi-generasi sebelumnya ikut gaya mereka yang mencintai segala informasi. Entah ada hubungannya atau tidak, saat generasi ini mulai beranjak dewasa istilah “KEPO” muncul, yang artinya sifat ingin tahu yang tinggi (KEPO=knowing Every Particular Object). Sifat yang membuat para guru kewalahan ini ada baiknya dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Minimal keingintahuannya diakomodir dengan alat-alat bantu pembelajaran.

Untuk bisa klop dengan generasi ini tidak ada cara lain mengikuti gayanya yang kepo itu. Tidak ada yang salah dari sifat keingintahuan yang tinggi. Hanya saja tinggal diarahkan ke hal-hal yang bermanfaat/berguna. Kemampuan mencari pertanyaan di genenerasi ini ada baiknya ditiru oleh generasi-generasi sebelumnya yang telah lama diajarkan sesuatu yang setelah tahu, digunakan seterusnya. Padahal saat ini sesuatu yang diketahui saat ini, tidak lama kemudian akan digantikan oleh sesuatu yang baru lagi dan harus diketahui agar tidak tertinggal.

Pentingnya Bertanya

Saya sempat beberapa menit menyusun sebuah komposisi pertanyaan ketika tiba di negeri orang. Maklum banyak masalah ketika terpaksa studi lanjut di luar negeri, padahal komunikas satu-satunya hanya bahasa Inggris. Aneh juga, selama ini saya belajar bahasa Inggris menjawab pertanyaan-pertanyaan. Hampir tidak pernah diajarkan membuat pertanyaan, padahal di lapangan sering sekali pertanyaan harus dibuat. Einstein dikabarkan oleh ibunya ketika pulang sekolah selalu ditanya apa yang dia tanyakan ke gurunya ketika sekolah, bukan nilai atau materi pelajaran. Jika Anda telah mampu membuat pertanyaan yang tidak ada seorangpun yang menjawab, level Anda sudah masuk kategori calon doktor. Biasanya ujian kandidasi adalah mempresentasikan sebuah pertanyaan yang merupakan gap antara temuan terkini dengan yang saat ini dibutuhkan (teknik, metode, dan lain-lain).

Arah Pemikiran

Untuk menyelesaikan pekerjaan mental berupa penyelesaian masalah, diperlukan kombinasi kemampuan berfikir runtun dan acak. Namun tetap saja harus ada arahnya, dalam hal ini pertanyaan yang tepat. Semakin detil pertanyaan, semakin baik arah pemikiran seseorang. Hal ini yang perlu dibentuk ke generasi-generasi milenial yang jika tidak diarahkan hanya akan memiliki pemikiran yang banyak tetapi dangkal. Kita membutuhkan anak-anak muda yang memiliki pemikiran yang mendalam, bukan hanya luarnya saja. Memang lebih mudah mencari informasi dangkal karena tersedia secara instan di internet. Untuk hal-hal yang mendalam, kemungkinan perlu digali dari sumber-sumber lain yang baik dari sisi variasi, juga akurasinya (misalnya jurnal).

Pasangan Setia: Tanya dan Jawab

Sebagai contoh mudah adalah permainan catur. Pertama kali saya bingung, apa yang dilakukan orang bermain catur. Ternyata sederhana, menemukan pertanyaan kemudian merespon dalam bentuk jawaban. Yang repot adalah posisi yang sepertinya tidak ada solusi yang harus dijawab. Prof. Max Euwe, mantan juara dunia catur dari Belanda memberikan arahan yaitu memunculkan pertanyaan awal berupa apa saja “Ciri” bangunan saat ini, dilanjutkan dengan pertanyaan apakah bisa ber-“inisiatif”. Jadi dari awal hingga akhir isinya hanya pertanyaan dan menjawabnya, hingga ditemukan siapa yang paling mampu menjawab pertanyaan yang di level master (bukan catur jalanan) biasanya pertanyaannya sama. Sebagai ilustrasi, perhatikan partai di bawah ini, antara Grandmaster Milenial dengan Gen X yang seru. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Bumi Dipijak Langit Dijunjung

Pepatah yang mengatakan “dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung” mengandung arti agar mengikuti adat istiadat dimana kita berada. Tapi pada postingan ini pepatah itu dapat diterapkan dalam keadaan apapun terlepas dari sebuah lokasi geografis.

Bumi Dipijak

Sadar posisi saat ini merupakan syarat utama mengorganisasi sebuah institusi. Sadar akan posisi yang mirip dengan perumpamaan “bumi dipijak”, membuat kita memahami diri (evaluasi diri) untuk kemudian merancang visi dan misi ke depan. Beberapa tahun riset data spasial yang melibatkan posisi geografi membuat saya paham betul prinsip utama geografi “banyak faktor yang berpengaruh, tetapi faktor geografilah yang utama”. Walau yang mengatakan memang orang geografi, tapi rasanya benar juga (dulu saya dengar lebih parah “semua yang ada dimuka bumi itu, adalah geografi” .. waduh). Ketika mengetik tulisan ini saya berada di dalam rumah di kawasan Bekasi, beda kan jika posisi di Palu saat gempa atau di dalam pesawat JT610 .. (semoga Allah memberikan tempat yang layak kepada korban-korban).

Bumi Dipijak – Alhamdulillah

Di awal semester kuliah doktoral, saya mengalami hal yang rumit dan berat. Diawali keberangkatan yang tidak di-ridhoi beberapa senior hingga kewajiban mengikuti pembekalan DIKTI yang membuat saya telat dua bulan mengikuti kuliah. Padahal kuliah tetap berjalan dan wajib ambil 12 sks dengan IPK min 3,5. Beberapa rekan dari kampus teknik terbaik di Surabaya pun mengalami nasib yang sama. Kesulitan mendapat IPK yang baik. Di situlah prinsip “bumi dipijak” bekerja. Evaluasi diri adalah teknik yang logis. Tapi sebelumnya dalam kondisi yang kalut, kata Alhamdulillah merupakan kata mujarab di segala kondisi. Ketika merasa di titik terendah, dengan kata yang wajib di baca ketika shalat itu, selalu teringat pemberian-pemberian Allah yang kita terima, dari istri, anak yang sehat, pekerjaan yang masih ada, dan lain-lain. Padahal yang tidak ada itu hanyalah secuil, walaupun “drop out” di mata. Dengan prinsip Alhamdulillah ditambah menyadari “bumi dipijak”, langkah tepat saya ambil, berganti jurusan ke information management. Yup, langkah yang tepat, karena saya lulusan pertama Computer Science & Information Management (CSIM) walaupun semester pertama (sebagai mahasiswa Computer Science) tidak dihitung yang logikanya saya harusnya lulus belakangan. Arti kata Alhamdulillah adalah segala puji bagi Allah, berarti berfungsi juga sebagai benteng kokoh dari sikap ingin dipuji. Cari muka, show up, dan hal-hal lain yang ingin agar kita dianggap orang hebat tidak akan dilakukan oleh orang yang memahami makna Alhamdulillah. Cuma kadang suka lupa juga sih ..

Langit Dijunjung

Kita bukanlah kerbau yang main seruduk ketika merasa prinsip kita benar. Memperhatikan orang lain saat ini sangat penting. Banyak organisasi yang berguguran karena kurang memperhatikan orang lain, yang dalam teori IT Strategic disebut “key performance indicator”. Ketika perusahaan taksi tidak bisa memahami kesulitan-kesulitan dan kedongkolan-kedongkolan yang dialami oleh konsumen, hadirnya aplikasi online menghantam organisasi itu. Contoh lain, saat ini institusi kampus sedang “kebingungan” dengan kondisi saat ini, merger di mana-mana, bahkan di tempat saya sesaat lagi beralih ke pemilik lain. Membuat konsumen dan pihak-pihak terkait puas akan pelayanan dan servis yang diberikan sepertinya wajib diketahui bukan hanya oleh bagian pemasaran, melainkan seluruh karyawan. Yang utama tentu saja pemilik/yayasan harus menyadari hal itu. Jika di perusahaan Gojek ada istilah “North Star” yaitu visi utama yang harus dipahami oleh seluruh pegawai (jika ada satu saja cancel – seluruh analis segera mengolah big data apa sebab-sebabnya), di kampus pun harus ada juga, katanya. Jika hanya mahasiswa yang dimanja, tetapi nasib dosen tetap merana, ya udah kabur saja. Sekian, semoga bisa menghibur.

Instant Quiz dengan KAHOOT – Part 1

Ketika presentasi Revolusi Industri 4.0 di Munas APTIKOM 2018 Palembang, Prof. Eko Indrajit meluncurkan quiz dengan menggunakan aplikasi Kahoot. Dengan memasukan Game PIN seperti gambar di bawah maka akan ditampilkan empat pilihan jawaban, masing-masing dengan warna atau bentuk. Soal ditayangkan di layar LCD, biasanya di kelas. Siswa ketika menjawab tinggal menakan jawaban di handphone masing-masing setelah memasuki quiz via PIN tersebut. Bagaimana cara membuatnya? Postingan ini sekadar berbagi bagaimana membuat kuis instan ini.

Mendaftar/Signup Kahoot

Klik di sini untuk daftar (di bagian bawah kahoot). Untuk gratis, tekan saja Sign up for Free.

Ada empat pilihan, untuk guru, siswa, sosialita atau pekerjaan. Di sini saya ambil contoh sebagai teacher sesuai dengan profesi saya, dosen.

Berikutnya diminta cara sign up (ada tiga pilihan). Gunakan saja login with Google agar lebih cepat. Pilihan lainnya adalah Sign up with Microsoft, jika ingin.

Hanya butuh tiga isian dan satu checklist konfirmasi sebelum lanjut (joint Kahoot). Checklist terakhir ditekan jika ingin menerima informasi baru dari Kahoot.

Setelah itu schroll hingga ke bawah, pilih saja Basic Version for Teachers.

Selesai sudah daftar Kahoot. Pilih saja Personalize dengan beberapa isian baru agar sesuai dengan tema quiz. Atau jika tidak ingin, bisa pilih No Thanks.

Lanjut: Membuat Quiz

Tak Selamanya Efektif dengan Online

Saat ini sedang digalakan dilaksanakannya Massive Open Online Course (MOOCs) khususnya dari universitas-universitas favorit di tanah air seperti ITB, UGM, UI dan kawan-kawan. Sasaran utamanya adalah ilmu yang tersebar secara merata, gratis, dapat diakses siapapun dan kapanpun. Istilahnya sekali merengkuh dayung, satu dua pulau terlampaui.

Dari sisi skalabilitas, MOOCs unggul dalam menyebarkan IPTEKS. Terutama bidang-bidang yang memang cocok untuk dilaksanakan dalam format MOOCs, didukung dengan teknologi e-learning yang saat ini kian fleksibel dan user friendly. Bagaimana dengan kualitas? Nah masalah ini agak sulit untuk mengetahui/mengujinya. Diperlukan riset khusus agar mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat menyerupai bahkan melebihi kualitas dari perkuliahan offline alias tatap muka.

Sosialisasi

Sebenarnya baik itu pendidikan, kursus, dan hal-hal lain di luar pendidikan bisa juga menggunakan online. Misalnya seminar/pertemuan ilmiah yang semula pertemuan tatap muka, saat ini bisa juga dilaksanakan dalam bentuk webinar, alias seminar via web. Yah, walaupun sempat tertidur karena tidak ada cofee break.

Di situlah letak perbedaannya, sosialisasi. Memang kita mengenal “medsos: media sosial” tetapi, tentu saja tidak sama dengan sosialisasi. Medsos hanya merupakan jembatan informasi untuk sosialisasi, mirip dengan percakapan via chat, email, dan komunikasi elektronik lainnya. Di sinilah mengapa piknik, tur wisata, dan hal-hal lain masih laku dan tidak tergantikan dengan online, walaupun saat ini virtual reality (VR) kian canggih yang memberi sensasi semirip mungkin dengan yang real.

Saat ikut klinik kurikulum di munas APTIKOM, tutor memberi gambaran mengapa walaupun disiarkan online, tetap saja mahasiswa yang hadir di kuliah online di negara maju membludak. Ketika ditanya ke mahasiswa mengapa hadir padahal bisa saja mengikuti videonya di rumah. Mereka menjawab sederhana: “sosialisasi”, maksudnya bisa mengukur dengan rekan-rekannya. Jika rekan-rekannya dengan santai dan terlihat tanpa usaha ketika mengikuti kuliah sementara kita masih “mangap” (maksudnya berfikir keras memahami maksud si pembicara), berarti harus ekstra keras lagi belajarnya .. hehe, mirip yang pernah saya alami.

The Secret

Banyak hal-hal lain yang tidak bisa dituangkan dalam bentuk online. Khususnya hal-hal rahasia yang memang bersifat pribadi, atau tidak sesuai dengan alur/prosedur baku. Saya pernah ketika di Indonesia menanyakan via email apakah bisa regitrasi KRS semester pendek (tempat kuliah di LN) tetapi kuliah dari Indonesia karena SKS yang diambil hanya riset. Jawabannya tidak, tetapi ketika kongkow di warung kopi kampus bersama rekan yang sama pembimbingnya mengatakan jangan lewat email. Dan memang ketika meminta langsung/bicara dia setuju di semester pendek tahun berikutnya tanpa datang ke kampus. Email dan bentuk lain online bisa jadi barang bukti, terkadang beberapa advisor berhati-hati dalam menjawab via email, chat, dll. Memang seharusnya mahasiswa yang mengambil semester pendek berada di kampus. Lagi-lagi kongkow/nongkrong di warung kopi dan ngobrol langsung bisa lebih berkualitas dibanding chatting.

Satu hal yang sulit dilakukan online adalah bimbingan. Ketika revisi atau mendiskusikan suatu hal, sangat sulit dilakukan secara online. Bisa saja dilaksanakan via Skype, tetapi ketika ada hal-hal yang harus ditunjukkan, berkas-berkas, hitungan-hitungan dan sejenisnya sangat sulit. Beda dengan ketemu langsung, tinggal buka berkas, tunjukkan. Terkadang dicoret-coret sambil dibahas bersama di berkas tersebut. Itulah mengapa revisi jurnal oleh review bisa beronde-ronde, karena jawaban yang kita berikan dalam bentuk tulisan. Mungkin jika reviewer ketemu langsung bisa beres cepat, tapi tentu saja karena blind review tidak bisa dilakukan langsung.

Mungkin banyak contoh-contoh lain yang menggambarkan pentingnya ketemu langsung. Juga hal-hal lain terkait privasi yang memang tidak membolehkan adanya catatan dalam suatu pertemuan. Bayangkan pertemuan rahasia yang tidak dilakukan secara langsung (via online), sifatnya jadi tidak rahasia lagi karena online, walaupun ada jaminan keamanan dari sistem network, perlu ada jaminan tidak terekam.

Dosen saya yang terbuka dan apapun diberi jika diminta, ketika seorang mahasiswa kedapatan merekam perkuliahannya beliau marah (baru kali itu melihat dia marah). Ternyata marah karena rekannya yang di USA memberitahu kalau kuliahnya ada di Youtube. Ya, aspek kecepatan, variasi, dan jumlah memang ditawarkan oleh sistem online, tetapi jika ada hal-hal yang tidak butuh cepat, tidak butuh jumlah, dan tidak butuh variasi tetapi memerlukan hal-hal lain seperti negosiasi, motivasi, dan sejenisnya, tentu saja efektivitasnya harus disertai dengan offline, yang saat ini dikenal dengan istilah blendded learning, atau turunannya Flipped Learning. Selamat ber-kopi darat.

Sumber Inspirasimu Ada di Sekitar

Teman/Guru

Pergaulan kita memang sangat mempengaruhi perkembangan jiwa kita. Apa corak yang mewarnai diri kita sangat ditentukan oleh teman. Bahkan di Islam dikatakan bahwa “seseorang mengikuti agama temannya ..”. Jadi peran teman, apalagi sahabat sangat menentukan bentuk pribadi kita. Mungkin agama lain memiliki prinsip yang sama. Postingan ringan ini sedikit berbagi pengalaman hal-hal yang mempengaruhi atau menginspirasi hidup saya yang mungkin ada kemiripan dengan pembaca sekalian.

Banyak teman yang menginspirasi saya. Dampaknya sangat luar biasa, mengalahkan sumber-sumber inspirasi lain karena sifatnya yang “live”, berbeda dengan sumber-sumber lain yang sedikit ada campuran rekayasa. Setidaknya kita kurang percaya. Bandingkan Anda melihat maling secara langsung dengan lewat berita di koran, di radio, di televisi atau internet. Atau melihat hantu .. upss.

Banyak guru atau dosen yang menginspirasi. Entah karena kepintaran, skill, atau sekedar sifat baiknya, tutur kata, dan hal-hal menarik lainnya. Bagaimana yang sudah selesai sekolah? Silahkan cari sumber-sumber lain, entah di asosiasi, pertemuan-pertemuan ilmiah dan sejenisnya. Pasti ada satu, dua yang bisa memacu kita untuk maju.

Film

Ya, yang satu ini mau tidak mau pasti dialami oleh sebagian besar anak kecil, terutama seumuran saya, maksimal. Maksudnya maksimal adalah saya sudah mengalami nonton film walaupun di TVRI waktu itu. Generasi seusia orang tua saya tentu saja belum ada, entah mungkin tontongan wayang kulit/golek atau ketoprak bisa saja mirip pengaruhnya. Waktu kecil ketika teman sebaya saya mengagumi sebuah tokoh jagoan, saya malah tertarik dengan orang tua berkacamata tebal, dan biasanya berjenggot lebat. Siapakah dia? Dia lah yang saya kagumi, seorang profesor. Seseorang yang mensuport si jagoan, bahkan mampu menciptakan robot yang bisa berubah-ubah. Generasi milenial tentu saja sulit dibayangkan dampaknya mengingat informasi sudah berkembang dengan cepat dan murah. Lewat youtube, seorang anak bisa menikmati beragam tontonan yang diinginkan tanpa menunggu jadwal dan duduk manis menikmati acara.

Bacaan

Bacaan paling berkesan bagi seorang anak adalah bacaan ketika kecil. Generasi 80-an pasti mengenal “ini ibu budi”. Untuk masalah keagamaan pasti mengenal juga “juz ama” yang sulit dipelajari waktu itu ketika teknik iqra belum ada. Sayangnya bacaan pelajaran di sekolah jarang yang menginspirasi. Untungnya beberapa guru bisa menginspirasi, tentu saja yang ringan tangan. Maksudnya gemar membantu dan membimbing, bukan meng … silahkan isi sendiri.

Untuk yang terakhir ini, agak unik. Dibilang sangat berpengaruh juga tidak, karena kalah dengan sumber yang lain. Tetapi dibilang tidak berpengaruh juga tidak. Lihat saja berita hoax yang saat ini marak kebanyakan dari tulisan yang dibaca. Mungkin karena kurangnya orang kita membaca lebih lanjut jadi mencari bacaan yang instan yang biasanya diperoleh di medsos. Bacaan juga memiliki keunggulan dibanding sumber yang dibahas di awal, yaitu jumlah informasi yang didapat tiap waktu lebih banyak. Teman mungkin bercengkerama beberapa jam, film juga, tetapi buku bisa berjam-jam dan tidak perlu urut/serial seperti film. Makanya, malaikat Jibril kabarnya gemas ketika menyuruh nabi membaca dan ternyata memang waktu itu nabi tidak bisa membaca. Kita yang bisa membaca karena memang disekolahkan sejak kecil tetapi malas membaca sepertinya Jibril a.s lebih gemas lagi, apalagi sampai percaya berita hoax.

Jika Ingin Dibutuhkan, Jadilah Server yang Baik

Yang pernah belajar jaringan pasti mengenal istilah client-server dan peer-to-peer. Istilah yang menggambarkan jenis hubungan antara satu titik/perangkat dengan perangkat lainnya yang biasanya sebuah komputer. Server yang merupakan komponen utama jaringan client-server memberikan layanan-layanan yang sangat dibutuhkan oleh client. Di dalam literatur komputasi, server cukup unik, di satu sisi sebagai pemimpin dan raja, di sisi lain memberikan layanan-layanan kepada bawahannya, dalam hal ini client. Memimpin tetapi juga melayani, alias sebagai pelayan.

Saya termasuk generasi X (generasi yang berusia 38-53 tahun ketika tulisan ini dibuat) yang sempat mengalami masa krisis ekonomi di tahun 98. Jangankan memperoleh pekerjaan, yang sudah bekerja saja banyak yang menganggur. Sempat beberapa kali melamar pekerjaan, tetapi perusahaan-perusahaan yang dituju “tidak membutuhkan”. Artinya tidak bisa membutuhkan “layanan” dari saya, atau setidaknya sudah ada orang lain yang terpilih. Ada sedikit paradox waktu itu, ketika negara krisis, sejatinya membutuhkan pelayan=pelayan yang bisa mengurangi atau mengatasi krisis, tetapi banyak tenaga-tenaga muda yang tidak bisa/berkesempatan melayani. Waktu berjalan, akhirnya beberapa lembaga membutuhkan layanan saya, dari kampus hingga perusahaan-perusahaan.

Jaman berubah, era dimana informasi tidak/belum berkembang cukup baik di tahun 90-an menjadi era dimana informasi datang secepat kilat. Bila suatu hal butuh beberapa hari untuk tersebar, saat ini hanya dalam hitungan detik bisa menyebar. Tentu saja jika “hal” tersebut dibutuhkan orang banyak. Lembaga yang bisa melayani kebutuhan akan menjadi kuat, sebaliknya yang abai terhadap pelayanan akan tergusur. Era itu saat ini dikenal dengan istilah “disrupsi”. Komplain, keterlambatan, dan kekecewaan-kekecewaan lain yang dirasakan konsumen akan berakibat fatal. Jangankan bisnis yang penuh saingan, bisnis yang tanpa saingan pun akan hancur karena muncul jenis bisnis baru yang memenuhi aspirasi para konsumen.

Beberapa perusahaan bisnis yang saat ini eksis, merupakan perusahaan-perusahaan yang pernah trauma dengan krisis ekonomi. Beberapa bisa eksis bahkan bergerak maju karena permintaan dan suplier yang memang berlebihan dan murah waktu itu (tenaga kerja). Misalnya kampus-kampus, bahkan sangat membutuhkan tenaga pengajar. Saya sendiri mengalami masa di mana siangnya bekerja, malamnya mengajar di kampus. Prinsipnya tetap sama, ketika ada permintaan layanan, ada pula yang menyediakan/menawarkan.

Pertarungan Tak Terhingga (Infinity War)

Ada dua jenis pertarungan, terhingga dan tak terhingga. Contoh pertarungan terhingga adalah pertandingan sepakbola. Ketika waktu habis dan satu tim unggul selisih gol, maka pertarungan berakhir. Di sini dalam kompetisi persaingan sudah jelas, yaitu antar klub. Tetapi dalam bisnis, pertarungannya adalah tak terhingga. Tidak ada yang menang dan kalah, melainkan tetap bermain atau berganti permainan. Bangkrut pun bukan kalah, karena pemainnya bisa bermain lagi, tetepi tidak di pertandingan yang sama. Ketika instagram diambil alih oleh Facebook, instagram tidak bisa dikatakan kalah, melainkan pemilik lamanya berganti permainan. Perhatikan saat ini banyak institusi pendidikan yang merger atau berganti pemilik. Di sini tidak bisa dikatakan kalah, melainkan pemilik lama berganti permainan, alias tidak tertarik lagi memainkan laga di pertandingan yang sama (mengelola kampus)

Dalam pidato-nya di Bali, presiden Jokowi mengingatkan dunia agar janganlah seperti “game of throne” dimana pertandingan bersifat saling menaklukan seperti pertandingan terhingga. Satu untung berarti yang lain rugi. Padahal jika memakai prinsip jaringan komputer client-server jika ada yang membutuhkan maka perlu ada yang melayani. Client itu sendiri sejatinya adalah server bagi pengguna/user yang memakai piranti tersebut. Bagi rekan-rekan yang bekerja, selalu ingat prinsip melayani tersebut. Anda melayani dan sekaligus juga membutuhkan layanan orang lain. Anggaplah pertandingan tak terhingga di perusahaan tempat Anda bekerja. Jangan anggap jabatan yang diturunkan atau bahkan dipecat sebagai kekalahan, melainkan berhenti dan melanjutkan permainan di medan pertandingan menarik lainnya, selama nafas masih ada. Bisa jadi itu merupakan arahan tuhan agar kita berganti permainan, atau setidaknya mengarahkan ke tangga lainnya untuk maju, alias tidak “ngono-ngono thok” (gitu-gitu aja). Bagaimana agar bisa optimal dalam melayani? Tidak ada cara lain dengan terus “mengasah pedang” dan “melatih jurus-jurus” layaknya seorang samurai. Sehingga lebih optimal melayani dan client puas, yuk jadi server yang handal.

 

Hal-hal Kecil tetapi Rutin

Kita cenderung “wah” terhadap hal-hal besar yang dilakukan oleh sesorang, misalnya menjuarai suatu kompetisi, menemukan suatu teknologi, dan sejenisnya. Dan cenderung ingin mengikuti mereka berdasarkan hasil akhirnya saja. Padahal tidak demikian sesungguhnya yang terjadi. Ibarat gunung es di permukaan lautan yang tampak kecil dari atas tetapi ketika melihat ke bawah permukaan, malah justru lebih banyak yang berada di dalam.

Kita melupakan hal-hal kecil ketika ingin mencapai yang besar. Sebagai contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, misalnya seorang pria mengucapkan cinta kepada seorang wanita. Jika si wanita hanya melihat dari aspek “wah” saja, bisa jadi dia memercayai ucapan tersebut. Tetapi jika dia memperhatikan hal-hal kecil yang telah dilakukan oleh si pria itu selama beberapa waktu, barulah dia bisa menyimpulkan bahwa memang benar pria itu mencintainya. Seperti dalam film “Dilan”, Milea dapat mengetahui siapa yang sesungguhnya pria yang mencintainya, dari hal-hal kecil yang dilakukan kepadanya.

Saya banyak memiliki teman dosen yang kerap mengungkapkan suatu ide, niat, rencana, dan sejenisnya yang “wah”, seperti publikasi di jurnal Q1, riset ini, itu dan sejenisnya yang tidak pernah saya lihat pelaksanaannya. Namun banyak juga rekan yang melakukan hal-hal yang dimulai dari yang sederhana, menulis di jurnal biasa, berlanjut ke konferensi internasional, lolos di jurnal internasional berimpak rendah, dan hal-hal yang sepertinya sederhana tetapi dilakukan rutin tiap semester. Akhirnya yang bersangkutan berkeinginan untuk studi lanjut S3. Dengan toefl di bawah 400 dia berusaha perlahan-lahan mencapai di atas 500 dan saat ini gelar Ph.D sudah di tangannya.

Sering kali saya membaca buku-buku yang pernah dulu saya baca dan saya tidak mengerti. Tetapi saat ini ketika kembali membacanya, ntah mengapa saya jadi heran kenapa waktu itu tidak mengerti. Padahal mudah sekali. Hal-hal rutin yang sering kita lakukan seperti membaca buku, jurnal, melakukan studi ringan, mereview paper, dan lain-lain, karena sering walau kecil dan sederhana ternyata dapat membangun skill kita. Tidak ada salahnya melakukan hal-hal yang menurut kita kecil tetapi merupakan tangga dalam menempuh hal-hal yang besar. Jika ingin profesor, tidak ada cara lain saat ini untuk menempuh S3 bagi seorang dosen, dan untuk itu tidak ada cara lain mengasah kemampuan riset dan meneliti. Tidak perlu hal-hal yang besar, mulai saja dari riset dasar, mencoba membangun dan mencari GAP, mengikuti ROADMAP yang kita kuasai, dan mencoba menghadiri konferensi-konferensi, terutama yang internasional. Walau terkadang nombok karena kurang dibiayai oleh kampus tempat kita bekerja, tetapi demi kemajuan kita dan para mahasiswa kita (karena kita yang mengajari mereka) apa salahnya menyisihkan uang, hitung-hitung membantu kampus kita (terutama yang swasta) .. keren kan, biasanya kampus yang membiayai kita tetapi kita yang membiayai kampus (karena nombok). Semoga postingan ini bukan hayalan saya saja, sebaliknya bisa menginspirasi para pembaca sekalian.

The Power of ‘Program Diploma’

Bagi rekan-rekan yang lulus pasca krisis moneter 1998 mungkin pernah mengalami masa menganggur seperti yang saya alami waktu itu. Gejala-gejalanya muncul ketika di akhir masa kuliah setelah krisis moneter banyak dosen baru di kampus. Ternyata korban PHK dari Astra Internasional yang memang mengalami pengurangan karyawan. Perusahaan kuat yang jadi primadona para mahasiswa teknik itu tak luput dari penurunan profit, dan terpaksa merumahkan banyak karyawannya. Maklum ketika ada kerusuhan, perusahaan itu banyak mengalami kerugian akibat penjarahan. Ketika lulus di awal milenium baru, walaupun kondisi agak pulih dan beberapa perusahaan mulai bangkit dari keterpurukan, banyak lowongan pekerjaan dibuka.

Mudahnya Mencari Pekerjaan bagi Para Ahli Madya

Diploma tiga, atau yang sekarang dikenal dengan vokasi, mengharuskan lulusannya memiliki keahlian praktis. Misalnya teknik mesin, maka harus mampu mengutak-atik mesin atau mampu menggunakan peralatan permesinan seperti las, bubut, cnc dan sejenisnya. Untuk teknik komputer bisa menangani jaringan, hardware dan software, serta perawatan perangkat komputasi.

Kembali ke cerita awal krismon, beberapa perusahaan memang membuka lowongan pekerjaan, tetapi sulit sekali masuk karena saingan yang memang banyak, sementara permintaan untuk sarjana (S1) tidak sebanyak D3 atau SMK. Ketika proses penerimaan sering berjumpa dengan rekan satu almamater dahulu, tetapi dari diploma tiga. Yang membuat saya sedih adalah mereka ketika mendaftar dalam keadaan status sudah bekerja. Jadi mereka hanya berpindah-pindah pekerjaan saja mencari yang lebih nyaman, stabil, prospeknya cerah, dan tentu saja ber-salary tinggi. Sementara saya sendiri masih nganggur yang mudah sekali gugur ketika permintaan “berpengalamann kerja” menjadi satu persyaratan. Mungkin karena D3 lebih siap kerja ditambah lagi salary yang tidak sebesar S1 membuat jenjang ini relatif lebih mudah mencari kerja dibanding S1. Bagaimana jika perusahaan merekrut S1 tapi dengan gaji D3? Silahkan saja, tapi kenyataannya anak-anak D3 lebih mudah bekerja karena memang ketika kuliah ditempa dengan praktek dan praktek.

Sekolah Sambil Bekerja

Di tempat saya mengajar beberapa mahasiswa sepertinya “menghilang” ketika dua atau tiga tahun kuliah. Usut punya usut ternyata mereka sudah bekerja dan tidak ada waktu luang lagi untuk melanjutkan kuliah. Sibuklah sebagai pengurus jurusan “mencari” mereka yang hilang itu. Beberapa memiliki aktivitas masing-masing, bisnis atau bekerja. Banyak juga yang menjalani kehidupan menjadi ibu rumah tangga seperti biasa. Kebanyakan mereka sepertinya ketika memiliki sedikit skill sudah langsung bisa dipraktekan baik membuka bisnis (website designer, mobile application, dll) maupun diterima bekerja di perusahaan-perusahaan.

Mengetahui hal tersebut langkah yang tepat adalah mengajak mereka mengambil tugas akhir di bidang yang mereka geluti, biasanya software engineering dan jaringan komputer. Khusus jaringan komputer biasanya berkecimpung dengan masalah yang terjadi di perusahaannya seperti load ballancing, backup server, analisa quality of service, dan lain-lain. Walau dengan susah payah, dan sepertinya ijasah tidak digunakan lagi karena sudah bekerja/bisnis, mereka puas juga bisa merampungkan kuliah yang bertahun-tahun itu. Itulah kondisi real di kampus-kampus swasta dengan program diploma. Jika pemerintah/ristekdikti bermain “tangan besi” yang kabarnya tidak membolehkan ijasah diploma 3 di atas 5 tahun (tidak diberi “Pin”), anak-anak itu akan kehilangan kesempatan menyelesaikan kuliahnya.

Sidang Akhir T. Komputer

Beratnya Mengajar Diploma Tiga

Berbeda dengan rekan-rekan lulusan doktor yang mengajar S1 bahkan S2 dan S3 (pascasarjana), saya masih tetap mengajar dan mengurusi D3. Mengajar jenjang ini diharuskan memiliki kompetensi praktis agar peserta didik bisa memiliki kemampuan kerja. Di situlah rumitnya. Berbeda dengan mengajar S1 dan pasca yang kebanyakan bermain-main di tataran konseptual dan analisa. Sepertinya serfitikasi seperti CCNA dan sejenisnya harus dimiliki, atau setidaknya sertifikasi kompetensi dari BNSP Indonesia.

Untungnya saya pernah lebih dari tiga tahun bekerja di bagian IT suatu bank berskalan nasional. Bank merupakan satu-satunya perusahaan yang memanfaatkan IT secara maksimal ketika era disrupsi sekarang ini belum muncul. Dari troubleshooting komputer, jaringan, hingga setting server dan router kerap jadi sarapan sehari-hari ketika bekerja di sana, hingga akhirnya berhenti karena fisik yang tidak kuat lagi bekerja seperti kuda (sempat sakit typhus). Jadi ketika mengajar D3 tidak kaget dan siap praktek bersama. Yuk .. kuliah vokasi. Mau jadi sarjana …? Lanjut kuliah sambal bekerja saja.

Pelatihan Oracle IT Danamon

Heboh Linearitas Dosen

Berawal dari informasi di grup WA tentang berita di situs berita nasional, munculah pro dan kontra kemudahan pemerintah dalam linearitas dosen. Di berita tersebut prinsip linearitas yang dulu inline pendidikan S1, S2, dan S3-nya, sekarang dosen linear jika S3, riset dan homebase/mengajarnya inline. Postingan yang lalu sebenarnya sudah membahas masalah tersebut, tetapi saat ini heboh lagi, jadi ada baiknya diulas lagi.

Sulitnya Kuliah S3

Sedikit berbeda dengan S2 yang rata-rata baik dalam prosentase kelulusannya, banyak yang tidak bisa menyelesaikan S3, dan kalaupun bisa lulus, menderita dahulu, lama lulus dan kesulitan-kesulitan lainnya seperti keuangan, keluarga, dan lain-lain. Tidak jarang yang meninggal karena sakit ketika studi lanjut.

Beberapa rekan karena sulitnya mencari S3 sesuai bidangnya mengambil bidang lain yang lebih mudah. Namun ternyata banyak masalah yang terjadi. Ketika akreditasi, bahkan S3 salah satu rekan tidak diakui karena harusnya informatika/ilmu komputer tetapi mengambil teknologi pertanian. Salah satu dosen saya ketika ambil pascasarjana dulu, curhat ketika melamar ke kampus lain yang lebih menjanjikan ternyata S3-nya (yang menjadi persyaratan) tidak diterima krena bukan informatika/ilmu komputer melainkan teknologi pendidikan. Ternyata keilmuwan melekat dengan gelar terakhir.

Linearitas S3 – Riset – Mengajar

Memang dosen berbeda dengan peneliti karena dua tri darma lainnya yaitu pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Jadi jika antara riset dengan mengajarnya tidak linear maka dianggap dosen tersebut melanggar linearitas. Lantas bagaimana jika risetnya menggunakan gelar pascasarjananya (S2)? Bisa juga kan?

Sebelumnya ada baiknya merujuk ke peraturan LIPI tentang peneliti yang terdiri dari (lihat di sini):

  • Peneliti Pertama
  • Peneliti Muda
  • Peneliti Madya
  • Peneliti Utama

Di sana disebutkan S1 pun boleh meneliti. Namun informasi dari rekan saya di Litbang Pertanian, jika peneliti bukan Doktor maka wajib memiliki mentor. Mentor di sini adalah doktor yang fungsinya mirip pembimbing tesis/disertasi. Kecuali di daerah-daerah terpencil, biasanya di wilayah timur Indonesia, boleh tanpa mentor jika terkendala lokasi dengan mentornya.

Pada pasal 31 ayat (1) Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan pengajar S2 dan s3 diwajibkan bergelar doktor/profesor. Jika alasan utamanya adalah fokus s2 dan s3 adalah penelitian, maka jika bukan doktor maka ketika meneliti, perlu memiliki mentor. Bahkan saat ini, doktor pun ketika meneliti jarang sendirian. Tim peneliti terdiri dari beberapa orang dengan tugas-tugas spesifik (survey, olah data, penulisan, dan lain-laian), namun biasanya ada satu orang doktor/profesor di dalamnya. Jadi jika doktor yang bukan bidang risetnya (yg inline dengan S2) tentu saja dari sisi prinsip setara S2 walau bergelar doktor. Kembali ke tri darma, patokannya adalah selain penelitian, pada sisi pengajaran juga mengikuti aturan yang ada.

Respon LLDIKTI (Kopertis)

Kembali ke masalah berita di WA, kopertis mengharapkan untuk mencermati lebih dalam info-infor yang beredar di dunia maya. Tujuan aturan baru linearitas sebenarnya untuk mengakomodasi perkembangan IPTEK saat ini yang multidisiplin, bukan bermaksud memberi kemudahan. Berikut petikannya:

perlu saya sampaikan bahwa……..rekan rekan di PTS trtama tenaga pendidik harus baca scra lengkap dan jangan judulnya saja.

apabila dibca dgn seksama pa menteri bicara “akan segera” dgn pertimbangan yg berkaitan dgn IPTEK.

sbtlnya linearitas sdh dijelaskan sejak oktober 2014 sesuai surat edaran no. 887/mi/2014 dan pedoman operasional kenaikan pangkat/jabatan akademik dosen DIKTI 2014 yg sd dgn saat ini blm ada edaran or peraturan penggantinya….

dan yg disebut linearitas adalah kesesuaian bidang ilmu antara pendidikan terakhir dgn mata kuliah yg diampu, publikasi yg dihasilkan dan homebase/program studi tmpt dosen mengajar…..

linearitas yg ideal itu mmng s1 s2 s3 matkul, homebase dan publikasi aaaaaaa semua. maka dr itu sjk 2014 diberikan keringanan bahwa cukup sesuai dgn pendidikan terakhirnya saja..

S1 A S2 B S3 C….MK C PUBLIKASI C HB C bisa jadi guru besar ? bisa …..

Contoh lain : S1 A S2 B S3 A MATKUL A. HB A. PUBLIKASI A. bisa jadi GB ? bisa

S1 A S2 B S3 B. bisa? bisa…..

dan apabila linearitas dihapus kita profesional mau di bidang ilmu apa. tak terbayang kalau sy A B C tp ngajar di B. publikasi di A HB di C.

buat apa kita cape” kuliah S2 or S3 tp ngajar masih di S1…..

oleh krn itu kalau tenaga pendidik sudah tidak inline scra background pendidikannya kita arahkan dr awal atau arahkan lagi agar S1 s.d. S3 nya dan pelaksanaan tridharmanya inline…..

krn pasti akan terkendala dalam pengembagan karir tendik terhadap usulan JAD, Sertifikasi maupun Studi Lanjut..

kalau tidak inline apa lagi resikonya? ke akreditasi prodi dan institusi dmana satu prodi 6 dosen trsbt harus inline pendidikannya dengan homebasenya….

skrang mah kita berfikir positif saja dgn informasi tersebut dan dijadikan motivasi kita agar lebih baik menjadi tenaga pendidik dan tentunya profesional di bidang ilmunya…..janga meminta yg lebih ringan kalau kita mampu melaksanakannya

tanya ke diri sendiri saya PROFESIONAL mau di bid. apa…..????

hatur nuhun

Dunia Terus Berubah

Tidak ada yang tidak berubah, termasuk peraturan pemerintah. Tetapi biasanya peraturan mengikuti tuntutan jaman. Ketika kuliah dulu, saya melihat banyak profesor yang hanya bergelar S1, alias Prof. Ir. Bagaimana dengan aturan ke depan apakah bisa atau tambah rumit? Di era disrupsi dan revolusi industri dan pendidikan 4.0 sepertinya akan terjadi gejolak yang unik. Oiya, sekedar saran, sebelum memilih jurusan S3, ada baiknya konsultasi dulu agar tidak salah jurusan, sayang kan, soalnya S3 cukup menguras tenaga dan waktu .. “four years” atau malah bisa “for years..s..s..s..”

Bersama pembimbing dan rekan-rekan wisuda doktoral

Latihan Mengetik Cepat Online

Salah satu faktor penting dalam penyelesaian proyek baik menulis, riset, hingga pembuatan program aplikasi adalah mengetik cepat. Dengan mengetik cepat maka proses pengerjaan dapat terselesaikan jauh di bawah waktu deadline.

Program Untuk Latihan

Dulu ada program untuk melatih mengetik namanya Typing Master. Namun saat ini lebih baik menggunakan yang berbasis web karena dapat terhubung dengan pengetik-pengetik lainnya dari seluruh dunia. Beberap pengguna menyarankan menggunakan 10fastfinger yang juga disertai game yang menarik karena berkompetisi dengan negara-negara lain.

Lumayan masuk 10 besar ketika uji coba langsung dengan kecepatan 89 wpm (kata/menit). Untuk kecepatan di atas 100 wpm berarti mengetiknya seperti berbicara mengalirnya kata. Sepertinya harus latihan lagi.

Mengetik 10 jari dan Buta

Dua teknik tersebut wajib dikuasai oleh rekan-rekan yang ingin mengetik cepat. Biasanya jika sudah 10 jari secara otomatis akan mengetik buta. Buta di sini artinya tidak melihat tuts keyboard yang ditekan. Teknik yang digunakan adalah:

  • Letakan jari pada rumahnya (asdf – jkl;) khusus untuk qwerty
  • Tekan huruf sesuai dengan wilayah jari (kelingking, manis, tengah, telunjuk dan jempol).

Namun ternyata ketika melihat juara satu-nya 141 wpm, keyboard yang digunakan adalah jenis maltron. Hmm .. bagaimana lagi, sudah terlanjur qwerty jika dipindah akan belajar dari nol lagi.

Jenis-Jenis Format Keyboard

Ternyata jenis-jenis keyboard beragam. Memang saya merasa qwerty sangat tidak reliable karena kebanyakan huruf yang diketik, misalnya a malah berada di jari yang terlemah yaitu kelingking kiri. Jenis-jenis keyboard yang tersedia antara lain (sumber: indoworx.com/jenis-jenis-keyboard/):

1. QWERTY

Ini adalah formasi keyboard pertama di dunia. Kelemahannya adalah beban tangan kiri lebih besar dari tangan kanan. Sangat tidak cocok dengan tangan Indoneisa yang lebih kuat di kanan (bukan kidal). Namun apa boleh buat, karena sudah terlanjur banyak yang makai terpaksa tetap dipertahankan, karena jika format baru akan belajar lagi.

2. DVORAK

Dibentuk pada tahun 1932. Kabarnya DVORAK lebih evisien 10 – 15% dibanding qwerty.

3. KLOCKENBERG

Merupakan kombinasi qwerty dengan dvorak. Bentuknya terpisah antara kiri dan kanan. Fungsinya untuk mengurangi beban pada otot tangan dan bahu. Namun memiliki masalah dalam hal tata ruang dan sangat tidak mobile.

3. MALTRON

Keyboard ini mengatasi masalah jari yang harus menyesuaikan dengan keyboard pada qwerty. Dengan bentuk ini, jari tidak terlalu menyesuaikan dengan keyboard. Repititive injury yang kerap dialami orang yang banyak mengetik dapat dihindari. Lihat gambar di bawah (sumber: assistiveit.co.uk)

 

4. PALANTYPE

Keyboard ini membagi konsonan dengan huruf hidup (bagian tengah). Konsonan di kiri dan kanan yang posisinya mirip awal dan akhir kata. Sayangnya hanya mensuport bahasa Inggris.

5. STENOTYPE

Cocok untuk wartawan dalam merekam/mencatat wawancara. Hasilnya masih berupa singkatan-singkatan sehingga harus diedit lagi jika ingin dipublish. Tapi dengan singkatan saja, si wartawan masih bisa membaca apa yang diketik ketika wawancara. Hmm .. di jaman yang sudah mudah merekam sepertinya tidak diperlukan.

6. ALPHABETIC    

Keyboard ini sederhana karena memformat keyboard secara alfabet. Mudah dalam memasang karena urutannya alfabet .. he he. Biasanya hanya untuk mainan anak-anak.

7. ALPHANUMERIC

Biasa digunakan oleh para kasir / teller bank. Sangat cocok untuk mengetik angka. Keyboard qwerty biasanya menyertakan keyboard alphanumeric yang terpisah di bagian kanan. Tapi untuk laptop sepertinya sudah tidak ada untuk menghemat space.

Demikian tulisan ringan mengenai seluk beluk mengetik. Selamat mengetik.

Yuk .. Jadi Asesor BKD dan LKD

Beban Kerja Dosen dan Laporan Kinerja Dosen merupakan berkas wajib seorang dosen profesional. Jika BKD dan LKD sudah dibuat, maka dosen tersertifikasi berhak menerima tunjangan sertifikasi dosen (Serdos) sesuai dengan golongannya.

Persetujuan Asesor

BKD dan LKD yang dibuat harus mendapat persetujuan dari dua orang asesor. Untuk kopertis 4 (sekarang namanya LLDIKTI wilayah 4) sudah online. Di sini asesor 1 dan 2 memberikan persetujuan lewat aplikasi web BKD. Untuk LLDIKTI wilayah lainnya masih berupa berkas untuk ditanda tangani.

Penentuan Asesor

Asesor di awal serdos muncul dipilih di tiap kampus, agar merata. Tidak semua dosen dijadikan asesor BKD dan LKD oleh Dikti. Saat ini syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh calon asesor adalah:

  • Doktor dengan minimum pangkat Lektor
  • Magister dengan pangkat minimal Lektor Kepala
  • Ijin rektor/pimpinan tempat calon berada
  • Mengikuti Penyamaan Persepsi

Penyamaan Persepsi

Ketika lulus S3 secara kebetulan diadakan penyamaan persepsi calon asesor di LLDIKTI 4. Cukup banyak yang hadir dan membludak. Saya sendiri duduk di belakang, maklum jarak Bekasi – Bandung lumayan jauh dan lama karena macet di daerah Cikarang.

Pemberian Nomor Induk Registrasi Asesor (NIRA)

Lumayan lama sejak penyamaan persepsi yang dilaksanakan di akhir januari, selanjutnya LLDIKTI mengumumkan calor asesor yang siap diberi NIRA dengan terlebih dahulu rektor tempat calon asesor berada memberikan persetujuan. Lihat format pernyataannya. Rencananya calon asesor ini sudah dapat bekerja semester depan jika sudah memiliki NIRA.

Untuk yang tidak mengikuti penyamaan persepsi di wilayah LLDIKTI masing-masing, sepertinya tidak diperbolehkan menjadi asesor walaupun memenuhi syarat pangkat dan gelar. Saat ini memang kebutuhan asesor baru sangat tinggi mengingat banyak dosen-dosen penerima serdos yang baru lulus. Kelayakan Asesor adalah mengasesori 10 dosen, dan kabarnya saat ini tiap asesor sudah berlebih. Repotnya belum tentu tiap tahun dibuka pengajuan asesor baru. Yuk, jadi asesor BKD dan LKD walaupun imbalannya pahala saja. Hitung-hitung membantu sesama rekan-rekan senasib (dosen).

Akhirnya Cetakan Kedua Terbit …

Ternyata untuk mencetak lagi, penerbit tidak asal mencetak. Biasanya dilakukan jika buku yang beredar memang benar-benar habis dan jika dicetak lagi diprediksi akan laris seperti sebelumnya. Biasanya penerbit jujur dalam masalah royalti (kecuali dibeli putus). Pihak penerbit yang datang dan presentasi di kampus sangat konsen masalah tersebut. Bahkan jika diam-diam penerbit mencetak tanpa melaporkan royalti ke penerbit, diistilahkan oleh mereka “membajak diri sendiri”. Mungkin postingan ini bisa menginspirasi pembaca untuk membuat buku juga, khususnya membuat cetakan kedua buku yang pernah publish.

Proses Penerbitan Edisi Kedua

Tadinya saya menginginkan istilah “edisi kedua” dalam buku yang dicetak ulang. Tapi penerbit lebih sreg dengan edisi revisi, mungkin itu sinyal tidak ada edisi ketiga dan seterusnya. Tidak apa, toh lebih baik buat buku baru lagi dari pada sekedar revisi.

Namanya revisi ternyata tidak cepat, mirip proses pembuatan baru lamanya. Beberapa bagian ada penambahan dan beberapa bagian diperbaiki jika ada kekeliruan. Setelah proses layout dilanjutkan dengan proses lain yang saya sendiri tidak tahu, lumayan lama juga. Mungkin ada cek-cek lain seperti plagiasi, komunikasi ke penerbit lain (menghindari diterbitkan oleh beberapa penerbit), dan lain-lain.

Royalti atau Beli Putus

Biasanya penerbit menggunakan prinsip royalti, yaitu dari satu buku yang dijual penerbit mendapatkan prosentase (rata-rata di Indonesia sebesar 10% dari harga eceran). Royalti mengedepankan prinsip laris untung sama-sama, rugi pun penulis bisa ga dapet apa-apa. Berbeda dengan penerbit yang membeli putus naskah tersebut. Resikonya pun ada, jika tidak laku penerbit rugi tetapi jika laku keras, penulis yang gigit jari. Biasanya royalti mencantumkan hak cipta pada penulis, sementara pembelian lepas hak cipta pada penerbit. Tapi toh untuk akreditasi suatu kampus dapat diakali dengan cara mendaftarkan ciptaan ke dirjen HKI (lihat post untuk daftar HKI). Toh di jaman pembajakan yang marak saat ini, berimbas ke nasib buku-buku laris, pada akhirnya penerbit memiliki kemampuan memprediksi harga suatu buku dan pembelian putus pun sudah biasa.

Tetap Berkarya

Sebenarnya penerbit butuh penulis, tetapi sangat jarang kita menulis, terutama dosen-dosen di tanah air yang super sibuk, baik urusan kampus, kejar setoran ngajar dan lain-lain. Sementara buku perlu kesabaran baik dari sisi produk maupun prosesnya. Selamat menulis. Oiya, numpang promosi ya …