Mengatasi Masalah Ponsel Booting Terus (Looping)

Gara-gara HP dipakai anak main game terus, akibatnya tidak berhasil restart. Sebelumnya memang saya lihat kapasitas system sudah penuh. Namun terlambat, HP rusak duluan. Biasanya saya menggunakan cara lama yaitu hard reset factory tapi ternyata gagal. Repotnya saya jadi tidak bisa lihat dan update WA, terutama WA perkuliahan.

Banyak panduan di youtube yang menyarankan, salah satunya adalah tidak ada cara lain selain mengisi ROM dengan cara flash, yaitu mengisi dari aplikasi pengisian flash ke handphone. Aplikasi yang terkenal dan banyak digunakan saat ini adalah ODIN.

Mengunduh File Firmware

Untuk mengisi flash, perlu mencari file firmware yang cocok dengan versi HP kita. Repot juga, karena saya lupa versi HP (bukan nama pasaran). Akhirnya ketemu juga, SM-N750. Cari di internet fasilitas untuk mengunduhnya yang gratis, karena kebanyakan berbayar. Ada tiga file yang dibutuhkan selain firmware:

  • Driver HP, dalam kasus saya Samsung Driver
  • Aplikasi pengisi (flashing), saya pilih ODIN
  • Firmware
  • Instal Driver Samsung.

Sebelumnya saya salah mengunduh firmware yang harusnya N750 tapi N900, ketika diflash ODIN memberi informasi Fail. Jika sudah masuk langkah berikutnya.

Masuk ke Mode Download Firmware

Firmware adalah software yang berasal dari pabrik perangkat keras yang tersimpan di ROM (sejenis flashdisk dalam HP). Langkah yang dilakukan untuk HP Samsung adalah (untuk HP lain mungkin berbeda):

  • Tekan Volume Down + Power Button + Home Button. Nanti akan muncul Warning, yang memang benar-benar warning. Relakan data Anda jika hilang, kalau takut hilang backup saja, atau pergi ke tukang servis HP. Jika hilang tidak masalah, lanjut berikutnya.
  • Tekan Volume Up. Nanti akan muncul robot starwar (maksudnya Android). Colok ke laptop dengan kabel ori (bukan kabel abal-abal) karena akan digunakan untuk high speed transfer.

Masuk ke Aplikasi ODIN

Jalankan ODIN dengan mengklik file exe nya. Tidak perlu install karena akan langsung terbuka. Pastikan ketika kabel USB dari HP ditancap ke Laptop, ada informasi ADD di ODIN, jika tidak berarti ada masalah dengan driver, atau tunggu sampai proses instal driver (plug-n-play) selesai.

Secara default Auto Reboot dan F. Reset Time tercentang. Biarkan saja. Kita tinggal mengklik AP di File (Download). Di sini kita membrowsing ke lokasi file MD5, atau dikenal dengan nama PDA. Oiya, pastikan rar diekstrak. Lanjutkan dengan menekan Start, setelah menunggu lumayan lama (beberapa menit) aplikasi ODIN memverifikasi file MD5 tersebut. Jika Fail, berarti firmware tidak cocok, jika cocok maka akan berlanjut hingga Pass, yang artinya selesai. HP akan booting dan masuk ke menu inisiasi seperti layaknya HP baru.

Akhirnya selesai juga masalah, dan tidak perlu keluar uang untuk servis HP. Oiya, jurusan teknik komputer itu berkaitan antara hardware dan software, seperti kasus ini. Lihat tampilan video singkat di bawah ini. Semoga bermanfaat.

Referensi

zon3-android.net/flashing/samsung/cara-flashing-samsung-galaxy-note-3-neo-sm-n750.html

Problem pada Edit Menu dan Sidebar Menu di OJS 3.1

Ada sedikit masalah ketika menambahkan satu menu baru di bawah about misalnya “editorial team”. Beberapa user bisa tetapi ada satu user yang tidak berhasil menambahkan menu tersebut. Kuncinya ternyata di menu terdiri dari dua jenis:

  • User Menu, dan
  • Primary Menu

Video berikut memperlihatkan tampilannya. Perhatikan jika tidak muncul, tinggal drag saja unassigned menu ke kiri agar tampak. Gunakan primary menu agar tampil di menu khusus jurnal yang dilihat (jila lebih dari satu jurnal dalam situs OJS).

Side Bar Menu

Ada lagi masalah dalam OJS 3.1 yaitu tidak bisa mengupload suatu gambar. Misalnya di sidebar (menu yang ada di sisi kanan OJS) akan ditayangkan “indexed by” dengan tampilan logo Google Scholar dan Sinta, ternyata tidak bisa upload gambar. Solusi sementara sebelum menemukan jawaban pastinya adalah dengan mengarahkan gambar ke sumber lain. Lihat video berikut. Sekian semoga sedikit banyak bermanfaat.

Strategi Pembelajaran Daring (Online)

Dalam menghadapi era revolusi 4.0 dan university 5.0 pemerintah mencetuskan GEN-RI 4.0 yang salah satunya adalah dengan menarapkan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA). Kendala tentu saja akan dihadapi ketika menerapkan sistem pembelajaran daring tersebut. Beberapa literatur di internet banyak mengupas hal tersebut, salah satunya dari situs ini.

Daring vs Tatap Muka

Pembelajaran tatap muka sudah dilaksanakan sejak taman kanak-kanak. Guru atau dosen datang, melaksanakan rutinitas seperti biasa, memperkenalkan diri, mengecek absensi, mengeluarkan lelucon tertentu yang membuat siswa tertarik, dan sebagainya. Peserta didik pun melakukan hal yang sama, berusaha memahami tujuan pembelajaran, mempersiapkan materi, berusaha datang tepat waktu, dan dapat mengikuti pelajaran yang diajarkan. Bagaimana dengan perkuliahan daring?

Perkuliahan daring menimbulkan masalah bukan hanya siswa tetapi pengajar (tutor) pun mengalami hal yang sama. Fokus utama tentu saja kepada peserta didik yang menjadi sasaran pembelajaran. Ibarat mengajari berenang, siswa dipaksa terjun ke kolam tanpa terlebih dahulu diberi teknik/teori dasarnya. Hal ini terkadang membuat siswa frustasi. Banyak siswa mengalami ketidakjelasan terhadap materi yang diajarkan. Materi datang dan pergi begitu saja tanpa ada bekas di benak peserta didik.

Tiga Strategi Pembelajaran Daring

Strategi di sini hanya berupa hal-hal yang perlu disadari oleh pengajar online (tutor) ketika memulai perkuliahan daringnya. Hal-hal tersebut adalah aspek-aspek yang membedakan kuliah daring dengan tatap muka, baik dari sisi kelemahan maupun kelebihannya.

  • Pembelajaran daring bukan hanya berkutat dengan internet, melainkan aspek penting yaitu “lebih aman (safer)”. Kita mengenal Learning Management Systems (LMS) sebagai komponen penting e-learning. Akhir-akhir ini aksi “bulying” kerap terjadi ketika proses pembelajaran. Dengan LMS, peserta didik dengan nyaman berinteraksi dengan tutor-nya tanpa khawatir dicemooh oleh peserta lainnya. Di sinilah letak “safe” tersebut. Intinya, peserta didik bebas mengekspresikan ide-idenya.
  • Pembelajaran daring memperluas komunitas pembelajaran. Memperluas di sini karena antara satu siswa dengan siswa lainnya memiliki akses komunikasi yang lebih baik dibanding diskusi tatap muka yang terbatas oleh ruang dan waktu. Bahkan diskusi tatap muka yang sudah baik pun masih memiliki kendala dimana ada kecenderungan siswa kurang peduli terhadap apa yang dikatakan oleh rekannya. Mungkin karena akibat dia sendiri sedang berjuang memahami konsep-konsep di benaknya. Selain itu, kebanyakan perkuliahan tatap muka hanya menjadi ajang kontes kecanggihan profesor pengajar saja, padahal harusnya berfokus ke perkembangan intelektual peserta didik.
  • Menemukan ritme. Hal terakhir ini salah satu kendala utama pembelajaran daring. Ketika kita terbiasa dengan jadwal yang pasti, urutan proses perkuliahan yang runtun, pada perkuliahan online peserta didik harus mengatur sendiri jadwal yang optimal kapan dia belajar dan harus keluar dari zona nyamannya yang biasa mereka lakukan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi (tatap muka yang teratur). Jika tidak diantisipasi, dapat dipastikan siswa akan lalai dalam mengatur waktunya. Tetapi jika siswa mampu mengetahui kapan waktu-waktu optimalnya akibat kebebasan dalam belajar daring, banyak keutamaan-keutamaan yang diperoleh dari perkuliahan online.

Itulah tiga hal yang harus disadari oleh tutor online. Ada baiknya tutor memastikan peserta didik cepat mencapai zona nyamannya dalam kuliah daring. Tentu saja tiap siswa berbeda, namun demikian pada umumnya perbedaan-perbedaan yang ada memiliki keunggulan tersendiri. Postingan ini disarikan dari tulisan pada referensi berikut. Sekian semoga bermanfaat.

Referensi:

Era University 5.0

Untuk menghadapi era revolusi 4.0, ristek dikti mencanangkan GEN-RI 4.0 (post yang lalu). Sementara itu saat ini kabarnya kita siap menghadapi era university 5.0. Sebelum masuk ke era tersebut, ada baiknya membahas era-era sebelumnya.

University 1.0

Ada sedikit perbedaan antara satu sumber dengan sumber lainnya mengenai pembagian era university. Situs berikut menjelaskan saat ini adalah era pendidikan tinggi (higher education) 3.0, sementara situs lainnya versi 5.0. Jika diambil dari rujukan yang terakhir, university 1.0 adalah pendidikan yang ditujukan untuk para kaum elit/bangsawan.

University 2.0

Munculnya era revolusi industri memaksa perubahan paradigma pendidikan. Pendidikan tidak hanya untuk kaum elit saja.

University 3.0

Setelah perang dunia kedua, semua negara fokus untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. University berperan dalam melakukan inovasi-inovasi dalam rangka meningkatkan daya saing.

University 4.0

Era ini ditunjukan dengan perubahan sosial dimana wanita berperan juga dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Era ini sekitar tahun 60-an hingga 70-an.

University 5.0

Pada era ini pendidikan tinggi dituntut mampu mengikuti perkembangan globalisasi ditandai dengan pesatnya perkembangan telekomunikasi dan perubahan budaya era modern. Sebenarnya siapakah konsumen university 5.0 ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah generasi z.

Generasi Z

Generasi Z merupakan penerus generasi sebelumnya (millenials dan baby boomers). Generasi ini (saat ini berusia 7 – 23 tahun) yang ditandai dengan “melek internet” memiliki ketabahan dan tangguh dalam mencapai sesuatu (Grit). Karakter-karakternya antara lain:

  • Ingin unggul dibanding rekan-rekannya
  • Ingin menguasai dunia dengan kegiatan suka rela
  • Percaya bahwa tiap aksi pasti ada hasil nyata
  • Melihat aspek sosial ketika memilih bekerja di suatu institusi
  • Beberapa ingin bekerja yang memiliki dampak terhadap dunia sekitar
  • Gemar membagi (share) ilmu lewat dunia maya
  • Percaya bahwa dunia online bisa membantunya menggapai keinginan
  • Percaya bahwa apapun memiliki kemungkinan untuk diraih
  • Lebih pragmatis dibanding generasi sebelumnya. Mereka terkadang menghargai orang biasa dibanding selebritis terkenal
  • Menghargai nilai kejujuran
  • Sangat memperhatikan keseimbangan dunia kerja dengan kehidupan
  • Sangat menghargai uang, terkadang pandai berhemat tetapi terkadang membeli hal-hal tertentu yang unik (“cool product” dari pada “cool experience”).

Tuntutan Generasi Z terhadap University 5.0

Oleh karena hal-hal di atas, generasi Z membutuhkan kampus-kampus sebagai berikut:

  • Kampus yang akuntabel yang bisa menjangkau semua golongan (inclusive)
  • Value Oriented. Generasi Z harus melihat manfaat dari kampus tempat dia kuliah.
  • Interaktif. Generasi ini menuntut jawaban segera ketika menjumpai masalah.
  • Berdasarkan kenyataan. Kampus harus bisa membuktikan diri bahwa institusinya layak dipilih oleh mereka
  • Fleksibel. Kampus harus mampu beradaptasi terhadap perkembangan jaman yang cepat.
  • Personal. Tidak ada kampus yang memiliki strategi yang tepat untuk semua mahasiswa generasi Z yang beragam karakternya. Mereka ingin diperhatikan personal yang berbeda dengan rekan-rekannya.

Referensi:

Omong-omong Tentang Nasionalisme

Waktu itu ada kejadian di kampus tempat saya kuliah di Thailand. Mirip sekali dengan kejadian di kampus ketika saya ambil S1 di Jogja, yaitu maling yang tertangkap. Kalau di Jogja maling motor di tempat kosku habis dihajar massa, beda dengan kejadian di Thailand. Postingan ini sekadar obrolan ringan tentang nasionalisme dari pengalaman singkat di negeri orang.

Asrama di Thailand dihuni oleh kebanyakan mahasiswa non-Thai seperti India, Pakistan, China, dan salah satunya Indonesia. Ketika nongkrong dengan rekan dari Jogja, tiba-tiba istrinya yang baru tiba di dormitory khusus yang bawa keluarga menelepon karena kaget ada orang Thai yang masuk ke rumah. Ketika ditegur, orang itu bilang sedang memperbaiki listrik. Curiga bertambah ketika istrinya menanyakan apakah teman saya itu “request” perbaikan listrik dan jawabannya “tidak”. Kontan, teman saya yang sedang asyik ngopi ngacir pulang.

Kecurigaan bertambah ketika salah satu keamanan asrama memberitahu bahwa ada maling yang tertangkap, dan coba mengecek siapa tahu ada barang-barang yang disita dari tangan maling tersebut, salah satunya mata uang rupiah. Alhasil, jadilah rekan saya itu saksi di kepolisian Thailand. Setelah jadi saksi di kantor polisi, panas, dan lama, akhirnya teman-teman yang melapor kapok berurusan dengan polisi. Sedikit kecewa karena si maling hanya ditahan beberapa hari saja.

Nasionalisme Tetangga Kita

Ketika mengambil course work, yaitu tahapan sebelum riset, saya cenderung “dekat” dengan siswa Thailand. Dekat di sini karena menurut saya mereka sangat kompak, punya data-data materi kuliah, termasuk soal-soal ujian tahun lalu beserta tip dan triknya. Hasilnya selain nilai yang lumayan, saya bisa mengenali karakter mereka yang selalu mensuport rekannya yang senegara dengannya. Ketika melihat polisi yang terkesan membela si maling karena senegara, tentu saja akan membela rekannya yang bukan maling. Teman kuliah saya yang dari Bandung pun menyadari perbedaan perlakuan dosen yang berkebangsaan Thai dengan siswa Thai dan non-Thai. Menurut saya sih wajar saja, walau tidak se-ekstrim dengan negara kita. Perhatikan kejadian beberapa waktu yang lalu ketika maling yang tertangkap dan dibunuh beramai-ramai dengan cara dibakar, seperti hewan saja, padahal senegara dengan yang menangkapnya yang terkadang bukan selaku korban yang barangnya dicuri. Atau tengok saja sikap orang-orang kita terhadap lainnya yang sebangsa, hanya karena perbedaan “kulit terluar” seperti pilihan partai, calon kepala daerah, gubernur dan lainnya bisa lupa kalau sama-sama sebangsa dan setanah air.

Bagaimana dengan negara lainnya selain Thailand? Sepertinya tidak jauh berbeda, kecuali mungkin negara-negara berakhiran “-tan”. Baru pulang dan lulus kuliah, ketika kembali ke negaranya tiba-tiba ada kabar tewas dibunuh. Saya sempat bertanya ada apa di sana? Ternyata kabarnya harga nyawa terlampau murah. Orang dengan mudah membunuh hanya dengan bayaran sedikit saja (entahlah itu salah satu jawaban dari rekan yang tinggal di sana, mungkin saja tidak benar). Lucunya saya sempat ngobrol bertiga dengan teman India dan Pakistan. Ketika saya bertanya mengapa mereka terpisah menjadi dua negara? Padahal hanya beda agama saja. Mereka terdiam, saya jadi menyesal juga melontarkan pertanyaan iseng itu, untungnya tuan rumah yang berkebangsaan Pakistan langsung menawarkan Teh “Cai” yaitu teh dengan susu, suasana jadi hangat kembali. Memang ada isu-isu sensitif yang tidak boleh dibahas. Salah satunya adalah masalah darurat militer di Thailand. Ketika saya duduk berdua dengan seorang rekan dari Thailand dan menanyakan masalah itu, raut mukanya langsung pucat dan terdiam. Sepertinya generasi mudah negara itu khawatir akan bahayanya membahas perbedaan dalam politik. Mereka lebih suka membahas yang menurut mereka bernuansa hiburan, atau setidaknya hal-hal yang sehobi dan ada unsur kesamaannya bukan perbedaan.

Nasionalisme di Negara Indonesia

Cukuplah sila ketiga “Persatuan Indonesia” yang menggambarkan nasionalisme kita. Sukarno mengatakan kita sebangsa karena satu sejarah. Walaupun dengan Malaysia serumpun karena beda sejarah, kita bukan bangsa yang sama dengan mereka. Entah apakah masih relevan di era globalisasi ini statement Sukarno di buku karangannya (dibawah bendera revolusi) tersebut?. Misal dengan Timor Leste apakah kita satu sejarah? (satu dijajah Belanda satunya Portugis). Tetapi ketika ngobrol dengan teman dari Timor leste sepertinya saya merasa senegara. Ah entahlah, mungkin itu semua karena politik, yang membuat saya khawatir nanti ketika ngobrol dengan rekan dari Ambon, Aceh, atau Kalimantan, bukan senegara lagi. Jangan sampai lah.

So, kalau ada rekan senegara berprestasi, ikut banggalah. Kalau ada yang kurang, maklumin saja, toh dia rekan kita.

Era Revolusi Industri 4.0

Dulu di bangku sekolah kita diperkenalkan dengan istilah revolusi industri di Inggris tahun 1760. Tiba-tiba muncul informasi dari sharing di grup WA revolusi industri versi 4.0. Ada baiknya kita melihat kembali ke belakang perkembangan revolusi industri yang terjadi hingga saat ini.

Revolusi Industri 1.0

Ini merupakan revolusi industri pertama yang ditujukan untuk mematahkan teori Robert Maltus akan kekhawatiran jumlah penduduk yang jauh lebih tinggi pertumbuhannya (deret ukur) dibanding pertumbuhan kebutuhan pokok (deret hitung). Penemuan mesin-mesin yang meningkatkan efisiensi dan jumlah produksi memicu revolusi industri pertama. Ditunjang pula oleh patent act yang membuat para ilmuwan berminat untuk menemukan mesin-mesin atau alat-alat baru.


Revolusi Industri 2.0

Rusaknya lingkungan membuat negara-negara industri berfikir keras menciptakan terobosan-terobosan baru tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Revolusi industri 2.0 dicetus oleh penemuan-penemuan di bidang kelistrikan.

Revolusi Industri 3.0

Tidak lama setelah perkembangan kelistrikan, ditemukan pula alat-alat elektronika dan telekomunikasi yang menciptakan temuan-temuan baru di bidang teknologi informasi dan elektronika. Revolusi industri 3 tidak berlangsung lama karena kemunculannya teknologi digital.

Revolusi Industri 4.0

Revolusi ini ditandai dengan era disrupsi, yaitu kemunculan industri-industri yang berbasis online (digital). Bukan hanya komputer, teknologi mobile sudah mewabah dan hampir semua orang terhubung secara online. Dalam revolusi ini peran inovasi menjadi penentu daya saing suatu produk di pasaran. Dan ternyata ada kesenjangan antara industri yang bergantung dengan inovasi dengan kesiapan tenaga kerja. Banyak penyedia lapangan kerja kesulitan mencari sumber daya manusia yang selain memiliki kemampuan literasi (baca, tulis, dan hitung) juga literasi data (big data), literasi teknologi (coding, dan pemahaman terhadap AI) dan literasi manusia (humanities, komunikasi dan disain).

industrial rev

Silahkan lihat power point menarik berikut ini:

Bagaimana mengatasinya? Jawabannya adalah pendidikan yang berkaitan dengan revolusi industri 4.0.

GEN-RI 4.0

GEN-RI 4.0 singkatan dari General Education + Revolusi Industri 4.0. Prinsipnya adalah literasi dari general education berkolaborasi dengan literasi data dan teknologi dalam kurikulum. Selain itu ada teknik baru dalam menghadapi perkembangan iptek yang sangat cepat, yaitu konsep belajar sepanjang hayat (life long learning). Peserta didik diharapkan terus mengupdate ilmunya mengikuti perkembangan IPTEK terkini.

Negara kita sedang mencoba menggabungkan belajar konvensional dengan online, yang dikenal dengan istilah blend learning yang difasilitasi oleh Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) dan jaringan IdREN (backbone). SPADA menerapkan banyak metode-metode baru yang berkaitan dengan pembelajaran online seperti:

  • Hybrid Credit Transfer
  • Rintisan Cyber University
  • Regulator dan penjaminan mutu PJJ (online learning)
  • Innovative-based learning
  • Flip learning (lihat post terdahulu tentang flip learning)
  • Dan Super Faculty.

Saya sedikit mendeteksi adanya “sesuatu” yang berefek terhadap dosen-dosen di tanah air, tapi belum begitu jelas, mungkin pembaca memiliki “penerawangan” yang tajam, dan bisa di share di komentar. Yang jelas, konsep belajar seumur hidup mengharuskan dosen belajar seumur hidup. Sekian, semoga bermanfaat.

Referensi

Praseyono, Agus Puji. 2017. https://ristekdikti.go.id/revolusi-industri-ke-4-dan-integrasinya-dalam-tata-kelola-negara/

Ahmad, Intan. 2018. Medan. https://drive.google.com/file/d/1nFR_Ap679jSPHPTkvYvWIGdPYsxRLnMn/view?usp=sharing

https://www.facebook.com/judianto/videos/10211421680240473/

Standar Penulisan Gelar Akademik

Penulisan gelar akademik yang benar dan mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia sangat penting terutama pada bagian tenaga kependidikan (TU, SDM, dan pendukung bidang akademik lainnya). Banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi. Biasanya adalah tidak disertakannya titik “.” antara kata pertama dengan kedua, misalnya seharusnya S.T. tetapi ditulis ST saja tanpa titik. Saya sendiri sering salah menulis “Ph.D” tanpa titik setelah “D”, sementara berdasarkan kaidah bahasa Indonesia menggunakan titik “Ph.D.”.

Banyak situs-situs di internet yang menguraikan bagaimana penulisan yang tepat. Cara mengetahui penulisan yang tepat ada baiknya melihat surat-surat yang dibuat oleh lembaga resmi negara, misalnya di bawah ini, yaitu lampiran undangan peserta calon asesor beban kerja dosen (BKD) dari kopertis IV Bandung.

Oiya, kebetulan lampiran peserta tanggal 1 februari ini tidak ada profesor yang standarnya adalah ditulis “Prof.” Silahkan lihat lampiran yang ada profesornya di link ini sebagai rujukan bagaimana menulis gelar yang tepat. Memang gelar tidak dibawa mati, tetapi dengan gelar kita jadi banyak mengajar dan ilmu yang diajar takkan putus oleh kematian.

Program Kuliah Doktoral yang Keras

Lihat di grup masjid kampus, cukup terenyuh oleh pamitnya rekan senior padahal belum selesai studinya. Teringat bantuan dan arahan yang dulu diberikan karena memang dia seorang Teaching Assistant (TA). Ketika saya telat datang, dia yang berkebangsaan negara di Asia Selatan, dengan suka rela memberikan satu CD berisi software ubuntu yang wajib digunakan dalam perkuliahan Web Programming (dengan ruby and rails). Setelah hampir sepuluh tahun kuliah doktoral, sepertinya dia harus pulang, entah alasan apa yang membuatnya tidak meneruskan kuliah, yang jelas saya dulu banyak dibantu olehnya.

Lengkap sudah saya kenal dengan rekan kuliah yang tidak selesai, pertama pulang karena alasan keluarga (tidak bisa ditinggal jauh), kedua meninggal, dan yang terakhir kelamaan kuliah. Dulu pun saya pernah mendengar cerita-cerita kegagalan mahasiswa doktoral, termasuk dosen saya waktu kuliah S1 dulu, tapi itu hanya dari mulut ke mulut. Berbeda dengan saat ini yang mengetahui langsung, bukan saja cerita tapi ikut merasakan kesulitan ketika bersamanya. Mungkin hal-hal berikut yang bisa “mengganggu” mahasiswa doktoral, bahkan menjadi penyebab kegagalan:

Syarat Course Work yang Berat

Tidak semua kampus mensyaratkan ikut kuliah dulu sebelum riset, tapi kebanyakan mensyaratkannya. Bahkan di Eropa ada gelar M.Phil. yang diberikan oleh mahasiswa doktoral yang tidak berhasil lolos ujian menjadi calon doktor (Ph.D.). Saya sendiri mengalami kesulitan karena memang background yang bukan dari jurusan sesungguhnya (multidisiplin). Repotnya terkadang kuliah digabung dengan mahasiswa master dan nilainya distribusi normal. Nilai bagus akan jadi buruk jika yang lain lebih bagus. Ditambah tugas project yang bareng dengan mahasiswa master yang kebanyakan malas karena bagi mereka c+ pun sudah lulus, dan hampir lulus semua. Sementara mahasiswa doktoral wajib minimal B+ atau total IPK = 3.5. Untungnya setelah mati-matian saya memperoleh 3.5 (A, A, B+, B, B, B+). Benar-benar mujur, pas, kalau tidak harus mengulang lagi dengan ancaman tidak dicover dari beasiswa jika melewati masa “jatah” beasiswa.

Ujian Kandidasi / Komprehensif

Setelah kuliah selesai, ada ujian yang menentukan berikutnya yaitu kandidasi, atau ujian menjadi calon doktor. Ketika awal kuliah sempat juga down, ternyata mahasiswa doktoral yang baru masuk statusnya adalah calon kandidat doktor. Jadi jangan sekali-sekali menyebut “calon doktor”, sering disingkat Dr.(c), kepada mahasiwa doktoral baru. Rekan saya yang di Taiwan lebih berat lagi, syarat kandidasi adalah 20 sks kuliah dan dua jurnal internasional diterima. Untungnya tidak ada syarat Impact Factor (IF), yang penting terindeks (biasanya Scopus). Untuk dalam negeri saya belum begitu mengerti, tapi proposal dibuat di tahun kedua, mungkin itu kandidasinya.

Tidak ada Progress

Walau tiap semester harus buat laporan kemajuan, tetapi biasanya terkesan formalitas, win-win solution antara pembimbing dengan mahasiswa. Tetapi repotnya tanpa progress sudah pasti kerjaan tidak selesai-selesai, karena kebanyakan pembimbing enggan menurunkan objektif sesuai yang dijanjikan proposal. Penyebab utama biasanya mahasiswa doktoral yang tidak “pure” kuliah, alias masih bekerja. Banyak rekan saya yang orang lokal (thailand) yang lama lulusnya karena mereka tidak 100% kuliah, alias sambil bekerja. Walaupun ada kebijakan kampus untuk mahasiswa tersebut (waktu D.O yang lebih lama) yang diistilahkan dengan “non-stay” student. Tetapi siapa juga mahasiswa yang ingin lulusnya lama?

Bagaimana dengan di Indonesia? Ternyata kondisi lebih buruk lagi. Banyak rekan saya yang pindah kampus karena tidak selesai-selesai di kampus lamanya dengan berbagai alasan. Sempat saya menjadi asisten dosen waktu kuliah master di Indonesia dan bertemu dengan dosen doktoral UI. Saya menanyakan mengapa mahasiswanya lulus lama? Dengan santai dia menjawab, sebenarnya dia sudah menurunkan standar tetapi siswanya tetap sulit mengikuti, bahkan bertemu pun mereka jarang dengan alasan kesibukan bekerja. Ini saya alami sendiri ketika riset, kebanyakan memang saya di tanah air, tetapi jika dibandingkan sebulan di Indonesia itu kualitasnya sama dengan seminggu di Thailand karena memang di sana dari mata melek hingga merem (tidur) langsung mengerjakan disertasi. Paling nongkrong sambil ngopi di pinggir danau kampus dengan teman senasib.

Syarat Publikasi

Ini merupakan kendala utama yang tidak bisa diganggu gugat. Ini pula yang merupakan kontrol kualitas lulusan doktor suatu universitas. Tanpa publikasi, lulusannya masih diragukan kadar keilmuwannya. Rata-rata publikasi internasional menganut peer review dan author tidak bisa memaksakan agar tulisannya lolos. Sialnya di kampus saya mensyaratkan impact factor di atas atau sama dengan satu. Sulit dan lama untuk jurnal kategori tersebut (rata – rata masuk kategori Q2). Dengan syarat publikasi ini, pembimbing pun tidak bisa membantu kelulusan siswanya jika memang belum publish/accepted jurnalnya. Rekan saya yang bertahun-tahun belum publish pun ketika bertemu pembimbing, dia hanya bisa mendoakan saja. Gawat. Sebagai panduan untuk amannya suatu topic disertasi adalah: kesimbangan antara mudah dikerjakan dengan kemungkinan diterima di jurnal internasional ketika mengajukan proposal disertasi. Jika proposal mudah dikerjakan, biasanya sulit diterima di jurnal berimpact di atas satu, tetapi jika proposal sulit dikerjakan biasanya kemungkinan besar lolos di jurnal berimpact > 1 (paling kalau ditolak salah pilih domain jurnal atau masalah bahasa Inggris yang berantakan) tetapi bahayanya karena terlalu sulit jadi ga selesai-selesai.

Mungkin itu saja sedikit gambaran. Jika ingin lebih jelas, silahkan alami sendiri ya. Sebenarnya ada tahapan lain seperti pengecekan disertasi oleh external examiner (profesor dari luar kampus) dan sidang terbuka. Tetapi itu sepertinya hanya formalitas, biasanya dapat dilalui oleh mahasiswa doktoral. Sekian semoga postingan ini bermanfaat.

Tim Nongkrong (Ph.D., D.Eng, and D.Tech.Sc. Students)

Final Defense (Committees : Prof. Guha, Prof. Nitin, Dr. Kim)

Metode Increment dan Iterasi dalam Penulisan

Tiap orang memiliki gaya masing-masing dalam membuat tulisan (proposal, tesis, disertasi, dan sebagainya). Selain dalam menulis, ketika me-manage pun berbeda-beda. Salah satu gaya yang saya sukai adalah tipe increment dan iterasi, mirip perancangan perangkat lunak. Untungnya pembimbing juga memiliki tipe yang sama, jadi bisa klop dan proses penulisan jadi cepat.

Bagaimana bisa tahu pembimbing bertipe increment atau tidak? Saya peroleh informasi senior yang mengajukan bab 1, bab 2, dan seterusnya, ternyata tidak terlalu direspon. Repot juga kalau begitu, bisa nggak selesai-selesai kalo tipenya waterfall begitu. Akhirnya saya coba nekat dikit, karena waktu yang mepet, saya coba waktu itu proposal hanya 5 lembar. Terlihat “gila”, tetapi isinya lengkap bab I sampai bab IV hingga daftar reference. Dengan dijilid steples pula .. hehe.

Proposal 5 lembar ini sebaiknya jangan ditiru karena kerjaan orang nekat dan kepepet deadline. Hal ini terjadi karena datang ke kampus telat dari Indonesia, masalah administrasi yang ribet, ditambah advisor pertama yang menolak membimbing karena tidak begitu menguasai data spasial, dan masalah-masalah lainnya. Ketika melihat dia merespon, memperbaiki judul dan mengusulkan anggota pembimbing, dapat disimpulkan dia juga tipe yang sama. Tentu saja saya diminta revisi proposal tersebut (25 – 30 halaman).

Dalam waktu beberapa hari yang terbatas, tulisan bisa dikembangkan menjadi 25 halaman. Seperti biasa, corat-coret dan minta ditambahkan hingga 35 – 40 halaman. Dan dalam waktu beberapa hari jadi juga 31 halaman, walaupun kurang dari yang diminta (35-40 halaman).

Akhirnya jadi juga proposal sekitar 35 halaman yang kemudian diuji dalam sesi yang dikenal dengan istilah ujian Candidacy (perubahan status dari “calon kandidat doktor” menjadi “kandidat doktor”). Lumayan berat karena sifat riset yang multidisiplin dengan para pembimbing yang berasal dari bidang computer science, urban environment, dan remote sensing – GIS, serta saya sendiri dari information management. Advisor pun ternyata mempelajari gaya saya yang jika diberi instruksi berupa range, misal 25 sampai 30 halaman, saya cenderung membuat “tarif bawah”, lama-lama dia menginstruksikan angka pasti, misal “buat 50 slide”, yang mau tidak mau saya memilih 50 slide. Postingan ini hanya pengalaman pribadi yang tentu saja terkadang tidak cocok dan tergantung dari style masing-masing dan juga dosen pembimbing. Semoga bermanfaat.

Biaya Studi Doktoral

Iseng-iseng buka Sistem Informasi Akademik (SIS) kampus tempat kuliah, mumpung masih bisa buka. Terutama di bagian tagihan (SPP, listrik, dan kos). Ternyata lumayan juga, dari tahun 2013 hingga Januari 2018 ternyata menghabiskan dana hampir 700 juta (kalau hanya uang kuliah sebesar Rp. 600 juta). Lumayan juga.

Ketika saya ngobrol sambil ngopi dengan teman yang juga kuliah di sana, dari Dep. Pertanian, ternyata saya lupa, itu belum biaya hidup yang sebulanya dari pemerintah sekitar $600 (Rp. 8,4 juta utk kurs $1= Rp. 14.000). Jika dihitung selama 4 tahun (48 bulan) maka menghabiskan sekitar Rp. 400 juta. Jadi total pemerintah menganggarkan untuk satu mahasiswa doktoral sebesar Rp. 1 Milyar. Angka yang cukup besar. Itu Thailand, bagaimana dengan negara lain? Mungkin rekan-rekan yang studi di Eropa, Jepang, dan Australia bisa memberi gambaran. Sebagai informasi, waktu pelatihan bahasa di UGM sebelum berangkat (tahun 2011) diberitahu kalau pemerintah menganggarkan Rp. 2 Milayar untuk mahasiswa doktoral di Australia, hampir 2 kali lipat Thailand ternyata.

Karena hanya dibiayai 4 tahun, maka harus self support satu semester karena molor (4,5 tahun) dan harus ditanggung sendiri (belasan juta rupiah). Untungnya biaya hidup murah meriah di sana dan kampus masih membiayai lewat gaji bulanan. Info dari teman kuliah yang dibayarin kampus kalau molor kabarnya tiap semester kampus mengirimkan bantuan hampir Rp. 1 Milyar mahasiswanya yang tersebar di seluruh dunia karena melewati batas beasiswa. Jadi wajar jika ikatan dinas sebesar 2n+1 untuk mahasiswa luar negeri, dibanding dalam negeri yang hanya n+1 (dengan n adalah masa studi). Oiya, uang itu dari pajak (uang rakyat), maka harus bermanfaat untuk negara.

Problem Batas Usia Studi Lanjut

Setelah kehilangan teman kuliah karena memaksakan diri kembali ke tanah air tanpa menyelesaikan studinya, ada kabar mengejutkan lagi dari teman satu negara dengan saya. Waktu itu ujian mid semester (UTS) sedang berlangsung, di jurusan food engineering. Kebetulan teman tetanggo kos teman beliau. Dia mengabarkan bahwa sebelum UTS berlangsung, teman kami ijin sebentar ke kamar kecil, tetapi tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Kontan, kampus tempat saya kuliah heboh, bahkan UTS pun ditunda karena kejadian tersebut. Segera beliau dilarikan ke rumah sakit yang memang bersebelahan dengan kampus (thammasat hospital). Namun setelah kira-kira dua mingguan, nyawanya tidak tertolong karena stroke.

Batas Usia Studi Lanjut Luar Negeri

Ketika meninggal rekan saya berusia 50 tahun dan beberapa bulan lagi menginjak 51 tahun. Kampus di tempatnya bekerja, PTN di wilayah timur Indonesia memang mensyaratkan batas maksimal 50 tahun untuk memperoleh beasiswa S3. Memang peraturan terbaru menurunkan batas maksimal studi lanjut khusus luar negeri dari 50 tahun menjadi 47 tahun, seperti aturan berikut ini (unduh versi lengkapnya):

Ristek-DIKTI memang terkenal ketat dalam hal syarat administratif, seperti kasus batas usia di atas. Ada kejadian aneh ketika saya mengikuti proses seleksi penerimaan beasiswa, yaitu wawancara ulang. Beberapa rekan yang mengikuti wawancara ulang kebanyakan karena kurang syarat tertentu, misalnya surat kesanggupan perguruan tinggi tempatnya mengajar untuk membiayai tahun keempat. Ada rekan yang usianya di atas 47 (di bawah 50), sebelumnya memenuhi syarat usia (max 50 tahun) untuk studi luar negeri. Namun ketika wawancara ulang ada aturan baru, yaitu tidak perlu surat kesanggupan membiayai tahun keempat dari PT asal (banyak yang bersorak gembira waktu dibreafing sebelum wawancara), sialnya syarat batas usia diturunkan, ada dua orang yang tidak lolos karena batas usia (padahal wawancara beberapa bulan yang lalu masih memenuhi syarat – max 50 tahun). Apa boleh buat, jika syarat TOEFL bisa diasah lewat kursus/bimbingan, LoA conditional bisa dinego ke kampus tujuan agar unconditional, tetapi bagaimana bisa mengakali usia yang sudah lewat?

Melihat kasus rekan saya yang meninggal, sepertinya alasan pemerintah masuk akal juga, walaupun namanya ajal tidak melihat usia, di bawah atau di atas 50 tahun bisa saja meninggal jika Allah menghendaki. Tetapi sepertinya pemerintah memiliki alasan lain, misalnya karena mendekati masa pensiun (padahal doktoral biasanya molor, lebih dari 3 tahun), dan lain-lain yang jujur saya tidak mengerti. Info dari pewawancara ketika breafing karena syarat dari MENPAN yang bahkan lebih rendah lagi (42 tahun untuk studi ke luar negeri), jadi syarat 45 tahun (waktu itu) tersebut sudah diringankan DIKTI.

Batas Usia Studi Lanjut Dalam Negeri

Ketika Dirjen SDM (Pak Ghofar) datang ke kampus saya memberikan seminar, ada penanya yang mempertanyakan mengapa ada syarat usia untuk studi lanjut. Pak dirjen hanya bisa menjawab karena aturan. Benar juga, mengingat banyaknya kasus-kasus beratnya kuliah di usia lanjut. Ada contoh kasus lain, seperti kasus rekan saya yang meng-cancle beasiswa karena sakit (sudah berjalan kira-kira kurang dari dua tahun). Sebagai seorang ibu dengan dua anak, studi lanjut membutuhkan stamina ekstra, apalagi jarak kuliah yang jauh, ditambah dosen yang sulit diajak kompromi. Memang jika kondisi tidak fit, penyakit mudah datang. Rekan saya akhirnya tidak kuat, karena kanker yang tiba-tiba singgah. Setelah mengundurkan diri, Alhamdulillah sakitnya mulai mereda. Aturan DIKTI untuk usia max beasiswa pendidikan di dalam negeri (2017) adalah 50 tahun seperti berikut ini (unduh versi lengkapnya di sini):

Semoga tulisan ini tidak mengendurkan semangat pembaca yang ingin studi lanjut, tetapi jangan khawatir, “what doesn’t kill us, make us stronger”. Jangan lupa evaluasi diri, menganalisa kelebihan dan kelemahan kita. Saya sendiri berprinsip seperti binatang hyena, akan bertarung jika sekiranya peluang menangnya besar. Memang status rekan-rekan kita di facebook, bikin “ngiler”, tetapi itu yang tampak. Padahal hal-hal lain tidak tampak (walau kadang ada), seperti stress, under pressure, begadang semalaman, dan lain-lainnya. Sekian, semoga bermanfaat dan jangan menyerah dulu.

Pindah Homebase Dosen

Beberapa waktu yang lalu ada kabar kepindahan rekan dosen ke kampus lain. Kasus pindahnya seorang dosen ke kampus lain banyak alasannya, dari alasan lokasi kerja yang jauh, tidak cocok dengan lingkungan dan gaji/insentif, hingga diterima menjadi ASN (departemen atau kampus negeri). Dari sisi internal, banyak ragam menyikapinya, dari yang oke-oke saja, hingga yang menggerutu. Banyak pula yang bertanya, bisa kah seorang dosen pindah ke kampus lain? bagaimana caranya? Apakah sulit dan lama prosesnya? Postingan kali ini berusaha menjelaskan prosesnya, tentu saja dari pengalaman diri sendiri dan orang lain, yang mungkin saja berbeda kasusnya.

Proses Pindah Homebase

Prinsipnya tiap dosen boleh pindah dari satu kampus ke kampus lainnya. Tetapi ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Ada baiknya membaca informasi dari kopertis, contohnya kopertis XII yang rajin menginformasikan suatu prosedur-prosedur, silahkan berkunjung ke situ. Aturan resminya dapat dilihat dari link berikut ini.

Ada dua jenis perpindahan yaitu antar kopertis, atau beda kopertis. Tapi tunggu dulu, ketika tulisan ini dibuat ada perubahan struktur yaitu kopertis yang berubah menjadi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLPT) yang menangani bukan hanya PTS tetapi PTN juga. Mungkin ada perubahan. Prinsipnya adalah jika dalam satu kopertis, surat pengantar perpindahan hanya di kopertis yang bersangkutan, tetapi jika beda kopertis harus melibatkan dua kopertis (tujuan dan asal) surat keterangannya. Yang terpenting adalah surat lolos butuh yang dikeluarkan oleh institusi asal.

Langkah terakhir dan penting adalah bagian PDPT kampus asal dan tujuan melakukan proses lolos butuh secara online. Caranya bisa dilihat di link ini, tentu saja tidak semua orang bisa mengaksesnya. Banyak kejadian, surat sudah beres tetapi karena bagian PDPT (sering disebut EPSBED) tidak memroses, maka tidak bisa pindah homebasenya.

Pengalaman Pribadi

Waktu itu saya dosen honorer di salah satu PTS di Jakarta. Ketika mendaftar jadi dosen tetap ternyata ditolak dengan alasan background pendidikan saya yang kurang OK untuk ngajar jurusan teknik informatika dan sistem informasi. OK-lah, akhirnya tetap ngajar tapi dosen honorer (sambil kerja utak-atik IT di bank). Tidak lama kemudian, ada rekan saya yang menawarkan menjadi dosen di tempat saya singgah sekarang, bukan hanya honorer, tetapi dosen tetap. Entah mengapa ada keinginan kuat untuk bekerja di sana walaupun gajinya hampir 1/3 dari kerjaan saya waktu itu di divisi IT sebuah bank nasional (pegawai kontrak). Karena memang saya yang “tidak diinginkan” di tempat saya mengajar honorer, mudah saja memperoleh surat lolos butuh. Dengan surat lolos butuh itu, kampus baru langsung mengurusnya, dua surat keterangan diperlukan yaitu dari kopertis 3 (asal) dan kopertis 4 (tujuan/baru). Selesai sudah. Tentu saja surat lolos butuh dikeluarkan dengan melihat apakah ada hutang, ikatan dinas, dan lain-lain yang bersifat legal/perdata.

Terus terang kepindahan saya karena merasa tertantang bahwa saya tidak memiliki skill yang cukup untuk mengajar di IT. Setelah mengambil S2, saya lanjut ke S3 (beasiswa DIKTI) dan ternyata bisa lulus di jenjang tertinggi IT, uniknya saya lulus tercepat seangkatan. Tentu saja secepat-cepatnya S3 ya lama juga (4 tahunan). Tadinya sih niatnya cuma penasaran saja apa benar saya tidak mampu mengikuti ilmu informatika, ternyata malah keasyikan di bidang itu.

Kepindahan Dosen Merugikan/Menguntungkan?

Sudah ada dua kali rekan saya yang pindah karena diterima mengajar di kampus negeri. Apakah merugikan? Tentu saja tidak. Justru malah itu membuktikan divisi SDM kampus sudah bekerja baik dan berhasil mendapatkan SDM-SDM yang berkualitas, terbukti diterima di PTN (PNJ dan POLBAN). Lagi pula keberadaannya walau beberapa saat sangat membantu dan menjadi “pelumas” kinerja dosen-dosen lainnya. Hanya saja SDM harus bekerja mencari dosen lagi, itu saja (kasihan kan kalau tidak ada kerjaan). Bagaimana supaya dosen betah? Ya kurangi kesenjangan dengan kampus lain (gaji, fasilitas, suasana, dan lain-lain). Toh secara default, dosen malas pindah-pindah kalau memang tidak kepepet buuaaanget. Menurut saya sih ..

Update: 2/2/18

Berikut link aturan (2016) untuk tatacara perpindahan dosen:

Update: 6/3/19 – Contoh Kasus

Kebetulan beberapa hari yg lalu rekan saya ingin pindah dari satu kampus ke kampus lainnya. Dia masih berstatus kontrak 3 tahun di kampus lama. Ketika mengundurkan diri dan ingin mencabut homebase-nya, kampus lama meminta menghabisi hingga kontrak selesai (untungnya hanya tinggal sekitar 5 bulan). Walaupun ada klausul mengganti biaya/pinalti, kebanyakan kampus menolak menerima pinalti, melainkan meminta untuk menghabisi sisa kontrak (dengan ancaman surat lolos butuh tidak dibuat tentu saja). So, ketika ingin menandatangani kontrak di atas materai, perhatikan dan baca dengan teliti klausulnya, jika berat kompromikan atau jika mentok, pilih waktu kontrak yang tidak terlalu lama, dan jika mentok terus cari kampus lain saja .. bumi Allah luas.

Gaya Belajar

Nemu buku lama di perpustakaan yang berisi gaya belajar pada anak dan bagaimana caranya untuk menghilangkan hambatan-hambatannya. Karena keburu tutup perpustakaannya jadi tidak sempat mencatat judul dan pengarangnya. Mudah-mudahan bisa menemukan informasi tersebut nanti.

Di awal diceritakan kisah-kisah anak yang mengalami hambatan dalam belajar. Misalnya seorang anak yang pintar bicara, ternyata tidak bisa mengikuti pembelajaran karena gurunya cenderung memperlakukan siswanya untuk diam dan diminta membaca. Tentu saja siswa yang memiliki karakter verbal tersebut kesulitan mengikuti pelajaran. Uji coba dilakukan ke siswa berkarakter verbal yaitu menghapal puisi dengan mengingat tanpa bicara dan mengingat dengan mengucapkan lantang. Ternyata lebih mudah mengingat sambil membaca bersuara untuk anak yang berkarakter verbal.

Begitu pula dengan dua karakter belajar lainnya yaitu auditory dan kinesthetic yang artinya berturut-turut berbasis pendengaran dan gerakan fisik. Misalnya, anak yang berkarakter kinesthetic akan sulit membaca dalam waktu lama tanpa jeda. Mereka lebih suka membaca dengan jeda yang sering, kecuali jika bacaannya ada alur action-nya, barulah mereka bisa terus membaca dengan nyaman. Suruh anak yang memiliki karakter auditory untuk mendengarkan perkuliahan, dia akan mudah menangkapnya dibanding diminta membaca.

Untuk mengetahui anak kita atau anak didik kita berkarakter belajar verbal, auditory, ataukah kinesthetic dapat dengan rincian di bawah ini.

Visual Strength

  • Dapat merakit sesuatu dari gambar
  • Menutup mata ketika mengingat
  • Sangat teliti dalam detil sesuatu
  • Baik bekerja dalam memecahkan puzzle
  • Waktu luang lebih suka nonton televisi atau main game
  • Suka melihat untuk belajar
  • Memiliki ingatan terhadap pengalaman/kejadian
  • Menggunakan pakaian yang matching sangat penting menurutnya
  • Dapat memahami sesuatu dengan membaca dan mendengarkan
  • Sangat kalem, malas menjawab kalau tidak ditanya
  • Berfikir cara terbaik lewat gambar (penglihatan)
  • Suka mencatat ketika kuliah/belajar

Auditory Strenths

  • Mengingat iklan
  • Menggunakan kata2 yang berirama
  • Berbicara ketika menyelesaikan permasalahan
  • Mendengarkan arahan secara oral
  • Lebih mudah memahami materi yang didengarkan dari pada yang dibaca
  • Sering membaca dengan keras
  • Kesulitan membaca diagram atau peta tanpa ada yang menjelaskannya
  • Mudah berekspresi secara verbal
  • Suka berkomunikasi lewat telepon
  • Pandai membedakan dan mencocokan suara

Kinesthetic Strength

  • Sulit fokus ke bacaan kecuali jika berisi alur action di dalamnya
  • Suka olah raga dan bermain di luar
  • Memiliki energi yang besar
  • Ketika kecil suka menyentuh ketika mengamati
  • Berekspresi (marah, dll) cenderung dengan body language
  • Mudah belajar dengan pengalaman praktek
  • Mudah bergerak mengikuti musik
  • Lelah ketika duduk dalam waktu lama
  • Ketika berhitung terkadang seperti menulis di udara
  • Susah mengikuti atau mengingat arahan secara verbal

Tentu saja ada kemungkinan penggabungan karakter pembelajaran pada seorang anak, misalnya selain mendengar dia juga melihat (auditory + visual), mendengar dan aksi (auditory + kinesthetic), atau bahkan penggabungan ketiganya. Oiya, disebutkan pula, untuk seorang anak terkadang karakter tertentu memang belum berkembang tetapi hanya telat, dan bisa saja berkembang pesat di masa yang akan datang melebihi karakter saat ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Update: 22 January 2018

Akhirnya ketemu juga refrensinya, yaitu:

Fuller, Cheri (1994). Unlocking your child’s Learning Potential. Singapore: The Navigators

Siaga I Menghadapi: Sidang Terbuka

Setelah menunggu hampir setahun, akhirnya sidang terbuka dijadwalkan, kemarin tanggal 15 Januari 2018. Itu pun dijadwalkan mendadak, sehingga persiapannya keteteran dan tergopoh-gopoh, walaupun diumumkan empat hari sebelumnya tetapi ada dua hari libur yaitu sabtu dan minggu, praktis hanya hari jumat menyiapkan berkas ke jurusan. Saya termasuk yang selalu tidak siap jika diminta presentasi, apalagi kalau mendadak. Siapa tahu di antara pembaca ada yang akan sidang juga, mungkin bisa jadi bahan pertimbangan postingan ini.

Keep Calm

Di sini maksudnya bukan tidak berbicara. Malah harus berlatih berbicara agar besoknya bisa “ngomong”, apalagi pakai bahasa Inggris. Calm di sini adalah fikiran kita yang “liar” sehingga membuat lelah batin kita dan yang berbahaya tidak bisa tidur semalaman. Saya termasuk konsumen meditasi. Banyak teknik meditasi seperti vipassana, cittanupassana, dan lain-lain. Untuk kondisi super darurat, ada baiknya vipassana. Teknik ini untuk menjaga fikiran tidak liar dengan selalu fokus ke nafas keluar dan masuk. Tidak perlu mengatur nafas, hanya memperhatikan saja. Jika fikiran liar muncul sadari saja dan perlahan kembalikan ke pernafasan. Terus terang saya tetap sulit tidur .. hehe. Untungnya ada obat-obatan yang bisa membuat lelap tidur, sebaiknya yang herbal dan sudah teruji alias cocok dengan tubuh kita, dan bukan coba-coba. Kalau besoknya malah mencret kan tambah repot.

Kelihatannya teknik tersebut tidak berguna dan sulit diterapkan. Uniknya saya terapkan hingga saat presentasi berlangsung. Mungkin terlihat aneh, bagaimana mungkin kita presentasi, menjawab pertanyaan, dan lain-lain tapi dengan fokus ke pernafasan. Bahaya dong. Ternyata tidak, jangankan memperhatikan nafas, ketika berkendara saat memperhatikan hutang-hutang saja bisa kok, apalagi Cuma memperhatikan nafas.

Pelajari Video Presentasi yang Baik

Banyak video tutorial presentasi bertebaran di internet, terutama di youtube. Semua menganjurkan awal presentasi sangat menentukan keberhasilan. Jika di awal sudah malas didengarkan oleh audiens maka dipastikan sampai akhir akan membosankan bagi mereka. Posisi tubuh, intonasi dan lain-lain banyak juga dijelaskan di youtube, silahkan searching sendiri.

Berikutnya adalah power point. Kalau bisa isi power point didiskusikan terlebih dahulu ke dosen pembimbing. Hal ini penting untuk mengetahui batas waktu yang pas. Terkadang beberapa bagian dipotong dan beberapa bagian perlu ditekankan, misalnya novelty, kontribusi keilmuan, dan sebagainya. Jangan lupa akhir dari presentasi itu penting juga. Berikan kata pujian ke dosen pembimbing dan asistennya. “My gratitute to my doctoral thessis superviser … for guidance and motivation”. Jangan lupa kesimpulan itu kunci keberhasilan, apalagi sidang akhir karena setelah itu kita tidak langsung pulang. Ada sesi tanya jawab yang bikin keringat dingin. Penguji cenderung mengingat yang terakhir dan jika kesimpulan kurang sreg dia akan bertanya langsung ke sana, bahkan mereka berebut untuk bertanya.

Buat Audiens Ingin Tahu

Jika dalam disertasi kita ada hipotesa yang akan diuji, atau masalah yang akan diselesaikan, ada baiknya format harus dirubah karena jika ditampilkan apa adanya terasa “garing”. Kesalahan yang sering dilakukan adalah dengan copas dari tulisan di disertasi. Alangkah baiknya dibuat format baru yang memancing minat pendengar. “How can we …?”, atau “How we optimize … based on ..” dan seterusnya setelah sebelumnya memperkenalkan kasus atau masalah yang akan dibahas dalam presentasi. Tentu saja setelah itu slide berikutnya tidak menjawabnya, melainkan dengan memperkenalkan agenda presentasi, atau sering diberi judul “outline” atau road map presentasi kita. Singkat saja dan langsung masuk ke konten. Jika pendengar berhasil ditarik keingintahuannya, dipastikan presentasi kita berhasil.

Dalam tulisan (skripsi, tesis, disertasi) terkadang mengalir seperti cerita. Untuk presentasi ada baiknya dibalik. Sebanyak mungkin di akhir slide ada sesuatu yang akan dijawab pada slide berikutnya agar pendengar menanti-nanti dan menerka apa kiranya jawaban dari sesuatu yang saat ini ditayangkan di slide. Sebagai contoh, dalam disertasi saya menjelaskan analisa urban growth untuk menemukan dua driver baru yang akan diusulkan. Dalam presentasi saya balik, saya langsung tampilkan dua driver itu, kemudian saya munculkan pertanyaan ke audiens apa dasar dan bagaimana saya menemukan dua driver tambahan tersebut. Teknik ini banyak disarankan oleh video tutorial presentasi di youtube.

Buat Audiens Nyaman dan Memperoleh Manfaat

Agak sulit memang menemukan apa yang kira-kira bermanfaat bagi pendengar. Sebenarnya banyak hal-hal di sekitar kita yang tidak bermanfaat kok, tetapi bisa dibuat bermanfaat jika dikemas dengan baik. Video game, instagram, fesbukan seharian, mungkin kalau difikir-fikir ga ada gunanya tapi ternyata banyak yang tertarik. Mungkin tidak bermanfaat, tetapi jika audiens terhibur, dengan lelucon-lelucon yang membuat mereka nyaman, toh mereka akan merasa bermanfaat mendengarkan presentasinya. Mereka akan lupa pusingnya rumus-rumus yang kita presentasikan.

Lihat Tradisi

Tradisi di sini maksudnya hal-hal yang menjadi kebiasaan di suatu kampus. Terus terang saya berusaha mencari tahu. Caranya adalah dengan sering mengikuti sidang terbuka doktoral di kampus saya. Walaupun saya terkadang tidak mengerti kontennya, tetap saya lihat hal-hal lainnya. Ada jurusan yang keras, ada juga yang ketawa ketiwi hanya formalitas saja. Bagaimana dengan jurusan Anda? Silahkan jawab sendiri. Di hari sabtu, padahal libur, supervisor saya meminta datang. Di sana kami membahas power point untuk presentasi besok. Aneh juga di akhir pertemuan dia menjulurkan tangan dan mengucapkan selamat kepada saya. Saya baru “ngeh” ternyata saat itulah de facto saya berhasil menghilangkan huruf “c” dari Dr(c) saya, singkatan dari “calon”, artinya bukan calon doktor lagi, walaupun secara tertulis dan resmi setelah sidang presentasi besoknya. Jurus ampuh terakhir dan terhebat adalah DOA .. apalagi doa keluarga dan rekan-rekan kita. Sekian semoga menginspirasi.

Menghapus dan Memasukan Artikel di Daftar Google Scholar

Oiya, sudah daftar Sinta kan? (Untuk yang belum). Banyak yang protes karena Sinta menggunakan Google scholar sebagai salah satu faktor perhitungan Sinta selain Scopus. Salah satunya adalah karena Google scholar serampangan memasukan suatu tulisan/artikel ke akun Google scholar kita. Namun karena Google scholar metodenya self assesment, ada baiknya kita menghapus dan mendaftarkan tulisan-tulisan kita secara mandiri. Postingan ini terinspirasi dari tulisan rekan saya waktu mengajar di satu kampus di jalan Fatmawati dulu (lihat di sini).

Setelah login di google scholar, masuk ke profile kita. Di bagian atas kiri ada simbol “wisuda” yang artinya profile kita. Klik untuk masuk ke dalam dan melakukan manajemen artikel milik kita.

Pilihlah tulisan-tulisan yang bukan tulisan kita. Kemudian tekan “DELETE” agar dibuang dari daftar tulisan kita. Misalnya “klasifikasi lovebird ..” (hmm sejak kapan saya nulis klasifikasi burung bercinta).

Kemudian akan muncul informasi jurnal tersebut. Berikutnya tinggal menekan simbol “tempat sampah”. Artinya kita membuang tulisan tersebut dari daftar tulisan kita.

Oiya, jangan sedih. Kan bukan tulisan kita. Tapi lama-lama repot juga kalo google “nyepam” terus suatu tulisan ke akun Google scholar kita, capek juga sih menghapusnya. Untungnya bobot Google scholar jauh di bawah Scopus yang memang “screening”nya bagus. Hanya saja masih jarang dosen-dosen di tanah air yang sudah punya ID scopus.

Berikut kalau ingin menambahkan artikel, tinggal tekan simbol “+”. Ada dua pilihan tambah artikel (manual atau otomatis). Untuk yang otomatis searching nama kita di kolom “searching” lalu tekan simbol kaca pembesar. Sementara kalau yang manual tinggal isi informasi tulisannya.

Oiya, jangan asal masukin tulisan orang. Semoga postingan ini bermanfaat.