Seminar Wireless 5G di Kampus

Sambil mengurus berkas-berkas sebelum pulang menunggu proses external disertasi, iseng-iseng ikut seminar di jurusan ICT (telkom) jurusan sebelah. Pengisinya adalah dosen dari Jepang (Masayuki Ariyosi) tentang penerapan wireless 5G di kedokteran dan disaster management. Sering juga mendengar bahwa teknologi 4G sebentar lagi akan digantikan oleh 5G. Teknologi terbaru itu kini sedang dikembangkan, banyak masalah-masalah yang dijumpai. Tetapi untuk yang machine to machine communication sepertinya sudah established.

LCX Multi Input Multi Output

Terus terang saya mendengarkan sambil pusing memikirkan maksud dari pembicara yang kental logat Jepangnya. Tetapi lama kelamaan “ngeh” juga ketika dia membahas mengenai LCX. LCX itu adalah metode baru pengganti access point (terminal WIFI) yang memiliki kelemahan karena terdistribusi hanya dalam satu titik sementara LCX kontinyu dan panjang.

Silahkan searching LCX yang berisi kabel coaxial dengan tambahan lilitan (horizontal atau vertical) yang berfungsi sebagai antena. Jadi prinsip kerjanya adalah LCX ini seperti access point yang kontinyu sehingga pengguna yang tersebar memeliki quality of service yang seragam, berbeda dengan access point dimana pengguna yang jauh dari access point akan lambat alias “lemot”.

LCX terus berkembang dari yang tadinya tipe 2×2 berlanjut ke 4×4 MIMO dimana dua kabel LCX digabung menjadi satu. Saya juga masih berfikir apakah tidak saling mengganggu mengingat masalah yang 2×2 saja harus diatur peletakannya agar satu sama lain tidak saling mengganggu.

Riset di Wireless

Sepertinya profesor pembicara itu membutuhkan tim untuk riset dan menawarkan untuk membimbing mahasiswa di kampus saya untuk lanjut ke Jepang atau sekedar kuliah tambahan. Sepertinya banyak rekan saya di Indonesia yang spesialis dalam jaringan piconet ini. Seperti dalam supply dan demand, terkadang perlu dihubungkan antara pensuplai (supervisor) dan yang membutuhkan (mahasiswa bimbingan).

Masalah utama calon-calon mahasiswa doktoral di tanah air adalah kendala bahasa. Pemberi beasiswa dan kampus tujuan biasanya mematok skor IELTS dan TOEFL yang tinggi, sementara jika mengandalkan kampus dalam negeri tentu ada batasnya (anggaran dan kuota dosen pembimbing/supervisor). Sekian semoga bermanfaat bagi rekan yang serius di telkom.

Life-long Education

Istilah ini sering muncul dan dikontraskan dengan “long life education”. Jika “life long education” berarti belajar sepanjang hidup, “long life education” berarti hidup hanya untuk belajar. Jadi yang benar adalah belajar untuk hidup. Banyak referensi-referensi mengenai hal yang masuk dalam bidang ilmu pendidikan ini, misalnya di paper seminar ini, yang membahas seluk beluk “life long education” yang sedikit membedakan dengan “life long learning” (lihat link ini). Jika learning hanya berfokus kepada belajar, “education” lebih luas dari pada “learning”.

Empat Pilar Pendidikan

Dibahas empat pilar dalam pendidikan, antara lain: “learning to know”, “learning to do”, “learning to live together and work with others”, dan “learning to be”. Pilar itu sudah sesuai dengan urutannya, yang diutarakan pertama kali oleh Delors (1996) dan ditujukan untuk pendidikan di masa depan. Dimulai dari sekedar tahu (know), dilanjutkan dengan bisa mengerjakan (do) dan bekerja sama (live together) dan diakhiri dengan perannya di masyarakat (to be). Jika seluruh rakyat Indonesia sampai tahap “to be”, pasti sejuk dah. Jika “learning to do” tetapi tidak “live together”, biasanya bentrok dan persaingan muncul di sana-sini. Jadi ingat, baru saja sore tadi timnas U23 kita dikalahkan 2-3 oleh timnas Syria. Bayangkan, kita dikalahkan oleh negara yang porak-poranda karena perang sodara. Semoga kita tidak seperti mereka yang kurang skill dalam “live together”-nya. Kalau “learning to do” sepertinya kita sudah banyak yang “ok”, buktinya kita masih bisa bekerja dengan baik, bahkan keahlian mengelas kita mengungguli negara lain. Tetapi kalau kebanyakan baru sampai “learning to know” sepertinya hanya ramai debat saja tanpa aksi, alias wacana thok. Repotnya, apabila keempat pilar tidak ada yang jalan, maka pasti kerjaannya ribut saja di media sosial, gampang kemakan hoax dan gemar cari lawan.

Kwadran Pendidikan

Negara dengan mayoritas muslim sebaiknya mendengar hadits nabinya yang mengatakan agar belajar dimulai dari buaian (bayi) hingga liang kubur (meninggal), alias “life-long education”. Dalam kondisi seperti saat ini dimana perkembangan IPTEK sangat cepat, tidak ada cara lain untuk “sustainable”/bertahan selain belajar terus. Di Swedia, life-long education dikombinasikan dengan “life-wide learning”. Jadi kalau digambarkan, “life-long” itu berdasarkan usia, sementara “life-wide” itu dibedakan menjadi formal dan non-formal, sehingga terbentuk 4 kwadran.

Idealnya negara memfasilitasi secara merata keempat kuadran tersebut. Misalnya untuk generasi muda, selain formal (sekolah), perlu juga memperhatikan pendidikan non-formal (di masyarakat). Selain distribusi yang merata, integrasi juga harus ada. Selama ini pendidikan non formal dan formal sepertinya jalan masing-masing di beberapa negara, padahal sebaiknya antara formal dan non-formal saling terkait. Selain horizaontal (formal dan non-formal), integrasi juga vertikal (tua atau muda).

Tujuan Utama “Life-long Education”

Dari empat pilar pendidikan, “learning to be” merupakan tujuan akhir dari pendidikan. Istilah lain dari “learning to be” adalah “learning society”, yaitu rakyat yang produktif, mampu bertidak dan merespon dengan baik dalam bermasyarakat serta memiliki kesadaran dalam bertindak. Aspek spiritual tidak boleh dilupakan (tidak materialistis). Akan tetapi butuh persyaratan-persyaratan tertentu untuk sampai ke arah sana.

Persyaratan Awal

Dari dulu ada dua syarat untuk menerima pendidikan: kesempatan dan kemauan. Tanpa keduanya, pendidikan tidak berjalan. Untuk memberikan kesempatan belajar, peran pemerintah sangat penting. Jangan sampai pendidikan hanya untuk orang yang mampu (the have). Masalah kesempatan merupakan masalah yang sering dijumpai di negara berkembang seperti di Indonesia dibanding di negara maju. Selain itu pihak yang mampu jangan mengabaikan yang tidak mampu, sehingga tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam hal pemberian kesempatan belajar ke rakyat yang tidak mampu. Sementara itu kemauan perlu dipupuk sejak kanak-kanak dan peran orang tua juga menentukan. Terakhir adalah “educability”, alias bisa dididik. Sepertinya tidak masalah di negara kita, karena tiap orang bisa dididik, kecuali kalua kena narkoba atau dicuci otaknya oleh paham radikal (teroris).

Demikian sedikit gambaran masalah pendidikan yang saya sendiri kurang begitu mendalami. Mungkin rekan-rekan yang mengajar di kampus jurusan pendidikan bisa lebih memberikan penjelasan yang lengkap dan “jujur”. Semoga bermanfaat.

Referensi

Silahkan lihat link di paragraf awal

Perkembangan e-Learning Saat Ini

Ketika mendaftar beasiswa DIKTI, calon karya siswa (mahasiswa yang memperoleh beasiswa) diwajibkan untuk melampirkan proposal disertasi. Waktu itu saya mengusulkan penerapan soft computing dalam sebuah e-learning. Soft computing yang diterapkan pun beragam dari yang biometrik hingga plagiarism check. Setelah wawancara dan dinyatakan lulus, mulailah satu persatu jurnal e-learning saya baca. Ternyata rumit juga .. he he. Alhasil saya beralih dari e-learning ke data spasial, kebetulan dapat hibah bersaing DIKTI tentang optimasi data spasial, jadi sekalian kerja serempak. Ditambah lagi, kampus tempat saya kuliah tidak menawarkan course e-learning.

Kualitas e-learning Terkini

Jujur saja saya tidak begitu mendalami masalah teknis aplikasi e-learning, yang dimotori oleh Moodle. Hanya sedikit berbagi pengalaman saja sebagai pengguna (siswa dan juga pengajar). Ketika kuliah remote sensing & GIS, dosen saya menyediakan e-learning (disebutnya virtual class). Tetapi jarang saya buka, karena hanya sekedar share file-file dan tugas kuliah saja. Waktu itu bentuknya pun tidak jauh berbeda dengan Moodle yang pernah saya coba install dengan php-mysql di laptop. Sekarang ada sedikit perbedaan, seperti tampak dalam gambar di bawah ini.

Sebagai mahasiswa sepertinya sangat pasif dan hampir tidak ada fasilitas untuk onlinenya. Mungkin karena tidak optimal digunakan. Malah lebih suka mengunakan Facebook untuk media komunikasinya. Sementara itu, di bawah ini salah satu situs e-learning dari universitas terbuka.

Tugas-tugas yang diberikan tiap minggu dapat dengan mudah diperiksa dalam sebuah forum diskusi dan juga tugas-tugas. Untuk membuat e-learning yang mirip sekali dengan perkuliahan tatap muka sepertinya agak sulit. Untuk sekedar diskusi saja tingkat keikutsertaan siswa masih rendah. Sepertinya mobile-learning dengan smartphone perlu diusahakan agar memudahkan pengguna. Mirip aplikasi Grab/gojek/atau lainnya yang mudah dan user friendly.

E-learning SEAMEO SEAMOLEC

Salah satu faktor utama suatu aplikasi adalah tingkat penggunaannya. Percuma aplikasi yang baik dan canggih tetapi orang malas menggunakannya. Oleh karena itu sebaiknya riset melibatkan pengguna. Salah satu lembaga level Asia Tenggara (+ Australia dan Timur Leste) adalah Seameo Seamolec (lihat link resminya). Gambar berikut menampilkan seminar internasionalnya (saat tulisan ini dibuat, acara masih berlangsung) via online yang membahas perkembangan terkini online learning.

Software yang digunakan adalah plugin dari Cisco (Webex). Saya kagum juga dengan Cisco dalam menyediakan fasilitas video conference. Pernah ada uji coba dari univ di jogja yang mengadakan diskusi online lewat aplikasi Cisco yang akan dibeli kampus itu (saya lupa nama produknya). Hasilnya cukup OK walaupun saya menggunakan ponsel HP (GSM) sinyalnya, tapi tidak putus-putus.

Salut juga untuk tim (Binus dkk) yang menyelenggarakan seminar ini. Semoga e-learning terus berkembang sehingga bisa menjangkau wilayah Indonesia yang luas dalam mencerdaskan bangsa.

Berikut ini contoh tampilan konferensi online ini (2nd Indopec International seminar). Semoga info ini berguna.

Menghormati Orang Lain .. Wajib di Era Informasi

Saat munculnya media sosial, dimulai oleh milis dan obrolan macam-macam sejenis kaskus hingga facebook, twitter, dan instagram, dimulailah era informasi. Istilah nitizen terbentuk, gabungan dari kata internet dan citizen, yang artinya warga yang berinteraksi lewat media online (internet). Terakhir dengan bantuan “internet of things”, aplikasi-aplikasi online ditawarkan dan membentuk “pasar baru” yang dikhawatirkan pelaku bisnis existing yang masih menerapkan proses bisnis konvensional.

Pengakuan Terhadap Aplikasi Online

Pertama kali logo grab saya lihat menempel di taksi konvensional yang ada di Thailand, tempat saya studi lanjut, kira-kira tiga/empat tahun lalu. Saya hanya berfikir itu sekedar aplikasi bantuan untuk memesan taksi. Kemudian ketika beberapa kali “mudik” ketika libur kuliah, banyak ojek-ojek berwarna hijau dan orange berseliweran. Barulah saya berfikir ini merupakan proses bisnis baru, karena ada aplikasi dan seragam. Akhirnya muncul bentrokan-bentrokan akibat ojek pangkalan yang merasa diambil rejekinya. Terbesar adalah ketika perusahaan taksi ternama demo besar-besaran dengan aksi pengrusakan terhadap mobil-mobil yang diduga beroperasi sebagai taksi online. Walaupun ada aturan-aturan dari pemerintah, seperti kendaraan roda dua yang tidak boleh jadi angkutan, dan aturan-aturan lain yang bermaksud membatasi ojek dan taksi online, tetap saja, konsumen adalah raja.

Ketika dua bulan yang lalu tiba di bandara, kaget juga plang iklan “grab” tampil mendominasi. Sempat heran juga, padahal masih ingat berita viral di internet ketika aksi sweeping taksi online terjadi di bandara. Sampai ada yang pura-pura memesan taksi online sebagai perangkap. Saya sempat “kecele” juga ketika memesan grab di terminal DAMRI dengan berjalan keluar beberapa puluh meter. Ternyata taksi online itu menunggu persis di pinggir jalan terminalnya. Si supir mengatakan bahwa saat ini sudah tidak ada masalah menerima penumpang di terminal. Padahal dulu istri dan adik ipar ketika memesan taksi online di terminal sempat dimaki-maki supirnya oleh taksi pangkalan terminal itu. Sekali lagi .. konsumen adalah raja.

Perilaku Driver Ojek/Taksi Online

Di awal-awal memang banyak pengemudi yang kurang baik. Walaupun tetap saya beri bintang yang baik, mungkin karena tidak semua orang punya rasa kasihan seperti saya, sepertinya supir-supir selebor mulai tersisih. Bahkan makin lama, driver sopan dan ramah banyak dijumpai, juga tentu saja sabar dan taat dalam berlalu lintas.

Akhirnya saya sempat juga merasakan naik ojek online ke terminal DAMRI karena bawaan sedikit (biasanya taksi online). Sialnya ketika itu ada acara sepakbola di stadion patriot Bekasi, dan yang tanding tim “orange”, macet dah. Ketika ojek ingin memutar balik, repot juga ternyata. Baru saja moncong motor mau berbelok ke kanan, mobil-mobil yang keren-keren tidak memberi jalan, bahkan merapatkan dengan mobil di depannya. Salut juga saya dengan skill “pelit-nya”, dengan level akurasi yang beberapa senti saja dengan mobil di depannya. Sebaliknya saya salut dengan kesabaran driver ojek yang menanti beberapa saat lamanya hingga ada supir mobil yang mempersilahkan kami melintasi untuk memutar balik, padahal waktu itu lalu-lintas padat merayap dan melata.

Di era online, memang kita tidak tahu pasti dengan siapa kita berpartner dan berbisnis. Apakah itu dengan orang yang beraliran politik sama dengan kita atau tidak, seagama dengan kita atau tidak, pribumi atau non-pribumi (kalau memang ada), dan perbedaan-perbedaan lainnya. Si driver ojek online tidak marah denga si pengendara mobil yang “pelit”, bahkan dibalas dengan senyuman. Karena bukan tidak mustahil, si supir mobil itu jadi pelanggannya. Siapa tahu karena macet dia pesan gojek, grab, atau uber. Bahkan si mobil yang baik hati memberi jalan, bisa saja baik karena sering memakai jasa ojek online.

Perilaku dalam Ber-Online

Melihat perilaku pelaku bisnis online yang mulai respek terhadap orang lain, sebenarnya dapat kita contoh. Apa yang telah kita ekspresikan baik lewat video, tulisan, dan lain-lain lewat online tidak dapat kita tarik kembali. Istilah “viral” akan meminimalisir perilaku selebor yang ada di lapangan oleh rakyat, apalagi pejabat publik. Sangat mudah dan praktis, jika tidak suka dengan obrolan atau status rekan kita, tinggal unfollow saja .. bahkan bila perlu “unfriend”. Tidak ada dendam dan sakit hati lagi. Bahkan kabarnya ada perusahaan di negara tetangga kita yang menyeleksi calon karyawan dengan membaca statusnya di media sosial. Jadi berhati-hatilah, bisa saja yang tersinggung calon nasabah/rekan/partner bisnis kita. Rugi kan kalau lepas.

Beberapa waktu yang lalu saya kecewa dengan situs layanan “cloud” gratis yang karena tidak aktif, akun saya diblok. Tidak masalah sih sebenarnya. Saya cuma iseng, mengirim email keberatan, dan walau tidak ada keinginan untuk minta dibuka, terus saja saya diemail untuk dibujuk aktif lagi. Tapi ya begitulah, sekali konsumen kecewa, ya beralih, era online banyak memberikan tawaran dan pilihan. Yang membuat cepat, transparan, banyak pilihan, praktis .. akan dipilih konsumen. Saya jadi ingat, warung masakan padang ternyata sejak dulu menerapkan prinsip online, “kalau tidak puas katakan ke kami, tapi kalau puas bilang ke orang lain” .. alias “viral-kan” yang baik-baik saja.

Sharing

Diawali dari sharing informasi, saat ini sharing economy mulai merebak. AirBnB, Gojek, Grab, dan aplikasi-aplikasi online menerapkan “mahdzab” sharing. Motor, mobil, rumah, kamar, bor, sapu, dan benda-benda lain bisa dimanfaatkan (sharing) oleh orang lain dan sama-sama untung, ketimbang mubazir tidak dipakai. Google, Facebook, Youtube, dan lain-lain yang terkesan menggratiskan ternyata malah kian maju. Oleh karena itu silahkan sharing sebisanya, jangan sharing yang negatif atau menyinggung orang lain, karena kita tidak tahu dengan siapa nanti berbisnis, berpartner, bekerja, dan bersosialisasi. Untuk rekan dosen dan pengajar, juga para lulusan baru .. yuk sharing ilmu.

Siap Berubah .. Terpaksa atau Tidak

Dalam catur ada istilah “inisiatif” yaitu kondisi sebelum sampai ke tahap menyerang. Kondisi ini mirip dengan keseharian kita dimana inisiatif cenderung bermakna aktif dan dinamis. Selain itu ada keinginan untuk berubah dari kondisi saat ini ke kondisi yang lebih baik. Prof. Max Ewe, mantan juara dunia catur dari Belanda, mengatakan untuk menjadi inisiatif harus mampu membaca “ciri” yang ada dalam suatu bangunan. Mengetahui ciri tersebut membutuhkan kemampuan membaca, bukan hanya membaca tulisan tetapi membaca lewat media lainnya seperti melihat, mengamati, menganalisa dan sejenisnya.

Prof. Edi, rektor UDINUS Semarang, dalam rakornas APTIKOM 2017 di Papua berbagi pengalamannya. Salah satunya adalah bagaimana proses terbentuknya televisi kampus. Waktu itu ada dosen baru lulusan luar negeri jurusan telkom tetapi ditunjuk menjadi dekan sastra. Mirip yang terjadi di kampus saya (hanya bukan luar negeri). Unik juga mengapa dia tidak ditempatkan di jurusan yang sesuai: yaitu karena tidak ingin menyingkirkan yang lama. Tapi ternyata dosen baru itu bisa berkreasi sesuai dengan pengamatan dia ketika kuliah di luar negeri. Mengapa alumni luar negeri memiliki ke-khas-an tersebut? Mungkin analisa Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya, disruption, bisa menjelaskan.

Kontras & Konfrontasi

Untuk berubah diperlukan kontras dan konfrontasi. Kontras maksudnya adalah perbedaan antara kondisi existing dengan kondisi lain yang lebih baik. Tentu saja tidak bisa dengan hanya menjelaskan, perlu diajak melihat langsung kondisi lain. Video saja tidak cukup. Mengapa piknik/traveling tetap laris walaupun video di youtube sudah banyak yang merekam obyek-obyek wisata. Terkadang kenyamanan yang ada membuat kita merasa nyaman dan tidak ingin berubah karena merasa kita adalah yang terbaik. Hingga tersadar ternyata daerah lain sudah memakai baju dan celana, sementara kita masih menggunakan kolor akibat terisolir.

Terkadang hanya beberapa orang yang memahami perlunya perubahan. Oleh karena itu diperlukan kontras agar orang lain bisa melihat perbedaan yang ada. Jika orang tidak melihat adanya manfaat atau keuntungan dari perubahan, maka tidak akan terjadi perubahan yang diinginkan. Selain itu, kontras belum tentu bermanfaat jika hanya dilihat sekilas saja. Konfrontasi diperlukan untuk memperbanyak frekuensi dari kontras. Orang butuh berkali-kali melihat kontras sebelum mau berubah. Prinsip-nya mirip iklan di televisi/radio. Di kampus yang dosennya enggan studi lanjut, ketika ada seorang dosen mudah yang berangkat kuliah, mungkin menciptakan kontras. Tetapi jika hanya seorang saja yang berangkat, konfrontasi tidak terjadi, mungkin saja mereka menganggap hanya anomali saja. Tetapi jika banyak yang berangkat, maka kontras akan menjadi bermakna sehingga kesadaran untuk “upgrade” terjadi dengan dilanjutkan dengan “bergerak”. Perubahan memerlukan tahapan: kesadaran, bergerak, dan finish. Tanpa ketiganya, masih dikatakan belum berubah.

Apa yg dilakukan dan Bagaimana melakukannya

Satu lagi konsep yang diperlukan dalam membuat perubahan adalah apakah sudah tepat “apa yg dilakukan” dan “bagaimana melakukannya”. Hanya fokus ke salah satunya saja tidak akan membuat kemajuan yang berarti. Kabarnya banyak perusahaan yang excelent dalam “bagaimana melakukannya” tetapi tidak memperhatikan “apa yg seharunya dilakukan” saat ini hancur. Mungkin tidak ada yang salah dalam “bagaimana melakukannya” pada taksi konvensional, tetapi karena tidak bisa mengantisipasi “apa yang harus dilakukan” berakibat fatal juga ternyata, diserang taksi online. Sebaliknya, telkom bagus baik dalam “bagaimana melakukan” maupun dalam “apa yg harus dilakukan” sehingga mampu mengantisipasi trend perkembangan komunikasi yang tanpa kabel dengan fasilitas digitalnya. Mungkin kita sudah baik dalam mengelola suatu institusi, misalnya kampus, tetapi belum tentu baik dalam mengerjakan “apa yang seharusnya”. Dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi saat ini, dibutuhkan pula orang-orang bertipe “driver”, agen perubahan (bukan hanya penumpang, apalagi penumpang gelap). Terkadang perlu “piknik” keluar, baik studi banding, atau mengundang pihak luar datang, untuk menggali “kontras”. Sehingga tidak terjebak dalam rutinitas “business as usual” yang kata orang jawa “ngono-ngono tok” (itu-itu aja) serta terbuai dengan kenyamanan yang ada. Kata para profesor lho …

Waterfall, Iteration, atau Metode Extreem/Agile dalam Menulis dan Revisi

Bagi rekan-rekan yang berkecimpung dalam dunia IT pasti mengenal metode waterfall, iteration atau Extreem/Agile. Metode-metode tersebut diterapkan dalam perancangan perangkat lunak dan analisa & disain. Namun demikian, saya kerap menerapkannya dalam menulis, baik buku, paper imiah, maupun sekedar postingan di blog. Di antara metode-metode tersebut, manakah yang cocok dengan Anda? Mungkin postingan ini bisa sedikit membantu.

Waterfall

Waterfall artinya air terjun. Jadi metode ini menggunakan prinsip air terjun yang jatuh dari atas ke bawah. Menulis dengan metode waterfall berarti menulis secara cepat, tanpa memperhatikan tata bahasa, mengikuti ide yang ada di kepala. Ketika selesai 100% barulah proses editing dimulai. Kesalahan-kesalahan kecil, salah ketik (typo), maupun salah komposisi (letak kalimat dan paragraf) diperbaiki setelah semua ide dituangkan dalam tulisan. Banyak tips dan trik menulis yang saya terima menganjurkan metode ini, sangat cocok sebagai pemula yang terkadang “bengong” ketika di depan laptop. Fokus menuangkan ide menjadi dasar utama, apalagi bagi pemula yang jarang menulis. Re-writing menjadi wajib bagi yang menerapkan metode ini.

Kelebihan waterfall yang mengalirkan tulisan dengan lincah terkadang menyulitkan penulis buku yang tebal. Tidak mungkin lagi mengecek tulisan dari awal. Bayangkan saja berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengecek lagi. Skimming mungkin bisa, tetapi jika mengecek dengan teliti hingga di level tata bahasa, sangat memberatkan, kecuali memang ada bagian yang mengoreksinya. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pun dalam kata pengantar buku “di bawah bendera revolusi” disebutkan bahwa ketika beliau menulis buku tersebut (kumpulan tulisan) mengatakan tidak sempat lagi membaca ulang kembali apa yang ditulisnya. Kemungkinan besar beliau menggunakan metode iterasi, yang merupakan perbaikan dari metode waterfall dalam perancangan sistem.

Iteration

Metode iterasi menerapkan perulangan (iterasi) dalam proses pembuatannya. Ide-nya adalah merubah sesuatu ketika masih sederhana lebih mudah dibanding jika sudah kompleks. Termasuk juga mengoreksinya dan mengujinya. Tentu saja mengecek perbab lebih enak dibanding per-buku. Ketika menulis disertasi, yang paling melelahkan adalah ketika mengoreksi seluruh isi disertasi. Metode iterasi ini digunakan dengan cara ketika selesai satu bab, langsung koreksi bab yang baru saja ditulis. Terkadang bukan hanya satu bab, satu paragraf pun langsung dikoreksi ketika selesai dibuat. Terkadang kesalahan logika bisa ditemukan sebelum terlanjur, misalnya ternyata paragraf yang baru ditulis salah tempat atau kurang cocok di bab/sub-bab yang sedang digarap.

Jika seluruh tulisan selesai dibuat, mengoreksi tulisan yang dibuat dengan metode iterasi ini lebih cepat dan mudah dibanding mengoreksi tulisan yang dibuat dengan waterfall yang masih banyak salah di sana sini. Bahkan bisa hanya dengan “skimming”. Tentu saja konsep re-writing tetap diterapkan walau menulis menggunakan metode iterasi.

Extreem/Agile

Pernah dalam satu semester saya mengikuti kuliah web development dengan ruby and rails. Metode yang digunakan adalah dengan extreem/agile. Metode ini berfokus menghasilkan satu aplikasi dengan cepat. Berbeda dengan iterasi yang hanya perulangan beberapa milestoon/tahap dalam waterfall, extreem/agile menggabungkan beberapa tahap dalam proses pengembangannya. Ketika proses pembuatan proyek, ada fasilitas bantu yang berupa testing. Jadi testing dapat dilakukan sebelum software selesai dibuat. Metode ini bisa cepat karena dibuat “keroyokan” dengan alat bantu versioning. Rollback ketika new version gagal dengan mudah dan aman dilakukan.

Dalam hal menulis, banyak alat bantu yang bisa digunakan. Misalnya spelling and grammar check yang tersedia di wordprocessing yang digunakan. Aplikasi seperti grammarly terkadang bisa mendeteksi bukan hanya salah ketik, melainkan juga tata bahasa (singular, plural, atau completion). Satu tool yang saat ini mutlak diperlukan dalam publikasi ilmiah adalah cek plagiarisme. Beberapa software bisa digunakan untuk itu, seperti turnitin, plagscan, smallseotools, dll (lihat post sebelumnya). Untuk menulis “keroyokan”, penerapan cloud seperti google drive/one drive bisa juga diterapkan, termasuk menu review di mirosoft word.

Mungkin ide dalam postingan ini aneh bagi Anda, tetapi di jaman “disruption” yang melibatkan multi/interdisiplin dalam berbagai bidang, penerapan satu metode di luar domain ilmu sudah biasa dilakukan. Yang background-nya IT, tidak ada salahnya menerapkan metode-metode orang IT untuk hal-hal tertentu. Siapa yang “rigid”/kaku/radikal siap-siap akan ditinggalkan.

Sampai Jumpa SAPTO, Selamat Datang SALAM Infokom

Ada tiga klinik di acara rakornas APTIKOM tanggal 2-4 November yang lalu: Akreditasi, SKKNI, dan Tips n Trik Publikasi Ilmiah. Klinik di sini maksudnya adalah seperti workshop, penjelasan dan praktek (kalau ada). Di antara ketiga-nya saya memilih akreditasi karena ini merupakan yang tidak saya mengerti. Pembicaranya ada dua orang: Prof. Sri Hartati dari ILKOM UGM dan Dr. Prihandoko dari Gunadarma.

Akreditasi yang saat ini dilakukan oleh badan akreditasi nasional (BAN) perguruan tinggi (PT), atau disingkat BAN-PT bermaksud mengecek apakah suatu PT dan prodi-nya mengikuti standar yang ada. Pemerintah bermaksud memberi rasa aman dan nyaman) kepada masyarakat. Selain status antara terakreditas atau tidak terakreditasi, status terakreditasi terbagi lagi menjadi A, B, dan C yang nanti akan diubah menjadi Unggul, Baik sekali, dan Baik. Hanya penamaan saja agar terlihat sopan dan tidak terkesan memberi nilai. Jadi ingat ketika akreditasi di tempat saya bekerja yang asesornya dulu dosen saya ketika S1 di UGM. Selalu saja saya mendapat nilai C dari nya, dan ketika akreditasi pun dapat C .. alamak. Dengan kriteria yang baru sepertinya lebih manusiawi dan tidak merendahkan. Oiya, kabarnya prodi yang dapat B dan C masih dominan (sekitar 80%).

Pentingnya Akreditasi

Akreditasi merupakan aspek penting dalam penyelenggaraan perkuliahan di PT. Penting karena menurut UU No. 12/2012 terutama pasal 28 ayat 1, perguruan tinggi yang tidak terakreditasi tidak boleh meluluskan mahasiswanya. Maksudnya, ketika meluluskan mahasiswa, SK akreditasi harus masih berlaku. Oleh karena itu diharapkan enam bulan (untuk amannya satu tahun) sebelum habisnya SK, kampus segera melakukan re-akreditasi. Tantangan yang dihadapi BAN-PT dalam akreditasi adalah jumlah PT dan prodi yang banyak dan secara geografis tersebar luas.

SAPTO

Untuk menghadapi tantangan jumlah prodi dan PT yang banyak, Ristek-Dikti mengajukan sistem akreditasi PT online atau yang dikenal dengan nama SAPTO. Sistem ini untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam sistem manual. Salah satu masalah yang diatasi dengan SAPTO adalah integritas data. Tidak ada entry data ulang dalam SAPTO sehingga terhindar dari human error. Bahkan sistem akan memberitahu jika ada inputan data yang kurang (dari file excel yang disubmit). Selain itu SAPTO terintegrasi dengan pangkalan data DIKTI (informasi tentang dosen dan mahasiswa). Hanya saja SAPTO membatasi ukuran file maksimal 25 Mb. Oleh karena itu sebaiknya jangan terlalu banyak gambar (yang penting-penting saja). Silahkan yang ingin latihan, SAPTO menyediakan latihan onlinenya: https://sapto-dev.banpt.or.id/sapto/public/.

SAPTO akan dijalankan Januari 2018, namun masih diberi toleransi 6 bulan hingga Juni 2018. Selain sistem yang online, SAPTO berbeda dengan sistem akreditasi sebelumnya. Jika paradigma akreditasi sebelumnya berdasarkan input, proses, dan output, SAPTO menerapkan prinsip proses, output, dan outcome. Tidak lagi dituntut berapa jumlah buku di perpustakaan, ruangan dosen, dan sejenisnya, melainkan berapa jumlah buku yang dipublikasikan oleh dosen, dan kinerja (output) lainnya. Outcome berbeda dengan output. Analoginya adalah, jika makan outputnya kenyang, maka outcome-nya adalah sehat.

SALAM Infokom

Sepertinya sistem akreditasi BAN-PT terus berbenah. Selain berbenah, ternyata Ristek-Dikti menawarkan untuk akreditasi lewat jalur mandiri yang dikenal dengan istilah lembaga akreditasi mandiri (LAM). Yang saat ini sudah berjalan adalah LAM PTKes untuk kampus-kampus bidang kesehatan. Walaupun ada keluhan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk akreditasi cukup besar (sekitar 80 juta-an), tetapi bidang-bidang lainnya seperti teknik, dan informatika & komputer (infokom) siap diluncurkan. Salah satunya adalah LAM Infokom untuk bidang infokom, yang kabarnya akan diberi nama SALAM Infokom. Selain terpisah dengan BAN PT, SALAM Infokom juga memiliki sistem informasi tersendiri. Sistem yang dirancang akan obyektif, bahkan antara PT yang diakreditasi dengan asesor tidak bisa dijadwalkan karena sistem yang akan menentukan (asesor maupun anchor asesor-nya). Harapannya dapat subsidi dari pemerintah sehingga biaya akreditasi (ditanggung kampus yang akan diakreditasi) bisa ditekan atau bahkan gratis.

Peran APTIKOM

Saat ini LAM Infokom masih digodok, kabarnya sudah 95% selesai. Kata pembicara, diibaratkan wanita yang hamil tua. Yang merumuskan adalah dosen-dosen yang tergabung dalam asosiasi PT infokom (APTIKOM). Karena APTIKOM terlibat dalam LAM sebaiknya PT yang memiliki bidang infokom di dalamnya aktif dan menjadi anggota APTIKOM. Berbeda dengan akreditasi yang hanya menilai, LAM berfungsi juga sebagai pendamping dan pembimbing. Pendampingan berada di posisi ketika PT mensubmit data-data akreditasi secara online, jika ada yang kurang akan “dipaksa” melengkapi agar tidak gagal nantinya. Jika berkas yang disubmit OK, maka ada proses pembimbingan setelah asesmen lapangan (AL)/visitasi. Misal jika ada nilai lemah di bidang tertentu seperti kurikulum, performa publikasi, dan lain-lain, maka ada proses pembimbingan dari LAM. Jadi jangan main-main sama APTIKOM (yang baru saja melaksanakan rakornas di Papua).

Komponen Penilaian

Komponen penilaian yang berisi butir-butir beserta bobotnya masih terus disempurnakan. Sebagai bocoran, ada sekitar 9 kriteria umum beserta bobotnya. Selain itu ada satu kriteria berisi evaluasi diri, sehingga total ada 10 kriteria. Masing-masing kriteria diberi nilai dari A, B, C, hingga D. Peringkat atau hasil evaluasi ada tiga: unggul, baik sekali, dan baik. Mirip dengan terakreditasi A, B, dan C yang dikenal selama ini.

Peringkat “unggul” dicapai ketika jumlah nilai A (tidak ada D), nA = 8. Untuk peringkat “baik sekali” dicapai jika nilai A dan B (nA+nB) tidak kurang dari 6, sementara jika kurang dari 6 peringkatnya menjadi “baik”. Mungkin sampai sini dulu, karena SALAM Infokom masih dalam proses penggodokan. Semoga bermanfaat.

RAKORNAS APTIKOM 2017

Baru kali ini saya mengikuti acara rapat kerja nasional (rakornas) asosiasi perguruan tinggi informatika dan komputer (APTIKOM) tahun 2017. Keikutsertaan saya karena mewakili pejabat (ketua jurusan) teknik komputer di kampus saya yang tidak bisa hadir dan juga karena saya sekalian presentasi seminar internasional ICIC 2017 yang menyertai acara tahunan itu. Alhamdulillah, paper yang saya buat diajukan untuk dipublish di jurnal internasional terindeks scopus. Postingan ini tidak bercerita hal-hal teknis dan akademis melainkan suasana di rapat kerja tahunan asosiasi tersebut.

Seminar ICIC 2017

Judulnya sih biasa-biasa saja, tetapi di lapangan sungguh luar biasa. Bayangkan, peserta yang hadir banyak yang doktor dan profesor, sementara saya masih menanti disertasi yang rencananya dikoreksi profesor dari nagoya univ. Berikut yang terasa dari acara yang baru pertama kali saya ikut.

Antara “pe-de” dan minder

Jangan terlalu percaya diri dan jangan pula terlalu minder, biasa saja. Itulah nasihat yang bisa dicoba saat ini. Mengapa? Untuk menjawabnya bisa mundur jauh beberapa tahun ke belakang. Di era 90-an dan awal 2000-an pakar-pakar IT masih sedikit dan cenderung didominasi oleh pakar tertentu dan kampus tertentu saja. Saat ini ketika perkembangan IT yang merambah ke mana-mana dan membuat heboh dan tumbangnya raksasa-raksasa bisnis, tidak ada satu pakar pun yang menguasai seluruh ilmu informatika dan komputer (infokom). Tiap orang yang menggeluti IT memiliki kelebihan khusus yang tidak dimiliki oleh orang IT yang lain. Bukan maksudnya menghibur diri, tetapi memang demikian.

Minder karena masih master atau bahkan sarjana? Sepertinya tidak. Jika memiliki kualifikasi keahlian level 9, seorang Susi Pudjiastuti yang hanya tamatan SMP setara dengan gelar doktor. Sarjana dan master “jaman now” sebaiknya memperhatikan hal itu, kecuali tentu saja yang memang berniat kuliah lagi ke jenjang doktoral.

Semoga bisa ketularan

Minder karena homebase di kampus-kampus level bawah? He he .. nyindir diri sendiri. Tetapi saat ini orang melihat kepakarannya bukan homebase-nya. Kalo tidak percaya searching saja di “forlap” Dikti homebase pakar2 IT, pasti banyak yang dari kampus biasa saja. Tapi kebanyakan sih dari kampus ternama, tapi setidaknya orang melihat kepakarannya bukan kampus tempat dia bekerja, apalagi status kepegawaiannya.

Terlalu percaya diri karena jago bahasa pemrograman tertentu atau bidang tertentu? Nanti dulu. IT itu bidang yang dinamis dan cepat sekali usang. Tadinya cloud computing, ternyata saat ini diambil alih oleh internet of things. Banyak anak-anak ABG yang bergelar doktor baru dan memiliki keahlian-keahlian tertentu yang bikin mulut saya mangap, he he.

Antara temuan dan terapan

Seperti disebutkan dalam buku disrupsi karangan Rhenald Kasali, bahwa perkembangan IT ada dua jenis yaitu dari nol ke satu dan dari satu ke-n. Beberapa ahli IT bermain di nol ke satu, dalam artian menemukan hal-hal baru. Bukan hanya ahli dalam artian individual, bisa juga korporasi seperti facebook, google, amazon, dan raksasa-raksasa IT menemukan “mainan” baru (nol ke satu). Beberapa orang IT bermain di sisi satu ke-n, dalam hal ini menyebarkan temuan-temuan dari orang yang bermain nol ke satu. Grab, gojek, bukalapak, dan sejenisnya memainkan perang dari satu ke-n. Termasuk yang mengembangkan ilmu-ilmu non infokom dengan bantuan infokom, seperti e-learning, sistem informasi geografis, kedokteran, dan lain-lain. Riset terkini bermain antara temuan dan terapan. Oiya, tidak ada pertanyaan “bodoh” dalam bidang terapan. Justru para peneliti menggandeng pertanyaan-pertanyaan yang bisa dikategorikan “Aset” itu. Aset karena bisa dijadikan sumber inspirasi yang terkadang tidak mungkin menjadi mungkin. Facebook, twitter, instagram, hingga grab dan gojek, mungkin berasal dari pertanyaan2 aneh pengguna.

Dengan Prof Tedi Mantoro, masih jago bahasa Thai-nya

Menurunnya persaingan antar lembaga

Berbeda di era 90-an dimana antar kampus saling bersaing, dan terkadang sikut-sikutan, saat ini sepertinya mereka berangkulan. Perpindahan dosen dari satu kampus ke kampus lainnya pun biasa terjadi dan tidak ada benci dan dendam, biasa saja. Mungkin kesadaran akan ketertinggalan dalam hal riset dengan negara tetangga merupakan satu pemicu. Memang sudah jadi tuntutan antara peneliti dari Indonesia saling dukung mendukung (riset lanjutan), ditandai dengan saling sitasi antara sesama peneliti tanah air. Dulu mungkin gengsi atau menganggap saingan/kompetitor jika mensitasi rekan sendiri, saat ini tidak lagi, karena negara lain sudah tidak menganggap rekan sesama peneliti sebagai saingan. Heran juga saya melihat h-index jurnal di kampus yang masih nol dan bahkan tanpa ada yang mensitasi, padahal ketika saya lihat isinya ga jauh berbeda satu sama lain. Harusnya riset terdahulu terus dikembangkan, apalagi jurnal-jurnal lokal yang berisi hasil penelitian mahasiswa dimana junior cenderung melihat hasil seniornya.

Lembaga akreditasi mandiri

Selama ini kampus diakreditasi oleh badan akreditasi nasional (BAN) PT. Satu bidang, misalnya kampus kesehatan, sudah tidak diakreditasi lagi oleh BAN PT, melainkan oleh lembaga akreditasi mandiri (LAM) Kesehatan. Dan untuk bidang infokom, sudah 95% LAM infokom siap dijalankan yang artinya siap mengucapkan selamat tinggal ke BAN PT dengan aplikasi online-nya (SAPTO).

Jadi ketika yang mengakreditasi berasal dari asosiasinya sendiri, sepertinya akan mengakomodir kebutuhan bidangnya masing-masing. Tidak ada gunanya sikut-sikutan, rugi sendiri seperti kejadian beberapa tahun lalu ketika dinilai jelek akan membalas memberi nilai jelek, akibatnya jadi tidak obyektif. Sepertinya jika sistemnya rapi, jelas, dan lengkap, hasilnya akan obyektif dan borang tidak lagi “bohong dan ngarang”.

Mungkin itu sedikit gambaran yang ada di rakornas, selain seremonial dan laporan dari aptikom tiap wilayah serta seminar (internasional dan nasional). APTIKOM bisa dijadikan alat mediasi dengan pemerintah, apalagi kepala BAN PT saat ini adalah orang APTIKOM juga (Prof Chan). Masalah aturan-aturan pemerintah (Ristek-Dikti) yang terkesan memberatkan, ada baiknya mengikuti saran Prof R. Eko Indrajit, anggap saja seperti “game” yang versi berikutnya lebih menantang dari sebelumnya dan membuat game lebih menarik, bukannya memberatkan. Terhadap asosiasi-asosiasi, misalnya dalam hal okupasi dan profesi, pemerintah mulai mendengarkan, dan tidak ada lagi kejadia seperti lirik lagu yang saat ini sering saya dengar “.. sayang, apa kowe krungu, jerit e atiku ..”. Sekian laporan pandangan mata rakornas kali ini, semoga bisa ikut lagi di Palembang tahun depan.

Lha .. pulangnya bareng personel srimulat yang tersisa (Tesi, Nurbuat, Polo)

Surat Ijin Kampus yang Tercabut

Unik juga, berita pencabutan ijin kampus tidak seheboh berita pencabutan ijin ormas tertentu di grup WA. Sepertinya rekan-rekan sesama pengajar lebih tertarik (terkadang merasa ahli) dengan perpolitikan dibanding pendidikan. Info dari link ini menyebutkan bahwa pencabutan ijin khusus perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan Permenristekdikti 100/2016: yakni untuk satu universitas minimal memiliki 10 prodi (6 eksakta dan 4 sosial). Untungnya ada opsi untuk merger agar tetap beroperasi. Apakah penutupan beberapa kampus nanti merupakan efek dari disruption? Judul dari buku yang saat ini sedang saya nikmati.

Jika pengelola taksi mengalami penurunan dan terancam bangkrut karena taksi online, sepertinya tidak untuk kampus. Kampus online pun belum bisa menyaingi, mungkin online-online lainnya yang mempengaruhi penurunan suatu kampus. Misalnya kemudahan seorang calon siswa mengakses kinerja suatu kampus lewat internet (akreditasi, dosen-dosen, alumni, dan sejenisnya). Tidak serta merta dengan plang yang indah, gedung yang mentereng, akan diminati oleh calon siswa jika akreditasi yang rendah, info tentang kasus tertentu dan kinerja buruk lainnya dapat dengan mudah dilihat secara online.

Sharing

Sharing ini sebenarnya inti dari bisnis-bisnis online yang banyak beredar. Sharing di sini bukan menggratiskan sesuatu, tetapi menggunakan suatu sumber daya dari orang lain sesuai kebutuhan dari pada tidak terpakai/menganggur. Misal konsumen butuh transport ke lokasi tertentu, seseorang memiliki kendaraan yang tidak selalu terpakai, dan aplikasi online menghubungkan keduanya (Grab/Uber/Gojek). Kasus lain, seorang ingin berwisata dan memerlukan tempat penginapan, orang lain memiliki kamar kosong di suatu lokasi pariwisata, dan aplikasi online menghubungkannya (AirBnB).

Kampus yang kritis karena kekurangan siswa dan akan dipaksa ditutup pada januari tahun depan memiliki beberapa aset yaitu gedung, dan sumber daya manusia (dosen, laboran, dan staf tata usaha). Sepertinya Ristek-dikti melihat “nganggur”-nya aset-aset tersebut. Kampus yang berlebihan siswa, butuh dosen, sementara ada kampus lain yang kelebihan pengajar dan gedung karena sepi mahasiswa. Di sini Ristek-dikti menerapkan prinsip ini (hanya dugaan sih) yakni mengakomodir dengan mengajurkan merger kedua institusi tersebut. Selain indeks publikasi penelitian negara kita yang terus naik (kini mengalahkan Thailand), sepertinya Ristek-dikti mengejar indeks kinerja kampus karena dua kampus yang merger diharapkan meningkatkan rangking gabungan kampus-kampus tersebut. Bandingkan negara kita (atau Jakarta saja) dengan Singapura yang hanya memiliki dua kampus negeri tetapi ranking dunianya tinggi (NUS dan Nanyang).

Kampus: Even Organizer Pendidikan

Ada calon siswa butuh pendidikan, ada pengajar yang bisa membagi ilmunya, lalu ada kampus yang mempertemukannya. Prof Rhenald Kasali membandingkan alur proses itu dengan even organizer. Even organizer yang baik bisa mempertemukan misalnya, seorang artis dengan penonton setianya. Ristek-dikti sepertinya menerapkan ini (hanya dugaan lagi sih) dengan rencana mengimpor profesor world class ke Indonesia. Perlu diketahui, beberapa negara maju saat ini kelebihan profesor sementara kebutuhan siswa malah terbanyak dari negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memang karena memiliki pertumbuhan penduduk yang tinggi. Bahkan kabarnya di Taiwan, jumlah siswa yang lanjut kuliah terus menurun dan butuh siswa dari negara lain, kata pemateri ketika saya ikut pelatihan bahasa sebelum berangkat studi.

Bagaimana dengan tri-darma lainnya: penelitian dan pengabdian masyarakat? Ristek-dikti di sini lagi-lagi melihat aspek online dari penelitian: Open Journal System (OJS). Bahkan OJS ini wajib dimiliki oleh kampus dengan E-ISSN nya. OJS menghubungkan peneliti dengan pembaca jurnal yang dapat diakses online. Mungkin suatu saat OJS bukan hanya hasil penelitian, melainkan juga penghubung peneliti dengan yang membutuhkan penelitian. Sementara itu, untuk pengabdian sudah mulai digagas informasi yang menghubungkan UMKM-UMKM di tanah air dengan para dosen yang siap membantu memberikan training tertentu.

Kalau kita amati sepertinya perkuliahan cukup melibatkan tata usaha, dosen dan siswa. Ketua jurusan, kaprodi, dan dekan hanya berfungsi sebagai legalitas saja (tanda tangan, wisuda, dan sejenisnya). Mirip dengan kampus-kampus di luar negeri. Hanya saja di sini aspek non-teknis sangat berperan (like or dislike), terutama saat penjadwalan. Kalau kita lihat aplikasi online yang mempertemukan driver dengan konsumen akan melihat jarak terdekat di antara mereka. Jika penentuan dosen berdasarkan like/dislike akan mengganggu perkualiahan seperti beban dosen yg berat, dan terkadang hingga sebulan siswa belum memiliki dosen, padahal dosen tertentu “nganggur” akibat tidak disukai si penentu dosen. Kalau di aplikasi online, siswa bakal memberi bintang tiga ke kampus itu. Atau jangan-jangan tata usaha dan para pejabat penentu dosen akan ter-disrupsi?

Terdisrupsi-kah Dosen?

Pertanyaan yang mengerikan. Untungnya yang terdisrupsi adalah penghubung konvensional antara konsumen dengan barang dan jasa. Pengelola taksi yang kalah dalam menghubungkan konsumen dengan driver, pengelola mall yang kalah dalam menghubungkan barang dengan pembeli dan sejenisnya oleh aplikasi online. Terkadang seolah-olah daya beli konsumen menurun padahal hanya berpaling dari konvensional ke online. Bahkan kebutuhan barang dan jasa transportasi meningkat ketika adanya aplikasi online. Sepertinya begitu pula dengan kebutuhan dosen yang terus meningkat. Sampai-sampai univ kependidikan terkenal oleh kepala evaluasi kinerja akademik (EKA) diduga ‘beternak doktor’.

Jika konsumen butuh barang, tentu saja yang terdisrupsi bukan barangnya melainkan institusi jadul yang menghubungkan barang ke konsumen. Jika siswa butuh dosen, tentu saja yang terdisrupsi institusi yang menghubungkannya, jika jadul dan tidak baik mengelolanya. Hanya saja jika sudah transparan dan online, siswa bukan hanya butuh dosen saja, melainkan dosen yang sesuai dengan “menu”-nya. Menu di sini adalah kepakaran, yang biasanya doktor atau memiliki lisensi-lisensi tertentu. Repotnya, pengelola kampus yang seperti pengelola bisnis lainnya memiliki kekhawatiran yang sama terhadap penurunan penghasilan apalagi sampai bangkrut sehingga membuat aturan-aturan mengikat terhadap para dosen supaya tidak kabur-kaburan (tapi malah kabur beneran).

Pertanyaan yang harus dijawab: bagaimana jika peran dosen digantikan dengan modul online atau self learning lainnya, e.g. computer based training (CBT), video tutorial, dll? Sepertinya sebagian, sementara mentoring masih perlu (praktek bedah, pilot, riset, dan sejenisnya).

Perhatikan SIM: Surat Ijin Mengemudi Mengajar

Teringat waktu krisis moneter akhir 90-an, sulit sekali mencari kerja. Terpaksa memanfaatkan ilmu yang ada dengan mengajar, ya hanya mengajar, selain itu, “there is nothing I can do”. Ketika selesai menguji tugas akhir siswa, rekan dosen berkata ke saya untuk mengambil secarik kertas surat tugas ngajar dan menguji. Bingung juga, untuk apa kertas itu? Dia menjelaskan untuk mengajukan kepangkatan, yang dia istilahkan dengan SIM tapi “M”-nya: mengajar. Akhirnya saya ikutin nasihat teman saya itu (tidak perlu disebutkan soalnya kalau dia baca bakalan Ge Er, hehe) untuk memperoleh pangkat pertama saya.

Ternyata kepusingan itu berlanjut, yaitu harus master untuk tetap jadi dosen. Doktor untuk lektor kepala (walaupun diturunkan syaratnya cukup jurnal internasional) dan guru besar. Dan yang heboh publikasi internasional untuk lektor kepala dan guru besar per tiga tahun. Ya, begitulah. Sebenarnya pentingkah itu semua? Bukannya siswa hanya butuh ilmunya? Ojek online aja butuh SIM C dan SIM A (untuk taksi online). Ibarat aplikasi online, semoga bisa menjadi dosen dan kampus bintang lima, bukan bintang tiga ke bawah yang terancam suspen.

Menjadi Master ber-“Sumbu Pendek”

Setiap permulaan itu susah. Entah ada persiapan atau tidak, kesulitan tetap muncul. Begitu pula dalam belajar. Sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, pasti mengalami kesulitan-kesulitan. Bagaimana dengan pendidikan doktor, level terakhir suatu disiplin lilmu, sulitkah? Unik juga, walaupun sudah puluhan tahun kita belajar, tetap saja ketika menempuh pendidikan doktoral tak luput juga mengalami kesulitan-kesulitan, terutama di awal-awal dan bahkan berlanjut hingga akhir perkuliahan. Acara doctoral bootcamp yang diadakan baik dari pemerintah maupun inisiatif rekan-rekan dosen sepertinya bisa membantu, tetapi jangan hanya mengandalkan sarana tersebut karena memang acara itu untuk persiapan singkat saja. Padahal pendidikan doktor harus ditempuh selama tiga tahun hingga perpanjangan waktu yang tak pasti.

Silahkan bertanya dengan rekan-rekan yang sudah atau sedang kuliah doktoral. Banyak pengalaman-pengalaman yang bisa disharing. Tetapi jangan jadi patokan, karena kasus dia mungkin berbeda jauh dengan yang akan kita alami nanti. Misal saya bertanya dengan Prof. Habibie, dan jadi patokan saya, tentu saya akan stress duluan. Dua atau tiga orang Anda tanya, belum tentu juga bisa jadi patokan. Jangankan di kampus tempat kuliah yang berbeda, kampus yang sama pun pasti memiliki pengalaman yang berbeda.

Ketika pusing dan menjumpai jalan buntu, biasanya saya nongkrong dengan teman-teman se-negara, saling berbagi kesuksesan dan kesialan masing-masing. Bagi rekan kita mungkin sulit, tapi terkadang mudah bagi rekan yang lainnya. Ada yang bertahun-tahun tak kunjung terbit syarat jurnal internasionalnya, tetapi ada yang jurnal internasionalnya sudah diterima beberapa tahun yang lalu tetapi disertasi tak kunjung selesai. Ada yang tiap dua minggu harus presentasi kemajuan disertasi, ada yang dalam satu semester hanya sekali atau dua kali ketemu pembimbing, dan riset harus dijalankan seorang diri. Ada juga yang terkendala dengan syarat IPK lebih dari 3.5 dan harus mengulang atau mengambil course tambahan sebelum diperbolehkan riset. Dengan kata lain “ada-ada saja masalah yang muncul”. Satu rekan saya memilih pulang saja dan tidak lanjut, dan satu orang rekan meninggal di kampus, sudah cukup memperkaya batin dan selalu bersyukur dengan yang telah dicapai sejauh ini, sekecil apapun.

Photo by: Mbak Iwul

Beberapa tahun menjalani perkuliahan doktoral biasanya tumbuh kesadaran bahwa kita manusia biasa, ada kelemahan dan ada kelebihan. Waktu melihat rekan-rekan yang masih master, terlihat energi mereka yang besar, meluap-luap, saya sampai harus mengalah. Tepat sekali dengan istilah master yang artinya “jago banget”. Sayang juga sih ketika melihat master yang sudah berkiprah bertahun-tahun tetapi tidak melanjutkan ke jenjang yang tinggal selangkah lagi. Beberapa memang trauma dengan pusingnya mengambil S2 dulu. Tetapi kabar baiknya adalah baik pusing ketika S2 maupun tidak, untuk doktoral tidak ada bedanya. Kabar buruknya: tetap saja pusing. Untuk itulah doctoral bootcamp terkadang penting sebagai pemicu. Jika ada seorang master bertipe “sumbu pendek”, dengan dipicu sedikit, langsung semangatnya meledak dan lanjut doktoral. Tetapi kebanyakan sumbu panjang, menyala terus tetapi tidak meledak-ledak, bahkan ada yang mati dan butuh dibakar lagi.

Seorang master yang bersumbu pendek, terkadang tidak perlu doctoral bootcamp. Melihat temannya yang masih unyu-unyu berangkat S3 saja sudah bikin meledak. Tetapi untuk meledak diperlukan syarat-syarat penting: bahasa Inggris (atau yang sesuai dengan negara tujuan), kemampuan membaca (tulisan ilmiah disertai dengan keingintahuan yang tinggi), mengasah lagi ke-master-annya dengan menulis artikel, seminar internasional, dan lain-lain sehingga siapa tahu diminati oleh calon supervisor. Untuk bahasa Inggris, yang utama adalah writing; untuk listening dan speaking yang penting nyambung saja (kecuali memang doktoralnya bidang sastra Inggris). Reading tentu saja harus bisa, hampir 50-an jurnal dibaca untuk proposal disertasi. Terkadang puluhan lainnya dibuang karena tidak relevan dengan judul yang diajukan.

Untukmu Yang Saat ini Sedang Menderita

“Ku mau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu “. Penggalan puisi Chairil Anwar ini sejalan dengan ungkapan Frederich Nietzsche: Penderitaan membuat kita kuat. Tapi lebih simpel lagi mbah Marijan, cukup dua kata: “roso .. roso” hehe. Yuk, para dosen dan pengajar, tetap semangat, tetap kuat, hadapi saja.

Belakangan ini banyak sekali keluhan-keluhan dalam dunia pendidikan. Mahasiswa yang mengeluh terhadap dosennya, terhadap institusinya, bahkan ada yang ingin meminta laporan keuangan kampus segala. Dosen yang mengeluh karena beratnya syarat-syarat naik pangkat, menerima tunjangan (lektor kepala dan guru besar), mengeluh karena Scopus, Sinta dan juga untuk memperoleh beasiswa (masalah kuota). Kampus yang mengeluh karena syarat Dikti berat, bahkan akreditasi C siswanya tambah dipersulit mencari pekerjaan. Pemerintah sendiri, dalam hal ini Ristek-Dikti mengeluh karena kinerja dosen yang lemah dalam hal riset, tingkat pendidikan yang stagnan di master/magister, dan kasus-kasus yang menimpa kampus (bukan hanya swasta, melainkan juga kampus negeri). Salahkah keluhan tersebut? Tentu saja tidak, lalu bagaimana penyelesaiannya?

Posisi Negara kita Dalam Hal Pendidikan Tinggi

Sempat terbaca dalam share WA di handphone puisi dari seorang dosen yang merasa tidak nyaman dengan paksaan Ristek-Dikti terhadap Scopus yang dianggap kapitalisme dalam dunia pendidikan. Karena fokus ke riset, menurutnya, pengajaran ke mahasiswa jadi terbengkalai. Walau sepertinya agak cenderung ke “keguruan”, mungkin ada baiknya didengarkan. Keluhan-keluhan atau protes yang mempertanyakan sesuatu biasanya menggunakan logika yang masuk akal. Tetapi di dunia yang “fuzzy” ini, kata Zadeh: tidaklah ada sesuatu yang mutlak 100% tepat atau 100% tidak tepat. Bagi yang memprotes mungkin saja benar, tetapi tetap saja tidak 100% benar, kalaupun benar 100%, itu untuk variabel tertentu. Tidak tepat juga kita menurunkan level seseorang yang menginginkan sesuatu yang ideal. Misal pendapat: “seorang dosen harus memetenkan karya ilmiahnya”. Tentu saja kita tidak serta merta membantahnya, karena memang idealnya begitu, terutama dari jurusan teknik/rekayasa.

Akhirnya, sambil menunggu kabar siapa profesor external untuk menguji disertasi saya (biasanya dari Jepang), akhirnya saya menemukan beberapa buku di perpustakaan kampus. Salah satunya adalah “Revitalizing Higher Education” karangan Salmi. Buku ini cocok untuk kondisi negara berkembang seperti Indonesia.

Memang benar, karakteristik perguruan tinggi di negara berkembang harus dilihat dari sejarah dan kondisi perekonomian, juga politik. Ringkasnya, disimpulkan bahwa level perguruan tinggi di negara berkembang sebaiknya mengarah ke perekonomian dan industri untuk mengejar ketertinggalan dengan negara maju (dari sisi perekonomian utamanya). Fokus PT masih di level menciptakan tenaga-tenaga ahli untuk memenuhi kebutuhan bursa kerja. Agak berat juga jika dipaksa menciptakan paten-paten, walaupun banyak juga yang tercipta saat ini, misalnya telur bebas kolesterol dan produk-produk pangan dan obat lainnya. PT hanya bisa mengajarkan kewirausahaan tetapi tentu saja jiwa kewirausahaan tidak bisa dipaksakan. Yang jelas, bonus demografi di tahun 2020-an dimana angkatan kerja kita sangat tinggi harus diantisipasi. Tidak bisa hanya menganjurkan mereka berwirausaha, harus dipersiapkan skill khusus agar bisa bersaing (butuh sertifikasi internasional seperti perawat, las, CCNA, dan sejenisnya, bukan hanya skill berkendara utk jadi driver ojek online). Bahkan ahli-ahli las di dunia banyak dari negara kita (silahkan yang berminat, terutama las dalam laut). Jangan lupa ajarkan “Wisdom”, “Creativity”, dan lain-lain yang tidak bisa dikerjakan oleh mesin/Artificial Intelligent ke anak-anak kita. Orang bijaksana dan kreatif biasanya ada saja cara untuk survive. Siapkan saja bekal, dan seperti kata Jack Ma: “jangan terlalu khawatir, tuhan pasti memberi karunia generasi masa depan potensi untuk bisa mengatasi problem-problem mereka di masa depan”. Sepertinya ada benarnya juga, percuma memaksakan suatu “jurus”, lingkungan mereka nanti berbeda dengan kita saat ini.

Posisi Pendidikan Tinggi di Negara Maju

Banyak yang protes bahwa publikasi di jurnal-jurnal internasional (atau juga seminar) cenderung mendukung sisi kapitalis mengingat pengelola jurnal atau pengindeks internasional menarik untung dari pihak-pihak yang ingin membaca atau mempublikasi artikel ilmiah. Ketemu juga buku yang membahas khusus masalah yang terkait hal tersebut yaitu “University Inc – Corporate corruption of Higher Education” karangan Washburn.

Buku ini membahas universitas-universitas terkemuka terutama di Amerika Serikat (big 5 atau bahkan big 10 ranking kampus dunia ada di sana). Amerika memang negara liberal dan kapitalis. PT di sana sudah maju dan jadi andalan perusahaan-perusahaan dalam hal riset. Ternyata, walaupun sudah maju, konflik muncul di sana. Beberapa perusahaan mengadakan kontrak dengan profesor (juga dengan bimbingannya yang biasanya mahasiswa doktoral) untuk riset perusahaannya. Kontraknya adalah untuk merahasiakan temuannya. Di situlah masalah muncul yakni peran PT yang tidak lagi independen (di negara kita lebih parah lagi, masih ada pengaruh politik, agama, dan lain-lainnya seperti almamater tertentu).

Sebenarnya peneliti yang mempublikasikan karyanya dia sedang mendermakan ilmunya untuk dipergunakan orang lain. Dan harus ada lembaga yang diakui untuk mempublikasikan karya ilmiah, yaitu pengelola jurnal. Jadi pengelola jurnal harus membayar ke penulis? Kalau dijawab “ya”, artinya ideal, seperti saya sebutkan di awal, seseorang yang memegang standar tinggi jangan kita paksa turunkan, biar saja karena itu bagus. Kenapa tidak kampus terkenal di dunia membuat jurnal dan membabaskan orang mengunduh dan mempublish karyanya? Mengapa harus perusahaan swasta? Baru baca beberapa halaman sudah tampak.

Beberapa universitas-universitas level atas bukan hanya profesor yang kerjasama dengan perusahaan, bahkan kampusnya pun bekerja sama, dengan kontrak-kontrak tertentu masalah kerahasiaan mengingat perusahaan itu sudah menggelontorkan “fulus” yang besar dan jangan sampai kompetitor ikut menikmatinya. Dan repotnya universitas-universitas itu kebanyakan disubsidi oleh pemerintah yang uangnya dari pembayar pajak. Repotnya di AS pembayar pajak memiliki kekuatan di dewan karena mereka perlu tahu uang itu lari ke arah yang sesuai, misal dalam hal pendidikan yaitu ke arah kemaslahatan bersama bukan menguntungkan perusahaan tertentu.

Ada suatu jawaban “trivial” masalah publikasi jurnal, silahkan pilih: (1) peneliti di PT boleh tidak mempublikasikan temuan dan memberikan hak pengelolaan ke perusahaan/merek dagang tertentu sehingga rakyat terpaksa membeli produk dan menguntungkan perusahaan dan peneliti tersebut atau (2) peneliti mempublikasikan temuannya yang bebas dimanfaatkan orang lain (atau perusahaan manapun) dan menguntungkan rakyat banyak, tetapi efeknya menguntungkan pula pengelola jurnal (misal grup Scopus). Kasus pertama yang heboh adalah penemuan vaksin polio oleh ilmuwan yang nekat mempublikasikan temuannya, walaupun tidak menguntungkannya, dari pada dimonopoli oleh perusahaan tertentu (akibatnya rakyat/negara banyak harus mengeluarkan dana ke perusahaan tersebut). Pasti ada yang menjawab dengan pilihan (3) peneliti bebas mempublikasikan temuannya tanpa kena biaya dan jurnal yang mempublikasikan membebaskan orang membaca tanpa harus membeli tulisannya. Kembali lagi, artinya ideal, seperti saya sebutkan di awal, seseorang yang memegang standar tinggi jangan kita paksa turunkan, biar saja karena itu bagus. Silahkan pilih pilihan (3) tapi jangan berharap banyak, apalagi memaksa.

Membuat Indeks Publikasi Ilmiah Sendiri

Mungkin level PT kita belum menyamai the big 10 universitas-universitas di Amerika Serikat, atau bahkan di Asia, atau bahkan lagi di Asia Tenggara. Evaluasi diri penting juga sih. Saat ini Ristek-Dikti mulai membangun Sinta, indek kinerja penelitian (dosen, dan jurnal Indonesia). Semoga tidak ada yang tidak setuju untuk kemandirian ini. Bolehlah tidak setuju Scopus dimasukan dalam variabelnya (karena katanya kapitalis). Boleh juga tidak setuju dengan Google Scholar dimasukan dalam variabelnya karena dikatakan abal-abal. Unik juga, yang ketat dan akuntabel tapi seperti Scopus ditolak karena kapitalis (profit oriented), yang tanpa biaya ditolak karena abal-abal. Balik lagi ujung-ujungnya ingin yang ideal. Seperti disebutkan di awal boleh jadi pendapatnya 100% tepat, tetapi tepat terhadap variabel tertentu saja. Untuk yang ideal dan memegang standar tinggi, jangan dipaksa menurunkan standarnya, biar saja kan bagus. Walau kalau tidak nurut ya repot sendiri juga.

Presiden kampus saya sempat mengeshare email dari presiden Harvard university akan keberatan biaya yang mahal untuk langganan jurnal (bisa dibayangkan sekelas Harvard saja mengeluh). Pertanyannya mengapa sekelas Harvard (atau gabung dengan top university lainnya) tidak bisa mengelola jurnal yang tanpa bayar? Atau satu negara, misal Amerika Serikat, Jepang, atau China, mengapa tidak bisa menciptakan indexer sekelas Scopus yang rapih dan akuntabel? Jujur saja saya dan mungkin pembaca juga sulit menjawabnya. Indonesia harus bisa dong .. Ya, saya setuju saja sih (kembali lagi ke idealis). Tetapi, sebagai gambaran, lihat gambar berikut ini yang diambil dari link jepang.

Bandingkan dengan negara kita dkk (gambar bagian bawah), tertinggal 8 kali dan 10 kali dengan AS dan China. Mungkin bisa untuk evaluasi diri (sialnya kok kalahnya dengan Malaysia). Mungkin kita tidak setuju Kapitalis, tetapi tidak mau menjadi Sosialis apalagi Komunis. Ya sudah, buktikan saja dengan mengalahkan China dan Amerika Serikat (grafik di bawah). Semoga tidak mengeluh lagi, tetap nekat berjuang seperti kata Chairil Anwar: “Ku mau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu”.

Bertanya atau Mempertanyakan?

Membaca judul postingan ini semoga pembaca bertanya apa maksud judulnya, bukan mempertanyakannya. Bahasa Indonesia memang unik, jika bertanya berarti ingin mengetahui sesuatu yang kurang jelas atau belum diketahui, mempertanyakan terkadang ada unsur protes di dalamnya. “Mengapa saya dapat C?”, “mengapa saya tidak lulus?”, dll memang bentuk pertanyaan yang biasanya diutarakan oleh siswa. Silahkan jawab, jika sampai berkali-kali tanya jawab dan disertai argumentasi, berarti bukan bertanya, melainkan mempertanyakan. Jadi ingat rekan saya yang menjawab siswa yang bertanya mengapa dapat C: “harusnya kamu itu D, saya bantu saja jadi C”.

Maraknya media sosial membuat siapa saja boleh mempertanyakan. Surat terbuka, surat dukung-mendukung di change.org misalnya bisa dibuat oleh siapa saja. Ketika p Gufron, pejabat ristek-dikti bagian SDM datang ke kampus UNISMA Bekasi, seorang rekan saya yang sudah senior bertanya mengapa aturan beasiswa dikti 50 tahun? Kenapa tidak dilebihkan saja padahal usia pensiun dosen, apalagi profesor, kabarnya diperpanjang (bahkan di range WHO saya masuk kategori usia setengah baya katanya .. he he). Logis juga menurut saya dan karena ditanyakan langsung ke yang bersangkutan, menurut saya ini masuk kategori bertanya. Walaupun jawabannya formal, yaitu UU dari menpan, sepertinya ada alasan lain yang tidak dibahas.

Dua pertanyaan yang muncul belakangan ini terkait dunia pendidikan adalah kuota beasiswa dan indeks Sinta. Untuk beasiswa, khususnya dalam negeri yang kuota-nya sepertinya berkurang belum ada tanggapan, walaupun surat terbukanya (kalau tidak salah dari kopertis 12) sampai ditujukan ke panglima tinggi, alias presiden. Sebenarnya kuota luar negeri masih kurang, tetapi khusus dosen senior sepertinya agak sulit untuk kuliah ke luar negeri, apalagi yang usianya antara 45 sampai 50, yang mau tidak mau hanya mengandalkan beasiswa dalam negeri. Permintaannya yang menginginkan semua pelamar diterima agak sulit, mengingat kasus satu kampus negeri di Jakarta mencuat gara-gara ada beberapa dosen yang membimbing dan meluluskan mahasiswa S3 hingga ratusan dalam setahun. Dengan kata lain, profesor pun memiliki kuota kewajaran. Menambah jumlah profesor sepertinya satu-satunya langkah yang masuk akal (impor world class profesor), juga pembimbing misalnya tidak harus dari kampus tempat mahasiswa S3 itu kuliah (sepertinya tidak boleh ya?). Untuk world class profesor lagi-lagi disialkan kasus seorang asisten profesor muda dari kampus ternama Belanda yang ternyata ketahuan masih berstatus mahasiswa seperti saya. Saya yakin ristek-dikti memiliki pengalaman-pengalaman pahit yang kadang mempengaruhi kebijakan-kebijakannya. Terkadang kenakalan-kenakalan segelintir orang mempengaruhi orang bener yang lain, seperti kasus pencairan beasiswa di awal-awal saya kuliah. Ok, kita tunggu apa respon pemerintah.

Mempertanyakan berikutnya adalah masalah Sinta yang berawal dari penentuan index Google scholar yang dibilang ironi dalam komentar tentang ranking sinta itu (oiya, yg belum daftar jangan lupa daftar dulu). Tetapi sebelum bertanya atau mempertanyakan terlebih dahulu baca penjelasannya dari LPPM univ sultan agung ini atau bahkan dari menteri-nya langsung di sini. Menurut saya sih Scopus yang jadi andalan, tetapi mengingat index ini berbasis jurnal/buku/seminar internasional yang berbahasa Inggris, sulit sekali ditembus oleh dosen-dosen kita yang berbasis bahasa lokal, bisa ga ada score-nya nanti sebagian besar dosen, padahal target akhir Sinta di versi 6 adalah digunakan untuk kepangkatan. Bisa pada ga naik pangkat nanti. Bagaimana dengan yang lain misalnya portal garuda yang berupa jurnal-jurnal nasional. Repotnya banyak juga jurnal yang tidak terdata di portal garuda akibat pengelola jurnal tidak mengirimkan sample jurnalnya ke LIPI. Nah satu-satunya yang lebih aman adalah Google scholar, bisa meng-cover dosen yang menulis di jurnal lokal dan bahkan yang jurnalnya tidak ada di portal garuda asal terdeteksi di Scholar. Toh, bobot Google scholar jauh di bawah Scopus untuk perhitungan rangking Sinta (saya lupa Google scholar 1/6 atau 1/12- scopus). Serba salah juga sih, Scopus beberapa waktu yang lalu diprotes katanya Kapitalis, sementara pakai Google yang free dianggap abal-abal. Kalau saya sih tetap mendukung Sinta yang memang prosesnya sedang “on going”, kalau tidak suka silahkan pakai yang lain, hanuman, rahwana, atau apalah. Semoga tulisan iseng di hari libur ini menghibur.

Perubahan Paradigma Pendidikan di Dunia: Sarjana, Master, Doktor, Post-Doc

Pada postingan yang lalu sudah dibahas istilah “disruption” dari Prof. Rhenald Kasali. Apakah fenomena yang meruntuhkan pemain-pemain bisnis ternama itu mengancam juga dunia akademik seperti universitas, politeknik, maupun institute? Wow ternyata iya, mengerikan, Prof. Rhenald membahasnya pula di tulisan lanjutannya, “meluruskan pemahaman soal disruption”. Disruption tidak melulu hanya yang berbasis online (seperti taksi online, ojek online, dll) melainkan seluruh aspek bisnis karena disruption merombak total proses bisnis, dari teknologi hingga budaya suatu perusahaan. Sayang tulisannya masih berlanjut nanti, yaitu tentang bagaimana mengetahui ciri-ciri suatu perusahaan yang mulai terdisrupsi.

Tahun 2006 ada paper yang membahas masalah paradigma pendidikan di dunia yang sepertinya mulai berubah. Silahkan kunjungi link-ini untuk membacanya. Sangat panjang bahasannya yang melibatkan survey di belahan dunia. Untuk itu saya sederhanakan untuk kasus khusus saja yakni apa kira-kira yang diperlukan dalam pendidikan tinggi di semua tingkat.

Efek Globalisasi

Globalisasi berarti lintas negara dan batasan geografis lainnya. Pertukaran ilmu tidak selalu dengan cara mendatangkan atau mengirimkan periset ke suatu negara. Ternyata terjadi pergeseran pemain utama riset dari negara Eropa dan AS ke asia (Turki, India, Jepang, China, dan Taiwan) dan amerika latin (Brazil). Efek globalisasi juga dibarengi dengan pertumbuhan populasi di negara berkembang seperti negara kita, sementara negara-negara Eropa cenderung statis bahkan menurun. Terkadang untuk memenuhi kebutuhan mahasiswanya mereka mendatangkan dari negara-negara yang membutuhkan pendidikan, seperti negara kita. Saat ini bahkan lembaga-lembaga riset sudah lintas negara (non-national) akibat kolaborasi yang terjadi. Saat ini poros ilmu yang dimotori US sepertinya mulai diambil alih oleh pendatang-pendatang baru Asia yang cenderung kompak menghadapi dominasi AS, yang oleh paper itu diistilahkan “a common enemy unifies“.

Pendidikan Sarjana dan Pos-Doctoral

Unik juga mengapa paper itu menyetarakan sarjana dengan post doktoral. Padahal dari sisi jenjang sangat jauh berbeda. Satu hal yang membuat kedua jenjang itu sama adalah spesialisasi dan peningkatan kualitas individu. Jika para sarjana diajarkan untuk mengetahui disiplin ilmu itu sendiri, rumus, teori, terapannya, dan lain-lain, post doctoral juga melakukan hal yang sama. Terkadang kerja lab menjadi makanan sehari-hari sarjana dan post doctoral. Tetapi itu untuk kondisi khusus, yaitu post-doctoral untuk junior researchers yang usianya di bawah 30 tahun .. (ternyata saya sudah tua). Selain itu post doctoral yang dimaksud adalah yang benar-benar menjalankan fungsinya karena banyak kasus, mahasiswa posdoc diberi tugas yang diistilahkan “mission impossible” dari supervisornya.

Pendidikan Doktor

Ternyata justru yang bermasalah adalah jenjang doktoral. Perkembangan ilmu yang cepat dengan teknologi yang sangat memudahkan siswa untuk menggali ilmu membuat tuntutan berat bagi mahasiswa doktoral yang jika dilakukan sendiri sepertinya sulit. Jadi saat ini doktoral student cenderung melakukan riset secara multidisiplin dengan topik-topik yang meluas (wide). Sangat sulit menemukan metode-metode baru di dunia yang sudah established seperti saat ini. Selain itu ada tuntutan ganda dari seorang PhD (double function) yaitu: akademik dan non akademik. Akibatnya berikut adalah skill yang perlu dimiliki oleh seorang doktor:

  • Manajerial dan kepemimpinan
  • Komunikasi publik
  • Membuat relasi/network
  • Mengatur proyek
  • Mengerti dunia politik
  • Kemampuan negosiasi
  • Dan Pemahaman budaya

Oiya, bagaimana dengan master? Ada dua kemungkinan, master yang ikut gabung ke sarjana atau master yang langsung lanjut doktor. Sepertinya di dunia internasional master itu tanggung, harus lanjut ke doktoral jika ingin ke dunia akademik, kecuali yg berkarir di dunia profesional non akademik. Mungkin sekian dulu tulisan ini, masih banyak sepertinya yang bisa dibahas dari paper yang saya jadikan referensi tersebut. Mengenai masalah disruption, mungkin video penjelasan dari christensen ini bisa membantu.

Reference

Melin, G., & Janson, K. (2006). What skills and knowledge should a PhD have? Changing preconditions for PhD education and post doc work. Wenner Gren International Series, 105–118. Retrieved from http://www.portlandpress.com/pp/books/online/fyos/083/0105/0830105.pdf

Update: 19 Okt 2017

Lanjuta pembahasan disruption, termasuk efeknya terhadap dunia akademik bisa dilihat di link kompas: http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/18/060000426/inilah-pekerjaan-yang-akan-hilang-akibat-disrupt

Sedekah dengan Harta yang Berharga: Pengalaman

Ketika Prof. Dr. BJ Habibie ditanya oleh wartawan, lebih pintar mana, dalam hal industri kedirgantaraan, dirinya dengan putranya, Ilham. Waktu itu dia menjawab bahwa dirinya lebih berpengalaman dalam industri pesawat terbang. Pengalaman tidak dapat dipelajari, melainkan dilalui. Saya lupa kapan televisi menayangkan wawancara itu, yang jelas ketika diperkenalkannya pesawat bermesin jet N2130. Yup, setuju sekali walaupun terkadang kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Tentu saja merasakan sendiri pengalaman, artinya memperoleh dari tangan pertama lebih berkesan, baik kesan menyenangkan maupun menyakitkan, yang menambah kualitas kita.

Tiap Orang Berpengalaman

Kita kagum dengan tokoh-tokoh terkenal yang ada di sekitar kita. Tetapi terkadang hanya melihat dari sisi yang menyenangkan saja, yaitu kesuksesannya. Padahal, dalam mencapai suksesnya itu, terkadang ada air mata dan penderitaan yang menyertainya yang terkadang luput dari pantauan orang lain. Begitu juga kita, terkadang terlalu fokus dengan kegagalan, kesedihan, kekurangan, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya sehingga lupa bahwa ada kesuksesan-kesuksesan yang telah kita raih, sekecil apapun. Sepintar apapun pak Habibie, anda mungkin lebih hebat memasak, lebih pintar dribling, lebih merdu suaranya, dan keahlian-keahlian lainnya yang terbentuk dari pengalaman kita.

Pengalaman dari Masa Lalu

Berbagi pengalaman menurut saya merupakan karakter bangsa kita yaitu gotong-royong (baca tulisannya Prof. Rhenald Kasali ini tentang gotong-royong). Bayangkan 200-an juta penduduk jika saling berbagi pengalaman, pasti akan menghasilkan pendekar-pendekar baru di bidang tertentu. Kesuksesan-kesuksesan yang terjadi seperti era Majapahit dan Sriwijaya tidak mustahil terulang lagi. Saya ingat cerita silat tutur tinular, dimana pembuat pedang Naga puspa sampai dibajak kerajaan China. Walaupun cerita fiksi, kisah-kisah kesaktian para pendekar jaman dulu sepertinya tidak jauh berbeda, dari keris empu gandring, hingga diakalinya pasukan Tar-tar dari kerajaan Kubilai khan di era Singasari. Masuknya penjajah sepertinya memudarkan kegotong-royongan yang diakibatkan juga oleh politik pecah belah Belanda. Untungnya dengan pendidikan muncul anak-anak muda yang dipelopori oleh Budi Utomo segera men-share ke para “Jong” daerah lain di seluruh Hindia Belanda. Sejarah sendiri merupakan media ampuh untuk berbagi pengalaman dari para pendahulu kepada generasi muda. Seperti kata Soekarno, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.

Senang juga melihat informasi dari kementerian ristek-dikti bahwa 109 orang terpilih menerima beasiswa saat ini (uniknya kebanyakan wanita). Mereka adalah anak-anak muda yang akan menuntut ilmu dan setelah itu membagikan ilmu dan pengalamannya ke tanah air. Hal lain yang menggembirakan adalah Ristek-dikti terus berbenah dan dari tahun ke tahun terus meningkat pelayanan terhadap pengembangan SDM, terutama dari sisi studi lanjut. Terbukti, lembaga ini belajar dari pengalaman-pengalaman yang lalu (termasuk rumitnya menangani generasi saya, hihi).

Pengalaman itu Menular

Ada sedikit pengalaman yang saya tangkap mengenai studi lanjut. Saya sendiri bingung waktu itu, ketika sadar tau-tau sudah berada di negara asing untuk belajar, kok bisa begini? Sementara di sisi lain, senior-senior yang lain belum juga tugas belajar dan tenang-tenang saja. Setelah difikir-fikir ternyata ada unsur sharing pengalaman dari pendahulu-pendahulu saya tentang pengembangan diri. Pernahkah Anda sadari, asisten-asisten dosen biasanya mengikuti seniornya untuk memperoleh pendidikan terakhir (doktor)? Walaupun saya bukanlah asisten dosen, tetapi setelah lulus master saya kerap diajak dosen pembimbing dulu untuk mengajar mahasiswanya, dan juga proyek-proyek lainnya seperti penelitian dan menulis buku. Hampir buku-buku yang saya tulis kebanyakan atas “paksaan” dia. Hanya buku terakhir yang saya buat sendiri karena beliau sudah dipanggil tuhan. Sangat sulit menyuruh orang studi lanjut ternyata, saya sendiri sebenarnya tidak ada niat, hanya karena melihat dosen saya yang doktor dan selalu bersama beberapa waktu, cukup membuat saya tertular virus akademiknya, yang tidak bisa dipelajari dari buku atau seminar, kecuali kalau dipaksa seperti kasus dosen harus S2 minimal. Bahkan doktoral bootcamp yang diadakan belakangan hanya sedikit membantu karena waktu yang singkat. Tetapi hanya dengan saya berangkat studi lanjut, tidak lama kemudian rekan-rekan saya yang lainnya ikut, termasuk para senior-senior yang tangguh, yang tak mengenal usia. Diskusi lewat media sosial sepertinya ampuh saat ini, rekan saya yang ber-toefl 300-an sepertinya jadi bersemangat dan dengan tekat yang kuat bisa menembus 550 sehingga bisa berangkat kuliah S3. Terakhir rekan saya yang selalu bertanya dan berdiskusi masalah proposal doktoral akhirnya lolos dan siap berangkat ke ITS.

Jangan berharap ada Jawaban jika tak ada Pertanyaan

Kita memiliki keunggulan dari jumlah penduduk, harusnya bisa dimanfaatkan. Sebenarnya banyak pengalaman-pengalaman yang bisa di-sharing, tetapi tanpa adanya yang bertanya, sepertinya akan sia-sia. Saya lupa berapa kali saya ikut pelatihan statistik (SPSS), dan setelah selesai seperti angin lalu saja, tidak ada yang masuk ke otak. Bukan karena materinya kurang bagus atau pengajarnya kurang pintar, tetapi karena saya ikut pelatihan itu di kampus. Walaupun gratis, karena tidak butuh dan tidak ada “pertanyaan” di kepala saya akhirnya sia-sia. Saya terkadang enggan melaksanakan pelatihan-pelatihan seperti itu kecuali memang beberapa orang butuh dan ingin berdiskusi bersama-sama, hasilnya lebih optimal. Saya kagum juga semangat para ibu-ibu dosen di daerah Karawang yang main ke kampus untuk belajar Matlab di Bekasi (percayalah, Bekasi deket lho). Dan ternyata tujuan utama adalah seluk beluk riset doktoral, sementara Matlab menurut saya salah satu sarana paling mudah untuk doktoral yang ingin mendalami simulasi berbagai disiplin illmu.

Terkadang ada hal-hal unik. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang teramat sulit bagi saya dari rekan-rekan, tetapi ternyata mudah sekali jawabannya. Gimana caranya? Saya lempar saja ke rekan saya yang lain. Saya adalah orang Information Management yang percaya tiap orang memilihi harta tak ternilai, yaitu informasi. Saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sulit itu, tetapi saya tahu orang-orang yang bisa menjawabnya, beres sudah, bungkus. Ketika ada yang bertanya layak atau tidaknya suatu proposal doktoral, saya baca dan pusing karena bukan bidang saya, langsung saya tanyakan saja dengan teman kuliah di bidang yang sama dengan rekan yang bertanya, beres sudah tugas saya, seperti Iniesta tinggal memilih mengarahkan bola ke Messi atau Neymar (waktu belum pindah). Tetapi kalau kita masih ribut karena beda agama, suku, dan pilihan politik, sulit sekali bisa sharing pengalaman. Mungkin tulisan di hari libur yang tidak terlalu serius ini bisa bermanfaat.

Mining the Web – Bidang Yang Kian Penting Saat ini

Menurut Prof. Rhenald Kasali, beberapa perusahaan ternama akhir-akhir ini jatuh secara tiba-tiba karena fenomena “disruption”. Fenomena ini merupakan bagian dari konsep “the invisible hand” dari Adam Smith kira-kira se-abad yang lalu. Tapi fenome disruptive muncul karena kejatuhannya yang tiba-tiba tanpa adanya gejala-gejala, ibarat serangan jantung, perusahaan-perusahaan raksasa tumbang mengenaskan. Laporan keuangan yang ok, tidak ada indikasi penetrasi atau serangan dari pesaing, tapi entah mengapa tiba-tiba ditinggalkan konsumen dan hancur. Di sisi lain, digrebeknya grup saracen yang berbasis online, dipenjaranya seorang gubernur karena rekamannya yg beredar online, tokoh aliran tertentu yang masih menunggu diperiksa, dan hal-hal lainnya mewarnai dunia digital di tanah air.

Dulu sempat mengajar e-commerce dan data mining tetapi tidak begitu membahas masalah dampaknya di masyarakat. Ternyata sangat besar. Konsumen mulai bergeser dari offline menjadi online (elektronik). Demo besar-besaran perusahaan taksi ternama di tanah air merupakan suatu sinyal akan adanya perubahaan perilaku konsumen dari offline transaction menjadi online. Dari sisi data mining, yang saya ajarkan (maupun buku yang diterbitkan) hanya berfokus ke database konvensional saja (bukan berbasis web). Oleh karena itu, upgrade ke versi web untuk mendukung terapannya dalam e-commerce sepertinya harus dimulai.

Ketika main ke perpustakaan, saya menjumpai buku lama terbitan 2001 yang membahas data mining pada web. Tahun-tahun itu merupakan tahun mulai berkembangnya riset-riset berbasis web yang hasilnya adalah aplikasi-aplikasi yang banyak dijumpai oleh orang-orang seperti sosial media, entertainment, dan sejenisnya. Berikut intro yang sari sarikan dari buku tersebut.

E-Commerce

Sesuai dengan namanya, e-commerce menjembatani antara produsen dengan konsumen lewat kanal/saluran baru yaitu transaksi elektronik, itu saja. Tetapi ternyata dengan pemanfaat media online dampaknya sangat besar walaupun tidak ada yang berubah dari sistem produksi, penentuan harga, laproan penjualan, dan sebagainya. Hal-hal yang membedakannya adalah kemampuan media online untuk menyediakan layanan yang cepat dalam menawarkan barang lewa “search engine”nya dalam bentuk rekomendasi, mampu mengingat history seorang pelanggan di waktu yang lampau, dan mampu secara cepat mengontrol persediaan barang mengikuti tren pemesanan barang oleh konsumen. Itu saja sudah cukup menghajar pemain-pemain lama yang tidak sadar akan bahayanya lengah terhadap media elektronik online.

E-Media

Selain perdagangan barang real, ternyata media terkena imbas dari media online. Mungkin mereka bisa bertahan karena karakter media yang tajam dalam melihat gejala-gejala adanya suatu fenomena, sehingga beberapa surat kabar bisa dengan “smooth” beralih dari media cetak ke online. Tetapi tentu saja media online memiliki keunggulan dibanding versi cetak karena media cetak tidak bisa mengetahui siapa saja yang telah membaca berita di dalamnya. Media online bisa mengetahui berita-berita yang menarik minat konsumen sehingga di masa yang akan bisa menulis berita-berita yang disukainya itu. Selain itu, media online memiliki karakteristik khusus yang “custom” dimana konsumen bisa memilih berita mana yang ingin diakses, khususnya yang berupa video. Inilah sepertinya yang dikhawatirkan oleh televisi-televisi lokal yang berbasis gelombang frekuensi yang dalam satu waktu tertentu hanya menyiarkan satu acara tertentu. Tinggal menunggu iklan yang lewat, jika tidak ada yang beriklan sepertinya siap-siap mengucapkan kata “selamat tinggal” (mungkin masih bisa bertahan untuk kampanye pemilu).

E-Markets

Saya, atau mungkin kita, pernah kecewa ketika telah membeli sesuatu ternyata ada tempat lain yang menjual dengan harga lebih murah, sakitnya tuh di sini. Dengan e-markets beberapa situs telah menyediakan fasilitas yang membandingkan harga-harga produk, seperti tike pesawat, hotel, dan lain sebagainya. Konsumen tinggal menilai sendiri, cari yang murah atau yang mahal tapi lebih nyaman. Selain itu, situs e-markets bisa menawarkan sesuatu selain yang dibeli, sehingga lebih banyak kemungkinan barang yang berhasil dijual. Sebenarnya ini menguntungkan konsumen juga karena tidak perlu jalan atau naik ekskalator mencari produk tertentu, kecuali memang ingin jalan-jalan.

Brands/Merk

Ini merupakan hal penting yang menunjukan kualitas suatu produk terhadap konsumen. Dari jaman dulu, konsep tentang “branding” tidak berubah. Konsumen cenderung membeli produk yang telah dikenalnya lama. Kematian suatu merk terkadang mengindikasikan kematian suatu perusahaan. Namun saat ini kualitas merk sangat-sangat tergantung dengan media online. Dua kali kecelakaan pada maskapai MAS sudah cukup menurunkan brand maskapai itu. Dan sialnya lagi, maraknya media sosial terkadang menyediakan hoax-hoax yang mengganggu brand suatu produk. Oleh karena itu tiap perusahaan sepertinya menyediakan tim yang memantau pergerakan brand di media online.

Sungguh pembahasan yang menarik. Masih banyak aspek-aspek lain yang bisa dipelajari dari aplikasi web, seperti periklanan, target marketing, customer value, real time considerations, understanding customers and business processes, experimental design for marketing, dll. Semoga tulisan ini bisa berlanjut.

Ref

Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America.