Engkau Masih Tetap Guruku ..

Ketika SMP dulu guru saya sering bercanda kalau profesi pengajar itu pasti doanya baik. Semua guru katanya pasti bedoa agar anak didiknya pandai. Apakah semua profesi seperti itu? Ternyata katanya bisa saja tidak. Dokter misalnya, bisa saja doanya semoga banyak orang yang sakit. Saya cuma bisa senyum-senyum saja, toh kami sekelas hanya menganggapnya lelucon dan selingan ketika dia mengajar. Ada lagi yang mengatakan bahwa pengajar itu jika yang diajarkan tepat, mendapat dua pahala, tetapi jika kurang tepat akan mendapat satu pahala, jadi jangan takut mengajar, walaupun saya sempat dibilang “sotoy” di komentar, yang saya tanya temen2 artinya itu sok tahu. Yah .. ga papa lah.

Pahala yang mengalir terus

Saya sering mendengar hadits yang mengatakan bahwa ketika seorang wafat, putuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal: ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak yang sholeh/sholehah. Jadi status pahala pengajar itu akan mengalir terus walaupun yang mengajarkan sudah wafat, tentu saja ada kata “bermanfaat”, walaupun terkadang kita menganggap sepele dan tidak bermanfaat oleh kelompok lain ternyata sangat bermanfaat.

Tidak selalu kita belajar dari guru tentang ilmunya

Dari pengalaman saya sekolah dan kuliah, hingga saat ini sebagian ilmu yang diajarkannya tidak secara langsung saya manfaatkan. Bahkan sampai oleh rekan saya yang “keluar” dari profesi mengajar mengatakan ilmu itu tidak ada gunanya. Saya sedih sekali mendengarnya, apalagi keluar dari mulut teman yang pernah sama-sama mengajar. Tetapi benarkah demikian? Di salah satu grup facebook bahkan diupload gambar lucu yang berisi tulisan rumus-rumus integral kalkulus yang rumit-rumit, kemudia di bawahnya muncul tulisan: “jujur saja .. apakah yang kita pelajari kita gunakan saat ini?”. (source gbr 1).

Repotnya adalah negara kita menyukai segala sesuatu yang instan. Kurang menghargai proses, apalagi prosesnya panjang tak terlihat ujungnya. Kita gemar sekali protes dan mempertanyakan segala sesuatunya. Ada bagusnya menurut saya, tapi lebih baik lagi cari jawabannya sendiri, searching di internet, baca sejarah negara-negara yang maju, dan sebagainya. Guru itu paling capek dan sebel  menjawab pertanyaan mengapa materi ini diajarkannya. Dengarkanlah keindahannya sampai selesai, jangan kau intrupsi orkestra indah yang sedang berjalan ini.

Namun kalau saya renungkan, hampir selalu saya meniru apa yang diajarkan guru kita terlepas dari materi/bahan ajar. Ketika guru matematika SMP saya mengecek jawaban secara bersama-sama, saya kagum ketika dia menghitung jawabnnya tanpa coret-coretan, alias di luar kepala. Bagaimana guru bahasa Indonesia SMA saya melakukan komposisi kalimat yang singkat, padat, dan mengena di satu kasus, dan melakukan komposisi yang indah penuh warna-warni di kasus yang lain. Atau ketika guru Fisika saya menjelaskan rumus reaksi nuklir yang rumit menjadi sangat sederhana. Bahkan di bangku kuliah, ada satu mata kuliah yang selalu mendapat nilai buruk, tetapi saya mengagumi cerita dia, bagaimana ketika dia bepergian dengan kereta dia melihat struktur sasis kereta, suspensi, sambungan, dan sebagainya dan ini mengajarkan kepada saya untuk selalu terus berfikir di mana saja.

Ikatan guru murid tak pernah putus

Di jaman internet dengan dibanjiri fasilitas social media membuat informasi sangat cepat bahkan tetap terjaga walau orang yang pernah bersama kita sudah jarang bertemu lagi. Tentu saja ada buruknya, tetapi kita ambil saja sisi positifnya. Terkadang ada rasa puas ketika melihat anak didik kita setelah lulus sukses menjalani karirnya. Dan sedih pula jika terjadi hal sebaliknya. Ketika saya mengajar menggambar dengan komputer, saya sempet bertanya dalam hati mengapa ada seorang siswa yang ikut belajar walaupun tidak terdaftar di absensi. Walaupun bisa saja saya mengusirnya, tetapi saya biarkan (hanya beberapa sesi ikutnya). Saya termasuk pengajar yang terlihat dari luar “cuek”, “masa bodoh”, apakah siswa itu mengerti atau tidak, tentu saja itu luarnya saja, he he. Tidak lama kemudian, rekan dosen yang lain ketika senggang mengatakan bahwa ada seorang siswa bimbingan tugas akhirnya yang ikut mata kuliah gambar saya, waktu itu memang saya mengajarkan menggambar meja dan bangku tiga dimensi ketika ada siswa tersebut. Ternyata siswa tersebut baru saja diterima bekerja sebagai drafter. Ketika ditest, kebetulan soalnya menggambar meja tiga dimensi, tentu saja dia bisa mengerjakan dan langsung bekerja di sana.

Jadi jangan liat dari luarnya saja, terkadang ada guru yang “sengaja” memperlihatkan kalau dia tidak menyukai/tidak puas dengan kita, padahal di dalam hatinya berbeda. Ketika SMA dulu, selepas pengumuman UMPTN pasti anak kelas III akan datang ke sekolah sekedar bersalam-salaman dengan guru-guru. Ada seorang guru yang ingin saya temui, ternyata sangat sulit dan sepertinya “ngumpet”. Akhirnya saya menduga dia tidak ingin pahalanya berkurang dengan munculnya ego bahwa saya bisa sukses karena didikannya.

Waktu kuliah, saya sempat bersungut-sungut ketika ditegur oleh dosen saya. Oiya, adakah dari pembaca yang “biasa-biasa” saja ketika diusir? Saya merasa dosen tersebut sama sekali tidak memperhatikan mahasiswanya dan terkesan cuek. Dan sialnya lagi .. eitt, saya harus stop di sini. Hingga lulus tidak ada kesan apapun terhadapnya. Waktu itu memang sedang krisis moneter, jadi saya kesulitan mencari pekerjaan. Karena kehabisan stok legalisir ijazah, berangkatlah saya ke Yogya dan numpang di kos-kosan sahabat baik saya yang belum lulus. Ketika ngopi sambil memandangi gunung merapi, dia mengatakan “eh .. tau nggak Pa “X” menanyakan ke saya, gimana? Si rahmadya udah kerja apa belum?”, teman saya mengatakan “katanya belum pa”, sambil menjelaskan ekspresi sedih dosen tersebut sambil mengusap kepalanya. Saya langsung terdiam ketika mendengarnya, mungkin teman saya melihat saya terdiam karena sedih belum bekerja, padahal saya terdiam karena kaget, dosen yang selama ini saya anggap “tidak perduli” ternyata diam-diam memperhatikan siswanya walaupun sudah lulus. Seandainya teman saya tidak menceritakan hal itu mungkin sampai sekarang saya masih menganggap dosen saya itu dosen yang “tidak perduli”.

Figure 2 Fakultas Teknik UGM (Source: klik di sini)

Update: 15 Oktober 2015

Tahun 2013 saya kedatangan temen satu angkatan t.mesin, waktu itu ngobrol sampai malam di AIT Thailand, termasuk ngobrolin dosen pembimbing saya dulu. Tahun 2014 ternyata beliau dipanggil Allah, Innalillahi wainailaihi roojiun, saya baru tahu ketika teman saya satu angkatan tersebut main lagi ke kampus tempat saya belajar (2015) .. Semoga diterima di sisi-Nya, spiritmu tetap hidup di jiwa muridmu ini

Kesan Pertama All New Kia Rio 2014

tigerHari ini muncul wajah baru, sebuah sedan hatchback (orang sering nyebut sedan tepos) berwarna merah di tempat kami. Sayang saya sendiri tidak bisa langsung melihat karena sedang berada di negeri gajah. Mesin 4 silinder 1.4 Liter (1400 Cc) dengan transmisi otomatis pesanan istri sudah tiba. Wajahnya yang tampan sepertinya membuat istri saya jatuh hati.

Mungkin ada yang bertanya ini mobil apa? Silahkan googling sendiri di internet. Yang jelas mobil ini mendapat penghargaan disain terbaik. Terbaik di mana? Bekasi? Tentu saja dunia dong … Yang menjadi trade mark nya adalah Tiger Nose karya disainer Peter Schreyer pada grill pendingin udaranya.

Mengapa beli jenis kendaraan ini? Selera aja sih. Dari dulu kami memang lebih suka membeli kendaraan yang unik yang jarang dijumpai di jalan (bukan kendaraan sejuta umat). Bagaimana harga jualnya? Kalau ga ada yang mau beli nanti, ya dikasihkan saja, beres. Yang jelas niatnya sih untuk menunjang pekerjaan sehingga menambah pemasukan karena produktivitas dalam bekerja (anti hujan, aman dengan airbag dan ABS, irit biaya transportasi). Macet ? ya pastilah .. untungnya sudah jarang bertugas di Jakarta (sekitar planet bekasi saja).

dimas

Walaupun tidak seperti layaknya versi yang dijual di eropa dimana kontrol audio yang terletak di stir, atap yang bisa terbuka (sun roof), tetapi lumayanlah dengan harga segitu dapat hatchback kelas menengah. Yang terpenting tidak perlu keluar duit lagi untuk jok kulit, solar guard / kaca film, sensor parkir, talang air, mantel mobil, velg yg sudah 16″, fog lamp, dan tetek bengek lainnya, alias tinggal pakai.

my-rio2

Yang jelas, transmisi manumatic-nya (bisa manual, bisa matic) sangat membantu ibu-ibu yang maunya tinggal gas rem, dan bisa menurunkan gigi secara manual jika mau menyalip, terutama di tanjakan.

Update: 13 Januari 2015 (service 1000 km).

Ketika liburan saya pulang ke Bekasi dan mencoba si Rio. Kesan pertama tampilannya seperti ford fiesta, dan lebih besar dikit dari jazz milik adik ipar. Terasa gas dan rem sangat sensitif. Tidak ada ngelitik seperti keluhan Rio keluaran 2012.

Interior walaupun masih di bawah Jazz tetapi space duduk dan bagasi serta kursi yang ergonomic (pas di badan) cukuplah. Entah kenapa mesin agak berubah-ubah responnya, apa karena saya sering gantian nyetirnya (beda karakter).

Sepertinya cocok untuk pengguna dalam kota, apalagi ibu-ibu yang ingin nyaman. Dibandingkan dengan jazz saat menikung rio agak limbung. Sepertinya butuh tambahan batang stabilizer karena per yang sangat lembut.

rio1000km

Update 12 Juli 2015 (service 5000 km)

Berhubung belum ganti oli semenjak mobil datang, sekalian saja servis gratis kedua di bengkel resmi kia. Muncul masalah standar mobil dengan kompresi tinggi yaitu mesin yang mengelitik. Ketika tiba di bengkel, langsung saja “curhat” bahwa dengan bensin pertamax 92, mesin terkadang mengelitik ketika berakselerasi awal (rpm rendah). Memang sih jika tombol ECO mode dimatikan, ngelitik sedikit berkurang, tapi sayang jika fasilitas ECO mode tidak dipakai.

Update Engine Control Unit (ECU) mutlak harus dilakukan, mengingat untuk kompresi 10:1 mengharuskan octane tinggi, yaitu pertamax plus. Namun saya meminta untuk cocok dengan pertamax 92 saja, karena khawatir jika dicocokan timing pengapian dengan premium berefek pada borosnya bahan bakar, toh saya tidak menggunakan premium.

Setelah ganti oli dan update ECU, ngelitik bisa dihilangkan (dalam batas riding style normal). Terasa gas sedikit dalam, berbeda dengan setelah awal yang tersentuh sedikit saja gas, mesin bereaksi. Untuk konsumsi BBM yang menurut spesifikasi 14-18 km/liter di tol, ketika dicek menyentuh 100/7=14.3 km/liter. Masih dalam range-nya, walau di batas bawah (jauh di bawah 18 km/l). Lihat brosur yang baru, kaget juga harga rio yang dulunya 197 juta kini menjadi 223 juta untuk yg matic.

bensin_rio

Update 15 November 2015

Entah karena kebanyakan make AC dan radio dalam keadaan mesin mati, baru setahun aki (accu) sudah diganti karena pagi-pagi aki ga ngangkat. Terpaksa habis 900-an untuk aki baru (pesan di shop n drive).

Info terbaru, mungkin dampak dari kenaikan dollar, hampir kebanyakan pabrikan menaikan harga jual kendaraannya, KIA Rio pun dibandrol hingga 238 jutaan, gile. Oiya, jika ingin liat perbandingan dapat dibuka situs perbandingan hatchback ini, secara total dimenangkan Rio tapi tentu saja berbeda versi eropa dengan versi yang dijual di Indonesia.

Update 10 Mei 2017 (Kia Rio Model baru 2017)

Kia rio merilis model baru dengan Sun Roof yang terkesan mewah untuk hatchback harga 250-an juta. Silahkan simak plus minusnya di video ini. Siapa tahu ada yang mau merasakan seumur hidup punya mobil dengan sun roof .. he he.

Update 16 Maret 2018

Terus terang RIO saya gunakan saat kondisi tertentu, fisik kurang fit, hujan terus, siang yang panas atau mengendarai di malam hari yang dingin. Selebihnya saya lebih menggunakan motor karena ga tahan macet. Akibatnya servis rutin 20.000 km belum sempat tercapai km-nya. Paling jauh pun dipakai Bekasi – Bandung. Lumayan irit sih (terutama pas pulang karena turun). Transmisi yang otomatic membuat saya harus mengambil jarak dengan kendaraan di depan agar kanvas rem dan ban lebih irit. Uniknya sudah 4 tahun kondisi tetap seperti baru, hanya ganti aki saja yang sering (setahun sekali).

Update 16 Januari 2019

Pada 3 Januari yang lalu, servis 20.000 km terpenuhi. Lama juga, maklum jarak dekat terus. Entah mengapa setelah diservis terasa enaknya. Sebelumnya sepertinya tidak ada perbedaan, mungkin hanya ganti oli saja. Terasa pada bagian kaki-kaki yang lebih balance serta ngelitik yang hampir tidak ada lagi. Tak terasa mobil yang menemani istri ketika saya di Thailand akan lunas tahun ini. Ingin berganti, tetapi sepertinya mobil ini masih nyaman dan mudah dikendarai.

Update 02 Oktober 2019

Setelah kaki-kaki diganti dengan ban Turanza dari Bridgestone, suara aspal nyaris tak terdengar. Apalagi setelah sekalian di spuring, tangan jadi lebih santai karena balance (tidak lari kanan kiri). Sempat juga aki mati (sudah tiga tahun) dan terpaksa menelepon “shop n drive” untuk ganti aki baru, 1,5 jtan.

Yang lebih menyedihkan adalah mobil ditawar orang. Karena takut ada apa-apa kalau ada yg suka dengan mobil saya, dijual dah seharga 110jt. Trus naik apa dong? Lama juga mencari mobil yg senyaman Kia Rio saya, akhirnya ketemu juga: Mitsubishi Xpander.

Xpander

Alasannya, anak mulai besar2, butuh kursi yang lapang 7 penumpang. Suspensi ternyaman di kelasnya walaupun harus hati-hati karena beban shockbreaker jauh lebih berat. Kekedapan kabin mirip Kia Rio hanya saja body lebih tipis dibanding Kia Rio tapi selama menggunakan Kia Rio toh tidak terlalu signifikan tebal tipisnya body terhadap “fun to ride”. Tipe yg saya beli “Ultimate” dengan tambahan fitur “Cruise Control” dimana ketika di tol pada kecepatan tertentu jika diset cruise control maka kecepatan akan dijaga pada posisi tersebut tanpa kaki menginjak pedal gas, alias kaki anti pegal. Untuk mesin? Ternyata Mitsubishi lebih “garang” mesinnya dibanding Kia dan bahkan Toyota yang sudah cenderung ngeset keiiritan (dual VVTi).

Update 06 Juli 2020

Kangen juga lihat Rio. Ada untungnya jual mobil ke sodara, bisa lihat terus mobil kenangannya.

IMG_20200706_170946

Submit Paper

Paper ilmiah merupakan sarana bertukar fikiran antara satu peneliti dengan peneliti lainnya di seluruh dunia. Peneliti yang handal akan memiliki paper yang dari sisi kualitas dan kuantitas akan baik pula. Jika ada peneliti yang tidak memiliki publikasi ilmiah dalam bentuk paper dapat dipastikan bahwa peneliti itu tidak melakukan penelitian atau menyembunyikan hasil penelitiannya. Peneliti yang baik tentu saja selain memiliki kemampuan akademik terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi terkini juga memiliki jiwa berbagi (sharing) yang tinggi.

Di Indonesia, paper kebanyakan hanya menjadi sarana pendidikan di perguruan tinggi ataupun syarat kenaikan pangkat bagi dosen. Dikti sudah mensyaratkan terhadap mahasiswa yang akan lulus dari perguruan tinggi untuk mempublikasikan hasil penelitiannya. Sungguh berat tetapi apa boleh buat, kita sudah tertinggal dari sahabat kita Malaysia dari sisi jumlah tulisan yang dipublikasikan.

Melihat grafik di atas pantas saja dirjen DIKTI Djoko Santoso mensyaratkan kelulusan perguruan tinggi yaitu publikasi ilmiah. Jumlah penduduk indonesia yang besar sudah selayaknya memiliki jumlah publikasi yang tinggi juga. Jangankan dengan Malaysia, dengan Vietnam saja kita masih kejar-kejaran. Belum lagi dengan negara-negara lain seperti Jepang atau negara-negara maju lainnya, Untuk melihat kinerja negara-negara terhadap publikasi ilmiahnya dapat diakses di sini.

Bagaimana Mempublikasikan Paper?

Jika kita sudah sadar dengan posisi negera kita yang lemah dari sisi publikasi ilmiah, muncul pertanyaan bagaimana cara mudah mempublikasikan paper kita? Cara paling sederhana adalah mensubmit paper, tentu saja jika kita punya paper. Jangankan menulis paper, membaca paper saja sudah pusing. Padahal kalau kita perhatikan satu naskah paper (perhatikan saja jangan dibaca, takut tambah pusing) ada referensi yang jumlahnya belasan hingga puluhan yang pasti telah dibaca oleh penulis paper tersebut. Sebanyak itukah paper referensi yang harus dibaca? Tentu saja tidak, pasti lebih banyak dari itu mengingat yang dicantumkan di dalam referensi adalah yang “beruntung” karena sesuai dan mendukung paper yang kita tulis, sementara yang “sial” lainnya tidak mendukung paper kita. Kata “sial” di sini adalah karena kita sudah capek-capek membaca, tapi tidak ada hubungannya dengan riset kita.

Publikasi ilmiah bisa berupa jurnal dan seminar (conference). Alangkah baiknya kita menoleh ke jurnal internasional atau seminar internasional mengingat ketertinggalan negara kita adalah di level internasional. Sangat disayangkan bila tulisan-tulisan kita yang cukup banyak hanya diterbitkan di jurnal lokal yang tidak terindeks di level internasional. Apakah indeks itu? Indeks itu seperti google, bedanya google akan mencari seluruh data di dunia yang berhasil dia tangkap, sementara indeks ini hanya data yang dia akui keberadaannya, misalnya google scholar, scopus, dll. Tentu saja kita memilih indeks yang diakui dunia seperti scopus, thomson, dan minimal diakui oleh DIKTI.

Beberapa rekan saya menanyakan bagaimana cara mudah mempublish paper kita? Saya sempat kaget juga karena yang bertanya adalah rekan dosen senior yang pangkatnya jauh di atas saya. Sebenarnya mereka sanggup membuat paper dan mempublishnya hanya saja ada beberapa kendala yang menghadang, terutama dari sisi bahasa dimana bahasa Inggris menjadi satu keharusan. Kendala lainnya adalah waktu dan mental. Untuk masalah waktu, sepertinya sudah tidak begitu menghambat mengingat pemerintah sudah menyadari hal itu dengan memberikan tunjangan profesi lewat sertifikasi dosen sehingga mengurangi dosen yang “ngajar sana ngajar sini” atau “proyek sana proyek sini” sehingga dapat fokus ke riset dan penulisan. Tinggal masalah mental yang menurut saya harus dibenarhi.

Saya sudah setahun lebih jadi gelandangan di negeri orang, mengais-ngais ilmu yang berceceran, dan cukup kaget dengan adanya perbedaan kultur antara negara kita dengan negara lain. Entah mengapa sesuatu yang sulit di negara kita menjadi mudah di negara lain. Mungkin bukan sulit, melainkan dipersulit. Ego para dosen di Indonesia sangat tinggi dengan tingkat subjektivitas yang kebangetan. Cerita dari rekan-rekan saya jika dua dosen (bahkan ada yang ditambah kata “kubu” di depannya) muncul persaingan atau perselisihan, yang jadi korban adalah mahasiswa bimbingan. Karena terjadi bertahun-tahun ada sedikit trauma barangkali sehingga jika ada sedikit “senggolan” langsung terasa “sakitnya itu di sini”. Oke, jangan ambil pusing .. itu obatnya.

Submit Paper itu Gratis !

Kata-kata penolakan bagi dosen/mahasiswa di negara lain merupakan kata yang biasa, tetapi bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia adalah kata yang “luar biasa” menyakitkannya. Akibatnya adalah kekecewaan yang mendalam dan menghalangi untuk mencoba kembali. Yang paling parah adalah melampiaskan kekecewaannya kepada yang lain (rekan dosen/mahasiswa), istilah yang terkenal “balas dendam”. Tapi jika diperhatikan dengan kepala dingin, apakah ketika submit paper kita keluar uang? Tentu saja tidak. Apakah penolakannya begitu saja? Tentu juga tidak, ada keterangan dan hal-hal yang harus diperhatikan. Ini kan ilmiah, bukan hal-hal lain di negara kita dimana kritik berupa hinaan dan cacian tanpa ada saran perbaikan.

We have now completed the review of your submission “A Web-GIS Based
Integrated Optimum Location Assessment Tool for Gas Station Using Genetic
Algorithms .” . We regret to inform you that your paper was not selected
for publications in …..

Kata-kata di atas merupakan kata standar untuk penolakan terhadap paper yang kita submit. Memang ketika membaca “sakitnya itu di sini”.. he he (makanya tulisan di atas saya buat format ‘center’ agar seperti puisi). Tapi jangan berhenti di situ, terus perhatikan di mana letak kesalahannya.

Too many grammatical mistakes. For example:
“Database is important to GIS because it store,
manage, process, and organize both raster data
(images) and vector data (points and lines). We use
postgresql with its relational characteristic and open
source.”

Tulisan di atas adalah hanya salah satu contoh dari reviewer kedua. Banyak lainnya yang kemudian saya perbaiki satu persatu. Kesalahan grammer yang menjadi kendala karena bukan bahasa asli kita sebenarnya dapat kita atasi dengan bertanya ke rekan kita yang lebih mahir. Jika semua telah diperbaiki coba submit lagi ke penerbit lainnya.

Based on the recommendations of the reviewers and the Program Committee, I am very pleased to inform you that your paper #1570036001 (‘A Web-GIS Based integrated Optimum Location Assessment Tool for Gas Station Using Genetic Algorithms’) for **** has been accepted

Jangan lupa untuk mengecek jurnal/conference yang dituju apakah terindeks di indexer terkenal agar memudahkan paper kita dicuplik (sitasi/cited) oleh penulis lain dan akhirnya meningkatkan kualitas paper kita (cited per document). Selamat mencoba !

Maraknya Grup Kenangan Lama

Munculnya grup-grup yang beranggotakan orang-orang dengan kenangan masa lampau membuat saya jadi ingin menulis pengalaman ketika waktu kuliah dulu. Era 60, 70, dan 80-an menurut saya merupakan era yang unik karena pada era itu di negara saya sudah tidak ada perang, baik perang kemerdekaan maupun efek dari perang dingin yang diakhiri dengan peristiwa G-30 S. Kondisi negara yang mulai stabil dan membangun menghasilkan individu-individu yang punya kenangan manis, berbeda dengan era sebelumnya yang cenderung lebih banyak kenangan pahitnya.

Peminat group-group jadul saat ini kian marak dengan munculnya social media seperti facebook, twitter, dan sejenisnya. Dulu di televisi sempat bermunculan acara-acara lagu khusus lagu lama yang cukup banyak diminati oleh pemirsa. Bahkan salah satu group facebook tentang era 80 dan 90 an memiliki banyak member yang bernama Hits From The 80s & 90s.

Pakaian Jadul

Cerita menarik sempat saya alami ketika saya mau ujian sidang sarjana di jurusan mesin UGM. Sempet panik ketika mendadak syarat sidang harus memakai jas dan dasi, tetapi reda ketika sahabat saya memberitahukan bahwa ia bersedia meminjamkan jas yang menurut dia cukup bagus dan ukurannya pas dengan saya, karena memang ukuran baju saya dengan dia sama. Jika dia pas, tentu saja saya pas. Salahnya saya adalah saya tidak melihat terlebih dahulu jasnya tersebut.

Alhasil di hari “H” saya mengambil jas yang ia pinjamkan di kos-kos annya di daerah blimbing sari, pinggiran UGM. Waktu itu saya belum tahu model-model jas, setahu saya semua jas itu sama. Ternyata jas teman saya itu adalah warisan dari bapaknya, tahun 70-an. Ya ampun, apa boleh buat, toh bagus juga menurut saya. Saya datang ke kampus, karena stress dengan persiapan sidang, saya tidak terlalu memperhatikan pakaian, teman-teman saya pun tidak mengusik jas yang saya kenakan. Jas tersebut “terlalu pas” menurut saya, karena jika di bilang sempit, tidak juga tetapi jika dibilang kebesaran tidak juga karena di bagian tertentu serasa sempit (paha atas dan perut) tetapi di bagian lain kebesaran seperti di bagian bawah celana panjang.

Tak apalah, toh rapi menurut saya. Bagi rekan-rekan saya tidak jadi masalah tetapi bagi dosen-dosen penguji saya yang hidup di era 60 dan 70-an tentu saja tidak asing. Walaupun mereka tidak mempertanyakan, tetapi tampak senyuman di wajah-wajah mereka. Untungnya, dengan jas seperti itu sepertinya mereka sedikit sungkan untuk “membantai”, mungkin hanya dosen pembimbing saya saja yang “membantai”, walau menurut saya itu hanya taktik dia untuk mencari perhatian dosen penguji yang lain. Dan, Alhamdulillah .. sidang berjalan dengan lancar. “Selamat untuk sahabat baik saya .. Anda telah sukses “ngerjain” saya”, pikir saya dalam hati.

Selang beberapa bulan kemudian, giliran rekan saya yang sidang. Ternyata saya baru tahu kalau dia juga tidak mengenal jenis-jenis jas yang ada, dan tidak bermaksud “ngerjain” saya. Saat mampir ke kos-kosannya ketika saya mau melegalisir ijasah, dia bercerita lucu. Ternyata kebetulan sekali, yang menjadi dosen pembimbing dia adalah dosen yang menjadi panitia sidang saya dulu. Sebelum sidang dimulai, dia berkata “Tunggu dulu .. kayaknya saya pernah lihat Jas seperti ini dah waktu sidang”. Dia bercerita bahwa wajahnya sempat pucat karena malu. Akhirnya sidang dimulai dengan membahas masalah jas jadul. “Pak .. teman saya yang minjem jas, ini punya saya, warisan dari bapak”, protes temanku ketika diduga jas tersebut meminjam dari saya .. ha ha.

with herwan

Karir Sebagai Dosen

Jika terdengar di telinga kata “dosen” ketika saya masih sekolah dulu, yang ada di benak saya adalah seseorang yang kerjaannya berfikir keras dan mengajarkan sesuatu yang sangat sulit bagi anak didiknya. Saya yakin tidak ada yang punya keinginan untuk jadi dosen. Walaupun dulu saya bercita-cita ingin jadi profesor, tetapi profersor yang saya maksud adalah orang yang bisa menciptakan robot atau alat canggih yang sering muncul di film kartun dulu.

Ketika saya memilih jurusan mesin di Universitas Gadjah Mada dulu, tujuan utama saya sebenarnya sederhana, setelah lulus kerja, berumah tangga, punya anak, dan seterusnya. Bahkan tawaran dari departemen ketika saya kuliah untuk menjadi dosen di sana (walau masih berstatus mahasiswa), walaupun dengan syarat IPK yang tidak perlu tinggi-tinggi serta adanya ikatan dinas ketika sedang kuliah (waktu itu sekitar 300-an ribu untuk uang tunjangan bulanan) tidak ada yang berminat. Karena di samping pengumuman itu, ada juga pengumuman dari Astra International bahwa alumni yang memiliki IPK di atas 3.00 bisa langsung masuk tanpa tes. Tentu saja banyak mahasiswa yang memilih bekerja dari pada menjadi dosen (walaupun berstatus Pegawai Negeri Sipil).

Tahun Kelam

Terjadinya krisis moneter di tahun 1998 mengakibatkan banyak PHK masal di Indonesia. Beberapa alumni yang sudah bekerja di perusahaan di Indonesia banyak yang datang ke kampus untuk bekerja sebagai dosen. Tentu saja pihak kampus menerima walaupun akhirnya distop karena jumlahnya yang terlampau banyak. Waktu itu saya di akhir-akhir kuliah, dan sempat diajar oleh korban PHK, waktu itu dari PT Astra. Tiap ada bursa selalu diserbu oleh para lulusan kampus yang di ranking baik versi luar negeri maupun versi akreditasi masuk nomor satu di Indonesia selalu dibanjiri oleh pelamar. Waktu itu saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut.

Kondisi lebih parah lagi ketika di Jakarta dimana persaingan bukan hanya dari kampus saya, melainkan dari seluruh kampus terkenal di Indonesia, waktu itu saingan terberat adalah UI dan ITB. Beberapa lulusan banyak yang banting stir, bekerja di luar bidangnya. Waktu itu saya berfikir betapa borosnya uang negara yang habis dipakai untuk subsidi mahasiswa kampus negeri tidak terpakai ilmunya. Ada satu penyelamat waktu itu, yaitu karir sebagai dosen. Waktu itu dosen saya pernah bilang tiap mahasiswa teknik disubsidi pemerintah 6 juta pertahun (sebagai perbandingan uang kuliah waktu itu 500 ribu pertahun).

Kebangkitan Perekonomian

Ketika krisis tentu saja menjadi dosen pun tetap sulit walaupun tidak terjadi PHK besar-besaran seperti di industri atau perkantoran. Walaupun penghasilannya menurun drastis tetapi tetap bisa bertahan. Untungnya perekonomian Indonesia mulai bangkit dan banyak berdiri institusi-institusi pendidikan yang membaca peluang karena melihat banyaknya sarjana-sarjana yang menganggur. Dengan mudahnya mereka merekrut dosen baru walau tanpa diberi status yang jelas, asalkan diberi honor yang sesuai dengan jam mereka mengajar mereka pasti menerima. Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut. Jujur saja status dosen saya waktu itu tidak bisa disamakan dengan dosen-dosen universitas negeri, atau minimal universitas swasta terkenal.

Munculnya kampus-kampus seperti ruko mungkin efek dari melimpahnya sarjana-sarjana yang belum terserap di dunia kerja. Anda mau buka jurusan apapun, tenaga pengajar selalu tersedia, jika tidak ada, boleh menggunakan praktisi ataupun PNS dan bahkan pensiunan. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca pandangan Prof Rhenald kasil yang diposting di kompas dengan judul “Naiknya Harga Dosen“.

Namun sepertinya pemerintah membaca gelagat yang tidak beres dari kondisi seperti ini. Diawali dari rendahnya publikasi ilmiah dari dosen dan peneliti di Indonesia (seperti biasa, Malaysia jadi patokan) serta banyaknya penyimpangan-penyimpangan di institusi pendidikan memunculkan kebijakan keras dari pemerintah yang cukup menghancurkan kampus-kampus dadakan dengan munculnya aturan (sekitar 2010 mulai diberlakukan kalo nggak salah):

  1. Dosen Minimal S2
  2. Rasio Dosen 1: 30 atau 40
  3. Dosen tidak boleh sekaligus sebagai guru

Program Percepatan Doktor

Pemicu kebijakan ini menurut saya diawali dari kebijakan dari DPR untuk menaikan anggaran pendidikan sebanyak 20% yang jika tidak ada program yang tepat, tidak akan terpakai semua. DIKTI yang merupakan bagian dari KEMDIKBUD segera mencari cara untuk meningkatkan pendidikan yaitu dengan beasiswa dan tunjangan profesi. Beberapa dosen diberangkatkan ke luar negeri untuk studi lanjut (kebanyakan S3 dan beberapa S2 untuk yang masih berusia muda / calon dosen). Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut.

Gelombang demi gelombang keberangkatan dijalankan dan karena beasiswa berasal dari pemerintah dengan ikatan dinas tertentu, yang telah lulus kembali ke tanah air dan mengabdi. Ternyata diperoleh kualitas yang cukup baik jika dosen menempuh studi lanjut di luar negeri. Sementara itu di dalam negeri, DIKTI kian ketat menjalankan aturan yang ada, baik dari sisi usia dosen, bahkan hingga pengajar yang akan membuat NIDN harus disertai slip gaji bukti bahwa yang bersangkutan bukan dosen “cabutan” serta adanya tes potensi akademik (TPA) dan Toefl (bahasa Inggris). Pegawai-pegawai (biasanya swasta) yang namanya dipinjam sebagai dosen terpaksa harus studi lanjut atau tidak menjadi dosen lagi dengan aturan tersebut. Atau pegawai-pegawai yang menolak untuk berbohong bahwa ia bekerja full time sebagai dosen di suatu institusi menolak meneruskan menjadi dosen, atau memilih meninggalkan pekerjaannya dan memilih menjadi dosen. Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut, memilih menjadi dosen dan meninggalkan jabatan koordinator lapangan IT Bank Danamon wilayah Utara.

Penghargaan Pemerintah Kepada Dosen

Bayangkan dengan keluarga yang sudah memilki anak, tetapi dengan gaji dosen sepertiga dari gaji ketika menjadi pegawai waktu itu merupakan pertaruhan yang sulit, bahkan saya sempat mengalami sesak nafas karena beban fikiran. Untungnya karena adanya hibah-hibah penelitian, serta dihargainya kepangkatan, waktu itu sedikit membantu dan banyak waktu untuk melakukan riset kecil-kecilan karena jumlah waktu untuk nyambi mengajar di tempat lain bisa dikurangi tanpa khawatir kekurangan. Bahkan beberapa buku telah saya terbitkan dengan royalti yang cukup karena sebenarnya saya hanya memindahkan apa yang saya ajarkan ke dalam wujud buku (tanpa terlalu bekerja keras).

Beberapa kasus korupsi terjadi di institusi-institusi pemerintahan, bahkan kementerian hukum dan HAM hingga Kementerian Agama pun ditemui kasus korupsi. Namun kementerian pendidikan walaupun ada sedikit kasus pengadaan alat praktikum yang terjadi korupsi, namun karena sistem yang mulai tertata dan aturan-aturan yang ada mulai ketat, dunia pendidikan di Indonesia mulai bergerak maju. Beberapa hal yang membantu antara lain:

  1. Adanya Tunjangan Profesi (SERDOS)
  2. Hibah-Hibah Penelitian dan Pengabdian
  3. Diperluas kesempatan untuk Studi Lanjut (dalam dan luar negeri)

Naiknya Harga Dosen

Jadi memang benar apa yang dikatakan oleh Prof. Rhenald Kasali, bahwa harga dosen mulai naik. Beberapa rekan saya yang mengajar di tempat saya nyambi sebagai dosen honorer satu persatu pindah ke kampus-kampus yang memberikan penghargaan yang layak terhadapnya. Sebenarnya bukan hanya uang yang mereka cari, penghargaan dan diakui sebagai dosen merupakan salah satu faktor juga yang menyebabkan transfer dosen dari satu kampus ke kampus yang lain. Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut

Kampus jika tidak dipimpin oleh pimpinan yang mampu membaca peta atau arah pendidikan nasional akan kesulitan, terutama meramu seluruh kekuatan yang ada baik dari sisi dana, kurikulum dan sumber dayanya. Para dosen pun mulai berani dan sadar akan kekuatan yang selama ini masih berupa potensi.

Aturan baru tentang jumlah SKS untuk S2 dan S3 sedikit banyak juga bisa mencegat aksi kampus yang memaksakan untuk menambah rasio dosen dengan melulus cepatkan mahasiswa S2- nya, apalagi yang swasta. Dengan jumlah SKS sebanyak itu mengakibatkan masa tunggu untuk memperoleh calon dosen dengan syarat minimal (S2) jadi sedikit bertambah, belum lagi jika kampus itu memiliki program pasca sarjana yang mutlak harus berpendidikan S3.

Kisruh Dana Beasiswa

Harga dosen yang sudah naik menurut Profesor dari UI seperti diutarakan di atas mungkin menjadi “lebih naik lagi” manakala dosen-dosen yang sedang menempuh pendidikan S3 di luar negeri mengalami kesulitan dana beasiswa (terlambat), seperti curahan hati dosen-dosen penerima beasiswa seperti dapat anda baca dari blog-blog mereka, misalnya rekan saya Ahmad-hamid yang mengambil studi di Jepang. Bahkan yang lebih parah lagi adalah curahan hati dari benua di selatan kita, Australia, yang kesulitan karena lewatnya masa batas beasiswa S3 yaitu tiga tahun yang dia tumpahkan di kompasiana. Ketika menulis ini, lagi-lagi Saya sendiri termasuk dalam kategori tersebut (cuma telat dikit sih).

Pergantian pemerintahan yang kebetulan terjadinya kisruh ini semoga lebih baik lagi tertata di pemerintahan yang akan datang, amiin.

Yuukk … siapa yang mau jadi dosen 😀

Musik dan Billyard di Asian Institute of Technology (AIT)

Seharian kuliah dan belajar jika tidak diselingi dengan hiburan bisa pecah kepala. Untungnya di tempat saya kuliah tersedia studio musik gratis. Dalam rangka acara Welcome Show mahasiswa baru kami dari persatuan mahasiswa Indonesia Thailand (PERMITHA) cabang AIT akan menyumbangkan beberapa kontes dari dance, music dan talent.

Yang terpenting dari adanya acara sebenarnya adalah kumpul-kumpulnya karena akibat kesibukan, biasanya kami jarang bertemu satu sama lain. Karena jauh dari kampung halaman, kami merasa seperti saudara sendiri, dan saat berkumpul adalah saat yang tepat untuk menumpahkan uneg-uneg di kepala, dari masalah studi hingga masalah keluarga bahkan keuangan.

Student Union Café (SU Café) merupakan sarana mengusir penat kami para mahasiswa. Syukurlah dengan aturan baru pemerintah Thailand, di seluruh kampus tidak boleh diperjual belikan minuman keras. Sebelum berlatih, kami memanfaatkan meja billyard yang ada, lumayan. Bagi mahasiswa apa sih yang tidak menarik dari yang gratisan, he he.

Seperti biasa, jari-jari terasa sakit karena lama tidak menyentuh senar gitar. Untungnya tangan masih lincah dan feeling masih ok. Karena kami rata-rata sudah berumur (aliran 80-an) terpaksa kami mencari lagu yang slow, misalnya lagu “love will keep us alive” yang dibawakan oleh group Eagles di tahun 90-an. Mengingatkan saya ketika akhir-akhir SMA dahulu.

Dialog Dikti dengan Karyasiswa Mengenai Permasalahan Pencairan Beasiswa

Setelah hampir satu minggu tidak ada titik temu antara mahasiswa penerima beasiswa dengan pihak DIKTI akhirnya suasana kembali cair setelah adanya dialog yang diprakarsai oleh berita satu. Dialog tersebut dapat diakses secara streaming lewat internet, atau rekamannya dapat dilihat di situs salah satu mahasiswa yang berdialog dengan DIKTI, Abdul Hamid, Lihat di sini.

Sesi 1.

Setelah sesi pertama pihak DIKTI yang diwakili olep Prof. Supriadi Rustad, yang sering kita dengar dan baru kali ini saya melihat wajahnya. Beliau memberikan alasan keterlambatan (yang seharusnya sudah cair bulan Juli) seperti masalah kegagalan metode pengumpulan progress report (PR), serangan Hacker, dan masalah administratif lainnya. Di studio juga dihadiri oleh pemerhati masalah pendidikan, yang juga pernah menerima beasiswa DIKTI.

Sesi 2.

Sesi kedua kembali menjadi tegang sebentar tapi akhirnya lega karena DIKTI kembali ke cara lama dimana Progress Report (PR) tidak supervisor yang memberikan melainkan dia hanya tanda tangan saja (kembali ke metode yang lama).

Sesi 3.

Syukurlah Minggu depan mulai proses pencairan, karena hanya tinggal segelintir karyasiswa yang belum mengirimkan PR (dari ribuan tinggal ratusan).

Sesi 4

Memang sistem yang ada di DIKTI sudah saatnya diperbaiki, terutama jumlah personal yang mengurusi beasiswa. Bandingkan saja, LPDP dari kementerian keuangan ditangani oleh 50-an orang, sementara DIKTI hanya 5 orang.

Catatan Kuliah dengan Android

Lama-lama malas juga kalo datang kuliah dengan berbekal buku-buka tebal dengan buku catatan yang terkadang serabutan (seluruh materi mata kuliah yang berbeda dalam satu buku). Saya coba dengan belajar hanya lewat tablet, ternyata ada sedikit kekurangan, yaitu tidak bisa mencorat-coret, hanya bisa menandai saja (garis stabilo, atau anotation). Memang benar tablet termasuk salah satu perangkat pasif dan tidak seproduktif laptop. Tetapi membawa laptop tentu saja lebih merepotkan dari membawa buku.

Pen – Stylus

Sempat saya mencoba pen stylus capasitive, tetapi hasilnya berbeda dengan menulis dengan pena. Akurasinya kurang baik dimana kerap terjadi ketika membuat garis, putus-putus di tengahnya.

Iseng-iseng saya lihat di youtube dan tertarik dengan S-pen Galaxy Note yang mirip seperti menulis dengan pena di atas kertas. Bahkan ada aplikasi-aplikasi tertentu untuk menggambar dan pdf reader yang berfungsu juga sebagai MEMO (menulis).

Tablet with S-Pen

Ada beberapa tablet yang mampu digunakan dengan S-pen yaitu Microsoft Surface Pro dan Samsung Galaxy Note. Microsoft Surface Pro sangat mahal, sementara Microsoft Surface RT tidak kompatibel dengan S-Pen. Produk Apple entah mengapa tidak memfasilitasi tablet-nya dengan S-pen, padahal jika ada saya sudah membelinya. Akhirnya pilihan saya jatuh pada Samsung Galaxy Note 10.1 2014 Edition dengan disertai Flip case dan S-Pen tambahan original karena S-pen bawaan asli tablet ini terlalu kecil di tangan saya.

Aplikasi Untuk Membuat Catatan

Aplikasi untuk memfasilitasi S-pen sangat banyak dijumpai di Google Store, dari yang gratis hingga yang berbayar. Salah satu andalan saya adalah LectureNotes. Aplikasi ini membuat sebuah buku catatan baru dengan kertas bergaris. Hasil dapat dikonversi ke PDF atau tetap dalam formatnya. Program ini walaupun dapat diunduh secara ilegal di internet, tetapi sebaiknya kita beli, khawatir virus yang saat ini sudah masuk ke sistem operasi android.

Salah satu yang saya kagumi adalah Ez-pdf. Aplikasi ini sebenarnya untuk membaca buku elektronik dengan fasilitas thumbnail dan bentuk yang kontinyu dari satu lembar ke lembar berikutnya sehingga kita bisa melihat bersamaan hingga tiga lembar. Agak repot memang jika tidak ada fasilitas ini, terlebih jika kita membaca informasi grafik/gambar tapi terletak di halaman yang berbeda. Namun, ternyata aplikasi yang berharga 40-an ribu rupiah ini mampu digunakan untuk membuat catatan/memo dengan jumlah halaman yang bisa kita tambah/sisipi. Jadi slide yang biasa diberikan oleh dosen dapat kita corat-coret bahkan disisipi dengan gambar. Perhatikan, tiga halaman dapat kita lihat bersamaan dan jika ingin fokus ke satu halaman tinggal zoom saja. Halaman di tengah adalah halaman pdf tambahan pada slide yang disisipi foto ketika kuliah berlangsung. Praktis bukan?

Mahkamah Konstitusi – Benteng Terakhir

Setelah kisruh yang berlarut-larut dengan diselingi demonstrasi yang sangat mengganggu akhirnya tanggal 21 Agustus 2014 Mahkamah Konstitusi (MK) mengumumkan keputusannya tentang kasus pilpres yang diajukan oleh kubu Prabowo-Hatta. Hasilnya sangat mengecewakan kubu pemohon dimana seluruh gugatannya ditolah oleh MK yang dipimpin oleh ex aktivis dari partai Bulan Bintang, Hamdan Zoelva. Untungnya pembacaan keputusan dilakukan malam hari setelah para demonstran yang melakukan aksi demo di sekitar gedung mahkamah konstitusi sudah pulang sehingga tidak terjadi aksi pengrusakan di sekitar gedung MK walaupun beberapa tempat, seperti patung kuda, rusak akibat banyaknya massa yang berdemonstrasi (untungnya kendaraan perang dunia kedua, UNIMOG berhasil disita karena akan menerobos pagar berduri).

Penasehat hukum kubu yang kalah melakukan protes karena hakim sama sekali tidak menyebut adanya kesalahan dalam pilpres kali ini. Padahal menurutnya sidang etik KPU, yang berlangsung sebelumnya, telah memecat dan menyatakan beberapa anggotanya telah melanggar etika. Tetapi sepertinya hakim masih menganggap pelanggaran etika tersebut belum sampai melanggar hukum (sama seperti sidang etik perwira pasca kerusuhan Mei 98 yang memutuskan Letjen Prabowo Subianto melanggar etika tetapi tidak melanggar hukum/tidak dihukum). Apa boleh buat, karena keputusan MK adalah keputusan terakhir dan mengikat, tidak boleh ada pihak lain yang keberatan terhadap keputusan itu.

Kubu Prabowo-Hatta, koalisi merah putih, segera mengadakan jumpa pers yang berisi penerimaan mereka terhadap keputusan MK walaupun berpendapat kurang tepat. Sayang tidak dihadiri oleh capres dan cawapresnya yang saat itu sedang mengunjungi para demonstran yang berada di rumah sakit terkena peluru karet, gas air mata, dan lain-lain. Sayangnya pula tidak ada kata-kata selamat terhadap presiden baru Indonesia, Joko Widodo dan wapres Jusuf Kalla.

Keesokan harinya di PRJ, Jokowi-JK mengadakan jumpa pers mengenai tugas-tugasnya yang berat setelah pelantikan nanti. Dimulai dari kasus kementrian yang harus dibenahi (dibuat ramping, sesuai idenya dahulu), hingga kasus subsidi BBM yang terlambat dihapus ketika presiden masih dipegang Susilo Bambang yudhoyono. Jusuf Kala mengatakan tidak menghapus subsidi BBM, hanya saja mengalihkan dari BBM ke rumah sakit, pendidikan, nelayan dan lainnya, dengan kata lain subsidi BBM menjadi subsidi rakyat. Selamat untuk presiden ketujuh Indonesia, Joko Widodo .. Salam tiga jari.

Hasil Pilpres 2014

Setelah hampir sebulan terjadi pertarungan sengit antara kubu pendukung calon nomor satu Prabowo Subianto dengan calon nomor dua Joko Widodo akhirnya pada tanggal 22 Juli 2014 KPU mengumumkan pemenang pilpres kali ini. Sebelum diumumkan, secara mengejutkan calon presiden Prabowo mengumumkan bahwa dia mengundurkan diri dari pilpres karena kecewa dengan kinerja KPU yang menurutnya tidak adil dan tidak demokratis. Namun KPU tetap pada pendiriannya untuk menyelesaikan perhitungan suara yang kurang dua provinsi lagi, yaitu papua dan sumatera utara walaupun saksi dari pasangan nomor urut satu meninggalkan ruangan KPU atas instruksi capres Prabowo Subianto.

Setelah seluruh provinsi dihitung dan dimenangkan oleh pasangan Joko Widodo – Jusuf kalla, untuk mengumumkan secara resmi presiden terpilih, rapat pleno diskors hingga pukul delapan malam. Kubu Prabowo bermarkas di Polonia, sementara kubu Jokowi mengadakan acara buka bersama sambil menunggu pengumuman KPU di Kebagusan, rumah kediaman Megawati Sukarnoputri.

Terlambat sekitar 30 menit, akhirnya KPU mengumumkan pemenang pilpres dengan terlebih dahulu membacakan hasil perhitungan suara di 33 provinsi. Hasilnya adalah Jokowi unggul sekitar 8 juta (53%) suara dari kubu prabowo (47 %). Kubu Prabowo diberi waktu tiga hari untuk mengajukan banding ke Mahkamah Konstitusi (MK) jika keberatan dengan hasil perhitungan suara KPU.

Setelah era pemerintahan yang tersentralisasi di jaman Sukarno dan Suharto, serta era transisi di jaman Habibie, Gus Dur, dan Megawati, akhirnya munculah era di mana sosok rakyat biasa bisa menjadi presiden setelah dua periode dikuasai oleh mantan militer (presiden SBY). Kali ini rakyat sudah meninggalkan bayang-bayang masa lalu di mana pemimpin harus memiliki keahlian di atas rata-rata atau keturunan dari pemimpin masa lalu dan bersifat sebagai “orang tua” rakyat biasa dan saat ini bisa membedakan antara “the king” dengan “presiden”. Bahkan ada ungkapan saat ini tetangga sebelah rumah bisa saja menjadi presiden, asalkan dipercaya oleh rakyat. Selamat untuk presiden RI yang baru Ir. Joko Widodo, eks Gubernur Jakartaf, Walikota Solo, pengusaha mebel .. dan alumni Universitas Gadjah Mada .. Kampus tercintaku.

Bhinneka Tunggal Ika … Kita Tentu Tidak Lupa

Ketika saya masih di sekolah dasar, di depan kelas selalu tergantung sebuah gambar burung dengan gagahnya melebarkan sayapnya. Waktu itu saya diperkenalkan dengan lambang nagara saya burung garuda pancasila. Dengan simbol sila-sila dalam perisai yang tergantung di lehernya, dan bulu-bulu yang melambangkan hari kemerdekaan, lambang itu terasa gagah menurutku. Yang unik adalah cakar di kaki yang menggenggam semboyan terkenal “Bhinneka Tunggal Ika”, yang merupakan selogan Mpu Tantular. Artinya adalah berbeda-beda tetapi tetap satu.

Tidak ada satupun siswa yang melecehkan, meledek, ataupun tidak setuju terhadap lambang negara Indonesia itu. Antara satu anak dengan anak yang lain tidak ada sama sekali perbedaan. Waktu itu saya tinggal di Jakarta Utara. Wilayah yang menurut saya cukup heterogen. Saya ingat salah seorang teman saya keturunan India, dengan agamanya yang Hindu. Saya kagum dengan kemampuannya bermain basket yang lincah, serta saya selalu kalah ketika pelajaran prakarya membuat patung dari tanah liat. Wilayah saya masuk kecamatan Tanjung Priok, wilayah dengan basis Islam yang fanatik. Mungkin pembaca pernah mendengar kasus tragedi priok tahun 80-an yang hingga tulisan ini dibuat masih menjadi misteri. Yang anehnya walaupun di basis Islam yang keras, toleransi tetap berjalan dengan baik. Anehnya, di wilayah saya yang hanya memiliki umat kristiani waktu itu yang kurang dari 10 orang, tetapi penduduknya mengijinkan dibuatnya gereja HKBP. Bayangkan jika saat ini proses pembangunannya, penduduk tidak bakal mengijinkan. Ternyata beda jaman, beda juga pemahamannya. Entah lebih baik atau lebih buruk, keputusan ada di tangan kita.

Sesekali saya bermain dengan rekan saya, namanya Johan Manto. Hemm .. sungguh di luar dugaan, saya masih mengingat namanya, ada di mana dia sekarang. Keluarganya adalah penganuh katolik yang taat. Sempat saya mampir ke rumahnya dan di ajak makan oleh ibunya yang baik hati. Sebelum makan mereka mengepalkan kedua tangannya, kemudia membaca doa sebelum makan ala nasrani. Tidak ada paksaan atau ajakan untuk beralih ke agama mereka, demikian pula saya tidak pernah mengajaknya ataupun mengatakan agama buruk, dan agama saya lebih baik. Walaupun tentu saja tiap pemeluk kepercayaan pasti beranggapan agama dan kepercayaannya lebih baik.

Saya ingat waktu itu wilayah kami merupakan wilayah konflik akibat banyaknya premanisme. Mungkin yang seumuran saya pernah mendengar adanya lagu berjudul preman yang dibawakan oleh Ikang Fawzi. Lagu yang cukup populer waktu itu memang menggambarkan kondisi sesungguhnya waktu itu. Namun dengan sikap keras era Suharto dengan kebijakan PETRUS-nya, banyak preman-preman yang jera dan alih profesi. Setelah preman tidak ada, saya merasakan udara sejuk yang tidak dapat saya jumpai hingga saat ini. Udara sejuk itu adalah rasa saling menghargai sesama manusia. Antara satu suku, agama, adat, dan lain sebagainya bisa langsung berbaur dan bergaul dengan baik. Yang saya bingung mengapa akhir-akhir ini sikap seperti itu seperti punah?

Masuk ke jenjang yang lebih tinggi, masih saya rasakan udara sejuk itu. Sepertinya di tempat lain sekitar kami juga demikian. Bulan puasa, dan hari raya idul fitri merupakan perayaan yang sungguh besar, benar-benar hari raya. Tidak ada kebahagian yang melebihi hari raya idul fitri dan bulan puasa ketika saya kecil. Beda dengan saat ini, dimana bulan puasa dan hari raya seperti sambil lalu saja. Entah mengapa, saya sendiri masih bingung. Islam yang kami anut waktu itu sangat berbeda dengan saat ini, mungkin waktu itu tidak ada internet, atau pun siaran tv langsung dari Mekkah. Tidak ada nuansa arab dalam pelajaran yang saya peroleh, semuanya murni dari alquran dan beberapa hadits, yang saya tidak tahu diriwayatkan oleh siapa. Walaupun beberapa kiyai tiap tahun pergi haji, tetap saja ketika kembali dan mengajar ngaji tidak 100% menggunakan atribut-atribut arab. Tetap saja mereka sama dengan penduduk yang lain, dengan sarung dan peci, cukup. Celana panjang biasa saja, tidak menggantung hingga 1/3 kaki, walaupun bagi saya tidak menjadi masalah. Jenggot pun tumbuh sekedarnya, tidak ada usaha untuk memanjangkannya dengan minyak penumbuh rambut atau sejenisnya. Sesekali pernah sebelum saya pindah ke Yogyakarta, ketika sedang bermain tenis, dua orang dengan jenggot panjang dan celana menggantung menghampiri saya dan teman saya, saya ingat namanya Laode Syainsyah. Untungnya ada facebook, saya jadi masih bisa berkomunikasi. “Anda beragama Islam?”, salah seorang bertanya ke kami, “Ya, bang”, jawab saya. Ayo ikut ke masjid, ambil sarung. Terus terang dengan wajah tegasnya saya ketakutan. Seorang mengikuti teman saya dan satu lagi mengikut saya ke rumah. Sampailah kami di masjid tempat saya mengaji. Ternyata mereka merupakan tamu yang akan menginap beberapa hari untuk dakwah. Tampak pula teman-teman saya yang lain yang ketangkep dan dipaksa ke masjid. Seperti biasa saya diberi tausyiah yang sedikit aneh. Dia mengatakan bahwa membunuh itu dosa kecil, sedangkan tidak shalat itu dosa besar. Saya yang berumur 12 tahun waktu itu secara logika menolak, tapi saya diam saja, dari pada benjol. Kemudian dia menerangkan sebuah surat pendek Aroaitallazi .. dst, yang tentu saja saya hafal. Tetapi anehnya dua ayat terakhir sepertinya dia lupa. Saya dan teman saya saling berpandangan dan ingin membenarkannya takut, akhirnya kami manggut-manggut saja seolah baru pertama kali mendengarnya. “Mau ke mana? Kata salah seorang yang jadi pemimpin rombongan itu kepada rekan saya yang mau keluar, “Mau ke toilet pa”, katanya dengan ketakutan, “ya, jangan lama-lama”. Lama saya perhatikan, dia tidak balik-balik. Kurang ajar, dalam hatiku, ternyata dia kabur. Si penceramah melihat saya yang sesekali melihat jam dinding, dan menegur saya, agar fokus. Tentu saja saya khawatir karena sebentar lagi saya harus masuk sekolah karena saya masuk siang ( smp kelas 1). Ketika shalat dzuhur dimulai, mohon maaf, saya harus kaburrrrrr.

Waktu terus berjalan dan saya SMA dan kuliah di Yogyakarta, tempat saya dilahirkan. Saya tinggal menumpang di rumah kakek nenek saya sebelum pindah kos karena letaknya yang jauh dari kampus. Sejak saat itulah mulai terasa perbedaan-perbedaan yang secara perlahan mengusik Bhinneka Tunggal Ika negara kita. Di kota gudeg, ternyata keberagaman lebih banyak lagi. Saya melihat sendiri rombongan anak muda dengan pakaian yang unik ala Bali yang akan bersembahyang. Bahkan di tempat kos saya ada satu area dengan tulisan Kundalini Yoga, yang mengajarkan meditasi ala Budha. Bahkan kakek tiri saya sendiri menganut ajaran apa saya tidak mengerti, katanya sih warisan dari majapahit. Tapi anehnya mereka tetap bisa berjalan seirama. Tetapi saya merasakan adanya suatu gerakan entah apa namanya yang secara perlahan-lahan ingin menyeragamkan segala sesuatu. Saya tidak berani menyebutkan itu aliran apa. Sungguh sesuatu yang menurut saya sangat berbahaya, karena sudah merasuki anak-anak muda terpelajar, bahkan yang kuliah di tempat saya, Universitas Gadjah Mada. Sempat selesai dari KKN, kami dan rekan sesama KKN ingin mengadakan pertemuan, seperti reuni kecil-kecilan. Ketika Maghrib, saya dan rekan saya, namanya Six Fatmanto, seorang yang taat beragama, saya lihat dari laporan KKN yang detil dan tidak berbohong seperti saya (walaupun menurut saya sih nyusahin diri sendiri aja), ketika akan pulang dihalangi oleh seorang mahasiswa muda, yang menurut saya ingin berdakwah. Tentu saja bagi saya baik, hanya saja caranya yang terkesan menggurui itu yang saya kurang suka. Bagaimana mungkin mahasiswa yang sebentar lagi wisuda diceramahi oleh mahasiswa baru, mengkritik saya yang menggunakan celana Jean, dan seterusnya. Ketika dia mengucapkan satu kalimat, “Terus terang saya tidak yakin apakah saya bisa masuk surga, semua itu kehendak Allah”, itulah saat yang tepat bagi saya, he he. “Baik ya dik, karena kita sama-sama tidak yakin bakal masuk surga, saya pamit dulu ya”. Kalimat saya di luar dugaannya, dia hanya terpaku ketika saya tinggalkan.

Saya tidak merasa cerdas, pintar, atau apapun sebutannya. Entah berapapun kapasitas otak kita, tidak seharusnya kita melupakan pesan Rasulullah, agar membaca. Bahkan malaikat jibril saja gemas dengan kekasih Allah ketika mengatakan tidak bisa membaca. Apalagi terhadap kita, bisa-bisa nanti kita jadi bulan-bulanan malaikan di alam nanti. Bacaanpun tidak pilih-pilih, baca saja semua, kita kan punya otak dan logika. Jangan sampai kita hanya boleh membaca aliran tertentu saja karena jika membaca aliran yang lain takut akan terpengaruh. Kalo kita baca A dan B dan menurut kita B lebih baik, ya tentu saja A harus instrospeksi dong. Jangan sampai kita memaksakan A dan melarang orang membaca B. Ada karikatur lucu:

Negeri Tetangga .. Thailand yang Unik

Berita kerusuhan di Thailand sudah tersebar hingga ke Indonesia. Tentu saja membuat cemas para orang tua yang anaknya sedang kuliah di sana, bekerja, dan sebagainya. Begitu juga keluarga dan sobat karib saya yang berada di Indonesia selalu menanyakan kondisi di sini, apakah seperti yang diberitakan di televisi?

(bbc.co.uk)

Sesungguhnya saya tidak begitu mengerti, tetapi karena banyak teman-teman kuliah saya yang orang Thailand, dan terkadang pengajar yang bukan orang asli sini kerap bertanya kepada mereka mengenai kondisi Thailand saat perkuliahan, saya sedikit banyak mengerti. Kondisi raja yang sudah berumur dan tidak begitu mencampuri lagi urusan pemerintahan, dan masalah-masalah lain yang berhubungan dengan sikap politik yang bagi partai oposisi menyimpang, menyulut pertentangan antara kubu kaos merah dengan kubu kaos kuning. Saya sendiri heran kenapa ada istilah warna seperti itu.

Ketika perdana menteri Thaksin jatuh dan melarikan diri, ternyata saat ini dikuasi pemerintahan dikuasai oleh Yingluck yang merupakan kerabatnya. Pemilu dimenangkan oleh Yingluck karena memang kebijakan Thaksin yang sejak dulu sangat mendukung pertanian. Mungkin sangat mirip dengan jaman Suharto dulu. Ketika Yingluck mengusulkan adanya undang-undang untuk pengampunan (mungkin ditujukan agar Thaksin dapat kembali ke Thailand dengan damai) muncullah protes keras dari kubu yang menjatuhkan Thaksin dulu. Saat ini terjadi dua demonstrasi antara kubu Yingluck (dari petani luar Bangkok) dan dari kubu oposisi (dari dalam kota Bangkok) yang jika sampai bertemu, sudah dapat dipastikan terjadi pertumpahan darah. Itu yang saya tangkap dari informasi sana sini. Saat tulisan ini dibuat, kerusuhan mereda karena Raja Bhumibol sedang ulang tahun yang ke-86.

(sindikasiberita.com)

Kondisi Geografis dan Budaya

Berbeda dengan Indonesia, Thailand sedikit unik. Seluruh sarana dan fasilitas terkonsentrasi ke ibu kota Bangkok. Tidak ada kota-kota besar seperti Bandung, Jogjakarta, Medan, dan kota besar lainnya selain Jakarta seperti di indonesia. Kebetulan saya sekolah di kampus yang terletak di pinggiran Bangkok. Dan memang saya merasakan ada kesenjangan antara kota dengan desa. Akan tetapi menurut saya bagus juga dari sisi budaya. Orang yang di luar Bangkok masih memiliki jiwa yang belum tercemar. Ketika menuju suatu Mall saya naik van (seperti angkot tetapi mewah, dengan AC dan kebersihan yang terjaga) dan yang membuat saya heran adalah ketika akan membayar, kita hanya meletakkan uang yang sudah tertentu harganya, kemudian nampan itu beredar di antara penumpang. Tidak ada kondektur, hanya seorang supir. Ketika semua selesai meletakkan uang untuk ongkos perjalanan ke nampan, sang supir pun sepertinya tidak menghitung lagi uang tersebut kurang atau tidak. Bayangkan jika ini diterapkan di Jakarta, uang yang beredar dijamin hilang.

Peran Raja

Saya pernah belajar geografi di sekolah, dan ketika mempelajari negara-negara ASEAN, saya sempat membaca negara Thailand, diman dipimpin oleh seorang raja dengan perdana menteri. Disebutkan juga Thailand merupakan satu-satunya negara yang tidak pernah dijajah. Di sini istilah dijajah berarti ditindas dan sumber daya alamnya dikuras habis oleh penjajah, sementara Jepang tidak bisa dibilang menjajah karena hanya menduduki untuk dijadikan basis pertempuran dengan sekutu, walaupun terkadang lebih kejam dari penjajah akibat kepepet dan harus menang dalam perang.

(Chiangmai-mail.com)

Salah satu hal yang ternyata menurut saya salah ketika mendapat pelajaran sejarah Thailand di sekolah adalah bahwa Thailand tidak dijajah karena memang kebetulan letaknya berbatasan antara jajahan Inggris di selatan dengan jajahan Perancis di utara. Masuk akal memang, tetapi ketika saya menelusuri situs-situs sejarah Thailand ternyata peran raja Chulalongkorn sangat penting ketika itu. Raja Chula merupakan raja yang disayangi oleh rakyatnya. Raja ini terkenal sebagai raja yang suka belajar dan berpetualang ke negara-negara lain. Dengan taktiknya silaturahmi ke negara-negara lain yang biasanya negara monarki juga, ketika Perancis dan Inggris akan menguasai Thailand, banyak bantuan dari sahabat-sahabat raja. Sesekali pernah Tsar rusia yang siap membantu jika diperlukan bantuan untuk menghadapi Perancis yang saat itu sudah menguasai Laos dan akan masuk ke Thailand. Jadi menurut saya alasan kenapa Thailand tidak dijajah karena letaknya yang berbatasan kurang tepat. Penjajah itu pintar, mengapa tidak dibagi dua saja Thailand? Biar sama-sama untung. Kalaupun memang sebagai negara pemisah, itu bisa saja taktik raja Chula yang cerdik. Toh, tetangganya, Kamboja, yang terletak di tengah-tengah juga jatuh ke tangan penjajah.

Pelajaran dari Negeri Gajah

Banyak hal-hal positif yang bisa diambil dari negeri ini dan diterapkan di tanah air. Thailand merupakan negara dengan mayoritas memeluk Budha dan menerapkan ajaran Darma setiap hari. Walaupun di kota masih kerap dijumpai pencurian, dan kejahatan lainnya, tetapi di desa-desa mereka masih mempercayai adanya hukum karma. Kadang saya malu dengan negara saya yang mengagung-agungkan Islam sebagai rahmatan lil alamin tetapi perilakunya jauh dari kemulian agama yang dia anut. Memang saya sendiri pun masih jauh dari sempurna. Tetapi jika menganggap diri kita lebih baik dari orang lain, bisa saja mendatangkan setan untuk menyelinap masuk lewat ajaran yang kita anut. Dengan memutar dalil-dalil bisa saja setan menyusup. Menghalalkan yang haram dengan alasan tertentu yang terkesan lebih urgen. Dengan adanya amalan-amalan tertentu yang menghapus dosa-dosa yang telah dibuat, menurut saya juga sangat memungkinkan syetan untuk menyelinap masuk. Masuk ke dalam relung-relung fikiran kita secara halus tanpa kita sadar. Dengan dalil-dalil tertentu, bisa saja saling membunuh karena merasa suatu ajaran menyimpang. Di sini, membunuh semut pun mereka enggan. Burung perkutut dan tekukur yang sering terdengar di sekitar kos tempat saya menginap bebas berkeliaran dan tidak ada yang berupaya untuk menangkapnya. Beda dengan kondisi di tanah air. Apapun yang bisa dijadikan uang, diambil tanpa pandang bulu, hutan yang kian gundul, pembakaran hutan untuk membuka lahan, pengeboran yang merusak lingkungan seperti di Lapindo, membuat malu jika didengar oleh anak cucu kita nanti, semoga. Ya, semoga anak cucu kita tidak memiliki pemikiran miring seperti pendahulunya.

(Perkutut liar)

Menurut saya, jakarta harus banyak belajar dari kota Bangkok. Kebersihan, jalur transportasi yang beragam, tata kota dan kedisiplinan warganya patut diacungi jempol. Budaya antri yang tinggi dengan kesabaran berkendara dapat dijumpai di mana-mana. Tidak seperti Jakarta yang penuh dengan klakson ketika macet, di Thailand walaupun macet, hampir tidak terdengar adanya suara klakson. Penyeberang jalan sangat dihormati. Ketika ada sebuah mobil akan keluar dan menuju jalan raya dan ada orang yang melintas, mereka cenderung menunggu pejalan kaki lewat. Jika dijumpai pejalan kaki yang berhenti karena melihat ada mobil yang akan keluar, dipastikan itu orang Indonesia (waktu itu saya J). Karena sudah kebiasaan sebagai orang Jakarta harus waspada, meleng sedikit ditabrak.

Keberhasilan dalam menanggulangi AIDS sungguh prestasi yang membanggakan. Bandingkan dengan negara kita yang saat ini secara mengejutkan katanya kita gagal mengatasi HIV/AIDS yang sudah berlangsung selama 7 tahun. Ketika pekan kondom yang kontroversial di tanah air berlangsung, justru Chiang Mai University Thailand melakukan riset dan mengatakan kondom tidak aman terhadap AIDS. Pori-pori kondom 400 kali lebih besar dibanding virus HIV itu sendiri. Kalaupun alasannya untuk penyakit kelamin jenis lain seperti sipilis yang berasal dari bakteri, toh penyakit itu sudah ada obatnya, beda dengan HIV/AIDS. (https://www.academia.edu/566646/RELIGIOUS_APPROACHES_TO_HIV_AIDS_PREVENTION_IN_THAILAND). Mungkin satu-satunya peran kondom adalah menghindari penderita HIV/AIDS melahirkan bayi yang HIV/AIDS juga karena kondom berfungsi sebagai alat KB. Jika saya perhatikan dengan iklan kondom untuk KB ketika saya sekolah tahun 90-an dulu (dengan selogan terkenal ya ya ya ..) justru lebih cerdas dan memahami benar fungsi kondom, dibanding saat ini yang memfungsikan kondom sebagai alat melawan HIV/AIDS dan justru membuat rasa aman bagi pelaku sex baik yang sudah mengetahui terjangkit HIV/AIDS maupun yang belum.

Untuk para pemimpin negeri ku, di tanganmu lah segala kebijakan bermula dan segala akibat (baik/buruk) akan kami tanggung bersama. Saya pun merasakan betapa berat bebanmu. Tapi jika engkau bergaul dan berdiskusi dengan orang yang tepat tanpa mementingkan kepentingan pribadi atau golongan, saya yakin Allah berada di sisi Anda.

Praktek Dunia Kerja vs Teori di Kampus

Beberapa ilmu berasal dari teori, tetapi beberapa juga berasal dari praktek berupa uji coba. Bahkan ada ilmuwan terkenal yang jago dalam uji coba di laboratorium tetapi lemah dalam analisa matematis misalnya Faraday (walaupun masih belum jelas karena sikapnya yang praktis dan rendah hati serta anti popularitas). Berbeda dengan Albert Einstein yang benar-benar matematis. Dari pada berdebat lebih baik ambil jalan pintas, gunakan dua-duanya.

Saya ingat waktu pertama kali bekerja sebagai tenaga pengajar di suatu institusi komputer. Mengajar adalah pekerjaan pertama saya karena waktu itu jamannya krisis (awal tahun 2000) dan sulit mencari kerja. Suatu kali saya menguji sidang tugas akhir seorang siswa, temanya tentang jaringan komputer. Kami beradu argumentasi tentang pewarnaan pada kabel utp cat 5. Dia menyatakan bahwa warna pada kabel berpengaruh, dan saya tidak setuju dengannya, dia tidak bisa membuktikannya. Beberapa tahun kemudian saya diterima bekerja di salah satu bank berskala nasional di Jakarta. Di salah satu cabangnya di daerah asem reges saya menemukan jawaban mengenai pewarnaan pada kabel. Kejadiannya adalah ketika bank tersebut mengontrak suatu perusahaan jasa cabling. Dia memasang kabel jaringan tanpa memperhatikan warna, asalkan tetap straight dan ditest dengan tester ok, tiap pin terhubung dengan baik. Tetapi apa yang terjadi? Waktu itu tidak ada masalah sesungguhnya ketika PC masih menggunakan IBM Pentium III. Kebetulan ada project pergantian PC dan ketika dipasang dengan PC HP Pentium 4, walaupun sudah disetting IP Address dengan benar tetap tidak terhubung. Kebetulan pihak vendor pemasang kabel masih ada waktu itu. Dia tetap ngotot bahwa saya yang salah mensetting IP address. Akhirnya saya buktikan dengan memasang satu kabel sesuai standard warna, ternyata PC baru tersebut berjalan normal (reply ketika di ‘ping’). Sementara ketika saya colok dengan kabel buatannya tidak berjalan. Dan saya jelaskan juga bahwa kabel buatannya memang bisa berjalan dengan PC lama tapi tidak dengan PC baru. Akhirnya mereka melakukan crimping ulang seluruh kabel yang dia pasang, sebab kalau sampai laporan ke pihak manajemen, vendor tersebut tidak akan dipercaya lagi. Sampai tulisan ini dibuat, saya tidak mau melaporkan hal tersebut ke pihak manajemen karena saya khawatir berdosa karena mematikan rejeki perusahaan orang beserta dengan karyawan-karyawannya. Yang penting mereka sadar atas kekeliruannya.

Beberapa teori yang saya pelajari, sangat membantu ketika mempraktekannya secara langsung di dunia kerja. Jika ada yang beranggapan bahwa kuliah IT tidak ada gunanya, kalah dengan kursusan, jangan salahkan kalau anda terhukum atas pandangan Anda, apalagi sampai membuat blog dan mempublish dan banyak yang percaya dengan anggapan keliru Anda. Sama saja Anda melarang menanam padi, lebih baik beli saja karena lebih murah, dari pada menanam sendiri lebih mahal dan buang-buang waktu. Anda akan tergantung. Alangkah baiknya jika kita kirim ahli pertanian ke negara yang memiliki pengalaman bercocok tanam, agar ilmunya bisa ditularkan ke petani kita sehingga hasil produksinya lebih baik dan harganya terjangkau. Begitu pula ketika Anda beranggapan kursusan lebih baik, karena memiliki ketrampilan, sertifikat profesional dan sejenisnya, dan tidak ada gunanya perguruan tinggi memiliki jurusan IT, Anda akan tergantung. Alangkah baiknya kita kirim orang untuk belajar ke tempat lain yang memiliki pengalaman mengutak-atik, merekayasa, dan mengembangkan IT, agar ketika selesai belajar dapat menularkan ilmunya sehingga bisa membuat basis IT yang independen dan bebas platform.

Beberapa bidang sangat sulit disentuh oleh dunia praktek seperti manajemen, penjadwalan, organisasi, leadership karena untuk mempraktekannya Anda harus masuk ke wilayah tersebut. Sementara untuk bekerja sebagai pimpinan, pengambil keputusan, divisi manajerial, jarang perusahaan yang menerima karyawan tanpa pengalaman kerja (kecuali jika Anda masuk lewat jalur ‘khusus’). Karena saya tidak pernah memperoleh teori di bidang itu, saya pernah sekali hampir dipecat karena lalai melakukan manajemen di salah satu cabang di Pulogadung, padahal cabang itu merupakan kantor kas dengan transaksi harian hampir menyentuh angka milyaran. Bayangkan, bagaimana mungkin tiga jenis backup (kaset, harddisk, pc backup) tidak ada yang berfungsi ketika server down. Sungguh amat berharga karena kurangnya teori mengakibatkan kehilangan hampir 60 juta rupiah waktu itu (kurs 1 dollar masih seputar rp 5000-an). Tetapi tetap saja, pengalaman adalah guru yang amat berharga. Lantaran itu pulalah Bill Gate enggan memecat karyawannya yang membuat kerugian besar akibat salah disain. Termasuk saya, tidak jadi dipecat karena jika saya dipecat selain mereka kehilangan 60 juta rupiah, juga kehilangan karyawan yang memiliki memiliki pengalaman seharga itu. Tentu saja beda kalo hilangnya 60 juta itu karena dikorupsi (kalo dipertahankan bisa korupsi lebih hebat lagi).

Kesimpulannya, antara teori dan praktek saling mendukung. Mengapa Anda mengharuskan seorang IT mengerti pemrograman bahasa tertentu? Padahal algoritma itu yang terpenting. Tahukah Anda? mahasiswa doktoral antara tahun 1960 – 1970 kebanyakan menghasilkan sebuah bahasa pemrograman. Cukuplah sadari dengan rendah hati jika kita hanya bisa membuat program enterprise, hanya bisa mengelola jaringan, hanya bisa mengamankan suatu sistem, hanya memiliki tiga atau lebih sertifikat IT, hanya bisa membuat pusat training IT berskala internasional, hanya bisa membangun kampus IT world class. Jangan sampai menyombongkan diri lantaran memiliki pengalaman kerja sebagai pelayan IT cukong-cukong, meretas situs2 orang, menyepam google/orang lain sambil menjajakan online obat kuat.

Mengaktifkan Save Mode Windows 8

Kemarin karena menginstall plugin untuk mempercantik tampilan windows bernama valentin pack yang ternyata untuk windows 7, ketika login, laptop istri saya hang dengan tampilan layar hitam dan mouse yang memang berubah menjadi gambar love. Untuk memperbaikinya tentu saja meng-uninstall aplikasi tersebut, tapi bagaimana? Ketika start windows langsung mengakitfkan plugin tersebut.

Salah satu caranya adalah dengan masuk ke save mode, kemudian menguninstallnya. Oke, langsung saja, untuk masuk ke pilihan Save Mode, windows 8 mengharuskan kita menekan Shift + F8. Beberapa kali ketika saya pandu istri saya terlambat menekan dan masuk ke menu login windows lagi, oleh karena itu harus diulang dengan restart. Jika berhasil (biasanya ada pesan waiting ..), maka Anda akan masuk ke menu sebagai berikut:

Pilih saja See andvanced repair options. Pilih yang tengah, troubleshoot.

Berikutnya akan muncul tampilan menu di bawah ini:

Untuk lanjut ke Save Mode, dapat anda tekan Windows Startup. Untuk kasus istri saya, cara termudah adalah masuk ke System Restore dan memilikih set point waktu yang lampau. Jika dijalankan akan meng-uninstall beberapa program yang diinstall setelah waktu set point. Satu kali istri saya gagal (ada pesan bahwa system restore tidak berhasil). Itu mungkin karena waktu setpoint yang dipilih terlalu lama. Akhirnya setelah memilih set point pada waktu yang tidak jauh dari saat ini, berhasil dan plugin yang terinstall dan menyebabkan windows 8 error berhasil di-uninstall. Ok, jika akan masuk ke Save Mode, pilih saja Windows Startup Settings. Pada beberapa versi windows sedikit berbeda, ada yang langsung restart, ada pula yang diminta setelah restart menekan tombol F1 – F9. Pilihan untuk save mode adalah F4. Jadi ketika restart, Anda harus siap-siap menekan save mode.

Restart, dan Anda siap masuk save mode.

Kuliah Lagi ..

Ketika SMA saya merupakan siswa yang lumayan, maksudnya lumayan bagus nilai mata pelajarannya. Bukan karena cerdas, tetapi karena serius dan belajar dengan tekun. Beda dengan teman-teman saya yang lain yang memang cerdas bawaan lahir, dengan belajar sedikit, langsung memahami. Sementara saya harus begadang semalaman untuk memahami suatu materi, apa boleh buat. Tidak apa, toh itu membuahkan hasil, hingga saya lulus UMPTN dan masuk di jurusan Teknik Mesin, jurusan yang sulit menurut saya. Buktinya saya butuh waktu enam tahun untuk memperoleh gelar sarjana teknik.

(Tak disangka yang saya salami itu, alumni AIT juga)

Ternyata wisuda merupakan kebahagiaan sesaat karena hampir setahun saya menganggur, ditolak ketika melamar di sana sini, maklum tidak jauh tahunnya dari krisis moneter waktu itu. Akhirnya karena kepepet, saya ditawari mengajar oleh sepupu saya di salah satu kampus di Jakarta. Jurusan yang saya ajar pun jauh dari jurusan saya ketika kuliah, yaitu jurusan Teknik Komputer. Terus terang, saya di sana bukan ngajar, tapi belajar, apa boleh buat. Dengan berbekal dengkul, saya bekerja dengan menaiki beberapa angkutan umum.

Karena tuntutan profesi, saya mencoba untuk kuliah S2 di UI, mengambil jurusan Teknik Mesin, seperti jurusan S1 saya, dan Alhamdulillah diterima. Tetapi ketika melihat uang kuliah sebesar 11 juta rupiah di awal, saya langsung berfikir, keluarga yang baru saja saya jalani, mau tidak mau harus berfikir ulang untuk mengeluarkan uang sebesar itu. Akhirnya saya lepas kuliah di UI dan uang tersebut kami gunakan untuk mengkredit rumah BTN. Sedih juga, tapi apa boleh buat, hidup itu pilihan.

Tetapi di saat bersamaan, di tempat saya mengajar dibuka kelas S2, dan saya walaupun tidak gratis mendapat potongan yang lumayan besar jika kuliah di sana. Akhirnya saya ambil kuliah tersebut dengan jurusan ilmu komputer (M.Kom). Dengan mudah saya jalani kuliah tersebut dan lulus tepat waktu (1,5 tahun). Ternyata dari studi tersebut saya memperoleh banyak manfaat, mulai dari banyaknya jam mengajar hingga saya memperolah sertifikasi dosen, dimana mensyaratkan strata 2 jika ingin mendapatinya. Dan satu hal yang terpenting adalah dengan gelar S2 itu saya diterima di kampus Asian Institute of Technology (AIT) thailand (www.ait.ac.th) pada jurusan Computer Science program Ph.D, tentu dengan beasiswa (BPPLN Dikti), karena tidak mungkin saya dan kampus saya membiayai uang kuliah yang hinggu lulus sekitar setengah milyar. Ternyata AIT merupakan kampus andalah beasiswa sejak lama, walaupun sempat terkena banjir, tetapi perlahan-lahan mulai bangkit dan peminatnya mulai bertambah.

Kampus tersebut dari sisi ranking memang tidak begitu menonjol, tetapi alumninya banyak tersebar di seluruh dunia, karena kampus itu masuk kategori kampus internasional, hampir semua mahasiswanya adalah penerima beasiswa (maklum uang kuliahnya hampir dua kali kampus terkenal seperti Mahidol dan lain-lain). Salah satu alumni dari Indonesia yaitu Prof. Joko Santoso, yang pernah menjadi rektor ITB dan UI, dan saat tulisan ini dibuat merupakan dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI). Dan beliau menjadi alumni kehormatan AIT, beserta putri raja Thailand dan beberapa alumni dari berbagai negara yang lain.

(Prof. Joko Santoso. Sumber: Wikipedia)

Selain itu, yang mengejutkan saya, mantan rektor UGM, yaitu Prof. Sudjarwadi, yang ketika saya wisuda bersalaman dengannya juga S2 di tempat saya saat ini mengambil S3.  Begitu pula, salah satu rekan kerja saya yang sekarang sudah dipanggil Allah sebulan yang lalu, Bpk Soedarmin, ternyata sempat beberapa bulan kursus di sana, dan banyak menceritakan kehidupan di sana. Sayang ketika beliau dipanggil saya tidak sempat ke rumahnya karena sudah berangkat ke Thailand, semoga damai di alam sana.

(Bersama Alm Soedarmin, ketika mengecek alat uji tekan beton di lab Sipil)

Sungguh hidup itu berputar-putar saja, tidak jauh dari yang pernah menghampiri kita walau sesaat. Tinggalah saya, alumni mesin yang sedang mengemban tugas berat menaklukan degree tertinggi Computer Science, semoga berhasil. Amiin.