Mencoba Open Journal System (OJS) Versi 3.1.0.0

Oleh: Herlawati

Ketika memberi pelatihan OJS 3 di kampus UNISMA Bekasi, ada beberapa hal baru yang dapat dibagikan di sini. Pertama-tama ternyata OJS saat ini masuk versi 3.1.0.0 dengan tampilan yang lebih “smooth” dibanding versi 3.0. Berikut beberapa hal spesifik yang menjadi kendala saat itu:

Role “jurnal manager”

Jurnal menager memiliki hak akses untuk melakukan beberapa aksi seperti mempublish artikel baru. Tetapi beberapa role harus diset di level di atasnya (admin) dan tidak mengikuti default-nya. Sebab jika mengikuti aturan default dari bawaan OJS3 memiliki banyak keterbatasan, terutama bagi pengelola jurnal baru yang harus mengupload edisi-edisi cetak lawas yang harus dionline-kan. Tentu saja jangan disamakan level jurnal manager dengan admin karena khawatir pengelola jurnal merusak e-journal (berisi beberapa jurnal di suatu institusi). Uniknya akun yang sudah dibuat default tidak bisa diedit, dan harus dibuatkan akun baru dengan hak akses yang tidak default. Terpaksa membuat akun-akun baru jurnal manager dengan hak akses yang tidak default (dengan fasilitas khusus).

Menu tambahan

Beberapa peserta berhasil menambahkan menu tambahan, tetapi ada satu jurnal yang tidak bisa ditambahkan menu tertentu seperti “Editorial Team” yang berisi nama-nama pengelola suatu jurnal. Kasus ini agak rumit karena hanya satu jurnal yang bermasalah sementara jurnal-jurnal lainnya oke.

Upload Gambar

Ketika menambahkan teks statis di bar vertikal kanan, dan akan memasukan logo/gambar ternyata tidak bisa upload gambar. Tetapi dengan menggunakan gambar/logo dari link sumber lain ternyata bisa. Sepertinya masih harus diteliti masalah upload gambar di OJS 3.1.0.0 ini.

Masih banyak hal-hal teknis yang perlu dibenahi. OJS buatan PKP ini pun terus membenahi diri dengan mempermudah penggunaannya. Maklum tidak semua pengguna memiliki background komputer. Oiya, silahkan berkunjung ke jurnal yang diutak-atik barusan di link berikut ini. Sekian semoga bermanfaat.

Pelatihan OJS3

Update: 24 Februari 2018

Info dari pertemuan antar pengelola jurnal di LIPI bahwa migrasi dari OJS 2 ke OJS 3 harus hati-hati mengingat tiap artikel yang dipublikasi memiliki Digital Object Identifier (DOI) yang unik dan ketika migrasi harus dipastikan tidak berubah. Sementara info dari PKP, perancang OJS, menyebutkan versi 3 memiliki keunggulan lebih dinamis, mudah dikustomisasi, dan theme yang lebih menarik. Silahkan lihat di link resminya.

Open Journal System (OJS) Versi 3

Oleh: Herlawati, S.Si., M.M., M.Kom. (STMIK Bina Insani)

Open Journal System (OJS) adalah aplikasi gratis untuk mengelola jurnal. Aplikasi ini dibuat oleh Public Knowledge Project (PKP), silahkan kunjungi situsnya. Saat ini OJS sudah versi 3 dengan tambahan utama misalnya ORCID ID terlihat, serta tahapan proses publikasi lebih singkat dibanding OJS versi sebelumnya (versi 2). Selain itu tampilan lebih halus, bentuk sitasi yang kustom, dan lain-lain.

Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi tim Relawan Jurnal Indonesia (RJI). Beberapa waktu yang lalu, sebagai contoh perguruan tinggi Bina Insani mengadakan pelatihan OJS tersebut. Postingan tentang pelatihan kustomisasi OJS 3 dan MOU dengan pihak Relawan Jurnal Indonesia (RJI) korda Jakarta dapat dilihat link berikut ini.

Salah satu kustomisasi adalah mengaktifkan plugin. Plugin ini berfungsi untuk menseting komponen-komponen tertentu di OJS, seperti menambah focus and scope, peer review, template, alamat redaksi, stats counter, dan lain-lain. Silahkan video tutorialnya berikut.

Setelah diaktivasi, untuk menambah salah satu komponen, misalnya stats counter, akan dilanjutkan pada postingan lainnya.

Buku Teks vs Buku Elektronik dan Online

Media cetak dikabarkan mulai terdisrupsi dengan media elektronik dan online. Surat kabar-surat kabar mulai ditinggalkan dan pengguna cenderung lebih suka membuka website ketika ingin melihat berita. Media online lebih disukai karena sifatnya yang hampir realtime, dibanding misalnya surat kabar yang harus menunggu esok hari untuk melihat berita hari ini. Tetapi bagaimana dengan buku teks pelajaran?

Beberapa buku sudah saya coba terbitkan (terakhir database pada Matlab). Selain dari sisi materi (royalti), ada hal-hal lain yang dapat saya pelajari dari sudut pandang penerbit. Salah satunya adalah bagaiman mereka bisa eksis hingga saat ini, yang katanya masuk dalam era “disrupsi”. Mungkin beberapa aspek luput dari pantauan saya, tetapi beberapa point berikut mungkin bisa jadi bahan referensi.

Tuntutan Referensi

Selama masih ada orang yang kuliah, menulis tugas akhir/skripsi/disertasi, dan kegiatan akademik lainnya, tuntutan buku referensi pasti ada. Bahkan beberapa buku yang sudah saya publikasikan, habis dan harus dicetak ulang. Walaupun blog, youtube, dan instagram sedang “trend”, tetap saja tidak bisa dijadikan bahan rujukan resmi.

Perkembangan Teknologi yang Pesat

Beberapa ilmu, misalnya teknologi informasi, perkembangannya sangat pesat. Satu buku yang membahas suatu metode terkini, beberapa tahun kemudian akan jadi usang. Maka tuntutan buku panduan yang baru terus ada. Jika dulu buku referensi biasanya kampus mensyaratkan lima tahun terakhir, ternyata buku yang saya tulis 2015 sudah habis di tangan penerbit. Bagaimana jika dicetak lagi? Sepertinya masuk akal, tetapi penerbit lebih suka melakukan revisi (edisi kedua, tiga, dst) dibanding sekedar mencetak ulang. Hal ini karena pasti ada perkembangan baru selama buku tersebut beredar di pasaran yang harus di-update. Juga masalah pembajakan membuat penerbit terpaksa mencetak hal-hal baru.

Kewajiban Menulis bagi Pengajar

Ini merupakan pemicu tetapi hanya untuk pengajar yang produktif saja. Walau dipaksa jika pengajar tersebut enggan menulis tetap saja tidak tercipta satu karya. Namun dengan aturan, biasanya akan jalan juga, mirip kasus dosen harus S2. Rekan-rekan saya yang malas studi lanjut terpaksa kuliah lagi, atau menyelesaikan kuliah S2-nya yang terbengkalai bertahun-tahun.

Lebih Nyaman Membaca Buku Tercetak

Tidak disangkal buku dalam format PDF banyak dijumpai di internet. Terkadang jumlahnya sangat banyak, hingga bingung dan satu pun tidak ada yang dibaca. Ingat era “big data”, bahwa mencari informasi berharga sama beratnya dengan membuang informasi yang tidak berharga. Bill gates sendiri menyarankan kita membaca buku teks dibanding online. Memang beberapa pemerhati lingkungan mengatakan buku menghabiskan kayu di hutan, tetapi membaca online membutuhkan listrik yang diambil dari sumber yang belum tentu “green”, misalnya solar, bahkan nuklir. Server Google sendiri (ditambah server-server online lainnya) membutuhkan air berkubik-kubik untuk media pendingin padahal beberapa daerah di belahan dunia kekurangan air.

Harga Buku Bersaing

Ketika melihat buku karangan sendiri di toko buku, tampak kertas yang kualitasnya rendah. Tapi harganya yang murah membuat orang lebih baik membeli asli dibanding memfoto kopi sendiri karena selisihnya yang tidak terlalu signifikan. Pembajakan pun akhirnya sedikit banyak dapat diatasi. Tapi jumlah penduduk negara kita yang banyak, jumlah kampus dan perpustakaan yang kabarnya lebih banyak dibanding negara RRC membuat permintaan buku tetap ada, tinggal memasyarakatkan budaya membaca saja. Maklum budaya membaca negara kita sangat lemah (maksudnya membaca tulisa utuh, bukan status di medsos, atau baca judul informasi yang dishare orang saja).

Banyak Toko Online

Mungkin orang malas ke toko buku, tetapi dengan adanya toko online mereka dengan mudah memesan buku yang harganya jauh lebih murah dari beli ke toko buku. Sudah biasa saat ini, penulis ikut juga menjual bukunya, dengan harga jauh lebih murah. Rekan saya yang diwajibkan “stor buku” saat wisuda pun sempat kewalahan karena “jatah buku” yang harus disetor tidak ada di pasaran (sudah habis). Namun ternyata dengan memesan langsung ke penulis akhirnya dapat juga.

Sepertinya masih banyak faktor-faktor pendukung lainnya. Aspek online yang tadinya tantangan bagi buku ofline terkadang bisa membantu juga, seperti sistem searching yang memudahkan penulis mencari informasi baru, sistem anti plagiasi yang mudah bekerja karena segalanya tersedia online dan lainnya. Jadi memang mudah mencontek, tetapi mudah pula mengecek seseorang plagiasi atau tidak. Hal ini memaksa pengajar menulis tulisan original sendiri. Malu kalau ketahuan copas sana sini. Sekian … semoga menginspirasi.

 

Perbedaan Artikel Riset dan Artikel Review

Ternyata artikel (paper) dalam jurnal ada dua jenis, yaitu artikel riset yang merupakan laporan hasil penelitian dan artikel review yang berisi pembahasan terhadap trend perkembangan riset penulis-penulis lainnya. Walaupun artikel review hanya membahas/me-review artikel-artikel riset peneliti lain, tetapi sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang ingin memulai penelitian, biasanya para mahasiswa, terutama program master atau doktoral. Artikel review juga memiliki keunggulan dari sisi jumlah sitasi yang biasanya banyak. Berikut perbedaan-perbedaan antara dua jenis artikel tersebut.

Tujuan Artikel

Artikel riset membahas laporan riset yang menjawab pertanyaan riset penulis. Keoriginalitasan dan keunikan menjadi penentu kualitas tulisan. Sementara artikel review mengkritisi tulisan orang lain (kelemahan dan kelebihan). Artikel review membutuhkan artikel yang banyak untuk dikritisi. Pengalaman penulis terkadang menentukan kualitas artikel review.

Basis Tulisan

Artikel riset berasal dari hasil penelitian yang original seorang penulis. Oleh karena itu sering disebut sumber tulisan primer. Sementara itu artikel review berasal dari tulisan orang lain (bukan original). Walaupun demikian tetap saja tulisan jenis ini dibutuhkan karena memberikan informasi-informasi penting terkait dengan trend terkini suatu penelitian.

Cara Penulisan

Artikel riset menulis berdasarkan pertanyaan penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data dan tahapan-tahapan riset lainnya (dari analisis hingga kesimpulan). Berbeda dengan artikel riset yang berdasarkan pertanyaan penelitian, artikel review berdasarkan pemilihan penulis terhadap topik khusus yang akan dibahas dilanjutkan dengan menampilkan overview dari artikel-artikel yang diteliti.

Apa yang Dilaporkan

Artikel riset menulis abstrak, hipotesa, background study, metodologi, hasil dan interpretasi temuan hingga hasil, temuan, dan riset yang akan datang. Sementara itu pada artikel review penulis mendeteksi variasi-variasi antara satu artikel dengan artikel lainnya. Terkadang terjadi konflik antara satu artikel dengan artikel lainnya. Penulis kemudian mendeteksi mengapa terjadi kontradiksi pada tulisan-tulisan tersebut berdasarkan riset yang dilaporkan tulisan tersebut.

Panjang Tulisan

Artikel riset (3000-6000 halaman, bahkan ada yang 12000) umumnya lebih panjang dibanding artikel review (3000-5000). Artikel riset memiliki tujuan lainnya yaitu agar riset dapat diduplikasi/diulang oleh peneliti lain, sehingga butuh informasi lengkap mengenai data dan metodenya.

Artikel review memiliki tiga bentuk yaitu naratif, sistematik dan meta-analysis. Bentuk naratif berisi penjelasan suatu artikel yang dipublikasikan. Sementara itu, sistematik lebih mendalam dari sisi pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dalam suatu riset. Meta-analysis membandingkan dan mengkombinasikan temuan-temuan artikel-artikel riset. Agar artikel review bisa “accepted” di journal internasional perlu terlebih dahulu memperhatikan kelayakan tulisan kita untuk dipublikasikan. Beberapa kampus yang membuka program doktoral yang mensyaratkan publikasi jurnal tidak mengakui artikel review sebagai syarat lulus. Oleh karena itu tidak disarankan bagi mahasiswa doktoral menulis jenis artikel review ini. Sekian semoga bermanfaat.

Referensi:

Metode Increment dan Iterasi dalam Penulisan

Tiap orang memiliki gaya masing-masing dalam membuat tulisan (proposal, tesis, disertasi, dan sebagainya). Selain dalam menulis, ketika me-manage pun berbeda-beda. Salah satu gaya yang saya sukai adalah tipe increment dan iterasi, mirip perancangan perangkat lunak. Untungnya pembimbing juga memiliki tipe yang sama, jadi bisa klop dan proses penulisan jadi cepat.

Bagaimana bisa tahu pembimbing bertipe increment atau tidak? Saya peroleh informasi senior yang mengajukan bab 1, bab 2, dan seterusnya, ternyata tidak terlalu direspon. Repot juga kalau begitu, bisa nggak selesai-selesai kalo tipenya waterfall begitu. Akhirnya saya coba nekat dikit, karena waktu yang mepet, saya coba waktu itu proposal hanya 5 lembar. Terlihat “gila”, tetapi isinya lengkap bab I sampai bab IV hingga daftar reference. Dengan dijilid steples pula .. hehe.

Proposal 5 lembar ini sebaiknya jangan ditiru karena kerjaan orang nekat dan kepepet deadline. Hal ini terjadi karena datang ke kampus telat dari Indonesia, masalah administrasi yang ribet, ditambah advisor pertama yang menolak membimbing karena tidak begitu menguasai data spasial, dan masalah-masalah lainnya. Ketika melihat dia merespon, memperbaiki judul dan mengusulkan anggota pembimbing, dapat disimpulkan dia juga tipe yang sama. Tentu saja saya diminta revisi proposal tersebut (25 – 30 halaman).

Dalam waktu beberapa hari yang terbatas, tulisan bisa dikembangkan menjadi 25 halaman. Seperti biasa, corat-coret dan minta ditambahkan hingga 35 – 40 halaman. Dan dalam waktu beberapa hari jadi juga 31 halaman, walaupun kurang dari yang diminta (35-40 halaman).

Akhirnya jadi juga proposal sekitar 35 halaman yang kemudian diuji dalam sesi yang dikenal dengan istilah ujian Candidacy (perubahan status dari “calon kandidat doktor” menjadi “kandidat doktor”). Lumayan berat karena sifat riset yang multidisiplin dengan para pembimbing yang berasal dari bidang computer science, urban environment, dan remote sensing – GIS, serta saya sendiri dari information management. Advisor pun ternyata mempelajari gaya saya yang jika diberi instruksi berupa range, misal 25 sampai 30 halaman, saya cenderung membuat “tarif bawah”, lama-lama dia menginstruksikan angka pasti, misal “buat 50 slide”, yang mau tidak mau saya memilih 50 slide. Postingan ini hanya pengalaman pribadi yang tentu saja terkadang tidak cocok dan tergantung dari style masing-masing dan juga dosen pembimbing. Semoga bermanfaat.

Biaya Studi Doktoral

Iseng-iseng buka Sistem Informasi Akademik (SIS) kampus tempat kuliah, mumpung masih bisa buka. Terutama di bagian tagihan (SPP, listrik, dan kos). Ternyata lumayan juga, dari tahun 2013 hingga Januari 2018 ternyata menghabiskan dana hampir 700 juta (kalau hanya uang kuliah sebesar Rp. 600 juta). Lumayan juga.

Ketika saya ngobrol sambil ngopi dengan teman yang juga kuliah di sana, dari Dep. Pertanian, ternyata saya lupa, itu belum biaya hidup yang sebulanya dari pemerintah sekitar $600 (Rp. 8,4 juta utk kurs $1= Rp. 14.000). Jika dihitung selama 4 tahun (48 bulan) maka menghabiskan sekitar Rp. 400 juta. Jadi total pemerintah menganggarkan untuk satu mahasiswa doktoral sebesar Rp. 1 Milyar. Angka yang cukup besar. Itu Thailand, bagaimana dengan negara lain? Mungkin rekan-rekan yang studi di Eropa, Jepang, dan Australia bisa memberi gambaran. Sebagai informasi, waktu pelatihan bahasa di UGM sebelum berangkat (tahun 2011) diberitahu kalau pemerintah menganggarkan Rp. 2 Milayar untuk mahasiswa doktoral di Australia, hampir 2 kali lipat Thailand ternyata.

Karena hanya dibiayai 4 tahun, maka harus self support satu semester karena molor (4,5 tahun) dan harus ditanggung sendiri (belasan juta rupiah). Untungnya biaya hidup murah meriah di sana dan kampus masih membiayai lewat gaji bulanan. Info dari teman kuliah yang dibayarin kampus kalau molor kabarnya tiap semester kampus mengirimkan bantuan hampir Rp. 1 Milyar mahasiswanya yang tersebar di seluruh dunia karena melewati batas beasiswa. Jadi wajar jika ikatan dinas sebesar 2n+1 untuk mahasiswa luar negeri, dibanding dalam negeri yang hanya n+1 (dengan n adalah masa studi). Oiya, uang itu dari pajak (uang rakyat), maka harus bermanfaat untuk negara.

Kuesioner (Questionnaire) untuk AHP

Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan teknik untuk membandingkan satu pilihan dengan pilihan lainnya. Sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan. Vendor terkenal yang serius mengenai hal ini adalah expert choice, yang juga menyediakan software berbayarnya. Lihat post sebelumnya. Postingan kali ini mencoba sharing tentang kuesionar yang diperlukan untuk mengisi data sebelum diolah oleh AHP yang dicetuskan pertama kali oleh L. Saaty (Saaty, 2008).

Pairwise Comparison

Terus terang saya malah belum pernah mendapatkan kuesioner dalam bahasa Indonesia. Dalam jurnal-jurnal internasional, yang sering disebutkan adalah pairwise comparison survey, yang isinya membandingkan antara satu pilihan dengan pilihan lainnya.

Survey dapat dilakukan dalam bentuk lembaran kertas ataupun online. Biasanya menggunakan Google Form, dengan tampilan yang menarik, serta mudah untuk direkap via Ms Excel. Jumlah koresponden karena ini membutuhkan pakar (expert) maka tidak perlu banyak-banyak, dan bisa di bawah sepuluh orang.

Memulai

Ada baiknya menjelaskan terlebih dahulu secara singkat masalah yang akan disurvey. Jangan lupa data tentang koresponden sangat penting untuk diketahui. Berikut tampilan awalnya.

Bagian Inti

AHP membutuhkan perbandingan satu pilihan (choice) dengan lainnya. Ada enam pilihan dengan tingkat paling rendah hingga tinggi, berturut-turut: less, equal, moderate, strong, very strong, dan extreme. Berikut contohnya:

AHP mengharuskan kondisi dimana tingkat konsistensi harus kurang dari 0.1. Ini penting untuk menjaga keanehan-keanehan dalam perbandingan. Misal tikus takut kucing, kucing takut dengan seorang ibu, dan seorang ibu takut tikus. Pada contoh di atas, Physical Health akan dibandingkan dengan Psychological Condition, Social Relationships, Environment, Economic Condition & Development, dan Access to Facilities & Services. Berikut contoh survey yang pernah saya sebar.

Minta Contoh Penulis Jurnal

Terkadang ada baiknya meminta contoh kuesioner dari seorang penulis jurnal, baik nasional maupun internasional. Walau terkadang tidak dibalas, tetapi banyak juga yang membalas dan memberikan respon. Setidaknya jika tidak memberikan sample dia menjelaskan apa isinya saja. Contoh di atas saya peroleh ketika meminta dari jurnal internasional ini (Bhatti, Tripathi, Nitivattananon, Rana, & Mozumder, 2015). Silahkan baca sumber referensi tentang AHP dari Springer ini.

Referensi:

Bhatti, S. S., Tripathi, N. K., Nitivattananon, V., Rana, I. A., & Mozumder, C. (2015). A multi-scale modeling approach for simulating urbanization in a metropolitan region. Habitat International, 50, 354–365. http://doi.org/10.1016/j.habitatint.2015.09.005

Saaty, T. L. (2008). Decision making with the analytic hierarchy process. International Journal of Services Sciences, 1(1), 83. http://doi.org/10.1504/IJSSCI.2008.017590

Link dari Google

 

Memasukan Publikasi Buku pada SINTA

Selain kinerja penelitian, kampus, dan jurnal, ternyata SINTA juga menyediakan fasilitas untuk memasukan buku teks yang diterbitkan oleh seorang dosen/peneliti. Caranya adalah dengan login terlebih dahulu ke akun SINTA kita. Siapkan scan cover buku yang telah kita terbitkan.

Pertama akan diminta cari dulu berdasarkan ISBN-nya. Bagaimana jika tidak ditemukan? Ternyata setelah dicari tidak ada, muncul fasilitas input manual. Siapkan scan cover buku yang akan diinput.

Pastikan buku muncul di list SINTA. Coba log out dan cari buku tersebut tanpa login.

Klik menu BOOKS di SINTA dilanjutkan dengan mencari berdasarkan ISBN, judul buku, atau nama pengarang. Contoh di atas misalnya kita ingin mencari berdasarkan pengarang, tekan simbol kaca pembesar, dan jika ditemukan SINTA akan menampilkannya.

Tampak buku yang ditulis oleh pengarang yang bersangkutan. Sekian sekilas info tentang fasilitas baru SINTA. Untuk yang belum daftar SINTA segera daftar (lihat post yang lalu). SINTA berbasis evaluasi diri, jadi jangan sembarangan menginput yang tidak semestinya. Untuk mengetahui bagaimana menambah dan menghapus tulisan yang bukan milik kita silahkan lihat post sebelumnya. Sekian dulu semoga bermanfaat.

Studi Literatur

Walaupun riset sudah selesai dan tinggal pulang ke tanah air, mumpung masih bisa menggunakan perpustakaan (baca di tempat karena sudah tidak boleh meminjam), iseng-iseng mereview apa yang telah saya lakukan selama riset kurang lebih 3 tahun lamanya. Saya menemukan buku tentang studi literatur. Tujuan utama membaca topik itu aslinya untuk evaluasi ke depan. Apakah studi literatur yang telah saya jalankan sudah benar, efisien, dan sesuai dengan tujuan riset.

Buku karangan Lawrence A. Machi dan Brenda T. McEvoy itu cukup padat, sehingga dapat dibaca hanya beberapa menit saja. Intinya ada enam tahap dalam studi literatur, antara lain:

  1. Memilih topik
  2. Mencari literatur
  3. Mengembangkan Argumen
  4. Survey terhadap literatur
  5. Memberikan kritik terhadap suatu literatur, dan
  6. Menulis review

Postingan ini hanya akan membahas yang unik dari buku tersebut yaitu memilih topik, mencari litertur, dan mengembangkan argumen.

Memilih Topik

Ini merupakan pangkal utama dari riset, sekaligus biang keladi kuliah tidak lulus-lulus. Buku tersebut menyarankan untuk mengambil topik dari keseharian. Maksudnya adalah hal-hal real yang spesifik. Jangan asal mencari pertanyaan, misalnya: “mengapa sekelompok siswa sulit memahami penjelasan guru?”. Tentu saja pertanyaan ini terlalu general dan sulit dikerjakan karena tidak jelas.

Mencari Literatur

Mencari literatur yang efisien adalah internet dan perpustakaan. Baca cepat sekilas saja terlebih dahulu (skimming). Langkah saya membuat pengelompokan ternyata sudah benar waktu itu. Hanya saja ternyata ada teknik pengelompokan yang lebih ok, bukan hanya pengelompokan terhadap suatu ide/teknologi/metode, melainkan juga pengelompokan kontribusi pengarang. Misal definisi sustainability oleh siapa saja, dll. Dengan bentuk tabel, kita mudah mengingatnya. Terkadang walau tidak berusaha mengingat, jadi ingat sendiri (dikemukakan oleh siapa dan pada artikel apa).

Mengembangkan Argumen

Suatu argumen adalah mencari alasan yang tepat untuk suatu jawaban yang biasanya kesimpulan riset. Jadi satu argumen terdiri dari bermacam-macam alasan:

Argumen = alasan1 + alasan 2 + …

Sebelum masuk ke argumen yang rumit, ada baiknya membahas terlebih dahulu argumen sederhana. Argumen sederhana terdiri dari: klaim, kejadian dan jaminan (warrant). Contohnya adalah:

  • Klaim: “kamu seharusnya jangan menyeberang jalan”
  • Kejadian (evident): “lampu penyeberangan berwarna merah”
  • Jaminan: “Aturan memberlakukan bahwa lampu merah artinya berhenti”

Klaim

Klaim di sini adalah representasi argumen. Klaim mengarahkan argumen. Menurut referensi lain, Chris Hart, ada lima jenis klaim yaitu: Fact, worth, policy, concept, dan interpretation. Penjelasannya tidak jauh dari arti kelima istilah itu.

Kejadian (Evidence)

Kejadian beda dengan data. Kejadian lebih spesifik dari data, yaitu untuk kepentingan tertentu. Jadi kejadian adalah bahan baku dari pembuktian terhadap klaim kita. Jadi untuk memperkuat klaim, diperlukan data dan metode yang relevan, yang kemudian mentransformasikan data itu menjadi evidence.

Jaminan (Warrant)

Jaminan ini adalah hubungan antara kejadian dan kesimpulan. Hubungan di sini menyiratkan adanya pengorganisasian yang logis, sehingga memperkuat argumen. Kembali ke contoh menyeberang jalan. Ketika ada kejadian lampu menyala merah (evidence), dan adanya klaim (agar berhenti), perlu adanya jaminan. Kalau tidak, maka klaim Anda kurang kuat. Dalam kasus ini, jaminan yang diusulkan adalah karena aturan, yaitu ketika lampu menyala merah maka harus berhenti (tidak menyeberang jalan). Silahkan mencari jaminan lain sesuai dengan bidang ilmu yang kita miliki.

Teettttt .. alarm perpustakaan berbunyi, ternyata sudah jam 10 malam dan perpustakaan akan ditutup. Survey, kritik, dan review mungkin lanjut lagi nanti. Semoga postingan ini sedikit-banyak bisa mencerahkan. Selamat mencoba.

Sustainable Urban Form

Riset tata kota fokus ke bentuk urban yang mendukung pembangunan berkelanjutan, pembangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan generasi sekarang, melainkan juga generasi yang akan datang (Steiner, 2008). Banyak sekali perdebatan mengenai bentuk urban yang cocok dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Di sini saya ingin memperkenalkan bentuk-bentuk sustainable urban yang diusulkan oleh peneliti.

Penelitian oleh (Jabareen, 2006) menjelaskan beragam bentuk urban yang sustainable. Berikut contoh-contohnya.

1. Neotraditional Development

Jika kita perhatikan kota Jakarta, terjadi perubahan dari urbanisasi menjadi kebalikannya, dikenal dengan istilah “post-suburbanization” (Firman, 2004; Firman & Fahmi, 2017). Maka para pakar urban berusaha mengurangi dampaknya dengan konsep tersebut, yaitu bagaimana menjaga penurunan penduduk “inner city” dan membangun juga kota-kota penyangga.

2. Urban Containment

Munculnya daerah-daerah “Sprawl” baru (saat ini Meikarta contohnya) membuat khawatir pemerhati tata kota akan dampaknya. Di Amerika konsep urban containment dimaksudkan untuk menghindari proses “sprawl” yang tidak baik. Walaupun ada juga sprawl yang baik, misalnya daerah industri khusus yang jauh dari pemukiman.

3. Compact City

Kota kompak (compact city) disukai oleh penata kota dari Eropa dan Amerika karena dapat mengurangi dampak negatif dari transportasi. Kota yang kompak membuat jarak tempuh menjadi rendah dan penggunaan kendaraan berpolusi menjadi berkurang. Bahkan orang cenderung berjalan kaki karena jarak antara satu tempat dengan tempat penting lainya dekat.

Kota kompak mengharuskan diversifikasi, artinya harus ada variasi dalam satu lokasi. Misalnya harus ada sekolah, pasar, tempat ibadah, dll. Jadi orang cukup berjalan kaki sudah bisa sampai ke lokasi tujuan. Bentuk-bentuk segregasi, misalnya kompleks khusus agama tentu, dll sebaiknya dihindari.

4. Eco City

Bentuk kota ini berpatokan dengan konservasi alam, ekologi, dan juga aspek sosial. Biasanya diterapkan di negara maju yang kesadaran warga dan keseriusan pemerintahnya tinggi akan faktor lingkungan. Walaupun demikian sebaiknya negara-negara yang kurang maju, atau ga maju-maju (berkembang terus), tetap mencontoh jenis kota ini mengingat makin puaanas aja tempat tinggal kita, contohnya saya yang di Bekasi. Semoga bermanfaat.

Referensi

Firman, T. (2004). New town development in Jakarta Metropolitan Region : a perspective of spatial segregation, 28, 349–368. http://doi.org/10.1016/S0197-3975(03)00037-7

Firman, T., & Fahmi, F. Z. (2017). The Privatization of Metropolitan Jakarta’s (Jabodetabek) Urban Fringes: The Early Stages of “Post-Suburbanization” in Indonesia. Journal of the American Planning Association, 83(1), 68–79. http://doi.org/10.1080/01944363.2016.1249010

Jabareen, Y. R. (2006). Sustainable Urban Forms: Their Typologies, Models, and Concepts. Journal of Planning Education and Research, 26(1), 38–52. http://doi.org/10.1177/0739456X05285119

Steiner, F. (2008). The living landscape – An Ecological Approach to Landscape Planning – Second Edition. Washington DC: ISLAND PRESS.

 

Istilah Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Istilah Pembangunan Berkelanjutan menurut informasi dari beberapa buku masih simpang siur dan penuh teka-teki (Muschett, 1997). Untuk pengertian Pembangunan Berkelanjutan oleh beberapa pakar bisa lihat link ini. Hal ini terjadi karena perkembangan ilmu yang kian menuju spesialis, padahal masalah-masalah tertentu malah men-general. Forum terkenal yang membahas istilah ini adalah konferensi dunia PBB tentang lingkungan dan pembangunan di Rio (UNCED) tahun 1992. Ada dua komponen utama hasil dari konferensi itu, yaitu:

  • Prinsip #3: karakteristik Pembangunan Berkelanjutan yaitu keseimbangan antara pembangunan dengan kelestarian lingkungan dan juga keseimbangannya untuk generasi yang akan datang.
  • Prinsip #4: Untuk mencapai Pembangunan Berkelanjutan seharusnya memasukan faktor-faktor Pembangunan Berkelanjutan dalam proses pembangunan.

Ada unsur “fairness” dalam Pembangunan Berkelanjutan, baik antara pembangunan (ekonomi, fisik, dll) dengan kelestarian lingkungan (polusi, masalah sosial, dll). Selain itu, Pembangunan Berkelanjutan harus dilibatkan dalam proses pembangunan, dan bukan dibuat terpisah, atau hanya sebagai alat untuk menyelesaikan dampak yang terjadi.

Pembangunan Berkelanjutan juga bukan hanya melibatkan ekonomi dan lingkunan saja, melainkan juga seluruh aspek yang terlibat seperti sosial, budaya, teknologi, dan lain-lain yang membutuhkan studi yang multi-disiplin (lihat pembahasan masalah multi-disiplin). Secara ringkas komponen dari Pembangunan Berkelanjutan adalah sebagai berikut (Muschett, 1997):

  • Kestabilan populasi
  • Teknologi (transfer teknologi) baru
  • Efisiensi dalam menggunakan sumber daya alam
  • Pengurangan sampah dan pencegahan polusi
  • Solusi saling menguntungkan (“win-win” situations)
  • Sistem manajemen lingkungan yang terintegrasi
  • Menentukan batas kemampuan lingkungan
  • Memperbaiki (refine) ekonomi pasar
  • Pendidikan
  • Persepsi dan perubahan tingkah laku (paradigm shift)
  • Perubahan perilaku sosial dan budaya

Sedikit Ilustrasi Sejarah

Di jaman romawi, ada suatu daerah di Afrika Utara yaitu Carthage (sekarang Tunisia). Tunisia oleh penguasa Romawi menjadi daerah penghasil bahan makanan. Roma memaksa agar Carthage mensuplai bahan makanan sebanyak mungkin, hingga melewati batas daya dukung tanahnya. Akhirnya produksi turun dan tanah jadi rusak dan tandus. Bahkan pemaksaan untuk menanam di dataran tinggi mengakibatkan longsor dan erosi yang merusak tanah secara permanen.

Di jaman Cleopatra, mesir menggunakan pertanian berbasis Pembangunan Berkelanjutan , dengan prinsip banjir dan surut di sungai Nil. Namun sangat ironis, ketika di abad 20 dibangun bendungan (Aswan), kestabilan ekosistem rusak, hingga tanah yang tidak subur lagi.

Walaupun sejarah telah mengajarkan, tetapi dunia modern masih terus berusaha mencari konsep Pembangunan Berkelanjutan yang baik. Sayangnya konsep-konsep yang diberikan belum sampai tahan aksi. Tiap negara memiliki pandangan dan konsep sendiri. Di negara kita, undang-undang sudah dibuat yaitu dalam GBHN (TAP MPR No.II/MPR/1993). Namun pelaksanaan butuh kerja ekstra, mengingat negara Indonesia sedang mengejar ketertinggalannya dari negara lain.

Referensi:

Muschett, F. D. (1997). Principles of Sustainable Development. United States: St. Lucie Press.

 

Menghapus dan Memasukan Artikel di Daftar Google Scholar

Oiya, sudah daftar Sinta kan? (Untuk yang belum). Banyak yang protes karena Sinta menggunakan Google scholar sebagai salah satu faktor perhitungan Sinta selain Scopus. Salah satunya adalah karena Google scholar serampangan memasukan suatu tulisan/artikel ke akun Google scholar kita. Namun karena Google scholar metodenya self assesment, ada baiknya kita menghapus dan mendaftarkan tulisan-tulisan kita secara mandiri. Postingan ini terinspirasi dari tulisan rekan saya waktu mengajar di satu kampus di jalan Fatmawati dulu (lihat di sini).

Setelah login di google scholar, masuk ke profile kita. Di bagian atas kiri ada simbol “wisuda” yang artinya profile kita. Klik untuk masuk ke dalam dan melakukan manajemen artikel milik kita.

Pilihlah tulisan-tulisan yang bukan tulisan kita. Kemudian tekan “DELETE” agar dibuang dari daftar tulisan kita. Misalnya “klasifikasi lovebird ..” (hmm sejak kapan saya nulis klasifikasi burung bercinta).

Kemudian akan muncul informasi jurnal tersebut. Berikutnya tinggal menekan simbol “tempat sampah”. Artinya kita membuang tulisan tersebut dari daftar tulisan kita.

Oiya, jangan sedih. Kan bukan tulisan kita. Tapi lama-lama repot juga kalo google “nyepam” terus suatu tulisan ke akun Google scholar kita, capek juga sih menghapusnya. Untungnya bobot Google scholar jauh di bawah Scopus yang memang “screening”nya bagus. Hanya saja masih jarang dosen-dosen di tanah air yang sudah punya ID scopus.

Berikut kalau ingin menambahkan artikel, tinggal tekan simbol “+”. Ada dua pilihan tambah artikel (manual atau otomatis). Untuk yang otomatis searching nama kita di kolom “searching” lalu tekan simbol kaca pembesar. Sementara kalau yang manual tinggal isi informasi tulisannya.

Oiya, jangan asal masukin tulisan orang. Semoga postingan ini bermanfaat.

Linearitas vs Multi/Inter-disiplin Ilmu

Ketika mengajukan beasiswa S3 ke kopertis IV, bagian staf penerimaan beasiswa langsung menanyakan ijasah S2, jika tidak serumpun maka tidak akan diproses pengajuannya. Kebetulan waktu itu sama-sama ilmu komputer (computer science), jadi lolos. Namun ketika pelaksanaan kuliah, ternyata konsep kampus-kampus saat ini (biasanya luar negeri) kebanyakan multidisiplin/interdisiplin ilmu. Maksudnya adalah suatu riset yang melibatkan beberapa cabang ilmu yang berbeda. Misalnya ilmu komputer, penginderaan jarak jauh (PJJ) dan sistem informasi geografis (SIG) dan ilmu lingkungan untuk optimisasi penggunaan lahan suatu wilayah.

Beberapa pemerhati masalah pendidikan tidak setuju dengan konsep kaku linearitas karena fenomena disrupsi yang terjadi saat ini. Suatu institusi yang tidak menggabungkan berbagai bidang ilmu dalam inovasinya akan hancur dan dikalahkan oleh institusi yang melibatkan bermacam cabang ilmu. Silahkan dapatkan informasinya dari link ini. Oiya, sepertinya buku itu memiliki hak cipta (bukan open access). Tetapi untuk baca-baca sepertinya ada manfaatnya.

Transdisiplin Ilmu

Ternyata ada konsep lain yaitu transdisiplin yang melibatkan bukan hanya berbagai macam bidang ilmu tetapi melibatkan praktisi-praktisi yang berkontribusi terhadap penerapan suatu inovasi. Ada aspek kewirausahaan dalam penelitian yang bertipe trandisiplin ilmu. Dalam referensi pada link tersebut disebutkan bahwa terciptanya facebook, instagram, dan aplikasi-aplikasi startup lainnya melibatkan trandisiplin ilmu, misalnya bukan hanya IT tetapi juga aspek psikologi. Pencetus facebook sendiri dulunya mengambil S1 bidang psikologi.

Nasib Monodisiplin Ilmu

Tentu saja monodisiplin masih dibutuhkan untuk tetap memperkuat dasar keilmuannya. Jujur saja untuk S3 yang monodisiplin sangat sulit mengingat metode-metode saat ini yang sudah “established”. Hanya tambahan-tambahan kecil dalam bentuk parameter-parameter atau penggabungan-penggabungan yang mungkin ditemukan dalam suatu penelitian. Tentu saja untuk jenjang S1 dan S2 sepertinya masih diperlukan.

Ketika saya mengikuti seminar tentang standar kompetensi, waktu itu geomatika, saya sempat bertanya kepada pengelola sertifikasi tersebut yang mengharuskan sertifikat untuk yang mengambil sertifikat geomatika harus jurusan S2 dan S3 yang sama (PJJ dan SIG) untuk level Madya ke atas. Saya mengatakan bahwa rekan-rekan kuliah S3 saya yang bukan PJJ dan SIG banyak yang penelitiannya tentang geomatika dan mereka sangat mahir melakukan manipulasi-manipulasi dasar dan lanjut bidang PJJ dan SIG. Misalnya bidang Agriculture, Water Management, dan IT yang ber-interdisiplin dengan PJJ dan SIG. Pengelola sertifikasi itu menerima masukan dan akan mengkaji lagi syarat harus mengambil kuliah jurusan tersebut untuk sertifikasi keahlian geomatika. Terus terang sangat jarang mahasiswa SIG sendiri yang murni meneliti tentang SIG (proyeksi, web-gis, satellite, dll) tanpa adanya interaksi jurusan lain.

Referensi:

Update: 7 Jan 2018

Ternyata sejak 2014 Dikti sudah menganut konsep linearitas yang interdisiplin, yaitu mengajar di kampus yg sebidang ilmunya, tidak harus si pengajar s1 linear dengan S2 atau S3:

Revisi Lagi .. LiDAR vs RADAR

Kejadian tahun lalu terulang lagi dimana ketika asyik liburan ada tulisan yang harus direvisi. Kalau dulu artikel di jurnal internasional, kali ini disertasi yang dicek oleh external examiner, yaitu profesor dari luar kampus. Lumayan banyak, walaupun secara keseluruhan disetujui (satisfactory and meets the normal requirements for a doctoral dissertation), tetapi ada hal-hal yang perlu pemikiran karena bukan bidang saya.

Sebagai contoh, pada revisi keenam diminta menjelaskan maksud LiDAR (light Imaging Detection and Ranging) “more accuracy and wider range” dibanding RADAR (Radio Detection and Ranging). Sebenarnya saya mensitasi dari text book, tetapi ternyata tidak hanya mensitasi, harus tahu juga maksudnya. Untungnya banyak referensi yang beredar.

Panjang Gelombang RADAR dan LiDAR

LiDAR dikatakan lebih akurat dibanding RADAR karena bisa mendeteksi obyek yang kecil karena penggunaan spektrum panjang gelombang yang lebih pendek (short wavelength). Gambar di bawah saya unduh dari sini, lumayan jelas perbandingan antara microwave yang digunakan RADAR dengan infra-red yang digunakan LiDAR.

Jika microwave jangkauannya dari 1 mm hingga 1 meter, ternyata infra merah lebih pendek lagi yaitu antara 1 mikrometer hingga 1 mm, artinya lebih pendek dari microwave yang digunakan RADAR. Sementara maksud “wider range” artinya pandangan yang lebih luar (large field of view) yang dimiliki LiDAR: lebih lebar dari RADAR. Informasi ini saya ambil dari situs ini.

Yah, begitulah, ikuti saja, namanya IT kan pensuport bidang lainnya. Terkadang ke GIS, environment, hingga penginderaan jarak jauh (remote sensing). Ada informasi ternyata RADAR dan LiDAR sedang berkompetisi untuk digunakan oleh mobil tanpa awak, dimana Tesla dengan RADAR sementara Google dengan LiDAR walau dipasang juga RADAR karena mampu menembus kabut (Jadi inget waktu kuliah 6 tahun di mesin UGM dulu).

Tip n Trik Publikasi Jurnal

Tip n Trik bisa berarti taktik dan strategi. Mirip dengan permainan catur. Jika strategi adalah rencana garis besar, taktik adalah rencana yang detil. Biasanya strategi dijalankan ketika lawan yang sedang “jalan”, sementara taktik ketika kita yang sedang “jalan” dan harus melangkah. Di saat liburan ini dapat diibaratkan kita tidak dipaksa melangkah, jadi sebaiknya berfikir strategi. Ketika piknik, jalan-jalan, tidak ada salahnya membiarkan fikiran bebas mengatur strategi. Begitu juga tugas-tugas penelitian dan publikasinya, baik yang didanai (hibah) maupun yang mandiri.

Strategi

Terkadang strategi yang tepat hasilnya optimal. Pemilihan jurnal tujuan, penggunaan alat-alat bantu penulisan artikel (mendeley, grammarly, google, dan lain-lain). Tidak jarang tulisan yang baik tidak lulus tetapi tulisan yang biasa-biasa saja diterima (accepted) karena memilih jurnal sasaran yang tepat. Tulisan mungkin sudah berbobot, tetapi jurnal sasaran permintaannya lebih berbobot lagi, alhasil tidak/belum diterima. Mengevaluasi bobot tulisan terkadang penting juga, dan di sini pengalaman dalam publikasi menentukan kemampuan tersebut.

Taktik

Taktik di sini berupa langkah-langkah detil, prosedural dan biasanya linear. Pemahaman terhadap proses publikasi (submit, editorial, review process, dan decision) sangat perlu. Terutama proses berapa lama antara submit dengan publish karena ada jurnal yang sampai 2 tahun (bahkan ada yang 9 tahun) proses hingga publish. Di sini letak proses pembuatan manuskrip artikel yang akan dikirim. Ada baiknya artikel ditulis bersamaan dengan proses penelitian, jangan ditunda sampai penelitian selesai.

Research Camp

Terkadang ikut grup Whatsapp bermanfaat juga. Banyak ilmu yang dishare di sana, walaupun terkadang ada juga hal-hal yang tidak penting, bahkan cenderung memprovokasi tema-tema tertentu yang berkaitan dengan politik. Tetapi asal kita ambil yang baiknya saja, sepertinya tidak masalah dan bermanfaat. Salah satunya adalah research camp tentang publikasi ilmiah. Berikut ini adalah tip n trik yang dishare. Sayang tidak ada nama pembuatnya, semoga yang bersangkutan mendapat pahala karena pengalaman yang diberikan lewat slide ini:

Khusus mengenai SCIHUB, yang menyediakan jurnal-jurnal gratis, sepertinya agak ilegal. Banyak cara lain, yaitu dengan meminta share dengan pengarang aslinya lewat “researchgate”, atau memesan ke teman yang studi lanjut, yang biasanya kampusnya berlangganan. Sekian semoga berfaedah.