Problem Many-to-Many Pada Sistem Basis Data

[sist.basis.data|akuntansi|lab.software|pert.3]

Dalam relasi suatu basis data dikenal beragam kardinalitas, antara lain: one-to-one, one-to-many dan many-to-many. Kardinalitas (cardinality) merupakan derajat jumlah suatu hubungan entitas. Entitas sendiri merupakan suatu abstraksi independen dari hal-hal yang terlibat dalam suatu sistem, misalnya dosen, mahasiswa, karyawan, dan lain-lain. Misalnya antara dosen dengan kelas, hubungannya biasanya one-to-many yaitu satu dosen mengajar satu atau lebih kelas dan satu kelas diampu oleh satu dosen (walaupun bisa saja lebih dari satu dosen). Jika dimodelkan konsepnya (conceptual model) akan berbentuk seperti ini (digambar online dengan ini: https://cloud.smartdraw.com/):

Untuk hubungan one-to-many, semua sistem basis data bisa membuat model logikanya beserta implementasi fisiknya. Caranya adalah dengan menambahkan satu Foreign Key di tabel kelas, yaitu nip dosen yang merupakan primary key pada tabel dosen nantinya. Sebaliknya untuk hubungan many-to-many, sistem basis data yang ada saat ini tidak bisa langsung memodelkan model konsep, misalnya atribut kelas dengan mahasiswa yang mengambil kelas tersebut. Di sini many-to-many karena satu kelas lebih dari satu siswa dan satu siswa mengambil lebih dari satu kelas.

Beberapa teknik mengharuskan konversi dari ERD ke Logical Record Structure (LRS). Beberapa alat bantu perancangan basis data, seperti Datanamic Dezign ketika ada hubungan Many-to-Many akan menghasilkan satu tabel baru di tengah-tengahnya (defaultnya bernama mahasiswa-kelas, dalam contoh ini, misalnya kita beri nama tabel perkuliahan. Tabel baru tersebut mengambil kode kelas dan nomor pokok mahasiswa sebagai kunci tamu (Foreign Key).

Biasanya tabel baru tersebut berjenis tabel transaksi, misalnya mahasiswa yang mendaftarkan dalam KRS-nya kuliah apa yang akan diambil. Biasanya kunci utamanya (Primary Key) adalah gabungan npm dan kode_kelas, tapi bisa saja menggunakan kode baru, misalnya generated numbers. Nyambung dengan ERD di atasnya, dalam tabel kelas ada kunci tamu kode dosen (NIP). Jadi kelas yang diambil oleh seorang siswa dapat diketahui dosen yang mengajarnya. Jika ingin melihat list peserta kuliah suatu kode kelas, dapat menggunakan perintah select untuk kode kelas tertentu di tabel perkuliahan tersebut. Tinggal praktekan pembuatan tabel-tabelnya.

Menghitung Nilai RGB Sebuah Citra

[peng.citra.digital|tek.komputer|lab.software|pert.4]

Nilai RGB merupakan format pewarnaan yang paling banyak digunakan. Format ini menangkap warna merah (red), hijau (green) dan biru (blue) suatu citra. Dengan komposisi tiga warna tersebut dapat dibuat beragam spektrum warna lainnya. Postingan kali ini akan dibahas bagaimana mengekstrak nilai R, G, dan B suatu citra.

Format RGB

Letakan current directory pada folder di mana citra berada. Kemudian lanjutkan dengan menarik suatu gambar bertipe jpg, png, bmp dan lain-lain. Format RGB suatu citra dapat diketahui dengan fungsi size dan menghasilkan format:

(baris) (kolom) (rgb)

Untuk contoh penerapan dapat menggunakan instruksi berikut ini:

  • [1] x=uigetfile(‘*.jpg*’);
  • [2] data=imread(x);

Misalnya dengan mengetik instruksi size(data) diperoleh hasil:

1150         1427          3

Kolom ke-3 mengindikasikan tiga komposisi warna (merah, hijau, dan biru).

Mengekstrak R, G, dan B

Untuk mengetahui komposisi warna (RGB) dapat dengan cara mengakses data yang dibaca lewat fungsi imread mengikuti indeks kolom 3 apakah 1 (untuk red), 2 (untuk green) dan 3 (untuk blue).

  • [3] fR=data(:,:,1);
  • [4] fG=data(:,:,2);
  • [5] fB=data(:,:,3);

 

Tingkat R, G, dan B

Untuk mengetahui tingkat merah, hijau, dan biru secara total dapat mencari nilai rata-rata lewat fungsi mean. Line [6] – [8] bermaksud menghitung rata-rata masing-masing kelas warna. Dua buah fungsi mean dibutuhkan untuk menghitung total baris dan kolom. Line [9] – [11] bermaksud menormalkan tingkat warna dengan jangkauan 0 hingga 1.

  • [6] fr=mean(mean(fR));
  • [7] fb=mean(mean(fG));
  • [8] fc=mean(mean(fB));
  • [9] frr=fr/255;
  • [10]fbb=fb/255;
  • [11]fcc=fc/255;

Contoh GUI Menghitung Tingkat RGB

Untuk memudahkan, terkadang perlu dibuat GUI agar lebih mudah mencari nilai RGB suatu citra. Contohnya adalah rancangan berikut. Gunakan fungsi tambahan set untuk mengirim hasil perhitungan rgb (nilai RGB yang sudah dinormalkan).


  • [12] set(handles.edit1,‘String’,frr)
  • [13] set(handles.edit2,‘String’,fbb)
  • [14] set(handles.edit3,‘String’,fcc)

Jalankan dan lihat hasilnya seperti di bawah (nilai dari atas ke bawah menunjukkan masing-masing R, G, dan B). Padukan dengan fungsi lain seperti imcrop untuk memotong citra agar tidak masuk di dalamnya background, dibahas pada pertemuan yang lain. Semoga bermanfaat.

 

Membuat Halaman yang Berbeda dalam Satu Naskah

[komputer1|psikologi|lab.software|pert.3]

Dalam satu naskah yang berisi daftar isi, kata pengantar, bab 1 dan seterusnya terkadang memiliki penomoran halaman yang berbeda. Misalnya daftar isi memiliki nomor halaman i, ii, iii, dst sementara bab 1, bab 2, dan seterusnya bernomor 1, 2, 3, .. dan seterusnya.

Page Break

Pisahkan dengan fungsi Page Break dengan menekan Insert – Page break.

Section Break

Jika page break sudah dilakukan semua, langkah berikutnya adalah membuat section break yang akan memisahkan satu section (bab) dengan section lainnya, misalnya antara bab 1 dengan daftar tabel, daftar gambar dan daftar isi. Arahkan kembali kursor di sisi BAB I kemudian masuk ke Page Layout – Breaks – Section Break. Pilih fungsi yang sesuai yaitu Next Page.

Dengan melakukan Section Breaks maka antara bab 1 dan daftar tabel dianggap bab yang berbeda. Untuk mengujinya dobel klik di atas Bab 1 dan pastikan ada dua section yang terpisah (section 1 di atas dan section 2 di bawah).

Membuat Halaman

Pada Daftar Isi tambah halaman dengan menu Insert – Page Numbers – Buttom of Page misalnya. Jangan khawatir nanti bisa diset ulang. Pastikan ada halaman muncul di bagian bawah berkas tersebut.

Berikutnya, karena misal menurut panduan penulisan bahwa daftar isi, daftar gambar dan daftar tabel ditulis dalam format huruf: i, ii, iii, dst, maka harus dilakukan format halaman ulang.

Memformat Nomor Halaman

Arahkan ke nomor halaman, lalu sorot dengan kursor (menekan sambil ditahan) halaman tersebut. Pastikan nomor halaman tersorot.

Setelah itu muncul jendela Format Page Numbers. Ganti format angka dengan format huruf i, ii, dan seterusnya.

Terakhir perlu merubah nomor halaman bab 1 yang sebelumnya lanjut dari halaman daftar tabel menjadi halaman 1.

Lanjutkan dengan me-refresh/update daftar isi agar sesuai dengan halaman yang baru saja diseting. Pastikan halaman sudah berubah sesuai dengan format (daftar isi, daftar gambar, dan daftar tabel berturut-turut i, ii, dan iii, sementara bab 1 dan seterusnya 1, 2, 3, dan seterusnya).

Menghapus Section Break (UNDO Section Break)

Dobel klik di halaman atas untuk membuka header – footer. Masuk ke menu View – Draft. Arahkan ke Section Break (Next Page). Lanjutkan dengan menekan Delete di Keyboard. Kembalikan ke lagi ke Print Layout.

Praktek Menghitung Jumlah Kata dan Kalimat dengan Regular Expression Matlab

[perolehan.informasi|tek.komputer|lab.software|pert.3]

Salah satu fungsi penting dalam perolehan informasi (information retrieval) adalah pencarian kata. Untuk sampai ke sana ada baiknya mengetahui berapa jumlah kata dalam suatu berkas. Dan untuk itu harus mampu membedakan antara kata dengan bukan kata. Yang bukan kata seperti tanda petik, tanda khusus (bintang, pagar), dan spasi.

Fungsi REGEXP

Regular expresion merupakan fungsi yang ditemui dalamm mata kuliah teknik komputesi dan kompilasi. Fungsinya adalah mencari serangkaian kata atau diistilahkan token dalam materi tersebut. Untuk materi perolehan informasi (dan juga text mining) fungsinya sama. Pada Matlab fungsi regular expresion dalam bentuk regexp.

Menghitung Jumlah Kata

Bagi yang sering mengetik dengan MS Word, pasti sudah mengenal indikator jumlah kata yang telah diketik. Letaknya di bagian kiri MS Word. Misalnya, ketika saya menulis sampai sini ada indikator jumlah kata yang tertulis sebanyak 143 kata.

Untuk mengetahui fungsi regexp silahkan mengetik help regexp pada command window. Tampak untuk mencari suatu kata menggunakan parameter \w+ dan ‘match’. Untuk mencobanya, masukan kode berikut pada command window:

  1. string=’Presiden Jokowi mengunjungi kota Palu’;
  2. hasil=regexp(string,’\w+’,’match’);
  3. [baris,kolom]=size(hasil);
  4. jumlahkata=kolom
  5. jumlahkata =
  6. 5

Baris ke 3 hingga 5 menghitung jumlah kata yang berhasil dipilah. Jumlah kata string tersebut sesuai dengan jumlah kata yang berhasil dipisahkan oleh fungsi regexp. Pada lab software coba buat GUI seperti di bawah ini. Jika tombol Jumlah Kata = ditekan maka akan menunjukan jumlah kata yang terdapat pada string yang dicopas dan paste-kan ke edit text di atasnya. Ada perbedaan antara kata yang dihitung MS Word dengan kode di atas, perlu diteliti lebih lanjut.

Menghitung Jumlah Kalimat

Untuk menghitung jumlah kalimat, fungsi regexp harus mampu menghitung berapa jumlah titik dalam satu berkas. Jika ada dua titik maka ada dua kalimat. Tentu saja di sini harus mampu membedakan antara titik desimal dengan titik yang merupakan akhir dari kalimat. Silahkan mencoba dahulu.

Hal-hal Kecil tetapi Rutin

Kita cenderung “wah” terhadap hal-hal besar yang dilakukan oleh sesorang, misalnya menjuarai suatu kompetisi, menemukan suatu teknologi, dan sejenisnya. Dan cenderung ingin mengikuti mereka berdasarkan hasil akhirnya saja. Padahal tidak demikian sesungguhnya yang terjadi. Ibarat gunung es di permukaan lautan yang tampak kecil dari atas tetapi ketika melihat ke bawah permukaan, malah justru lebih banyak yang berada di dalam.

Kita melupakan hal-hal kecil ketika ingin mencapai yang besar. Sebagai contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, misalnya seorang pria mengucapkan cinta kepada seorang wanita. Jika si wanita hanya melihat dari aspek “wah” saja, bisa jadi dia memercayai ucapan tersebut. Tetapi jika dia memperhatikan hal-hal kecil yang telah dilakukan oleh si pria itu selama beberapa waktu, barulah dia bisa menyimpulkan bahwa memang benar pria itu mencintainya. Seperti dalam film “Dilan”, Milea dapat mengetahui siapa yang sesungguhnya pria yang mencintainya, dari hal-hal kecil yang dilakukan kepadanya.

Saya banyak memiliki teman dosen yang kerap mengungkapkan suatu ide, niat, rencana, dan sejenisnya yang “wah”, seperti publikasi di jurnal Q1, riset ini, itu dan sejenisnya yang tidak pernah saya lihat pelaksanaannya. Namun banyak juga rekan yang melakukan hal-hal yang dimulai dari yang sederhana, menulis di jurnal biasa, berlanjut ke konferensi internasional, lolos di jurnal internasional berimpak rendah, dan hal-hal yang sepertinya sederhana tetapi dilakukan rutin tiap semester. Akhirnya yang bersangkutan berkeinginan untuk studi lanjut S3. Dengan toefl di bawah 400 dia berusaha perlahan-lahan mencapai di atas 500 dan saat ini gelar Ph.D sudah di tangannya.

Sering kali saya membaca buku-buku yang pernah dulu saya baca dan saya tidak mengerti. Tetapi saat ini ketika kembali membacanya, ntah mengapa saya jadi heran kenapa waktu itu tidak mengerti. Padahal mudah sekali. Hal-hal rutin yang sering kita lakukan seperti membaca buku, jurnal, melakukan studi ringan, mereview paper, dan lain-lain, karena sering walau kecil dan sederhana ternyata dapat membangun skill kita. Tidak ada salahnya melakukan hal-hal yang menurut kita kecil tetapi merupakan tangga dalam menempuh hal-hal yang besar. Jika ingin profesor, tidak ada cara lain saat ini untuk menempuh S3 bagi seorang dosen, dan untuk itu tidak ada cara lain mengasah kemampuan riset dan meneliti. Tidak perlu hal-hal yang besar, mulai saja dari riset dasar, mencoba membangun dan mencari GAP, mengikuti ROADMAP yang kita kuasai, dan mencoba menghadiri konferensi-konferensi, terutama yang internasional. Walau terkadang nombok karena kurang dibiayai oleh kampus tempat kita bekerja, tetapi demi kemajuan kita dan para mahasiswa kita (karena kita yang mengajari mereka) apa salahnya menyisihkan uang, hitung-hitung membantu kampus kita (terutama yang swasta) .. keren kan, biasanya kampus yang membiayai kita tetapi kita yang membiayai kampus (karena nombok). Semoga postingan ini bukan hayalan saya saja, sebaliknya bisa menginspirasi para pembaca sekalian.

Kompilasi Matlab Menjadi Executable

[peng.citra.digital|tek.komputer|lab.hardware|pert.3]

Matlab biasanya berfungsi sebagai interpreter, yaitu mengeksekusi program mengikuti listing yang ada pada M-file satu persatu. Agar kode pada M-file dapat dijalankan tanpa membuka Matlab maka perlu kompilasi menjadi executable program. Misalnya program berikut ini:

GUI di atas dapat dijalankan hanya jika Matlab dibuka. Untuk menjalankan program di atas tanpa menggunakan Matlab, lakukan langkah kompilasi berikut ini:

Membuat Deployment Project

Masuk ke menu – File New Deployment Project. Pilih Windows Standalone Program karena kita akan membuat program berbasis Windows (bukan console). Walaupun bisa juga dipilih Standalone Application.

Setelah itu kita diminta memasukan file-file kode sumber. Pilih *.m file yang diperlukan untuk mengeksekusi program pada Main File. Karena berbasis GUI maka diperlukan file lain yaitu file GUI (*.fig).

Build The Project

Langkah berikutnya setelah memasukan kode sumber dan file tambahan lain adalah melakukan build. Tekan simbol di bagian atas. Setelah itu masuk ke command window untuk memasukan beberapa parameter yang dibutuhkan Matlab untuk membangun/build program. Tekan mbuild_setup di bawah command window.

Ketika muncul ‘Would you like mbuild to locate installed compilers [y]/n? >>’ tekan enter atau y. Dilanjutkan dengan memilih Compiler. Pilih no.1 karena tampak lokasinya di folder MATLAB:

  • Select a compiler:
  • [1] Lcc-win32 C 2.4.1 in C:\PROGRA~2\MATLAB\R2008b\sys\lcc
  • [0] None
  • Compiler: >>

Pastikan letak ada di program matlab, bukan di program lainnya. Tekan “y” jika sudah benar. Jika sudah maka Matlab sudah disetel Compiler-nya, hingga muncul “Done . . .”.

Tekan simbol dan pastikan muncul instruksi di bawah:

Tekan link berwarna hijau tersebut untuk melanjutkan proses kompilasi. Tunggu hingga selesai (pastikan muncul Compilation Completed di bagian bawah):

Membuat Paket Program

Untuk menguji program executable hasil kompilasi, buka di folder project-nya lanjutkan ke folder src. Jalankan folder *.exe yang merupakan program hasil kompilasi. File ini dapat dijalankan tanpa menggunakan Matlab.

Hanya saja tidak berjalan jika komputer target tidak terinstal Matlab. Maka perlu dibuat Paket yang berisi DLL yang secara gratis disediakan Matlab. Gunakan fasilitas Package dari Deployment project di Matlab. Tekan simbol “kardus”:

Tunggu proses Packaging hingga selesai (packaging completed). Hasilnya adalah file exe ditambah dengan satu fole installer (ratusan megabyte). Untuk dijalankan di komputer yang tidak terinstall Matlab, harus diinstall/menjalankan program exe paket tersebut.

Untuk uji coba, tutup program Matlab dan hanya jalankan program exe hasil kompilasi di atas. Berikut tampilan running program-nya, selamat mencoba.

Membuat Daftar Gambar/Tabel pada Microsoft Word

[aplikasi.komputer|manajemen|lab.sainstech|pert.2]

Dalam skripsi selain daftar isi, yang perlu dibuat secara otomatis adalah daftar gambar dan daftar tabel. Manfaatnya terasa ketika jumlah gambar yang cukup banyak dalam satu naskah sehingga terhindar dari penomoran yang ganda atau terlewat.

MEMBUAT CAPTION/JUDUL GAMBAR

Tekan pada gambar dilanjutkan dengan menambahkan judul gambar dengan menekan menu References dilanjutkan dengan Insert Caption.

Secara default akan terisi Figure 1. Jika akan mengganti tekan New Label dilanjutkan dengan mengisi labelnya, seperti di atas misalnya Gambar. Setelah itu seting warna dan ukuran sesuai dengan aturan penulisan skripsi.

MEMBUAT DAFTAR GAMBAR/TABEL

Untuk membuat daftar gambar, letakan kursor di tempat daftar gambar berada dilanjutkan dengan menekan menu References dan pilih Insert Table of Figures.

Pastikan daftar gambar muncul pada tempatnya. Halaman letak gambar berada akan otomatis sama dengan pada daftar gambar.

Untuk daftar tabel, gunakan cara yang sama dengan daftar gambar di atas. Pilih New Label dan tambahkan kata Tabel di isian.

The Power of ‘Program Diploma’

Bagi rekan-rekan yang lulus pasca krisis moneter 1998 mungkin pernah mengalami masa menganggur seperti yang saya alami waktu itu. Gejala-gejalanya muncul ketika di akhir masa kuliah setelah krisis moneter banyak dosen baru di kampus. Ternyata korban PHK dari Astra Internasional yang memang mengalami pengurangan karyawan. Perusahaan kuat yang jadi primadona para mahasiswa teknik itu tak luput dari penurunan profit, dan terpaksa merumahkan banyak karyawannya. Maklum ketika ada kerusuhan, perusahaan itu banyak mengalami kerugian akibat penjarahan. Ketika lulus di awal milenium baru, walaupun kondisi agak pulih dan beberapa perusahaan mulai bangkit dari keterpurukan, banyak lowongan pekerjaan dibuka.

Mudahnya Mencari Pekerjaan bagi Para Ahli Madya

Diploma tiga, atau yang sekarang dikenal dengan vokasi, mengharuskan lulusannya memiliki keahlian praktis. Misalnya teknik mesin, maka harus mampu mengutak-atik mesin atau mampu menggunakan peralatan permesinan seperti las, bubut, cnc dan sejenisnya. Untuk teknik komputer bisa menangani jaringan, hardware dan software, serta perawatan perangkat komputasi.

Kembali ke cerita awal krismon, beberapa perusahaan memang membuka lowongan pekerjaan, tetapi sulit sekali masuk karena saingan yang memang banyak, sementara permintaan untuk sarjana (S1) tidak sebanyak D3 atau SMK. Ketika proses penerimaan sering berjumpa dengan rekan satu almamater dahulu, tetapi dari diploma tiga. Yang membuat saya sedih adalah mereka ketika mendaftar dalam keadaan status sudah bekerja. Jadi mereka hanya berpindah-pindah pekerjaan saja mencari yang lebih nyaman, stabil, prospeknya cerah, dan tentu saja ber-salary tinggi. Sementara saya sendiri masih nganggur yang mudah sekali gugur ketika permintaan “berpengalamann kerja” menjadi satu persyaratan. Mungkin karena D3 lebih siap kerja ditambah lagi salary yang tidak sebesar S1 membuat jenjang ini relatif lebih mudah mencari kerja dibanding S1. Bagaimana jika perusahaan merekrut S1 tapi dengan gaji D3? Silahkan saja, tapi kenyataannya anak-anak D3 lebih mudah bekerja karena memang ketika kuliah ditempa dengan praktek dan praktek.

Sekolah Sambil Bekerja

Di tempat saya mengajar beberapa mahasiswa sepertinya “menghilang” ketika dua atau tiga tahun kuliah. Usut punya usut ternyata mereka sudah bekerja dan tidak ada waktu luang lagi untuk melanjutkan kuliah. Sibuklah sebagai pengurus jurusan “mencari” mereka yang hilang itu. Beberapa memiliki aktivitas masing-masing, bisnis atau bekerja. Banyak juga yang menjalani kehidupan menjadi ibu rumah tangga seperti biasa. Kebanyakan mereka sepertinya ketika memiliki sedikit skill sudah langsung bisa dipraktekan baik membuka bisnis (website designer, mobile application, dll) maupun diterima bekerja di perusahaan-perusahaan.

Mengetahui hal tersebut langkah yang tepat adalah mengajak mereka mengambil tugas akhir di bidang yang mereka geluti, biasanya software engineering dan jaringan komputer. Khusus jaringan komputer biasanya berkecimpung dengan masalah yang terjadi di perusahaannya seperti load ballancing, backup server, analisa quality of service, dan lain-lain. Walau dengan susah payah, dan sepertinya ijasah tidak digunakan lagi karena sudah bekerja/bisnis, mereka puas juga bisa merampungkan kuliah yang bertahun-tahun itu. Itulah kondisi real di kampus-kampus swasta dengan program diploma. Jika pemerintah/ristekdikti bermain “tangan besi” yang kabarnya tidak membolehkan ijasah diploma 3 di atas 5 tahun (tidak diberi “Pin”), anak-anak itu akan kehilangan kesempatan menyelesaikan kuliahnya.

Sidang Akhir T. Komputer

Beratnya Mengajar Diploma Tiga

Berbeda dengan rekan-rekan lulusan doktor yang mengajar S1 bahkan S2 dan S3 (pascasarjana), saya masih tetap mengajar dan mengurusi D3. Mengajar jenjang ini diharuskan memiliki kompetensi praktis agar peserta didik bisa memiliki kemampuan kerja. Di situlah rumitnya. Berbeda dengan mengajar S1 dan pasca yang kebanyakan bermain-main di tataran konseptual dan analisa. Sepertinya serfitikasi seperti CCNA dan sejenisnya harus dimiliki, atau setidaknya sertifikasi kompetensi dari BNSP Indonesia.

Untungnya saya pernah lebih dari tiga tahun bekerja di bagian IT suatu bank berskalan nasional. Bank merupakan satu-satunya perusahaan yang memanfaatkan IT secara maksimal ketika era disrupsi sekarang ini belum muncul. Dari troubleshooting komputer, jaringan, hingga setting server dan router kerap jadi sarapan sehari-hari ketika bekerja di sana, hingga akhirnya berhenti karena fisik yang tidak kuat lagi bekerja seperti kuda (sempat sakit typhus). Jadi ketika mengajar D3 tidak kaget dan siap praktek bersama. Yuk .. kuliah vokasi. Mau jadi sarjana …? Lanjut kuliah sambal bekerja saja.

Pelatihan Oracle IT Danamon

Praktek Kode Standar SQL dengan Ms Access – CREATE TABLE

Structure Query Language (SQL) merupakan bahasa standar dalam mengakses suatu basis data. Bahasa ini dikatakan standar karena dapat dipergunakan untuk beragam sistem manajemen basis data (DBMS) seperti Ms Access, MySQL, Oracle, dan lain-lain.

Membuat/Create Tabel Baru

SQL memiliki tiga jenis instruksi, antara lain: data definition language (DDL), data manipulation language (DML) dan data control language (DCL). Salah satu instruksi penting dalam DDL adalah pembuatan tabel baru. Biasanya dengan cara mengklik pembuatan tabel, sebuah tabel dengan mudah dibuat dengan wizard yang ada di Ms Access. Tetapi ternyata dapat dibuat juga dengan script SQL seperti DBMS lainnya. Buka Microsoft Access yang disertakan satu paket dengan Microsoft Office.

Buka menu Create dan pilih Query Design untuk mempersiapkan jendela kode SQL. Tekan Close ketika diminta memilih tabel mana yang akan dibuat.

Buka teori tentang tata cara membuat suatu tabel dengan kode SQL. Searching saja di Google tata caranya. Untuk mengisi kode tekan SQL yang terletak di kiri atas jendela Access.

Lanjutkan dengan menulis kode SQL. Di sini kita mengambil contoh membuat tabel “dosen” yang berisi field-field antara lain: nip, nama, dan mata kuliah:

CREATE TABLE dosen (nip int primary key, nama varchar(25), mkul varchar(20));

Field “nip” yang merupakan “primary key” bertipe integer sementara “nama” dan “mkul” bertipe tex atau dalam Access dikenal dengan nama “varchar”. Jika nama memiliki panjang 25, mata kuliah (mkul) memiliki panjang 20 karakter. Tekan tombol tanda seru untuk menjalankan kode SQL tersebut. Jika tidak ada kesalahan maka tabel dosen dengan tiga atribut tersebut terbentuk. Silahkan menggunakan perintah lainnya misalnya untuk DML dengan instruksi SELECT yang akan mengambil data suatu tabel di database kita. Selamat mencoba.

 

Praktek Membuat GUI untuk Pengolah Citra

[24.9.18/pengolahan.citra/lab.hardware/pert.2]

Matlab memiliki fasilitas untuk pengolahan citra dengan fungsi-fungsi yang tersedia. Dengan command window pengguna bisa mengambil data gambar, mengolah data, dan menampilkan hasil olahnya. Fungsi sederhana yang akan diselesaikan pada postingan ini adalah fungsi:

  • imshow
  • uigetfile

Mengeset Current Directory

Current directory pada matlab pertama-tama harus disetel terlebih dahulu. Cara paling mudah adalah menyamakan dengan direktori dimana gambar/citra diletakan. Cara lain adalah mengeset path atau dengan menggunakan basis data dari luar (MS Access atau MySQL). Untuk yang ingin belajar menggunakan basis data dari luar silahkan pelajari lebih lanjut dari sumber lain.

Membuat GUI

Graphical User Interface (GUI) merupakan fasilitas yang memudahkan pengguna program yang dibuat. Bentuknya seperti form yang interaktif dan mudah. Dalam contoh ini ada tombol yang berfungsi mengambil file gambar dan penampil gambar di form. Rancang GUI seperti di bawah ini.

Selahkan ikuti langkah-langkah dalam video tutorial berikut ini. Hasil akhirnya ketika di running maka GUI siap diisi kode program.

Mengisi Kode Program

Sebelum mengisi kode program ada baiknya mengecek fungsi-fungsi yang dimasukan apakah sudah benar. Atau setidaknya tersedia di versi Matlab yang dipakai. Gunakan fungsi uigetfile dan fungsi imshow yang berturut-turut untuk mengambil file gambar dan menampilkannya.

  • x=uigetfile(‘*.jpg’)
  • imshow(x)

Jika sudah berjalan di command window maka pindahkan di fungsi-fungsi di atas pada tombol “Ambil Citra” pada GUI. Caranya dengan klik kanan pada “Ambil Citra” – view Callback Callback. Selamat mencoba.

Heboh Linearitas Dosen

Berawal dari informasi di grup WA tentang berita di situs berita nasional, munculah pro dan kontra kemudahan pemerintah dalam linearitas dosen. Di berita tersebut prinsip linearitas yang dulu inline pendidikan S1, S2, dan S3-nya, sekarang dosen linear jika S3, riset dan homebase/mengajarnya inline. Postingan yang lalu sebenarnya sudah membahas masalah tersebut, tetapi saat ini heboh lagi, jadi ada baiknya diulas lagi.

Sulitnya Kuliah S3

Sedikit berbeda dengan S2 yang rata-rata baik dalam prosentase kelulusannya, banyak yang tidak bisa menyelesaikan S3, dan kalaupun bisa lulus, menderita dahulu, lama lulus dan kesulitan-kesulitan lainnya seperti keuangan, keluarga, dan lain-lain. Tidak jarang yang meninggal karena sakit ketika studi lanjut.

Beberapa rekan karena sulitnya mencari S3 sesuai bidangnya mengambil bidang lain yang lebih mudah. Namun ternyata banyak masalah yang terjadi. Ketika akreditasi, bahkan S3 salah satu rekan tidak diakui karena harusnya informatika/ilmu komputer tetapi mengambil teknologi pertanian. Salah satu dosen saya ketika ambil pascasarjana dulu, curhat ketika melamar ke kampus lain yang lebih menjanjikan ternyata S3-nya (yang menjadi persyaratan) tidak diterima krena bukan informatika/ilmu komputer melainkan teknologi pendidikan. Ternyata keilmuwan melekat dengan gelar terakhir.

Linearitas S3 – Riset – Mengajar

Memang dosen berbeda dengan peneliti karena dua tri darma lainnya yaitu pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Jadi jika antara riset dengan mengajarnya tidak linear maka dianggap dosen tersebut melanggar linearitas. Lantas bagaimana jika risetnya menggunakan gelar pascasarjananya (S2)? Bisa juga kan?

Sebelumnya ada baiknya merujuk ke peraturan LIPI tentang peneliti yang terdiri dari (lihat di sini):

  • Peneliti Pertama
  • Peneliti Muda
  • Peneliti Madya
  • Peneliti Utama

Di sana disebutkan S1 pun boleh meneliti. Namun informasi dari rekan saya di Litbang Pertanian, jika peneliti bukan Doktor maka wajib memiliki mentor. Mentor di sini adalah doktor yang fungsinya mirip pembimbing tesis/disertasi. Kecuali di daerah-daerah terpencil, biasanya di wilayah timur Indonesia, boleh tanpa mentor jika terkendala lokasi dengan mentornya.

Pada pasal 31 ayat (1) Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan pengajar S2 dan s3 diwajibkan bergelar doktor/profesor. Jika alasan utamanya adalah fokus s2 dan s3 adalah penelitian, maka jika bukan doktor maka ketika meneliti, perlu memiliki mentor. Bahkan saat ini, doktor pun ketika meneliti jarang sendirian. Tim peneliti terdiri dari beberapa orang dengan tugas-tugas spesifik (survey, olah data, penulisan, dan lain-laian), namun biasanya ada satu orang doktor/profesor di dalamnya. Jadi jika doktor yang bukan bidang risetnya (yg inline dengan S2) tentu saja dari sisi prinsip setara S2 walau bergelar doktor. Kembali ke tri darma, patokannya adalah selain penelitian, pada sisi pengajaran juga mengikuti aturan yang ada.

Respon LLDIKTI (Kopertis)

Kembali ke masalah berita di WA, kopertis mengharapkan untuk mencermati lebih dalam info-infor yang beredar di dunia maya. Tujuan aturan baru linearitas sebenarnya untuk mengakomodasi perkembangan IPTEK saat ini yang multidisiplin, bukan bermaksud memberi kemudahan. Berikut petikannya:

perlu saya sampaikan bahwa……..rekan rekan di PTS trtama tenaga pendidik harus baca scra lengkap dan jangan judulnya saja.

apabila dibca dgn seksama pa menteri bicara “akan segera” dgn pertimbangan yg berkaitan dgn IPTEK.

sbtlnya linearitas sdh dijelaskan sejak oktober 2014 sesuai surat edaran no. 887/mi/2014 dan pedoman operasional kenaikan pangkat/jabatan akademik dosen DIKTI 2014 yg sd dgn saat ini blm ada edaran or peraturan penggantinya….

dan yg disebut linearitas adalah kesesuaian bidang ilmu antara pendidikan terakhir dgn mata kuliah yg diampu, publikasi yg dihasilkan dan homebase/program studi tmpt dosen mengajar…..

linearitas yg ideal itu mmng s1 s2 s3 matkul, homebase dan publikasi aaaaaaa semua. maka dr itu sjk 2014 diberikan keringanan bahwa cukup sesuai dgn pendidikan terakhirnya saja..

S1 A S2 B S3 C….MK C PUBLIKASI C HB C bisa jadi guru besar ? bisa …..

Contoh lain : S1 A S2 B S3 A MATKUL A. HB A. PUBLIKASI A. bisa jadi GB ? bisa

S1 A S2 B S3 B. bisa? bisa…..

dan apabila linearitas dihapus kita profesional mau di bidang ilmu apa. tak terbayang kalau sy A B C tp ngajar di B. publikasi di A HB di C.

buat apa kita cape” kuliah S2 or S3 tp ngajar masih di S1…..

oleh krn itu kalau tenaga pendidik sudah tidak inline scra background pendidikannya kita arahkan dr awal atau arahkan lagi agar S1 s.d. S3 nya dan pelaksanaan tridharmanya inline…..

krn pasti akan terkendala dalam pengembagan karir tendik terhadap usulan JAD, Sertifikasi maupun Studi Lanjut..

kalau tidak inline apa lagi resikonya? ke akreditasi prodi dan institusi dmana satu prodi 6 dosen trsbt harus inline pendidikannya dengan homebasenya….

skrang mah kita berfikir positif saja dgn informasi tersebut dan dijadikan motivasi kita agar lebih baik menjadi tenaga pendidik dan tentunya profesional di bidang ilmunya…..janga meminta yg lebih ringan kalau kita mampu melaksanakannya

tanya ke diri sendiri saya PROFESIONAL mau di bid. apa…..????

hatur nuhun

Dunia Terus Berubah

Tidak ada yang tidak berubah, termasuk peraturan pemerintah. Tetapi biasanya peraturan mengikuti tuntutan jaman. Ketika kuliah dulu, saya melihat banyak profesor yang hanya bergelar S1, alias Prof. Ir. Bagaimana dengan aturan ke depan apakah bisa atau tambah rumit? Di era disrupsi dan revolusi industri dan pendidikan 4.0 sepertinya akan terjadi gejolak yang unik. Oiya, sekedar saran, sebelum memilih jurusan S3, ada baiknya konsultasi dulu agar tidak salah jurusan, sayang kan, soalnya S3 cukup menguras tenaga dan waktu .. “four years” atau malah bisa “for years..s..s..s..”

Bersama pembimbing dan rekan-rekan wisuda doktoral

Latihan Mengetik Cepat Online

Salah satu faktor penting dalam penyelesaian proyek baik menulis, riset, hingga pembuatan program aplikasi adalah mengetik cepat. Dengan mengetik cepat maka proses pengerjaan dapat terselesaikan jauh di bawah waktu deadline.

Program Untuk Latihan

Dulu ada program untuk melatih mengetik namanya Typing Master. Namun saat ini lebih baik menggunakan yang berbasis web karena dapat terhubung dengan pengetik-pengetik lainnya dari seluruh dunia. Beberap pengguna menyarankan menggunakan 10fastfinger yang juga disertai game yang menarik karena berkompetisi dengan negara-negara lain.

Lumayan masuk 10 besar ketika uji coba langsung dengan kecepatan 89 wpm (kata/menit). Untuk kecepatan di atas 100 wpm berarti mengetiknya seperti berbicara mengalirnya kata. Sepertinya harus latihan lagi.

Mengetik 10 jari dan Buta

Dua teknik tersebut wajib dikuasai oleh rekan-rekan yang ingin mengetik cepat. Biasanya jika sudah 10 jari secara otomatis akan mengetik buta. Buta di sini artinya tidak melihat tuts keyboard yang ditekan. Teknik yang digunakan adalah:

  • Letakan jari pada rumahnya (asdf – jkl;) khusus untuk qwerty
  • Tekan huruf sesuai dengan wilayah jari (kelingking, manis, tengah, telunjuk dan jempol).

Namun ternyata ketika melihat juara satu-nya 141 wpm, keyboard yang digunakan adalah jenis maltron. Hmm .. bagaimana lagi, sudah terlanjur qwerty jika dipindah akan belajar dari nol lagi.

Jenis-Jenis Format Keyboard

Ternyata jenis-jenis keyboard beragam. Memang saya merasa qwerty sangat tidak reliable karena kebanyakan huruf yang diketik, misalnya a malah berada di jari yang terlemah yaitu kelingking kiri. Jenis-jenis keyboard yang tersedia antara lain (sumber: indoworx.com/jenis-jenis-keyboard/):

1. QWERTY

Ini adalah formasi keyboard pertama di dunia. Kelemahannya adalah beban tangan kiri lebih besar dari tangan kanan. Sangat tidak cocok dengan tangan Indoneisa yang lebih kuat di kanan (bukan kidal). Namun apa boleh buat, karena sudah terlanjur banyak yang makai terpaksa tetap dipertahankan, karena jika format baru akan belajar lagi.

2. DVORAK

Dibentuk pada tahun 1932. Kabarnya DVORAK lebih evisien 10 – 15% dibanding qwerty.

3. KLOCKENBERG

Merupakan kombinasi qwerty dengan dvorak. Bentuknya terpisah antara kiri dan kanan. Fungsinya untuk mengurangi beban pada otot tangan dan bahu. Namun memiliki masalah dalam hal tata ruang dan sangat tidak mobile.

3. MALTRON

Keyboard ini mengatasi masalah jari yang harus menyesuaikan dengan keyboard pada qwerty. Dengan bentuk ini, jari tidak terlalu menyesuaikan dengan keyboard. Repititive injury yang kerap dialami orang yang banyak mengetik dapat dihindari. Lihat gambar di bawah (sumber: assistiveit.co.uk)

 

4. PALANTYPE

Keyboard ini membagi konsonan dengan huruf hidup (bagian tengah). Konsonan di kiri dan kanan yang posisinya mirip awal dan akhir kata. Sayangnya hanya mensuport bahasa Inggris.

5. STENOTYPE

Cocok untuk wartawan dalam merekam/mencatat wawancara. Hasilnya masih berupa singkatan-singkatan sehingga harus diedit lagi jika ingin dipublish. Tapi dengan singkatan saja, si wartawan masih bisa membaca apa yang diketik ketika wawancara. Hmm .. di jaman yang sudah mudah merekam sepertinya tidak diperlukan.

6. ALPHABETIC    

Keyboard ini sederhana karena memformat keyboard secara alfabet. Mudah dalam memasang karena urutannya alfabet .. he he. Biasanya hanya untuk mainan anak-anak.

7. ALPHANUMERIC

Biasa digunakan oleh para kasir / teller bank. Sangat cocok untuk mengetik angka. Keyboard qwerty biasanya menyertakan keyboard alphanumeric yang terpisah di bagian kanan. Tapi untuk laptop sepertinya sudah tidak ada untuk menghemat space.

Demikian tulisan ringan mengenai seluk beluk mengetik. Selamat mengetik.

Master Theorem

[algoritma&pemrograman/pert4/TIF-1101/r-408]

Ketika menangani kalkulasi menghitung waktu proses sorting dengan rekursif, salah satu metode yang praktis digunakan adalah master theorem. Oiya, rekursif adalah sebuah prosedur/fungsi yang didalamnya memanggil fungsi itu lagi. Misalnya pada algoritma heapshort.

  • Untuk seluruh angka
  • Ambil nilai max di akar
  • Isi akar dengan nilai index terakhir
  • Lakukan fungsi heapify()
  • Turunkan jumlah index sebanyak satu angka

Tampak ada pemanggilan fungsi heapify() di setiap rutin. Contoh lain adalah merge sort dengan devide and conquer. Dimana fungsi merge-sort() dipanggil lagi:

Master Theorem digunakan untuk mencari theta oh ataupun big oh suatu waktu proses T(n). Berikut ini rumus yang digunakan.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menggunakan teori ini antara lain:

  • Tentukan a, b, k dan p.
  • Cari tiga kemungkinan (lebih besar, sama dengan, atau lebih kecil) antara a dengan b^k.
  • Untuk a=b^k cek lagi apakah p>-1, p=-1, atau p<-1
  • Untuk a<b^k cek lagi apakah p>=0, atau p<0.
  • Masing-masing kemungkinan memiliki time complexity T(n) yang berbeda.

Tentu saja teori ini ada batasannya, misalnya jika di sebelah kiri T(n/b) ada n maka a tidak bisa ditentukan. Namun beberapa metode bisa mengkonversi menjadi bentuk standarnya dimana di sisi kiri berupa konstanta.

Ref:

Bahasa Pemrograman Online

Terkadang ada mata kuliah tertentu yang memerlukan praktek pemrograman. Bahasa yang dipilih pun beragam seperti Java, C++, Python, Ruby, Matlab, dan lain-lain. Jika ingin dituruti maka lab atau laptop pengajar harus menginstall aplikasi-aplikasi yang berisi bahasa pemrograman tersebut. Hal ini tentu saja sangat mengganggu karena tiap instalasi memerlukan space harddisk. Belum lagi jika fasilitas lab tidak memadai dan tidak terinstal compiler dari bahasa pemrograman yang digunakan.

Bahasa Pemrograman Online

Salah satu jawaban untuk mengatasi hal tersebut adalah menggunakan bahasa pemrograman online. Dengan mengakses situs-situs penyedia bahasa pemrograman online kita dapat belajar memrogram tanpa terlebih dahulu instal compilernya. Sangat praktis, tapi tentu saja tidak untuk production. Hanya saja untuk latihan siswa cukup memadai.

a. Bahasa C++

Bahasa ini banyak digunakan dalam perkuliahan karena sangat powerful, sudah tua, dan pembuat bahasa-bahasa lainnya. Salah satu situs yang lumayan bagus adalah OnlineGdb. Untuk mengujinya kita coba dengan algoritma insertion yang diambil dari mata kuliah algoritma. Silahkan buka kodenya di situs berikut ini. Copas dan letakan di bagian kode. NOTE: perhatikan lagi struktur kode-nya soalnya ada angka yang ikut ter-copas.

Lumayan OK dalam mensortir angka di atas. Hanya saja ketika menginput angka yang akan disortir sepertinya terlalu lama “lag”-nya, mungkin karena berbasis web.

b. Java

Sebenarnya situs OnlineGdb di atas bisa untuk java juga. Tinggal klik language di bagian kanan atas dilanjutkan dengan memilih java. Tetapi situs lain mungkin bisa dipertimbangkan seperti
Jdoodle
. Atau jika ingin bisa mengunduh hasil kompilasinya bisa dengan situs CompileJava. Di bawah ini tampilan Jdoodle ketika copas insertion short in java dari Situs ini.

Perhatikan, setelah Execute ditekan maka Result … memunculkan hasil di atas. Lumayan praktis tanpa menggunakan compiler java beneran. Minimal bisa menerapkan algoritma dengan bahasa Java secara instan.

c. Python

Bahasa ini merupakan bahasa yang cukup terkenal, khususnya yang bermain dengan machine learning, data mining dan sejenisnya. Bisa diakses via situs
Tutorialspoint

ini. Situs ini hanya khusus untuk python, tidak ada pilihan bahasa lainnya. Kode diambil dari Github insertion. Hasilnya lumayan ok, letaknya di kanan, hanya saja ada iklan mengganggu di bagian result

hh

Untuk bahasa-bahasa lainnya seperti ruby, c#, bahkan assembler tersedia di OnlineGdb. Selamat mencoba.

Yuk .. Jadi Asesor BKD dan LKD

Beban Kerja Dosen dan Laporan Kinerja Dosen merupakan berkas wajib seorang dosen profesional. Jika BKD dan LKD sudah dibuat, maka dosen tersertifikasi berhak menerima tunjangan sertifikasi dosen (Serdos) sesuai dengan golongannya.

Persetujuan Asesor

BKD dan LKD yang dibuat harus mendapat persetujuan dari dua orang asesor. Untuk kopertis 4 (sekarang namanya LLDIKTI wilayah 4) sudah online. Di sini asesor 1 dan 2 memberikan persetujuan lewat aplikasi web BKD. Untuk LLDIKTI wilayah lainnya masih berupa berkas untuk ditanda tangani.

Penentuan Asesor

Asesor di awal serdos muncul dipilih di tiap kampus, agar merata. Tidak semua dosen dijadikan asesor BKD dan LKD oleh Dikti. Saat ini syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh calon asesor adalah:

  • Doktor dengan minimum pangkat Lektor
  • Magister dengan pangkat minimal Lektor Kepala
  • Ijin rektor/pimpinan tempat calon berada
  • Mengikuti Penyamaan Persepsi

Penyamaan Persepsi

Ketika lulus S3 secara kebetulan diadakan penyamaan persepsi calon asesor di LLDIKTI 4. Cukup banyak yang hadir dan membludak. Saya sendiri duduk di belakang, maklum jarak Bekasi – Bandung lumayan jauh dan lama karena macet di daerah Cikarang.

Pemberian Nomor Induk Registrasi Asesor (NIRA)

Lumayan lama sejak penyamaan persepsi yang dilaksanakan di akhir januari, selanjutnya LLDIKTI mengumumkan calor asesor yang siap diberi NIRA dengan terlebih dahulu rektor tempat calon asesor berada memberikan persetujuan. Lihat format pernyataannya. Rencananya calon asesor ini sudah dapat bekerja semester depan jika sudah memiliki NIRA.

Untuk yang tidak mengikuti penyamaan persepsi di wilayah LLDIKTI masing-masing, sepertinya tidak diperbolehkan menjadi asesor walaupun memenuhi syarat pangkat dan gelar. Saat ini memang kebutuhan asesor baru sangat tinggi mengingat banyak dosen-dosen penerima serdos yang baru lulus. Kelayakan Asesor adalah mengasesori 10 dosen, dan kabarnya saat ini tiap asesor sudah berlebih. Repotnya belum tentu tiap tahun dibuka pengajuan asesor baru. Yuk, jadi asesor BKD dan LKD walaupun imbalannya pahala saja. Hitung-hitung membantu sesama rekan-rekan senasib (dosen).