Edit Tabel pada GIS untuk Klasifikasi

Tabel dalam GIS selain berisi koordinat juga berisi atribut, misalnya kondisi tanah di suatu region. Berikut ini contoh melakukan konfigurasi ulang terhadap data yang ada karena akan dilakukan proses pencarian lokasi optimum untuk menanam padi. Data yang diperoleh adalah daerah Sakon Nakhon di Thailand.

Figure 1 Daerah Sakon Nakhon di Thailand

Untuk curah hujan, kita dengan mudah dapat membagi menjadi buruk, baik, sangat baik, dan seterusnya. Untuk tanah sedikit rumit karena untuk standard tanah yang baik tidak ada yang sama dengan kondisi riilnya. Untuk itu sedikit dilakukan modifikasi saat melakukan query terhadap lokasi-lokasi tertentu yang mirip. Misal untuk kondisi yang kurang cocok, tanah mengandung Loamy Sand (LS), Sandy Clay Loam, dan Sandy Loam (SL).

Figure 2 Alat bantu Query

Pertama-tama kita edit tabel dengan menambahkan satu field baru yang sesuai kriteria yang dipakai untuk pertimbangan lahan yang cocok. Dikumpulkan terlebih dahulu berdasarkan kriteria di atas setelah itu dilakukan classify berdasarkan output yang direncanakan.

Figure 3 Menambahkan Field Baru

Terakhir untuk mempermudah pembacaan kita melakukan geoprocessing untuk hanya menampilkan klasifikasi di tiap daerah dengan menggabungkan daerah yang memiliki klasifikasi yang sama. Jangan lupa tambahkan extension geoprecessing lewat menu arcview.

Figure 4 Hasil Reclassify

Gambar di atas memperlihatkan bahwa lokasi berwarna merah sangat cocok untuk ditanam padi berdasarkan kriteria kandukan mineral. Tentu saja kita akan mengintegrasikan pertimbangan tersebut dengan curah hujan, kemiringan lahan, lokasi arah matahari, dan sebagainya sesuai arahan dari Food and Aggriculture Organization (FAO). Gambar di bawah ini setelah proses aggregation terhadap daerah dengan attribut yang sama (proses dissolve).

Figure 5 Hasil Dissolve

Perlu sedikit keahlian menangani data, juga melakukan join terhadap data jika ada data lain yang akan dimerger terhadap suatu lokasi yang akan dianalisa. Jangan lupa praktek, karena terkadang ada hal-hal sepele yang muncul saat praktek, misalnya saat melakukan proses dissolve geoprecessing kita masih menyorot lokasi tertentu, maka hasil geoprocessing akan kacau (klik tombol unselect all terlebih dahulu). Jangan lupa save tiap kali melakukan proses editing.

Kesan Pertama All New Kia Rio 2014

tigerHari ini muncul wajah baru, sebuah sedan hatchback (orang sering nyebut sedan tepos) berwarna merah di tempat kami. Sayang saya sendiri tidak bisa langsung melihat karena sedang berada di negeri gajah. Mesin 4 silinder 1.4 Liter (1400 Cc) dengan transmisi otomatis pesanan istri sudah tiba. Wajahnya yang tampan sepertinya membuat istri saya jatuh hati.

Mungkin ada yang bertanya ini mobil apa? Silahkan googling sendiri di internet. Yang jelas mobil ini mendapat penghargaan disain terbaik. Terbaik di mana? Bekasi? Tentu saja dunia dong … Yang menjadi trade mark nya adalah Tiger Nose karya disainer Peter Schreyer pada grill pendingin udaranya.

Mengapa beli jenis kendaraan ini? Selera aja sih. Dari dulu kami memang lebih suka membeli kendaraan yang unik yang jarang dijumpai di jalan (bukan kendaraan sejuta umat). Bagaimana harga jualnya? Kalau ga ada yang mau beli nanti, ya dikasihkan saja, beres. Yang jelas niatnya sih untuk menunjang pekerjaan sehingga menambah pemasukan karena produktivitas dalam bekerja (anti hujan, aman dengan airbag dan ABS, irit biaya transportasi). Macet ? ya pastilah .. untungnya sudah jarang bertugas di Jakarta (sekitar planet bekasi saja).

dimas

Walaupun tidak seperti layaknya versi yang dijual di eropa dimana kontrol audio yang terletak di stir, atap yang bisa terbuka (sun roof), tetapi lumayanlah dengan harga segitu dapat hatchback kelas menengah. Yang terpenting tidak perlu keluar duit lagi untuk jok kulit, solar guard / kaca film, sensor parkir, talang air, mantel mobil, velg yg sudah 16″, fog lamp, dan tetek bengek lainnya, alias tinggal pakai.

my-rio2

Yang jelas, transmisi manumatic-nya (bisa manual, bisa matic) sangat membantu ibu-ibu yang maunya tinggal gas rem, dan bisa menurunkan gigi secara manual jika mau menyalip, terutama di tanjakan.

Update: 13 Januari 2015 (service 1000 km).

Ketika liburan saya pulang ke Bekasi dan mencoba si Rio. Kesan pertama tampilannya seperti ford fiesta, dan lebih besar dikit dari jazz milik adik ipar. Terasa gas dan rem sangat sensitif. Tidak ada ngelitik seperti keluhan Rio keluaran 2012.

Interior walaupun masih di bawah Jazz tetapi space duduk dan bagasi serta kursi yang ergonomic (pas di badan) cukuplah. Entah kenapa mesin agak berubah-ubah responnya, apa karena saya sering gantian nyetirnya (beda karakter).

Sepertinya cocok untuk pengguna dalam kota, apalagi ibu-ibu yang ingin nyaman. Dibandingkan dengan jazz saat menikung rio agak limbung. Sepertinya butuh tambahan batang stabilizer karena per yang sangat lembut.

rio1000km

Update 12 Juli 2015 (service 5000 km)

Berhubung belum ganti oli semenjak mobil datang, sekalian saja servis gratis kedua di bengkel resmi kia. Muncul masalah standar mobil dengan kompresi tinggi yaitu mesin yang mengelitik. Ketika tiba di bengkel, langsung saja “curhat” bahwa dengan bensin pertamax 92, mesin terkadang mengelitik ketika berakselerasi awal (rpm rendah). Memang sih jika tombol ECO mode dimatikan, ngelitik sedikit berkurang, tapi sayang jika fasilitas ECO mode tidak dipakai.

Update Engine Control Unit (ECU) mutlak harus dilakukan, mengingat untuk kompresi 10:1 mengharuskan octane tinggi, yaitu pertamax plus. Namun saya meminta untuk cocok dengan pertamax 92 saja, karena khawatir jika dicocokan timing pengapian dengan premium berefek pada borosnya bahan bakar, toh saya tidak menggunakan premium.

Setelah ganti oli dan update ECU, ngelitik bisa dihilangkan (dalam batas riding style normal). Terasa gas sedikit dalam, berbeda dengan setelah awal yang tersentuh sedikit saja gas, mesin bereaksi. Untuk konsumsi BBM yang menurut spesifikasi 14-18 km/liter di tol, ketika dicek menyentuh 100/7=14.3 km/liter. Masih dalam range-nya, walau di batas bawah (jauh di bawah 18 km/l). Lihat brosur yang baru, kaget juga harga rio yang dulunya 197 juta kini menjadi 223 juta untuk yg matic.

bensin_rio

Update 15 November 2015

Entah karena kebanyakan make AC dan radio dalam keadaan mesin mati, baru setahun aki (accu) sudah diganti karena pagi-pagi aki ga ngangkat. Terpaksa habis 900-an untuk aki baru (pesan di shop n drive).

Info terbaru, mungkin dampak dari kenaikan dollar, hampir kebanyakan pabrikan menaikan harga jual kendaraannya, KIA Rio pun dibandrol hingga 238 jutaan, gile. Oiya, jika ingin liat perbandingan dapat dibuka situs perbandingan hatchback ini, secara total dimenangkan Rio tapi tentu saja berbeda versi eropa dengan versi yang dijual di Indonesia.

Update 10 Mei 2017 (Kia Rio Model baru 2017)

Kia rio merilis model baru dengan Sun Roof yang terkesan mewah untuk hatchback harga 250-an juta. Silahkan simak plus minusnya di video ini. Siapa tahu ada yang mau merasakan seumur hidup punya mobil dengan sun roof .. he he.

Update 16 Maret 2018

Terus terang RIO saya gunakan saat kondisi tertentu, fisik kurang fit, hujan terus, siang yang panas atau mengendarai di malam hari yang dingin. Selebihnya saya lebih menggunakan motor karena ga tahan macet. Akibatnya servis rutin 20.000 km belum sempat tercapai km-nya. Paling jauh pun dipakai Bekasi – Bandung. Lumayan irit sih (terutama pas pulang karena turun). Transmisi yang otomatic membuat saya harus mengambil jarak dengan kendaraan di depan agar kanvas rem dan ban lebih irit. Uniknya sudah 4 tahun kondisi tetap seperti baru, hanya ganti aki saja yang sering (setahun sekali).

Update 16 Januari 2019

Pada 3 Januari yang lalu, servis 20.000 km terpenuhi. Lama juga, maklum jarak dekat terus. Entah mengapa setelah diservis terasa enaknya. Sebelumnya sepertinya tidak ada perbedaan, mungkin hanya ganti oli saja. Terasa pada bagian kaki-kaki yang lebih balance serta ngelitik yang hampir tidak ada lagi. Tak terasa mobil yang menemani istri ketika saya di Thailand akan lunas tahun ini. Ingin berganti, tetapi sepertinya mobil ini masih nyaman dan mudah dikendarai.

Update 02 Oktober 2019

Setelah kaki-kaki diganti dengan ban Turanza dari Bridgestone, suara aspal nyaris tak terdengar. Apalagi setelah sekalian di spuring, tangan jadi lebih santai karena balance (tidak lari kanan kiri). Sempat juga aki mati (sudah tiga tahun) dan terpaksa menelepon “shop n drive” untuk ganti aki baru, 1,5 jtan.

Yang lebih menyedihkan adalah mobil ditawar orang. Karena takut ada apa-apa kalau ada yg suka dengan mobil saya, dijual dah seharga 110jt. Trus naik apa dong? Lama juga mencari mobil yg senyaman Kia Rio saya, akhirnya ketemu juga: Mitsubishi Xpander.

Xpander

Alasannya, anak mulai besar2, butuh kursi yang lapang 7 penumpang. Suspensi ternyaman di kelasnya walaupun harus hati-hati karena beban shockbreaker jauh lebih berat. Kekedapan kabin mirip Kia Rio hanya saja body lebih tipis dibanding Kia Rio tapi selama menggunakan Kia Rio toh tidak terlalu signifikan tebal tipisnya body terhadap “fun to ride”. Tipe yg saya beli “Ultimate” dengan tambahan fitur “Cruise Control” dimana ketika di tol pada kecepatan tertentu jika diset cruise control maka kecepatan akan dijaga pada posisi tersebut tanpa kaki menginjak pedal gas, alias kaki anti pegal. Untuk mesin? Ternyata Mitsubishi lebih “garang” mesinnya dibanding Kia dan bahkan Toyota yang sudah cenderung ngeset keiiritan (dual VVTi).

Update 06 Juli 2020

Kangen juga lihat Rio. Ada untungnya jual mobil ke sodara, bisa lihat terus mobil kenangannya.

IMG_20200706_170946

Melihat Perubahan Lahan di Bekasi dengan GIS

Beberapa situs GIS gratis telah memberikan layanan cuma-cuma untuk memantau perkembangan lahan, kerusakan hutan dan sejenisnya. Salah satu situs terkenal yang memasang perubahan lahan dari tahun 1984 hingga saat ini adalah google earth engine. Buka situs ini dan arahkan pada lokasi Bekasi tercinta (klik Amazon deforestation terlebih dahulu). Perhatikan daerah yang berwarna hijau yang menandakan keberadaan pepohonan dan yang menyala terang yang menandakan keberadaan perumahan.

Untuk melihat perubahan lahan klik simbol segitiga di pojok kiri bawah yang akan mensimulasikan perubahan dari tahun 1984 hingga 2012. Ada sedikit gangguan karena mungkin pengaruh awan ketika satellite menangkap gambar di tahun-tahun tertentu. Akan tetapi karena ada range sekitar 29 tahun, kita dapat menerka daerah mana saja yang berubah. Perhatikan lokasi penambahan jumlah penduduk di daerah bekasi yang tentu saja merubah penggunaan lahan dari daerah serapan, sawah, rawa, dan sejenisnya menjadi perumahan penduduk. Untuk wilayah pantai, perhatikan di tahun 1986 (waktu itu lagi demam-demamnya Maradona – sampai saya waktu SD merengek minta dibelikan kaus Argentina no 10), tampak laut di atas Jakarta masih landai, dimana pantainya masih cukup indah dan jika di tahun itu Anda pernah main ke Ancol pasti melihat pantai yang seperti di Bali (wehh .. padahal saya sama sekali belum pernah ke Bali sampai saat ini).

Perhatikan gambar di atas di mana pada tahun 2010 lokasi laut utara Jakarta sudah tergerus, dan memang sudah tidak lagi dijumpai pantai yang landai karena ada bendungan yang menghalangi laut yang mulai maju ke wilayah daratan. Saya ingat waktu itu ditahun 90-an ketika laut pasang air laut di pantai Ancol masuk ke jalanan dan memaksa pengelola Ancol membendung pantai sehingga saat ini tinggal beberapa wilayah saja yang masih berpantai. Perhatikan juga daerah pantai di sebelah kanan atas elips yang pada tahun 1986 tampak tetapi di tahun 2010 sudah menghilang (terpancung) menjadi lautan. Berikutnya perhatikan panah ke bawah yang menandakan penambahan pemukiman di sekitar Bekasi. Untuk wilayah hijau, Anda amati saja sendiri dengan menggeser kotak waktu (time line), hanya saja perlu teliti karena terkadang di tahun-tahun tertentu wilayah itu terhalang awan atau kekurangakuratan pemotretan.

Kalo gambar di atas itu kerjaan orang-orang iseng yang menyindir kota Bekasi tercinta yang puaannass banget katanya, selain macet tentunya. Mudah-mudahan kota perjuangan ini mampu berkembang menjadi kota yang tertata dengan rapi dan lebih nyaman lagi untuk dihuni, minimal tetap senyaman saat ini (katanya ..).

Geoprocessing in Arcview

Geoprocessing is an operation used to manipulate the GIS data. The data can be got from secondary data from government or by directly surveying the location. Sometimes we only want to analysis a particular area but we have retrieved data beyond it. Therefore we need some operations to limit our analysis scope. For example we want to analysis a particular area of north-east Thailand, first the all data is retrieved into a theme. Do not forget to add the extensions, geoprocessing and other needed extensions such as spatial analysis, image analysis, etc.

Figure 1

Open its table and select the sub area that you want to analysis by clicking shift and left mouse in the same time. In the picture above we want to analyze only the red area. After finish selecting areas we continue to convert it into other shape files by clicking ThemeConvert to Shapefile. Click yes if you want to add this new shapefile to the view after giving a name for it. Try to integrate this new shapefile to other data such as road, elevation, etc. Use a geoprocessing wizard to manipulate this data because the road data we have already is for north-east area.

Use the clips technique which available in arcview and the result is our sub-region with the road inside it. Try to add some data such as elevation and try to play with spatial analysis e.g. reclassify.

See you ..

Digitalization

Digitalization is an activity to convert non digital map such as photo, conventional map, and other sources which is raster data type into digital data that contain both spatial and its attribute. We need image analysis tool in Arcview by adding image analysis facility in extensions.

Add the IMAGINE Image Support and JPEG (JFIF) Image Support as well. In our laboratory we have been served with an image of our university and we have to digitalize it. Add a new view with the theme is the image that we want to digitalize.

The digitalization process is trying to create a new map that contain vector data and its attribute in a table (in arcview the dbf file is created). By using the image, we simply create a new image by separating the building, road, river, etc in separate layer. There is three kind of vector data that arcview provided, point, line, and polygon. For a particular area we use point, line for roads, and polygon for buildings. We do not need to create new view, just add new theme for making a layer for building, road, river, etc.

For example we want to digitalize buildings, use polygon and draw again every building that we want to digitalize. Do not forget to start editing every the beginning of digitalization action. After all the building that we want to digitalize has finish, add an attribute to its table.

Add the field necessary to your attribute data such as name, description, etc. The final result is a digitalize map that contains a spatial and attribute data, and of course a raster data (main image) can be used as well. Use label for showing a particular object and then create a layout to accommodate this new digital map.

Submit Paper

Paper ilmiah merupakan sarana bertukar fikiran antara satu peneliti dengan peneliti lainnya di seluruh dunia. Peneliti yang handal akan memiliki paper yang dari sisi kualitas dan kuantitas akan baik pula. Jika ada peneliti yang tidak memiliki publikasi ilmiah dalam bentuk paper dapat dipastikan bahwa peneliti itu tidak melakukan penelitian atau menyembunyikan hasil penelitiannya. Peneliti yang baik tentu saja selain memiliki kemampuan akademik terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi terkini juga memiliki jiwa berbagi (sharing) yang tinggi.

Di Indonesia, paper kebanyakan hanya menjadi sarana pendidikan di perguruan tinggi ataupun syarat kenaikan pangkat bagi dosen. Dikti sudah mensyaratkan terhadap mahasiswa yang akan lulus dari perguruan tinggi untuk mempublikasikan hasil penelitiannya. Sungguh berat tetapi apa boleh buat, kita sudah tertinggal dari sahabat kita Malaysia dari sisi jumlah tulisan yang dipublikasikan.

Melihat grafik di atas pantas saja dirjen DIKTI Djoko Santoso mensyaratkan kelulusan perguruan tinggi yaitu publikasi ilmiah. Jumlah penduduk indonesia yang besar sudah selayaknya memiliki jumlah publikasi yang tinggi juga. Jangankan dengan Malaysia, dengan Vietnam saja kita masih kejar-kejaran. Belum lagi dengan negara-negara lain seperti Jepang atau negara-negara maju lainnya, Untuk melihat kinerja negara-negara terhadap publikasi ilmiahnya dapat diakses di sini.

Bagaimana Mempublikasikan Paper?

Jika kita sudah sadar dengan posisi negera kita yang lemah dari sisi publikasi ilmiah, muncul pertanyaan bagaimana cara mudah mempublikasikan paper kita? Cara paling sederhana adalah mensubmit paper, tentu saja jika kita punya paper. Jangankan menulis paper, membaca paper saja sudah pusing. Padahal kalau kita perhatikan satu naskah paper (perhatikan saja jangan dibaca, takut tambah pusing) ada referensi yang jumlahnya belasan hingga puluhan yang pasti telah dibaca oleh penulis paper tersebut. Sebanyak itukah paper referensi yang harus dibaca? Tentu saja tidak, pasti lebih banyak dari itu mengingat yang dicantumkan di dalam referensi adalah yang “beruntung” karena sesuai dan mendukung paper yang kita tulis, sementara yang “sial” lainnya tidak mendukung paper kita. Kata “sial” di sini adalah karena kita sudah capek-capek membaca, tapi tidak ada hubungannya dengan riset kita.

Publikasi ilmiah bisa berupa jurnal dan seminar (conference). Alangkah baiknya kita menoleh ke jurnal internasional atau seminar internasional mengingat ketertinggalan negara kita adalah di level internasional. Sangat disayangkan bila tulisan-tulisan kita yang cukup banyak hanya diterbitkan di jurnal lokal yang tidak terindeks di level internasional. Apakah indeks itu? Indeks itu seperti google, bedanya google akan mencari seluruh data di dunia yang berhasil dia tangkap, sementara indeks ini hanya data yang dia akui keberadaannya, misalnya google scholar, scopus, dll. Tentu saja kita memilih indeks yang diakui dunia seperti scopus, thomson, dan minimal diakui oleh DIKTI.

Beberapa rekan saya menanyakan bagaimana cara mudah mempublish paper kita? Saya sempat kaget juga karena yang bertanya adalah rekan dosen senior yang pangkatnya jauh di atas saya. Sebenarnya mereka sanggup membuat paper dan mempublishnya hanya saja ada beberapa kendala yang menghadang, terutama dari sisi bahasa dimana bahasa Inggris menjadi satu keharusan. Kendala lainnya adalah waktu dan mental. Untuk masalah waktu, sepertinya sudah tidak begitu menghambat mengingat pemerintah sudah menyadari hal itu dengan memberikan tunjangan profesi lewat sertifikasi dosen sehingga mengurangi dosen yang “ngajar sana ngajar sini” atau “proyek sana proyek sini” sehingga dapat fokus ke riset dan penulisan. Tinggal masalah mental yang menurut saya harus dibenarhi.

Saya sudah setahun lebih jadi gelandangan di negeri orang, mengais-ngais ilmu yang berceceran, dan cukup kaget dengan adanya perbedaan kultur antara negara kita dengan negara lain. Entah mengapa sesuatu yang sulit di negara kita menjadi mudah di negara lain. Mungkin bukan sulit, melainkan dipersulit. Ego para dosen di Indonesia sangat tinggi dengan tingkat subjektivitas yang kebangetan. Cerita dari rekan-rekan saya jika dua dosen (bahkan ada yang ditambah kata “kubu” di depannya) muncul persaingan atau perselisihan, yang jadi korban adalah mahasiswa bimbingan. Karena terjadi bertahun-tahun ada sedikit trauma barangkali sehingga jika ada sedikit “senggolan” langsung terasa “sakitnya itu di sini”. Oke, jangan ambil pusing .. itu obatnya.

Submit Paper itu Gratis !

Kata-kata penolakan bagi dosen/mahasiswa di negara lain merupakan kata yang biasa, tetapi bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia adalah kata yang “luar biasa” menyakitkannya. Akibatnya adalah kekecewaan yang mendalam dan menghalangi untuk mencoba kembali. Yang paling parah adalah melampiaskan kekecewaannya kepada yang lain (rekan dosen/mahasiswa), istilah yang terkenal “balas dendam”. Tapi jika diperhatikan dengan kepala dingin, apakah ketika submit paper kita keluar uang? Tentu saja tidak. Apakah penolakannya begitu saja? Tentu juga tidak, ada keterangan dan hal-hal yang harus diperhatikan. Ini kan ilmiah, bukan hal-hal lain di negara kita dimana kritik berupa hinaan dan cacian tanpa ada saran perbaikan.

We have now completed the review of your submission “A Web-GIS Based
Integrated Optimum Location Assessment Tool for Gas Station Using Genetic
Algorithms .” . We regret to inform you that your paper was not selected
for publications in …..

Kata-kata di atas merupakan kata standar untuk penolakan terhadap paper yang kita submit. Memang ketika membaca “sakitnya itu di sini”.. he he (makanya tulisan di atas saya buat format ‘center’ agar seperti puisi). Tapi jangan berhenti di situ, terus perhatikan di mana letak kesalahannya.

Too many grammatical mistakes. For example:
“Database is important to GIS because it store,
manage, process, and organize both raster data
(images) and vector data (points and lines). We use
postgresql with its relational characteristic and open
source.”

Tulisan di atas adalah hanya salah satu contoh dari reviewer kedua. Banyak lainnya yang kemudian saya perbaiki satu persatu. Kesalahan grammer yang menjadi kendala karena bukan bahasa asli kita sebenarnya dapat kita atasi dengan bertanya ke rekan kita yang lebih mahir. Jika semua telah diperbaiki coba submit lagi ke penerbit lainnya.

Based on the recommendations of the reviewers and the Program Committee, I am very pleased to inform you that your paper #1570036001 (‘A Web-GIS Based integrated Optimum Location Assessment Tool for Gas Station Using Genetic Algorithms’) for **** has been accepted

Jangan lupa untuk mengecek jurnal/conference yang dituju apakah terindeks di indexer terkenal agar memudahkan paper kita dicuplik (sitasi/cited) oleh penulis lain dan akhirnya meningkatkan kualitas paper kita (cited per document). Selamat mencoba !

How to Draw a Diagram using Draw IO?

Draw IO is a free web-based tool for drawing a model such as Entity Relation Diagram (E-R Diagram), Flow chart, Data Flow Diagram (DVD), Unified Modeling Language (UML), etc. You can access it at www.draw.io in start using it without installation. Immediately you will be asked the location for saving the xml file, for example you use your harddrive, so yo have to choose Device.

And please click the “create a new diagram” or “open existing diagram” if you want to open a xml file of your diagram that have drawn before. Before drawing, this application will ask you to create the name of your diagram.

And let your creativity flows, and for exercise, try to draw E-R diagram like this.

Save your figure by clicking the menu save and if you want to capture for your document (word, power point, etc) you have to download it into image, xml, and other file support. So far, I like to download as GIF than JPEG or others. Because it give a good resolution that you can see below. Ok .. good luck.

Learning Vector Quantization (LVQ)

LVQ is another kind of competitive network that uses competitive and linear layer together (see past posting for competitive network). The winning neuron of the first stage is become a subclass. Then the second layer combines it into a single class. Many researcher use this kind network for signature identification.

The learning of LVQ is supervised learning. It needs a target as a basis of learning process. Use this script (LEARNING VECTOR QUANTIZATION) to practice your matlab skill in creating a LVQ network. Try to understand the syntax of lvq function by typing “help newlvq” on command window.

The above picture shows matlab respons to our train script function. You can see the IW and LW part of LVQ network using this script.

>> samplelvq.iw{1,1}

ans =

-0.1259 -0.0280

0.0862 0.1584

-0.0351 0.0306

>> samplelvq.lw{2,1}

ans =

1 1 0

0 0 1

Competitive Network

Competitive network uses Hamming Network which is contained feedforward and recurrent layer.

Open your Matlab and try this lab example. Just copy and paste to see how this kind of network worked. Newc is a function from matlab to create a competitive network. Use this Competitive Network file for practise.

Try to train a competitive network. After training the network, try to simulate the trained network to find the result from a sample input.

This is a result from simulation of samplec on Pc. Type on command window “help newc” to study the syntax of newc function from your Matlab.

>> Yc1 = sim(samplec, Pc)

Yc1 =

(2,1) 1

(2,2) 1

(2,3) 1

(1,4) 1

(1,5) 1

(1,6) 1

Menghitung Determinan dan Invers Matriks 4×4 – Bag 2

Postingan yang lalu kita menghitung matriks 4×4 dengan metode sarrus yang sedikit ribet. Sekarang kita coba dengan menggunakan metode operasi baris dan kolom yang sedikit “logis”. Kita terapkan metode ini untuk matriks 4×4 setelah pada postingan yang lalu kita gunakan untuk matriks 2×2 dan 3×3. Buat M-File baru, cara gampangnya ketik aja di Command Window “edit segitiga” yang akan membuka editor di M-File editor dengan nama segitiga.m, dan jangan khawatir jika Matlab menanyakan bahwa Script segitiga tidak ada (karena memang ingin kita buat), lanjutkan saja dengan menekan OK.

Baris kedua membuat matriks berangkai yang tadinya 4×4 menjadi 4×8 karena kita akan menggunakan prinsip x = [I][inv(x)]. Pada line 4 sampai 9 kode di atas adalah membuat segitiga atas, dilanjutkan dengan segitiga bawah. Segitiga atas menghasilkan nol di bawah diagonal, sebaliknya segitiga bawah menhasilkan nol di atas diagonal. Hasilnya adalah nol selain di diagonal yang kemudian pada line 18 hingga 21 menghailkan matriks diagonal satuan (seluruh diagonal bernilai satu). Uji coba dengan command window dengan memasukan bilangan random 4×4 yang akan dicari inversnya.

Dilanjutkan dengan menjalankan M-file yang baru saja kita buat.

Cek dengan menggunakan fungsi INV di Matlab apakah sama dengan hasil di atas? Jika sama berarti kode Anda benar, Oiya, gunakan kondisi jika kebetulan Matriks yang akan dicari inversnya tidak memiliki invers (determinannya nol) .. Selamat Mencoba!

Mempelajari GUI di Matlab

Apa itu Matlab?

Matlab merupakan bahasa komputasi terkenal dan banyak dipakai oleh mahasiswa atau periset yang ingin membuat suatu prototipe dengan algoritma baru. Terkadang aplikasi ini dijadikan alat ukur yang cukup adil terhadap dua metode, karena tidak bisa kita membandingkan metode tertentu yang dibuat dengan C++ dan metode lain yang dibuat dengan bahasa yang lain misalnya Java. Terkadang yang unggul adalah C++ terlepas dari metode yang dipakai karena memang jenis bahasanya yang lebih cepat.

Beberapa institusi melarang mahasiswanya menggunakan Matlab yang katanya terkesan tinggal pakai saja (toolbox-toolboxnya). Ketika orang ilmu komputer menjauhi Matlab, ternyata bidang lain malah mendekati. Tak dapat dipungkiri Matlab merupakan salah satu aplikasi yang justru mendekatkan ilmu komputer yang sebelumnya terkesan eksklusif menjadi terbuka terhadap cabang ilmu yang lain. Bahkan saat ini multi disiplin ilmu sedang giat-giatnya dijalankan. Jika dikatakan Matlab tidak opensource, ternyata ada bahasa setara dengan matlab yang open source juga seperti scilab, octave, dan sebagainya.

Beberapa tahun yang lalu Matlab masih sekedar alat bantu menghitung dengan sifat matriksnya yang memang cocok untuk operasi matematis. Tetapi karena kesulitan dalam penggunaannya, Matlab menambahkan Graphic User Interface (GUI) seperti bahasa pemrograman visual yang lain sehingga bisa dibuat menjadi program tersendiri dimana sebelumnya masih mengandalkan pemrograman visual lainnya seperti VB, Delphi, dan lain-lain.

Belajar GUI dengan Mudah

Untuk rekan-rekan yang bingung prinsip kerja GUI berikut teknik dasar belajar GUI tanpa buku. Sebenarnya ketika belum banyak buku Matlab yang dijual, para mahasiswa mempelajari GUI lewat Matlab sendiri. Buka Matlab dan ketik ‘guide’ di comman window.

Jika Anda sudah mahir, maka langsung aja memilih “Blank GUI (Default)”. Tetapi di sini kita mau belajar, maka paling dasar adalah kita memilih “GUI with Uicontrols”. Di sini Anda akan diberikan contoh program visual bagaimana menangkap masukan, melakukan komputasi, dan mengeluarkan hasil di kolom keluaran.

Pilih, dan klik OK, sehingga Matlab memunculkan GUI contoh dimana kita akan menghitung Massa benda berdasarkan masukan kerapatan dan volume. Lalu di mana kita mengetikkan programnya? Mudah saja, pertama – tama tekan tombol RUN (Ctrl-T) atau tombol segitiga berwarna hijau. Maka Matlab akan meminta anda memberi nama aplikasi yang baru saja dibuat. Beri nama, misalnya latihan, maka program siap dijalankan.

Tampak jika kita beri masukan Density sebesar dua dan volume tiga, diperolah massa 2×3 =6. Sederhana tetapi ini merupakan dasar GUI yang sederhana dimana Matlab menerima masukan, memproses dan menampilkan output. Di mana letak programnya? Mudah saja, di GUI desainer sebelumnya tekan tombol M-file editor dengan icon pulpen dan kertas. Maka Anda akan ditampilkan listing programnya.

Perhatikan listing di atas, baris ke 98 sampai 106 adalah teknik menangkap variabel density di tombol isian density di GUI. Baris 105 dan 106 adalah instruksi wajib agar density dapat dihitung di fungsi yang lain selain fungsi density (di GUI ditambah kata _Callback). Jika fungsi yang ada di Matlab cukup banyak (jumlah fungsi berdasarkan tombol yang Anda pasang di GUI) maka Anda membutuhkan bantuan f() yang dapat Anda klik dan langsung mengarahkan ke lokasi fungsi yang dituju.

Coba arahkan ke fungsi calculate_Callback yang akan menghitung massa. Tampak fungsi berikut ini, perhatikan di sini kita tidak mengalikan density dengan volume melainkan menambahkan awalan “handles”. Mengapa? Jawabannya karena density dan volume digunakan di fungsi lain, maka harus ditambah handles. Sebenarnya jika ingin mudah, kita tidak perlu membuat sub objek (metricdata). Bisa saja langsung dengan handles.density saja jika di awal kita tidak memerlukan metric data. Jika Anda berhasil membuat aplikasi sederhana seperti ini lewat pilihan GUI pertama (Blank GUI) maka Anda sudah dapat dikatakan mampu membuat GUI. Selamat mencoba. Cara membuat GUI dengan loading file tertentu bisa di lihat di postingan sebelumnya.

mass = handles.metricdata.density * handles.metricdata.volume;

set(handles.mass, ‘String’, mass);

Konsep Dasar pada GIS

Seperti biasa, mempelajari hal-hal baru pasti dihadang dengan konsep-konsep maupun istilah-istilah yang harus dimengerti agar bias mempelajari hal-hal yang lebih dalam lagi. Berikut ini beberapa hal yang mungkin dibutuhkan oleh siswa yang sedang belajar GIS. Sebelumnya kita definisikan dulu GIS sebagai sistem informasi yang bekerja dengan data dengan referensi spatial atau koordinat geografis. Bisa juga diartikan sistem basis data dengan kemampuan khusus dalam menangani data dengan referensi spatial layaknya beroperasi dengan data biasa. Dengan kata lain, data yang diolah adalah data tentang lokasi, biasanya koordinat. Spatial objects adalah area geografis dengan atribut beserta karakteristiknya.

1. Apa bedanya map, aerial photo, dan satellite imagery?

Map is geographic features or spatial information presented graphically. It conveys information about location and its attribute. Position of particular geographic feature on earth is 2D and 3D. Map contain point, line and area features. Also there are attribute information such as feature types, name, number of code, area/length, and other quantitative information. Aerial photo is taking of photograph of the ground from camera with elevation using fixed-wing aircraft, helicopters, multi-rotor unmanned aircraft system (UAS), balloons, blimps and dirigibles, rockets, kites, parachutes, stand-alone telescoping mounting on vehicles. Those photograph maybe with photographer or automatically shoot. Satellite imagery is similar to aerial photo but using satellite to capture an image. There are four type of resolution: spatial, spectral, temporal, and radiometric. This images have many applications in meteorology, oceanography, fishing, agriculture, biodiversity conservation, forestry, landscape, geology, regional planning, education, intelligence, and warfare. In 1972, US start a landsat program that capture image from space.

2. Jelaskan konsep data geospatial.

Geospatial data is data related to geographic location and its characteristics of natural or constructed features and boundaries on earth.

3. Sebutkan lima jenis peta dan penggunaannya.

Jenis peta sangat banyak, jenis pertama adalah: 1). Climate maps. Give general information about the climate and precipitation (rain and snow) of a region. Biasanya menggunakan warna untuk memetakan zona-zona nya. 2). Economic or Resources Map. Feature the major types of natural resources or economic activity in an area. Cartographers use symbol to show the location of natural resources or economic activities. For example, wheat on an area, paddy, etc. 3). Physical map. Illustrate a physical area such as mountains, rivers, and lakes. The water is usually shown in blue. Green for lower elevation, orange and brown for higher elevation. 4). Political Map. It show state and national boundaries and capital and major cities. A Capital city is usually marked with a start within circle. 5). Street Map / Road Map. Illustrate smaller area as towns and cities. People use it to find direction to a place where to go. 6). Topographic Map. Include contour to shows elevation of an area. Line near show steep terrain, and line far away show flat terrain. It useful for hiking, and geologist to record the type of rock.

4. What is Map Resolution and Image Resolution?

Resolution is distinguishing individual parts. Spatial resolution for geographic data as the content of the geometric domain divided by the number of observations, normalized by spatioal dimension. Map resolution is term to know how accurately the location and shape of map features can be depicted for a given map scale. Therefore, in larger scale maps, features more closely matches real world features. Image Resolution is detail an image holds. Applies to raster digital images. Basically resolution quantifies how close lines can be to each other and still be visible resolved.

5. Discuss about Ideal GIS, Accuracy standards for maps (U.S), factors affecting map accuracy, and what is map extent and database extent.

Ideal GIS is GIS that accommodate open data policy, interoperable procedure, multidisciplinary, networking, data/information sharing, and standardization. Accuracy standard for maps in USA is announced in 1947 said that for maps scale larger than 1:20,000 no more than 10% of features shall be more than 1/30th of an inch from their intended location on maps. For scale smaller than 1:20,000 said no more than 10% of features shall be more than 1/50th of an inch from their intended location. Factor affecting accuracy are: map resolution, quality of source data, map scale, drafting skill, width of line used to depict features. A map extent is a portion of area of a region shown in map. The limits of map extent are defined in coordinate system of the map. In western culture, map extents usually have a rectangular shape, so they are defined with a minimum and maximum width and height. In dynamic map can be accessed by zooming and panning.

6. What are logical operators available in arcview GIS? Discuss about them.

There is Boolean logical operator: AND, OR, and NOT. Also there are other logical such as >, >=, <, <= and <>. It appears like calculator when we query some spatial data.

7. Explain the essential element of a layout of the map. The basic elements of maps: title, legend, names of features, directional indicator, scale and map grid.

8. Explain 4 M in GIS? 4 M in GIS are Model (modeling and simulation), Map (creating a map), Measure (finding a distance, etc), and Monitor (seeing realtime).

9. Discuss importance of remote sensing in GIS. Remote sensing is collecting and interpreting information about the environment and the surface of the earth from distance, primarily by sensing radiation that is naturally emitted or reflected by the earth surface from the atmosphere, or by sensing signals transmitted from a device and reflected back to it. The methods are photography, radar, and satellite.

10. What are the functional elements of GIS? Explain. GIS functional elements are Data acquisition, data preprocessing, data management, data manipulation & analysis, and data product generation. Data acquisition is process of identifying and gathering the data required for the app. Data preprocessing is manipulating data in several ways to be able to prepare it for further modeling. It also covertion format, georeferencing (geometric correction and resampling), and also establishing a consistent system for recording. Data management is for helping in creating and assessing the database with consistent method for data entry, update, delete and retrieve. Data manipulation and analysis is working within database to derive new information using statistical tool, modeling, logical and Boolean tools, and specialized model. Product generation is soft copy and hard copy style and also cartographic principles built-in computer aided drafting tool. Product presentation maybe report (table, map, write-up) or multimedia.

11. Explain the difference between topology and topography. In geodatabases, topology is the arrangement that constrains how point, line, and polygon features share geometry. In Arcview topology is spatial relationship between connecting or adjacent features in geographic data layer. Topography merupakan representasi dari bentuk permukaan (surface shape and features of the earth and maybe other planets. Including relief and the position of natural and constructed features.

12. What is the table join? Table join is merging two or more tables based on a field. These tables have a join field as connector for other fields and these tables become one merging tables that share other attribute.

13. What is attribute aggregation? The process of collecting a set of similar, usually adjacent, polygon (with their associated attribute) to form a single, larger entity.

14. What is address matching? A process that compares an address or a table of addresses to the address attributes of a reference dataset to determine whether a particular address falls within an address range associated with a feature in the reference dataset. If an address falls within a feature’s address range, it is considered a match and a location can be returned.

15. Explain the centroid, buffer operation, map overlay (raster and vector) and cutting and filling operation. Centroid is average location of a line or polygon, also center of mass of a two or three dimensional object. Overlay is techniques involve the compositioning or extracting multiple maps t create a new dataset. Cutting and filling operation to create a volume or area that cut or fill with some capacity.

Untuk istilah yang lain dapat dicari lewat searching di ESRI.

Maraknya Grup Kenangan Lama

Munculnya grup-grup yang beranggotakan orang-orang dengan kenangan masa lampau membuat saya jadi ingin menulis pengalaman ketika waktu kuliah dulu. Era 60, 70, dan 80-an menurut saya merupakan era yang unik karena pada era itu di negara saya sudah tidak ada perang, baik perang kemerdekaan maupun efek dari perang dingin yang diakhiri dengan peristiwa G-30 S. Kondisi negara yang mulai stabil dan membangun menghasilkan individu-individu yang punya kenangan manis, berbeda dengan era sebelumnya yang cenderung lebih banyak kenangan pahitnya.

Peminat group-group jadul saat ini kian marak dengan munculnya social media seperti facebook, twitter, dan sejenisnya. Dulu di televisi sempat bermunculan acara-acara lagu khusus lagu lama yang cukup banyak diminati oleh pemirsa. Bahkan salah satu group facebook tentang era 80 dan 90 an memiliki banyak member yang bernama Hits From The 80s & 90s.

Pakaian Jadul

Cerita menarik sempat saya alami ketika saya mau ujian sidang sarjana di jurusan mesin UGM. Sempet panik ketika mendadak syarat sidang harus memakai jas dan dasi, tetapi reda ketika sahabat saya memberitahukan bahwa ia bersedia meminjamkan jas yang menurut dia cukup bagus dan ukurannya pas dengan saya, karena memang ukuran baju saya dengan dia sama. Jika dia pas, tentu saja saya pas. Salahnya saya adalah saya tidak melihat terlebih dahulu jasnya tersebut.

Alhasil di hari “H” saya mengambil jas yang ia pinjamkan di kos-kos annya di daerah blimbing sari, pinggiran UGM. Waktu itu saya belum tahu model-model jas, setahu saya semua jas itu sama. Ternyata jas teman saya itu adalah warisan dari bapaknya, tahun 70-an. Ya ampun, apa boleh buat, toh bagus juga menurut saya. Saya datang ke kampus, karena stress dengan persiapan sidang, saya tidak terlalu memperhatikan pakaian, teman-teman saya pun tidak mengusik jas yang saya kenakan. Jas tersebut “terlalu pas” menurut saya, karena jika di bilang sempit, tidak juga tetapi jika dibilang kebesaran tidak juga karena di bagian tertentu serasa sempit (paha atas dan perut) tetapi di bagian lain kebesaran seperti di bagian bawah celana panjang.

Tak apalah, toh rapi menurut saya. Bagi rekan-rekan saya tidak jadi masalah tetapi bagi dosen-dosen penguji saya yang hidup di era 60 dan 70-an tentu saja tidak asing. Walaupun mereka tidak mempertanyakan, tetapi tampak senyuman di wajah-wajah mereka. Untungnya, dengan jas seperti itu sepertinya mereka sedikit sungkan untuk “membantai”, mungkin hanya dosen pembimbing saya saja yang “membantai”, walau menurut saya itu hanya taktik dia untuk mencari perhatian dosen penguji yang lain. Dan, Alhamdulillah .. sidang berjalan dengan lancar. “Selamat untuk sahabat baik saya .. Anda telah sukses “ngerjain” saya”, pikir saya dalam hati.

Selang beberapa bulan kemudian, giliran rekan saya yang sidang. Ternyata saya baru tahu kalau dia juga tidak mengenal jenis-jenis jas yang ada, dan tidak bermaksud “ngerjain” saya. Saat mampir ke kos-kosannya ketika saya mau melegalisir ijasah, dia bercerita lucu. Ternyata kebetulan sekali, yang menjadi dosen pembimbing dia adalah dosen yang menjadi panitia sidang saya dulu. Sebelum sidang dimulai, dia berkata “Tunggu dulu .. kayaknya saya pernah lihat Jas seperti ini dah waktu sidang”. Dia bercerita bahwa wajahnya sempat pucat karena malu. Akhirnya sidang dimulai dengan membahas masalah jas jadul. “Pak .. teman saya yang minjem jas, ini punya saya, warisan dari bapak”, protes temanku ketika diduga jas tersebut meminjam dari saya .. ha ha.

with herwan

Term Frequency dan Invers Document Frequency (Tf-Idf)

Karena kelemahan scoring dengan Jaccard adalah tidak disertakannya frekuensi suatu term dalam suatu dokumen, maka diperlukan skoring dengan kombinasi dari Term Frequency dan Invers Document Frequency atau disingkat tf-idf.

Term Frequency (tf)

Tf menyatakan jumlah berapa banyak keberadaan suatu term dalam satu dokumen dan kemudian dilogaritmikan agar mengurangi besarnya bilangan, dimana logaritmik suatu bilangan akan mengurangi digit jumlah, misalnya 1000 dengan log (1000) hanya menghasilkan angka tiga. Rumus Tf adalah sebagai berikut:

Jadi jika suatu term terdapat dalam suatu dokumen sebanyak 5 kali maka diperoleh bobot = 1 + log (5) =1.699. Tetapi jika term tidak terdapat dalam dokumen tersebut, bobotnya adalah nol.

Inverse Document Frequency (Idf)

Terkadang suatu term muncul di hampir sebagian besar dokumen mengakibatkan proses pencarian term unik terganggu. Idf berfungsi mengurangi bobot suatu term jika kemunculannya banyak tersebar di seluruh koleksi dokumen kita. Rumusnya adalah dengan inverse document frequency. Document frequency adalah seberapa banyak suatu term muncul di seluruh document yang diselidiki.

Sehingga bobot akhir suatu term adalah dengan mengalikan keduanya yaitu tf x idf. Berikut ini kita mengambil contoh suatu kasus. Misalnya kita memiliki vocabulary sebagai berikut:

girl, cat, assignment, exam, peace

Dan kita diminta merangking suatu query: “girl exam” terhadap dua dokumen di bawah ini:

Document 1 : exam peace cat peace peace girl

Document 2 : assignment exam

Langkah pertama adalah kita membuat tabel dengan term urut abjad (lexicography) dan mengisi nilai bobotnya untuk document 1 dan document 2. Setelah itu menghitung score(q,d1) dan score(q,d2) yang menyatakan berturut-turut skor rangking query terhadap dokumen 1 dan dokumen 2.

Bagaimana angka-angka tf-idf tersebut muncul? Jawabannya adalah dengan menghitung bobotnya lewat rumus tf x idf di atas. Perhatikan exam dan girl yang merupakan query (ditandai kotak hitam). Tampak untuk dokumen 1 score-nya adalah 0 + 0.3 = 0.3, sementara untuk dokumen 2 score-nya 0 + 0 = 0, jadi jika diranking, yang pertama adalah dokumen 1 dan berikutnya dokumen 2. Bagaimana menghitung bobot Wt,d untuk girl pada document 2 di atas yang diperoleh hasil 0.3? berikut ini jalan lengkapnya:

Coba hitung bobot di kolom yang lainnya siapa tahu saya salah hitung. Berikut video tutorialnya:

Koefisien Jaccard

Antara query dengan document perlu dihitung skor untuk mengetahui ranking hasil dari searching kita. Salah satu teknik termudah adalah dengan koefisien Jaccard. Koefisien ini mudah karena kita tinggal mencari item mana saja yang sama dibagi dengan total item keduanya.

Berikut ini adalah contoh sederhana kasus menghitung koefisien Jaccard. Jika diketahui A={1,2,3,4}, B={1,2,4}, dan C={1,2,4,5}, berapakah Jaccard (A,B), Jaccard(B,C), dan Jaccard(A,C). Berikut ini penyelesaiannya.

Berikutnya untuk kasus query dan document. Misalnya kita punya query: ides of march dengan dua buah document yaitu doc1: caesar died in march, doc2: the long march. Cari koefisien jaccard antara query dengan doc1 dan doc2.

Koefisien jaccard memiliki kelemahan dimana koefisien ini tidak memperhatikan term frequency (berapa kali suatu term terdapat di dalam suatu dokumen). Perlu diketahui, bahwa terms yang jarang muncul dalam suatu koleksi sangat bernilai dari sisi informasi, tetapi koefisien Jaccard tidak mempertimbangkan hal ini. Jadi kita butuh cara lain untuk menormalisasikannya.