Regenerasi Itu .. Harus

Jika kita berdiri di hadapan kaca, kita merasa diri kita sama dengan yang kemarin. Padahal sejatinya kita yang sekarang adalah hasil regenerasi. Kalau tidak percaya, lihat saja orang yang baru meninggal. Dalam beberapa jam sudah mulai membusuk, hal ini karena tubuh tidak bisa beregenerasi, sehingga harus segera dikebumikan atau dikremasi. Yang terjadi dengan tubuh organisme tidak jauh berbeda dengan tubuh dalam bentuk sebuah organisasi, institusi, hingga sebuah negara.

Jangan Melupakan Sejarah

Sejarah peradaban jika kita amati seperti roda, kadang naik, kadang turun dan hancur, digantikan oleh pihak lain. Lihat saja berganti-gantinya penguasa timur tengah, yang saat tulisan ini dibuat mulai bergolak lagi.

Dinasti Abbasiyah, Link Source

Kerajaan nabi Sulaiman di Yerusalem yang terkenal pun hancur oleh Babilonia sehingga membuat bangsa Israel ingin kembali mengulang kejayaannya.

Kerajaan Dawud a.s. dan Sulaiman a.s.

Tidak perlu jauh-jauh, bangsa kita pun pernah berjaya di era Sriwijaya dan Majapahit. Bahkan Mongolia yang menguasai Asia tengah pun kewalahan menghadapi penguasa Jawa di awal terbentuknya kerajaan majapahit. Penyebab kejatuhannya pun beragam, silahkan baca sendiri literatur yang tersedia lengkap baik di buku maupun internet.

Majapahit dengan patih yang menjadi nama kampus-ku dulu

Suksesi

Jika dilihat sejarah, kejatuhan sebuah kerajaan karena penggantinya tidak bisa memperbaiki atau menyamai ketangguhan pemimpin sebelumnya. Walau pun memiliki kualitas yang sama, tetapi karena kondisi jaman yang sudah berubah, terkadang kalah bersaing. Ketika tentara Eropa memiliki mesiu dan peralatan tempur yang modern maka kerajaan-kerajaan di tanah air satu per satu berguguran. Dengan kata lain, armada kita kalah karena tidak bisa meregenerasi baik sumber daya manusia maupun mengikuti teknologi terkini.

Sebaliknya Jepang, kerjaan kecil terisoir yang tidak pernah berniat ekspansi ke wilayah lain, karena menyadari pentingnya perbaikan dan regenerasi, terpaksa mengirim pemuda-pemudanya mempelajari teknologi hingga ke Eropa, sehingga menjadi kuat, walaupun akhirnya tergoda juga untuk ekspansi dan menyerang negara-negara tetangganya.

Saat Jepang menyadari kekurangan, selain pedang butuh juga otak, Link.

Pembangunan Berkelanjutan

Konsep ini sudah dikenal lama, terutama oleh pemerhati lingkungan yang khawatir jika dalam membangun tidak memperhitungkan generasi yang akan datang, akibatnya dunia akan mengalami bencana di kemudian hari. Konsep ini pun tidak hanya untuk pemerhati lingkungan tapi diterapkan di bidang lainnya, termasuk juga keberlangsungan sebuah organisasi.

Perhatikan saja raksasa-raksasa bisnis yang dulu berkuasa ternyata runtuh juga ketika tidak bisa meregenerasi seluruh aspek yang ada, misalnya RIM (Blackberry), Nokia, Toshiba, dan lain-lain. Uniknya organisasi yang mendayagunakan bibit-bibit mudanya, seperti perusahaan-perusahaan China dan Korea ternyata bisa menandingi perusahaan-perusahaan Jepang yang masih berprinsip nurut dengan senior-senior mereka. Ternyata Jepang kuno yang meregenerasi warganya untuk belajar teknologi malah tidak diteruskan terhadap perusahaan-perusahaannya, terutama yang berbasis IT. Hanya mesin dan teknologi industri yang masih mereka kuasai.

Dunia Pendidikan

Kampus yang saat ini sedang sibuk menjalankan kampus merdeka, juga termasuk organisasi yang harus menjalankan regenerasi. Salah satu caranya adalah menyediakan dosen-dosen muda yang siap menggantikan dosen yang lebih senior. Terkadang pemilik kampus melupakan hal tersebut dan hanya memegang segelintir saja yang dia percayai. Repotnya jika yang dipercayai itu tidak memiliki hasrat untuk mencari bibit-bibit muda maka suatu saat akan kewalahan jika orang-orang kepercayaannya pensiun atau tidak berada lagi di kampus tersebut.

Perpindahan dosen memang tidak bisa dihindari saat ini, walaupun ada saja kampus yang mengikat dosen-dosennya dengan keras layaknya budak (upss .. maaf agak kasar). Ada juga yang ingin secara instan dengan mengambil profesor-profesor, yang walaupun baik, tetapi alangkah baiknya jika menciptakan sendiri profesor-profesor lewat regenerasi yang terorganisir. Memang, pemilik memiliki kekhawatiran yang tinggi terhadap kebangkrutan yang kadang menjadi lupa kalau sesuatu terkadang membutuhkan sebuah proses panjang untuk bertahan, bukan untuk dirinya saja, karena suatu saat akan diwariskan ke penerusnya (anak atau pihak yang mengambil alih/merger) yang harus memiliki pandangan modern terhadap pendidikan melebihi pemilik yang lama.

Secara individu, kita juga harus meregenerasi diri sendiri lho, sebagai pembelajar sepanjang hayat, walau ada batasnya tentu saja. Yuk ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.