Makhluk Emosional yang Logis

Era industri 4.0 salah satu cirinya adalah penerapan Artificial Intelligence (AI) di segala bidang. AI merupakan teknik yang meniru kecerdasan manusia untuk diterapkan ke alat. Beberapa psikolog ternyata menyebutkan ada banyak kecerdasan, salah satunya adalah kecerdasan emosi (emotional intelligence).

Pembaca mungkin pernah merasakan sakit hati, marah, benci dan sejenisnya yang melibatkan emosi. Rasa nyerinya sepertinya tidak jauh berbeda dengan nyeri fisik. Bahkan sebagian ketika tidak sanggup mengatasinya melakukan bunuh diri. Tidak perduli orang secerdas Alat Turing pun tidak sanggup mengatasi hal itu. Di sisi lain, ada beberapa kejadian ketika mencegah dampak negatif dari stres dan depresi atau perilaku negatif lainnya dengan cara operasi, tetapi dampak negatifnya tidak jauh berbeda ketika otak emosinya dihilangkan. Walau kecerdasan tidak mengalami penurunan, tetapi tanpa emosi banyak hal-hal sepele yang mengganggu kerja karena tidak ada unsur emosi. Terkadang masalah sepele, seperti harus memilih warna, kehilangan penjepit kertas, dan tetek bengek lainnya bisa menghambat tugas utama.

Jika otak logis diibaratkan supir yang mengemudikan mobil, maka otak emosi adalah penumpangnya. Saya dan kita semua terkadang memiliki masalah tidak sinkronnya supir dengan penumpang. Supir terkadang mengetahui jalur tercepat, tetapi penumpang ingin menikmati keindahan jalan. Ketika kita melihat orang yang sedang marah-marah maka ada ketidaksinkronan antara logic dengan emosinya, ibarat penumpang yang kecewa diajak sopir melewati jalan yang tidak diinginkannya.

Walau logis ternyata otak logis tanpa panduan otak emosional terkesan bodoh. Okelah Anda hebat menghitung akar ratusan dengan cepat, tetapi otak emosi akan bertanya, kenapa mau saja disuruh orang menghitung itu? Silahkan searching di internet nasib orang tercedas di dunia, yang miris akhirnya memilih menjadi pegawai rendahan yang kerjanya rutinitas sederhana saja. Entah apapun agama kita, pasti diperintahkan untuk menyadari bahwa kita adalah makhluk logis yang memiliki aspek emosional.

Salah satu aspek penting dari otak emosional adalah “harapan” yang berasal dari keinginan dan cita-cita. Presiden pertama RI pernah mengatakan agar menggantungkan cita-cita setinggi langit karena bagi otak emosional konsep tersebut tidak terikat oleh waktu, dahulu, saat ini atau nanti. Beberapa pemerhati psikologi menganjurkan untuk merasakan hal-hal yang diinginkan terlebih dahulu agar meresap ke otak emosional. Jika sudah meresap akan mudah tercapai karena otak emosional tidak mengenal waktu, jika Anda ingin menjadi seorang profesor misalnya, ketika sudah meresap ke otak emosional kemungkinan tercapainya tinggi, walau otak logis menolak karena mengenal konsep waktu.

Cara mudahnya mengetahui otak emosional yang sudah sinkron dengan otak logis adalah kenyamanan ketika mengerjakan sesuatu. Salah satu metode, quantum ikhlas, menganjurkan jangan mengerjakan sesuatu ketika hati tidak nyaman. Buat nyaman terlebih dahulu, barulah bekerja agar kedua belah otak bekerja dengan sinkron dan saling mendukung. Sekian, semoga bermanfaat.

Upgrade Skill Pemrograman Android

Ketika tidak mengajar, hal paling mengasyikan bagi dosen adalah pelatihan, terutama dari program studi diploma dan vokasi. Program studi jenis ini mengharuskan dosen memiliki ketrampilan yang bisa dibagikan kepada mahasiswa walaupun tentu saja tidak mungkin seorang dosen menguasai seluruh bidang yang ada, salah satunya adalah pemrograman mobile berbasis Android.

Cara paling praktis adalah saling berbagi ilmu oleh dosen-dosen yang ada. Beberapa hari yang lalu diadakan pelatihan mobile programming dengan Android Studio. Bahasa yang digunakan adalah Java disertai dengan Web Service berbasis CodeIgniter. Web service ini berfungsi menghubungkan aplikasi Android dengan sistem basis data, misalnya MySQL.

Ternyata banyak elemen-elemen yang perlu dikuasai untuk membuat aplikasi untuk handphone itu. Dari pembuatan layout, Grader Script, hingga pembuatan menu-menu lanjut seperti masukan berupa tanggal, combo, hingga upload image ke server. Bahkan instalasi software Android Studio pun butuh waktu. Tips dan Trik banyak diberikan terutama untuk mempercepat proses pembuatan aplikasi, misalnya penggunaan Genymotion yang menggantikan emulator bawaan Android Studio yang berat.

Sangat perlu untuk mengetahui teknik-teknik pembuatan praktis dan bagaimana beberapa paket dimanfaatkan yang berhubungan dengan user interface dan koneksi ke DBMS, misalnya dengan library volley. Rencananya akan dilanjutkan dengan pelatihan-pelatihan sesuai dengan peminatan seperti android yang menggunakan artificial intelligence, networking, hingga sistem informasi management (SIM). Dari semua itu, yang terpenting adalah kebersamaan antar dosen terutama dalam mengikuti visi misi tujuan dan sasaran (VMTS) prodi teknik komputer yang fokus salah satunya ke pemrograman berbasis network dan artificial intelligence pada perangkat embedded, yang kali ini diwakili oleh aplikasi mobile/gadget.

Ngobrolin Teknologi Pemrograman Mobile

Bagi Anda yang sudah lama berkecimpung di dunia teknologi informasi, teknologi mobil merupakan teknologi baru yang sedang booming saat ini. Pengguna ponsel cerdas saat ini diprediksi sudah sampai 1 milyar sehingga sebagian besar proses bisnis beralih dari konvensional menjadi online berbasis aplikasi. Postingan ini sekedar men-share webinar yang dilakukan oleh jurusan teknik komputer Universitas Islam “45” Bekasi dengan pembicara saya dan bpk Malikus Sumadya, S.Si, M.T., dosen pengajar mata kuliah pemrograman mobile yang saat ini tinggal merampungkan disertasi doktor ilmu komputer-nya di Universitas Indonesia.

Inti dari webinar ini sebenarnya mengenalkan beberapa pilihan teknologi dalam membuat aplikasi, khususnya berbasis Android yang jumlah penggunanya lebih banyak dari iOS (apple). Dimulai dari yang berbasis tanpa kode (no coding) hingga yang rumit, misalnya Android Studio serta framework dengan Web Service, baik yang berbasis PHP maupun Python. Manfaat lain acara webinar ini salah satunya adalah ajang bertemu dengan pihak-pihak yang berminat dengan pemrograman mobile baik dari pelajar, guru, maupun mahasiswa ilmu komputer, khususnya program teknik komputer (D3 maupun Vokasi). Berikut link youtubenya, kurang lebihnya mohon maaf, semoga bermanfaat.

Menjadi Orang yang Biasa Saja

Ketika sekolah menengah pertama (SMP) saya sering mampir ke perpustakaan sekolah. Ruangan yang lebih cocok disebut gudang itu terletak di pojok, sebelum WC guru. Tidak ada penjaga perpus dan selalu dibuka ketika jam istirahat. Walau siswa dibebaskan masuk dan membaca buku-buku yang ada tetapi hanya segelintir saja. Terkadang hanya saya yang di ruangan setelah teman yang saya ajak (dengan sedikit paksaan) tidak bisa menemani saya lebih lama.

isaac_newton_1689_painting_sir_godfrey_kneller_public_domain_via_wikimedia_commons

Salah satu buku-buku favorit saya waktu itu adalah biografi ilmuwan-ilmuwan jaman dulu seperti Isac Newton, Albert Einstein, dan kawan-kawan. Saking asyiknya terkadang saya tidak memperdulikan gosip yang mengatakan banyak makhluk halusnya di situ, yang kadang terasa tapi tak terlihat. Lalu apa hubungannya dengan judul postingan ini? Tentu saja ada. Para ilmuwan-ilmuwan terkenal itu dari biografi yang saya baca ternyata diawali dari keadaan yang oleh lingkungannya dianggap biasa saja. Malah banyak yang ditolak oleh masyarakat karena dianggap tertinggal, seperti Edison dan Einstein. Saking biasanya, Newton konon menemukan teori gravitas yang membuat kagum penemu komet (bernama Halley), ketika asyik bertani. Contoh yang jelas, Nabi Muhammad SAW, merupakan remaja yatim piatu penggembala biasa saat itu di Makah. Tidak ada cita-cita menjadi orang luar biasa, tapi justru mampu mengubah dunia, yang oleh M. Hart dimasukan sebagai orang no.1 yang berpengaruh terhadap sejarah.

filsafat book

Salah satu filsuf terkenal yang menjadi guru para filsuf adalah Socrates. Salah satu fikiran sederhananya adalah pernyataan bahwa yang dia tahu hanyalah bahwa dia tidak tahu apa-apa. Intinya dia ingin mengajak orang berfikir sebab ketika merasa sudah tahu apa-apa, orang tidak akan berfikir lagi. Beruntunglah ketika merasa tidak tahu, karena secara alamiah Anda akan mencari tahu. Namun, jangan mencari cara bagaimana membuat diri, entah lewat mekanisme hypnoterapy dan bantuan motivator-motivator, membuat diri merasa super, tahu segala hal, selalu benar, dan sejenisnya yang berakibat berhenti berusaha meningkatkan kualitas.

Di pertengahan tahun 90-an ketika akhir SMA, saya pernah bimbingan belajar oleh pengajar yang biasa saja, tidak memiliki tip dan trik mengerjakan cepat dengan rumus-rumus kilat yang saat itu sedang tren. Terus terang yang saya dapat dari tutor itu adalah bimbingan psikis dan nasihat-nasihat membangun. Secara sederhana dia mengatakan kepada saya yang ingin lolos masuk UGM, “jika kamu bisa menjawab tiap soal-soal yang orang lain bisa jawab, maka pasti lolos ujian masuk”. Nasihat yang sangat sederhana dan ‘biasa-biasa saja’ tetapi dalam pelaksanaannya butuh kemampuan mengetahui apa yang tidak/belum kita ketahui. Setelah saya jalani ternyata ringan juga, walau ketika hari ‘H’ saya merasa masih banyak materi sulit yang belum saya kuasa tetapi materi-materi yang orang lain bisa saya sudah bisa dan akhirnya lolos juga.

Untuk rekan-rekan dosen seprofesi, biasa saja, jangan merasa super, paling benar dan tetap menjaga hati jangan sampai tercemari konsep/prinsip yang menghalangi untuk terus belajar. Jangan ingin segera jadi nomor satu, jadi profesor kilat, biasa saja, meneliti, kolaborasi dan mencoba riset sesuai bidangnya. Jika tidak menjadi no.1 tidak apa yang penting usaha sendiri. Teringat beberapa tahun yang lalu karena kesulitan bahasa Inggris mencoba daftar pelatihan bahasa tiga bulan dari DIKTI di UGM Jogja. Pelan-pelan, IELTS bisa tembus 6.0, lalu mencoba mengajukan beasiswa DIKTI, sempat ditolak sekali, kemudian mengajukan ulang, toh tembus juga. Ketika kuliah pun, sempat kewalahan karena saingan yang ketat, tetapi dengan belajar normal-normal saja toh bisa lulus duluan. Padahal riset hanya lewat email-emailan, ketemuan hanya laporan progress. Kalu difikir-fikir mirip mahasiswa yang belajar di kondisi COVID-19 sekarang. Jadi, untuk mahasiswa, jangan lupa kata “maha” di depan siswa ya, kata ampuh yang  bisa berarti: ‘jago mencari jalan-jalan alternatif menuju Roma’. Jujur saya lebih khawatir dengan siswa (kelas I sd XII) dibanding mahasiswa saat kondisi adaptasi kebiasaan baru ini. Sekian, tentu saja Anda boleh tidak setuju dengan tulisan singkat ini.

Webinar Systematic Literature Review (SLR) Untuk Skripsi dan Tugas Akhir

Setelah hampir lima tahun kuliah dan kembali lagi mengajar ternyata tidak ada perubahan yang signifikan dari kemampuan mahasiswa menulis tugas akhirnya. Gaya copy-paste masih kerap dilakukan, terutama pada bab studi/kajian pustaka. Referensi hanya berupa buku saja, tidak ada jurnal terkini. Memang mahasiswa D3/S1 hanya menerapkan ilmu yang didapat, belum sampai tahap membandingkan apalagi menemukan hal-hal baru (novelty). Untuk mengatasi hal tersebut, fakultas teknik Universitas Islam “45” Bekasi mengadakan pelatihan kepada para mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Kebetulan saya mendapat tugas sesi-1 tentang Systematic Literature Review (SLR) sebelum sesi-2 tentang kiat-kita merampungkan tugas akhir/skripsi.

Memang tujuan utama SLR adalah untuk memperoleh rujukan-rujukan yang tepat dalam menjawab permasalahan tugas akhir/skripsi. Namun di sisi mahasiswa D3/S1 kebanyakan untuk menghindari plagiasi, terutama mencontek isi naskah skripsi/TA kakak-kakak seniornya. Dengan SLR ditambah keunikan-keunikan judul-judul baru yang ditujukan untuk tugas akhir mahasiswa, diharapkan mampu menghilangkan perilaku negatif mencontek mahasiswa-mahasiswa kita.

Ristek-Brin menganjurkan kampus untuk membuat roadmap penelitian yang kemudian dijalankan oleh dosen-dosennya. Jadi bagi mahasiswa sekarang, mencari permasalahan penelitian tidak serumit mahasiswa era 90-an, karena dosen sudah memiliki roadmap-nya. Tinggal bertanya maka si dosen pembimbing akan memberi judul atau permasalahan skripsi/tugas akhir yang harus diselesaikan dengan cepat. Berikut link youtubenya, semoga bermanfaat.

Aplikasi Online Pembuat Android App Sederhana

Banyak aplikasi pembuat aplikasi mobile berbasis Android yang mudah untuk digunakan, beberapa di antaranya tersedia secara online, antara lain: MIT App Inventor, AppyPie, AppYet, AppsGeyser, dan Andromo. Google juga menyediakan aplikasi untuk mengelola excel via android dengan nama Appsheet (lihat pos yang lalu)

MIT App Inventor

Aplikasi ini dibuat oleh kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang berbasis web, atau diistilahkan dengan cloud-based. Untuk memulai cukup mudah. Buka saja situsnya lalu klik “Start Now”.

Ada empat point yang perlu diketahui antara lain. 1) Instruksi setup yang berisi empat mode ketika perancangan aplikasi dari laptop ke handphone, antara lain: via wifi, via chrome book, via emulator, dan via kabel USB. 2) Editor blok dan disain yang berisi jendela App Inventor Designer dan App Inventor Block Editor. 3) Tutorial untuk pemula yang berisi video belajar. 4) Pemaketan dan sharing via APK agar bisa diinstal di sembarang hp android.

Aplikasi Sederhana Pertama

Banyak di point 3 yang berisi sampel cara pembuatannya, misalnya aplikasi sederhana membunyikan suara. Silahkan lihat sambil membuka panduannya, buka jendela Create Apps di bagian atas kiri.

Kita akan diminta log in via Google. Masukan saja akun Gmail kita.

Berikutnya muncul jendela Term of Service yang cukup jlimet. Silahkan baca, atau langsung saja tekan “I accept the terms of service!”. Ternyata ada pilihan tutorial-tutorialnya, misalnya “Hello Purr” berikut ini.

Bagaimana proses pembuatannya? Buat saja project baru, siapkan satu gambar (jpg) dan satu suara (mp3), ikuti langkah-langkah di panduan ini.

Untuk menjalankannya masuk ke menu Build untuk membuat file APK agar bisa diinstal di HP kita.

Saya tertarik dengan App via QR Code. Kita coba saja dengan mengklik pilihan tersebut. Tunggu progress hingga selesai, dan hasilnya adalah QR code berikut ini.

Link tersebut (http://ai2.appinventor.mit.edu/b/4e7a) ketika diklik akan mengarahkan ke APK yang dihasilkan. Namun hanya bisa dipakai maksimum 2 jam. Atau pilihan kedua saja bisa unduh langsung (file APK). Kalau ingin serius silahkan gunakan Android Studio, Kotlin, Dart, Flutter, dan lainnya. Sekian, semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

Tips Ringan Untuk Dosen yang Sedang Bosan dan Jenuh

Manusia dianugerahi tuhan akal/fikiran yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi selama hidup di dunia. Hampir sebagian besar masalah dapat diselesaikan oleh manusia dengan bantuan akal baik itu yang sederhana dari menyelesaikan tugas harian hingga menemukan temuan baru (inovasi). Sayangnya sebagian besar dari kita karena menganggap hal itu biasa saja sehingga tidak menyadari anugerah yang diberikan tersebut. Akibatnya malas dan bosan hinggap ketika kita mengerjakan hal-hal yang rutin, alias “business-as-usual”. Postingan ini semoga bisa memacu semangat pembaca yang sedang jenuh, terutama ketika “work from home” akibat pandemi COVID-19. Langkah-langkah berikut selalu jadi andalan.

1. Bersyukurlah Terhadap Jalan Yang Ada

Tips pertama adalah melihat kerjaan peneliti. Oiya, tidak semua dosen benar-benar meneliti dalam artian menemukan hal-hal baru yang memiliki kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Sebagian besar menjalankan aktivitas mengikuti SOP yang ada. Alias sudah ada jawabannya. Bandingkan saja dengan seorang peneliti yang menjalankan fungsinya mencari jawaban hal-hal yang belum ada jawabannya. Betapa sulitnya seorang mahasiswa yang sedang riset ketika mentok karena tidak tahu apa langkah yang harus ditempuh untuk menjawab problem riset karena merupakan hal baru (original). Terkadang dosen pembimbing hanya bisa memberi saran-saran atau sekedar menyemangati. Jadi bersyukurlah ketika kita bisa mengerjakan hal-hal yang sudah ada jawabannya baik dari buku maupun dari internet.

2. Do Something

Pernah saya diajak rekan keluar jalan-jalan. Karena sedang suntuk saya menolak, akibat kerjaan kampus yang ga beres, jadinya bosan dan jenuh, bawaannya tidur. Tapi dengan sedikit paksaan, akhirnya dengan enggan saya mau juga berangkat. Ketika sampai di tempat tujuan, yaitu pasar malam di sekitar kampus, tiba-tiba bosan dan jenuh hilang karena menemukan hal-hal baru yang unik yang tidak diketahui sebelumnya. Jadi prinsip “do something” ini ampuh juga mengusir rasa jenuh. Edison pun melakukan uji coba temuannya berkali-kali tanpa rasa bosan dengan prinsip tersebut. Saya teringat ketika bekerja sebagai staf IT di sebuah bank yang bertanggung jawab terhadap operasional di beberapa cabang. Bos saya selalu mengatakan “do something” ketika berada di lokasi, seperti mengecek update antivirus, bertanya problem-problem yang ada kepada pengguna, melihat jaringan kabel apakah ada masalah, dan lain-lain. Beberapa buku sudah saya buat karena terinspirasi oleh rekan kerja saya yang “biasa-biasa” saja bisa mempublikasikan buku padahal tidak memiliki komputer apalagi laptop. Hanya mengandalkan komputer kantor atau kelas dan sebuah usb flashdisk. Ketika selesai mengajar dan masih ada waktu dia mengetik materi dan di akhir perkuliahan jadilah satu buku. Untuk mahasiswa yang mentok ketika menjawab problem-problem yang ada, “do something”, datang ke perpustakaan, diskusi dengan teman, dosen, asisten dosen, dan lain-lain terkadang jawaban muncul tiba-tiba dari mana saja.

3. Upgrade

TIdak ada hal yang tidak berubah di dunia ini. Ketika kita merasa bosan, tidak ada hal baru, sebenarnya kita bisa diibaratkan sebagai produk yang kalah bersaing dengan produk lain yang lebih menarik, dan kita menyadari itu. Untung saja kita manusia, sebagai subjek, masih bisa bertahan. Bayangkan kita adalah alat seperti disket yang tergantikan flashdisk, kamera kodak yang tergusur kamera HP digital, dan lain-lain, kita bisa tergusur oleh pesaing-pesaing yang melakukan inovasi. Jadi ketika kita jenuh, itu-itu saja (bahasa jawanya ngono-ngono thok), itu tanda-tanda kita ibarat produk yang akan tergusur (istilah sekarang terdisrupsi). Kalau percaya dengan adanya tuhan, itu adalah sinyal dari Allah, Sang Hyang Widi, atau apapun namanya. Melangkah ke tangga yang lebih tinggi terkadang bisa menghilangkan bosan yang ada, seperti studi lanjut, mengurus kepangkatan, dll. Tapi kalau malas dan bosan bagaimana? Do something (step-2 di atas), siapa tahu menemukan hal baru yang menarik. Jika tidak juga menemukan hal yang menarik tapi malah melelahkan bagaimana? Bersyukurlah terhadap jalan yang ada (step-1 di atas), toh ada SOP yang tinggal diikuti, tidak serumit peneliti-peneliti yang bertugas mencari jawaban hal-hal yang belum ada penyelesaiannya. Sekian, semoga bisa men-charge rekan-rekan yang sedang bosan dan jenuh.

Mahasiswaku – “How Do You Do”

Ungkapan formal yg mirip artinya dengan “hello” ini mengandung kata kerja “do” yang artinya melakukan/mengerjakan. Hal ini menyiratkan karakter barat yang selalu mengkaitkan seseorang dengan pekerjaan. Sepertinya di negara kita juga tidak jauh berbeda. Seseorang tidak lepas dari apa yang dikerjakannya saat ini, apakah itu seorang guru, karyawan swasta, PNS, polri, tentara, hingga ibu rumah tangga.

Ketika menjadi seorang mahasiswa yang baru lulus di awal milenium (tahun 2001) seperti biasa, saya bergabung dengan tim pencari kerja alias pengangguran. Teman saya yang belum lulus mengabari bahwa dia ditanya oleh pembimbing skripsi saya dulu yang sekarang sudah almarhum mengenai pekerjaan saya. Ketika teman saya mengatakan “masih nganggur”, beliau langsung berkata “waduh” sambil memegang kepala. Dari situ saya tahu, ketika mahasiswa lulus, hubungan dengan dosen, apalagi dosen pembimbing tidak akan putus sampai di situ. Secara diam-diam seorang dosen akan “kepo” dengan kondisi ex siswanya. Untunglah ada Facebook, Instagram, dan sosmed lainnya yang bisa mengetahui tanpa langsung bertanya.

Tidak lama kemudian, ternyata saya menggantikan peran dosen-dosen saya dahulu. Banyak kesan yang terekam di kepala, baik kesan baik maupun kesan buruk berikut ini (namun kebanyakan sih kesan yang baik).

Waktu itu teringat ketika sidang tugas akhir, salah seorang siswa mempresentasikan hasil karyanya berupa sistem pendeteksi penyusup. Ketika seseorang memasuki suatu ruangan yang dipasang sistem tersebut, webcam menangkap gambar dan menyimpan (capture) gambarnya di cloud dan mengirim pesan ke bagian keamanan. Beberapa hari kemudian di sebuah kampus negeri di daerah Karawang ada undangan lomba pemrograman khusus aplikasi berbasis webcam dan CCTV. Langsung saja siswa tersebut ikut dan ternyata menang dengan mudah. Saat ini mahasiswa tersebut menjadi ASN di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang kantornya di ragunan, Jakarta.

Cerita berikutnya sedikit menjengkelkan, ketika di awal-awal menjadi dosen. Pertemuan terakhir perkuliahan saya seperti biasa membagi kuesioner pembelajaran. Kebetulan kelas itu termasuk kelas yang sedikit brutal, maklum teknik komputer, 90% cowok. Karena saya melihat oleh mereka tidak disebar ke teman-temannya, iseng saya lihat isinya. Dan sepertinya dia pun ingin saya membaca kuesioner yang dia isi, yg harusnya rahasia itu. Kuesionar itu ternyata diisi orang yang sama, tepatnya si biangkerok itu. Tentu saja saya tahu dari tulisan tangannya. Isinya pun seluruhnya sama, meminta lembaga untuk memecat saya jadi dosen. Uniknya setahun kemudian ketika acara sidang tugas akhir, si biangkerok itu sesuai jadwal, saya yang menjadi penguji sidang. Hampir setengah jam kami menungu di ruang sidang tapi dia tidak muncul juga. Sempat saya intip, di luar dia jalan mondar-mandir tidak jelas dan tidak berani masuk. Rekan saya yang memang tidak mengenal mahasiswa tersebut sempat ngomel-ngomel karena lama tidak muncul-muncul. Karena paham kondisi, akhirnya saya menghadap panitia sidang untuk mengganti saya dengan orang lain sebagai pengujinya. Dan benar, setelah ditempel perubahan penguji sidang di papan pengumuman, si biangkerok itu berani masuk ke ruang sidang. Oiya, pandangan mahasiswa mungkin hanya melihat si dosen saja, tetapi dosen melihat juga orang tua, keluarga dan teman-temannya.

Sebagai penutup postingan ini, Renald Kashali dalam bukunya “disrupsi”, mengatakan kampus tidak lama lagi akan menghadapi gelombang disrupsi. Apalagi kini dipercepat oleh pandemi COVID-19. Tidak ada lagi yang bisa membantu selain peran masyarakat, terutama bantuan dari alumni. Tidak ada alumni yang ingin kampusnya hancur. Bahkan jasa yang utama pengajar bukan sekedar ilmu yang diberikan melainkan inspirasi pengajar ke mahasiswa yang mampu merubah mental dan pribadi sesuai cita-citanya. Sebaik-baiknya pemasaran adalah dari hal-hal baik yang diceritakan oleh para alumninya, misalnya alumni teknik komputer, salah satu jurusan unik bidang informatika dan komputer berikut ini.

 

Era Metakognitif Sudah Mulai

Seorang siswa minta tanda-tangan untuk pengajuan judul tugas akhir. Anak tersebut memiliki bakat di bidang pemrograman. Karakteristik mahasiswa vokasi adalah skill yang dimiliki sudah nampak sebelum dia lulus sehingga banyak yang sudah bekerja duluan.

“kerja di bagian apa?”, tanyaku. Dia menjawab terkadang membuat web, kadang-kadang juga aplikasi Android. “Biasanya bahasa yang digunakan apa?”, tanyaku. “Tergantung Pa, paling mudah sih flutter, tapi ukuran yang dihasilkan besar. Lebih ringan Dart. Tetapi ketika ada project membutuhkan barcode, library tidak ada, jadi terpaksa menggunakan Kotlin”, jawabnya.

Nah, dari perbincangan tersebut saya yakin dia tidak mempelajari informasi tersebut dari bangku kuliah. Dia menggunakan salah satu kemampuan yang dimiliki oleh manusia, yaitu metakognitif. Istilah ini mengacu kepada kesadaran yang dimiliki oleh seseorang dalam menilai kemampuan intelektual diri. Apa yang dia tahu, dan apa yang dia tidak tahu, dan butuh mengetahui. Maaf, di sini tahu berarti pengetahuan ya, bukan tahu sumedang ..

Beberapa pakar e-learning sedang mengembangkan metode dimana siswa dibantu meningkatkan metakognitif dalam pembelajaran. Manfaatnya adalah proses belajar lebih cepat karena siswa hanya mempelajari hal-hal yang dia tidak kuasai akibat metakognitif-nya yang sudah jalan. Manfaat lain adalah siswa tidak menjadi bosan dan mengganggu siswa lainnya karena tidak perlu mempelajari lagi sesuatu yang dia sudah ketahui/kuasai.

Metakognitif juga berkaitan dengan bloom taxonomy yang terdiri dari empat tingkatan pengetahuan yaitu: 1) mengingat, 2) memahami, 3) menerapkan, dan 4) menganalisa, sintesa dan mengevaluasi. Kembali ke siswa saya tadi yang sepertinya memiliki ciri-ciri tersebut. Mereka mengetahui apa yang mereka tidak tahu, mencari tahu lewat beragam media, mempelajari yang dibutuhkan, mencari alternatif-alternatif dan lain-lain. Istilah sederhana mereka adalah “kepo-in ajah”.

Untuk generasi “old”, seperti saya, wajib memiliki kemampuan metakognitif seperti anak-anak milenial yang kreatif ini, jika tidak ingin tergusur. Sekian semoga bisa menginspirasi.

Artikel Riset vs Laporan Proyek

Ketika submit artikel waktu kuliah dulu, hasil review menolak tulisan saya karena artikel hanya sekedar laporan proyek, bukan masuk kategori artikel jurnal.

Jika ditolaknya saat ini sepertinya tidak ada masalah. Repotnya naskah itu ditolak ketika membutuhkan publikasi sebagai syarat lulus S3. Sulit diungkapkan dengan kata-kata bagaimana kecewanya. Tapi ya bagaimana lagi, harus mencoba lagi kalau mau merampungkan kuliah. Bagi mahasiswa S3, meleset satu atau dua tahun itu sudah biasa.

Laporan Proyek

Ok kita mulai terlebih dahulu mengenai laporan proyek karena ini merupakan jenis pekerjaan yang paling banyak kita jumpai di kampus. Banyak yang menyamakan dengan riset, padahal sangat berbeda.

Perhatikan pekerjaan kita sehari-hari, misalnya seorang dosen. Ketika mengajar satu mata kuliah, maka dia memiliki langkah-langkah rinci yang jelas dan sudah rutin dilakukan. Langkah-langkah tersebut jelas dari A sampai Z, dari menyiapkan materi, membagi menjadi beberapa pertemuan, menguji dan memberi nilai. Biasanya jika dari awal hingga ujung sudah kelihatan dengan jelas, maka sudah dipastikan bahwa itu masuk kategori proyek. Biasanya mahasiswa S1 atau diploma/vokasi diwajibkan menyelesaikan tugas akhir dan/atau skripsi yang tentu saja masuk kategori proyek. Ketika membuat alat, merancang sistem, dan sejenisnya dosen pembimbing bisa melihat langkah-langkah dari awal hingga selesai dengan jelas. Jika disubmit ke jurnal internasional tanpa ada suatu hal yang baru (novelty, originality, dan kontribusi) pasti ditolak, kecuali memang jurnal kampus yang khusus mewadahi skripsi mahasiswanya.

Artikel Riset

Artikel jenis ini harus didekati secara filosofis. Di luar negeri, lulusan s3 biasanya diberi gelar “doctor of philosophy” (PhD) karena memang diharuskan menggunakan aspek tersebut dalam risetnya. Terutama ketika menilai sebuah karya apakah memiliki unsur originality, novelty, dan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Seseorang yang belum doktor seharusnya riset bersama dengan seorang/beberapa orang mentor yang biasanya sudah doktor. Tidak serta merta hanya dengan studi literatur dapat menemukan originality, novelty dan kontribusi. Terkadang diperlukan seorang pakar (expert). Biasanya pakar yang mereview sebuah artikel dalam peer review. Walaupun kita sudah membuktikan dengan studi literatur yang banyak tetapi terkadang seorang pakar menolak tulisan kita memiliki novelty, originality, dan kontribusi. Novelty, originality dan kontribusi sulit dievaluasi, hanya peer review- lah yang bisa menjawabnya. Jadi tidak perlu studi literatur? Ya harus lah, sudah melakukan systemmatic literature study pun terkadang masih saja “mis” apalagi tidak sama sekali.

Kebaruan (Newness) & Kontribusi

Yang termasuk kebaruan adalah novelty, originality dan creativity. Jika novelty mengharuskan sesuatu ide/konsep belum pernah diutarakan atau dilaksanakan oleh orang lain, originality menggabungkan/sintesa ide/konsep orang lain (lihat info link ini). Beberapa peneliti mengusulkan teknik-teknik dalam mengukur sebuah novelty (lihat link springer ini).

Gambar di atas memperlihatkan sebuah paper X yang mensitasi artikel sebelumnya (1,2,..N) dan disitasi oleh artikel berikutnya. Ini merupakan teknik pengukuran berdasarkan sitasi. Dikatakan Novelty jika artikel-artikel lain (1,2,..M) mensitasi paper X dan sedikit mensitasi (1,2, …N). Jika tidak, maka paper X tersebut hanya mediasi saja (membantu menyebarkan ide 1,2, ..N). Seorang reviewer akan mengetahui apakah paper X nanti akan banyak disitasi langsung walaupun belum dipublikasi.

Kontribusi terkadang secara refleks ada karena tentu saja aneh jika penelitian menghasilkan novelty dan originality tetapi tidak ada sumbangsihnya bagi knowledge. Oiya, kontribusi tentu harus bisa diukur, misalnya meningkatkan kepuasan pelanggan, meningkatkan akurasi/performa/efisiensi, dan bukan terhadap masyarakat/lingkungan yg masuk kategori manfaat penelitian dan bukan kontribusi, apalagi dengan argumen kontribusinya membantu orang tua karena dengan selesainya tulisan, cepet lulus, dan tidak perlu bayar kuliah lagi .. hehe.

Konversi Laporan Proyek ke Artikel Ilmiah

Untuk merubah artikel dari report menjadi artikel ilmiah perlu dicari novelty, originality, dan kontribusinya. Untuk bidang informatika ada sedikit perbedaan antara ilmu komputer/teknik informatika (metode) dengan sistem informasi (domain penelitian). Jadi, jika tidak ditemukan novelty di sisi ilmu komputer, cari saja di sisi domain penelitian (kedokteran, bisnis, akuntansi, dan lain-lain).

Contohnya adalah multi-criteria optimization dan teknik GIS yang saya gunakan untuk kasus optimalisasi penggunaan lahan urban. Jadi, hasil dan pembahasan harus mengarah ke domain penelitian, bukan ke metode (lihat pembahasan pada pos sebelumnya). Ketika mahasiswa doktoral sudah menerima kabar naskah publikasi sebagai syarat lulus accepted dengan revisi minor, biasanya bayangan wisuda sudah di depan mata. Penulisan laporan disertasi ratusan halaman tidak jadi masalah karena sudah jelas alur dari A sampai Z nya, beda ketika baru proposal, tahu awal tapi tidak jelas bagaimana mencapai ujungnya. Sekian semoga bermanfaat.

Yuk Ikut Standar dalam Perancangan Sistem

Salah satu yang membuat jengkel mahasiswa ketika mengerjakan skripsi/tugas akhir adalah tidak adanya standar yang harus diikuti, terutama tema-tema perancangan sistem dan pemrograman. Tetapi saat ini sepertinya mulai berkurang karena era online sudah merambah ke semua lini. Sumber-sumber informasi mudah dijumpai lewat variasi-variasinya seperti dalam bentuk blog, video, ebook, milis, grup dan lain-lain. Akibat tidak adanya standar, sering dijumpai perdebatan yang tidak perlu ketika sidang skripsi. Bahkan ada yang curhat ketika seorang mahasiswa dibimbing oleh dua pembimbing berbeda yang tidak seia-sekata. Disuruh oleh pembimbing A merubah mengikuti petunjuknya tetapi oleh pembimbing B diminta hal sebaliknya.

Khusus analisis dan disain basis data sudah dibahas pada postingan sebelumnya, yakni mencari sumber informasi tentang rancangan yang sudah sering dibuat orang. Pola-pola disain pun sudah umum ditemui, kita tidak perlu menemukan ide baru kecuali jika rancangan yang ingin dibuat khusus dengan karakteristik tertentu.

Standar Pemodelan Sistem

Sejak dulu, standar yang digunakan dalam pendidikan adalah buku referensi. Ketika beragumen, sebuah buku dijadikan rujukan akan kebenaran sebuah konsep. Masalah muncul ketika sebuah buku dianggap “kurang tepat” oleh pihak tertentu. Untuk cara aman biasanya akademisi menggunakan buku berstandar internasional. Hanya saja buku-buku jenis tersebut sulit dipahami oleh mahasiswa-mahasiswa kita, terutama para milenial-milenial yang lebih suka hal-hal yang praktis. Mereka butuh contoh-contoh kasus yang khusus yang ada di negara kita. Mau tidak mau buku-buku panduan berbahasa Indonesia yang ringkas sangat dibutuhkan. Masalah muncul ketika buku tersebut agak “kurang standar” walaupun sangat mudah dipahami. Oleh karena itu sebaiknya mahasiswa diajarkan melihat bentuk-bentuk standar resmi, misalnya untuk pemrograman berorientasi objek dapat dijumpai pada situs UML berikut.

Memang tidak ada orang yang memiliki pengetahuan lengkap akan suatu topik tertentu. Namun di era online, kita harus memanfaatkan fasilitas online tersebut. Amat disayangkan banyak dijumpai di jurnal-jurnal nasional penulisan diagram UML yang tidak mengikuti standar yang ada, padahal rancangannya bagus, hanya presentasi saja yang tidak mengikut standar. Bahayanya adalah, artikel tersebut dijadikan sitasi dan referensi sehingga artikel yang lain pun menjadi tidak mengikuti standar.

Contoh Kasus

Salah satu diagram UML yang paling banyak dibuat adalah diagram kelas dan use case. Bahkan saking seringnya use case digunakan ada istilah use case-driven. UML.org menyediakan unduhan versi terbaru untuk melihat standar yang ada. Standar di sini merupakan kesepakatan dari Object Management Group (OMG) dengan vendor-vendor perangkat lunak seluruh dunia. Jadi, jika kita berpatokan dengan situs resminya, pegangan kita menjadi kuat, jauh lebih kuat dibandingkan hanya berpegang pada buku referensi.

Gambar di atas merupakan salah satu contoh yang dibahas dalam UML.org yang dijumpai ketika membahas use case di halaman 643. Saya sendiri baru tahu kalau ada multiplicity dalam use case yang biasanya dijumpai pada diagram kelas. Perhatikan kesederhanaan yang ditampilkan. Sesuai fungsinya, use case memang diperuntukan sebagai penjelasan “apa” yang dilakukan sistem, bukannya “bagaimana”. Jadi jika rancangan use case kita berupa alur “bagaimana”, sudah dipastikan tidak sesuai dengan fungsi utama use case. Use case menggambarkan kewajiban apa saja yang harus diselesaikan programmer pada program yang diusulkan.

Contoh di atas mengharuskan programmer membuat fungsi-fungsi (dikenal dengan istilah functional requirement) dalam diagram use case di atas antara lain withdraw, transfer, deposit, register ATM, dan Read Log. Bagaimana dengan login? Silahkan tambahkan tapi jangan sampai berubah menjadi alur proses mendaftar Deposito dari login, registrasi, dll yang ujung-ujungnya ribet dan use case tidak memiliki fungsi utamanya. Silahkan jelaskan dengan diagram UML lainnya jika ingin detil, misalnya sequence atau activity diagram. Mungkin kita memiliki bentuk yang sedikit berbeda, misalnya tanpa multiplicity 0..1, 0..*, dll, tapi format garis tanpa anak panah perlu menjadi perhatian mengapa tidak ada panah di sana.

Perhatikan contoh lain bagaimana merinci suatu aktivitas dengan activity diagram di atas. Bagaimana fork dan join diimplementasikan dalam diagram aktivitas sebaiknya tetap mengacu standar. Sekian, silahkan kunjungi situs standar UML tersebut, semoga bisa membantu melerai pertengkaran di meja sidang skripsi/tugas akhir.

Jangan Lupakan Service/Layanan

Orang yang berkecimpung dalam dunia teknologi informasi pasti mengenal istilah service oriented architecture atau yang lebih dikenal dengan SOA. Arsitektur ini bermaksud menangani service atau layanan yang diberikan oleh perusahaan kepada konsumen dengan ciri-ciri antara lain bebas platform, berbasis internet dan real-time, dan integrasi terhadap seluruh layanan yang ada. Ketika iseng-iseng membaca perihal SOA di internet, saya teringat kasus yang menimpa dunia pendidikan, terutama kampus tempat para dosen bekerja yang terdampak pandemic COVID-19.

Pembelian Jasa

Ketika saya ingin berlangganan internet, ada tawaran servis/layanan apa saja yang bisa diambil, misalnya tv kabel, disamping tentu saja akses internet, dengan biaya tambahan tergantung channel yang tersedia. Ketika sudah sepakat, pembayaran dilakukan, namun ada servis yang karena satu dan lain hal tidak bisa berjalan. Apakah konsumen diam saja? Tentu saja tidak. Mereka akan menuntut layanan yang bermasalah tersebut. Ada batas waktu penyelesaian yang diistilahkan dengan service level agreement (SLA) yaitu waktu maksimal provider dalam mengatasi masalah layanan yang ada. Misalnya waktu saya kerja di bank, untuk ATM tidak boleh melebihi 7 jam offlinenya. Jika tidak maka provider terkena pinalti.

Kondisi Khusus

Terkadang memang ada kondisi khusus, yang diistilahkan dengan force majeure. COVID-19 merupakan salah satunya. Contoh real adalah kampus yang tidak bisa mengadakan perkuliahan tatap muka. Ketika semi lock-down diterapkan di tanah air (PSBB), banyak kampus yang berfikir keras mengatasi masalah ini. Para pimpinan, rektor hingga dekan akan berfikir keras karena salah satu layanan utama yang menjadi core business, yaitu perkuliahan tatap muka tidak boleh dilaksanakan. Kalau didiamkan saja, alias pimpinan tidak mengambil tindakan dan menyerahkan sepenuhnya kepada dosen pengajar dalam mengganti perkuliahan tatap muka dengan online maka tidak akan ada standar dalam kampus tersebut. Ibarat konsumen, mahasiswa akan meminta kompensasi layanan yang hilang, yaitu tatap muka.

Perkuliahan Daring

Beberapa kampus sudah menyiapkan sarana dan instrumen bagi dosen dan mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan online. Instrumen tersebut berupa e-learning, online meeting, webinar, dan sejenisnya. Efektif atau tidaknya instrumen tersebut adalah bertujuan mengkonversi layanan tatap muka yang hilang akibat bencana COVID-19. Memang tidak ada jaminan instrumen yang disediakan kampus dapat mengganti layanan tatap muka, tetapi hal itu merupakan antisipasi terhadap layanannya yang hilang. Kampus bisa saja menyerahkan sepenuhnya kepada dosen pengampu mata kuliah, tetapi antara dosen satu dengan lainnya memiliki kemampuan berbeda dalam pemahaman dunia online, ditambah beberapa mata kuliah agak sulit dilakukan secara online, misalnya praktikum. Jika pun dosen enggan dan “membandel” tidak menjalankan perkuliahan online semestinya dan mahasiswa kecewa, mereka tidak bisa menuntut kampus karena kampus sudah menyediakan sarana dengan baik. Berbeda jika kampus tidak menyediakan sarana “standar” dan hanya menyerahkan semua kepada dosen pengampu mata kuliah, sasaran kekecewaan bukan hanya ke dosen, tetapi kepada institusi yang dirasa tidak ada usaha mengganti layanannya yang hilang.

Service Level Agreement (SLA)

Istilah ini adalah batas waktu yang wajib diselesaikan oleh pemberi layanan ketika ada layanannya yang bermasalah. Tentu tidak ada yang bisa 100% layanan itu oke, bisa saja terjadi gangguan di tengah jalan. Untuk kasus pandemic saat ini, hampir kebanyakan kampus harus berhenti perkuliahan tatap muka di tengah jalan tanpa persiapan. SLA ini memang sulit didefinisikan, bisa satu bulan, satu semester, atau sampai pandemic berakhir, tapi setidaknya sebagian besar kampus sudah bisa mengantisipasi (walau masih banyak juga yang kacau balau) dan sudah ada gambaran bagaimana antisipasi di semester yang akan datang, apalagi dengan kondisi penerimaan mahasiswa baru.

Dengan diterapkannya new normal dan kuliah masih harus online, tidak ada salahnya kampus harus menyediakan instrumen resmi di kampusnya untuk menghadapi semester depan yang masih dilakukan secara daring. Memang masalah ini terjadi di kedua pihak, baik pemberi jasa maupun penerima jasa, dan sebaiknya kedua pihak saling memahami posisi sulit yang memang menimpa hampir sebagian besar orang. Sekian, semoga bisa menginspirasi dan pandemic ini segera berlalu; tetap semangat.

Riset Bidang Informatika

Mahasiswa informatika yang mengerjakan skripsi atau tugas akhir biasanya berupa pembangunan sistem informasi baik perancangan maupun pembuatan program. Memang untuk mahasiswa S1, kompetensi akhir adalah mengaplikasikan ilmu yang diperoleh ketika kuliah dalam sebuah tugas akhir. Nah, masalahnya muncul ketika mempublikasikannya dalam sebuah jurnal yang sempat ada wacana sebagai syarat kelulusan seorang mahasiswa dimana masalah originality, novelty, dan kontribusi menjadi momok bagi para editor dalam menerima paper jenis ini. Ada baiknya kita mengurai masalah ini berdasarkan bidang ilmu informatika yang terpecah menjadi dua kutub yaitu ilmu komputer dan sistem informasi.

Ilmu Komputer

Bidang ini memang berfokus kepada metode yang berisi di dalamnya algoritma-algoritma yang membantu komputasi. Hampir semua riset di bidang ini fokus ke peningkatan akurasi, efisiensi, dan aspek-aspek lain terhadap kualitas sebuah metode yang diusulkan. Jadi riset yang fokus ke bidang ilmu komputer harus berisi tinjauan metode-metode terkini dan dilanjutkan dengan “mengutak-atik” parameter atau dengan penambahan sedikit algoritma/metode sehingga meningkatkan akurasi atau aspek lain. Jadi perlu ada pembuktian terhadap performa metode usulan. Oiya, saat ini istilah metode biasanya menggantikan istilah algoritma karena sifatnya yang lebih kompak dimana metode bisa berisi lebih dari satu jenis algoritma, misalnya Genetic Algorithms dengan “s” di belakang yg berarti jamak. Jika mahasiswa bidang ini menggunakan sebuah metode terhadap domain tertentu, misalnya bisnis, dia tinggal memilih fokus utama apakah ke metode atau ke domain penerapannya. Jika fokus ke ilmu komputer maka mau tidak mau pengujian akurasi dengan usulan peningkatan metode yang ada wajib ada. Repotnya banyak yang tidak membuat upaya peningkatan metode, hanya manfaat dan kontribusi terhadap domain penelitiannya, dalam hal ini aspek bisnis. Maka seharusnya mahasiswa tersebut fokus ke domain sistem informasi berikut ini.

Sistem Informasi

Bidang ini mungkin memiliki nama lain, misalnya di tempat saya dulu bernama information management, yang uniknya di Indonesia malah di level D3. Atau ada yang lain lagi misalnya business intelligence. Bidang ini membantu domain-domain di luar ilmu komputer seperti kedokteran, geografi, akuntansi, bisnis, dan lain-lain lewat metode-metode yang dibahas dan dikembangkan oleh bidang ilmu komputer. Ada yang berpendapat untuk S3, bidang ini harus “luas” sementara untuk ilmu komputer “sempit”. Namun perkembangan di per-jurnal-an sedikit berbeda dimana istilah “luas” menjadi rancu. Ada yang mengatakan luas di sini berarti “grand design”, framework enterprise dan hal-hal lain yang kesannya menambah beban mahasiswa S3 agar “pusing” dikit dalam mengambil data yang banyak, ijin yang berbelit, dan sejenisnya. Biasanya yang berfikir tersebut adalah pihak kampus. Sementara dari pihak “reviewer”, sebenarnya sistem informasi bermaksud penerapan yang tepat terhadap domain tertentu, seperti misalnya untuk e-learning, maka fokus originality, novelty dan contribution adalah cukup fokus ke domainnya yaitu pendidikan dan psikologi. Terkadang dengan metode yang sudah establish, hanya menggunakan metode yang ada tetapi pembahasan yang tepat terhadap hubungannya dengan peningkatan performa dari domain dapat diterima untuk dipublikasi.

S1, S2, dan S3

Ada yang membedakan fokus S1 ke implementasi metode, S2 membandingkan dan memilih metode, dan S3 menemukan/memperbaiki metode. Dilihat dari sisi peta okupasi dan kompetensi sudah cukup memadai, tetapi dari sisi penelitian ada yang janggal karena seharusnya S1 ilmu komputer tidak hanya menerapkan di domain tertentu karena cenderung menjadi sistem informasi. Hal ini yang menurut saya menyebabkan konflik antara jurusan teknik informatika dan sistem informasi yang terdapat dalam satu universitas/sekolah tinggi. Banyak dijumpai mahasiswa sistem informasi yang pindah ke teknik informatika karean merasa pusingnya sama tetapi gengsinya beda (mereka menganggap teknik informatika lebih bergengsi). Problem berikutnya adalah S2 yang biasanya kelanjutan S1 dan persiapan S3. Dengan waktu hanya 2 tahun (1,5 tahun dipakai course work), sepertinya agak sulit jika dipaksa mencari novelty dari jurusannya. Di mata reviewer, antara S1, S2, dan S3 tidak ada bedanya. Dengan melihat pendahuluan, novelty dan kontribusi akan terlihat apakah penulis ingin fokus ke metode atau ke domain penerapan metode. Jika fokus ke metode tapi tidak ada upaya improvement, hanya pernyataan bahwa metode tersebut dapat meningkatkan kinerja domain sudah pasti reviewer akan me-reject. Sebaliknya jika fokus ke domain penerapan metode tetapi pembahasan membahas akurasi metode juga di-reject, kedua hal tersebut dianggap “salah kamar”.

Penutup

Jika syarat publikasi wajib maka format S1, S2, dan S3 sedikit banyak akan berubah, kecuali jika dipublikasikan ke jurnal tanpa peer review. Kampus, dosen, dan mahasiswa harus mulai menentukan fokus ke arah mana. Dan antara jurusan ilmu komputer dan sistem informasi jangan sampai terlalu tumpang tindih. Memang mencari originality, novelty dan kontribusi metode dalam ilmu komputer sangat sulit tapi harus dicoba, harus ada usaha. Masalah berhasil atau tidak itu urusan belakang, minimal mahasiswa tahu “jeroan” dari metode tersebut. Sebagai contoh misalnya bahasa Python telah menyediakan sebuah library tertentu, misalnya SVM pada Scikit Learning (Sklearn). Mahasiswa ilmu komputer harus tahu isi dari kode SVM agar bisa menambah atau menyetel parameter-parameter di dalamnya, sementara mahasiswa sistem informasi boleh saja hanya menggunakan library SVM tersebut pada domaint tertentu, seperti prediksi sebaran corona dengan SVM khusus regresi (SVR). Bagaimana dengan S3? Silahkan perkuat bahasa Inggris (TOEFL atau IELTS), cari kampus tujuan, cari beasiswa atau dana mandiri, dan coba kuliah dan merasakan atmosfir yang jauh berbeda dari level pendidikan sebelumnya. Sekian, semoga tulisan ini sedikit bermanfaat.

Maaf, kita terpaksa belajar secara online

Siang ini udara cukup panas ketika saya keluar sebentar untuk ambil raport SMP anak. Ketika balik lagi ke kampus karena memang jadwal saya piket, ternyata mahasiswa unjuk rasa mengenai perkuliahan. Tuntutannya sederhana, meminta dispensasi pembayaran, kalau tidak salah 50 persen. Alasannya sederhana, karena perkuliahan berjalan secara daring. Untuk menjawab bagaimana kampus bersikap, ada baiknya melihat kondisi sesaat sebelum pandemic COVID-19 terjadi berikut ini.

Disrupsi

Istilah ini bukan hal yang baru dan setiap orang sudah mengerti. Pesatnya penjualan, transportasi, dan bisnis online sudah terasa dampaknya di masyarakat. Konflik dengan konvensional seperti ojek pangkalan, taksi konvensional yang sebelumnya keras mulai melunak dan bahkan kini bisa berjalan saling mengisi. Bagaimana dengan dunia pendidikan? Beberapa pakar sudah memprediksi bahwa bakal banyak kampus yang akan tutup, jangankan negara berkembang, negara maju tempat pusat IPTEKS pun diramalkan akan terjadi (misal di US, lihat link ini).

Secara teori, disrupsi memotong rantai antara produsen dengan konsumen. Jadi jika kita sebagai produsen atau konsumen, tentu saja tetap tidak tergantikan. Masalahnya adalah untuk jasa, seperti pendidikan, siapa kah produsennya? Kampus atau dosen? Sementara konsumen, mahasiswa ataukah industri penyerap tenaga kerja? Repotnya berita Google yg tidak mensyaratkan ijazah ketika merekrut karyawannya membuat posisi produsen (kampus dan dosen) kelimpungan (lihat link ini misalnya).

Menurut buku Renald Kasali tentang disrupsi, nanti peran kampus adalah sebagai even organizer yang menangani servis pendidikan dan pengajaran. Kampus dan dosen seolah lenyap (wah repot juga). Jika perusahaan penyerap memiliki tools yang canggih untuk menguji kemampuan calon tenaga kerja, sudah dipastikan peran ijazah bakal sirna dan digantikan peran lembaga yang mampu meningkatkan skill dan ilmu siswa/mahasiswa/calon tenaga kerja. Kalau diibaratkan tokopedia, bukalapak, shopee yang hingga kini bertarung habis-habisan, kemungkinan lembaga yang memberikan servis pengajaran pun pasti bertarung habis-habisan. Namun kondisi COVID-19 pen-disrupsi pun kewalahan (lihat berita ini).

Business-to-Business (B2B)

Di industri kita kenal perusahaan yang menjual barang bukan ke konsumen, melainkan ke perusahaan lain. Jadi kita tidak bisa sekedar menyamakan kampus dengan gojek atau toko online yang business-to-customer. Ketika ojek dibutuhkan, pasti ada pensuplainya, kendaraan dan driver. Begitu juga pendidikan, ada pihak pensuplai kurikulum/konten dan dosen. Hal ini terjadi karena pengajar bukan sebagai buruh, melainkan mitra. Nah, kondisi pengajaran online pun berbeda dengan ojek yang memang dibutuhkan jumlah yang banyak, untuk pengajaran terkadang dibutuhkan pengajar yang “menarik” konsumen karena kepakaran, skill, atau aspek-aspek penerimaan lainnya yang tentu saja karena online tidak perlu berjumlah banyak. Wah, bagaimana ini?

Tuntutan Spesialisasi

Perkembangan teknologi dan tuntutan kehidupan modern memaksa tidak adanya monopoli oleh seseorang. Sehebat apapun seorang pakar, dia tidak bisa menguasai semua ilmu yang dibutuhkan orang/masyarakat. Peta okupasi (profesi) pun terus bertambah, misalnya untuk dunia IT sudah ratusan. Jadi seharusnya tidak perlu khawatir. Nah, di sinilah sebenarnya akar permasalahan ketika transisi dari tatap muka/offline/blended menjadi murni online. Baik pengajar maupun mahasiswa khawatir tidak memperoleh hasil yang diinginkan. Sebagai contoh, silahkan ikuti webinar-webinar yang saat ini banyak dijumpai, tidak ada skill spesifik yang didapat karena memang bentuknya yang agak monolog dan tidak bisa meng-cover kebutuhan semua peserta.

Influencer

Jika sudah menjadi spesialis dan terus mengasah skill dan kepakaran, maka dampak nyatanya berupa karya kian terlihat. Uniknya di jaman online, sangat mudah terlihat dan viral. Sekali terlihat, permintaan pasti datang dan jika peminatnya banyak, banyak pihak-pihak yang menempel ketat. Jika kampus atau dosen sudah berperan seperti influencer, sepertinya aman-aman saja karena mendapat dukungan dari mahasiswa dan industri. Jika mahasiswa sudah menjadi follower setia, online pun tidak masalah. Peran model dan sosok sebagai sumber inspirasi seorang tutor/dosen/guru tidak bisa tergantikan. Sekian, semoga pembaca sekalian sependapat untuk beberapa poin dalam tulisan ini.

 

Coba Bikin Buku Lagi .. “Data Mining dengan Matlab & Python”

Buku berbeda dengan artikel jurnal dari sisi konten. Jika jurnal merupakan hasil penelitian terkini, buku sedikit tertinggal beberapa tahun. Namun biasanya buku lebih stabil keilmuwannya, alias sudah “established”. Biasanya buku digunakan sebagai sumber referensi untuk kasus tertentu karena formatnya yang rapi, tidak terlepas ke sana-sini seperti artikel ilmiah. Toh, jurnal pun sesungguhnya terbit setelah penelitian yang dilakukan beberapa tahun belakangan, jadi tidak baru-baru amat. Postingan ini sedikit memberi gambaran bagaimana membuat buku dengan mudah dan cepat.

Materi Kuliah

Waktu itu diminta ngajar mata kuliah “Data Mining” di kampus besar yang terletak di Pondok Kopi. Total ada 14 pertemuan. Kebetulan perkuliahan disertai dengan praktek di laboratorium. Dalam satu kali pertemuan saya buat satu bab, jadi total setelah perkuliahan selesai, jadilah buku sekitar 14 bab. Jadi ketika mengajari, langsung saja “capture” langkah-langkahnya. Tidak perlu ditulis dulu karena menulis membutuhkan waktu. Toh, dari hasil capture kita tahu apa yang harus ditulis nanti. Lihat postingan saya 7 tahun yang lalu tentang teknik ini.

Di akhir semester ada waktu kira-kira sebulan untuk membuat kata-kata yang mengalir. Ada sisi positifnya jika kita menulis materi kuliah. Ketika mempraktekan terkadang dapat diketahui apakah modul berjalan dengan baik. Terkadang ada saja hal-hal yang dijumpai siswa yang membuat praktik tidak berjalan. Hal ini penting untuk ditulis karena pembaca buku adalah pembelajar mandiri yang harus jelas dari “a” sampai “z” tanpa ada guru/tutor. Jika tidak berjalan, tentu saja mengecewakan pembaca. Namun toh, biasanya ada saja masalah dijumpai dan pembaca mengirim pertanyaan lewat email, terutama masalah kompatibilitas dengan laptopnya. Tapi biasanya berjalan dengan baik oleh pembaca. Kalaupun hanya memanfaatkan dari “help” tetap harus dicoba oleh penulis apakah bisa berjalan dengan baik atau perlu alat bantu lain. Beberapa penulis buku tidak menganjurkan memanfaatkan “help” karena untuk apa buat buku kalau di “help”-nya sudah ada.

Hasil Penelitian

Nah, yang ini agak sulit. Beberapa penerbit menolak membukukan hasil penelitian (skripsi, tesis, atau disertasi). Hal ini saya dengar langsung oleh perwakilan penerbit (waktu itu dari Andi offset) yang diundang oleh pihak kampus saya waktu itu (STMIK Nusa Mandiri). Saya lupa tahunnya, yang jelas waktu itu masih “ST”. Oiya, mungkin dosen-dosen muda sekarang heran melihat S1 yang menjadi dosen. Pasti lebih heran lagi kalau tahu jabatan fungsional Lektor saya diperoleh waktu masih bergelar S1 (lektor 200). Waktu itu memang jamannya orang enggan jadi dosen, sehingga kebutuhan dosen masih tinggi. Nah, si penerbit bersedia membukukan hasil penelitian jika mampu mengemas laporan penelitiannya dalam bentuk sudut pandang “orang awam”. Maksudnya pembaca harus dijejali hal-hal yang perlu agar mereka bisa mengikuti. Ini yang membuat penulis harus kerja ekstra mengetik ulang hasil penelitiannya. Nah nanti di akreditasi terbaru dengan format 9 standar, tiap dosen harus memasukan hasil penelitiannya ke materi ajar. Jadi buku yang dibuat kombinasi dari materi kuliah dengan hasil penelitian. Agak repot juga ketika mengajar mata kuliah yang berbeda dengan roadmap penelitiannya, jadi tidak bisa disisipi hasil penelitian. Jadi intinya, penerbit ingin pembaca tidak membutuhkan sumber-sumber lain untuk memahami, artinya dengan satu buku itu sudah paham. Kalau memerlukan buku lainnya, biasanya pembaca kerepotan karena harus merogoh kocek lagi untuk beli buku lainnya.

Menolong Orang Lain

Siapa yang ditolong? Banyak, misalnya kampus (lewat poin akreditasi karena ada buku), dosen (karena ada materi kuliah), industri/developer (untuk membuat software/aplikasi), dan mahasiswa (untuk kuliah dan tugas akhir/skripsi). Hal ini terjadi karena buku berbeda dengan artikel ilmiah yang terkadang merahasiakan kode sumber, sementara buku selain menyertakan kode sumber, terkadang diberikan CD/DVD atau file yang dishare di internet (dari website, Github, dan lain-lain). Kebanyakan mereka seumur hidup hanya sekali merasakan skripsi/tugas akhir, jadi tidak mungkin melupakan buku yang ia baca ketika berpusing-pusing ria dalam merampungkan kuliahnya. Saya pun sampai sekarang masih ingat buku-buku yang membantu saya lulus kuliah. Terakhir, tentu saja membantu penerbit. Mereka secara jujur kesulitan mencari penulis buku, padahal jumlah penulis potensial di tanah air harusnya di atas negara lain.

Revisi Atau Baru?

Sebenarnya saya ingin merevisi buku yang dulu, tetap mengingat isi yang jauh berbeda, terpaksa membuat versi yang benar-benar baru. Salah satu hal yang membedakan adalah “web-based machine learning“. Silahkan cari di internet buku tentang machine learning atau data mining berbasis web, masih jarang. Hal ini terjadi karena antara front-end (web developer) dengan back-end (data scientis) berasal dari orang dengan fokus yang berbeda. Perlu ada jembatan yang menghubungkan keduanya. Pengguna pun lebih nyaman menggunakan apikasi data mining dengan GUI berbasis web yang mudah diakses dari manapun. Jadi dengan tambahan web-based machine learning mudah-mudahan dapat menjembatani front-end dan back-end. Penggunaan bahasa Python pun karena trend bahasa pemrograman ini yang terus naik (lihat pos yang lalu) sampai-sampai Google mengadopsi bahasa ini dalam pemrograman onlinenya (lihat pos yg lalu tentang Google Colab).

Sebagai bonus, penulis terkadang harus cuek, apalagi menulis buku. Jika novel atau cerpen, kita bisa menggunakan nama samaran jika kita tidak ingin repot dengan para kritikus. Beberapa pakar di tanah air terkadang merendahkan tulisan dari penulis-penulis lokal dan cenderung menganjurkan buku-buku internasional yang “wah”. Tidak apa-apa kalau punya pandangan seperti itu, toh niat kami membantu anak-anak yang mungkin kurang skill bahasa Inggrisnya dengan bahasa yang mudah mereka mengerti. Jika dikatakan tulisan “instan” ya tidak apa-apa, kan repot juga mahasiswa dipaksa belajar bahasa Inggris dulu baru bisa lulus. Prinsip saya dan penulis-penulis lokal lainnya sebenarnya sederhana, membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat umum, tidak merahasiakan ilmu atau menyarankan mereka mengikuti kursus yang harganya terkadang tidak terjangkau oleh mahasiswa-mahasiswa rata-rata di tanah air yang untuk bayar kuliah saja sulit. Tentu saja kalau mampu silahkan buat buku bertaraf internasional yang “wah” dan itu bagus banget menurut saya. Semoga berminat menulis buku.

Update: 10 April 2021

Buku sudah avaiable di toko-toko buku dan online shop, semoga bermanfaat.

buku DM new

Update: 1 Januari 2025

Tidak terasa sudah 4 tahun vakum menulis. Coba buat buku lagi mengingat teknologi saat ini berkembang sangat cepat. Masih dengan tema yang sama, tapi dengan implementasi khusus yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa, terutama level S1 dan S2.