Jangan Lupakan Service/Layanan

Orang yang berkecimpung dalam dunia teknologi informasi pasti mengenal istilah service oriented architecture atau yang lebih dikenal dengan SOA. Arsitektur ini bermaksud menangani service atau layanan yang diberikan oleh perusahaan kepada konsumen dengan ciri-ciri antara lain bebas platform, berbasis internet dan real-time, dan integrasi terhadap seluruh layanan yang ada. Ketika iseng-iseng membaca perihal SOA di internet, saya teringat kasus yang menimpa dunia pendidikan, terutama kampus tempat para dosen bekerja yang terdampak pandemic COVID-19.

Pembelian Jasa

Ketika saya ingin berlangganan internet, ada tawaran servis/layanan apa saja yang bisa diambil, misalnya tv kabel, disamping tentu saja akses internet, dengan biaya tambahan tergantung channel yang tersedia. Ketika sudah sepakat, pembayaran dilakukan, namun ada servis yang karena satu dan lain hal tidak bisa berjalan. Apakah konsumen diam saja? Tentu saja tidak. Mereka akan menuntut layanan yang bermasalah tersebut. Ada batas waktu penyelesaian yang diistilahkan dengan service level agreement (SLA) yaitu waktu maksimal provider dalam mengatasi masalah layanan yang ada. Misalnya waktu saya kerja di bank, untuk ATM tidak boleh melebihi 7 jam offlinenya. Jika tidak maka provider terkena pinalti.

Kondisi Khusus

Terkadang memang ada kondisi khusus, yang diistilahkan dengan force majeure. COVID-19 merupakan salah satunya. Contoh real adalah kampus yang tidak bisa mengadakan perkuliahan tatap muka. Ketika semi lock-down diterapkan di tanah air (PSBB), banyak kampus yang berfikir keras mengatasi masalah ini. Para pimpinan, rektor hingga dekan akan berfikir keras karena salah satu layanan utama yang menjadi core business, yaitu perkuliahan tatap muka tidak boleh dilaksanakan. Kalau didiamkan saja, alias pimpinan tidak mengambil tindakan dan menyerahkan sepenuhnya kepada dosen pengajar dalam mengganti perkuliahan tatap muka dengan online maka tidak akan ada standar dalam kampus tersebut. Ibarat konsumen, mahasiswa akan meminta kompensasi layanan yang hilang, yaitu tatap muka.

Perkuliahan Daring

Beberapa kampus sudah menyiapkan sarana dan instrumen bagi dosen dan mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan online. Instrumen tersebut berupa e-learning, online meeting, webinar, dan sejenisnya. Efektif atau tidaknya instrumen tersebut adalah bertujuan mengkonversi layanan tatap muka yang hilang akibat bencana COVID-19. Memang tidak ada jaminan instrumen yang disediakan kampus dapat mengganti layanan tatap muka, tetapi hal itu merupakan antisipasi terhadap layanannya yang hilang. Kampus bisa saja menyerahkan sepenuhnya kepada dosen pengampu mata kuliah, tetapi antara dosen satu dengan lainnya memiliki kemampuan berbeda dalam pemahaman dunia online, ditambah beberapa mata kuliah agak sulit dilakukan secara online, misalnya praktikum. Jika pun dosen enggan dan “membandel” tidak menjalankan perkuliahan online semestinya dan mahasiswa kecewa, mereka tidak bisa menuntut kampus karena kampus sudah menyediakan sarana dengan baik. Berbeda jika kampus tidak menyediakan sarana “standar” dan hanya menyerahkan semua kepada dosen pengampu mata kuliah, sasaran kekecewaan bukan hanya ke dosen, tetapi kepada institusi yang dirasa tidak ada usaha mengganti layanannya yang hilang.

Service Level Agreement (SLA)

Istilah ini adalah batas waktu yang wajib diselesaikan oleh pemberi layanan ketika ada layanannya yang bermasalah. Tentu tidak ada yang bisa 100% layanan itu oke, bisa saja terjadi gangguan di tengah jalan. Untuk kasus pandemic saat ini, hampir kebanyakan kampus harus berhenti perkuliahan tatap muka di tengah jalan tanpa persiapan. SLA ini memang sulit didefinisikan, bisa satu bulan, satu semester, atau sampai pandemic berakhir, tapi setidaknya sebagian besar kampus sudah bisa mengantisipasi (walau masih banyak juga yang kacau balau) dan sudah ada gambaran bagaimana antisipasi di semester yang akan datang, apalagi dengan kondisi penerimaan mahasiswa baru.

Dengan diterapkannya new normal dan kuliah masih harus online, tidak ada salahnya kampus harus menyediakan instrumen resmi di kampusnya untuk menghadapi semester depan yang masih dilakukan secara daring. Memang masalah ini terjadi di kedua pihak, baik pemberi jasa maupun penerima jasa, dan sebaiknya kedua pihak saling memahami posisi sulit yang memang menimpa hampir sebagian besar orang. Sekian, semoga bisa menginspirasi dan pandemic ini segera berlalu; tetap semangat.

Riset Bidang Informatika

Mahasiswa informatika yang mengerjakan skripsi atau tugas akhir biasanya berupa pembangunan sistem informasi baik perancangan maupun pembuatan program. Memang untuk mahasiswa S1, kompetensi akhir adalah mengaplikasikan ilmu yang diperoleh ketika kuliah dalam sebuah tugas akhir. Nah, masalahnya muncul ketika mempublikasikannya dalam sebuah jurnal yang sempat ada wacana sebagai syarat kelulusan seorang mahasiswa dimana masalah originality, novelty, dan kontribusi menjadi momok bagi para editor dalam menerima paper jenis ini. Ada baiknya kita mengurai masalah ini berdasarkan bidang ilmu informatika yang terpecah menjadi dua kutub yaitu ilmu komputer dan sistem informasi.

Ilmu Komputer

Bidang ini memang berfokus kepada metode yang berisi di dalamnya algoritma-algoritma yang membantu komputasi. Hampir semua riset di bidang ini fokus ke peningkatan akurasi, efisiensi, dan aspek-aspek lain terhadap kualitas sebuah metode yang diusulkan. Jadi riset yang fokus ke bidang ilmu komputer harus berisi tinjauan metode-metode terkini dan dilanjutkan dengan “mengutak-atik” parameter atau dengan penambahan sedikit algoritma/metode sehingga meningkatkan akurasi atau aspek lain. Jadi perlu ada pembuktian terhadap performa metode usulan. Oiya, saat ini istilah metode biasanya menggantikan istilah algoritma karena sifatnya yang lebih kompak dimana metode bisa berisi lebih dari satu jenis algoritma, misalnya Genetic Algorithms dengan “s” di belakang yg berarti jamak. Jika mahasiswa bidang ini menggunakan sebuah metode terhadap domain tertentu, misalnya bisnis, dia tinggal memilih fokus utama apakah ke metode atau ke domain penerapannya. Jika fokus ke ilmu komputer maka mau tidak mau pengujian akurasi dengan usulan peningkatan metode yang ada wajib ada. Repotnya banyak yang tidak membuat upaya peningkatan metode, hanya manfaat dan kontribusi terhadap domain penelitiannya, dalam hal ini aspek bisnis. Maka seharusnya mahasiswa tersebut fokus ke domain sistem informasi berikut ini.

Sistem Informasi

Bidang ini mungkin memiliki nama lain, misalnya di tempat saya dulu bernama information management, yang uniknya di Indonesia malah di level D3. Atau ada yang lain lagi misalnya business intelligence. Bidang ini membantu domain-domain di luar ilmu komputer seperti kedokteran, geografi, akuntansi, bisnis, dan lain-lain lewat metode-metode yang dibahas dan dikembangkan oleh bidang ilmu komputer. Ada yang berpendapat untuk S3, bidang ini harus “luas” sementara untuk ilmu komputer “sempit”. Namun perkembangan di per-jurnal-an sedikit berbeda dimana istilah “luas” menjadi rancu. Ada yang mengatakan luas di sini berarti “grand design”, framework enterprise dan hal-hal lain yang kesannya menambah beban mahasiswa S3 agar “pusing” dikit dalam mengambil data yang banyak, ijin yang berbelit, dan sejenisnya. Biasanya yang berfikir tersebut adalah pihak kampus. Sementara dari pihak “reviewer”, sebenarnya sistem informasi bermaksud penerapan yang tepat terhadap domain tertentu, seperti misalnya untuk e-learning, maka fokus originality, novelty dan contribution adalah cukup fokus ke domainnya yaitu pendidikan dan psikologi. Terkadang dengan metode yang sudah establish, hanya menggunakan metode yang ada tetapi pembahasan yang tepat terhadap hubungannya dengan peningkatan performa dari domain dapat diterima untuk dipublikasi.

S1, S2, dan S3

Ada yang membedakan fokus S1 ke implementasi metode, S2 membandingkan dan memilih metode, dan S3 menemukan/memperbaiki metode. Dilihat dari sisi peta okupasi dan kompetensi sudah cukup memadai, tetapi dari sisi penelitian ada yang janggal karena seharusnya S1 ilmu komputer tidak hanya menerapkan di domain tertentu karena cenderung menjadi sistem informasi. Hal ini yang menurut saya menyebabkan konflik antara jurusan teknik informatika dan sistem informasi yang terdapat dalam satu universitas/sekolah tinggi. Banyak dijumpai mahasiswa sistem informasi yang pindah ke teknik informatika karean merasa pusingnya sama tetapi gengsinya beda (mereka menganggap teknik informatika lebih bergengsi). Problem berikutnya adalah S2 yang biasanya kelanjutan S1 dan persiapan S3. Dengan waktu hanya 2 tahun (1,5 tahun dipakai course work), sepertinya agak sulit jika dipaksa mencari novelty dari jurusannya. Di mata reviewer, antara S1, S2, dan S3 tidak ada bedanya. Dengan melihat pendahuluan, novelty dan kontribusi akan terlihat apakah penulis ingin fokus ke metode atau ke domain penerapan metode. Jika fokus ke metode tapi tidak ada upaya improvement, hanya pernyataan bahwa metode tersebut dapat meningkatkan kinerja domain sudah pasti reviewer akan me-reject. Sebaliknya jika fokus ke domain penerapan metode tetapi pembahasan membahas akurasi metode juga di-reject, kedua hal tersebut dianggap “salah kamar”.

Penutup

Jika syarat publikasi wajib maka format S1, S2, dan S3 sedikit banyak akan berubah, kecuali jika dipublikasikan ke jurnal tanpa peer review. Kampus, dosen, dan mahasiswa harus mulai menentukan fokus ke arah mana. Dan antara jurusan ilmu komputer dan sistem informasi jangan sampai terlalu tumpang tindih. Memang mencari originality, novelty dan kontribusi metode dalam ilmu komputer sangat sulit tapi harus dicoba, harus ada usaha. Masalah berhasil atau tidak itu urusan belakang, minimal mahasiswa tahu “jeroan” dari metode tersebut. Sebagai contoh misalnya bahasa Python telah menyediakan sebuah library tertentu, misalnya SVM pada Scikit Learning (Sklearn). Mahasiswa ilmu komputer harus tahu isi dari kode SVM agar bisa menambah atau menyetel parameter-parameter di dalamnya, sementara mahasiswa sistem informasi boleh saja hanya menggunakan library SVM tersebut pada domaint tertentu, seperti prediksi sebaran corona dengan SVM khusus regresi (SVR). Bagaimana dengan S3? Silahkan perkuat bahasa Inggris (TOEFL atau IELTS), cari kampus tujuan, cari beasiswa atau dana mandiri, dan coba kuliah dan merasakan atmosfir yang jauh berbeda dari level pendidikan sebelumnya. Sekian, semoga tulisan ini sedikit bermanfaat.

Maaf, kita terpaksa belajar secara online

Siang ini udara cukup panas ketika saya keluar sebentar untuk ambil raport SMP anak. Ketika balik lagi ke kampus karena memang jadwal saya piket, ternyata mahasiswa unjuk rasa mengenai perkuliahan. Tuntutannya sederhana, meminta dispensasi pembayaran, kalau tidak salah 50 persen. Alasannya sederhana, karena perkuliahan berjalan secara daring. Untuk menjawab bagaimana kampus bersikap, ada baiknya melihat kondisi sesaat sebelum pandemic COVID-19 terjadi berikut ini.

Disrupsi

Istilah ini bukan hal yang baru dan setiap orang sudah mengerti. Pesatnya penjualan, transportasi, dan bisnis online sudah terasa dampaknya di masyarakat. Konflik dengan konvensional seperti ojek pangkalan, taksi konvensional yang sebelumnya keras mulai melunak dan bahkan kini bisa berjalan saling mengisi. Bagaimana dengan dunia pendidikan? Beberapa pakar sudah memprediksi bahwa bakal banyak kampus yang akan tutup, jangankan negara berkembang, negara maju tempat pusat IPTEKS pun diramalkan akan terjadi (misal di US, lihat link ini).

Secara teori, disrupsi memotong rantai antara produsen dengan konsumen. Jadi jika kita sebagai produsen atau konsumen, tentu saja tetap tidak tergantikan. Masalahnya adalah untuk jasa, seperti pendidikan, siapa kah produsennya? Kampus atau dosen? Sementara konsumen, mahasiswa ataukah industri penyerap tenaga kerja? Repotnya berita Google yg tidak mensyaratkan ijazah ketika merekrut karyawannya membuat posisi produsen (kampus dan dosen) kelimpungan (lihat link ini misalnya).

Menurut buku Renald Kasali tentang disrupsi, nanti peran kampus adalah sebagai even organizer yang menangani servis pendidikan dan pengajaran. Kampus dan dosen seolah lenyap (wah repot juga). Jika perusahaan penyerap memiliki tools yang canggih untuk menguji kemampuan calon tenaga kerja, sudah dipastikan peran ijazah bakal sirna dan digantikan peran lembaga yang mampu meningkatkan skill dan ilmu siswa/mahasiswa/calon tenaga kerja. Kalau diibaratkan tokopedia, bukalapak, shopee yang hingga kini bertarung habis-habisan, kemungkinan lembaga yang memberikan servis pengajaran pun pasti bertarung habis-habisan. Namun kondisi COVID-19 pen-disrupsi pun kewalahan (lihat berita ini).

Business-to-Business (B2B)

Di industri kita kenal perusahaan yang menjual barang bukan ke konsumen, melainkan ke perusahaan lain. Jadi kita tidak bisa sekedar menyamakan kampus dengan gojek atau toko online yang business-to-customer. Ketika ojek dibutuhkan, pasti ada pensuplainya, kendaraan dan driver. Begitu juga pendidikan, ada pihak pensuplai kurikulum/konten dan dosen. Hal ini terjadi karena pengajar bukan sebagai buruh, melainkan mitra. Nah, kondisi pengajaran online pun berbeda dengan ojek yang memang dibutuhkan jumlah yang banyak, untuk pengajaran terkadang dibutuhkan pengajar yang “menarik” konsumen karena kepakaran, skill, atau aspek-aspek penerimaan lainnya yang tentu saja karena online tidak perlu berjumlah banyak. Wah, bagaimana ini?

Tuntutan Spesialisasi

Perkembangan teknologi dan tuntutan kehidupan modern memaksa tidak adanya monopoli oleh seseorang. Sehebat apapun seorang pakar, dia tidak bisa menguasai semua ilmu yang dibutuhkan orang/masyarakat. Peta okupasi (profesi) pun terus bertambah, misalnya untuk dunia IT sudah ratusan. Jadi seharusnya tidak perlu khawatir. Nah, di sinilah sebenarnya akar permasalahan ketika transisi dari tatap muka/offline/blended menjadi murni online. Baik pengajar maupun mahasiswa khawatir tidak memperoleh hasil yang diinginkan. Sebagai contoh, silahkan ikuti webinar-webinar yang saat ini banyak dijumpai, tidak ada skill spesifik yang didapat karena memang bentuknya yang agak monolog dan tidak bisa meng-cover kebutuhan semua peserta.

Influencer

Jika sudah menjadi spesialis dan terus mengasah skill dan kepakaran, maka dampak nyatanya berupa karya kian terlihat. Uniknya di jaman online, sangat mudah terlihat dan viral. Sekali terlihat, permintaan pasti datang dan jika peminatnya banyak, banyak pihak-pihak yang menempel ketat. Jika kampus atau dosen sudah berperan seperti influencer, sepertinya aman-aman saja karena mendapat dukungan dari mahasiswa dan industri. Jika mahasiswa sudah menjadi follower setia, online pun tidak masalah. Peran model dan sosok sebagai sumber inspirasi seorang tutor/dosen/guru tidak bisa tergantikan. Sekian, semoga pembaca sekalian sependapat untuk beberapa poin dalam tulisan ini.

 

Coba Bikin Buku Lagi .. “Data Mining dengan Matlab & Python”

Buku berbeda dengan artikel jurnal dari sisi konten. Jika jurnal merupakan hasil penelitian terkini, buku sedikit tertinggal beberapa tahun. Namun biasanya buku lebih stabil keilmuwannya, alias sudah “established”. Biasanya buku digunakan sebagai sumber referensi untuk kasus tertentu karena formatnya yang rapi, tidak terlepas ke sana-sini seperti artikel ilmiah. Toh, jurnal pun sesungguhnya terbit setelah penelitian yang dilakukan beberapa tahun belakangan, jadi tidak baru-baru amat. Postingan ini sedikit memberi gambaran bagaimana membuat buku dengan mudah dan cepat.

Materi Kuliah

Waktu itu diminta ngajar mata kuliah “Data Mining” di kampus besar yang terletak di Pondok Kopi. Total ada 14 pertemuan. Kebetulan perkuliahan disertai dengan praktek di laboratorium. Dalam satu kali pertemuan saya buat satu bab, jadi total setelah perkuliahan selesai, jadilah buku sekitar 14 bab. Jadi ketika mengajari, langsung saja “capture” langkah-langkahnya. Tidak perlu ditulis dulu karena menulis membutuhkan waktu. Toh, dari hasil capture kita tahu apa yang harus ditulis nanti. Lihat postingan saya 7 tahun yang lalu tentang teknik ini.

Di akhir semester ada waktu kira-kira sebulan untuk membuat kata-kata yang mengalir. Ada sisi positifnya jika kita menulis materi kuliah. Ketika mempraktekan terkadang dapat diketahui apakah modul berjalan dengan baik. Terkadang ada saja hal-hal yang dijumpai siswa yang membuat praktik tidak berjalan. Hal ini penting untuk ditulis karena pembaca buku adalah pembelajar mandiri yang harus jelas dari “a” sampai “z” tanpa ada guru/tutor. Jika tidak berjalan, tentu saja mengecewakan pembaca. Namun toh, biasanya ada saja masalah dijumpai dan pembaca mengirim pertanyaan lewat email, terutama masalah kompatibilitas dengan laptopnya. Tapi biasanya berjalan dengan baik oleh pembaca. Kalaupun hanya memanfaatkan dari “help” tetap harus dicoba oleh penulis apakah bisa berjalan dengan baik atau perlu alat bantu lain. Beberapa penulis buku tidak menganjurkan memanfaatkan “help” karena untuk apa buat buku kalau di “help”-nya sudah ada.

Hasil Penelitian

Nah, yang ini agak sulit. Beberapa penerbit menolak membukukan hasil penelitian (skripsi, tesis, atau disertasi). Hal ini saya dengar langsung oleh perwakilan penerbit (waktu itu dari Andi offset) yang diundang oleh pihak kampus saya waktu itu (STMIK Nusa Mandiri). Saya lupa tahunnya, yang jelas waktu itu masih “ST”. Oiya, mungkin dosen-dosen muda sekarang heran melihat S1 yang menjadi dosen. Pasti lebih heran lagi kalau tahu jabatan fungsional Lektor saya diperoleh waktu masih bergelar S1 (lektor 200). Waktu itu memang jamannya orang enggan jadi dosen, sehingga kebutuhan dosen masih tinggi. Nah, si penerbit bersedia membukukan hasil penelitian jika mampu mengemas laporan penelitiannya dalam bentuk sudut pandang “orang awam”. Maksudnya pembaca harus dijejali hal-hal yang perlu agar mereka bisa mengikuti. Ini yang membuat penulis harus kerja ekstra mengetik ulang hasil penelitiannya. Nah nanti di akreditasi terbaru dengan format 9 standar, tiap dosen harus memasukan hasil penelitiannya ke materi ajar. Jadi buku yang dibuat kombinasi dari materi kuliah dengan hasil penelitian. Agak repot juga ketika mengajar mata kuliah yang berbeda dengan roadmap penelitiannya, jadi tidak bisa disisipi hasil penelitian. Jadi intinya, penerbit ingin pembaca tidak membutuhkan sumber-sumber lain untuk memahami, artinya dengan satu buku itu sudah paham. Kalau memerlukan buku lainnya, biasanya pembaca kerepotan karena harus merogoh kocek lagi untuk beli buku lainnya.

Menolong Orang Lain

Siapa yang ditolong? Banyak, misalnya kampus (lewat poin akreditasi karena ada buku), dosen (karena ada materi kuliah), industri/developer (untuk membuat software/aplikasi), dan mahasiswa (untuk kuliah dan tugas akhir/skripsi). Hal ini terjadi karena buku berbeda dengan artikel ilmiah yang terkadang merahasiakan kode sumber, sementara buku selain menyertakan kode sumber, terkadang diberikan CD/DVD atau file yang dishare di internet (dari website, Github, dan lain-lain). Kebanyakan mereka seumur hidup hanya sekali merasakan skripsi/tugas akhir, jadi tidak mungkin melupakan buku yang ia baca ketika berpusing-pusing ria dalam merampungkan kuliahnya. Saya pun sampai sekarang masih ingat buku-buku yang membantu saya lulus kuliah. Terakhir, tentu saja membantu penerbit. Mereka secara jujur kesulitan mencari penulis buku, padahal jumlah penulis potensial di tanah air harusnya di atas negara lain.

Revisi Atau Baru?

Sebenarnya saya ingin merevisi buku yang dulu, tetap mengingat isi yang jauh berbeda, terpaksa membuat versi yang benar-benar baru. Salah satu hal yang membedakan adalah “web-based machine learning“. Silahkan cari di internet buku tentang machine learning atau data mining berbasis web, masih jarang. Hal ini terjadi karena antara front-end (web developer) dengan back-end (data scientis) berasal dari orang dengan fokus yang berbeda. Perlu ada jembatan yang menghubungkan keduanya. Pengguna pun lebih nyaman menggunakan apikasi data mining dengan GUI berbasis web yang mudah diakses dari manapun. Jadi dengan tambahan web-based machine learning mudah-mudahan dapat menjembatani front-end dan back-end. Penggunaan bahasa Python pun karena trend bahasa pemrograman ini yang terus naik (lihat pos yang lalu) sampai-sampai Google mengadopsi bahasa ini dalam pemrograman onlinenya (lihat pos yg lalu tentang Google Colab).

Sebagai bonus, penulis terkadang harus cuek, apalagi menulis buku. Jika novel atau cerpen, kita bisa menggunakan nama samaran jika kita tidak ingin repot dengan para kritikus. Beberapa pakar di tanah air terkadang merendahkan tulisan dari penulis-penulis lokal dan cenderung menganjurkan buku-buku internasional yang “wah”. Tidak apa-apa kalau punya pandangan seperti itu, toh niat kami membantu anak-anak yang mungkin kurang skill bahasa Inggrisnya dengan bahasa yang mudah mereka mengerti. Jika dikatakan tulisan “instan” ya tidak apa-apa, kan repot juga mahasiswa dipaksa belajar bahasa Inggris dulu baru bisa lulus. Prinsip saya dan penulis-penulis lokal lainnya sebenarnya sederhana, membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat umum, tidak merahasiakan ilmu atau menyarankan mereka mengikuti kursus yang harganya terkadang tidak terjangkau oleh mahasiswa-mahasiswa rata-rata di tanah air yang untuk bayar kuliah saja sulit. Tentu saja kalau mampu silahkan buat buku bertaraf internasional yang “wah” dan itu bagus banget menurut saya. Semoga berminat menulis buku.

Update: 10 April 2021

Buku sudah avaiable di toko-toko buku dan online shop, semoga bermanfaat.

buku DM new

Update: 1 Januari 2025

Tidak terasa sudah 4 tahun vakum menulis. Coba buat buku lagi mengingat teknologi saat ini berkembang sangat cepat. Masih dengan tema yang sama, tapi dengan implementasi khusus yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa, terutama level S1 dan S2.

Studi Lanjut di Era New Normal

Untuk rekan-rekan yang saat ini masih kuliah (S1, S2, atau S3), pasti terpengaruh dengan wabah COVID-19. Yang biasanya bertatap muka, saat ini berganti melalui multimedia, baik tulisan, suara, maupun video. Tentu saja kesulitan pasti muncul. Repotnya kesulitan tersebut baru kali ini terjadi. Saya sendiri sulit membayangkan seandainya saya belum lulus. Sebagai informasi banyak rekan-rekan saya yang belum juga lulus. Mungkin postingan ini sedikit bisa memberi gambaran untuk rekan-rekan yang akan memulai studi. Untuk yang sedang berjalan, mungkin bisa sharing jika ada pengalaman yang bermanfaat untuk dibagikan.

Kondisi Universitas Saat Ini

Tanpa adanya COVID-19, beberapa pakar mulai mempertanyakan apakah universitas juga mengalami disrupsi, seperti perusahaan-perusahaan lainnya dimana terjadi pergeseran dari proses bisnis konvensional menjadi online. Dengan adanya wabah, apalagi jika antivirus belum juga ditemukan, proses disrupsi jauh lebih cepat lagi sepertinya. Ada perubahan dalam perhitungan dimana kondisi saat ini mengharuskan tiap universitas harus efisien dalam menggunakan sarana dan prasarana yang ada. Memang, serangan COVID-19 mirip serangan mendadak yang membuat pontang-panting dunia pendidikan yang baru saja siap-siap online. Beban berat ada di tangan divisi yang bertugas mengontrol jalannya perkuliahan online dan memastikan kualitas proses belajar tetap seperti kondisi sebelumnya. Persaingan yang ketat membuat kampus tidak boleh main-main dengan biaya karena calon siswa dengan mudah beralih ke kampus lain, apalagi kondisi saat ini informasi sangat mudah di dapat, termasuk informasi mengenai kinerja kampus tujuan.

Safe Mode

Ibarat sistem operasi yang bermasalah, terkadang perlu menjalankan mode “safe mode” dimana beberapa driver saja yang diaktifkan guna menghindari “crash”, begitu juga sebaiknya calon siswa bersikap. Pikirkan kembali apakah mengambil kuliah di dalam atau di luar negeri. Biaya sendiri atau menunggu beasiswa. Sempat juga saya ngobrol dengan pengelola S3 sistem informasi yang baru saja dibentuk. Saat ini skema yang ada hanyalah LPDP yang mungkin hanya beberapa yang dapat per angkatan (dua atau tiga). Jika biaya bisa dicover dari gaji atau tunjangan serdos, tidak ada salahnya menggunakan biaya sendiri. Atau jika masih ragu, tunda saja beberapa saat hingga kondisi wabah mereda. Untuk yg tinggal syarat wajib publikasi, jika diperbolehkan open akses yang berbayar tidak ada salahnya memilih opsi itu daripada gaya-gayaan milih murni Q1 atau Q2 dengan impak yang tinggi tapi ga tembus-tembus.

Metode Belajar

Saat ini calon mahasiswa dituntut kualitasnya mirip calon pegawai. Silahkan searching di internet, tuntutan apa saja yang diminta oleh perusahaan, terutama secara psikologis seperti kemampuan untuk berkembang, beradaptasi, berkolaborasi, berkomunikasi, dan sejenisnya. Jika dulu kita bisa seharian berfikir menyelesaikan masalah/problem, saat ini jika dengan kolaborasi lebih cepat, tidak ada salahnya gabung di grup-grup keilmuwan. Saat ini banyak grup-grup medsos yang membicarakan hal itu, tentu saja harus memiliki “sense” agar tidak hanyut ke hal-hal remeh temeh yang tidak perlu seperti politik, gosip, dan sejenisnya.

Result-based dengan memperhatikan konsep pareto (20:80) perlu juga dipelajari. Silahkan searching konsep menarik ini. Kita harus memiliki kemampuan mendeteksi 20 persen titik kritis yang mempengaruhi 80% hasil. Jangan sampai menghabiskan 80% yang tidak penting dan melupakan 20% yang vital. Mengapa hal ini penting? Salah satu alasannya adalah dunia online yang memiliki aplikasi-aplikasi yang memicu endorphin, seperti game, medsos, dan sejenisnya. Gunakan metode detoks dengan cara mengerjakan hal-hal wajib yang membosankan tapi penting, jadikan pemicu endorphin tersebut sebagai “hadiah” saja.

Di era “big data” ini, informasi sangat mudah dijumpai. Ada manfaat, tetapi tentu saja banyak informasi sampah yang tidak harus kita telan juga. Otak kita tidak seperti machine learning yang mampu mengelola data yang besar 24 jam. Oleh karena itu kemampuan mendeteksi informasi-informasi berharga harus dimiliki. Terkadang informasi tersebut tidak bisa diperoleh hanya dengan mengetik kata kunci di Google. Bisa saja lewat bacaan baik buku maupun jurnal. Khusus mahasiswa doktoral wajib menguasai hal ini mengingat syarat lulus yang harus menemukan hal unik yang baru (novelty).

Low Profile

Sungguh konyol kalau kita masih berani sombong dalam kondisi seperti ini. Negara2 adidaya saja kewalahan menghadapi kondisi saat ini. Kabarnya beberapa kampus di barat mengalami kekhawatiran akan tutup. Apalagi kita yang calon siswa, tentu saja kerendahan hati, sifat alami bangsa Indonesia, tetap dijaga. Tidak ada salahnya mengakui kalau kita tidak bisa dari pada tugas tidak selesai. Tidak ada salahnya juga membantu rekan-rekan tanpa imbalan.

Tetap Hidup

Nah ini yang penting. Ketika saya kuliah, terkadang otak bekerja keras siang malam. Makan dan tidur kurang, serta jarang berolah raga. Untuk kondisi new normal yang akan kita hadapi sebaiknya jangan dilakukan. Tidur yang cukup, berolah raga, dan makan makanan bergizi (tidak perlu mahal) harus dilakukan. Saya teringat ketika pembekalan sebelum berangkat kuliah ke luar, pembicara mengatakan agar jangan terlalu “perfect”. Kerjakan secepatnya, tidak perlu menghasilkan hal-hal yang “wah”, apalagi sampai ingin dapat hadiah nobel. Makin kita lama kuliah, makin banyak yang dikorbankan, terutama waktu yang tidak bisa dibeli. Semoga pembaca sehat selalu … Amiin.

Magang Yuk

Salah satu kebijakan Nadiem adalah bukan hanya sekedar “link and match”, tetapi antara kampus dan industri/pengguna berhubungan erat, bahkan kalau perlu menjadikan tempat kerja sebagai ruang kuliah. Bukan saja sasaran perkuliahan mengantarkan lulusan langsung 100% bekerja, tetapi ketika kuliah pun, para mahasiswa diharapkan sudah dikasih kerjaan oleh pengguna.

Kebijakan para pendahulu terkadang tidak didukung secara sukarela oleh dunia kerja. Dukungan pun terkadang terpaksa yang akibatnya tidak efektif berjalan. Nah, bagaimana konsep magang yang diperkenalkan oleh mendikbud yang baru ini? Apakah dapat berjalan? Sementara kita pantau dan dukung terus. Semoga didukung oleh dunia kerja mengingat menteri kita yang satu ini sejatinya adalah berasal dari dunia kerja, bahkan salah satu pengusaha dari generasi “milenial” yang sukses.

Saya sendiri sempat bekerja di perusahaan IT yang bergerak di perbankan berskala nasional. Antara yang dipelajari di kampus, terkadang “jauh panggang dari api”. Kurikulum didasarkan pada siapa yang ngajar bukan kebutuhan kerja. Bahkan belajar IT sesungguhnya malah dari dunia kerja. Sebenarnya sudah ada masukan dari para pencari kerja, tetapi untuk “menekan” kampus menyesuaikan kurikulum tidak semudah membalik telapak tangan. Alhasil, dunia kerja pasrah saja menerima karyawan baru dengan tambahan biaya pelatihan dan training yang cukup berat.

Ketika ke dunia kampus, ternyata berat juga menyesuaikan kurikulum dengan yang dibutuhkan saat ini. Ketika mengganti satu mata kuliah saja, siap-siap diprotes oleh dosen-dosen yang “kehilangan” mata kuliahnya. Ditambah lagi kerepotan-kerepotan lain terkait dengan kualifikasi pengajar. Jika mengandalkan expert, kesulitan utama adalah waktu yang tidak bisa diatur semaunya oleh kampus. Mungkin dengan online learning, hal ini dapat diatasi, dengan syarat-syarat yang ketat tentunya.

Siang itu, sepi seperti biasa jika perkuliahan libur semester. Para dosen biasanya sibuk mengerjakan riset, menulis paper (untuk yang mau saja), membuat laporan LKD/BKD serdos, dan sebagainya. Tiba-tiba salah satu staf TU memanggil saya katanya ada perusahaan yang meminta mahasiswanya magang. Unik juga, selama menjabat ketua program studi baru kali ini permintaan magang secara langsung. Biasanya harus mencari dahulu, itu pun ujung-ujungnya formalitas belaka dalam rangka pemenuhan kerja praktek/PKL. Yang diminta pun tidak banyak, tetapi di sini skill yang diminta jelas, yaitu pandai mendisain. Bisa diprediksi nanti skill lainnya bakal diminta pula, seperti mobila app, web developer, dan lain-lain. Tapi oke lah, dicoba dulu. Setelah memilih salah satu siswa yang kira-kira sesuai dengan permintaan, proses magang pun berjalan otomatis. Tidak perlu mengajari siswa membuat CV, berlatih wawancara, dan tetek-bengek proses penerimaan kerja lainnya karena secara otomatis mereka dipaksa melakukan itu.

Ternyata ada informasi lain dari mahasiswa bahwa beberapa mahasiswa sudah aktif magang tanpa sepengetahuan saya di salah satu web developer. Sepertinya saya harus mendata lagi, ternyata hal unik terjadi dimana dunia kerja secara gesit menerobos tembok kampus, mencari talenta-talenta yang bahkan oleh kampusnya sendiri tidak disadari. Untuk para akademisi, yuk buka mata, sepertinya era baru pendidikan sudah dimulai.

Beasiswa adalah Hak Kita

Beruntunglah rekan-rekan yang sudah mengambil beasiswa karena saat ini persaingan memperoleh beasiswa cukup berat. Apalagi andalan rekan-rekan dosen non-millenial seperti saya, yaitu BPPDN/BPPLN, sudah mulai kritis kondisinya dan terancam disuntik mati.

Tinggal kini beasiswa unggulan dosen Indonesia (BUDI) yang menjadi sasaran para dosen yang ingin menebus hutang “kuliah”, alias yang belum S3. BUDI, yang merupakan skema LPDP dari departemen keuangan sulit ditembus oleh dosen-dosen rata-rata di Indonesia, apalagi untuk Indonesia timur. Logika sederhananya adalah ketika BPPDN/LN saja tidak lulus, apalagi BUDIDN/LN. Namun jangan berkecil hati, seperti nasehat pewawancara saya dahulu, harus optimis dan jalankan prinsip “coba lagi saja”. Sederhana, tapi manjur, apalagi sambil berdoa. Apalagi jika usia masih di bawah 47 tahun (batas maksimal usia pelamar BUDI).

Apa salahnya melakukan beberapa aktivitas berikut jika Anda seorang dosen yang wajib melaksanakan Tri Darma perguruan tinggi.

1. Riset. Oiya, beberapa skema riset jika ditekuni memiliki anggaran yang melebihi biaya kuliah lho. Jadi selain Facebook, pantau terus situs penelitian ini. Nah, jika kita beruntung menerima hibah, baik besar atau kecil, di Sinta akan tercatat dan bisa “dilirik” oleh calon-calon advisor kita, khususnya yang ingin ambil S3 dalam negeri. Terlebih lagi bisa diakses oleh umum, misalnya riset saya.

2. Kecakapan berbahasa Inggris. Lihat situs resmi BUDI. Di sana mensyaratkan IELTS 6.5 yang merupakan skor yang cukup sulit bagi orang teknik seperti saya. Utk BPPLN, dulu 6.0 masih diperbolehkan. Oiya, saya ikut pelatihan gratis IELST + tes dari DIKTI di Jogja dulu, dapat Skor 6.0 dan dipakai untuk studi lanjut S3 (lihat post saya dahulu), alhamdulillah lancar.

3. Indeks Scopus. Untuk yang ini, kemampuan menulis mutlak diperlukan. Terkait dengan riset, banyak syarat-syarat h-index dan sebagai penulis pertama di paper yang terindeks scopus. Menjadi anggota peneliti tidak dilarang kok. Oiya, jangan sampai belum punya ID Scopus.

4. Sosialisasi. Aktif di forum-forum atau asosiasi profesi tidak ada salahnya. Banyak kenalan di forum yang akhirnya menjadi supervisor S3.

Mungkin itu sedikit gambaran kondisi beasiswa Ristekdikti/BRIN dan bagaimana dosen mengkondisikan dengan aturan-aturan yang ada agar “menarik” di mata pemberi beasiswa. Jangan khawatir, banyak juga lho yang bukan dari pemerintah. Bisa dari kampus tujuan, lembaga internasional, kedutaan negara asing, dan lain-lain. Sekian, semoga menginspirasi.

Merdeka Belajar

Pulang sekolah bagi pelajar kelas 3 sekolah dasar seperti saya waktu itu merupakan saat yang paling menggembirakan. Setelah seharian digembleng ilmu yang tidak kami mengerti maksud & manfaat real-nya, kini bisa bermain dengan teman-teman sepermainan yang berbeda-beda “spesialisasinya”. Ada yang jago main gundu, main layangan, hingga jago ngadu ayam. Kami selalu membagikan temuan masing-masing, bahwa jika angin sangat kencang maka teknik “uluran” lebih baik dibanding “tarikan” ketika mengadu layang-layang. Rekan yang lain membagikan informasi membedakan ayam bangkok dengan ayam kampung biasa dan bagaimana caranya supaya kondisi ayam tetap fit untuk diadu. Atau berilah cabai ke jangkrik agar lebih liar dan ganas ketika duel. Walau ada teman yang ngaco juga, kalau mau kuat lari coba minum air garam, kata rekan saya yang ikut klub lari. Ketika diminum, rasanya tidak enak banget hingga mau muntah, dan akhirnya saya maki-maki dia keesokan harinya.

Nah, salah satu teman saya adalah “bisnis-child”, alias dagang apa saja. Tentu saja hal-hal yang baru akan menarik minat anak kecil yang haus hal-hal yang baru. Apalagi kabarnya bisa menghasilkan uang kertas, jenis uang yang jarang dipegang pelajar sekolah dasar di era 80-an, era dimana tatap muka masih merajai.

Udara cerah, dengan angin kencang yang mendinginkan udara siang yang panas membawa kami ke tempat teman yang sedang mengantri majalah, teka-teki silang, dan bacaan sejenisnya. Ternyata dia tidak membeli, melainkan membawa cukup banyak bacaan itu untuk dijual. Kami saling berpandangan, ketika rekan saya itu menawarkan ke si bos-nya agar kami ikut menjual. Tentu saja senang dengan tawaran tersebut. Salah satu hal yang membuat senang adalah kepercayaan yang diberikan. Berarti untuk menggerakan sesuatu butuh kepercayaan. Dengan modal kepercayaan tersebut, saya dan teman-teman yang memiliki spesialisasi masing-masing mulai menjalankan visi dan misi yang tidak perlu dirumuskan. Tawarkan bacaan tersebut ke sebanyak mungkin orang agar diharapkan beberapa yang tertarik membeli dengan harga minimal tertentu.

Masalah muncul ketika ada yang melaporkan kegiatan saya. Begitu tahu setelah sekolah ikut dagang majalah, dan sejenisnya, orang tua saya langsung melabrak. Mungkin ada rasa malu dan khawatir dibilang tidak mampu membiayai hidup keluarga, atau mungkin juga khawatir saya keluyuran lama dan tidak langsung belajar selepas sekolah, yang katanya agar pintar maka pelajaran yang baru dipelajari sebaiknya langsung diulang. Tentu saja membosankan sesuatu yang harus diulang-ulang bagi anak yang normal, apalagi mengingat hadiah “pentungan” dari guru yang baru saja kami terima ketika salah hitung, lupa, dan tidak mengerjakan PR. Padahal dengan mencoba berdagang, di situlah saya sadar betapa sulitnya mencari uang, menyimpan, menghitung, dan segala aspek bisnis lainnya.

Tetapi hebatnya pelajar-pelajar di jaman itu, tidak ada satu pun yang berani dan melawan guru, walaupun dilampiaskannya dengan melawan siswa-siswa lain dalam the real “MMA” battle, alias tawuran. Hanya saja sayangnya tidak ada kemerdekaan dalam belajar. Kemerdekaan yang saat ini menjadi jurus andalan mendikbud, Nadiem Makarim, untuk menyiapkan SDM yang bisa berbicara di kancah dunia. Kita lihat saja, semoga berhasil.

Evaluasi Diri Sebelum Lanjut Kuliah

Istilah evaluasi diri (kadang disingkat evaldi) ini terlihat keren, sering ditemui di akreditasi, padahal arti sederhananya adalah berkaca (kadang diucapkan oleh wanita yg sebal dgn jomblo yang mendekat tanpa babibu). Maksudnya melihat diri sendiri apa adanya, ga kurang ga lebih. Melakukan evaluasi diri walau terlihat sederhana tapi dapat menyelamatkan Anda.

Ambilah contoh rekan-rekan yang akan dan baru mulai S3. Terkadang diperlukan evaluasi diri untuk mengukur kesiapan kita menyelesaikan studi. Plan A, B, C dan seterusnya terkadang wajib dijalankan. Proposal yang terkadang mudah dilalui, ketika tidak melakukan evaluasi diri berakibat fatal, alias tidak rampung-rampung. Bagaimana cara mengevaluasi diri? Mudah-mudahan postingan ini bisa menggambarkannya.

Parkour

Parkour merupakan seni melompati rintangan yang berkembang di Perancis. Prinsip utamanya adalah melawan rasa takut tetapi tetap mengetahui kemampuan diri. Jika mampu melompati suatu rintangan A maka dia melompat, tetapi jika belum pernah dan dirasa tidak sanggup melompati rintangan B maka tidak boleh melompatinya, perlu latihan bertahap dulu. Nah, analogi dengan teknik ini, maka kita harus mampu mengukur kekuatan kita. Parkour bukanlah olah raga ekstrim, jadi begitu pula dengan kuliah S3 bukanlah kuliah ekstrim. Asalkan hasil evaluasi diri Anda menyatakan sanggup, maka jalanilah. Jika tidak/belum, persiapkanlah (bahasa, riset, proposal, keuangan, keluarga, dan lain-lain).

Hiena

Ada satu jenis binatang yang bukan merupakan hewan favorit, yaitu Hiena. Hewan pemakan daging ini hidup berkelompok di Afrika. Salah satu karakternya adalah kemampuannya mengevaluasi diri. Jika mereka perkirakan tidak sanggup menang, maka hewan ini akan lari, tetapi jika mereka yakin menang maka mereka siap bertarung. Bahkan singa pun mereka lawan jika sekelompok tersebut telah berhitung dan akan memenangi pertarungan. Untuk yang mengajukan proposal, ukurlah waktu, sumber daya, pembimbing, fasilitas lab dan hal-hal lain yang mampu mendukung penyelesaian disertasi. Jika tidak sebaiknya ganti proposal karena dikhawatirkan tidak selesai tepat waktu. Memang banyak yang membenci Hiena karena licik dan pengecut, tapi sikap cerdik dalam mengevaluasi diri perlu dicontoh. Bahkan para pakar menyimpulkan hewan ini sangat cerdas karena memiliki kemampuan berhitung.

 

Menghadapi Era Milenial Bagi Pengajar

Banyak rekan-rekan seumuran saya yang terkaget-kaget dan tergopoh-gopoh di era milenial ini. Era yang sering disebut industri 4.0. Jangankan guru yang kaget melihat siswanya banyak yang lebih tahu dari dia, dosen pun mengalami hal yang sama. Tinggal searching di google, siswa sudah tahu apapun yang diinginkannya. Postingan ini sedikit memberi pertahanan agar para pengajar tidak dilibas oleh era ini.

Melatih Ingatan

Tidak dapat dipungkiri, dengan adanya google kita jadi malas untuk mengingat-ingat. Toh, ada di google jawabannya. Tapi secepat-cepatnya Anda searching, tetap jauh lebih cepat jika Anda mengetahui dari ingatan Anda. Sebenarnya era generasi X dan sebelumnya memiliki keunggulan dalam hal ingatan (maklum belum ada google, jadi harus buka buku atau nanya-nanya). Tidak ada salahnya mengingat-ingat informasi yang pernah kita miliki. Oiya, era industri 4.0 bercirikan bahwa pengajar bukan seperti pemberi informasi melainkan fasilitator, motivator, dan model bagi siswa. Kita tentu lebih mengagumi seseorang yang ketika ditanya langsung menjawab dibandingkan buka contekan dulu, atau searching di Google. Jika kita langsung menjawab kemungkinan besar siswa kagum, dan jika siswa mengagumi gurunya makan mereka akan lebih mudah diajari dan dimotivasi.

Gunakan Metode Iterasi

Bagi orang IT, dikenal metode pengembangan sistem (SDLC) waterfall. Metode ini mengalir terus dari analisa, disain, coding, testing, dan implementasi. Dikatakan waterfall karena mengalir turun ke bawah bak air terjun. Ketika membaca atau mempelajari ilmu baru jangan gunakan metode jadul tersebut, melainkan pilih metode yang terjamin keberhasilannya, yaitu iterasi.

Metode yang biasanya digunakan oleh pengembang program berorientasi objek ini memastikan ketika melaksanakan atau mengerjakan sesuatu, seluruh tahapan (analisa, disain, coding, testing dan implementasi) dilakukan. Bagaimana praktisnya? Sederhana sebenarnya, ketika kita membaca satu tulisan, misalnya postingan ini. Dimulai dari paragraf pertama Anda wajib menjalankan seluruh metode belajar yang dikuasai (biasanya mencari topik utama, menguji apa yg diserap, dan mengulang jika kurang paham). Ketika Anda membaca sampai sini, jika Anda lupa mencari topik bacaan tiap paragraf, dan tidak mengetes apa informasi yang baru diterima, jangan-jangan setelah selesai membaca postingan ini tidak ada yang masuk di otak. Di jaman yang cepat ini membaca ulang sangat memboroskan waktu Anda, jadi pastikan sekali gebuk (maksudnya baca) langsung mengerti. Sebenarnya sifat alami otak itu iterasi. Pernahkan Anda menonton film di bioskop berkali-kali? Tentu saja tidak. Hal ini karena ketika menonton, di kepala kita tidak hanya mengikuti cerita melainkan muncul seluruh metode belajar dari memahami, menyimpulkan, menguji hasil pengamatan, dan seterusnya. Ada dua kemungkinan Anda menonton kembali: menyukai film tersebut, atau ketiduran ketika menonton yang pertama atau melakukan aktivitas-aktivitas lain yang ga jelas. Jika ada tambahan bisa ditambahkan di komentar. Sekian, semoga bisa membantu.

Memberilah atau Otomatis Anda Berhutang

Dalam kehidupan, kita melihat ada orang-orang yang sukses, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang bisa dikatakan belum berhasil. Memang terkadang orang melihat yang sukses itu adalah yang kaya dengan harta berlimpah, kedudukan tinggi dan sejenisnya. Tetapi pada dasarnya jika kita perhatikan mereka memiliki sesuatu yang “diberikan” kepada umat manusia, atau minimal di lingkungan sekitarnya.

Memberi

Tulisan di blog yang Anda baca ini bisa dibaca dengan memanfaatkan teknologi web yang dikembangkan oleh Tim Barners-Lee. Oiya, website pertama silahkan lihat di link ini: http://info.cern.ch/hypertext/WWW/TheProject.html. Banyak yang sudah memanfaatkan hasil “pemberian” dari Lee tersebut. Apakah dia sukses? Tuhan maha adil, siapa yang banyak memberi tentu saja dia yang banyak menerima. Ada lagi, misalnya penemu sosmed, www.facebook.com yang merupakan situs terbanyak digunakan setelah www.google.com. Banyak orang yang bisa bertemu dengan teman-teman lama yang menghilang lewat aplikasi tersebut. Banyak orang yang menerima manfaat secara otomatis akan kembali ke orang yang memberikan manfaat. Atau yang sederhana di tanah air, pencetus Gojek, Mas Nadiem. Banyak yang terbantu dengan aplikasi buatannya. Akhirnya manfaat akan kembali ke menteri pendidikan yang baru tersebut.

Memberi tidak selalu dengan uang atau harta lainnya. Bisa juga dengan ilmu yang kita miliki. Dibayar atau tidak, alam akan mengembalikan apa yang telah kita berikan. Bahkan ketika kita mengajari orang dengan ikhlas, biasanya ilmu malah akan bertambah, tidak berkurang. Ada yang membagikannya lewat Youtube. Bahkan hiburan yang sederhana saja tetapi banyak dinikmati orang, profit akan mengalir ke chanel Youtube tersebut. Artinya makin banyak yang menikmati pemberian kita, makin banyak yang dikembalikan kepada si pemberi.

Memberi atau Berhutang

Ada pepatah di Tibet yang penuh aroma Budha, yaitu jika anda menerima melebihi yang Anda berikan ke orang lain, maka Anda dapat dikatakan maling. Tentu saja tidak maling dalam arti sebenarnya. Kita bekerja menghasilkan barang/jasa, dinikmati orang, kemudian hasil kita terima baik lewat gaji maupun keuntungan. Nah, maling, rampok, koruptor, dan sejenisnya itu bermaksud menerima tanpa secuilpun memberi. Dan banyak kita secara tidak sadar melakukan praktik tersebut. Kita banyak menerima hal-hal yang free tetapi tidak mau memberikan secara free kepada orang lain. Adilkah? Tentu saja tidak ada yang free secara hukum alam/sunatullah terlepas dari adil atau tidak. Jika banyak menerima tapi sedikit memberi maka jika tidak mau dikatakan maling, berarti kita berhutang. Bayarlah hutang dengan memberikan manfaat ke orang lain. Dari yang sederhana, memberi info penting ke teman-teman, bekerja melebihi upah yang diberikan, membatu sesama dan aktivitas-aktivitas non-bisnis lainnya.

Kadang banyak rekan-rekan sesama dosen yang mengeluh, gaji yang kecil, tidak dihargai, tuntutan yang berat seperti jurnal terindeks Scopus, dan lain-lain. Jika Anda merasa yang diterima kurang dari yang diberikan, bersyukurlah kita tidak berhutang kepada alam semesta (walaupun masih ngutang uang di sana sini sih ke orang), dan hukum alam itu pasti, tunggu saja balasan baik akan tiba, jika tidak ke kita ya mudah-mudahan ke anak cucu kita. So, jangan khawatir jika udah gaji dosen seadanya, dimaki-maki pula oleh pemilik kampus, cobalah berfikir luas sedikit, ke lingkungan sekitar hingga alam semesta. Mudah-mudahan postingan berbau filsafat ini bisa menenangkan yang sedang gundah gulana.

Bagimu Iseng-Iseng, Bagi Kami adalah Etika

Bagi editor mengelola jurnal merupakan pekerjaan yang melelahkan. Dimulai dari mencari naskah tulisan lewat promosi ke medsos, grup WA, email, hingga ke editing sesuai gaya selingkung jurnal. Jika kekurangan naskah, terpaksa tulisan yang ada diterima dengan konsekuensi kualitas jurnal akan jatuh dari sisi konten. Jika naskah berlebih, maka butuh waktu untuk mereviewnya, dan repot jika hampir semua naskah tersebut tidak layak terbit, ujung-ujungnya memaksa beberapa tulisan untuk diterbitkan.

Jurnal ber-ISSN yang dulu hanya untuk naik pangkat sekarang memiliki banyak manfaat lainnya, dari syarat laporan serdos, syarat hibah, syarat lulus kuliah hingga sekedar memperoleh insentif dari kampus tempat mengajar. Sehingga lama-kelamaan filosofi meneliti mulai bergeser. Dari pengalaman mengelola jurnal, mereview dan meneliti berikut ini mungkin harus dihindari.

1. Multiple Submission

Untuk mempublikasikan satu naskah membutuhkan waktu yang cukup lama, dari submit, review hingga publikasi. Terkadang satu tulisan perlu direvisi berkali-kali sebelum re-submit. Nah, banyak penulis yang mengirim tulisan yang sama ke berbagai jurnal dengan harapan siapa yang duluan accept itulah yang dipilih. Boleh saja kan? Bagi yang menjawab boleh perlu sedikit mengetahui hal-hal berikut.

Sebuah naskah paper hanya boleh publish di satu jurnal. Jika dipublikasikan lebih dari satu jurnal maka walaupun ditulis oleh penulis yang sama tetap dianggap plagiarisme. Di sini konflik muncul ketika dua atau lebih penerbit mempublikasikan tulisan yang sama tersebut. Silahkan menjawab dengan kalimat “bodo amat”, tetapi resiko Anda tanggung sendiri. Oiya, bukan hanya Anda tapi kampus tempat Anda bernaung juga ikut menanggung malu. Mengapa? Hal ini terjadi karena Ristek Dikti sudah membuat satu alat pengecekan naskah Anda di link ini: http://anjani.ristekdikti.go.id/pelaporan/retraksi.

Situs yang bernama Anjani itu membahas penyimpangan-penyimpanan yang terjadi. Bagi pengelola jurnal sih gampang saja, tinggal cabut saja tulisan bermasalah itu dan beres. Tetapi data “kenakalan” Anda akan terekam hingga anak cucu Anda.

2. Review Gratis

Terkadang review dibutuhkan untuk perbaikan naskah kita. Ketika disubmit, editor akan mengirim naskah itu ke reviewer untuk dinilai. Entah diterima atau tidak, hasil review sangat bermanfaat untuk kesempurnaan tulisan tersebut. Nah, masalah muncul jika penulis sengaja hanya ingin dicek saja, dan ketika naskah dinyatakan diterima (baik lewat mayor atau revisi minor) si penulis menarik (withdraw) tulisan tersebut. Pernah sekali jurnal saya mengalami hal yang sama. Silahkan jika Anda ingin seperti itu, tapi perasaan seorang editor yang sakit akan dibalas oleh Tuhan. Memang tidak ada hukuman real dari pengelola jurnal dan pemerintah, tetapi saat ini dimana medsos, komunikasi komunitas yang transparan, “blacklist” terkadang berlaku secara tidak langsung. Nama Anda akan masuk daftar penulis nakal yang perlu diwaspadai ketika submit tulisan di jurnal tetangga.

3. Tidak Mau Merevisi

Tentu saja jika tidak mau merevisi, tinggal reject saja. Ya, itu berlaku untuk jurnal yang sudah level mengengah ke atas. Tetapi untuk jurnal yang pas-pasan, hidup segan mati tak mau, sebuah tulisan sangat penting. Terkadang memang si penulis hanya untuk “gugur tugas saja”, seperti laporan BKD serdos, dan sejenisnya (kinerja pegawai). Dengan kekuasaannya terkadang “memaksa” editor untuk mempublikasikan tulisannya. Perlu disadari pekerjaan editor sangat melelahkan, dari menyiapkan OJS, merawat jurnal, mengedit tulisan, dan lain-lain. Jika berhasil, kualitas jurnal naik, dan si penulis pun terbantu ketika akreditasi jurnal tersebut baik. Terkadang editor meminta kualitas gambar yang jelas, seting layout yang harus mengikuti template jurnal dan lain-lain. Oiya, editor bukan menekan Anda untuk memperbaiki naskah tetapi justru memperbaiki kualitas karya Anda. Baik buruknya jurnal tergantung dari bukan saja pengelolaan jurnal, tetapi reviewer dan juga Anda sebagai penulis. Bantulah jurnal tempat Anda mempublikasikan karya Anda agar kualitasnya meningkat dengan memperbaiki kualitas tulisan Anda ketika diminta revisi.

4. Permainan Author dan Co-Author

Yang paling sering terjadi adalah seorang dosen yang mengambil karya mahasiswa tanpa menyertakan si mahasiswa. Editor juga seorang dosen, pasti tahu tulisan itu karya siswa atau tidak. Bahkan saking “kasar”nya, masih ada kata-kata skripsi dalam naskah yang dikirim ke editor dan tertulis hanya nama dosennya. Sungguh tidak etis dan pernah terjadi hal demikian hingga oleh si mahasiswa dibawa ke ranah hukum. Akibatnya si dosen menjadi malu.

Bagaimana dengan urutannya? Sebagian besar menempatkan si mahasiswa sebagai penulis utama dan dosen pembimbing sebagai co-author. Tetapi diperbolehkan ketika si dosen menggabungkan beberapa karya bimbingannya menjadi satu naskah atau menambahkan metode yang meng-improve atau meningkatkan akurasi hasil risetnya. Untuk rekan-rekan yang kuliah di Jepang sedikit berbeda, si profesor pembimbing memaksa dia menjadi penulis utama. Hal ini menurut saya sangat dimaklumi. Berbeda dengan di Indonesia dimana riset mahasiswa tidak terkait dengan industri dan proyek pembimbing. Di sana terkadang pihak industri memesan riset tertentu, seperti misalnya mencari kualitas komposisi bahan yang baik untuk rem. Si dosen membagi tugas-tugas proyek itu ke mahasiswa-mahasiswa. Ketika menguji, mencari data, si dosen terkadang sangat ketat memantau, memberi panduan, dan harus mengikuti standar yang ada. Si Dosen harus mempertanggungjawabkan hasil riset ke industri sehingga seolah-olah mahasiswa hanya kepanjangan tangan dari dosennya. Memang terkadang inovasi, ide, dan temuan bisa muncul dari mahasiswa. Tetapi karena ide penelitian berasal dari dosen maka mereka merasa si pembimbinglah yang layak menjadi penulis utama. Ristekdikti sepertinya melihat hal ini sehingga membolehkan Co-author memperoleh hak setara dengan Author (penulis satu), dengan syarat co-author tersebut sebagai corresponding author, yaitu yang mengurus submit, review, dan hal-hal administratif lainnya.

Mungkin banyak hal-hal rumit lainnya dalam perjurnalan yang bisa ditulis di kolom komentar untuk dibahas bersama, sekian semoga menginspirasi.

 

Pengindeks Bereputasi

Walaupun “doctor of philosophy” tidak berarti doktor filsafat, tidak ada salahnya saya menulis yang sedikit berbau filsafat. Sebagai cabang ilmu yang mempertanyakan segala sesuatu baik yang biasa hingga yang sensitif sudah tentu filsafat bisa digunakan untuk menjawab hal-hal yang saat ini menjadi polemik, salah satunya adalah Scopus, suatu pengindeks yang menjadi patokan utama penilaian kinerja peneliti-peneliti di tanah air.

Sebenarnya lama menanti pro-kontra masalah scopus yang ditulis oleh rekan-rekan yang memiliki background filsafat, tetapi hingga saat ini belum juga ada yang share. Paling banter dari ketidaksetujuan peneliti yang memiliki h-index Scopus tinggi terhadap Scopus itu sendiri, sehingga terkesan tidak memihak, berbeda dengan protes Scopus oleh yang tidak memiliki kinerja Scopus yang baik. Dan seperti dugaan saya, seperti berbalas pantun, tiap pantun dibalas pantun pula. Tiap penentuan Scopus oleh pemerintah dianggap salah, dibalas oleh pemerintah dengan menambah bobot faktor Scopus, baik di penilaian angka kredit, hingga ke dapur peneliti, yaitu syarat hibah. Makin banyak peneliti yang defisit Scopus tidak eligible mengajukan proposal skema tertentu, sehingga peneliti yang memiliki Scopus yang baik memiliki peluang besar untuk lolos proposalnya karena minim saingan (ups .. pengkritik yang ber-Scopus tinggi tersebut tambah berpeluang lolos dong).

Jawaban Trivial

Ketika belajar matematika waktu kuliah dulu, ketika membahas persamaan orde tinggi si dosen memperkenalkan istilah jawaban trivial. Masih berkesan bagi saya ketika beliau menjelaskan bahwa ketika melawan rudal Jerman, Inggris menggunakan jawaban trivial berupa radar. Tentu saja radar yang seadanya karena teknologi yang masih belum berkembang. Rudal yang ditembakan Jerman dapat diketahui arahnya, bahkan sebuah kolam dibuat untuk menampung rudal-rudal kiriman tersebut agar tidak meledak (kayak petasan yang melepes). Radar cukup efektif, tetapi pada suatu saat, si pembaca radar melihat begitu banyak rudal akan melintasi Inggris yang tentu saja tidak akan sanggup dihalau, apalagi hanya dengan kolam. Kabar tersebut membuat ciut, dan bahkan sudah banyak yang berdoa, semoga setelah mati bisa masuk surga. Ternyata, tuhan hanya iseng saja. Ratusan rudal yang tertangkap radar hanyalah sekawanan burung yang sedang migrasi, hehe. Nah, hubungannya dengan pemilihan Scopus menurut saya adalah jawaban trivial. Jika negara kita sudah memiliki indeksasi yang mendekati kualitas Scopus tentu saja tidak perlu membayar Scopus. Jika tidak menggunakan indek apapun, bagaimana mengukur kinerja penelitiannya? Lewat penilaian rekan sejawat yang setia bersama dalam suka dan duka? Atau lewat penilai PAK Dikti yang baik hatinya?

Publish atau Jadi Sampah?

Halley merupakan ahli astronomi ternama. Kemampuan mengamati langit lewat teropong ajaibnya di jamannya tidak ada tandingannya. Dia terkejut ketika ramalannya lewat alat eksperimennya ternyata tepat sama dengan perhitungan Isac Newton. (Kalau saya mas Halley mungkin dalam hati udah ngomong “kampret!!”). Datanglah dia bertemu Newton di Inggris. Setelah dialog dan diskusi dengan Newton, Halley terkejut dengan rumus-rumus Isac Newton yang belum diketahui saintis di kala itu. Lihat infonya.

“Mengapa tidak kau publish? Bukankah banyak pelajar dan peneliti yang membutuhkan teori-teori mu?”, kira-kira begitu kata Halley. “Bagaimana caranya? Tidak ada yg bersedia?”, Jawabnya. “Begini, saya punya modal, kamu punya ilmu. Bagaimana jika kerja sama? Saya yang bantu mempublikasikan, kamu yang menulis teori-teorinya?”, kata Halley. Bisa dibayangkan jika teori-teori Newton tidak ada yang menyebarkan, perkembangan ilmu akan lambat, padahal riset membutuhkan kerjasama antar peneliti baik sebidang maupun yang berbeda bidang ilmunya. Jika Halley kita ibaratkan penerbit/publisher, maka Newton adalah peneliti-peneliti di seluruh dunia. Scopus, WoS, dan sejenisnya adalah yang membantu mengelola tulisan-tulisan ilmiah. Memang, ada yang berbayar, gratis, dengan karakteristik lain yang khas. Memang “jer basuki mowo beo”, sesuatu butuh biaya. Membantu menyimpan/mengarsipkan dijital, mereview, dan pengecekan lainnya oleh editor jurnal membutuhkan biaya, berbeda dengan Youtube, Facebook, atau Instgram yang gratis menyimpan gambar atau file karena banyak iklan dan endorse-endorsan lainnya, sebagai sumber profit. Jurnal tentu saja minim pembaca/pengguna, paling pelajar, peneliti, dan industri. Kalau ada iklan malah mencurigakan. Yang open access menadapat profit dari yang “menitip” tulisan, yang non-open access mendapat profit dari perpustakaan yang berlangganan jurnalnya.

Sitasi, H-index ?

Memang dunia terus berkembang dan berusaha menjadi sempurna. Ketika belum ada mesin, kereta ditarik oleh kuda, bahkan di Cina oleh orang. Ketika kendaraan menimbulkan polusi, mesin listrik dibuat, atau dengan ganjil-genap kayak di Jakarta, hehe. Ketika orang mengusulkan sitasi sebagai penilai performa, yang lain menunjukan kelemahannya, begitu pula H-index. Tidak perlu lah kita mengikuti Karl Marx yang ingin menghapus negara karena dianggap brengsek mengingat banyak teori-teori lain yang bisa membenahi negara yang brengsek tersebut. Ambil contoh saja kita saat ini yang tidak ingin mengganti Go-jek yang diawal kontroversial dan banyak kelemahan tetapi karena mereka kita biarkan membenahi, akhirnya jadi lebih baik, muncul Go-send, Go-food, dan mungkin nanti Go-paper (upss.. sorry bercanda). Sekian mudah-mudahan terhibur.

Biarkan Saja

Ada satu buku unik berjudul “The Subtle Art of Not Giving a F*ck”. Walaupun judulnya agak kasar tetapi ada juga manfaat yang bisa dipetik dari buku karangan Mark Manson tersebut, khususnya di era milenial, era keterbukaan informasi.

Kita pasti pernah melihat rekan-rekan kita yang posting hal-hal yang “wah” di sosmed. Jika kita merasa panas, kecewa, iri, dan lain-lain, maka disarankan untuk membaca buku “slebor” tersebut. Mungkin penceramah yang mengharamkan posting perlu juga membaca, hehe.

Singkat saja, buku itu membahas sifat dasar manusia yang serakah menurut saya. Pernahkah melihat anak kecil yang nangis karena dibelikan topi indah berwarna biru, padahal yang diinginkan merah? Memang sudah sifat alami manusia yang memiliki segudang keinginan dan kecewa jika keinginannya tidak tercapai. Cuma masalahnya adalah tidak bisa menentukan apakah keinginan itu memang penting?

Banyak bacaan yang isinya bagaimana mencapai ini, itu, tetapi jarang yang membahas jika sesuatu tidak tercapai, tidak apa-apa dan biarkan saja. Untuk rekan-rekan yang masih muda yang belum memiliki sesuatu yang menggambarkan Anda, sepertinya hal-hal remeh temeh terkadang menjadi fokus utama. Perhatikan saja yang gantung diri karena putus cinta sudah dipastikan anak muda. Namun seiring perjalanan waktu, usia bertambah, biasanya kita sudah tahu kapasitas kita. Hal-hal remeh temeh jika tidak tercapai, kita akan maklum sendiri dan tidak kecewa.

Jadi jika ada teman yang posting sesuatu yang “wah”, bayangkan saja Anda melihat sebuah lukisan indah yang menghibur, sebuah informasi baru yang mungkin berharga, produk baru yang bermanfaat, dan hal lain. Jika Anda merasa sedih karena Anda tidak bisa, iri, hati tidak tenang, menurut buku tersebut Anda terlalu “nge-f*ck” ke hal-hal tidak penting dan buku tersebut cocok dibaca, siapa tahu bisa mem-“biarkan saja” terhadap hal-hal yang tidak penting dan tidak harus dikejar-kejar. Jadi inget alm. Gus Dur, “gitu aja kok repot”.

Waktumu Terbatas

Salah satu anak saya sangat menyukai permainan di sebuah mall di bekasi. Isi permainan yang diperuntukan balita dan awal SD berisi jalan, kendaraan, peraga profesi seperti dokter, polisi, tentara, dan lain-lain. Walaupun orang tua boleh masuk untuk mengawasi, tetapi karena bayar maka lebih baik menunggu saja di luar.

Ada hal menarik yang dapat dipetik dari arena permainan itu. Tiap anak diberi waktu sekali bayar satu atau dua jam. Setelah memasuki arena saya lihat anak-anak bermain dengan gembira. Ada yang memilih mobil-mobilan, ada yang memilih berkejar-kejaran dengan temannya, ada yang juga asyik menggambar. Semuanya bergembira, hingga tidak lama kemudian suara speaker berbunyi yang isinya berita panggilan kepada anak tertentu, “anak xxx waktu bermain sudah habis”. Ada anak yang dengan santai keluar, ada pula yang masih lari-larian sehingga harus dijemput oleh petugas. Ada juga yang nangis tidak ingin pulang.

Begitu pula kehidupan dunia. Ada yang didaftarkan berusia 50, 60, bahkan 100 tahun untuk bermain di permainan dunia ini. Ada juga yang masih muda sudah ingin selesai. Ketika selesai, seperti permainan anak-anak, petugas berwenang akan mendatangi dan mengajaknya keluar arena permainan dunia ini. Walaupun permainan tetap saja Anda diminta untuk bermain dengan cantik. Terlihat petugas yang gemas dengan anak-anak yang bermain nakal, mengganggu anak-anak lainnya, saya hanya tersenyum, jangan-jangan saya juga seperti itu. Yuk, bermain dengan cantik.