Flipped Learning

Sehari setelah sidang akhir, advisor mengundang saya untuk mengikuti seminar fliped learning. Mungkin beliau tahu kalau saya dosen. Pembicaranya ternyata rekan dia dari India, Dr. Malay R Dave. Metode pembelajaran ini sedang dicoba untuk diterapkan karena memiliki manfaat yang bagus, terutama saat ini dimana gadget dan aplikasi-aplikasi online dan mobile banyak tersedia.

Konsepnya adalah memadukan antara belajar di kelas dengan diluar kelas. Flip di sini bukan berarti dibalik, tetapi tetap menjaga agar siswa belajar walaupun sudah tidak di kelas lagi. Di kelas terkadang hanya berisi diskusi tentang topik yang sama. Untuk penjelasan lengkapnya silahkan lihat link ini:

https://flippedlearning.org/wp-content/uploads/2016/07/FLIP_handout_FNL_Web.pdf

Selain karena perkembangan aplikasi online, munculnya sistem pembelajaran ini adalah karena tuntutan dunia kerja dimana bukan hanya kemampuan akademis tetapi juga kemampuan lainnya seperti komunikasi, menghargai orang, critical thinking, dan sebagainya juga sangat dibutuhkan. Kalau menurut saya, flipped learning ini termasuk pembelajaran yang nonstop. Ibarat aplikasi online yang bekerja 24 jam, flipped learning juga mirip, hanya saja waktu menyesuaikan dengan siswa, kapan nyamannya.

Perkuliahan diganti dengan video tutorial yang dapat diakses dan dilihat oleh seluruh siswa di luar kelas. Ketika selesai dilihat, saat dikelas dilakukan diskusi yang didampingi oleh tutor/pengajar. Tetapi harus dijalankan empat pilar berikut ini: flexible environment, learning culture, intention content dan professional educator. Kalau tidak lengkap pilar tersebut, maka bukan flipped learning, melainkan hanya flipped classroom.

Banyak aplikasi-aplikasi yang digunakan untuk membantu flipped learning ini. Salah satu contohnya adalah http://www.tes.com yang memudahkan pengajar dalam mempersiapkan materi pembelajaran. Oiya, saat ini konten ilmu sepertinya sudah gampang sekali ditemukan di internet. Hanya saja membutuhkan kemampuan dalam meramu sesuai dengan keinginan pengajar. Situs tersebut salah satunya. Silahkan lihat tutorial youtube di bawah ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Memasukan Publikasi Buku pada SINTA

Selain kinerja penelitian, kampus, dan jurnal, ternyata SINTA juga menyediakan fasilitas untuk memasukan buku teks yang diterbitkan oleh seorang dosen/peneliti. Caranya adalah dengan login terlebih dahulu ke akun SINTA kita. Siapkan scan cover buku yang telah kita terbitkan.

Pertama akan diminta cari dulu berdasarkan ISBN-nya. Bagaimana jika tidak ditemukan? Ternyata setelah dicari tidak ada, muncul fasilitas input manual. Siapkan scan cover buku yang akan diinput.

Pastikan buku muncul di list SINTA. Coba log out dan cari buku tersebut tanpa login.

Klik menu BOOKS di SINTA dilanjutkan dengan mencari berdasarkan ISBN, judul buku, atau nama pengarang. Contoh di atas misalnya kita ingin mencari berdasarkan pengarang, tekan simbol kaca pembesar, dan jika ditemukan SINTA akan menampilkannya.

Tampak buku yang ditulis oleh pengarang yang bersangkutan. Sekian sekilas info tentang fasilitas baru SINTA. Untuk yang belum daftar SINTA segera daftar (lihat post yang lalu). SINTA berbasis evaluasi diri, jadi jangan sembarangan menginput yang tidak semestinya. Untuk mengetahui bagaimana menambah dan menghapus tulisan yang bukan milik kita silahkan lihat post sebelumnya. Sekian dulu semoga bermanfaat.

Studi Literatur

Walaupun riset sudah selesai dan tinggal pulang ke tanah air, mumpung masih bisa menggunakan perpustakaan (baca di tempat karena sudah tidak boleh meminjam), iseng-iseng mereview apa yang telah saya lakukan selama riset kurang lebih 3 tahun lamanya. Saya menemukan buku tentang studi literatur. Tujuan utama membaca topik itu aslinya untuk evaluasi ke depan. Apakah studi literatur yang telah saya jalankan sudah benar, efisien, dan sesuai dengan tujuan riset.

Buku karangan Lawrence A. Machi dan Brenda T. McEvoy itu cukup padat, sehingga dapat dibaca hanya beberapa menit saja. Intinya ada enam tahap dalam studi literatur, antara lain:

  1. Memilih topik
  2. Mencari literatur
  3. Mengembangkan Argumen
  4. Survey terhadap literatur
  5. Memberikan kritik terhadap suatu literatur, dan
  6. Menulis review

Postingan ini hanya akan membahas yang unik dari buku tersebut yaitu memilih topik, mencari litertur, dan mengembangkan argumen.

Memilih Topik

Ini merupakan pangkal utama dari riset, sekaligus biang keladi kuliah tidak lulus-lulus. Buku tersebut menyarankan untuk mengambil topik dari keseharian. Maksudnya adalah hal-hal real yang spesifik. Jangan asal mencari pertanyaan, misalnya: “mengapa sekelompok siswa sulit memahami penjelasan guru?”. Tentu saja pertanyaan ini terlalu general dan sulit dikerjakan karena tidak jelas.

Mencari Literatur

Mencari literatur yang efisien adalah internet dan perpustakaan. Baca cepat sekilas saja terlebih dahulu (skimming). Langkah saya membuat pengelompokan ternyata sudah benar waktu itu. Hanya saja ternyata ada teknik pengelompokan yang lebih ok, bukan hanya pengelompokan terhadap suatu ide/teknologi/metode, melainkan juga pengelompokan kontribusi pengarang. Misal definisi sustainability oleh siapa saja, dll. Dengan bentuk tabel, kita mudah mengingatnya. Terkadang walau tidak berusaha mengingat, jadi ingat sendiri (dikemukakan oleh siapa dan pada artikel apa).

Mengembangkan Argumen

Suatu argumen adalah mencari alasan yang tepat untuk suatu jawaban yang biasanya kesimpulan riset. Jadi satu argumen terdiri dari bermacam-macam alasan:

Argumen = alasan1 + alasan 2 + …

Sebelum masuk ke argumen yang rumit, ada baiknya membahas terlebih dahulu argumen sederhana. Argumen sederhana terdiri dari: klaim, kejadian dan jaminan (warrant). Contohnya adalah:

  • Klaim: “kamu seharusnya jangan menyeberang jalan”
  • Kejadian (evident): “lampu penyeberangan berwarna merah”
  • Jaminan: “Aturan memberlakukan bahwa lampu merah artinya berhenti”

Klaim

Klaim di sini adalah representasi argumen. Klaim mengarahkan argumen. Menurut referensi lain, Chris Hart, ada lima jenis klaim yaitu: Fact, worth, policy, concept, dan interpretation. Penjelasannya tidak jauh dari arti kelima istilah itu.

Kejadian (Evidence)

Kejadian beda dengan data. Kejadian lebih spesifik dari data, yaitu untuk kepentingan tertentu. Jadi kejadian adalah bahan baku dari pembuktian terhadap klaim kita. Jadi untuk memperkuat klaim, diperlukan data dan metode yang relevan, yang kemudian mentransformasikan data itu menjadi evidence.

Jaminan (Warrant)

Jaminan ini adalah hubungan antara kejadian dan kesimpulan. Hubungan di sini menyiratkan adanya pengorganisasian yang logis, sehingga memperkuat argumen. Kembali ke contoh menyeberang jalan. Ketika ada kejadian lampu menyala merah (evidence), dan adanya klaim (agar berhenti), perlu adanya jaminan. Kalau tidak, maka klaim Anda kurang kuat. Dalam kasus ini, jaminan yang diusulkan adalah karena aturan, yaitu ketika lampu menyala merah maka harus berhenti (tidak menyeberang jalan). Silahkan mencari jaminan lain sesuai dengan bidang ilmu yang kita miliki.

Teettttt .. alarm perpustakaan berbunyi, ternyata sudah jam 10 malam dan perpustakaan akan ditutup. Survey, kritik, dan review mungkin lanjut lagi nanti. Semoga postingan ini sedikit-banyak bisa mencerahkan. Selamat mencoba.

Siaga I Menghadapi: Sidang Terbuka

Setelah menunggu hampir setahun, akhirnya sidang terbuka dijadwalkan, kemarin tanggal 15 Januari 2018. Itu pun dijadwalkan mendadak, sehingga persiapannya keteteran dan tergopoh-gopoh, walaupun diumumkan empat hari sebelumnya tetapi ada dua hari libur yaitu sabtu dan minggu, praktis hanya hari jumat menyiapkan berkas ke jurusan. Saya termasuk yang selalu tidak siap jika diminta presentasi, apalagi kalau mendadak. Siapa tahu di antara pembaca ada yang akan sidang juga, mungkin bisa jadi bahan pertimbangan postingan ini.

Keep Calm

Di sini maksudnya bukan tidak berbicara. Malah harus berlatih berbicara agar besoknya bisa “ngomong”, apalagi pakai bahasa Inggris. Calm di sini adalah fikiran kita yang “liar” sehingga membuat lelah batin kita dan yang berbahaya tidak bisa tidur semalaman. Saya termasuk konsumen meditasi. Banyak teknik meditasi seperti vipassana, cittanupassana, dan lain-lain. Untuk kondisi super darurat, ada baiknya vipassana. Teknik ini untuk menjaga fikiran tidak liar dengan selalu fokus ke nafas keluar dan masuk. Tidak perlu mengatur nafas, hanya memperhatikan saja. Jika fikiran liar muncul sadari saja dan perlahan kembalikan ke pernafasan. Terus terang saya tetap sulit tidur .. hehe. Untungnya ada obat-obatan yang bisa membuat lelap tidur, sebaiknya yang herbal dan sudah teruji alias cocok dengan tubuh kita, dan bukan coba-coba. Kalau besoknya malah mencret kan tambah repot.

Kelihatannya teknik tersebut tidak berguna dan sulit diterapkan. Uniknya saya terapkan hingga saat presentasi berlangsung. Mungkin terlihat aneh, bagaimana mungkin kita presentasi, menjawab pertanyaan, dan lain-lain tapi dengan fokus ke pernafasan. Bahaya dong. Ternyata tidak, jangankan memperhatikan nafas, ketika berkendara saat memperhatikan hutang-hutang saja bisa kok, apalagi Cuma memperhatikan nafas.

Pelajari Video Presentasi yang Baik

Banyak video tutorial presentasi bertebaran di internet, terutama di youtube. Semua menganjurkan awal presentasi sangat menentukan keberhasilan. Jika di awal sudah malas didengarkan oleh audiens maka dipastikan sampai akhir akan membosankan bagi mereka. Posisi tubuh, intonasi dan lain-lain banyak juga dijelaskan di youtube, silahkan searching sendiri.

Berikutnya adalah power point. Kalau bisa isi power point didiskusikan terlebih dahulu ke dosen pembimbing. Hal ini penting untuk mengetahui batas waktu yang pas. Terkadang beberapa bagian dipotong dan beberapa bagian perlu ditekankan, misalnya novelty, kontribusi keilmuan, dan sebagainya. Jangan lupa akhir dari presentasi itu penting juga. Berikan kata pujian ke dosen pembimbing dan asistennya. “My gratitute to my doctoral thessis superviser … for guidance and motivation”. Jangan lupa kesimpulan itu kunci keberhasilan, apalagi sidang akhir karena setelah itu kita tidak langsung pulang. Ada sesi tanya jawab yang bikin keringat dingin. Penguji cenderung mengingat yang terakhir dan jika kesimpulan kurang sreg dia akan bertanya langsung ke sana, bahkan mereka berebut untuk bertanya.

Buat Audiens Ingin Tahu

Jika dalam disertasi kita ada hipotesa yang akan diuji, atau masalah yang akan diselesaikan, ada baiknya format harus dirubah karena jika ditampilkan apa adanya terasa “garing”. Kesalahan yang sering dilakukan adalah dengan copas dari tulisan di disertasi. Alangkah baiknya dibuat format baru yang memancing minat pendengar. “How can we …?”, atau “How we optimize … based on ..” dan seterusnya setelah sebelumnya memperkenalkan kasus atau masalah yang akan dibahas dalam presentasi. Tentu saja setelah itu slide berikutnya tidak menjawabnya, melainkan dengan memperkenalkan agenda presentasi, atau sering diberi judul “outline” atau road map presentasi kita. Singkat saja dan langsung masuk ke konten. Jika pendengar berhasil ditarik keingintahuannya, dipastikan presentasi kita berhasil.

Dalam tulisan (skripsi, tesis, disertasi) terkadang mengalir seperti cerita. Untuk presentasi ada baiknya dibalik. Sebanyak mungkin di akhir slide ada sesuatu yang akan dijawab pada slide berikutnya agar pendengar menanti-nanti dan menerka apa kiranya jawaban dari sesuatu yang saat ini ditayangkan di slide. Sebagai contoh, dalam disertasi saya menjelaskan analisa urban growth untuk menemukan dua driver baru yang akan diusulkan. Dalam presentasi saya balik, saya langsung tampilkan dua driver itu, kemudian saya munculkan pertanyaan ke audiens apa dasar dan bagaimana saya menemukan dua driver tambahan tersebut. Teknik ini banyak disarankan oleh video tutorial presentasi di youtube.

Buat Audiens Nyaman dan Memperoleh Manfaat

Agak sulit memang menemukan apa yang kira-kira bermanfaat bagi pendengar. Sebenarnya banyak hal-hal di sekitar kita yang tidak bermanfaat kok, tetapi bisa dibuat bermanfaat jika dikemas dengan baik. Video game, instagram, fesbukan seharian, mungkin kalau difikir-fikir ga ada gunanya tapi ternyata banyak yang tertarik. Mungkin tidak bermanfaat, tetapi jika audiens terhibur, dengan lelucon-lelucon yang membuat mereka nyaman, toh mereka akan merasa bermanfaat mendengarkan presentasinya. Mereka akan lupa pusingnya rumus-rumus yang kita presentasikan.

Lihat Tradisi

Tradisi di sini maksudnya hal-hal yang menjadi kebiasaan di suatu kampus. Terus terang saya berusaha mencari tahu. Caranya adalah dengan sering mengikuti sidang terbuka doktoral di kampus saya. Walaupun saya terkadang tidak mengerti kontennya, tetap saya lihat hal-hal lainnya. Ada jurusan yang keras, ada juga yang ketawa ketiwi hanya formalitas saja. Bagaimana dengan jurusan Anda? Silahkan jawab sendiri. Di hari sabtu, padahal libur, supervisor saya meminta datang. Di sana kami membahas power point untuk presentasi besok. Aneh juga di akhir pertemuan dia menjulurkan tangan dan mengucapkan selamat kepada saya. Saya baru “ngeh” ternyata saat itulah de facto saya berhasil menghilangkan huruf “c” dari Dr(c) saya, singkatan dari “calon”, artinya bukan calon doktor lagi, walaupun secara tertulis dan resmi setelah sidang presentasi besoknya. Jurus ampuh terakhir dan terhebat adalah DOA .. apalagi doa keluarga dan rekan-rekan kita. Sekian semoga menginspirasi.

Sustainable Urban Form

Riset tata kota fokus ke bentuk urban yang mendukung pembangunan berkelanjutan, pembangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan generasi sekarang, melainkan juga generasi yang akan datang (Steiner, 2008). Banyak sekali perdebatan mengenai bentuk urban yang cocok dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Di sini saya ingin memperkenalkan bentuk-bentuk sustainable urban yang diusulkan oleh peneliti.

Penelitian oleh (Jabareen, 2006) menjelaskan beragam bentuk urban yang sustainable. Berikut contoh-contohnya.

1. Neotraditional Development

Jika kita perhatikan kota Jakarta, terjadi perubahan dari urbanisasi menjadi kebalikannya, dikenal dengan istilah “post-suburbanization” (Firman, 2004; Firman & Fahmi, 2017). Maka para pakar urban berusaha mengurangi dampaknya dengan konsep tersebut, yaitu bagaimana menjaga penurunan penduduk “inner city” dan membangun juga kota-kota penyangga.

2. Urban Containment

Munculnya daerah-daerah “Sprawl” baru (saat ini Meikarta contohnya) membuat khawatir pemerhati tata kota akan dampaknya. Di Amerika konsep urban containment dimaksudkan untuk menghindari proses “sprawl” yang tidak baik. Walaupun ada juga sprawl yang baik, misalnya daerah industri khusus yang jauh dari pemukiman.

3. Compact City

Kota kompak (compact city) disukai oleh penata kota dari Eropa dan Amerika karena dapat mengurangi dampak negatif dari transportasi. Kota yang kompak membuat jarak tempuh menjadi rendah dan penggunaan kendaraan berpolusi menjadi berkurang. Bahkan orang cenderung berjalan kaki karena jarak antara satu tempat dengan tempat penting lainya dekat.

Kota kompak mengharuskan diversifikasi, artinya harus ada variasi dalam satu lokasi. Misalnya harus ada sekolah, pasar, tempat ibadah, dll. Jadi orang cukup berjalan kaki sudah bisa sampai ke lokasi tujuan. Bentuk-bentuk segregasi, misalnya kompleks khusus agama tentu, dll sebaiknya dihindari.

4. Eco City

Bentuk kota ini berpatokan dengan konservasi alam, ekologi, dan juga aspek sosial. Biasanya diterapkan di negara maju yang kesadaran warga dan keseriusan pemerintahnya tinggi akan faktor lingkungan. Walaupun demikian sebaiknya negara-negara yang kurang maju, atau ga maju-maju (berkembang terus), tetap mencontoh jenis kota ini mengingat makin puaanas aja tempat tinggal kita, contohnya saya yang di Bekasi. Semoga bermanfaat.

Referensi

Firman, T. (2004). New town development in Jakarta Metropolitan Region : a perspective of spatial segregation, 28, 349–368. http://doi.org/10.1016/S0197-3975(03)00037-7

Firman, T., & Fahmi, F. Z. (2017). The Privatization of Metropolitan Jakarta’s (Jabodetabek) Urban Fringes: The Early Stages of “Post-Suburbanization” in Indonesia. Journal of the American Planning Association, 83(1), 68–79. http://doi.org/10.1080/01944363.2016.1249010

Jabareen, Y. R. (2006). Sustainable Urban Forms: Their Typologies, Models, and Concepts. Journal of Planning Education and Research, 26(1), 38–52. http://doi.org/10.1177/0739456X05285119

Steiner, F. (2008). The living landscape – An Ecological Approach to Landscape Planning – Second Edition. Washington DC: ISLAND PRESS.

 

Penerapan Spatial Metrics

Spatial metrics (lihat post yang lalu) merupakan alat bantu analisa lansekap (landscape) lewat bantuan statistik khusus data spasial. Penggunaannya untuk analisa kondisi suatu wilayah tentang sebaran Patch. Patch adalah homogenous region dari suatu lansekap tertentu seperti taman, perumahan, wilayah urban dan lain-lain. Misalnya dari citra satelit kita bisa melihat dengan mata kepala, ternyata patch-nya ga beraturan, jarang-jarang, terisolir dan sudutnya (edge) runcing, bergerombol dan sebagainya. Berikut contoh tulisan sederhana saya bagaimana menganalisa spatial metrics dengan software free FRAGSTATS.

Spatial metrics ada banyak, terkadang ada yang mirip satu sama lain. Jadi ketika menggunakan harus memperhatikan aspek redundansi, dan juga berakibat lamanya perhitungan metric pada FRAGSTATS. Berikut ini penjelasan satu persatu spatial metrics yang digunakan.

1. Patch Density (PD)

Sesuai dengan namanya, adalah kepadatan patch, misalnya patch di sini daerah urban. Satuannya adalah jumlah patch per 100 hektar.

Makin homogen nilai PD makin besar. Ketika suatu wilayah urban terpisah-pisah dan heterogen, nilai PD atau kerapatan patch nya rendah.

2. Landscape Shape Index (LSI)

LSI mengukur tingkat ireguleritas suatu lansekap. Rumusnya adalah sebagai berikut:

Makin tidak beraturan nilai LSI makin kecil. Maka ketika suatu wilayah urban berkembang dan mekin teratur, nilai LSI membesar. Variabel min e adalah panjang (keliling) terkecil, yang dari sisi geometri adalah lingkaran, yaitu bentuk yang reguler dan kompak.

3. Euclidean Nearest-Neighbor Distance (ENN)

Metric ini mengukur panjang antara satu patch dengan patch lainnya. Ketika antara satu patch dengan lainnya berjauhan maka nilai ENN akan besar, dan mengecil ketika di sela-selanya muncul patch baru.

4. Percentage of Like-Adjacency (PLADJ)

Metric ini sangat terkenal karena kemudahannya. Prinsipnya adalah ketika satu patch dikelilingi oleh patch lain yang berbeda, maka nilainya berkurang.

Seandainya suatu wilayah urban tidak memiliki bangunan (urban area), maka PLADJ maksimum karena pembilang dan penyebut sama. Ketika jumlah gik (like adjacency) yang berbeda jenis patch maka pembilang membesar maka PLADJ turun terus hingga jumlah patch I dan k sama, jika hanya ada dua patch. Jadi biasanya urban area bertambah, PLADJ turun, hingga jumlah urban dan non urban kira-kira sama. Selanjutnya PLADJ naik ketika wilayah non urban berubah jadi wilayah urban.

Kebanyakan riset tentang urban growth mengenal proses pertumbuhan urban dari didominasi oleh tipe outlying (terisolasi), kemudian bergeser ke edge expansion (bertambah di ujung patch) dan infilling (mengisi ruang kosong antara patach). Semoga bermanfaat.

Istilah Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Istilah Pembangunan Berkelanjutan menurut informasi dari beberapa buku masih simpang siur dan penuh teka-teki (Muschett, 1997). Untuk pengertian Pembangunan Berkelanjutan oleh beberapa pakar bisa lihat link ini. Hal ini terjadi karena perkembangan ilmu yang kian menuju spesialis, padahal masalah-masalah tertentu malah men-general. Forum terkenal yang membahas istilah ini adalah konferensi dunia PBB tentang lingkungan dan pembangunan di Rio (UNCED) tahun 1992. Ada dua komponen utama hasil dari konferensi itu, yaitu:

  • Prinsip #3: karakteristik Pembangunan Berkelanjutan yaitu keseimbangan antara pembangunan dengan kelestarian lingkungan dan juga keseimbangannya untuk generasi yang akan datang.
  • Prinsip #4: Untuk mencapai Pembangunan Berkelanjutan seharusnya memasukan faktor-faktor Pembangunan Berkelanjutan dalam proses pembangunan.

Ada unsur “fairness” dalam Pembangunan Berkelanjutan, baik antara pembangunan (ekonomi, fisik, dll) dengan kelestarian lingkungan (polusi, masalah sosial, dll). Selain itu, Pembangunan Berkelanjutan harus dilibatkan dalam proses pembangunan, dan bukan dibuat terpisah, atau hanya sebagai alat untuk menyelesaikan dampak yang terjadi.

Pembangunan Berkelanjutan juga bukan hanya melibatkan ekonomi dan lingkunan saja, melainkan juga seluruh aspek yang terlibat seperti sosial, budaya, teknologi, dan lain-lain yang membutuhkan studi yang multi-disiplin (lihat pembahasan masalah multi-disiplin). Secara ringkas komponen dari Pembangunan Berkelanjutan adalah sebagai berikut (Muschett, 1997):

  • Kestabilan populasi
  • Teknologi (transfer teknologi) baru
  • Efisiensi dalam menggunakan sumber daya alam
  • Pengurangan sampah dan pencegahan polusi
  • Solusi saling menguntungkan (“win-win” situations)
  • Sistem manajemen lingkungan yang terintegrasi
  • Menentukan batas kemampuan lingkungan
  • Memperbaiki (refine) ekonomi pasar
  • Pendidikan
  • Persepsi dan perubahan tingkah laku (paradigm shift)
  • Perubahan perilaku sosial dan budaya

Sedikit Ilustrasi Sejarah

Di jaman romawi, ada suatu daerah di Afrika Utara yaitu Carthage (sekarang Tunisia). Tunisia oleh penguasa Romawi menjadi daerah penghasil bahan makanan. Roma memaksa agar Carthage mensuplai bahan makanan sebanyak mungkin, hingga melewati batas daya dukung tanahnya. Akhirnya produksi turun dan tanah jadi rusak dan tandus. Bahkan pemaksaan untuk menanam di dataran tinggi mengakibatkan longsor dan erosi yang merusak tanah secara permanen.

Di jaman Cleopatra, mesir menggunakan pertanian berbasis Pembangunan Berkelanjutan , dengan prinsip banjir dan surut di sungai Nil. Namun sangat ironis, ketika di abad 20 dibangun bendungan (Aswan), kestabilan ekosistem rusak, hingga tanah yang tidak subur lagi.

Walaupun sejarah telah mengajarkan, tetapi dunia modern masih terus berusaha mencari konsep Pembangunan Berkelanjutan yang baik. Sayangnya konsep-konsep yang diberikan belum sampai tahan aksi. Tiap negara memiliki pandangan dan konsep sendiri. Di negara kita, undang-undang sudah dibuat yaitu dalam GBHN (TAP MPR No.II/MPR/1993). Namun pelaksanaan butuh kerja ekstra, mengingat negara Indonesia sedang mengejar ketertinggalannya dari negara lain.

Referensi:

Muschett, F. D. (1997). Principles of Sustainable Development. United States: St. Lucie Press.

 

Menghapus dan Memasukan Artikel di Daftar Google Scholar

Oiya, sudah daftar Sinta kan? (Untuk yang belum). Banyak yang protes karena Sinta menggunakan Google scholar sebagai salah satu faktor perhitungan Sinta selain Scopus. Salah satunya adalah karena Google scholar serampangan memasukan suatu tulisan/artikel ke akun Google scholar kita. Namun karena Google scholar metodenya self assesment, ada baiknya kita menghapus dan mendaftarkan tulisan-tulisan kita secara mandiri. Postingan ini terinspirasi dari tulisan rekan saya waktu mengajar di satu kampus di jalan Fatmawati dulu (lihat di sini).

Setelah login di google scholar, masuk ke profile kita. Di bagian atas kiri ada simbol “wisuda” yang artinya profile kita. Klik untuk masuk ke dalam dan melakukan manajemen artikel milik kita.

Pilihlah tulisan-tulisan yang bukan tulisan kita. Kemudian tekan “DELETE” agar dibuang dari daftar tulisan kita. Misalnya “klasifikasi lovebird ..” (hmm sejak kapan saya nulis klasifikasi burung bercinta).

Kemudian akan muncul informasi jurnal tersebut. Berikutnya tinggal menekan simbol “tempat sampah”. Artinya kita membuang tulisan tersebut dari daftar tulisan kita.

Oiya, jangan sedih. Kan bukan tulisan kita. Tapi lama-lama repot juga kalo google “nyepam” terus suatu tulisan ke akun Google scholar kita, capek juga sih menghapusnya. Untungnya bobot Google scholar jauh di bawah Scopus yang memang “screening”nya bagus. Hanya saja masih jarang dosen-dosen di tanah air yang sudah punya ID scopus.

Berikut kalau ingin menambahkan artikel, tinggal tekan simbol “+”. Ada dua pilihan tambah artikel (manual atau otomatis). Untuk yang otomatis searching nama kita di kolom “searching” lalu tekan simbol kaca pembesar. Sementara kalau yang manual tinggal isi informasi tulisannya.

Oiya, jangan asal masukin tulisan orang. Semoga postingan ini bermanfaat.

Jumlah Lapis Tersembunyi (Hidden Layer) Jaringan Syaraf Tiruan (Neural Networks)

Jumlah layer tersembunyi, atau yang dikenal dengan istilah hidden layer, menentukan keberhasilan jaringan syaraf tiruan (JST) dalam memecahkam masalah multilayer perceptron (waktu itu problem exclusive OR, XoR). Namun jumlah lapis tersembunyi sangat mempengaruhi proses training dengan backpropagation. Buku terkenal yang biasa jadi referensi riset JST tahun 90-an menyebutkan satu lapis tersembunyi sudah cukup dan tidak membutuhkan banyak komputasi saat pelatihan (Fausett, 1994).

Era Deep Learning

Proses pembelajaran JST merupakan bidang dari Machine Learning yang membahas proses pengaturan bobot dan bias suatu JST (lihat post yang lalu). Namun permasalahan mengenai performa menjadi kendala utama penerapan Machine learning pada multilayer JST, antara lain:

  1. Vanishing Gradient
  2. Overfitting, dan
  3. Computational load

Butuh 20 tahun, yaitu di-era 2000-an ketika masalah tersebut dapat diselesaikan dengan munculnya bidang baru yang dikenal dengan Deep Learning (Kim, 2017). Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia: pembelajaran mendalam. Dalam di sini bermakna kompleksnya arsitektur dimana banyaknya lapis tersembunyi (di sini lapis beda dengan susun lho).

Lama saya tidak bermain-main dengan JST, jadi agak tertinggal, padahal ini bidang yang menarik. Apalagi dengan munculnya Deep Learning. Selamat ber-JST ria.

Referensi

 

Paradigma Baru Universitas di Era Disrupsi

Tulisan ini kelanjutan dari masalah linearitas dan interdisiplin ilmu pada postingan yang lalu. Sumbernya adalah dari situs ini, yang dishare oleh kawan di facebook. Ternyata facebook bermanfaat juga, tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Paradigma Baru Pendidikan di Era Disrupsi

Masalah yang dialami dunia saat ini adalah buta secara vertical (vertical
literacy). Walaupun kesenjangan ilmu sudah hampir tidak ada (kecuali beberapa wilayah konflik dan yang masih primitif), ada kesenjangan jenis lainnya yang diberi istilah “knowing-doing gap”, yang artinya kesenjangan antara kesadaran kolektif kita tentang suatu hal dengan tindakan/aksi yang dilaksanakan. Vertikal di sini bermakna naik ke atas, jadi vertical development maknanya adalah perkembangan yang melepas masa lalu dan siap menyambut masa depan. Suatu institusi yang gagal melaksanakan vertical development akan dihajar oleh pesaing-pesaing di era disrupsi ini (banyak contoh kasus nyata yang sering kita lihat).

Jika diibaratkan seperti komputer, saat ini kita tidak hanya menginstal aplikasi-aplikasi baru melainkan mengupgrade sistem operasi kita, dalam rangka menyambut masa yang akan datang. Pendidikan harus di “reinvent” lagi. Perkataan seorang filsuf bernama Plutarch (2000 tahun yang lalu) bahwa pendidikan adalah aktivitas “menyalakan api” bukan “mengisi kapal” terhadap anak didik kita. Pendidikan di tahun ini sebaiknya mirip dengan tahun 1917 dimana terjadi vertical development.

Saat ini masalah-masalah yang harus diselesaikan dunia (radikalisme, terorisme, fundamentalisme, xenophobia, dan lain-lain) tidak bisa diselesaikan dengan “sistem operasi” yang lalu, harus dengan yang baru, ibaratnya harus diupgrade. Saat ini kita dihadapkan pada: “VUCA: volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity”. Kampus dituntut menyediakan tenaga-tenaga kerja yang siap menghadapi itu.

Kemampuan Vertical Literacy

Dulu mungkin buta huruf menjadi masalah di Indonesia, tetapi saat ini ketika rakyat sudah tidak buta huruf muncul masalah-masalah yang bisa menghancurkan suatu bangsa. Oleh karena itu vertical literacy menjadi penting. Dengan vertical literacy, seseorang memiliki kemampuan sebagai berikut:

  • Mahir dalam mendengar dan fikirannya terbuka
  • Merubah debat menjadi dialog yang menghasilkan
  • Merubah kompetisi menjadi ekosistem yang saling mendukung, dan
  • Menemukan hal-hal baru yang beroperasi secara sharing

Otto menlanjutkan dengan mengusulkan delapan prinsip yang harus dipegang oleh universitas “baru”, antara lain:

  1. Siswa sebagai inisiator perubahan
  2. Belajar bukan hanya di kampus, tetapi kehidupan nyata
  3. Menjadi orang yang berubah (be the change), dari kepala ke hati dan dari hati ke tangan (terapan)
  4. “Science 2.0”, banyak hal-hal yang harus diobservasi ulang
  5. “System Thinking”, siswa membuat sistem yang bisa menyelesaikan suatu hal
  6. “System Sensing”, mirip no.5 tetapi bisa men-sensor suatu hal
  7. Mudah mentransformasikan suatu sistem mengikuti society
  8. Memahami diri sendiri. Bukan hanya keingintahuan (sisi kognitif), melainkan juga hati yang terbuka (compassion) dan keinginan yang tulus (open will).

Silahkan lanjutkan baca di situs aslinya, yang ditulis oleh Otto Scharmer, Senior Lecturer, MIT; Co-founder u.lab, Presencing Institute. Semoga bermanfaat.

Ref

https://www.huffingtonpost.com/entry/education-is-the-kindling-of-a-flame-how-to-reinvent_us_5a4ffec5e4b0ee59d41c0a9f?ncid=engmodushpmg00000003

Klasifikasi, Pengklusteran dan Optimasi

Bahasa merupakan pelajaran pertama tiap manusia. Untuk mempelajari komputasi pun pertama-tama membutuhkan bahasa. Sebagai contoh adalah judul di atas yang terdiri dari tiga kata: klasifikasi (classification), pengklusteran (clustering) dan optimasi (optimization). Postingan ringan ini membahas secara gampang tiga kata di atas.

Klasifikasi

Sesuai dengan arti katanya, klasifikasi berarti memilah obyek tertentu ke dalam kelas-kelas yang sesuai. Komponen utama dari klasifikasi adalah classifier yang artinya pengklasifikasi. Jika tertarik dengan bidang ini maka akan bermain pada bagian pengklasifikasi ini. Jika menggunakan jaringan syaraf tiruan (JST) maka akan meramu bobot, bias, dan layer pada JST agar mampu mengklasifikasi suatu obyek. Jika menggunakan Support Vector Machine (SVM) meramu persamaan pemisah antara dua kelas atau banyak kelas (multi-class).
Sepertinya tidak ada masalah untuk konsep ini. Masalah muncul ketika ada konsep baru, misalnya pengklusteran.

Pengklusteran

Manusia itu makin belajar makin bertambah merasa bodoh, karena makin banyak pertanyaan yang muncul. Ketika klasifikasi tidak ada masalah dalam memahami maksudnya, munculnya konsep pengklusteran membuat pertanyaan baru di kepala, apa itu? Paling gampang memahami arti dari kluster, yaitu satu kelompok dalam area tertutup, zona, atau istilah lain yang menggambarkan kelompok yang biasanya memiliki kesamaan. Pengklusteran berarti mengelompokan beberapa obyek berdasarkan kesamaannya. Jadi harus ada obyeknya dulu, karena kalau tidak ada apa yang mau dikelompokan?

Lalu bedanya dengan klasifikasi? Penjelasan gampangnya adalah klasifikasi memisahkan berdasarkan kelas-kelas yang sudah didefinisikan dengan jelas sementara pengklusteran kelompok yang akan dipisahkan tidak didefinisikan lebih dahulu. Bisa juga dengan melatih berdasarkan data yang sudah ada kelasnya (target/label nya). Misal untuk kasus penjurusan, kita bisa saja mengklasifikasikan siswa masuk IPA jika nilai IPA nya lebih baik dari IPS dan sebaliknya untuk jurusan IPS. Sementara pengklusteran kita biarkan sistem memisahkan sekelompok siswa menjadi dua kelompok yaitu kelompok IPA dan IPS. Masalah muncul ketika mengklasifikasikan berdasarkan nilai IPA dan IPS-nya, jika guru IPAnya “Killer” sementara yg guru IPS “baik hati”, maka dengan classifier itu tidak akan ada yang masuk jurusan IPA. Sementara pengklusteran akan memisahkan siswa-siswa itu menjadi dua kelompok. Bisa saja yang nilai IPA nya misalnya 6 masuk ke kelas IPA karena nilai 6 itu udah top di sekolah itu.

Optimasi

Nah, apalagi ini? Kembali lagi sesuai dengan arti katanya optimasi berarti mencari nilai optimal. Optimal tentu saja tidak harus maksimal/minimal, apalagi ketika faktor-faktor yang ingin dicari nilai optimalnya banyak, atau dikenal dengan istilah multiobjective. Apakah bisa untuk klasifikasi? Ya paling hanya mengklasifikasikan optimal dan tidak optimal saja. Biasanya optimasi digunakan untuk mengoptimalkan classifier dalam mengklasifikasi, misal untuk JST adalah komposisi neuron, layer, dan paramter-parameter lainnya. Atau gampangnya, kalau klasifikasi mengklasifikasikan siswa-siswi ganteng dan cantik, optimasi mencari yang ter-ganteng dan ter-cantik. Sederhana bukan? Ternyata tidak juga. Banyak orang baik di negara kita, tetapi mencari beberapa yang terbaik saja ternyata malah “hang” sistemnya.

Linearitas vs Multi/Inter-disiplin Ilmu

Ketika mengajukan beasiswa S3 ke kopertis IV, bagian staf penerimaan beasiswa langsung menanyakan ijasah S2, jika tidak serumpun maka tidak akan diproses pengajuannya. Kebetulan waktu itu sama-sama ilmu komputer (computer science), jadi lolos. Namun ketika pelaksanaan kuliah, ternyata konsep kampus-kampus saat ini (biasanya luar negeri) kebanyakan multidisiplin/interdisiplin ilmu. Maksudnya adalah suatu riset yang melibatkan beberapa cabang ilmu yang berbeda. Misalnya ilmu komputer, penginderaan jarak jauh (PJJ) dan sistem informasi geografis (SIG) dan ilmu lingkungan untuk optimisasi penggunaan lahan suatu wilayah.

Beberapa pemerhati masalah pendidikan tidak setuju dengan konsep kaku linearitas karena fenomena disrupsi yang terjadi saat ini. Suatu institusi yang tidak menggabungkan berbagai bidang ilmu dalam inovasinya akan hancur dan dikalahkan oleh institusi yang melibatkan bermacam cabang ilmu. Silahkan dapatkan informasinya dari link ini. Oiya, sepertinya buku itu memiliki hak cipta (bukan open access). Tetapi untuk baca-baca sepertinya ada manfaatnya.

Transdisiplin Ilmu

Ternyata ada konsep lain yaitu transdisiplin yang melibatkan bukan hanya berbagai macam bidang ilmu tetapi melibatkan praktisi-praktisi yang berkontribusi terhadap penerapan suatu inovasi. Ada aspek kewirausahaan dalam penelitian yang bertipe trandisiplin ilmu. Dalam referensi pada link tersebut disebutkan bahwa terciptanya facebook, instagram, dan aplikasi-aplikasi startup lainnya melibatkan trandisiplin ilmu, misalnya bukan hanya IT tetapi juga aspek psikologi. Pencetus facebook sendiri dulunya mengambil S1 bidang psikologi.

Nasib Monodisiplin Ilmu

Tentu saja monodisiplin masih dibutuhkan untuk tetap memperkuat dasar keilmuannya. Jujur saja untuk S3 yang monodisiplin sangat sulit mengingat metode-metode saat ini yang sudah “established”. Hanya tambahan-tambahan kecil dalam bentuk parameter-parameter atau penggabungan-penggabungan yang mungkin ditemukan dalam suatu penelitian. Tentu saja untuk jenjang S1 dan S2 sepertinya masih diperlukan.

Ketika saya mengikuti seminar tentang standar kompetensi, waktu itu geomatika, saya sempat bertanya kepada pengelola sertifikasi tersebut yang mengharuskan sertifikat untuk yang mengambil sertifikat geomatika harus jurusan S2 dan S3 yang sama (PJJ dan SIG) untuk level Madya ke atas. Saya mengatakan bahwa rekan-rekan kuliah S3 saya yang bukan PJJ dan SIG banyak yang penelitiannya tentang geomatika dan mereka sangat mahir melakukan manipulasi-manipulasi dasar dan lanjut bidang PJJ dan SIG. Misalnya bidang Agriculture, Water Management, dan IT yang ber-interdisiplin dengan PJJ dan SIG. Pengelola sertifikasi itu menerima masukan dan akan mengkaji lagi syarat harus mengambil kuliah jurusan tersebut untuk sertifikasi keahlian geomatika. Terus terang sangat jarang mahasiswa SIG sendiri yang murni meneliti tentang SIG (proyeksi, web-gis, satellite, dll) tanpa adanya interaksi jurusan lain.

Referensi:

Update: 7 Jan 2018

Ternyata sejak 2014 Dikti sudah menganut konsep linearitas yang interdisiplin, yaitu mengajar di kampus yg sebidang ilmunya, tidak harus si pengajar s1 linear dengan S2 atau S3:

Metode Menentukan Bobot pada Multi-Criteria Selain Pairwise Comparison (AHP)

Untuk mencari lokasi yang cocok untuk penggunaan lahan tertentu, optimasi rancangan, dan sejenisnya ada empat metode yang terkenal: ranking, rating, trade-off, dan pairwise. Cara penggunaannya dapat dilihat pada artikel berikut ini, dalam jurnal teknik sipil.

Di bagian kesimpulan, ketika faktor biaya, waktu dan kemudahan penggunaan menjadi perhatian maka metode ranking, rating, dan trade-off layak untuk digunakan. Tetapi ketika faktor akurasi dan fondasi teoritis yang menjadi perhatian maka metode pairwise yang biasanya dengan analytic hierarchy process (AHP) digunakan, dengan software yang terkenalnya “expert choice”.

Kelemahan multi-criteria dalam menentukan kesesuaian (suitability) terhadap suatu hal adalah sangat bergantung dengan penentuan bobot seperti diutarakan dalam presentasi oleh ESRI (vendor dari ArcGIS) berikut ini:

Semoga postingan ini bisa bermanfaat, terutama saya sendiri baru saja menjawab pertanyaan mengapa menggunakan metode pairwise tidak dengan metode yang lainnya.

Referensi:

http://www.iaeme.com/MasterAdmin/UploadFolder/IJCIET_06_11_012-2/IJCIET_06_11_012-2.pdf

https://maps.uky.edu/esri-uc/esri_uc_2k12/Files/130.pdf

Revisi Lagi .. LiDAR vs RADAR

Kejadian tahun lalu terulang lagi dimana ketika asyik liburan ada tulisan yang harus direvisi. Kalau dulu artikel di jurnal internasional, kali ini disertasi yang dicek oleh external examiner, yaitu profesor dari luar kampus. Lumayan banyak, walaupun secara keseluruhan disetujui (satisfactory and meets the normal requirements for a doctoral dissertation), tetapi ada hal-hal yang perlu pemikiran karena bukan bidang saya.

Sebagai contoh, pada revisi keenam diminta menjelaskan maksud LiDAR (light Imaging Detection and Ranging) “more accuracy and wider range” dibanding RADAR (Radio Detection and Ranging). Sebenarnya saya mensitasi dari text book, tetapi ternyata tidak hanya mensitasi, harus tahu juga maksudnya. Untungnya banyak referensi yang beredar.

Panjang Gelombang RADAR dan LiDAR

LiDAR dikatakan lebih akurat dibanding RADAR karena bisa mendeteksi obyek yang kecil karena penggunaan spektrum panjang gelombang yang lebih pendek (short wavelength). Gambar di bawah saya unduh dari sini, lumayan jelas perbandingan antara microwave yang digunakan RADAR dengan infra-red yang digunakan LiDAR.

Jika microwave jangkauannya dari 1 mm hingga 1 meter, ternyata infra merah lebih pendek lagi yaitu antara 1 mikrometer hingga 1 mm, artinya lebih pendek dari microwave yang digunakan RADAR. Sementara maksud “wider range” artinya pandangan yang lebih luar (large field of view) yang dimiliki LiDAR: lebih lebar dari RADAR. Informasi ini saya ambil dari situs ini.

Yah, begitulah, ikuti saja, namanya IT kan pensuport bidang lainnya. Terkadang ke GIS, environment, hingga penginderaan jarak jauh (remote sensing). Ada informasi ternyata RADAR dan LiDAR sedang berkompetisi untuk digunakan oleh mobil tanpa awak, dimana Tesla dengan RADAR sementara Google dengan LiDAR walau dipasang juga RADAR karena mampu menembus kabut (Jadi inget waktu kuliah 6 tahun di mesin UGM dulu).

Tip n Trik Publikasi Jurnal

Tip n Trik bisa berarti taktik dan strategi. Mirip dengan permainan catur. Jika strategi adalah rencana garis besar, taktik adalah rencana yang detil. Biasanya strategi dijalankan ketika lawan yang sedang “jalan”, sementara taktik ketika kita yang sedang “jalan” dan harus melangkah. Di saat liburan ini dapat diibaratkan kita tidak dipaksa melangkah, jadi sebaiknya berfikir strategi. Ketika piknik, jalan-jalan, tidak ada salahnya membiarkan fikiran bebas mengatur strategi. Begitu juga tugas-tugas penelitian dan publikasinya, baik yang didanai (hibah) maupun yang mandiri.

Strategi

Terkadang strategi yang tepat hasilnya optimal. Pemilihan jurnal tujuan, penggunaan alat-alat bantu penulisan artikel (mendeley, grammarly, google, dan lain-lain). Tidak jarang tulisan yang baik tidak lulus tetapi tulisan yang biasa-biasa saja diterima (accepted) karena memilih jurnal sasaran yang tepat. Tulisan mungkin sudah berbobot, tetapi jurnal sasaran permintaannya lebih berbobot lagi, alhasil tidak/belum diterima. Mengevaluasi bobot tulisan terkadang penting juga, dan di sini pengalaman dalam publikasi menentukan kemampuan tersebut.

Taktik

Taktik di sini berupa langkah-langkah detil, prosedural dan biasanya linear. Pemahaman terhadap proses publikasi (submit, editorial, review process, dan decision) sangat perlu. Terutama proses berapa lama antara submit dengan publish karena ada jurnal yang sampai 2 tahun (bahkan ada yang 9 tahun) proses hingga publish. Di sini letak proses pembuatan manuskrip artikel yang akan dikirim. Ada baiknya artikel ditulis bersamaan dengan proses penelitian, jangan ditunda sampai penelitian selesai.

Research Camp

Terkadang ikut grup Whatsapp bermanfaat juga. Banyak ilmu yang dishare di sana, walaupun terkadang ada juga hal-hal yang tidak penting, bahkan cenderung memprovokasi tema-tema tertentu yang berkaitan dengan politik. Tetapi asal kita ambil yang baiknya saja, sepertinya tidak masalah dan bermanfaat. Salah satunya adalah research camp tentang publikasi ilmiah. Berikut ini adalah tip n trik yang dishare. Sayang tidak ada nama pembuatnya, semoga yang bersangkutan mendapat pahala karena pengalaman yang diberikan lewat slide ini:

Khusus mengenai SCIHUB, yang menyediakan jurnal-jurnal gratis, sepertinya agak ilegal. Banyak cara lain, yaitu dengan meminta share dengan pengarang aslinya lewat “researchgate”, atau memesan ke teman yang studi lanjut, yang biasanya kampusnya berlangganan. Sekian semoga berfaedah.