Konversi UTM ke Latitude – Longitude (Terapan)

Ada tugas revisi buku, dan rencananya ada tambahan di bagian implementasi Matlab dengan sistem basis data (Access dan MySQL) yaitu data spasial dan pemrosesan teks. Cukup menarik ternyata Matlab memiliki banyak fasilitas, bahkan sistem informasi geografis (SIG) pun dilayani. Postingan singkat ini (lanjutan dari post yang lalu) menggambarkan bagaimana mengutak atik SIG dengan Matlab.

Salah satu komponen penting dari SIG adalah proyeksi. Salah satu proyeksi yang terkenal adalah Universal Transverse Mecartor (UTM) yang membagi bumi menjadi zona-zona. Untuk komputasi lebih mudah menggunakan jenis koordinat desimal ini, dibanding dengan jam, menit, detik atau lintang dan bujur. Repotnya ketika selesai melakukan kalkulasi dengan Matlab terkadang untuk menampilkan ke SIG berbasis web (Web SIG) perlu dikonversi ke latitude (lintang) dan longitude (bujur).

Setelah searching seharian dari situs yang remeh temeh hingga yang serius, ternyata situs Matlab sudah menyediakannya (lihat link ini). Karena tidak tersedia di instalasi Matlab, mau tidak mau harus membuat M-file yang dikopi dari situs tersebut. Untuk teori dasar silahkan lihat link ini (sebaiknya jangan deh, ntar pusing he he).

Jadi prinsipnya setelah matlab mengolah data spasial, kemudian hasilnya sebelum dikirim ke Web SIG dikonversi terlebih dahulu dari UTM ke lintang bujur karena Google Map API (lihat caranya) memerlukan data lintang bujur bukan UTM (kabarnya ada juga gmap4 yang bisa menggunakan UTM). Walau singkat semoga bermanfaat.

Program Kuliah Doktoral yang Keras

Lihat di grup masjid kampus, cukup terenyuh oleh pamitnya rekan senior padahal belum selesai studinya. Teringat bantuan dan arahan yang dulu diberikan karena memang dia seorang Teaching Assistant (TA). Ketika saya telat datang, dia yang berkebangsaan negara di Asia Selatan, dengan suka rela memberikan satu CD berisi software ubuntu yang wajib digunakan dalam perkuliahan Web Programming (dengan ruby and rails). Setelah hampir sepuluh tahun kuliah doktoral, sepertinya dia harus pulang, entah alasan apa yang membuatnya tidak meneruskan kuliah, yang jelas saya dulu banyak dibantu olehnya.

Lengkap sudah saya kenal dengan rekan kuliah yang tidak selesai, pertama pulang karena alasan keluarga (tidak bisa ditinggal jauh), kedua meninggal, dan yang terakhir kelamaan kuliah. Dulu pun saya pernah mendengar cerita-cerita kegagalan mahasiswa doktoral, termasuk dosen saya waktu kuliah S1 dulu, tapi itu hanya dari mulut ke mulut. Berbeda dengan saat ini yang mengetahui langsung, bukan saja cerita tapi ikut merasakan kesulitan ketika bersamanya. Mungkin hal-hal berikut yang bisa “mengganggu” mahasiswa doktoral, bahkan menjadi penyebab kegagalan:

Syarat Course Work yang Berat

Tidak semua kampus mensyaratkan ikut kuliah dulu sebelum riset, tapi kebanyakan mensyaratkannya. Bahkan di Eropa ada gelar M.Phil. yang diberikan oleh mahasiswa doktoral yang tidak berhasil lolos ujian menjadi calon doktor (Ph.D.). Saya sendiri mengalami kesulitan karena memang background yang bukan dari jurusan sesungguhnya (multidisiplin). Repotnya terkadang kuliah digabung dengan mahasiswa master dan nilainya distribusi normal. Nilai bagus akan jadi buruk jika yang lain lebih bagus. Ditambah tugas project yang bareng dengan mahasiswa master yang kebanyakan malas karena bagi mereka c+ pun sudah lulus, dan hampir lulus semua. Sementara mahasiswa doktoral wajib minimal B+ atau total IPK = 3.5. Untungnya setelah mati-matian saya memperoleh 3.5 (A, A, B+, B, B, B+). Benar-benar mujur, pas, kalau tidak harus mengulang lagi dengan ancaman tidak dicover dari beasiswa jika melewati masa “jatah” beasiswa.

Ujian Kandidasi / Komprehensif

Setelah kuliah selesai, ada ujian yang menentukan berikutnya yaitu kandidasi, atau ujian menjadi calon doktor. Ketika awal kuliah sempat juga down, ternyata mahasiswa doktoral yang baru masuk statusnya adalah calon kandidat doktor. Jadi jangan sekali-sekali menyebut “calon doktor”, sering disingkat Dr.(c), kepada mahasiwa doktoral baru. Rekan saya yang di Taiwan lebih berat lagi, syarat kandidasi adalah 20 sks kuliah dan dua jurnal internasional diterima. Untungnya tidak ada syarat Impact Factor (IF), yang penting terindeks (biasanya Scopus). Untuk dalam negeri saya belum begitu mengerti, tapi proposal dibuat di tahun kedua, mungkin itu kandidasinya.

Tidak ada Progress

Walau tiap semester harus buat laporan kemajuan, tetapi biasanya terkesan formalitas, win-win solution antara pembimbing dengan mahasiswa. Tetapi repotnya tanpa progress sudah pasti kerjaan tidak selesai-selesai, karena kebanyakan pembimbing enggan menurunkan objektif sesuai yang dijanjikan proposal. Penyebab utama biasanya mahasiswa doktoral yang tidak “pure” kuliah, alias masih bekerja. Banyak rekan saya yang orang lokal (thailand) yang lama lulusnya karena mereka tidak 100% kuliah, alias sambil bekerja. Walaupun ada kebijakan kampus untuk mahasiswa tersebut (waktu D.O yang lebih lama) yang diistilahkan dengan “non-stay” student. Tetapi siapa juga mahasiswa yang ingin lulusnya lama?

Bagaimana dengan di Indonesia? Ternyata kondisi lebih buruk lagi. Banyak rekan saya yang pindah kampus karena tidak selesai-selesai di kampus lamanya dengan berbagai alasan. Sempat saya menjadi asisten dosen waktu kuliah master di Indonesia dan bertemu dengan dosen doktoral UI. Saya menanyakan mengapa mahasiswanya lulus lama? Dengan santai dia menjawab, sebenarnya dia sudah menurunkan standar tetapi siswanya tetap sulit mengikuti, bahkan bertemu pun mereka jarang dengan alasan kesibukan bekerja. Ini saya alami sendiri ketika riset, kebanyakan memang saya di tanah air, tetapi jika dibandingkan sebulan di Indonesia itu kualitasnya sama dengan seminggu di Thailand karena memang di sana dari mata melek hingga merem (tidur) langsung mengerjakan disertasi. Paling nongkrong sambil ngopi di pinggir danau kampus dengan teman senasib.

Syarat Publikasi

Ini merupakan kendala utama yang tidak bisa diganggu gugat. Ini pula yang merupakan kontrol kualitas lulusan doktor suatu universitas. Tanpa publikasi, lulusannya masih diragukan kadar keilmuwannya. Rata-rata publikasi internasional menganut peer review dan author tidak bisa memaksakan agar tulisannya lolos. Sialnya di kampus saya mensyaratkan impact factor di atas atau sama dengan satu. Sulit dan lama untuk jurnal kategori tersebut (rata – rata masuk kategori Q2). Dengan syarat publikasi ini, pembimbing pun tidak bisa membantu kelulusan siswanya jika memang belum publish/accepted jurnalnya. Rekan saya yang bertahun-tahun belum publish pun ketika bertemu pembimbing, dia hanya bisa mendoakan saja. Gawat. Sebagai panduan untuk amannya suatu topic disertasi adalah: kesimbangan antara mudah dikerjakan dengan kemungkinan diterima di jurnal internasional ketika mengajukan proposal disertasi. Jika proposal mudah dikerjakan, biasanya sulit diterima di jurnal berimpact di atas satu, tetapi jika proposal sulit dikerjakan biasanya kemungkinan besar lolos di jurnal berimpact > 1 (paling kalau ditolak salah pilih domain jurnal atau masalah bahasa Inggris yang berantakan) tetapi bahayanya karena terlalu sulit jadi ga selesai-selesai.

Mungkin itu saja sedikit gambaran. Jika ingin lebih jelas, silahkan alami sendiri ya. Sebenarnya ada tahapan lain seperti pengecekan disertasi oleh external examiner (profesor dari luar kampus) dan sidang terbuka. Tetapi itu sepertinya hanya formalitas, biasanya dapat dilalui oleh mahasiswa doktoral. Sekian semoga postingan ini bermanfaat.

Tim Nongkrong (Ph.D., D.Eng, and D.Tech.Sc. Students)

Final Defense (Committees : Prof. Guha, Prof. Nitin, Dr. Kim)

Metode Increment dan Iterasi dalam Penulisan

Tiap orang memiliki gaya masing-masing dalam membuat tulisan (proposal, tesis, disertasi, dan sebagainya). Selain dalam menulis, ketika me-manage pun berbeda-beda. Salah satu gaya yang saya sukai adalah tipe increment dan iterasi, mirip perancangan perangkat lunak. Untungnya pembimbing juga memiliki tipe yang sama, jadi bisa klop dan proses penulisan jadi cepat.

Bagaimana bisa tahu pembimbing bertipe increment atau tidak? Saya peroleh informasi senior yang mengajukan bab 1, bab 2, dan seterusnya, ternyata tidak terlalu direspon. Repot juga kalau begitu, bisa nggak selesai-selesai kalo tipenya waterfall begitu. Akhirnya saya coba nekat dikit, karena waktu yang mepet, saya coba waktu itu proposal hanya 5 lembar. Terlihat “gila”, tetapi isinya lengkap bab I sampai bab IV hingga daftar reference. Dengan dijilid steples pula .. hehe.

Proposal 5 lembar ini sebaiknya jangan ditiru karena kerjaan orang nekat dan kepepet deadline. Hal ini terjadi karena datang ke kampus telat dari Indonesia, masalah administrasi yang ribet, ditambah advisor pertama yang menolak membimbing karena tidak begitu menguasai data spasial, dan masalah-masalah lainnya. Ketika melihat dia merespon, memperbaiki judul dan mengusulkan anggota pembimbing, dapat disimpulkan dia juga tipe yang sama. Tentu saja saya diminta revisi proposal tersebut (25 – 30 halaman).

Dalam waktu beberapa hari yang terbatas, tulisan bisa dikembangkan menjadi 25 halaman. Seperti biasa, corat-coret dan minta ditambahkan hingga 35 – 40 halaman. Dan dalam waktu beberapa hari jadi juga 31 halaman, walaupun kurang dari yang diminta (35-40 halaman).

Akhirnya jadi juga proposal sekitar 35 halaman yang kemudian diuji dalam sesi yang dikenal dengan istilah ujian Candidacy (perubahan status dari “calon kandidat doktor” menjadi “kandidat doktor”). Lumayan berat karena sifat riset yang multidisiplin dengan para pembimbing yang berasal dari bidang computer science, urban environment, dan remote sensing – GIS, serta saya sendiri dari information management. Advisor pun ternyata mempelajari gaya saya yang jika diberi instruksi berupa range, misal 25 sampai 30 halaman, saya cenderung membuat “tarif bawah”, lama-lama dia menginstruksikan angka pasti, misal “buat 50 slide”, yang mau tidak mau saya memilih 50 slide. Postingan ini hanya pengalaman pribadi yang tentu saja terkadang tidak cocok dan tergantung dari style masing-masing dan juga dosen pembimbing. Semoga bermanfaat.

Object Not Found – Error 404 pada XAMPP

XAMPP merupakan paket berisi Apache server dengan PHP dan MySQL untuk membuat pemrograman web. Keunggulan paket aplikasi ini adalah sifatnya yang ringan karena server hanya aktif ketika Apache server di jalankan (running). Jika tidak dijalankan maka server tidak aktif sehingga meminimalkan penggunaan memori, biasanya jika dijalankan di laptop dan hanya untuk testing program.

Karena sifatnya yang aktif jika dijalankan, maka perlu setting khusus ketika beralih dari satu folder ke folder lainnya. Oiya, XAMPP berbasis folder dimana untuk mematikan dan menghidupkan server Apache dengan cara mengklik xampp_start dan begitu pula untuk mematikannya (xampp_stop). Masalah yang dijumpai ketika berganti folder adalah “Object Not Found” seperti tampilan di bawah ini.

Prinsip dari kesalahan ini adalah server Apache tidak berhasil menemukan “Link” yang dituju, biasanya index.php jika ada. Jika tidak ada index.php biasanya akan menampilkan folder-folder yang berada di folder htdocs. Folder ini merupakan folder induk php ketika server (localhost) dijalankan. Biasanya kasus ketika fodler XAMPP dipindah ke folder lain dan “xampp_start” hanya dijalankan tanpa diset ulang. Untuk mengeset ulang perlu dilakukan dengan menekan setup_xampp.bat.

Oiya, jangan lupa dimatikan dulu server Apache jika sekiranya masih hidup. Pilih (1) dilanjutkan dengan menekan sembarang tombol ketika diperintahkan.

Sekarang refresh browser yang sebelumnya error. Pastikan aplikasi berjalan, minimal menampilkan folder kosong jika tidak ada index.php di dalam folder tersebut seperti tampilan di bawah ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Biaya Studi Doktoral

Iseng-iseng buka Sistem Informasi Akademik (SIS) kampus tempat kuliah, mumpung masih bisa buka. Terutama di bagian tagihan (SPP, listrik, dan kos). Ternyata lumayan juga, dari tahun 2013 hingga Januari 2018 ternyata menghabiskan dana hampir 700 juta (kalau hanya uang kuliah sebesar Rp. 600 juta). Lumayan juga.

Ketika saya ngobrol sambil ngopi dengan teman yang juga kuliah di sana, dari Dep. Pertanian, ternyata saya lupa, itu belum biaya hidup yang sebulanya dari pemerintah sekitar $600 (Rp. 8,4 juta utk kurs $1= Rp. 14.000). Jika dihitung selama 4 tahun (48 bulan) maka menghabiskan sekitar Rp. 400 juta. Jadi total pemerintah menganggarkan untuk satu mahasiswa doktoral sebesar Rp. 1 Milyar. Angka yang cukup besar. Itu Thailand, bagaimana dengan negara lain? Mungkin rekan-rekan yang studi di Eropa, Jepang, dan Australia bisa memberi gambaran. Sebagai informasi, waktu pelatihan bahasa di UGM sebelum berangkat (tahun 2011) diberitahu kalau pemerintah menganggarkan Rp. 2 Milayar untuk mahasiswa doktoral di Australia, hampir 2 kali lipat Thailand ternyata.

Karena hanya dibiayai 4 tahun, maka harus self support satu semester karena molor (4,5 tahun) dan harus ditanggung sendiri (belasan juta rupiah). Untungnya biaya hidup murah meriah di sana dan kampus masih membiayai lewat gaji bulanan. Info dari teman kuliah yang dibayarin kampus kalau molor kabarnya tiap semester kampus mengirimkan bantuan hampir Rp. 1 Milyar mahasiswanya yang tersebar di seluruh dunia karena melewati batas beasiswa. Jadi wajar jika ikatan dinas sebesar 2n+1 untuk mahasiswa luar negeri, dibanding dalam negeri yang hanya n+1 (dengan n adalah masa studi). Oiya, uang itu dari pajak (uang rakyat), maka harus bermanfaat untuk negara.

Problem Batas Usia Studi Lanjut

Setelah kehilangan teman kuliah karena memaksakan diri kembali ke tanah air tanpa menyelesaikan studinya, ada kabar mengejutkan lagi dari teman satu negara dengan saya. Waktu itu ujian mid semester (UTS) sedang berlangsung, di jurusan food engineering. Kebetulan teman tetanggo kos teman beliau. Dia mengabarkan bahwa sebelum UTS berlangsung, teman kami ijin sebentar ke kamar kecil, tetapi tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Kontan, kampus tempat saya kuliah heboh, bahkan UTS pun ditunda karena kejadian tersebut. Segera beliau dilarikan ke rumah sakit yang memang bersebelahan dengan kampus (thammasat hospital). Namun setelah kira-kira dua mingguan, nyawanya tidak tertolong karena stroke.

Batas Usia Studi Lanjut Luar Negeri

Ketika meninggal rekan saya berusia 50 tahun dan beberapa bulan lagi menginjak 51 tahun. Kampus di tempatnya bekerja, PTN di wilayah timur Indonesia memang mensyaratkan batas maksimal 50 tahun untuk memperoleh beasiswa S3. Memang peraturan terbaru menurunkan batas maksimal studi lanjut khusus luar negeri dari 50 tahun menjadi 47 tahun, seperti aturan berikut ini (unduh versi lengkapnya):

Ristek-DIKTI memang terkenal ketat dalam hal syarat administratif, seperti kasus batas usia di atas. Ada kejadian aneh ketika saya mengikuti proses seleksi penerimaan beasiswa, yaitu wawancara ulang. Beberapa rekan yang mengikuti wawancara ulang kebanyakan karena kurang syarat tertentu, misalnya surat kesanggupan perguruan tinggi tempatnya mengajar untuk membiayai tahun keempat. Ada rekan yang usianya di atas 47 (di bawah 50), sebelumnya memenuhi syarat usia (max 50 tahun) untuk studi luar negeri. Namun ketika wawancara ulang ada aturan baru, yaitu tidak perlu surat kesanggupan membiayai tahun keempat dari PT asal (banyak yang bersorak gembira waktu dibreafing sebelum wawancara), sialnya syarat batas usia diturunkan, ada dua orang yang tidak lolos karena batas usia (padahal wawancara beberapa bulan yang lalu masih memenuhi syarat – max 50 tahun). Apa boleh buat, jika syarat TOEFL bisa diasah lewat kursus/bimbingan, LoA conditional bisa dinego ke kampus tujuan agar unconditional, tetapi bagaimana bisa mengakali usia yang sudah lewat?

Melihat kasus rekan saya yang meninggal, sepertinya alasan pemerintah masuk akal juga, walaupun namanya ajal tidak melihat usia, di bawah atau di atas 50 tahun bisa saja meninggal jika Allah menghendaki. Tetapi sepertinya pemerintah memiliki alasan lain, misalnya karena mendekati masa pensiun (padahal doktoral biasanya molor, lebih dari 3 tahun), dan lain-lain yang jujur saya tidak mengerti. Info dari pewawancara ketika breafing karena syarat dari MENPAN yang bahkan lebih rendah lagi (42 tahun untuk studi ke luar negeri), jadi syarat 45 tahun (waktu itu) tersebut sudah diringankan DIKTI.

Batas Usia Studi Lanjut Dalam Negeri

Ketika Dirjen SDM (Pak Ghofar) datang ke kampus saya memberikan seminar, ada penanya yang mempertanyakan mengapa ada syarat usia untuk studi lanjut. Pak dirjen hanya bisa menjawab karena aturan. Benar juga, mengingat banyaknya kasus-kasus beratnya kuliah di usia lanjut. Ada contoh kasus lain, seperti kasus rekan saya yang meng-cancle beasiswa karena sakit (sudah berjalan kira-kira kurang dari dua tahun). Sebagai seorang ibu dengan dua anak, studi lanjut membutuhkan stamina ekstra, apalagi jarak kuliah yang jauh, ditambah dosen yang sulit diajak kompromi. Memang jika kondisi tidak fit, penyakit mudah datang. Rekan saya akhirnya tidak kuat, karena kanker yang tiba-tiba singgah. Setelah mengundurkan diri, Alhamdulillah sakitnya mulai mereda. Aturan DIKTI untuk usia max beasiswa pendidikan di dalam negeri (2017) adalah 50 tahun seperti berikut ini (unduh versi lengkapnya di sini):

Semoga tulisan ini tidak mengendurkan semangat pembaca yang ingin studi lanjut, tetapi jangan khawatir, “what doesn’t kill us, make us stronger”. Jangan lupa evaluasi diri, menganalisa kelebihan dan kelemahan kita. Saya sendiri berprinsip seperti binatang hyena, akan bertarung jika sekiranya peluang menangnya besar. Memang status rekan-rekan kita di facebook, bikin “ngiler”, tetapi itu yang tampak. Padahal hal-hal lain tidak tampak (walau kadang ada), seperti stress, under pressure, begadang semalaman, dan lain-lainnya. Sekian, semoga bermanfaat dan jangan menyerah dulu.

Membuat dengan Cepat Konten Pembelajaran (tes.com)

Salah satu komponen Flipped Learning adalah mekanisme bagaimana siswa belajar di luar jam pelajaran sekolah. Selama ini yang jadi andalah adalah buku beserta soal-soal latihan. Namun tidak semua siswa memiliki gaya belajarnya yang cocok dengan reading. Bagi yang bertipe Auditory sepertinya tidak ada masalah, tetapi bagi yang verbal dan kinesthetic tentu saja akan kesulitan. Beberapa alat bantu dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya akan dibahas pada postingan ini.

Konten merupakan komponen penting dalam proses belajar mengajar. Beberapa tahun yang lalu konten menjadi beban ketika seorang dosen diminta mengajar. Namun belakangan ternyata konten dapat diperoleh dengan mudah secara online. Kejadian ketika seorang murid memiliki informasi ilmu yang belum diketahui oleh seorang pengajar sudah menjadi biasa saat ini. Sehingga peran pengajar saat ini yang tepat adalah sebagai katalisator dalam proses belajar mengajar.

Untuk membuat dengan cepat bahan ajar, banyak alat bantu yang bisa dimanfaatkan, salah satunya adalah test.com, suatu situs yang menyediakan sarana untuk mengajar online. Bentuknya yang tinggal drag konten yang dicari dengan alat bantu “searching” memudahkan pengajar untuk menyediakan sarana belajar ke mahasiswa. Masuk ke menu pembuatan session perkuliahan dapat diakses di page berikut.

Ada beragam bentuk dari sesi pembelajaran yaitu tulisan (reading), video, dan suara. Ketiga bentuk pembelajaran tersebut bisa mengakomodir tipe belajar siswa (verbal, auditory, dan kinesthetic). Banyak situs di youtube yang membantu bagaimana menggunakan fasilitas tes.com tersebut seperti berikut ini.

Sebelum perkuliahan dimulai, flipped learning menganjurkan untuk men-share materi belajar dengan bantuan tools tertentu seperti tes.com di atas. Selanjutnya ketika perkuliahan, diskusi diberikan sekaligus penilaian oleh dosen dengan cara lisan (tanya jawab). Metode belajar ini memanfaatkan waktu di luar perkuliahan untuk seolah-olah dalam kelas. Sekian, semoga bermanfaat.

 

Kuesioner (Questionnaire) untuk AHP

Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan teknik untuk membandingkan satu pilihan dengan pilihan lainnya. Sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan. Vendor terkenal yang serius mengenai hal ini adalah expert choice, yang juga menyediakan software berbayarnya. Lihat post sebelumnya. Postingan kali ini mencoba sharing tentang kuesionar yang diperlukan untuk mengisi data sebelum diolah oleh AHP yang dicetuskan pertama kali oleh L. Saaty (Saaty, 2008).

Pairwise Comparison

Terus terang saya malah belum pernah mendapatkan kuesioner dalam bahasa Indonesia. Dalam jurnal-jurnal internasional, yang sering disebutkan adalah pairwise comparison survey, yang isinya membandingkan antara satu pilihan dengan pilihan lainnya.

Survey dapat dilakukan dalam bentuk lembaran kertas ataupun online. Biasanya menggunakan Google Form, dengan tampilan yang menarik, serta mudah untuk direkap via Ms Excel. Jumlah koresponden karena ini membutuhkan pakar (expert) maka tidak perlu banyak-banyak, dan bisa di bawah sepuluh orang.

Memulai

Ada baiknya menjelaskan terlebih dahulu secara singkat masalah yang akan disurvey. Jangan lupa data tentang koresponden sangat penting untuk diketahui. Berikut tampilan awalnya.

Bagian Inti

AHP membutuhkan perbandingan satu pilihan (choice) dengan lainnya. Ada enam pilihan dengan tingkat paling rendah hingga tinggi, berturut-turut: less, equal, moderate, strong, very strong, dan extreme. Berikut contohnya:

AHP mengharuskan kondisi dimana tingkat konsistensi harus kurang dari 0.1. Ini penting untuk menjaga keanehan-keanehan dalam perbandingan. Misal tikus takut kucing, kucing takut dengan seorang ibu, dan seorang ibu takut tikus. Pada contoh di atas, Physical Health akan dibandingkan dengan Psychological Condition, Social Relationships, Environment, Economic Condition & Development, dan Access to Facilities & Services. Berikut contoh survey yang pernah saya sebar.

Minta Contoh Penulis Jurnal

Terkadang ada baiknya meminta contoh kuesioner dari seorang penulis jurnal, baik nasional maupun internasional. Walau terkadang tidak dibalas, tetapi banyak juga yang membalas dan memberikan respon. Setidaknya jika tidak memberikan sample dia menjelaskan apa isinya saja. Contoh di atas saya peroleh ketika meminta dari jurnal internasional ini (Bhatti, Tripathi, Nitivattananon, Rana, & Mozumder, 2015). Silahkan baca sumber referensi tentang AHP dari Springer ini.

Referensi:

Bhatti, S. S., Tripathi, N. K., Nitivattananon, V., Rana, I. A., & Mozumder, C. (2015). A multi-scale modeling approach for simulating urbanization in a metropolitan region. Habitat International, 50, 354–365. http://doi.org/10.1016/j.habitatint.2015.09.005

Saaty, T. L. (2008). Decision making with the analytic hierarchy process. International Journal of Services Sciences, 1(1), 83. http://doi.org/10.1504/IJSSCI.2008.017590

Link dari Google

 

Pindah Homebase Dosen

Beberapa waktu yang lalu ada kabar kepindahan rekan dosen ke kampus lain. Kasus pindahnya seorang dosen ke kampus lain banyak alasannya, dari alasan lokasi kerja yang jauh, tidak cocok dengan lingkungan dan gaji/insentif, hingga diterima menjadi ASN (departemen atau kampus negeri). Dari sisi internal, banyak ragam menyikapinya, dari yang oke-oke saja, hingga yang menggerutu. Banyak pula yang bertanya, bisa kah seorang dosen pindah ke kampus lain? bagaimana caranya? Apakah sulit dan lama prosesnya? Postingan kali ini berusaha menjelaskan prosesnya, tentu saja dari pengalaman diri sendiri dan orang lain, yang mungkin saja berbeda kasusnya.

Proses Pindah Homebase

Prinsipnya tiap dosen boleh pindah dari satu kampus ke kampus lainnya. Tetapi ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Ada baiknya membaca informasi dari kopertis, contohnya kopertis XII yang rajin menginformasikan suatu prosedur-prosedur, silahkan berkunjung ke situ. Aturan resminya dapat dilihat dari link berikut ini.

Ada dua jenis perpindahan yaitu antar kopertis, atau beda kopertis. Tapi tunggu dulu, ketika tulisan ini dibuat ada perubahan struktur yaitu kopertis yang berubah menjadi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLPT) yang menangani bukan hanya PTS tetapi PTN juga. Mungkin ada perubahan. Prinsipnya adalah jika dalam satu kopertis, surat pengantar perpindahan hanya di kopertis yang bersangkutan, tetapi jika beda kopertis harus melibatkan dua kopertis (tujuan dan asal) surat keterangannya. Yang terpenting adalah surat lolos butuh yang dikeluarkan oleh institusi asal.

Langkah terakhir dan penting adalah bagian PDPT kampus asal dan tujuan melakukan proses lolos butuh secara online. Caranya bisa dilihat di link ini, tentu saja tidak semua orang bisa mengaksesnya. Banyak kejadian, surat sudah beres tetapi karena bagian PDPT (sering disebut EPSBED) tidak memroses, maka tidak bisa pindah homebasenya.

Pengalaman Pribadi

Waktu itu saya dosen honorer di salah satu PTS di Jakarta. Ketika mendaftar jadi dosen tetap ternyata ditolak dengan alasan background pendidikan saya yang kurang OK untuk ngajar jurusan teknik informatika dan sistem informasi. OK-lah, akhirnya tetap ngajar tapi dosen honorer (sambil kerja utak-atik IT di bank). Tidak lama kemudian, ada rekan saya yang menawarkan menjadi dosen di tempat saya singgah sekarang, bukan hanya honorer, tetapi dosen tetap. Entah mengapa ada keinginan kuat untuk bekerja di sana walaupun gajinya hampir 1/3 dari kerjaan saya waktu itu di divisi IT sebuah bank nasional (pegawai kontrak). Karena memang saya yang “tidak diinginkan” di tempat saya mengajar honorer, mudah saja memperoleh surat lolos butuh. Dengan surat lolos butuh itu, kampus baru langsung mengurusnya, dua surat keterangan diperlukan yaitu dari kopertis 3 (asal) dan kopertis 4 (tujuan/baru). Selesai sudah. Tentu saja surat lolos butuh dikeluarkan dengan melihat apakah ada hutang, ikatan dinas, dan lain-lain yang bersifat legal/perdata.

Terus terang kepindahan saya karena merasa tertantang bahwa saya tidak memiliki skill yang cukup untuk mengajar di IT. Setelah mengambil S2, saya lanjut ke S3 (beasiswa DIKTI) dan ternyata bisa lulus di jenjang tertinggi IT, uniknya saya lulus tercepat seangkatan. Tentu saja secepat-cepatnya S3 ya lama juga (4 tahunan). Tadinya sih niatnya cuma penasaran saja apa benar saya tidak mampu mengikuti ilmu informatika, ternyata malah keasyikan di bidang itu.

Kepindahan Dosen Merugikan/Menguntungkan?

Sudah ada dua kali rekan saya yang pindah karena diterima mengajar di kampus negeri. Apakah merugikan? Tentu saja tidak. Justru malah itu membuktikan divisi SDM kampus sudah bekerja baik dan berhasil mendapatkan SDM-SDM yang berkualitas, terbukti diterima di PTN (PNJ dan POLBAN). Lagi pula keberadaannya walau beberapa saat sangat membantu dan menjadi “pelumas” kinerja dosen-dosen lainnya. Hanya saja SDM harus bekerja mencari dosen lagi, itu saja (kasihan kan kalau tidak ada kerjaan). Bagaimana supaya dosen betah? Ya kurangi kesenjangan dengan kampus lain (gaji, fasilitas, suasana, dan lain-lain). Toh secara default, dosen malas pindah-pindah kalau memang tidak kepepet buuaaanget. Menurut saya sih ..

Update: 2/2/18

Berikut link aturan (2016) untuk tatacara perpindahan dosen:

Update: 6/3/19 – Contoh Kasus

Kebetulan beberapa hari yg lalu rekan saya ingin pindah dari satu kampus ke kampus lainnya. Dia masih berstatus kontrak 3 tahun di kampus lama. Ketika mengundurkan diri dan ingin mencabut homebase-nya, kampus lama meminta menghabisi hingga kontrak selesai (untungnya hanya tinggal sekitar 5 bulan). Walaupun ada klausul mengganti biaya/pinalti, kebanyakan kampus menolak menerima pinalti, melainkan meminta untuk menghabisi sisa kontrak (dengan ancaman surat lolos butuh tidak dibuat tentu saja). So, ketika ingin menandatangani kontrak di atas materai, perhatikan dan baca dengan teliti klausulnya, jika berat kompromikan atau jika mentok, pilih waktu kontrak yang tidak terlalu lama, dan jika mentok terus cari kampus lain saja .. bumi Allah luas.

Gaya Belajar

Nemu buku lama di perpustakaan yang berisi gaya belajar pada anak dan bagaimana caranya untuk menghilangkan hambatan-hambatannya. Karena keburu tutup perpustakaannya jadi tidak sempat mencatat judul dan pengarangnya. Mudah-mudahan bisa menemukan informasi tersebut nanti.

Di awal diceritakan kisah-kisah anak yang mengalami hambatan dalam belajar. Misalnya seorang anak yang pintar bicara, ternyata tidak bisa mengikuti pembelajaran karena gurunya cenderung memperlakukan siswanya untuk diam dan diminta membaca. Tentu saja siswa yang memiliki karakter verbal tersebut kesulitan mengikuti pelajaran. Uji coba dilakukan ke siswa berkarakter verbal yaitu menghapal puisi dengan mengingat tanpa bicara dan mengingat dengan mengucapkan lantang. Ternyata lebih mudah mengingat sambil membaca bersuara untuk anak yang berkarakter verbal.

Begitu pula dengan dua karakter belajar lainnya yaitu auditory dan kinesthetic yang artinya berturut-turut berbasis pendengaran dan gerakan fisik. Misalnya, anak yang berkarakter kinesthetic akan sulit membaca dalam waktu lama tanpa jeda. Mereka lebih suka membaca dengan jeda yang sering, kecuali jika bacaannya ada alur action-nya, barulah mereka bisa terus membaca dengan nyaman. Suruh anak yang memiliki karakter auditory untuk mendengarkan perkuliahan, dia akan mudah menangkapnya dibanding diminta membaca.

Untuk mengetahui anak kita atau anak didik kita berkarakter belajar verbal, auditory, ataukah kinesthetic dapat dengan rincian di bawah ini.

Visual Strength

  • Dapat merakit sesuatu dari gambar
  • Menutup mata ketika mengingat
  • Sangat teliti dalam detil sesuatu
  • Baik bekerja dalam memecahkan puzzle
  • Waktu luang lebih suka nonton televisi atau main game
  • Suka melihat untuk belajar
  • Memiliki ingatan terhadap pengalaman/kejadian
  • Menggunakan pakaian yang matching sangat penting menurutnya
  • Dapat memahami sesuatu dengan membaca dan mendengarkan
  • Sangat kalem, malas menjawab kalau tidak ditanya
  • Berfikir cara terbaik lewat gambar (penglihatan)
  • Suka mencatat ketika kuliah/belajar

Auditory Strenths

  • Mengingat iklan
  • Menggunakan kata2 yang berirama
  • Berbicara ketika menyelesaikan permasalahan
  • Mendengarkan arahan secara oral
  • Lebih mudah memahami materi yang didengarkan dari pada yang dibaca
  • Sering membaca dengan keras
  • Kesulitan membaca diagram atau peta tanpa ada yang menjelaskannya
  • Mudah berekspresi secara verbal
  • Suka berkomunikasi lewat telepon
  • Pandai membedakan dan mencocokan suara

Kinesthetic Strength

  • Sulit fokus ke bacaan kecuali jika berisi alur action di dalamnya
  • Suka olah raga dan bermain di luar
  • Memiliki energi yang besar
  • Ketika kecil suka menyentuh ketika mengamati
  • Berekspresi (marah, dll) cenderung dengan body language
  • Mudah belajar dengan pengalaman praktek
  • Mudah bergerak mengikuti musik
  • Lelah ketika duduk dalam waktu lama
  • Ketika berhitung terkadang seperti menulis di udara
  • Susah mengikuti atau mengingat arahan secara verbal

Tentu saja ada kemungkinan penggabungan karakter pembelajaran pada seorang anak, misalnya selain mendengar dia juga melihat (auditory + visual), mendengar dan aksi (auditory + kinesthetic), atau bahkan penggabungan ketiganya. Oiya, disebutkan pula, untuk seorang anak terkadang karakter tertentu memang belum berkembang tetapi hanya telat, dan bisa saja berkembang pesat di masa yang akan datang melebihi karakter saat ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Update: 22 January 2018

Akhirnya ketemu juga refrensinya, yaitu:

Fuller, Cheri (1994). Unlocking your child’s Learning Potential. Singapore: The Navigators

Flipped Learning

Sehari setelah sidang akhir, advisor mengundang saya untuk mengikuti seminar fliped learning. Mungkin beliau tahu kalau saya dosen. Pembicaranya ternyata rekan dia dari India, Dr. Malay R Dave. Metode pembelajaran ini sedang dicoba untuk diterapkan karena memiliki manfaat yang bagus, terutama saat ini dimana gadget dan aplikasi-aplikasi online dan mobile banyak tersedia.

Konsepnya adalah memadukan antara belajar di kelas dengan diluar kelas. Flip di sini bukan berarti dibalik, tetapi tetap menjaga agar siswa belajar walaupun sudah tidak di kelas lagi. Di kelas terkadang hanya berisi diskusi tentang topik yang sama. Untuk penjelasan lengkapnya silahkan lihat link ini:

https://flippedlearning.org/wp-content/uploads/2016/07/FLIP_handout_FNL_Web.pdf

Selain karena perkembangan aplikasi online, munculnya sistem pembelajaran ini adalah karena tuntutan dunia kerja dimana bukan hanya kemampuan akademis tetapi juga kemampuan lainnya seperti komunikasi, menghargai orang, critical thinking, dan sebagainya juga sangat dibutuhkan. Kalau menurut saya, flipped learning ini termasuk pembelajaran yang nonstop. Ibarat aplikasi online yang bekerja 24 jam, flipped learning juga mirip, hanya saja waktu menyesuaikan dengan siswa, kapan nyamannya.

Perkuliahan diganti dengan video tutorial yang dapat diakses dan dilihat oleh seluruh siswa di luar kelas. Ketika selesai dilihat, saat dikelas dilakukan diskusi yang didampingi oleh tutor/pengajar. Tetapi harus dijalankan empat pilar berikut ini: flexible environment, learning culture, intention content dan professional educator. Kalau tidak lengkap pilar tersebut, maka bukan flipped learning, melainkan hanya flipped classroom.

Banyak aplikasi-aplikasi yang digunakan untuk membantu flipped learning ini. Salah satu contohnya adalah http://www.tes.com yang memudahkan pengajar dalam mempersiapkan materi pembelajaran. Oiya, saat ini konten ilmu sepertinya sudah gampang sekali ditemukan di internet. Hanya saja membutuhkan kemampuan dalam meramu sesuai dengan keinginan pengajar. Situs tersebut salah satunya. Silahkan lihat tutorial youtube di bawah ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Memasukan Publikasi Buku pada SINTA

Selain kinerja penelitian, kampus, dan jurnal, ternyata SINTA juga menyediakan fasilitas untuk memasukan buku teks yang diterbitkan oleh seorang dosen/peneliti. Caranya adalah dengan login terlebih dahulu ke akun SINTA kita. Siapkan scan cover buku yang telah kita terbitkan.

Pertama akan diminta cari dulu berdasarkan ISBN-nya. Bagaimana jika tidak ditemukan? Ternyata setelah dicari tidak ada, muncul fasilitas input manual. Siapkan scan cover buku yang akan diinput.

Pastikan buku muncul di list SINTA. Coba log out dan cari buku tersebut tanpa login.

Klik menu BOOKS di SINTA dilanjutkan dengan mencari berdasarkan ISBN, judul buku, atau nama pengarang. Contoh di atas misalnya kita ingin mencari berdasarkan pengarang, tekan simbol kaca pembesar, dan jika ditemukan SINTA akan menampilkannya.

Tampak buku yang ditulis oleh pengarang yang bersangkutan. Sekian sekilas info tentang fasilitas baru SINTA. Untuk yang belum daftar SINTA segera daftar (lihat post yang lalu). SINTA berbasis evaluasi diri, jadi jangan sembarangan menginput yang tidak semestinya. Untuk mengetahui bagaimana menambah dan menghapus tulisan yang bukan milik kita silahkan lihat post sebelumnya. Sekian dulu semoga bermanfaat.

Studi Literatur

Walaupun riset sudah selesai dan tinggal pulang ke tanah air, mumpung masih bisa menggunakan perpustakaan (baca di tempat karena sudah tidak boleh meminjam), iseng-iseng mereview apa yang telah saya lakukan selama riset kurang lebih 3 tahun lamanya. Saya menemukan buku tentang studi literatur. Tujuan utama membaca topik itu aslinya untuk evaluasi ke depan. Apakah studi literatur yang telah saya jalankan sudah benar, efisien, dan sesuai dengan tujuan riset.

Buku karangan Lawrence A. Machi dan Brenda T. McEvoy itu cukup padat, sehingga dapat dibaca hanya beberapa menit saja. Intinya ada enam tahap dalam studi literatur, antara lain:

  1. Memilih topik
  2. Mencari literatur
  3. Mengembangkan Argumen
  4. Survey terhadap literatur
  5. Memberikan kritik terhadap suatu literatur, dan
  6. Menulis review

Postingan ini hanya akan membahas yang unik dari buku tersebut yaitu memilih topik, mencari litertur, dan mengembangkan argumen.

Memilih Topik

Ini merupakan pangkal utama dari riset, sekaligus biang keladi kuliah tidak lulus-lulus. Buku tersebut menyarankan untuk mengambil topik dari keseharian. Maksudnya adalah hal-hal real yang spesifik. Jangan asal mencari pertanyaan, misalnya: “mengapa sekelompok siswa sulit memahami penjelasan guru?”. Tentu saja pertanyaan ini terlalu general dan sulit dikerjakan karena tidak jelas.

Mencari Literatur

Mencari literatur yang efisien adalah internet dan perpustakaan. Baca cepat sekilas saja terlebih dahulu (skimming). Langkah saya membuat pengelompokan ternyata sudah benar waktu itu. Hanya saja ternyata ada teknik pengelompokan yang lebih ok, bukan hanya pengelompokan terhadap suatu ide/teknologi/metode, melainkan juga pengelompokan kontribusi pengarang. Misal definisi sustainability oleh siapa saja, dll. Dengan bentuk tabel, kita mudah mengingatnya. Terkadang walau tidak berusaha mengingat, jadi ingat sendiri (dikemukakan oleh siapa dan pada artikel apa).

Mengembangkan Argumen

Suatu argumen adalah mencari alasan yang tepat untuk suatu jawaban yang biasanya kesimpulan riset. Jadi satu argumen terdiri dari bermacam-macam alasan:

Argumen = alasan1 + alasan 2 + …

Sebelum masuk ke argumen yang rumit, ada baiknya membahas terlebih dahulu argumen sederhana. Argumen sederhana terdiri dari: klaim, kejadian dan jaminan (warrant). Contohnya adalah:

  • Klaim: “kamu seharusnya jangan menyeberang jalan”
  • Kejadian (evident): “lampu penyeberangan berwarna merah”
  • Jaminan: “Aturan memberlakukan bahwa lampu merah artinya berhenti”

Klaim

Klaim di sini adalah representasi argumen. Klaim mengarahkan argumen. Menurut referensi lain, Chris Hart, ada lima jenis klaim yaitu: Fact, worth, policy, concept, dan interpretation. Penjelasannya tidak jauh dari arti kelima istilah itu.

Kejadian (Evidence)

Kejadian beda dengan data. Kejadian lebih spesifik dari data, yaitu untuk kepentingan tertentu. Jadi kejadian adalah bahan baku dari pembuktian terhadap klaim kita. Jadi untuk memperkuat klaim, diperlukan data dan metode yang relevan, yang kemudian mentransformasikan data itu menjadi evidence.

Jaminan (Warrant)

Jaminan ini adalah hubungan antara kejadian dan kesimpulan. Hubungan di sini menyiratkan adanya pengorganisasian yang logis, sehingga memperkuat argumen. Kembali ke contoh menyeberang jalan. Ketika ada kejadian lampu menyala merah (evidence), dan adanya klaim (agar berhenti), perlu adanya jaminan. Kalau tidak, maka klaim Anda kurang kuat. Dalam kasus ini, jaminan yang diusulkan adalah karena aturan, yaitu ketika lampu menyala merah maka harus berhenti (tidak menyeberang jalan). Silahkan mencari jaminan lain sesuai dengan bidang ilmu yang kita miliki.

Teettttt .. alarm perpustakaan berbunyi, ternyata sudah jam 10 malam dan perpustakaan akan ditutup. Survey, kritik, dan review mungkin lanjut lagi nanti. Semoga postingan ini sedikit-banyak bisa mencerahkan. Selamat mencoba.

Siaga I Menghadapi: Sidang Terbuka

Setelah menunggu hampir setahun, akhirnya sidang terbuka dijadwalkan, kemarin tanggal 15 Januari 2018. Itu pun dijadwalkan mendadak, sehingga persiapannya keteteran dan tergopoh-gopoh, walaupun diumumkan empat hari sebelumnya tetapi ada dua hari libur yaitu sabtu dan minggu, praktis hanya hari jumat menyiapkan berkas ke jurusan. Saya termasuk yang selalu tidak siap jika diminta presentasi, apalagi kalau mendadak. Siapa tahu di antara pembaca ada yang akan sidang juga, mungkin bisa jadi bahan pertimbangan postingan ini.

Keep Calm

Di sini maksudnya bukan tidak berbicara. Malah harus berlatih berbicara agar besoknya bisa “ngomong”, apalagi pakai bahasa Inggris. Calm di sini adalah fikiran kita yang “liar” sehingga membuat lelah batin kita dan yang berbahaya tidak bisa tidur semalaman. Saya termasuk konsumen meditasi. Banyak teknik meditasi seperti vipassana, cittanupassana, dan lain-lain. Untuk kondisi super darurat, ada baiknya vipassana. Teknik ini untuk menjaga fikiran tidak liar dengan selalu fokus ke nafas keluar dan masuk. Tidak perlu mengatur nafas, hanya memperhatikan saja. Jika fikiran liar muncul sadari saja dan perlahan kembalikan ke pernafasan. Terus terang saya tetap sulit tidur .. hehe. Untungnya ada obat-obatan yang bisa membuat lelap tidur, sebaiknya yang herbal dan sudah teruji alias cocok dengan tubuh kita, dan bukan coba-coba. Kalau besoknya malah mencret kan tambah repot.

Kelihatannya teknik tersebut tidak berguna dan sulit diterapkan. Uniknya saya terapkan hingga saat presentasi berlangsung. Mungkin terlihat aneh, bagaimana mungkin kita presentasi, menjawab pertanyaan, dan lain-lain tapi dengan fokus ke pernafasan. Bahaya dong. Ternyata tidak, jangankan memperhatikan nafas, ketika berkendara saat memperhatikan hutang-hutang saja bisa kok, apalagi Cuma memperhatikan nafas.

Pelajari Video Presentasi yang Baik

Banyak video tutorial presentasi bertebaran di internet, terutama di youtube. Semua menganjurkan awal presentasi sangat menentukan keberhasilan. Jika di awal sudah malas didengarkan oleh audiens maka dipastikan sampai akhir akan membosankan bagi mereka. Posisi tubuh, intonasi dan lain-lain banyak juga dijelaskan di youtube, silahkan searching sendiri.

Berikutnya adalah power point. Kalau bisa isi power point didiskusikan terlebih dahulu ke dosen pembimbing. Hal ini penting untuk mengetahui batas waktu yang pas. Terkadang beberapa bagian dipotong dan beberapa bagian perlu ditekankan, misalnya novelty, kontribusi keilmuan, dan sebagainya. Jangan lupa akhir dari presentasi itu penting juga. Berikan kata pujian ke dosen pembimbing dan asistennya. “My gratitute to my doctoral thessis superviser … for guidance and motivation”. Jangan lupa kesimpulan itu kunci keberhasilan, apalagi sidang akhir karena setelah itu kita tidak langsung pulang. Ada sesi tanya jawab yang bikin keringat dingin. Penguji cenderung mengingat yang terakhir dan jika kesimpulan kurang sreg dia akan bertanya langsung ke sana, bahkan mereka berebut untuk bertanya.

Buat Audiens Ingin Tahu

Jika dalam disertasi kita ada hipotesa yang akan diuji, atau masalah yang akan diselesaikan, ada baiknya format harus dirubah karena jika ditampilkan apa adanya terasa “garing”. Kesalahan yang sering dilakukan adalah dengan copas dari tulisan di disertasi. Alangkah baiknya dibuat format baru yang memancing minat pendengar. “How can we …?”, atau “How we optimize … based on ..” dan seterusnya setelah sebelumnya memperkenalkan kasus atau masalah yang akan dibahas dalam presentasi. Tentu saja setelah itu slide berikutnya tidak menjawabnya, melainkan dengan memperkenalkan agenda presentasi, atau sering diberi judul “outline” atau road map presentasi kita. Singkat saja dan langsung masuk ke konten. Jika pendengar berhasil ditarik keingintahuannya, dipastikan presentasi kita berhasil.

Dalam tulisan (skripsi, tesis, disertasi) terkadang mengalir seperti cerita. Untuk presentasi ada baiknya dibalik. Sebanyak mungkin di akhir slide ada sesuatu yang akan dijawab pada slide berikutnya agar pendengar menanti-nanti dan menerka apa kiranya jawaban dari sesuatu yang saat ini ditayangkan di slide. Sebagai contoh, dalam disertasi saya menjelaskan analisa urban growth untuk menemukan dua driver baru yang akan diusulkan. Dalam presentasi saya balik, saya langsung tampilkan dua driver itu, kemudian saya munculkan pertanyaan ke audiens apa dasar dan bagaimana saya menemukan dua driver tambahan tersebut. Teknik ini banyak disarankan oleh video tutorial presentasi di youtube.

Buat Audiens Nyaman dan Memperoleh Manfaat

Agak sulit memang menemukan apa yang kira-kira bermanfaat bagi pendengar. Sebenarnya banyak hal-hal di sekitar kita yang tidak bermanfaat kok, tetapi bisa dibuat bermanfaat jika dikemas dengan baik. Video game, instagram, fesbukan seharian, mungkin kalau difikir-fikir ga ada gunanya tapi ternyata banyak yang tertarik. Mungkin tidak bermanfaat, tetapi jika audiens terhibur, dengan lelucon-lelucon yang membuat mereka nyaman, toh mereka akan merasa bermanfaat mendengarkan presentasinya. Mereka akan lupa pusingnya rumus-rumus yang kita presentasikan.

Lihat Tradisi

Tradisi di sini maksudnya hal-hal yang menjadi kebiasaan di suatu kampus. Terus terang saya berusaha mencari tahu. Caranya adalah dengan sering mengikuti sidang terbuka doktoral di kampus saya. Walaupun saya terkadang tidak mengerti kontennya, tetap saya lihat hal-hal lainnya. Ada jurusan yang keras, ada juga yang ketawa ketiwi hanya formalitas saja. Bagaimana dengan jurusan Anda? Silahkan jawab sendiri. Di hari sabtu, padahal libur, supervisor saya meminta datang. Di sana kami membahas power point untuk presentasi besok. Aneh juga di akhir pertemuan dia menjulurkan tangan dan mengucapkan selamat kepada saya. Saya baru “ngeh” ternyata saat itulah de facto saya berhasil menghilangkan huruf “c” dari Dr(c) saya, singkatan dari “calon”, artinya bukan calon doktor lagi, walaupun secara tertulis dan resmi setelah sidang presentasi besoknya. Jurus ampuh terakhir dan terhebat adalah DOA .. apalagi doa keluarga dan rekan-rekan kita. Sekian semoga menginspirasi.

Sustainable Urban Form

Riset tata kota fokus ke bentuk urban yang mendukung pembangunan berkelanjutan, pembangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan generasi sekarang, melainkan juga generasi yang akan datang (Steiner, 2008). Banyak sekali perdebatan mengenai bentuk urban yang cocok dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Di sini saya ingin memperkenalkan bentuk-bentuk sustainable urban yang diusulkan oleh peneliti.

Penelitian oleh (Jabareen, 2006) menjelaskan beragam bentuk urban yang sustainable. Berikut contoh-contohnya.

1. Neotraditional Development

Jika kita perhatikan kota Jakarta, terjadi perubahan dari urbanisasi menjadi kebalikannya, dikenal dengan istilah “post-suburbanization” (Firman, 2004; Firman & Fahmi, 2017). Maka para pakar urban berusaha mengurangi dampaknya dengan konsep tersebut, yaitu bagaimana menjaga penurunan penduduk “inner city” dan membangun juga kota-kota penyangga.

2. Urban Containment

Munculnya daerah-daerah “Sprawl” baru (saat ini Meikarta contohnya) membuat khawatir pemerhati tata kota akan dampaknya. Di Amerika konsep urban containment dimaksudkan untuk menghindari proses “sprawl” yang tidak baik. Walaupun ada juga sprawl yang baik, misalnya daerah industri khusus yang jauh dari pemukiman.

3. Compact City

Kota kompak (compact city) disukai oleh penata kota dari Eropa dan Amerika karena dapat mengurangi dampak negatif dari transportasi. Kota yang kompak membuat jarak tempuh menjadi rendah dan penggunaan kendaraan berpolusi menjadi berkurang. Bahkan orang cenderung berjalan kaki karena jarak antara satu tempat dengan tempat penting lainya dekat.

Kota kompak mengharuskan diversifikasi, artinya harus ada variasi dalam satu lokasi. Misalnya harus ada sekolah, pasar, tempat ibadah, dll. Jadi orang cukup berjalan kaki sudah bisa sampai ke lokasi tujuan. Bentuk-bentuk segregasi, misalnya kompleks khusus agama tentu, dll sebaiknya dihindari.

4. Eco City

Bentuk kota ini berpatokan dengan konservasi alam, ekologi, dan juga aspek sosial. Biasanya diterapkan di negara maju yang kesadaran warga dan keseriusan pemerintahnya tinggi akan faktor lingkungan. Walaupun demikian sebaiknya negara-negara yang kurang maju, atau ga maju-maju (berkembang terus), tetap mencontoh jenis kota ini mengingat makin puaanas aja tempat tinggal kita, contohnya saya yang di Bekasi. Semoga bermanfaat.

Referensi

Firman, T. (2004). New town development in Jakarta Metropolitan Region : a perspective of spatial segregation, 28, 349–368. http://doi.org/10.1016/S0197-3975(03)00037-7

Firman, T., & Fahmi, F. Z. (2017). The Privatization of Metropolitan Jakarta’s (Jabodetabek) Urban Fringes: The Early Stages of “Post-Suburbanization” in Indonesia. Journal of the American Planning Association, 83(1), 68–79. http://doi.org/10.1080/01944363.2016.1249010

Jabareen, Y. R. (2006). Sustainable Urban Forms: Their Typologies, Models, and Concepts. Journal of Planning Education and Research, 26(1), 38–52. http://doi.org/10.1177/0739456X05285119

Steiner, F. (2008). The living landscape – An Ecological Approach to Landscape Planning – Second Edition. Washington DC: ISLAND PRESS.