Google Street View masuk ke dalam Kampus

Selama ini kita mengenal google street view sebagai GIS tool yang merekam gambar di sekitar jalan yang biasanya jalan raya. Ternyata google tidak hanya jalan raya yang direkam,  lorong-lorong jalan di kampusku, yg motor tidak boleh lewat, pun direkam pula. Google meng-capture dengan kamera yang dibawa oleh seseorang dengan alat foto berupa rangsel yang dilengkapi dengan kamera “mata ikan” yang berupa bola. Ingin lihat lebih jauh bisa masuk ke link ini.

Hehe .. tampak sepeda merah kesayangan saya yang diparkir sembarangan (link google street AIT). Kalau tahu ada google lewat saya pasti keluar, selfie, walau pasti nanti wajahnya di “blur”. Tinggal naik tangga pas di depannya kamar kesayanganku, tempat berkutat dengan coding Matlab dan analisa ArcGIS. Lumayan, bisa jadi kenangan abadi, ha ha.

Keyboard USB untuk Microsoft Surface

Seharian saya dan teman-teman keliling pusat elektronik dekat kampus, Zeer, tetapi tidak berhasil menemukan penjual keyboard tablet microsoft surface atau yang dikenal dengan nama type cover. Seandainya ada pun itu untuk surface versi baru yang ukurannya tidak pas (kegedean) ditambah lagi harganya yang sama dengan handphone korea. Karena seringnya dipergunakan dengan cara memutar type cover 360 derajat akhirnya lembaran konektor antara keyboard dengan tablet terputus, hasilnya saya mencoba mengetik di surface dengan keyboard virtual dengan problematika yang ada.

Karena sudah terbiasa dengan mengetik buta yang mengandalkan rabaan di rumah jari maka teknik ini tidak mungkin bisa diterapkan pada keyboard virtual yang mengandalkan visual. Untuk darurat sih oke juga tetapi untuk menulis skripsi atau tesis tentu saja ribet karena lambat.

Sebenarnya ketika di dormitory (kos-kosan) saya lebih suka mengetik dengan laptop, tetapi ketika menulis di Indonesia dengan rutinitas keseharian yang padat, sepertinya tidak sempat mengetik dengan laptop yang harus menyiapkan meja, kabel, dan sejenisnya. Berbeda dengan tablet yang dengan cepat membuka aplikasi layaknya handphone. Mau beli online ragu, ditambah lagi tablet surface saya yang sudah berusia tiga tahun (mending beli baru sekalian). Tapi saya takjub dengan daya tahan baterai surface yang bisa dua hari untuk pemakaian normal, padahal sudah tiga tahun.

 

Akhirnya saya pakai jalan pintas, membeli keyboad berukuran kecil tapi bisa mengetik cepat di toko samping kampus (book store). Lumayan bisa mengetik cepat di kasur atau dipermukaan yang tidak rata, termasuk di pangkuan kita. Tapi ya begitulah, banyak aksara Thailand yang membuat keyboard jadi “ramai”. Memang agak ribet karena terpisah, tetapi kalau untuk mobile ya pakai keyboard virtual saja, toh paling mengetik singkat saja (keyboard ditinggal di rumah).

Perencanaan Wilayah Kota Bekasi 2010-2030

Setelah mengutak-atik optimasi dengan dasar sustainable development, tugas penelitian saya berikutnya adalah penerapan algoritma tersebut terhadap kebijakan wilayah kota Bekasi yang telah disetujui baik oleh walikota (waktu itu bapak Mochtar Muhammad) dan DPRD Kota Bekasi. Perencanaannya adalah pembuatan zona-zona wilayah: Komersil, Industri, Jasa, Tambang, Pemerintahan, Pemukiman Padat, Pemukiman Sedang, Pemukiman Rendah, dan ruang terbuka hijau (RTH). Rancangannya kira-kira sebagai berikut, diambil dari rencana tata kota Bekasi halaman 10.

Warna kuning muda, kuning, dan merah bata berturut-turut adalah perumahan kepadatan rendah, sedang, dan tinggi. Perumahan kepadatan tinggi memang dirancang untuk jenis perumahan vertikal. Sementara itu yang berwarna abu-abu adalah untuk industri, disusul berikutnya warna pink dan ungu yaitu untuk komersial dan jasa. Ada warna coklat di selatan kiri yaitu untuk tambang (berbentuk dua lingkaran), entah tambang apa, saya sepertinya harus mencari tahu.

Yang saya sedikit bingung adalah wilayah ruang terbuka hijau yang ditandai dengan warna hijau tua dan hijau muda, mengapa hanya sebesar itu? Memang di penjelasannya ruang terbuka ketika rancangan itu dibuat sebesar lebih dari 30%, tetapi luas sebesar itu diperbolehkan untuk dibangun menjadi rumah tinggal yang ujung-ujungnya akan mengurangi prosentasi tersebut. Memang sulit juga melarang penduduk untuk membuat rumah tinggal mengingat tanah itu memang tanah pribadi. Sebenarnya jika ingin OK, dapat meniru Singapura yang memaksa ruang terbuka 30% lebih dan penduduknya tinggal dalam rumah susun, seperti dapat kita lihat di situs street directory.

Lihat wilayah berwana hijau tua yang menandakan ruang terbuka hijau. Tapi memang sih, Singapura terpaksa membuat itu karena sekelilingnya negara lain, sementara Bekasi mengandalkan Bekasi kabupaten di sekelilingnya untuk ruang terbuka hijau, tetapi jika sekelilingnya tidak memperhatikan RTH, dan membangun seluruh lahan menjadi rumah (ekspansi orang kota Bekasi ke kabupaten), jadi sumpek juga dan suhu bisa tinggi seperti yang disindir oleh meme-meme bahwa Kota Bekas deket dengan matahari.

Sampailah saya tugas berikutnya, digitalisasi peta manual rencana tata ruang menjadi peta digital di atas agar bisa masuk ke algoritma yang sudah dirancang sebelumnya untuk optimalisasi. Gambar di atas adalah lokasi industri dan komersial. Untuk yang pengen tahu cara digitalisasi bisa lihat postingan saya sebelumnya.

Membuat Fungsi Alih Motor Listrik

Perkenalan saya dengan Matlab pertama kali adalah lewat bidang sistem kontrol/kendali. Waktu itu saya diminta dosen pembimbing untuk mensimulasikan sistem suspensi ketika ada beberapa respon masukan (impulse, step, dan sinusoidal) mengenainya. Kembali saya membuka buku catatan mata kuliah getaran dan teknik pengaturan. Untuk mensimulasikan sesuatu kita harus mampu membuat model matematis dari sistem yang akan kita simulasikan. Model matematis itu kemudian disimulasikan di Matlab untuk melihat respon dan kinerja dari model tersebut. Asalkan sudah dalam bentuk model matematis, Matlab mampu mensimulasikan tanpa memandang domain ilmu dari model tersebut, apakah kimia, elektro, ekonomi, biologi, dan lain-lain. Misalnya kasus motor listrik (atau bisa juga generator).

Gambar di atas adalah motor DC yang saya ambil dari situs kampus UPI ini semoga masih ada. Fungsi alih sendiri (dalam istilah Inggris transfer function) dari arti katanya fungsi yang mengalihkan dari satu masukan ke keluaran tertentu. Jika masukannya tegangan dan keluarannya tegangan yang lebih besar, bisasanya disebut penguat, tetapi ada juga masukannya putaran, misal potensiometer, keluarannya arus/tegangan dan sering diistilahkan dengan transducer. Ada juga istilah lainnya yakni sensor, yang merubah masukan tertentu seperti suhu, level ketinggian air, dan lain-lain menjadi tegangan atau arus yang masuk ke dalam perangkat elektronika.

Untuk kasus motor DC di atas jika dilihat, masukannya adalah tegangan dari baterai arus searah dan keluaranya adalah puntiran di motor em. Variabel s adalah variabel Laplace. Apa itu? Yah .. mau nggak mau belajar dulu dasar-dasar sistem kontrol. Karena nanti setelah ada variabel laplace ada lagi variabel z kalau sudah masuk ke sistem digital yang melibatkan metode cuplik/sampling. Untuk orang elektro tidak ada masalah dengan besaran-besaran di atas beserta satuannya yang pasti. Situs dari malang ini lebih lengkap dengan besaran dan satuan juga teknik simulasinya.

Jika J= 10, D=5, km=2, dan Rα=0.5 maka diperoleh fungsi alih sebesar, pembilang=2/(0.5*5)=0.8 dan penyebut=s(s*(10/5)+1)=s(2s+1). Buka Matlab dan masuk ke command window. Masukan instruksi ini:

Lalu muncul plot setelah instruksi masukan impulse diterima fungsi alih, demikian pula setelah masukan tangga (step) diberikan.

Ntah bener atau salah, mohon koreksinya. Tapi setahu saya, motor DC itu harus diberi beban karena tanpa beban dia akan bertambah kencang bahkan bisa merusak motor itu sendiri.

Submit Paper Lagi

Paper atau yang juga dikenal dengan nama artikel jurnal merupakan idaman bagi mahasiswa doktoral, terutama artikel jurnal internasional. Saking berharganya, pemerintah bahkan menurunkan syarat untuk naik dari lektor ke lektor kepala (associate professor) yang tadinya harus bergelar doktor menjadi boleh dengan gelar magister/master asalkan sudah mempublikasikan tulisan di jurnal internasional. Memang mempublikasikan tulisan di jurnal internasional saat ini berat karena harus memiliki kontribusi terhadap ilmu pengetahuan di bidang tertentu.

Saya sendiri jika disuruh memilih tentu saja memilih jurnal internasional yang paling gampang atau dengan kata lain syarat minimal saja yang terpenuhi. Tapi tetap saja sulit ditembus karena persaingan yang ketat dimana kita harus bisa meyakinkan reviewer bahwa sesuatu yang kita sampaikan di artikel kita memiliki nilai kebaruan (state-of-the-art). Berbeda dengan dosen biasa yang tidak sedang tugas belajar dimana jika naskah tidak diterima tidak begitu berpengaruh terhadap kesehariannya, dosen yang sedang tugas belajar sangat kurang nyaman karena statusnya sebagai pelajar dikejar-kejar oleh waktu. Apalagi yang kuliah di luar negeri dan tidak membawa serta keluarga. Dijamin halal .. eh galau.

Bersyukurlah rekan-rekan yang sudah publish jurnal, atau setidaknya naskahnya sudah diterima (accepted), artinya gelar doktor sudah di depan mata, tinggal menjaga hubungan baik saja dengan supervisor/advisor. Mujur saya menganut paham disertasi dengan beberapa objektif yang tiap objektif dapat dijadikan satu paper, jadi ketika sedang meneliti, satu persatu paper dapat dicoba untuk dipublikasikan. Sial memang jika kasus yang kita buat tidak bisa dijadikan jurnal kecuali 100% penelitian kita selesai, padahal ketika men-submit, butuh waktu berbulan-bulan. Jadi mahasiswa doktoral yang lewat dari rentang waktu normal, sepertinya sudah biasa.

So, untuk para calon mahasiswa doktoral yang sedang mencari kampus untuk studi lanjut, perhatikan aturan yang ada di kampus yang dituju tersebut. Perhatikan jenisnya: langsung riset, kuliah sambil riset, atau kuliah dulu baru riset. Jika Anda diterima di kampus yang langsung riset, maka berbahagialah, karena biasanya lulus lebih cepat dibanding jenis yang lain, apalagi yang terakhir seperti di kampus saya, kuliah dulu hingga IPK (g.p.a) di atas 3.50 baru siap-siap ujian kandidasi (kelayakan menjadi kandidat doktor) disertai dengan proposal penelitian. Proposal sangat menentukan, apakah Anda bisa segera menyicil publikasi jurnal atau menunggu restu dari pembimbing setelah riset selesai. Lihat tulisan sebelumnya. Jika membuat artikel yang dipublikasikan menunggu riset selesai (biasanya tiga tahun), wallahualam .. biasanya lulus lewat dari 3 tahun .. setidaknya 4 tahun alias four years .. (bukan for years lho).

Konversi Endnote (*.ens) ke Mendeley (*.csl)

Bagi yang masih berkutat dengan perkuliahan, berkecimpung di dunia perjurnalan, atau berprofesi sebagai peneliti dan dosen, sering kali mengalami kesusahan ketika dihadapkan dengan masalah sitasi (citation) dalam suatu makalah/paper. Jika kita mensubmit ke suatu jurnal, kita diharuskan mengikuti aturan sitasi dari jurnal yang akan kita submit kalau ingin jurnal kita diterima di penerbit tersebut. Repotnya antara satu jurnal dengan jurnal lainnya memiliki tata cara yang berbeda yang bisa memberikan ekstra bonus “pusing” di luar konten tulisan kita. Untungnya saat ini teknologi sistem informasi sudah berkembang dengan pesat dimana otomatisasi sudah biasa dijumpai. Kita tidak ingin diribetkan dengan prosedur-prosedur administrasi yang sebenarnya bisa digantikan oleh mesin.

Salah satu jurnal yang akan saya submit menggunakan format sendiri di luar format yang sudah ada. Jadi ketika saya buka microsoft word, saya tidak menjumpai style yang cocok dengan jurnal tersebut. Jika harus mengedit manual, rasanya menyita waktu.

Endnote

Software buatan thomson reuter yang membantu penulis untuk mendokumentasikan referensi ini sangat terkenal. Sayangnya aplikasi ini berbayar sehingga memberatkan para peneliti khususnya yang berdomisili di Bekasi, eh Indonesia. Sayangnya kebanyakan jurnal memberikan format style dalam bentuk endnote dengan extention *.ens.

Mendeley

Kabar baik muncul ketika pengembang opensource membuatkan software mirip endnote yang gratis. Software ini dapat diunduh di https://www.mendeley.com/ dengan terlebih dahulu sign up dengan user id email. Manfaat dari sign up adalah aplikasi yang kita install dapat disinkronkan dengan yang ada di web sehingga data pustaka kita dapat diakses dari mana saja.

Ketika file hasil download style akan digunakan di Mendeley, kesulitan muncul karena mendeley hanya mau menerima file berekstensi *.csl. Seharian searching di internet saya tidak bisa menemukan jawaban, bahkan di forum para pengguna mendeley sedikit memaksa dan momohon agar Mendeley membuatkan konversinya. Ternyata sudah ada agreement antara Mendeley dengan Endnote agar tidak saling kompatible sehingga pengguna Endnote tetap terjaga. Agak pelit juga sih.

Zotero

Muncullah pemain baru, dengan nama zotero. Sepertinya antara Mendeley dengan Zotero masih kerabat karena ketika saya klik about Mendeley, ada unsur zoteronya (koreksi kalau saya keliru). Aplikasi ini dapat diunduh gratis di situs resminya: https://www.zotero.org/download/

Ternyata ada keributan antara Zotero dengan Endnote karena Endnote menuduh Zotero melanggar kesepakatan untuk tidak kompatibel. Zotero memberikan sebagian besar format/Style dari jurnal-jurnal ternama di dunia dengan memasukan nama publisher di kolom pencarian.

Tinggal klik kanan dan unduh style-nya dalam format *.csl yang dikenal oleh Mendeley dan Zotero. Sungguh praktis, saya tidak perlu membuat citation secara manual lagi. Berikutnya tinggal mengimport dari Mendeley yang kita install. Jadi untuk mengkonversi dari Endnote ke Mendeley, kita perlu memiliki Zotero. Mengapa tidak menggunakan Zotero langsung? Alasannya karena Mendeley lebih lengkap fasilitasnya, menurut saya sih. Juga Mendeley bisa menempel di Word walaupun zotero juga bisa (tetapi saya gagal di office 2010).

Mengimpor Style Baru

Berikutnya adalah cara mengimpor style baru dari Zotero ke Mendeley. Buka Mendeley Desktop yang telah kita install masuk ke view – Citation Style – More Style.

Anda tinggal mengklik “get more style”. Arahkan download ke link download yang dari Zotero hingga style yang diinginkan muncul di list Mendeley. Selamat mencoba.

Basis Data di Matlab

Tahun 2000 merupakan tahun perkenalan saya dengan Matlab. Dosen pengajar pengenalan pengaturan (dulu namanya mekanisme servo dan kontrol) rencananya akan memberikan seminar khusus di kampus. Sayangnya ternyata acara itu karena satu lain hal di-cancel. Rencananya saya akan menggunakan software itu untuk tugas akhir saya dalam mensimulasikan sistem suspensi. Apa boleh buat, terpaksa belajar sendiri.

Setelah membuka-buka Matlab ternyata banyak fasilitas-fasilitas menarik yang bisa diexplore, apalagi waktu itu Matlab 6 sudah muncul. Versi ini jauh lebih menarik dibanding Matlab 5, versi sebelumnya. Dari kedokteran, sains, bahkan ekonomi pun bisa memanfaatkan Matlab, walaupun orang informatika waktu itu kurang menyukai karena “terlalu mudah” atau “hanya mengandalkan toolbox” dibanding dengan bahasa c++, visual basic, pascal (sekarang Delphi) yang lebih laris dipasaran dan banyak dipakai pengembang. Efeknya, buku-buku terbitan Matlab waktu itu masih amat langka, ditambah lagi waktu itu internet masih barang mahal dibanding sekarang. Tapi bagi pengembang metode (bukan terapan) Matlab sangat menarik karena dengan cepat bisa mengeksekusi metode-metode rumit buatannya, karena kelamaan jika terlalu berfokus ke coding. Salah satu kelemahan Matlab sehingga dijauhi pengembang waktu itu adalah sulit diterapkan ke sistem basis data (DBMS). Sempat membuka sampel penggunaan basis data ternyata basis data yang digunakan tersimpan dalam format “mat” khusus Matlab, tidak dengan Access, MySql, dan sejenisnya. Untuk menghubungkannya harus mengkonversi dari DBMS tersebut ke Excel atau “dat” file agar bisa dimanipulasi Matlab.

Dengan Matlab saya banyak menerima dana hibah penelitian dari DIKTI untuk mengutak-atik Soft Computing dengan metode-metode terbarunya baik penerapan atau memodifikasi metode tersebut. Dari Jaringan Syaraf Tiruan hingga Algoritma genetika sudah saya gunakan, hingga akhirnya saya dipaksa melibatkan DBMS karena data yang besar (big data) dengan ukuran dua giga byte ke atas. Apalagi jika data yang akan dimanipulasi real time yang harus berubah-ubah terus. Untungnya Matlab 7 sudah memberikan fasilitas menghubungkan Matlab dengan basis data, waktu itu saya menggunakan ruby on rail sebagai interface yang menampilkan hasil manipulasi genetic algorithms ke web lewat PostgreSQL

Karena banyak yang menanyakan cara menghubungkan Matlab dengan DBMS, plus pemrograman visualnya (GUI) akhirnya saya tulis ke dalam buku yang baru terbit Februari 2016 kemarin.

Entah sudah tersedia di toko-toko buku terdekat atau belum saat ini. Kebanyakan pembeli menggunakan situs online dari penerbit informatika, link-nya berikut ini. Ada beberapa contoh kasus seperti enkripsi sederhana terhadap database, pengolahan citra digital (digital image processing) dan clustering dengan Fuzzy C-Mean. Kali ini saya menambahkan dengan CD. DBMS yang saya gunakan adalah Microsoft Access sebagai perwakilan aplikasi desktop dan MySQL sebagai perwakilan aplikasi berbasis Web dengan ODBC sebagai jembatan penghubung dari Matlab ke DBMS lewat windows.

Untuk membuat buku yang sempurna mungkin membutuhkan waktu yang cukup panjang, sementara para mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir/skripsi/tesis dikejar waktu, ada baiknya buku yang ringkas dan sesuai kebutuhan tersedia di pasaran. Semoga bermanfaat, Amiin.

Teknik Mengetik Sepuluh Jari dengan Keyboard Virtual

 

Ketika sedang semangat-semangatnya mengetik dengan tablet surface yang dilengkapi dengan keyboard yang dikenal dengan nama type cover, ada masalah dengan konektor akibat seringkali melakukan flip ketika sedang membaca sehingga tidak dapat digunakan. Untuk memperbaiki sepertinya sangat sulit dan beberapa tukang servis spesialis keyboard menolak. Akhirnya terpaksa saya menggunakan keyboard virtual bawaan surface dengan segala problematika tentunya.

Mengetik Sepuluh Jari

Ada baiknya diulas terlebih dahulu teknik dasar mengetik yang dikenal dengan nama teknik sepuluh jari. Teknik ini mengharuskan mengetik suatu huruf/angka di keyboard dengan jari tertentu, misalnya huruf a dengan jari kelingking, spasi dengan ibu jari, dan sebagainya dengan harapan proses mengetik menjadi jauh lebih celat dibanding mengetik dengan dua atau beberapa jari saja (sering disebut juga teknik sebelas jari). Bagaimana supaya posisi jari tidak melenceng dan tepat di sekitar lokasi huruf yang akan siap diketik? Jawabannya adalah dengan meletakan jari telunjuk di rumah jari yaitu huruf a,s,d,f,j,k,l, dan ; (di keyboard virtual saya ‘). Untuk memudahkan penempatannya, tiap keyboard biasanya memberikan titik atau garis di buruf ‘f’ dan ‘j’ yang dapat diraba dengan telunjuk kita.

Mengetik Buta

Mengetik buta adalah mengetik tingkat lanjut yang tidak lagi melihat tuts di keyboard karena jari sudah mengetahui posisinya tanpa melihat. Mengetahui posisi dilakukan dengan meletakan jari di rumah jari yang dipandu oleh tanda titik atau garis di huruf ‘f’ dan ‘j’. Dulu mengetik dengan teknik buta sangat dibutuhkan terutama di jasa pengetikan yang hanya bertugas menyalin dari tulisan tangan ke tulisan cetak lewat ketikan apa adanya. Ketika mengetik, mata hanya terfokus ke tulisan tangan atau sumber lain seperti text book sementara jari mengetik tanpa melihat kecuali saat tertentu misalnya ganti baris (di mesin tik manual jaman dulu ada bel yang menginformasikan pengetik bahwa ketikan sudah hampir di bagian akhir baris dan harus dipindah ke baris berikutnya dengan menarik tuas ke sebelah kiri).

Mengetik dengan Keyboard Virtual

Bagaimana dengan keyboard virtual? Apa saja kesulitan yang dijumpai ketika menggunakan keyboard jenis baru ini (muncul ketika smartphone merajalela penggunaannya)? Sebagian orang yang sudah menggunakannya pasti sudah mengetahuinya. Salah satu pemicu munculnya keyboard virtual adalah kepraktisan dimana gadget (waktu itu keyboard qwerty secara fisik dikuasai oleh blackberry) tidak perlu menyediakan hardware tambahan untuk keyboard. Ketika akan mengetik secara otomatis gadget akan memunculkan keyboard virtual yang disediakan oleh android, ios, atau windows mobile.

Untuk orang yang mengetik non sepuluh jari sepertinya tidak memiliki perbedaan yang berarti baik mengetik dengan keyboard virtal maupun keyboard sesungguhnya. Bahkan mereka merasa lebih nyaman karena jari tidak perlu menekan lebih keras (ketika menggunakan keyboard fisik ala blackberry awal mereka bilang jarinya bentol-bentol). Tetapi bagi pengetik sepuluh jari seperti saya, muncul masalah baik dari sisi kecepatan maupun akurasi. Karena kebetulan keyboard rusak maka mau tidak mau berusaha memikirkan cara bagaimana nyaman dengan keyboard virtual.

Pertama-tama kita perlu mengetahui bagaimana prinsip kerja teknik mengetik sepuluh jari bekerja. Seperti sudah dibahas di muka, pada teknik ini jari diletakan dalam kondisi istirahat dengan menempel di rumah jari dengan panduan tanda khusus di huruf ‘f’ dan ‘j’. Tentu saja hal ini tidak dapat dilakukan dengan keyboard virtual mengingat keyboard akan dianggap ditekan ketika jari menyentuh huruf atau angka. Pertama-tama saya mencoba dengan meletakan jari di atas rumah jari tanpa menempel, tetapi sering terjadi kesalahan terutama di posisi kelingking. Akhirnya saya menemukan cara yang cukup akurat yaitu merubah tanda rumah jari dari ‘f’dan ‘j’ menjadi ‘a’ dan ‘;’ dengan seluruh jari membentu formasi lengkungan agar mata dapat melihat seluruh keyboard tanpa meninggalkan rumah jari. Setelah saya cek, untuk kecepatan tidak terlalu signifikan pengurangannya, hanya butuh latihan beberapa saat. Justru tangan sedikit lebih santai karena tidak perlu menekan keras untuk mengetiknya (ada jenis cidera tertentu bagi pengetik akibat tekanan kecil tapi berulang di jari). Untungnya vendor smartphone atau tablet menyediakan getaran atau bunyi ketika keyboard virtual ditekan agar pengetik dapat memastikan bahwa tuts sudah tercetak ketika terdengar bunyi yang biasanya mirip suara ketikan.

Bagaimana dengan mengetik teknik buta? Inilah salab satu kendala tidak mungkin menggunakan keyboard virtual dengan teknik buta (kecuali Anda punya indera keenam). Salah satu caranya adalah vendor menyediakan keyboard virtual yang membutuhkan tekanan ketika mengetik (tidak hanya menyentuh) agar jari bisa diletakan di rumahnya dan harus menekan ketika berniat mengetik. Untuk sementara tidak apalah tidak bisa mengetik dengan teknik buta di keyboard virtual, toh saat ini mengetik dengan menyalin buku sudah jarang saya lakukan, karena kebanyakan mengarang langsung ketika mengetik. Mohon saran, siapa tahu ada rumus yang lebih oke dari teknik yang saya tulis di atas. Mengetik di keyboard virtual itu keren juga, apalagi langsung mengetik di layar tablet dengan sepuluh jari, dijamin orang pada ngelihat karena tentu saja kesannya lebih futuritis.

Problem Touch Windows di Surface RT yang tidak Merespon

Setelah mencari cara menyelesaikan problem touch windows surface di internet beberapa lama saya tidak berhasil menemukan jawaban, baik jawaban praktis maupun jawaban inti permasalahan mengapa ketika logo windows di surface ditekan, hanya muncul getaran saja, tidak ada respon untuk ‘‘wakeup” atau berubah ke menu utama windows 8.1.

Berbeda dengan surface pro yang memang benar-benar laptop, surface rt merupakan windows versi tablet yang berprosesor ARM yaitu prosesor khusus tablet dan HP dengan penggunaan daya yang rendah sehingga mampu menghemat baterai tablet/hp. Salah satu keunggulan RT dibanding pro menurut informasi dari youtube adalah kecepatannya wakeup dari kondisi sleep. Jadi jika saya mengetik dan melakukan aktivitas lainnya sekaligus, saya tidak perlu menunggu waktu lama jika ingin melanjutkan mengetik lagi, tinggal menyalakan tablet saja. Nah di sinilah repotnya, setelah beberapa kali update, ternyata logo windows surface tidak merespon (hanya bergetar) ketika ditekan untuk ‘membangunkannya’. Sebenarnya bisa dilakukan dengan menekan tombol power, tetapi muncul kekhawatiran kalau tombol terlalu sering ditekan lama-lama bisa error walaupun saya yakin windows merancang tombol power yang tahan lama. Tapi tentu saja lebih oke jika membangunkan surface dengan tombol touch screen – nya karena sentuhan tidak terlalu melelahkan secara fisik.

Ada beberapa saran yang berhasil ditemukan dari internet, namun hanya satu saran yang berhasil yaitu mereset windows ke kondisi awal (factory setting). Ternyata berjalan normal kembali touch screen windowsnya walaupun terkadang harus menekan beberapa kali. Kuat dugaan bahwa ketika tombol touchscreen windows ditekan, sepertinya windows membutuhkan cukup banyak proses sehingga membutuhkan waktu, kecuali jika kondisi sleepnya hanya sesaat (ketika baca ebook tiba2 sleep). Bahkan pernah ketika ditekan saya tunggu hampir 1 menit baru lock screennya muncul. Jadi ketika update windows, tablet sepertinya berat dan agak kesulitan ketika wakeup lewat touch screen, atau karena windows surface versi anyar letak logonya di kanan bukan di bawah seperti versi pertamaya?

Memang banyak yang kecewa dengan surface rt karena tidak ada GSM dan tidak bisa diinstal aplikasi-aplikasi layaknya laptop (program exe seperti spss, matlab, dll). Tapi jika anda penulis atau penggemar internetan, surface rt memiliki keunggulan dibanding laptop atau surface pro karena wakeupnya yang cepat secepat anda menghidupkan hp ketika ingin menelpon dan tentu saja, baterainya yang tahan lama (kaget juga surface yang masih menyala dengan baterai masih ada ketika tiga hari tidak digunakan). Yang sedikit mengagumkan adalah kecepatan men-charge nya yang tidak sampai lima belas menit). Akhirnya saya males untuk mengupdate surface khawatir ada masalah. Sebelumnya juga ada masalah ketika update dimana windows memberikan sekuriti tambahan ke browser yang mengakibatkan saya tidak bisa akses ke internet kampus yang menggunakan proxy yang tidak tersertifikasi windows. Waktu itu saya melakukan reset windows dgn pilihan yg bukan reset factory setting (hanya update saja yang dibatalkan). Mohon saran di komentar bagi yang berpengalaman dengan windows surface.

Menulis Artikel Ilmiah … Edisi Galau

Setelah beberapa bulan melakukan riset kini saatnya menulis laporan dalam bentuk artikel ilmiah (research paper). Mungkin pembaca bertanya dalam hati “lalu?”. Ya itu, masalahnya, “Bagaimana?”. Masalah-masalah baru kemudian muncul yang sepertinya sama rumitnya dengan mengerjakan riset itu sendiri. Jika ada yang beranggapan artikel ilmiah itu hanya melaporkan hasil riset yang telah kita jalani, sepertinya kurang tepat karena pada saat riset kita berkomunikasi antara diri kita dengan problem, sementara pada penulisan artikel ilmiah, kita harus berkomunikasi dengan komunitas ilmiah. Video dari Cambridge di akhir postingan ini dapat jadi acuan bagaimana membuat artikel ilmiah yang tepat di era modern ini, era di mana pembaca menjadi perhatian utama mengingat ribuan artikel muncul setiap hari sehingga kebutuhan akan tulisan yang mudah dimengerti, singkat, dan sesuai kebutuhan pembaca sangat besar.

Tadinya karena kejar tayang saya membuat artikel ilmiah hanya berisi laporan apa saja yang saya lakukan di riset disertai dengan hasil dan kesimpulannya. Ternyata hasilnya kurang memuaskan dan banyak yang harus direvisi. Beberapa rekan menyarankan untuk menggunakan jasa proof reading guna pengecekan dari sisi bahasa (Inggris atau yang lain). Sayang, harganya lumayan selangit. Akhirnya saya coba sendiri dahulu, datang ke perpustakaan dan mencari buku-buku panduan penulisan karya ilmiah. Lumayan juga sedikit membantu, terutama dalam membuat komposisi paragraf yang berisi thesis statement, detail terhadap thesis statement, menyimpulkan, dan sebagainya. Tapi tentu saja itu hanya membantu dalam komposisi tulisan secara general. Untuk artikel ilmiah sepertinya perlu sumber lain.

Youtube sepertinya sarana yang baik, tetapi tentu saja sumber yang benar, karena banyak yang setelah saya lihat cuma bercanda saja. Kalau ingin sumber yang tepat, cari yang berasal dari perkuliahan di kampus-kampus ternama. Video di bawah ini sangat menarik karena disajikan oleh peneliti microsoft yang berpengalaman, dan tentu saja cocok dengan bidang saya yang IT. Penyampaiannya yang interaktif dengan para mahasiswa dan ide-ide nya yang masuk akal sepertinya sayang untuk dilewatkan. Hal-hal menarik dalam video ini adalah pertama penekanan pada introduction dengan statement yang menjelaskan menariknya problem yang akan kita selesaikan lewat contoh (example). Tujuannya adalah agar pembaca mudah mengerti dibandingkan dengan model lama ala texbook mata pelajaran matematika. Jika D adalah ini, X adalah ini, dan aksioma2 njlimet lainnya sepertinya akan membuat pembaca tidur, atau tampak o’on. Kedua, jangan melupakan etika, contohnya agar ide kita bagus dengan menjelek-jelekan ide orang lain. Jangan khawatir, penghargaan kita ke ide orang tidak akan mengurangi penghargaan orang terhadap ide kita. Ketiga, hargai pembaca jangan “ngerjain”. Ada penulis yang pembaca ke sini dan ke situ, trus dibilang, “terbukti ternyata jalan itu kurang tepat”. Tentu saja pembaca akan jengkel karena merasa diajak ngalor-ngidul. Langsung saja apa langkah tepat yang kita temukan sehingga diperoleh hasil yang memuaskan. Keempat, masalah bagian-bagian tertentu yang tidak perlu seperti “the rest of this paper …” yang berisi isi dari paper ini karena hampir pasti tidak akan dibaca (langsung dilewati). Juga ada yang unik dimana “related works” tidak disarankan di awal. Sepertinya ini masih kontroversi, coba lihat aja sendiri di video itu. Terakhir adalah jangan marah ketika dikritik pembaca karena kritik oleh pembaca itu adalah hadiah terindah dari orang yang telah meluangkan waktu membaca karya kita. Selamat menikmati … oiya, sayangnya bahasa Inggris.

how to write

Algoritma Genetika dengan Toolbox Matlab

Genetic Algorithms (GAs) digunakan untuk mencari nilai optimal (maksimum atau minimum) suatu fungsi. Fungsi itu dikenal dengan istilah fitness function, atau ada juga yang menyebutnya fungsi objektif. Sebelumnya optimasi dilakukan dengan cara matematis, kalau kita inget-inget lagi pelajaran SMA dengan menurunkan suatu persamaan dan disamadengankan dengan nol. Tetapi masalah muncul jika persamaan itu memiliki banyak nilai optimal, karena nilai optimal akan terjebak dalam lokal optimum. Contohnya adalah fungsi rastrigin dari Matlab yang memiliki banyak jebakan local minimum dan hanya ada satu global optimum (kayak tempat telor ya).

Ok, kita coba mengoptimasikan satu fungsi objektif dari penanya: y = 2*x(1)+3*x(2)+4*x(3)+4*x(4). Dengan constraint: 10<x(1)<20, 30<x(2)<40, 50<x(3)<60, 70<x(4)<80. Kayaknya susah. Sebelumnya, buat terlebih dahulu fungsinya di m-file. Praktisnya ketik saja edit fungsi jika kita mau membuat fungsi objektif itu bernama fungsi. Tekan “yes” jika ada pesan bahwa tidak ada m-file bernama “fungsi”. Berarti fungsi bernama fungsi itu tidak dimiliki oleh bahasa built-in bawan Matlab. Ketik fungsi y di atas di m-file editor yang baru saja terbuka.

Kok Cuma gitu? Ya iyalah, coba tes dengan x1, x2, x3, dan x4 berturut-turut 1,2,3, dan 4 di command window dengan mengetik y=fungsi([1 2 3 4]). Jawabannya harus 36 dan tidak ada pesan error. Oiya, ini harus benar, karena jika sampai sini tidak berhasil mengikuti ya dijamin ga bakal bisa terus ke algoritma genetik, tapi kalo hanya ingin membaca saja ya rapopo.

Seperti biasa, cara termudah mengoperasikan Matlab adalah dengan menggunakan toolbox yang tersedia. Untuk GAs, karena masuk dalam kategori optimization toolbox, gunakan fungsi optimtool di command window.

Setelah memilih jenis optimasinya (GAs), isi nama fungsi didahului @, jumlah variabel (4 variabel) dan perhatikan teknik mengisi bound yang sesuai persoalan. Di bagian kanan masih ada sebenarnya, tapi ga wajib. Centang pada isian plotting pada best fitness dan best individual sehingga ketika tombol “Start” ditekan, proses optimasi akan disertai pergerakan grafik yang interaktif. Oiya, tolong dicek benar atau tidak kalau itu nilai minimum. He he .. kayaknya ga perlu pake GAs saya juga bisa nebak, ya pasti batas bawah lah jawabannya (10, 30, 50, dan 70) soalnya fungsi kuadrat (membesar terus). Coba ganti fungsi yang lain.

Progress Meeting …

Bagi pembaca yang pernah mengenyam pendidikan doctoral pasti mengenal istilah progress meeting. Atau mungkin dengan istilah yang berbeda dengan aturan yang berbeda pula. Untuk level sarjana atau master biasanya karena jangka waktu riset yang hanya setahun terkadang tidak dilakukan progress meeting. Kalaupun ada tergantung kebijaksanaan dari dosen pembimbing yang bersangkutan. Sementara jenjang doktoral karena fokus utamanya adalah riset maka perlu adanya progress meeting yang fungsinya memantau perkembangan risetnya. Terkadang menjadi penentu apakah mahasiswa yang bersangkutan boleh meneruskan risetnya, ganti judul, ganti objektive atau sialnya dikeluarkan alias drop out. Biasanya pertemuan ini dilakukan menjelang akhir-akhir semester, bahkan jika supervisor, chair, atau advisor mau, ada yang dijadwalkan pertemuan tidak resmi tiap minggu atau tiap bulan sekali untuk memantau perkembangan riset mahasiswa yang bersangkutan.

Berbeda dengan level di bawahnya, program doktoral sangat tergantung dari advisor. Sulit sekali ganti advisor kecuali dalam keadaan darurat dimana si advisor secara keilmuan tidak bisa membimbing lagi. Jika hanya karena si advisor pindah kampus, maka mahasiswa doktoral yang bersangkutan tetap menjadi siswa didiknya. Cara komunikasinya bisa dengan email, chatting, atau video conference jika lokasi kerjanya jauh dari tempat mahasiswa tersebut. Bagi Anda yang mendapat jadwal pertemuan rutin, mungkin agak kewalahan karena selalu dipaksa ada kemajuan tiap pertemuan tetapi biasanya lulus dengan lancar. Sementara saya yang hanya satu kali pertemuan progress jika terlena akibatnya fatal, minimal kalang kabut menjelang progress meeting yang jadwalnya sekehendak hati supervisor/advisor. Pemerintah melalui direktorat pendidikan tinggi (DIKTI) yang sekarang pisah dengan pendidikan dasar dan menengah dan gabung dengan riset dan teknologi (RISTEK) menjadi kementrian RISTEK DIKTI menyadari hal ini, maka ketika menyeleksi calon penerima beasiswa akan memantau hubungan calon penerima beasiswa dengan calon supervisor/advisor. Email baik dari calon sepervisor ke calon mahasiswanya atau sebaliknya diminta untuk dilampirkan sebagai berkas syarat penerimaan beasiswa. Walaupun topik disertasi bisa berubah dalam perjalanannya, topik saat akan mengajukan beasiswa menjadi bahan pertimbangan. Ada baiknya topik memang menguntungkan pemberi beasiswa, jika DIKTI ya topiknya atau study area-nya di Indonesia.

Anda akan tersiksa ketika mengambil topik yang tidak disukai mengingat riset level doktoral sangat panjang dan beragam jenisnya. Ada yang tipenya objektif 1, objektif 2, dan seterusnya dengan antara objektif satu dengan lainnya bisa menghasilkan satu tulisan di jurnal, tetapi ada juga yang tidak bisa dibuat satu jurnal langsung karena antara satu objektif dengan objektif lainnya saling berkait, dan ini yang menjadi masalah ketika ada syarat kelulusan publikasi jurnal. Akan kewalahan jika selesai objektif terakhir tetapi jurnal selalu gagal diterima. Kalaupun diterima terkadang proses hingga publish cukup panjang. Untungnya terkadang kampus sudah meluluskan asalkan paper sudah diterima walaupun belum diterbitkan. Tetapi jika Anda suka dengan riset Anda, walaupun sulit dan cenat-cenut, Anda akan berusaha dengan segala daya dan upaya untuk menemukan jawabannya. Saya sendiri banyak memperoleh jawaban dari permasalahan yang muncul tidak di meja belajar. Terkadang ketika nongkrong di warung kopi, bangun tidur, ketika beribadah (ini yang menjengkelkan), atau ketika sedang bertapa di WC.

Apa sajakah biang keladi lamanya lulus seorang mahasiswa doktoral? Sebelum saya berangkat studi lanjut saya dikaruniai ngobrol dengan tokoh-tokoh di bidangnya (oiya bidang saya IT “pindahan”). Seorang doktor dari UI mengatakan kepada saya bahwa, dia berusaha membuat mahasiswa doktoralnya lulus, tetapi karena jarang bimbingan dan sibuk kerja, banyak juga yang putus ditengah jalan, alias “muntaber”, mundur tanpa berita. Sementara pa Onno Purbo, ketika makan bareng di kampus unisma selepas seminar mengatakan jika ingin lancar sidang doktoral (defense), buat saja publikasi sebanyak-banyaknya, nanti di presentasinya sebutkan saja “sudah dipublikasi di jurnal .. ini” ketika membahas topik tertentu. Tetapi kenyataannya karena mungkin itu levelnya dia, syarat satu publikasi saja susah apalagi sampai lima begitu.

Setelah progress ? ya santai temporer .. alias liburan semester

Update: 6 Des 2015

Ternyata harus utak-atik paper dulu sebelum balik. Siapa tahu bisa publish.

Update: 23 Maret 2016

Alhamdulillah baru saja submit ke jurnal internasional, semoga diterima/accepted, amiin…

Update: 10 Februari 2017

Setelah sekali ditolak (lihat update sebelumnya), akhirnya naskah tulisan saya diterima dan sudah dipublish di Jurnal internasiona. Tinggal lanjut menyelesaikan laporan disertasi, semoga lancar.

Fungsi Erase sebagai Reverse Clip di ArcMap

Clip sesuai dengan maknanya adalah memotong. Jadi suatu polygon dapat kita potong menurut bentuk tertentu. Hasil akhirnya adalah polygon yang hanya berada di wilayah yang dijadikan pemotong tersebut. Untuk jelasnya dapat Anda lihat di link resminya ini untuk kasus reverse clip. Apa itu reverse clip? Mudah saja, artinya kebalikan clip jadi pemotongnya malah tidak terdapat polygon atau data dari yang dipotong.

Dalam ArcGIS, fungsi yang digunakan adalah fungsi Erase. Untuk berlatih, misalnya kita sudah memiliki region, katakanlah lokasi yang diperbolehkan untuk membangun seperti gambar berikut ini.

Kemudian ternyata ada aturan bahwa ruang terbuka hijau (RTH) tidak boleh didirikan bangunan untuk menjaga kondisi agar layak dihuni. Polygon dihatas harus dikurangi dengan polygon RTH tersebut.

Seperti biasa search fungsi “erase” untuk memunculkan jendela erase. Pilih shape file yang akan diclip serta shapefile clippernya. Jangan lupa arahkan lokasi shapefile baru hasil erase tersebut. Jika sudah tekan OK dan tunggu hingga proses erase selesai.

Jika berhasil Anda akan memperoleh shapefile baru yang telah dikurangi oleh clipper. Bagi Anda yang akan mengekspor shapefile ke Matlab ada baiknya anda masuk ke Environment dan men-disable z dan m agar dihasilkan polygon 2D karena terkadang Matlab hanya mau polygon saja (bukan polygonZ).

Menghitung Luas Area Polygon di Arcmap 10

Terkeadang kita diminta berapa luas wilayah yang cocok untuk menanam padi, ruang terbuka hijau, dan sebagainya. Apalagi bagi Anda yang berkecimpung dalam dunia perencanaan wilayah. Berikut ini contoh ruang terbuka hijau di kota bekasi yang akan dihitung luas areanya.

Pertama-tama adalah membuka tabel dengan cara klik kanan pada map di table of content. Buat satu field baru untuk menampung area di tiap-tiap polygon karena pada contoh di atas ruang terbuka terdiri dari banyak polygon.

Setelah menambahkan field baru beserta format datanya sorot semua dan klik kanan untuk melakukan kalkulasi geometri. Oiya, pilih format data dengan presisi beberapa digit di belakang koma, karena luas kebanyakan berformat desimal.

Saya menggunakan unit kilometer persegi yang jika salah memilih format angka, banyak yang berupa angka nol. Dengan memilih double saya bisa memperoleh beberapa digit di belakang koma, tentu saja sesuaikan dengan kebutuhan, karena sangat berhubungan dengan resource. Berikutnya kita akan menghitung total area seluruh polygon tersebut. Sorot Id dan pilih Summarize setelah klik kanan.

Total area dapat anda lihat dengan cara yang sama tapi dengan menekan Statistics … yang akan memunculkan data-data seperti di bawah ini.

Perhatikan, Anda telah berhasil mendapatkan jumlah sebesar 35,28 km persegi. Tentu saja Anda harus memastikan projection sudah benar. Luas kota bekasi adalah sekitar 210,49 km persegi (atau 21.049 hektar), jadi prosentasi ruang terbuka kota tercinta ini adalah 16.76 persen, harus dipertahankan syukur-syukur bisa ditambah hingga 20 – 30 %. selamat mencoba.

Can’t delete DBF field from ArcMap 10 table view window

Ketika utak-atik tabel, terutama saat ingin mendelete, ternyata tidak ada pilihan “delete”. Bingung juga, yang membuat saya bingung adalah kenapa dulu bisa sekarang tidak bisa? Maklum problem “orang tua”. Akhirnya iseng-iseng buka google dengan kata kunci “cannot delete table arcgis” (siapa tahu dapat jawaban yang memang biasanya sih ketemu jawabannya). Ternyata ketika saya buka situs khusus ArcGIS, aneh juga banyak yang bilang itu “bug”. Yang “gila”nya lagi banyak yang menyarankan untuk mengekspor shapefile ke shapefile yang baru, tentu saja merepotkan bagi saya.

Tadinya saya percaya, tetapi saya bertanya dalam hati, kenapa kemarin bisa sekarang tidak bisa, tentu saja tidak ada yang error di aplikasi. Setelah saya ulang lagi cara saya menginput data, ternyata ketemu solusi masalah di atas. Langkah pertama adalah mengklik kanan peta yang akan anda utak-atik tabelnya.

Pilih Edit FeaturesStart Editing. Klik “Continue” ketika muncul jendela baru. Solusi yang sederhana, walaupun sempat merepotkan. Jadi, jangan terlalu percaya dengan google, dan coba selesaikan terlebih dahulu sendiri, anggap aja olah raga asah otak, he he.