Memetakan Landuse dari Satelite

Untuk mengetahui landuse suatu wilayah kita bisa memesan dari instansi baik swasta maupun pemerintah yang bertanggung jawab menyediakan data-data geografis suatu wilayah, di Indonesia kita mengenal bakosurtanal (www.bakosurtanal.go.id) yang berada di Bogor. Tetapi masalahnya data yang diberikan hanya membedakan secara global seperti bangunan, pertanian, dan sebagainya. Jika kita ingin mengetahui apakah suatu bangunan itu perumahan, rumah sakit, sekolah, atau yang lainnya mau tidak mau kita harus mencari tahu sendiri. Cara mudahnya adalah dengan bantuan google baik google search ataupun google earth. Untungnya ArcGIS sudah menyediakan layanan online tersebut di dalam softwarenya.

Pilih imagery atau Imagery with labels. Sepertinya yang kedua lebih jelas, karena ada labelnya. Zoom ke arah lokasi yang akan dituju, misalnya kota bekasi.

Isi nama yang jelas agar mudah dicari ketika akan kembali lagi ke lokasi tersebut.

Pilih proyeksi sesuai dengan lokasi agar dapat diintegrasikan dengan shapefile lainnya. Klik kanan di peta dan pilih Data Frame Properties. Ini merupakan hal penting, lihat tulisan sebelumnya.

Pilih UTM zona jabotabek, yaitu di daerah S (south), atau sesuai dengan negara Anda tinggal. Ingat !!! bekasi di bumi .. bukan di planet lain.

Tambahkan peta patokan untuk memetakan landuse pertama misalnya residential/perumahan. Jangan lupa simpan terlebih dahulu project Anda untuk jaga-jaga agar jika ada masalah, data tersimpan. Zoom ke arah lokasi yang ingin dilihat:

Mulai menambah satu shapefile baru untuk landuse type resident. Buat dengan format vektor titik (point vector). Cara yang dianjurkan adalah dengan menambah satu file baru di catalog dengan nama dan jenis tertentu.

Beri nama sesuai

Klik Edit untuk mengeset proyeksi sesuai dengan proyeksi basemap dan kawan-kawan. Jika sudah maka satu map baru berformat titik muncul di Table of contents pada layer Anda. Karena saya menggambar lokasi yang berpopulasi rendah, maka saya harus mencari di area yang bisa ditambah perumahan di lokasi tersebut, biasanya di pinggiran kota. Lihat tulisan sebelumnya tentang menggambar polyline jika ingin mengetahui bagaimana menggambar polyline.

Biasanya harus menekan shapefile yang akan diedit agar pilihan menggambar titik muncul.

Karena terlalu banyak jika satu rumah untuk satu titik, maka bisa diwakilkan beberapa rumah untuk satu titik, di sini saya ambil kira-kira sepuluh rumah atau satu blok.

Jangan lupa menghentikan proses editing jika sudah selesai, dilanjutkan dengan menekan tombol simpan ketika muncul pesan untuk menyimpan hasil editing. Edit dengan simbol yang Anda inginkan. Selamat mencoba ..

Digitalization dari Peta Manual

Terkadang instansi yang kita minta datanya hanya memiliki data cetakan biasa, sehingga untuk melakukan analisa diperlukan konversi ke data digital. Misalnya kita akan mendigitalisasi wilayah hutan di kota Bekasi dengan data hutan jawa barat. Scan peta manual tersebut dengan resolusi yang tinggi karena kita hanya menggunting pada wilayah tertentu saja yang kecil, misalnya kota bekasi.

Atau kalau mau enak gambarnya dicrop aja sebesar kota bekasi. Klik kanan di menu dan aktifkan menu georeferencing. Minimal dua pasangan titik bisa membuat referensi geografis dari gambar/image tersebut. Pasangan pertama merupakan titik gambar dan titik shapefile yang sudah terproyeksi, begitu juga pasangan titik kedua. Perlu dua titik karena jika hanya satu titik, Arcgis tidak sanggup mengakuratkan hasil karena ukuran/skala yang biasanya kacau.

Kalo sudah selesai maka buat shapefile baru dengan tipe polygon untuk membuat area ruang terbuka yang nantinya menjadi dasar dalam membuat analisa suitability.

Atur dulu proyeksinya samakan dengan proyeksi kota yang telah diset sebelumnya. Setelah itu mulai proses penggambaran. Lakukan proses menggambar polygon dengan mencontek dari peta cetak yang sudah digeoreferencing, hasilnya adalah data ruang terbuka yang berada tepat di kota bekasi (berwarna biru muda).

Membuat Peta Jalan dari Open Street Map

Data merupakan aset yang sangat berharga. Dengan mengolah data kita bisa memetik keuntungan dan manfaat dari data tersebut. Menyadari hal itu banyak orang yang butuh data mengeluarkan kocek yang besar untuk mendapatkan data. Akibatnya penyedia data terkadang merahasiakan data yang dimilikinya. Hal ini bisa menguntungkan bisa juga merugikan. Terlepas dari hal itu, karena data geografis menyangkut hajat hidup orang banyak, sangat dibutuhkan data yang dapat diakses oleh semua orang, salah satunya adalah peta jalan. Sebenarnya sudah banyak aplikasi baik desktop, web-based, atau android yang dapat mengakses peta jalan ini, tetapi peneliti membutuhkan peta tematik tertentu yang akan digunakan untuk analisa spasial. Ok, langsung saja buka ArcGis, dan tambahkan satu basemap dengan nama Open Street Map.

Cukup banyak data yang tersedia, baik topography peta satelit, laut, dan sebagainya. Di sini saya akan mencoba membuat peta jalan. Jika Anda telah memiliki peta jalan, dapat Anda tambahkan di ArcMap, jangan lupa samakan terlebih dahulu proyeksinya, lihat postingan sebelumnya. Data jalan sebenarnya bisa dibeli di Bakosurtanal untuk negara Indonesia, sayangnya berbayar (ada perpres nya). Akan tetapi beberapa blogger telah memiliki data tersebut dan dengan baik hati menshare. Masalahnya adalah datanya tidak Uptodate. Contohnya adalah kota Bekasi, tampak fly over yang mengarah ke sumarecon belum digambar, oleh karena itu saya akan mencoba menggambarnya.

Klik kanan pada layer Jalan – Edit Fiture – Start Editing. Jika belum muncul juga jendela Create fiture, klik editor, masuk ke Editing Windows dan klik Ceate features.

Dobel klik pada objek Jalan, yang merupakan objek polyline (garis/lengkungan). Ternyata ada sedikit masalah yaitu pesan berikut ketika selesai membuat satu polyline.

Sepertinya ArcMap tidak sanggup memetakan garis tersebut. Oleh karena itu kita kembali selidiki shapefile jalan yang telah kita proyeksikan sebelumnya. Ternyat koordinat belum ada ukurannya:

Lalu apa yang harus dilakukan? Tentu saja harus mengisi koordinat yang sesuai pada layer Jalan tersebut. Cara penyelesaian saya adalah dengan mengekspor fitur ke file lainnya dengan mengklik kanan layer Jalan – Data – Export Data, dan pilih this layer source data, isi nama file baru hasil export tersebut. Hasilnya harus seperti berikut ini dimana polyline baru berhasil ditambahkan, karena banyak harus yang saya tambahkan, capek dan membosankan, teruskan sendiri ya.

Mengatasi Problem Koordinat dan Proyeksi di ArcGIS

ArcMap adalah salah satu fasilitas yang tersedia di ArcGis. Fungsinya mirip ArcView yang merupakan versi lawas dari ArcGis. Ketika menambah satu layer di ArcMap terkadang muncul pesan berikut ini:

Atau mungkin pesan lain yang mengatakan koordinat belum teridentifikasi dengan jelas. Tentu saja kita bisa mengklik ‘OK’ dan peta tampak di ArcMap. Masalah akan muncul jika ArcMap kita terdiri dari lebih dari satu shapefile yang beda koordinat dan proyeksinya. Untuk pesan di atas kita diminta menyamakan proyeksi shapefile tersebut. Cara yang terstruktur adalah dengan membuka Arc Catalog, dan cari file yang akan disamakan proyeksinya tersebut.

Klik kanan dan masuk ke propertis. Samakan proyeksinya dengan layer BaseMap seperti pada gambar di atas. Apa itu BaseMap, akan dijelaskan pada postingan berikutnya. Samakan seperti pada gambar di bawah ini:

Di sini saya menggunakan WGS 1984 UTM Zone 48S yang merupakan wilayah jabotabek. Jika berhasil, maka Anda akan melihat dua layer yang sekarang memiliki proyeksi yang sama. Atur susunan layer karena jika dua poligon saling berimpit, salah satunya akan tertutup. Akhirnya tampak seperti gambar di bawah ini:

Selamat mencoba, atau mungkin ada teknik lain yang lebih ok, tolong dishare.

Membuat Digital Elevation Model (DEM) dari Peta Kontur

Untuk menentukan lokasi yang tepat terkadang ada syarat yang mengharuskan kemiringan tertentu, misalnya lokasi sekolah, perumahan, dan lain-lain. Oleh karena itu dibutuhkan data layer yang digunakan untuk menentukan lokasi dengan syarat tersebut. Biasanya syaratnya tidak hanya slope, jarak tertentu dari jalan raya, polusi, daerah rawan bencana dan lain sebagainya. Untuk DEM sendiri biasanya data yang tersedia berupa kontur yaitu garis-garis yang merepresentasikan ketinggian tertentu. ArcGIS memiliki fasilitas topografi untuk membuat DEM yang bertipe raster agar lebih mudah di-overlay dengan kriteria-kriteria yang lain.

Buat project baru dengan nama misalnya dem, kemudian tambahkan shapefile peta kontur lokasi yang akan dibuat DEM-nya. Buka Arc Catalog, drag file shapefile ke Table of Contents.

Buka ArcToolbox, dan di 3D analysis tool di bagian raster interpolation pilih topo to raster yang akan mengkonversi topografi menjadi raster. Isi shapefile yang dibutuhkan, untuk extent keluaran bisa dibatasi untuk region tertentu. Isi nama file keluaran dari hasil proses interpolasi ini. Tunggu hingga ArcGIS menginformasikan berhasil atau tidaknya proses konversi dengan memunculkan pesan berikut di pojok kanan bawah komputer.

Jika silang merah, berarti ada yang salah dengan proses tersebut. Jika berhasil, DEM siap digunakan. Selamat mencoba.

 

Error 000824 the tool is not licensed

Mempelajari software baru sangat menjengkelkan tetapi menyenangkan. Kita bisa mengetahui kecanggihan hasil karya orang yang tidak jarang membuat kita takjub. Walaupun kita tidak boleh tergantung dari tools, tetapi untuk menuangkan ide tentu saja kita membutuhkan alat yang dapat merepresentasikan isi kepala kita dengan cepat dan gampang terlihat. Untuk masalah data spasial, ArcGIS menjadi andalan beberapa peneliti. Software buatan ESRI ini terus mengembangkan versi-versi terbarunya agar mudah dan nyaman digunakan, salah satunya adalah proses pembuatan model.

Lisensi ArcGIS cukup mahal, tetapi biasanya institusi-institusi pendidikan, pemerintah, dan instansi lain biasanya telah membeli lisensi. Walaupun sudah ada versi open source yang gratis, sepertinya ArcGIS masih menjadi andalan dan banyak dipakai oleh peneliti-peneliti. Paper-paper di jurnal-jurnal internasional banyak kita jumpai penerapan software ini. Kembali ke model, setelah berpusing-pusing ria dengan problem sistem koordinat dan proyeksi, muncul masalah baru ketika akan melakukan model suitability analysis yaitu error 000824 the tool is not licensed. Sungguh menjengkelkan, karena hari itu saya sudah jenuh membaca ketika melakukan searching di google. Akhirnya saya mencoba membuka youtube, karena tidak perlu membaca, tinggal mendengarkan sambil melamun 🙂.

Ternyata beres juga masalah tersebut, dengan caru masuk ke menu Customize – Extension, lalu centang fasilitas-fasilitas yang kita butuhkan. Atau centang saja semua, beres sudah masalah.

Menentukan Suatu Titik di Dalam atau di Luar Polygon

Setelah berhasil merancang algoritma yang berfungsi mengoptimasi beberapa lokasi landuse, berikutnya adalah merancang optimasi dengan batasan. Tidak ada gunanya merancang sistem yang mengoptimasi lokasi optimal tetapi tidak melibatkan batasan tertentu. Batasan di sini misalnya lokasi yang menjadi target lokasi optimal harus bebas banjir, tidak berbahaya, dan aspek-aspek suitability/kesesuaian sesuai jenis peruntukan lahannya (perumahan, kantor, komersial, dan lain-lain). Dengan demikian saat proses optimasi, harus terlebih dahulu dipastikan bahwa kandidat lokasi tersebut berada di dalam region yang diperbolehkan. Istilah untuk optimasi jenis ini adalah constraint optimization.

Ilmu yang mempelajari apakah satu titik berada di dalam dan di luar suatu polygon adalah computer graphic. Secara gampangnya, suatu titik berada di dalam suatu area apabila beririsan dengan garis/lengkungan area tersebut tepat satu kali, dimana garis itu ditarik dari titik yang akan diuji pada sumbu x atau sumbu y keluar/menjauh. Jika beririsan dua kali, atau tidak sama sekali, maka dipastikan titik tersebut berada di luar bidang area tersebut. Cukup sederhana tetapi prakteknya sangat sulit. Setelah searching di internet, ternyata sudah banyak yang membuat M-file dengan bahasa Matlab, salah satunya adalah pada link berikut ini.

Karena Area of Interest (AOI) riset saya adalah kota Bekasi, maka saya membutuhkan region kota Bekasi dalam format shapefile (*.shp). Data dapat diunduh (biasanya berupa data untuk seluruh kota di Indonesia). Lakukan proses clipping untuk menemukan region kota Bekasi saja. Setelah itu impor ke dalam workspace dengan instruksi:

  • data1=impor(‘bekasi_city.shp’);
  • y=transpose([data1.X;data1.Y]);
  • land=(y);

Fungsi impor saya buat sendiri, untuk mempermudah saja, yaitu fungsi shaperead, yang bisa Anda lihat dengan mengetik ‘help shaperead’ di command window untuk lebih jelasnya. Untuk melihat secara visual regionnya, gunakan ‘mapview’ dan buka file shapefile yang Anda miliki.

Letakkan kursor di dalam region kota Bekasi, catat koordinatnya, kemudian cek apakah berada di dalam kota Bekasi atau di luar kota Bekasi. Misalnya titik yang berada di dalam adalah (106.98, -6.27), ikuti instruksi berikut ini untuk mengecek apakah berada di dalam atau di luar.

  • p1=[106.98 -6.27]
  • p1 =
  • 106.9800 -6.2700
  • >> in=inpoly(p1,land)
  • in =
  • 1

Perhatikan, Matlab menjawab 1, yang berarti titik berada di dalam kota Bekasi. Bagaimana jika di luar kota Bekasi? Arahkan mouse di luar kota Bekasi, catat koordinatnya, misalnya (107, -6), test lagi:

  • p=[107 -6];
  • in=inpoly(p,land)
  • in =
  • 0

Matlab menjawab nol, yang artinya di luar region/area. Jadi kode teruji benar. Terjawablah sudah problem menentukan suatu titik di luar atau di dalam region yang nantinya akan diintegrasikan dengan algoritma optimisasi. Akhir kata, fungsi di atas juga bisa digunakan untuk deretan titik, tidak harus satu titik saja. Misalnya kedua titik di atas, titip pertama p dan titik kedua p1, akan dicek secara bersama, kita tinggal menggabungkan kedua titik tersebut menjadi variabel titik:

  • test = [p;p1]
  • test =
  • 107.0000 -6.0000
  • 106.9800 -6.2700
  • in=inpoly(test,land)
  • in =
  • 0
  • 1

Yang artinya titik pertama di luar dan titik kedua didalam. Selamat mencoba dan bermain-main dengan data spatial dengan Matlab.

Koneksi Matlab dengan ArcGIS/ArcView

Sempet juga saya kelabakan ketika menerima hibah penelitian tentang spatial data yang diintegrasikan dengan algoritma tertentu. Karena kepepet, waktu itu saya menggunakan GUI matlab untuk membuat peta seperti arcgis dan juga bantuan aplikasi google map/earth yang ditempel di web berbasis ruby on rails, karena waktu kuliah web technology saya diajarkan bahasa pemrograman ruby on rails. Hasilnya kira-kira berikut ini:

Meneruskan riset yang sederhana tentang optimasi lokasi, untuk optimasi landuse tentu saja tidak bisa dengan cara seperti optimasi spbu yang memang terletak di pinggir jalan. Landuse akan mencari areal dua dimensi yang luas sekali, terutama untuk kasus kota bekasi yang luasnya sekitar 200 km persegi. Ternyata rumit juga terutama criteria/objective function untuk suitability. Ditambah lagi constraint untuk candidate locations, weh. Untuk sementara hasilnya seperti ini, semoga lancar ke depannya.

Optimasi Landuse dengan Matlab

Saatnya mulai membuat kode program matlab untuk mengoptimasi lokasi landuse dan landcover dengan data dari arcview/arcgis. Banyak algoritma yang digunakan oleh riset-riset optimasi saat ini, dua yang terkenal yaitu dengan Particle Swarm Optimization (PSO) dan Genetic Algorithms (GAs). Karena masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan, banyak yang berusaha melakukan hybrid antara satu metode dengan metode lainnya yang ternyata menghasilkan efisiensi dan akurasi yang baik.

Gambar di atas memperlihatkan hasil optimasi landuse tipe lingkaran. Di sini kode masih agak error, dan belum menerapkan algoritma untuk constraint (terlihat result berwarna hijau kabur melewati batas wilayah), tapi untuk sementara cukup menggembirakan karena dapat menghubungkan antara matlab dengan arcview/arcgis untuk menampilkannya. Setiap selesai melakukan optimasi, untuk melihat hasilnya kita harus merefresh Arcview dengan menekan tombol layer .

Menjawab Problem Data type “Struct” di Matlab

Menjawab permasalahan yang dijumpai ketika membuat kode program dengan bahasa Matlab adalah dengan cara: 1) membaca help, 2) situs www.matworks.com, 3) komunitas di internet, dengan bantuan google, dan 4) youtube. Permasalahan muncul karena karakter bahasa matlab yang sedikit berbasis objek. Buku yang beredar di pasaran pun tidak sanggup menjawab seluruh pertanyaan yang beredar. Pertanyaan-pertanyaan liar selalu bermunculan baik melalui komentar ataupun email. Salah satu yang bikin ribet adalah masalah struktur data, karena Matlab memiliki struktur data yang agak banyak. Banyaknya struktur data mungkin dikarenakan kemudahan-kemudahan yang matlab berikan melebihi bahasa induknya yaitu c++ dan fortran.

Beberapa kata kunci yang melibatkan struktur data di matlab dan dapat diakses di fasilitas help antara lain: num2str, cellstr, num2cell, dan sebagainya. Untuk mengetahui tata caranya secara cepat dengan cara mengetik di command window, misalnya: >>help num2str.

Yang menarik di sini, kita dapat mengetahui pula fungsi-fungsi yang berhubungan dengannya lewat informasi “See also”. Untuk mengetahui secara detail dalam bentuk GUI yang rapi dapat mengganti help dengan doc sebelum kata fungsi yang ingin kita ketahui lebih lanjut. Atau menekan tulisan doc num2str.

Untuk situs resmi matlab, sepertinya formatnya tidak jauh berbeda dengan help, yang memaksa kita untuk membaca luas yang terkadang jadi lupa dengan masalah utamanya. Sepertinya andalan utama untuk saat ini adalah searching di internet dengan search engine tercanggih di dunia, google (www.google.com). Untuk bahasa pemrograman, biasanya google mengarahkan ke situs resmi dan komunitas programming, seperti misalnya stackoverflow (www.stackoverflow.com). Perhatikan jawaban di bawahnya oleh para senior, misalnya pertanyaan untuk kasus saya di muka berikut ini:

Terkadang kita tidak mengenal fungsi-fungsi tertentu, karena memang jumlahnya sangat banyak dan tidak mungkin dihapal semuanya. Nah, di sini karena yang ikut terlibat adalah programmer-programmer dengan latar belakang yang beragam, bagi programmer tertentu mungkin banyak memakai fungsi tertentu yang khas di bidangnya yang bagi orang di bidang lain masih dianggap asing. Contoh di atas adalah fungsi setfield yang masih asing bagi pemula atau yang menggunakan matlab untuk komputasi yang tidak berhubungan dengan database. Ikuti di command window saran di atas, dan berhasil. Tentu saja andalan utama kita adalah help yang resmi dari Matlab. Berikut ini trik untuk mengupdate nilai field dari data jenis struct.

Misalkan kita punya data landtype:

  • landtype =
  • 4134884 7681103
  • 9275435 3020821
  • 2063774 5498421
  • 5850328 1631791
  • 5932021 1324960
  • 4557209 2641519
  • 1531668 5462547
  • 2804685 2757848
  • 7250245 6744421
    • ……….

Akan dimasukan ke variabel struktur “data” untuk variabel X dan Y di dalam data tersebut.

  • data =
  • 17×1 struct array with fields:
  • Geometry
  • X
  • Y
  • ID

Dengan mengetikan instruksi ini, fields X dan Y akan berisi landtype.

  • for i=1:17
  • data(i).X=landtype(i,1)
  • data(i).Y=landtype(i,2)
  • end

Kita uji, misalnya untuk data pertama.

  • >> [data(1).X data(1).Y]
  • ans =
  • 4134884 7681103

Bernilai sama dengan landtype pada data di atas yang dicetak tebal. Berikutnya akan kita ekspor hasilnya menjadi shapefile agar bisa dibuka di arcview / arcgis.

>> shapewrite(data,’result’)

Mapping Toolbox Matlab (Membuka Shape file ArcView)

Pada Matlab yang telah kita install tersedia file contoh untuk memanipulasi peta yang terletak di folder \toolbox\map\mapdemos\. Buka mapviewer, untuk jelasnya lihat tulisan saya sebelumnya.

A. Mengimpor Raster Data

Raster data adalah data yang berupa pixel (berwarna atau hitam putih), atau gampangnya data gambar. Klik fileImport from file yang dilanjutkan dengan memilih file boston.tif yang berada di folder tersebut di atas. Tampak peta boston pada jendela mapview. Cukup mudah dan praktis bahkan dibanding membuka lewat arcview itu sendiri.

Untuk mengetahui skalanya, mudah saja, isi Map units dengan pilihan US Survey Feet, maka skala akan muncul dengan sendirinya. Yang menarik, skala ini akan otomatis berubah ketika kita melakukan proses zooming pada mapview dengan cara schrolling mouse kita.

B. Mengimpor Data Vektor

Data vektor adalah data yang berupa titik, garis, atau poligon yang dibuat secara matematis (lewat arcview, autocad, corel draw, dll). Untuk contoh kasus yang tersedia datanya di matlab adalah jalan-jalan yang ada di boston.

boston_roads = shaperead(‘boston_roads.shp’);

Perintah di atas membaca shapefile yang berisi koordinat jalan di boston. Hasilnya adalah data yang oleh mapviewer dikenal dengan nama ‘geographic data structure’. Terlebih dahulu konversi dari meter menjadi US survey feet. Gunakan fungsi unitsratio. Karena yang harus dikonversi adalah seluruh jalan di boston dari meter ke feet maka perlu iterasi untuk seluruh elemen boston_roads.

  • surveyFeetPerMeter = unitsratio(‘survey feet’,’meter’);
  • for k=1:numel(boston_roads)
  • boston_roads(k).X=surveyFeetPerMeter * boston_roads(k).X;
  • boston_roads(k).Y=surveyFeetPerMeter * boston_roads(k).Y;
  • end

Mengapa ini perlu dilakukan? Karena jika satuan tidak sama tentu saja boston_roads tidak akan matching dengan gambar/image boston. Coba sendiri sampai menghasilkan peta sebagai berikut:

 

 

Mapping Toolbox Matlab

Sesuai dengan namanya, mapping berarti berhubungan dengan peta. Salah satu aspek penting dari peta adalah spatial data, yaitu data yang berhubungan dengan lokasi/koordinat. Untuk mengelola data non spasial, selama ini matlab sanggup mengatasinya, namun bagaimana dengan data spatial? Sebenarnya ada satu lagi jenis data yang agak rumit yaitu spatio-temporal, dimana selain berkaitan dengan koordinat, juga dengan waktu (time). Tetapi untuk time, tidak terlalu masalah, hanya saja spatial yang menjadi pokok permasalahan kita saat ini.

Untuk membuka mapping toolbox dapat diakses dengan menekan starttoolboxesMapping dan pilih toolbox untuk mengelola file map yang biasanya diimpor dari ArcGIS. Atau kalau mau lebih cepat ketik mapview di command window.

Untuk mempelajari toolbox ini lebih dalam ada baiknya Anda membaca menu help dari Matlab. Kalau ingin lebih nyaman bacanya bisa download versi pdf dari help tersebut, tentu saja setelah terkoneksi ke internet. Di bagian bawah klik saja Mapping Toolbox User’s Guide di akhir help.

Maka Anda akan mendownload dari situs mathworks tentang mapping toolbox yang besarnya puluhan Mb. Berikut saya coba untuk mengimport shapefile dari ArcView. Shapefile adalah file dari ESRI tentang data spatial suatu region. Klik dari menu Import from file dan cari shapefile yang Anda miliki.

Gambar di atas adalah peta wilayah Sakhon Nakhon di provinsi Khong Kaen Thailand. Koordinat serta peta wilayah dengan batas-batasnya terlihat dengan jelas. Bahkan layer ikut terimpor ke dalam Matlab, tinggal kita mengolah lebih lanjut dengan toolbox lain di Matlab seperti Algoritma Genetik, Neural Netwok dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan. Lanjut ke Import Raster dan Vector Data.

Free & Open Solutions for Geoinformatics-Asia conference

Dari tanggal 2 sampai tanggal 5 Desember di kampus AIT diadakan conference tentang software open source Geoinformatic. Berhubung ada kesibukan di imigrasi, saya sendiri tidak bisa menghadirinya. Acara dihadiri oleh berbagai kalangan yang berpengalaman di bidang software open source GIS. Ketika makan di kedai yang deket acara seminar tersebut, saya menjumpai rekan-rekan dari Indonesia yang ikut serta seminar. Salah satunya dari komunitas openstreet yang menyediakan layanan “crowd sourching” agar seluruh jalan terpetakan dan dapat digunakan secara bersama-sama dengan gratis.

Untuk mengetahui apa itu FOSS4G-ASIA, ada dapat mengakses situsnya langsung di sini. Saya sempat sedikit berdiskusi dengan tamu dari negeri sendiri mengenai open source yang ternyata menyediakan lengkap dari polygon, hingga kode-kode yang untuk software berbayar seperti Arcview, ArcGIS, tidak diperlihatkan. Hmm .. boleh dicoba nih QGIS yang web-based.

Salah satu pemateri

Memulai Quantum GIS Desktop (QGIS) Versi 2.6

Untuk memulai software ini ada baiknya kita sedikit membaca teori tentang Geographic Information System (GIS) yang banyak beredar di internet. Dimulai dari jenis data yang diolah oleh GIS (raster atau vektor), istilah-istilah yang digunakan seperti landuse, aspect, geospatial, dan sebagainya, harus benar-benar dipahami, minimal yang akan kita olah di GIS. Misalnya saya akan membuat informasi mengenai land use di daerah tertentu (misalnya pathumtani, Thailand). Untuk mengetahui bagaimana cara menginstall software GIS gratis ini dapat dilihat di post sebelumnya.

Figure 1 Mengeset Proyeksi

Langkah pertama adalah Anda masuk ke properties dan mengeset projection yang sesuai, di tempat kami adalah WGS84 UTM ZONE47N. Setelah itu coba mengenali icon-icon yang bertebaran di sekitar jendela QGIS. Setelah itu cari data yang Anda inginkan, bisa lewat internet, bisa juga dari instansi-instansi terkait. Di sini saya memiliki data wilayah, landuse, dan jalan, semuanya berupa shapefile (ekstensi *.shp).

Figure 2 Proyeksi yang Sesuai Wilayah

Berikutnya buat tiga layer yang berisi peta wilayah, landuse, dan jalan raya. Ekstensi yang dibuka adalah shapefile (shp). Tambahkan label untuk menunjukan nama suatu lokasi, jalan, atau pemanfaatan wilayah sesuai dengan data yang dimiliki.

Figure 3 Memilih Simbol yg Ditampilkan

Tentu saja kita harus memahami attribute yang ada di tabel. Biasanya instansi yang memiliki data tersebut menyediakan juga data dictionary yang menjelaskan maksud istilah-istilah tersebut. Jika sudah, coba anda buat versi siap cetak (berupa file pdf atau image). Lakukan langkah export seperti pada Arcview, dengan penambahan berupa judul, legend, skala, dan sebagainya. Berikut hasil export-nya, sorry, agak terburu-buru buatnya. Selamat mencoba.

Figure 4 Hasil Layout Keluaran (PDF)

Installing QGIS 2.6

Kita sudah lama mengenal Arcview, Arcgis, Arcinfo, dan sejenisnya yang merupakan produk dari ESRI. Software untuk mengolah data spatial itu merupakan software berbayar yang cukup ampuh dan sudah banyak digunakan baik oleh instansi pemerintah maupun swasta. Tapi dengan perkembangan kebutuhan yang pesat, pengguna menginginkan aplikasi yang cocok untuk kasus-kasus tertentu, untuk bidang yang lebih spesifik. Karena software berbayar tidak menyediakan source code maka agak kesulitan jika ingin membuat aplikasi khusus karena harus membuat code program terlebih dahulu. Beberapa pengembang menyadari hal ini dan membuatkan beberapa aplikasi untuk mengelola GIS dengan source code yang bebas digunakan dengan syarat tertentu (open source). Salah satu aplikasi yang terkenal adalah Quantum GIS atau sering disingkat QGIS.

Buka situs resmi Quantum GIS (QGIS) dan download versi terbarunya, jangan lupa sesuaikan pula dengan sistem operasi yang anda miliki, termasik 32bit atau 64 bit. Ketika selesai mendownload, anda diminta memilih desktop atau webgis.

Untuk tahap awal, install versi desktopnya dulu. Setelah itu Anda diminta dimana lokasi downloadnya. Pilih salah satu hingga tombol next muncul.

Terakhir kita diminta memilih paket mana saja yang akan kita install, perhatikan ada juga pilihan GRASS GIS. Paket ini sangat membantu jika Anda mempelajari remote sensing.

Klik “next” terus ketika diminta, dan beberapa kali kita diminta accept term dan kondisi, baca jika Anda sedang belajar bahasa Inggris.

Salah satu keunggulan software open adalah tersedianya sarana pembantu (help) yang biasanya sudah termasuk ketika kita menginstallnya. O iya, tanggal 2 Desember 2014 akan diadakan pertemuan dari pengembang-pengembang software GIS open di kampus AIT.

Cara kerja serta konsep-konsep yang ada di Arcview mirip dengan Qgis, mungkin beberapa istilah sedikit berbeda seperti Extensions pada Arcview, pada Qgis istilahnya Plugin.

Berikutnya adalah mempelajari cara kerja software ini agar dapat membantu kita menyelesaikan kasus-kasus yang berhubungan dengan spatial data. Jika pada tulisan yang dahulu pada digitalization kita menggunakan image dari foto, google, dan sejenisnya, hasilnya mungkin kurang tajam. Gunakan Open Street Map (OSM) yang dapat diakses dari situs ini.