Main Catur lagi

Akhir pekan terkadang hari melelahkan karena mengajar tambahan siswa pascasarjana yang membutuhkan effort lebih. Tidak ada salahnya diselingi dengan postingan-postingan ringan, salah satunya tentang catur. Mungkin si “dewa kipas” ada jasanya juga untuk menaikan kembali pamor catur yang agak meredup, tapi berkat aplikasi-aplikasi catur, misal Lichess.org dan Chess.com, di masa pandemi cukup menghibur dan dapat mengisi waktu luang yang banyak di rumah.

Bahkan Neflix menampilkan film laris, the queen’s gambit, membuat permainan ini kian dilirik. Film yang menceritakan penggila catur wanita di era perang dingin.

Anya Taylor-Joy: Beth Harmon dalam The Queen Gambit (Image Copyright: Netflix)

Sempat Gila Catur

Perkenalan dengan catur di tahun 80-an terjadi begitu saja. Papan catur yang dibeli waktu kelas 1 SD hanya untuk mainan layaknya prajurit mainan. Entah, siapa yang mengajari akhirnya bisa melangkahkan catur.

Teknik belajar catur jaman dulu cukup sederhana, main saja dengan yang lebih pintar, pasti kemampuan akan meningkat. Saya kerap ditantang tetangga, walaupun dia kalah terus, tetapi ternyata permainannya meningkat. Di situlah saya sadar, ilmu saya diserap. Akhirnya saya terkadang enggan melayani tantangannya, sebaliknya saya “belajar” dulu dengan menantang pemain level di atas saya (hmm pelit juga saya, sesuai dengan nama panggilan kecil saya, Medit). Mudah saja upgrade ilmu catur waktu itu bagi anak-anak, cari orang dewasa yg biasanya lebih pintar.

Waktu berlalu, ketika SMP dan mengenal teori catur, terkadang sampai larut malam menganalisa partai-partai grandmaster. Alhasil, almarhum bapak saya mengatakan saya “gila catur” ketika melihat saya di kamar main catur sendiri hingga larut malam.

Banyak Bakat-Bakat Catur tak Tersentuh

Waktu itu ada anak kecil yang usianya di bawah saya yang kelas tiga/empat SD, berarti kalau sekarang selevel PAUD. Di luar dugaan, saya sempat kalah karena menganggap remeh. Permainan alaminya cukup baik, terutama menghitung dan formasi benteng yang rapi.

Karena anak tukang (entah kerja di mana bapaknya) dan rumah yang mengontrak, sayang sekali bakatnya tidak terurus. Entah bagaimana nasibnya, mudah-mudahan bernasib baik mengingat kakaknya sangat mensuport (dengan mencarikan lawan).

Melawan Juragan Es

Ketika liburan terkadang saya bekerja menunggu toilet umum di Ancol (ini beneran lho). Suatu pekerjaan yang BT (bored totally) dan gabut (gaji buta, ga ngapa2in) . Untungnya di samping toilet yang saya jaga ada depot es (Walls, Diamond atau Woody, saya lupa). Salah satu pimpinan ternyata penggemar catur, dan sayangnya jadi sasaran empuk saya, hehe.

Berkali-kali main, dia sempat setres juga di awal. Mungkin karena kalah oleh anak SMP. Namun akhirnya sadar juga setelah beberapa kali tanding. Justru dia belajar dari saya dan kagum dengan “inisiatif” saya, ketika membangun serangan dan membuat rencana.

Oiya, jaman dulu merupakan surga bagi pengarang, termasuk penulis buku. Berbeda dengan jaman ebook saat ini dengan buku bajakan yang berlimpah, waktu itu buku asli selalu dibeli, walaupun kualitas lokal, misalnya Imam Sucahyo. Entah siapa dia, yang jelas banyak berjasa terhadap anak-anak generasi x kala itu.

Juara 2 Beregu Walikota

Nah, SMP tempat saya belajar ternyata alumninya dulu ada yang master internasional wanita (MIW), generasi sebelum Irene Sukandar. Adiknya ternyata sekelas dengan saya. Di situlah awal perkenalan dengan catur “ilmiah”, maksudnya ada guru yang mengajari, yaitu bapaknya si MIW tersebut. Sebelumnya diadakan seleksi untuk yang mewakili SMP “batak” tersebut (karena kebanyakan gurunya dari Medan). Ternyata saya menjuarai seleksi itu (total 4 orang, 2 cadangan), alhasil kami berempat digembleng kilat oleh almarhum bapaknya si teman saya itu yang ternyata orang PERCASI.

Saya kagum juga ada catur nempel di dinding di rumahnya. Di situlah diberi penjelasan singkat teori pembukaan Sicilia. Walaupun pembukaan itu tidak cocok dengan karakter saya yang “diam-diam ganas”, tapi prinsip dasar bahwa tiap opening memiliki logika dan karakter sendiri cukup membantu dalam mempersiapkan opening agar minimal tidak hancur dari awal, hehe. Buku-bukunya pun sangat berkualitas, berbeda dengan buku Imam Sucahyo saya. Sayangnya bapaknya tidak memperbolehkan dibawa pulang. Untungnya putrinya, yang menjadi papan kedua regu kami, diam-diam meminjamkan. Dan untungnya lagi jaman itu, anak-anak belum disusupi ilmu percintaan ala anak-anak alay saat ini, dan murni malam minggu ke rumahnya untuk main catur.

Sebagai pemegang papan pertama beregu, ternyata harus siap-siap bertemu lawan kuat. Maklum jika skor sama, akan dilihat siapa yang menang di papan pertama. Alhasil justru saya yang paling menderita walau bisa sampai final, sayangnya kalah. Namun, juara II pun membanggakan, karena bisa memberi piala ke sekolah.

UKM Catur UGM

Karena pindah ke Jogja dan fokus belajar, catur seperti sudah terlupakan. Walau terkadang lomba 17-an ikut dan selalu menang, namun itu tidak bisa jadi patokan karena lawannya yang hanya sekedar hobi. Waktu 3 tahun SMA nyaris tidak bermain/berlatih catur. SMA pun tidak ada unit catur atau lomba antar sekolah. Atau mungkin saya yang kuper tidak mendengar informasi tersebut. Padahal di tahun 90-an Jogja berlimpah pemain-pemain hebat, bahkan turnamen SMA UII Cup terkenal dan dihadiri oleh pecatur-pecatur luar.

Setelah lolos masuk UGM, yang saya cari adalah unit caturnya. Tapi anehnya saya tidak menemukan, dan ternyata ada kasus di UKM catur UGM sebelumnya (Lihat postingan teman saya eks ketua UKM Catur UGM dulu, yang seorang master nasional wanita). Setahun kemudian ketika unit catur mulai bereformasi, saya masuk dan ditunjuk jadi sekretaris II, pekerjaan yang membutuhkan literasi komputer.

Mulailah bertemu langsung dengan master-master catur, salah satunya adalah master nasional (MN) Affandi. Waktu itu MN sangat ditakuti, walau dalam simultan (satu orang lawan orang banyak). Waktu simultan kebetulan saya menang, hehe. Namun aura dan style mempengaruhi adik-adiknya dalam bermain catur, satu hal yang tidak bisa diperoleh hanya lewat buku atau online. Bahkan sempat saya bercita-cita menjadi master catur, walau akhirnya malah jadinya master komputer. Namun, akhirnya saya sempat vakum karena masuk di akhir-akhir kuliah yang menuntut fokus (KKN, kerja praktek, dan skripsi).

Menyeleksi Mahasiswa Jalur Atlet

Karena UKM Catur sudah ok, dipercaya pihak kampus, dan memperbolehkan UKM Catur merekomendasi siapa saja yang masuk UGM lewat jalur atlit, namanya penelusuran bibit atlet daerah (PBAD) yang muncul waktu itu. Mudah saja, main saja dengan kami, jika menang, silahkan masuk. Tentu saja hanya formalitas. Waktu itu sebelum saya vakum, sempat ada yang masuk, yaitu MN Anjas Novita (dan kakaknya), fisip, dan MP Viktor (kalo ga salah, kedokteran). Di situlah saya melihat langsung master yang bermain layaknya engine (bot) catur. Ketika latihan blitz, saya dicukur gundul 5-0 (atau lebih malah) tanpa ampun oleh Anjas yang saat ini master internasional (MI) dan pelatih nasional kemenpora, ampun bang jago …

Akhirnya saya mundur alon-alon (pelan-pelan), lulus, jadi pengangguran beberapa tahun, dan akhirnya mengajar di kampus. Namun ternyata kecintaan terhadap catur tidak bisa hilang, apalagi sumber informasi saat ini tersedia, ditambah youtube, medsos, dan aplikasi-aplikasi catur di gadget. Sekian, semoga menghibur.

Dunia sempit .. yg saya salami di foto atas, Prof Sujarwadi (mantan rektor UGM yg waktu itu dekan FT), ternyata alumni AIT juga

Library & Toolbox .. Haramkah?

Belajar ilmu komputer, khususnya coding, bagi mahasiswa milenial sedikit membingungkan, apalagi ketika perkembangan teknologi saat ini yang super cepat. Jika mengikuti alur normal, maksudnya dari dasar yang paling dasar .. terkadang membuat mereka stres, ditambah lagi godaan medsos, game, dan youtube.

“Untuk apa belajar itu Pa?”, merupakan pertanyaan yang sudah muncul sejak jaman batu mungkin. Bahkan De Morgan sempat dianggap gila di jamannya. Maklum penerapannya belum ada saat itu, yaitu komputer. Jawab saja sebisanya pertanyaan itu, toh nanti akhirnya mengerti juga, yang penting mengikuti kuliah hingga selesai, minimal sebelum lulus sudah mengerti .. mudah-mudahan.

Begitu juga dengan pemrograman, atau dalam bahasa kekiniannya, Coding. Jika mempelajari dari dasarnya, misalnya bahasa C++ atau bahasa rakitan, baik dosen dan mahasiswa akan lelah, belum lagi mencari pengajar bahasa tersebut yang mulai langka. Kalau untuk belajar algoritma dan struktur data mungkin oke lah. Tapi jika untuk tugas akhir/skripsi, untuk membuat aplikasi paling sederhana pun butuh waktu lama dengan bahasa pembuat bahasa dan sistem operasi tersebut.

Beberapa dosen, cerita dari teman, banyak yang melarang menggunakan Toolbox pada Matlab atau Library di Python. Alasannya seperti biasa, mahasiswa jadi kurang berfikir mendasar, mengingat dengan library dan toolbox, mahasiswa tinggal pakai. Ada benarnya juga.

Permasalahannya tidak semua mahasiswa ilmu komputer fokus ke pemrograman. Apalagi ada banyak jenis programmer, dari web, android/iOS, game, disain, dan lain-lain. Saya pernah mengajar teknik kompilasi dengan bahasa Lex and Yacc yang berbasis C++, untuk membuat bahasa dengan dasar-dasar teknik automata. Hasilnya, mahasiswa kalang kabut. Apalagi untuk mahasiswa sistem informasi atau jurusan non komputer yang butuh bantuan ilmu komputasi.

Halal .. asalkan

Untuk pengguna Toolbox Matlab, ada baiknya Anda daftar gratis di forum Mathworks. Di sana banyak share m-file yang berupa kode-kode untuk fungsi tertentu. Jadi kita bisa belajar bagaimana algoritma bekerja untuk menyelesaikan kasus tertentu. Atau sebenarnya di program Matlab bisa dilihat kode program sebuah fungsi dengan mengetik “edit <nama fungsi>”.

Yang kurang tepat adalah, siswa hanya menggunakan Toolbox atau fungsi yang tersedia tanpa memahami alur programnya.

Nah, saat ini Python merupakan bahasa yang sedang trendy, silahkan lihat dengann Google Trend. Bahasa ini mengalahkan bahasa-bahasa lain dari sisi pencarian di Google.

Python yang di tahun 2012 terbawah, secara perlahan menjadi yang pertama, menyalib bahasa lainnya, bahkan bahasa terkenal, Java. Hal ini karena Python banyak memiliki Library yang sangat membantu mempercepat pembuatan aplikasi.

Seperti pada Matlab, yang kurang baik adalah jika mahasiswa menggunakan Library saja, tanpa memahami prinsip dasar metode/algoritmanya, misalnya Scikit Learning. Dan untuk melihat struktur program, Library pada Python mudah diperoleh. Tetapi untuk memahaminya, dasar-dasar pemrograman di Python harus dikuasai terlebih dahulu, ditambah dengan pemahaman class dan objek. Hal ini karena Library menggunakan class, parameters, dan def, ciri khas pemrograman objek (kelas, atribut, dan metode/operasi).

Untuk mahasiswa ilmu komputer, penggunaan aplikasi seperti Rapidminer, Weka, dan sejenisnya sebenarnya boleh saja, namun untuk mahasiswa S1 dan D3 yang dituntut menghasilkan aplikasi, menurut saya tidak bisa dijadikan tugas akhir/skripsi. Minimal untuk materi mata kuliah. Tapi mubazir juga sih, dipelajari di kuliah tapi tidak bisa dipraktekan/digunakan untuk tugas akhir/skripsi.

Postingan ini sekedar pendapat pribadi ya, untuk bagaimana melihat kode sumber dari library yang ada, silahkan lihat video Youtube saya berikut ini. Isinya membandingkan penggunaan K-Nearest Neighbors dengan Scikit Learning dan tanpa library Machine Learning.

Untuk Yang Sedang Sekolah .. Manfaatkan Apa Yang Ada

Kondisi pandemi membuat seluruh aspek kehidupan terganggu, bahkan lumpuh. Termasuk juga dunia pendidikan yang melibatkan pertemuan sosial antara guru/dosen dengan murid/mahasiswa. Penyelenggaraan perkuliahan secara daring dapat dilakukan dengan kualitas yang tidak jauh berbeda, namun perkuliahan praktik masih belum efektif. Pertemuan online dengan aplikasi tertentu banyak dikeluhkan oleh siswa yang mengandalkan pulsa di rumah, yang dapat dilihat dari hasil kuesioner sistem informasi akademik. Walaupun ada bantuan pulsa dari pemerintah, namun mengingat banyaknya mata kuliah yang diambil, tetap saja tidak mencukupi. Selain itu, bagi masyarakat, pulsa masih belum menjadi kebutuhan pokok, dan untuk aplikasi multimedia (streaming video, dan sejenisnya) masih mengandalkan Wifi (biasanya di kampus). Apalagi untuk keluarga yang banyak memiliki anak dan semuanya menjalankan pendidikan secara daring.

Bertanya

Bertanya merupakan aktivitas yang murah meriah. Walaupun dilakukan secara online, pertanyaan tidak memerlukan paket data yang besar. Teman, saudara, guru/dosen, dan siapapun dapat dijadikan sumber rujukan. Tentu saja tata krama bertanya perlu diperhatikan, terutama terhadap guru atau orang yang tidak/baru kita kenal. Terkadang mengirim email pertanyaan terhadap author artikel internasional dibalas, walaupun kadang-kadang tidak direspon atau lama jawabannya.

Nah, masalah muncul ketika pertanyaan yang diajukan tidak ada/belum ada solusinya. Biasanya mahasiswa tingkat doktoral. Akan tetapi di tahap-tahap awal biasanya banyak yang bisa, namun karena bidang ilmu doktoral sangat spesifik, pakar di bidang IT tidak akan memahami seluruh ilmu spesifik, bahkan di bidang yang spesifik pun belum tentu mahir, misalnya AI robotik akan berbeda dengan AI pertanian. Jadi mutlak langkah berikut ini dijalankan.

Membaca Cepat

Di sini membaca perlu ditambahkan kata cepat di akhirnya karena jika tidak, waktu yang sangat berharga akan terbuang sia-sia. Selain itu, membaca artikel ilmiah berbeda dengan membaca novel atau komik. Banyak teknik-teknik membaca cepat, tetapi keingintahuan seharusnya bisa memacu kita membaca cepat, yaitu membaca yang didasari oleh pertanyaan-pertanyaan di kepala kita.

Bagaimana jika makalah yang harus dibaca berbahasa Inggris? Nah, ini merupakan problem utama mahasiswa-mahasiswa yang mengambil studi lanjut di Indonesia. Aplikasi penterjemah dapat digunakan. Selain itu, tidak ada salahnya “sharing“, maksudnya minta dibacakan, oleh suami/istri, anak, saudara, dan lain-lain. Tentu saja tidak dianjurkan jika ada waktu, karena membaca artikel ilmiah, apalagi bidang tingkat doktoral yang tidak semua orang paham, walaupun tahu arti/terjemahan naskah tersebut.

Membaca Artikel Studi Literatur (Review)

Naskah artikel ilmiah terdiri dari beberapa jenis, ada yang naskah buku, prosiding dan jurnal. Selain itu terbagi pula menjadi artikel penelitian dan artikel review. Nah, artikel jenis review terkadang bermanfaat untuk orang yang akan memulai penelitian bidang tertentu. Dari pada meneliti satu persatu naskah paper yang tercerai berai, ada baiknya membaca artikel review yang sudah terstruktur berdasarkan domain ilmu tertentu.

Trik lain adalah mencari artikel jenis penelitian yang berkualitas baik (biasanya berimpak/kuartil tinggi) kemudian dari referensinya kita baca juga. Tentu saja kelemahan membaca dari sumber referensi suatu artikel adalah terlalu jauh tertinggal. Suatu naskah artikel yang hari ini terbit, biasanya hasil penelitian beberapa tahun sebelumnya. Tentu saja referensi yang jadi rujukan pun tambah jauh tertinggal waktunya. Namun biasanya walaupun sudah tertinggal tetapi kemungkinan besar banyak yang mensitasi yang artinya landasannya cukup kuat.

Support Dari Bidang/Pakar Lain

Beberapa penelitian memerlukan support/dukungan dari bidang/pakar lain. Misalnya penelitian tracking dan navigasi membutuhkan bantuan rekan-rekan di bidang pemetaan 3D misalnya, atau mobile application jika akan diterapkan di ponsel. Optimasi yang diterapkan untuk lahan membutuhkan bantuan rekan-rekan GIS dan penginderaan jarak jauh (remote sensing). Bahkan ketika menulis paper bisa minta bantuan rekan-rekan yang mengerti bahasa Inggris jika enggan menggunakan jasa proofreader. Manfaatkan grup medsos untuk bertanya dan bertukar fikiran bidang tertentu di internet.

Berdoa

Ups, seharusnya ini ada di awal. Walaupun ini sudah otomatis kita jalankan tetapi aspek agama perlu dicantumkan di sini, seperti kasus kemendikbud yang terpaksa memasukan kembali kata “agama” dalam roadmap pendidikan nasional. Berdoa dan berusaha sebaiknya tidak terpisah, ketika berusaha diiringi doa dan berdoa tidak hanya ketika ibadah, melainkan ketika sedang berusaha juga. Sekian postingan singkat ini, semoga bermakna.

Belajar Mengajar di Kondisi Sulit

Dalam satu seminar oleh asosiasi perguruan tinggi informatika dan ilmu komputer (APTIKOM) ada sindiran keras dalam hal metode pembelajaran online. Jika diadu tentu biasanya dosen-dosen akan kalah dengan konten-konten yang ada di Youtube. Lihat saja viewer atau subscrabernya. Jarang dosen-dosen yang berjiwa youtuber. Haruskah dosen belajar menjadi Youtuber?

Salah satu keunggulan Youtuber atau influencer-influencer di medsos adalah kreativitas tinggi yang memicu follower atau viewer di kanal-nya. Kreativitas tidak berbanding lurus dengan tingkat pendidikan. Banyak mahasiswa yang berhenti kuliah karena fokus menjadi youtuber karena penghasilannya yang jauh lebih besar dari pegawai kantoran. Namun ternyata harus fokus karena jika kurang update kanalnya akan ditinggal oleh follower-followernya. Jika dosen ingin menyaingi youtuber, tentu saja akan sulit karena harus melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin tri darma dan tugas tambahan.

Metakognisi

Sebenarnya dengan banyaknya konten yang beredar di internet, pengajar memperoleh manfaat. Hanya saja salah satu kelemahan siswa adalah dari sisi metakognisi yaitu mengetahui hal-hal apa saja yang belum dikuasai dan mana saja yang telah dikuasai. Jika seorang mahasiswa memiliki kualitas metakognisi yang baik maka dia akan mampu belajar efektif, yakni fokus mempelajari yang dia harus kuasai untuk expert di suatu bidang. Kadang walau kurang cerdas, mahasiswa yang metakognisinya baik mampu belajar lebih cepat dari rekan-rekannya yang kemampuan metakognisinya lemah. (mungkin saya masuk kategori yang kurang cerdas ini).

Salah satu syarat yang harus dipenuhi agar metakognisinya baik adalah sifat keingintahuan yang harus dipupuk oleh siswa. Konon, ketika Einstein sekolah, orang tuanya kerap bertanya apa yang dia tanya ke gurunya di sekolah, bukan nilai prestasi. Kualitas belajar seorang anak dapat diukur dari kualitas pertanyaannya, yang merupakan representasi keingintahuannya.

Peran dosen di sini adalah sebagai seseorang yang mengalami lebih dahulu dalam mempelajari suatu bidang, termasuk kendala-kendala yang dihadapi, pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dengan baik, tip dan trik, serta hal-hal lain. Sehingga nasihat-nasihatnya terkadang menjadi “short-cut” mahasiswa dalam belajar agar lebih cepat. Maklum, negara kita tertinggal dari negara-negara maju lainnya, tidak ada cara lain selain segera melompat ke depan.

Veracity dalam Big Data

Era Big Data saat ini bercirikan istilah-istilah yang diawali dengan huruf “V” seperti volume, velocity, dan seterusnya. Salah satunya adalah veracity yang menggambarkan data yang meragukan, seperti yang terjadi saat ini. Terkadang data yang membombardir kita di internet membuat siswa kebingungan dalam memilih mana yang penting dan mana yang sampah. Tidak ada salahnya dosen pun melihat youtube-youtube yang berkaitan dengan bidang yang diajarkan, agar mengerti mana konten yang baik untuk ditonton dan mana yang kurang, misalnya versi software yang ketinggalan, dan lain-lain. Dibanding dosen berlama-lama membuat animasi, misalnya, alangkah baiknya jika sudah ada animasi yang dishare oleh orang lain, karena fokus utamanya adalah bagaimana siswa memahami, bukan membuat konten yang baik. Namun, sesuai dengan etika, ketika dosen memberikan, harus juga mencantumkan sumber rujukannya dan tidak mengaku karya orang lain menjadi miliknya.

Peran dosen di sini adalah mencarikan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan. Sebaiknya jangan hanya share ebook-ebook atau video tutorial tanpa dicek kembali apakah itu memang dibutuhkan atau tidak. Kasihan mereka ketika membaca atau menonton ternyata tidak mendukung dalam memahami suatu materi yang dibutuhkan, mengingat pulsa/paket internet merupakan barang mahal bagi mahasiswa.

Media Untuk Pulsa Minim

Sudah beberapa tahun mengajar di universitas terbuka, banyak pelajaran yang dipetik dari kampus tersebut. Terutama dari sisi “menghemat” pulsa-nya. Hal ini terjadi karena peserta didik terkadang berada di lokasi yang sulit untuk mengakses internet. Untuk mengatasinya, mutlak e-learning diterapkan, dengan konsep anytime dan anywhere-nya.

E-learning, ebook, blog, dan website sejenis ternyata cukup mampu mengatasi kendala yang dialami oleh siswa mayoritas, dimana keluhan masalah pulsa internet yang bikin kantong jebol tersebut. Walau ada bantuan pulsa, tapi sinyal tetap saja kadang bermasalah dan entah sampai kapan teratasi.

Bahkan ada situs (https://anchor.fm/tkorting) yang menyediakan hanya suara, mirip siaran radio (Podcast) yang hemat pulsa. Sementara itu, Google sepertinya masih menjadi andalan, baik itu untuk searching, classroom, hingga programming (Google Colab). Terkadang kecepatan dan efisiensinya mengalahkan e-learning kampus sendiri. Sepertinya segala daya dan upaya harus dijalankan, termasuk jika dosen ingin menjadi YouTuber tak masalah, asalkan fokus ke sharing ilmu bukan fokus ke jumlah viewer yang kebanyakan menyukai topik kontroversial yang bisa menyakiti pihak tertentu. Sekian, semoga postingan ini bermanfaat.

Customer Oriented

Libur kerja seperti biasa saya menguras akuarium di halaman. Tiba-tiba mobil pickup membawa air minum isi ulang berhenti. Peengemudinya turun dan mengetuk pagar rumah sambil mengucapkan salam. Saya mendatanginya sambil bertanya-tanya dalam hati ada keperluan apa dia menghampiri rumah saya. “Bapak mau beli air isi ulang?”, tanyanya dengan sopan.

Banyak pertanyaan di kepala saya, baru kali ini mobil air isi ulang menawarkan langsung. Selama ini mereka hanya keliling, berputar-putar. Begitu juga pedagang yang lain. Beberapa hari ini agak berbeda. Kalaupun mereka tidak menawarkan “door-to-door” terkadang saya mendengar mereka berputar lagi. Sepertinya tidak ada yang membeli dan mereka mencoba satu putaran lagi, siapa tahu tadi ada yang terlewat, tidak sempat keluar dan memanggilnya.

Ternyata memang saat ini daya beli masyarakat merosot tajam. Di televisi acara imlek yang mewawancarai pedagang-pedagang Tiongkok di Glodok mengatakan omset menurun hingga 50% dibanding kondisi normal. Kemungkinan besar bidang-bidang lainnya juga mengalami hal yang sama, termasuk pendidikan. Jangan diharapkan kepuasan mahasiswa meningkat atau minimal sama dengan kondisi sebelum pandemi. Terjadi penurunan baik mahasiswa baru maupun yang sudah masuk tapi tidak registrasi kembali atau cuti.

Repotnya dosen-dosen terutama yang dosen tetap berbasis gaji bukan honor mengajar (dosen honorer/luar biasa) tidak terlatih untuk terlibat dalam dunia pemasaran. Kondisi saat ini masih diangap sama dengan kondisi normal. Akibatnya terjadi benturan-benturan antara mahasiswa dengan kampus. Apalagi konsep industri 4.0 yang berbasis ICT tidak dimanfaatkan dengan optimal. Jangankan dosen, staf pelayanan saja info dari mahasiswa ketika bimbingan KRS kurang melayani dengan baik.

Sudah saatnya tiap karyawan memahami konsep “north star metric“, suatu konsep yang wajib dimiliki oleh organisasi agar mampu bersaing dan bisa “sustainable” alias tetap eksis.

Terkadang kekuasaan, walau sedikit orang cenderung memanfaatkan, baik dosen, staf, hingga satpam, kepada pihak-pihak lain yang repotnya adalah customer. Ketika suatu organisasi, misalnya kampus, melayani mahasiswa dengan sopan dan nyaman, dan kampus Anda membentak-bentak mahasiswa ketika bertanya dengan pertanyaan yang melelahkan, siap-siap saja informasi buruk tersebut akan viral. Ketika banyak pilihan, tentu saja mereka akan beralih ke organisasi yang memberikan benefit lebih, minimal menghargai.

Coba merenung sejenak, pernahkah Anda sakit hati saat pandemi, dan bandingkan dengan kondisi normal. Tentu sakitnya lebih besar. Sebaliknya, bantuan yang diberikan orang kepada Anda, bandingkan dengan kondisi normal. Tentu terasa sangat berarti. Sekian postingan singkat ini, semoga menginspirasi, oiya, sudahkah Anda membantu orang lain hari ini? Atau apakah ada orang yang dirugikan atau tersakiti hatinya?

Membaca dengan Sudut Pandang Penulis

Membaca merupakan problem utama di tanah air saat ini. Jangankan pelajar dan mahasiswa, guru dan dosen pun banyak yang mengeluh menganai masalah membaca ini. Ada yang baru sebentar sudah ngantuk, ada yang mentok dengan istilah tertentu yang tidak dimengerti misalnya untuk teks asing serta problem-problem lainnya yang berkaitan dengan masalah non teknis, kurang waktu, dan lain-lain.

Uniknya pengguna medsos di tanah air sangat banyak, yang tentu saja perlu membaca. Namun ternyata membaca teks di facebook, twitter, dan sejenisnya yang singkat, kurang mendalam, dan tak perlu berfikir keras berbeda dengan membaca buku pelajaran, panduan, dan sejenisnya. Jangan khawatir, saya pun mengalami hal yang sama. Repotnya, ketika studi lanjut, tidak ada cara lain selain dipaksa membaca. Terutama jika yang dibaca sulit dimengerti.

Lebih rumit lagi ketika diminta menulis. Pernah saya membaca satu artikel dengan mudah karena dibuat oleh penulis yang mampu secara efektif mengutarakan idenya. Kalimatnya runtun, sistematis, dan seolah-olah mengantarkan pembaca ke topik yang ingin dia sampaikan. Terbesit dalam hati bahwa saya pun bisa menulis seperti itu. Ternyata, ketika ingin menulis, satu paragraph pun tak kunjung jadi. Berbeda dengan membaca satu paragraph dari penulis yang saya rujuk, cukup beberapa detik saja membacanya.

Sudah lama saya menulis di blog tentang materi-materi kuliah yang sebenarnya dimaksudkan agar ketika butuh tinggal membaca kembali lewat HP atau laptop yang terkoneksi jaringan. Anggap saja sebagai buku catatan yang mobile. Ketika membacanya tentu saja secepat kilat karena walau sudah lupa tetapi karena saya sendiri yang menulis jadi mudah. Itu mungkin karena tulisan di blog jauh lebih sedikit dari jurnal atau buku. Namun ketika saya membuat buku, dan ketika butuh materi terentu dari buku itu, dengan cepat saya membaca. Akhirnya ketika dicoba membaca sebuah buku dan membayangkan saya penulisnya, atau setidaknya dari sudut pandang penulis, kecepatan dan kemampupahaman (reading skill) melonjak. Selain mendapat informasi dari tulisannya, saya pun memahami bagaimana penulis beragumen, menunjukan bukti-bukti, hingga sekedar menarik minat pembaca untuk menyelesaikan membaca hingga selesai.

Minimal ketika kita membaca dari sudut pandang penulis, kita merasakan bagaimana sulitnya si penulis menjelaskan sesuatu yang rumit, dan membuat kita ikut bersabar menuntaskan bacaan. Bill gates menganjurkan untuk menuntaskan satu buku yang kita baca. Banyaknya sumber-sumber bacaan ebook yang dapat dengan mudah dari internet terkadang membuat kita tidak sempat membacanya akibat “godaan” bacaan yang lain. Coba beli buku teks di toko buku, kalau perlu yang mahal, dijamin Anda akan menuntaskan bacaan tersebut bagaimanapun caranya.

Teknik tersebut akhirnya kerap saya terapkan ketika mereview artikel ilmiah. Dengan sekelebat dari abstrak, pendahuluan, hingga hasil dan kesimpulan dapat diketahui hal-hal apa saja yang harus diperbaiki oleh penulis dari tulisannya. Selamat, Anda berhasil menuntaskan suatu bacaan walau pendek.

Jurnal

Beberapa hari yang lalu pemerintah mengumumkan hasil akreditasi jurnal ilmiah Indonesia. Beberapa jurnal nampaknya sudah mengalami kemajuan baik dari sisi manajemen maupun substansi/isi. Sayangnya beberapa jurnal yang re-akreditasi (mengajukan diri untuk direview ulang) tidak dilayani karena kurangnya tim review, sementara jurnal yang harus dicek ribuan.

Masalah jurnal sepertinya sejak lama memancing kontroversi, apalagi terkait dengan Scopus yang berbayar. Banyak juga yang mempertanyakan manfaat jurnal ilmiah, mengingat dampaknya tidak terasa bagi masyarakat. Bandingkan saja dengan temuan GeNose, misalnya. Masalah ini tidak dapat dijawab hanya dengan satu sudut pandang saja, perlu memperhatikan aspek-aspek lainnya. Jurnal saja tentu saja belum cukup jika tanpa didukung oleh semangat meneliti oleh seluruh dosen dan peneliti di Indonesia. Bagaimana jika tanpa artikel ilmiah/jurnal? Sebagai ilustrasi, Scimago mendata artikel-artikel/dokumen yang ada di dunia, misalnya gambar di bawah ini (jumlah artikel Q1 tiap negara).

Lima besar jumlah dokumen didominasi oleh negara-negara maju. Bagaimana dengan Indonesia, silahkan searching saja, posisinya ada di urutan 47, dibawah Thailand, Singapura, dan Malaysia. Pihak yang menganggap enteng artikel ilmiah sepertinya perlu meneliti lebih lanjut dan tidak berfikir instan. Proses menghasilkan produk tidak secepat membuat kue atau lagu misalnya. Dibutuhkan usaha tekun, kerja sama, dan berlangsung terus-menerus. GeNose ciptaan Prof. Kuwat pun tidak serta merta mendadak dibuat. Sang penemu memang sejak lama berkonsentrasi pada penelitian tentang e-nose, yaitu teknik mengenali bau lewat instrumen, yang ternyata dapat digunakan untuk mengendus COVID-19 yang jauh lebih tajam dibanding seekor anjing dalam mengklasifikasi bau/aroma. Hal ini karena menggunakan machine learning dengan Big Data.

Kita tidak membutuhkan segelintir orang besar, melainkan bagaimana penemu dan peneliti-peneliti baru terus tumbuh dengan cara meningkatkan iklim riset yang kondusif. Prof. BJ Habibie memang sangat membantu Indonesia dengan menjadikan dirinya sumber inspirasi, tetapi kita tetap membutuhkan bibit-bibit seperti Pa Habibie, untuk melanjutkan riset-risetnya. Jangan sampai iklim yang sudah agak kondusif dilemahkan dengan jargon-jargon kapitalis, antek asing, dan sejenisnya. Memang, menghancurkan lebih mudah dari pada membangun. Sebaiknya kita menggunakan prinsip, yang baik dipertahankan dan dikembangkan, yang kurang diperbaiki. Jangan sampai untuk memperbaiki kekurangan kita melepas dan mengabaikan yang sudah baik.

Metakognisi

Banyak sumber-sumber yang menginformasikan bahwa cara cepat untuk belajar adalah dengan mengajar. Cara ini cukup ampuh dan menjadi andalan saya dan rekan-rekan dosen lainnya dalam mempelajari suatu hal dengan cepat. Entah mengapa cara ini bisa berjalan dengan baik sampai saya memperoleh informasi dari rekan saya yang mengambil doktor informatika yang berkecimpung dalam e-learning bahwa ada istilah metakognisi/metacognition. Istilah ini merupakan istilah dalam bidang pendidikan yang merujuk taksonomi Bloom yang diusulkan oleh Benjamin Bloom. Taksonomi ini membagi aspek kognisi menjadi enam, antara lain: mengingat, memahami, menerapkan, menganalis mensintesis, dan mengevaluasi. David Krathwohl mengusulkan taksonomi yang terakhir mengganti mengevaluasi menjadi mencipta.

Mengingat

Ini merupakan skill belajar yang pertama kali dikuasai oleh manusia, sejak jaman nabi Adam. Kemampuan mengingat konon kabarnya dikagumi oleh malaikat dan makhluk-makhluk lainnya. Di Tiongkok, ‘mengingat’ menjadi skill andalan oleh pelajar-pelajar sastra jaman kerajaan dulu. Dalam agama Islam, beberapa tempat pendidikan menjadikan menghafal merupakan skill dasar yang wajib, terutama ketika menghafal Al-Quran dalam rangka menciptakan hafidz/penghafal Alquran.

Di era industri 4.0 dimana bigdata dan informasi banyak berseliweran, diperlukan bukan hanya kemampuan menghafal melainkan juga cara berfikir logis, kritis, dan aspek-aspek metode ilmiah lainnya. Negara-negara maju kebanyakan mengasah skill lainnya, walaupun tentu saja ‘mengingat’ tetap aspek penting yang memang dibutuhkan oleh semua bidang.

Memahami

Bayangkan sebuah rumus, misalnya E=MC^2. Untuk mengingatnya sangat mudah, namun untuk memahaminya perlu usaha ekstra, baik lewat membaca literatur pendukung, video di Youtube, atau minta teman yang memahami untuk menjelaskannya. Skill memahami sangat penting sebagai dasar untuk skill lainnya. Tentu saja kita bisa menghafal sesuatu tanpa perlu memahami maksud apa yang dihafal, mirip burung beo atau kakak tua.

Untuk memahami tidak serta merta dan otomatis muncul, apalagi bagi pelajar atau anak-anak. Seseorang yang tidak tertarik sudah dipastikan tidak akan muncul keinginan memahaminya. Jika mahasiswa mengikuti perkuliahan karena terpaksa, mereka tidak memiliki keinginan untuk memahami materi yang diajarkan. Mirip kasus webinar saat ini yang banyak beredar. Memang diawal-awal orang-orang antusias mengikuti webinar, tetapi lama kelamaan orang akan jenuh dan hanya mengikuti webinar yang mereka butuhkan saja (kecuali kalo memang ingin memperoleh e-sertifikat saja).

Bagi dosen, beruntunglah karena ada tuntutan mengajar, mau tidak mau harus memahami suatu topik. Di sinilah mengapa belajar yang efisien adalah dengan mengajar, maksudnya karena harus mengajar maka dituntut harus memehama yang kita pelajari, buku yang kita baca, dan lain-lain.

Menerapkan

Bisa memahami ternyata belum lengkap jika kurang mampu menerapkan. Hal ini mengingat dunia industri membutuhkan skill terapan dalam mendukung aspek bisnisnya. Di sinilah pentingnya praktek bagi mahasiswa terhadap hal-hal yang dipahaminya. Skill memahami memang sudah bisa untuk mengajar, bahkan dalam Islam diminta menyampaikan walau satu ayat. Namun jika hanya bisa memahami saja dikhawatirkan disebut hanya omong doang saja.

Nadiem, menteri pendidikan dan kebudayaan, memahami hal tersebut maka dimunculkanlah program merdeka belajar yang mengintegrasikan pendidikan di kampus dengan praktek kerja di industri. Harapannya siswa memiliki keterampilan kerja, dengan kata lain mampu menerapkan teori yang dipahaminya.

Menganalisis

Sampai dengan skill menerapkan mungkin bisa dikuasai oleh seseorang yang kurang kritis. Jangan heran banyak praktisi-praktisi terampil bisa juga tersandung hoaks karena kurangnya sikap kritis. Lihat saja korban-korbannya, kebanyakan para praktisi akibat tersandung UU ITE.

Skill menganalisis booming di jaman renaisance di Eropa dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan tangguh seperti Isaac Newton, Descrates, Galileo, dan kawan-kawan. Menganalisis perlu usaha ekstra, tidak hanya memahami satu hal saja. Terkadang membutuhkan bidang-bidang lain, seperti statistik dan matematika sebagai “pisau bedah” terhadap topik yang akan dianalisa.

Mensitensis

Analisis dan Sintesis biasanya jalan beriringan mengingat ada tuntutan novelty terhadap satu topik tertentu. Novelti, atau kebaruan merupakan sintesa dari hasil analisa topik-topik beragam yang biasanya bermanfaat menyelesaikan problem tertentu. Kemampuan ini mutlak diperlukan oleh mahasiswa-mahasiswa doktoral dalam menyusun disertasi dan mempublikasikan artikelnya di jurnal internasional.

Baik analisis dan sintesis tidak hanya untuk dosen dan peneliti saja. Dalam dunia industri atau pekerjaan di manapun skill ini sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan daya saing industri tersebut. Era disrupsi memaksa industri harus mampu berfikir cepat, efisien, dan fokus ke pelayanan. Pelayanan yang baik mutlak memerlukan analisa baik lewat survey maupun menerapkan metode-metode terkini untuk menggantikan metode lama yang usang dan kurang efisien.

Mengevaluasi/Mencipta

Skill ini merupakan skill yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Inovator-inovator banyak bermunculan di negara-negara maju karena dengan temuannya mampu meningkatkan daya saing dengan negara lain yang hanya bisa menggunakan hasil temuannya. Singapura yang memiliki kemampuan dagang dan bisnis yang mumpuni pun tetap berusaha fokus ke penelitian dengan meningkatnya kualitas kampus-kampusnya.

Untuk menciptakan hal-hal besar selevel penghargaan nobel memang sulit. Namun bisa saja kita menciptakan hal-hal kecil yang bermanfaat. Di Indonesia misalnya ketika kondisi COVID-19 ITB menciptakan alat ventilator sendiri dengan kualitas yang baik dan siap diproduksi, sementara itu UGM menciptakan alat tes COVID-19 bernama Ge-Nose yang murah, mudah, dan akurat. Yuk, tingkatkan metakognisi kita.

Update Publon dan Garuda di Sinta

Selama ini Sinta mengandalkan Scopus dan Google Scholar untuk perhitungan kinerja dosen dan kampus. Pro kontra bermunculan karena kekhawatiran akan ketergantungan kepada Scopus, pengindeks terkenal yang memang berbiaya mahal untuk berlangganannya. Sementara itu, Google Scholar yang gratis masih menuai kritik akan verifikasinya yang hanya berbasis pemakai. Jadi bisa saja kinerja Google Scholar dimanipulasi oleh pengguna.

Nah, kini Sinta terus berbenah dan mulai memasukan Publon yang merupakan situs pengindek pesaing Scopus, yaitu Web of Science (WoS). Di sini WoS mulai menggratiskan pengguna khusus untuk pendaftaran dan manajemen akun saja. Publon juga mengindeks bukan hanya yang terindeks di WoS yang memang sulit tembusnya, namun juga bisa mengimpor publikasi kita yang ada di Scopus.

Walau terimpor ke publons, paper-paper yang terindeks Scopus tetap dibedakan oleh publons. Jadi di paper tersebut ada informasi apakah terindeks WoS atau Scopus saja. Biasanya yang terindeks WoS terindeks pula di Scopus (1), namun sebaliknya beberapa paper saya di Scopus tidak terindeks WoS (2). Oke, berikut langkah-langkah update Publon di Sinta.

Pertama Anda harus login terlebih dahulu ke Sinta dan masuk ke Update Profile. Silahkan baca post ini jika Anda belum terdaftar di Sinta.

Tampak Publon ID masih kosong, sementara Garuda ID sudah terisi (silahkan isi jika masih kosong dengan masuk ke situs garuda: http://garuda.ristekbrin.go.id/). Nah di sinilah Anda harus meletakan ID Publon Anda. Silahkan baca https://rahmadya.com/2019/06/02/indeks-web-of-science/ jika ingin lebih jauh mengetahui tentang Publons yang dahulu namanya ResearcherID. Secara langsung Publon tidak menginformasikan ID di situsnya karena memang ID mengambil dari Researcher ID, namun di alamat link dapat dilihat.

Copy dan Paste saja di kolom Publon ID Sinta Anda, cukup mudah. Langkah terakhir dan terpenting adalah sinkronisasi dengan publons agar data yang terindeks mereka (WoS) dapat terambil ke Sinta. Tekan WoS Document di bagian atas (1) lalu tekan Request Sync WoS untuk sinkronisasi. Jika sudah, tampak tulisan “WOS Syncronization in Queue” yang artinya sedang dalam proses (tidak langsung tersinkronisasi).

Proses Sinkronisasi tidak lama, kasus saya hanya sehari (atau mungkin lebih cepat lagi, karena saya mengeceknya sehari kemudian). Jika sudah tersinkronisasi maka muncul artikel-artikel kita yang terindeks Web of Science.

Demikian juga silahkan lakukan hal yang sama untuk Garuda Document yang jika disinkronisasi biasanya banyak artikel kita yang sudah terpublish di jurnal-jurnal nasional baik terakreditasi atau tidak, asalkan memiliki OJS. Untuk lebih jelasnya lihat video singkat berikut ini.

Respek

Beberapa waktu yang lalu di grup WA santai tempat saya bekerja, saya merespon postingan rekan saya tentang video ulah penjahat-penjahat dalam aksinya yang terekam cctv. Isi respon saya sederhana, hanya mengatakan bahwa setelah melihat postingan tersebut saya merasa seluruh teman-teman saya baik semua. Alhasil, respon pun bermunculan, mulai dari yang tersenyum, hingga yang mengkritik kalau saya salah menggunakan standar. Coba saja teknik itu Anda terapkan, gosip teman kerja, protes keras, dijelek-jelekan, dikomplain, dll, tidak ada artinya dibanding ulah penjahat-penjahat itu kan .. he he.

Viveka

Yah, begitulah kadang kita memerlukan teknik tertentu untuk menjaga kondisi hati tetap damai (istilah dalam bhs sansekertanya teknik tersebut adalah viveka). Buku karya Daniel Golemen berjudul emotional intelligence mencontohkan satu teknik meredam emosi ketika ada kasus tertentu yang membuat kita kecewa, misal di angkutan umum kita kesenggol cukup keras dengan penumpang lain. Namun ketika kita tahu ternyata yang bersangkutan ada masalah berat, misal angota keluarganya sakit keras sehingga tergesa-gesa dan menyenggol Anda, maka emosi yang memuncak akan tiba-tiba hilang. Jadi, orang yang tidak mengenal ambulans (tentu saja tidak mungkin ada kecuali si supir tuli dan rabun) pasti akan marah-marah atas sikap ugal-ugalan mobil tersebut ketika lewat membawa pasien gawat darurat.

Kisar 7 Samurai (Seven Samurai)

Tidak ada orang yang menyukai pribadi yang tidak respek terhadap orang lain. Nah, repotnya terkadang virus tersebut menyusup secara perlahan ke hati kita. Maka perlu menjaga sikap respek tersebut, kepada siapapun. Film 7 samurai menceritakan kampung petani yang akan dijarah oleh perompak ketika saat panen tiba, yang diketahui oleh petani yang tidak sengaja menguping pembicaraan dua perampok yg bertugas mencari sasaran. Berkelanalah utusan petani tersebut mencari samurai baik hati yang siap membantu. Mereka berhasil mengumpulkan 7 samurai dari beragam latar belakang yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Ketujuh samurai tersebut sadar bahwa petani-petani tersebut tidak sanggup membayar mahal, tetapi satu orang samurai senior mengambil nasi dan lauk pauk yang disediakan petani, dia menyetujui permintaan petani tersebut sambil menyuap makanan dengan sumpitnya. Pertanda bahwa samurai-samurai itu menyadari jasa-jasa petani yang dengan kerja kerasnya menyediakan makanan untuk kelangsungan hidup manusia. Dengan kata lain, samurai-samurai itu respek terhadap petani-petani miskin tersebut. Di akhir cerita, sang pimpinan perampok heran dan bertanya mengapa samurai-samurai tangguh itu rela membantu petani. Pimpinan 7 samurai jagoan di film itu tidak menjawab, hanya memberi respek kepada si perampok itu sebelum wafat.

Respek Kepada Siapapun

Zaman sekarang ditandai dengan beragam hal-hal spesifik yang membutuhkan spesialis-spesialis di segala bidang. Tidak mungkin lagi kita mencukupi kebutuhan hidup 100% mandiri. Kerjasama dan kebutuhan akan bantuan orang lain mutlak diperlukan. Apapun profesi kita, bantuan dari orang lain mutlak diperlukan. Saking banyak yang dibutuhkan terkadang kita tidak tahu dengan siapa kita membutuhkan bantuan. Jadi, cara termudahnya sederhana, anggap saja Anda membutuhkan bantuan kepada setiap orang. Tidak mungkin kita tidak respek terhadap orang yang kita butuhkan. Ketika Anda naik ojek, Anda akan respek terhadap tukang ojek tersebut karena Anda butuh diantar, sama respeknya dengan pilot pesawat. Terhadap mahasiswa pun, dosen pasti akan respek jika merasa membutuhkan mahasiswa, terlepas apakah kampus negeri, apalagi kampus swasta. Siapa yang diajar jika tidak ada mahasiswa? Jika menjadi youtuber pun, membutuhkan subscribe dari viewer-nya kan, yang tetap saja kebanyakan mahasiswa. So, tetap menghargai orang lain, sekian dan semoga menginspirasi, “I respect to all of you”.

Raja Thai dan Biksu

Mengawali Tahun Baru 2021 di Masa Pandemi

Jika tahun lalu tahun baru diwarnai dengan banjir, kali ini diawali dengan pandemi COVID-19 yang sedang tinggi-tingginya angka kasus harian di Indonesia. Dampaknya sungguh luar biasa, terutama yang bekerja di sektor bisnis, maupun karyawan harian yang perusahaannya terdampak pandemik. Selain itu, bidang lain seperti pendidikan pun ikut terdampak. Terjadi penurunan mahasiswa yang masuk maupun yang registrasi ulang.

Di sisi lain, komunitas dijital sangat ramai, baik dalam bentuk meeting online, transaksi online, dan sejenisnya. Apalagi media sosial yang dibanjiri oleh sharing informasi-informasi yang up-to-date. Banyak informasi tersebut yang baik, namun banyak pula yang menurut saya kurang baik, atau setidaknya bisa mempengaruhi kita secara negatif. Postingan ini sedikit berbagi bagaimana menyikapi informasi-informasi tersebut.

Syukuri Yang Ada

Ada yang mengatakan bahwa jika Anda hari ini masih punya pekerjaan, punya uang, bisa makan dan diberi kesehatan berarti Anda termasuk orang yang beruntung. Begitulah, banyak orang yang baru merasakan nikmat pekerjaan ketika di phk, nikmatnya makan ketika kesulitan makan (baik karena sakit atau ga punya duit), atau terpaksa hutang ke sana-sini.

Memang normal, kita cenderung merasa kurang ketika membandingkan dengan orang yang lebih dari kita. Banyak informasi di grup (facebook, whatsapp, dll) yang jika tidak kita saring akan ‘mengganggu’ kinerja kita di tahun ini. Dari provokasi untuk demo (bagi buruh), maupun sekedar minta diperhatikan (bagi guru, dosen, dan pengajar lainnya). Terkadang kita perlu menjadi orang lain agar bisa merasakan bagaimana kesulitan mereka, tidak hanya menjadi diri kita saja dengan tuntutan-tuntutannya. Memang, ada hak-hak yang harus diperjuangkan, tetapi kondisi seperti ini ada baiknya kita sedikit “mengerem”. Bahkan sampai-sampai di grup alumni kampus besar dibahas gaji dosen swasta yang menurut mereka “miris” karena tidak sebanding dengan biaya kuliah yang rata-rata dosen lewat biaya mandiri. Dalam kondisi normal sih boleh-boleh saja, tetapi di kondisi saat ini, kampus swasta mengalami kondisi sulit, baik dalam pendanaan, infrastruktur, dan lain-lain akibat kondisi yang dipaksa online. Menghadapi tuntutan mahasiswa yang keras saja sudah sulit, apalagi jika pengajarnya pun ikut keras menuntut.

Sabar dan Tawakal

Info bahwa antivirus COVID-19 sudah tiba di tanah air cukup membantu meningkatkan asa kita dalam menghadapi musibah pandemik. Seharusnya tidak ada alasan lagi untuk memacu kinerja di tahun yang oleh orang Tionghoa dinamakan kerbau logam ini. Memang banyak problem yang harus diselesaikan, namun ada baiknya fokus ke yang urgen, penting, dan harus segera diselesaikan. Jika fokus ke problem-problem remeh, kita bakal kewalahan. Apalagi jika termasuk kategori pseudo-problem, alias bukan urusan kita, jika ikut difikirkan bisa sakit pusing dan emosi (oiya, kabarnya dua hal tersebut masuk gejala COVID-19).

Beberapa tradisi, seperti India, mengatakan beberapa tahun ke depan masuk kategori tahun Syiwa yang bercirikan penuh godaan untuk berbuat jahat. Balasan untuk kejahatan pun disebutkan berlipat-lipat dari tahun biasa. Entah tahun apapun jenisnya, ya jangan sampai berbuat jahat. Ada baiknya mengikuti nasehat Ranggawarsita untuk jangan ikutan edan. Sebenarnya logis, ucapan sederhana yang menyinggung saat ini, dalam kondisi semua orang sedang susah, rasa yang diterima oleh orang yang tersinggung terasa beberapa kali lipat lebih menyakitkan dari kondisi normal. Nah, kabar baiknya, jika kita berbuat kebaikan walau sedikit, bagi orang yang menerima sangat terasa dampaknya. Terkadang hal-hal sederhana, seperti menjawab pertanyaan dari siswa lewat WA atau email, terasa sangat berarti bagi mereka yang kebingungan dibanding dalam kondisi normal. Terkadang ada pula komplain pedas oleh mahasiswa, BAHKAN DENGAN TULISAN HURUF BESAR SEMUA SEPERTI INI, sikapi saja dengan sabar, dan minta maaf saja jika ada salah, selesai sudah. Terkadang jika saya bayangkan di posisi mereka, di kondisi online seperti ini memang ilmu yang diberikan kurang optimal, khususnya materi-materi praktik.

Mungkin itu saja pandangan pribadi saya, mungkin pembaca ada lainnya. Dua hal yang dibahas di atas, Sabar dan Syukur, merupakan dua hal yang menurut Imam Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumiddin” seperti dua sisi mata uang. Sekian, semoga bisa menjadi inspirasi.

Belajar Pengolahan Citra dari Sumber-Sumber di Internet

Mempelajari hal-hal baru, tidak hanya pengolahan citra, dapat dilakukan dengan memanfaatkan internet. Terlebih ketika kondisi pandemik seperti saat ini dimana perkuliahan dilaksanakan secara daring. Praktikum yang biasanya dilaksanakan secara offline di laboratorium, terpaksa memanfaatkan fasilitas pribadi milik mahasiswa, yakni laptop yang dilaksanakan secara online. Untungnya, salah satu bahasa pemrograman, yakni Python, diadposi oleh Google dengan meluncurkan aplikasi onlinenya untuk pemrograman, yakni Google Colab (silahkan lihat infonya di sini).

Semenjak kemunculannya, banyak peneliti, kampus, dan pemerhati artificial intelligent membagi kodingannya via Google Colab. Dengan menggunakan kata kunci: “Google Colab” <topik>, kita dapat menemukan sumber informasi yang diinginkan. Kalau pun tidak berupa link Google Colab, biasanya dalam situsnya disertakan juga link Google Colabnya. Nah, di situlah kita bisa belajar hal-hal yang terkait dengan teknologi yang kita inginkan.

Ada juga kontroversi terkait dengan belajar instan lewat internet, salah satunya adalah masalah ilmu dasar yang kurang diperhatikan mengingat biasanya hanya untuk aplikasi-aplikasi siap pakai saja. Menurut saya wajar, karena memang kaum milenial memiliki karakter “instant” yang harus dipenuhi oleh pengajar. Sebenarnya cukup membalik dari teori dan aplikasi menjadi aplikasi dan teori sudah mampu menarik minat mereka. Kalaupun ingin menerapkan teori dulu baru aplikasi, sebaiknya jangan terlalu panjang jedanya, syukur-syukur di pertemuan yang sama.

Beberapa dosen tidak menganjurkan menggunakan bahasa pemrograman dalam bentuk paket atau library-library seperti misalnya OpenCV untuk pengolahan citra. Alasannya tidak mendidik mahasiswa memahami dasar-dasar ilmu pengolahan citra. Mereka cenderung menggunakan Bahasa C++ dalam perkuliahan. Menurut saya baik, tetapi untuk mengejar ketertinggalan teknologi dengan negara-negara lain ada baiknya mengikuti trend teknologi terkini, apalagi jika mahasiswa ingin bekerja pada vendor/perusahaan yang memang cenderung menerapkan teknologi terkini baik dari bahasa, library, dan tools lainnya. Pembuat library pun menyediakan dasar-dasar ilmunya yang dapat diakses di situs resminya, misalnya OpenCV di link https://opencv.org/ atau pada dokumentasinya di sini, seperti contoh filter 2d dibahas pula dasar-dasar teorinya.

Tentu saja kita harus membaca buku teks standar pengolahan citra atau dasar-dasar matematika seperti kernel, matriks, dan lain-lain. Jika di era 90-an kita belajar ilmu dasar tanpa melihat langsung penerapannya, saat ini siswa lebih mudah melihat langsung penerapan ilmu dasar yang diajarkannya. Silahkan lihat video berikut untuk mengakses topik tertentu di Google Colab.

Mengetahui Kekuatan Kita

Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sangat sulit karena menyangkut sesuatu yang sulit diukur. Namun demikian tetap harus diketahui karena terkait dengan tujuan jangka panjang. Bagi peneliti adalah roadmap penelitian, atau bagi mahasiswa berupa proposal penelitian yang akan disusun. Postingan kali ini sedikit berbagi apa saja yang harus diperhatikan dalam memahami kekuatan kita.

Meningkatkan Kekuatan vs Mengurangi Kelemahan

Namanya manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan. Untuk pelajar yang masih fresh, baik meningkatkan kekuatan dan mengurangi kelemahan dua-duanya penting dan menjadi fokus utama, walau ketika beranjak dewasa terkadang di negara maju sudah mulai fokus meningkatkan bakat yang ada, apakah sepak bola, tenis, peneliti atau penyanyi, pelukis dan spesialis-spesialis lainnya. Nah, untuk dosen-dosen seusia saya jika fokus mengurangi kelemahan, dikhawatirkan tidak ada waktu tersisa untuk meningkatkan kekuatan yang dimiliki.

Dalam suatu organisasi, misalnya kampus terkadang pimpinan tidak mampu mengumpulkan pundi-pundi kekuatan dari SDM yang ada. Bahkan dalam perputaran organisasi, para staf cenderung melihat kelemahan yang memang mudah dilihat, sementara kelebihan-kelebihan kurang di-ekspos. Saling menjatuhkan, intrik-intrik politik dalam satu organisasi terkadang lupa bahwa seharusnyalah bersaing dengan organisasi lain yang terus berbenah, apalagi di era disrupsi dan pandemi COVID-19. Hal ini terkadang lumrah dijumpai, kita cenderung kurang menghargai prestasi bangsa sendiri, terlepas dari sukses atau gagal. Di Jepang, pesumo walaupun kalah tetap dihormati dan mendapat bayaran yang tinggi. Untuk yang dekat dengan Indonesia, misalnya Thailand dan Malaysia, mereka sangat menghormati atlit-atlit yang membela bangsanya. Tampak yel-yel “don’t be sad, its ok” bergemuruh dari suporternya ketika Malaysia kalah di final memanah dengan Indonesia. Atlit-atlit Thailand, misalnya, disambut di bandara oleh para penggemarnya menang atau kalah. Untungnya saat ini negara kita mulai menghargai atlit-atlitnya yang berprestasi.

Jebakan “Iklan”

Iklan di sini maksudnya hal-hal yang menarik perhatian saat ini. Misalnya, ketika tren “machine learning”, semua pada fokus ke machine learning, tidak perduli cocok atau tidak, perlu atau tidak. Bahkan ada anekdot yang ditujukan orang yang baru belajar machine learning yang nyinyir dengan rekannya yang belajar statistik atau matematika.

Saya teringat rekan saya yang jago di satu bidang, tetapi karena godaan bidang lain akhirnya meninggalkan bidang yang dikuasainya dan beralih ke bidang baru yang lebih diminati walau dari nol lagi. Hal ini terkadang wajar, dan mirip “jebakan batman”. Ibarat anak yang sudah jago satu hal, terkadang jika tidak ada lawan sebanding akan bosan juga. Merasa keahliannya yang sebenarnya sudah tinggi, dianggap olehnya biasa-biasa saja, sehingga bosan dan berusaha mencari bidang lain yang menurutnya lebih menarik. Bayangkan, misalnya Anda menguasai Java, jika orang lain sanggup menyelesaikan satu problem dalam satu minggu, Anda sanggup mengerjakannya beberapa jam saja, maka itulah kekuatan Anda yang sebenarnya. Tapi karena bosan Anda beralih misalnya ke Python, dan Anda mengerjakan satu problem selama satu minggu, padahal orang-orang bisa dalam beberapa jam saja. Anda tidak akan dilirik orang.

Terlalu Asyik Mengerjakan Rutinitas

Beberapa rekan saya, karena asyik menjalankan rutinitas jadi kurang meningkatkan kekuatannya. Dalam satu seminar internasional, saya kebetulan satu meja makan dengan mereka. Kebetulan mereka ibu-ibu yang saya faham banyak kegiatan rumah tangga yang menyita. Saya dengan jujur berkata bahwa kalian sadar atau tidak kalau kualitas di atas rekan-rekan lain yang baru. Mereka malah tersenyum, dan mengatakan kalau saya hanya memuji. Saya malah balas berkata bahwa apa untungnya bagi saya mengatakan demikian. Eh, tidak lama kemudian mereka terkejut ketika namanya disebutkan di forum sebagai salah satu “best paper”.

Nah, bagaimana dengan kelemahan? Tentu saja harus diatasi dan dikurangi, terutama yang mengganggu jalannya kinerja. Namun jika susah, ya fokus saja ke kelebihan/kekuatan. Tidak mungkin memaksa menjadi penulis buku jika lambat mengetik, atau menjadi motivator tetapi sulit pidato. Mungkin cocok di laboratorium, atau selalu menang hibah. Kolaborasi saat ini menjadi satu keharusan. Satu kelemahan bisa diisi oleh kelebihan rekan kita. Dalam pembukaan rakornas asosiasi perguruan tinggi infokom (APTIKOM), ketua aptikom menganjurkan kita fokus ke kekuatan yang ada di kita sekarang daripada menunggu yang tidak/belum ada. Yuk, kita mulai fokus ke kekuatan kita dan berkolaborasi.

Problematika Kuliah Pemrograman

Salah satu skill yang harus dimiliki oleh mahasiswa jurusan yang berhubungan dengan komputasi (ilmu komputer, sistem informasi, sistem komputer, dll) adalah pemrograman. Saat ini bahasa pemrograman yang beredar sangat beragam, dari yang berbasis desktop, web, android/ios, hingga IoT. Tentu saja tidak semua bahasa harus dikuasai oleh mahasiswa komputer. Beberapa buku teks menggunakan konsep pseudocode yang mirip program tetapi dengan bahasa yang dimengerti manusia dan bebas platform bahasa pemrograman. Namun demikian diharapkan mahasiswa mengerti minimal satu bahasa pemrograman dan menguasainya.

Bahasa pemrograman pun banyak tipenya, dari yang berfungsi alat bantu komputasi teknis, program bisnis, statistik, game, hingga mesin pembelajaran dan deep learning. Banyak style yang diterapkan dalam pembelajaran memrogram ini. Hal ini berkaitan dengan maksud dan tujuan pembelajaran pemrograman itu sendiri.

Pemilihan Bahasa Pemrograman

Beberapa dosen senior kebanyakan mengajarkan bahasa C++ sebagai bahasa utama belajar pemrograman. Wajar, bahasa ini sangat ampuh, cepat, dan merupakan bahasa pembentuk bahasa pemrograman lain, bahkan untuk membuat satu sistem operasi. Beberapa dosen yang agak muda menyarankan Java karena bahasa ini banyak digunakan dalam industri. Bahasa ini juga pembentuk bahasa pemrograman lain, misalnya untuk piranti mobile. Saat ini, Python merupakan bahasa yang paling banyak digunakan karena selain ringan, cepat, dan praktis, bahasa ini cocok untuk bidang yang saat ini sedang “in” yakni deep learning.

Style Pengajaran

Beberapa dosen sangat ketat dalam mengajarkan dalam artian, siswa harus mampu memrogram dengan bahasa yang murni. Ciri dosen ini adalah mengharamkan bahasa pemrograman yang sudah memiliki module atau toolbox yang berisi fungsi tertentu. Misal, alih-alih menggunakan fungsi, misalnya average utk rata-rata, mahasiswa diharuskan membuat formula perhitungan rerata sendiri. Jika siswa mampu mengikuti perkuliahan ini, dipastikan mampu berfikir logis. Namun ketika lulus harus cepat beradaptasi dengan bahasa-bahasa baru yang digunakan industri. Dosen dengan style ini sangat mengharamkan Matlab maupun OpenCV dalam pembelajaran. Saya sendiri sempat mempraktikan metode ini hanya untuk materi dasar seperti algoritma dan pemrograman. Itu pun mahasiswa agak kesulitan.

Dosen-dosen generasi 2000-an kebanyakan saat ini menggunakan bahasa Python. Saat ini Google mempermudah orang belajar Python karena menyediakan fasilitas “Google Colab”, yaitu pemrograman via browser. Mahasiswa tidak perlu menginstal Python, tinggal langsung mengetik http://colab.research.google.com maka langsung terhubung ke Google Colab. Bahkan Google menggratiskan GPU-nya untuk digunakan. Mungkin dosen-dosen senior agak keberatan karena dalam Python banyak fungsi-fungsi “instan” yang tidak mendidik para mahasiswa dalam memrogram tetapi dari diskusi-diskusi sesama pengguna banyak informasi-informasi mengenai struktur logika suatu fungsi tertentu. Pembuat fungsi/library pun menyediakan kode sumber yang dapat dilihat di situs resminya. Selain itu, sumber file dapat dilihat isinya misalnya salah satu fungsi m-file dalam Matlab yang bisa dilihat kode sumbernya. Tentu saja jika siswa diharuskan membuat dari “nol” agak berat, khususnya materi-materi yang melibatkan banyak komputasi seperti model-model deep learning. Ada baiknya mengikut perkuliahan Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang mengharuskan mahasiswa memahami struktrur program yang dia ketik. Tentu saja fungsi-fungsi tertentu seperti rata-rata, standar deviasi, dan sejenisnya dianggap siswa sudah memahaminya, terkadang tidak perlu mengkode ulang.

Share Kode (Github, Google Colab, dll)

Saat ini siswa mudah sekali mempelajari satu metode karena sudah banyak yang men-share kode sumber yang merupakan proyek risetnya. Termasuk buku-buku teks pun ikut juga men-share kode2nya, sekaligus promosi buku yang dijualnya. Kode-kode tersebut sangat membantu memahami konsep-konsep dasar komputasi, machine learning, data mining, dan sejenisnya karena langsung terlihat nyata. Hanya saja beberapa problem harus diselesaikan terkait kompatibilitas versi bahasa pemrograman, misalnya Google Colab yang menggunakan versi terkini Python dan library-library nya, seperti diskusi berikut ini.

Mencari Sumber Inspirasi

Saat ini sumber informasi tersedia bebas di internet. Beberapa peneliti dengan semangat berbagi yang tinggi kerap men-share kerjaannya baik lewat blog, github, google colab, dan aplikasi-aplikasi berbagi lainnya. Terkadang video pembelajaran bisa dilihat secara gratis di Youtube dengan kualitas yang jauh lebih baik dari dosen/guru pengajar di kelas. Apakah fenomena ini akan merubah peta pendidikan di dunia, mirip fenomena disrupsi yang saat ini masuk ke bidang ekonomi ditandai dengan tergusurnya bisnis konvensional dengan bisnis berbasis industri 4.0 dengan internet of thins-nya. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Apakah kita bisa berguru dengan sumber informasi seperti buku, ebook, website, google, dan sebagainya? Jawabnya tentu saja bisa. Karena entah itu guru atau murid tetap membutuhkan sumber informasi tersebut. Nah, kalau begitu apa gunanya institusi pendidikan? Untuk menjawabnya, paling gampang adalah mengevaluasi diri sendiri.

Tidak ada yang menyangkal bahwa manusia dari bayi hingga dewasa memiliki kemampuan meniru yang tinggi. Bahkan Jepang yang terkenal pencipta alat-alat teknik, menerapkan prinsip tiru dan modifikasi. Apa yang ditiru oleh bayi atau anak kecil? Tentu saja bukan bacaan, apalagi browsing di internet. Mereka lebih suka melihat langsung, berinteraksi, dan berbaur untuk melakukan peng-copy-an. Salah satu contoh menarik adalah akademi balap yang dibentuk oleh Valentino Rossi. Entah belajar teknik mengajar dari siapa, Rossi bisa menghasilkan pembalap-pembalap kelas dunia, salah satunya F. Morbidelli yang minggu lalu menjuarai seri Aragon 2020. Dengan sederhana, dari wawancara, dia menjelaskan apa yang diperoleh dari akademi balap milik Rossi tersebut. Dia mengatakan sebagian besar ilmu yang diperoleh dari Rossi adalah bukan dari wejangan dia di kelas, melainkan dari interaksi dengan sang legenda balap tersebut, dari bagaimana dia bersikap ketika ada masalah, bagaimana menjaga semangat juang, dan lain-lain yang tidak bisa diperoleh hanya dari video, apalagi tulisan.

Boleh saja e-learning menggantikan peran dosen pengajar, tetapi ada keinginan dari siswa untuk mempelajari sesuatu dari sumber inspirasi, yang tidak lain adalah pengajar dan jajarannya, termasuk instruktur di laboratorium. Terlebih jika siswa tersebut dikirim belajar ke negara lain untuk lebih banyak memperoleh pengalaman agar bisa diterapkan di negaranya. Jepang sebelum perang dunia 2 banyak mengirim anak-anak mudanya mempelajari ilmu permesinan di Jerman hingga akhirnya mampu memproduksi perlengkapan tempur baik senjata, mobil, pesawat dan kapal lautnya. Pengalaman berharga saya ketika studi lanjut dan bergabung dengan siswa-siswa dari negara lain adalah bahwa tidak ada yang layak untuk disombongkan, semua harus belajar. Uniknya, dosen selalu dihormati, tidak seperti di negara kita belakangan ini. Beberapa hari yang lalu saya menjenguk rekan saya yang dulunya dosen di tempat saya mengajar. Sebelum keluar, beberapa tahun yang lalu, para mahasiswa mendemo dengan alasan sepele, bahkan aksinya hingga memecahkan kaca jendela kelas. Saya pun pernah, bahkan sempat salah satunya orasi di depan kelas saat saya mengajar, yang traumanya lumayan, sampai-sampai hingga saat ini saya tidak lagi mau mengajar mahasiswa dari fakultas bernuansa agama itu. Waktu itu saya pos materinya di sini, dengan harapan beberapa tahun kemudian siapa tahu mereka melihat lagi materinya dan bermanfaat ketika sedang mengerjakan skripsi. Sekian, semoga bisa menginspirasi.