Ganti User ID di Windows 10

Lucu juga kalau dipikir-pikir, seorang eks IT di bank swasta berskala nasional, ketika ingin mengganti account windows 10 milik sendiri kebingungan. Maklum waktu itu windows yang digunakan masih xp untuk desktop dan windows 2000 untuk server. Itulah dunia IT, kalau tidak update informasi nanti jadi “kudet”, alias kurang update.

Windows 10 ditawarkan oleh microsoft secara gratis. Tadinya saya kira berita hoax, ternyata berita tersebut benar, asalkan dalam kondisi upgrade dari sistem operasi (OS) windows lama ke windows 10 yang baru. Ujung-ujungnya tetap saja beli lisensi windows yang lama. Ketika menggunakan windows 7 di laptop yang disubsidi dari kampus saya kuliah, waktu itu sering ada informasi update OS cuma-cuma yang muncul secara pop-up di laptop ketika digunakan. Karena banyak program-program penting dan khawatir tidak kompatibel akhirnya saya abaikan. Terakhir, ternyata kebanyakan jalan juga di windows 10 yang jauh lebih nyaman digunakan dibanding windows 8 yang agak berbau “touchscreen”.

Setelah browsing di internet, akhirnya ditemukan situs yang mengajari cara mengganti user ID windows 10 di link ini. Sederhana ternyata, hanya saja lokasinya agak sulit ditemukan. Di bagian menu Setting sendiri hanya mengganti foto login saja yang ada, sementara ganti nama user ID tidak ada. Oiya, klik kanan “my computer” atau “this pc” dan dilanjutkan dengan mengklik manage yang sering saya lakukan di windows yang lalu tidak ada juga menu users.

Langkah yang harus dilakukan untuk mengganti user ID di windows 10 adalah dengan menekan Windows + R untuk memanggil menu RUN dilanjutkan dengan mengetik “netplwiz” untuk memanggil setingan user account.

Tampak user yang ada masih bernama “lenovo”, laptop murah yang baru saja saya beli. Namanya tidak asing bagi orang jawa yang mirip kata “legowo” .. he he. Lanjut dengan dobel klik di user yang ingin diganti namanya, dilanjutkan dengan ganti nama dan tekan OK untuk mengakhirinya. Oiya, sebaiknya user tidak menggunakan permission level Administrators.

 

Lanjutkan dengan sekali lagi tekan OK untuk keluar dari menu netplwiz (entah singkatan apa itu?). Restart laptop Anda. Sekian, semoga bermanfaat.

 

H-index Scopus yang Merangkak Naik

Ramadhan kali ini memberi sedikit makna kepada saya. Setelah view blog yang menyentuh angka sejuta, ada pemberitahuan dari researchgate bahwa ada yang mensitasi tulisan ketiga saya yang terindeks scopus. Hasilnya ternyata h-indeks naik satu point menjadi dua, lumayan bagi periset pemula seperti saya. Periset yang berasal dari kampus yang belum begitu fokus ke riset, padahal kementerian yang menaunginya telah menggabungkan departemen riset dan teknologi dengan pendidikan tinggi. Gambar berikut memperlihatkan posisi h-indeks yang menyentuh sisi miring pada skala sitasi 2, alhasil h-indeks=2. Lihat postingan sebelumnya yang membahas apa itu h-indeks dan juga apa manfaat dari h-indeks itu sendiri.

Berikutnya untuk menggapai h-indeks=3 agak berat karena harus minimal tiga tulisan disitasi tiga kali. Walaupun dua, sebenarnya jika tanpa “self citation”, h-indeks saya masih satu (disitasi oleh dua orang selain saya). Tetapi dari sisi publikasi, self citation sepertinya masih diperbolehkan karena self plagiarism pun masih diterapkan. Justru kalau tidak merujuk tulisan yang kita tulis sebelumnya (hanya copas) malah masuk kategori self plagiarism ini.

Ada sedikit pertanyaan yang harus dijawab terkait indeks yang dimiliki kemristek-dikti (sinta), mengapa tidak langsung update dengan scopus (artikel sudah benar=4 tetapi sitasi masih 3). Seharusnya ketika scopus berubah naik h-indeksnya, Sinta secara otomatis naik. Mungkin masih dalam perbaikan dan saya yakin setelah fix nanti akan terkoneksi secara otomatis baik ke Scopus, Google Scholar, atau indeks lainnya.

Iseng saya menelusuri siapa yang mensitasi terakhir tulisan saya. Ternyata adalah Gomez, dari USA. Tulisannya merupakan conference internasional. Seneng juga tulisan kita muncul di list “reference” orang lain, apalagi terindeks scopus.

Sekian, semoga bermanfaat dan karena baru saja Idul Fitri saya mengucapkan Minal aidin walfa idzin, mohon maaf lahir dan batin.

Beli Laptop Ringan atau Kerjaan Ga Selesai-selesai

Untuk bekerja memang diperlukan sarana penunjang yang oke. Salah satunya adalah notebook atau dikenal dengan istilah laptop yang dipopulerkan oleh si “tukul arwana” dengan slogannya “kembali ke laptop”. Barang yang satu ini menjadi keharusan pekerja modern untuk menyelesaikan tugas-tugas keseharian seperti membuat laporan, mencari informasi, mengolah data, atau sekedar untuk hiburan dan entertainment. Untuk mendukungnya diperlukan spek laptop yang mendukung.

Untungnya teknologi terus berkembang sehingga tiap hari bermunculan produk baru yang memiliki kualitas yang baik tetapi dengan harga yang jauh lebih murah dari sebelumnya. Ketika kuliah dan tinggal di kampus, dengan satu laptop dengan spek tinggi semua masalah dapat diatasi karena memang kegiatannya hanya di kamar dan kampus saja. Masalah muncul ketika menulis laporan di luar kampus, alias di rumah, di Indonesia dimana kegiatan lain sangat menyita waktu bekerja. Ada ungkapan yang sering saya dengar dari rekan sesama dosen, saking sibuknya jangankan menulis, membuka laptop saja tidak sempat. Begitu juga yang saya rasakan, maka butuh tip dan trik untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah dengan bantuan laptop ringan pendukung laptop utama.

Sebelumnya tablet jadi andalan saya untuk alat bantu ketika “outside” dengan fasilitas-fasilitas produktivitas yang ada. Tapi sayangnya fasilitas tersebut tidak bisa menggantikan kerja laptop sebelumnya. Tidak mungkin menulis banyak dengan tablet, walaupun bisa dengan memanfaatkan doc keyboard yang banyak beredar di pasaran. Tetap saja ketika mengelola attachment tambahan seperti image, bagan, dan sejenisnya agak kerepotan. Kalaupun bisa, tetap saja untuk meng-capture hasil running tetap saja membutuhkan laptop utama yang berisi program utama (matlab, arcGIS, Visio, dll).

Kaget juga melihat harga laptop yang murah-murah ketika jalan-jalan menemani istri membeli laptop yang ringan karena laptop sony vaio yang lama terasa berat untuk dibawa-bawa. Dengan dana tidak jauh-jauh dari 3 jutaan ternyata berhasil membeli laptop ringan 11 inch. Untuk aplikasi perkantoran biasa, ngetik dan sejenisnya, mungkin bisa tetapi saya masih sanksi jika digunakan untuk software utama. Tetapi ketika coba diinstall ternyata bisa diinstall semua dan berjalan normal (Matlab, ArcGIS, IDRISI, Visio, dan lainnya). Sementara untuk baterai pun cukup tahan lama karena prosesor yang digunakan jenis mobile, tanpa kipas dan panas yang berlebihan. Tentu saja jauh lebih lambat dibanding laptop utama yang berprosesor i5 untuk running dan data processing, tetapi dengan slogan “lebih baik lambat tapi tetap jalan daripada cepat tapi banyak berhentinya” akhirnya dengan laptop ringan pekerjaan rutin dapat diselesaikan disela-sela kegiatan remeh temeh yang dapat menghambat. Sulit memang mencari waktu satu dua jam fokus di depan meja dengan laptop menyala, tetapi dengan laptop ringan, pekerjaan dapat dilakukan kapanpun dengan laptop nangkring di mana aja. Tentu saja saran di postingan ini hanya cocok untuk saya yang selalu “low budget” karena laptop berprosesor tinggi pun tersedia dalam bentuk ringan seperti Macbook Air, zenbook, dan kawan-kawannya yang dikenal dengan sebutan ultra-book yang berharga sama dengan harga motor bebek. Tetapi dengan laptop ringan yang murah, rasanya lebih aman dan tidak khawatir dari maling dan begal yang saat ini banyak beritanya, dan lagi, fasilitas Cloud tempat menyimpan data yang banyak teredia gratis saat ini membuat kita tidak khawatir data ikut hilang ketika laptop hilang/rusak. Semoga bisa menginspirasi.

 

The Unified Process

Bagi mahasiswa komputer yang sudah atau sedang mengerjakan skripsi/tugas akhir pasti mengenal istilah SDLC, singkatan dari System Development Life Cycle, standar pembuatan perangkat lunak. Kemunculan metode ini diperuntukan untuk standar pembuatan perangkat lunak tanpa iterasi. Tentu saja memiliki kelemahan, tetapi cukup baik untuk standar, apalagi standar kelulusan mahasiswa. Mahasiswa mengajukan proposal, bimbingan, pembuatan kode program, sidang dan lulus dah.

SDLC biasanya digunakan untuk pembuatan software konvensional yang terstruktur dan belum berbasis objek. Sementara untuk perancangan software berbasis objek, salah satu standar yang terkenal adalah Unified Process (UP) yang menggunakan visualisasi diagram Unified Modeling Language (UML) dan saat ini menjadi momok menjengkelkan mahasiswa TI/SI karena diagramnya yang cukup banyak untuk diingat: use case, class, dan teman-temannya.

Mempelajari UML sendiri sangat sulit tanpa mempraktekan langsung lewat proses pembuatan perangkat lunak, sering diistilahkan dengan Software Development Process (SDP) atau Software Engineering Process (SEP), walaupun kebanyakan praktisi IT enggan disebut engineer dan lebih suka dibilang developer .. he he yakni kaum yang kerjanya mengkonversi kebutuhan (requirement) menjadi (software).

Di awal UP sering disebut Unified Software Development Process (USDP) tetapi karena mungkin kepanjangan oleh salah satu pencetus UML, Ivar Jacobson, cukup disebut UP. Implementasi pertamanya adalah dilakukan oleh Ericsson (dikenal dengan ericsson approach) di IBM atau dengan istilah terkenalnya Rational Unified Process (RUP).

Ok, cukup panjang membahas hal ini. Butuh satu buku khusus yang sedang saya kerjakan untuk coba diterbitkan, melanjutkan buku terdahulu. Jika ingin mempelajari lebih detil, baca buku khusus UML yang banyak bertebaran baik di toko buku maupun internet, terutama dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Jadi kalau kalian sulit memahami pembahasan UML dengan bahasa Indonesia bisa mendownload yang berbahasa Inggris yang lebih mudah (eh .. kebalik ya).

Toko Online vs Konvensional

Dunia IT, komputer, hingga gadget (tablet, handphone, dan sejenisnya) merupakan dunia yang perkembangannya sangat cepat. Teknologi ini berkembang dalam hitungan detik dengan persaingan yang sangat ketat. Salah satu teknologi yang sangat menonjol perkembangannya akhir-akhir ini adalah internet, dengan fasilitas online-nya. Maju-nya facebook, google, dan hancurnya yahoo menghiasi berita-berita di media saat ini. Lesunya angkutan konvensional (ojek, taksi, dll) dan boomingnya angkutan online (grab, gojek, uber, dll) pun tak lepas dari dukungan teknologi informasi.

Fasilitas online yang disuguhkan oleh internet ternyata sanggup membunuh industri-industri yang tidak siap. Beberapa toko konvensional di Amerika Serikat banyak banyak yang gulung tikar karena sepi pembeli karena lebih suka belanja via aplikasi online yang banyak bertebaran di dunia maya. Bukan hanya tokonya, bahkan mall-nya pun terkena dampaknya, yaitu sepi pengunjung. Kecuali beberapa toko yang menawarkan ide-ide kreatif dan hal-hal khas lainnya.

Postingan ini berawal dari keisengan saya membeli barang via toko konvensional kemarin. Saya belanja laptop ringan karena laptop yang dahulu terasa berat untuk dibawa-bawa (sony vaio) padahal hanya digunakan untuk mengetik dan program perkantoran lainnya. Karena membutuhkan tes (kecepatan program, berat, tekstur, dan lain-lain) yang harus dilakukan langsung maka terpaksa mendatangi toko yang bersangkutan. Setelah menemukan barang yang dituju, akhirnya transaksi dilakukan secara cepat, berbeda dengan belanja online yang butuh waktu berhari-hari untuk membandingkan spek dan aspek lainnya antara satu merek dengan merek lainnya atau antara satu toko dengan toko lainnya. Jika sedang sial, kepala malah jadi pusing dan ujung-ujungnya tidak jadi membeli barang yang dimaksud. Dari sini saya menarik kesimpulan ternyata ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dilakukan secara online. Entah setuju atau tidak, berikut ini hal-hal yang saya rasakan sebagai konsumen memandang toko konvensional memiliki keunggulan dibanding toko online yang kian hari kian menjamur.

A. Mengecek Kecocokan Barang Sesuai Selera

Mengecek di sini bisa berupa test drive untuk kendaraan, atau untuk barang-barang tertentu yang membutuhkan selera (makanan/minuman, mainan, barang pribadi, dan sejenisnya). Tentu saja toko online tidak bisa menyediakan fasilitas ini. Jika dipaksakan secara online, banyak konsumen yang kecewa, atau setidaknya tidak sesuai dengan harapan. Karena saya membutuhkan laptop ringan yang mendukung kerja sehari-hari dengan cita rasa tertentu, maka dengan mendatangi toko secara langsung, melihat barangnya, mengangkat untuk memperkirakan berat dan apakah enak dipegang, dapat menemukan barang yang sesuai dengan keinginan.

B. Asesoris-asesoris tambahan

Mungkin toko online dapat memenuhi permintaan secara utuh barang yang dibeli. Tetapi tentu saja barang yang dibeli membutuhkan alat-alat tambahan, baik keinginan sendiri atau saran dari penjual. Screen protektor, pelindung tambahan, hingga install software-software secara gratis oleh toko penjual terkadang menjadi daya tarik tersendiri dari pembelian secara langsung. Tetapi jika hanya ingin membeli asesoris itu sendiri seperti harddisk eksternal, mouse, dan sejenisnya toko online lebih fleksibel karena tidak banyak waktu yang terbuang untuk berbelanja.

C. Informasi Tersedia dengan Jelas

Berbeda dengan puluhan tahun yang lalu, saat ini dimana informasi mudah diakses, informasi terhadap suatu produk dapat diketahui dengan jelas. Walaupun terkadang butuh usaha ekstra untuk mengetahui kebenaran dari informasi tentang produk tersebut. Dengan kata kunci “plus-minus” atau “perbandingan” suatu produk, dapat diketahui informasi dengan cukup jelas. Forum juga sangat membantu membandingkan dan mempertimbangkan untuk membeli suatu produk. Berbelanja sambil membuka situs penjualan online juga sangat membantu untuk terhindar dari harga yang menjebak. Logika sederhana adalah jangan sampai membeli barang secara langsung dengan harga lebih mahal dari harga barang yang dijual secara online karena pembelian online menyertakan biaya pengiriman (akibatnya harga lebih mahal sedikit).

D. Kualitas Toko Konvensional Mulai Meningkat

Membeli laptop membutuhkan waktu cukup lama jika dilakukan langsung karena instalasi software-software yang biasanya disertakan secara gratis oleh toko tersebut. Hal ini cukup membantu budget kita yang terbatas. Banyaknya waktu dapat dimanfaatkan untuk mencari tahu dunia penjualan konvensional saat ini. Untuk menghindari bangkrutnya mall-mall di Jakarta, pemda mengajukan ide moratorium pendirian mall baru (pembekuan ijin pendirian). Ternyata cukup efektif karena mall-mall yang sudah ada diberdayakan kembali (peremajaan) dan terhindar dari kebangkrutan.

Jauh berbeda dengan ketika membeli laptop terakhir kira-kira lima tahun yang lalu, saat ini membeli laptop jauh lebih mudah. Ketika ditanya omset penjualan yang diperoleh ketika membeli laptop kemarin, mereka menjawab sangat memprihatinkan. Dari empat toko yang dimiliki, beberapa toko terpaksa di-merger untuk efisiensi. Dampaknya kualitas layanan ditingkatkan, jika berani macam-macam dengan menipu/berbohong resiko tanggung sendiri. Konsumen akan kabur. Persaingan antar mereka ternyata berubah menjadi saling mendukung. Jika tidak ada barang, suatu toko akan memperoleh barang dari toko tetangganya.

Satu hal yang cukup menyenangkan adalah layanan servis. Dulu saya pernah meminta jasa servis dan kebanyakan tidak memuaskan. Mereka lebih suka menjual barang baru dari pada memperbaiki barang yang rusak. Tetapi saat ini ketika banyak konsumen yang membeli barang secara online, jasa servis menjadi andalan utama yang kebetulan belum dimasuki oleh jasa online. Laptop jadul yang tidak menyala waktu itu iseng-iseng saya bawa dan serahkan ke servis untuk dibuat “menyala” kembali. Hal yang jarang saya lakukan sejak dulu karena sering kecewa terhadap penyedia jasa servis komputer.

Pasti banyak yang tidak sependapat dengan postingan ini tetapi saya hanya menulis berdasarkan pengalaman pribadi saja. Mungkin pembaca memiliki pengalaman yang berbeda dan alangkah baiknya mengisi komentar di bawah. Suka atau tidak suka, sepertinya dunia online tidak dapat dihindari. Fakta di lapangan untuk beberapa tahun ke depan menarik untuk dipantau. Ngomong-ngomong, buku yang saya buat pun diuntungkan dengan adanya penjualan online oleh gramedia (di link berikut ini). Semoga toko buku ini tidak bernasib sama dengan toko buku legendaris mas agung yang sudah tutup beberapa tahun yang lalu.

Presentasi Gambar untuk Jurnal

Jurnal merupakan alat ukur kinerja seorang peneliti. Walaupun saat ini banyak yang mengkritik keberadaan jurnal yang sudah cenderung agak memprioritaskan aspek bisnis, tetapi tidak ada cara yang lebih praktis dalam menjaga standar kualitas penelitian. Jurnal ilmiah, entah itu berbayar atau gratis sangat diperlukan bagi kemajuan ilmu pengetahuan karena sifatnya yang mudah disitasi sehingga satu penelitian akan diteruskan oleh peneliti lainnya.

Selain isi yang berbobot, suatu artikel ilmiah perlu menarik perhatian peneliti lainnya agar dibaca. Ada yang berpendapat bahwa separuh dari artikel ilmiah yang beredar saat ini hanya dibaca oleh penulis, reviewer dan editor jurnal. Walaupun saat ini saya tidak begitu mempercayai statement tersebut karena dunia yang sudah jauh lebih “online” dari beberapa tahun silam, tetap saja suatu artikel ilmiah harus sedapat mungkin menarik perhatian peneliti lainnya untuk dibaca. Salah satu komponen penting yang mampu menarik perhatian peneliti-peneliti lainnya adalah gambar yang disertakan dalam artikel ilmiah yang diusulkan. Gambar di sini bisa berupa bagan, grafik, ataupun peta.

Dulu saya pernah berfikir bahwa jurnal harus meng-capture gambar sesuai dengan kenyataannya (tidak dilakukan modifikasi). Ternyata tidak selamanya demikian, jika gambar yang langsung diambil tidak terlalu jelas maka perlu dilakukan modifikasi untuk memperjelasnya (info dari pelatihan penulisan artikel ilmiah di kopertis IV jabar). Pengetahuan mengenai pengolah gambar seperti photoshop, corel, dan sejenisnya terkadang sangat membantu. Beberapa software saat ini sudah disiapkan alat bantu untuk menghasilkan gambar dengan kualitas yang baik, misalnya Matlab, ArcGIS dan software lainnya, terutama yang berbayar. Lihat postingan yang lalu untuk pembuatan grafik di Matlab serta presentasi grafiknya.

Beberapa jurnal tidak merekomendasikan meng-capture dengan cara screenshoot hasil dari suatu software. Gambar yang dihasilkan sebaiknya bebas platform (software tertentu). Terkadang visio sangat diperlukan dalam pembuatan bagan aliran proses karena kualitasnya yang tajam. Saya pernah memanfaatkannya ketika mengerjakan analisa multikriteria dengan weight average. ArcGIS menyediakan fasilitas gambar yang digunakan sebagai model analisanya, tetapi untuk jurnal sebaiknya menggunakan visio atau software pengolah gambar lainnya. Tentu saja tidak semua jurnal menolak hasil screenshoot, tetapi jangan lupa bahwa salah satu aspek terpenting jurnal adalah kemudahan bagi pembaca untuk memahaminya.

Fig. 6. Spatial analysis using weighted overlay technique

Gambar di atas contoh hasil capture dari ArcGIS dalam mencari lokasi optimal suatu region. Ketika dicetak dalam suatu jurnal ternyata kurang begitu jelas. Bandingkan dengan gambar di bawah ini, yang selain jelas juga ringkas dan mudah dipahami. Aspek ringkas sangat disukai oleh jurnal-jurnal mengingat perlembar bagi artikel ilmiah sangat berharga (beberapa dollar). Lihat artikel lengkapnya di sini.

Figure 6: Spatial analysis using weighted overlay technique to create suitability regions for scoring residential area (A), and commercial, industrial, health, and education (B).

 

Mengekspor Bobot dan Bias ke Network JST

Cukup lama juga tulisan saya tentang “Seputar Jaringan Syaraf Tiruan” yaitu enam tahun yang lalu. Salah satu komentar yang cukup menarik adalah tentang bagaimana komponen JST yang berfungsi training mengirimkan hasil trainingnya (bobot dan bias) ke network JST agar bisa dipergunakan oleh aplikasi web-based yang memiliki JST di dalamnya. Sedikit berbeda dengan publikasi saya tentang Web-GIS yang baik training maupun simulating berada di desktop-GIS (Fig.1).

Dengan memanfaatkan fasilitas training JST Matlab, kita dapat mengetahui bobot dan bias hasil training yang telah dilakukan (lihat postingan sebelumnya mengenai cara membaca hasil pelatihan JST). Dengan memanfaatkan cara membaca bias dan bobot, kita dapat mengirimkannya ke JST yang telah dirakit terlebih dahulu. Postingan kali ini bermaksud sama-sama berdiskusi mengenai teknik untuk mengirimkan bias dan bobot hasil training ke JST yang ada.

A. Training JST dengan fungsi newff

Agar lebih gampang, contoh training dapat dilihat di help matlab (ketik saja help newff di command window Matlab). Atau copas script berikut ini:

  • load simplefit_dataset
  • net = newff(simplefitInputs,simplefitTargets,20);
  • net = train(net,simplefitInputs,simplefitTargets);
  • simplefitOutputs = sim(net,simplefitInputs);

Setelah enter ditekan, jendela pelatihan akan muncul seperti gambar di bawah ini. Tunggu sesaat hingga proses pelatihan selesai dijalankan.

B. Latihan Meng-update bobot JST Hasil Pelatihan

Untuk melihat variabel-variabel hasil pelatihan, kita dapat lakukan dengan menekan net di command window (jika variabel JST-nya “net” dan jika tidak, sesuai dengan namanya, biasanya network1 (default) jika dibuat di nntool).

  • sim(net,94)
  • ans =
  • 4.9494
  • Jawaban1=ans

Kode di atas adalah hasil awal JST ketika diberi masukan “94”, yaitu sebesar 4.9494. Berikutnya kita misalnya telah melakukan training lagi dengan data yang lebih baru dan akan meng-update dengan data baru. Sementara data yang lama adalah sebagai berikut:

  • >> net.IW
  • ans =
  • [20×1 double]
    • []
  • >> cell2mat(ans)
  • ans =
  • 28.3617
  • 27.9082
  • -27.8863
  • 26.6165
  • 23.2698
  • -15.0705
  • -20.3582
  • 22.0298
  • 28.3998
  • 28.0369
  • -27.9783
  • 27.8605
  • 27.8120
  • -27.7361
  • 28.0819
  • -28.8486
  • -29.2218
  • 26.3938
  • 26.8540
  • 28.1526
  • IWW=ans;

Di sini kita bisa mencoba melatih JST dengan data latih baru. Tetapi untuk gampangnya, sebagai perbandingan saja, misalnya IW di baris pertama misalnya “nol” (berwarna merah pada IW di atas). Insert dengan kode berikut:

  • IWW(1,1)=0

Sehingga baris pertama IW menjadi nol. Kembalikan variabel “mat” di atas menjadi “cell” mengingat bobot di Matlab adalah dalam bentuk cell.

  • IWWnew=mat2cell(IWW)
  • net.IW(1,1)=IWWnew

Di sini variabel baru IWWnew (konversi mat menjadi cell) disisipkan di net.IW yang merupakan bobot input JST.

  • >> sim(net,94)
  • ans =
  • 4.0079
  • Jawaban2=ans

Di sini kita uji dengan data test yang sama dengan sebelumnya (“94”), hasilnya ternyata berbeda dengan sebelumnya.

  • >> [jawaban1;jawaban2]
  • ans =
  • 4.9494
  • 4.0079

Perhatikan Jawaban1 dan Jawaban2 yang berbeda. Artinya JST sudah berubah karena update bobot di bagian input (net.IW). Untuk bias dan bobot sisi hidden layer dapat dilakukan dengan cara yang sama. Untuk mengirimkannya lewat mekanisme database, ada baiknya membaca buku yang telah kami tulis sebelumnya. Selamat mencoba.

Tetap Menulis

Walaupun bergerak perlahan-lahan, ternyata sampai juga viewer blog saya di angka satu juta. Angka yang tentu saja jauh di atas vlog yang dibuat orang-orang di youtube. Alhamdulillah, berarti tulisan saya dibaca dan mudah-mudahan bermanfaat. Terlepas dari jumlah viewer, tujuan utama tulisan di blog ini adalah untuk sharing informasi berkaitan dengan teknologi informasi dan dunia akademik. Tidak ada sama sekali yang isinya menyinggung masalah politik, apalagi konflik keagamaan. Kalau pun ada sedikit, itu pun karena ketidaksengajaan atau karena bersentuhan dengan hal-hal real yang terjadi, dan tetap dalam koridor IPTEK.

Beragam komentar berusaha saya balas, walaupun terkadang pertanyaannya sangat menguras otak karena beberapa hal, salah satunya adalah sifat manusia: lupa. Postingan beberapa tahun silam terkadang sudah lupa, butuh beberapa saat untuk me-refresh kembali. Ada juga komentar bernada “nyinyir” bahkan menghina. Tetapi saya tetap bersyukur karena walau bagaimanapun, dia telah membaca karya tulis saya. Sumber-sumber saya usahakan untuk disertakan dalam tulisan, mengingat beberapa tulisan di jurnal ada yang mensitasi tulisan di blog ini dan ternyata oleh Google scholar dihitung juga sebagai nilai sitasi saya di google.

Apapun profesi kita, selama berada di negara ini sepertinya memiliki beban berat. Beban yang terjadi karena budaya kita yang mulai bergeser dari “tepo-seliro”, gotong-royong, saling menghargai menjadi budaya yang gemar mengkritik pedas, ingin sesuatu yang sempurna, dan sejenisnya. Tetapi toh, kita semua tetap setia dengan profesi kita masing-masing. Walaupun banyak saya lihat rekan-rekan yang masih tinggal di negara lain untuk bekerja karena selain upah yang lebih besar dari negara asalnya juga lebih dihargai. Begitu juga dengan menulis, suatu kegiatan yang menjadi bagian penting dari seorang dosen, tidak lepas dari kritik-kritik baik yang membangun maupun yang agak menghina.

Terlepas dari itu semua, karena tujuan utamanya untuk berbagi ilmu, apapun yang terjadi kita sebaiknya tetap menulis. Terkadang hal-hal sederhana yang kita miliki, terasa berharga bagi orang lain yang membutuhkan. Mungkin bagi Anda suatu pengetahuan tidak terlalu berharga, tetapi bagi orang lain yang kebelet buang air, informasi Anda mengenai toilet terdekat sangat membantu .. (kok jadi ngomongin itu ya).

Demikian tulisan untuk memperingati ke-sejuta-an viewer blog saya, semoga bisa terus berbagi. Memang ada hal-hal tertentu yang tidak dapat saya “ceplos”kan, mengingat hal-hal tersebut masih dalam suatu proses riset yang jika belum dipublikasikan belum bisa jadi “hak milik” saya. Salam ramadhan.

Melihat Kinerja Riset Kampus dengan SINTA

Salah satu pengindeks lokal negara kita adalah SINTA. Ternyata selain untuk melihat kinerja seorang peneliti juga bisa digunakan untuk melihat kinerja kampus. Caranya adalah dengan mencari berdasarkan Afiliasi institusi tertentu (kampus atau lembaga penelitian). Di sini akan saya coba buka kampus saya ngajar dan kuliah dahulu.

Pertama-tama buka situs SINTA. Kemudian masukan nama afiliasinya, misalnya “universitas islam 45” dilanjutkan dengan menekan simbol “search”. Dari hasil pencarian, tekan link yang ditampilkan untuk melihat secara umum (overview) institusi yang akan dilihat.

Tampak total sitasi berdasarkan “google” dan “scopus”. Untuk melihat pengarang-pengarang yang ber-“homebase” di institusi itu tekan “Authors” yang simbolnya kepala-kepala orang. Hingga saat ini proses registrasi sedang berjalan dan ada kemungkinan “score” bertambah dengan bertambahnya author yang terverifikasi.

Ada beberapa author yang belum memiliki ID Scopus yang diperoleh jika author pernah submit jurnal atau conference yang terindeks scopus. SINTA sendiri memiliki score yang dapat dilihat dengan menekan tombol “Score”.

Score yang lumayan untuk kampus kategori binaan. Saat ini sitasi “google” masih dipimpin oleh UGM sementara “scopus” dikuasai ITB, jika dilihat di menu utama SINTA.

SINTA selain menarik data dari google scholar dan scopus, juga data dari IPI atau yang dikenal dengan portal garuda. Karena menarik data dari portal garuda yang berisi jurnal-jurnal lokal baik terakreditasi atau tidak bisa juga digunakan untuk melihat kinerja suatu jurnal. Misalnya jurnal yang sempat saya buat tahun 2013 kenerjanya dapat dilihat dengan men-search di SINTA.

Tampak sitasi dan index yang masih nol. Semoga postingan ini bermanfaat. Kinerja di atas hanya sekedar ilustrasi dan masih sementara karena proses verifikasi masih berjalan. Jadi masih ada kemungkinan untuk bertambah, sekian.

Konversi Piksel ke Area

Ketika melakukan manipulasi image terkadang diminta mempresentasikan area lahan dalam hektar. Padahal data raster format yang biasanya digunakan adalah piksel. Bagaimana menghitungnya? Postingan berikut ini bermaksud sharing bagaimana menghitung luas suatu kelas land use (LU) dalam image yang kita miliki.

Untuk data polygon, postingan yang lalu sedikit mengulas bagaimana menghitung suatu area tertentu dalam software ArcGIS. Untuk menghitung area, cara yang praktis adalah dengan menggunakan “crostab” di IDRISI atau “tabulate area” di ArcGIS. Prinsip penggunaannya baik ArcGIS maupun IDRISI sama saja. Tabulasikan saja dua image yang sama.

Untuk ArcGIS caranya tidak jauh berbeda, yang penting nanti dihasilkan tabel tabulasi. Di sini baik first image maupun second image menggunakan image yang sama. Tekan “OK” dan dihasilkan tabel di bawah ini.

Perhatikan tabel di atas. Dari 7 kelas, tampak total pikselnya. Karena kelas “1” adalah “background” yang tidak dihitung, maka total piksel study area adalah total piksel dikurangi background. Gunakan kalkulator atau Microsoft Excel agar tidak salah. Di sini total piksel study area adalah 452.570 dikurangi dengan 212.255 yakni sebesar 420.315 piksel yang setara dengan luas study area contoh di atas, yaitu kota Bekasi sebesar 21049 hektar. Jadi jika diminta menghitung berapa hektar kelas “7” misalnya maka jawabannya adalah 2067 * (21049/420315) = 103,51 hektar. Mudah bukan?

Note: jika diminta dalam satuan km persegi, mudah saja. Bagi saja dengan 100 hasil di atas, yakni menjadi sebesar 1.0351 km2.

Virtual Machine dengan VMWARE

Postingan ringan kali ini membahas tentang mesin virtual (virtual machine). Mesin virtual di sini yang dimaksud adalah mesin virtual pengganti personal computer (PC). Mesin ini berjalan di dalam sistem operasi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada pada suatu PC (prosesor, ram, vga, dan sebagainya). Beberapa pengalaman unik dengan mesin virtual akan saya share, siapa tahu bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Berfungsi Sebagai Server Sementara

Ada pengalaman unik ketika saya masih bekerja di IT suatu bank swasta nasional. Jadi ceritanya ada pergantian PC Server cabang di tempat kerja saya dahulu, tetapi sistemnya sendiri belum dijalankan (tetapi sudah dipasang, server berbasis windows terbaru). Karena sistem saat ini masih menggunakan versi yang lama sementara seluruh PC server diganti yang baru, maka untuk sementara dipasang server virtual dengan versi yang lama karena proyek penggantian sistem yang baru belum dieksekusi.

Tadinya saya terkejut karena menggunakan server virtual untuk transaksi real. Tetapi setelah dijalankan ternyata tidak ada masalah karena walaupun virtual, data tetap real. Butuh tulisan yang panjang untuk membahas IT di perbankan, tetapi intinya mesin virtual layak dijalankan. Bahkan saat ini layanan cloud computing sudah biasa menggunakan mesin-mesin virtual, misalnya Amazon. Suatu server induk menyediakan layanan berupa server-server virtual untuk nasabah yang membutuhkan server untuk operasionalnya. Waktu itu yang digunakan adalah VMWARE yang ternyata gratis untuk playernya.

Multi-platfom

Untuk menginstal dua sistem operasi dalam satu mesin memang bisa dengan menggunakan dual operating system. Tetapi karena diinstal secara real, maka konsekwensi yang dihadapi juga real. Maksudnya adalah hardisk terpartisi, dan masalah-masalah sumber daya lainnya. Dengan mesin virtual, saya bisa menggunakan beragam sistem operasi dalam mesin virtual tanpa mengganggu sistem utama ketika tidak digunakan. Beberapa sistem operasi telah saya coba dari redhat, ubuntu, hingga yg berlogo kadal (saya lupa namanya, maklum banyak fikiran).

Masalah Driver

Saya memiliki scanner UMAX dengan driver berbasis windows xp. Ketika PC saya berganti windows 7 ternyata tidak bisa digunakan drivernya. Cari di internet ternyata tidak ketemu (walaupun ada yang berbayar tapi malas juga keluar duit lagi untuk barang lama). Akhirnya dari pada scanner tidak terpakai, saya gunakan saja mesin virtual ketika menjalankan scanner tersebut.

Masalah Kompatibilitas Program

Program jadul ternyata tidak bisa berjalan dengan sistem terbaru, walaupun biasanya ada fasilitas backward compatibility. Di menu windows ada pilihan kompatibilitas dengan sistem operasi yang lama, tetapi tidak semua berjalan. Kadang walaupun berjalan ada fasilitas-fasilitas tertentu yang tidak bisa beroperasi. Nah, dengan virtual machine masalah itu dapat terselesaikan.

Untuk yang seumuran saya mungkin ada yang kangen dengan games jadul, untuk sekedar mengenang waktu kuliah dulu. Banyak situs-situs yang masih menyediakan source game tersebut, tetapi harus dijalankan dengan versi OS yang cocok dengan saat itu, misalnya windows XP. Mesin virtual dapat mengatasi masalah itu.

Salah satu yang menjengkelkan adalah kewajiban menggunakan program access untuk laporan serdos yang hanya bisa dijalankan dengan OS 32 bit windows. Repot juga jika laptop/pc kita menggunakan OS 64 bit, seperti saya. Salah satu jawabannya adalah dengan menggunakan mesin virtual, beres sudah, duit cair, he he. Terakhir saya menggunakan mesin virtual untuk bikin seneng anak yang mulai gemar game sepakbola. Repot juga kalo harus keluar uang beli PS, mending instal game jaman dulu saya di mesin virtual, colok ke flat TV, pakai keyboard dan mouse wireless, beres dah. Asal mainnya dari jauh dan jam-nya dibatasi sepertinya aman dibanding main tablet, laptop atau gadget lainnya.

Ekspor Land Use dari ArcGIS ke IDRISI

Terkadang peta Land Use (LU) perlu disisipkan dalam Land Cover (LC) dari pengolahan citra satelit (lihat postingan yg lalu tentang LU dan LC). LU sendiri diambil dari sumber lain selain citra satelit antara lain: data pemerintah, data dari swasta (lihat link ini sebagai contoh), dan sumber-sumber lain (google earth, google street view, dan sejenisnya).

1. Konversi dari Point ke polygon

Seharusnya LU berupa format polygon, mengikuti struktur bangunan itu sendiri. Tetapi jika rumit, bisa diambil pendekatan berupa titik tertentu, kemudian dikonversi menjadi polygon dengan fungsi “buffer”. Biasanya diambil kira-kira untuk pabrik misalnya 100 meter. Gambar berikut memperlihatkan buffering lokasi komersial (pasar, mall, pertokoan, dan sejenisnya).

2. Konversi dari Polygon ke Raster

Karena hasil pengolahan citra IDRISI berformat raster (*.rst) maka peta LU harus dikonversi lagi dari polygon ke raster dengan fungsi “polygon to raster” pada ArcGIS. Perhatikan bagian “Cellsize”, gunakan template dari image yang digunakan Land Cover.

Uniknya walaupun kita menggunakan cellsize yang sama, ternyata hasilnya masih kurang akurat jika dibanding dengan menggunakan LC yang akan disisipi menjadi template.

3. Konversi dari Raster ke ASCII

Data raster yang dihasilkan ArcGIS harus dikonversi ke ASCII agar bisa digunakan oleh IDRISI (dengan cara import). Oleh karena itu gunakan fungsi “raster to ascii” yang berada di menu conversion pada toolbox ArcGIS. Jangan lupa, gunakan environment dan pilih proyeksi yang sama dengan LC yang akan disisipi.

4. Impor dari ASCII ke Image pada IDRISI

Terakhir, buka IDRISI dan ambil fungsi ARCRASTER untuk mengimpor image dari ArcGIS. Pilih radio button terakhir yang mengkonversi dari Ascii format Idrisi.

Jangan lupa Output reference dipilih (defaultnya plane) sesuai dengan proyeksi study area. Jika sudah, gambar image berformat rst siap digunakan. Selanjutnya akan diposting bagaimana merger dua image.

Video tutorial berikut mungkin bermanfaat:

Land Use dan Land Cover dalam Riset

Banyak riset saat ini yang melibatkan Land Use/Cover (LULC). Riset tersebut termasuk kategori riset yang melibatkan banyak disiplin ilmu (inter/multi-discipline). Entah itu bidang pertanian, lingkungan, perencanaan kota, dan lain-lain, jika melibatkan LULC maka wajib mengetahui dasar-dasar Sistem Informasi Geografi (GIS). Termasuk saya yang meneliti optimasi data spasial terpaksa membutuhkan pembimbing dari jurusan remote sensing dan GIS (RS-GIS).

Persamaan dan Perbedaan Land Use dengan Land Cover

Ada persamaan dan perbedaan antara land cover (LC) dengan land use (LU). Persamaanya adalah keduanya membagi suatu wilayah dalam kelas-kelas tertentu, misalnya vegetasi, pertanian, sungai, dan lain-lain. Perbedaan mendasar adalah dari sisi pembagian kelas-kelas tersebut. LC membagi kelas-kelas berdasarkan sifat biofisika yang dapat diketahui langsung dengan image processing dari citra/foto satelit. Sementara LU membagi kelas-kelas berdasarkan bagaimana manusia memanfaatkan suatu lahan, misalnya untuk komersial, perumahan, industri, dan lain-lain. Jadi LC lebih umum dalam membagi dibanding LU. Built-up yang artinya wilayah tempat dibangunnya suatu gedung, merupakan pembagian berdasarkan LC, karena biofisika yang berbeda dengan vegetasi. Sementara built-up itu sendiri jika berdasarkan LU, yakni bagaimana manusia menggunakan lahan, bisa dirinci lagi menjadi perumahan, kesehatan, industri dan fungsi built-up lainya.

Riset yang Melibatkan LULC

Jika berbicara mengenai riset, biasanya kita berbicara mengenai publikasi dan sumber pendanaan. Terkadang keduanya tidak singkron, maksudnya dari sisi tujuan. Dari pengalaman yang saya alami sebagai pemula, perbedaan antara publikasi dan pendanaan hibah sangat signifikan dilihat dari keberhasilannya (accepted jurnal dan accepted pendanaan hibah).

Terkadang tema yang layak di jurnal (terutama jurnal internasional) sulit diterima jika diajukan untuk pendaan suatu hibah. Jurnal internasional membutuhkan kebaruan (novelty) sementara jika tidak ada kontribusinya langsung (terhadap masyarakat, pemerintah, dan pihak tertentu) biasanya ditolak. Sementara yang berkontribusi langsung walaupun tidak ada unsur kebaruan di dalamnya diterima. Oleh karena itu harus ada kompromi antara keduanya jika ingin diterima baik publikasinya ataupun pendanaan hibahnya. Apalagi saat ini pemerintah mewajibkan luaran hibah penilitian berupa jurnal internasional, tidak hanya laporan hasil dan purwa rupa-nya.

Untuk saat ini sebagai patokan riset yang melibatkan LULC agar diterima di jurnal internasional adalah cakupan study area. Rekan saya yang meneliti penyebaran hotspot/wifi beberapa kali ditolak naskahnya di jurnal internasional karena cakupan yang sempit. Untuk amannya, gunakan scope minimal suatu kota/district jika ingin mempublikasikan di jurnal geografi. Jika scope terlalu sempit, editor cenderung lebih santai dan tanpa usaha menolak naskah Anda. Langkah alternatif adalah mempublish di jurnal lain yang bukan geografi, misal untuk kasus di atas di jurnal Information and Communication Technology (ICT). Akhirnya rekan saya berhasil dipubliksh di jurnal itu, walaupun menghabiskan hampir dua tahun selalu gagal di jurnal geografi, sebelum beralih ke ICT.

Bagaimana dengan hibah? Tentu saja hibah harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan pemberi dana. Namun, jangan melupakan kebaruan/novelty yang berpeluang ditemukan ketika melaksanakan proyek hibah tersebut. Jangan khawatir, walaupun perkembangan riset sangat pesat, masih banyak hal-hal tertentu yang masih buram dan harus diriset. Misalnya kita mengajukan hibah untuk mengelola sistem informasi geografis suatu daerah. Ketika melakukan klasifikasi dan penamaan, masih banyak kendala yang dihadapi para peneliti di dunia. Citra satelit yang dihasilkan mungkin tidak bisa langsung mengklasifikasi suatu built-up menjadi perumahan dan sejenisnya, nah itulah tugas Anda membuat kode/metode untuk membedakannya. Bukankah mata Anda langsung bisa membedakan antara daerah industri, sekolah dan perumahan? Jika mata kita bisa membedakannya kita tinggal membuat prosedur yang digunakan oleh model/sistem untuk secara otomatis “menebak” suatu bangunan itu perumahan ata bukan. Atau hal-hal lain dari hibah yang sudah diterima untuk dibuatkan jurnal internasional berdasarkan kebaruan yang ditemukan selama mengerjakan proyek hibah tersebut. Selamat meneliti, semoga tulisan singkat ini bisa menginspirasi.

 

Mindfulness

Hari ini ternyata hari “visacha bucha” yang merupakan hari libur di Thailand. Hari libur itu katanya merupakan peringatan terhadap kelahiran, pencerahan, dan wafatnya sang Budha. Facebook sendiri menginformasikan hari peringatan tersebut, khusus pengguna yang berada di negara-negara dengan mayoritas Budha sepertinya.

Saya sendiri yang muslim sangat menghormati bukan hanya ulama-ulama melainkan juga pemerhati-pemerhati spiritual agama lain seperti pendeta, biksu, dan lain-lain. Apapun ajarannya mereka berusaha menuju ke arah kebenaran. Postingan ringan kali ini tidak bermaksud membahas hari raya visacha bucha atau ajaran agama Budha, melainkan satu konsep unik dan menarik dari ajarannya yaitu mindfulness.

Mindfulness adalah keterampilan yang harus digunakan ketika bermeditasi atau dapat juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, walaupun agak sulit. Sepertinya penganut apapun boleh menerapkan mindfulness karena memang suatu keterampilan dalam mengisi kehidupan sehari-hari.

Apa itu Mindfulness ?

Waktu itu ada seminar penulisan artikel ilmiah di kampus saya kuliah. Pembicaranya saya tidak begitu mengetahui apa agamanya, mungkin Hindu karena berperawakan asia selatan. Gaya bicaranya tidak meledak-ledak tetapi enak didengar. Salah satu tip dan triknya untuk bisa berfikir dengan baik agar dihasilkan karya ilmiah yang bermutu adalah dengan mengelola cara berfikir kita. Dia menganjurkan untuk bermeditasi dengan konsepnya mindfulness. Mindfulness adalah suatu cara berfikir yang tetap menyadari apa yang terjadi saat ini. Yang disadari bukan hanya kondisi fisik di badan melainkan juga fikiran dan suasana hati. Prinsip dasarnya adalah berada pada saat ini, tidak terlalu hanyut dengan masa lalu dan atau mengkhawatirkan masa depan.

Tidak ada salahnya prinsip mindfulness dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya tentu bukan hanya prestasi, tetapi hubungan sosial juga baik. Bandingkan saja, bagaimana perasaan kita ketika berdialog dengan seseorang yang fokus fikirannya saat ini dibanding dengan orang yang fikirannya ke tempat lain. Tentu kita akan nyaman dengan orang yang fikirannya ada pada saat ini, detik ini juga. Dosen yang sedang membimbing siswa pun akan optimal dan siswa merasa nyaman. Waktu yang ada menjadi efektif.

Menghindari Cari fikir Auto-pilot

Hampir kebanyakan kita menerapkan secara tidak sadar konsep auto-pilot ini. Maksudnya adalah ketika ketika melakukan suatu aktivitas baik mental maupun fisik, tidak menyadari apa yang sedang dilakukan atau difikirkan. Sebaiknya segera beralih dari prinsip auto-pilot ini karena selain tidak sadar (unconscious) juga melelahkan, terutama bagi Anda yang sedang sekolah atau kuliah (apalagi doktoral .. he he).

Tidak semua auto-pilot itu baik. Misalnya terhadap suatu kejadian di luar, kebanyakan kita cenderung menggunakan prinsip auto-pilot, yaitu bereaksi dengan cepat yang terkadang reaksi tersebut adalah negatif (marah, kecewa, dan sejenisnya). Teorinya mudah, tetapi ketika dipraktekan akan sulit sekali karena mudah sekali batin kita dipicu oleh rangsangan dari luar (biasanya dari panca indera).

Menyadari Batin

Mindfulness yang lebih sulit adalah menyadari batin. Untuk mengetahui lebih jauh, search aja “cittanupassana” dalam istilah pali-nya. Kalau saya sepertinya menyadari fikiran dulu saja sebagai dasar, sudah lumayan kalau bisa tetap dipertahankan setiap saat. Ketika prinsip ini dijalankan biasanya kekuatan mental bertambah, ngantuk dan lelah biasanya jadi jarang. Pengalaman tiap orang ketika mempraktekan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari mungkin berbeda-beda, entahlah. Yang saya alami terkadang bukan hanya fikiran atau perasaan yang disadari melainkan juga rentetan peristiwa yang menyebabkan satu fikiran muncul bisa diketahui dan disadari. Misalnya ketika muncul kebencian yang tiba-tiba. Jika terbiasa mindfulness, terkadang bisa diketahui asal mulanya dari rentetan pemicu yang sepele dan tidak seharusnya jadi kebencian. Setelah disadari biasanya kebencian itu hilang, kecuali kalau masih auto-pilot yang dipakai. Kemunculan hal-hal tertentu datang dan pergi untuk selama-lamanya tetap harus bisa disadari. Jika fikiran yang meloncat-loncat seperti monyet sudah jarang terjadi, berarti keterampilan dalam mengelola batin sudah maju.

Demikian tulisan singkat, silahkan ambil yang baik dan buang yang tidak bermanfaat. Bahkan di barat sudah mulai diterapkan self awareness, silahkan liat video berikut (English).

Atau lihat animasi ini, singkat tapi jelas:

 Update: 19/5/2017

Ternyata visacha bucha itu hari raya waisak di Indonesia, hanya saja waktunya selisih sehari setelah visacha bucha.

Membaca (Lebih) Cepat

Postingan yang lalu sedikit disinggung alasan mengapa harus bisa memba cepat. Kali ini ternyata nemu referensi tentang bagaimana tip dan trik agar membaca lebih cepat dari sebelumnya. Waktu itu iseng-iseng ke perpustakaan kampus karena jenuh mengetik di kamar kos. Oiya, perpustakaan saat ini sepertinya sudah mulai berubah paradigmanya, dari tempat mencari sumber referensi menjadi tempat yang nyaman untuk membaca, berselancar, video conference, belajar kelompok dan sejenisnya. Karena untuk sumber referensi saat ini internet sudah mulai menggeser peran perpustakaan sendiri. Gambar berikut contoh salah satu bentuk perpustakaan di salah satu perguruan tinggi di eropa yang tanpa terlihat adanya rak buku (bookless).

Dan sasaran saya ke perpustakaan selain tempat “ngadem” dan berjam-jam ngutak-atik internet dan mengerjakan laporan adalah mencari buku-buku unik dan langka. Salah satu yang saya temukan adalah teknik membaca karya Harry Bayley yang berjudul “Quicker Reading” dan terbit tahun 1971, jaman periode pertama kampus AIT yang dipimpin oleh Milton E. Bender, Jr waktu itu.

Sudah cukup tua, sampulnya pun sudah terkelupas, tapi setelah saya baca lumayan juga banyak tip dan trik yang diperoleh dari buku tersebut. Isinya berupa tip dan trik singkat lalu dilanjutkan dengan contoh bacaan beserta pertanyaan bacaan. Kita diminta untuk mengukur waktu dengan stopwatch, tersedia di HP atau laptop. Kemudian kecepatan membaca sudah tersedia di tabel dengan satuan kata per menit (jumlah kata dibagu detik waktu dan dikali 60). Untuk pertanyaan, jangan sampai nilai kurang dari 60% benar. Tidak ada paksaan agar membaca cepat, karena targetnya adalah kecepatan bertambah dari sebelumnya.

Ada sekitar 12 trik yang dibahas dibuku tersebut (saya rangkum jadi 5 saja). Tiap bab berisi satu tip dan trik dengan dua latihan yang sepertinya bekerja dengan baik. Buktinya adalah kecepatan membaca yang terus bertambah, walaupun kecepatan saya tetap berada di “tarif bawah”, he he. Tapi ya wajar saja karena bacaannya bahasa Inggris mirip IELTS yg ada saat ini. Berikut ini satu persatu tip dan trik yang diajarkan buku tersebut (setelah bab membahas alasan meningkatkan kecepatan bacaan, proses yang terjadi ketika membaca, dan intro-intro lainnya).

1. Jangan Bersuara

Walaupun Anda seorang Rapper handal yang mahir berbicara cepat, tetap saja tidak akan melebih 200 per menit. Oleh karena itu mulai saat ini jangan mencoba untuk bersuara seperti anak SD membaca di depan kelas.

2. Jangan Berbicara dengan Diri Sendiri (Vocalization)

Berbicara dengan diri sendiri di sini maksudnya adalah mirip dengan no.1 di atas tetapi tidak bersuara melainkan bersuara di kepala. Ternyata walaupun tidak bersuara tetap saja bersuara dalam hati ternyata mengurangi kecepatan membaca kita. Berbicara dengan diri sendiri juga mengomentari yang sedang kita baca saat ini. Misal ketika membaca suatu nama, kita berpaling ke nama yang mirip dengan nama itu dan kehilangan fokus, dan ketika sadar kehilangan fokus, kita kembali lagi mengulangi membaca kalimat itu yang berakibat kehilangan speed. Sekali lagi, jangan terlalu terlibat dulu dengan menyimpulkan, anggap kita seperti spon yang mudah menyerap cairan informasi.

3. Jangan Melihat Kembali

Kalau kita berdialog dengan seseorang, tentu saja lawan bicara tidak nyaman jika kita sering meminta mengulangi apa yang baru saja dikatakan. Kalau sekali dua kali sih tidak apa-apa, kalau sering tentu saja mengganggu kenyamanan dialog. Begitu juga dengan ketika membaca, usahakan yang kita baca tidak kita ulangi karena akan memperlambat bacaan kita. Anggaplah buku itu orang lain yang kita ajak dialog.

4. Kamu dan Matamu

Agak kasar juga judulnya bagi orang jawa, “matamu”. Ternyata otak menerima informasi kata ketika mata berhenti bergerak. Makan banyak mata bergerak, speed akan turun. Bayangkan gambar di bawah ini, jika satu kalimat itu berhenti hanya dua kali (tapi mata bisa menjangkau di sekitar batas berhenti), maka lebih cepat dibanding tiap kata (seperti siswa SD) atau empat berhenti, mungkin karena kata yg sulit.

Ada tip dan trik yang diberikan dari buku tersebut yaitu kalau bisa tiga kata awal harus terjangkau di satu titik pemberhentian jika ingin memiliki sedikit stopping. Ada satu latihan jangkauan mata di salah satu bab (bab 11) yang mencoba mengukur jangkauan mata kita terhadap penggalan kalimat.

Jika ada lima rekan anda berdiri berjejer, Anda tentu dapat mengenal mereka tanpa meneliti secara detil satu persatu. Begitu juga ketika membaca, sebanyak mungkin jangkauan mata terhadap kata dalam satu titik berhenti (maksudnya bola mata diam). Coba latih membaca surat kabar yang berbentuk kolom-kolom dengan bola mata hanya bergerak turun, tanpa kanan kiri. Artinya satu perhentian bola mata menjangkau kiri dan kanan kolom bacaan.

5. Ritme dan Tingkat Kesulitan

Ciri-ciri membaca yang baik selain cepat adalah ritme yang pas, tidak lambat di awal, cepat di akhir atau sebaliknya. Membaca menjadi santai tidak melelahkan karena mengikuti kecepatan alamiah kita. Mungkin kalau ujian READING harus dipaksa cepat kali ya. Selain itu disarankan juga ketika membaca mirip ketika mengendarai kendaraan manual. Terkadang memindahkan gigi dari cepat ke lambat jika dijumpai kasus tertentu, apalagi ketika membaca “white paper” yang berisi tabel, grafik, dan sejenisnya selain kata/kalimat.

Demikian ringkasan dari tip dan trik membaca cepat. Dimulai dari mengurangi pergerakan kepala, vocalization, hingga meningkatkan jangkauan mata diharapkan mampu mempercepat membaca. Dan tentu saja harus sering-sering berlatih dengan membaca sebanyak-banyaknya sumber informasi. Semoga bermanfaat.

Outdoor Library with Acoustic Concert in AIT