Menyelesaikan masalah “Architecture Mismatch Driver & Application” ketika mengakses Database di Matlab

Melanjutkan postingan yang lalu tentang problematika explore database di Matlab yang melibatkan versi 64 atau 32 bit. Masalah incompatible ini sepertinya tidak direspon dengan baik. Baik oleh Windows maupun Matlab. Sepertinya ada sedikit “paksaan” bagi pengguna versi 32 bit untuk beralih ke versi 64 bit. Padahal banyak yang masih menerapkan versi 32 bit di sistem yang sedang berjalan.

Install Microsoft Access Versi 64 Bit

Pengguna Matlab 64 bit sepertinya sudah harus beralih ke versi 64 bit untuk semua hal yang terlibat dengan Matlab (environment), seperti OS dan sistem basis data-nya. Jika tidak maka akan muncul peringatan adanya ketidaksesuaian dari sisi arsitektur antara driver ODBC dan aplikasi. Perbedaan arsitektur merupakan perbedaan yang tidak sepele dalam suatu sistem perangkat lunak.

Repotnya untuk Microsoft Access, tidak bisa langsung memasang yang 64 bit tanpa meng-uninstall versi yang sebelumnya. Perlu diperhatikan jika ada visio versi 32 bit, windows meminta uninstall juga. Jadi kalau sayang dengan visio yang 32 bit atau tidak punya installer visio yang 64 bit, sebaiknya difikirkan terlebih dahulu, atau siapkan dulu visio versi 64 bitnya.

Tadinya saya masih ragu, jangan-jangan ketika uninstall yang 32 bit dan install yang 64 bit tetap saja database tidak bisa diakses Matlab 64 bit, tetapi ternyata Alhamdulillah bisa. Mungkin ini bisa menjawab pertanyaan dari pembeli buku saya tentang database di Matlab yang tidak bisa terkoneksi dengan access karena beda versi “bit”nya. Oiya, jangan khawatir, semua settingan di office 32 bit yang lalu tetap otomatis terbawa di versi 64 bit yang baru.

Mengecek Koneksi Database di Matlab

Ketika sudah menginstall versi 64 bit, pastikan di ODBC yang 64 bit terisi driver dan platform-nya yang baru (64 bit). Selalu gunakan driver untuk kedua versi access (*.mdb dan *.accdb). Pastikan ketika mengklik Configure… tida ada pesan “architecture mismatch ..” lagi.

Tambahkan satu User DSN baru dan coba buka dengan Matlab 64 bit. Setelah mengetik dexplore di command window Matlab, cari ODBC yang baru saja dibuat. Pastikan database yang dibuat dengan Access dapat dilihat isinya.

Sekian dulu info singkat ini, semoga bermanfaat dan semoga pula naskah tentang data spasial dan bigdata dengan Matlab dapat rampung secepatnya.

Menjadi Master ber-“Sumbu Pendek”

Setiap permulaan itu susah. Entah ada persiapan atau tidak, kesulitan tetap muncul. Begitu pula dalam belajar. Sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, pasti mengalami kesulitan-kesulitan. Bagaimana dengan pendidikan doktor, level terakhir suatu disiplin lilmu, sulitkah? Unik juga, walaupun sudah puluhan tahun kita belajar, tetap saja ketika menempuh pendidikan doktoral tak luput juga mengalami kesulitan-kesulitan, terutama di awal-awal dan bahkan berlanjut hingga akhir perkuliahan. Acara doctoral bootcamp yang diadakan baik dari pemerintah maupun inisiatif rekan-rekan dosen sepertinya bisa membantu, tetapi jangan hanya mengandalkan sarana tersebut karena memang acara itu untuk persiapan singkat saja. Padahal pendidikan doktor harus ditempuh selama tiga tahun hingga perpanjangan waktu yang tak pasti.

Silahkan bertanya dengan rekan-rekan yang sudah atau sedang kuliah doktoral. Banyak pengalaman-pengalaman yang bisa disharing. Tetapi jangan jadi patokan, karena kasus dia mungkin berbeda jauh dengan yang akan kita alami nanti. Misal saya bertanya dengan Prof. Habibie, dan jadi patokan saya, tentu saya akan stress duluan. Dua atau tiga orang Anda tanya, belum tentu juga bisa jadi patokan. Jangankan di kampus tempat kuliah yang berbeda, kampus yang sama pun pasti memiliki pengalaman yang berbeda.

Ketika pusing dan menjumpai jalan buntu, biasanya saya nongkrong dengan teman-teman se-negara, saling berbagi kesuksesan dan kesialan masing-masing. Bagi rekan kita mungkin sulit, tapi terkadang mudah bagi rekan yang lainnya. Ada yang bertahun-tahun tak kunjung terbit syarat jurnal internasionalnya, tetapi ada yang jurnal internasionalnya sudah diterima beberapa tahun yang lalu tetapi disertasi tak kunjung selesai. Ada yang tiap dua minggu harus presentasi kemajuan disertasi, ada yang dalam satu semester hanya sekali atau dua kali ketemu pembimbing, dan riset harus dijalankan seorang diri. Ada juga yang terkendala dengan syarat IPK lebih dari 3.5 dan harus mengulang atau mengambil course tambahan sebelum diperbolehkan riset. Dengan kata lain “ada-ada saja masalah yang muncul”. Satu rekan saya memilih pulang saja dan tidak lanjut, dan satu orang rekan meninggal di kampus, sudah cukup memperkaya batin dan selalu bersyukur dengan yang telah dicapai sejauh ini, sekecil apapun.

Photo by: Mbak Iwul

Beberapa tahun menjalani perkuliahan doktoral biasanya tumbuh kesadaran bahwa kita manusia biasa, ada kelemahan dan ada kelebihan. Waktu melihat rekan-rekan yang masih master, terlihat energi mereka yang besar, meluap-luap, saya sampai harus mengalah. Tepat sekali dengan istilah master yang artinya “jago banget”. Sayang juga sih ketika melihat master yang sudah berkiprah bertahun-tahun tetapi tidak melanjutkan ke jenjang yang tinggal selangkah lagi. Beberapa memang trauma dengan pusingnya mengambil S2 dulu. Tetapi kabar baiknya adalah baik pusing ketika S2 maupun tidak, untuk doktoral tidak ada bedanya. Kabar buruknya: tetap saja pusing. Untuk itulah doctoral bootcamp terkadang penting sebagai pemicu. Jika ada seorang master bertipe “sumbu pendek”, dengan dipicu sedikit, langsung semangatnya meledak dan lanjut doktoral. Tetapi kebanyakan sumbu panjang, menyala terus tetapi tidak meledak-ledak, bahkan ada yang mati dan butuh dibakar lagi.

Seorang master yang bersumbu pendek, terkadang tidak perlu doctoral bootcamp. Melihat temannya yang masih unyu-unyu berangkat S3 saja sudah bikin meledak. Tetapi untuk meledak diperlukan syarat-syarat penting: bahasa Inggris (atau yang sesuai dengan negara tujuan), kemampuan membaca (tulisan ilmiah disertai dengan keingintahuan yang tinggi), mengasah lagi ke-master-annya dengan menulis artikel, seminar internasional, dan lain-lain sehingga siapa tahu diminati oleh calon supervisor. Untuk bahasa Inggris, yang utama adalah writing; untuk listening dan speaking yang penting nyambung saja (kecuali memang doktoralnya bidang sastra Inggris). Reading tentu saja harus bisa, hampir 50-an jurnal dibaca untuk proposal disertasi. Terkadang puluhan lainnya dibuang karena tidak relevan dengan judul yang diajukan.

Sains Harus Belajar dari Marketing

Sepintas sungguh aneh, bahkan bagi orang murni sains marketing dianggap bukanlah ilmu, setidaknya disebut “an oxymoron” alias retorika yang ambigu yang sering dipakai politisi kita (pro maupun kontra). Benarkah marketing itu bukan ilmu? Postingan kali ini terinspirasi dari buku web mining (lihat post yang lalu) yang akan segera saya kembalikan ke perpustakaan. Di buku tersebut di bab “Using Marketing Tests to Understand Customers” disinggung masalah ilmu unik marketing.

Power of Marketing

Sebelum lanjut, sepertinya kita sadari terlebih dulu kondisi aneh perusahaan-perusahaan saat ini dalam kaitannya dengan masalah disruption. Banyak perusahaan yang terkenal mapan langsung terpuruk karena fenomena tersebut. Salah satunya adalah ditinggalkan oleh konsumennya yang memilih produk lain yang dianggap memenuhi harapannya. Salah satu aspek terpenting suatu perusahaan adalah marketing karena merupakan sarana untuk menarik konsumen yang kemudian berdampak terhadap keuntungan. Tanpa keuntungan tentu saja tidak dapat membiayai ongkos-ongkos suatu perusahaan. Bolehlah teknik, riset, dan sejenisnya terhadap suatu produk atau manufaktur, tetapi tanpa melakukan riset dalam marketing, siap-siap mengambil resiko besar terhadap kerugian. Ipad waktu itu siap dipasarkan apple, tetapi bagian riset marketing ternyata melihat animo masyarakat terhadap Iphone lebih tinggi, padahal Iphone waktu itu belum siap publish. Dan benar, dengan menahan Ipad dan melapas Iphone terlebih dahulu, apple mendulang untung besar. Para pekerja aktif seperti perawat, dokter, dan sejenisnya lebih membutuhkan piranti cerdas mungil dibanding yang lebih besar.

Marketing & Sains

Apa itu sains? Sains intinya melakukan riset runtun yang berdasarkan tahapan-tahapan yang disebut metode ilmiah: hipotesa, disain eksperimen, eksperimen, analisa hasil, dan merevisi hipotesa. Tahapan-tahapan itu haris bisa ditiru oleh periset lain sehingga terbukti keandalan dan akurasi temuannya (confidence). Bagaimana dengan marketing? Tunggu dulu, dengan data yang ada sebelumnya ternyata hasil hipotesa tidak berlaku dengan kondisi yang ada sekarang. Jangankan data beberapa tahun yang lalu, data beberapa bulan yang lalu saja belum tentu akurat untuk diterapkan saat ini. Lalu bagaimana ini?

Buku rujukan web mining menjelaskan bahwa titik penting bagian riset di marketing adalah hipotesa. Hipotesa yang tidak tepat tentu saja tidak bermanfaat walaupun benar. Walaupun mengikuti metode ilmiah tetapi jika tidak menjawab persoalan utama, tentu saja tidak bermanfaat. Untuk itu saintis harus belajar bagaimana marketing menentukan hipotesa risetnya yang terkadang bagi ilmuwan kurang greget, kurang wah, kurang berbobot, tapi ternyata dampaknya besar. Berikut hal-hal yang bisa dipelajari dari marketing dalam penentuan hipotesa:

  • Kreativitas: dibutuhkan untuk menemukan hipotesa yang menarik
  • Skeptisme/keraguan: bukan hanya solve problem, ternyata meyakinkan suatu itu penting, terutama dengan pencarian dan perbandingan alternatif-alternatif.
  • Kepercayaan diri untuk maju berdasarkan hasil riset. Terkadang di kampus kita selalu menekankan hasil riset harus OK, model harus fit, dan sejenisnya. Parahnya siswa suka mengutak-atik data agar “cakep”. Ternyata bagi orang marketing, sejelek apapun data maupun hasil riset, bisa digunakan untuk move on (termasuk diterapkan bagi yg calonnya kalah pemilu).

Marketing untuk Dana Penelitian

Sering sekali teknik marketing saya gunakan untuk memperoleh hibah penelitian. Sebagian hibah penelitian sebenarnya berdasarkan proses marketing kita, baik ketika membuat proposal maupun saat presentasi. Tidak semua judul yang lolos di jurnal lolos pula di hibah (sepertinya sebaliknya juga berlaku). Kreativitas, keraguan, dan kepercayaan untuk maju yang telah dibahas di atas, sangat diperlukan. Keahlian dalam mengemas sesuatu yang biasa-biasa saja jadi berharga dan sesuatu yang sudah berharga dikemas agar terlihat bermanfaat sangat diperlukan untuk mendapatkan dana hibah. Ketika mengajukan proposal hibah terkadang saya sengaja membuat bimbang reviewer. Bolehlah dia marah-marah ketika presentasi, setidaknya saya telah membuat mereka bimbang untuk menolaknya disaat memutuskan lolos atau tidak. Sepertinya perlu postingan tersendiri untuk masalah hibah. Sekian semoga bermanfaat.

Reference

Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America: Wiley.

Bertanya atau Mempertanyakan?

Membaca judul postingan ini semoga pembaca bertanya apa maksud judulnya, bukan mempertanyakannya. Bahasa Indonesia memang unik, jika bertanya berarti ingin mengetahui sesuatu yang kurang jelas atau belum diketahui, mempertanyakan terkadang ada unsur protes di dalamnya. “Mengapa saya dapat C?”, “mengapa saya tidak lulus?”, dll memang bentuk pertanyaan yang biasanya diutarakan oleh siswa. Silahkan jawab, jika sampai berkali-kali tanya jawab dan disertai argumentasi, berarti bukan bertanya, melainkan mempertanyakan. Jadi ingat rekan saya yang menjawab siswa yang bertanya mengapa dapat C: “harusnya kamu itu D, saya bantu saja jadi C”.

Maraknya media sosial membuat siapa saja boleh mempertanyakan. Surat terbuka, surat dukung-mendukung di change.org misalnya bisa dibuat oleh siapa saja. Ketika p Gufron, pejabat ristek-dikti bagian SDM datang ke kampus UNISMA Bekasi, seorang rekan saya yang sudah senior bertanya mengapa aturan beasiswa dikti 50 tahun? Kenapa tidak dilebihkan saja padahal usia pensiun dosen, apalagi profesor, kabarnya diperpanjang (bahkan di range WHO saya masuk kategori usia setengah baya katanya .. he he). Logis juga menurut saya dan karena ditanyakan langsung ke yang bersangkutan, menurut saya ini masuk kategori bertanya. Walaupun jawabannya formal, yaitu UU dari menpan, sepertinya ada alasan lain yang tidak dibahas.

Dua pertanyaan yang muncul belakangan ini terkait dunia pendidikan adalah kuota beasiswa dan indeks Sinta. Untuk beasiswa, khususnya dalam negeri yang kuota-nya sepertinya berkurang belum ada tanggapan, walaupun surat terbukanya (kalau tidak salah dari kopertis 12) sampai ditujukan ke panglima tinggi, alias presiden. Sebenarnya kuota luar negeri masih kurang, tetapi khusus dosen senior sepertinya agak sulit untuk kuliah ke luar negeri, apalagi yang usianya antara 45 sampai 50, yang mau tidak mau hanya mengandalkan beasiswa dalam negeri. Permintaannya yang menginginkan semua pelamar diterima agak sulit, mengingat kasus satu kampus negeri di Jakarta mencuat gara-gara ada beberapa dosen yang membimbing dan meluluskan mahasiswa S3 hingga ratusan dalam setahun. Dengan kata lain, profesor pun memiliki kuota kewajaran. Menambah jumlah profesor sepertinya satu-satunya langkah yang masuk akal (impor world class profesor), juga pembimbing misalnya tidak harus dari kampus tempat mahasiswa S3 itu kuliah (sepertinya tidak boleh ya?). Untuk world class profesor lagi-lagi disialkan kasus seorang asisten profesor muda dari kampus ternama Belanda yang ternyata ketahuan masih berstatus mahasiswa seperti saya. Saya yakin ristek-dikti memiliki pengalaman-pengalaman pahit yang kadang mempengaruhi kebijakan-kebijakannya. Terkadang kenakalan-kenakalan segelintir orang mempengaruhi orang bener yang lain, seperti kasus pencairan beasiswa di awal-awal saya kuliah. Ok, kita tunggu apa respon pemerintah.

Mempertanyakan berikutnya adalah masalah Sinta yang berawal dari penentuan index Google scholar yang dibilang ironi dalam komentar tentang ranking sinta itu (oiya, yg belum daftar jangan lupa daftar dulu). Tetapi sebelum bertanya atau mempertanyakan terlebih dahulu baca penjelasannya dari LPPM univ sultan agung ini atau bahkan dari menteri-nya langsung di sini. Menurut saya sih Scopus yang jadi andalan, tetapi mengingat index ini berbasis jurnal/buku/seminar internasional yang berbahasa Inggris, sulit sekali ditembus oleh dosen-dosen kita yang berbasis bahasa lokal, bisa ga ada score-nya nanti sebagian besar dosen, padahal target akhir Sinta di versi 6 adalah digunakan untuk kepangkatan. Bisa pada ga naik pangkat nanti. Bagaimana dengan yang lain misalnya portal garuda yang berupa jurnal-jurnal nasional. Repotnya banyak juga jurnal yang tidak terdata di portal garuda akibat pengelola jurnal tidak mengirimkan sample jurnalnya ke LIPI. Nah satu-satunya yang lebih aman adalah Google scholar, bisa meng-cover dosen yang menulis di jurnal lokal dan bahkan yang jurnalnya tidak ada di portal garuda asal terdeteksi di Scholar. Toh, bobot Google scholar jauh di bawah Scopus untuk perhitungan rangking Sinta (saya lupa Google scholar 1/6 atau 1/12- scopus). Serba salah juga sih, Scopus beberapa waktu yang lalu diprotes katanya Kapitalis, sementara pakai Google yang free dianggap abal-abal. Kalau saya sih tetap mendukung Sinta yang memang prosesnya sedang “on going”, kalau tidak suka silahkan pakai yang lain, hanuman, rahwana, atau apalah. Semoga tulisan iseng di hari libur ini menghibur.

Unified Process (UP) dan Unified Modeling Language (UML)

Untuk UML kita sering mendengarnya, terutama bagi mahasiswa jurusan ilmu komputer, teknik informatika, ataupun sistem informasi. Sementara UP, sepertinya jarang terdengar, terkadang kurikulum pun tidak memasukannya. Biasanya UP dipisahkan dengan UML karena UP merupakan bagian dari proses perancangan perangkat lunak. Terkadang juga masuk dalam materi analisa dan disain sistem informasi.

Untuk informasi mengenai apa itu UP bisa dilihat di internet, misalnya wikipedia yang sepertinya akurat, sesuai dengan teori yang ada. Untuk yang ingin detilnya bisa lihat rujukan buku milik Jim Arlow (Arlow & Neustadt, 2005) atau karangan Craig Larman (Larman, 2005).

Lalu hubungannya apa UP dengan UML? Sebelumnya ada istilah Rational Unified Process (RUP) yang merupakan benchmark IBM untuk menggambarkan proses perancangan perangkat lunak. Untuk menghindari penamaan pabrikan/vendor, tri-amigos: Ivar Jacobson, James Rumbaugh dan Grady Booch menerbitkan buku khusus UP. Mereka merupakan para pencetus UML, tool untuk penggambaran dan pemodelan sistem berbasis obyek. Jadi UP itu pemodelan dan framework proses sementara UML hasil dari prosesnya (masih dalam bentuk blue-print).

UP bersifat iteratif yang tiap iterasi terdiri dari tahapan-tahapan sebagai berikut, untuk menghafalnya disingkat IEKT:

  • Incepsi: penentuan tujuan-tujuan (life cycle objectives)
  • Elaborasi: pembuatan arsitektur sistem
  • Konstruksi: kapasitas dan kemampuan sistem dibentuk
  • Transisi: produk siap uji

Buku Arlow membahas keempat tahapan UP tersebut yang dikombinasikan dengan waterfall (requirements, analisis, disain, implementasi dan testing, disingkat RADIT). Bentuknya di tiap-tiap RADIT ada IEKT dari UP. Namun ada juga yang sebaliknya, di tiap IEKT-nya UP ada RADIT. Namun yang dibahas di buku adalah yang bentuk pertama. Sementara itu ketika melihat buku Larman yang cukup tebal, ternyata UP hanya sampai Elaborasi. Tidak ada konstruksi dan transisi. Belum sempat saya baca sampai sana, hanya saja ada elaborasi-1, elaborasi-2. Bukunya cukup tebal dengan bahasa Java sebagai ilustrasinya.

Sempat saya baca juga dalam satu kolom khusus dalam buku Larman, bahwa tidak ada peluru perak (istilahnya senjata pamungkas pembunuh vampir) dalam bentuk tools atau teknik perancangan perangkat lunak, dikatakan oleh Dr. Frederick Brookes (lihat buku Mythical Man-month). Jadi kalau ada yang bilang suatu teknik itu ampuh untuk segala bentuk sistem, dipastikan tidak mungkin alias gombal, baik yg mengatakan itu dosen ataupun sales CASE (alat bantu pembuatan software). Tetap saja jika pengguna tidak memahami konsep Object Oriented akan kesulitan menggunakan CASE jenis apapun (dibahas di buku: “Death by UML Fever” karangan Booch). Seperti biasa, tiap buku berbeda-beda pahamnya, seperti post yang lalu bahwa beberapa buku analisa disain/rekayasa perangkat lunak (Pressman, 2001; Sommerville, 2007) masih mentolerir menggunakan non-object programming dengan UML. Tidak ada salahnya juga menggunakan model lain yg bukan standar UML untuk penggambaran sistem berbasis objek asal bermaksud memperjelas pembacaan model (Fowler, 2004). Tetapi alangkah idealnya jika sistem yg dirancang dengan UML berbasis object. Selamat ber-UML.

Reference

Arlow, J., & Neustadt, I. (2005). UML 2 and the Unified Process (Second). United States: Pearson Education Limited.

Fowler, M. (2004). UML Distilled (3rd ed.). United States: Pearson.

Larman, C. (2005). Applying UML and Patterns (3rd ed.). United States: Pearson.

Pressman, R. S. (2001). Software Engineering – A Practitioner’s Approach (Fifth Edit). New York: McGraw Hill.

Sommerville, I. (2007). Software Engineering – Eighth Edition. London: Pearson Education Limited.

 

Membaca Lebih dari Satu Buku

Buku teks atau buku ajar ada bermacam-macam. Ada yang berupa kumpulan penulis-penulis yang membahas topik tertentu (book chapter atau book section), ada pula yang hanya beberapa penulis membahas seluruh topik di suatu buku (buku teks). Sementara itu kebanyakan buku teks dibuat dalam bentuk kompilasi, yaitu kumpulan informasi yang berasal dari beragam sumber buku. Nah, kompilasi ini yang kerap saya jadikan patokan untuk menulis buku, karena lebih mudah. Ada juga jenis buku yang lain yaitu buku terjemahan, yang isinya hanya mengalih-bahasakan dari bahasa asing (biasanya bahasa Inggris) ke bahasa Indonesia tanpa menambah atau mengurangkan isinya. Hak cipta pun masih dipegang oleh buku sumber.

Bacalah

Membaca memang menjadi keharusan seorang pengajar karena informasi selalu berubah, apalagi dunia IT. Dalam kesehariannya terkadang ada debat antara satu dosen dengan dosen lainnya mengenai topik tertentu yang terkadang berimbas kepada siswa yang menjadi bimbingan tugas akhir, skripsi, atau pun tesis. Korban utamanya adalah si mahasiswa yang bingung harus mengikuti siapa? Pembimbing ataukah penguji. Untuk itu sebaiknya berpatokan kepada standar yang ada. Postingan kali ini saya mencoba membahasnya dalam dunia rekayasa perangkat lunak, khususnya UML.

Konflik Akademik

Sering saya menjumpai dosen-dosen yunior yang memang kebanyakan ahli dalam coding atau programming. Mungkin karena kesehariannya berasal dari instruktur lab yang naik pangkat jadi dosen. Terus terang ada manfaatnya karena mereka lebih mengetahui seluk beluk dan kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa yang kuliah IT. Masalah muncul ketika memasuki dunia akademis yang penuh dengan ilmu-ilmu baru yang selalu berkembang. Dosen yunior itu harus mempelajari perkembangan yang terjadi saat ini dan tidak kaku dan bersikukuh dengan bahasa pemrograman atau metode perancangan program yang dikuasainya. Lebih parah lagi, banyak juga yang merasa lebih jago dalam programming sehingga menganggap para dosen senior tidak tahu menahu prakteknya. Boleh saja beranggapan seperti itu, dan saya pun senang belajar dari mereka para dosen junior (sering disebut generasi milenial/generasi y). Sebenarnya malah menguntungkan para dosen-dosen senior.

Terus Membaca dan Belajar

Membaca buku-buku UML terkadang tidak ada habisnya. Muncul buku-buku baru yang terkadang membuat pusing jika kita tidak mampu memfilter-nya. Namun hanya membaca satu buku juga berbahaya karena membuat pembaca berfikiran sempit dan hanya memandang kebenaran dari satu sudut pandang saja, yaitu buku yang dia baca.

Misalnya pertama kali saya membaca satu buku yang khusus membahas UML, seluruh diagram dibahas. Namun di buku yang lain, dikatakan tidak semua developer menggunakan diagram UML, misalnya hanya diagram kelas, object, dan sequence. Tetapi buku yang lain yang berorientasi analisa disain menganggap diagram kelas dan use case lah yang penting, karena tidak semua stakeholder memahami pemrograman yang cocok dengan diagram sequence. Bahkan saya membaca satu buku khusus yang hanya membahas style yang baik dalam menggambar UML, misalnya ketika menggambar use case diagram, user di sebelah kiri dan admin di sebelah kanan dengan di tengah-tengahnya use case, unik juga. Tetapi bermanfaat juga sih, mengingat banyak siswa yang menggambar use case diagram acak adut, walaupun benar tetapi sulit dicerna.

Ribut terus berlanjut ketika ada yang membaca satu buku pemrograman berorientasi obyek yang menganggap UML harus diterapkan dalam pemrograman berbasis obyek saja. Pemrograman tanpa kelas tidak boleh menggunakan UML. Korbannya tidak lain adalah mahasiswa yang menjadi bimbingannya yang terkadang harus mengikuti outline yang disediakan kampus. Jika dosen itu membaca buku yang lain, dia mungkin akan berubah fikiran karena UML tidak harus untuk pemrograman berorientasi obyek, walaupun memang idealnya untuk berbasis object. Bahkan UML sendiri tidak melarang menggunakan diagram-diagram lainnya selama menambah kejelasan rancangan yang dibuatnya, terutama dalam komunikasi dengan user ataupun stakeholder.

Membaca Buku dengan Tema yang Berbeda

UML sangat berkaitan dengan tema-tema lainnya seperti rekayasa perangkat lunak dan analisa dan disain sistem. Beberapa buku rujukan utama software engineering uniknya sampai saat ini masih mengajarkan metode waterfall yang oleh kebanyakan pengembang saat ini banyak kelemahannya. Tetapi tetap saja 40% metode yang dipakai saat ini oleh pengembang menggunakan waterfall yang lebih mudah walaupun beresiko. Memang struktur yang jelas waterfall cocok dengan time frame perkuliahan. Namun, metode terkini yang bercirikan iterasi dan agile/extreem harus juga diperkenalkan.

Banyak hal-hal lain yang bisa kita pelajari dengan membaca lebih dari satu buku baik tema yang sejenis maupun tema lain yang memang saling berkaitan, misalnya pemrograman berorientasi obyek, rekayasa perangkat lunak, analisa dan disain sistem, pemrograman terstruktur, dan lain-lain. Untuk dunia akademik sendiri mau tidak mau harus menyampaikan seluruh informasi kepada siswa didik. Misalnya, untuk UML sebaiknya tidak hanya diagram-diagram yang sering digunakan di industri, melainkan wajib memberikan informasi secara total, walaupun terkadang membuat pusing baik mahasiswa maupun dosen (biasanya dilimpahkan pusingnya lewat tugas mahasiswa). Juga terkadang harus menghindari produk-produk dari vendor tertentu saja. Menggunakan software open source bisa jadi alternatif. Juga, antara dosen junior dan senior sebaiknya kompak dan saling bekerja sama sehingga bisa memberi ilmu dengan baik kepada siswa didik dan juga meningkatkan kinerja risetnya yang saat ini kita sudah berhasil mengalahkan Thailand dan sedikit lagi Singapura. Selanjutnya tinggal menghadapi Malaysia yang hampir dua kali jumlah publikasinya.

Sengaja saya tidak memberikan sitasi postingan ini karena memang untuk contoh kasus saja yang kemungkinan terjadi untuk tema perkuliahan yang lain. Mungkin pembaca, yang lebih senior dan expert, tidak sependapat dan bisa berbagi pengalaman. Semoga bermanfaat.

Aplikasi anti plagiarisme, free dan yang Berbayar.

Dalam dunia akademik, plagiasi merupakan suatu pelanggaran serius. Belakangan karena maraknya kasus plagiasi di suatu kampus memaksa pemerintah mengganti rektornya. Agar kejadian ini tidak terulang lagi, alangkah baiknya suatu institusi memiliki fasilitas untuk mengecek suatu tulisan apakah mencontek karya orang lain. Dengan demikian tiap karya yang dipublikasikan benar-benar murni tulisan si penulis. Sepertinya teknologi web-mining diterapkan dalam aplikasi-aplikasi anti plagiarisme ini (lihat pembahasan mengenai web mining)

Selain untuk mencegah, ternyata alat bantu cek plagiasi bisa membantu mahasiswa untuk mengetahui apakah tulisannya pernah ditulis orang lain. Terkadang si mahasiswa memang benar-benar menulis sendiri tulisannya, tetapi ternyata kebetulan sama dengan tulisan yang telah dipublikasikan orang lain. Di sinilah fungsi lain dari plagiarism checking tool tersebut, yaitu membuat suatu tulisan berbeda dengan karya orang lain.

1. Aplikasi anti plagiarisme yang terkenal adalah Turnitin. Hanya saja aplikasi ini tidak gratis dan harus berlangganan. Tetapi bagi suatu institusi sepertinya tidak masalah, mengingat manfaat yang diberikan tool ini. Salah satu aspek penting dari alat bantu ini adalah adanya bukti otentik bahwa suatu tulisan orisinal. Biasanya suatu kampus mensyaratkan prosentasi tertentu, misalnya di tempat saya tingkat kemiripannya kurang dari 15%. Selain itu jika ada sumber lain yang mirip, maksimal 5% kemiripannya dengan satu sumber itu. Berikut tampilan setelah Log-in.

Seperti biasa, jika ada yang berbayar maka ada juga yang menyediakan fasilitas yang gratis. Namun demikian belum tentu benar-benar akurat dan harus diuji. Tetapi tidak ada salahnya menggunakannya. Berikut ini adalah beberapa yang bisa dicoba.

2. PlagScan. Tool ini mirip seperti turnitin, login terlebih dahulu. Namun ada kolom khusus bisa mengecek tulisan tanpa login. Misal saya ambil contoh dari paper terdahulu saya.

Ternyata hasilnya benar-benar akurat, yakni 99% menyontek. Dengan kata lain memang benar bahwa itu tulisan saya yang dulu. Jika ada orang lain yang copy paste bisa terdeteksi. Lumayan untuk mengoreksi tugas-tugas mahasiswa apakah menyontek atau tidak. Tetapi di sini menyontek dengan tulisan yang sudah dipublikasi, kalau menyontek temannya belum tentu ketahuan (tapi tentu saja dosennya tahu, tinggal tuduh saja yang mengumpulkan belakangan berarti nyontek).

3. Smallseotools. Mirip dengan plagscan, kita diminta register terlebih dahulu. Tetapi bisa juga tanpa register dengan limit 1000 kata. Saya ambil contoh mirip dengan kasus sebelumnya. Hasilnya tingkat kemiripan 92%, sepertinya lebih akurat Plagscan. Terlihat juga proses smallseotools ini lebih lama dibandingkan plagscan.

Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah smallseotools menjamin tulisan yang ingin dicek tidak diambil mereka. Tiap selesai proses data langsung dihapus. Tetapi tetap saja saya masih ragu-ragu.

4. Duplichecker. Mirip dengan plagscan dan smallseotools (jadi mikir jangan-jangan mereka pakai engine yang sama). Tetapi antara plagscan dengan smallseotools terbukti berbeda hasilnya, jadi disimpulkan sementara memakai mesin yang berbeda. Oke, kita coba dengan tulisan yang sama dengan sebelumnya. Sama dengan smallseotools, maksimal 1000 kata. Upps.. ternyata salah, harusnya 100% plagirized.

Ketika saya mau tes lagi ternyata harus signup dulu karena melebihi limit (sekali cek). Menurut saya aplikasi ini tidak recomended. Walaupun harus diuji lagi setelah Sign-up masih salah apa tidak (silahkan coba).

Sepertinya plagscan lebih bagus di antara ketiga plagiarism checker gratisan tersebut. Namun demikian perlu diuji lagi untuk tulisan yang banyak dengan naskah “gado-gado”, apakah bisa mendeteksi atau seperti yang terakhir, “no plagiarism detected”, padahal pakai tools yang lain “plagiarized”.

Satu hal yang ditakutkan adalah ketika kita memasukan suatu naskah ke plagiarism checker yang mencuri naskah tersebut. Tetapi kalau memang sudah pasti segera dipublikasikan ya tidak masalah, toh kalau dipublikasi sudah tentu dibaca semua orang. Bagi pengelola jurnal yang penting pastikan Google scholar minimal mendeteksi suatu tulisan resmi yang dipublish sehingga jika ada yang menyontek pasti terlambat karena Google sudah mendeteksi terlebih dahulu naskah aslinya. Sedikit banyak semoga postingan ini bermanfaat.

Update: 8 Februari 2018

Ternyata software anti plagiarisme sangat dibutuhkan untuk dosen yang ingin naik pangkat ke lektor kepala atau guru besar. Surat pemberitahuannya sudah diedarkan oleh Dikti sebagai berikut:

Update: 22 Juli 2020

Untuk kenaikan jabatan fungsional dosen, software plagiarisme yang resmi adalah Turnitin dan Ithenticate. Karena kebanyakan naskah sudah terpublish maka ketika cek plagiarisme harus di-exclude agar tidak terdeteksi plagiarisme di artikel sendiri yg sudah publish.

Perubahan Paradigma Pendidikan di Dunia: Sarjana, Master, Doktor, Post-Doc

Pada postingan yang lalu sudah dibahas istilah “disruption” dari Prof. Rhenald Kasali. Apakah fenomena yang meruntuhkan pemain-pemain bisnis ternama itu mengancam juga dunia akademik seperti universitas, politeknik, maupun institute? Wow ternyata iya, mengerikan, Prof. Rhenald membahasnya pula di tulisan lanjutannya, “meluruskan pemahaman soal disruption”. Disruption tidak melulu hanya yang berbasis online (seperti taksi online, ojek online, dll) melainkan seluruh aspek bisnis karena disruption merombak total proses bisnis, dari teknologi hingga budaya suatu perusahaan. Sayang tulisannya masih berlanjut nanti, yaitu tentang bagaimana mengetahui ciri-ciri suatu perusahaan yang mulai terdisrupsi.

Tahun 2006 ada paper yang membahas masalah paradigma pendidikan di dunia yang sepertinya mulai berubah. Silahkan kunjungi link-ini untuk membacanya. Sangat panjang bahasannya yang melibatkan survey di belahan dunia. Untuk itu saya sederhanakan untuk kasus khusus saja yakni apa kira-kira yang diperlukan dalam pendidikan tinggi di semua tingkat.

Efek Globalisasi

Globalisasi berarti lintas negara dan batasan geografis lainnya. Pertukaran ilmu tidak selalu dengan cara mendatangkan atau mengirimkan periset ke suatu negara. Ternyata terjadi pergeseran pemain utama riset dari negara Eropa dan AS ke asia (Turki, India, Jepang, China, dan Taiwan) dan amerika latin (Brazil). Efek globalisasi juga dibarengi dengan pertumbuhan populasi di negara berkembang seperti negara kita, sementara negara-negara Eropa cenderung statis bahkan menurun. Terkadang untuk memenuhi kebutuhan mahasiswanya mereka mendatangkan dari negara-negara yang membutuhkan pendidikan, seperti negara kita. Saat ini bahkan lembaga-lembaga riset sudah lintas negara (non-national) akibat kolaborasi yang terjadi. Saat ini poros ilmu yang dimotori US sepertinya mulai diambil alih oleh pendatang-pendatang baru Asia yang cenderung kompak menghadapi dominasi AS, yang oleh paper itu diistilahkan “a common enemy unifies“.

Pendidikan Sarjana dan Pos-Doctoral

Unik juga mengapa paper itu menyetarakan sarjana dengan post doktoral. Padahal dari sisi jenjang sangat jauh berbeda. Satu hal yang membuat kedua jenjang itu sama adalah spesialisasi dan peningkatan kualitas individu. Jika para sarjana diajarkan untuk mengetahui disiplin ilmu itu sendiri, rumus, teori, terapannya, dan lain-lain, post doctoral juga melakukan hal yang sama. Terkadang kerja lab menjadi makanan sehari-hari sarjana dan post doctoral. Tetapi itu untuk kondisi khusus, yaitu post-doctoral untuk junior researchers yang usianya di bawah 30 tahun .. (ternyata saya sudah tua). Selain itu post doctoral yang dimaksud adalah yang benar-benar menjalankan fungsinya karena banyak kasus, mahasiswa posdoc diberi tugas yang diistilahkan “mission impossible” dari supervisornya.

Pendidikan Doktor

Ternyata justru yang bermasalah adalah jenjang doktoral. Perkembangan ilmu yang cepat dengan teknologi yang sangat memudahkan siswa untuk menggali ilmu membuat tuntutan berat bagi mahasiswa doktoral yang jika dilakukan sendiri sepertinya sulit. Jadi saat ini doktoral student cenderung melakukan riset secara multidisiplin dengan topik-topik yang meluas (wide). Sangat sulit menemukan metode-metode baru di dunia yang sudah established seperti saat ini. Selain itu ada tuntutan ganda dari seorang PhD (double function) yaitu: akademik dan non akademik. Akibatnya berikut adalah skill yang perlu dimiliki oleh seorang doktor:

  • Manajerial dan kepemimpinan
  • Komunikasi publik
  • Membuat relasi/network
  • Mengatur proyek
  • Mengerti dunia politik
  • Kemampuan negosiasi
  • Dan Pemahaman budaya

Oiya, bagaimana dengan master? Ada dua kemungkinan, master yang ikut gabung ke sarjana atau master yang langsung lanjut doktor. Sepertinya di dunia internasional master itu tanggung, harus lanjut ke doktoral jika ingin ke dunia akademik, kecuali yg berkarir di dunia profesional non akademik. Mungkin sekian dulu tulisan ini, masih banyak sepertinya yang bisa dibahas dari paper yang saya jadikan referensi tersebut. Mengenai masalah disruption, mungkin video penjelasan dari christensen ini bisa membantu.

Reference

Melin, G., & Janson, K. (2006). What skills and knowledge should a PhD have? Changing preconditions for PhD education and post doc work. Wenner Gren International Series, 105–118. Retrieved from http://www.portlandpress.com/pp/books/online/fyos/083/0105/0830105.pdf

Update: 19 Okt 2017

Lanjuta pembahasan disruption, termasuk efeknya terhadap dunia akademik bisa dilihat di link kompas: http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/18/060000426/inilah-pekerjaan-yang-akan-hilang-akibat-disrupt

Sedekah dengan Harta yang Berharga: Pengalaman

Ketika Prof. Dr. BJ Habibie ditanya oleh wartawan, lebih pintar mana, dalam hal industri kedirgantaraan, dirinya dengan putranya, Ilham. Waktu itu dia menjawab bahwa dirinya lebih berpengalaman dalam industri pesawat terbang. Pengalaman tidak dapat dipelajari, melainkan dilalui. Saya lupa kapan televisi menayangkan wawancara itu, yang jelas ketika diperkenalkannya pesawat bermesin jet N2130. Yup, setuju sekali walaupun terkadang kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Tentu saja merasakan sendiri pengalaman, artinya memperoleh dari tangan pertama lebih berkesan, baik kesan menyenangkan maupun menyakitkan, yang menambah kualitas kita.

Tiap Orang Berpengalaman

Kita kagum dengan tokoh-tokoh terkenal yang ada di sekitar kita. Tetapi terkadang hanya melihat dari sisi yang menyenangkan saja, yaitu kesuksesannya. Padahal, dalam mencapai suksesnya itu, terkadang ada air mata dan penderitaan yang menyertainya yang terkadang luput dari pantauan orang lain. Begitu juga kita, terkadang terlalu fokus dengan kegagalan, kesedihan, kekurangan, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya sehingga lupa bahwa ada kesuksesan-kesuksesan yang telah kita raih, sekecil apapun. Sepintar apapun pak Habibie, anda mungkin lebih hebat memasak, lebih pintar dribling, lebih merdu suaranya, dan keahlian-keahlian lainnya yang terbentuk dari pengalaman kita.

Pengalaman dari Masa Lalu

Berbagi pengalaman menurut saya merupakan karakter bangsa kita yaitu gotong-royong (baca tulisannya Prof. Rhenald Kasali ini tentang gotong-royong). Bayangkan 200-an juta penduduk jika saling berbagi pengalaman, pasti akan menghasilkan pendekar-pendekar baru di bidang tertentu. Kesuksesan-kesuksesan yang terjadi seperti era Majapahit dan Sriwijaya tidak mustahil terulang lagi. Saya ingat cerita silat tutur tinular, dimana pembuat pedang Naga puspa sampai dibajak kerajaan China. Walaupun cerita fiksi, kisah-kisah kesaktian para pendekar jaman dulu sepertinya tidak jauh berbeda, dari keris empu gandring, hingga diakalinya pasukan Tar-tar dari kerajaan Kubilai khan di era Singasari. Masuknya penjajah sepertinya memudarkan kegotong-royongan yang diakibatkan juga oleh politik pecah belah Belanda. Untungnya dengan pendidikan muncul anak-anak muda yang dipelopori oleh Budi Utomo segera men-share ke para “Jong” daerah lain di seluruh Hindia Belanda. Sejarah sendiri merupakan media ampuh untuk berbagi pengalaman dari para pendahulu kepada generasi muda. Seperti kata Soekarno, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.

Senang juga melihat informasi dari kementerian ristek-dikti bahwa 109 orang terpilih menerima beasiswa saat ini (uniknya kebanyakan wanita). Mereka adalah anak-anak muda yang akan menuntut ilmu dan setelah itu membagikan ilmu dan pengalamannya ke tanah air. Hal lain yang menggembirakan adalah Ristek-dikti terus berbenah dan dari tahun ke tahun terus meningkat pelayanan terhadap pengembangan SDM, terutama dari sisi studi lanjut. Terbukti, lembaga ini belajar dari pengalaman-pengalaman yang lalu (termasuk rumitnya menangani generasi saya, hihi).

Pengalaman itu Menular

Ada sedikit pengalaman yang saya tangkap mengenai studi lanjut. Saya sendiri bingung waktu itu, ketika sadar tau-tau sudah berada di negara asing untuk belajar, kok bisa begini? Sementara di sisi lain, senior-senior yang lain belum juga tugas belajar dan tenang-tenang saja. Setelah difikir-fikir ternyata ada unsur sharing pengalaman dari pendahulu-pendahulu saya tentang pengembangan diri. Pernahkah Anda sadari, asisten-asisten dosen biasanya mengikuti seniornya untuk memperoleh pendidikan terakhir (doktor)? Walaupun saya bukanlah asisten dosen, tetapi setelah lulus master saya kerap diajak dosen pembimbing dulu untuk mengajar mahasiswanya, dan juga proyek-proyek lainnya seperti penelitian dan menulis buku. Hampir buku-buku yang saya tulis kebanyakan atas “paksaan” dia. Hanya buku terakhir yang saya buat sendiri karena beliau sudah dipanggil tuhan. Sangat sulit menyuruh orang studi lanjut ternyata, saya sendiri sebenarnya tidak ada niat, hanya karena melihat dosen saya yang doktor dan selalu bersama beberapa waktu, cukup membuat saya tertular virus akademiknya, yang tidak bisa dipelajari dari buku atau seminar, kecuali kalau dipaksa seperti kasus dosen harus S2 minimal. Bahkan doktoral bootcamp yang diadakan belakangan hanya sedikit membantu karena waktu yang singkat. Tetapi hanya dengan saya berangkat studi lanjut, tidak lama kemudian rekan-rekan saya yang lainnya ikut, termasuk para senior-senior yang tangguh, yang tak mengenal usia. Diskusi lewat media sosial sepertinya ampuh saat ini, rekan saya yang ber-toefl 300-an sepertinya jadi bersemangat dan dengan tekat yang kuat bisa menembus 550 sehingga bisa berangkat kuliah S3. Terakhir rekan saya yang selalu bertanya dan berdiskusi masalah proposal doktoral akhirnya lolos dan siap berangkat ke ITS.

Jangan berharap ada Jawaban jika tak ada Pertanyaan

Kita memiliki keunggulan dari jumlah penduduk, harusnya bisa dimanfaatkan. Sebenarnya banyak pengalaman-pengalaman yang bisa di-sharing, tetapi tanpa adanya yang bertanya, sepertinya akan sia-sia. Saya lupa berapa kali saya ikut pelatihan statistik (SPSS), dan setelah selesai seperti angin lalu saja, tidak ada yang masuk ke otak. Bukan karena materinya kurang bagus atau pengajarnya kurang pintar, tetapi karena saya ikut pelatihan itu di kampus. Walaupun gratis, karena tidak butuh dan tidak ada “pertanyaan” di kepala saya akhirnya sia-sia. Saya terkadang enggan melaksanakan pelatihan-pelatihan seperti itu kecuali memang beberapa orang butuh dan ingin berdiskusi bersama-sama, hasilnya lebih optimal. Saya kagum juga semangat para ibu-ibu dosen di daerah Karawang yang main ke kampus untuk belajar Matlab di Bekasi (percayalah, Bekasi deket lho). Dan ternyata tujuan utama adalah seluk beluk riset doktoral, sementara Matlab menurut saya salah satu sarana paling mudah untuk doktoral yang ingin mendalami simulasi berbagai disiplin illmu.

Terkadang ada hal-hal unik. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang teramat sulit bagi saya dari rekan-rekan, tetapi ternyata mudah sekali jawabannya. Gimana caranya? Saya lempar saja ke rekan saya yang lain. Saya adalah orang Information Management yang percaya tiap orang memilihi harta tak ternilai, yaitu informasi. Saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sulit itu, tetapi saya tahu orang-orang yang bisa menjawabnya, beres sudah, bungkus. Ketika ada yang bertanya layak atau tidaknya suatu proposal doktoral, saya baca dan pusing karena bukan bidang saya, langsung saya tanyakan saja dengan teman kuliah di bidang yang sama dengan rekan yang bertanya, beres sudah tugas saya, seperti Iniesta tinggal memilih mengarahkan bola ke Messi atau Neymar (waktu belum pindah). Tetapi kalau kita masih ribut karena beda agama, suku, dan pilihan politik, sulit sekali bisa sharing pengalaman. Mungkin tulisan di hari libur yang tidak terlalu serius ini bisa bermanfaat.

Riset Tentang Web Mining

Lanjutan dari postingan yang lalu. Semua orang pasti memiliki jawaban yang sama tentang pentingnya aplikasi web, yaitu sangat penting. Mulai dari facebook, google, baca berita, dan mencari informasi lainnya selalu menggunakan aplikasi berbasis web. Walaupun saat ini aplikasi android sudah menjamur, tetapi tetap saja web menjadi hub yang menghubungkan client dengan server aplikasi dan server data. Perkembangannya yang sangat cepat membuat riset di bidang ini harus secepat mungkin karena satu teknologi akan segera usang seiring berjalannya waktu.

Banyak Anak Muda yang Tertarik

Web mining merupakan ilmu yang baru. Anak-anak muda karena sudah mengenal web sejak sekolah menengah tidak akan merasa kesulitan untuk mempelajarinya. Terkadang mereka lebih mahir dari pada guru-guru bahkan dosennya. Ketika saya mengikuti wawancara untuk mendapatkan beasiswa S3, saya iseng meminjam proposal milik peserta yang kebanyakan masih muda. Kebanyakan mereka ingin riset yang ada hubungannya dengan web, misalnya semantik web.

Bukan hanya untuk riset, banyak orang menggunakan web untuk mencari uang (affiliate marketing) dengan teknologi-teknologi yang dikembangkan seperti web crawler ataupun robot-robot yang diistilahkan dengan nama bot.

Bidang-bidang Riset Web Mining

Sesuai dengan unsur katanya, web mining berarti menggali informasi yang ada di web. Berbeda dengan data mining yang menggali informasi dari data terstruktur, web mining menggali informasi dari data semi-structure bahkan unstructured. Web mining lebih sulit karena jenis datanya yang tidak terstruktur dan terkadang banyak data “sampah” yang mengganggu proses penggalian data.

Untuk melakukan riset, langkah pertama yang harus ditempuh adalah mempelajari prinsip-prinsip dasar yang sudah baku di buku teks. Jangan sampai kita melakukan riset terhadap sesuatu yang sudah “established”. Teori-teori di buku biasanya sudah fix dan diakui kebenarannya oleh hampir peneliti-peneliti di dunia. Biasanya mahasiswa S3 terkadang mengambil mata kuliah bidang yang akan diriset sebelum masuk ke kandidasi (syarat untuk diperbolehkan meneliti). Langkah berikutnya adalah men-searching jurnal-jurnal terkini tentang web mining.

Untuk buku silahkan baca buku-buku yang beredar, terutama yang bahasa Inggris, misalnya “Mining the web” dan buku-buku semantic web lainnya (Linoff & Berry, 2001; Yu, 2011). Di sini disebutkan ada tiga aktivitas Web mining yang penting:

  • Mining structure
  • Mining usage
  • Mining content

Structure Mining

Silahkan masuk ke salah satu bidang web mining di atas. Yang pertama adalah Mining structure. Penggalian ini bermaksud mencari struktur dari web, biasanya link-link yang ada dalam suatu halaman. Halaman mana saja yang kerap menjadi target dari halaman yang lain? Halaman mana yang menunjuk ke halaman-halaman lain? dan seterusnya. Grafik yang sering dibuat adalah graf berarah yang menunjukan hubungan satu halaman dengan halaman lainnya. Penerapan yang sering dibuat adalah menghitung sitasi terhadap suatu halaman. Istilah yang sering muncul adalah hub, authorities, dan populer site. Tidak hanya melibatkan halaman yang berbeda, struktur lokal pun masuk dalam domain structure mining asalkan melibatkan hubungan-hubungan link.

Mining Usage Pattern

Di sini ada tambahan kata “pattern” karena biasanya yang digali adalah pola penggunaan suatu page. Dua bidang utamanya adalah clickstream analysis dan web logs. Masalah-masalah yang muncul adalah bersih atau tidaknya page yang dikoleksi. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Filtering
  • Despidering (anti spider)
  • User identification
  • Sessionalization, dan
  • Path completian.

Mining Content

Menggali isi web-web yang berserakan di dunia maya membutuhkan keahlian dalam menangani text/string karena sebagian besar web tidak terstruktur. Baca dan pelajari information retrieval dari buku-buku yang tersedia, misalnya buku yang gratis didonlot dari penerbitnya ini. Konsep-konsep stemming, dan sejenisnya (recall, precission, dll) banyak di bahas di buku tersebut. Oiya, sebagian saya tulis di post tentang information retrieval. Silahkan riset jika tertarik, saya sendiri masih meraba-raba, jika tidak sanggup ya back to basic: spatial data optimization.

Ref:

  • Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America: Wiley.
  • Yu, L. (2011). A Developer’s Guide to the Semantic Web. New York: Springer.

 

Export ArcGIS beserta Basemap ke Format Lain

Salah satu fungsi ArcGIS adalah untuk presentasi. Presentasi di sini bisa berupa cetakan (print out) atau file. Terkadang karena tidak semua orang memiliki ArcGIS, maka perlu mengkonversi file project ArcGIS ke format lain. Salah satu format yang terkenal adalah gambar (JPG, BMP, dan TIFF) dan PDF. Ada format-format lain yang bertipe vektor. Di sini akan dibahas untuk yang tipe gambar atau dikenal dengan istilah raster.

Salah satu fasilitas yang cukup penting untuk presentassi dan pembuatan peta pada ArcGIS adalah basemap. Kita coba tambahkan basemap, untuk memperjelas peta yang akan dikonversi ke gambar. Ada beragam basemap yang tersedia di ArcGIS. Untuk mengaksesnya silahkan masuk ke menu tambah layer pada gambar di bawah ini.

Salah satu yang terkenal adalah OpenStreetMap yang menunjukan jalan-jalan di seluruh dunia. Pilih dengan mouse lalu tekan Add untuk menambahkan basemap di layer. Oiya, saya mencoba Streets ternyata hasilnya tidak sedetil OpenStreetMap.

Jika sudah maka masuk ke file dilanjutkan dengan export map untuk mengisi pilihan format yang cocok. Lanjutkan dengan mengisi nama file beserta formatnya. Untuk informasi detilnya silahkan kunjungi situs resminya.

Untuk PDF sepertinya banyak fasilitas yang dapat digunakan, misalnya jika layout yang dibuat di arcGIS lebih dari satu halaman (lihat cara membuat layout). Resolusi yang pas untuk peta seukuran Bekasi adalah kira-kira 200 dot per in (dpi). Jika kurang maka basemap kurang jelas (blur), tetapi kalau kebesaran bisa hang pabila komputer tidak kuat (ram dan prosesor-nya). Hasilnya dapat dilihat sebagai berikut:

Sayangnya untuk basemap Google atau Bing tidak bisa dikonversi ke JPG (hanya gambar shapefilenya saja yang tercetak) padahal baik Bing maupun Google memiliki fasilitas yang lengkap untuk citra satelitnya (lihat cara menginstall plugin Bingmap/Google). Tetapi untuk menunjukan jalan dan wilayah tertentu sepertinya fasilitas bawaan ArcGIS sudah ampuh. Selamat mencoba.

Mengisi IEEE Copyright untuk Publikasi

Mungkin banyak pembaca yang sudah terbiasa mengisi form IEEE copyright yang biasanya diminta oleh pengelola jurnal atau seminar sebelum tulisan dipublikasi lewat IEEE. Saya sendiri baru dua kali, dan seperti biasa masalah lupa merupakan kendala utama. Terpaksa email-email yang dahulu dibuka-buka lagi untuk contekan. Untuk yang baru pertama kali, mungkin postingan ini bisa sedikit membantu.

Setelah mengunduh form dari link yang disediakan pengelola seminar (misalnya ICIC 2017), buka dengan Pdf reader yang bisa mengisi TEXT karena harus ada isian yang diisi. Banyak software yang tersedia di internet, misalnya Foxit Pdf reader. Dengan menggunakan menu Comment tinggal menempatkan text box di lokasi isian.

Bagi yang tidak suka menginstal software Pdf reader yang bisa mengisi text box, bisa dengan cara mengkonversi form IEEE itu menjadi ms word. Banyak fasilitas online yang tersedia misalnya link ini. Tinggal upload file pdf kemudian file doc siap diunduh dan diisi.

Sekarang masalahnya adalah mengisinya. Ada lima isian yang harus diisi yaitu: 1) judul paper, 2) Author, 3) Nama jurnal/conference, 4) Nama dan tanda tangan, 5) Tanggal penandatanganan. Biasanya, panitia seminar sudah mengisikan nama conference yang akan dilaksanakan.

Kemudian bagian penandatanganan sedikit hati-hati karena ada tiga isian tanda-tangan. Isi pada bagian di bawah General Terms, jangan pada isian US Government .. dan Crown … Nama dan tanggal bisa diisi dengan ketikan atau tulis tangan seperti saya (maklum darurat, sedang pelatihan IELTS 3 bulan di jogja).

Setelah itu di-scan dan kirim ke panitia. Itu merupakan paper pertama saya (diselenggarakan oleh universitas indonesia), terindeks di IEEE dan Scopus, sejak tulisan ini dibuat sudah disitasi dua kali. Yang terpenting sebenarnya adalah naskah diterima dulu, direvisi dan siap publish. Sekian, semoga sedikit bermanfaat.

 

 

 

Mining the Web – Bidang Yang Kian Penting Saat ini

Menurut Prof. Rhenald Kasali, beberapa perusahaan ternama akhir-akhir ini jatuh secara tiba-tiba karena fenomena “disruption”. Fenomena ini merupakan bagian dari konsep “the invisible hand” dari Adam Smith kira-kira se-abad yang lalu. Tapi fenome disruptive muncul karena kejatuhannya yang tiba-tiba tanpa adanya gejala-gejala, ibarat serangan jantung, perusahaan-perusahaan raksasa tumbang mengenaskan. Laporan keuangan yang ok, tidak ada indikasi penetrasi atau serangan dari pesaing, tapi entah mengapa tiba-tiba ditinggalkan konsumen dan hancur. Di sisi lain, digrebeknya grup saracen yang berbasis online, dipenjaranya seorang gubernur karena rekamannya yg beredar online, tokoh aliran tertentu yang masih menunggu diperiksa, dan hal-hal lainnya mewarnai dunia digital di tanah air.

Dulu sempat mengajar e-commerce dan data mining tetapi tidak begitu membahas masalah dampaknya di masyarakat. Ternyata sangat besar. Konsumen mulai bergeser dari offline menjadi online (elektronik). Demo besar-besaran perusahaan taksi ternama di tanah air merupakan suatu sinyal akan adanya perubahaan perilaku konsumen dari offline transaction menjadi online. Dari sisi data mining, yang saya ajarkan (maupun buku yang diterbitkan) hanya berfokus ke database konvensional saja (bukan berbasis web). Oleh karena itu, upgrade ke versi web untuk mendukung terapannya dalam e-commerce sepertinya harus dimulai.

Ketika main ke perpustakaan, saya menjumpai buku lama terbitan 2001 yang membahas data mining pada web. Tahun-tahun itu merupakan tahun mulai berkembangnya riset-riset berbasis web yang hasilnya adalah aplikasi-aplikasi yang banyak dijumpai oleh orang-orang seperti sosial media, entertainment, dan sejenisnya. Berikut intro yang sari sarikan dari buku tersebut.

E-Commerce

Sesuai dengan namanya, e-commerce menjembatani antara produsen dengan konsumen lewat kanal/saluran baru yaitu transaksi elektronik, itu saja. Tetapi ternyata dengan pemanfaat media online dampaknya sangat besar walaupun tidak ada yang berubah dari sistem produksi, penentuan harga, laproan penjualan, dan sebagainya. Hal-hal yang membedakannya adalah kemampuan media online untuk menyediakan layanan yang cepat dalam menawarkan barang lewa “search engine”nya dalam bentuk rekomendasi, mampu mengingat history seorang pelanggan di waktu yang lampau, dan mampu secara cepat mengontrol persediaan barang mengikuti tren pemesanan barang oleh konsumen. Itu saja sudah cukup menghajar pemain-pemain lama yang tidak sadar akan bahayanya lengah terhadap media elektronik online.

E-Media

Selain perdagangan barang real, ternyata media terkena imbas dari media online. Mungkin mereka bisa bertahan karena karakter media yang tajam dalam melihat gejala-gejala adanya suatu fenomena, sehingga beberapa surat kabar bisa dengan “smooth” beralih dari media cetak ke online. Tetapi tentu saja media online memiliki keunggulan dibanding versi cetak karena media cetak tidak bisa mengetahui siapa saja yang telah membaca berita di dalamnya. Media online bisa mengetahui berita-berita yang menarik minat konsumen sehingga di masa yang akan bisa menulis berita-berita yang disukainya itu. Selain itu, media online memiliki karakteristik khusus yang “custom” dimana konsumen bisa memilih berita mana yang ingin diakses, khususnya yang berupa video. Inilah sepertinya yang dikhawatirkan oleh televisi-televisi lokal yang berbasis gelombang frekuensi yang dalam satu waktu tertentu hanya menyiarkan satu acara tertentu. Tinggal menunggu iklan yang lewat, jika tidak ada yang beriklan sepertinya siap-siap mengucapkan kata “selamat tinggal” (mungkin masih bisa bertahan untuk kampanye pemilu).

E-Markets

Saya, atau mungkin kita, pernah kecewa ketika telah membeli sesuatu ternyata ada tempat lain yang menjual dengan harga lebih murah, sakitnya tuh di sini. Dengan e-markets beberapa situs telah menyediakan fasilitas yang membandingkan harga-harga produk, seperti tike pesawat, hotel, dan lain sebagainya. Konsumen tinggal menilai sendiri, cari yang murah atau yang mahal tapi lebih nyaman. Selain itu, situs e-markets bisa menawarkan sesuatu selain yang dibeli, sehingga lebih banyak kemungkinan barang yang berhasil dijual. Sebenarnya ini menguntungkan konsumen juga karena tidak perlu jalan atau naik ekskalator mencari produk tertentu, kecuali memang ingin jalan-jalan.

Brands/Merk

Ini merupakan hal penting yang menunjukan kualitas suatu produk terhadap konsumen. Dari jaman dulu, konsep tentang “branding” tidak berubah. Konsumen cenderung membeli produk yang telah dikenalnya lama. Kematian suatu merk terkadang mengindikasikan kematian suatu perusahaan. Namun saat ini kualitas merk sangat-sangat tergantung dengan media online. Dua kali kecelakaan pada maskapai MAS sudah cukup menurunkan brand maskapai itu. Dan sialnya lagi, maraknya media sosial terkadang menyediakan hoax-hoax yang mengganggu brand suatu produk. Oleh karena itu tiap perusahaan sepertinya menyediakan tim yang memantau pergerakan brand di media online.

Sungguh pembahasan yang menarik. Masih banyak aspek-aspek lain yang bisa dipelajari dari aplikasi web, seperti periklanan, target marketing, customer value, real time considerations, understanding customers and business processes, experimental design for marketing, dll. Semoga tulisan ini bisa berlanjut.

Ref

Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America.

Perbedaan Penggunaan Lahan dan Penutupan Lahan

Penggunaan lahan dan penutupan lahan (land use and land cover) merupakan bidang riset yang saat ini gencar diteliti dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari geografi, lingkungan, kesehatan, bahkan saya sendiri dari informatika ikut juga berpartisipasi. Bidang riset ini bercirikan data spasial dan temporal. Untuk yang baru kenal ada baiknya bisa membedakan istilah-istilah itu, terutama padanannya dengan bahasa Indonesia yang baku.

Penggunaan Lahan (Land Use)

Penggunaan lahan sering diistilahkan dengan peruntukan lahan atau juga tata guna lahan (Baja, 2012). Artinya adalah bentuk penggunaan lahan oleh masyarakat. Apakah digunakan untuk pertanian, perkebunan, perumahan, atau dibiarkan saja (tidak digunakan). Bagi yang kurang begitu mengetahui perbedaan penggunaan dengan penutupan lahan, biasanya lebih aman menggunakan istilah penggunaan lahan, walaupun sebenarnya ada sedikit perbedaan dengan penutupan lahan.

Penutupan Lahan (Land Cover)

Berbeda dengan penggunaan lahan, penutupan lahan lebih memaknai lahan dari sisi bio-fisikanya, yaitu jenis bio-fisika yang ada di suatu lokasi tertentu, seperti tumbuhan, air, pertanian, bangunan, dan sebagainya. Berbeda dengan penggunaan lahan, penutupan lahan mudah dideteksi dengan penginderaan jarak jauh. Frekuensi tertentu dari sensor pada satelit dapat membedakan tanaman dengan bangunan, air, atau bahkan antara tumbuh-tumbuhan hutan dengan pertanian (agriculture). Penggunaan lahan tertentu seperti sekolah, rumah sakit, hotel, dan industri masuk dalam jenis ‘bangunan’ dari sisi penutupan lahan. Citra satelit sangat sulit mendeteksi perbedaan penggunaan lahan berjenis bangunan itu. Tetapi riset sedang berjalan untuk mengatasinya. Beberapa penggunaan lahan misalnya pertanian dan kehutanan (agriculture vs vegetation), dapat dibedakan dengan teknik pengolahan citra terkini. Konvensi standar pewarnaan pun sudah ada untuk tiap-tiap penggunaan dan penutupan lahan (Anderson, Hardy, & Roach, 1976).

Saat ini alih guna lahan (land use change) banyak diteliti, dan menjadi materi wajib mahasiswa jurusan remote sensing and Geographic Information System (RS-GIS). Software yang bisa digunakan pun beragam dari Dyna Clue hingga IDRISI Selva (Eastman, 2012). Silahkan dicoba.

Referensi:

Anderson, J. T., Hardy, E. E., & Roach, J. T. (1976). A Land use and Land Cover Classification System for Use with Remote Sensing Data. United States of America. Retrieved from https://pubs.usgs.gov/pp/0964/report.pdf

Baja, S. (2012). Perencanaan Tata Guna Lahan dalam Pengembangan Wilayah – Pendekatan Spasial & Aplikasinya. Yogyakarta: Andi Offset.

Eastman, J. (2012). IDRISI selva tutorial. Idrisi production. Clark Labs-Clark Universit. Retrieved May 1, 2017, from https://clarklabs.org/wp-content/uploads/2016/10/TerrSet-Tutorial.pdf

Memecah Kelas Hasil Klasifikasi di ArcGIS

Salah satu tugas penting penelitian mengenai land use adalah klasifikasi citra satelit. Biasanya hasil pengolahan citra yang utama adalah unsupervised classification yang harus dicek lagi akurasinya dengan data real yang lebih akurat (ground view), misalnya aerial view, study lapangan dengan GPS, ataupun cara lain (Google earth, bing aerial, dll). Hasil klasifikasi perlu dipilah misalnya builtup saja, vegetasi saja, dan kelas-kelas lainnya. Dengan ArcGIS untuk memilahnya tidak terlalu sukar, hanya dengan simbologi sudah cukup untuk memisahkan satu kelas dengan kelas lainnya. Misalnya gambar di bawah ini adalah kelas-kelas hasil unsupervised classification pada IDRISI yang diekspor ke ArcGIS.

Dobel klik saja pada peta klasifikasi yang sudah di-geret dari file-nya lewat Catalog. Selanjutnya misalnya yang berwarna merah mudah adalah air, dan akan kita pisahkan dengan yang lain. Tinggalkan saja air dan yang lainnya remove dari symbology.

Jangan lupa konversi dahulu menjadi Unique Values agar bisa dipilah kelasnya. Tekan OK dan peta hasilnya dapat dilihat di bawah ini. Setelah itu jika akan dikonversi ke Google Earth pro dalam format KMZ atau KML tinggal konversi saja seperti dibahas pada postingan yang lalu. Selamat mencoba.