Ikut Tes Kepribadian STIFIn

Ngomong-ngomong masalah psikologi, jujur saja saya tertarik. Bahkan ketika Ujian Masuk Perguruan Tinggi negeri di tahun 1995 dulu, saya memilih pilihan ketiga psikologi setelah teknik mesin dan teknologi hasil ternak, yang tentu saja membuat orang-orang psikologi geram karena diletakan di bawah peternakan, he he. Padahal psikologi merupakan sepuluh besar jurusan tersulit untuk dimasuki, khususnya bidang IPS. Untungnya saya diterima di mesin.

Tes STIFIn (singkatan dari sensing, thinking, intuiting, dan insting) bermaksud mengetahui otak dominan yang digunakan oleh manusia (kiri, kanan, tengah). Ketika sore-sore istri mengajak ikut tes STIFIN, saya sih setuju saja, toh tidak diambil darahnya, hanya sidik jari seluruh tangan dan informasi golongan darah saja. Hasilnya ternyata saya bertipe otak tengah, yaitu insting, disingkat In.

 

Otak tengah merupakan otak yang cepat dalam merespon, adaptif, dan menyukai kedamaian. Sedapat mungkin menghindari konflik. Sedikit banyak sepertinya ada benarnya, walaupun STIFIN hanya menebak 20% yang ada dalam diri kita dan sisanya 80% adalah lingkungan. Kemampuan adaptif insting karena mampu berperan sebagai tipe-tipe lainnya (sensing, thinking, intuiting, dan feeling) walaupun tidak bisa lama-lama dan hanya 50% katanya. Silahkan baca untuk tipe-tipe lainnya.

Katanya sih hubungan antar tipe “mesin kecerdasan” adalah tampak seperti gambar di atas. Ada yang mendukung, ada yang menaklukan. Bagi orang insting sepertinya tidak masalah karena toh ketika akan ditaklukan sensing, dia bisa berubah jadi intuiting karena sifatnya yang adaptif, ha ha. Bisa aja orang-orang psikologi ya.

Tetap Menulis

Saat ini jaman sudah berubah, semua serba online. Tidak terkecuali buku yang saat ini sudah nyaris tergantikan dengan alat-alat digital berupa ebook. Sudah jarang mahasiswa yang membawa buku-buku tebal dan berat seperti jaman saya kuliah dulu. Tinggal membuka tablet, bacaan apapun tersedia. Kapasitasnya pun bisa menyamai jumlah tulisan di perpustakaan konvensional seperti di tempat saya bekerja. Apakah peran buku sudah terdisrupsi oleh media-media lain yang lebih canggih?

Orang-orang Besar Tetap Membaca Buku

Tidak hanya Bill Gates yang selalu melahap buku teks (bukan online) dalam setahun, mantan presiden Amerika Serikat, Obama, pun tetap membaca buku teks. Alasannya sederhana, ketika sumber informasi datang seperti tsunami, membaca buku dapat berfungsi sebagai “benteng” untuk berhenti sejenak menerima gempuran informasi dari luar (yang kebanyakan hoax atau cenderung menggugah emosi). Obama sendiri mengatakan membaca berfungsi melihat sudut pandang orang (si penulis) dalam melihat dunia, ibarat “mencoba memakai sepatu orang lain”.

Saat ini Buku Yang Mencari Orang

Dahulu mungkin buku dianggap sebagai masterpiece, seperti lukisan yang dicari-cari oleh para kolektor. Namun saat ini keberadaannya berbeda, buku harus berevolusi seperti sarana-sarana lainnya yang mau tidak mau mensuplai dan menservis kebutuhan konsumen. Ketika tadi malam saya bersama anak ke toko buku ternama, yang dia tuju adalah novel-novel yang saat ini laris di kalangan remaja. Saya sendiri tidak mengenalnya. Tapi entah bagaimana si penulis mengapa bisa memahami keinginan dan apa yang diminati oleh generasi remaja saat ini. Di situlah saya baru sadar, peran buku saat ini agak mirip dengan obat, yakni menyesuaikan dengan orang yang memerlukannya.

Tentu saja penulis-penulis ternama banyak yang menantikan karya-karyanya. Tapi itu untuk topik-topik populer, sementara jarang saya melihat buku-buku ilmiah yang digandrungi banyak orang seperti buku Harry potter. Malah kebanyakan para mahasiswa “memfoto kopi” buku untuk keperluan kuliah, sebaliknya membeli buku asli untuk novel atau bacaan non-pendidikan. Tidak ada cara lain bagi penulis buku-buku ilmiah untuk menerapkan teknik buku-buku non-ilmiah, yaitu meneliti keinginan para penggunanya/konsumen.

Penerbit Tetap Eksis

Satu hal yang membuat saya bingung adalah ternyata penerbit masih tetap eksis. Buku-buku tetap terbit dan perusahaannya masih meneguk keuntungan. Padahal saat ini pembajakan sudah biasa dan minat pembaca buku, khususnya buku ilmiah sepertinya rendah di Indonesia. Namun perlu diingat seberapa kecil pun prosentasi pembaca di tanah air, tetap saja jauh lebih besar dibanding negara-negara tetangga, karena memang jumlah penduduk Indonesia yang dua ratusan juta jiwa.

Pernah saya membantu menulis buku yang di awal judulnya “Analisa dan Disain Sistem Berorientasi Objek dengan UML”. Setelah sampai di tangan penerbit, mereka menyarankan mengganti judulnya menjadi “menggunakan uml”. Unik juga, penerbit ternyata memiliki naluri dan insting tentang apapun yang membuat buku “eye catching“. Jika saya perhatikan ternyata judul saran penerbit sangat disukai pasar dan “to the point“, tidak terasa berat dan bikin jidat berkenyit karena pusing dan bikin muntah, hehe.

Sesama Penulis Saling Menghargai

Satu hal yang sangat mendukung dunia per-bukuan adalah saling mendukung sesame penulis. Cara gampangnya adalah bedakan antara media sosial dengan penulisan. Jika di media sosial memerlukan “pertengkaran” untuk bisa eksis (walaupun efek sialnya bisa masuk penjara), dalam perbukuan hampir tidak dijumpai hal itu. Jika ada yang menghina, sudah dipastikan dia belum pernah membuat buku. Bahkan ada pakar IT yang menghina tulisan-tulisan buku dari bangsanya sendiri yang mengatakan “buku instan”, “tidak berguna”, dan membandingkan buku-buku fenomenal karya bangsa lain. Mungkin pendapatnya benar, tetapi toh tak ada gunanya jika dia sendiri tidak menciptakan karya fenomenal seperti karya bangsa lain. Kita sadar minat baca bangsa kita tidak sehebat bangsa lain (semoga sekarang tidak), para penulis telah bersusah payah bagaimana menyetarakan tingkat daya tangkap pelajar-pelajar kita dengan sulitnya materi, dan ketika sudah cocok, masih dikritik pedas pula. Tapi prinsip saat ini sangat berbeda dengan jaman dulu, siapa yang bisa memberikan layanan yang lebih baik akan dipakai dan secanggih apapun jika tidak ada yang menggunakan, pasti akan bangkrut dan hancur, seperti Blackberry, Nokia, dkk. Buktinya sudah banyak, semoga Anda sendiri tidak berminat menjadi bukti baru.

Wah .. BKD Online di Kopertis 4

LLDIKTI wilayah 4, sebelumnya bernama Kopertis 4, merupakan satu-satunya LLDIKTI yang menjalankan pelaporan Beban Kerja Dosen (BKD) secara online. Sebelumnya BKD dilakukan secara offline lewat program singkat via Microsoft Access. Postingan ini sedikit menginfo-kan kepada rekan-rekan dari LLDIKTI wilayah lainnya mengenai apa itu BKD Online.

Situs Resmi

Situs resmi BKD online dengan mudah diakses di link berikut ini. Tampilannya sangat sederhana, mirip mbah Google yang tanpa embel-embel iklan, pengumuman-pengumuman, dan sejenisnya. Setelah Login dengan menggunakan ID NIDN dosen, maka laporan BKD maupun Kontrak BKD siap dijalankan.

Kira-kira tampilannya seperti itu. Bagian kanan sebelumnya tidak ada. Supaya ada tinggal mengklik tombo Tambah dilanjutkan dengan mengisi informasi dari semester dan tahun akademik hingga asesor 1 dan asesor 2.

Approve Oleh Asesor dan Pimpinan

Mirip dengan BKD yang lalu, laporan harus disetujui oleh dua orang asesor dan kontrak ditandatangani oleh ketua program studi atau dekan. Bedanya di sini asesor tidak perlu menandatangani melainkan hanya mengklik persetujuannya, begitu juga dengan persetujuan oleh pimpinan. Di situlah letak perbedaannya. Jika dulu kita harus mencari asesor dan minta tanda tangan, sekarang hanya meminta persetujuan lewat aplikasi. Jika asesor ada di tempat lain, asalkan ada internet, bisa menyetujuinya.

Perhatikan, jika sudah disetujui maka tulisan Approved muncul di login asesor, sementara yang belum masih berwarna merah. Nah, di sinilah masalah muncul, karena jumlah dosen yang diasesori terlihat dengan gamblang, sepuluh, duapuluh, dan sebagainya. Rencananya nanti akan dibatasi hingga 10 saja. Repot juga jika yang “tidak kebagian gerbong”. Waktu jaman offline, walau bisa diketahui jumlah yang diasesori tetapi akan ribet dan repot menghitungnya.

Pemberkasan

Salah satu kelebihan dari online adalah berkas dengan mudah dibaca oleh asesor karena dalam bentuk file scan. Dengan menekan tombol Download Bukti Dokumen maka asesor langsung bisa melihat keabsahan kinerja dosen yang diasesori. Selain itu, jika dicetak pun, hasilnya mirip dengan format yang dicetak lewat aplikasi MS Access sebelumnya.

Integrasi dengan SISTER

Sister (Sumber Informas Sumber Daya Terintegrasi) merupakan sistem terintegrasi informasi seorang dosen (tridarma, kinerja, kepangkatan, biodata, dll). Aplikasi ini sebentar lagi akan diterapkan yang dampaknya sangat luar biasa. Tidak ada lagi dosen-dosenan karena akan ketahuan jika suatu universitas memiliki dosen yang hanya nama saja. Yah, tapi namanya manusia kan kalau kepepet muncul kreativitasnya untuk mengakali. Tetapi Ristekdikti sepertinya terus berusaha memaksa kampus mengikuti “jalan lurus” institusi pendidikan. Sayangnya, aplikasi buatan LLDIKTI wilayah 4 ini akan segera digantikan oleh SISTER kabarnya, tapi tidak apa, toh para dosen di wilayahnya sudah terlatih dengan BKD online. Sekian, semoga nasib dosen yang serius melaksanakan tri-darma lebih dihargai lagi, dan selamat ber-serdos ria.

Fokus Mengasah Kuku dan Taring, Bukan Hanya Mengisi Perut

Tidak dapat dipungkiri, pekerjaan mengajar di Indonesia masih berfokus pada jumlah jam mengajar. Teringat ketika di awal-awal saya menjadi tenaga pengajar honorer. Prinsipnya adalah mengajar sebanyak-banyaknya. Alhasil, berangkat pagi pulang malam hari. Rekan saya berkelakar, “dari terbit fajar hingga terbenam mata satpam”.

Namun di sela-sela melakukan aktivitas “kejar paket SKS” itu saya melihat beberapa rekan pergi ke luar kampus. “Ke mana mas?”, tanya saya dengan dugaan dia menjawab mengajar di kampus lain. Ternyata tidak, “kuliah”, jawabnya. Ternyata mengambil magister. Saya tertegun dan mulai berfikir ulang mengenai konsep mengajar sebanyak mungkin.

Ternyata benar, tidak beberapa lama kemudian aturan baru muncul, dosen harus S2. Ibarat macan, para dosen yang S1 seperti kurang tajam kuku dan taringnya, bahkan dipaksa S2. Sementara perut yang sudah kebanyakan diisi perlu beradaptasi untuk mengasah kuku dan taring di perkuliahan pascasarjana.

Bagaimana dengan bidang lain selain dosen? Ada sedikit pengalaman dari rekan saya yang suaminya bekerja di Industri, bagian SDM. Waktu itu saya lihat rumahnya masih sederhana dengan kendaraan mobil tua yang murah dan boros BBM. Istrinya bercerita suaminya sangat gemar “mengumpulkan” sertifikat-sertifikat keahlian. Selang beberapa tahun (tidak lebih dari 4 tahun), suaminya selalu pindah kerja ke kantor lain dengan salary yang lebih besar. Namun tetap dia masih gemar “mengumpulkan” sertifikat-sertifikat. Tentu saja mengumpulkan di sini artinya mengikuti ujian-ujian dan kursus-kursus keahlian, sesuai bidangnya yaitu SDM. Kini kehidupannya sangat baik dibandingkan dahulu.

Keahlian beragam, tidak harus sertifikat ataupun gelar/ijasah. Saya teringat ketika bekerja di bank. Saya sering memperhatikan para manajer-manajer dengan grade/level tinggi, karena memang kerjaan saya waktu itu memastikan infrastruktur IT divisi-nya berjalan normal. Kebanyakan mereka memiliki keahlian khusus yang tidak didapat dari perkuliahan, melainkan dari pengalaman dan pelatihan-pelatihan yang diikuti. Misalnya di bagian, kolektor, entah teknik apa yang digunakan, ketika dia memasuki bagian tersebut, kinerja penagihan berjalan dengan baik dibanding sebelumnya.

Ibarat sang macan. Memang mengisi perut itu penting, tetapi dengan cakar dan taring yang kuat dan tajam, dengan mudah makanan diperoleh. Kecuali memang ingin bekerja rutin tanpa tantangan dengan gaji yang mengalir rutin seadanya, pensiun dan menerima tunjangan yang cukup, itu pilihan. Tapi kalau dilihat dari sisi bangsa dan negara, tentu saja khawatirnya akan jadi mangsa macan-macan dari negara-negara lain. Macan-macan bertaring yang dulu gagah pun, satu persatu rontok seperti blackberry, nokia, fuji film, dan lain-lain. Apalagi munculnya fenomena disrupsi, bukan tidak mungkin fenomena ini merambah ke bidang-bidang nyaman lainnya seperti sekolah, kampus, dan sejenisnya. Sudah kan Anda mengasah kuku dan taring Anda hari ini?

Generasi Y dan Z yang Manja

Manusia tidak lepas dari aspek spatial (lokasi) dan temporal (waktu). Selain beda lokasi, maka tidak heran jika beda generasi beda pula karakternya. Sebagai informasi, dikenal lima generasi yaitu: i) baby boomer (lahir sekitar 60-an), ii) generasi X (lahir 1961-1980), iii) generasi Y/milenial (lahir 1981-2000), dan iv) Generasi Z (lahir 2000-2010), dan Alpha (lahir 2010 – sekarang).

Kelima generasi tersebut berbeda dikarenakan situasi dan kondisi yang dihadapi selama hidupnya, salah satunya adalah aspek teknologi, terutama informasi dan komputer (infokom) yang dimotori oleh dunia maya (internet). Postingan ini sedikit memberi gambaran kondisi dua generasi (Y dan Z) berdasarkan pengalaman pribadi.

Karakteristik Mahasiswa Generasi X

Karakter ketika saya kuliah (generasi X) sangat berbeda dengan generasi Y (mahasiswa sekarang). Dulu andalannya telepon dan SMS. Akses informasi hanya lewat buku, radio dan televisi. Waktu itu mahasiswa penyendiri seperti saya sudah pasti terbengkalai karena informasi harus saya peroleh sendiri. Mahasiswa yang supel akan dengan mudah memperoleh informasi penting yang mendukung perkuliahan. Jadilah saya kuliah S1 enam tahun. Tapi puas juga, karena itu hasil murni fikiran saya sendiri. Skripsi saya pun unik di antara mahasiswa-mahasiswa yang lain yang menurut saya jika tulisan mereka di-turnitin atau cek plagiarisme pasti akan mirip dengan mahasiswa lain. Tentu saja waktu itu tidak ada tools seperti itu, juga skripsi masih hardcopy.

Generasi ini di Indonesia kebanyakan hidup di jaman p Harto. Inget slogan “Piye, penak jaman ku tho?”. Ya, zaman ini merupakan zaman yang tenang, nyaman, walaupun hidup seadanya. Hanya ada konflik di sebagian kecil wilayah tanah air (misal Aceh). Jadi rekan-rekan yang seumuran dengan saya pasti banyak kenangan-kenangan manis ketika kecil dan sekolah dulu. Alhasil dalam bekerja dan hidup berkeluarga cenderung seimbang (lihat: link ini). Generasi ini juga cenderung hidup linear, maksudnya sekolah, kuliah, kerja, berkeluarga, dan seterusnya. Kalau ditanya pun cenderung jadi dokter, insinyur, pilot, dan karir lainnya. Repotnya generasi ini cenderung kurang mandiri, hanya beberapa mungkin yang karena didikan orang tuanya yang pengusaha, tertarik dengan ber-wirausaha. Oiya, generasi ini termasuk setia, tetap bekerja asalkan digaji cukup, walaupun tidak sesuai dengan minatnya. Mungkin pembaca pernah mendengar di Jepang rata-rata perusahaan menganut “bekerja seumur hidup”, maksudnya jarang pegawai yang berganti-ganti perusahaan tempat dia bekerja. Namun generasi berikutnya, tidak tertarik konsep tersebut lagi.

Karakteristik Mahasiswa Generasi Y

Generasi Y lahir ketika IT sudah berkembang pesat, terutama internet. Perkembangan tersebut memicu kemudahan dalam memperoleh informasi. Tinggal “google” saja, semua informasi tersedia. Mereka memiliki ide-ide yang inovatif dan pandangannya pun visioner, jauh ke depan. Mungkin hanya jaman generasi X ke bawah saja yang senang dengan istilah reuni, acara-acara mengenang masa lalu, club eightees, golden memory, dan sejenisnya. Mereka suka dikritik. Ingat acara-acara idol yang disertai kritik langsung selepas pentas? Bayangkan jika generasi X yang pentas dan selesai pentas dikritik, pasti mukanya langsung merah kayak kepiting rebus, he he. Selfi bagi mereka hal biasa, jika ada yang mengkritik masalah selfi ini, justru si pengkritik yang dibilang aneh.

Generasi yang Kreatif, Inovatif, tapi Manja

Tidak semua manja itu buruk. Bahkan jika semua orang adalah orang manja, maka tidak ada lagi kata manja. Untuk yang saat ini mengajar mahasiswa generasi Y ini, tidak ada cara lain selain memahami kemanjaan mereka.

Ketika mereka bertanya dan kita menjawab dengan menyuruhnya membaca, sudah pasti mereka kecewa. Walaupun kita beri lusinan ebook gratis, tidak akan memuaskan mereka. Karena mereka sudah pasti dengan mudah memperoleh ebook tersebut. Jawab saja sebisanya, kalau tidak bisa jawab saja tidak bisa, beres. Generasi manja ini sangat jago “berdagang” dan memasarkan diri. Mereka juga mampu memahami rekan-rekan mereka yang sama-sama manja. Ada beberapa postingan saya yang tidak cocok dengan generasi manja ini dan astaga, komentarnya pedas sekali (tidak menjumpai info yg diinginkan, padahal infonya pada postingan berikutnya).

Beberapa waktu yang lalu beredar kalau ujian nasional, dan juga ujian masuk PTN yang katanya sulit. Padahal dari dulu yang begitu menurut saya, cuma generasi ini saja yang mengucapkan kata sulit. Belum tentu yang mengatakan sulit itu nilainya buruk. Jangan-jangan kalau dia yakin benar semua barulah dikatakan mudah.

Beberapa buku sudah saya tulis. Penerbit sepertinya sudah pandai dan menyadari kebanyakan konsumen adalah pelajar-pelajar manja. Ada pakar yang nyinyir terhadap buku-buku yang menurutnya instan dan tidak layak terbit dibanding buku-buku terkenal karangan profesor-profesor luar negeri. Ya, begitulah generasi manja. Sudah syukur mereka baca buku-buku instan yang memanjakan mereka, jika tidak akan kalah oleh informasi-informasi lain yang lebih memanjakan mereka di internet. Buatlah potongan-potongan informasi penting yang menarik perhatian mereka ketimbang timbunan informasi-informasi berharga tetapi tidak menarik bagi mereka. Oiya, mereka sangat setia terhadap sesuatu yang sesuai dengan minatnya dan terkadang tidak memperdulikan besar kecilnya gaji. Jika merasa tidak dihargai, mereka cenderung pindah kerja ke tempat lain yang menghargai mereka. Jadi … hargailah mereka, dan juga pihak-pihak yang berusaha merhargai mereka ya.

Polemik Jurusan Sistem Informasi

Di bidang informasi dan komputer (INFOKOM) dikenal dua jurusan yang biasanya ada bersamaan di kampus-kampus yaitu: Teknologi Informasi dan Sistem Informasi, selain tiga lainnya (ilmu komputer, teknik komputer, dan rekayasa perangkat lunak). Di antara kelima bidang infokom tersebut (terkadang diistilahkan dengan “computing”) yang paling membingungkan adalah sistem informasi (information system). Bukan hanya membingungkan bagi para mahasiswa, bahkan dosen/pengajarnya pun memiliki pendapat-pendapat yang berbeda. Bahkan tanggal 2 Juli 2018 nanti akan diadakan pertemuan para kaprodi SI untuk merumuskan kurikulum SI ke depan dan membedakannya dengan jurusan-jurusan lainnya, terutama tetangga terdekatnya yaitu teknologi informasi.

Banyak referensi-referensi yang mendefinisikan secara rinci apa itu sistem informasi. Salah satunya dari [1] yang secara sederhana merinci komponen sistem informasi harus mencakup komponen-komponen berikut:

  • Perangkat Keras
  • Perangkat Lunak
  • Data
  • Orang
  • Proses

Karena cakupannya tersebut, SI menjadi rancu karena terkadang hanya beberapa bagian saja yang dibahas, padahal akan tumpang tindih dengan dengan jurusan lain, misalnya jika hanya membahas perangkat keras, lunak dan data maka akan berimpitan dengan jurusan teknologi informasi. Mungkin video promosi ini sedikit memperkenalkan apa yang dipelajari di jurusan SI.

Karena konten yang ada aspek sosialnya (manusia), maka SI terkadang membutuhkan ilmu-ilmu sosial dan cenderung “lebih mudah” karena tidak terlalu matematis. Hasilnya beberapa kampus yang membuka dua jurusan SI dan TI banyak yang lebih suka memilih TI ketimbang SI. Mungkin salah satunya adalah gengsi. Hal-hal berikut mungkin perlu dilakukan para praktisi atau dosen yang memilih SI sebagai kompetensi, termasuk saya.

Bangga Terhadap Bidang Sistem Informasi

Riset TI memang menantang, menarik, dan perkembangannya sangat cepat. Sebenarnya karena TI bagian dari SI (hardware, software, dan data) maka perkembangan SI pun otomatis cepat pula. Bahkan dulu Apple menciptakan Ipad terlebih dahulu dibanding Iphone. Setelah Ipad siap diluncurkan, divisi SI melakukan riset dan ternyata banyak yang meminta perangkat kecil. Alhasil divisi TI menswitch ke pembuatan Iphone lebih dahulu, dan ternyata sukses. Bayangkan tanpa ada peran SI waktu itu. Selalu, aspek finansial menjadi fokus. Barang canggih seperti apapun jika tidak ada yang suka dan membelinya, akan di-grounded juga.

Masalah lainnya biasanya karena TI dan SI dalam satu fakultas/divisi yang sama, cenderung kurikulum tidak jauh berubah. Banyak kejadian mahasiswa yang pindah jurusan dari SI ke TI karena merasa bobotnya sama tetapi kesan kuliah TI lebih “OK” dibanding SI. Ada dua kemungkinan, TI yang agak melenceng ke SI atau SI yang tidak bisa menemukan core utama jurusan SI. Namun tentu saja ada pembobotan/proporsi antara teori dan aplikasi di jurusan SI [2], [3]. Perhatikan sistem dan struktur lebih fokus ke sisi aplikasi (terapan).

Cukup Sistem Informasi saja, Jangan Dipecah Lagi

Saya termasuk yang baru masuk ke jurusan SI (karena kuliah di field of study: information management). Karena sifatnya yang general, ternyata muncul jurusan-jurusan baru yang keluar dari SI karena aspek penamaan yang lebih menjual, seperti IT bisnis, bisnis digital, e-learning, dan lain-lain. Sebenarnya sistem informasi geografis (SIG) itu bagian dari SI, termasuk IT bisnis dan sejenisnya. Karena sudah terbentuk ya menurut saya tidak jadi masalah, tapi untuk yang mau membentuk sebaiknya ditahan dulu. Memang presiden Jokowi mengeluarkan ide jurusan kopi, jurusan toko online, dan sejenisnya. Seperti yang diucapkan Prof. Ucok, sebenarnya ilmu dasarnya kan sama saja, tinggal diberi saja mata kuliah atau konsentrasi itu. Termasuk sistem informasi kopi .. kalau mau, he he. Mengapa ini penting, sebab tidak tertutup kemungkinan jurusan SI akan musnah karena masih-masing mencetuskan jurusan-jurusan uniknya.

Yuk .. Gabung ke Sistem Informasi

Memang jurusan SI merupakan jurusan unik yang multidisiplin. Banyak melibatkan ilmu-ilmu lain. Dan saya yakin banyak dosen-dosen yang sebenarnya SI tetapi memilih TI sebagai core riset yang diminatinya. Bagi yang lebih suka ngajar yang berbau analis, manajemen-manajemen, dan risetnya di decision support system (DSS), Structural Equation Modelling (SEM), dan sejenisnya, perlu berifikir lagi apakah terus di TI atau SI. Sekian, semoga bisa jadi referensi.

Referensi

[1]    D. T. Bourgeous, “What Is an Information System?,” Inf. Syst. Bus. Beyond, pp. 5–64, 2014.

[2]    T. D. Susanto, Sebuah Kajian Akademik Berdasarkan Dokumen Computing Curricula 2005 Computing sebagai sebuah Rumpun Ilmu. 2005.

[3]    H. Topi, J. s. Valacich, R. T. Wright, and K. M. Kaiser, “Is 2010,” 2010.

Untuk Rekan-rakan Dosen di JABOTABEK dan sekitarnya

Seperti udara yang kita hirup setiap hari, manfaatnya akan terasa ketika sesak nafas atau polusi di mana-mana. Ketika biasa saja, terkadang tidak dijumpai rasa bersyukur. Begitu pula untuk rekan-rekan dosen yang tinggal dekat pusat ibukota, Jakarta. Cerita ini mungkin bisa menginspirasi.

Dekat dengan RISTEK-DIKTI

Seperti postulat dalam geografi, banyak hal berpengaruh tetapi jarak sangat mempengaruhi, begitu juga dengan para dosen. DIKTI yang merupakan departemen yang mengurusi dosen dan periset menjadi andalan dosen-dosen di seluruh Indonesia. Walaupun ada kopertis di tiap-tiap wilayah, tetapi tetap saja mengurus hal-hal tertentu harus ke DIKTI.

Teringat dulu ketika gagal wawancara beasiswa luar negeri (LN) dan ternyata ada wawancara ulang beberapa bulan kemudian. Repotnya info dikirim dan harus datang ke Jakarta dalam waktu 3 hari. Tadinya saya fikir itu untuk calon karyasiswa (sebutan untuk penerima beasiswa) di sekitar Jabotabek saja. Ternyata ya ampun, seluruh Indonesia dari timur hingga barat. Ketika berkumpul menunggu wawancara banyak yang sibuk mencari tiket balik, padahal belum tentu keterima (beberapa terkendala masalah umur dimana usia max 45 untuk beasiswa LN). Repotnya lagi, info itu harus lihat sendiri di web beasiswa, kalau tidak melihat ya bisa saja tidak ada yang mengingatkan. Untungnya saya yang tinggal di Bekasi langsung meluncur, walau masih nyasar juga sih.

Bagi yang pernah kuliah ke luar negeri, pasti merasakan ketika berangkat harus lewat Jakarta (naik pesawat Garuda). Jadi dari daerah seluruh Indonesia, harus transit dulu ke Jakarta sebelum lanjut ke negara tujuan. Memang sih biasanya jarang ada yang langsung ke luar negeri dari daerah selain Jakarta. Bagi saya, yang memang harus ke Jakarta untuk ke berangkat. Salut juga ketika berangkat berjumpa dengan rekan dari Papua yang harus transit dulu ke Jakarta sebelum lanjut ke luar. Adanya wawancara di luar Jawa sepertinya sangat membantu rekan-rekan dari wilayah lain (terutama timur). Pembekalan pra keberangkatan pun di sana.


Source: http://setkab.go.id/wp-content/uploads/2015/08/Ceramah-LPDP.jpg

Tempat Kedutaan-Kedutaan Besar

Ketika mau berangkat belajar ke luar negeri tentu saja membutuhkan visa khusus, yaitu visa pelajar. Nah, mengurusnya tentu saja ke dubes yang dituju. Letaknya tentu saja di ibukota, jadi mau tidak mau harus ke Jakarta. Repot juga kan yang tinggal di daerah, tetap harus ke Jakarta dan tidak boleh diwakilkan.

Thai Embassy in Jakarta

Selain itu, banyak informasi-informasi lain yang hanya didapat di dekat ibukota, terutama gosip-gosip tertentu, yang walaupun kadang hoax, tetapi tetap saja tahu lebih dahulu jika memang tidak hoax. Sekian dulu, dan besok siap-siap berangkat ke kantor pusat DIKTI untuk mengambil berkas penyetaraan ijazah .. lagi-lagi harus ke Jakarta walaupun proses penyetaraannya sudah online. Tapi jangan khwatir, bisa diwakilkan untuk mengambilnya. Jadi rekan-rekan di kopertis III dan IV (Jabotabek), yuk lebih semangat lagi.

Penyetaraan Ijazah Luar Negeri

Berbeda dengan rekan-rekan yang studi lanjut di dalam negeri, untuk yang kuliah di luar negeri setelah selesai dan ijazah diperoleh, harus melakukan proses terkahir, yaitu penyetaraan ijazah luar negeri. Sejak 1 Maret 2018, untuk melaksanakan penyetaraan ijazah dapat dilakukan secara online di situs resminya: http://ijazahln.ristekdikti.go.id/ijazahln/.

Sesuai dengan namanya, yaitu “penyetaraan”, maka proses tersebut tidak bermaksud mengakui atau tidak mengetahui ijazah yang diterbitkan dari luar negeri, “Penyetaraan Ijazah Luar Negeri Bukan dimaksudkan untuk menentukan diakui atau tidaknya ijazah dan gelar yang diperoleh seseorang dalam menempuh pendidikannya diluar negeri, akan tetapi lebih kepada menentukan gelar yang diperoleh tersebut setara dengan ijazah jenjang pendidikan yang berlaku di Indonesia”.

Mempersiapkan Berkas-Berkas

Berkas yang utama tentu saja scan ijazah dan transkrip. Karena dibatasi beberapa mega saja, perlu diturunkan resolusinya. Ada dua pilihan dalam mengajukan yaitu apakah yang mengajukan seorang dosen atau tidak. Terus terang saya belum mengetahui yang bukan dosen, kalau yang untuk dosen banyak berkas-berkas yang harus disiapkan. Ijin belajar perlu juga dipersiapkan. Tentu saja dosen pasti memilikinya. Surat Keterangan Pendamping Ijaza (SKPI) yang menyertai ijazah. Banyak pertanyaan surat tersebut di grup studi lanjut yang saya ikuti. Untungnya di kampus tempat saya kuliah menyediakan surat keterangan mengenai ijazah yang saya peroleh, misalnya mengatakan bahwa bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris dan lain-lain. Jadi sebelum balik, ada baiknya meminta surat itu, yang kebanyakan tidak diberikan jika tidak meminta (opsional). Repot kan kalau sudah balik tetapi lupa menyiapkan surat tersebut. Nah, berkas menjengkelkan lain yang perlu disiapkan adalah syllabus perkuliahan yang biasanya diperoleh oleh mahasiswa baru dalam bentuk buku panduan akademik. So, jangan sampai lupa. Harus discan terpisah karena situs penyetaraan ijazah meminta tiga berkas yaitu: silabus, jurusan, dan gelar akademik.

Tahapan Proses

Langkah pertama adalah registrasi lewat email. Setelah itu pendaftaran dapat dilakukan, dilanjutkan dengan upload berkas-berkas hingga statusnya menjadi draft. Ada sedikit kendala ketika upload yang kerap gagal. Mungkin harus diverifikasi dahulu sebelum boleh upload. Hasil verifikasi dapat diketahui lewat email, jadi jangan segan-segan lihat email karena setiap tahapan akan dikabari via email. Setelah uplad berhasil, maka status menjadi diajukan. Selang beberapa hari, proses akan berubah menjadi diterima yang artinya ijazah luar negeri kita sudah disetarakan.

Pengambilan Berkas

Sayangnya berkas harus diambil langsung (atau dengan surat kuasa) ke gedung DIKTI di Jakarta. Repot kan jika tinggal di Papua atau yang bekerja di luar negeri. Kalau ada fasilitas kirim online mungkin sip deh. Oiya, diterima belum bisa diambil karena menunggu peroses pencetakan dan pengesahan. Diambil di jam kerja senin – jumat. Parkir di gedung sebelahnya ya kalau ga kebagian karena selalu penuh. Status juga dapat dilihat dari link berikut, tanpa login terlebih dahulu (bahaya juga ya).

Menulis Artikel Ilmiah atau Menulis Buku?

Kalau kita perhatikan dunia pendidikan tinggi di lingkungan kampus kita masing-masing, akan tampak dosen yang pakar dengan bidang tertentu seperti mengelola jaringan, membuat web, atau aplikasi lainnya. Tetapi mereka minim sekali mempublikasikan artikel ilmiah (yang bukan buku). Mengapa bisa terjadi? Postingan ringan kali ini hanya analisa singkat mengenai fenomena ini.

Buku & Kepakaran

Dari taman kanak-kanak kita sudah mengenal buku. Dari yang berisi informasi hingga panduan mengerjakan sesuatu. Buku biasanya berisi ilmu-ilmu yang sudah established atau sudah fix, hampir tidak ada perdebatan besar mengenai kontennya. Pengarang dalam menulis buku mengandalkan kepakaran dan pengalamannya. Namun tentu saja tanpa sesuatu hal baru, penulis buku tidak bisa menulis suatu artikel ilmiah di jurnal atau seminar-seminar. Coba saja menulis artikel yang isinya pembahasan materi dari buku, sudah dipastikan akan ditolak oleh pengelola jurnal. Kecuali kalau memang jurnal itu kekurangan tulisan, tentu saja dengan modifikasi di sana sini.

Jurnal ilmiah

Jika buku biasanya ilmu-ilmu yang sudah baku berasal dari puluhan tahun lalu, jurnal berisi temuan-temuan baru kurang dari sepuluhan tahun. Bahkan artikel yang baru terbitpun sesungguhnya diteliti sekitar satu hingga tiga tahun, tergantung berapa lama proses revisinya. Bahkan ada naskah yang proses revisi hingga sembilan tahun.

Aktif Menulis Buku & Artikel Ilmiah

Jadi apakah penulis buku yang kebanyakan pakar berpengalaman tidak bisa menulis artikel ilmiah di jurnal dan sebaliknya penulis aktif di jurnal kesulitan menulis buku? Menurut saya baik menulis buku maupun jurnal bisa oleh penulis yang sama. Sedikit penjelasannya adalah berikut ini.

Ambilah contoh seorang pakar menggali sumur pantek di perumahan. Dia memiliki segudang pengalaman dalam membuat sumur itu. Tentu saja dia bisa membuat buku mengenai tatacara menggali dan menemukan lokasi sumurnya. Tetapi untuk menghasilkan suatu artikel ilmiah dia harus menemukan hal-hal baru ketika melakukan aktivitas menggalinya. Ditambah dia harus aktif mengikuti perkembangan terbaru masalah gali menggali. Jika dia hanya fokus ke menggali sumur, beres, menerima bayaran, dia tidak akan bisa menemukan hal-hal baru dan menulisnya dalam suatu artikel ilmiah. Begitu juga dengan seorang dosen, misalnya mengajar jaringan komputer. Jika dia hanya berfokus mengajar “crimping”, setting IP, dan sejenisnya saja, atau sekedar menjalankan tugas me-maintain jaringan di institusinya, tentu saja tidak bisa dihasilkan suatu artikel ilmiah tanpa hal-hal baru dan mengikut perkembangan jaringan komputer terkini lewat jurnal-jurnal.

Terus terang ketika studi, saya mendapati rekan-rekan yang jago di mata kuliah tertentu, tetapi ketika riset mengalami kesulitan dan terhambat lulusnya, apalagi doktoral mengharuskan adanya publikasi di jurnal internasional. Sebenarnya perlu adanya sikap ingin tahu yang lebih, disertai ketidakpuasan mengenai metode-metode yang saat ini ada, agar diperoleh “gap” antara ilmu terkini dengan masalah yang dijumpai. Research Question yang ditemukan merupakan obor yang memicu seorang untuk meneliti. Oiya, untuk yang sedang riset disertasi, jangan harap bisa menemukan jawaban langsung dari internet, buku, atau bahkan bertanya ke supervisor karena memang masalah tersebut belum terselesaikan dengan tuntas, bahkan belum ada jawabannya. Selamat menemukan hal-hal baru.

Empat Tahunan Studi Doktoral

“I confer upon you a degree of doctor of philosophy”. Ketika rektor mengucapkan kalimat tersebut, selesailah sudah kuliah saya di kampus tua itu. Kampus yang dibentuk ketika perang dingin USA dan Rusia berlangsung di tahun 1959. Selama lima tahun kurang 3 bulan saya lalui di kampus yang terkenal sulit dan lama lulusnya, terutama di jurusan keras Computer Science and Information Management (CSIM).

Kisruh Saat Kedatangan

Awal perkuliahan di awal Agustus menyulitkan proses administrasi dengan pemberi beasiswa (DIKTI) yang mewajibkan penerima beasiswa (karyasiswa) menghadiri pembekalan pra keberangkatan di bulan September. Sepertinya DIKTI menyamakan dengan kampus dalam negeri yang perkuliahan dimulai pada bulan September. Terpaksa harus balik lagi ke Indonesia untuk mengikuti acara tersebut.

Masalah lain yang rumit adalah pembayaran biaya kuliah. Masalah ini muncul karena seperti biasa, DIKTI agak telah beberapa bulan dalam pencairan. Walaupun Guarantee Letter (GL) DIKTI sangat ampuh, repotnya ketika berangkat GL belum jadi. Setelah bolak-balik ke bagian pendaftaran (registry), akhirnya masalah daftar ulang beres.

Course Work Problem

Setelah masalah daftar ulang beres, ternyata muncul masalah baru yaitu nilai MID perkuliahan (course work). Beda dengan Jepang yang menganut S3 dengan riset (by research), AIT menganut course work + research. Jadi perkuliahan diwajibkan sebelum riset. Repotnya karena harus balik lagi ke tanah air, nilai mid semester berantakan, dan efeknya merembet ke nilai akhir. Padahal syarat boleh riset, IPK (GPA) minimal 3.50.

Problem Kandidasi

Kandidasi adalah sidang yang harus diikuti oleh mahasiswa doktoral yang ingin melanjutkan ke tahap berikutnya setelah tahap course work yaitu, tahapan riset. Program doktoral di AIT adalah “the highest degree in AIT that shows academic and research achievement”, seperti dikatakan oleh wakil rektor ketika acara wisuda. Maka mahasiswa doktoral dituntut bagus dalam perkuliahan (akademik) dan riset.

Problem Syarat Publikasi

Walaupun tergolong pintar, beberapa mahasiswa doktoral di kampus sulit menembus jurnal internasional. Selain waktu yang tidak jelas, kriteria lolos atau tidaknya sangat ketat dan subyektif. Dosen pembimbing hanya bisa mengarahkan saja dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika siswa bimbingannya ditolak terus oleh pengelola jurnal. Akibatnya banyak yang pulang dulu beberapa tahun menunggu naskah yang akan dipublikasi diterima salah satu editor jurnal.

Jika sudah, maka syarat terakhir adalah pengecekan disertasi oleh profesor external sebelum sidang terbuka. Syarat ini tidak begitu rumit karena waktu pembuatan yang bisa diprediksi oleh mahasiswa. Berbeda dengan jurnal yang lama prosesnya tidak jelas, dari beberapa bulan hingga kalau sial bisa beberapa tahun.

Dan yang dinanti-nanti oleh pelajar, yaitu wisuda, akhirnya bisa dilalui jika publikasi selesai. Toga ber-strip tiga pun berhak dipakai. Akhirnya tinggalah kenangan dari seorang alumni. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Seminar Nasional “SINERGI” Univ. Islam 45 Bekasi

Kampus homebase saya sudah mengadakan seminar nasional tiga kali tetapi baru kali ini (yang ketiga) saya mengikutinya. Kebetulan memang masih di Thailand, berkutat dengan riset. Memang agak sulit melaksanakan seminar nasional saat ini karena tuntutan “terindeks Scopus” yang harus berupa seminar internasional. Namun prinsip “yang penting jalan, ada peserta atau tidak, ga masalah” memaksa dilaksanakannya agenda tahunan fakultas teknik tersebut.

Yang menarik dari seminar nasional adalah mudah dipahami (karena bahasa Indonesia) dan interaksi antara pembicara dan peserta sangat erat. Karena giliran teknik komputer yang diminta mencari nara sumber, langsung saja meminta dedengkot asosiasi informatika dan komputer (APTIKOM), Prof. Zainal A. Hasibuan untuk menjadi keynote speaker.

Prof Zainal yang dikenal dengan nama Prof Ucok mengetengahkan tema “sains dan teknologi berbasis renewable dan sumber daya sustainable: Peluang dan tantangan”. Sedikit dijelaskan revolusi industri 1 sampai 4.0, serta karakteristik teknologi saat ini yang bersifat “disruptive”. Seperti biasa, ketika saya mengetahui satu hal, ketika ikut seminar pasti saja ada hal baru yang tidak saya ketahui sebelumnya. Itulah manfaatnya seminar, bertukar fikiran dan ide-ide. Berikut hal-hal unik:

Tiap Thesis pasti ada Anti-Thesis

Prinsip ini pasti ada. Ketika ojek pangkalan terdisrupsi, muncul gojek yang kemungkinan besar diisi oleh para ojek-ojek pangkalan. Ketika pemerintah menggalakkan publikasi ilmiah yang terindeks Scopus pun ada saja yang tidak menyetujuinya dengan alasan tertentu. Pembicara menganjurkan silahkan anti Scopus tetapi harus menciptakan temuan yang terbukti dan diakui dunia internasional.

Big Data

Disinggung juga kasus Facebook yang ternyata memang diakui bahwa digunakan untuk menggiring opini untuk pemenangan calon tertentu (presiden/walikota/dll). Ada anekdot yang diutarakan. Dulu jaman orde baru, lebih canggih dari saat ini karena 3 bulan sebelum pemilu sudah tahu siapa presidennya (tentu saja selalu Suharto). Namun saat ini dibantah, karena setahun sebelum pemilu sudah dapat ditebak siapa presiden terpilihnya, dengan menganalisa big data yang berserakan di dunia maya.

Revolusi Industri 1,2,3 dan 4.0 ada di Indonesia

Walaupun saat ini sudah masuk revolusi industri 4.0 tetapi revolusi industri sebelumnya masih ada di negara kita. Saran beliau adalah ketika menerapkan teknologi, fokuslah ke kearifan lokal, termasuk kekayaan khas masing-masing wilayah. Misalnya memudahkan distribusi pada usaha kecil dan menengah. Dengan bantuan aplikasi online, diharapkan dapat memangkas biaya-biaya yang tidak diperlukan.

Jangan Panik dengan Penamaan Jurusan

Hebohnya ketika presiden RI menganjurkan pendirian jurusan kopi atau bisnis online, sebaiknya jangan disikapi terlalu serius. Sebenarnya bidang-bidang tersebut ada semua jurusannya di Indonesia. Pengalaman beliau ketika main ke Jepang, jurusan-jurusan spesifik yang saat ini sedang “in” di tanah air dapat disisipkan pada jurusan-jurusan yang telah ada. Mengapa? Karena ilmu-ilmu dasarnya tidak jauh berbeda dengan yang dikembangkan dari dulu hingga saat ini.

Kelemahan Bangsa

Prof Ucok menyampaikan data-data yang mengkhawatirkan, yaitu daya saing bangsa kita di bawah Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam. Waduh .. Ternyata bangsa kita yang suka fokus ke wacana, debat sana sini, dan melupakan bekerja sama, salah satu khas bangsa kita yang terlupakan yaitu “Gotong Royong”.

Mungkin itu saja yang bisa di-share, pembicara berikutnya di luar bidang saya yaitu Material Teknik dan Konstruksi. Namun tetap saja pelajaran berharga dapat dipetik dari kedua pembicara (Dr. I Nyoman dan Hotma Prawoto). Pembicara terakhir yang menurut saya adalah seorang motivator banyak memberi insight dalam mengajar. Sedikit banyak pengalamannya mirip dengan saya yaitu sebelum mengajar menjadi praktisi dulu (bekerja di suatu perusahaan). Dosen-dosen yang langsung mengajar setelah lulus selayaknya bertanya kepada praktisi karena insinyur berbeda dengan saintis, atau bahkan sarjana teknik, banyak aspek-aspek yang tidak pasti ketika bekerja di lapangan. Habibie pun mengatakan “pengalaman tidak bisa dipelajari, tetapi dilalui”. Sekian, semoga bermanfaat.

Cara Berfikir Problem Solving, Ternyata tak Cukup

Waktu itu saya datang ke tukang servis tablet karena tidak bisa charging. Setelah hampir satu jam diutak-atik akhirnya selesai juga masalahnya. Tablet yang selama ini nganggur tidak terpakai (padahal tipe note yang ada pena stylus nya) akhirnya bisa digunakan lagi (buat main game oleh anak saya).

Menyelesaikan suatu problem terkadang mengasyikan, mirip dengan main video game. Namun apakah “menyelesaikan problem” merupakan teknik terbaik dalam manajemen? Ternyata beberapa literatur menyatakan tidak. Untuk menjawabnya perlu mengenal kuadran yang menggambarkan antara urgent dengan important.

Kuadran I: Penting dan Mendesak

Kuadran ini perlu ditangani sesegera mungkin, jika tidak maka akan mengalami beberapa masalah. Tentu saja perlu kebijaksanaan dalam menentukan apakah suatu hal itu penting dan mendesak. Jika tidak, maka masuk ke kuadran II. Di kuadran I ini “problem solving” bermain.

Kuadran II: Penting dan Tidak Mendesak

Jika di kuadran I, keahlian dalam menyelesaikan problem sangat dituntut, pada kuadran II ini yang dituntut adalah kemampuan seseorang menganalisa suatu hal penting sedari awal, sebelum hal penting tersebut menjadi urgent. Beberapa ahli manajemen (lihat 7 habit effective people post2 yg lalu) menganjurkan fokus ke kuadran II ini.

Dicontohkan seorang manajer penjualan yang cenderung fokus ke masalah urgent dan penting terus. Sehingga lupa melihat aspek-aspek lain sebelum terjadi kondisi urgent. Beberapa perusahaan besar hancur karena fokus ke persaingan dengan kompetitor (penting dan mendesak), padahal musuh besarnya adalah bisnis baru dengan model baru (online application). Beberapa perusahaan ada yang berhasil karena sudah mengantisipasinya sebelum berubah menjadi urgent, misalnya TELKOM di negara kita.

Seorang mahasiswa yang bertipe kuadran II tidak akan fokus hanya ke ujian, atau tugas akhir saja. Sebelum ujian atau bimbingan, mereka terkadang melihat aspek-aspek penting yang tidak urgen seperti berkomunikasi dengan dosen pembimbing, menyiapkan paper-paper rujukan, mencari literatur-literatur terkini dan hal-hal lainnya sebelum waktunya.

Kuadran III: Tidak Penting & Tidak Mendesak

Dalam keseharian kita kerap menjumpai kuadran ini. Perlu diingat prinsip pareto, 80% hasil berasal dari 20% kerja. Jadi kerja/proses yang sebesar 80% (dari 20%) lainnya adalah hal yang sia-sia yang biasanya di kuadran ini.

Kuadran IV: Tidak Penting tapi Mendesak

Pada kuadran ini sebagian hal mendesak tidak penting bagi kita. Tetapi mungkin penting bagi orang lain. Sebaiknya kita bisa berkata “NO” agar kita bisa berfokus ke kuadran I kita.

Kembali ke judul di atas, sebaiknya kita tidak terlalu fokus ke problem solving, walaupun kesannya OK ternyata ada hal lain yang lebih penting, yaitu menjaga agar tidak terjadi problem. Di sinilah pentingnya sifat Proaktif. Tentu saja perlu kemampuan menyeleksi dan mengkategorikan hal-hal yang kita jumpai, pentingkah, urgen-kah, dan sejenisnya. Juga perlu disiplin karena terkadang hal-hal yang penting karena tidak urgen tidak kita jalankan karena sifat “besok aja”, “nanti juga bisa”, dll. Teringat saya eks BOS saya dulu mengatakan “Do Something!!” ketika menjaga 40 cabang bank di wilayah utara Jakarta agar selalu online dan transaksi berjalan dengan baik. Sekian, semoga bermanfaat.

Makan2 setelah selesai instal server wilayah Jabotabek dulu

Blank Password Problem di Mac OS

Maklum namanya baru menggunakan macbook, masih adaptasi. Setelah membuat dual OS di Macbook (dengan Windows), iseng-iseng mencoba setting password “blank” di Mac OS, malah bingung sendiri. Maksud “blank” di sini adalah dibuat tanpa password. Lumayan jadi buka tutup laptop tanpa password. Tetapi setelah di restart, bingung sendiri ketika mau login di-enter tidak bisa (padahal tanpa setting password).

Ditekan enter tidak bisa, tekan bola dan nama “Herlawati” tidak bisa juga. Ternyata iseng-iseng tekan alt+enter muncul isian baru dimana user name tidak muncul dan harus mengetik ulang.

Lanjutkan dengan menekan panah kiri di samping “Enter password”. Pastikan muncul logo dan nama saja.

Tinggal ditekan gambar bola-nya, akhirnya berhasil login. Repot juga. Langsung saya isi password saja lah, karena lebih repot kalau tanpa password. Lagi pula untuk instalasi baru, misalnya Microsoft Office, untuk install diperlukan password. Oiya, HINT itu ternyata alat bantu untuk mengingat password, misalnya “tanggal lahir”, “nama suami”, dll jika paswordnya itu (muncul ketika salah tiga kali). Tentu saja jangan sampai bisa ketebak orang lain yang tidak berhak. Demikian sharing sederhana saya.

Tujuh Kebiasaan Orang Efektif – Visualisasi

Lanjutan dari post yang lalu. Salah satu kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya adalah visualisasi selain dari kesadaran diri. Einstein sendiri menyebutkan “Imagination Is More Important Than Knowledge”. Sebenarnya apa itu visualisasi? Dan bagaimana bisa mempengaruhi prestasi/kinerja seseorang?

einstein-imagination

Komponen Visualisasi

Visualisasi secara fisik terletak di bagian kanan otak. Selain visualisasi, komponen lainnya adalah imajinasi, afirmasi, kemampuan bahasa dan relaksasi, serta dialog terhadap diri sendiri. Banyak pakar yang sudah meneliti, salah satunya disebutkan dalam buku karangan Covey, yaitu Dr. Charles Garfield, yang meneliti performa para astronot di NASA. Dia melihat bagaimana para astronot latihan/gladi resik terus menerus sebelum ke ruang akngkasa. Sehingga pengalaman latihan itu masuk ke bawah sadar seolah-olah telah melaksanakan sesungguhnya. Begitu juga atlit-atlit ternama pun melakukan visualisasi sebelum tanding sesungguhnya, dan hasilnya kebanyakan memenangi pertandingan tersebut.

Jadi jika ingin sukses melakukan suatu kegiatan tertentu, maka dengan memvisualisasikan secara real di fikiran akan menciptakan “internal comfort zone” yang membuat diri seolan-olah telah terbiasa dan telah mencapai target/tujuannya. Akibatnya ketika menghadapi situasi sesungguhnya, tubuh dan fikiran sudah terbiasa. Bahkan beberapa literatur, seperti “the secret“, menganjurkan cara ini agar alam semesta membantu mencapai tujuan yang divisualisasikan dengan jelas. Kalau diistilahkan oleh Prof. Yohanes Surya, “mestakung: semesta mendukung“.

Kesadaran dan Imaginasi

Kesadaran sering dijumpai dalam literatur-literatur keagamaan, misalnya dalam agama Budha pada meditasi. Agama lain pun sama, misalnya retreat-retreat tertentu. Di sini perang hati bahkan lebih penting dari fikiran, dan memunculkan aspek-aspek lainnya seperti empati, khusyuk/fokus, sepenuh hati/ikhlas, dan bentuk-bentuk lainnya.

Namun bisa saja visualisasi digunakan untuk mencapai hal-hal yang negatif di segala bidang. Kita sebaiknya memvisualisasikan kondisi negara yang baik dan dengan demikian visualisasi para elit-elit yang negatif dapat kita kalahkan karena toh, jumlah orang baik di republik ini saya yakin jauh lebih banyak, tinggal visualisasi positif saja yang kita butuhkan. Abaikan berita hoax dan sejenisnya.

Beberapa rekan yang selalu memikirkan studi lanjut ke LN, misalnya Jepang, Eropa, Aussie, dll, kebanyakan akhirnya berangkat dan lulus juga. Oiya, ketika memvisualisasikan, pastikan tidak ada keraguan dalam hati, karena jika tidak, keraguan itulah yang terealisir. Selamat mencoba.

Ambil Kuliah Doktoral, Sulitkah?

Dulu di awal 2000-an, ketika bekerja di IT suatu bank, saya iseng mengajar honorer di satu kampus dekat tempat kerja. Ketika itu yang bergelar master masih jarang. Kalau ada, kesannya wah. Waktu itu masih didominasi MM dan MMSI untuk yang dari komputer. MM di sini magister management yang khusus untuk manajemen IT. Sementara itu, MT sepertinya sudah mulai banyak bermunculan, termasuk MIT yang diterbitkan oleh jurusan teknik elektro.

Aturan Magister untuk Dosen

Tidak perlu waktu lama untuk S2 bermunculan di sana-sini. Bahkan terkesan mudah sekali untuk mendapatkan gelar magister. Hal ini sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan dosen yang harus bergelar master (S2). Banyak institusi pendidikan membuka program pasca sarjana magister. Beberapa rekan “dipaksa” untuk kuliah lagi, bahkan ada yang “hilang” nomor induk dosennya (NIDN) karena masih bergelar sarjana (S1).

Setelah mengambil S2, dulu sempat berfikir jangan-jangan kasusnya sama untuk yang S3. Dosen harus bergelar Doktor. Dan nanti banyak dibuka program S3 yang lulusnya mudah. Namun ternyata tidak berlaku untuk doktoral. Untunglah segera berangkat kuliah lagi tak perduli sulit atau tidaknya ikut program doktor.

Pemilihan Jurusan

Ketika mengurus surat ijin kuliah ke kopertis 4 (sebentar lagi akan diganti namanya), baru sampai meja pertama langsung ditanya ijazah magister-nya. Ternyata harus sama. Jika tidak sama (atau serumpun) tidak akan diijinkan. Kebetulan waktu itu sama, S2 Ilmu Komputer dengan kampus tujuan Computer Science. Ternyata ada faedahnya juga. Hati-hati, jangan asal ambil doktor. Dosen saya dulu pernah curhat, ketika sudah jenuh di kampusnya sekarang, ingin mendaftar ke kampus lain yang lebih baik (menurutnya) ternyata ditolak karena gelak doktornya tidak sama dengan homebase kampus tujuan. Kejadian itu mirip dengan yang terjadi di kampus ketika akreditasi. Satu dosen bergelar doktor tidak terhitung menaikan nilai akreditasi karena jurusannya beda (harusnya komputer tetapi ambil teknologi pertanian).

Sulitkah?

Dosen saya pernah “nyindir”, katanya mahasiswa doctoral jaman dulu menciptakan Bahasa pemrograman baru. Wah, repot juga kalo diterapkan standar seperti itu. Walaupun dipermudah, ternyata tetap sulit karena berbeda antara S2 dan S3. S3 harus benar-benar memoles dengan hal-hal yang baru. Repotnya lagi hal-hal baru terus bermunculan, sehingga satu temuan segera menjadi usang. Itu mungkin yang membuat S3 tak kunjung lebih mudah dari sebelumnya.

Perang Doktor?

Beberapa kampus di tanah air sudah tidak menulis lagi gelar. Mirip dengan luar negeri, karena memang sudah kebanyakan doktor. Setidaknya hanya memanggil Dr. X. Mungkin jika masih sedikit, banyak yang manggil pak doktor, tetapi kalau semuanya doktor tentu saja agak rancu. Semuanya bakal nengok. Kalau panggilan prof, mungkin masih bisa karena memang masih sedikit.

Nah, jika sudah banyak yang doktor, apa yang terjadi. Tentu saja akan ada persaingan. Tentu saja bersaing dalam hal riset (kuantitas dan kualitas). Doktor yang tidak sama homebase dengan jurusan kedoktorannya, tadi sudah dijelaskan akan kalah duluan. Jadi sebelum bertarung di riset, ada baiknya para calon mahasiswa doktoral perlu memilih jurusan yang tepat. Salah pilih, rugi dua kali, energi yang dikeluarkan untuk kuliah tetapi hasilnya tidak begitu sebanding. Beberapa program “Doctoral Bootcamp” sepertinya bagus untuk langkah awal agar tidak salah pilih. Tentu saja cukup satu atau dua kali. Kalau berkali-kali ikut tapi tidak berangkat-berangkat, pasti ada yang tidak beres (studi literatur, toefl/ielts, dan hal-hal lainnya).

Mungkin itu saja dasar-dasarnya. Untuk yang lebih “advance” silahkan baca kasus-kasus yang terjadi, misalnya pada kasus di situs ini. Di situ dibahas keluh kesah mahasiswa doktoral yang salah pilih hingga salah asuhan. Sekian semoga sedikit banyak bermanfaat.