Sustainable Development – Part 2

Dalam bahasa Indonesia, sustainable development (SD) diartikan sebagai pembangunan berkelanjutan (post ini sebagai kelanjutan dari postingan terdahulu). Sesuai dengan namanya, yaitu pembangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan generasi sekarang, melainkan juga generasi yang akan datang, istilah resmi yang dirumuskan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) pada tahun 1987: “Development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”.

Banyak definisi-definisi lainnya antara lain oleh Turner (1988): ” In principle, such an optimal (sustainable growth) policy would seek to maintain an “acceptable” rate of growth in per-capita real incomes without depleting the national capital asset stock or the natural environmental asset stock”. Istilah yang cenderung ke arah ekonomi dan lebih menjelaskan istilah “needs” pada rumusan WCED. Sementara itu Conway (1987) menjelaskan sustainable development: “The net productivity of biomass (positive mass balance per unit area per unit time) maintained over decades to centuries”. Istilah ini cenderung ke arah carryng capacity, ukuran kecukupan kebutuhan berdasarkan jumlah populasi dengan suplai/produksi untuk kebutuhan populasi tersebut. Terakhir disertakan pada postingan ini yaitu istilah dari Sen (1999): “A sustainable society is one in wich peoples’ ability to do what they have good resason to value is continually enhanced” yang lebih mengarah ke aktualisasi sosial. Namun semua memiliki kesamaan yaitu melihat aspek keberlanjutan pada masa yang akan datang. Istilah-istilah di atas diambil dari buku “An introduction to sustainable development” karangan (Elliott, 2013).

Mengapa SD penting? Biasanya sesuatu yang penting itu jika diabaikan akan menimbulkan malapetaka. Begitu juga dengan SD, jika tidak diperhatikan, generasi yang akan datang akan menanggung akibatnya. Ada baiknya menilik sejarah. Rostow pada tahun 1960 memperkenalkan konsep perkembangan suatu negara yang dimulai dari tradisional, berlanjut ke agraris dan industri berbasis agraris, manufaktur, industri skala besar, dan terakhir berbasis layanan-layanan yang bersifat mendukung kemakmuran. Tentu saja idenya berasal dari perkembangan negara-negara eropa yang ternyata ketika beralih dari agraris ke industri cenderung merusak lingkungan.

Untuk itulah pada tahun 70-an sudah ada diskusi-diskusi yang membahas SD guna menanggulangi dampak lingkungan dari industrialisasi. Biasanya jika suatu negara mengabaikan aspek lingkungan, negara-negara lain akan mengucilkan negara tersebut. Tetapi perkembangan berikutnya ternyata bukan hanya satu negara yang merusak lingkungan, melainkan gabungan beberapa negara (nuklir, efek rumah kaca, dll). Akhirnya mau tidak mau perlu diadakan pertemuan khusus pada tahun 1987 oleh WCED dengan tema “Our common Future” yang dilenjutkan pada tahun 1992 di Rio, Brazil (Eart summit) dengan hasil berupa dokumen dengan nama Agenda 21.

Repotnya istilah SD sendiri berkembang mengikuti perkembangan jaman. Bahkan kebutuhan generasi yang akan datang pun tidak bisa kita paksakan sesuai dengan generasi saat ini. Krisis ekonomi 98 dan 2008 sendiri membuktikan kegagalan neo-liberal, dimana kebebasan berusaha bisa berbahaya jika negara tidak ikut campur. Beberapa perusahaan diambil alih negara, bahkan oleh negara pencetus liberal itu sendiri, Amerika Serikat. Bagaimana dengan Indonesia? Hmm sepertinya sebagai orang IT, sulit juga saya menjawab. Tetapi mengingat krisis-krisis kemarin, alangkah baiknya negara mulai memperhatikan bisnis dan perdagangan, jangan dibiarkan bebas (liberal), berbahaya. Pengusaha kalau rugi, paling kabur, nah kalau negara gimana? Kabur juga? Kabar terakhir beberapa BUMN, seperti Garuda Indonesia, Krakatau Steel, mengalami kerugian (tidak ada untung), dan tugas Ibu Sri Mulyani tambah berat sepertinya. Apalagi saham Freeport 51% akan segera dikuasai yang tentu saja harus untung (masak baru diambil alih dilepas lagi).

Kalo gitu kita ganti bacaan aja, pusing soalnya membahas bidang sosial. Baca buku-buku kuno optimasi dan fuzzy dulu ah, mumpung masih berstatus mahasiswa dan banyak buku-buku offline. Baca buku online (ebook), lama-lama mata perih.

Ref:

Elliott, J. A. (2013). An Introduction to Sustainable Development (4th ed.). London: Routledge.

 

Menukar dan Mengganti Key Pada Keyboard

Apa-apaan ini? Mungkin pembaca bertanya maksud dari postingan ini. Atau jangan-jangan bermaksud mau iseng aja, alias ngerjain laptop orang. Seperti biasa, kalau tidak butuh/perlu mungkin kita tidak membutuhkan fasilitas tukar menukar ini, tetapi saya ada sedikit masalah pada keyboard saya. Perhatikan gambar berikut ini.

Konyol juga saya, tiap kali mau mengetik huruf besar (menekan Shift kanan) ternyata malah menekan “PgUp” yang kursornya langsung pindah ke atas. Hal ini karena rumah jari kelingking kanan adalah di “;” (kalo sepuluh jari lho ngetiknya). Mungkin pihak “Lenovo” harus segera menyelesaikan masalah sepele ini, atau memang konsumennya harus “Lengovwo” ? Kasus lain, banyak juga rekan-rekan yang salah menekan tab dengan “Capslk”, tetapi saya sih untungnya tidak mengalami masalah ini.

Setelah searching di google, saya menemukan situs ini yang menyarankan mengunduh aplikasi bernama SharpKeys (semoga bukan virus). Jika tertarik silahkan unduh dan instal di laptop kita.

Mudah, tinggal tekan “Next>” saja hingga selesai. Ternyata bisa diinstal juga di windows 10. Karena mengutak-atik Registry, beberapa kali Windows meminta konfirmasi.

Setelah itu kita coba gunakan dan bagaimana efeknya. Pertama-tama anda diminta menambahkan key mana saja yang mau dikonversikan. Untungnya ada fasilitas “menekan tombol” karena sulit mencari nama resmi tombol di keyboard.

Jika sudah kita coba jalankan dengan cara menekan “Write to registry”. Pastikan ada informasi bahwa registry telah terupdate. Berikutnya kita diminta merestart laptop karena memang ketika saya coba belum berubah.

Ok, kalau begitu saya restart dulu laptop ini. <Setelah restart> Misal saya menulis: “Rumah Adat Dayak” .. dan ternyata OK, tidak salah ketik (“R”, “A”, dan “D”), karena saya tinggal menekan “PgUp+R” berarti sama dengan “Shift+R” yang dulu. Oiya, jangan lupa, kalau mau menekan panah “PgUp” harus diganti dengan “Shift”. Selamat mencoba semoga bermanfaat .. dan jangan buat iseng-isengan ya.

Melihat Rangking Jumlah Publikasi Jurnal Internasional Peneliti Indonesia

Akhir-akhir ini ada broadcast di grup whatsup bahwa peringkat publikasi Indonesia naik dan mengalahkan Thailand maupun Viet Nam. Iseng-iseng lihat di link berikut ini ternyata masih di bawah Thailand, meskipun di atas Viet Nam. Mungkin maksudnya jumlah jurnal Indonesia yang terindeks scopus barangkali.

Selisihnya pun cukup jauh yaitu hampir 1/3 thailand dan ¼ Malaysia. Namun dengan jumlah peneliti yang jauh lebih banyak dari negara-negara kecil di Asia Tenggara harusnya negara kita bisa mengungguli mereka. Terbukti China yang menyalip Jepang karena banyaknya jumlah peneliti, walaupun h-index (jumlah pensitasi) masih kalah dari Jepang (sekitar ¾ -nya). Sepertinya data itu kurang akurat mengingat beberapa peneliti dari Indonesia memakai afiliasi di luar Indonesia, terutama yang riset atau kuliah di kampus luar.

Bagaimana melihat rangking institusi di Indonesia? Caranya mudah, yaitu dengan Scopus (www.scopus.com) tetapi harus berlangganan scopus terlebih dahulu (link berikut).

Peringkat pertama masih ITB dan disusul dengan UI, UGM, IPB, ITS dan kampus-kampus negeri ternama tanah air lainnya. Bagaimana dengan Jakarta, Bandung, dan wilayah tertentu? Mudah, tinggal klik saja “City” dilanjutkan dengan “Limit to”.

Untuk pengindeks Ristek-dikti, Sinta Score, sepertinya UGM dan IPB masih mengungguli dari ITB dan UI. Sinta masih terus berbenah dan diharapkan menjadi standard untuk kinerja peneliti di Indonesia. Juga memacu jumlah publikasi internasional. Yuk yang belum daftar, segera registrasi (lihat caranya).

Break dan Relaks Sejenak

Entah mengapa saya memiliki hal yang tidak lazim yaitu bekerja di hari sabtu dan minggu, atau hari libur lainnya. Tentu saja hal ini sedikit mengganggu karena ketika orang kerja saya santai tetapi ketika orang santai saya bekerja. Sebenarnya saya tidak ingin melakukan aktivitas pekerjaan di hari libur, tetapi karena seringnya ‘berhasil’ dibanding gagal, secara tidak sengaja saya memprioritaskan waktu tersebut. Sejak lama sering saya lakukan tidak sadar hingga baru-baru ini “ngeh” ketika jarang keluyuran di hari libur dan juga sering menolak ajakan teman-teman kuliah untuk jalan-jalan.

Faktor Golongan darah?

Di facebook ada yang share karakter orang berdasarkan golongan darah, misalnya A yang cenderung bekerja teratur setiap hari. Sementara ada golongan darah yang cenderung bekerja menjelang deadline. Mungkin situs jepang ini bisa jadi patokan dalam memprediksi karakter berdasarkan golongan darah. Dan ternyata karena golongan darah A cenderung mudah stress maka secara tidak sadar saya menyesuaikan diri untuk tidak stress, yaitu bekerja di saat liburan, artinya bekerja sambil break dan relaks. Sementara hari kerja dengan tugas-tugas yang kadang tidak penting bagi saya membuat stress dan tidak cocok untuk orang dengan golongan darah A .. katanya.

Usaha Mengurangi Tekanan/Stres

Sebenarnya tiap agama menganjurkan untuk berdoa atau beribadah setiap hari. Misalnya dalam Islam ada shalat, yang saya jadikan sarana untuk break. Biasanya saya jadikan sarana untuk menata fikiran. Agama lain, misalnya Thailand yang mayoritas penganut Budha, mau tidak mau kerap saya lihat ajaran-ajarannya dan lebih banyak lagi menganjurkan break, bahkan setiap detik mereka menganjurkan untuk “sati sampajanna”, silahkan searching di google maknanya yang ternyata lebih kompleks dari konsep mindfulness yang terkenal di barat (mungkin di Islam disebut “tuma’ninah”). Sati ini maknanya tidak hanya menyadari fikiran melainkan harus pula mengingat langkah terbaik menghadapi fikiran yang muncul tersebut.

Ruang meditasi tersedia di kampus tempat saya kuliah, tentu saja tidak saya masuki karena muslim. Salah satu tempat yang sering saya “masuk” ke alam kesadaran adalah ketika shalat jumat (itu pun kalo tidak ketiduran .. he he). Oiya, hari jumat itu adalah hari dimana mulai bekerja karena besok libur. Saya suka ketika menyadari “rambatan” fikiran, dimana satu fikiran muncul karena fikiran yang lain dan memicu fikiran berikutnya. Terkadang senyum-senyum sendiri juga melihat rambatan fikiran itu karena memang lucu dan terkadang “konyol”. Tetapi di situlah ide-ide saya muncul, baik ide yang biasa-biasa saja hingga ide yang agak gila, misalnya pindah jurusan kuliah yang sangat ekstreem.

Sekian pandangan saya, dan sepertinya tidak hanya mewakili golongan darah A saja, karena tidak hanya A kan yang sering setres. Cuma karena mungkin orang bergolongan darah A sering setres maka bisa dibilang berpengalaman .. (walah, setres kok berpengalaman).

Memunculkan Hybernate pada Windows 10

Fasilitas hybernate merupakan salah satu fasilitas favorit saya ketika menggunakan Windows 7 karena membuat laptop ‘wake-up’ dengan cepat tanpa proses ‘booting’, terutama ketika banyak yang perlu di-start up oleh Windows. Tetapi ketika beralih ke Windows 10 ternyata tidak nampak lagi fasilitas hybernate di versi tersebut. Ternyata fasilitas hybernate pada Windows 10 muncul otomatis ketika laptop sleep dalam kurun waktu tertentu. Repotnya laptop saya ketika hybernate otomatis (karena sleep dlm waktu lama) tidak mau wake-up lagi, tidak seperti waktu hybernate dengan caraq manual. Berbeda dengan sleep, hybernate tidak mengkonsumsi daya dari baterai, jadi lebih hemat dan aman. Karena beberapa kali gagal ‘wakeup’ di laptop saya (berbeda dengan tablet Windows saya yang tidak pernah gagal wakeup) akhirnya saya cari-cari cara memunculkan kembali fasilitas hybernate favorit saya di Windows 7 dulu. Oiya, sebagai informasi, ketika sleep laptop siap digunakan kembali (mirip handphone ketika tidak dipakai) dgn ciri-ciri indikator power kelap-kelip dan masih mengkonsumsi baterai, sementara hybernate laptop seperti shutdown tetapi ketika dihidupkan, kembali ke posisi terakhir digunakan (program-progam dan lain-lainnya).

Windows 10 ternyata masih memiliki fasilitas hybernate sebagai fasilitas tambahan, dan dapat dimunculkan kembali dengan meng-enable-nya. Caranya sederhana dan hanya beberapa langkah saja. Masuk ke Power & sleep setting di ‘searching windows’.

Di bagia bawah ‘Related Setting’ tekan Additional power settings untuk memunculkan jendela ‘Customize power plan’ yang biasa digunakan untuk mengatur kapan sleep dan kapan layar diredupkan ketika laptop didiamkan beberapa lama. Pilih Choose what the power button does di kiri atas jendela itu.

Dan ternyata di sini secara default, Windows 10 men-disable fasilitas hybernate. Kita tinggal mencentang/checlist tombol hyebernate. Tapi ternyata tidak bisa di-klik karena kita harus menekan terlebih dahulu Change setting that are currently unavailable.

Setelah itu checklist hybernate aktif dan tinggal dicentang saja. Cek dengan masuk ke menu power mirip ketika men-shut down. Pastikan tombol hybernate ada.

Jadilah Pelajar yang Tekun dan Tangguh

Beberapa peneliti di bidang psikologi sepertinya terus meneliti faktor-faktor yang membuat seorang pelajar sukses dan yang lainnya gagal. Beberapa pakar, seperti Goldman, mencetuskan teorinya yaitu emotional quotient (EQ)/emotional intelligence (EI), yang melawan teori sebelumnya bahwa Intelligence Quotient (IQ) menentukan sukses tidaknya seseorang. Masalah muncul karena EQ sendiri sangat banyak, dan mana salah satunya yang menentukan.

Seorang rekan facebook men-share video dari Ted Talks bahwa salah satu faktor yang menentukan itu adalah ‘Grit’, yang menurut si pembicara, Angela, adalah ketekunan dan hasrat yang tinggi untuk mencapai tujuan jangka panjang. Jangka panjang di sini adalah cita-cita yang ingin dicapai, bukan hanya besok, bulan depan, atau tahun depan. Silahkan lihat videonya:

Terus terang, saya sendiri orang dengan IQ yang seadanya. Bahkan guru konseling di SMA dulu sempat memanggil saya terkait hasil psikotes yang ‘wah’, bukan ‘WAH’. Semalaman saya berfikir dan akhirnya menolak panggilan si guru konseling itu, khawatir saya disarankan hanya bisa berkarir jadi supir ‘grab’ atau ‘gojek’, haha (tentu saja tidak, menurut saya mungkin menyemangati .. atau minimal menghibur). Ditambah pula beberapa hari sebelumnya sempat membaca buku ‘sarjana ideot’, yang artinya seorang dengan IQ minim tetapi bisa jadi sarjana (S1). Prinsip saya waktu itu, jika teman-teman yang cerdas memahami satu jam, saya mungkin perlu sehari. Jika mereka satu hari, mungkin saya perlu seminggu, yang penting tetap fokus ke tujuan saya. Bahkan guru ‘kimia’ sempat menegur saya, “kamu ikut ronda (siskamling)?”, lantaran mata saya yang merah karena begadang akibat penasaran mempelajari serangkaian reaksi kimia, waktu itu tentang asam, basa dan garam (yang saat ini harganya naik, hihi).

Untuk yang sedang belajar, tetap fokus ke ‘long term goal’ dan jangan tergoda dengan jangka pendek yang kadang menggoda. Silahkan simak link-nya, semoga bermanfaat. Atau lihat videonya ketika berbicara di Google (hmm .. wanita yang smart dan cantik … hallah):

 

Mereview Jurnal Untuk Pertama Kali

Dulu pernah ada tawaran mereview jurnal, tetapi saya menolaknya karena belum ‘PD’, percaya diri, mengingat belum pernah mempublikasikan tulisan di jurnal internasional, hanya beberapa seminar internasional. Tentu saja ditambah kendala bahasa, bahasa Inggris. Setelah lelah menulis dan lelah menjawab pertanyaan dari tiga reviewer ketika submit ke jurnal dan berhasil dipublikasi, barulah bersedia menjadi reviewer. Untungnya yang menawari untuk jadi reviewer adalah jurnal nasional, sehingga bisa bekerja cepat. Pengalaman bagaimana para reviewer jurnal berimpak di atas satu itu mencecar saya, tentu saja tidak serta merta saya terapkan di jurnal nasional. Namun tetap harus direvisi agar hasil publikasinya bagus dan banyak disitasi pembaca/periset lainnya. Dan yang terpenting adalah hutang budi telah direview olah orang lain dan sekarang saatnya membayar hutang itu, dan untungnya pengelola jurnal itu adalah sebuah yayasan nirlaba.

Ketika log-in sebagari reviewer, kaget juga ternyata menggunakan aplikasi Open Journal System (OJS) yang sedang giat untuk dijalankan pada pengelola jurnal di Indonesia oleh Ristek-dikti. Perkembangan aplikasi ini cukup pesat, bukan sekedar situs untuk mendokumentasikan artikel jurnal melainkan seluruh tahapan publikasi. Sebaiknya semua pengelola jurnal lokal mengikuti aturan standar publikasi jurnal yaitu peer-reviewer. Editornya juga sudah menggunakan prinsip blind-reviewing dimana reviewer tidak bisa melihat siapa yang sedang di-review.

Barusan saya menonton film berjudul “Genius”. Ceritanya tentang pengarang yang bersahabat dengan penerbit. Bagaimana mereka mendiskusikan judul, penyuntingan dan aspek lainnya yang cukup menarik seperti masalah keharmonisan rumah tangga, ekonomi, dll. Seorang penulis harus tetap dituntut untuk memperhatikan kehidupannya. Jadi ingat komunikasi dengan penerbit waktu publikasi buku. Oiya … juga dengan pembacanya. Berikut trailler film-nya:

Mengatasi Laptop Panas dengan Vacum Cleaner

Berbeda dengan laptop Lenovo yang sedang saya gunakan ini yang tanpa kipas prosesor, laptop lama saya, Toshiba, menggunakan kipas untuk mendinginkan proseor i5-nya. Masalah yang muncul adalah debu yang ikut terbawa ketika proses pendinginan terjadi. Jika banyak menumpuk dan menimbulkan kerak, maka proses pendinginan tidak efektif. Prosesor pun akan mati jika suhu melampaui ambang batas (mendekati 1000C). Tentu saja hal ini sangat mengganggu.

Untuk membongkar laptop butuh keahlian dan peralatan yang lengkap. Resikonya tentu saja ‘bisa bongkar tapi tidak bisa pasang’. Repotnya lagi, bongkar saja sulit. Biasanya toko servis laptop menyediakan jasa membersihkan kipas laptop dengan biaya seratusan ribu rupiah. Lumayan mahal. Banyak situs di youtube yang menawarkan cara-cara membersihkan bagian dalam laptop, dari dengan sedotan, hingga bongkar total. Di sini saya menyarankan menggunakan vacum cleaner yang sangat masuk akal.

Saya mencoba dengan cara ini. Lumayan, dengan cpu thermometer suhu menunjukan lebih dingin dibanding sebelumnya. Ketika disedot pertama kali muncul kotoran seperti kapas yang tersedot vacum cleaner. Namun karena sudah hampir 4 tahun, kemungkinan ada kerak di dalam yang sulit tersedot keluar dan harus dibersihkan dengan pembersih khusus. Cara ini sepertinya efektif untuk pembersihan yang dilakukan secara rutin sebelum kotoran menumpuk dan menimbulkan kerak.

Lika-liku dan Suka Duka Studi Lanjut

Baik untuk yang mencari maupun yang sedang menjalankan studi lanjut pasti dijumpai suka duka dan lika-likunya. Beragam, tetapi antara satu karyasiswa (mahasiswa penerima beasiswa) dengan karyasiswa lainnya terkadang memiliki banyak kesamaan, terutama karyasiswa dari unsur pengajar (dosen). Siapa tahu postingan ini bermanfaat dan dapat dijadikan sedikit rujukan. Minimal sekedar hiburan/bacaan ringan bagi yang mirip dan senasib dengan saya.

A. Mengurus Ijin dan Tugas Belajar

Sepertinya saat ini tidak begitu sulit untuk mengurus ijin atau tugas belajar. Kampus tertentu mungkin menyamakan keduanya tetapi di kampus saya berbeda. Ijin belajar berarti masih tetap bekerja dan mengajar sementara tugas belajar dibebaskan dari bekerja dan mengajar (tri-darma perguruan tinggi). Saat ini lebih mudah karena Ristek-dikti sedikit memaksa kampus-kampus untuk meng-upgrade tenaga pengajarnya ke doktoral (S3). Jika ada kampus yang terkesan menghalangi, siap-siap kena “pentung”.

Tetapi beda dengan dulu. Untungnya saya masuk dalam kategori transisi. Teman sekampus saya bahkan berjuang lebih “sengit” pakai tak-tik untuk sekedar diijinkan berangkat studi lanjut. Dari istilah “urut kancing” hingga “mengabdi dulu baru studi lanjut” merupakan senjata andalan penghalang dosen senior terhadap juniornya. Menurut saya ada benarnya, tetapi banyak juga salahnya. Memang dosen junior sebaiknya menghormati senior, tetapi kan harus ada balasannya, yakni senior harus menyayangi juniornya. Kalau senior tidak berangkat-berangkat studi lanjut, tentu saja sebaiknya tidak menghalangi junior untuk berangkat. Apalagi hukum karma juga berlaku, di tempat saya kerja bahkan para dosen senior yang sudah berumur 50-an tahun toh akhirnya bisa studi lanjut. Hmm.. bisa jadi balasan ijin yang diberikan ke para juniornya. Tapi kasus seperti itu jarang terjadi, apalagi saat ini dimana stok dosen melimpah di tanah air. Saya sendiri berprinsip “jadi profesor dulu lalu mengabdi” daripada “mengabdi dulu baru jadi profesor”.

B. Mencari Kampus Tujuan (Dalam atau Luar Negeri)

Biaya kuliah S3 yang tinggi membuat kita mencari kampus tujuan yang ada beasiswanya, baik dari kampus tujuan maupun dari Ristek-dikti (dikenal dengan nama BUDI saat ini). Yang sedikit mengejutkan untuk luar negeri sepertinya maksimal 50 penerima beasiswa, padahal dulu tidak ada batasnya. Menurut saya, seperti kasus-kasus sebelumnya, Ristek-dikti belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Dalam negeri malah lebih banyak kuotanya. Kalau saya jadi orang yang megang duit, tentu saja dengan jumlah uang yang sama akan diperoleh jumlah lulusan yang lebih banyak jika untuk beasiswa kuliah di dalam negeri. Ditambah lagi, masih jarang yang ingin kuliah ke luar negeri dengan meninggalkan keluarga (biasanya karena sekolah anak atau istri/suami yang bekerja). Timbang-timbanglah dulu, pilih dalam negeri atau luar negeri. Timbang-timbang pula ke depan, jangan-jangan ada “perang doktor”, bukan sekedar doktor tetapi lulusan doktor dari kampus mana. Di Thailand sudah mulai muncul Ph.D (UC Barkeley) misalnya yang menyatakan doktoral dari kampus tertentu. Tentu saja biaya hidup dan resiko-resiko lain harap dihitung-hitung, jangan terlalu “gambling”. Mencari kampus tujuan terkadang sama dengan mencari promotor atau calon advisor/supervisor. Jangan lupa belajar menulis email dengan baik dan benar, dan belajar sabar kalau ditolak.

C. Mencari Beasiswa (Dalam Negeri atau Luar Negeri)

Banyak tawaran beasiswa dari luar negeri. Rekan saya bahkan meng-cancel beasiswa Ristek-dikti dan memilih beasiswa dari kampus tujuan S3. Ciri khas beasiswa dari luar biasanya sedikit memaksa penerima beasiswa untuk bekerja atau aktif di kampus (jadi asisten dosen, lab, dll). Ada untungnya juga, biasanya cepat lulus, tidak seperti saya yang kabur-kaburan (ehh .. karena kadaluarsa). Biasanya mencari kampus dulu baru beasiswa karena pemberi beasiswa selalu meminta bukti diterima di kampus tertentu (yang diakui oleh penerima beasiswa). Jangan lupa lihat periode atau jadwal antara penerimaan beasiswa dengan penerimaan kuliah S3 di kampus yang dituju. Sebab resikonya fatal, seperti saya yang masuk kuliah tertinggal 3 bulan dan akibatnya nilai hancur di semester I. Untungnya saat ini (berlaku pas saya berangkat thn 2013) ketika lolos penerimaan beasiswa, jika keberangkatan diundur tahun depan (anggaran tahun berikutnya) karyasiswa tidak perlu wawancara atau disaring lagi karena dinyatakan lolos mengikuti hasil sebelumnya.

D. Menyiapkan Amunisi

Amunisi di sini maksudnya bekal untuk bertarung. Untuk mahasiswa pascasarnaja (S2), saran saya jangan seluruh materi kuliah dibuang atau diloakin karena pengalaman saya dulu membutuhkan buku-buku tersebut (ketika tahap Course work/kuliah wajib), setidaknya lebih familiar dan berbahasa Indonesia pula (maklum masih berantakan English-nya). Software-software andalan (misalnya Matlab, pemrograman, dlll) tetap pertahankan. Saya dan rekan-rekan kebanyakan tidak seluruh hal-hal yang dipersiapkan berjalan mulus 100%. Ada saja yang memaksa untuk switch mengikuti kehendak pembimbing. Sebaiknya ikuti saja, dan terkadang yang kita ingin kerjakan, ya kerjakan saja, iseng-iseng mengisi waktu luang. Siapa tahu seperti teman saya, ketika mentok mengikuti keinginan pembimbing, dan karena menjalankan metode sendiri, ketika disampaikan ke pembimbing akhirnya diterima juga (pembimbing juga manusia lho, ada unsur kasihannya juga).

E. Mempersiapkan Kondisi Tak Terduga

Tapi jangan khawatir, kebanyakan terduga kok. Saya menduga dapat nilai C .. Eh bener dapat C. Sorry, maksudnya bukan itu. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, terkadang ada tahapan tertentu yang mentok, misalnya memenuhi syarat minimal IPK. Kebanyakan sih masalah publikasi jurnal internasional yang tidak jelas lama waktunya. Baik lama diterimanya atau lama menjawabnya (dari editor). Bahkan rekan saya sudah diterima pun masih butuh waktu satu tahun (tahun masehi ya, bukan tahun cahaya). Oiya, planning A, B, dst .. boleh saja, kalau perlu seperti Excel .. setelah Z lanjut lagi AA, AB, .. (hiks).

Oiya tetap semangat, sebenarnya enggan juga menulis berita buruknya, takut pembaca malah jadi tidak bersemangat untuk studi lanjut. Yang jelas banyak sukanya dibanding dukanya, terutama yang ke luar negeri, banyak hal-hal yang tidak bisa dijelaskan (bahkan oleh foto selfi model apapun – yg kadang malah bikin keki atau mupeng yg lihat) tapi hanya diri sendiri yang bisa merasakan, ya, itu namanya suka duka dan lika-liku. Selamat berjuang.

Tablet Mode VS Desktop Mode di Windows 10

Setelah era Windows XP dan Windows Vista yang gagal, Windows 7 termasuk berhasil. Serangan sistem operasi Android dan membanjirnya telepon genggam membuat Microsoft berusaha merebut hati konsumen lewat sistem operasinya yang mendukung gadget dengan memunculkan Windows 8. Waktu itu saya sempat membeli Microsoft surface dengan Windows 8 yang cukup cepat.

Namun demikian versi mobile sangat tidak nyaman untuk laptop. Sebenarnya bukan tidak nyaman melainkan belum terbiasa saja. Butuh waktu beberapa bulan bagi saya untuk terbiasa dengan Windows 8. Dari letak program file yang tidak ada (walaupun bisa dengan search tetapi terasa kurang nyaman, masak terus-terusan searching. Akhirnya muncul sistem operasi baru bernama Windows 10.

Untuk memikat pengguna sepertinya Microsoft menggunakan taktik menggratiskannya asal memiliki lisensi di Windows sebelumnya (Windows 7, 8, dan seterusnya). Setelah mencoba ternyata lumayan cepat juga, terutama di laptop mini dengan prosesor seadanya yang baru saya beli. Ternyata Versi Pro lebih cepat dibanding versi Home. Selain itu penggunan memori juga lebih minimal, cocok untuk laptop 2 Gigaan.

Dan yang terpenting adalah adanya pilihan tablet mode dan Desktop mode yang memberi kebabasan pengguna mengikuti Windows 8 atau Windows 7 formatnya. Silahkan masuk ke menu setting dan cari2 sendiri cara memilihnya. Hmm .. ternyata saya lebih menyukai Tablet mode yang menyerupai Windows 8. Sepertinya wakeup lebih cepat dari versi desktop (mungkin perasaan saya saja). Tetapi semua terserah pengguna, mana yang lebih familiar. Berikut ini tampilan versi tablet dari Windows 10 pro.

Update: 19 Juli 2017

Ternyata ketika menjalankan ArcGIS di tablet mode ada sedikit kelambatan, bahkan sempat hang ketika mengoperasikan analisa spasial. Sepertinya tablet mode tidak cocok dengan karakter multi-tasking Windows. Akhirnya balik lagi ke Desktop mode.

Screencast-O-Matic Untuk Video Tutorial

Pembelajaran jarak jauh (e-learning) membutuhkan tool untuk memudahkan peserta didik mengikuti perkuliahan. Salah satunya adalah video tutorial untuk menjelaskan prosedur-prosedur tertentu, biasanya tutorial pemrograman dan sejenisnya. Banyak tersedia aplikasi-aplikasi yang dapat dimanfaatkan secara gratis untuk meng-capture apa yang terjadi di layar monitor. Salah satunya adalah Screencast-o-matic yang memiliki versi gratis (free) maupun berbayar. Sebelumnya saya menggunakan bawaan Microsoft, yakni Microsoft Expression (lihat post terdahulu), tetapi memiliki sedikit kelemahan yang mengganggu yakni tidak bisa menampilkan web-cam ketika presentasi.

Silahkan masuk ke situs resmi Screencast di sini. Jika Anda enggan menginstal aplikasi baru, Screencast menawarkan capture secara instan lewat web tersebut, tekan saja “start recording” untuk langsung merekam tanpa instal aplikasi tersebut.

Sebenarnya tidak murni tanpa instal, tetapi tetap saja unduh sedikit file untuk me-running Screencast sementara. Setelah selesai download, Screencast langsung bisa digunakan. Pilihan lain adalah menginstall aplikasi itu di laptop sehingga dapat dipakai kapanpun tanpa harus mengunduh terlebih dahulu.

Entah mengapa saya tidak bisa menemukan kembali link source code Screencast O Matic di link resminya, padahal dulu sempet ada. Silahkan gunakan situs penyedia screencast yang lain (tentu saja yang aman dan bebas virus/spyware), misalnya berikut ini atau cari dari tempat yang lain (untung dulu sempet download untuk yang versi bisa diinstall di laptop).

Untuk file-nya sepertinya harus cari lagi yang pernah diunduh dahulu. Oiya, untuk tampilannya dapat dilihat di sample berikut ini, waktu itu sedang “duel” game sepak bola (winning eleven) dengan anak saya. Lihat juga contoh terapannya dengan Ms Power point berikut ini. Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Yang Perlu Dipersiapkan Ketika Akan Studi Lanjut

Di antara sekian banyak alasan sesorang melanjutkan kuliah (jenjang pascasarjana atau doktoral) salah satunya adalah tuntutan profesi sebagai peneliti atau dosen. Untuk itu perlu dipersiapkan baik mental maupun sarana pendukung seperti pembiayaan, masalah keluarga, dan lain-lain.

Untuk pembiayaan, sepertinya tidak ada masalah bagi dosen yang memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) asalkan usia tidak melewati aturan yang ditetapkan. Untuk amannya jangan sampai melewati usia 40 tahunan. Ristek-Dikti menyediakan banyak sekali beasiswa dan bahkan kampus tujuan pun terkadang memberi beasiswa di luar skema Ristek-dikti.

Jika hal-hal lain seperti ijin belajar dari kampus asal, sertifikat bahasa Inggris (toefl atau IELTS), dan masalah administrasi lainnya sudah beres, ada baiknya hal-hal berikut ikut diperhatikan. Postingan ini hanya sekedar sharing saja dari pengalaman pribadi dan mungkin akan berbeda dengan pengalaman-pengalaman orang yang pernah studi lanjut.

A. Pemilihan Jurusan

Ada sedikit perbedaan mendasar antara jurusan di dalam negeri yang sedikit “rigid” dengan jurusan-jurusan di luar negeri yang mulai berspesialisasi. Di negara kita mengenal jurusan yang itu-itu saja seperti teknik mesin, teknik elektro, sastra inggris, dan lain-lain. Sementara itu di luar negeri sudah mulai terjadi akulturasi antar jurusan (multidisiplin ilmu). Hal utama yang harus diperhatikan adalah : 1) linearitas, 2) rumpun politeknik atau universitas. Banyak beasiswa Dikti ditolak karena seorang calon penerima beasiswa homebase-nya di politeknik tetapi kampus tujuannya universitas. Repotnya adalah sulit untuk mencari kampus-kampus politeknik di luar negeri, biasanya di Jepang dan Jerman.

Saya sendiri termasuk yang salah jurusan, padahal tidak terlalu jauh yakni harusnya information management tetapi saya masuk ke computer science. Hal ini terjadi karena beda kurikulum waktu S2 dulu. Memang tercantum ilmu komputer tetapi ternyata isinya cenderung ke information management (atau di kita sistem informasi). Repotnya adalah kesulitan dalam mencapai IPK 3.5 sebelum lanjut ke riset/penelitian disertasi.

Perhatikan betapa sulitnya mendapatkan B+. Untungnya saya segera sadar dan segera pindah jurusan dari computer science ke information management dan segera IP melonjak naik karena memang sesuai dengan bidangnya. Seumur hidup baru kali ini ngerasain nilai F alias “fail” .. he he.

B. Memilih Kampus Tujuan (Luar atau Dalam Negeri)

Kalau saya lihat sepertinya ada kategori-kategori kampus tujuan. Dikti sendiri untuk doktoral mengkategorikan kampus tujuan menjadi tiga: 1) full riset, 2) kuliah sambil riset, dan 3) kuliah dulu baru riset (setelah ujian kandidasi). Hal ini terkait dengan pendanaan, biasanya yang full riset tahun keempat tidak disupport lagi uang tuition (bayar SKS), sementara yang ketiga dibiayai (semester VII saja).

Saya sendiri mengkategorisasi menjadi: 1) kampus dalam negeri, 2) kampus luar negeri sulit dan 3) kampus luar negeri mudah. Ini menurut saya saja lho. Untuk yang otaknya tidak cerdas-cerdas banget seperti saya ada baiknya mempertimbangkan yang ketiga karena lebih berpeluang. Saya sendiri untuk masuk ke kampus dalam negeri seperti UI, UGM, ITB, dan lain-lain agak kesulitan karena banyaknya saingan. Sementara luar negeri tidak terlalu banyak, tetapi tentu saja syarat bahasa harus dipenuhi.

Beberapa kampus memiliki aturan sendiri yang berbeda dengan kampus-kampus lainnya. Ada aturan tertentu di Eropa dimana seorang mahasiswa yang gagal kandidasi untuk lanjut ke doktoral memperoleh gelar Master of Philosophy (M.Phil). Ini yang perlu diperhatikan karena jika mahasiswa yang bersangkutan menerima beasiswa untuk doktoral tetapi tidak lanjut dan hanya memperoleh gelar M.Phil maka Dikti menganggap tidak menjalankan studi lanjut semestinya.

C. Mengetahui Tahapan-tahapan Hingga Lulus

Yang perlu diingat adalah ketika memperoleh beasiswa, sesungguhnya bukan akhir dari sukses studi lanjut. Justru itu adalah awal perjuangan karena beban di pundak penerima beasiswa dimana uangnya yang digunakan berasal dari rakyat (APBN). Memahami tahapan-tahapan yang berlaku di kampus tempat kuliahnya sangat membantu, minimal mempersiapkan amunisi-amunisi selama berjalannya perkuliahan.

Tiap kampus berbeda, sebagai contoh di tempat saya kuliah tahapan-tahapan yang harus dilalui antara lain: 1) perkuliahan 18 sks dengan IPK >= 3.50 2) Ujian kandidasi (proposal disertasi), 3) Menyelesaikan tiap objektif (biasanya dua atau tiga objektif per judul), 4) publikasi di jurnal internasional yang diakui kampus, 5) pengecekan naskah disertasi oleh profesor eksternal (kampus lain), dan 6) ujian akhir (final defense). Perlu diperhatikan bahwa no. 4 merupakan tahap yang tidak bisa diprediksi, bisa beberapa bulan bahkan bisa pula beberapa tahun (oh tuhan).

Banyak sekali manfaat yang diperoleh dengan menggali informasi dari senior-senior baik yang sedang kuliah atau sudah lulus. Walaupun tiap mahasiswa memiliki kasus-kasus khas tertentu tetapi isu-isu umum biasanya tidak jauh berbeda. Tidak harus senegara dengan kita, ada baiknya juga berteman dengan satu atau beberapa rekan kuliah dari negara dimana kita kuliah. Minimal untuk survive (maklum beasiswa terkadang turunnya tidak bisa diprediksi).

D. Ikuti Aturan-aturan Yang Ada

Ristekdikti biasanya membuat aturan-aturan berdasarkan pengalaman-pengalamannya dalam mengelola beasiswa. Misalnya mahasiswa doktoral usianya dibatasi maksimal 50 tahun. Ketika kampus mengundang dirjen SDM ristek dikti (pak Gufron) ke kampus banyak yang mempertanyakan hal itu, dan minta ada dispensasi untuk dosen senior. Sepertinya logis tetapi ada pengalaman pahit yang saya alami ketika kuliah.

Di tahun kedua, ada rekan baru masuk (mahasiswa doktoral) dari kampus negeri di timur Indonesia. Usianya masih 50 tahun tetapi sudah jalan ke 51. “Ternyata ada yang lebih tua dari saya”, pikir saya dalam hati. Selang beberapa bulan, ketika MID semester dan sedang menuju toilet, beliau terjatuh karena stroke. Terpaksa jenazahnya dipulangkan kembali ke tanah air, semoga termasuk jihad di jalan Allah, amiin. Untuk yang mendekati 50 (atau masuk 40-an) saran saya sebaiknya ambil kuliah di Indonesia saja, lebih aman.

Tapi jangan berkecil hati dan tetap semangat. Oiya, untuk yang ambil S2, Anda bisa ambil jurusan apapun dan dimanapun (syarat dan ketentuan berlaku, he he), tetapi tidak untuk S3, perlu perencanaan yang tepat (biasanya saat wawancara beasiswa, diminta proposal risetnya). Ada pengalaman baik dari rekan saya yang lulus 2 tahun 9 bulan di kampus saya. Kebetulan dia ambil S2 di kampus yang sama, ketika mau ambil S3 dia sudah berkomunikasi dengan dosen pembimbing mengenai riset jika nanti S3 di tempat yang sama. Selama setahun dia mempersiapkan semuanya, dan setelah siap dan masuk kuliah, maka kuliah dapat berjalan dengan cepat dan lancar tanpa perlu meraba-raba lagi. Oiya, untuk S3 jika Letter of Acceptance (LoA) yang merupakan tanda diterimanya menjadi mahasiswa di suatu univ di tangan, kita tinggal mencara pemberi beasiswa. Selamat mencoba.

Ganti User ID di Windows 10

Lucu juga kalau dipikir-pikir, seorang eks IT di bank swasta berskala nasional, ketika ingin mengganti account windows 10 milik sendiri kebingungan. Maklum waktu itu windows yang digunakan masih xp untuk desktop dan windows 2000 untuk server. Itulah dunia IT, kalau tidak update informasi nanti jadi “kudet”, alias kurang update.

Windows 10 ditawarkan oleh microsoft secara gratis. Tadinya saya kira berita hoax, ternyata berita tersebut benar, asalkan dalam kondisi upgrade dari sistem operasi (OS) windows lama ke windows 10 yang baru. Ujung-ujungnya tetap saja beli lisensi windows yang lama. Ketika menggunakan windows 7 di laptop yang disubsidi dari kampus saya kuliah, waktu itu sering ada informasi update OS cuma-cuma yang muncul secara pop-up di laptop ketika digunakan. Karena banyak program-program penting dan khawatir tidak kompatibel akhirnya saya abaikan. Terakhir, ternyata kebanyakan jalan juga di windows 10 yang jauh lebih nyaman digunakan dibanding windows 8 yang agak berbau “touchscreen”.

Setelah browsing di internet, akhirnya ditemukan situs yang mengajari cara mengganti user ID windows 10 di link ini. Sederhana ternyata, hanya saja lokasinya agak sulit ditemukan. Di bagian menu Setting sendiri hanya mengganti foto login saja yang ada, sementara ganti nama user ID tidak ada. Oiya, klik kanan “my computer” atau “this pc” dan dilanjutkan dengan mengklik manage yang sering saya lakukan di windows yang lalu tidak ada juga menu users.

Langkah yang harus dilakukan untuk mengganti user ID di windows 10 adalah dengan menekan Windows + R untuk memanggil menu RUN dilanjutkan dengan mengetik “netplwiz” untuk memanggil setingan user account.

Tampak user yang ada masih bernama “lenovo”, laptop murah yang baru saja saya beli. Namanya tidak asing bagi orang jawa yang mirip kata “legowo” .. he he. Lanjut dengan dobel klik di user yang ingin diganti namanya, dilanjutkan dengan ganti nama dan tekan OK untuk mengakhirinya. Oiya, sebaiknya user tidak menggunakan permission level Administrators.

 

Lanjutkan dengan sekali lagi tekan OK untuk keluar dari menu netplwiz (entah singkatan apa itu?). Restart laptop Anda. Sekian, semoga bermanfaat.

 

H-index Scopus yang Merangkak Naik

Ramadhan kali ini memberi sedikit makna kepada saya. Setelah view blog yang menyentuh angka sejuta, ada pemberitahuan dari researchgate bahwa ada yang mensitasi tulisan ketiga saya yang terindeks scopus. Hasilnya ternyata h-indeks naik satu point menjadi dua, lumayan bagi periset pemula seperti saya. Periset yang berasal dari kampus yang belum begitu fokus ke riset, padahal kementerian yang menaunginya telah menggabungkan departemen riset dan teknologi dengan pendidikan tinggi. Gambar berikut memperlihatkan posisi h-indeks yang menyentuh sisi miring pada skala sitasi 2, alhasil h-indeks=2. Lihat postingan sebelumnya yang membahas apa itu h-indeks dan juga apa manfaat dari h-indeks itu sendiri.

Berikutnya untuk menggapai h-indeks=3 agak berat karena harus minimal tiga tulisan disitasi tiga kali. Walaupun dua, sebenarnya jika tanpa “self citation”, h-indeks saya masih satu (disitasi oleh dua orang selain saya). Tetapi dari sisi publikasi, self citation sepertinya masih diperbolehkan karena self plagiarism pun masih diterapkan. Justru kalau tidak merujuk tulisan yang kita tulis sebelumnya (hanya copas) malah masuk kategori self plagiarism ini.

Ada sedikit pertanyaan yang harus dijawab terkait indeks yang dimiliki kemristek-dikti (sinta), mengapa tidak langsung update dengan scopus (artikel sudah benar=4 tetapi sitasi masih 3). Seharusnya ketika scopus berubah naik h-indeksnya, Sinta secara otomatis naik. Mungkin masih dalam perbaikan dan saya yakin setelah fix nanti akan terkoneksi secara otomatis baik ke Scopus, Google Scholar, atau indeks lainnya.

Iseng saya menelusuri siapa yang mensitasi terakhir tulisan saya. Ternyata adalah Gomez, dari USA. Tulisannya merupakan conference internasional. Seneng juga tulisan kita muncul di list “reference” orang lain, apalagi terindeks scopus.

Sekian, semoga bermanfaat dan karena baru saja Idul Fitri saya mengucapkan Minal aidin walfa idzin, mohon maaf lahir dan batin.

Beli Laptop Ringan atau Kerjaan Ga Selesai-selesai

Untuk bekerja memang diperlukan sarana penunjang yang oke. Salah satunya adalah notebook atau dikenal dengan istilah laptop yang dipopulerkan oleh si “tukul arwana” dengan slogannya “kembali ke laptop”. Barang yang satu ini menjadi keharusan pekerja modern untuk menyelesaikan tugas-tugas keseharian seperti membuat laporan, mencari informasi, mengolah data, atau sekedar untuk hiburan dan entertainment. Untuk mendukungnya diperlukan spek laptop yang mendukung.

Untungnya teknologi terus berkembang sehingga tiap hari bermunculan produk baru yang memiliki kualitas yang baik tetapi dengan harga yang jauh lebih murah dari sebelumnya. Ketika kuliah dan tinggal di kampus, dengan satu laptop dengan spek tinggi semua masalah dapat diatasi karena memang kegiatannya hanya di kamar dan kampus saja. Masalah muncul ketika menulis laporan di luar kampus, alias di rumah, di Indonesia dimana kegiatan lain sangat menyita waktu bekerja. Ada ungkapan yang sering saya dengar dari rekan sesama dosen, saking sibuknya jangankan menulis, membuka laptop saja tidak sempat. Begitu juga yang saya rasakan, maka butuh tip dan trik untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah dengan bantuan laptop ringan pendukung laptop utama.

Sebelumnya tablet jadi andalan saya untuk alat bantu ketika “outside” dengan fasilitas-fasilitas produktivitas yang ada. Tapi sayangnya fasilitas tersebut tidak bisa menggantikan kerja laptop sebelumnya. Tidak mungkin menulis banyak dengan tablet, walaupun bisa dengan memanfaatkan doc keyboard yang banyak beredar di pasaran. Tetap saja ketika mengelola attachment tambahan seperti image, bagan, dan sejenisnya agak kerepotan. Kalaupun bisa, tetap saja untuk meng-capture hasil running tetap saja membutuhkan laptop utama yang berisi program utama (matlab, arcGIS, Visio, dll).

Kaget juga melihat harga laptop yang murah-murah ketika jalan-jalan menemani istri membeli laptop yang ringan karena laptop sony vaio yang lama terasa berat untuk dibawa-bawa. Dengan dana tidak jauh-jauh dari 3 jutaan ternyata berhasil membeli laptop ringan 11 inch. Untuk aplikasi perkantoran biasa, ngetik dan sejenisnya, mungkin bisa tetapi saya masih sanksi jika digunakan untuk software utama. Tetapi ketika coba diinstall ternyata bisa diinstall semua dan berjalan normal (Matlab, ArcGIS, IDRISI, Visio, dan lainnya). Sementara untuk baterai pun cukup tahan lama karena prosesor yang digunakan jenis mobile, tanpa kipas dan panas yang berlebihan. Tentu saja jauh lebih lambat dibanding laptop utama yang berprosesor i5 untuk running dan data processing, tetapi dengan slogan “lebih baik lambat tapi tetap jalan daripada cepat tapi banyak berhentinya” akhirnya dengan laptop ringan pekerjaan rutin dapat diselesaikan disela-sela kegiatan remeh temeh yang dapat menghambat. Sulit memang mencari waktu satu dua jam fokus di depan meja dengan laptop menyala, tetapi dengan laptop ringan, pekerjaan dapat dilakukan kapanpun dengan laptop nangkring di mana aja. Tentu saja saran di postingan ini hanya cocok untuk saya yang selalu “low budget” karena laptop berprosesor tinggi pun tersedia dalam bentuk ringan seperti Macbook Air, zenbook, dan kawan-kawannya yang dikenal dengan sebutan ultra-book yang berharga sama dengan harga motor bebek. Tetapi dengan laptop ringan yang murah, rasanya lebih aman dan tidak khawatir dari maling dan begal yang saat ini banyak beritanya, dan lagi, fasilitas Cloud tempat menyimpan data yang banyak teredia gratis saat ini membuat kita tidak khawatir data ikut hilang ketika laptop hilang/rusak. Semoga bisa menginspirasi.