Komputer dan Data Spasial

Postingan kali ini saya mengangkat topik hubungan komputer dengan data spasial. Hal ini karena kemarin, tanggal 10 Agustus 2017 telah diadakan seminar nasional “smart city” di Unversitas Gunadarma tentang “Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah Mewujudkan Smart City”yang diseponsori juga oleh asosiasi perguruan tinggi komputer (APTIKOM). Silahkan unduh materi yang menarik di situs resminya.

Ngomong-ngomong tentang “city” berarti bercerita tentang lokasi geografis, alias data spasial. Pentingkah aspek geografis? Untuk menjawabnya cukup dengan satu aksioma mengenai letak geografi: “banyak hal penting namun letak geografis sangat menentukan”. Kalo tidak percaya silahkan main-main deket suriah, atau jadi tetangga negara konflik, pasti merasakan dampak “letak geografi”. Jadi untuk rekan-rekan yang sedang mencari “masalah” alias proposal untuk riset (master/doktor) bisa coba masuk ke data spasial.

Saat mendaftar kuliah doktoral saya mengajukan tema e-learning dengan bantuan soft-computing. Tetapi selama perjalanan waktu ternyata hibah-hibah saya tentang data spasial yang dipadu dengan soft-compting banyak yang lolos/didanai. Akhirnya saya beralih dari e-learning ke data spasial, walaupun promotor saya menolak, ‘I don’t understand spatial data, please go to Prof …’. Akhirnya saya menghadap ke profesor yang direkomendasikannya, dan alhasil saya nebeng di jurusan Remote Sensing and Geographic Information System (RS-GIS).

Topik-topik Disertasi TI dan Data Spasial

Pada materi seminar dibahas juga konten yang membedakan jurusan komputer yang beragam. Dari teknologi informasi, sistem informasi, sistem komputer, manajemen informatika, teknik komputer, hingga komputer akuntansi mengharuskan pelajaran “rekayasa perangkat lunak” alias mengerti seluk beluk produksi software. Ribet juga pembagiannya. Saya pribadi berpendapat jurusan komputer hanya dua saja: “ilmu komputer murni” dan “ilmu komputer terapan”. Itu menurut pengalaman saya pribadi lho.

Terus terang saya termasuk orang yang “terlempar” dari ilmu komputer murni dan beralih ke yang terapan. Untungnya berkah bagi saya karena terlempar, kuliah jadi lancar. Bagaimana tidak lancar, lha wong tinggal menemukan metode yang pas untuk diterapkan di bidang tertentu, untuk kasus saya data spasial berupa lokasi geografis. Teman-teman saya yang murni ilmu komputer saat ini sedang “panas” kepalanya memikirkan menemukan metode komputasi terbaru sementara saya sedang “panas” mengetik laporan ..he he. Tapi itu untuk universitas di luar negeri, kalau di dalam negeri sepertinya ilmu komputer murni masih boleh ke arah terapan (info dari teman). Tentu saja, algoritma baru atau metode baru ilmu komputer dapat ditemukan ketika riset terapan. Tapi biasanya sih sulit menemkan metode baru, tapi tetap lulus juga sih karena kan terapan, beda kalau memang ilmu murni yang harus menemukan.

Silahkan baca jurnal-jurnal terkini mengenai data spasial, baik di jurnal komputer maupun jurnal geografi dan lingkungan. Tentu saja jika ingin publish di bidang itu harus mengikuti gaya selingkung mereka, jangan ngotot atau memaksa. Ingat, ilmu komputer itu pelayan, seperti komputer server dimana server berarti pelayan. Saat seminar proposal, pengalaman yang unik adalah hal-hal sepele jadi sulit karena istilah yang tidak familiar baik bidang mereka atau pemahaman mereka terhadap bidang kita, jadi sabar-sabar saja. Menjengkelkan juga ketika tahu jawaban tetapi tidak mengetahui istilah-istilah Inggris dari jawaban itu seperti semak belukar, batu kerikil, dan istilah lain yang asing bagi ilmu komputer. So, buka kamus dan persiapkan jawaban ketika seminar proposal.

Aplikasi-aplikasi online saat ini banyak berkutat dengan data spasial, baik dari sisi optimasi, kecepatan akses, dan sejenisnya. Pertarungan antar aplikasi (grab, gojek, uber, dll) sangat mengandalkan temuan-temuan baru ilmu komputer. Silahkan nimbrung ke sana, bukan hanya data mining terhadap data spasial saja. Sekian dulu, semoga bias menginspirasi.

Menukar dan Mengganti Key Pada Keyboard

Apa-apaan ini? Mungkin pembaca bertanya maksud dari postingan ini. Atau jangan-jangan bermaksud mau iseng aja, alias ngerjain laptop orang. Seperti biasa, kalau tidak butuh/perlu mungkin kita tidak membutuhkan fasilitas tukar menukar ini, tetapi saya ada sedikit masalah pada keyboard saya. Perhatikan gambar berikut ini.

Konyol juga saya, tiap kali mau mengetik huruf besar (menekan Shift kanan) ternyata malah menekan “PgUp” yang kursornya langsung pindah ke atas. Hal ini karena rumah jari kelingking kanan adalah di “;” (kalo sepuluh jari lho ngetiknya). Mungkin pihak “Lenovo” harus segera menyelesaikan masalah sepele ini, atau memang konsumennya harus “Lengovwo” ? Kasus lain, banyak juga rekan-rekan yang salah menekan tab dengan “Capslk”, tetapi saya sih untungnya tidak mengalami masalah ini.

Setelah searching di google, saya menemukan situs ini yang menyarankan mengunduh aplikasi bernama SharpKeys (semoga bukan virus). Jika tertarik silahkan unduh dan instal di laptop kita.

Mudah, tinggal tekan “Next>” saja hingga selesai. Ternyata bisa diinstal juga di windows 10. Karena mengutak-atik Registry, beberapa kali Windows meminta konfirmasi.

Setelah itu kita coba gunakan dan bagaimana efeknya. Pertama-tama anda diminta menambahkan key mana saja yang mau dikonversikan. Untungnya ada fasilitas “menekan tombol” karena sulit mencari nama resmi tombol di keyboard.

Jika sudah kita coba jalankan dengan cara menekan “Write to registry”. Pastikan ada informasi bahwa registry telah terupdate. Berikutnya kita diminta merestart laptop karena memang ketika saya coba belum berubah.

Ok, kalau begitu saya restart dulu laptop ini. <Setelah restart> Misal saya menulis: “Rumah Adat Dayak” .. dan ternyata OK, tidak salah ketik (“R”, “A”, dan “D”), karena saya tinggal menekan “PgUp+R” berarti sama dengan “Shift+R” yang dulu. Oiya, jangan lupa, kalau mau menekan panah “PgUp” harus diganti dengan “Shift”. Selamat mencoba semoga bermanfaat .. dan jangan buat iseng-isengan ya.

Melihat Rangking Jumlah Publikasi Jurnal Internasional Peneliti Indonesia

Akhir-akhir ini ada broadcast di grup whatsup bahwa peringkat publikasi Indonesia naik dan mengalahkan Thailand maupun Viet Nam. Iseng-iseng lihat di link berikut ini ternyata masih di bawah Thailand, meskipun di atas Viet Nam. Mungkin maksudnya jumlah jurnal Indonesia yang terindeks scopus barangkali.

Selisihnya pun cukup jauh yaitu hampir 1/3 thailand dan ¼ Malaysia. Namun dengan jumlah peneliti yang jauh lebih banyak dari negara-negara kecil di Asia Tenggara harusnya negara kita bisa mengungguli mereka. Terbukti China yang menyalip Jepang karena banyaknya jumlah peneliti, walaupun h-index (jumlah pensitasi) masih kalah dari Jepang (sekitar ¾ -nya). Sepertinya data itu kurang akurat mengingat beberapa peneliti dari Indonesia memakai afiliasi di luar Indonesia, terutama yang riset atau kuliah di kampus luar.

Bagaimana melihat rangking institusi di Indonesia? Caranya mudah, yaitu dengan Scopus (www.scopus.com) tetapi harus berlangganan scopus terlebih dahulu (link berikut).

Peringkat pertama masih ITB dan disusul dengan UI, UGM, IPB, ITS dan kampus-kampus negeri ternama tanah air lainnya. Bagaimana dengan Jakarta, Bandung, dan wilayah tertentu? Mudah, tinggal klik saja “City” dilanjutkan dengan “Limit to”.

Untuk pengindeks Ristek-dikti, Sinta Score, sepertinya UGM dan IPB masih mengungguli dari ITB dan UI. Sinta masih terus berbenah dan diharapkan menjadi standard untuk kinerja peneliti di Indonesia. Juga memacu jumlah publikasi internasional. Yuk yang belum daftar, segera registrasi (lihat caranya).

Break dan Relaks Sejenak

Entah mengapa saya memiliki hal yang tidak lazim yaitu bekerja di hari sabtu dan minggu, atau hari libur lainnya. Tentu saja hal ini sedikit mengganggu karena ketika orang kerja saya santai tetapi ketika orang santai saya bekerja. Sebenarnya saya tidak ingin melakukan aktivitas pekerjaan di hari libur, tetapi karena seringnya ‘berhasil’ dibanding gagal, secara tidak sengaja saya memprioritaskan waktu tersebut. Sejak lama sering saya lakukan tidak sadar hingga baru-baru ini “ngeh” ketika jarang keluyuran di hari libur dan juga sering menolak ajakan teman-teman kuliah untuk jalan-jalan.

Faktor Golongan darah?

Di facebook ada yang share karakter orang berdasarkan golongan darah, misalnya A yang cenderung bekerja teratur setiap hari. Sementara ada golongan darah yang cenderung bekerja menjelang deadline. Mungkin situs jepang ini bisa jadi patokan dalam memprediksi karakter berdasarkan golongan darah. Dan ternyata karena golongan darah A cenderung mudah stress maka secara tidak sadar saya menyesuaikan diri untuk tidak stress, yaitu bekerja di saat liburan, artinya bekerja sambil break dan relaks. Sementara hari kerja dengan tugas-tugas yang kadang tidak penting bagi saya membuat stress dan tidak cocok untuk orang dengan golongan darah A .. katanya.

Usaha Mengurangi Tekanan/Stres

Sebenarnya tiap agama menganjurkan untuk berdoa atau beribadah setiap hari. Misalnya dalam Islam ada shalat, yang saya jadikan sarana untuk break. Biasanya saya jadikan sarana untuk menata fikiran. Agama lain, misalnya Thailand yang mayoritas penganut Budha, mau tidak mau kerap saya lihat ajaran-ajarannya dan lebih banyak lagi menganjurkan break, bahkan setiap detik mereka menganjurkan untuk “sati sampajanna”, silahkan searching di google maknanya yang ternyata lebih kompleks dari konsep mindfulness yang terkenal di barat (mungkin di Islam disebut “tuma’ninah”). Sati ini maknanya tidak hanya menyadari fikiran melainkan harus pula mengingat langkah terbaik menghadapi fikiran yang muncul tersebut.

Ruang meditasi tersedia di kampus tempat saya kuliah, tentu saja tidak saya masuki karena muslim. Salah satu tempat yang sering saya “masuk” ke alam kesadaran adalah ketika shalat jumat (itu pun kalo tidak ketiduran .. he he). Oiya, hari jumat itu adalah hari dimana mulai bekerja karena besok libur. Saya suka ketika menyadari “rambatan” fikiran, dimana satu fikiran muncul karena fikiran yang lain dan memicu fikiran berikutnya. Terkadang senyum-senyum sendiri juga melihat rambatan fikiran itu karena memang lucu dan terkadang “konyol”. Tetapi di situlah ide-ide saya muncul, baik ide yang biasa-biasa saja hingga ide yang agak gila, misalnya pindah jurusan kuliah yang sangat ekstreem.

Sekian pandangan saya, dan sepertinya tidak hanya mewakili golongan darah A saja, karena tidak hanya A kan yang sering setres. Cuma karena mungkin orang bergolongan darah A sering setres maka bisa dibilang berpengalaman .. (walah, setres kok berpengalaman).

Grafik Perbandingan Menggunakan Legend pada ArcGIS

Postingan yang lalu telah dibahas cara membuat grafik perbandingan dengan doughnut. Jika tidak jelas hasilnya maka fungsi dari perbandingan jadi hilang. Oleh karena itu dicari cara bagaimana membuat perbandingan yang jelas bagi pembaca. Kejelasan bagi pembaca merupakan salah satu aspek penting dari suatu publikasi. Tampilan akan kita coba menjadi bentuk di bawah ini dengan kotak berwarna menggambarkan jenis lahan (kelas tertentu dari land use).

Perhatikan gambar di atas. Pembaca akan dengan mudah melihat perbandingan kelas-kelas minoritas (prosentasi yang satu digit). Bagaimana caranya? Mudah saja, gunakan saja “legend”. Tidak perlu menggunakan insert grafik seperti postingan yang lalu.

Pertama-tama gunakan legend dengan format kotak dan di sebelah kanan prosentase lahan. Kemudian untuk yang sebelah kiri, mudah saja, pilih dengan men-checklist pembacaan dari kanan ke kiri (right to left) pada editing “legend”.

Oiya, sebelumnya karena membaca dari kanan ke kiri, tulisan 0.175 % harus diset menjadi % 0.175 supaya tidak ikut terbalik. Hasilnya sebagai berikut.

Langkah terakhir adalah menyatukan dua legend tersebut (kotak kelas-nya). Di sini kejelian mata dibutuhkan agar benar-benar nempel. Cara ini agak selebor. Seperti kata Gus Dur .. “Gitu aja kok repot”, yang penting jadi, he he.

Membuat Peta dengan ArcGIS dari Image IDRISI

Untuk membuat peta, ArcGIS memiliki keunggulan dibanding dengan IDRISI yang biasa digunakan untuk pemodelan dan pemrosesan citra satelit. Akan tetapi banyak dijumpai masalah-masalah ketika mengekspor gambar Idrisi ke ArcGIS. Berikut trik sederhana untuk menggambar image dari Idrisi dengan ArcGIS.

Langkah pertama adalah membuat folder kerja ArcGIS dan mengetahui letak image Idrisi yang akan dibuat peta-nya. Drag file teresebut dari ‘Catalog’ ke lembar kerja.

Salah satu hal yang membuat Idrisi sedikit ribet adalah adanya ‘background’ berwarna merah. Untungnya tanpa memanggil ArcToolbox ‘Spatial Analysis’ dapat dihilangkan, yaitu dengan Simbology yang ada di properties.

Atau dobel klik saja layernya, kemudian masuk ke tab ‘Simbology’ untuk menghilangkan ‘Background’ nya yang tidak ingin kita gambar di Layout ArcGIS (lihat post sebelumnya tentang layout) nantinya. Atur juga warna indikator di peta yang akan digunakan untuk ‘Legend’ nantinya.

Masuk ke menu “layout view” untuk membuat peta. Tambahkan “legend” dan pendukung peta lainnya hingga dihasilkan peta yang siap dicetak/digunakan. Semoga bermanfaat.

Memunculkan Hybernate pada Windows 10

Fasilitas hybernate merupakan salah satu fasilitas favorit saya ketika menggunakan Windows 7 karena membuat laptop ‘wake-up’ dengan cepat tanpa proses ‘booting’, terutama ketika banyak yang perlu di-start up oleh Windows. Tetapi ketika beralih ke Windows 10 ternyata tidak nampak lagi fasilitas hybernate di versi tersebut. Ternyata fasilitas hybernate pada Windows 10 muncul otomatis ketika laptop sleep dalam kurun waktu tertentu. Repotnya laptop saya ketika hybernate otomatis (karena sleep dlm waktu lama) tidak mau wake-up lagi, tidak seperti waktu hybernate dengan caraq manual. Berbeda dengan sleep, hybernate tidak mengkonsumsi daya dari baterai, jadi lebih hemat dan aman. Karena beberapa kali gagal ‘wakeup’ di laptop saya (berbeda dengan tablet Windows saya yang tidak pernah gagal wakeup) akhirnya saya cari-cari cara memunculkan kembali fasilitas hybernate favorit saya di Windows 7 dulu. Oiya, sebagai informasi, ketika sleep laptop siap digunakan kembali (mirip handphone ketika tidak dipakai) dgn ciri-ciri indikator power kelap-kelip dan masih mengkonsumsi baterai, sementara hybernate laptop seperti shutdown tetapi ketika dihidupkan, kembali ke posisi terakhir digunakan (program-progam dan lain-lainnya).

Windows 10 ternyata masih memiliki fasilitas hybernate sebagai fasilitas tambahan, dan dapat dimunculkan kembali dengan meng-enable-nya. Caranya sederhana dan hanya beberapa langkah saja. Masuk ke Power & sleep setting di ‘searching windows’.

Di bagia bawah ‘Related Setting’ tekan Additional power settings untuk memunculkan jendela ‘Customize power plan’ yang biasa digunakan untuk mengatur kapan sleep dan kapan layar diredupkan ketika laptop didiamkan beberapa lama. Pilih Choose what the power button does di kiri atas jendela itu.

Dan ternyata di sini secara default, Windows 10 men-disable fasilitas hybernate. Kita tinggal mencentang/checlist tombol hyebernate. Tapi ternyata tidak bisa di-klik karena kita harus menekan terlebih dahulu Change setting that are currently unavailable.

Setelah itu checklist hybernate aktif dan tinggal dicentang saja. Cek dengan masuk ke menu power mirip ketika men-shut down. Pastikan tombol hybernate ada.

Mencetak/Print dalam Bentuk Image (JPG/BMP/TIFF) untuk Jurnal Ilmiah

Dalam memasukan gambar/grafik ke sebuah tulisan (skripsi/thesis, jurnal, dan sejenisnya) terkadang kita menggunakan print scrint yang tersedia di sistem operasi yang kita gunakan. Hasilnya memang seperti kondisi sesungguhnya/ril. Tetapi jurnal membutuhkan presentasi yang mudah dipahami, sederhana, dan tidak boros halaman. Masalah tidak sesuai dengan sesungguhnya tidak jadi persoalan karena untuk pembuktian itu masalah yang berbeda. Misalnya teman saya yang merancang robot, untuk submit ke jurnal mechantronic, reviewer atau editor terkadang meminta video ketika robot melakukan aktivitas tertentu yang ditulis dalam jurnal. Tentu saja video itu tidak mungkin ada di jurnal, mungkin link-nya saja, atau bahkan tidak sama sekali dan hanya dikonsumsi oleh reviewer sekedar untuk meyakinkan keputusan menerima atau menolak jurnalnya.

Gambar yang ditampilkan dalam jurnal biasanya diminta dalam resolusi tinggi oleh pengelola jurnal, seperti jurnal-jurnal Elsevier misalnya. Sehingga dibutuhkan konversi image ke resolusi tertentu. Biasanya aplikasi-aplikasi tertentu menyediakan fasilitas tersebut, misalnya ArcGIS dengan menu Export to. Repotnya jika aplikasi tersebut tidak memiliki fasilitas tersebut, hanya ada tombol Print saja.

Biasanya tersedia print dalam bentuk PDF yang banyak dijumpai di pasaran. Terkadang pula ada yang menyediakan sekaligus convert ke Image, salah satunya saya gunakan yaitu Pdf creator dan Pdf architect yang berbayar. Ketika berganti laptop, terpaksa mencari aplikasi-aplikasi sejenis. Jika hanya butuh print ke image, banyak aplikasi yang tersedia, salah satunya adalah Print to Jpg yang ada di link ini.. Sekitar 18.5 Mb file untuk download sebelum diinstal.

Kita coba mencetak ke image kasus grafik pada postingan yang lalu. Tekan icon printer untuk mencetak grafik yang hasilnya lebih baik dibanding dengan copy-paste.

Ada dua pilihan yang tersedia dari software imageprint yaitu ke JPG dan ke TIFF. Silahkan pilih yang sesuai.

Yang terpenting dalam mencetak adalah menentukan resolusi dari hasil cetak. Usahakan mencetak dengan resolusi setinggi mungkin (biasanya dalam DPI). Tekan Properties di samping nama printer dan pilih resolusi yang tertinggi. Jika sudah tentukan lokasi hasil print-outnya (JPG) setelah menekan tombol OK. Anda bisa juga menambahkan “watermark” di picture Anda.

Grafik Curve Fitting pada Matlab

Banyak tools untuk membuat grafik, salah satunya adalah Microsoft Excel. Berikut ini contoh bagaimana suatu data dikonversi menjadi grafik berbentuk interpolasi. Cara mudahnya sebagai berikut: setelah men-sort data isian, pilih insert dan pilih grafik yang sesuai, dalam hal ini scatter dengan line.

Grafik itu menurut saya sudah baik, akan tetapi untuk dipublikasi dalam suatu jurnal ada baiknya membuat dengan format lain, salah satunya adalah Matlab. Fungsi yang digunakan adalah fungsi fit dilanjutkan dengan plot (lihat subplot untuk membuat lebih dari satu grafik pada postingan yang lalu). Buka matlab dan pindahkan tahun dan nilai ke workspace. Metode interpolasi yang cocok seperti di excel ternyata ‘pchipinterp’.

  • >> tahun=[2000;2010;2015;2017];
  • >> nilai=[2;5;9;4];
  • >> curvefit=fit(tahun,nilai,’pchipinterp’)
  • curvefit =
  • Shape-preserving (pchip) interpolant:
  • curvefit(x) = piecewise polynomial computed from p
  • Coefficients:
  • p = coefficient structure

Pastikan curvefit (bisa dengan nama lain) berhasil dibentuk. Lanjutkan dengan plotting dengan fungsi plot (lihat help untuk lebih jelasnya bagaimana menggunakan fungsi ini):

  • >> plot(tahun,nilai,’*’);
  • >> hold
  • Current plot held
  • >> plot(curvefit)

Hasilnya dapat dilihat pada gambar berikut.

Oiya, jangan printscreen gambar di atas untuk jurnal, lebih baik gunakan versi printing supaya hasilnya standar seperti di bawah ini (tekan simbol printer di menu). Semoga bermanfaat.

Jadilah Pelajar yang Tekun dan Tangguh

Beberapa peneliti di bidang psikologi sepertinya terus meneliti faktor-faktor yang membuat seorang pelajar sukses dan yang lainnya gagal. Beberapa pakar, seperti Goldman, mencetuskan teorinya yaitu emotional quotient (EQ)/emotional intelligence (EI), yang melawan teori sebelumnya bahwa Intelligence Quotient (IQ) menentukan sukses tidaknya seseorang. Masalah muncul karena EQ sendiri sangat banyak, dan mana salah satunya yang menentukan.

Seorang rekan facebook men-share video dari Ted Talks bahwa salah satu faktor yang menentukan itu adalah ‘Grit’, yang menurut si pembicara, Angela, adalah ketekunan dan hasrat yang tinggi untuk mencapai tujuan jangka panjang. Jangka panjang di sini adalah cita-cita yang ingin dicapai, bukan hanya besok, bulan depan, atau tahun depan. Silahkan lihat videonya:

Terus terang, saya sendiri orang dengan IQ yang seadanya. Bahkan guru konseling di SMA dulu sempat memanggil saya terkait hasil psikotes yang ‘wah’, bukan ‘WAH’. Semalaman saya berfikir dan akhirnya menolak panggilan si guru konseling itu, khawatir saya disarankan hanya bisa berkarir jadi supir ‘grab’ atau ‘gojek’, haha (tentu saja tidak, menurut saya mungkin menyemangati .. atau minimal menghibur). Ditambah pula beberapa hari sebelumnya sempat membaca buku ‘sarjana ideot’, yang artinya seorang dengan IQ minim tetapi bisa jadi sarjana (S1). Prinsip saya waktu itu, jika teman-teman yang cerdas memahami satu jam, saya mungkin perlu sehari. Jika mereka satu hari, mungkin saya perlu seminggu, yang penting tetap fokus ke tujuan saya. Bahkan guru ‘kimia’ sempat menegur saya, “kamu ikut ronda (siskamling)?”, lantaran mata saya yang merah karena begadang akibat penasaran mempelajari serangkaian reaksi kimia, waktu itu tentang asam, basa dan garam (yang saat ini harganya naik, hihi).

Untuk yang sedang belajar, tetap fokus ke ‘long term goal’ dan jangan tergoda dengan jangka pendek yang kadang menggoda. Silahkan simak link-nya, semoga bermanfaat. Atau lihat videonya ketika berbicara di Google (hmm .. wanita yang smart dan cantik … hallah):

 

Mereview Jurnal Untuk Pertama Kali

Dulu pernah ada tawaran mereview jurnal, tetapi saya menolaknya karena belum ‘PD’, percaya diri, mengingat belum pernah mempublikasikan tulisan di jurnal internasional, hanya beberapa seminar internasional. Tentu saja ditambah kendala bahasa, bahasa Inggris. Setelah lelah menulis dan lelah menjawab pertanyaan dari tiga reviewer ketika submit ke jurnal dan berhasil dipublikasi, barulah bersedia menjadi reviewer. Untungnya yang menawari untuk jadi reviewer adalah jurnal nasional, sehingga bisa bekerja cepat. Pengalaman bagaimana para reviewer jurnal berimpak di atas satu itu mencecar saya, tentu saja tidak serta merta saya terapkan di jurnal nasional. Namun tetap harus direvisi agar hasil publikasinya bagus dan banyak disitasi pembaca/periset lainnya. Dan yang terpenting adalah hutang budi telah direview olah orang lain dan sekarang saatnya membayar hutang itu, dan untungnya pengelola jurnal itu adalah sebuah yayasan nirlaba.

Ketika log-in sebagari reviewer, kaget juga ternyata menggunakan aplikasi Open Journal System (OJS) yang sedang giat untuk dijalankan pada pengelola jurnal di Indonesia oleh Ristek-dikti. Perkembangan aplikasi ini cukup pesat, bukan sekedar situs untuk mendokumentasikan artikel jurnal melainkan seluruh tahapan publikasi. Sebaiknya semua pengelola jurnal lokal mengikuti aturan standar publikasi jurnal yaitu peer-reviewer. Editornya juga sudah menggunakan prinsip blind-reviewing dimana reviewer tidak bisa melihat siapa yang sedang di-review.

Barusan saya menonton film berjudul “Genius”. Ceritanya tentang pengarang yang bersahabat dengan penerbit. Bagaimana mereka mendiskusikan judul, penyuntingan dan aspek lainnya yang cukup menarik seperti masalah keharmonisan rumah tangga, ekonomi, dll. Seorang penulis harus tetap dituntut untuk memperhatikan kehidupannya. Jadi ingat komunikasi dengan penerbit waktu publikasi buku. Oiya … juga dengan pembacanya. Berikut trailler film-nya:

Mengatasi Laptop Panas dengan Vacum Cleaner

Berbeda dengan laptop Lenovo yang sedang saya gunakan ini yang tanpa kipas prosesor, laptop lama saya, Toshiba, menggunakan kipas untuk mendinginkan proseor i5-nya. Masalah yang muncul adalah debu yang ikut terbawa ketika proses pendinginan terjadi. Jika banyak menumpuk dan menimbulkan kerak, maka proses pendinginan tidak efektif. Prosesor pun akan mati jika suhu melampaui ambang batas (mendekati 1000C). Tentu saja hal ini sangat mengganggu.

Untuk membongkar laptop butuh keahlian dan peralatan yang lengkap. Resikonya tentu saja ‘bisa bongkar tapi tidak bisa pasang’. Repotnya lagi, bongkar saja sulit. Biasanya toko servis laptop menyediakan jasa membersihkan kipas laptop dengan biaya seratusan ribu rupiah. Lumayan mahal. Banyak situs di youtube yang menawarkan cara-cara membersihkan bagian dalam laptop, dari dengan sedotan, hingga bongkar total. Di sini saya menyarankan menggunakan vacum cleaner yang sangat masuk akal.

Saya mencoba dengan cara ini. Lumayan, dengan cpu thermometer suhu menunjukan lebih dingin dibanding sebelumnya. Ketika disedot pertama kali muncul kotoran seperti kapas yang tersedot vacum cleaner. Namun karena sudah hampir 4 tahun, kemungkinan ada kerak di dalam yang sulit tersedot keluar dan harus dibersihkan dengan pembersih khusus. Cara ini sepertinya efektif untuk pembersihan yang dilakukan secara rutin sebelum kotoran menumpuk dan menimbulkan kerak.

Grafik Perbandingan dengan Doughnut

Banyak cara untuk melihat perbandingan proporsi suatu data. Salah satunya adalah dengan membuat grafik. Pada postingan ini grafik yang akan coba buat adalah berbentuk doughnut. Dinamakan ‘doughnut’ karena memang bentuknya seperti kue donat yang bolong ditengah. Ada bentuk lainnya yang tidak bolong, dan dinamakan ‘pie’ karena seperti kue ‘pie’. Oke .. stop dulu ngomongin makanan, kita mulai prakteknya dengan Microsoft Excel.

Diambil dari (Bhatti et al., 2015) kita akan coba membuat gambar yang di tengah (grafik doughnut). Misalnya kita memiliki data berikut ini:

Kolom pertama menggambarkan tahun sementara kolom yang lainnya adalah luas (hectares) kelas lahan (berturut-turut pertanian, bare, builtup, tanaman dan air). Pada excel tekan insert – Chart dan pilih doughnut yang letaknya di bagian bawah. Agar lebih cepat pembuatan doughnut-nya sorot data selain tahun, karena yang akan ada di grafik adalah datanya saja. Tahun bisa kita tambahkan nanti untuk legend.

Jika pada postingan yang lalu tidak muncul pilihan jenis doughnut-nya karena compatibility mode maka sekarang muncul karena versi *.xlsx (bukan *.xls).

Sepertinya harus dengan metode grafik yang lain karena prosentase terlalu didominasi oleh hijau (94%) sementara yang lainnya sulit dikenali karena terlalu kecil. Oke, saya coba cari model grafik lainnya.

Ref

Bhatti, S. S. et al. (2015) ‘A multi-scale modeling approach for simulating urbanization in a metropolitan region’, Habitat International. Elsevier Ltd, 50, pp. 354–365. doi: 10.1016/j.habitatint.2015.09.005.

 

Membersihkan Layar dan Variabel Pada Command Window Matlab

Command window pada Matlab adalah jendela utama. Jendela ini sudah ada sejak kemunculan Matlab pertama kali di tahun 80-an.

(Dari berbagai sumber)

Ketika sampai bawah dan tulisan yang di atasnya mengganggu, untuk kenyamanan dapat dibersihkan dengan instruksi tertentu. Dua instruksi yang penting tapi terkadang belum diketahui oleh pengguna awal Matlab antara lain adalah clc dan clear.

1. CLC

Perintah/instruksi ini untuk membersihkan layar, mirip dengan cls pada comman prompt window (cmd). Variabel yang ada di workspace tidak ikut ‘bersih’ dengan instruksi ini.

2. CLEAR

Perintah/instruksi ini bermaksud membersihkan variabel yang ada diworkspace. Untuk menguji silahkan masukan satu variabel di matlab, misal >>a=2. Tampak di workspace muncul variabel ‘a’ dengan informasi jenis datanya di kolom berikutnya. Ketika ditulis clear pada command window maka variabel ‘a’ tidak ada lagi di workspace. Selain dengan clear workspace juga bersih ketika Matlab dimatikan (off) baik sengaja maupun karena kegagalan sistem (error).

Postingan ini sederhana tetapi uniknya saya mengerti instruksi “clc” ketika kuliah AI-Neuro Fuzzy. Rekan kuliah dari Thailand memberitahu instruksi tersebut, padahal saya belajar Matlab otodidak sejak 1999 setelah belajar Fortran (artinya 14 tahun .. he he). Beruntunglah rekan-rekan yang saat ini sudah ada google, youtube, blog, dan sumber-sumber informasi lainnya.

Membuat Chart pada Layout ArcGIS

Postingan yang lalu telah dibahas bagaimana membuat chart dinamis. Tetapi sepertinya kurang saya minati karena harus mengunduh plug-in tambahan. Kali ini kita bahas bagaimana menyisipkan grafik tentang peta yang kita buat dengan Insert Object pada ArcGIS. Buka ArcGIS dan siapkan peta, misalnya peta tentang klasifikasi lahan. Buka jendela Layout View yang terletak di bagian bawah IDE ArcGIS.

Insert Object dapat diakses lewat menu Insert Object. Setelah itu tinggal pilih tipe object yang akan digunakan, di sini kita ambil contoh Microsoft Graph Chart.

Secara default, akan dipersiapkan tabel batang. Untuk bentuk yang lain dapat dipilih, misalnya grafik donut.

Cara menggunakannya mudah karena disediakan template data yang bisa ditambah atau dikurangi dan diisi sesuai dengan kebutuhan.

Perhatikan bagian East yang terletak bagian dalam chart. Ketika diisi 50 seluruhnya (warna biru, hijau, coklat, dan krem) tampak proporsinya masing-masing 25%. Tidak perlu menekan tombol apapun, cukup tutup jendela editing, Chart tersebut sudah ter-insert di Layout View kita. Selamat mencoba.

Update: 26/07/17

Selain memilih Microsoft Graph Chart, dapat juga dengan memilih Microsoft Excel Chart. Hanya saja tidak bias menggunakan pilihan optimal krn compatibility mode. Sebaiknya gunakan Microsoft Excel dulu lalu chart diimpor ke ArcGIS dengan insert object.

compatibility problems chart.jpg