Problem Background Error Saat Prediksi dengan LCM IDRISI

Land Change Modeller (LCM) merupakan fasilitas yang ada di IDRISI untuk memodelkan perubahan lahan. Lahan di masa yang akan datang dengan data yang ada sebelumnya dapat diperlihatkan. Salah satu masalah yang sering muncul adalah adanya ketidak akuratan pada background seperti di bawah ini. Tetapi terkadang hasil proyeksinya benar. Postingan berikut salah satu cara untuk memperbaikinya. Mungkin ada yang punya cara lain silahkan share di komentar.

Untuk memperbaikinya selama ini saya menggunakan fungsi OVERLAY yang ada di IDRISI. Caranya adalah menjumlahkan image yang error tersebut dengan study area sesunggunya (gambar sebelah kanan). Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Reclassify Projected Land Cover

Langkah ini adalah menambah kategori hasil prediksi untuk menyimpan hasil penjumlahan/overlay dengan study area. Perhatikan gambar hasil reclassify di sebelah kanan. Kategori 1 dan 2 adalah background (=1), kategori 3 dan 4 adalah agriculture (=2), dan seterusnya.

Fungsinya adalah menampung hasi overlay. Jika Built-up yang dengan kategori baru =7 dijumlahkan dengan background study area (=0), hasilnya adalah 7 maka akan dikonversikan menjadi background. Hasilnya adalah nanti diharapkan built-up yang menjadi background (sumber masalah) tidak ada lagi.

2. Overlay dengan Study Area

Fungsi overlay dapat diakses di “menu” – “GIS analysis” – “Mathematical Operation” – “Overlay”. Masukan dua input yaitu study area dan hasil reclassify di atas. Ganti nama dengan yang baru, di sini saya hanya menambahkan “Update” ke berapa di akhir nama image.

3. Mengembalikan Kategori ke Kondisi Awal dengan Reclassify

Dengan mengembalikan kategori yang sesuai diperoleh hasil akhir yang tidak ada lagi background yang error. Perhatikan di sini kategori 7 harus dikonversi menjadi background.

Perhatikan bagian background (atas) sudah diperbaiki. Sekian, semoga bermanfaat.

Create a Constraint in IDRISI

A constraint is an image that showing allowable and non-allowable locations for modelling. It represents zero for non-allowable and one for allowable. We can add two for incentive, the better location. For example we have a constraint that must be integrated for other constraint, e.g. vegetation. It means that the model do not allow to convert a vegetation into other land cover.

Use Mathematical operation in “GIS analysis” menu and chose “Overlay”. Fill with the two constraint images above and checklist the “First +Second” button in “Overlay option”.

After this operation, we have to convert two into zero, since the vegetation is a constraint. Use “Reclass” to convert it.

The last row will convert two into zero. The final constraint was created as a combination of two constraints (figure below).

Try to practice mathematical operation since it is very useful for image creation, especially in creating Drivers of Land change modeller (LCM). This video shows the step to integrate the two images.

Menampilkan PDF di WordPress

Ketika kemunculan istilah multimedia di tahun 90-an, beberapa aplikasi yang tidak berdasarkan teknologi multimedia mulai tersingkir, salah satunya adalah media yang berbasis teks. Teknologi multimedia berbasiskan kombinasi dari beragam media selain tulisan antara lain: suara, gambar, dan video. Akibatnya aplikasi yang hanya berdasarkan tulisan mulai tertinggal. Akan tetapi ternyata teks masih menjadi andalan kebanyakan orang karena sifatnya yang mudah, ringan, dan masih digunakan search engine untuk mencari informasi.

Blog yang sempat booming, dengan istilah blogger yang dipelopori oleh blogspot, mulai ditinggal peminatnya yang beralih ke sosial media (facebook, twitter, instagram, dan sejenisnya). Ditambah lagi beberapa penyedia aplikasi robot yang agak curang, hanya berorientasi jumlah yang akses, menyontek, dan banyak juga yang berkonten pornografi. Namun demikian banyak juga blogger yang setia mengupdate blog-nya karena memang bertujuan sharing berbagai macam hal. Seperti halnya film dan musik yang rawan dibajak, tetap saja eksis karena parasit pun akan mati jika inang-nya mati. Ujung-ujungnya karya jalan terus pembajak pun jalan terus, tetapi jangan khawatir, karma tetap bekerja (bagi yang percaya). Yang penting niatnya tulus, untuk berbagi ilmu dan informasi penting.

Saat ini vlog sedang mengalami pertumbuhan dan tren yang meningkat akibat berkembangnya teknologi penyimpanan data sehingga kelemahan video yang membutuhkan storage yang besar dapat diatasi. Vlog memang mudah, jelas, dan tidak perlu mengetik panjang lebar. Dengan modal kamera, teknik penyampaian yang bagus, disertai dengan editing, dapat menghasilkan video yang menarik. Namun sifatnya yang serial mengharuskan pemirsa runut mengikuti alurnya, berbeda dengan tulisan yang bisa serial bisa juga random akses yang hanya mengakses info khusus yang dibutuhkan saja. Dengan mengintegrasikan tulisan dan video diharapkan mampu meningkatkan efektivitas blog. Silahkan kunjungi postingan terdahulu bagaimana meng-insert video dari youtube di blog.

Insert PDF dan SLIDE

Tidak semua yang mencari informasi gemar membaca. Terkadang mereka hanya membutuhkan informasi tertentu saja. Salah satu jenis presentasi yang cocok adalah slide, yang dimotori oleh Microsoft Power point. Untuk itulah maka sangat baik jika konten slide yang sudah diformat dalam bentuk PDF diintegrasikan dalam tulisan kita di blog. Beberapa informasi legal tertentu (undang-undang, pengumuman, daftar/list, dan lain-lain) mungkin perlu ditampilkan dalam bentuk PDF disertai viewer yang terintegrasi di blog. Beberapa metode berikut ini dapat dicoba.

1. Dengan Plugin WordPress

Terus terang saya belum mencoba metode ini. Beberapa tutorial di Youtube sudah banyak beredar. Kebanyakan plugin yang tersedia berbayar.

2. Dengan Slideshare

Slideshare merupakan aplikasi web yang menyediakan fasilitas untuk sharing slide. Bukan hanya slide, ternyata PDF juga dapat digunakan. Slideshare merupakan aplikasi pendukung situs pertemanan linkedin. Masuk ke situs resmi slide share, dan Anda upload PDF atau slide yang akan diinsert pada blog. Atau lihat video tutorial ini.

Berikut adalah tampilan Pdf viewer dari Slideshare. Cocok untuk Slide karena ada tombol “next” untuk pindah slide.

3. Dengan aplikasi penyimpan (onedrive)

Aplikasi penyimpan, misalnya one drive, selain memiliki fasilitas penyimpanan, sharing file, juga memiliki fasilitas sharing file PDF dengan fasilitas embeded viewer. Pembaca akan membaca file PDF seolah-olah membuka pdf viewer dalam blog.

Berikut tampilan Pdf viewer bawaan One Drive. Bentuknya kontinyu, cocok untuk file bacaan karena tersambung terus. Tetapi untuk slide sepertinya Slideshare masih lebih baik.

4. Dengan Google docs dan lain-lain

Google docs juga memiliki fasilitas ini dan juga aplikasi-aplikasi lain yang banyak tutorialnya di internet.

Proses Seleksi Pendanaan Penelitian RISTEK-DIKTI

Salah satu aspek Tri-darma pendidikan tinggi yang sedang digenjot oleh kementerian Riset-DIKTI adalah bidang penelitian. Hal ini karena peringkat publikasi peneliti di Indonesia masih tertinggal oleh negara tetangga kita di ASEAN. Padahal negara Indonesia memiliki jumlah dosen yang jauh di atas negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand (lihat postingan yang lalu). Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan memberikan hibah/bantuan berupa pendanaan terhadap peneliti.

Bantuan yang diberikan diharapkan meningkatkan kinerja seorang peneliti sehingga mampu melakukan publikasi di jurnal internasional. Logis juga menurut saya, mengingat jurnal internasional tidak sembarangan menerima publikasi ilmiah seseorang. Jurnal lokal kita sendiri sepertinya hanya digunakan untuk “syarat” saja, entah itu syarat naik pangkat atau syarat laporan serdos. Tulisan yang hanya “cerita” sepertinya masih bisa dipublikasikan. Terkadang materi perkuliahan coba dipublikasikan pula di jurnal lokal, satu hal yang tidak mungkin publish di jurnal internasional yang memang menuntut suatu kebaruan hasil penelitian serius. Dan logis pula jika tidak ada dana, seorang dosen tidak mungkin mengeluarkan kocek sendiri untuk melakukan riset. Kalaupun ada dana dari kampus tempat bekerjanya, biasanya masih jauh dari cukup. Postingan berikut mencoba memberi gambaran bagaimana proses suatu usul penelitian dari proses pengajuan hingga lolos.

1. Membuka situs SIMLITABMAS

Saat ini, khusus dosen pemegang nomor induk dosen (NIDN) memiliki akses ke situs SIMLITABMAS Dikti. Informasi mengenai kapan usul penelitian dibuka, kapan jadwal presentasi, dan hingga pengumuman yang lolos diunggah di situs ini.

2. Mengunggah Usul Penelitian

Usul/proposal penelitian dapat diunggah hanya pada waktu-waktu tertentu. Ketika login seorang dosen memiliki hak akses terhadap skim penelitian mana saja yang bisa (tertulis dengan warna biru) dan mana yang tidak bisa (berwarna merah). Yang menarik adalah ketika kita ingin memasukan satu anggota, maka anggota yang dituju harus menekan tombol kesediaan yang muncul otomatis ketika seseorang ingin menjadikannya anggota tim. Batas berapa jumlah menjadi ketua dan anggota juga tersedia di situs tersebut. Pemilik h-indeks yang lebih besar atau sama dengan dua memiliki hak untuk mengepalai/menjadi ketua dua usul penelitian.

3. Mengikuti Seminar Proposal

Selain Penelitian Dosen Pemula (PDP), pengusul diwajibkan mengikuti seminar proposal yang diagendakan pada waktu-waktu tertentu. Tetap diumumkannya di website SIMLITABMAS yang harus dipantau terus, terutama oleh staf LPPM kampus. Biasanya jadwalnya mendadak sehingga banyak yang tidak tahu atau tidak cukup waktu untuk menghadirinya. Calon penerima hibah yang dipanggil untuk seminar proposal adalah yang memenuhi syarat desk evaluation dari usul yang diunggah di SIMLITABMAS.

4. Pengumuman Pemenang Hibah

Pemenang hibah hasil desk evaluation dan seminar proposal diumumkan setelah beberapa bulan, cukup lama juga. Bahkan ada pengusul yang lolos tetapi orangnya sudah dipanggil Allah. Untuk tahun 2016 yang lalu, seminar proposal pada bulan Juli dan pengumumannya bulan Januari 2017. Cukup lama. Apakah sudah cukup? Ternyata belum.

5. Verifikasi Pemenang Hibah

Ini merupakan salah satu fase krusial yang baru muncul di tahun ini. Jika dulu, pemenang hibah sudah dipastikan akan didanai ternyata saat ini belum tentu. Adanya Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang ikut andil mengaudit Ristek-DIKTI membuat beberapa hal berubah dan harus diperbaiki, jika tidak dapat diperbaiki maka pemenang hibah dibatalkan. Yang tidak dapat diperbaiki antara lain pemenang hibah yang sudah dua kali menerima PDP tetapi menang untuk yang ketiga kalinya sehingga yang ketiga dibatalkan karena syaratnya maksimal dua kali menang PDP. Selain itu hibah doktoral juga akan dibatalkan jika pengusul sudah lulus, hal yang tidak terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Hanya kasus peneliti yang studi lanjut yang sedikit diampuni, yaitu anggota (yang memenuhi syarat) diperbolehkan naik menjadi ketua. Memang LPPM harusnya mampu mendeteksi pengusul-pengusul dari lingkungannya apakah memenuhi syarat atau tidak sebab jika kurang maksimal dalam mensortir usulan yang masuk, dapat menimbulkan kekecewaan baik dari pihak pengusul maupun kampus itu sendiri. Berikut surat dikti mengenai hal itu.

6. Penandatanganan Kontrak

Penandatanganan kontrak dilakukan oleh pihak LPPM dengan pihak kopertis setelah informasi dari Ristek-DIKTI mengenai revisi pemenang hibah muncul. Bahkan sampai informasi jadwal penandatanganan pun, belum diketahui siapa saja yang resmi memperoleh pendanaan hibah dan siapa saja yang dibatalkan. Saat penandatanganan baru diketahui siapa saja yang menang dan siapa saja yang gugur, disertai dengan jumlah dana yang diterima oleh masing-masing peneliti.

7. Revisi Pemenang Hibah Penelitian

Beberapa saat setelah penandatanganan kontrak, SIMLITABMAS mempublikasikan surat resmi penerima hibah penelitian yang sudah ditandatangani kontraknya. Tinggal pihak LPPM melakukan kontrak penelitian dengan peneliti di lingkungannya yang lolos untuk didanai. Berikut pemenang resmi hibah penelitian 2017 dari SIMLITABMAS setelah melalui fase-fase yang mendebarkan, selamat meneliti. Yang belum menang, coba lagi untuk yang 2018. Oiya, judul-judulnya bisa dijadikan rujukan judul yang baik lho ..

Managing Legend in IDRISI

Legend is information about symbols (colour, shape, line type, etc.) in the map. It helps reader to understand the map. In LCM, it also helps the system to compare two images. The picture below shows the error message in LCM IDRISI taiga when adding road image. There is no legend in the basis roads layer. How to add a legend to our map?

Even we use IDRISI selva that having a “harmonize” function to guide users to match the images, basis roads layer must be edited with a legend in selva as well as taiga version. Understanding how to match two images manually is very useful for the user. Click the image to be edited, e.g. road image, to add a legend.

In “metadata” click the Categories to fill the legend. Fill the category and code that similar to other images. Chose “copy from” for faster filling without typing the code and category. After filling the categories, when we open this image, the legend is showed beside (upper right) the map.

This is simple yet very useful.

Mempelajari Hal-hal Baru

Dunia selalu berubah, dan hanya satu yang tidak berubah yaitu perubahan itu sendiri. Jika tidak mengikuti perubahan maka pasti akan tertinggal. Beberapa perusahaan papan atas banyak yang mengalami kemunduran bahkan kehancuran karena kurang mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di era teknologi informasi yang cepat saat ini. Padahal beberapa tahun yang lalu perusahaan itu menguasai dunia. Dalam bukunya disruption, Prof. Renald Kasali membahas hal tersebut dan ada hubungannya dengan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini (lihat ulasannya di kompas). Sebenarnya bukan kita yang tidak maju, melainkan orang lain/pesaing jauh lebih pesat majunya. Henry David Thoreau berkata: Things do not change; we change.

Ketika lulus kuliah dan gagal melamar kerja di perusahaan-perusahaan besar, saya terpaksa banting stir menjadi dosen. Memang tidak dapat dipungkiri, karir dosen di jaman saya merupakan pilihan kedua (kalau bukan yang terakhir) dibanding bekerja di perusahaan-perusahaan swasta besar atau menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tetapi saat ini sudah banyak mahasiswa yang berkeinginan menjadi dosen karena memang kesejahteraannya mulai diperhatikan negara (tunjangan serdos, riset, beasiswa, dan sebagainya) dan tentu saja harus berniat mencerdaskan bangsa.

Waktu itu di sekitar tahun 2002 teknologi masih belum terlalu berkembang seperti saat ini. Google pun masih meraba-raba arah perkembangannya. Salah satu MEDSOS yang saya ikuti baru “friendster”, itu pun pasif mengingat akses internet yang masih sulit saat itu. Dan menjadi dosen hanya butuh membaca buku pelajaran yang pernah dipelajari waktu kuliah dulu. Siswa pun sangat mengandalkan ilmu dan informasi yang kita miliki.

Begitu perkembangan teknologi informasi mulai terlihat, google yang waktu itu hanya berupa pencarian kata kini sudah menjadi andalan dalam menggali informasi yang dibutuhkan. Bagi dosen hal ini bisa menguntungkan tetapi bisa menjadi bumerang, terutama dosen-dosen yang kurang update (KUDET). Sialnya lagi saya mengajar di bidang informatika yang mengharuskan update terus, terutama teknologi-teknologi terkini.

Siswa SD pun bisa melakukan searching di google jika ingin mengetahui informasi tertentu yang bahkan guru-nya pun bisa jadi belum mengetahuinya. Seringkali saya diminta anak saya mencari informasi di google untuk PR dari guru di sekolahnya. Bagus-bagus saja menurut saya, karena bukan dari hasil pencarian/jawaban yang terpenting melainkan “keingintahuan” sebagai modal untuk mempelajari sesuatu.

Salah satu tokoh yang merupakan ikon dari kejeniusan adalah Prof. Albert Einstein. Einstein ketika sekolah kerap menjengkelkan guru/dosen karena keingintahuannya yang tinggi. Bahkan beberapa profesor menolak membimbing/menjadikan asisten karena sifatnya itu. Tetapi saat ini jangan khawatir, karena literatur-literatur banyak beredar di internet, dari buku, jurnal, blog, dan lain sebagainya sehingga tidak perlu banyak bertanya, tinggal searching saja. Mungkin hal-hal berikut ini yang sering saya lakukan bisa menjadi pertimbangan pembaca sekalian. Oiya, silahkan komentar di bawah jika kurang setuju atau ada hal-hal lain yang bisa ditiru.

Menguasai bahasa Inggris. Bahasa ini merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di internet saat ini. Dengan menguasai bahasa ini maka sudah dipastikan kita dengan mudah mencari informasi-informasi yang ada. Jika Anda betah membaca translate aneh (dengan google atau sejenisnya) ya tidak apa-apa sih.

Membaca Cepat. Seberapa cepat kah kita membaca? Sulit juga mengukurnya. Tetapi bagi Anda yang pernah ikut ujian saringan masuk di kampus-kampus terkenal di Indonesia, misalnya universitas Indonesia, maka Anda pasti tahu seberapa cepat kita dituntut memahami suatu bacaan. Saya sendiri sempat berfikir waktu mengikuti test TPA, terutama bagian reading, apa benar ada yang bisa menjawab dengan cepat tulisan beberapa halaman itu (dalam bahasa Inggris). Mungkin memang itu tuntutannya, sepertinya UI tidak mungkin asal bikin soal tanpa mengukur kecepatan membaca calon siswa yang dites.

Menulis dengan Cepat. Mungkin ada yang tidak setuju, tetapi saya sudah menerapkannya dan cocok. Dengan menulis cepat, Anda otomatis membaca dengan cepat pula. Berbeda dengan membaca menulis membutuhkan manajemen yang rapi. Anda mungkin membaca cepat, tetapi jika bukan penulis yang cepat, saya yakin Anda kurang bisa melakukan manajemen terhadap informasi yang masuk. Saya ingat ketika sidang tesis, penguji saya (pa romi), mengkritik saya karena tidak bisa menunjukan tulisan yang saya yakin pernah baca. Jadi tulislah dengan cepat informasi-informasi yang masuk ke Anda saat itu juga, karena otak/ingatan ada batasnya. Selain itu dengan kebiasaan menulis, Anda sudah terbiasa memahami pola-pola suatu tulisan dan mencari dimana letak-letak poin penting dari sesuatu yang Anda baca. Tentu saja jadi bisa mengetahui “amburadul”-nya tulisan siswa-siswa bimbingan yang tidak terbiasa menulis tetapi biasa copy-paste.

Multi-disiplin. Ini merupakan obat mujarab untuk saya yang kurang “brilian” dibanding rekan-rekan saya. Mula-mula saya masuk ke dunia Computer Science murni, dan sempat satu semester masuk doktoral ilmu komputer. Tetapi karena kurang kuat bersaing dengan anak-anak muda dari negara lain akhirnya saya memutuskan untuk pindah haluan ke Information Management yang lebih lebar karena bisa memasuki wilayah-wilayah (disiplin) ilmu yang lain. Ketika tidak sanggup berkontribusi terhadap bidang kita, kita bisa berkontribusi menggunakan bidang kita terhadap bidang lainnya, yang terkadang lebih membutuhkan. Di sini fikiran terbuka (open minded) sangat diperlukan, dan tentu saja seperti di saran kedua di atas, membaca cepat sangat dibutuhkan karena kita harus memahami bidang-bidang baru lainnya karena sifat multi-disiplin. Tentu saja jangan terlalu jauh dari core ilmu kita dan road map riset yang kita tekuni.

Rendah Hati. Ada pepatah yang mengatakan di atas langit ada langit. Artinya kita tidak boleh sombong karena mau tidak mau saat ini kolaborasi/kerja sama sangat penting. Lihatlah tulisan-tulisan ilmiah, pasti ada bagian reference yang berisi sumber-sumber referensi yang mendukung tulisan tersebut, selain tentu saja acknowledgement terhadap pihak-pihak tertentu. Pertukaran informasi saat ini mungkin bisa melalui hubungan orang per orang. Tidak semua bisa diakses lewat google. Bagaimana kita berhubungan dengan periset-periset lain sangat menentukan informasi yang kita terima. Beda dengan google apa yang kita minta selalu diberikan, dengan manusia sedikit berbeda karena ada faktor lain yang menentukan diterimanya suatu informasi penting, yaitu kerendahan hati. Bagaimana menggunakan bahasa yang baik sangat menentukan diterimanya kita di suatu komunitas/forum/millist bidang tertentu. Kerendahan hati juga mengandung arti bahwa kita merasa selalu sebagai pemula. Dan salah satu karakter pemula/beginner adalah mudah bertanya dan selalu ingin tahu.

Menikmati Kehidupan. Yang terakhir ini hanya tambahan dan iseng-iseng saja. Tetapi ini saya praktekan karena bermanfaat dalam implementasi prinsip keingintahuan di atas. Prinsip keingintahuan pada dasarnya membuat pertanyaan yang tidak diketahui kemudian mencoba mencari jawabannya baik lewat analisa, sintesa, uji coba, maupun men-searching dari sumber lain. Kalau Einstein yang ber-IQ 200-an sih tidak masalah, selalu bisa menjawab. Lha bagaimana dengan saya yang pas-pasan, makin banyak saya belajar, makin banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa saya jawab (solved). Jika diambil hati bisa stres sendiri. Oleh karena itu, sebagai saran ya nikmati saja ketidaktahuan yang dialami, nikmati kehidupan yang ada, sebelum akhirnya, karena mungkin Allah kasihan, doa orang tua, doa keluarga, doa pihak kampus tempat saya bekerja yang kasihan ga lulus-lulus, entah mengapa muncul sendiri jawabannya .. waks.

Source foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Albert_Einstein. Ternyata bukan photoshop ya.

Validation

Testing and validation are important stage in modelling. The model may be a software, simulation, prototype, and so on. System Development Life Cycle (SDLC) includes the testing in its last stage before implementation. We can use “black box” or “white box” testing to ensure the software we have just created was following the requirements. For gathering more information about testing, see the software engineering book. This post will focus on validation.

The difference between Epoch and Iteration

In soft computing, modelling an application needs training, an iteration step to adjust some parameters to achieve some goals. In neural network the iteration term is replaced by epoch. The interesting explanation was found in this site by Ph.D student of MIT. Whereas the iteration only run in forward direction every step, the epoch runs both forward and backward direction.

Testing and Training

For training, the data must be prepared. Not only for number of data but also the clean of data must be considered. Use some method in data cleansing before training. The suggestion from text book of neural network, e.g. neural network design: hagan, was using a normal Euclidean for data training.

Instead of using all data for training, some applications separate these data into two blocks: data for training and testing. For example in IDRISI software, when a model use MLP neural network for training, it separates into two data: training and testing.

To ensure that data training and testing are well designed, Matlab has provided with crossvalind function for cross validation. Cross validation change the data training into testing and vice versa. Now 10-fold cross validation is a standard that use 10 blocks of data. Nine of the 10 blocks data used for training and one for testing (see the explanation).

Receiver Operating Characteristic (ROC)

ROC is used for comparing a prediction with the result. If the system predict a signature’s owner is John, and the actual is John, this situation are said “true positive” and if not “false positive”. The others are true negative and false negative. The Area Under ROC-Curve ( see AUC post) is a famous parameters in IDRISI software for accuracy calculation of a model.

In Land Change Modeller, two predictions are: change and persistence. For example if we predict that a location in 2015 is change, but actually not, it is called False alarm. Instead of true and false, the Misses, False alarms, and Hits are used. The explanation from IDRISI site:

  • A | B | B = Hits – Model predicted change and it changed
  • A | A | B = Misses – Model predicted persistence and it changed
  • A | B | A = False Alarms – Model predicted change and it persisted  

Other software and vertical application may be different term use in validation calculation.