Instal Mendeley Desktop di Mac

Mendeley merupakan citation tool yang paling diminati oleh peneliti. Selain gratis, aplikasi ini mudah dan praktis digunakan. Kombinasi antara mendeley online (www.mendeley.com) dan desktop menyebabkan fleksibel digunakan, bahkan ketika menggunakan lebih dari satu device. Karena postingan yang lalu sudah dibahas instal Mendeley di Windows, kali ini akan dibahas bagaimana instal Mendeley di Mac.

Registrasi Mendeley

Mendeley mengharuskan pengguna memiliki akun. Siapkan akun email untuk login ke Mendeley. Tidak harus email resmi, email gratisan pun bisa digunakan. Lewati langkah ini jika Anda sudah punya akun Mendeley. Untuk registrasi, tekan saja menu “Create Account” di pojok kanan atas. Isi email disertai dengan nama dan password Mendeley.

Setelah itu buka email dan tekan Confirm yang terdapat pada isi email yang dikirim Mendeley. Tidak sampai satu menit Anda berhasil registrasi Mendeley.

Mengunduh Mendeley

Mendeley akan otomatis memberikan tombol unduh mengikuti sistem operasi Anda. Jika Anda pengguna Mac dengan IoS-nya, maka situs download Mendeley akan memberikan kode sumber berbasis Mac.

Tekan bar berwarna merah untuk mengunduhnya. Tunggu beberapa saat hingga proses pengunduhan selesai. Tekan Open di file yang sudah diunduh untuk melakukan proses instalasi.

Instal Mendeley

Drag simbol Mendeley ke arah Applications untuk mempersiapkan Mendeley. Selesai sudah proses instalasi, Anda tinggal menjalankan Mendeley yang baru saja diinstal.

Masukan akun yang baru saja Anda buat (register).

Login dan Instal Plug-In untuk MS Word

Jangan lupa untuk menginstal Plug-in Mendeley agar bisa terkoneksi dengan Microsoft Word.

Jika sudah, Anda bisa menggunakan Mendeley untuk mengorganisir sitasi di naskah Artikel Anda. Untuk memastikan Plugin berjalan dengan baik, buka MS Word dan pastikan di menu Reference ada fasilitas lengkap Mendeley. Selamat Mencoba.

Memantau Kinerja Dosen Lewat Asesor Serdos

Tak terasa sudah lebih dari setahun menjadi asesor sertifikasi dosen sejak pertama kali diajukan oleh universitas (lihat syarat-syarat menjadi asesor pada postingan yang lalu). Banyaknya asesor yang pensiun menuntut penambahan jumlah asesor serdos. Asesor serdos sangat diperlukan guna mengontrol validitas aliran tunjangan serdos. Praktiknya, antara satu LLDIKTI dengan LLDIKTI wilayah lainnya berbeda. Misalnya, LLDIKTI 4 sudah menggunakan konsep online, yang ternyata sangat cocok untuk kondisi pandemi seperti saat ini. LLDIKTI 3 baru memulai online, namun seperti halnya LLDIKTI 4 dahulu ketika memulai online, pasti banyak kendala-kendala yang dihadapi.

BKD Online LLDIKTI 4

LLDIKTI 4 sangat baik dalam menerapkan BKD dan LKD online (https://bkd.lldikti4.or.id/). Sangat baik di sini mampu menjabarkan alur sistem informasinya yang terdiri dari:

  • Dosen mengajukan kontrak BKD, validasi oleh kepala departemen
  • Dosen membuat laporan BKD, validasi oleh dua asesor serdos

Di sini terlibat tiga akun, yaitu akun dosen yang sudah serdos, akun asesor, dan akun kepala depertemen (ketua jurusan atau dekan). Selain itu kontrak BKD untuk semester yang akan dijalani, ketika semester berakhir secara otomatis menjadi laporan BKD dengan sedikit editing ketika ada perbedaan antara rencana (kontrak) dengan implementasinya.

BKD online tidak memerlukan tanda-tangan langsung oleh baik asesor maupun kepala departemen. Persetujuan tinggal meng-klik “approve” saja. Dan yang menurut saya cukup membantu adalah, asesor dapat melihat bukti kinerja yang diunggah oleh dosen yang mengajukan. Sangat efisien dan tidak terkendala dengan jarak dan waktu. Hanya saja di sini, LLDIKTI 4 menyarankan untuk asesor mengenal langsung dosen yang diasesori, dan menggunakan aplikasi tersebut untuk mempermudah saja.

BKD Online LLDIKTI 3

Karena berdekatan dengan LLDIKTI 3 maka beberapa dosen dari LLDIKTI 3 menunjuk asesor dari LLDIKTI 4. Nah, di sini ada sedikit perbedaan yang mencolok, terutama mengenai proses persetujuan. Di LLDIKTI 3 yang selama ini menggunakan aplikasi berbasis MS Access, kini diganti dengan online (https://bkd-lldikti3.kemdikbud.go.id/).

Beberapa kendala masih ada, seperti data yang diinput tidak tercetak. Mungkin di versi berikutnya akan diperbaiki seperti yang terjadi pada LLDIKTI 4 yang terus memperbaiki. LLDIKTI 3 prosesnya lebih sederhana:

  • Dosen mengisi laporan BKD dan memilih asesor yang ada di daftar
  • Dosen mencetak laporan BKD dan meminta tanda-tangan asesor yang dipilih
  • Dosen mengupload scan laporan BKD yang sudah dibubuhi tanda tangan

Seperti biasa, sebuah materai 6000 diperlukan pada kolom tanda tangan dosen yang mengajukan laporan BKD, berbeda dengan LLDIKTI 4 yang tidak memerlukan materai. Proses persetujuan tampak masih manual, dengan tanda tangan, sebelum diunggah. Namun ada satu keunggulan dibanding menggunakan MS Access yaitu karakteristiknya yang terintegrasi. Ketika ada asesor baru, bagian BKD online tinggal menambahkan asesor tersebut dalam list dan tidak perlu men-share MS Access yang berakibat ada kemungkinan ketidakseragaman karena dosen masih menggunakan versi yang lama.

Melihat Kinerja Dosen via BKD Online

Menjadi asesor mau tidak mau membaca berkas laporan kinerja. Dari situ bisa menilai kinerja-kinerja dosen yang ada, apakah serius atau hanya sekedar menjalankan kewajiban agar tunjangan serdos cair. Terkadang saya kagum dengan dosen yang dalam diam dan santainya ternyata memiliki output dan outcome yang di atas rata-rata. Nah, untuk dosen yang pasif ada baiknya kepala departemen mengecek kontrak BKD dosen di bawah departemennya apakah sudah baik atau sekedar “gugur tugas” saja. Terkadang kagum juga dengan mereka yang bisa mempublikasikan ke jurnal-jurnal yang berkualitas, terlihat dari laporan kinerja (LKD). Bahkan tidak jarang saya ikut membaca karena dapat dilihat dari berkas-berkas yang diunggah.

Jadi Pembicara Sekaligus Reuni

Beberapa minggu yang lalu, kampus tempat saya mengambil pascasarjana mengundang saya menjadi pembicara mengenai tips untuk studi lanjut agar lancar dan hari ini jam 09.00 – 12.00 WIB acara berlangsung. Acara tersebut cukup bermanfaat terutama bagi rekan-rekan yang sedang studi lanjut, khususnya pascasarjana. Hadir pula tamu khusus bapak Dr. Sunu Wibirama, M.Eng yang memang sering membahas bagaimana melakukan riset dan menulis jurnal yang baik. Satu lagi yang hadir adalah rekan kuliah saya yang dulu, Taqwa Hariguna, PhD yang membicarakan aspek non-kognitif yang dapat membantu kelancaran studi lanjut. Berikut ini kira-kira ringkasan yang dibahas oleh para narasumber.

Mas Sunu

Satu hal penting yang dibahas oleh mas Sunu adalah apa saja tips yang harus dilaksanakan agar studi lanjut berjalan dengan baik, dari penjadwalan hingga bagaimana mengatur ponsel kita agar tidak mengganggu aktivitas riset/penelitian. Sebelumnya dibahas pula tipe-tipe fokus pada riset dari improvement metode, penerapan untuk memecahkan masalah, dan aspek-aspek lainnya. Yang penting adalah ada hal-hal baru yang berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

Rahmadya

Saya membahas aspek-aspek non-teknis, terutama bagaimana tetap fokus dan termotivasi selama kuliah, dari evaluasi diri dalam menentukan konsentrasi, menemukan sosok figur lewat asistensi, proyek, seminar, dan aktivitas keilmuan lain, juga dibahas apa saja yang dipersiapkan jika ingin lanjut ke studi doktoral.

Pa Taqwa

Rekan seangkatan saya di S2 ini banyak membahas bagaimana agar lolos ketika apply studi lanjut, termasuk memperoleh beasiswa yang tidak hanya uang kuliah dan uang hidup, yaitu bantuan disertasi dari LPDP. Dijelaskan juga bagaimana caranya agar lulus cepat (kurang dari 3 tahun).

Sesi tanya jawab tak kalah menarik, terutama pertanyaan-pertanyaan mengenai multi disiplin dan mahasiswa yang berasal dari non-komputer dalam risetnya. Link youtube berikut ini mungkin bisa dilihat jika ada waktu luang. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Systematic Literature Review (SLR) Pada SCOPUS dengan Advanced Search

SCOPUS saat ini menjadi patokan utama kualitas publikasi baik di dunia maupun di Indonesia. Sinta menggunakan bobot yang besar untuk SCOPUS seperti terlihat pada bagia FAQ perhitungan skor-nya, misalnya untuk Sinta saya di link berikut ini. Tampak bobot Q1 di scopus adalah 40 mengalahkan lokal yang misalnya S1 yaitu 25. Oleh karena itu ada baiknya kita merujuk paper-paper dari Scopus.

Login Scopus

Salah satu kelemahan SCOPUS (bagi peneliti-peneliti kita di Indonesia) adalah berbayar, kecuali jika ingin melihat kinerja kita saja (author preview). Tapi biasanya kampus-kampus memiliki SCOPUS walau terkadang harus datang ke kampus dan login WIFI di sana. Silahkan daftar gratisan dengan akses terbatas, caranya lihat pos saya yang terdahulu (Lihat di bagian “signup”).

Serching Naskah

Beberapa hari yang lalu ada hasil peer review yang harus diperbaiki berkaitan dengan studi literatur dimana reviewer meminta menambahkan riset-riset terkait.

Kita coba mencari dokumen 5 tahun terakhir dengan kata kunci “student attendance system”, “biometeric” mengikuti saran dari reviewer 4. Langsung buka bagian “search document”. Langsung saja kita masuk ke “Advanced Search”.

Tekan “Search” dan tunggu beberapa saat. SCOPUS tampak berhasil menemukan sekitar 105 dokumen seperti tampak pada gambar berikut ini. Maksud dari query di atas adalah cari seluruh naskah yang ada kata “student attendance system” dan “biometric” dan setelah tahun 2015 (hingga 2020, terkadang tahun 2021 pun ada juga yang sudah ready).

Tugas berikut Anda dalam sistematic literature review (SLR) adalah mensortir menjadi puluhan dengan cara membaca judul. Selanjutnya Abstrak dan terakhir sekitar belasan harus Anda baca full naskahnya. Silahkan lihat pos saya terdahulu mengenai SLR. Sekian saja info singkat hari ini, semoga bermanfaat.

 

Webinar Systematic Literature Review (SLR) Untuk Skripsi dan Tugas Akhir

Setelah hampir lima tahun kuliah dan kembali lagi mengajar ternyata tidak ada perubahan yang signifikan dari kemampuan mahasiswa menulis tugas akhirnya. Gaya copy-paste masih kerap dilakukan, terutama pada bab studi/kajian pustaka. Referensi hanya berupa buku saja, tidak ada jurnal terkini. Memang mahasiswa D3/S1 hanya menerapkan ilmu yang didapat, belum sampai tahap membandingkan apalagi menemukan hal-hal baru (novelty). Untuk mengatasi hal tersebut, fakultas teknik Universitas Islam “45” Bekasi mengadakan pelatihan kepada para mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Kebetulan saya mendapat tugas sesi-1 tentang Systematic Literature Review (SLR) sebelum sesi-2 tentang kiat-kita merampungkan tugas akhir/skripsi.

Memang tujuan utama SLR adalah untuk memperoleh rujukan-rujukan yang tepat dalam menjawab permasalahan tugas akhir/skripsi. Namun di sisi mahasiswa D3/S1 kebanyakan untuk menghindari plagiasi, terutama mencontek isi naskah skripsi/TA kakak-kakak seniornya. Dengan SLR ditambah keunikan-keunikan judul-judul baru yang ditujukan untuk tugas akhir mahasiswa, diharapkan mampu menghilangkan perilaku negatif mencontek mahasiswa-mahasiswa kita.

Ristek-Brin menganjurkan kampus untuk membuat roadmap penelitian yang kemudian dijalankan oleh dosen-dosennya. Jadi bagi mahasiswa sekarang, mencari permasalahan penelitian tidak serumit mahasiswa era 90-an, karena dosen sudah memiliki roadmap-nya. Tinggal bertanya maka si dosen pembimbing akan memberi judul atau permasalahan skripsi/tugas akhir yang harus diselesaikan dengan cepat. Berikut link youtubenya, semoga bermanfaat.

Artikel Riset vs Laporan Proyek

Ketika submit artikel waktu kuliah dulu, hasil review menolak tulisan saya karena artikel hanya sekedar laporan proyek, bukan masuk kategori artikel jurnal.

Jika ditolaknya saat ini sepertinya tidak ada masalah. Repotnya naskah itu ditolak ketika membutuhkan publikasi sebagai syarat lulus S3. Sulit diungkapkan dengan kata-kata bagaimana kecewanya. Tapi ya bagaimana lagi, harus mencoba lagi kalau mau merampungkan kuliah. Bagi mahasiswa S3, meleset satu atau dua tahun itu sudah biasa.

Laporan Proyek

Ok kita mulai terlebih dahulu mengenai laporan proyek karena ini merupakan jenis pekerjaan yang paling banyak kita jumpai di kampus. Banyak yang menyamakan dengan riset, padahal sangat berbeda.

Perhatikan pekerjaan kita sehari-hari, misalnya seorang dosen. Ketika mengajar satu mata kuliah, maka dia memiliki langkah-langkah rinci yang jelas dan sudah rutin dilakukan. Langkah-langkah tersebut jelas dari A sampai Z, dari menyiapkan materi, membagi menjadi beberapa pertemuan, menguji dan memberi nilai. Biasanya jika dari awal hingga ujung sudah kelihatan dengan jelas, maka sudah dipastikan bahwa itu masuk kategori proyek. Biasanya mahasiswa S1 atau diploma/vokasi diwajibkan menyelesaikan tugas akhir dan/atau skripsi yang tentu saja masuk kategori proyek. Ketika membuat alat, merancang sistem, dan sejenisnya dosen pembimbing bisa melihat langkah-langkah dari awal hingga selesai dengan jelas. Jika disubmit ke jurnal internasional tanpa ada suatu hal yang baru (novelty, originality, dan kontribusi) pasti ditolak, kecuali memang jurnal kampus yang khusus mewadahi skripsi mahasiswanya.

Artikel Riset

Artikel jenis ini harus didekati secara filosofis. Di luar negeri, lulusan s3 biasanya diberi gelar “doctor of philosophy” (PhD) karena memang diharuskan menggunakan aspek tersebut dalam risetnya. Terutama ketika menilai sebuah karya apakah memiliki unsur originality, novelty, dan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Seseorang yang belum doktor seharusnya riset bersama dengan seorang/beberapa orang mentor yang biasanya sudah doktor. Tidak serta merta hanya dengan studi literatur dapat menemukan originality, novelty dan kontribusi. Terkadang diperlukan seorang pakar (expert). Biasanya pakar yang mereview sebuah artikel dalam peer review. Walaupun kita sudah membuktikan dengan studi literatur yang banyak tetapi terkadang seorang pakar menolak tulisan kita memiliki novelty, originality, dan kontribusi. Novelty, originality dan kontribusi sulit dievaluasi, hanya peer review- lah yang bisa menjawabnya. Jadi tidak perlu studi literatur? Ya harus lah, sudah melakukan systemmatic literature study pun terkadang masih saja “mis” apalagi tidak sama sekali.

Kebaruan (Newness) & Kontribusi

Yang termasuk kebaruan adalah novelty, originality dan creativity. Jika novelty mengharuskan sesuatu ide/konsep belum pernah diutarakan atau dilaksanakan oleh orang lain, originality menggabungkan/sintesa ide/konsep orang lain (lihat info link ini). Beberapa peneliti mengusulkan teknik-teknik dalam mengukur sebuah novelty (lihat link springer ini).

Gambar di atas memperlihatkan sebuah paper X yang mensitasi artikel sebelumnya (1,2,..N) dan disitasi oleh artikel berikutnya. Ini merupakan teknik pengukuran berdasarkan sitasi. Dikatakan Novelty jika artikel-artikel lain (1,2,..M) mensitasi paper X dan sedikit mensitasi (1,2, …N). Jika tidak, maka paper X tersebut hanya mediasi saja (membantu menyebarkan ide 1,2, ..N). Seorang reviewer akan mengetahui apakah paper X nanti akan banyak disitasi langsung walaupun belum dipublikasi.

Kontribusi terkadang secara refleks ada karena tentu saja aneh jika penelitian menghasilkan novelty dan originality tetapi tidak ada sumbangsihnya bagi knowledge. Oiya, kontribusi tentu harus bisa diukur, misalnya meningkatkan kepuasan pelanggan, meningkatkan akurasi/performa/efisiensi, dan bukan terhadap masyarakat/lingkungan yg masuk kategori manfaat penelitian dan bukan kontribusi, apalagi dengan argumen kontribusinya membantu orang tua karena dengan selesainya tulisan, cepet lulus, dan tidak perlu bayar kuliah lagi .. hehe.

Konversi Laporan Proyek ke Artikel Ilmiah

Untuk merubah artikel dari report menjadi artikel ilmiah perlu dicari novelty, originality, dan kontribusinya. Untuk bidang informatika ada sedikit perbedaan antara ilmu komputer/teknik informatika (metode) dengan sistem informasi (domain penelitian). Jadi, jika tidak ditemukan novelty di sisi ilmu komputer, cari saja di sisi domain penelitian (kedokteran, bisnis, akuntansi, dan lain-lain).

Contohnya adalah multi-criteria optimization dan teknik GIS yang saya gunakan untuk kasus optimalisasi penggunaan lahan urban. Jadi, hasil dan pembahasan harus mengarah ke domain penelitian, bukan ke metode (lihat pembahasan pada pos sebelumnya). Ketika mahasiswa doktoral sudah menerima kabar naskah publikasi sebagai syarat lulus accepted dengan revisi minor, biasanya bayangan wisuda sudah di depan mata. Penulisan laporan disertasi ratusan halaman tidak jadi masalah karena sudah jelas alur dari A sampai Z nya, beda ketika baru proposal, tahu awal tapi tidak jelas bagaimana mencapai ujungnya. Sekian semoga bermanfaat.

Mengecek Apakah Artikel Kita Terindeks Web of Science dari Publons

Ada dua pengindeks terkenal di dunia saat ini yaitu Scopus dan Web of Science (WoS). Kedua-duanya merupakan pengindeks yang masuk perhitungan skor Sinta Ristekdikti/BRIN. Untuk Scopus (lihat link ini) sudah banyak yang mengetahui. Untuk WoS akan kita bahas di postingan ini.

A. PUBLONS

Pertanyaan pertama seperti biasa apakah situsnya berbayar atau tidak. Jawabannya ada dua, mirip Scopus, ada yang gratis ada yang bayar. Jika ingin membuat ID WoS cukup daftar saja ke situs berikut ini untuk memperoleh ID WoS. Lihat post terdahulu tentang WoS. Sedikit berbeda dengan Scopus yang harus punya tulisan terlebih dahulu tetapi untuk publons tidak perlu punya tulisan yang terindeks WoS. Hal ini sangat meringankan karena untuk terindeks WoS cukup sulit.

B. MENAMBAH DAFTAR ARTIKEL KE PUBLONS

Biasanya ketika tulisan kita terindeks di WoS maka secara otomatis akan terambil di akun publons kita. Namun bisa saja kita menambahkan secara manual artikel-artikel kita. Bukan saja artikel yang terindeks WoS, tetapi artikel-artikel lain yang diindeks oleh Scopus bisa ditambahkan. Jadi ketika seseorang mengklaim ada tulisannya di WoS lewat publons tentu saja belum tentu terindeks Web of Science.

C. MENGECEK TULISAN TERINDEKS WEB OF SCIENCE

Sebenarnya cara mudah untuk mengetahui apakah tulisan terindeks WoS adalah dengan masuk ke link Web of Science langsung di sini. Hanya saja harus punya akun, dan tentu saja bayar.

Bagaimana jika tidak punya akun WoS? Caranya bisa dengan melihat artikel-artikel yang ada di publons kita. Biasanya artikel yang tidak dimasukan secara manual merupakan artikel yang terindeks di WoS. Ciri-ciri jika terindeks WoS tampak di artikel tersebut (di bagian kanan). Jika ada tulisan “WOS” maka berarti terindeks di WoS. Jika mouse diarahkan di tulisan WOS muncul tulisan “Indexed in Web of Science Core Collection“. Perhatikan di bawah ini, satu tulisan terindeks di Web of Science tetapi yang lainnya tidak.

Cara lain adalah lewat akun Sinta kita. Jika dicek daftar publikasi ada di list WoS maka akan muncul grafiknya. Jika ingin melihat, tekan “WoS document” di sebelah kiri “research. Berbeda dengan Scopus yang bisa direfresh oleh verifikator Sinta di masing-masing kampus, WoS sangat mengandalkan admin Sinta di pusat. Sekian semoga bisa membantu.

Mengedit Profil di Scopus

Scopus menjadi salah satu andalah pengindeks di Indonesia karena merupakan salah satu pengindeks yang konsisten dan ketat dalam menyeleksi naskah-naskah di seluruh dunia. Banyak naskah-naskah di tanah air baik dari jurnal maupun seminar sudah terindeks, tetapi beberapa penulis masih kebingungan cara mengetahui ID scopusnya (lihat link terdahulu cara mengetahui ID Scopus). Terkadang ketika sudah ada di Scopus, banyak penulisan nama dan afiliasi yang tidak sesuai. Hal ini terjadi biasanya karena salah pengisian data oleh pengelola jurnal/seminar. Postingan ini bermaksud sharing bagaimana merubah nama dan afiliasi. Dulu pernah posting seperti ini (klik di sini) tapi menggunakan ID Scopus berbayar, tetapi portingan kali ini akan kita gunakan ID Scopus yang gratis.

1. Sign Up

Langkah pertama adalah “Sign Up” ke Scopus. Apakah bayar? Ternyata Scopus telah membolehkan pengguna untuk daftar ke Scopus tanpa bayar. Tentu saja hanya untuk mencari afiliasi dan merubah/edit nama-nama di Scopus. Yang dapat dirubah hanya penulis yang tulisannya sudah terindeks Scopus. Jadi jika Anda belum memiliki tulisan yang terindeks di Scopus, tentu saja tidak bisa membuat ID Scopus sendiri.

Scopus menyebutnya fasilitas ini “Scopus Preview”. Hanya bisa mengutak-atik Author tetapi tidak bisa mencari dokumen yang terindeks scopus.

2. Pencarian Author

Di bagian atas ada menu “Author Search”. Coba klik dengan mouse Anda untuk masuk “Author Profile”. Pilih “Author Feedback Wizard” untuk mereview apakah ID Scopus kita berisi profil yang benar.

3. Mengedit Scopus Profile

Berikutnya mulai masuk ke menu editing. Di sini yang dapat diutak-atik adalah: 1) Preffered Name, 2) Merge Profiles, 3) Add and Remove Documents, dan 4) Update Affiliation.

Masukan nama Anda dan pastikan muncul di kolom pencarian. Gunakan minimal “Author last name” di isi, lebih lengkap dengan “first name” lebih baik.

Perhatikan ada 13 dokumen padahal saya sudah 14 dokumen. Kemudian afiliasinya “Islam 45 University” padahal di dokumen terakhir sudah saya tulis Universitas Islam 45 Bekasi, dan saya ingin namanya “Universitas Islam 45”, misalnya. Ikuti langkah-langkah yang diminta dimulai dari “Select Profile(s)”, “Review Documents”, “Review Affiliation”, hingga “Confirm and Submit”. Oiya, cheklist dahulu dengan mouse kotak di sebelah kiri nama Anda sebelum menekan “Review Documents” di bawah kanan. Pastikan nama sudah benar.

4. Review Dokumen

Masuk ke dokumen Anda yang di Scopus dan tambahkan dokumen lain yang tidak terdeteksi dengan menekan “Search Missing Documents”.

Banyak caranya baik dengan menekan Author, Title, dan DOI. Untuk mudahnya gunakan saja DOI jika sudah tahu. Perhatikan dokumen di bawah, tampak DOI yang tinggal dicopas ke “Search Dokuments” di atas.

Masukan ke isian “Search Documents”, jangan lupa di bagian kanan pilih “DOI”. Lanjutkan dengan menekan “Search”.

Pastikan dokumen ditemukan. Ceklis lingkaran di sebelah kiri dokumen dan tekan “Confirm Author” untuk melanjutkan nama Author yang akan diedit.

 

Pilih Author yang akan diedit. Perhatikan di sini seharusnya “Handayanto, Rahmadya Trias” tetapi dimasukan “Trias Handayanto, Rahmadya” oleh paper terakhir, oleh karena itu akan kita revisi. Tekan “Add Documents”.

Pastikan muncul satu dokumen baru tersebut dan lanjutkan dengan menekan “Review Affiliation”.

5. Review Afiliasi

Review afiliasi jika ada dokumen baru dengan afiliasi baru dan kita ingin mengikuti afiliasi tersebut. Terkadang afiliasi yang sama tetapi tulisannya ingin yang terbaru, misalnya “Islam 45 University” ingin saya ganti dengan standar terbaru “Universitas Islam 45” mengingat kampus bukan kata tetapi simbol seperti Merk yang tidak perlu diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Perhatikan kolom universitas bisa Anda piliah yang sesuai dengan menekan scroll panah bawah. Tentu saja Anda tidak bisa sembarangan mengisi nama di situ. Hanya dokumen yang sudah terindeks saja yang muncul.

6. Confirm & Submit

Terakhir adalah “Confirm & Submit”. Di sini kita meminta Scopus untuk merevisi Profile kita. Tentu saja bentuknya berupa proposal yang bisa saja ditolak oleh Scopus. Tetapi selama ini biasanya disetujui. Buka email yang digunakan untuk Login Scopus dan pastikan ada pemberitahuan mengenai proposal perubahan. Perlu diketahui bahwa langkah 1 sampai 6 di atas gratis (tidak berbayar). Tapi jika Anda punya akun Scopus berbayar bisa juga, bahkan sepertinya lebih baik.

Tunggu beberapa hari menunggu kabar dari Scopus mengenai perubahan yang diajukan. Sekian, semoga bisa sedikit membantu.

 

 

 

Pentingnya Kampus Memiliki Jurnal

Ada postingan di grup bahwa lebih baik fokus dosen-dosen menulis di jurnal-jurnal dibandingkan mengelola jurnal sendiri. Alasannya kinerja kampus dipengaruhi oleh dosen-dosennya yang aktif memublikasi artikel ilmiahnya. Apalagi jika publish di jurnal internasional bereputasi. Postingan ini sedikit menjawab apakah benar statement tersebut?

Perhitungan Sinta

Apa itu Sinta? Silahkan baca post terdahulu mengenai pengindeks Indonesia tersebut. Sinta saat ini menjadi rujukan kinerja penelitian kampus. Bahkan pemeringkatan kampus di tanah air dapat dilihat di situs tersebut, hingga tulisan ini dibuat, tiga besar masih dipegang UI, ITB dan UGM.

Saya mencoba menghitung secara manual skor kampus saya, Universitas Islam 45 Bekasi yang dapat diakses di laman Sinta per 6 Maret 2020 akan dihitung secara manual.

Rinciannya adalah sebagai berikut, jurnal Q2 berbobot 40 ada 3 buah, Q3 berbobot 35 3 buah, Q4/non-Q yang berbobot 30 ada satu. Prosiding yang berbobot 15 ada 12 buah.

Selain dari sisi jumlah, sitasi pun dihitung. Ada 45 sitasi scopus yang berbobot 4. Untuk Google Scholar, Restek/BRIN membatasi maksimal sitasi 1000, sementara di UNISMA lebih dari 1000, dengan bobot 0,5. Terlihat jumlah sitasi di Scopus sebanyak 19 dengan bobot 4 sementara jumlah terindeks Google Scholar 3040 buah dengan bobot 0,5. Lengkapnya gambar di bawah ini. Jurnal yang terindeks Sinta ada 6 dengan bobot 15.

 

Untuk menghitungnya silahkan lihat di panduan yang ada di link Sinta berikut. Untuk versi 2.0 Sinta sudah memasukan faktor jurnal dalam perhitungan skor institusi.

Formula Sinta Score: Wa x A + Wb x B + Wc x C + Wd x D + We x E

Dengan A, B, C, D dan E berturut-turut adalah jumlah jurnal di Scopus, Non-jurnal di Scopus, Sitasi Scopus, Sitasi Google Scholar, jumlah artikel di jurnal terindeks Sinta, dan Jumlah jurnal terakreditasi sinta. Bobot dapat dilihat berikut, mengikuti Sinta.

Jika dimasukan dengan formula Sinta diperoleh hasil sebagai berikut:

SKOR = [40×3+35×3+30×1] + [15×12] + [63×4] + [1000×0,5] + [25×4+15×20+20×15] + [6×15] = 1977

Ada sedikit perbedaan sebesar 11 persen dibanding perhitungan Sinta yang sebesear 2237. Mungkin ada sedikit salah hitung dari saya.

Peran Jurnal Terakreditasi

Kembali ke topik semula, apakah ada manfaatnya kampus memiliki jurnal terakreditasi? Silahkan lihat perhitungan di atas. Walaupun sedikit bobotnya tetapi jurnal kampus menjadi andalan para dosen-dosennya, terutama yang membimbing skripsi/tugas akhir untuk mempublikasikan hasil penelitiannya. Oiya, jurnal kampus merupakan satu-satunya skor yang “abadi”, dibanding dengan dosen yang bisa pindah, pensiun, atau meninggal dunia. Silahkan kalau Anda sanggup mengikat dosen-dosen untuk tidak kabur ke kampus lain.

Sebagai ilustrasi, berikut contoh hitung2an jika tiap prodi di kampus saya (27 prodi) memiliki jurnal terakreditasi Sinta (misalnya S3 ke bawah). Akan ada tambahan 27×15 = 405 point. Otomatis peringkat naik, walau sedikit. Tentu saja bukan cuma dari skor jurnal, ada dampak tidak langsung dari dosen-dosen di 27 jurnal tersebut, karena biasanya lebih mengutamakan dosen-dosen internal yang menulis. Jika satu jurnal mempublish 5 tulisan dosen-dosennya, maka ada sekitar 27x5x15 = 2025 tambahan skor tiap edisinya. Jika per tahun dua kali publish maka ada tambahan 4050 !!! Silahkan kalau berani kampus Anda tidak memiliki jurnal ilmiah terakreditasi. Dapat dipastikan akan tergantung dengan kampus lain yang memiliki jurnal. Memang dalam prakteknya ada “barter” penulis jurnal antar kampus tapi tentu saja kampus A akan mikir-mikir jika kampus B mengirim paper ke A jauh lebih banyak dari kampus A ke kampus B. Jika kita lihat peringkat kampus, tampak tipis sekali bedanya, 405 point jurnal ditambah dosen-dosen yang menulis sudah cukup menggenjot peringkat kampus Anda.

Sebenarnya sasaran pemerintah adalah jangan sampai bergantung dengan Scopus. Tentu saja syarat yang harus dipenuhi adalah kualitas dan kuantitas jurnal yang ada di Indonesia harus diperkuat. Tanpa hal itu, beresiko jika mengatakan untuk tidak perlu menggunakan standar internasional (Scopus atau Web of Science) mengingat kampus merupakan organisasi yang berbasis kepercayaan publik. Oiya, yang penting untuk diperhatikan, tidak semua orang memiliki kemampuan sebagai editor yang harus sabar dan tekun mengikuti tren penelitian di dunia. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi dan tetap membangkitkan semangat kampus untuk meningkatkan kualitas jurnal-jurnalnya yang jujur saja kita kalah dengan negara-negara tetangga. Oiya, pemilik (owner) kampus tidak ada salahnya menyimak tulisan ini lho.

Mengekspor dan Mengimpor BibTex Mendeley

Selain dengan memasukan langsung file pdf paper ke Mendeley, kita bisa juga memasukan paper yang akan disitasi lewat BibTex. File berekstensi *.bib biasanya disediakan oleh pengelola jurnal internasional. Kita tinggal unduh file tersebut dan pindahkan ke Mendeley, secara otomatis Mendeley akan mengeset referensi sesuai dengan style yang kita inginkan, misal IEEE, APA, Harvard, dan lain-lain. Terkadang jurnal-jurnal lokal di Indonesia tidak menyediakan BibTex, jadi mau tidak mau harus memasukan secara manual ke Mendeley. Postingan kali ini bermaksud memberikan alternatif selain input manual, yaitu lewat pembuatan BibTex dari paper yang tidak menyediakan file *.bib.

Membuat Template BibTex

Format BibTex mirip kode XML. Antara buku, jurnal, conference dan bentuk artikel lain berbeda satu sama lain. Hal ini terjadi karena tiap-tiap style membedakan penulisan buku, jurnal, prosiding, dan lainnya. Misalnya kita akan membuat template artikel jurnal. Klik kanan saja pada artikel di Mendeley dan pilih “Export”.

Simpan dengan nama yang kita inginkan, misalnya “Handayanto.bib”. Sebenarnya ada tiga pilihan yang tersedia yaitu BibTex, ris, dan EndNote XML.

Setelah disimpan, buka dengan “notepad” maka akan tampil format/kerangka BibTex yang dapat kita edit dengan paper lain. Pindahkan saja informasi artikel ke “handayanto.bib” yang telah dibuat sebelumnya. Isi point penting seperti author, title, volume, tahun dan lain-lain yang berada di dalam kurung kurawal ” { }”. Hapus informasi tentang file {} karena di sini kita tidak memasukan file.

Simpan dan coba drag ke Mendeley, pastikan dapat digunakan untuk referensi otomatis di naskah paper.

Uji dengan menginput ke naskah. Biasanya referensi terbentuk dengan baik sesuai style referensi yang diinginkan. Tentu saja ini khusus artikel yg tidak ada link download BibTex, kalau ada ya tinggal download dan ekspor ke Mendeley kita.

Menambah Artikel di ORCID

Orcid (https://orcid.org) merupakan situs identifikasi peneliti yang berisi nomor dan identitas lainnya. Salah satunya adalah artikel-artikel yang telah dipublikasi. Masuk terlebih dahulu ke situs ORCID dan jika belum punya akun, silahkan register terlebih dahulu.

Setelah masuk akan muncul informasi seperti pekerjaan, pendidikan, dan publikasi. Link dapat dishare agar orang lain bisa melihat CV kita lengkap. Misalnya link ORCID saya ini.

A. Menambahkan Secara Manual

Di bagian atas artikel-artikel, dapat diklik beberapa metode penambahan publikasi, seperti DOI, BIBTEX, dan salah satunya adalah “add manually”. Biasanya jurnal-jurnal lokal ber-ISSN belum memiliki DOI jadi harus dimasukan secara manual.

Masukan informasi mengenai tulisan yang akan didaftarkan ke ORCID Anda. Isian yang ada tanda bintangnya wajib ada. Jika sudah tekan “add to list” di bagian bawah.

Pastikan isian baru muncul di daftar publikasi.

B. Dengan DOI

Jurnal internasional atau jurnal nasional terakreditasi, dari Sinta 1 sampai 6 pasti memiliki DOI. Karena wajib memiliki DOI, misalnya jurnal yang saya kelolo ini (Jurnal Piksel). Persiapkan DOI yang akan Anda daftarkan ke daftar publikasi ORCID Anda, misalnya dari Scopus saya, ada tulisan yang belum dimasukan dengan DOI: 10.30534/ijatcse/2019/4381.52019.

Kembali masuk ke daftar list artikel di ORCID, tekan add lewat DOI. Masukan DOI ketika diminta.

Setelah diklik “retrieve work details” informasi mengenai judul, nama jurnal, akan muncul. Tekan “add to list” ketika sudah yakin informasi-informasi lainnya.

Jika ingin mengintegrasikan ORCID ID ke Scopus silahkan lihat tautan berikut. Sekian semoga bermanfaat.

Prosedur Pengecekan Jurnal Internasional Bereputasi

Studi Kasus: Seorang dosen telah mempublikasikan tulisannya di sebuah jurnal internasional “TELKOMNIKA” dengan judul “Land-use Growth Simulation and Optimization for Achieving a Sustainable Urban Form”. Langkah verifikasinya:

1. Verifikasi bukti sudah publish di jurnal TELKOMNIKA yang berupa link di OJS/web site resmi jurnal tersebut. Misalnya untuk kasus ini Vol 16 No. 5. Cek nama dan afiliasi apakah sesuai dengan pengusul.

2. Verifikasi terpublikasi di pengindeks bereputasi. Buka http://scopus.com. Tekan SEARCH. Pilih TITLE dan masukan nama jurnalnya: TELKOMNIKA, lalu tekan Find Sources.

Pastikan muncul jurnalnya di kolom hasil pencarian. Jika tidak ada berarti tidak terindeks. Namun untuk menghindari salah ketik nama jurnal, ada baiknya pencarian menggunakan ISSN.

NOTE: ISSN ada dua, biasanya yang terdata di Scopus hanya satu (P-ISSN). Atau kalau mau aman masukan saja baik e-ISSN maupun p-ISSN. Untuk contoh TELKOMNIKA, yang terindeks adalah yang p-ISSN. Hasilnya sbb:

3. Untuk mengetahui kualitas jurnal (kuartil) bisa menggunakan SCIMAGO. Masuk ke link: http://scimagojr.com. Masukan nama jurnalnya: TELKOMNIKA.

Tekan simbol Searching lalu pastikan muncul namanya.

Tekan nama jurnal yang sesuai untuk melihat h-index dan Quartile nya. Terkadang ada beberapa nama yang mirip, pastikan sesuai dengan melihat ISSN-nya.

Untuk melihat Quartile, arahkan mouse di tahun terakhir, maka akan muncul indikator Q berapa jurnal tersebut, misalnya untuk kasus ini masuk kategori Q2.

NOTE: Karena SCIMAGOJR membutuhkan interval waktu tertentu untuk masuk ke sistem pe-rangkingannya, terkadang jurnal yang baru terindeks Scopus belum terekap SCIMAGO. Namun jurnal tersebut karena sudah terindeks Scopus sudah masuk kategori terindeks oleh pengindeks bereputasi.

Mungkin bermanfaat untuk pengurus LPPM ketika ada yang mengajukan insentif. Teknik ini biasa digunakan oleh reviewer luaran tambahan Ristek-Dikti (sekarang Dirjen SumberDaya IPTEKS dan DIKTI).

 

Bagimu Iseng-Iseng, Bagi Kami adalah Etika

Bagi editor mengelola jurnal merupakan pekerjaan yang melelahkan. Dimulai dari mencari naskah tulisan lewat promosi ke medsos, grup WA, email, hingga ke editing sesuai gaya selingkung jurnal. Jika kekurangan naskah, terpaksa tulisan yang ada diterima dengan konsekuensi kualitas jurnal akan jatuh dari sisi konten. Jika naskah berlebih, maka butuh waktu untuk mereviewnya, dan repot jika hampir semua naskah tersebut tidak layak terbit, ujung-ujungnya memaksa beberapa tulisan untuk diterbitkan.

Jurnal ber-ISSN yang dulu hanya untuk naik pangkat sekarang memiliki banyak manfaat lainnya, dari syarat laporan serdos, syarat hibah, syarat lulus kuliah hingga sekedar memperoleh insentif dari kampus tempat mengajar. Sehingga lama-kelamaan filosofi meneliti mulai bergeser. Dari pengalaman mengelola jurnal, mereview dan meneliti berikut ini mungkin harus dihindari.

1. Multiple Submission

Untuk mempublikasikan satu naskah membutuhkan waktu yang cukup lama, dari submit, review hingga publikasi. Terkadang satu tulisan perlu direvisi berkali-kali sebelum re-submit. Nah, banyak penulis yang mengirim tulisan yang sama ke berbagai jurnal dengan harapan siapa yang duluan accept itulah yang dipilih. Boleh saja kan? Bagi yang menjawab boleh perlu sedikit mengetahui hal-hal berikut.

Sebuah naskah paper hanya boleh publish di satu jurnal. Jika dipublikasikan lebih dari satu jurnal maka walaupun ditulis oleh penulis yang sama tetap dianggap plagiarisme. Di sini konflik muncul ketika dua atau lebih penerbit mempublikasikan tulisan yang sama tersebut. Silahkan menjawab dengan kalimat “bodo amat”, tetapi resiko Anda tanggung sendiri. Oiya, bukan hanya Anda tapi kampus tempat Anda bernaung juga ikut menanggung malu. Mengapa? Hal ini terjadi karena Ristek Dikti sudah membuat satu alat pengecekan naskah Anda di link ini: http://anjani.ristekdikti.go.id/pelaporan/retraksi.

Situs yang bernama Anjani itu membahas penyimpangan-penyimpanan yang terjadi. Bagi pengelola jurnal sih gampang saja, tinggal cabut saja tulisan bermasalah itu dan beres. Tetapi data “kenakalan” Anda akan terekam hingga anak cucu Anda.

2. Review Gratis

Terkadang review dibutuhkan untuk perbaikan naskah kita. Ketika disubmit, editor akan mengirim naskah itu ke reviewer untuk dinilai. Entah diterima atau tidak, hasil review sangat bermanfaat untuk kesempurnaan tulisan tersebut. Nah, masalah muncul jika penulis sengaja hanya ingin dicek saja, dan ketika naskah dinyatakan diterima (baik lewat mayor atau revisi minor) si penulis menarik (withdraw) tulisan tersebut. Pernah sekali jurnal saya mengalami hal yang sama. Silahkan jika Anda ingin seperti itu, tapi perasaan seorang editor yang sakit akan dibalas oleh Tuhan. Memang tidak ada hukuman real dari pengelola jurnal dan pemerintah, tetapi saat ini dimana medsos, komunikasi komunitas yang transparan, “blacklist” terkadang berlaku secara tidak langsung. Nama Anda akan masuk daftar penulis nakal yang perlu diwaspadai ketika submit tulisan di jurnal tetangga.

3. Tidak Mau Merevisi

Tentu saja jika tidak mau merevisi, tinggal reject saja. Ya, itu berlaku untuk jurnal yang sudah level mengengah ke atas. Tetapi untuk jurnal yang pas-pasan, hidup segan mati tak mau, sebuah tulisan sangat penting. Terkadang memang si penulis hanya untuk “gugur tugas saja”, seperti laporan BKD serdos, dan sejenisnya (kinerja pegawai). Dengan kekuasaannya terkadang “memaksa” editor untuk mempublikasikan tulisannya. Perlu disadari pekerjaan editor sangat melelahkan, dari menyiapkan OJS, merawat jurnal, mengedit tulisan, dan lain-lain. Jika berhasil, kualitas jurnal naik, dan si penulis pun terbantu ketika akreditasi jurnal tersebut baik. Terkadang editor meminta kualitas gambar yang jelas, seting layout yang harus mengikuti template jurnal dan lain-lain. Oiya, editor bukan menekan Anda untuk memperbaiki naskah tetapi justru memperbaiki kualitas karya Anda. Baik buruknya jurnal tergantung dari bukan saja pengelolaan jurnal, tetapi reviewer dan juga Anda sebagai penulis. Bantulah jurnal tempat Anda mempublikasikan karya Anda agar kualitasnya meningkat dengan memperbaiki kualitas tulisan Anda ketika diminta revisi.

4. Permainan Author dan Co-Author

Yang paling sering terjadi adalah seorang dosen yang mengambil karya mahasiswa tanpa menyertakan si mahasiswa. Editor juga seorang dosen, pasti tahu tulisan itu karya siswa atau tidak. Bahkan saking “kasar”nya, masih ada kata-kata skripsi dalam naskah yang dikirim ke editor dan tertulis hanya nama dosennya. Sungguh tidak etis dan pernah terjadi hal demikian hingga oleh si mahasiswa dibawa ke ranah hukum. Akibatnya si dosen menjadi malu.

Bagaimana dengan urutannya? Sebagian besar menempatkan si mahasiswa sebagai penulis utama dan dosen pembimbing sebagai co-author. Tetapi diperbolehkan ketika si dosen menggabungkan beberapa karya bimbingannya menjadi satu naskah atau menambahkan metode yang meng-improve atau meningkatkan akurasi hasil risetnya. Untuk rekan-rekan yang kuliah di Jepang sedikit berbeda, si profesor pembimbing memaksa dia menjadi penulis utama. Hal ini menurut saya sangat dimaklumi. Berbeda dengan di Indonesia dimana riset mahasiswa tidak terkait dengan industri dan proyek pembimbing. Di sana terkadang pihak industri memesan riset tertentu, seperti misalnya mencari kualitas komposisi bahan yang baik untuk rem. Si dosen membagi tugas-tugas proyek itu ke mahasiswa-mahasiswa. Ketika menguji, mencari data, si dosen terkadang sangat ketat memantau, memberi panduan, dan harus mengikuti standar yang ada. Si Dosen harus mempertanggungjawabkan hasil riset ke industri sehingga seolah-olah mahasiswa hanya kepanjangan tangan dari dosennya. Memang terkadang inovasi, ide, dan temuan bisa muncul dari mahasiswa. Tetapi karena ide penelitian berasal dari dosen maka mereka merasa si pembimbinglah yang layak menjadi penulis utama. Ristekdikti sepertinya melihat hal ini sehingga membolehkan Co-author memperoleh hak setara dengan Author (penulis satu), dengan syarat co-author tersebut sebagai corresponding author, yaitu yang mengurus submit, review, dan hal-hal administratif lainnya.

Mungkin banyak hal-hal rumit lainnya dalam perjurnalan yang bisa ditulis di kolom komentar untuk dibahas bersama, sekian semoga menginspirasi.

 

Pengindeks Bereputasi

Walaupun “doctor of philosophy” tidak berarti doktor filsafat, tidak ada salahnya saya menulis yang sedikit berbau filsafat. Sebagai cabang ilmu yang mempertanyakan segala sesuatu baik yang biasa hingga yang sensitif sudah tentu filsafat bisa digunakan untuk menjawab hal-hal yang saat ini menjadi polemik, salah satunya adalah Scopus, suatu pengindeks yang menjadi patokan utama penilaian kinerja peneliti-peneliti di tanah air.

Sebenarnya lama menanti pro-kontra masalah scopus yang ditulis oleh rekan-rekan yang memiliki background filsafat, tetapi hingga saat ini belum juga ada yang share. Paling banter dari ketidaksetujuan peneliti yang memiliki h-index Scopus tinggi terhadap Scopus itu sendiri, sehingga terkesan tidak memihak, berbeda dengan protes Scopus oleh yang tidak memiliki kinerja Scopus yang baik. Dan seperti dugaan saya, seperti berbalas pantun, tiap pantun dibalas pantun pula. Tiap penentuan Scopus oleh pemerintah dianggap salah, dibalas oleh pemerintah dengan menambah bobot faktor Scopus, baik di penilaian angka kredit, hingga ke dapur peneliti, yaitu syarat hibah. Makin banyak peneliti yang defisit Scopus tidak eligible mengajukan proposal skema tertentu, sehingga peneliti yang memiliki Scopus yang baik memiliki peluang besar untuk lolos proposalnya karena minim saingan (ups .. pengkritik yang ber-Scopus tinggi tersebut tambah berpeluang lolos dong).

Jawaban Trivial

Ketika belajar matematika waktu kuliah dulu, ketika membahas persamaan orde tinggi si dosen memperkenalkan istilah jawaban trivial. Masih berkesan bagi saya ketika beliau menjelaskan bahwa ketika melawan rudal Jerman, Inggris menggunakan jawaban trivial berupa radar. Tentu saja radar yang seadanya karena teknologi yang masih belum berkembang. Rudal yang ditembakan Jerman dapat diketahui arahnya, bahkan sebuah kolam dibuat untuk menampung rudal-rudal kiriman tersebut agar tidak meledak (kayak petasan yang melepes). Radar cukup efektif, tetapi pada suatu saat, si pembaca radar melihat begitu banyak rudal akan melintasi Inggris yang tentu saja tidak akan sanggup dihalau, apalagi hanya dengan kolam. Kabar tersebut membuat ciut, dan bahkan sudah banyak yang berdoa, semoga setelah mati bisa masuk surga. Ternyata, tuhan hanya iseng saja. Ratusan rudal yang tertangkap radar hanyalah sekawanan burung yang sedang migrasi, hehe. Nah, hubungannya dengan pemilihan Scopus menurut saya adalah jawaban trivial. Jika negara kita sudah memiliki indeksasi yang mendekati kualitas Scopus tentu saja tidak perlu membayar Scopus. Jika tidak menggunakan indek apapun, bagaimana mengukur kinerja penelitiannya? Lewat penilaian rekan sejawat yang setia bersama dalam suka dan duka? Atau lewat penilai PAK Dikti yang baik hatinya?

Publish atau Jadi Sampah?

Halley merupakan ahli astronomi ternama. Kemampuan mengamati langit lewat teropong ajaibnya di jamannya tidak ada tandingannya. Dia terkejut ketika ramalannya lewat alat eksperimennya ternyata tepat sama dengan perhitungan Isac Newton. (Kalau saya mas Halley mungkin dalam hati udah ngomong “kampret!!”). Datanglah dia bertemu Newton di Inggris. Setelah dialog dan diskusi dengan Newton, Halley terkejut dengan rumus-rumus Isac Newton yang belum diketahui saintis di kala itu. Lihat infonya.

“Mengapa tidak kau publish? Bukankah banyak pelajar dan peneliti yang membutuhkan teori-teori mu?”, kira-kira begitu kata Halley. “Bagaimana caranya? Tidak ada yg bersedia?”, Jawabnya. “Begini, saya punya modal, kamu punya ilmu. Bagaimana jika kerja sama? Saya yang bantu mempublikasikan, kamu yang menulis teori-teorinya?”, kata Halley. Bisa dibayangkan jika teori-teori Newton tidak ada yang menyebarkan, perkembangan ilmu akan lambat, padahal riset membutuhkan kerjasama antar peneliti baik sebidang maupun yang berbeda bidang ilmunya. Jika Halley kita ibaratkan penerbit/publisher, maka Newton adalah peneliti-peneliti di seluruh dunia. Scopus, WoS, dan sejenisnya adalah yang membantu mengelola tulisan-tulisan ilmiah. Memang, ada yang berbayar, gratis, dengan karakteristik lain yang khas. Memang “jer basuki mowo beo”, sesuatu butuh biaya. Membantu menyimpan/mengarsipkan dijital, mereview, dan pengecekan lainnya oleh editor jurnal membutuhkan biaya, berbeda dengan Youtube, Facebook, atau Instgram yang gratis menyimpan gambar atau file karena banyak iklan dan endorse-endorsan lainnya, sebagai sumber profit. Jurnal tentu saja minim pembaca/pengguna, paling pelajar, peneliti, dan industri. Kalau ada iklan malah mencurigakan. Yang open access menadapat profit dari yang “menitip” tulisan, yang non-open access mendapat profit dari perpustakaan yang berlangganan jurnalnya.

Sitasi, H-index ?

Memang dunia terus berkembang dan berusaha menjadi sempurna. Ketika belum ada mesin, kereta ditarik oleh kuda, bahkan di Cina oleh orang. Ketika kendaraan menimbulkan polusi, mesin listrik dibuat, atau dengan ganjil-genap kayak di Jakarta, hehe. Ketika orang mengusulkan sitasi sebagai penilai performa, yang lain menunjukan kelemahannya, begitu pula H-index. Tidak perlu lah kita mengikuti Karl Marx yang ingin menghapus negara karena dianggap brengsek mengingat banyak teori-teori lain yang bisa membenahi negara yang brengsek tersebut. Ambil contoh saja kita saat ini yang tidak ingin mengganti Go-jek yang diawal kontroversial dan banyak kelemahan tetapi karena mereka kita biarkan membenahi, akhirnya jadi lebih baik, muncul Go-send, Go-food, dan mungkin nanti Go-paper (upss.. sorry bercanda). Sekian mudah-mudahan terhibur.

Akreditasi Jurnal Nasional

Setelah beberapa waktu yang lalu banyak dosen, termasuk saya, diminta revisi laporan kinerja dosen karena tidak memasukan penelitian maka saat ini jurnal menjadi favorit di kalangan dosen. Cukup dengan satu naskah di jurnal ber-ISSN maka tunjangan dapat segera dicairkan. Tetapi untuk kepangkatan, bobot jurnal yang hanya ber-ISSN sangat kecil. Oleh karena itu jurnal yang terakreditasi saat ini banyak dicari karena bobotnya dua setengah kali jurnal yang hanya ber-ISSN.

Saat ini jurnal yang terakreditasi ada dua kategori, yang sudah ada sertifikatnya dan yang hanya terindeks SINTA. Jurnal yang sudah terindeks SINTA tidak serta merta memperoleh sertifikat akreditasi nasional. Harus mendaftarkan/mengajukan diri untuk akreditasi di situs resmi ARJUNA. Silahkan sign-up terlebih dahulu di link berikut ini.

Syarat-Syarat

Salah satu hal memberatkan yang menyulitkan jurnal yang terindeks SINTA untuk mengajukan akreditasi adalah Digital Object Identifier (DOI), yang merupakan indeks berbayar. DOI mirip Scopus yang mencatatkan makalah-makalah jurnal yang mengajukan untuk meminta nomor DOI untuk tiap naskah yang ada di dalamnya. Repotnya lagi, untuk mengajukan akreditasi, empat edisi harus sudah memiliki DOI di tiap-tiap naskahnya. Jika per edisi 5 tulisan (minimal syarat akreditasi) maka butuh 20 DOI untuk akreditasi.

Syarat-syarat lainnya adalah adanya informasi mengenai dewan redaksi, peer-review/reviewer/mitra bestari dan lain-lainnya. Oiya, sebagai perkenalan berikut ini adalah jurnal PIKSEL yang saya kelola. Silahkan berkunjung.

Tahapan Akreditasi

Jika syarat-syarat terpenuhi maka kita tinggal mengklik submit. Ada beberapa cheklist yang wajib ada (salah satunya DOI). Prosesnya terkadang cepat, terkadang seperti yang saya alami lumayan lama. Tahapan-tahapannya antara lain: evaluasi dokumen, proses penilaian, penetapan akreditasi, dan penerbitan SK akreditas.

Yuk, bantu-bantu jurnal nasional yang kebanyakan tak berbayar lewat artikel-artikel berkualitas dan juga bersedia menjadi reviewer. Proses masih dalam tahap evaluasi dokumen, jika sudah masuk tahap proses penilaian akan tampak seperti gambar berikut. Sekian semoga bermanfaat.